Hayya 2, Dakwah Kemanusiaan dan Moralitas Kita

Selasa (22/03/2022), Majelis Ulama Indonesia (MUI) memenuhi undangan dari produsen film Warna Pictures untuk penayangan gala premier film Hayya 2: Dream, Hope, and Reality (2021) di Bioskop XXI Pondok Indah Mall 2, Jakarta Selatan.

Tulisan ini hendak mengulik nilai moral yang hendak disampaikan oleh film yang bergenre religi dengan isu kemanusiaan di dalamnya.

Film Hayya 2 mencoba mengeksplor isu kemanusiaan dari konflik perang yang tidak berkesudahan. Kita masih bisa menyaksikan bagaimana kemelut konflik antara Israel-Palestina yang berlangsung hingga saat ini. Inilah isu sentral yang di bawa dalam film yang disutradarai oleh Jastis Arimba. Melalui sosok anak kecil bernama Hayya (Amna Shahab), film ini ingin menyuarakan nasib anak-anak Palestina yang tercabut haknya dengan paksa akibat peperangan yang tidak kunjung usang.

Kondisi fisik yang tidak aman dan kesadaran hak kemerdekaan, membawa Hayya bertekad menyeberangi lautan untuk sekadar hengkang dari tanah kelahirannya yang dipenuhi oleh arena tembakan dan ledakan. Di sinilah hal subtil yang hendak dipertontonkan kepada manusia di berbagai belahan dunia tentang kondisi kemanusiaan yang menyelimuti para penduduk, utamanya anak-anak di Palestina.

Hayya yang merindu kedamaian, yang ia tidak dapatkan di negerinya, membawanya berlabuh pada suatu negeri bernama Indonesia. Pemilihan Indonesia sebagai pelarian Hayya, manjadi suatu simbol yang merepresentasikan adanya perbedaan yang bisa dibina dengan damai dalam bingkai persatuan. Latar heterogenitas etnis, budaya, dan agama bisa membentuk mozaik keharmonisan dalam hidup berdampingan.

Dari sini, film Hayya 2 menekankan kondisi internal manusia yang terus bergejolak tatkla berada dalam kecamuk perang yang terus berkelanjutan. Rasa takut dan terancam terus menghantui dalam aktivitas keseharian. Isu kemanusiaan yang dibangun dalam film ini ingin mengembalikan kemerdekaan kepada segenap manusia secara utuh yang sejatinya melekat secara intriksional tanpa harus dihalangi oleh konflik eksternal antarkepentingan.

Moralitas manusia
Sisi-sisi kemanusiaan yang dieksplor begitu apik dalam film Hayya 2 dimaksudkan untuk mengundang empati kolektif tentang carut-marut kehidupan dalam kondisi perang. Dramaturgi sosial yang telah merenggut nasib banyak orang, seyogiyanya menjadi suatu penyadaran kepada manusia bahwa eksistensinya tidak lepas dari tanggung jawab moral ihwal kemanusiaan.

Hal ini selaras dengan tatanan etis yang mengendap dari kondisi ontis manusia sebagai makhluk sosial. Sejatinya, ia memiliki empati besar dan sensitif terkait isu kamanusiaan. Terbentuknya sistem sosial, legal kenegaraan, dan kepercayaan teisme dalam sejarah panjang manusia sebenarnya adalah bentuk akumulasi kesadaran untuk membangun relasi dan interaksi manusia dalam koridor nilai sublim dan kultus kemanusiaan (Savigny, 1999: 117).

Seorang Novelis Indonesia, Habiburrahman el-Shirazy (Kang Abik), yang hadir Ketua Lembaga Seni, Budaya, dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI juga angkat berkomentar dalam hal ini. Ia menyadari Palestina masih belum mendapatkan apa yang disebut, “kemerdekaan bangsa”. Palestina masih dalam kondisi memperjuangkan itu. oleh karenanya, kita memilik tanggung jawab moral di dalamnya.

Isu kemanusiaan yang dibangun seharusnya mewujud spirit moral dalam bingkai persaudaraan sesama manusia. Bahwa antara manusia yang satu dan yang lain terikat dalam tanggung jawab moral, baik dalam relasinya sebagai persaudaraan setanah air (ukhuwah wathaniyah), saudara seagama (ukhuwah Islamiyah), atau saudara sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

Akhirnya, film ini adalah bentuk kepedulian yang ingin mengulik sisi berkemanusiaan kita kepada sesama. Konsistensi nurani kita sebagai manusia diuji pada sekelumit fenomena sosial yang mengakibatkan suatu bangsa terhalang kemerdekaan dan kebebasannnya. Jadi, sesuai dengan judul Film “Hayya” yang berusaha mengajak kita merenungi ulang tentang kepedulian.

Film ini diharapkan dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia agar menjadi koreksi bersama tentang kebangsaan, Keberagamaan, atau keberpolitikan kita dewasa ini yang acap kali bermuara pada kekerasan. Film ini akan manjadi evaluasi, di samping sistem-sistem sosial yang secara berkelanjutan terus dibangun oleh manusia, ada hal yang elementar dari kehidupan kita, yakni tatanan moralitas dan etika kemanusiaan. ( A Fakhrur Rozi/Nashih).



Leave a Reply

Wakaf Darulfunun – Aamil Indonesia