Tag: minangkabau

  • Al-Imam: Susur Galur Majalah Islam, dari Paris hingga Padang

    Al-Imam: Susur Galur Majalah Islam, dari Paris hingga Padang

    al-imam

    Penulis:   – Lenteratimur.com (Creative Common – Non Commercial)

    Media massa yang memiliki tujuan dengan suatu cara pandang agaknya tidak pernah hilang. Jika pun satu hilang, tumbuh ia seribu. Esa hilang dua terbilang. Keyakinan yang dikandung membuatnya dapat berkembang biak tiada mengenal tempat. Dan agaknya itulah yang terjadi pada majalah Al-Imam.

    Al-Imam adalah majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Ia terbit perdana di Singapura pada Jumadil Akhir 1324 H/Juli 1906 M dan berakhir pada permulaan 1909. Majalah yang menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi dan berbahasa Melayu ini dicetak di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar, Singapura.

    Michael Laffan, dalam bukunya Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, The Umma Below the Winds(2002), mencatat adanya sejumlah tokoh kunci di balik lahirnya majalah ini. Di antara nama-nama itu tersebutlah Sayyid Ahmad Al-Hadi, yang merupakan anak angkat dari Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad Riau, dan Syekh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari, seorang ulama muda Minangkabau yang merupakan sepupu dari ulama Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860 – 1916). Pada 1890, keduanya dikirimkan dari Riau-Lingga ke Kairo, Mesir, untuk tugas belajar.

    Selain Al-Hadi dan Syekh Taher, nama lain yang juga menonjol dalam penerbitan majalah Al-Imam adalah Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali. Sayyid Muhammad dikenal sebagai ahli sunnah dan pendiri sekolah Islam Al-Iqbal di Singapura pada 1907. Sekolah ini berada di bawah perlindungan Raja Ali Haji. Sedangkan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali adalah seorang saudagar keturunan Arab yang wafat di Lhokseumawe, Aceh. Al-Kalali disebut-sebut memainkan peran penting dalam masa-masa awal Perang Aceh.

    Selain itu, ada juga nama Haji Abbas bin Muhammad Thaha (1885) dan Encik Abdallah bin Abdul Rahman. Haji Abbas adalah seorang keturunan Minangkabau yang lahir di Singapura dan menghabiskan sebagian besar usia mudanya di Makkah. Adapun Encik Abdallah adalah orang yang mendatangkan majalah Al-Manar dari Mesir sebagai referensi ke Singapura.

    Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), dalam bukunya Ayahku (1950), menjelaskan bahwa keberadaan majalah Al-Imam ini seluruhnya dilakukan atas belanja Syekh Al-Kalali, yang juga bertindak sebagai mudir (direktur) majalah tersebut. Kemudian, melalui usaha ulama Sayyid Muhammad bin Aqil dan Sayyid Ahmad Al-Hadi, sempat didirikan suatu edisi “limited” yang khas untuk penerbitan majalah itu dengan modal dua puluh ringgit (Atjehpost.co, 26 Agustus 2014).

    Dalam hal citarasa kebahasaan, Hamka menilai bahwa bahasa Melayu yang dipakai Al-Imam mulai halus, tidak lagi semata-mata terikat kepada bahasa Arab. Dan majalah ini disebutkan mendapatkan perhatian dari ulama-ulama yang sepaham.

    Dalam penerbitannya, nama wakil-wakil Al-Imam pada tiap-tiap negeri dituliskan pada kulit dalam kedua (omslag II). Di antara nama-nama tersebut adalah Said Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab di Betawi, Haji Abdullah bin Haji Ahmad (kemudian dikenal sebagai Dr. H. Abdullah Ahmad) di Padang Panjang, Haji Abdul Karim bin Syekh Kisaa-iy (kemudian dikenal sebagai Dr. H. Abdul Karim Amrullah), di Danau Maninjau, dan seterusnya.

    Pada edisi kedua (Agustus 1906), majalah Al-Imam sudah mulai membuat macam-macam rubrik, seperti “tanya jawab” dan “pembaca bertanya Al-Imam menjawab”. Dan dalam perjalanannya, majalah ini mulai mendapatkan banyak tantangan. Sejumlah ejekan dan serangan disebutkan dialamatkan kepada mereka, termasuk kepada Syekh Taher.

    Namun hal-hal semacam ini langsung ditangkis oleh Syekh Al-Kalali. Dan pada edisi 12 jilid II yang terbit pada 1 Jumadil Awwal 1326 H/Juni 1908, Al-Imam menegaskan garis dirinya:

    Al-Imam adalah musuh yang amat bengis bagi sekalian bid’ah dan khurafat (karut-karut) dan ikut-ikutan dan adat yang dimasukkan orang pada agama”.

    “Itulah dia Al-Imam,” tulis Hamka dalam Ayahku.

    Mengenai karakternya yang demikian, William R. Roff, dalam bukunya The Origin of Malay Nationalism (1967), mengutip tulisan pembuka dari Syekh Al-Kalali yang menjadi maksud keberadaan majalah Al-Imam.

    Al-Imam bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah)”.

    Dalam laporannya, Atjehpost.co mengutip Hamka yang menulis artikel di majalah Panji Masyarakat No. 201, 15 Juni 1976, ihwal alasan penerbitan Al-Imam. Dalam pendahuluan majalah Al-Imam, Al-Kalali menulis bahwa dirinya merasa terpanggil untuk membangunkan bangsa dan kaumnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun.

    “Rasa cintanya kepada wathan (tanah air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkannya,” sebut Hamka dalam artikelnya itu.

    Michael Laffan juga mencatat bahwa Al-Imam bertujuan untuk mencapai kemerdekaan atas tanah-tanah yang ditindas oleh Belanda dan Inggris. Dalam mendefinisikan komunitas-komunitas yang tertindas itu, Al-Imammenghimpunnya dalam satu ikatan: Islam. Adapun wathan yang dimaksud majalah ini ditempelkan pada bangsa atau umat Melayu. Dan identifikasi akan hal ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah seperti “umat Timur”, “umat Melayu”, “umat Islam kita di sini”, atau “umat kita sebelah sini”.

    What do we see around us? To the Southwest the land of Sumatra (tanah Sumatra) is in the grip of the Dutch. To the Southeast lies the land of Java (tanah Jawa), also in the grip of the Dutch. To the East is Borneo (tanah Borneo), similarly dissected by that people (kaum). Across the Eastern sea lies Manado (tanah Manado) and the Sulu Isles also under that race (bangsa). Across the Western sea is the land of the Malay Peninsula (tanah Melayu peninsula), served up as a dish for England’s enjoyment. Does all this not make one’s heart heavy or indeed wound it?” tulis Al-Imam dalam Vol. 1, No. 3, 19 September 1906, sebagaimana dikutip oleh Laffan.

    Tulisan Al-Imam ini agaknya menandakan wathan yang ia maksud tak mengikuti jalan berpikir kolonial, baik Inggris maupun Belanda. Dan ini membuatnya berbeda dengan media macam Bintang Hindia (1902), yang menyatakan wathannya adalah tanah dimana Belanda ada di kepulauan ini, yang disebut India Belanda.

    Yet, unlike Bintang Hindia’s clear claims to loyalty for the tanah air of the Netherlands Indies, al-Imam was unable to be specific about where exactly the watan of the Malays lay…,” tulis Laffan.

    Lebih lanjut Laffan merujukkan upaya identifikasi wilayah dan kaum ini pada Partai Ummah (Hizb al-Umma) yang didirikan oleh Ahmed Lutfi el-Sayed di Kairo, Mesir, pada 1907. Partai ini kemudian dipahami sebagai partai bangsa Mesir.

    Akan tetapi, gegap gempita majalah Al-Imam tak berlangsung lama. Seiring waktu, majalah pun mulai mendapatkan kesulitan. Sayyid Muhammad bin Aqil dikatakan telah berusaha untuk mencari modal ke Mesir, tapi tidak membuahkan hasil.

    “Sehingga permulaan tahun 1909 M berhentilah terbit majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu,” tulis Hamka dalam Ayahku.

    Al-Urwatul Wutsqa di Paris dan Al-Manar di Mesir
    Dalam edisi perdananya, Atjehpost.co melaporkan bahwa Al-Imam menyalin dan menerbitkan ulang beberapa artikel dari majalah Al-Urwatul Wutsqa. Al-Urwatul Wutsqa adalah majalah Islam yang terbit pada 5 Jumadil Awwal 1301 H/13 Maret 1884 M di Paris, Perancis. Majalah Al-Urwatul Wutsqa berdiri atas prakarsa ulama bernama Syekh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin.

    “Jelas sekali pengaruh majalah itu di dalamnya,” terang Hamka dalam Ayahku.

    Pemuatan kembali artikel dari majalah Al-Urwatul Wutsqa memang bukan tanpa sebab. Dalam susur galurnya,Al-Imam memang menautkan diri kepada Al-Urwatul Wutsqa.

    “Majalah Islam itu diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam kalau kaum muslimin tetap lalai dan lengah,” tulis Hamka di bukunya itu.

    Majalah Al-Urwatul Wutsqa ini disebutkan bertahan hingga delapan belas edisi. Edisi terakhirnya terbit pada Zulhijjah 1301 H. Tekanan dan larangan beredar di negeri-negeri yang dikuasai Inggris membuat usianya tak sampai setahun.

    Akan tetapi, meski telah mendiang, tulisan-tulisan di majalah Al-Urwatul Wutsqa nyatanya meninggalkan pesona kepada seorang ulama muda bernama Sayyid Muhammad Ridha. Dia pun kemudian menjumpai gurunya, Syekh Muhammad Abduh, untuk membahas perihal penerbitan majalah.

    Dari upayanya itu, maka lahirlah majalah yang kemudian amat terkenal: Al-Manar. Majalah yang lahir di Mesir pada pada 1315 H/1897 M ini dimaksudkan sebagai penyambung Al-Urwatul Wutsqa dalam cita kebangkitan Islam yang lebih lengkap. Selain membangkitkan semangat, Sayyid Muhammad Ridha juga mengisi majalah itu dengan pandangan-pandangan Islam yang baru, termasuk tafsir Al-Quran menurut Syekh Muhammad Abduh.

    Dalam buku Ayahku, Hamka mencatat bahwa daya jangkau pengaruh Al-Urwatul Wutsqa di Paris dan Al-Manar di Mesir cukup kuat. Salah satunya adalah berdirinya majalah Al-Imam di Singapura, yang di antaranya diprakarsai oleh Al-Kalali, yang merupakan karib dari Syekh Taher, ulama asal Minangkabau lulusan Al-Azhar yang baru pulang dari Mesir. Tak ketinggalan peran dari Sayyid Muhammad bin Aqil sebagai orang yang bertanggungjawab pada sirkulasi majalah Al-Manar di Kepulauan Melayu.

    “Yang terang ialah bahwa sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 Hijriah, sampai majalah itu berhenti terbit, Syekh Taher Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syekh Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar,” kata Hamka dalam pidato yang dibacakannya ketika menerima gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, 21 Januari 1958.

    Majalah Al-Manar yang tersebar ke seluruh dunia Islam itu ditutup dengan wafatnya Sayyid Muhammad Ridha.

    Al-Munir dan Suluh Melayu
    Pada 1 April 1911, atau dua tahun setelah berhenti terbitnya majalah Al-Imam, terbitlah sebuah majalah Al-Munir di Padang. Al-Munir merupakan kelanjutan dari Al-Imam, yang sekaligus menjadi majalah Islam pertama yang terbit di Sumatera.

    Kelahiran majalah Al-Munir ini tak lepas dari gagasan Haji Abdullah Ahmad, seorang ulama muda yang mahir tulis menulis di Padang. Sebelumnya dia juga merupakan wakil Al-Imam di Padang Panjang.

    Sementara Haji Abdul Karim Amrullah Danau, yang merupakan ayah dari Hamka, juga berperan dalam mengisi majalah ini. Ia menjawab soal-soal yang menyangkut agama, yang menjadi rubrik yang menggoncangkan alam pikiran Islam di masa itu. Seperti Abdullah Ahmad, Abdul Karim pun sebelumnya menjadi wakil Al-Imam di Danau Maninjau.

    Dengan susur galur yang demikian, maka pertautan majalah Al-Munir di Padang kepada majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris diperoleh secara berturut-turut melalui majalah Al-Imam di Singapura dan majalah Al-Munir di Mesir. Namun, pada 15 Rabiul Awwal 1333 H/31 Januari 1915, Al-Munir berhenti terbit. Tutupnya majalah ini disebut-sebut dikarenakan kekurangan dana.

    Akan tetapi detik jarum jam belum berhenti berdetak. Kehadiran Al-Munir nyatanya telah memicu hadirnya sejumlah media massa Islam di Sumatera, khususnya Sumatera Barat, yang dipelopori kaum muda. Sebut saja di antaranya majalah Al-Akbar yang terbit di Padang (1913), majalah Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang (1918 – 1924), majalah Al-Basyir di Sungayang (1920), majalah Al-Itiqan di Maninjau, atau majalah Al-Imam(nama yang diambil dari pendahulu Al-Munir) di Padang Japang.

    Tak hanya majalah-majalah, kaum muda ini juga mendirikan sejumlah lembaga pendidikan terkemuka dengan semangat pembaharuan, seperti Sumatera Thawalib yang berdiri pada 1919. Kelompok pendidikan ini kemudian banyak mendorong atau menerbitkan majalah-majalah itu.

    Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh kaum muda ini pada gilirannya membangkitkan suatu reaksi dari apa yang disebut kaum tua di Sumatera Barat. Untuk menandingi sebaran gagasan dan cara pandang kaum muda itu, kaum tua kemudian turut menerbitkan sejumlah majalah. Maka, terbitlah majalah Suluh Melayu di Padang pada 1913, majalah Al-Mizan di Maninjau pada 1918, majalah Al-Radd Wa Al-Mardud di Bukittinggi pada 1926, dan majalah Suarti (Suara Tarbiyah Islamiyah) di Bukittinggi pada 1937 sampai 1945. Sama seperti kaum muda, gerakan kaum tua ini juga tak hanya di bidang penerbitan majalah, tetapi juga membuat organisasi seperti Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Bukittinggi pada 1928.

    Hamka mengatakan, terbitnya majalah-majalah tersebut membuat kutub menjadi terbelah dua. Di satu sisi, ada majalah Al-Munir dengan tokoh-tokoh pemikir macam Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Mohammad Djamil Djambek. Di sisi lain, ada majalah Suluh Melayu dengan pemikir-pemikir seperti Syekh Khatib Ali, Syekh Sa’at Mungka, dan Syekh Bayang.

  • Revolusioner dari Alam Permai Minangkabau

    Revolusioner dari Alam Permai Minangkabau

    Judul Asli: Pemberontak dari Alam Permai Minangkabau, kami sesuaikan dengan maksud asli dari tulisan, dikarenakan kesan negatif terhadap pemilihan judul oleh sumber aslinya.

    Sumber:http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127965.id.html

    Zulhasril Nasir
    # Guru Besar Komunikasi UI dan penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau (Ombak, 2007)

    BERDIRI di tempat tinggi, menadahkan kedua tangannya, Roger Tol, peneliti dari lembaga Belanda KITLV, berseru, ”Mengapa di tempat yang indah dan subur ini lahir seorang pemberontak?” Harry Poeze, sejarawan peneliti Tan Malaka yang tegak di sampingnya, hanya membisu.

    Adegan itu terjadi di Pandan Gadang, tempat lahir Ibrahim Datuk Tan Malaka, 32 kilometer dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Kedua peneliti itu baru usai meresmikan ”Rumah Tan Malaka: Museum dan Pustaka”, pada 22 Februari 2008. Nagari Pandan Gadang tersuruk di Bukit Barisan, di antara lempit bukit dan sawah hijau membentang, kicau burung berlompatan di buah-buah ranum.

    Nagari memberikan kemerdekaan kepada penduduknya untuk menjadi siapa saja. Tiada lapisan sosial. Yang ada hanya fungsi sosial. Pemimpin hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Lelaki dan perempuan bicara dalam adat yang sama. Tan Malaka beruntung menjadi anak seorang pegawai pertanian Hindia Belanda, selangkah lebih maju dari warga lain.

    Kesempatan yang diperoleh di Sekolah Rajo, Bukittinggi, tidak lepas dari kecerdasan sebagaimana yang dikatakan guru Belandanya, Horensma, di sekolah guru (Kweekschool) itu, ”Rambutnya hitam-biru yang bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah memancarkan sesuatu.” Berkat gurunya ini juga Tan Malaka kemudian sekolah ke Negeri Belanda, di usia 17 tahun. Di negeri penjajah itu, Tan Malaka menyerap ideologi yang menjadi titik perjuangannya sampai akhir hayat.

    Nagari tidak tunduk kepada pemerintah pusat. Nagari diatur oleh tiga tungku sejarangan: kepala adat, ulama, dan cerdik pandai. Segala aspek pemerintahan Nagari, persoalan dan kemajuan masyarakat, diselesaikan melalui musyawarah oleh ketiga unsur tadi di balairung. Kedaulatan rakyat terwujud pada pemerintahan Nagari.

    Pemerintahan pusat (Raja) tidak memiliki kewenangan ikut campur. Masing-masing Nagari mempunyai kedaulatan yang sama, tanpa hubungan struktural. Ketika Tan Malaka kesulitan uang di Negeri Belanda, sanak-kaumnyalah yang berpatungan mengirimkan dana (Angkoefonds). Tan Malaka menganggapnya sebagai utang, bukan sumbangan.

    Tan Malaka mendahului sekolah ke Negeri Belanda daripada Hatta, Nazir Datuk Pamuncak, Sjahrir, Abdul Rivai, Asaat, Ibrahim Taher, Zaharin Zain, Abdul Muis, dan Abdul Rivai. Negeri Belandalah, sebenarnya, yang membentuk wataknya: membaca, belajar, dan menderita. Dia menutupi kekurangan uang dengan mengajar bahasa Melayu, sambil berusaha menyelesaikan sekolah, dan berjuang melawan sakit bronkitis, yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat pada musim dingin.

    Alam Minangkabau yang subur permai dan bebas tidaklah lengkap membekali anak negerinya tanpa mengaji dan pencak silat. Mengaji dan silat adalah pembentuk kepribadian dan kepercayaan diri: tak kayu jenjang dikeping; musuh indak dicari bersua pantang dielakkan; induk cari dunsanak cari, induk semang cari dahulu.

    Suatu ketika Tan Malaka mencalonkan diri untuk Tweede Kamer (parlemen) Belanda mewakili negeri jajahan. Orang sekarang mungkin tidak dapat membayangkan, dalam keadaan serba terbatas Tan Malaka melanglang buana membentuk dan membangun ideologi dalam perjalanan panjang dari Negeri Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api Trans-Siberia melalui gurun es hingga Wladiwostok di Timur, terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Kanton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya, dan Burma.

    Di kota-kota itu, sembari membangun kekuatan antipenjajahan, ia melahirkan percikan pemikiran melalui buku, brosur, di antara bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda. Sepuluh tahun pada akhir kehidupannya benar-benar dia sumbangkan untuk tanah air, membangun kekuatan perlawanan rakyat melawan Jepang dan Belanda, meskipun berakhir di ujung peluru bangsa yang diperjuangkannya. Bukankah itu suatu kedigdayaan yang tidak dimiliki oleh semua orang?

    Tan Malaka bukan seorang dogmatis sebagaimana Stalinis. Dia berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme, Tan Malaka membantahnya. Baginya, kesatuan Islam tidaklah harus berada di Asia Barat saja, Pan-Islamisme haruslah dibangun di setiap negeri muslim.

    Islam, kata Tan Malaka, telah mengajarkan sosialisme dan antipenjajahan dua belas abad sebelum Karl Marx lahir. Karena itulah Pan-Islamisme harus membebaskan rakyat muslim terjajah di mana pun. Pandangan semacam ini yang kemudian menarik kaum terdidik di Minangkabau pada awal abad ke-20. Pusat kaum pelajar di Sumatera Barat pada masa itu berada di Padang Panjang (Diniyah dan Sumatera Thawalib), Bukittinggi (Parabek Sumatera Thawalib), Padang (Adabiyah Islamic School), dan sekolah sekuler Kweekschool di Ford de Kock (Bukittingggi).

    Penyebab utama tumbuhnya cikal-bakal pergerakan modern kaum muda di Minangkabau adalah dibangunnya Sekolah Guru di Bukittinggi, sebagai akibat politik etis Belanda pada awal abad ke-20. Penyebab lainnya ialah kembalinya pelajar-pelajar Minang berpendidikan Kairo dan Mekah, yang mendorong berdirinya lembaga pendidikan agama secara swadaya dan berakibat tumbuhnya pemikiran baru di kalangan generasi muda Islam.

    Pengaruhnya sangat terasa pada dua gelombang kedatangan alumni Kairo dan Mekah, seperti Syekh Ahmad Wahab, Syekh Ahmad Chatib, Syekh Taher Djalaluddin, Syekh Karim Amrullah, Syekh Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, dan generasi alumni Mekah yang lebih keras, Haji Datuk Batuah, Mukhtar Lufti, dan Ilyas Jacob.

    Gelombang pertama kedatangan alumni Timur Tengah sebenarnya terjadi hampir satu abad sebelumnya, yaitu pra-Perang Bonjol (1820-an). Mereka adalah Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Tuanku Piobang, Tuanku Pamasiangan—tokoh-tokoh pergerakan di belakang Tuanku Imam Bonjol. Modernisasi pemikiran Islam (ada yang menyebutnya sekularisme) yang dikemukakan Muhammad Abduh dan Kemal Ataturk lebih melekat pada generasi terakhir pada awal abad ke-20 itu. Pada masa yang bersamaan berkembang pula di Jawa dan Sumatera gagasan antipenjajahan.

    Kemajuan pendidikan di Minangkabau—yang disebut sebagai salah satu suku yang tertinggi tingkat pendidikannya di Hindia Belanda (Kahin 2005, Poeze 1988, dan Naim 1979)—sebagai faktor kuatnya gerakan antipenjajahan dibanding daerah lain. Kahin menulis, ”Orang Minangkabau sebagai orang-orang yang gelisah, dengan tradisi pemberontakan dan perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan perlawanan mereka terhadap kekuatan luar, baik yang dari Jawa maupun dari Eropa.” Kaum pergerakan kiri di Sumatera Barat selalu mengingatkan Perang Paderi (1820-1837) dan Perang Belasting 1908 (yang menentang pemberlakuan pajak langsung kepada rakyat), untuk menumbuhkan rasa tidak puas kepada pemerintah Hindia Belanda.

    Gerakan kiri—diterjemahkan sebagai perlawanan terhadap kuasa, perlawanan rakyat, radikalisme, antikemapanan, komunisme, antipenjajahan—bukan hanya milik Tan Malaka. Ia menjadi subur dan berkembang di Minangkabau karena masyarakatnya menganut paham kesetaraan, kesamaan derajat, hak dan tanggung jawab (egaliter) sebagai wujud demokrasi Nagari.

    Banyak tokoh nasional yang lahir dari alam Minangkabau, sejak prakemerdekaan sampai pascakemerdekaan, terutama hingga era demokrasi liberal (1959). Pada penelitian saya yang bertajuk Tan Malaka, Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia dan Singapura (Ombak, 2007), dapat dibuktikan bahwa pejuang kemerdekaan Malaya (Malaysia) sebagian besar (21 orang) adalah keturunan dan pendatang dari Minangkabau.

    Mereka pendiri dan pimpinan Partai Kesatuan Melayu Malaya dan Partai Komunis Malaya. Di antaranya ialah Ibrahim Jaacob, Ahmad Boestaman, Abdullah C.D., Rashid Maidin, Shamsiah Fakeh, dan Khatijah Sidek. Mereka bukan berada di UMNO, partai kanan. Dari segala kepeloporan tersebut para pejuang kiri Minangkabau dapat dikategorikan beraliran: Islam-komunis, Islam-nasionalis, sosialis-demokrat, nasionalis kiri, dan komunis.

    Kecenderungan gerakan kiri kaum muda Minangkabau tidak lain karena pembekalan alam Minangkabau itu sendiri: demokrasi, egaliter, kemajuan pendidikan, dan aktualisasi merantau. Roger Tol atau Harry Poeze mungkin mendapat jawaban—negeri yang subur dan permai itu sebenarnya melahirkan pemimpin rakyat.