Author: Abdullah Afifi

  • Simpati Saling Mengasihi

    Disampaikan dalam satu hadits:

    عن أبي موسى الأشعري أنه سمع النبي – صلى الله عليه وسلم – يقول : ” لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَرْحَمُوا ” . قَالُوا : يَا رَسُولُ الله  كُلُّنَا رَحِيم . قال : ” إِنَّهُ لَيسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ  وَلَكِنَّهَا رَحْمَةَ النَّاسِ رَحْمَةَ الْعَامَّةِ

    Daripada Abi Musa al-Asyari, sesungguhnya aku mendengar Nabi SAW bersabda: Kamu tidak dianggap beriman sehingga kamu saling mengasihi. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kami semua adalah penyayang. Rasulullah SAW bersabda: Kasih mengasihi yang dimaksudkan bukanlah kasih sayang di antara kalian sahaja bahkan kasih memgasihi kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk. (HR Tobrani No 13671) Status: Hadis Sahih

    Pengajaran

    1.  Sikap simpati, saling mengasihi antara sesama makhluk berkait rapat dengan keimanan makhluk kepada tuhannya, Allah SWT.

    2.  Tuntutan mengasihi bukan hanya kepada sesama Muslim saja, tetapi kepada seluruh manusia dan makhluk lain dengan memberikan hak mereka dengan proporsional, tidak berlebihan dan tidak juga kurang.

    3.  Sifat simpati dan berkasih sayang adalah fitrah yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua makhluk yang bernyawa. Sifat ini bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada binatang. Terlebih lagi jika manusia ataupun makhluk ini berjasa budi baik kepada kita.

    4. Allah memberikan pengajaran diantara semua makhluk ada juga yang tidak pandai membalas budi, disebutkan dengan istilah sebagai fasik. Beberapa makhluk yang diketegorikan fasik, adalah makhluk yang tidak mengenal budi baik, seperti ular yang akan senantiasa mematuk siapa saja termasuk yang memberinya makan, binatang berbisa, dsb.

    5. Insting untuk bersimpati dan saling mengasihi selalu ada pada manusia seperti kasih sayangnya kepada orang tua, orang muda, anak-anak, sesama manusia dan binatang. Binatang pun sebagian darinya diberikan rasa bersimpati yang manusia pun dapat melihatnya, seperti kucing, anjing, kuda, binatang peliharaan, dsb.

    6.  Menurut Ibnu Qayyim: Kasih sayang dan simpati adalah sifat memberi manfaat dan kebaikan kepada orang lain dan bersedia bersusah payah mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan kepada orang lain.

    7. Sifat simpati dan kasih sayang adalah sifat yang direfleksikan oleh hati yang selamat – qalbun salim. Jiwa yang senantiasa memberikan manfaat dan mengupayakan perbaikan bagi kehidupan.

    8.  Allah menyayangi orang yang menyayangi sesama makhluk. Rasulullah SAW bersabda:

    إنما ير حم الله من عباده الرحماء

    Allah hanya akan menyayangi hamba yang menyayangi (makhluk-Nya) HR Bukhari dan Muslim

  • Tiga Golongan Penghuni Surga

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Dalam satu hadits disebutkan:

    عن عياض بن حمار المجاشعي رضي الله عنه عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ

    Dari Iyadh bin Himar al-Mujasyai RA, dari Nabi SAW berkata: “Penghuni surga itu terdiri dari pada tiga golongan; yaitu (1) penguasa yang berlaku adil, gemar bersedekah dan diberi kurnia taufik (Allah), (2) seorang yang penuh kasih sayang dan lemah lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim, dan (3) seorang yang sederhana dan miskin namun menjaga dirinya dari meminta-minta”  (Sahih Muslim No: 5109) Status : Hadis Sahih

    Pengajaran:

    Dari hadits diatas disebutkan diantara golongan yang akan menjadi penghuni Surga ialah:

    1.  Penguasa atau pemimpin yang adil, walaupun berkuasa tapi menunjukkan sikap yang sentiasa pemurah dengan bersedekah dan diberi kurnia taufik oleh Allah dalam menjalankan tanggungjawab.

    2.  Orang yang memiliki sifat kasih sayang dan lemah lembut kepada setiap kerabat dan sesama muslim yang lain.

    3.  Orang yang suci hatinya walaupun miskin namun menjaga dirinya dari menjadi peminta sedekah.

    Dari ketiga golongan diatas, yang manakah yang paling sesuai dengan keadaan kita. Apakah kita adalah seseorang yang sedang berkuasa, ataukah orang yang berlemah lembut ataukah keadaan kita sedang diberikan ujian dengan kemiskinam dan kesederhanaan.

    Kesabaran dan sikap yang kita tunjukkan dalam keadaan kita diatas adalah sikap yang akan menghantar kita dalam keridhaan Allah sehingga Allah memasukkan kita dalam surganya kelak.

    Dalam konteks sebagai warganegara, apakah kita seorang pemimpin ataupun rakyat, berusahalah untuk memiliki sifat adil, kasih sayang dan lemah lembut kepada orang lain serta janganlah menjadi seseorang yang peminta seandainya tidak mampu lagi menjadi peminta-minta.

    Wallahu’alam, semoga bermanfaat.

  • Mempertanyakan Moralitas Barat dalam Menunda-nunda Gencatan Senjata di Gaza

    landscape people flag signal

    Barat (Amerika dan Eropa) yang seringkali dianggap sebagai standar moral dan etika global, dipertanyakan sikapnya saat ini karena berperan dalam menunda-nunda terwujudnya proses gencatan senjata di wilayah konflik Gaza. Kita sering lupa sebetulnya sikap-sikap negara barat itu adalah berkaitan dengan perannya dalam konteks politik dan militer di kawasan tersebut. Faktor-faktor kepentingan ini lah yang sebetulnya mempengaruhi keputusan dan sikap mereka.

    Dalam diskusi global mengenai politik internasional, konsep moralitas sering kali menjadi titik sentral. Moralitas Barat, yang sering dianggap sebagai standar dalam menilai kebenaran dan keadilan, menghadapi tantangan ketika dihadapkan pada krisis-krisis internasional. Pertanyaan tentang sejauh mana negara-negara Barat benar-benar mengikuti prinsip-prinsip moral yang mereka promosikan menjadi semakin relevan saat ini.

    Moralitas Barat berakar pada tradisi filsafat Yunani, hukum Romawi, dan nilai-nilai Kristen. Selama berabad-abad, konsep ini telah berevolusi, mempengaruhi segala aspek dari politik hingga hak asasi manusia. Namun, sejarah kolonialisme, kapitalisasi tuan tanah dan kebijakan luar negeri yang terkadang kontradiktif menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan nilai-nilai ini.

    Dalam konteks diplomasi dan kebijakan luar negeri, negara-negara Barat sering kali dihadapkan pada dilema moral. Di satu sisi, mereka mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, sementara di sisi lain, sering kali menjalin hubungan dengan rezim-rezim yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut demi kepentingan politik dan ekonomi.

    Bagaimana kepentingan geopolitik negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, mempengaruhi sikap dan kebijakan mereka terhadap konflik ini. Hal ini termasuk tentang hubungan diplomatik dan militer Barat dengan Israel, serta dampaknya terhadap Palestina. Hingga sampai saat ini berkali-kali sidang PBB mengenai gencatan senjata selalu dihadang oleh veto amerika serikat dan negara barat lainnya yang keberatan dengan gencatan senjata.

    Peran negara-negara Barat dalam diplomasi internasional, termasuk didalamnya bagaimana mereka menggunakan pengaruhnya di forum-forum internasional seperti PBB sangat dipertanyakan. Apakah sebetulnya PBB digunakan sebagai sarana unutk membangun perdamaian dunia ataukah PBB adalah sarana untuk mendukung kepentingannya terhadap negara lain.

    Ketika terjadi krisis kemanusiaan, seperti konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia seperti yang saat ini terjadi di Gaza, respons negara-negara Barat sering kali diukur sebagai tolok ukur moralitas mereka. Pertanyaan muncul mengenai seberapa cepat dan efektif mereka merespons, serta motivasi di balik intervensi mereka.

    Era kapitalisme dan globalisasi membawa tantangan baru terhadap moralitas Barat. Walaupun dalam sejarah era tuan tanah berhasil direformasi, akan tetapi bentuk kapitalisme itu terus tumbuh dan bermetamorfosa. Pertumbuhan ekonomi dan keuntungan menjadi hal yang prioritas, yang terkadang mengorbankan nilai-nilai seperti keadilan sosial dan lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai-nilai moral masih dipegang teguh.

    Media Barat memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik. Cara mereka melaporkan tentang krisis internasional sering kali mencerminkan dan mempengaruhi pandangan moral masyarakat. Namun, bias dan agenda tertentu dalam pelaporan media seperti di Palestina dapat memutarbalikkan realitas, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu moral dan tidak membangun narasi konstruktif yang membawa perdamaian. Berapa banyak jurnalis yang tewas dari situasi perang yang tidak benar-benar adalah situasi perang. Situasi perang ini lebih nampak seperti di kondisikan atau adalah propaganda yang sangat buruk, karena menghadapai penduduk sipil dan saat ini bahkan disebut sebagai proses genosida pembersihan etnik.

    Negara-negara Barat sering kali terlibat ataupun membiarkan perusahan-perusahaan swastanya terlibat (bahkan terkadang terlibat dalam proyek bantuan keamanan resmi) dalam perdagangan senjata internasional, termasuk ke negara-negara yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran hak asasi manusia. Penjualan senjata dan bantuan militer ke Israel oleh negara-negara Barat, sangat mempengaruhi dinamika konflik dan menciptakan eskalasi konflik yang tidak perlu hingga memakan banyak nyawa penduduk sipil. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara promosi perdamaian dan keuntungan ekonomi yang diperoleh dari penjualan senjata.

    Walaupun kita dapat melihat bagaimana kompleksitas situasi yang terjadi dilapangan, tetapi rasanya negara-negara barat, juga negara-negara laindidalam PBB dapat merumuskan resolusi yang lebih baik lagi daripada apa yang dirumuskan pada hari ini. Pada akhirnya kit amelihat negera-negara yang patut memegang veto adalah negara-negara yang terbukti konsisten dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian di dunia.