Author: Datuk Dr Arman Husni

  • Muhasabah Diri (87): Bakhil, Empati Yang Hilang

    Nikmat Allah SWT amatlah banyak, tak sanggup untuk dirinci dan dihitung. Bahkan nikmat yang ada disekitar kita atau yang ada di jasad kita saja tidak mampu kita merincinya. Begitulah keagungan Allah SWT dan ketidak mampuan manusia, kerdil, kecil dan lemah. Allah SWT pandu kita lewat wahyu-Nya, dan dibekali kita dengan akal sebagai pemberian-Nya, agar kita tidak salah jalan.

    Mensyukuri nikmat adalah ciri orang yang tahu diri. Diantara bentuk syukur nikmat adalah menyalurkan kepedulian dalam bentuk kebaikan, bersedekah, berbagi untuk yang butuh dan lain sebagainya. Karakter mental tangan diatas, suka berbagi, menjadikan harta sebagai sarana untuk beribadah, semua itu merupakan ke-khas-an orang yang tidak diperbudak oleh harta. Sebaliknya sifat rakus dengan harta, tidak mau berbagi, merasa rugi untuk menyalurkannya terhadap proyek kebaikan, pelit alias bakhil atau kikir jadi karakter dirinya, semua itu ciri-ciri orang-orang kufur nikmat. Tipe orang bakhil dia akan sigap terhadap sesuatu jika ada peluang untuk dia mendapatkan sesuatu tersebut, dan menghindar jika dia diminta untuk berbagi dan saling menolong. Begitulah perbedaan antara kedua karakter.

    Rasulullah Saw bersabda:

    عن أبي هريرةَ رضي اللَّهُ عنه أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال :مَا مِنْ يوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ ملَكَانِ يَنْزلانِ ، فَيقولُ أَحدُهُما : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقاً خَلفاً ، ويَقولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً.

    Dari Abu Hurairah bahawasanya Nabi Saw bersabda yang maksudnya : “Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya).” (Muttafaq ‘alaih)

    Menjadi pribadi yang mensyukuri nikmat Allah SWT merupakan sifat yang menonjol di kalangan sahabat. Berpacu untuk memberi, berlompa untuk kebaikan, mewarnai aktivitas mereka dalam keseharian. Dari sisi lain mereka menghindari sifat bakhil, bahkan persaudaraan bagi mereka jauh lebih berharga dari materi. Kemulian mereka terlihat disaat mereka peduli kepada orang lain yang disebut itsar. Yang penting saudar mereka tidak kesulitan, jadi moto kehidupan mereka sehari-hari.

    Sahabat…

    Membiasakan diri saling peduli dan meyakini apa yang kita punya merupakan bentuk ujian buat kita. Bisa jadi ada diantara kita yang mampu menghadapi ujian kesulitan dan kesusahan tapi gagal dalam ujian materi. Begitu dahsyat ujian kebendaan ini, Allah beri kita pelajaran dalam Al-Qur’an kisah Qarun, sosok yang loba, rakus, bakhil, dibinasakan oleh Allah SWT agar kita berpikir…

    Minta kita selalu pada Allah SWT agar terhindar dari sikap bakhil…

  • Muhasabah Diri (86): Tabzir – Israf, Masih Banyak Saudara Kita Yang Kesusahan

    Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. Sebuah pepatah yang amat populer. Bahkan banyak dijadikan tulisan hiasan di dinding-dinding sekolah. Meskipun kekayaan melimpah, itu hanya titipan sesaat yang suatu saat juga akan habis. Tidak ada yang yang kekal dari harta kita, kecuali disitu ada pahala mengalir jika kita tepat menggunakannya. Keinginan ingin disanjung sebagai orang berpunya kadangkala membuat kita lupa diri dalam manajemen harta, mudah berfoya-foya, boros dalam pengeluaran, akhirnya tidak terkontrol dan berakhir dengan kesia-siaan.

    Para ulama menyikapi sikap berlebih-lebihan dalam menyalurkan harta atau tidak tepat sasaran dengan beberapa istilah diantaranya tabzir dan israf. Tabzir mengeluarkan atau membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Adapun israf lebih bermakna berlebih-lebihan dan melewati batas dari tujuan awal. Perbuatan ini amat dihindari oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Bukan berarti kita tidak boleh mempunyai kekayaan yang banyak. Pribadi muslim dianjurkan untuk kaya karena ada beberapa perintah ibadah berkaitan erat dengan harta. Tapi yang diwanti-wanti adalah, kemana dan buat apa harta kita dikeluarkan?

    Sahabat…

    Setiap kekayaan yang kita dapati ada pertanggungjawabannya. Hisab terhadap harta bukti Allah SWT Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya. Tidak serampangan mengelola harta yang berdampak pada tindakan boros dan mubazir… Dan itu ciri-ciri saudaranya setan.

    Allah SWT berfirman:

    إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al Isra: 27).

    Semoga kita terhindar dari gelar saudaranya setan…

  • Muhasabah Diri (85): Upah, Harapan Mereka Jangan Disia-siakan

    Indahnya sebuah taman karena berpadunya berbagai macam unsur. Warna-warni tanaman menambah keindahan dan menyejukkan mata. Saling melengkapi, saling bersinergi meskipun dalam perbedaan.

    Inspirasi dari keserasian ciptaan Allah SWT yang perlu kita tiru. Manusia dalam keberagaman dan perbedaan seharusnya mampu untuk saling memberi manfaat, saling melengkapi, karena kita diciptakan memang tidak sama. Hidup berdampingan penuh warna-warni sudah otomatis kita butuh aturan. Coba kita lihat kebelakang bagaimana Rasulullah Saw menata umat yang berlatar macam-macam karakter, suku, bahkan keyakinan. Dengan aturan mereka mampu berjalan beriringan. Piagam Madinah jadi catatan sejarah yang sampai hari masih jadi rujukan persatuan umat.

    Kita tidak mungkin hidup dengan mengisolasi diri, bersosial adalah cara manusia. Yang punya kemampuan membantu yang lemah. Yang punya keahlian mengandalkan keahliannya untuk berinteraksi sesama. Begitulah seharusnya kita saling memberi dan menawarkan manfaat bahkan jasa. Saat itu terjadi proses muamalah sesama, jual beli bahkan tawaran jasa, karena memang ada yang tidak bisa dilakukan sendiri. Memanfaatkan jasa seorang tentu tidak semuanya secara sukarela tapi juga ada yang berbayar bahkan bisa jadi sudah jadi mata pencaharian bagi sebagian orang. Pemanfaatan jasa berhubungan erat dengan upah.

    Sahabat…

    Masalah upah, merupakan kewajiban pemakai jasa untuk menunaikannya. Kadang-kadang ada yang lalai sehingga hak orang terabaikan. Rasulullah Saw bersabda:

    أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

    Artinya: “Berikan upah pekerja sebelum kering keringatnya”. (HR. Ibnu Majah)

    Adalah hal yang wajar seseorang menawarkan jasa dengan harapan dapat upah sebagai imbalan pekerjaan yang ditawarkan. Melalaikan upah berarti menyepelekan kewajiban. Upah bagi seseorang kadang-kadang jadi tumpuan harapan bertahan hidup, maka tidaklah layak menelantarkan hak orang lain…

    Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak mengabaikan hak orang lain…

  • Muhasabah Diri (84): Risywah, Tradisi Yang Bikin Sengsara

    Berpikir merupakan aktivitas keseharian manusia normal. Proses berpikir berbeda-beda, ada pekerjaan yang butuh berpikir keras, ada yang hanya perpikir alakadarnya. Bahkan juga ada pekerjaan yang banyak mengandalkan kekuatan otak daripada otot. Begitulah level-level berpikir yang dimiliki manusia, ada berpikir seadanya alias rendah, ada cara berpikir menengah bahkan ada yang terbiasa dengan level tinggi.

    Dalam Islam berpikir tidak hanya sebagai kebutuhan intelektual yang berpusat di otak tapi lebih daripada itu. Berpikir produktif yang tidak hanya mengotak atik berbagai teori keilmuan tapi juga diiringi kecerdasan hati menuju kepada penghambaan kepada Yang Maha Tahu.

    Ada juga tipe manusia berpikir sempit, egois, kemampuan otak hanya digunakan bagaimana bisa mendatangkan materi sebanyak mungkin tanpa menghiraukan halal atau tidak. Berbagai cara digunakan untuk memuluskan keinginannya. Diantaranya adalah dengan menyuburkan tradisi risyawah, sogok menyogok, suap menyuap, atau yang sejenisnya. Hal itu hanya akan mendatangkan malapetaka dan penyakit masyarakat. Tradisi yang amat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Dampaknya akan terasa di masyarakat. Hilangnya keadilan. Hukum dapat dibeli dan cenderung memihak kepada yang bayar. Rusak memang sebuah tatanan jika penyakit ini mewabah di masyarakat.

    لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي

    Artinya: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberikan sogok dan orang yang menerima sogok” (HR Abu Dawud)

    Pola hidup seperti ini sering digunakan bangsa Yahudi untuk merusak umat lain. Licik memang, kadang-kadang yang dirusak tidak sadar dan menyadarinya.

    Sahabat…

    Jika diri tidak bersih, pikiran ternodai, hati akan rusak dan keinginan akan terpasung kepada hal-hal yang negatif. Ujung-ujungnya aktivitas yang dilakukan juga akan menebar kerusakan… Padahal usia di dunia amatlah terbatas, diakhirat sudah menunggu pertanggungjawaban.

    Semoga kita terhindar dari perilaku yang merusak…