MENIKMATI WISATA RELIGI DI TUNISIA

Thobib Al-Asyhar
(Liputan Perjalanan Luar Negeri)

Kurang afdhal rasanya kalau berkunjung ke sebuah negara atau kota tanpa melihat sejarah masa lalunya. Alasannya simpel, agar kita tahu bagaimana tempat itu dibangun (dibentuk), dikelola, dikembangkan, atau bahkan ditaklukkan.

Ini pas dengan anjuran yang didisampaikan dalam kitab suci Al-Quran: Katakanlah (wahai Muhammad): Mengembaralah kamu sekalian di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana akibat buruk (yang menimpa) orang-orang yang mendustakan (para rasul). (QS: Al-An’am: 11).

Seperti diketahui, sejarah selalu mengandung unsur pelajaran baik dan buruk. Tidak ada sejarah semuanya baik, apalagi semuanya buruk. Di sinilah pentingnya kita agar selalu menggunakan akal dan hati saat melihat fenomena sekitar. Nah, biar saya gak terlalu panjang kalam, yuks simak liputan singkat saya di bawah ini:

Sidi Bou Said

Hampir semua orang yang ke Tunisia pernah berkunjung kemari. Ini adalah tempat wisata spiritual yang sangat tepat disinggahi. Selain tempatnya dekat dari kota Tunis (sekitar 15 KM), juga pemandangannya sangat eksotik. Jika kita tanya ke “mbah Google” dengan keyword Tunisia dan klik image (gambar), maka yang muncul pertama kali adalah tempat ini yang keren dan sangat mempesona.

Situs warisan abad 10 ini berada di kawasan perbukitan Teluk Tunisia yang memiliki keunikan dibanding bangunan sekitarnya. Rangkaian bangunannya berjejer membentuk sebuah kompleks nampak dominan warna biru dan putih dengan corak peradaban yang tinggi khas Mediterania dan Andalusia.

Di antara sekian banyak bangunan kuno itu terdapat masjid (di tengah) dan semacam dzawiyah (pendopo) bagi sebuah tarekat. Pada abad ke-13 ada seorang sufi bernama Sayyid Abu Said Kalafa ibn Yahya al-Temimi al-Beji yang menetap di perbukitan itu. Karena itulah kawasan ini dinamai dengan Sidi Bou Said. Sebuah desa yang terletak tak jauh dari kawasan yang pernah menjadi pusat pemerintahan Romawi di Afrika Utara, Carthage.

Kawasan ini memang sangat masayahur. Setiap hari, ribuan orang terutama kaum muda Tunisia dan wisatawan asing mengunjunginya, dengan berjalan kaki sepanjang tak kurang dari 2 kilometer. Mereka menapaki bukit untuk menikmati lepas pantai Teluk Tunisia dan Pelabuhan Sidi Bou Said yang menawan.

Selain warna hijau dari tetumbuhan yang merindangi sepanjang jalan, berbagai bangunan kuno di sepanjang Rue (Jalan) Habib Thameur menuju Avenue de L’Environnement. Jalur pejalan kaki wisatawan didominasi warna putih dan biru. Warna putih pada dinding, dan warna biru pada pintu, jendela, atau ornamen gedung yang telah berusia tua. Sejumlah bangunan di kawasan ini, yang sampai kini masih berpenghuni.

Bagi yang ingin menikmati pemandangan yang eksotik di pinggir teluk Tunisia, anda bisa jalan ke ujung kawasan ini hingga menemukan banyak atap-atap warna biru. Di situlah anda diajak untuk bersantai ria sambil bisa menikmati jajanan khas Tunis dan minuman teh, kopi, jus, dan makanan semacam kebab, pizza, dan lain-lain, sambil duduk-duduk di bangku-bangku panjang yang telah disediakan.

Untuk mengabadikan momen langka ini, anda bisa sambil berfoto ria, selfie maupun foto biasa. Banyak spot foto yang bisa diambil. Namun anda perlu hati-hati karena banyak posisi yang tidak rata yang bisa memicu anda jatuh. Maklum, karena kawasan ini berada di wilayah perbukitan.

Nah, seyang meninggalkan tempat, anda bisa berbelanja souvenir khas sini. Kanan kirinya banyak dijajakan pernak-pernik untuk oleh-oleh keluarga, teman, atau handai taulan. Tapi sih harus pinter-pinternya nawar yah, karena harga barang relatif lebih mahal dibanding tempat lain. Kalau sekedar beli souvenir kecil untuk berbagai rahmat Allah di sini mah, its OK lah.

Masjid Uqbah bin Nafi’

Destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi di Tunisia adalah Masjid Uqbah bin Nafi’. Ini adalah peninggalan bersejarah yang dibangun pada tahun 50 Hijriyyah oleh sahabat Nabi bernama Uqbah bin Nafi’ yang menjadi nama masjid itu.

Masjid yang terletak di Kairouan, Tunisia ini menjadi monumen dan bukti sejarah penting masuknya Islam di Afrika Utara. Masjid itu juga dikenal dengan Masjid Agung Kairouan dan merupakan salah satu masjid paling bersejarah di Tunisia.

Berdirinya masjid ini tak terlepas dari peran Uqbah bin Nafi’, salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang berhasil menaklukkan wilayah ini pada 670 Masehi. Sukses masuk ke Tunisia lewat Mahdia, kota pantai 30 km timur Kota Sousse, ekspedisi yang dilakukan oleh Uqbah, menetap di Kairouan.

Lokasi tempat ini memang jauh dari pusat kota Tunis, sekitar 2 jam perjalanan darat melalui tol dan jalan besar yang relatif tidak ada macet. Selama perjalanan anda akan menemui tanah-tanah pertanian zaitun yang menghampar di kanan dan kiri. Ada juga pohon-pohon kaktus yang indah dengan daun-daun telinga dengan buah warna-warni, hijau, kuning, dan merah. Meski menempuh jarak yang jauh tidak terasa krn pemandangan hijau indah menyertai sepanjang perjalanan.

Begitu sampai tujuan, anda akan melihat bangunan masjid tua yang masih berdiri kokoh, dengan menara berbentuk kotak warna kuning. Juga terdapat dua kubah dengan warna yang sama. Kanan kirinya terdapat bangunan-bangunan tua yang msh berpenghuni peninggalan Romawi kuno. Bangunan itu nampak kokoh dan alas lantai semacam konblok dari batu yang kuat. Saat melihat kawasan ini anda akan dibawa pada suatu era pra-SM yang sangat mengagumkan.

Masjid ini cukup luas, dengan arsitektur aslinya masih terjaga. Seperti bangunan masjid lama, terdapat dua bagian besar, yaitu bagian utama masjid dan bagian serambi luar untuk keperluan berbagai aktifitas keagamaan. Terdapat pintu-pintu masuk, namun hanya satu-dua pintu yang bisa diakses dengan beberapa penjaga masjid.

Tempat wudhunya ada di belakang masjid secara terpisah. Jangan khawatir sepatu anda akan basah karena sudah disediakan sandal untuk  berwudhu. Seperti masjidnya, bentuk bangunan tempat wudhunya juga nampak kuno. Bahan bangunannya terbuat dari marmer asli. Desain tempat wudhunya unik karena jarak antara kran air dengan pembuangannya hanya beberapa centimeter, dan terdapat beberapa tempat duduk.

Untuk menuju ke dalam masjid, anda akan melihat banyak pintu masuk. Namun pintu masuk yang dibuka hanya beberapa yang dapat dilalui begitu selesai ambil air wudhu. Saat sampai di dalam, maka anda akan menemui suasana yang agak gelap karena penerangan yang kurang maksimal. Lampu warna kuning di setiap blok.

Hal yang unik adalah suasana klasik di dalam masjid. Ada banyak pilar dari marmer asli yang sangat bagus. Konon, marmer asli itu diambil dari Baghdad. Lantainya bukan keramik, tetapi lantai “tanah” atau pelur semen yang di atasnya ditutup dengan tikar warna coklat yang menghampar seluruh masjid. Sedangkan serambinya tanpa atap dengan sekelilingnya terdapat tempat-tempat untuk halaqah (pertemuan kecil).

Masjid ini berwarna kuning atau merah bata yang masih asli sejak awal. Secara keseluruhan, masjid ini tidak terkena pembaharuan, selain bangunan kanan-kiri asli dari desain peninggalan Romawi kuno. Tidak ada halangan untuk sekedar ambil foto selfie atau video selama menjaga ketertiban dan tidak menganggu orang yang sedang beribadah.

Bagi yang berkesempatan mengunjungi masjid ini bersegeralah ambil air wudhu dan shalat tahiyyatul masjid atau shalat sunnah lain yang dianjurkan. Tentu bagi yang ingin shalat wajib akan sangat baik. Apalagi sambil membaca Al-Quran yang memang telah disediakan di tempat-tempat penyimpanan mushaf yang berada di barisan belakang.

Colosseum

Peninggalan Romawi kuno juga ada di Tunisia. Tidak beda dengan yang ada di Roma, namanya juga Colosseum, yaitu sebuah bangunan tua yang disebut Amfiteater El Jem. Amfiteater ini terletak di sebuah kota Romawi yang bernama Thysdrus. Kota tersebut kini dikenal dengan nama El Djem di Tunisia. Amfiteater ini masuk ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1979.

Lokasi Colosseum Tunisia ini memang jauh dari pusat kota Tunis, yaitu perjalanan sekitar 3 jam dengan mobil. Jalanan nyaris tidak ada macet, tol, dan jalan besar tanpa hambatan. Bentuknya sama, atau hampir sama dengan Colosseum di kota Roma. Semoga suatu saat bisa mengunjungi juga di Roma (Amin ya Allah).

Bagi yang pandai ambil spot foto di depan bangunan, orang agak sulit membedakan posisi di Tunisia dengan yang ada di kota Roma. Ya, karena bentuk bangunannnya sama karena dibangun pada tahun SM. Gedung ini didirikan untuk pertunjukan (teater) saat kejayaan Romawi, seperti pertarungan para gladiator yang merupakan para tahanan, pertarungan antara gladiator dengan binatang buas, atau antara binatang buas. Di tempat ini konon sdh ribuan manusia, dan ribuan binatang buat mati di tempat ini.

Untuk masuk ke gedung ini memang tidak gratis. Setiap orang perlu bayar 8 dinar (Rp 40.000) sebagai retribusi. Maklum lah, tempat bersejarah seperti ini perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak punah oleh tangan-tangan jahil. Sejarah akan banyak informasi yang bisa dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Kita bisa meniru sesuatu yang bagus dan mengabaikan hal-hal yang buruk.

Saat memasuki gedung, ada beberapa pilihan. Anda bisa pilih langsung naik melalui tangga-tangga menuju lantai atas, bisa juga melalui pintu-pintu masuk di bawah menuju arena tengah sebagai tempat pertarungan gladiator/binatang buas.

Untuk melihat area bawah lagi, ada semacam basement, dengan pintu gelap. Anda akan diantarkan kepada ruangan-ruangan yang menyeramkan. Ada semacam blok-blok yang diperuntukkan kepada para tahanan atau binatang buas seyang tampil di arena utama. Ada pula pintu khusus untuk pengangkutan para gladiator yang mati karena kalah pertarungan.

Jika dilihat secara umum, tempat ini didesain untuk pertunjukan, sehingga ada tempat duduk VIP, untuk yang kelas menengan, dan ada pula kelas “festival” buat rakyat biasa. Semua bahan terbuat dari batu, pasir, dan kapur, dengan pengikat khusus untuk menyatukan antara satu batu dengan batu lainnya.

Secara desain bangunan nampak sangat kokoh dan artistik pada zaman itu karena terdapat pahatan-pahatan patung yang indah. Konon bangunan ini melibatkan byk ahli sipil, arsitek, seniman, dan lain-lain. Para tukang batu yang mengerjakan adalah para tahanan yang dipaksa kerja, yang memakan waktu beberapa tahun untuk menyelesaikannya.

Detail bangunan mungkin tidak bisa saya jelaskan lebih jauh karena terlalu banyak hal yang perlu diceritakan. Enaknya sih kalau langsung lihat ke sana (hehe…) dan menikmati peninggalan sejarah manusia dengan segala kehebatan dan kenaifannya.

Saya berharap, semoga yang membaca catatan saya selama berkunjung ke Tunisia selalu diberkati Allah, dapat ambil manfaat, dan semoga kelak yang belum kesana berkesempatan dapat berziarah ke tempat-tempat yang saya ceritakan. Amin ya mujibas-sailin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Thobib Al-Asyhar
(Wakil Ketua Komisi Infokom MUI, Kabag Kerja sama Luar Negeri Kementerian Agama).



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development