Site icon Darulfunun El-Abbasiyah

MUI Sulsel: Memahami Riwayat Ulama Membuat Kita Lebih Toleran

JAKARTA — Wakil Ketua MUI Sulsel Prof. Rahim Yunus menyampaikan bahwa mempelajari kisah hidup ulama itu penting untuk memupuk toleransi kita. Menurutnya, akan sulit memahami agama secara utuh bila tidak memahami riwayat para ulama.

“Rasulullah SAW memang contoh yang baik, bagaimana kita bisa mencontoh kalau kita tidak tahu riwayatnya, tidak gali sejarahnya, dan yang mewarisi sejarah mereka adalah ulama, al ulama warasatul anbiya, bagaimana kita bisa tahu agama ini kalau kita tidak paham mereka,” katanya saat membuka Webinar Internasional Ketajaman Mata Pena Syekh Yusuf Al-Makassary Tajul Khalwaty, Kamis (20/08).

Dia mengatakan, bagian penting dari mempelajari agama adalah sejarah, termasuk sejarah ulama terdahulu. Pemahaman terhadap riwayat ulama itu yang pada akhirnya membuat seorang semakin bijak dalam melihat perbedaan pendapat para ulama.

“Kita bisa saling menghormati kalau memahami perbedaan, kalau kemudian tidak memahami sejarah perbedaan, lalu timbul paham yang ekstrem, hanya menganggp dirinya sendiri yang paling benar sementara yang paling tidak, akan timbul ketidakharmonisan dalam perbedaan itu,” katanya.

Dalam Webinar yang dilaksanakan Komisi Infokom MUI Sulsel itu, dia mencontohkan, mengapa banyak yang bermadhzab syafii di Indonesia disebabkan ulama yang membawa bermadzhab syafii. Itu pula yang terjadi di Afrika Utara mengapa di sana banyak yang bermadzhab Maliki maupun di Asia Tengah yang bermadzhab Hambali.
Selain penyebaran ulama itu, sejarah profil ulama juga perlu dipahami. Misalnya Imam Syafi’i yang berguru kepada Imam Maliki dan Abu Hanifah. Sementara Imam Ahmad berguru kepada Imam Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’fat Ash-Shidiq.

“Seperti itu penting sekali kita paham sejarah ini untuk memahami jalan pikiran orang-orang yang diikuti oleh orang lain yang juga kita ikuti, kalau kita paham sejarah mereka ini, kita bisa memahami bahwa perbedaan mereka itu adalah hal-hal yang wajar saja, tidak perlu saling menyalahkan atau saling menyesatkan dan mengkafirkan,” katanya. (Azhar/Din)

Exit mobile version