Tag: Sumatera Thawalib

  • Dr. H.A. Karim Amrullah: Ulama Pelopor dan Pembangun Jiwa Merdeka

    Dalam buku Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama Di Sumatera (Penerbit Umminda Jakarta, cetakan keempat, 1982), biografi yang ditulis oleh putranya yaitu Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), diceritakan ketika Presiden Soekarno datang ke Maninjau pada tahun 1948, beliau berpidato di depan beribu-ribu rakyat: “Saya adalah anak kehormatan orang Maninjau! Saya adalah anak angkatnya Dr. H. Abdul Karim Amrullah!”

    Syekh Dr. H.A. Karim Amrullah tidak sempat menghirup udara kemerdekaan tanah air Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Beliau tidak sempat melihat Soekarno menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia. Beliau meninggal dua bulan sebelum proklamasi. Tetapi beliau pernah memberikan nasihat berharga sebagai pegangan bagi Bung Karno dan para pemimpin bangsa agar memberi contoh kepada rakyat dalam hal  kesederhanaan, “Janganlah terlalu mewah, Karno! Kalau hidup pemimpin terlalu mewah, segan rakyat mendekati!” pesannya kepada Bung Karno sebagaimana diungkapkan Buya Hamka.

    Setelah Syekh H.A. Karim Amrullah dibebaskan dari pengasingan oleh Belanda di Sukabumi disebabkan dakwahnya yang dianggap membahayakan kepentingan kolonial, beliau menetap di Jakarta hingga wafat. Beliau memberikan tabligh dan pengajian kepada murid-muridnya dan jamaah di Masjid Tanah Tinggi. Semasa pendudukan Balatentara Jepang tahun 1942 – 1945, Syekh H.A. Karim Amrullah dibantu muridnya H.S.M. Nasaruddin Latif sebagai asistennya menyelenggarakan Kursus Muballigh di Jakarta.

    Banyak muridnya dari kalangan aktivis Muhammadiyah dan para pemuda pengagumnya datang silih berganti dari segala golongan dan lapisan untuk menimba ilmu atau meminta nasihat-nasihatnya. Ketika Hamka datang dari Medan menziarahi ayahnya, sejumlah tokoh datang di kediaman Syekh H.A. Karim Amrullah di Tanah Abang, di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Mudzakkir, K.H.A. Wahid Hasjim, S.K. Trimurti dan Parada Harahap.

    Hamka mengisahkan suatu hari ayahnya diundang makan ke rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. Ketika itulah Bung Karno dilewakan (dicanangkan) menjadi anak angkatnya Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Gerakan Pembaruan Islam

    Perjuangan ulama besar Minangkabau dan tokoh gerakan pembaruan Islam yang populer dipanggil Haji Rasul atau Inyiak De Er ditulis menjadi tesis di Institute of Islamic Studies McGill University Montreal Canada oleh Prof. Murni Djamal, MA. Tahun 1990-an ia pernah menjabat Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama.

    Tesis Murni Djamal diterbitkan menjadi buku berjudul Dr. H. Abdul Karim Amrullah: Pengaruhnya Dalam Gerakan Pembaruan Islam di Minangkabau Pada Awal Abad Ke-20 (INIS Leiden-Jakarta, 2002). Adapun buku Ayahku karya Hamka diterbitkan dalam bahasa Jepang oleh Prof. Nakamura. 

    Syekh H.A. Karim Amrullah lahir pada tanggal 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Maninjau, Sumatera Barat, dan wafat tanggal 21 Jumadil Akhir 1364 H/2 Juni 1945 di Jakarta dalam usia 68 tahun. Semasa muda belajar mendalami pengetahuan Islam kepada ayahnya Syekh Muhammad Amrullah (Tuanku Kisai). Pada tahun 1894 beliau melanjutkan pelajaran di Mekkah kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy selama 7 tahun sampai 1901. Dan berangkat kembali ke Mekkah tahun 1903 untuk kedua kali selama 3 tahun. Salah satu keteladanan Syekh H.A. Karim Amrullah ialah sangat menghormati gurunya walau dalam beberapa ijtihad hukum agama pernah berbeda pendapat. Ketika menyebut nama gurunya selalu menggunakan ungkapan takzim “Tuan Ahmad Khatib”.  

    Beliau bersama Syekh Haji Abdullah Ahmad adalah dua ulama Indonesia pertama yang mendapat titel kehormatan Doctor Honoris Causa. Penganugerahan Doktor diberikan dalam pertemuan Hai’at Jam’iyyah Kubbar al-‘Ulama’ (Organisasi Masyarakat Ulama Utama) di Universitas Al-Azhar Mesir pada tahun 1926. Promotor penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Syekh H.A. Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad adalah Syekh Khalil al-Khalidi, mantan mufti Palestina, dan Atai’llah Effendi, Menteri Urusan Wakaf Irak. 

    Dalam lawatan ke Mesir dalam rangka menghadiri kongres ulama internasional, seorang ulama Timur Tengah bertanya kepada beliau; mengapa tidak memakai pakaian (jubah) ulama? Syekh H.A. Karim Amrullah yang berpakaian jas dan berpeci dengan percaya diri menjawab, “Di negeri kami, ilmu itu bukan di sudut jubah atau serban, tetapi di dada dan tahan uji.” 

    Selama kunjungan di Mesir itu beliau menyewa kamar di hotel kecil  sedangkan utusan negara-negara lain menginap di hotel besar. Ketika diwawancara wartawan, mengapa utusan dari Hindia Belanda (Indonesia) menyewa hotel murah? Syekh H.A. Karim Amrullah menerangkan, “Mereka adalah utusan resmi atau setengah resmi dari pemerintahan yang berkuasa di negerinya. Sedang kami adalah utusan dari rakyat jelata, bukan utusan dari pemerintah yang berkuasa di tanah air kami. Oleh sebab itu perbelanjaan kami terbatas.”

    Sekembali dari lawatan ke Jawa dan bertemu K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Syekh H.A. Karim Amrullah, menjadi penganjur dan pendiri organisasi Muhammadiyah di Minangkabau tahun 1925. Muhammadiyah pertama kali berkembang di Sumatera adalah di Sungai Batang, Maninjau. Uniknya, Syekh H.A. Karim Amrullah tidak menjadi anggota resmi Muhammadiyah. Tetapi perjuangan dan bantuannya sangat besar bagi perkembangan Muhammadiyah di luar Jawa.

    Minangkabau menjadi pusat perkembangan Muhammadiyah yang pertama di luar Jawa. Dari Minangkabau tampil para mubaligh dan konsul Muhammadiyah yang diberi tugas mengembangkan Muhammadiyah ke berbagai daerah lain. Reformasi sistem pendidikan Islam secara klasikal dari pengajaran pondok menjadi belajar di kelas yang dipelopori Muhammadiyah di bawah bimbingan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta diadopsi oleh Sumatera Thawalib Padang Panjang. Pelajar Thawalib dibagi ke dalam tujuh kelas. Syekh H.A. Karim Amrullah mengajar di kelas tertinggi yaitu Kelas 7. 

    Sumatera Thawalib dan Muhammadiyah – mengutip tesis Murni Djamal – merupakan dua institusi penting yang dibentuk oleh Syekh H.A. Karim Amrullah bersama-sama tokoh Kaum Muda lainnya menjadi inti pelaksanaan gagasan dan gerakan pembaruan Islam di Minangkabau. Kegiatan beliau antara tahun 1918 sampai 1930 itu merupakan sumbangan penting kaum Muslimin di Minangkabau terhadap perjuangan Islam di Indonesia.  

    Murni Djamal mencatat tiga pemimpin pembaru yang paling berpengaruh dalam gerakan reformasi Islam awal abad ke-20 di Minangkabau yaitu: Dr. H.Abdul Karim Amrullah (1979 – 1945), Dr. H. Abdullah Ahmad (1878 – 1933), dan Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947). Tiga ulama pembaru itu adalah murid Syekh Ahmad Khatib (1860 – 1916), putra asli Koto Gadang yang bermukim di Mekkah dan Syekh Tahir Djalaluddin (1869 – 1956) yang belajar di Mekkah lalu ke Al-Azhar Cairo dan menetap sampai wafat di Kuala Kangsar, Perak, Malaysia.

    Dalam wawancara jarak jauh dengan Prof. Murni Djamal tanggal 27 Maret 2023 tentang perjuangan Syekh H.A. Karim Amrullah, saya mencatat   penjelasan bahwa gerakan pembaruan Islam yang antara lain dimotori oleh Syekh H.A. Karim Amrullah tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan gerakan pembaruan di negara lain misalnya di Mesir seperti yang dipelopori oleh Sayid Jamaluddin Al-Afghany dan muridnya Syekh Mohammad Abduh.  

    Gerakan pembaruan Islam yang timbul di tengah kondisi bangsa-bangsa muslim sedang dijajah bangsa lain waktu itu sungguh fenomenal. Gerakan pembaruan bukan sekadar pemurnian ajaran Islam. Gerakan pembaruan mengupayakan agar ajaran Islam mudah dipahami dan dilaksanakan oleh umatnya di seluruh dunia. Perjuangan dakwah Syekh H.A. Karim Amrullah sebagai fase lanjutan dari Gerakan Paderi bermuara pada pengembangan pemikiran moderat sebagai titik temu antara Kaum Muda (Kaum Reformis) dan Kaum Adat (Konservatif). Titik temu itu tertuang dalam Piagam Bukit Marapalam, “Adat bersendi Syara, Syara’ bersendi Kitabullah.”   

    Gerakan pembaruan, reformasi atau modernisme Islam di masa itu secara kategoris dikelompokkan dalam Kaum Muda di satu sisi dan Kaum Tua di sisi lain. Tantangan yang dihadapi Syekh H.A. Karim Amrullah sebagaimana terungkap dalam beberapa literatur berangkat dari upaya membersihkan Islam dari praktik-praktik yang tidak benar dan menghasilkan titik temu yang moderat. Para pengusung dan pendukung gerakan pembaruan di lapangan berhadapan dengan tantangan bukan hanya dari Kaum Tua, tetapi penguasa adat Minangkabau yang merupakan orang Islam juga.

    Para ulama pembaru mengaktualisasikan gagasan dan gerakannya dengan menerbitkan buku, mendirikan terbitan berkala (majalah) dan mendirikan sekolah seperti Sumatera Thawalib Padang Panjang dengan pelopornya Syekh H.A. Karim Amrullah, Madrasah Adabiah Padang pendirinya Syekh H. Abdullah Ahmad, dan Diniyyah Putra/Diniyyah Puteri Padang Panjang pelopornya Zainuddin Labay dan adiknya Rahmah El-Yunusiyyah. Mereka membentuk organisasi guru dalam hal ini Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di bawah pimpinan Dr. H. Abdullah Ahmad di Padang dalam rangka memperbarui sistem pendidikan Islam.

    Sumatera Thawalib Padang Panjang

    Sumatera Thawalib Padang Panjang didirikan tahun 1911 oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Embrio Thawalib adalah sekolah mengaji Surau Jembatan Besi Padang Panjang yang telah belangsung jauh sebelum tahun 1900 di bawah asuhan  Syekh Abdullah, diteruskan oleh Syekh Daud Rasjidi (ayahanda Buya H.M.D. Datuk Palimo Kayo) dan kemudian Syekh Abdul Latif. Sejak tahun 1911 pengajian Surau Jembatan Besi diasuh oleh Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Di lokasi bekas Surau Jembatan Besi kini berdiri Masjid Zuama’ (artinya pemimpin). Sebuah nama yang dipilihkan dan diresmikan oleh Buya Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo. Buya Datuk adalah ulama perintis kemerdekaan, mantan Duta Besar RI di Irak dan Ketua Umum MUI Pertama Provinsi Sumatera Barat. Ia adalah alumnus Thawalib Padang Panjang dan murid Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Sepanjang perjalanan sejarahnya Sumatera Thawalib Padang Panjang melahirkan banyak ulama, pendidik, pemimpin dan tokoh masyarakat yang mengisi berbagai tempat pengabdian di tingkat nasional dan daerah setelah kemerdekaan. Sistem pengajaran Thawalib, termasuk kurikulumnya, menurut penelitian Murni Djamal, adalah diciptakan oleh para pendiri Sumatera Thawalib yaitu Syekh H.A. Karim Amrullah dan para guru Thawalib sendiri, tanpa dipengaruhi oleh sistem sekolah Al-Azhar Mesir yang di masa itu masih mempertahankan garis tradisional. Kendati buku-buku yang digunakan di Thawalib kebanyakan dari Mesir.  

    “Sumatera Thawalib mungkin merupakan sekolah paling berpengaruh yang didirikan oleh Reformis Muslim di Minangkabau. Sekolah ini berhasil mencapai tujuannya yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin agama dan pendukung-pendukung gerakan pembaruan.” terang Murni Djamal.

    Pada tahun 1926 Syekh H.A. Karim Amrullah menyerahkan kepemimpinan Thawalib Padang Panjang kepada kader seniornya Angku Mudo Abdul Hamid Hakim (1893 – 1959). A. Hamid Hakim berasal dari Sumpur, Tanah Datar. Pada tahun 1946 didirikan Yayasan Thawalib Padang Panjang diketuai Abdul Hamid Hakim. Angku Mudo Abdul Hamid Hakim memimpin Thawalib Padang Panjang sampai wafat di Sumpur tahun 1959         

    Menarik disimak komentar Van der Plas, Kepala Kantor Urusan Pribumi Pemerintah Belanda tentang Thawalib Padang Panjang yang didirikan oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Menurut Van der Plas, pengajaran di sekolah itu (Thawalib) bermutu sangat tinggi, dan berlawanan dengan sistem pendidikan (tradisional, pen), tidak didasarkan atas belajar dengan menghafal, tetapi lebih banyak atas pemikiran dan pemahaman.

    Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (1960) menggambarkan, diperlukan 12 tahun pelajaran menurut sistem sekolah di Al-Azhar untuk mencapai apa yang diselesaikan dalam 7 tahun di Sumatera Thawalib. Semua itu adalah karena benih-benih pendidikan yang ditanam oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Sekolah Thawalib tidak hanya di Padang Panjang, tapi juga berdiri di Parabek, Padang Japang, dan beberapa tempat di Sumatera. Padang Panjang bukan hanya menjadi kota pelajar, tetapi dikenal sampai ke luar Minangkabau sebagai pusat kegiatan kaum reformis Islam atau pusat gerakan pembaruan Islam awal abad ke dua puluh. Murid-murid Thawalib diajar berpikir bebas dan melepaskan taqlid buta serta kemana pun pergi berani mempertahankan kebenaran.

    Derita Seorang Pemimpin

    Dalam perjalanan hidup dan perjuangan dakwahnya Syekh H.A. Karim Amrullah menghadapi tiga ujian terberat. Beliau lulus melewati ujian dengan rahmat Allah:

    Pertama, ujian bencana alam.

    Gempa bumi pada tahun 1926 mengguncang kota Padang Panjang dan sekitarnya. Gempa menelan banyak korban jiwa, harta benda dan merobohkan gedung sekolah Thawalib yang dibangun dengan susah payah. Perkataan yang keluar dari mulut Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu, “Tidak ada harta dunia yang kekal. Harta Allah pulang kepada Allah.”

    Kedua, ujian ideologi.

    Penetrasi ideologi radikalisme komunis mempengaruhi sejumlah pelajar Thawalib Padang Panjang. Gerakan “merah” komunis yang bersikap anti-penjajah menggunakan siasat mengelabui kaum agama sehingga memicu perselisihan dan perpecahan di Sumatera Thawalib.

    Komunisme diperkenalkan di Padang Panjang oleh Haji Datuk Batuah, salah seorang guru Thawalib. Syekh H.A. Karim Amrullah menentang habis-habisan komunis, bukan karena sikap radikal komunis terhadap Belanda, tetapi karena ketidakcocokannya dengan ajaran Islam. Komunis di mana pun pada hakikatnya memusuhi agama.

    Haji Datuk Batuah dan para pengikutnya menggunakan cara-cara partai komunis dalam menjatuhkan lawan politik. Mereka berhasil memaksa Syekh H.A. Karim Amrullah berhenti sebagai kepala sekolah Thawalib. Syekh H.A. Karim Amrullah akhirnya menarik diri secara total dari Thawalib Padang Panjang.

    Murni Djamal mengungkapkan dalam bukunya, “Bagi Haji Abdul Karim Amrullah peristiwa itu merupakan salah satu hari paling kelabu dalam hidupnya, terutama karena ia merupakan salah satu pendiri (guru) sekolah tersebut. Haji Abdul Karim Amrullah seolah-olah tanpa pekerjaan setelah meninggalkan Sumatera Thawalib tahun 1923 (data lain menyebut tahun 1926, pen). Syekh Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan beberapa guru agama anti komunis masih mempunyai suraunya sendiri, sedangkan Haji Abdul Karim Amrullah hanya mempunyai rumah dan keluarganya saja. Tidak lama setelah ia meninggalkan sekolah ia membuka rumahnya bagi mereka yang masih mau menuntut ilmu padanya, dan mulai menyusun kembali para pengikutnya.”

    Pada tahun 1923 Haji Datuk Batuah ditangkap Belanda dan dibuang ke  Nusa Tenggara Timur. Hamka menceritakan ayahnya (Syekh H.A. Karim Amrullah) kelihatan murung mendengar kabar tersebut. Meski mereka sudah berbeda paham dan berlainan jalan, tetapi kemuliaan jiwa seorang guru tampak disitu. Kepada Hamka, Syekh H.A. Karim Amrullah berkata, “Sudah tertangkap Haji Datuk Batuah. Sayang dia alim besar, terbenam saja ilmunya.”  

    Syekh H.A. Karim Amrullah seorang yang teguh menjaga akidah dan berani menyampaikan pendiriannya terhadap suatu aturan atau kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat dan membatasi kemerdekaan menyiarkan agama. Salah satu contoh, kebijakan Ordonansi Guru tahun 1928 yang telah diberlakukan di Jawa, saat hendak diterapkan di Minangkanbau ditentang oleh Syekh H.A. Karim Amrullah dan kawan-kawan para ulama pejuang. Ordonansi Guru intinya melarang guru-guru agama Islam mengajar sebelum terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

    Ketiga, ujian diasingkan ke luar daerah

    Sekitar tahun 1941 Syekh H.A. Karim Amrullah ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial ke Sukabumi Jawa Barat. Sejak beberapa waktu sebelumnya ketika memberikan ceramah dan pengajian telah dimatai-matai oleh dinas intelijen politik Belanda atau diikenal dengan nama PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Beliau bahkan pernah dipenjara di Bukittinggi.

    Sewaktu Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi tahun 1930 Syekh H.A. Karim Amrullah mengatakan dalam pidatonya, “Ulama-ulama tidak boleh kalau hanya duduk tafakur dalam suraunya sambil menggeleng-gelengkan kepala, seakan-akan kepala itu diberi per, lalu membilang-bilang tasbih kayu mati. Tetapi ulama-ulama harus tampil ke muka masyarakat, memimpinnya menuju kebenaran.”

    Di tempat pengasingan di kampung Cikirai Sukabumi, beliau tinggal di rumah Tuan Iskandar, Jalan Cikirai No 8. Ketika ditanya, apakah di tanah Jawa ini beliau akan meneruskan perjuangan? Beliau menjawab, “Selama nyawa masih dikandung badan, dan di bumi yang dimana juapun, saya akan tetap berjuang menegakkan agama!” Banyak ulama dan pemimpin umat di Jawa, termasuk Pengurus Besar Muhammadiyah dari Yogyakarta, datang mengunjungi Syekh H.A. Karim Amrullah ke Sukabumi. Sejarawan dan peminat sejarah dapat menelusuri rumah tempat pengasingan Syekh H.A. Karim Amrullah. 

    Menurut penuturan K.H. Abdullah Salim kepada Hamka, Pengurus Muhammadiyah setempat menggelar peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw dalam suatu rapat umum dan mengundang Syekh H.A. Karim Amrullah sebagai pembicara. Namun diperingatkan oleh Wedana melalui Abdullah Salim bahwa sebagai seseorang yang dalam pengasingan jangan membicarakan politik. Tanggapan beliau di luar dugaan, “Nanti setelah saya naik podium hendak bicara, hendaklah engkau stop saya dan engkau sampaikan perintah itu kepada saya di hadapan umum.”

    Revolusi Jiwa Menentang Nippon

    Setelah kekuasaan kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, dimulailah era penduduk balatentara Jepang di Indonesia, sekitar Maret 1942. Syekh H.A. Karim Amrullah dibebaskan. Beliau menetap di Jakarta, Gang Kebon Kacang IV No 22 Tanah Abang. Kegiatannya tetap berdakwah dan membina umat. Sikap kritisnya di masa penjajahan Hindia Belanda maupun di masa pendudukan balatentara Jepang tidak berubah.

    Sewaktu acara pertemuan para ulama se Jawa di Bandung sesuai protokoler di zaman Jepang semua hadirin wajib melakukan penghormatan Keirei yaitu berdiri dan membungkukkan badan ke arah Istana Kaisar Jepang Tenno Heika di Timur Laut. Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu telah diangkat menjadi guru pada latihan ulama seluruh tanah Jawa ditempatkan di tribun sederetan para pembesar Jepang. Satu-satunya ulama dan hadirin yang tidak berdiri dan tidak menundukkan badan, melainkan tetap duduk tenang di kursinya ialah Syekh H.A. Karim Amrullah. Beliau berprinsip Keirei merupakan perbuatan syirik karena menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan melebihi cara yang sewajarnya. Bung Hatta mengatakan, ulama yang mula-mula sekali menyatakan revolusi jiwa kepada Jepang di Indonesia ialah Abdul Karim Amrullah.

    Mengenai alasan mengapa beliau tidak bersedia Keirei, Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu menyatakan, “Tuan-tuan Ulama yang mulia! Memegang dan mempertahankan pendirian dan keyakinan tidaklah selalu membawa bahaya, bahkan asal kita tetap tawakkal kepada Tuhan. Cobalah lihat sikap saya tadi. Saya tetap duduk sekali-kali bukanlah karena ingin menentang perintah Saudara Tuan kita Dai Nippon, melainkan karena taat kepada ketentuan Allah. Allah yang melarang saya turut melakukan upacara rukuk kepada yang selain Dia. Cobalah tuan-tuan lihat sekarang. Paduka Tuan Kolonel tidaklah kecewa kepada saya karena saya tetap berpegang teguh kepada keyakinan agama saya. Sebab beliaupun orang yang taat setia pula kepada agamanya sendiri.”

    Dalam kasus lain Syekh H.A. Karim Amrullah merasa keberatan untuk memenuhi undangan memberikan ceramah agama Islam di radio karena persyaratan teks pidato harus terlebih dahulu diperiksa atau disensor dari hal-hal yang tidak menguntungkan Dai Nippon. Menurut beliau, pemeriksaan teks pidato sudah menunjukkan kurang percayanya pihak yang mengundang kepada orang yang diundang.

    Sekitar bulan April 1943, Syekh H.A. Karim Amrullah menulis risalah yang bersejarah atas permintaan Kolonel Horie, Kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu) di Jakarta. Tulisan tersebut sebagai tanggapan atas buku “Wajah Semangat”. Beliau pada waktu itu diangkat sebagai Penasihat Shumubu. Dalam buku Ayahku dimuat sebagai lampiran oleh Hamka, dan diberi judul Hanya Allah.

    Mengenai tata cara menghormati dengan sujud atau merundukkan badan, Syekh H.A. Karim Amrullah menjelaskan Hadis Rasulullah bahwa sekali-kali tidak patut sujud itu dilakukan kepada seorang juga, lain daripada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tidaklah layak bagi manusia akan sujud kepada sesama manusia pula. Oleh karena itu tidak juga boleh dilakukan ruku’ itu membesarkan sesuatu yang lain daripada Allah. Tidak ada pertuhanan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

    “Dengan ini saya tutuplah tulisan saya, ialah sekadar yang perlu untuk menjunjung tinggi permintaan Paduka Tuan Kolonel Horie. Dan sekali lagi saya harap, kiranya beliau akan memaafkan, jika di dalam tulisan ini kedapatan kata-kata yang janggal atau kurang baik menurut kesopanan tulis menulis terutama menurut perasaan dan pertimbangan tuan-tuan dari bangsa Nippon, yang bagi saya kesemuannya itu masih bersifat baru.” tulis Syekh H.A. Karim Amrullah pada bagian akhir karangannya.

    Syekh H.A. Karim Amrullah seorang yang jujur dan berani terus terang mengutarakan pandangannya tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tanpa takut atas kekejaman tentara Jepang yang sudah menjadi rahasia umum di masa itu. Malah sebaliknya penguasa Jepang bersikap respek kepada beliau. Pemerintah Dai Nippon belakangan mengerti bahwa Keirei berlawanan dengan kepercayaan Islam. Dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri umat Islam tidak diwajibkan lagi melakukan Keirei.

    Sampai Akhir Menutup Mata

    Sekitar awal tahun 1944 Hamka datang dari Medan ke Jakarta. Ia berencana menjemput ayahnya agar pulang ke Sumatera Barat sesuai pesan para ulama sahabatnya di ranah Minang, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Siddik. Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Candung), ulama yang sezaman namun berpisah karena perbedaan paham dan gerakan perjuangan, menuliskan notes dengan tulisan tangannya; “Abuya H. Abdul Karim. Segeralah pulang. Kami menunggumu dengan penuh pengharapan. Saudaramu Syekh Sulaiman Ar-Rasuli”.

    Hamka juga minta pertimbangan Bung Karno, Bung Hatta dan K.H. Mas Mansur (Ketua PB Muhammadiyah). Mereka sepakat menahan Syekh H.A. Karim Amrullah lebih baik tinggal di Jawa saja. Bung Karno mengatakan, “Ulama di Sumatera banyak, di Jawa kurang! Biarlah beliau tetap di sini!”

    Syekh H.A. Karim Amrullah dalam banyak pernyataannya menunjukkan watak keteguhannya dalam memegang prinsip akidah Islam dan sikap mencintai Tanah Air Indonesia di atas landasan Tauhid.

    Berikut dialog Hamka dengan ayahnya. Saat dibujuk Hamka agar pulang ke Sumatera Barat, Syekh H.A. Karim Amrullah berkata sebagaimana diabadikan dalam buku Ayahku:

    “Adapun perkara tempat tinggal, bagiku sama saja di antara tanah Jawa dan Minangkabau, atau dunia mana sekalipun. Tanah airku ialah setiap jengkal tanah yang dimana aku masih dapat mencecahkan keningku sujud kepada Tuhan.” 

    “Tetapi masih ada was-was keluarga, jika Buya menutup mata di tanah Jawa ini!”

    Jawab Syekh H.A. Karim Amrullah:

    “Itu hanyalah was-was yang tidak berdasar ilmu dan tidak bertali dengan kehendak Allah. Di mana saja manusia akan mati. Dan tidak ada kelebihannya dan keutamaannya mati di kampung atau mati di Jawa. Yang penting adalah suatu perkara, yaitu adakah tanah tempat kita akan dikuburkan itu, sudi menerima kita karena amalan kita yang shaleh?”

    Hamka mengenang perpisahan dengan ayahnya pada tanggal 4 April 1944 di Stasiun Tanah Abang. Pagi-pagi ia berangkat naik kereta api dari stasiun Tanah Abang menuju Pelabuhan Merak. Perjalanannya dilepas di stasiun kereta api oleh Syekh H.A. Karim Amrullah beserta istri dan beberapa muridnya. Bung Karno hadir mengantar di stasiun. “Saya katakan kepada Bung Karno: Ayah kita Bung!” Jangan khawatir Saudara. Kondektur melambaikan kipasnya, pluit berbunyi, dan saya pun berangkat…..Sejak itu saya tidak bertemu dengan beliau lagi.” tulis Hamka di bukunya.  

    Syekh H.A. Karim Amrullah, di samping memiliki keahlian berpidato, juga memiliki ketajaman mata pena yakni keahlian mengungkapkan pikiran dan ilmunya melalui tulisan. Buku karangannya sebagian diterbitkan dalam bahasa Arab atau menggunakan tulisan Arab gundul berbahasa Melayu. Hamka mendata buku-buku karangan ayahnya yang ditulis sebelum dan setelah pulang dari Mesir sebanyak 27 judul, dan 3 judul manuskrip belum diterbitkan. Buku-buku karya Syekh H.A. Karim Amrullah di antaranya: Sendi Aman Tiang Selamat, Al-Burhan (Tafsir Juz Amma), Cermin Terus, An-Nida, Pelita (2 jilid), Pedoman Guru, Al-Faraidh, Izharu Asathiril Mudhillin, Syamsul Hidayah, Dinullah, Pembuka Mata, dan Pertimbangan Adat Alam Minangkabau.

    Koleksi kitab-kitab dan warisan karya tulis Syekh H.A. Karim Amrullah sebagian tersimpan di perpustakaan pribadinya Kutub Chanah di Muara Pauh, Maninjau. Salah satu buku yang dicetak ulang oleh Penerbit Djajamurni dan Pustaka Panjimas berjudul Pengantar Usul Fiqh.

    Syekh H.A. Karim Amrullah selama hidupnya sampai akhir menutup mata telah berjuang untuk kemuliaan agama, bangsa dan tanah air. Sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasanya dan keteladanan bagi generasi muda, pemerintah pantas menganugerahkan tanda kehormatan bintang mahaputera kepada almarhum Dr. H. Abdul Karim Amrullah.

    Sumber asal: https://fuadnasar.wordpress.com/2023/03/25/dr-h-a-karim-amrullah-ulama-reformis-pendidik-dan-ayah-angkat-bung-karno/

  • Syekh Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah, Panas Dingin Politik

    Usut punya usut, Persatuan Muslim Indonesia (Permi) era 1930-an yang telah berhaluan politik tak hanya ingin menempatkan Sumatera Thawalib dalam payungnya, tetapi seluruh sekolah agama. Terkenanglah kita untaian kalimat Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969), “Biarlah perguruan ini tetap terasing selama-lamanya dari partai politik dan tinggalkan ia menjadi urusan dan tanggung jawab orang banyak, yang macam-macam aliran politiknya.”

    Kita telah paham jika Diniyyah School Puteri tak ada hubungan organisatoris dengan Sumatera Thawalib. Konon, Rahmah El-Yunusiyyah yang mengetahui gelagat rapat di Bukittinggi memilih keluar ruangan. Putri bungsu Rafi’ah (1872-1948) tak ambil pusing, apalagi perguruannya sedari awal telah dirintis dengan kekuatan sendiri.

    Lain soal jika ucapan itu dikeluarkan oleh seorang penyokong Sumatera Thawalib. Menarik mencermati uraian Tim Peneliti FIBA IAIN Padang (2009) terkait jejak Syekh Abbas Abdullah (1883-1957). Ucapan ulama asal Padang Japang ini senada dengan Rahmah El-Yunusiyyah. Beliau berucap, “Kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur. Boleh berpolitik tapi jangan di sekolah.” Abbas Abdullah serta-merta mengubah nama perguruannya menjadi Darul Funun.

    Dalam buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021) dituliskan, “Rahmah tak melarang murid-muridnya berpolitik, namun setelah mereka tamat. Dengan bekal keislaman dan kekuatan iman, politik yang dijalankan akan menghadirkan maslahat.”

    Abbas Abdullah memang belum sampai panas dingin seperti Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul (1879-1945). Pengaruh politik di Sumatera Thawalib Padang Panjang terjadi sedari lama. Bahkan, saking sukanya berpolitik, ada beberapa guru dan muridnya mengusung komunis. Dilibaslah mereka oleh Haji Rasul yang memang tipikal keras. Urusan murid berpolitik ini serba runyam. “Tentang ini beliau tidak hati-hati, sebagaimana hati-hatinya Zainuddin Labay El-Yunusy, yang seketika perasaan itu telah merata dalam kalangan murid-murid, dia hanya berdiam diri,” tutur Buya Hamka (1967: 132).

    Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah tentu merasakan sendiri gejolak komunis mencapai puncaknya sepeninggal Zainuddin Labay (1890-1924) pada 1926-1927. Seusai itu, gairah berpolitik tak sirna. Persatuan Sumatera Thawalib didirikan pada 1928 yang kemudian diubah nama menjadi Persatuan Muslim Indonesia dengan singkatan PMI sampai akhirnya disingkat Permi. Intinya tetaplah sebagai wahana menyalurkan hasrat politik.

    Diniyyah School Puteri terkena getah, apalagi Sumatera Thawalib Padang Japang. Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah mulailah demam. Kendati melarang murid-muridnya berpolitik, mereka tetap saja kecolongan. Ketika murid Diniyyah School Puteri berpolitik dan konon lalai salat berjamaah sebenarnya bukan melulu kesalahan Rasuna Said (1910-1965). Saat tindakan Belanda mulai keras, bukankah tiga guru dibekuk ketika Politieke Inlichtingen Dients (PID) menggeledah Diniyyah School Puteri?

    Nasib apes dialami Abbas Abdullah. Perguruan Darul Funun digeledah dan dibekukan sementara waktu. Burhanuddin Daya (1990: 133) menerangkan Perguruan Darul Funun berikhtiar bangkit kembali setelah 1936, namun murid-muridnya sangat kurang dan sewaktu zaman pendudukan Jepang terpaksa ditutup lagi.

    Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah dalam sejarahnya pernah panas dingin dengan politik. Namun, sejarah mencatat pula, mereka paling konsisten “berpolitik” menentang penjajahan dan teguh memegang prinsip dalam revolusi kemerdekaan.

    Tanpa menyebut sosok tokoh Permi, sejarah telah mencatat ada yang membelot ketika negeri ini berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan. Wallahu a’lam.(Hendra Sugiantoro, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, 2021).

    Diterbitkan di: Suhanews (31/08 2021)
    https://suhanews.co.id/syekh-abbas-abdullah-dan-rahmah-el-yunusiyyah-panas

  • Syekh Abbas Abdullah, Pejuang Kemerdekaan

    Akibat gempuran Jepang, Belanda ingin membawa Sukarno yang tengah diasingkan di Bengkulu menuju Australia. Jalan satu-satunya yang memungkinkan adalah menaiki kapal di Teluk Bayur. Namun, beruntunglah Sukarno, sebab Padang telah dikuasai Jepang. Sedetik saja Belanda berhasil meloloskan Sukarno, anak Sukemi Sosrodihardjo dan Idayu Nyoman Rai Sarimben itu boleh jadi raib dari peta sejarah Indonesia.

    Titik balik sejarah Sukarno bisa dikatakan bermula di Padang. Sejak diasingkan ke Ende dan Bengkulu selama hampir delapan tahun, pesonanya hanya dalam kesunyian. Beruntung pula bagi Sukarno ketika Jepang menukarkannya dengan Madjid Usman (1907-1955). Tokoh Minangkabau ini sedang diasingkan di Garut, Pulau Jawa. Bagi Jepang, pertukaran ini sangat penting, sebab Sukarno memiliki daya retorika yang akan dimanfaatkan sebagai propagandis kepentingan Jepang di Jawa (Salmyah Madjid&Hasril Chaniago, (Ed.)., 2017: 151-154).

    Dalam catatan Audrey Kahin (2005: 137-141), Sukarno selama di Padang sejak Maret sampai Mei 1942 memainkan banyak peran. Namun, sejarawan Asia Tenggara dari Cornell University itu tak mengabadikan “jalan-jalan” Sukarno di tanah Minangkabau. Sukarno melakukan silaturahmi di Perguruan Darul Funun di Padang Japang.

    Hasril Chaniago dalam Indonesian Lawyer Club (ILC) TV One (8/9/2020) menyebutkan bahwa Sukarno datang terlambat dua jam dari waktu yang disepakati. Syekh Abbas Abdullah (1883-1957) menghubungkan soal waktu dengan janji. Sukarno dinasihati kalau ingin menjadi pemimpin harus menepati janji. Abbas Abdullah seolah-olah juga mengetahui kalau Sukarno “rambang mato” setelah melihat gigi suami Inggit Ganarsih itu. Selain itu, ulama besar dan pimpinan Darul Funun itu memberikan “peci tinggi” kepada Sukarno agar terlihat gagah.

    Muslim Syam dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981: 172) mengetengahkan riwayat Abbas Abdullah. Diterangkan bahwa Sukarno dalam perbincangan itu juga menyinggung soal landasan jika Indonesia merdeka dan menjadi sebuah negara. Abbas Abdullah menekankan dasar negara harus berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Dalam pidatonya di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, Sukarno menyebut ketuhanan pada poin terakhir atau dasar yang kelima. Menurut penulis, Abbas Abdullah kemungkinan marah besar terhadap Sukarno ketika komunis merasuki pemerintahan. Ternyata Sukarno tak menepati janji memegang teguh dasar ketuhanan.

    Lahir pada 1883, Abbas Abdullah termasuk ulama disegani di Minangkabau yang menghembuskan udara pembaruan bersama Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945), Muhammad Djamil Djambek (1860-1947), Ibrahim Musa (1882-1963), dan ulama lainnya.

    Dalam riwayatnya, ketika usia 13 tahun, ia pergi ke Mekah bersama pamannya dan tak mau pulang. Betah di Mekah selama tujuh tahun, ia mempelajari banyak hal termasuk berguru ke Syekh Ahmad Khatib (1860-1916).

    Setahun sebelum pulang, Syekh Abdullah (1830-1903) yang mendirikan Surau Gadang pada 1854 meninggal dunia. Abbas Abdullah pun turut membantu mengajar di surau yang didirikan ayahnya itu. Perlahan tapi pasti, ia melakukan modernisasi terhadap sistem pendidikan.

    Abbas Abdullah termasuk pimpinan dalam surat kabar al-Munir yang mulai terbit pada 1911. Ia pun bersatu padu mengibarkan bendera Sumatera Thawalib. Bahkan, pada 1920, Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan surat kabar al-Imam. Setahun kemudian, Abbas Abdullah menuju lagi ke Mekah. Seusai haji, ia memperdalam ilmu ke Mesir dan ikut mendirikan Jam’iyyah Jawiyyah bersama Fathurrahman Kafrawi (Muslim Syam, 1981: 169; Burhanuddin Daya, 1990: 132). Fathurrahman Kafrawi (1901-1969) pernah menjabat Menteri Agama pada 1946 sampai 1947.

    Buya Hamka (1967: 242) menceritakan, “Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekah, terus ke Mesir dan menambah pengalamannya belajar di al-Azhar sampai tahun 1924. Pada tahun itu dengan melalui Palestina, Libanon, dan Syria beliau pulang ke tanah air dan meneruskan usahanya mengajar.”

    Diketahui pula bahwa Abbas Abdullah sempat ke Swiss dan bertemu Mahmud Yunus (1899-1982). Dalam catatan Muslim Syam (1981: 170), sebelum kembali ke Minangkabau, Abbas Abdullah singgah terlebih dahulu di Pulau Jawa untuk mengunjungi ulama-ulama dan pesantrennya. Ia berjumpa pula dengan Haji Agus Salim (1884-1954) dan beberapa pemimpin terkemuka.

    Ringkas cerita, dalam perkembangannnya, Sumatera Thawalib terinfiltrasi politik praktis dan aliran. Sekitar 1930-an, sebagaimana Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969) yang menolak usulan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) agar lembaga pendidikannya bernaung di bawahnya, Abbas Abdullah melakukan sikap serupa. Saat itulah Abbas Abdullah mengubah perguruannya dengan nama Darul Funun. Penamaan ini menarik, sebab cenderung beraroma Turki.

    Menurut penulis, Abbas Abdullah termasuk tokoh yang dikuntit Belanda. Ketika Darul Funun digeledah Belanda sekitar 1934, bukan sekadar soal adanya “buku-buku radikal” dan prasangka politik praktis, tetapi juga menghentikan gerak Abbas Abdullah. Kita ingat aksi penolakan Ordonansi Guru (1928) dan Ordonansi Sekolah Liar (1932) di Minangkabau yang membuat Belanda mati kutu. Dalam berbagai keterangan, seusai penggeledahan, Darul Funun diblokir Belanda alias dilarang beroperasi.

    Nasib Abbas Abdullah tak seperti Haji Rasul yang ditangkap dan diasingkan Belanda. Semasa pendudukan Jepang, Abbas Abdullah adalah salah satu ulama yang terpaksa berfatwa Perang Asia Timur Raya adalah perang sabil. Tentu, fatwa ini dengan niat menghancurkan Jepang di Minangkabau.

    Ketika pembentukan Giyugun, Abbas Abdullah menyuruh murid-muridnya turut berlatih dalam badan pertahanan bentukan Jepang itu. Bahkan, anaknya Azhari Abbas termasuk angkatan pertama. Kelak, barisan Giyugun ini berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

    Bukan main jika sejarah menarasikan peristiwa ini. Sebagaimana kita ketahui, Abbas Abdullah terlibat dalam Majelis Islam Tinggi (MIT) yang berpusat di Bukittinggi. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, MIT membentuk barisan Sabilillah. Ada empat resimen Sabilillah berkedudukan di Padang Panjang, Solok, Pesisir Selatan, dan Payakumbuh. Abbas Abdullah ditunjuk sebagai imam jihad. Fatwa yang dikeluarkan, berjuang mengusir musuh adalah fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah. Siapa yang mati, syahid dunia akhirat (Hendra Sugiantoro, 2021: 131-132).

    Resimen adalah pasukan yang terdiri dari beberapa batalion, sedangkan batalion bisa terdiri dari 300 sampai 1.000 pasukan. Itu di bawah komando Abbas Abdullah yang saat itu sudah berusia 62 tahun!

    Kiprah Abbas Abdullah dalam perjuangan kemerdekaan tak dimungkiri. Bahkan, ketika masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), perguruannya sempat sebagai markas Mr. Teuku Mohammad Hasan. Dalam struktur kabinet PDRI yang diumumkan Mr. Syafruddin Prawiranegara (1911-1989) per 22 Desember 1948, posisi Teuku Mohammad Hasan selaku Wakil Ketua merangkap Menteri Dalam Negeri, Pendidikan&Kebudayaan, dan Agama.

    Seusai kesepakatan Roem-Royen 1949, Syafruddin Prawiranegara yang beretika kekuasaan mengembalikan mandat kepada Sukarno. Di Perguruan Darul Funun, Mohammad Natsir dan Johannes Leimena menjemput pimpinan PDRI untuk pulang ke Yogyakarta.

    Abbas Abdullah meninggal dunia pada 17 Juni 1957. Sekitar delapan tahun kemudian, kekuasaan Sukarno runtuh, salah satunya akibat tak menepati janji mendasari negara dengan ketuhanan sebagaimana diamanatkan Abbas Abdullah. Wallahu a’lam. (Hendra Sugiantoro, 23-24 Agustus 2021).

    Sumber Acuan:

    • Ahmad Husein dkk. dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I di Minangkabau/Riau 1945-1950 (1978, 1992).
    • Andre Fernando dan Etmi Hardi dalam “Syekh Abbas Abdullah Padang Japang: Tokoh Pejuang Pada Masa PDRI 1948-1949”, Gelanggang Sejarah, 2019, Vol. 1(1), hlm. 74-89.
    • Audrey Kahin dalam buku Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (2005, 2008).
    • Burhanuddin Daya dalam buku Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib (1990).
    • Departemen Penerangan dalam buku Republik Indonesia Provinsi Sumatera Tengah (1954).
    • Hamka dalam buku Ajahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera (1967).
    • Hendra Sugiantoro dalam buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021).
    • M.D. Mansoer dkk dalam buku Sejarah Minangkabau (1970).
    • Mestika Zed dalam buku Somewhere in the Jungle Pemerintahan Darurat Republik Indonesia: Sebuah Mata Rantai Sejarah yang Terlupakan (1997).
    • Edward (Ed.) dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981).
    • Salmyah Madjid dan Hasril Chaniago (Ed.) dalam buku Memoar Siti Aminah Madjid Usman-Hiroko Osada: Kisah Hidup dan Perjuangan Seorang Putri Bangsawan Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia (2017).

    Diterbitkan pertama kali di: https://matapadi.co/syekh-abbas-abdullah-pejuang-kemerdekaan (25 Agustus 2021)

  • Oman Al-Makmur Lamprit

    Masa kecil saya di Banda Aceh penuh kenangan. Ketika keluarga pindah, dari Montasik ke kota itu, saya baru berumur dua tahun. Entah darimana datangnya ingatan itu; mobil yang mengangkut berbagai barang berjalan beriringinan. Saya teringat mobil pick up besar, berwarna kuning, berjalan paling di depan. Diikuti mobil lain.

    Di Banda Aceh, rumah kami, yang secara admistrasi, termasuk bagian dari gampong Lamprit – belakangan jadi bagian dari Beurawe, seperti berada di tengah sawah. Bahkan dapat terlihat dari jalan protokol, bila saya pergi ke kota bersama almarhum Bapak. Tentu pemandangan itu sekarang tidak lagi dijumpai. Kini wilayah pemukiman menjadi sangat padat. Rumah kami, dan beberapa rumah tetangga di masa awal, seperti terjepit di antara bangunan rumah megah lainnya.

    Awal mula, daerah yang kami bermukim belumlah ramai, sehingga aktivitas ibadah, seperti sembahyang Jumat atau taraweh, harus ke masjid Ibnu Sina RSUDZA. Mesjidnya kecil. Berada di ujung rumah sakit itu, dekat kamar mayat. Saya dan teman-tema, kala itu, menjadikan mesjid itu sebagai salah satu area permainan. Kadang-kadang, sambil menunggu shalat, entah itu zuhur atau menjelang magrib, kami mengekspolarasi bagian-bagian dari rumah sakit tersebut. Termasuk kamar mayat. Tentu tidak lupa, selalu saja ada sisipan cerita horror, yang bersumber dari kamar mayat itu.

    Yang paling khas dari masjid Ibnu Sina itu adalah imamnya. Kami memanggil beliau pak Haji, karena hampir sepanjang waktu dia memakai pakaian Arab. Rumahnya di Kuta Alam. Kompleks tentara. Dia pensiunan Angkatan Darat. Setiap pagi menjelang Subuh, dari rumahnya, dia ke mesjid Ibnu Sina dengan mengendarai sepeda ontel. Dan hanya dia, bukan yang lain – termasuk kepala RSUDZA, yang boleh melewati lorong utama dalam bangunan rumah sakit dengan sepedanya itu. Tidak ada yang melarang. Mungkin tidak ada yang berani

    Di masjid Ibnu Sina, dia bertugas memastikan pelaksanaan shalat jamaah berjalan dengan lancar. Saya tidak tahu, kapan awal mula, pak Haji menjadi pengelola masjid itu. Sejak pertama kali saya ke masjid Ibnu Sina, suaranya sudah menjadi khas di masjid itu.

    Pak Haji tidak hanya menjadi imam, tapi juga muazzin. Dia punya shalawat yang khas. Biasanya dibaca sebelum azan Zuhur dan Ashar. Bukan shalawat tarhim yang pernah populer di Banda Aceh tempo itu. Setiap selesai shalawat, dia mengumumkan, bahwa waktu shalat akan masuk beberapa saat lagi. Terkadang pengumuman disisipkan dengan informasi, kalau keran air tidak hidup, jadi para jamaah diminta untuk berwudhu di rumah. Bila dia menjadi imam, sebelum sembahyang dia mengingatkan agar jamaah merapatkan shaf. Karena masjid itu punya karpet hijau dengan garis shaf coklat, pengumumannya-pun khas sekali, “harap rapatkan shaf, luruskan tumit dengan garis coklat.” Belakangan, lantai masjid Ibnu Sina diperbaharui. Lantainya dipasang keramik, namun garis shafnya bukan lagi coklat, melainkan merah. Sehingga, pengumumannya-pun berubah, “harap rapatkan shaf, luruskan tumit dengan garis merah.” Saya teringat, apabila dia menjadi imam, irama yang dibawanya tidak berubah. Tidak ada variasi. Terutama ketika membawakan dua surah, Ad-Dhuha dan At Tiin. Ketika terjadi pembangunan RUDZA yang baru, masjid Ibnu Sina tidak lagi digunakan. Ada masjid baru, yang lebih dekat dengan jalan protokol. Nama masjidnya-pun kini sudah berganti, bukan lagi Ibnu Sina, melainkan Raudhatul Jannah.

    Tidak jauh dari masjid Ibnu Sina, di samping jalan T. Nyak Arief – yang kini berganti nama menjadi jalan Tgk. Daud Beureuh – berdiri sebuah masjid megah. Namanya mesjid Al Makmur, Lamprit. saya dan teman-teman lain, pindah ke masjid itu, untuk sembahyang Jumat dan taraweh di bulan puasa.

    Masjid itu besar. Ukurannya hanya kalah dari masjid Raya Baiturrahman. Lantainya keramik. Sangat mewah. Kubahnya tidak seperti masjid kebanyakan. Melainkan seperti payung yang jelang kembang.

    Ketika saya mulai aktif sebagai remaja masjid di masjid Al Makmur, ada satu cerita – yang menjadi kebanggaan warga gampong Lamprit, tentang bagaimana masjid yang mereka bangun, diputuskan sebagai mesjid Kota Banda Aceh, sehingga menjad masjid Agung Al-Makmur, kota Banda Aceh.

    Ceritanya, Kota Banda Aceh belum memiliki mesjid resmi. Lalu muncul dua nominasi. Masjid Al Makmur di Lamprit dan Baitul Musyahadah di Geuceu. Mesjid yang disebut kedua juga unik. Kubahnya juga bukan seperti lazimnya masjid-masjid khas timur tengah, tetapi seperti Kupiah Meukutob. Lalu letaknya juga di pusat keramaian, Jalan. Teuku Umar, Setui.

    Selain itu, wilayah di dua masjid itu juga menjadi tempat bermukim kelas menengah dan elit politik Aceh kala itu. Daerah Geuceu misalnya, petinggi politik dan pemerintahan Aceh kala itu banyak mendiami daerah tersebut. Lamprit tidak kalah. Kompleks perumahan yang didirikan oleh Gubernur Hasjmy, bersamaan dengan pendirian Darussalam, juga didiami oleh para kelas menengah baru Aceh, yang tumbuh pasca DI/TII. Bahkan di beberapa ruas jalan di Lamprit, ada rumah yang dimiliki oleh para veteran Darul Islam, baik dari faksi ulama maupun zuama – meminjam frasa dari Nazaruddin Sjamsuddin.

    Di Lamprit itu pula, sekolah dari TK sampai SMA didirikan. Saya bersekolah di sana ini sampai tingkat menengah pertama. Dapat dikatakan, Lamprit wilayah sangat modern, begitu juga masyarakatnya, sehingga masjidnya-pun dikelola dengan modern pula. Mulai dari keuangannya, kegiatan mesjidnya, arah pembangunannya, dan tentu saja pola keberagamaannya.

    Sejak awal keberadaannya, masjid Agung al Makmur menjalankan keberagamaan khas masyarakat perkotaan. Para ilmuwan sosial sering menyebutnya, aliran modernis – sebagai pembeda dengan kelompok tradisi. Tokoh utama yang menyangga hal tersebut adalah Ust. Ahmad Abdullah. Para pemuda lamprit lebih akbrab memanggilnya pak Imam.

    Ust. Ahmad Abdullah merupakan alumnus Sumatera Thawalib. Dia termasuk generasi Aceh di awal abad ke-20 yang menempuh pendidikan Islam modern. Sebagai alumnus Thawalib, Ust. Ahmad Abdullah membawa spirit pembaharuan Islam. Baginya, Islam yang lurus itu haruslah optimis dengan ilmu pengetahuan, kebudayaaan dan keberagamaan yang murni; bersih dari unsur-unsur khurafat, tahayul dan bid’ah. Dan spirit itu yang mewarnai sekali kreatifitas masyarakat gampong Lamprit. Ketika saya masih kecil, di masjid Agung Al Makmur, sering sekali mengadakan perlombaan untuk memperingati hari besar agama Islam. Gampong menjadi ramai. Masjid bergairah. Lampu warna-warni di mana-mana.

    Ust. Ahmad Abdullah selalu menekankan betapa pentingnya pengetahuan. Satu waktu dari atas mimbar, ketika memberi kuliah tujuh menit (kultum), dia berpesan, agar kultum yang selama ini menjadi tradisi mesjid Agung Al makmur tidak boleh hilang. Harus terus dilanjutkan. Kultum memang menjadi wadah untuk menyampaikan pesan agama secara ringkas dan efektif. Belakangan saya baru mafhum, bahwa kultum adalah tradisi dari kaum modernis.

    Satu waktu saya ke mesjid Al Azhar Jakarta, tempat dimana kaum modernis Masyumi di Indonesia berkumpul dan bergerak, untuk shalat Magrib. Selesai shalat, kultum disampaikan oleh penceramah. Ketika melihat itu, saya teringat apa yang dipraktikan selama bertahun-tahun di masjid Agung Al Makmur, dibawah arahan Ust. Ahmad Abdullah.

    Ketika gempa dan tsunami, mesjid Agung Al Makmur itu rusak berat. Saat itu, ust. Ahmad sudah berpulang, dua tahun sebelumnya. Saya jadi teringat cerita dari pak Rahman Kaoy, dosen di IAIN Ar Raniry, mubalig kondang serta pengurus masjid itu sejak awal mula dididirikan. Dia mendapat kabar dari salah satu warga, kalau masjid Agung Al Makmur roboh. Dengan bergegas, pak Rahman datang, melihat masjid yang bersama-sama dibangunnya dengan waga Lamprit luluh lantak oleh gempa. Dengan hati yang masygul, dia berdoa. Doa yang penuh harap, agar Tuhan mengganti kembali masjid itu. Bahkan dengan yang lebih baik lagi.

    Doanya didengar dan dikabulkan.

    Datanglah Sultan Oman Qubus, membuat ulang masjid itu, dengan bentuk yang berbeda sama sekali dengan mesjid lama. Akan tetapi pembangunan dilakukan menggantikan masjid warga Lamprit yang rusak karena gempa dan tsunami itu.

    Doa pak Rahman tidak saja didengar dengan berdirinya masjid dengan megah. Bahkan lebih dari itu. Masjid Al Makmur kini lebih makmur. Penataan lebih rapi. Dan ada satu yang tidak berubah dari masjid itu, spirit modernisme Islam, yang ada sejak zaman Ust, Ahmad Abdullah tidak hilang. Bahkan lebih artikulatif dengan hadirnya ahli Islam baik dari Darussalam atau para lulusan Timur Tengah.

    Namun belakangan, sikap konsistensi dari masjid Agung Al Makmur mulai mendapat sorotan. Bermula dari keributan di Aceh mengenai ketegangan “Aswaja” dengan Wahabi,” lalu merembet kemana-mana. Masjid Agung Al Makmur – sejak mula berdiri adalah masjid gampong Lamprit yang diberi status sebagai masjid Kota Banda aceh – tidak luput dari sorotan. Penekanan semakin kuat setelah peta politik berubah setelah Pilkada 2017 di Banda Aceh. Dalil yang digunakan, “semestinya, sebagai masjid Kota Banda Aceh, tidak memberi tempat kepada pengajian, yang bukan merupakan arus besar dari pemahaman Islam masyarakat Aceh.”

    Suasana menjadi tegang. Kasak kusuk pun terjadi. Sampai satu waktu, atas kesadaran bersama, warga Lamprit seluruhnya mengadakan rapat. Lalu lahir satu kesimpulan penting, yaitu mengembalikan status masjid Agung kepada pemerintah Kota, dan menjadikan masjid Al Makmur, kembali seperti sedia kala, sebagai masjid gampong Lamprit. Kini namanya masjid Oman Al Makmur Bandar baru. Bukan lagi masjid Agung al Makmur Kota Banda Aceh.

    Masjid Oman atau Al Makmur tetap seperti semula. Jamaah berbondong-bondong. Pengajian tetap semarak. Masjid bersih.Pendidikan dan ekonomi umat tetap berjalan.

    Dalam diam, saya membayangkan wajah ust. Ahmad Abdullah dan orang-orang tua gampong Lamprit yang telah berpulang, bahwa apa yang diperjuangkan sejak dahulu, tetap hidup dengan khidmat.

    Publikasi pertama kali di: https://www.popularitas.com/berita/oman/?fbclid=IwAR1cDZpB15dCU9p3XmeU2cM4AkwB4d29goiPjFYpF2AqMX_6zYLPnAZsweQ

  • Membaca visi Syekh Abbas Abdullah dalam nama Darulfunun

    Membaca visi Syekh Abbas Abdullah dalam nama Darulfunun

    15-10 tahun yang lalu, disaat keterbatasan media informasi, nama ini menjadi misteri, disaat banyak perguruan lainnya menggunakan nama Darul Ullum, hanya satu dan pertama kali pada tahun 1930 di Indonesia, satu perguruan bersejarah revolusioner menggunakan nama Darul Funun, apakah sebatas pemilihan nama ataukah satu visi besar yang sedang dilekatkan oleh Syekh Abbas Abdullah pada institusi wakaf pendidikan yang besar dimasa nya yang juga dikenal sebelumnya dengan nama Sumatera Thawalib Padang Japang?

    Dari namanya Darul Funun berarti tidak jauh dari Darul Ulum, rumah ilmu pengetahuan, dalam praktiknya istilah Darul Ulum dipergunakan untuk Madrasah Agama dan Darul Funun dipergunakan untuk mengambarkan banyaknya macam ilmu, seperti Politeknik.

    Istilah Darul Funun dipergunakan Turki Usmani dan Shah Iran untuk merintis yang sekarang disebut Universitas. Darul Funun adalah satu pondasi penting bagi dunia pendidikan Islam di Turki dan Iran untuk menyambut era kegemilangan ilmu pengetahuan di dunia Islam dan menjadi pondasi penting perkembangan Institusi Modern Pendidikan Islam di penghujung abad 20.

    Terdapat dua buah Darul Funun pada masanya yang dirasa menjadi inspirasi dalam perjalanan menuntut ilmu yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah sebelum tahun 1920, dan kedua institusi ini menjadi pondasi pengembangan ilmu pengetahuan sains dan teknologi Islam di dua buah negara yang dewasa ini memegang peranan kemajuan penting dalam pengetahuan di dunia Islam, karena risetnya, karena kemandirian pendidikannya dan karena tokoh-tokoh yang dihasilkan yang membawa kemajuan dalam Negara tersebut, yakni Turki dan Iran.

    Di Turki Darul Funun berkembang menjadi Universitas of Istanbul, dan di Iran Darul Funun berkembang menjadi University of Taheran. Jika mengacu statistik, kita akan dibuat tercengang bagaimana dalam 150 tahun lebih perkembangan keilmuan di dua institusi ini berkembang, University of Taheran saat ini membuka 111 jalur program sarjana, 177 program master dan 156 program doktor.

    Dalam pemilihan nama Darul Funun, Syekh Abbas Abdullah terlihat menanamkan visi yang jauh kedepan, bagaimana Institusi yang dikembangkannya bersama saudara dan sahabat-sahabatnya diharapkan dapat berkembang jauh dalam dunia pendidikan islam.

    Adalah Qadarullah, bagaimana tahun 1945 Indonesia merdeka dan bagaimana Darul Funun El-Abbasiyah dan jaringan sekolah-sekolah Sumatera Thawalib menopang perjuangan PDRI 1948 bukan hanya dengan tempat persinggahannya, tetapi yang paling mendasar adalah suntikan SDM-SDM yang menjadi amunisi-amunisi perjuangan Indonesia di awal kemerdekaannya, khususnya di Sumatera Barat dan sekitarnya.  Kemudian terjadi periode bergolakan sampai tahun 1960. Dimulai masa tersebut, terjadi masa resesi yang berkepanjangan dalam perkembangan institusi pendidikan, yang terjadi hampir di seluruh daerah, begitu juga yang terjadi di Darul Funun.

    Kini, 140 tahun setelah tahun 1854 pengajaran Surau Gadang Padang Japang dimulai oleh Syekh Abdullah Dt Jabok, dan 84 tahun setelah 1931 dikukuhkannya nama Darul Funun oleh Syekh Abbas Abdullah.

    Mari kita bangun kembali dan segarkan kembali visi Syekh Abbas Abdullah, meyakini kembali pendidikan akan mampu membawa kemajuan kepada individu, dan terlebih sistem pendidikan akan membawa kemajuan yang massif dalam masyarakat.

    “Jika seseorang meninggal dunia putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

    tambahan bacaan:

    https://en.wikipedia.org/wiki/Istanbul_University

    https://en.wikipedia.org/wiki/University_of_Tehran