Tag: Tarawih

  • 13 Tips Meraih Ramadhan Terindah

    13 Tips Meraih Ramadhan Terindah

    Kita, kembali berada dipelukan Bulan Ramadhan. Sekarang saatnya, kita menyusun langkah untuk lebih baik beramal di bulan Ramadhan. Menatapnya dengan mata berbinar, menyambutnya dengan penuh suka cita. Mempersiapakan segala perbekalan untuk amal yang lebih berkualitas di dalamnya.

    Ada 13 langkah pahala yang harus kita peroleh secara maksimal di bulan ini. keseluruhannya adalah harapan akan keselamatan kita dunia dan di akhirat. Semoga kita dikuatkan Allah SWT untuk meraih Rmadhan terindah di tahun ini.

    1. Perbanyak Shalat

    Shalat di bulan Ramadhan menyimpan pahala sangat besar. Di bulan ini, sholat sunnah bernilai shalat wajib, dan sholat wajib bernilai sama dengan minimal 70 kali sholat wajib bulan yang lain.

    Shalat Sunah Muakkadah adalah shalat yang selalu dijaga pelaksanannya oleh Rasulullah berjumlah 12 rakaat yaitu: 2 rakaat sebelum shubuh, 4 rakaat sebelum Zuhur, 2 rakaat ba’da Zhuhur, 2 rakaat sebelum magrib, 2 rakaat setelah isya.

    Pahala Shalat sunnah:

    “Rasulallah saw bersabda: ” barangsiapa yang sabar melakukan shalat 12 rakaat dalam satu hari satu malam, maka ia akan masuk surga.” (HR An.Nasai). “Rasulallah bersabda; ” Barangsiapa yang shalat dalam satu hari satu malam dua belas rakaat, selain shalat wajib, dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Muslim)

    Memotivasi amal shaleh dengan menghitung pahala shalat wajib:

    Shalat wajib di masjid 27 kali lebih baik daripada shalat sendiri di rumah,kalikan 5 jika kita melakukan lima kali shilat wajib berjamaah di masjid. ini sama dengan 5 kali shalat x 70 pahala minimal shalat di bulan ramadhan x 27 lipatan pahala shalat di masjid x 30 hari dalam satu bulan = 283.500 kebaikan yang kita dapat dari shalat di masjid. Ini masih jumlah minimalnya, karena belum termasuk shalat sunnah muakkadah yang pahalanya senilai pahala shalat wajib. Selain itu, karena Allah akan melipatgandakan pahala hingga lipatan yang tidak terbatas bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.

    2. Tingkatkan Kualitas Puasa

    Imam Ghazali dalam Ihya membagi bobot puasa menjadi 3. pertama, puasa awam, yakni menahan makan, minum, syahwat kepada lawan jenis di siang hari di bulan puasa. Kedua puasa Khawash, yaitu puasa anggota badan dari yang haram, menahan mata, dari yang haram, menahan tangan dari yang haram, menahan tangan dari yang tidak hak, menahan langkah kaki dari jalan menuju yang haram, manahan telinga dari mendengarkan yang haram termasuk ghibah,dan yang ketiga adalah puasa Khawashul Khawash yaitu mengikat hati dengan kecintaan pada Allah SWT, tidak memperhitungkan selain Allah, membenci prilaku maksiat kepada-Nya. Dan hanya menyibukan hati dengan ketaatan dan zikir pada-Nya. Shaum yang mana yang akan kita jalankan ????

    keuntungan:
    – puasa satu hari menjauhkan antara diri kita dan neraka selama 70 tahun. Allah akan melipatgandakan pahala puasa bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Sebagaimana disabdakan Rasulallah saw “Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya selama 70 tahun.” (HR Ibnu Majah)

    – “Bau mulut orang-orang puasa bagi Allah lebih baik dari pada wangi kesturi” (HR Ahmad)

    -Orang yang puasa mempunyai pintu di surga yang khusus, bernama Ar Rayyan (HR Bukhari)

    -Shaum dari Al Quran adalah dua hal yang bisa memberi syafaat di hari kiamat. kedua-duanya tidak akan meninggalkan orang yang melakukan shaum dan membaca Alqur’an, sampai orang itu masuk ke dalam surga. (HR Ahmad)

    3. Jangan Sia-siakan malam, lakukan Qiyamul Lail (Tarawih).

    Sebaik-baik nikmat setelah islam adalah nikmat menyendiri bersama Allah SWT. Berdiri dan berzikir di hadapan Allah jelas lebih baik dari tidur terlentang diatas kasur. Qiyamul lail adalah madrasah yang agung dari madrasah pembinaan diri. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali orang-orang yang ikhlas. Maka paksalah diri kita untuk melakukannya. “Wahai orang-orang malam, bangunlah, ada banyak suara yang tidak ditolak di malam ini. Tidak ada yang bangun malam kecuali yang memiliki tekad dan kesungguhan.” Para salafushalih berkata tentang qiyamullail. Malikbin Dinar rahimullah mengatakan, “tidak ada yang tersisa dari kelezatan dunia kecuali tida hal yaitu: Dzikirullah, qiyamullail dan bertemu ikhwan”. Sementara Umar bin Abdul Aziz sangat menikmati manfaat qiyamullail ini. Ia mengatakan, “Aku melakukan terus-menerus qiyamullail dalam satu tahun, lalu kurasakan kenikmatannya selama 20 tahun.”

    Keuntungan:
    – Memperoleh kemuliaan. Rasulallah saw  bersabda: “Qiyamullail adalah indikasi kemuliaan bagi orang mukmin.”(HR.Ibnu Rajab, jami’Ulul wal Hikam,300)

    – Paling tidak menurut Umar bin Khattab, qiyamul lail mengandung 5 keuntungan, menjadi bagian orang yang shalih, dekat dengan Allah.
    menjauhkan dari dosa, menghapuskan dosa, menolak penyakit dari jasad.”

    – Do’a yang pasti dikabulkan oleh Allah. Taubat yang pasti diterima khususnya jika dilakukan sepertiga malam terakhir.  Seperti disebutkan dalam hadits” Sesungguhnya Allah turun setiap malam kelangit dunia saat tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berkata,”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku akan Aku penuhi permintaannya. Barangsiapa yang memohon ampunan kepada Ku, maka Aku akan mengampuninya. Dan itu terjadi setiap malam.” (HR Bukhan)

    4. Basahi lidahmu dengan Dzikrullah.

    Dzikrullah adalah indikator hidupnya mati. Dzikrullah adalah peristirahatan bagi jiwa. Seorang Tabi’in mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Orang yang belum memasuki surga dunia, tidak masuk ke dalam  surga akhirat. Surga dunia itu adalah dzikrullah.”

    Pelihara tiga kesempatan dalam berzikir:

    1.  Dzikir pagi dan sore. Paling tidak dzikir yang tersusun dalam kumpulan doa al Matsu’rat (oa-doa yang berasal dari Rasullah) yang tidak lebih memakan waktu dari 15 menit. Imam Nawawi mempunyai pandangan, “Tidak ada orang yang ritun memelihara dzikir pagi dan sore kecuali ia orang yang bertakwa.” Salah seorang salafushalih yang lain mengatakan, ” Dzikir bagi seorang mukmin ibarat air bagi ikan.”

    2.  Dzikir pada hal-hal tertentu. ketika masuk dan keluar rumah, ketika menaiki kendaran, ketika makan, ketika tidur dan sebagainya.

    3.  Dzikir hati. Dengan kata lain adalah tafukkur, memikirkan kejadian langit, bintang, matahari, bulan, gunung, laut, bulan, dan berbagai fenomena  alam lainnya. Sikap ini akan semakin memantapkan keimanan didalam hati. Lalu menumbuhkan kepasrahan kepada Allah SWT.

    Keuntungan:
    – Ampunan dan memperberat timbangan amal shaleh yang hanya diperoleh dalam hitungan menit bahkan detik. Rasulallah SAW bersabda, “Bersuci itu separuh dari keimanan. Mengucapkan “alhamdullilah” itu memenuhi timbangan, mengucapkan “Subhanallah” dan “Alhamdullilah” memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi.” (HR Bukhari)

    – Dinaungi oleh malaikat, berarti mendapat perlindungan dan rahmat dari Allah SWT.(HR Bukhari)

    -Ketenangan hati dan kesenangan jiwa. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, bahwa dengan dzikirullah itu akan menenangkan hari.” (QS.Ar Ra’d:28)

    5. Jangan ragu keluarkan Shadaqah.

    Apakah kita ingin mendekati Allah? Apakah kita ingin memperoleh derajat yang tinggi dan menemani Rasulallah saw di surga? Apakah engkau ingin disukai oleh banyak orang? Apakah ingin anak-anak kita aman dan terjamin kesejahteraannya sepeninggal kita? Apakah kita ingin ingin memiliki investasi sepanjang zaman? berinfaqlah. Dan jangan pernah takut miskin karena infaq, karena Allah pemilik Arsy tidak pernah kehabisan memberi kepada orang yang berinfaq. Diantara cahaya Shadqah:

    Allah SWT berfirman:”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (Menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS.Albaqarah:245)

    Rasulullah saw bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim di surga seperti ini.”Rasul menunjukan dua jari, jari tengah dan telunjuk.(HR Ahmad)

    Dalam sebuat atsar disebutkan perkataan: Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan bersedekah”

    Malaikat berdoa setiap hari kepada Allah: “Ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfaq. Ya Allah sempitkan (rizki) orang yang kikir.”

    Keuntungan:
    – Simpanan yang dipenuhi dengan kebaikan disis Allah SWT.

    -Bertambahnya rizki di dunia. Dalam sebuah hadist Qudtsi, Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, akan Aku tulis untuknya 700 kali lipatan pahala.”(HR Turmudzi)

    -Dalam sebuah atsar disebutkan: “Berinfaqlah, maka Allah akan memberi infaq kepadamu.”

    6. Jangan sia-siakan waktu, Bacalah Al Qur’an

    Membaca Al Qur’an adalah ibadah paling utama di bulan Ramadhan.Bersungguh-sungguhlah mengkhatamkan AlQur’an lebih dari satu kali di bulan Ramadhan. Rasulallah bersabda: “Kalian tidak akan sampai pada puncak keimanan sampai tidak ada sesuatu yang lebih kamu cintai daripada Allah SWT. Dan barangsiapa yang mencintai Alqur’an maka Allah akan mencintainya.”

    7. Taubat, sekarang juga

    Taubat adalah penyesalan atas perilaku kemaksiatan, dan jauh dari mengulangi dosa serta tekad untuk tidak mengulangi dosa serta tekad untuk tidak mengulanginya lagi. Semua kita memerlukan taubat setiap hari dari banyaknya dosa-dosa yang kita lakukan. Dalam Haditsnya Rasul SAW juga mengatakan, “Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu jengkal maka aku akan mendekatinya Satu Hasta. dan barangsiapa yang mendekatiKu satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Dan barangsiapa yang mendekatiKu dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.”(HR Muslim)

    8. Bertahanlah untuk i’tikaf di dalam Masjid

    I’tikaf adalah sunnah yang selalu dilakukan Rasulallah SAW pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan pada tahun terakhir ketika beliau wafat, Rasulallah melakukan i’tikaf selama 20 hari. I’tikaf adalah tinggal di masjid untuk beribadah, meninggalkan urusan dunia dan kesibukannya. Seorang yang i’tikaf tidak keluar dari masjid kecuali karena dharurat.

    9. Ridhalah atas segala Ketetapan-Nya

    Orang yang yang paling gembira di dunia adalah orang yang paling ridha dengan ketetapan Allah SWT. Keridhaan adalah tingkatan paling tinggi dari sifat sabar. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Barangsiapa yang ridha dengan ketetapan Allah atas dirinya, maka ia akan mendapat pahala. dan barangsiapa yang tidak ridha terhadap ketetapan Allah atasnya, ketetapan itu akan tetap terjadi dan ia tidak mendapat pahala amal-amalnya.

    10. Lapang Dada dan mudahlah memaafkan orang lain.

    Termasuk indikator paling jelas dari sikap lapang dada dan mudah memaafkan adalah kemampuan menahan marah, terutama saat kita mampu melampiaskan kemarahan itu, sikap menahan marah merupakan sikap Nabi. Rasulallah saw bersabda: “Barangsiapa yang mampu menahan marah padahal ia bisa melampiaskan kemarahannya. Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di depan kepala para mahluk dan memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia ingini.

    11. Sambunglah Hubungan Baik dengan Siapapun.

    Seperti wasiat Rasul saw, ” Keutamaan yang paling utama adalah engkau menyambung hubungan yang baik dengan orang yang memutuskan hubungannya denganmu. Dan menyalami orang yang mencacimu.” (HR Ahmad)

    12. Bahagiakan Orang Tua

    Kita sangat memerlukan orang yang mau belajar kembali bagaimana caranya berbakti kepada orang tua. Bagaimana caranya menyalami dan mencium tangan mereka? Bagaimana caranya membantu mereka? kita telah banyak menyia-nyiakan hak kedua orangtua.

    Dalam hadits riwayat muslim,Rasulallah saw bersabda,”Rugi dan bangkrutlah orang bertemu dengan kedua-orangtuanya saat mereka sudah tua-salah satu atau keduanya- tapi keadaan itu tidak bisa menyebabkannya masuk Surga.”(HR Muslim)

    13. Serius meraih Lailatul Qadar

    Malam yang paling mulia dalam satu tahun. Tidak ada keutamaan yang menyerupainya, ibadah pada malam ini lebih baik dari 1000 bulan. Kapankah malam Lailatul qadar? sejumlah hadits menyebutkan nalam tersebut jatuh pada salah satu malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terutama malam-malam ganjil.

    Rasulallah saw bersabda:”Barangsiapa yang bangun di waktu malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”(HR Bukhari)

    Keuntungan:

    –             Ampunan semua dosa yang telah lalu
    –             Kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan berupa rizki dan keluarga yang shalih.
    –             kita bisa terbebas dari neraka karena malam ini.

    Sumber Majalah Tarbawi edisi 96 Th.5/Ramadhan 1425 H/28 Oktober 2004 M

  • Shalat Tarawih 4 Rakaat Salam, Sah!

    Shalat Tarawih 4 Rakaat Salam, Sah!

    Pertanyaan Dari: H. Imam Santosa, S.Ag., Secang, Magelang, Jawa Tengah (disidangkan pada hari Jum’at, 4 Syakban 1431 H / 16 Juli 2010)

    Pertanyaan:

    Membaca uraian saudara yang panjang lebar berikut argumentasi dan kutipan­kutipan baik yang bersumber dari kitab   الملخص الفقهي karangan Dr. Shaleh bin Abdullah Fauzan serta Fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz, dapatlah kami tangkap maksud yang saudara sampaikan, yaitu: Shalat Tarawih empat rakaat sekali salam adalah bermasalah alias batal sehingga perlu dikaji ulang.

    Jawaban:

    Sebelum menjawab substansi pertanyaan saudara, ada baiknya lebih dahulu diberikan penjelasan singkat tentang sebab­sebab perbedaan pendapat ulama, antara lain sebagai berikut:

    1. Karena perbedaan makna lafadz
    2. Karena masalah pemahaman hadis (nash )
    3. Karena berbenturan suatu dalil dengan pegangan pokok antara seorang dengan lainnya.
    4. Masalah Ta‘arudl dan Tarjih
    5. Perbedaan pandang terhadap dalil yang dipandang sahih oleh sebahagian ahli dan tidak sahih menurut sebahagian lainnya.

    Kemudian berikut ini kami sebutkan lebih dahulu beberapa hadis yang berhubungan dengan shalat malam (qiyamul­lail /qiyamu Ramadan ), terjemahnya, serta penjelasan-penjelasannya, sebelum sampai pada kesimpulannya.

    1. Hadis Nabi saw riwayat al­Bukhari dari Aisyah r.a. َكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

      Artinya: “Aisyah r.a. berkata: Pernah Rasulullah saw shalat pada waktu antara Isya’, dan Subuh, ­ yang dikenal orang dengan istilah ‘atamah”, sebanyak sebelas raka’at, yaitu beliau salam pada tiap­tiap dua rakaat, dan beliau shalat witir satu raka’at.” [HR. Muslim no. 736, dari ‘Aisyah]

    2. Hadis Nabi saw riwayat al­Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. َوَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِي شَىْءٍ إِلاَّ فِي آخِرِهَا ‏

      Artinya: “Aisyah r.a. berkata: Pernah Rasulullah saw shalat malam tiga belas raka’at, beliau berwitir lima raka’at dan beliau tidak duduk antara raka’at­raka’at itu melainkan pada akhirnya.” [HR. al­Bukhari dan Muslim no.737]

    3. Hadis Nabi saw riwayat al­Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

      Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunnat di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” [HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738.]

    Penjelasan:

    Hadis no. 1, menunjukkan bahwa Nabi saw pernah melakukan shalat malam dengan kaifiyah dua raka’at lima kali salam dan witir satu raka’at.

    Hadis no. 2, menunjukkan bahwa Nabi saw shalat delapan raka’at, tetapi tidak diterangkan berapa kali salam.

    Adapun hadis no. 3, menunjukkan bahwa Nabi saw shalat malam di bulan Ramadhan delapan raka’at dengan dua kali salam, artinya tiap empat raka’at sekali salam, kemudian dilanjutkan shalat witir tiga raka’at dan salam.

    Mungkin timbul pertanyaan, dari mana kita memperoleh pengertian sesudah shalat empat raka’at lalu salam? Pertanyaan tersebut dapat dijawab sebagai berikut: Pertama, dari perkataan كيف (bagaimana) yang menunjukkan bahwa yang ditanya tentang kaifiyah shalat qiyamu Ramadlan disamping juga menerangkan jumlah raka’atnya. Kedua, kaifiyah itu diperoleh dari lafadz يُصَلِّي أَرْبَعًا  Lafadz itu mengandung makna bersambung (الوصل ) secara dzahir (ظاهر ) yakni menyambung empat raka’at dengan sekali salam, dan bisa mengandung makna bercerai (الفصل ) yakni menceraikan atau memisahkan dua raka’at salam – dua raka’at salam. Namun makna bersambung itu yang lebih nyata dan makna bercerai jauh dari yang dimaksud ( بعيد من المراد )Demikian ditegaskan oleh Imam ash­Shan’ani dalam kitab Subulus­Salam (Juz 2: 13).

    Hadis Aisyah ini menerangkan dalam satu kaifiyah shalat malam Nabi saw, disamping kaifiyah yang lainnya. Hadis Aisyah ini harus diamalkan secara utuh baik raka’at dan kaifiyahnya. Hadis Aisyah ini tidak ditakhshish oleh hadis ْ صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى  ( shalat malam adalah dua raka’at, dua raka’at), dan hadis tersebut tidak mengandung pengertian “Hashar” seperti dikatakan oleh Muhammad bin Nashar. Imam anNawawi dalam syarah Muslim mengatakan, shalat malam dengan empat raka’at boleh sekali salam (تسلمة ولحدة   ) dengan ungkapan beliau (وهذا الجواز ليبان ) salam sesudah empat raka’at menerangkan hukum boleh (jawaz )). Perkataan an­Nawawi tersebut dikomentari oleh Nashiruddin al­Albaniy dalam bukunya “ صلاة التراويح  “ sebagai berikut:

     Artinya: “Dan sungguh benar ucapan Imam an­Nawawi rahimahullah itu, maka mengenai pendapat ulama­ulama Syafi’iyyah bahwa wajib salam tiap dua raka’at dan bila shalat empat raka’at dengan satu salam tidak sah, sebagaimana terdapat dalam kitab fiqih mazhab empat itu dan uraian al­Qasthallani terhadap hadis al­Bukhari dan lainnya, hal itu menyalahi hadis (Aisyah) yang shahih itu serta menafikan terhadap ucapan (pendapat) an­Nawawi yang mengatakan hukum boleh (jawaz) itu. Padahal an­Nawawi salah seorang ulama besar ahli tahqiq dalam mazhab Syafi’i, hal itu tidak bisa ditolerir (dibenarkan) bagi siapapun juga berfatwa menyalahi ucapan beliau itu.” [Shalatut­Tarawih , hal 17­18]

    Sebagaimana diketahui hadis Aisyah itu yang diriwayatkan al­Bukhari dan Muslim sangat kuat (rajih) dibanding dengan hadis­-hadis lainnya tentang qiyamu Ramadlan. Sehubungan hal itu Ibnu al­Qayyim alJauzi menulis di dalam kitab Zadul Ma’ad :

    Artinya: “Dan apabila berbeda riwayat lbnu Abbas dengan riwayat Aisyah dalam sesuatu hal menyangkut shalat malam Nabi saw, maka riwayat yang dipegang adalah riwayat Aisyah r.a. Beliau lebih tahu apa yang tidak diketahui Ibnu Abbas, itulah yang jelas, karena Aisyah selalu mengikuti dan memperhatikan hal itu, Aisyah orang yang lebih mengerti tentang shalat malam Nabi saw, sedangkan Ibnu Abbas hanya menyaksikannya ketika bermalam di rumah bibinya (Maimunnah r.a.) . [Zadul Ma’ad , 1: 244]

    Diinformasikan oleh Imam asy­Syaukani, bahwa kebanyakan ulama mengatakan, shalat tarawih dua raka’at satu salam hanya sekedar menunjukkan segi afdlal (utama) saja, bukan memberi faedah Hashar (wajib), karena ada riwayat yang sahih dari Nabi saw, bahwa beliau melakukan shalat malam empat raka’at dengan satu salam. Hadis ْ صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى hanya untuk memberi pengertian/ menunjuk (irsyad ) kepada sesuatu yang meringankan saja, artinya shalat dua raka’at dengan satu salam lebih ringan ketimbang empat raka’at sekali salam.

    Lebih jauh disebutkan dalam kitab Nailul­Authar, memang ada perbedaan pendapat antara ulama Salaf mengenai mana yang lebih utama (afdlal ) antara menceraikan (الفصل = memisahkan 4 raka’at menjadi 2 rakaat satu salam, 2 rakaat satu salam) dan bersambung (الوصل = empat raka’at dengan satu), sedangkan Imam Muhammad bin Nashar menyatakan sama saja afdlal nya antara menceraikan (الفصل ) dan bersambung (الوصل ), mengingat ada hadis sahih bahwa Nabi saw berwitir lima raka’at, beliau tidak duduk kecuali pada raka’at yang kelima, serta hadis­-hadis lainnya yang menunjukkan kepada bersambung (الوصل) . [Nailul­Authar : 2: 38­39]

    Mengenai pendapat/ fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu‘ Fatawa nya dan Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan dalam bukunya   الملخص الفقهي yang mengatakan shalat empat raka’at sekali salam itu salah dan menyalahi sunnah, pendapat itu justru menentangkan sunnah dan terkesan ekstrim. Hal itu sama juga dengan pendapat sementara orang di Indonesia yang menyatakan shalat empat raka’at dengan satu salam adalah ngawur, mereka itu sangat terpengaruh dengan pendapat sebahagian ulama Syafi’i yang fanatik dalam hal tersebut seperti disebutkan oleh Muhammad Nashiruddin al­Albaniy (Kalau ingin memperluas uraian ini merujuklah kepada kitab­kitab shalat Tarawih karangan al­Albaniy itu).

    Menurut hemat kami Syeikh Abdul Aziz bin Bas, dalam bidang akidah berpegang kepada ajaran yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, sedang dalam bidang fiqih sangat dipengaruhi oleh paham Ahmad bin Hambal (Hanbali), dan itu umum dianut penduduk Saudi Arabia. Ahli hadis Indonesia seperti Prof. Dr. T.M. Hasbi ash­Shiddieqy (dalam bukunya Pedoman Shalat hal 514; begitu juga dalam “Koleksi Hadis­Hadis Hukum” Juz 5: hal 130), begitu pula A. Hassan pendiri Persatuan Islam, ahli hadis juga, dalam bukunya “Pelajaran Shalat, hal 283­284 kedua beliau itu berpendapat bahwa shalat tarawih/qiyamu Ramadlan empat raka’at sekali salam adalah sah, itu salah satu kaifiyah shalat malam yang dikerjakan oleh Nabi saw.

    Sebagai informasi tambahan kami kutip di sini apa yang ditulis Imam an­Nawawi dalam kitab alMajmu’ (syarah al­Muhazzab, juz 5: 55), al­Qadli Husein berpendapat bahwa apabila shalat tarawih dilakukan dua puluh raka’at, maka tidak boleh/ tidak sah dikerjakan, empat raka’at sekali salam, tetapi harus dua raka’at sekali salam, bukan yang dimaksud oleh beliau itu shalat tarawih delapan raka’at.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil kaji ulang kami sebagaimana uraian/ penjelasan di atas, maka menurut hemat kami hadis tentang shalat tarawih empat raka’at sekali salam tidak bermasalah, baik dari sisi matan maupun sanadnya. Dalam buku Tuntunan Ramadan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Majalah Suara Muhammadiyah, telah disebutkan bahwa jumlah raka’at shalat tarawih empat raka’at salam dan dua raka’at salam merupakan tanawu’ dalam beribadah, sehingga keduanya dapat diamalkan. Wallahu ‘alain bish shawab . *th)


    Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
    Pimpinan Pusat Muhammadiyah
    http://www.fatwatarjih.com