Tag: ar-rahman

  • Rahasia di Balik Pengulangan Ayat-Ayat Alquran

    Salah satu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada manusia yaitu kemampuan untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Karenanya, isyarat mengenai komunikasi tersebut dapat dilihat pada surat Ar Rahman ayat 4:

    عَلَّمَهُ الْبَيَانَ “Mengajarnya pandai berbicara.”
    Dalam Alquran, Allah SWT menggunakan beberapa pola komunikasi. Informasi yang disampaikan berulang-ulang menjadi salah satu di antara pola komunikasi yang diajarkan-Nya.

    Adapun adanya pengulangan pada suatu ayat memiliki maksud dan tujuan tertentu. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-Karîm menyebutkan para ulama tafsir hampir sepakat menyatakan dalam setiap pengulangan kata pada Alquran pasti memiliki makna yang sedikit atau banyak berbeda dengan kata yang diulang tersebut.

    Penjelasan para ulama mengenai hikmah pada pengulangan tersebut bersifat ijtihadi. Karenanya apabila terdapat beberapa perbedaan, maka dimungkinkan karena perbedaan sudut pandang yang digunakan.
    Menurut Syekh Muhammad bin Salih dalam Tafsir Juz ‘Amma terdapat beberapa hikmah pengulangan ayat atau kalimat dalam Alquran, di antaranya yaitu:

    a. Penjelasan mengenai urgensi masalah
    Pengulangan yang terjadi pada konteks ini menunjukkan bahwa masalah tersebut sangatlah penting, sebagaimana halnya pengulangan dalam surat Ar Rahman.

    Para ulama berpendapat mengenai rahasia pengulangan dalam surat Ar Rahman yaitu dikarenakan betapa pentingnya menampakkan aneka nikmat Allah SWT yang sangat melimpah bahkan tidak akan pernah sanggup dihitung dalam kehidupan manusia.

    Dalam al-Mizan, at-Thabathabai menjelaskan adanya pengulangan ayat dalam surat tersebut mengandung isyarat mengenai ciptaan Allah SWT yang sekian banyak bagian-bagiannya. Ciptaan tersebut terbentang di langit dan bumi, darat dan laut, bahkan manusia dan jin.

    Allah SWT pula yang mengatur segala hal tersebut berada pada satu pengaturan yang bermanfaat bagi golongan manusia dan jin. Karenanya, kemanfaatan tersebut akan tetal berlaku di dunia maupun di akhirat kelak.

    Pendapat yang hampir sama dinyatakan oleh al-Biqa’i dalam Nazmud-Durar bahwa rahasia adanya pengulangan ayat dalam surat Ar Rahman adalah menetapkan bahwa Allah SWT menyandang sifat rahmat yang tercurah kepada semua makhluk tanpa kecuali.

    Dari sini dapat dilihat pula bahwa nama Ar Rahman memiliki makna keluasan anugerah dan ketercakupannya bagi semua ciptaan-Nya.

    b. Agar pesan yang disampaikan lebih meresap ke dalam hati manusia
    Pengulangan dalam Alquran baik itu secara redaksi atau masalah bertujuan agar manusia lebih mampu meresapi kandungan maknanya. Seperti dalam surat Al Fatihah, pada ayat pertama berbunyi:

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ “Dengan nama Allah Yang Mahapengasih, Mahapenyayang.”
    Lalu pada ayat ketiga terdapat penggulangan lafaz yang sama dengan ayat pertama yaitu:

    الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ “Yang Mahapengasih, Mahapenyayang.”

    Pengulangan ayat di atas hanya terjadi pada redaksinya saja, namun tidak terjadi pengulangan pada hakikat maknanya. Sehingga pengulangan di atas bertujuan agar manusia lebih dapat meresapi mengenai betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia.

    Mengutip pendapat dari Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manar menyebutkan bahwa pada ayat ketiga surat Al Fatihah menjelaskan mengenai rahmat dan kasih sayang Allah SWT dalam pemeliharaan dan pedidikan-Nya.

    Sedangkan dalam ayat pertama bertujuan untuk menjelaskan bahwa surat tersebut turun membawa rahmat Allah SWT. Karenanya meskipun redaksi pada ayat tersebut diulang ataupun sama, namun memiliki makna yang berbeda.

    Pendapat di atas diperkuat dengan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Qur’an al-Karim yang menyebutkan bahwa Ar Rahman dan Ar Rahim pada ayat ketiga surat Al Fatihah bukan pengulangan ayat pertama dari sisi substansi maknanya.

    Pengulangan tersebut untuk menekankan bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah SWT yang disebut pada ayat kedua bukan untuk kepentingan Allah SWT atau menginginkan pamrih sebagaimana sifat yang dimiliki oleh makhluk-Nya.

    Pendidikan dan pemeliharaan tersebut semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT yang dicurahkan kepada para makhluk ciptaan-Nya.

    c. Menunjukkan kebenaran bahwa Alquran merupakan wahyu yang berasal dari Allah SWT.

    Terdapat beberapa hal yang diulang dalam Alquran, khususnya yang berkaitan dengan kisah. Pengulangan dalam satu kisah menggunakan redaksi yang berbeda dan tidak ada kontroversi di dalamnya.

    Syekh Muhammad bin Salih berpendapat dalam Tafsir Juz ‘Amma bahwa hal ini sangat mustahil dapat dilakukan oleh manusia, kecuali bagi Yang Mahamengetahui.

    Seperti pada kisah Nabi Musa yang terdapat pada surat Thaha ayat 9-14, khususnya dalam kalimat wâdi thuwâ pada ayat ke 12 surat Thaha:
    اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ
    “Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”

    Kisah di atas berulang dalam surat An Naml ayat 7-12. Pengulangan tersebut, meskipun masih pada pembahasan mengenai kehidupan Nabi Musa, namun berbeda dalam pemaparannya.

    Salah satu perbedaan tersebut dapat dilihat pada surat Thaha khususnya ayat 11-12 yang menunjukkan bahwa Nabi Musa tengah berada di tempat yang diberkahi, karenanya Allah meminta dia untuk melepaskan sandalnya. Wallahu’alam (Isyatami Aulia/ Nashih)

  • Ar-Rahman

    Ar-Rahman

    Siapakah dia yang sifat kasih sayangnya begitu sempurna? Mulanya penduduk Mekkah tidak mengenal siapa itu ar-Rahman.

    Sebagaimana terukir dalam surat al-Furqon ayat ke 60, Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Sujudlah kepada ar-Rahman,” mereka menjawab : Siapakah ar-Rahman itu?”

    Alquran sendiri kemudian dalam beberapa kali kesempatan, seperti pada surat Al-Isra ayat 110, menggunakan kata ar-Rahman sebagai kata ganti Allah sebagai dzat yang disembah. Bahkan dalam az-zukhruf ayat 45 ditegaskan bahwa rosul-rosul pun menyeru untuk menyembah ar-Rahman (Allah yang Maha Pemurah).

    Ar-Rahman. Dialah dzat yang mengajarkan alquran. Demikian dua ayat pertama dari surat yang menurut riwayat al-Baihaqi dijuluki sebagai pengantin alquran karena keindahannya. Pertanyaannya yang kemudian muncul kenapa Allah atau ar-Rahman mensifati dirinya sebagai dzat yang mengajarkan alquran dengan nama Ar-Rahman, bukan dengan nama-nama yang lain?

    Mengomentari hal ini, sahabat Ali k.w. menuturkan bahwa semulia-mulia pelajaran adalah pelajaran Alquran. Semulia-mulai pengajar adalah orang yang mengajarkan alquran. Semulia-mulia pelajar adalah pelajar yang mempelajari alquran. Semulia-mulia majlis adalah yang di dalamnya terdapat pengejaran alquran.

    Sahabat Ibnu Abbas r.a. suatu ketika pernah ditanya oleh seorang arab badui tentang seberapa sering ia menghatamkan alquran.
    “Wahai ibnu Abbas, berapa kali engkau menghatamkan Alquran?”
    Beliau tidak langsung menjawab, malah bertanya balik kepada si penanya.

    “Apa yang engkau maksud dengan menghatamkan alquran? Apakah menghatamkan bacaannya? Ataukah memahami maknanya? ataukah mengamalkannya? ”

    Setelah beliau melihat si penanya kebingungan, beliau pun menjawab. “Kalau yang kau maksud adalah menghatamkan alquran dalam artian membaca, dalam satu minggu aku bisa menghatamkan delapan kali. Kalau yang kau maksud adalah memahami maknanya, aku baru tiga kali. Kalau yang kau maksud adalah mengamalkan, Aku baru sampai ayat kelima.”

    Dengan alquran sebagai panduan, seharusnya seorang muslim berakhlak yang baik -akhlaqul karimah. Karena ketika berinteraksi dengan alquran kita akan mendapati bahwa ayat-ayat tentang kasih sayang Allah jauh lebih banyak dari pada ayat-ayat tentang ancamanNya. Bukankah RahmatNya mencakup segala sesuatu?

    Bukankah rahmatNya senantiasa mendahului murkaNya? Bukankah rosul diutus untuk menyempurnakan akhlaq? Bukankah akhlaq beliau yang kita jadikan sebagai teladan adalah alquran sehingga beliau dijuluki alquran yang berjalan?

    Sekarang mari kita bertanya pada diri kita dimana posisi kita dalam berinteraksi dengan alquran? Sudah berapa kali kita khatam alquran, meski untuk sekedar membacanya saja? Atau alquran yang ada di rumah kita sudah berdebu dan kusam karena jarang kita sentuh?

    Ataukah hidup kita saat ini jauh dari tuntunan-tuntunan ilahi yang dihadirkan dalam alquran? (Jamaluddin Rosyidi)

    sumber: http://www.insancendekia.org/grak/263-ar-rahman