Site icon Darulfunun El-Abbasiyah

Pimpinan Redaksi Media Massa Soroti Pentingnya Kehadiran Juru Bicara MUI

JAKARTA — Beberapa pimpinan media menyoroti pentingnya kehadiran juru bicara MUI khususnya dalam merespon isu-isu keagamaan yang sedang ramai. Hal itu terungkap dalam Halaqah Pimpinan Media Massa yang diselenggarakan Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI, Kamis (03/12) melalui virtual.

Kepala Redaksi Kesra ANTARAnews.com Arief Mujayatno mengatakan, dalam merespon berita-berita keagamaan yang sering diperbincangkan, kehadiran juru bicara MUI ini penting. Menurutnya, MUI perlu memunculkan lagi tokoh-tokohnya di bidang-bidang tertentu yang mudah dihubungi awak media.

“Perlu juga barangkali dipertimbangkan satu dua orang juru bicara yang mungkin setiap kali bicara bisa memberikan keterangan atas nama MUI, bukan atas nama pribadi,” ujarnya.

“Memang, mestinya ketua umum yang harus kita tonjolkan, barangkali kalau ketua umumnya tidak selalu ada ditempat, juru bicara tersebut bisa maju mengklarifikasi hal-hal yang dibutuhkan masyarakat terkait keagaaman,” imbuhnya.

Masukan yang sama juga diberikan Redaktur Pelaksana CNN Indonesia Suriyanto. Berdasarkan pengalamannya, pernah pada sebuah isu tertentu, ada dua tokoh MUI yang merespon berbeda sebuah sebuah isu yang sama.

“Saat itu, saya sampai harus mengonfirmasi kepada Bapak Sekjen Anwar Abbas, saya meminta konfirmasi yang berhak bicara atas nama MUI itu siapa saja. Beliau mengatakan, pertama adalah ketua umum kemudian waketum, kalau tidak bisa, langsung ke Sekjen,” ujarnya.

Sejak menerima penjelasan Sekjen itu, CNN Indonesia, kata dia, mulai memilah-milah pernyataan yang mengatasnamakan MUI. Jika ada pengurus MUI yang pendapatnya berbeda, maka CNN menyebut nama tokoh itu atau tidak memberikan embel-embel MUI kepada tokoh itu dalam pemberitaan.

“Mungkin MUI harus menunjukan satu juru bicara untuk merespon isu-isu yang sedang disorot di media, atau memberikan arahan kepada media yang lain bahwa yang berhak mengatasnamakan MUI adalah satu dua tiga orang tertentu,” ujarnya.

“MUI menjadi rujukan umat. Kalau misalnya satu pengurus bilang apa, sementara pengurus lain bilang b, itu bisa membingungkan masyarakat,” paparnya.

Dalam Halaqah bertema Tantangan Peran MUI 2020-2025 itu, hadir pula Wakil Pemimpin Redaksi Republika Nur Hasan Murtiaji, Redaktur Pelaksana Detik.com Erwin Dariyanto, Pemimpin Redaksi HarianAceh.co.id Jauhari Samalanga, Pemimpin Redaksi Akurat.Co Rizal Maulana.

Kehadiran mereka dalam rangka memberikan masukan terkait konten media MUI ke depan. Media-media tersebut pada penutupan Munas Ke-10 MUI kemarin mendapat penghargaan MUI Award 2020 karena banyak menulis tentang MUI. (Azhar/Din)

Exit mobile version