MUI: Isra’ Mi’raj Menjadi Momentum Pembuktian Keimanan Seorang Muslim

JAKARTA – Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW yang menjadi pijakan seorang muslim menjalankan ibadah. Perjalanan Nabi Muhammad malam itu dimulai di Masjidil Haram di Makkah, kemudian ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis, lalu menuju Sidrotul Muntaha di Langit ke Tujuh.

Dalam perjalanan begitu jauh namun waktu sangat cepat itu, banyak kejadian yang bisa diambil hikmah.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Anwar Abbas, Jum’at (5/3) di Jakarta menyampaikan, Nabi Muhammad adalah manusia satu-satunya di bumi yang bisa mengalami kejadian Isra’ Mi’raj. Karena itu, Isra’ Mi’raj sekaligus menjadi ajang pembuktian keimanan seorang muslim.

“Dalam Isra’ Mi’raj banyak peristiwa penting di sana, namun yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami yaitu perintah shalat,” ujar Buya Anwar.

Untuk itu, menurut Buya Anwar, Allah SWT meminta umatnya menegakkan shalat lima waktu kepada setiap muslim.

“Siapa yang menegakkannya berarti dia menegakkan agama dan siapa yang meninggalkannya maka sama artinya dia telah menghancurkan agama,” paparnya.

Senada dengan Buya Anwar, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH. Asrorun Niam Sholeh juga menggarisbawahi bahwa salah satu hasil Isra’ Mi’raj adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Di dalam shalat, kata dia, segala simbol kesombongan diri benar-benar ditiadakan. Melalui gerakan sujud misalnya, umat diminta mensejajarkan kepala, telapak tangan, dan kaki dengan sama-sama rendah.

“Kita diajarkan tentang kesetaraan dan kesederhanaan, serta kesadaran akan kebesaran Allah SWT,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Niam memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai perwujudan mengajarkan komitmen dan kepercayaan yang total. Tanpa komitmen dan kepercayaan yang penuh, maka sulit sekali meyakini Nabi telah melakukan perjalanan sejauh itu dengan waktu sedemikian singkat.

Kiai Niam juga memaknai Isra’ Mi’raj sebagai wujud perjuangan yang menuai hasilnya. Peristiwa ini juga diyakininya sebagai ajang penghiburan Allah SWT kepada Nabi Muhammad. Pasalnya, kala itu Nabi baru saja kehilangan dua orang yang begitu dicintainya.

“Kedua orang yang menjadi tulang punggung dakwah Nabi yaitu Abu Thalib dan Khadijah wafat. Wafatnya dua orang tersebut memicu kesedihan mendalam dalam diri Nabi,” katanya. (Azhar/Anam)



Leave a Reply

Wakaf Darulfunun – Aamil Indonesia