Dubes RI untuk Arab Saudi: Wajah Islam Arab Saudi Kini Moderat

JAKARTA— Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel , mengungkapkan perubahan besar corak keagamaan di Arab Saudi. Negara petrodolar itu, melalui inisiasi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS), meneguhkan komitmennya menjadikan Islam moderat sebagai ruh yang mendasari kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

“Di Arab Saudi ini, saya sangat bangga ketika Muhammad Bin Salman mengatakan kami akan kembali kepada Islam wasathy, Islam yang menebar tasamuh, yang terbuka pada semua budaya seluruh bangsa di Indonesia,” ujarnya dalam Program Ngobrol Pintar (NGOPI) di TV MUI, Rabu (15/7).

Dia menjelaskan, ketika dirinya masuk Arab Saudi sebagai Dubes, kemudian Muhammad Bin Salman memakai Islam Wasathy dan alhamdulillah Indonesia menjadi tamu kehomatan dalam dialog antarberadaban di Arab Saudi.

Melalui Islam wasathiyyah tersebut, kata dia, Arab Saudi ingin memunculkan Islam sebagai agama yang penuh cinta, penuh perdamaian, dan kaya akan nilai persahabatan.

Menurut dia, Islam wasathiyyah ini penting untuk menghadapi kelompok-kelompok yang kerap melakukan politisasi terhadap teks agama yang bertebaran di mana-mana.

Dia menyebutkan, antara Indonesia dan Arab Saudi sudah ada MoU, Arab Saudi dan Indonesia bersama-sama berperang melawan terorisme, intoleransi baik yang terjadi di antara mazhab, golongan, maupun agama.

“Ketika bertugas menjadi pelayan WNI di Arab Saudi, kami bersama-sama dengan MBS memperteguh Islam yang wasathy, Islam yang inklusif, Islam yang menebarkan nilai-nilai perdamaian, dan bersama-sama untuk meningkatkan dan menyuarakan Islam sebagai agama perdamaian,” kata dia.

Lebih lanjut, masih dalam kesempatan yang sama, pria yang juga menjabat sebagai wakil tetap Indonesia untuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) ini menyampaikan, untuk menyuarakan Islam sebagai agama damai itu, dia juga sedang merencanakan agenda pertemuan agama-agama rumpun Ibrahim (abrahamic religion/Islam, Nasrani, dan Yahudi) di Jakarta untuk menemukan jalan keluar permasalahan Palestina.

Menurutnya, selain solusi dua negara (two states solution) yang selama ini gencar dibicarakan maupun perdamaian antara hamas dan fattah di internal Palestina, pertemuan tiga agama ini juga penting karena ketiganya memiliki kepentingan di sana.

“Kita bisa merencanakan mengadakan pertemuan abrahamic religion di Jakarta atas back up dari OKI, kalau ini terjadi, maka ini akan menjadi ukiran sejarah bagaimana kita mempertegas Islam sebagai agama perdamaian dan memperjelas sebagai agama penuh keadilan,” katanya. (Azhar/ Nashih)



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development