Category: Berita

  • MUI Lebak Minta Elite Politik Hormati MK

    LEBAK— Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten meminta para elite politik mempercayakan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum/PHPU Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang saat ini tengah berlangsung ke Mahkamah Konstitusi (MK).

    “Kita berharap para elite politik dapat menahan diri dan tidak mengeluarkan komentar-komentar yang memprovokasi dengan tidak mempercayai lembaga MK itu,” kata Wakil Ketua MUI Kabupaten Lebak, KH Akhmad Khudori, saat dihubungi, di Lebak, Rabu (19/6).

    Dalam persengketaan PHPU Pilpres 2019 diharapkan para elite politik dapat mempercayakan 100 persen ke MK sebagai lembaga negara untuk menyelesaikan keputusan proses hukum baik bagi pemohon maupun termohon dan pihak terkait.

    Dia mengatakan MUI Kabupaten Lebak mendukung sengketa Pilpres 2019 diproses secara hukum ke MK untuk mencari keadilan, mengingat Indonesia merupakan negara hukum, sehingga permasalahan sengketa PHPU bisa diproses secara hukum di MK. Begitu pula pemohon, termohon, dan pihak terkait, para elite politik maupun pendukung kubu pasangan capres nomor 01 dan nomor 02 harus menerima keputusan MK.

    Menurutnya, apabila MK itu memutuskan proses hukum maka hormati keputusan tersebut. Para pendukung capres dan cawapres yang kalah tentu harus menerima kekalahannya.

    “Kekalahan itu harus diterima dan jangan sampai membuat konflik maupun kerusuhan antarkelompok pendukung kedua pasangan capres-cawapres,” katanya lagi.

    Menurut dia, kontestasi Pilpres 2019 yang diikuti dua pasangan capres-cawapres yaitu pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno merupakan anak bangsa yang ingin memajukan bangsa Indonesia.

    Dia mengingatkan para elite politik maupun pendukungnya harus menerima kekalahan jika MK memutuskannya. “Kita kembalikan bangun bangsa ini agar menjadi baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur atau negara yang aman dan sejahtera,” katanya pula.

    MUI berharap sidang sengketa PHPU Pilpres 2019 di MK berjalan lancar dan berlangsung tertib. Begitu juga aparat keamanan dapat memberikan jaminan penuh keamanan agar tidak menimbulkan kericuhan di Jakarta.

    Masyarakat Indonesia menginginkan kembali kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai dan tertib tanpa terjadi konflik. “Kita perlu membangun pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” katanya pula. (Antara/ Nashih)

  • Sekjen MUI Ingatkan Penceramah Muslim dan Non-Muslim Taati Kode Etik

    JAKARTA— Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mengingatkan semua penceramah Muslim maupun non-Muslim harus mematuhi kode etik saat menyampaikan ceramah atau ajaran agama. Pernyataan ini disampaikan, menanggapi polemik penolakan Ustaz Firanda Andirja Abidin oleh umat Islam di Aceh, beberapa waktu lalu.

    Dia juga mengingatkan agar setiap pendai wajib menyampaikan ajaran yang benar dan tidak mengada-ada. “Semua penceramah entah itu Islam atau bukan, pasti punya kode etik dan sesuai kebenaran. Kalau dia menyampaikan hal bohong, ya hukuman yang pasti dia terima adalah hukuman dari Tuhan. Tapi, kalau dia menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan hukum negara, ya, negara yang akan menindak,” ujar Anwar Abbas, di Jakarta, Selasa (18/6). “Oleh Karena itu, setiap penceramah yang berbicara harus memperhatikan rambu-rambu yang diatur dalam agama ataupun negara,” kata dia.

    Dia menyebutkan, berdasarkan definisi Islam wasathiyah menurut MUI, terdapat 10 karakter dasar dalam berdakwah, yakni tawasuth (mengambil jalan tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), i’tidal (lurus dan tegas), musawah (egaliter non-diskriminasi), syura (musyawarah), awlawiyah (mendahulukan yang prioritas), islah (reformasi), tahaddhur (berkeadaban), dan tathawur wal ibtikar (dinamis, kreatif dan inovatif).

    “Itulah yang diinginkan oleh MUI tentang penerapan Islam wasathiyah,” kata Abbas sembari menambahkan bahwa Islam inilah yang akan membawa manfaat dan rahmat bagi seluruh alam. Ajaran ini juga yang sesuai dengan Alquran dan sunah. (Republika/ Nashih)

  • MUI Minta Pemerintah Buka Komunikasi Luas Cegah Redakalisme

    JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia meminta pemerintah membuka ruang komunikasi seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mencegah terjadinya radikalisme.

    “Kalau ada permasalahan, pemerintah juga harus mengatur bagaimana melakukan komunikasi, membuka kesempatan seluas-luasnya berkomunikasi kepada masyarakat,” kata Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Abdullah Jaidi, saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin.

    Dia mengatakan dengan kesempatan komunikasi yang luas tersebut justru membuat masyarakat memiliki tempat untuk menyampaikan sesuatu yang kurang berkenan dengan haknya sebagai warga negara.
    Menurut Jaidi, ada tiga penyebab utama yang menjadi penyebab radikalisme di masyarakat, yakni pemahaman, struktur sosial politik, dan keadilan.

    Dia menjelaskan, pemahaman ini dipicu oleh pemahaman yang radikal, ekstrem yang tidak mengenal toleransi baik di dalam pemahaman perjuangan.

    Terkait pemahaman ini, lanjutnya, pemerintah harus jeli melihat kondisi dari berbagai masyarakat, terutama di kalangan kampus. “Ini sudah sering kami sampaikan dalam berbagai kesempatan,” katanya.

    Jaidi mengatakan pemahaman radikalisme ini sulit terdeteksi di kampus negeri dan swasta, berbeda dengan kampus UIN memungkinkan untuk terdeteksi.

    Menurutnya perlu pengawasan dari para rektor dan dekan untuk mengetahui sejauh mana kajian dan halaqah yang dilaksanakan di kampus-kampus tersebut dapat memotivasi mahasiswa mendapatkan pemahaman yang benar.

    “Sebab kalau tidak diantisiipasi seperti itu, pemahaman itu (radikalisme) akan meningkat menjadi sikap. Dari sikap akan menjadi perbuatan,” katanya.

    Penyebab berikutnya, kata Jaidi, struktur sosial politik terkait dengan kesenjangan sosial yang harus menjadi perhatian pemerintah selain soal pemahaman.

    Dia mengingatkan harus hadir mengatasi kondisi sosial di masyarakat terutama persoalan ekonomi.

    Penyebab yang ketiga yakni keadilan. Menurut Jaidi, pemerintah harus terus menerus memberikan penjelasan dan sosialisasi kepada masyarakat sehingga tidak termakan oleh informasi yang justru yang dapat memecah belah umat. (Antara/ Nashih)

  • Alhamdulillah, Darulfunun mendapat dukungan akses Google Education

    Alhamdulillah, syukur tiada henti, upaya improvisasi dan inovasi yang terus dilakukan oleh segenap entitas Darulfunun dalam menyambut tahun ajaran baru, mulai soft side: menjaga kualitas kurikullum, memfasilitasi program tahfidz, penekanan ekstrakurikuler untuk membina karakter siswa, dan juga rencana pengembangan kurikullum surau, dan juga infrastruktur: pembangunan pustaka, penambahan ruang kelas, renovasi, pengecatan, penambahan kapasitas area mandi asrama.

    Terbaru sekali, Darulfunun mendapatkan akses lisensi Google Education. Google Education sendiri adalah salah satu servis google yang premium seperti fitur gmail, penyimpanan file, Google Docs, dan juga Apps yang dapat dikembangkan pemanfaatannya secara lebih luas mencakup pelatihan software, dari programming, desain produk, hingga kelas virtual.

    Kedepannya pemanfaatan ini akan diperluas untuk memperkaya kemampuan Darulfunun dalam program Open Distance Learning (ODL). Program ODL ini adalah salah satu jawaban tantangan Darulfunun menyikapi keterbatasan kemampuan, bagi internal, lokal daerah maupun kemampuan akses pendidikan secara nasional.

    Insyaallah kedepan, tahapan ini dapat berkembang menjadi alternatif pembelajaran global yang sesuai dengan model yang Darulfunun kembangkan, yakni massif, intuitif, low cost dan open access yang artinya semua lapisan masyarakat khususnya yang memiliki keterbatasan akan dapat dukungan dalam pembelajaran untuk bersaing secara global.

    Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi penanggung jawab pengembangan: Abdullah A Afifi.

  • Payakumbuah Pasa Rang Limapuluah

    Jika Bukittinggi adalah koto (kota) rang Agam, maka Payakumbuh pasa (pasar) rang Limapuluh. Ungkapan yang kedua itu tak muncul sendiri melainkan berlatar belakang sejarah, politik, sosial budaya dan ekonomi Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.

    Dalam tambo, misalnya, disebutkan serombongan orang berjumlah 50 orang konon turun dari Pariangan sampai di daerah yang ditumbuhi kumbuah, sejenis tumbuhan rawa. Lalu, di Labuah Basilang mereka berpisah dan masing-masing mendirikan kampung sampai akhirnya jadi 50 koto.

    Dalam sejarah, Payakumbuh adalah ibukota Kabupaten Limapuluh Kota, sebelum berdiri sendiri jadi Kotamadya 17 Desember 1970. Tak heran jika warga Limpuluh Kota hingga hari ini menyebut Payakumbuh “pasa” alias pasar. Kalau ada yang bertanya dan dijawab ka “pasa”, itu artinya Payakumbuh. Tak ada sebutan “pasa” selain Payakumbuh.

    Untuk pasar selain Payakumbuh warga menyebutnya “pokan” atau pekan. Di kawasann mudiak (Limapuluh Kota Bagian Utara) yaitu Kecamatan Payakumbuh, Guguak, Mungka, Suliki, Bukit Barisan, dan Kecamatan Gunung Omeh, bila menyebut “pokan”, itu bisa berarti Pokan Komih/ Kamis (Limbanang), Pokan Sotu/ Sabtu (Dangung-Dagung), Pokan Sinoyan/ Senin (Suliki), Pokan Lasa /Selasa (Mungka), Pokan Rabaa/Rabu (Simalanggang). Begitu juga di Kecamatan Harau, Luhak, Sago Halaban atau Situjuah Limo Nagori.

    Hanya warga Kecamatan Kapur IX dan Pangkalan Koto Baru yang menyebut Payakumbuh. Mereka menyebut pasa untuk pekan-pekan untuk pasar yang ada di tiap nagari di sana. Perbedaan itu mungkin karena zaman penjajahan Belanda Kecamatan Kapur IX dan Pangkalan Kotobaru berada di bawah Keresidenan Bangkinang.

    Terlepas dari faktor sejarah itu, kultur dan ekonomi masyarakat Limapuluh Kota memang telah menempatkan Payakumbuh sebagai pasarnya. Apapun produk Limapuluh Kota dipasarkan di Payakumbuh. Sebaliknya kebutuhan pun dibeli di Payakumbuh. Hanya belakangan sejak Bupati Alis Marajo membangun jalan ke pelosok Limapuh Kota, sebagian besar produk Limapuluh Kota, terutama ayam, telur, coklat, karet (sejak pabrik karet di Ngalau tutup), gambir, jagung, pisang dan sebagainya langsung dipasarkan ke Pekanbaru atau ke Padang.

    Yang meramaikan pasar kuliner malam hari di Payakumbuh, penjual atau pembeli, juga warga Limapuluh Kota. Tak aneh kalau yang terkenal di malam hari di Payakumbuh adalah sate Dangung-Dagung, martabak Kubang dan jeruk Gunung Omeh, daerah Limapuluh Kota. Limpuluh Kota sendiri, meski sudah pindah ibukota ke Sarilamak, belum punya “pasa”.

    Melihat kenyataan itu sudah saatnya dirumuskan perencanaan bersama pembangunan Payakumbuh dan Limpuluh Kota, sebagaimana halnya pernah saya saran dan dikerjakan Kabupaten Solok dan Kota Solok masa Ketua Bappeda Kota Solok dijabat Drs. Yulizar Bahrin 1988 silam.

    Perencanaan bersama Payakumbuh dan Limapuluh Kota bisa dimulai oleh Payakumbuh dengan membangun dua pasar baru, di bagian utara kota. Pasar ini bisa jadi kolektor dan distributor produksi pertanian, perkebunan dan peternakan rakyat Limpuluh Kota Bagian Utara yang terdiri dari 6 kecamatan.

    Pasar ini, bisa dinamai Latina (Limpasi Tigo Nagari), akan sangat strategis dan efektif karena terletak di lintasan Jalan Lintas Sumatera, Pekanbaru – Bukittinggi. Pasar ini bisa jadi pusatdistribusi ayam, telur dan beras dari Limapuluh Kota Bagian Utara ke Pekanbaru, pasar utama produk Limapuluh Kota.

    Konsekwensinya, Pemkab Limapuluh Kota perlu meningkatkan status jalan Lampasi – Mungka- Limbanang dari jalan kabupaten jadi jalan provinsi menambah volume angkutan di Jalan Lampasi- Dangung-Dagung – Limbanang yang sudah berstatus jalan provinsi.

    Peningkatan status jalan ini jadi penting mengingat kawasan ini paling besar jumlah penduduknya dan jumlah sekolahnya. Selain lebih luas wilayahnya juga merupakan penghasil utama beras, ayam dan telur di Lampuluh Kota, sekaligus mendukung percepatan Koto Tinggi menjadi kota.

    Pasar baru kedua yang dibutuhkan Payakumbuh adalah di sekitar Bukit Sitabuah Air Tabit atau bagian selatan kota. Pasar ini akan berfungsi sebagai pusat perdagangan beras dari selatan Limpuluh Kota, seperti dari Kecamatan luhak, Sago Halaban dan Situjuah Limo Nagari. Pasar ini sekaligus menampung produk dari Lintau Kabuapten Tanah Datar. Konsekwensinya Limapuluh Kota harus meningkatkan jaringan jalan di sekitar Luhak, Sago Halaban, dan Situjuah.
    Dengan demikian, warga Payakumbuh/Limapuluh Kota tak harus bagadincik di Pasar Ibuah dan pasar pusat kota yang kini jadi sarang kemacetan.

    Tapi pembangun kedua pasar tersebut memang sangat ditentukan kejelian pejabat kedua daerah melihat peluang dan tantangan kemudian bagiamana merencanakan peningkatan kesejahteraan rakyat daerahnya hingga sepuluh tahun ke depan. Dan, ini tentu lebih ”merakyat” ketimbang membangun lapangan terbang yang peernah dikemukakan Walikota Payakumbuh. Sebab, bandara hanya menyangkut kepentingan orang-orang berduit karena yang naik pesawat terbang hanyalah orang-orang mampu.

    Kita melihat rencana pembangunan pasar itu merupakan ujian bagi kedua kepala daerah terhadap komitmennya pada peningkatan kesejahteraan rakyat. (*)

    Komentar Singgalang Kamis 20 Maret 2014

  • Platform Banking: The way to the future for Islamic Banking

    Islamic banking is entering the state of irrelevance, or impasse. Many countries adopting dual banking system are witnessing the growth of Islamic banking sector stagnating. Indonesia for instance is growing at single digit in 2017, much lower than its peak of 47% in 2011, or 15-20% in the last three years.

    The growth of innovative finance such as peer to peer lending and crowd funding, better known for its platform as financial technology or fintech, is among the threat affecting Islamic banking.

    Platform banking is the face of banking in the future. In essence, banks will not only a place for banking transactions, but also for other services provided by the bank and its partners. Such services may include financial services products like insurance, or even non-financial.

    The concept of platform is introduced and used extensively today in e-commerce area, and increasingly by services companies.

    Banking can offer itself as a platform for other services related to banking, such as property, restaurant, insurance, mutual funds, or other services such as retail or government services.

    Platform banking has been introduced by several medium sized commercial banks in Japan, Korea, the United Kingdom, Swiss, Germany, and the United States.

    This development is interesting to follow, as banking services cross borders and go beyond traditional banking services.

    The main hurdle in offering non-banking services is regulatory, as banking is highly regulated and some of these products are considered risky to the reputation or security of the banks.

    One of the ways to mitigate this is by creating a digital platform and investing adequately on security.

    With the advancement of technology, this hurdle can be mitigated.

    The other aspect that allows the application of platform concept in banking is banking attracts customers to be in one place, either physically in banking halls or virtually. This frequent visits or use of banking facilities is an important feature that are attractive to providers of other services or producers of goods that can be offered through banking platforms i.e. banking halls (its vicinity) and banking internet portal or platform.

    Platform banking is essentially bringing the banking services back to its original function i.e. the place where communities trusted the priests as their bankers then.

    It early days, communities deposit their money and valuables to the church or other religious establishment. Temples or churches, in the Middle Ages, were not only place of worship but also a place where people safekeep their possession when they are going for a long trip or pilgrimage. In a simplest sense, church was a platform.

    In hindsight, may be it is time to reconsider banking, and particularly Islamic banking as a platform.

    Source: https://www.linkedin.com/pulse/platform-banking-way-future-islamic-dr-luqyan-tamanni/

  • Refleksi Ceramah Dakwah Menjadi Kontraproduktif

    *refleksi ceramah dakwah kontraproduktif karena mendapat penolakan dari masyarakat, pengamatan beberapa peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi

    Kami dibesarkan di kalangan Muhammadiyah dan mendapat pertentangan di kawasan, dahulu Muhammadiyah tidak sebesar sekarang. Walaupun begitu yang bisa menjadi alasan kuat adalah kami tinggal disana, sehingga waktu juga yang membuktikan konsistensi dan mengobati luka yang ada.

    Begitu sulitnya berdakwah lintas batasan, bahkan setelah lama merantau pun kembali berdakwah di daerah asal juga tidak semudah yang dikira.

    Bahasa menjadi kendala, budaya menjadi halangan, satu dua hujjah tentang keadaan tidak akan merubah situasi, jika Allah yang memberikan hidayah, kemudian ikhtiar adalah bagian kita.

    Bukan artinya kita diam, artinya dalam berdakwah dan ikhtiar kita perlu strategi dan pendekatan.

    Mengatakan “saya” dikatakan arogan, menggunakan “adeen” dikatakan kasar, menggunakan “ambo” dikatakan gaya, menggunakan “ana” kearab-araban, begitulah yang diributkan bukan konten dari permasalahan, tapi berputar-putar di tepi kemudian kusut.

    Salah satu yang terpenting dahulu ketika diberi kesempatan dalam training future leaders, mereka muda-muda sekali. Adalah jika berkarir sebagai pemimpin maka penting untuk memiliki kompetensi, dan lebih dari itu adalah memiliki segmented market, kaum atau masyarakat yang jelas. Siapa orangnya, bagaimana kondisinya, dsb.

    Akan kurang produktif ketika kita berbicara wacana tetapi kita bukan eksekutor, akan kontra produktif ketika kita melempar ide tetapi mendapat penolakan dari cara.

    Walaupun legitimasi memberikan otorisasi, yang dalam hal tentu patut diberlakukan, seperti saya di undang, saya memiliki hak sebagai pemimpin, saya ditunjuk, dsb. Tetapi ianya bukan satu-satunya jalan yang terus dipakai, karena ada emosi dan sentimen yang akan berlaku.

    Cara yang terbaik dan efektif adalah menyampaikan kebenaran, kebaikan, perbaikan itu sendiri, dengan agen/orang/anggota masyarakat itu sendiri.

    Doing good from the start.

    Satu kisah sahabat dari Ghifar yang masuk Islam di awal kenabian, seorang revolusioner, ketika ditanya apa yang berikutnya perlu dia lakukan, kata nabi kembali kaummu.

    Kemudian dia berkata saya tidak akan kembali sampai saya menyampaikan kebenaran di hadapan penduduk Mekkah, kemudian dia pergi ke depan Ka’bah dan berteriak, dan berakhir dipukuli oleh orang-orang. Begitu juga yang dialami oleh sahabat Omar.

    Nabi sudah menyampaikan strategi dan rencana, tetapi maksud hati memang sudah dilawan, maka hadapi akibatnya.

    Begitu juga pelajaran dari nabi, rasul, tokoh dakwah dahulu, umum dari mereka adalah anggota dari kaum yang mereka dakwahi. Ataupun jika tidak, anak-anak didik mereka yang akhirnya berdakwah untuk kaum tersebut.

    Belum lagi faktor umur, penampilan, anak siapa, kaum apa dan sebagainya. Ibnu Khaldun menguraikan lebih panjang lebar dan terperinci mengenai hal ini.

    Belajar dari banyaknya upaya dakwah kita yang berkonflik, ada rasanya kita insaf dan mempertimbangkan faktor-faktor yang kami sebut diatas, . Fokus kepada masyarakat yang memang kita memiliki kuasa pengaruh didalamnya. Apalagi dengan kondisi kita yang memberikan gap ruang dengan keadaan masyarakat, baik pendidikan, ataupun ekonomi.

    Jika hidayah adalah milik Allah, maka ikhtiar bangkit adalah milik manusia. Semoga kita dilindungi dari kesalahpahaman dan konflik diantara sesama muslim.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Wallahualam

  • Ini Tanggapan Ketua Komisi Dakwah MUI atas Insiden Penolakan Ustaz Firanda di Aceh

    JAKARTA– Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis memberikan komentar pascainsiden pembubaran pengajian Ustad Firanda Aldirja di Masjid Al Fitrah, Keutapang II,  Banda Aceh, Kamis (13/06).

    Insiden terjadi sebab massa menuntut pembubaran pengajian Ustaz Firanda yang sedang berjalan. Massa menilai Ustaz Firanda membawa paham Wahabi dan itu tidak sesuai dengan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. Beberapa hari sebelum  pengajian berlangsung, massa mengaku sudah memberikan peringatan agar pengajian itu tidak dilaksanakan. 

    Atas kejadian itu, Kiai Cholil berharap masyarakat tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum. Dia meminta sikap masyarakat tetap sejalan dengan konstitusi dan undang-undang.  

    “Masyarakat agar tidak melakukan tindakan-tindakan di luar konstitusi, di luar undang-undang peraturan kita,” ujar Kiai  Cholil, Sabtu (15/04) dalam perbincangannya dengan MUI.OR.ID. 

    Ketidaksejutuan dengan Ustaz Firanda, tuturnya, bisa dikoordinasikan dengan aparat penegak hukum dan keamanan. “Karena khawatir nanti menjadi pemicu antarpendukung sehingga bisa menimbulkan hal yang fatal hadirnya keamanan setelah terjadi kericuhan,” katanya. 

    Karena kejadian seperti ini belakangan sering terjadi, Pembina Pesantren Cendekia Amanah Depok ini juga meminta para dai mulai introspeksi diri. Dia berharap para dai menekankan nilai keberagaman dan keorganisasian. Dia juga berharap para pendakwah lebih paham situasi dan kondisi lapangan. 

    “Karena dakwah itu tidak hanya menyampaikan kebenaran, tapi ada metode dan media penyampaian kebenaran, itu harus disesuaikan dengan local wisdom atau kearifan lokal,” ungkapnya. 

    “Mungkin ini menjadi evaluasi bagi Ustaz Firanda di dalam menyampaikan statement-statement-nya sehingga mungkin cocok bagi kelompoknya, tapi bagi kelompok lain tersinggung, oleh karena itu, hal-hal yang sifatnya khilafiyah (perbedaan pendapat), furu’iyah, itu bisa disampaikan dengan lebih santun, lebih beradab,” katanya. (Azhar/ Nashih)

  • Gandeng Perhutani, Pinbas MUI Budidayakan Bawang Putih

    SURABAYA— Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (Pinbas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menggandeng Perhutani Jawa Timur untuk menanam bawang putih. Langkah ini pun mendapatkan respons yang positif, terutama dari para petani.

    “Alhamdulillah kerja sama dengan tiga pihak yakni Pinbas MUI Jawa Timur, Perhutani Divisi Regional Jawa Timur dan investor ini disambut baik oleh petani, karena mereka diberikan bantuan modal Rp 15 juta rupiah per hektare oleh investor,” kata Ketua Pinbas MUI Jawa Timur, Wahid Wahyudi, di sela kegiatan Halal bi Halal 1440 Hijriyah Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Rabu (12/6).

    Wahid Wahyudi yang juga menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pengembangan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur ini, mengucapkan terima kasih kepada Perhutani yang sudah bekerjasama dengan Pinbas MUI Jatim.

    “Kami sudah melakukan kerja sama dengan Perhutani Jawa Timur dengan menanam bawang putih yang Insya Allah sebentar lagi akan panen. Ini adalah satu-satunya Pinbas MUI yang sudah melakukan kegiatan riil,” katanya.

    Menurut dia, petani juga dipinjami bibit sebanyak 15 kilo per hektare dan bibit itu akan dikembalikan saat panen nanti. Dan yang paling penting adalah pasar dan investor siap membeli bawang putih hasil panen. “Dan Insya Allah Pinbas MUI Jawa Timur akan segera membentuk Badan Usaha East Java Pinbas,” katanya.

    Direktur SDM, Umum, dan IT Perhutani, Kemal Sudiro, mewakili Direktur Utama Perhutani menyampaikan, bahwa hasil laporan audit 2018 yang telah diserahkan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Perhutani dapat meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 21 persen menjadi Rp 4,4 Triliun dan peningkatan laba bersih sebesar 49 persen.

    Menurutnya, peningkatan kinerja perusahaan tersebut merupakan upaya transformasi bisnis yang berfokus kepada empat aspek yaitu keuangan, operasi, organisasi dan budaya.

    Dia menjelaskan bahwa 2019 Perhutani mengusung tema “Perhutani 4.0+” yang arti tambahannya Governance Through Connectivity yang diusung sebagai upaya untuk mengintegrasi semua aspek baik hulu hilir maupun internal, eksternal berbasis teknologi informasi terkini dalam menunjang penerapan tata kelola perusahaan yang baik. (Antara/ Nashih)

  • Indonesia Problem on China US Trade War

    After success with ASIAN Games, Rupiah crash to 15,000 per US dollar, the lowest point in Jokowi cabinet. In 2012 rupiah start with optimistic value 12,000 per US dollar, some analyst said that was an effect of optimistic market with Jokowi 2012 cabinet, and then what happen now?

    With current low value of rupiah most analyst explained this condition unlikely crisis on 1998, even though some people in different region of Indonesia already show uncomfortable with this situation, even some of them already make demonstration. But gladly after few days, rupiah continue to strength, until now rupiah value is 14,740 per US dollar.

    In local press conference, cabinet stated that this condition as result by financial crisis on some countries like Turkey, Argentina, etc., they suffer a lot more inflation than Indonesia, and most local analyst agree with that. Just a few local insight that mention this condition was a result a global shifting and trade war between China and US., and it is quite obvious cabinet never stated this.

    Indonesia as one of country that receive global investment made by China. A significant increase from $2.66 billion in 2016 to $5.5 billion in 2017 (combine China and Hongkong investment). This make China as second higher Foreign Direct Investment list after Singapore with $8.4 billion in 2017. (refer to Asia Nikkei‘s article).

    With China’s One Belt One Road vision and put Indonesia as one of their hub port project, this trade war situation will drift and pressure Indonesia economic a lot. Many of Infrastructure project was hold by this condition since they funding was support by China’s FDI. This condition was also getting worse by China another option to persuade Thailand to open wide Mekong river to allow bigger cargo ship cross through it. And if this happen we gonna see how China investment gonna be slowing down and make Indonesia economic unstable.

    Indonesia must realize more on global condition about One Belt One Road optional strategy in ASEAN made by China. Now day as Malaysia Government also hold some of China big project in Malaysia, and they are holding Mega Infrastructure project that have correlation with China investment, make Indonesia as the next hub after. as one of Malacca straits operator become more uncertain.

    As for back up plan that Indonesia should prepare, alternative development plan on infrastructure project that backup by China investment should support with national projection plan, and Indonesia need to setup alternative fund from local investor.

    Indonesia already had experience with unfinished mega project on Soekarno era that affected by trade and influenced war between China and US a long time ago, bring economic crisis, more debt and bound with non beneficial funding aggreement, one of it is Freeport. On that day, this mega infrastructure that not functional and not significant to solve public issues like monuments and sports center.

    This current day, we hope for different approach, even the FDI (Foreign Direct Investment) is too good to be refused, we need more alternative from local funding.

  • Daftar TV dan Program Ramadhan Layak Toton Menurut MUI

    Jakarta, – Tim Pemantau TV Ramadhan yang dibentuk MUI mencatat lima televisi yang program-programnya di bulan Ramadhan 2019 ini paling sedikit masalah. Sebagian besar tayangannya sejalan dengan spirit Ramadhan. Kelimanya adalah Metro TV, TVRI, TVOne, Kompas TV, dan RTV.

    Tiga TV pertama, Metro TV, TVRI, dan TVOne memperlihatkan konsistensi dalam mewarnai program positif sepanjang 12 tahun pantauan Tim MUI pada program Ramadhan. Sementara Kompas TV, dan RTV dalam dua tahunan terakhir menunjukkan komitmen yang baik untuk memproduksi program yang sejalan spirit Ramadhan. RTV menyajikan Ramadhan khusus untuk segmen anak-anak.

    “Metro TV semakin konsisten dalam memaknai bulan Ramadhan. Program-program yang ditayangkan dirancang untuk mengajak pemirsa mengisi bulan Ramadhan dengan hal-hal positif.

    Program-programnya bukan hanya sarat ilmu, tetapi juga mengajak pemirsa untuk mengamalkannya dengan penuh hikmah,” kata Iroh Siti Zahroh, anggota Tim Pemantau MUI yang memonitor Metro TV.

    Program Ramadhan di Metro TV, antara lain, Dakwah On The Spot, Tafsir Al Mishbah, Khazanah Islam, Cahaya Hati, dan Syiar Anak Negeri.

    TVRI menyajikan 17 program Ramadhan kali ini. Dalam sepertiga malam terakhir, ada “Tafsir Al Baqarah”. Diikuti program “Nongkrong Sahur” yang menayangkan sketsa masalah dan kejadian kekinian di masyarakat dan diikuti penjelasan ustadz. Program live shalat tarawih dari Majid Haram Makkah yang telah bertahun-tahun ditayangkan, tetap hadir.

    Banyak lagi program menarik TVRI, seperti Puasa Diaspora dan Puasa di Luar Negeri. Ada juga Live the Mosque yang memperkenalkan mesjid bersejarah di berbagai belahan bumi. Untuk program pengembangan bakat, ada Tilawah Cilik dan Qasidah Fest .

    Sedangkan beberapa program Ramadhan di TVOne, antara lain: Syiar Ramadhan, Gebyar Ramadhan, Pesona Islam, Indahnya Ramadhan Bersama Ustadz Abdul Somad, Hikmah Al Asmaul Husna, Damai Indonesiaku Spesial Ramadhan 1440 H, dan Jelang Berbuka Bersama Ustadz Abdul Somad.

    “TVOne layak dinominasikan sebagai TV terbaik Syiar Ramadhan. Substansinya bagus. Program pagi Ustadz Abdul Somad itu interaktif. Pemirsa diajak berkontemplasi,” paparan Ahmad Baidun, anggota Komisi Pendidikan MUI, yang memantau TVOne.

    Di RTV, salah satu program terbaik adalah Qori Indonesia. “Jurinya orang-orang pilihan. Menguasai tilawah. Menyasar anak muda dan lintas profesi,” kata A. Khoirul Anam, pemantau TV ini. “Yang menarik, ada tampilan polisi muda, hafidz. Juga suasana kantor polisi di Sumatera Selatan yang penuh suasana Qurani. Progam ini layak mendapatkan salah satu penghargaan ASR,” sambung Anam.

    “Program ini merupakan salah satu sarana sosialisasi dan menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di kalangan anak milenial yang bergelut dalam berbagai bidang, termasuk di dunia kepolisian,” kata Anam. Ada segmen khusus untuk memaparkan kandungan Al-Qur’an. Juri ketiga yang khusus membahas tafsr dan kandungan Al-Qur’an memberikan wawasan Al-Qur’an kepada para peserta dan pemirsa.

    “Program Qari’ Indonesia ini tidak hanya ajang pencarian bakat tapi penanaman pengetahuan mengenai kandungan AL-Qur’an dan ajaran Islam secara umum,” tambah Anam. “Rahasia Ilahi” di RTV, menurut Anam, bisa menjadi penyemangat anak-anak untuk bangun sahur dan menjalankan puasa Ramadhan.

    Kompas TV, dalam catatan pemantau, Hidayati, memiliki delapan program Ramadhan: Merindu Baitullah, Risalah, Ramadan Kareem, Muslim Journey, Islam Araound the Word, Taste of Halal, Zakat Tumbuh Bermanfaat, Kurma dan Muslim Diary. “Program Merindu Baitullah mengangkat kisah inspiratif mereka yang berjuang untuk bisa menunaikan ibadah haji,” kata Hidayati. “Kompas TV tahun ini terasa jauh lebih Islami,” Elvi Hudhriyah, pemantau lain, menimpali.

    Program positif tak hanya di lima TV di atas. Di Global TV, ada Voice of Ramadhan, proses pencarian penyanyi berbakat model Nissa Sabyan. Juga ada “Kampung Ramadhan”.

    Di MNCTV, program Ramadan dikemas secara spesial dengan tema Meraih Berkah Cinta Ramadan. Beberapa program yang layak diapresiasi, diantaranya “Semesta Bertilawah” yang melibatkan para santri dengan kualitas bacaan Al-Quran yang bagus. Juga ada Salam Kilau Ramadan bersama grup gambus Sabyan sebagai upaya meneguhkan seni Islam modern. Selain itu, ada program untuk anak-anak pada sore hari Ngabuburit Bareng Upin-Ipin dengan episode baru jelang buka puasa. Beberapa tema yang diangkat adalah belajar tata cara shalat dan mengaji yang dapat memberikan dorongan bagi anak Indonesia belajar Al-Quran dan agama.

    Di RCTI, di antara program positif adalah Hafiz Indonesia. “Pernah menghadirkan Naja, bocah berusia 9 tahun yang mengalami kelumpuhan otak, namun memiliki ingatan luar biasa dan menghafal 30 juz Al Quran,” tutur M. Fadhilah Zaein, pemantau RCTI.

    “Program ini sangat menginspirasi penonton untuk lebih dekat dengan Al Quran dan mendorong umat untuk tidak putus asa atas kondisi apapun yang dialami.” Program lain di RCTI adalah sinetron “Aku Bukan Ustadz-Mendadak Sholeh” dan “Amanah Wali 3,” papar Fadhil.

    Sementara beberapa program positif Ramdhan di Jak TV adalah Rindu Tanah Suci, Cerita Ramadhan, Mimbar Dakwah, VoA Muslim di Rantau, Risalah Ramadhan. Di ANTV ada “Tawakal” di INews ada film “Omar bin Khattab” dan program “Cahaya Hati Ramadhan”.

    Di SCTV, dalam pantauan Rida Hesti Ratnasari, ada program bagus “Mutiara Hati Qurasih Shihab”, “Mengetuk Pintu Hati”, sinetron “Para Pencari Tuhan” dan “Merindu Baginda Nabi”. Di Indosiar, ada Akademi Sahur Indonesia (AKSI) dan Festival Ramadhan.

    Semua program positif hasil pantauan, menurut Asrori S. Karni, Penanggung Jawab Tim Pemantau TV Ramadhan, “Kkami catat untuk dipertimbangkan mendapatkan Anugerah Syiar Ramadhan (ASR) 2019, yang diselenggarakan MUI, KPI, dan Kemenpora, pada akhir Juni 2019.” (asrori/thobib)

  • MUI Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya KH Tolchah Hasan

    JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia menyampaikan belasungkawa terhadap wafatnya mantan menteri agama era KH Abdurrahman Wahid, KH Tolchah Hasan, meninggal dunia pada Rabu (29/5) sekitar pukul 14.00 WIB. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat MUI 2010-2015.

    Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis, mengatakan almarhum merupakan ulama yang patut diteladani generasi Muslim saat ini.

    Karena, menurut dia, Kiai Tolchah merupakan ulama yang sangat dengan ilmu pengetahuan. Bahkan, dari beberapa orang kiai yang dekat dengan Kiai Cholil, Kiai Tolchahlah yang paling senang dengan ilmu.

    “Ada satu hal yang beda dari beliau. Saya dekat dengan Kiai Makruf, Kiai Hasyim Muzadi dan Kiai Tolchah. Nah Kiai Tolchah itu punya spesifik adalah senang ilmu,” kata dia Kepada MUI.OR.ID, di Jakarta, Rabu (29/5).

    Karena senang dengan ilmu, Kiai Tolchah pun sangat senang membaca buku. Beliau akan memburu setiap ada buku-buku baru yang berkualitas. “Beliau itu selalu baca. Dan pasti selalu memburu buku-buku baru. Itu yang bisa diteladani kita,” ucap Kiai Cholil.

    Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini merasa kehilangan atas wafatnya Kiai Tolchah. Apalagi, Kiai Tolchah sudah menganggap Kiai Cholil seperti anaknya sendiri.

    “Saya ikut belasungkawa. Saya dengan beliau itu kayak anaknya. Jadi saya banyak dapat pelajaran dari beliau. Memang beliau guru di NU. Ketika beliau jadi Wakil Rais Aam saya jadi ketua Lembaga Bahtsul Masail,” kata Kiai Cholil.

    Selain itu, pada saat Kiai Tolchah menjadi Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang pertama, Kiai Cholil juga diangkat sebagai sekretaris BWI. Keduanya pun mengurus BWI selama dua periode atau selama tujuh tahun.

    “Jadi beliau sudah menaggap kayak anak. Sampai kalau saya di Malang diminta bareng-bareng di Sabilillah (Masjid Sabillah), di Unisma. Dan banyak saya mendapatkan pelajar dari beliau,” kata Kiai Cholil.

    Kiai sepuh yang juga mantan Menteri Agama Era Presiden Gus Dur KH Muhammad Tolchah Hasan wafat pada Rabu (29/5), pukul 14.30 WIB bertepatan dengan 24 Ramadhan 1440 Hijriyah, setelah menjalani pengobatan di RSSA Malang.

    KH Muhammad Tolchah Hasan yang merupakan tokoh organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) itu sempat dirawat di rumah sakit tersebut hampir sebulan.

    Kiai Tolchah dilahirkan di Tuban, Jawa Timur, pada 1936 dan merupakan tokoh multidimensi, yakni sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi, dan juga merupakan tokoh yang aktif di pemerintahan.

    Saat menjadi menteri, dia mendirikan Direktorat Pendidikan Pondok Pesantren dan Seksi Pekapontren (Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) yang sekarang menjadi pendidikan diniyah dan pondok pesantren.

    Kiai Tolchah juga alumni Pesantren Tebuireng era 1950-an. Selama hidup, KH Tholchah Hasan juga masih mengabdikan dirinya di Pesantren Tebuireng sebagai Dewan Pembina di Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari.

    Kiai Tolchah meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan empat cucu, yang saat ini tinggal di Singosari, Kabupaten Malang. Almarhum pernah menduduki posisi Mustasyar PBNU dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Merdeka Malang hingga 1998. Selain itu, almarhum juga sebagai Dewan Pembina Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) hingga saat ini. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di Kampung Bungkuk, Singosari, Kabupaten Malang, setelah shalat tarawih. (Ichwan/Nashih)

  • Pesbukers Ditegur MUI, ANTV Janji Evaluasi Tayangan

    JAKARTA— MUI memberi sorotan khusus pada program Sahurnya Pesbukers dan Pesbukers Ramadhan di ANTV pada bulan Ramadhan 1440 H/2019 ini. Ramadhan tahun lalu, 2018, dua program ini termasuk lima program yang MUI rekomendasikan untuk dihentikan tayangannya, karena kontennya yang buruk, apalagi untuk Ramadhan. Tahun ini tetap tayang, dan tanpa perubahan isi secara signifikan.

    Menyikapi teguran tersebut, GM Marketing Communication ANTV, Monica Desideria, mengatakan pihaknya sangat memperhatikan teguran MUI tersebut. Bahkan pihak televisi sudah menerima surat teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kemudian ditindaklanjuti. “Surat dari KPI sudah diterima bagian Corporate Communication melalui Bagian Regulatory siang ini,” ujarnya dalam keterangannya kepada MUI.OR.ID, di Jakarta, Rabu (29/5).

    Monica memastikan, pihak ANTV akan melakukan evaluasi terhadap program Pesbukers. Mereka berjanji akan segera memperbaiki adegan yang ditampilkan dalam program Pesbuker agar layak disajikan selama Ramadhan. “Kami akan melakukan perbaikan atas masukan program Pesbukers tersebut. Akan segera kami eksekusi secepatnya,” kata Monica Desideria.

    Dalam konferensi pers hari ini, Rabu (25/9), MUI menegaskan kedua program tersebut mengandung konten tayangan yang tak sejalan dengan nafas Ramadhan.

    Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, mengatakan tayangan yang dibintangi Luna Maya, Vega, Raffi Ahmad, Angel Lelga, Ayu Ting-ting, Aziz, Ruben, Eko Patrio, Zaskia Gotik ini banyak berisi dialog dan adegan yang tidak pantas. Misal, adegan pelukan mesra, lama, dan erat antara Sangket dan Anjela, pasangan kekasih yang berulang tahun saat itu dan ditepuktangani oleh pemain lainnya. “Dari tahun ke tahun, Sahurnya Pesbukers tidak ada perubahan. Masih menayangkan canda berlebihan, saling ejek, hina-menghina dan hura-hura,” kata dia.

    Masduki menyerukan masyarakat tidak menonton program ini, apalagi anak-anak dan remaja. Dunia iklan disarankan tidak mendukung program yang tidak mendidik dan berselera rendah seperti ini. Komisi I DPR yang membidangi penyiaran, perlu lebih serius menempuh langkah-langkah yang membuat industri televisi lebih mematuhi regulasi, nilai agama, dan asas-asas kepatutan dan kesopanan dalam masyarakat. (Ichwan/Nashih)

  • MUI Desak ANTV Hentikan Sahurnya Pesbukers dan Pesbukers Ramadhan

    JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberi sorotan khusus pada program Sahurnya Pesbukers dan Pesbukers Ramadhan di ANTV pada bulan Ramadhan 1440 H/2019 ini. Ramadhan tahun lalu, 2018, dua program ini termasuk lima program yang MUI rekomendasikan untuk dihentikan tayangannya.

    “Karena kontennya yang buruk, apalagi untuk bulan Ramadhan. Tahun ini tetap tayang, dan tanpa perubahan isi secara signifikan,” kata Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, di Jakarta, Selasa (28/5).

    Masduki mengatakan, ada tiga program TV Ramadhan lainnya –Ramadhan di Rumah Uya (Trans 7), Brownis Sahur (Trans TV) dan Ngabuburit Happy (Trans TV), yang MUI sarankan untuk berhenti pada Ramadhan 2018, tahun 2019 ini sudah tidak tayang lagi.

    “Tapi Sahurnya Pesbuker dan Pesbukers Ramadhan masih tayang Ramadhan 2019 ini, dan tetap dengan gaya konten yang tidak patut,” kata dia.

    Dia menjelaskan, Program Ramadhan yang berasal dari program regular dengan tambahan kata “Sahurnya” dan “Ramadhan” ini, dalam catatan Tim Pemantau MUI, tiap tahun mendapat koreksi kritis dari MUI dan sejak 2012 sudah berkali-kali memperoleh sanksi teguran dari KPI, namun tidak memperlihatkan perubahan berarti, hingga tahun ini.

    Dia membeberkan beberapa catatannya. Di antaranya Pesbukers Ramadhan pada tayangan 15 Mei 2019, menjelang buka puasa, misalnya, Raffi Ahmad dan Zaskia Gotik memperlihatkan adegan yang tidak patut, apalagi dalam program yang diberi tajuk “Ramadahan” ini: Raffi memeluk Zaskia, yang bukan istrinya, dari samping dan berkali-kali Raffi mencium tangan Zaskia Gotik.

    Ada pula dialog berisi hinaan fisik. Misalnya ketika Zaskia mengatakan kepada lawan jenisnya, “Heh, Lu yang bener aja. Lu gak sadar badan lu tuh kaya truk gandeng.”

    Sementara, kata dia, Sahurnya Pesbukers yang tayang tiap pukul 02.00-04.30 (sepertiga malam terakhir yang merupakan waktu mustajab untuk munajat dan qiyamul lail) diawali dengan tarian India, dengan menghadirkan penari-penari dari India, yang meliuk-liukan badan dan menonjolkan keseksian tubuh, dibawakan secara bersama oleh laki-laki dan perempuan.

    Tarian ini diikuti puluhan audiens yang hadir di lokasi shooting dengan menghadirkan Caesar sebagai bintang joget. “Ini tidak patut ditayangkan dalam acara sahur,” ujar dia.

    Masduki mengatakan tayangan yang dibintangi Luna Maya, Vega, Raffi Ahmad, Angel Lelga, Ayu Ting-ting, Aziz, Ruben, Eko Patrio, Zaskia Gotik ini banyak berisi dialog dan adegan yang tidak pantas. Misal, adegan pelukan mesra, lama, dan erat antara Sangket dan Anjela, pasangan kekasih yang berulang tahun saat itu dan ditepuktangani oleh pemain lainnya.

    Masduki menyebutkan, terdapat pula dialog saling menghina. Misalnya, dialog antara Aziz dan Eko Patrio. Aziz bilang, ”Kaya tapi budeg mending gue.” Eko menimpali, ”Dari pada lu, jelek gagap.” Eko pada kesempatan lain menyatakan ungkapan yang merendahkan wanita, “Wanita mah gampang, tinggal bilang ah ah (sambal menepuk nepuk kantong saku bagian belakang).”

    “Eko adalah juga pejabat publik: dua periode anggata DPR dan terpilih kembali pemilu ini, serta Ketua DPW PAN DKI Jakarta. Sepatutnya memberi teladan baik pada publik,” kata dia.

    Menurut Masduki, dari tahun ke tahun, Sahurnya Pesbukers tidak ada perubahan. Masih menayangkan canda berlebihan, saling ejek, hina-menghina dan hura-hura. Busana para pemain wanita (Ayu Ting Ting dan Vega) sangat tidak patut karena mempertontonkan aurat.

    Bahasa mesum juga mewarnai dialog program ini. Ada adegan pria berwajah India (Sakheer) berperan sebagai tukang ojek yang mengantarkan Zaskia Gotik. Saat diminta bayaran, Zaskia bilang, tidak punya uang. “Aku punyanya cuma cinta (sambil menggerakkan dan mengedepankan bagian dada). Atau, kita kawin saja.” Lalu duet ini berdansa.

    Selain itu, kata Masduki, program ini juga bertaburan kalimat-kalimat bernuansa sensual, “Maaf gesekan Anda terlalu kencang,” kata Raffi. Ruben dan Gotik menimpali dengan kalimat sejenis. Ayu Ting Ting tampak mengobral pakaian ketatnya dan status jandanya.

    Dia mengatakan, sejumlah warga masyarakat mengirim email pengaduan ke MUI, minta program Pesbukers Ramadhan dibubarkan. Ada yang menyebut, ini program tak bermoral dan memalukan. Sepanjang Ramadhan ini, Tim Pemantau MUI yang berasal dari lima komisi: Infokom, Fatwa, Dakwah, Pendidikan, dan Kajian, kembali melakukan pemantauan, yang rutin dijalankan sejak 2007.

    Menurut dia, langkah-langkah edukasi, penyamaan persepsi tentang standar etik tayangan TV, apalagi pada Ramadhan, telah dilakukan tiap menjelang Ramadhan, yang diselenggarakan KPI dan MUI. Untuk itu, MUI minta otoritas bidang penyiaran memberi sanksi berat pada dua program ini, dengan menghentikan program, mengingat tak terlihat adanya I’tikad baik pembenahan.

    Dia menyerukan masyarakat diserukan tidak menonton program ini, apalagi anak-anak dan remaja. Dunia iklan disarankan tidak mendukung program yang tidak mendidik dan berselera rendah seperti ini. Komisi I DPR yang membidangi penyiaran, perlu lebih serius menempuh langkah-langkah yang membuat industri televisi lebih mematuhi regulasi, nilai agama, dan asas-asas kepatutan dan kesopanan dalam masyarakat. (Ichwan/ Nashih)

  • Komisi Fatwa MUI Ingatkan Setiap Muslim Wajib Menjaga Kesucian Ramadhan

    JAKARTA – Komisi Fatwa MUI mengingatkan semua pihak untuk menahan diri serta waspada dari ulah provokator yang memicu tindak kekerasan dan perilaku anarkistis serta mencederai kesucian bulan Ramadhan.

    “Bulan Ramadhan adalah bulan suci. Setiap muslim wajib memelihara kesuciannya. Tindakan anarkistis yang dilakukan mencederai kesucian Ramadhan, dan hukumnya haram,” ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh usai Rapat Pleno Komisi Fatwa MUI di Jakarta, Rabu (22/5/2019).

    Rapat Pleno Komisi Fatwa MUI ini salah satunya membahas tentang kondisi sosial terakhir, yang dinilai menodai kesucian bulan suci.

    Atas dasar itu, Komisi Fatwa MUI menghimbau kepada masyarakat untuk terus menjaga kondusifitas dan kedamaian. Dalam menyampaikan aspirasi, harus dilakukan dengan santun serta dalam koridor hukum.

    Komisi Fatwa MUI juga menghimbau kepada aparat penegak hukum untuk melakukan langkah persuasi dalam menghadapi masyarakat yang menyampaikan aspirasi, serta melakukan langkah hukum dg tidak memberikan toleransi terhadap pelaku kekerasan dan anarki.

    “Perlu langkah preventif agar kekerasan tidak meluas eskalasinya. Aparat dan umat Islam perlu mencegah potensi kekerasan sekecil apapun untuk menjamin kemaslahatan bangsa,” ujar Niam.

    Komisi Fatwa MUI juga meminta semua pihak untuk mewaspadai adanya provokasi yang merusak kerukunan dan persaudaraan, persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah), kerukunan sesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan kerukunan sesama anak manusia (ukhuwah insaniyah) .

    Masyarakat yang menyampaikan aspirasi, harus dilaksanakan dalam koridor hukum, dilakukan secara santun, dan mewaspadai adanya infiltrasi serta provokasi yang merusak. “Aparat perlu tegas menindak provokator,” tegasnya.

    Rapat Pleno Komisi Fatwa dipimpin oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Prof. Dr. Hasanudin, dihadiri oleh pimpinan dan anggota Komisi Fatwa MUI. Hadir juga Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo dan Prof. Dr. A. Sutarmadi. (Anam)

  • Infokom MUI Bersama KPI dan Kemenpora Tentukan Kategori Peraih Anugerah Syiar Ramadhan 2019

    JAKARTA – Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Deputi Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyelenggarakan rapat bersama untuk menentukan kategori peraih Anugerah Syiar Ramadhan 2019 di kantor MUI Pusat Jakarta, Rabu (22/5). Ada delapan kategori terbaik yang direncanakan, ditambah enam kategori yang terkait kepemudaan.

    Delapan kategori yang dimaksud adalah reality show Ramadhan terbaik, sinetron dan film, ceramah, pencarian bakat, wisata budaya, talkshow, kultum dan kategori televisi terbaik syiar Ramadhan 2019.

    Sementara enam kategori yang terkait kepemudaan adalah kategori dai muda kreatif, grup musik atau penyanyi muda terbaik, host muda inspiratif, aktor/aktris muda inspiratif, rumah produksi yang menciptakan program inspirasi kepemudaan, dan program televisi inspirasi pemuda Indonesia.

    Kategori rumah produksi atau PH yang menciptakan program Ramadhan terbaik diusulkan oleh Evi Hudriyah dari Infokom MUI, mengingat banyak sekali program yang dikreasi oleh rumah produksi (PH) bukan oleh lembaga penyiaran (in house)

    Usulan kriteria baru ini kemudian disambut baik oleh Kemenpora dengan menambahkan aspek kepemudaan. “Kita perlu memberikan penghargaan kepada PH atau sutradara atau produser yang memberikan inspirasi kepemudaan,” kata Deputi Kepemudaan Kemenpora Asrorun Niam Sholeh.

    Secara umum kriteria penerima penghargaan Anugerah Syiar Ramadhan tahun ini adalah program-program yang menyebarkan pesan-pesan Islam moderat yang menjadi perhatian utama MUI. Hal ini juga sejalur juga dengan pedoman dan standar bagi kegiatan penyelenggaraan penyiaran baik TV maupun radio di Indonesia atau P3SPS yang dimiliki oleh KPI.

    Hadir dalam rapat bersama ini Ketua MUI Bidang Infokom KH Masduki Baidlawi, Ketua Komisi Infokom MUI Asrori S. Karni, Sekretaris Infokom Edy Kus Cahyanto dan para anggota Infokom MUI, Komisioner KPI Nuning Rodiyah beserta rombongan, serta Deputi Kepemudaan Kemenpora Asrorun Niam Sholeh beserta jajarannya. (Anam)

  • Persatuan Insinyur Indonesia-PII besilaturrahmi ke Majelis Ulama Indonesia-MUI

    Dr. Ir.  Heru Dewanto, M. Sc,  (Eng), IPU Ketua Umum Persatuan Insinyiur Indonesia (PII)  besilaturrahmi ke MUI 20 Mei 2019 bersama rombongan memberikan dukungan  terhadap Pembangunan Rumah Sakit Indonesia Hebron (RSIH)  di  Palestina.

    Kami mengajak kaum muslimin berlomba-lomba (ber-fastabiqul khoirots) untuk beramal dengan berinfaq, bershodaqoh guna mewujudkan cit-cita bangsa Indonesia untuk meringankan beban penderitaan masyarakat Hebron di Palestina dengan membangun Rumah Sakit  Pemulihan Trauma (Trauma Healing)  diatas tanah wakaf 4000 M2 diatas  umat Islam di Hebron. 

    Dalam sambutannya Ketua Panitia yang juga ketua Bidang Luar Negeri MUI KH. Muyiddin Junaidi, MA mengatakan dalam waktu 2 tahun insya Allah pembangunan RSIH dapat terwujud guna memberikan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat di Hebron Palestina. Ayo kita gunakan kesempatan beramal di bulan Ramadhan 1440 H semoga menjadi amal jariyah bagi bagi bangsa Indonesia, salurkan melalui rekening tertera dalam brosur,  pungkas Amirsyah Tambunan

  • Hikmah Nuzulul Quran, MUI Kota Palu: Alquran Pembeda Baik dan Buruk

    PALU— Ketua Majelis Ulama (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof Zainal Abidin, mengemukakan Nuzulul Quran atau malam dimana Alquran salah satu tujuannya yakni Alquran sebagai pembeda yang baik dan buruk.

    “Alquran di turunkan dengan tujuan, salah satunya sebagai petunjuk kepada manusia khususnya umat Islam untuk mengetahui yang baik dan buruk,” ucap Prof Zainal Abidin, di Palu, Senin (20/5).

    Pernyataan Zainal mengutip firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 185 berbunyi ”Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)”.

    Guru besar pemikiran Islam Modern IAIN Palu ini menyebut Alquran tidak di turunkan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan, kata dia, Alquran tidak diturunkan dalam ruang kosong atau hampa. Melainkan ada suatu kondisi dan situasi tertentu sehingga Alquran di turunkan.

    Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu menyatakan, beberapa ayat dalam Alquran yang menyesuaikam dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

    Dengan demikian, kata rektor pertama IAIN Palu ini, dibutuhkan pemahaman yang mendalam terkait memahami Alquran. “Sehingga penafsiran dan pemahaman Alquran harus juga kontekstual dengan kondisi budaya dan msyarakat saat ini,” sebutnya.

    Dia menegaskan, pemahaman yang dinamis sangat dibutuhkan dalam memahami teks Alquran. Memahami Alquran tidak boleh dengan pemahaman yang statis. Akan tetapi, pemahaman itu tidak harus meninggalkan konteks sejarah Alquran di turunkan.

    “Olehnya pemahaman terhadap Alquran itu harus dinamis dan tidak boleh statis tetapi tidak melepas sama sekali konteks kesejarahan turunnya Alquran,” katanya.

    Dengan demikian, beberapa ayat atau redaksi dalam Alquran bersifat umum, yang dapat memunculkan banyak penafsiran dan pendapat. Akan tetapi, banyaknya penafsiran dan pendapat terhadap redaksi yang bersifat umum dalam Alquran berdampak terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban.

    Sekaligus, kata dia, mengajarkan manusia untuk tidak ngotot dan bertahan pada suatu pendapat, serta meyakini bahwa pendapat yang di pertahankan paling benar, lalu menyalahkan yang lain. Dia menambahkan bahwa Alquran diturunkan pada malam kemuliaan, yang jauh lebih baik dari seribu bulan. Pernyataan ini mengutip Firman Allah dalam surah al-Qadr ayat 1 dan 3.

  • Staff Administrator

    Deadline: 30 Juni 2019

    Job scopes

    • Support administration of perguruan and yayasan.
    • Manage data of student, staff, assets & properties
    • Manage maintenance records of assets & properties
    • Follow up online-application
    • Manage public activities on google calendar
    • Publish activities on blog or website

    Salary start from: IDR 1.000.000,-

    Requirements

    • minimal D3
    • familiar with excel & powerpoints
    • familiar with blog & social media
    • understand english
  • Ini Tujuh Pesan MUI Jelang Penetapan Hasil Pemilu

    Jakarta – Majelis Ulama Indonesia menyampaikan Taushiyah Kebangsaan untuk Perdamaian menjelang penetapan hasil Pemilihan Umum (Pemilu) pada 22 Mei 2019 mendatang.

    Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Zainut Tauhid Saadi, mengingatkan lewat taushiyah tersebut pentingnya menjaga persatuan dan perdamaian saat buka bersama di Aula Buya Hamka, Jum’at (17/5).

    “MUI menengarai munculnya kerawanan terjadinya gesekan sosial yang berpotensi menimbulkan konflik dan perpercahan di kalangan komponen bangsa,” terang Buya Zainut.

    MUI sebagai wadah berhimpun para ulama dan cendekiawan muslim, lanjutnya, memiliki tanggung jawab dalam menjaga, melindungi, dan menyelamatkan bangsa dan negara dari berbagai faham dan gerakan yang dapat mengancam kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Dari kiri, Buya Yusnar Yusuf, Buya Zainut Tauhid Sa`adi, KH Abdullah Jaidi, dan Buya Amirsyah Tambunan

    Berikut tujuh point tauhsiyah MUI yang dibacakan oleh Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama, Buya Yusnar Yusuf, dalam kegiatan buka bersama itu:

    1. Mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk senantiasa menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dilandasi semangat persaudaraan (ukhuwah) sejati sebagai bentuk tanggung jawab dan komitemen dalam keagamaan dan kebangsaan. (mas’uliyyah diniyyah wa masuliyyah wathaniyyah).
    2. Mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak terperovokasi ajakan mengikuti dan melakukan gerakan people power karena hal tersebut akan membawa kerusakan (mafsadat) yang sangat besar dan mengancam kedaulatan dan keutuhan NKRI. (Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil masholih)
    3. Meminta kepada Komisi Pemlihan Umum (KPU) untuk menyelesaikan tahapan pemilu sesuai dengan amanat UU dengan terus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keadilan, transparan, dan profesional, sehingga semua pihak dapat menerima hasil pemilu sesuai dengan pilihan dan aspirasi politiknya.
    4. Meminta kepada para peserta pemilu untuk menempuh jalur hukum apabila hasil pemilu dinilai ada kecurangan dan dugaan pelanggaran lainnya, karena jalur hukum merupakan pilihan bagi masyrakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan konstitusi serta paling ringan tingkat mudharatnya. (akhafu al-dlaraini)
    5. Meminta kepada masing-masing pasangan calon untuk menaati komitmen bersama yaitu menerima hasil pemilu dengan semangat “siap kalah siap menang”. Bagi pasangan calon yang menang diminta untuk tidak mengungkapkan ekspresi kemenangan berlebihan, dan bagi pasangan calon yang kalah diminta untuk menerima dengan sabar dan lapang dada.
    6. Kepada elit politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan media masa diharapkan dapat memerankan diri sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Ikut serta membantu mendinginkan suasana agar proses demokrasi dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan aman.
    7. Kepada aparat kepolisian diminta untuk bertindak tegas, adil, transparan, dan profesional. Penegakan hukum harus dilakukan kepada siapa pun tanpa membedakan status dan kedudukan sosialnya, sehingga masyarakat mendapat jaminan perlindungan dan kepastian hukum dalam menunaikan hak-hak konstitusionalnya. (Ichwan/Anam)

    Download Press Release

  • Meneguhkan Eksistensi Perguruan Darul Funun El-Abbasyiah Dalam Pusaran Globalisasi

    Sarilamak (Inmas). Bagi pengiat sejarah Indondesia, Perguruan Darul Funun El-Abbasyiah akan membagunkan alam bawah sadar bahwa disinilah awalnya presiden pertama Indonesia Soekarno sebelum proklamasi menerima buah tangan dari Syekh Abbas Abdullah sebuah peci hitam yang pada akhirnya menjadi simbol keislaman dan nasionalisme.  Kampus Asri Perguruan Darul Funun El-Abbasyiah teletak di Nagari Padang Jopang Kecamatan Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota tidak hanya menjadi kampus pendidikan tapi juga merupakan kampus perjuangan dalam melahirkan pejuang umat dan pejuang bangsa.

    Bermula pada tahun 1854 dengan nama Pengajian Surau Gadang oleh Syekh Abdullah “Datuk Jabok” (1830-1903) dan kemudian diteruskan oleh anak-anak beliau Syekh Mustafa Abdullah “Beliau Gadang”dan Syekh Abbas Abdullah “Beliau Ketek” (1883-1957), dimasa kedua kakak beradik ini reformasi-reformasi sistem pendidikan dan modernisasi pergerakan & pendidikan Islam terjadi. Pada masa keemasannya perguruan ini dikenal sebagai satu-satunya ataupun pionir terdepan yang merintis pengajaran pengetahuan agama dan umum, yang menjadikannya magnet bagi pelajar-pelajar dari penjuru sumatera, tanah air dan hingga semenanjung melayu.

    Memasuki babak baru diera melinium eksistensi Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah masih Istiqomah memberikan layanan pendidikan Islam yang berkualitas bagi santri/wati yang menimba ilmu pada satuan pendidikan MTs dan MA. H.Adia Putra Pimpinan Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah optimis bahwa cita-cita para pendiri perguruan ini dapat terjaga serta terwujud ditengah pusaran globalisasi yang menuntut berbagai perubahan. ”Saya tegaskan bahwa perguruan ini siap untuk beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi dengan catatan  perkembangan tersebut harus berjalin kelindan dengan semangat ke-Islaman yang menjadi spirit seluruh aktivitas pendidikan di perguruan ini”, jelas Adi Putra kepada media.

    Sambil menatap asrama megah yang berdiri dikomplek perguruan tersebut, Adia Putra menjelaskan, ”Kami memiliki komitmen yang kuat untuk melahirkan kader-kader umat yang paripurna, ulama yang intekltual serta intelktual yang ulama, di perguruan ini santri/wati dididik untuk menjadi pribadi yang multidimensional yang tidak hanya berkualitas secara IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) tetapi juga IMTAK (Iman dan Takwa), yang menguasai bidangnya dan juga berpegang teguh terhadap nilai-nilai keagamaan yang luhur, yang ditekankan oleh Islam, tegas pensiunan Kemenag Lima Puluh Kota ini.

    Dalam catatan, sepuluh tahun terakhir berbagai bentangan prestasi telah diukuir oleh santri/wati Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah. Perguruan ini telah mencatatan tradisi juara pada ajang Kompotisi Sain Madrasah (KSM) tinggkat Nasional, santri/wati juga telah behasil meraih berbagai prestasi dibidang agama, seni, olah raga, mading, baik pada tingkat daerah maupun ditingkat regional. Dan ratusan alumni perguruan ini telah tersebar diberbagai perguaran tinggi bergensi ditanah air bahkan sampai ke Al-Azhar Universti Kairo.

    H.Rama Husmen Kepala Kakan Kemenag Lima Puluh Kota yang juga lahir dalam tradisi pesantren yang kuat dalam kunjunganya ke Perguruan Darul Funun El-Abbasyiah menyampaikan,”Saya memilki kebanggan tersendiri dengan sejarah besar yang ada di Darul Funun El-Abbasiyah. Sebagaimana pesantren lainya yang lahir dalam masa perjuangan,  Darul Funun El-Abbasiyah memiliki saham dalam lembaran sejarah Indonesia, saya berharap semangat perjuangan tersebut dapat diwariskan dari generasi kegenerasi dengan tradisi keilmuan yang kuat”, Ramza menyampaikan harapanya.

    Lebih dari itu Ramza mengajak seluruh pengiat sejarah khusnya yang ada di Darul Funun El-Abbasiyah untuk menulis sejarah perguruan Darul Funun El-Abbasyiah secara lengkap, ”hal tersebut perlu dilakukan agar tradisi kesejarahan dapat ditelusuri dengan sanat ke-ilmuan yang valid”, jelas Ramza. Disamping itu diingtakan pula bahwa kemajuan teknologi merupakan satu tantangan bagi dunia pendidikan Islam, “Saya yakin Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah dapat menjadikan kemajuan globalisasi sebagai sebuah peluang untuk akselerasi peningkatan kualitas pendidikan tanpa kehilangan jati diri sebagai sebuah pesantren, pesan Ramza.

    Umat Islam memiliki harapan yang besar, agar perguruan ini tetap istiqomah melahirkan santri/wati yang berkualitas dalam semangat Ke-Islaman dan Ke-Indonesian yang menyatu dalam setiap gerak dakwa para santri/wati.(APP)

    Sumber: https://limapuluhkota.kemenag.go.id/html/index.php?id=berita&kode=420

  • Menuju Pendidikan Massal: Apa Yang Kita Pelajari dari Persaingan Global

    Di awal kemerdekaan Indonesia corak pengembangan pendidikan memang sangat berat kepada “elite education”, artinya pendidikan dipandang sebagai hak kaum elit, baik elit karena berada dalam lingkar kekayaan ataupun elit karena dalam lingkar kekuasaan.

    Seiring dengan tuntutan perubahan zaman, juga tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, upaya menuju pendidikan massal yang berbeda dengan corak pendidikan elitisme rasanya masih jauh dari realita.

    Untuk mencapai tujuan pendidikan massal tersebut diperlukan stimulus, pergerakan dari masyarakat dan pelaksana pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk merumuskan tentang pendidikan massal, yang mampu memberikan warna terhadap publik kebanyakan, masyarakat umum bukan yang hanya sebagian.

    Dalam konteks lingkungan sekolah, simbol-simbol peringkat perlu diperhalus kembali, seperti rangking satuan ke rangking skala, ujian-ujian dan kurikulum sekolah perlu dievaluasi kembali apakah standard yang diberikan melampau dari keperluan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan sebagainya.

    Kemudian yang perlu dicermati adalah beban materi, dan berbagai kegiatan tambahan lain yang kemudian apakah pendidikan massal ini reliable dengan kondisi perekonomian masyarakat. Walaupun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apakah masih diperlukan lagi SPP tambahan untuk dibebankan kepada masyarakat?

    Dalam penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya anggaran APBN dan APBD yang diperuntukkan untuk pendidikan dialokasikan untuk keperluan operasional, sedangkan pembangunan infrastruktur yang mengambil porsi juga sama banyak tidak mengurangi hak-hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

    Dengan ini pola penyelenggaraan pendidikan memerlukan reformasi yang signifikan. Di beberapa negara terdepan dalam pengelolaan pendidikan, akan dapat dilihat bagaimana hal yang penulis kemukakan diatas adalah strategi yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan pendidikan massal.

    Pendidikan massal yang terukur juga harusnya menjadi satu titik poin yang perlu dikedepankan, terukur bukan berarti dengan banyaknya ujian atau target yang terlalu tinggi, tetapi terukur dalam artian satu tahapan ke tahapan yang lain diperlukan standar yang bisa dilalui secara massal.

    Hal ini juga dapat diamati di negara yang maju dalam penyelenggaraan pendidikan, ujian kenaikan adalah satu evaluasi, bukan hanya bagi siswa didik, terutama bagi penyelenggara pendidikan. Sehingga dapat di pahami, kewajiban memberikan hak belajar adalah sesuai dengan umur dan kapasitas yang ada untuk mengejar jika tertinggal.

    Hal ini bertolak jauh kebelakang dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, momok “tidak naik kelas” adalah salah satu kesia-siaan jika kita melihat bagaimana waktu dan biaya yang dikeluarkan, baik oleh siswa, orang tua dan juga penyelenggara pendidikan. Saat ini bukan hanya kerja keras dan pembangunan fisik dalam melihat tantangan kedepan, tetapi juga solutif, dengan meningkatkan kualitas apakah kita akan mengorbankan sebagian dari pelajar untuk gagal dan tertinggal.

    Wallahu’alam.

  • Nilai Perjuangan Dalam Puasa Ramadhan

    Khutbah Jum’at, 5 Ramadhan 1440 H./10 Mei 2019 M.

    Allah swt berfirman di dalam Al-Qur`an, surat Yunus, ayat 108-109 :

    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ

    وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

    Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu. Barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tersesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap diri kalian. Dan ikutilah apa-apa yang diwahyukan kepada kalian, serta bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dan Dia (Allah) adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Hari ini kita berada di hari ke-5 dari ibadah puasa Ramadhan tahun 1440 H. Pada siang hari selama kira-kira 30 hari di bulan Ramadhan ini, kaum muslimin berjuang untuk menjalankan kewajiban berpuasa dengan meninggalkan makanan dan minuman, juga hal-hal lainnya yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Sedangkan pada malam hari-malam harinya, kaum muslimin berlomba-lomba untuk mengisinya dengan ibadah shalat tarawih dan witir, juga bertilawah dan bertadarus Al-Quran. Semua ibadah tersebut dilakukan oleh kaum muslimin dengan tujuan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt, beristighfar (memohon ampunan) dari segala dosa, mengharapkan rahmat dan berkah dalam kehidupan dunia, serta memohon keselamatan di kehidupan akhirat kelak.

    Begitu padat dan bervariasi ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin selama bulan Ramadhan ini. Namun demikian, ibadah-ibadah yang berdimensi ruhiyah dan ukhrawi tersebut jangan sampai menjadikan kaum muslimin melupakan dan mengabaikan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat duniawi dan sosial kemasyarakatan. Sebab, ibadah puasa, khususnya di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, sebenarnya justru menjadi sumber energi dan kekuatan spiritual yang besar bagi kaum muslimin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, juga untuk meraih kesuksesan-kesuksesan.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Dalam kitab “Al-Fiqhu al-Islamiy wa Adillatuhu” (Fiqih Islam dan Dalil-dalinya), jilid ke-3, bab ‘Puasa’, Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhayliy menulis sebagai berikut :

    Telah terjadi banyak peristiwa besar di bulan Ramadhan yang menjadi titik tolak bagi perubahan-perubahan yang sangat menentukan jalannya sejarah umat Islam. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Islam benar-benar menyikapi dan memperlakukan semua hal dengan perhatian yang serius, dan bahwa motto dari ibadah puasa adalah kekuatan, jihad, dan kerja! Bukan lemah, melarikan diri, dan bermalas-malasan.

    Maka setiap muslim, meskipun ia sedang menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, ia harus tetap memiliki semangat yang tinggi dalam merespon kenyataan-kenyataan hidup serta beradaptasi dengan berbagai macam kondisi yang dihadapinya.

    Oleh karena itu, kewajiban dalam menjalankan ibadah puasa tidak boleh menjadikan seorang muslim mengabaikan kewajiban-kewajiban hidupnya, ataupun melemahkan semangatnya untuk membangun dunia.

    Tidak dibenarkan seorang muslim mengatakan : ‘Puasa itu menghambat produktifitas serta menjadi faktor penyebab kemunduran individu dan masyarakat’! Karena, jargon Islam itu adalah ‘jihad’ (perjuangan), dan bahwa agama Islam serta syariatnya itu mudah, tidak sulit untuk dilaksanakan, serta membawa banyak manfaat dan maslahat bagi umat manusia.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadhan sepanjang sejarah umat Islam merupakan bukti kuat bahwa keberhasilan dan kemenangan itu sangat ditentukan oleh faktor kesucian jiwa dari kepentingan-kepentingan materi dan duniawi, dan bahwa hari-hari di bulan Ramadhan itu membawa berkah serta menjadi wasilah bagi tercapainya kebaikan, kemenangan, dan anugerah Allah swt, dengan syarat bila qalbu umat Islam selalu tertuju kepada Allah swt Dzat Yang Maha Memiliki dan Mengatur alam semesta dan seisinya!

    Allah swt berfirman dalam Al-Qur`an, surat Alu ‘Imran (3), ayat 126 :

    وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

    Dan tidak ada suatu kemenangan (yang terjadi) melainkan berasal dari sisi Allah

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Ada banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan Ramadhan, yang menjadi bukti betapa ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti ini, jika dilaksanakan dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, adalah ibadah yang mampu memberikan kekuatan jasmani dan ruhani bagi umat Islam.

    Diantara peristiwa-peristiwa tersebut adalah perjuangan umat Islam dalam menghadapi kekuatan musuh-musuhnya dalam peperangan atau pertempuran yang akhirnya dimenangkan oleh umat Islam, meskipun mereka melakukannya pada bulan Ramadhan :

    1. Perang Badar Kubrâ, yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 17 Ramadhan, tahun ke-2 Hijriyyah, dimana pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saw berhasil mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy, meskipun jumlah pasukan mereka jauh lebih banyak.

    2. Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 20 Ramadhan, tahun ke-8 Hijriyah, dimana pasukan umat Islam yang juga dipimpin oleh Rasulullah saw berhasil menaklukkan dan menguasa kota Makah tanpa pertumpahan darah.

    3. Perang Tabûk, yang terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-9 Hijriyyah, dimana pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan Romawi.

    4. Masuknya tentara Islam yang dipimpin oleh shahabat Ali r.a. ke negeri Yaman, yang terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-10 Hijriyyah.

    5. Fathu Al-Andalus (Pembebasan Andalusia (Spanyol)) oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, yang terjadi pada tanggal 28 Ramadhan, tahun 92 Hijriyah.

    6. Perang Al-Zallâqah (wilayah yang terletak di suatu di lembah di dekat negara Portugal saat ini), yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan, tahun 479 Hijriyyah, yang dimenangi oleh pasukan Islam dari Andalusia/Spanyol yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin atas pasukan Perancis yang terdiri dari 80 ribu tentara yang dipimpin oleh Alfonso VI, raja Castilla (Spanyol).

    7. Perang ‘Ayn Jalut, yang terjadi di hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan, tahun 658 Hijriyyah, dimana pasukan Islam yang dipimpin oleh Sultan Qutuz memenangi pertempuran melawan pasukan Mongol, dan berhasil menyatukan Mesir dan negeri-negeri Syam kedalam Daulah Islamiyah.

    8. Proklamasi kemerdekaan RI terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 (bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 9 Ramadhan, tahun 1364 Hijriyyah), yang mengakhiri penjajahan bangsa-bangsa Eropa (Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dll.) atas wilayah negeri kita Nusantara selama 350 tahun.

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
    Data dan catatan-catatan sejarah tentang kemenangan dan keberhasilan umat Islam di atas menunjukkan 2 hal penting :

    1. Betapa bulan Ramadhan mengandung begitu banyak berkah bagi perjuangan umat Islam dalam rangka mensyiarkan dan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini.

    2. Bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan mampu menyuntikkan energi kekuatan jasmaniah dan ruhiyah kepada umat Islam sehingga berhasil meraih banyak kemenangan yang gemilang di pentas sejarah peradaban umat manusia .

    Semoga pemaparan khutbah Jum’at ini dapat mengingatkan kita semua untuk bisa menyerap energi positif dari ibadah puasa yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan ini, yaitu energi perjuangan, agar kita tetap bisa melakukan hal-hal yang positif dan produktif untuk keluarga kita, dan masyarakat kita, semata-mata untuk mengharapkan pahala dan ridha dari Allah swt. Ǎmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.

  • MUI Dukung DK PBB Hentikan Pembangunan Permukiman Ilegal Israel

    JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung Dewan Keamanan PBB yang berjuang menghentikan pembangunan ilegal oleh Israel di daerah pendudukannya di Palestina.

    MUI menilai tindakan Israel sangat menyakiti hati rakyat Palestina dan akan sangat menghambat terciptanya perdamaian di kawasan tersebut dan Timur Tengah secara umum.

    Sekjen MUI, Anwar Abbas, memandang Israel amat ngotot meneruskan pembangunan ilegal tersebut. Menurutnya hal ini berkaitan dengan usaha Israel untuk memperkuat cengkramannya terhadap daerah Palestina yang dijajahnya tersebut.

    Anwar mengatakan, karena dengan semakin bertambahnya jumlah pemukiman baru maka berarti jumlah orang Israel di daerah pendudukan akan semakin bertambah. Dan kalau pun dunia internasional mendesakkan penegakkan demokrasi di daerah tersebut sudah bisa dipastikan mereka akan tetap menang.

    “Jumlah warga Israel di daerah itu akan jauh lebih banyak dari warga Palestina yang masih tinggal di sana,” katanya kepada MUI.OR.ID, di Jakarta, Sabtu (11/5).

    Dia menekankan pembangunan ilegal oleh Israel harus dihentikan. Dia meminta Dewan keamanan PBB berjuang agar yang tinggal di bangunan-bangunan yang sudah ada itu hanya orang rakyat palestina.

    “Tanpa itu semua maka yang namanya perdamaian dengan Israel tidak akan pernah ada karena yang dilakukan oleh Israel di Palestina tersebut adalah hal yang tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan,”