Tag: timur tengah

  • Pengakuan Negara Palestina dan Perubahan Peta Diplomasi Internasional

    Minggu ini, peta diplomatik Timur Tengah bergeser ketika beberapa negara, termasuk negara-negara besar Barat, secara resmi mengakui Negara Palestina. Apa yang dulunya dianggap sebagai gestur yang jauh atau simbolis, tiba-tiba menjadi langkah yang menentukan dan bersejarah dalam diplomasi internasional. Pengumuman tersebut tidak datang secara terpisah, tetapi diumumkan di jantung kota New York, tepatnya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana perdebatan tentang pengakuan kenegaraan Palestina kembali memanas dengan penekanan kesepahaman yang baru.

    Simbolisme momen tersebut begitu kuat. Setelah puluhan tahun negosiasi, pidato, dan resolusi yang mandek, pengakuan Palestina tidak lagi terbatas pada negara-negara di belahan bumi selatan atau dunia Arab. Kini pengakuan tersebut mencakup negara-negara Eropa yang telah lama dianggap sebagai sekutu setia Israel, serta negara-negara seperti Kanada dan Australia, yang kebijakan luar negerinya sebelumnya selalu sejalan dengan Washington. Setiap pengakuan dibingkai sebagai kebutuhan moral dan alat politik untuk menyelamatkan solusi dua negara.

    Di forum PBB, dua mitra yang tak terduga, yaitu Prancis dan Arab Saudi, menjadi sorotan sebagai penyelenggara pertemuan puncak yang akan mendefinisikan ulang suara aspirasi global. Prancis, dengan pengaruh historisnya di Eropa dan Mediterania, dan Arab Saudi, dengan otoritas keagamaan dan pengaruh regionalnya, membentuk dewan bersama untuk memandu musyawarah. Kerja sama mereka bersifat simbolis sekaligus strategis, menjembatani diplomasi Barat dengan kepemimpinan Arab dengan cara yang jarang terlihat sebelumnya.

    Keputusan Prancis untuk secara resmi mengakui Palestina memberikan kejutan ke seluruh Eropa. Bagi Paris, langkah tersebut bukan hanya respons terhadap krisis kemanusiaan di Gaza, tetapi juga pernyataan bahwa penundaan kedaulatan Palestina yang tak berkesudahan telah mengikis kredibilitas hukum internasional. Prancis membingkai pengakuan sebagai kebutuhan diplomatik, alternatif bagi konflik yang berkepanjangan, dan tantangan terhadap gagasan bahwa hanya kekerasan yang dapat membentuk masa depan kawasan. Selain itu, terdapat tekanan publik dan demonstrasi di seluruh negeri terkait krisis Palestina.

    Sementara itu, perwakilan Arab Saudi menekankan bahwa pendudukan, pengungsian, dan agresi yang sedang berlangsung tidak dapat dinormalisasi. Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap hukum internasional, melindungi warga sipil, dan menuntut agar pemerintahan Palestina di masa depan bebas dari militerisasi dan ekstremisme. Dengan mendukung pengakuan dalam kerangka PBB, Arab Saudi berupaya mengembalikan isu Palestina ke jalur diplomasi negosiasi, sekaligus mengisyaratkan bahwa pendekatan militeristik yang terjadi tidak boleh menjadi alasan penentuan nasib seluruh rakyat Palestina.

    Diplomasi Eropa, khususnya, telah memainkan peran penting dalam mendorong pengakuan ini. Negara-negara seperti Portugal, Belgia, Andorra, Malta, dan Luksemburg, bersama Prancis, mengakui Palestina, masing-masing mengaitkan keputusan mereka dengan tuntutan reformasi pemerintahan di Palestina, pengucilan kelompok bersenjata non-sipil dari kekuasaan resmi, dan jaminan akuntabilitas demokratis. Gelombang pengakuan ini secara eksplisit terkait dengan gagasan bahwa hanya lembaga politik yang sah yang dapat melucuti Hamas dan melemahkan cengkeramannya terhadap politik Palestina. Walaupun begitu kita akan melihat bagaimana rakyat Palestina berikut faksi politiknya bekerjasama untuk membangun situasi yang konstruktif.

    Spanyol juga tidak berbasa-basi. Perdana Menteri Pedro Sanchez berbicara dalam pertemuan tersebut, mengatakan bahwa solusi dua negara mustahil “ketika penduduk salah satu dari kedua negara tersebut menjadi korban genosida.” Sanchez menekankan martabat manusia, hukum internasional, dan akal sehat sebagai landasan urgensi pengakuan negara. Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkondisikan pengakuan pada langkah-langkah konkret: pembebasan penuh sandera Israel dan pengucilan Hamas dari pemerintahan. Pidatonya menimbulkan kontroversi ketika beberapa pihak berpendapat pidatonya terlalu menekankan satu sisi, tetapi yang lain mengakui hal itu mencerminkan realisme diplomatik yang dianut oleh lebih banyak negara.

    Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyampaikan pidato yang melampaui argumen moral hingga duka pribadi dan urgensi kemanusiaan. Ia mengutip kematian seorang pekerja bantuan Australia, Zomi Frankcom, dan menguraikan penderitaan yang meluas di Gaza, membingkai pengakuan tidak hanya sebagai dukungan simbolis tetapi juga sebagai sarana untuk melindungi warga sipil dan mendorong gencatan senjata dan pemerintahan yang tepat. Dorongan Albania adalah bahwa pengakuan harus berjalan beriringan dengan tindakan: demiliterisasi pemerintahan, pemilihan umum, dan diakhirinya permusuhan.

    Turki merupakan salah satu negara paling vokal, baik dari Asia maupun dunia berpenduduk mayoritas Muslim, dalam mendukung pengakuan negara Palestina. Presiden Erdogan menyatakan pengakuan baru-baru ini, terutama oleh anggota Dewan Keamanan PBB, sebagai “bersejarah”, dan menekankan bahwa mereka harus mempercepat implementasi solusi dua negara. Ia mendesak agar semua negara mengadopsi perbatasan tahun 1967 dan mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Erdogan juga mengutuk krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, menyebut tindakan Israel sebagai pembantaian, dan menegaskan bahwa gencatan senjata, akses kemanusiaan, dan penarikan pasukan merupakan syarat penting bagi perdamaian.

    Dari Afrika Selatan, Presiden Cyril Ramaphosa memanfaatkan forum PBB untuk memperbarui komitmen negaranya terhadap solusi dua negara, menuntut agar negara Palestina yang bersebelahan didirikan berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Ia menuduh Israel melakukan “hukuman yang tidak proporsional” terhadap warga Palestina dan meminta semua negara yang mengakui Palestina untuk dipuji atas keberanian moral mereka.

    Indonesia turut menyuarakan perdebatan ini, dengan Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang berani namun berimbang di PBB. Meskipun tegas mendukung kenegaraan Palestina, Prabowo menggarisbawahi bahwa perdamaian tidak dapat dicapai tanpa mengakui keamanan kedua negara, baik Palestina maupun Israel. Pernyataannya memicu kontroversi di beberapa kalangan, karena para kritikus menganggapnya terlalu lunak terhadap Israel, tetapi banyak diplomat memuji pidatonya karena berhasil menembus retorika yang mengakar. Nada yang seimbang ini diapresiasi secara luas di forum dunia sebagai tanda bahwa rekonsiliasi dimungkinkan jika martabat dan keamanan kedua belah pihak terjamin.

    Keterlibatan Eropa, Afrika, dan Asia ini membingkai ulang pengakuan bukan sebagai imbalan, melainkan sebagai jalan menuju tanggung jawab. Dengan mendorong pembentukan pemerintahan Palestina yang diakui dan bebas dari faksi militer, sekaligus mengakui hak Israel atas keamanan, banyak pemimpin mengisyaratkan bahwa diplomasi dapat menciptakan jalan tengah yang layak. Pengakuan ini kemudian menjadi semacam wortel sekaligus tongkat: pengakuan tersebut memberikan Palestina kedudukan diplomatik, sekaligus menetapkan harapan yang jelas bahwa pemerintahan harus bersifat sipil, akuntabel, dan independen dari faksi-faksi bersenjata.

    Menjelang akhir pekan, yang tersisa bukan hanya pergeseran dalam peta diplomatik global, tetapi juga harapan dunia tentang perdamaian. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, pengakuan Palestina dibahas sebagai kebutuhan mendesak, alih-alih cita-cita yang jauh. Perkembangan pekan ini juga menandakan bahwa diplomasi internasional memasuki fase baru, di mana negara-negara diingatkan akan tanggung jawab bersama mereka untuk saling mendukung dalam mewujudkan perdamaian, keamanan, dan keadilan di seluruh dunia. Dengan demikian, perdebatan tentang Palestina menjadi lebih dari sekadar isu regional; perdebatan ini bertransformasi menjadi ujian nyata apakah tatanan global dapat menghadapi tantangan penyelesaian konflik melalui kerja sama yang berprinsip, alih-alih perpecahan yang berkepanjangan.

  • Bom Israel di Doha Menjadi Babak Baru Ketegangan Timur Tengah

    Serangan Israel di Doha menandai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam politik Timur Tengah. Selama beberapa dekade, Qatar telah bertindak sebagai mediator kunci dalam konflik regional, seringkali menjadi tuan rumah negosiasi yang rumit yang melibatkan Hamas, Israel, dan para pemangku kepentingan lainnya. Dengan menargetkan kepemimpinan Hamas di ibu kota Qatar, Israel tidak hanya melanggar kedaulatan sebuah negara Teluk, tetapi juga menggoyahkan salah satu dari sedikit platform netral yang tersisa untuk dialog. Serangan itu memberikan kejutan yang hebat ke seluruh dunia Arab, menimbulkan kekhawatiran bahwa diplomasi sedang digantikan oleh militerisme yang tak terkendali dan membabibuta oleh Israel.

    Bagi Israel, klaim langsung atas keberhasilan taktis menyembunyikan kesalahan strategis yang lebih dalam. Meskipun beberapa afiliasi Hamas terbunuh, kepemimpinan inti mereka masih banyak lagi yang selamat, memperkuat narasi daya tahan dari kelompok tersebut. Alih-alih melemahkan Hamas, serangan itu justru dapat memperkuat legitimasinya di kalangan Palestina dan sekutu yang kini memandangnya sebagai korban agresi yang tidak adil. Dinamika ini berisiko memperpanjang konflik alih-alih meredamnya, sekaligus mengikis kredibilitas dan integritas Israel sebagai aktor rasional dalam hubungan internasional.

    Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, berada dalam posisi yang canggung dan semakin sulit dipertahankan. Washington dilaporkan telah diberitahu sesaat sebelum operasi tersebut, tetapi gagal mencegahnya. Kini, para pemimpin AS harus mendamaikan dukungan jangka panjang mereka terhadap Israel dengan meningkatnya kemarahan di antara negara-negara Arab dan mitra internasional. Pernyataan Presiden Trump yang menyatakan “sangat tidak senang” menyoroti ketegangan ini, tetapi tidak banyak meredakan kecurigaan bahwa Washington membiarkan atau tidak mengendalikan serangan sembrono sekutunya tersebut.

    harga diplomatik yang sangat besar untuk posisi Amerika dan Israel saat ini. Qatar, yang dulunya merupakan jembatan antara Barat dan faksi-faksi Islamis, mungkin akan mundur sepenuhnya dari mediasi, menutup jalur vital untuk negosiasi. Negara-negara seperti Turki, Jerman, dan Uni Eropa secara luas telah mengutuk serangan tersebut, menandakan pergeseran menuju isolasi internasional yang lebih luas bagi Israel. Bagi AS, terkikisnya kepercayaan dengan sekutu-sekutu Teluk dapat mempersulit kemitraan energi, kerja sama militer, dan upaya kontraterorisme di seluruh kawasan.

    Di luar diplomasi, serangan Doha melambangkan preseden yang berbahaya. Jika Israel dapat mengebom ibu kota berdaulat tanpa konsekuensi, kekuatan lain mungkin akan merasa semakin berani mengabaikan hukum internasional. AS, sebagai pembela utama Israel di panggung global, mau tidak mau akan terikat dengan klausul ini, yang berisiko dituduh menerapkan standar ganda dalam konflik global. Hal ini melemahkan otoritas moral Washington di saat ia berusaha mengimbangi rival seperti Tiongkok dan Rusia, yang keduanya ingin memperluas pengaruh mereka di Timur Tengah.

    Di dunia Arab, serangan tersebut telah mengobarkan kemarahan publik dan sentimen anti-Amerika. Protes meletus tidak hanya di Qatar tetapi juga di seluruh kawasan baik Eropa dan Asia, menargetkan pangkalan-pangkalan AS dan simbol-simbol kehadiran Barat. Narasi bahwa AS memungkinkan agresi Israel semakin menguat, memicu radikalisasi, mensponsori terorisme, dan melemahkan suara-suara moderat. Perkembangan ini dapat membahayakan pasukan AS yang ditempatkan di Teluk dan memperumit pengaturan keamanan di masa depan, menciptakan siklus ketidakstabilan yang akan sulit diatasi oleh Washington.

    Pada akhirnya, pengeboman di Doha telah membuka babak baru yang berbahaya dalam ketegangan di Timur Tengah. Israel mungkin telah berusaha melenyapkan musuh-musuhnya, tetapi dengan melakukannya, ia telah membahayakan keamanan jangka panjangnya dan membebani aliansinya. Bagi Amerika Serikat, harga dari dukungan tanpa syarat semakin nyata: isolasi diplomatik, menurunnya kredibilitas, dan meningkatnya permusuhan di kawasan yang tidak mampu ia kendalikan. Alih-alih menjamin perdamaian atau keamanan, serangan tersebut telah menanam benih-benih konflik yang lebih dalam, sebuah pertanda buruk bagi masa depan AS dan Israel di Timur Tengah.

  • Penasihat Presiden Palestina Sampaikan Risalah untuk Umat Islam Indonesia

    JAKARTA— Penasihat Presiden Palestina, Mamoud Alhabbash, menyampaikan risalah dari bangsa Palestina untuk umat Islam dan segenap rakyat Indonesia secara khusus serta dunia internasional pada umumnya.

    Risalah tersebut dia sampaikan dalam Webinar Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Kamis (16/7).

    Mahmoud menyampaikan pula salam dan apresiasi setinggi-tingginya Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, untuk MUI dan segenap rakyat Indonesia yang tak henti-hentinya menyuarakan perlawanan penjajahan Israel terhadap Palestina.

    “Atas nama Al-Quds dan warga Al-Quds, kami mengajak umat Islam Indonesia, dan dunia Islam, memang ini persoalan kami di level awal tetapi ini juga urusan kalian, mari bergerak bersama kita dan lakukan kewajiban kalian, yang digariskan Rasulullah ketika berbicara soal Al-Quds dan Baitul Maqdis, “Datangi Al-Aqsa dan sholatlah di dalamnya.” Hendaknya satukan tangan dan agama, untuk Palestina dan Al-Quds karena dia bagian dari akidah. Tetapi siapa yang tidak bisa datang ke Al-Quds agar hendaknya memberi bantuan materiil, kita sekarang berada dalam blokade, impitan dari berbagai negara, kita tidak bisa mendapatkan mainan untuk anak-anak kita, tapi itu tidaklah penting, kita akan gigih, tak akan mengalah untuk palestina dan akan tetap demikan, hingga datang ketetapan Allah, yaitu kemenangan, tetapi kalian dan segenap umat Islam Indonesia dan dunia, ulurkan tangan untuk Palestina dan berdiri di belakang kami, bersama kita dengan akal kalian, bantuan kalian, materi dan spiritual, agar Palestina berada selalu di hati umat Islam, kami percaya kalian dan umat Islam tak akan menyepelekan kewajibannya terhadap palestina,” ujar sosok yang juga menjabat sebagai hakim tersebut.

    Dia mengajak dunia internasional melakukan aksi nyata melawan aneksasi Israel terhadap Tepi Barat dan menghentikan pendudukan dan penjajahan, lalu mewujudkan Palestina merdeka sesuai batas 1967 dengan kemedekaan penuh atas Yerusalem Timur, sesuai dengan hukum internasional dan ketetapan PBB.

    “Ini adalah jalan perdamaian sesungguhnya, kami masih tetap terbuka untuk damai tetapi perdamaian atas dasar keadilan. Tidak atas dasar aneksasi, atau Kesepakatan Abad Ini (the deal of century) yang kita tolak, dan ditentang umat Islam karena memberikan Israel Al-Quds , tempat tersuci umat Islam dan Kristen,” ujar dia.

    Sepakat dengan pernyataan Menteri Luaar Negeri RI Retno Marsudi, dunia harus mengambil langkah konkret dan tegas menolak anekasiasi Israel, jika sebatas pernyataan saja tidak cukup. Melalui langkah proaktif agar Israel mematuhi hukum internasional.

    Dia menilai pelanggaran Israel atas hukum tersebut mendatangkan instablitasi tidak hanya di kawasan tetapi juga di dunia, karena persoalan palestina tidak hanya urusan Palestina, Al-Quds adalah urusan Islam dan Kristen karena situs suci di dalamnya yaitu Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Yesus.

    Dalam kesempatan tersebut, dia menyampaikan kekecewaan berat Palestina terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem dari semula Tel Aviv. Padahal sebelumnya pemerintah PLO sebagai representasi resmi Palestina merespons positif rencana Trump mewujudkan solusi damai dua negara.

    Tawaran yang juga direspons positif negara-negara Islam dan dunia internasional berangkat dari inisiatif raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz pada 2002 lalu.

    “Tetapi Israel justru melanggarnya, tiba-tiba semua berubah, kita semua tercengang, Trump menetapkan wilayah Yerusalem milik Israel, termasuk Yerusalem Timur di dalamnya situs-situs suci Islam dan Kristen, wilayah yang dijajah pada 1967, dan diakui sebagai sebagai ibu kota Israel,” ujar dia.

    Tidak hanya itu, kata Mahmoud, Amerika Serikat juga mengakui Dataran Tinggi Goland Suriah, bagian dari Israel. Kemudian mengajukan Deal of Centeruy yang mengizinkan Israel menganeksasi lebih dari 60 persen Tepi Barat.

    “Ini berarti tidak mungkin mewujudkan perdamaian, dengan cara ini. Mustahil bagi rakyat palestina, negara Arab dan Islam hingga sekarang mewujudkan perdamaian. Ini bukan damai namanya tapi menyerah,” kata dia.

    Mahmoud menjelaskan, mendapat angin segar itu, pemerintah Israel segera menguasai 30 persen sementara Tepi Barat. Sebagai langkah protes, Kepemimpinan Palestina memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel.

    Palestina menegaskan pengumuman aneksasi berarti memutuskan hubungan dan realisasi aneksasi berarti Israel harus mempertanggungjawabkan penuh sebagai penjajah, sebagaimana hukum internasional dan Perjanjian Jenewa IV pada 1994, atas penjajahan terhadap Palestina.

    Menurut Mahmoud, meski Israel menunda aneksasi Tepi Barat karena alasan internal dan tekanan internasional, tetapi mereka belum umumkan akan membatalkan aneksasi.

    “Kita ingin dunia intersional menolak aneksasi, di internal Amerika Serikat sendiri banyak yang menentang aneksasi bahkan di Israel banyak kekuatan politik yang menentang aneksasi. Dunia ada dalam satu kubu, sementara setengah Amerika Serikat dan setengah Israel di kubu yang sama,” tutur dia. (Nashih)

  • Prof Azra: Masalah Palestina Tidak Akan Selesai Bila Fatah dan Hamas Tidak Bersatu

    Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Prof. Azyumardi Azra menyampaikan pandangan kritisnya dalam Webinar berjudul “Stop Israel’s Imperialism” di Zoom, Kamis (16/07).

    Berbeda dengan pembicara lainnya yang rata-rata fokus pada tindakan aneksasi formal Israel, Guru Besar UIN Jakarta ini justru melakukan otokritik terhadap kalangan internal umat Islam.

    Menurutnya, masalah Palestina yang sudah berlangsung selama 72 tahun tidak pernah selesai karena justru tidak ada persatuan umat Islam dalam merespon isu ini. Salah satunya, kata dia, di Palestina sendiri, ada persaingan antara kelompok Islam Fatah dan kelompok Islam Hamas yang belum berakhir.

    “Kita perlu memastikan kepaduan antara Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Gaza. Masih terjadi pertarungan, persaingan, dan kontestasi antara kedua kelompok ini. Saya kira, selama kedua kelompok ini belum bersatu, betul-betul bersatu, maka masalah Palestina sulit dipecahkan. Kemudian, dua kelompok Paletina ini hanya menjadi mainan Israel,” kata Mantan Rektor UIN Jakarta ini.

    “Saya mengalami sendiri, saat memberikan pelatihan kepada mereka di sini, itu hanya representasi dari satu kelompok bangsa Palestina saja, kelompok yang lain tidak ikut, ini menjadi susah,” imbuhnya dalam Webinar yang diselenggarakan MUI itu.

    Saat ini, katanya, memang Israel sudah menarik rencana kebijakan aneksasi formal kepada Palestina, namun secara faktual, sudah banyak wilayah Palestina yang dicaplok Israel.

    “Misalnya, kita tidak bisa masuk ke Gaza atau wilayah Tepi Barat kecuali mungkin harus mendapatkan visa dari Israel, ” imbuhnya.

    Fakta menyedihkan ini, menurutnya, terjadi selain faktor Israel, juga karena tidak ada kepaduan di kalangan umat Islam sendiri.

    Selain tidak padunya Fatah-Hamas, dia melihat tidak kompaknya negara-negara mayoritas muslim di Timur Tengah mendukung terhadap perjuangan Palestina, membuat keadaan semakin memburuk.

    “Negara-negara di Timur Tengah, sampai sekarang keadaannya semakin memburuk. Ada Turki di situ, ada faktor Iran. Bahkan Turki dan Mesir mau perang di Libya. Belum lagi Arab Saudi bermusuhan dengan Qatar maupun Yaman. Beberapa negara di Timur Tengah lebih senang berteman dengan Israel daripada negara-negara muslim yang lain, termasuk dalam kasus pemindahan ibu kota ke Yerussalem itu juga faktor dari negara Arab tertentu, membuat negara-negara Barat seperti Amerika mau memindahkan Kedutaan Besar ke Yerussalem dari Tel Aviv,” katanya.

    Kondisi Palestina yang seperti itu, kata dia, meminjam perkataan Yasser Arafat, bukan hanya mengalami penderitaan karena Israel, tetapi Palestina ditinggalkan, tidak dibantu secara serius oleh negara-negara Arab.

    “Mereka punya kepentingan sendiri-sendiri dalam politik Timur Tengah, termasuk di dalam politik penyelesaian konflik di antara Israel dan Palestina,” ujarnya mengutip perkataan tokoh Palestina itu.

    “Selama negara-negara arab masih terpecah belah, negara-negara Timur Tengah, termasuk Turki yang kemarin presiden Erdogan untuk kepentingan dalam negerinya, dia mengatakan, setelah kita menjadikan Gereja Aya Sofia menjadi Masjid, maka kita akan membebaskan Al-Quds. Ini kan retorika yang tidak membantu tercapainya pedamaian di Palestina,” imbuhnya.

    Selain perlunya persatuan Hamaz-Fattah maupun negara-negara arab, dia melihat, perlu juga persatuan pendapat untuk menerima solusi dua negara/two states solutions.

    “Indonesia, seperti sudah disampaikan Menlu, mendukung pemecahan dua negara. Jadi saling mengakui, Israel harus mengakui Palestina dan Palestina juga harus mengakui Israel. Tidak bisa saling menghabiskan, itu sudah tidak mungkin, walaupun dikatakan saat ini aneksasi formalnya berhenti, bukan berarti itu akan stop sama sekali karena juga politik dalam negeri di Israel sendiri kadang-kadang mendorong perdana Menteri termasuk Benjamin Netanyahu saling menghabiskan itu sudah tidak mungkin,” katanya.

    Selama ini, kata dia, Indonesia sejak masa kemerdekaan pada tahun 1945 sampai pada perang terakhir pada tahun 2006, selalu berkomitmen mendukung Palestina. Itu tergambar dari kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak pernah memiliki Kedutaan Besar maupun Kantor Dagang dan Ekonomi di Israel.

    “Ini tentu saja berbeda dengan beberapa negara Arab atau Timur Tengah yang memiliki hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan Israel, yang membuat persoalan Palestina tidak bisa diselesaikan dengan baik. Palestina tidak bisa memperbaiki nasibnya sebagai bangsa merdeka sebagaimana yang kita inginkan,” katanya.

    Meskipun selama ini pemerintah sudah menjalankan perhatian sangat baik terkait masalah Palestina, dia berharap pemerintah memainkan peran lebih besar lagi. Utamanya peran sebagai juru damai dengan memanfatkan orang, tokoh, maupun organisasi di Indonesia yang selama ini terbiasa memainkan peran itu.

    “Saya kira, pemerintah harus memfasilitasi itu, untuk membuat perdamain dengan cara tertentu yang membawa pihak yang bertikai bisa ke meja perundingan,” paparnya. (Azhar/Thobib)

  • Jenazah Morsi Pun Mereka Takut

    Begitulah lumrah pejuang Islam, sehingga jenazah mereka digeruni golongan zalim. Menurut akbar, Morsi dikebumikan pada waktu subuh, tiada ahli keluarga yang hadir melainkan isteri dan dua orang anak. Jenazah tidak dipulangkan untuk dibedah siasat. Media tidak dibenarkan hadir. Tiada liputan media di ruang utama akhbar, kematiannya didiamkan. Tiada orang awam dibenarkan hadir. Begitu mereka takut dengan jenazah Morsi yang sudah tidak bernyawa. Allah mengangkat nilai pengorbanannya sehingga tubuh yang tidak bernyawa ini begitu digeruni.

    Inilah nilai sebuah perjuangan dalam menentang kezaliman. Allah membebaskan Morsi dari penjara dunia dan menjemput beliau ke sisiNya. Kekurangan yang berlaku ke atas Morsi mengingatkan kita kisah syahid Saidina Mus’ab bin Umair, jenazah yang mengingatkan kaum Muslimin tentang erti sebuah kehidupan.

    Ketika lalu dihadapan jenazah Mus’ab yang syahid di medan Uhud, Rasululullah kelihatan sangat sebak. Baginda terkenangkan perjuangan Mus’ab yang menjadikan dirinya semuanya untuk Islam. Baginda lalu membacakan ayat:

    مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ

    “Di antara orang-orang yang beriman itu, ada yang bersikap benar menunaikan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah (untuk berjuang membela Islam); maka di antara mereka ada yang telah selesai menjalankan janjinya itu (lalu gugur syahid), dan di antaranya ada yang menunggu giliran…”

    Morsi telah bersikap benar dengan janji Allah dalam usaha mempertahankan Islam dengan ruang dan kefahaman yang ada pada beliau. Allah membeli jiwa-jiwa orang beriman dengan ganjaran yang tiada tolok bandingan. Apa yang telah kita lakukan dalam memartabatkan agama Allah ini?

    Semoga Allah membimbing kita.

  • PENGUMUMAN RESMI TERKAIT SELEKSI Timur Tengah 2017-2018

    PENGUMUMAN RESMI TERKAIT SELEKSI Timur Tengah 2017-2018

    *.::: PENGUMUMAN RESMI TERKAIT SELEKSI Timur Tengah 2017-2018 :::.*

    Rapat tersebut guna menjawa apa yang dinanti-nanti oleh generasi muda Islam yaitu terkait Seleksi nasional untuk Universitas Al-Azhar Mesir dan beberapa perguruan tinggi lainnya di Timur Tengah telah diputuskan oleh Kementerian Agama, dalam hal ini oleh Ditjen Pendidikan Islam dalam rapat tersebut. Selain Mesir, seleksi tersebut diperuntukan untuk tujuan negara Lebanon, Sudan, dan Maroko.
    _A. Pelaksanaan seleksi timur tengah tahun ini dilaksanakan di *12 lokasi yaitu;*_

    1) *UIN Jakarta,*

    2) *UIN Yogyakarta,*

    3) *UIN Malang,*

    4) *UIN Makassar,*

    5) *UIN Palembang,*

    6) *UIN Riau,*

    7) *UIN Medan,*

    8) *UIN Banda Aceh,*

    9) *UIN Banjarmasin,*

    10) *UIN Surabaya,*

    11) *UIN Bandung,*

    12) *PM Darusalam Gontor.*
    _B. Adapun tahapan yang perlu diketahui adalah sebagai berikut:_

    *1) Pendaftaran Seleksi Nasional Secara Online : 15-23 Mei 2017* 

    *2) Penyerahan Berkas Seleksi dan Daftar Ulang : 23-24 Mei 2017 (Di Lokasi Seleksi)*

    *3) Seleksi Nasional Tulis dan Lisan : 25 Mei 2017*

    *4) Pengumuman Hasil Seleksi Nasional : 06 Juni 2017*

    _C. Sementara berkas yang dibutuhkan untuk mengikuti seleksi (berkas daftar ulang seleksi) tersebut adalah sebagai berikut:_

    *1) Fotokopi ijazah aliyah/pondok pesantren/ sma sederajat yang telah dilegalisir oleh lembaga pendidikan setempat (Ijazah yang dimaksud usianya tidak lebih dari tiga tahun atau maksimal keluaran tahun 2014)*

    *2) Bagi yang belum memiliki Ijazah (lulusan tahun ini) dapat melampirkan surat keterangan lulus dari sekolah/madrasah*

    *3) Pasfoto berwarna ukuran 3×4 sebanyak dua lembar*

    *4) KTP, Kartu pelajar atau identitas lainnya yang terdapat tanda pengenal wajah.*

    _D. Terkait materi yang diujikan dalam seleksi tersebut adalah sebagaimana berikut:_

    *1) Ujian Tulis dengan pengantar bahasa Arab, meliputi: Bahasa Arab (memahami teks, tata bahasa, dan insya’(tema ditentukan di dalam soal)), dan pengetahuan umum agama Islam.*

    *2) Ujian lisan dengan pengantar bahasa Arab dengan materi; bahasa Arab (percakapan/muhadtsah, terjemah, dan pemahaman teks), dan hafalan dan bacaan Al-Qur’an minimal 2 Juz.*

    Untuk info lebih lanjut silahkan buka link dibawah ini :

    1. *Link IAAI Pusat, Khusus MABA* : http://maba.waag-azhar.or.id

    2. *Link Kemenag* : http://diktis.kemenag.go.id/NEW/

    3. *Link Pendaftaran* http://diktis.kemenag.go.id/timteng12/

    4. *Link IAAI Pusat* : http://waag-azhar.or.id/

    Terima Kasih.. ???