Site icon Darulfunun El-Abbasiyah

Biografi singkat Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh (1883-1957 M)

Pada paruh abad pertama abad ke-20 di Ranah Minangkabau terdapat dua orang yang bernama Abbas, yakni Syeikh Abbas Ladang Lawas, Bukit Tinggi dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh. Keduanya terkenal sebagai ulama tradisional, tetapi menerima juga ide-ide pembaharuan, yang diberikan guru mereka, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama besar asal tanah Minangkabau yang bermukim di Tanah Suci Mekah.

Abbas Abdullah dilahirkan tahun 1883 M, sebagai putra Syeikh Abdullah, salah seorang ulama terkenal di wilayah Minangkabau di penghujung abad ke-19. Ulama inilah yang mendirikan Surau (Pondok Pesantren) Padang Japang tahun 1854, yang kemudian bernama Darul Funun Abbasiyah. Syeikh Abdullah mempunyai beberapa putra, diantaranya yang paling terkenal dan meneruskan perjuangannya sebagai ulama adalah Syeikh Mustafa Abdullah dan adiknya Syeikh Abbas Abdullah.

Sebagai seorang putra ulama, tidak aneh apabila Mustafa dan Abbas mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu keislaman sejak dini. Sejak masa kanak-kanak beliau sudah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri yang kemudian diteruskan dengan belajar kepada ulama-ulama di daerah sekitar. Sebagaimana layaknya pemuda santri masa itu, terutama dari kalangan putra ulama, sangat mendambakan untuk bisa belajar ke Tanah Suci Mekah. Begitu pula pemuda Mustafa dan Abbas yang mempunyai keinginan sangat kuat untuk meneruskan studinya di Haramain.
Pada masa itu cukup banyak ulama al-Jawi (Indonesia dan Melayu) meneruskan pendidikannya ke Tanah Suci, bahkan sebagian telah menjadi ulama besar dan kebanggaan Nusantara disana, seperti Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Abdul Karim dan Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau.

Menjelang usia pubertas (aqil-baligh), tepatnya ketika Abbas Abdulah berusia 13 tahun, dia berangkat ke Tanah Suci Mekah, untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman, sebagaimana kakaknya, Mustafa Abdullah. Disana ia mengaji kepada beberapa ulama termasuk dari kalangan Ulama al-Jawi sendiri. Ia belajar ilmu-ilmu Alquran Syeikh Khatib Kumango, kemudian memperdalam ilmu-ilmu seputar kitab kuning kepada Syeikh Abdul Latif Syukur, dan Syeikh Muhammad Jamil Jambek yang berasal dari Minangkabau, sekaligus menjadi seniornya. Tidak ketinggalan ia belajar kepada ulama al-Jawi yang terkenal, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang saat itu menjabat sebagai Imam Masjid al-Haram dan sebagai Guru Besar Ilmu Fikih serta Mufti Madzhab Syafi’i di Mekah.

Syeikh Abbas Abdullah belajar di Mekah dan sekitarnya selama delapan tahun (1896-1904M), satu periode di belakang Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan Syeikh Dahlan serta Syeikh Thahir Jalaluddin, seangkatan dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Jamil Jambek, dan Syeikh Abdullah Ahmad dan satu periode sebelum Syeikh Wahab Hasbullah, Syeikh Bisri Syansuri, Syeikh Mas Mansur maupun Syeikh Mustafa Husein Nasution. Setelah merasa cukup banyak ilmu yang diraihnya selama sewindu di Tanah Haram, walau ilmu itu sendiri tidak akan ada habisnya, maka Syeikh Abbas Abdullah dan Syeikh Mustafa Abdullah yang telah menjadi ulama muda itu kembali ke kampung halaman untuk membantu ayahanda (1904). Syeikh Abbas dan kakaknya mulai mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan kegamaan, khususnya dunia pesantren.

Beban berat Syeikh Abdullah yang telah setengah abad mengasuh Pesantren (Surau) Padang Japang mulai agak berkurang dengan adanya bantuan dari kedua putranya itu. Dalam perkembangannya sepasang kakak beradik ini mampu menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai ulamauddin maupun ulamaulummah. Kedua orang inilah yang nantinya berhasil mengembangkan Surau dan Madrasah yang telah dirintis oleh Syeikh Abdullah, sesuai dengan perkembangan pendidikan keislaman yang ada di Timur Tengah maupun di Tanah Air.

Syeikh Abbas mengubah sistem halaqah yang lazim dipakai dalam dunia pendidikan tradisional, sebagaimana biasanya Pondok Pesantren , menjadi sistem klasikal atau Madrasah (Sekolah). Dengan lahirnya Sumatera Thawalib yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Karim Amrullah dimana Syeikh Abbas termasuk salah seorang pendirinya, maka beliau pun tidak mau ketinggalan, sehingga Pesantren dan Madrasah Padang Japang yang dipimpinnya juga diberi nama tidak jauh berbeda, yaitu Madrasah Sumatera Thawalib, yang memiliki jenjang pendidikan sampai tujuh (Kelas 1 sampai kelas 7) dan merupakan bentuk seragam untuk seluruh Madrasah sumatera Thawalib saat itu.

Perkembangan Sumatera Thawalib cukup pesat, walau tidak lepas dari berbagai tantangan dan halangan yang menghadang di tengah jalan. Dengan terjadinya pemberontakan Partai Komunis di Minangkabau tahun 1926, sebagian oknum yang berasal dari Sumatera Thawalib ikut menjadi penyokongnya, yang menyebabkan mereka dipenjarakan ataupun dibuang ke Boven Digul (Irian) dan Sumatera Thawalib pecah. Pada tahun 1930, lahirlah PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang kemudian mengarah menjadi Partai Politik. Sebagian tokoh Sumatera Thawalib ikut terlibat dalam partai tersebut dan sebagian lagi tidak mau ikut serta. Pengurus Sumatera Thawalib berusaha membersihkan diri dari kasus 1926 dan merubah nama dari Sumatera Thawalib menjadi Thawalib. Sementara itu Syeikh Abbas Abdullah yang juga tidak mau melibatkan diri dalam masalah ini ikut merubah nama Pesantren dan Madrasahnya menjadi Darul Funun Abbasiyah, yang bertahan hingga sekarang ini.

Bila dilihat dari sikap yang diambil ulama ini, maka beliau bisa digolongkan sebagai ulama tradisional. Namun begitu, beliau bersikap netral terhadap ‘perbedaan pendapat’ yang terjadi antara kelompok Kaum Tua (Ulama Tradisional) -dibawah pimpinan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli dengan Ittihadul ’Ulamanya yang kemudian berkembang menjadi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)- dengan kelompok Kaum Muda(Ulama Pembaharu) -dibawah pimpinan Syeikh Abdul Karim Amrullah dengan PGAI (Persatuan Guru-guru Agama Islam)-. Perkembangan Thawalib yang pesat tersebut kemudian ikut mewarnai perkembangan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Pada saat yang hampir bersamaan di wilayah Minangkabau terdapat beberapa Madrasah lain yang telah menggunakan sistem klasikal. Madrasah-madrasah tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok: Thawalib, Darul Funun Abbasiyah, Tarbiyah Islam, dan Diniyah Putra-Diniyah Putri. Pengelompokkan ini tentu untuk sekedar memudahkan, andaikan terjadi perbedaan pendapat hanya berkisar masalah metode dan masalah furu fiqhiyah saja, dan tidak sampai menyangkut masalah prinsipil atau aqidah. Berdirinya lembaga-lembaga yang cukup modern di Sumatera Barat ini telah mampu membuka cakrawala wawasan umat Islam di wilayah itu. Dengan demikian, rata-rata tokoh Islam yang datang kemudian dari Sumatera Barat mempunyai pola berpikir progresif (maju) dan dinamis (berkembang) dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Sikap demikian dipengaruhi juga oleh budaya masyarakat Minang yang tergolong masyarakat dagang dan perantau (pengembara) yang memiliki mobilitas cukup tinggi, bahkan tertinggi dibandingkan masyarakat lain di Indonesia.

Meski telah menjadi seorang ulama besar dan berpengaruh namun Syeikh Abbas tidak segan-segan untuk selalu menambah ilmu dan pengetahuan. Beliau sering berkunjung ke negara-negara Islam, khususnya Timur Tengah (Mesir, Libanon, Syiria dan lain sebagainya) bahkan sampai ke Eropa, untuk mengadakan studi banding, mencari sistem yang lebih tepat untuk dikembangkan. Seusai kunjungannya ke al-Azhar dalam rangkaian pengembaraannya selama 3 tahun (1921-1924 M). Maka dengan dukungan kakaknya, Syeikh Mustafa Abdullah, Syeikh Abbas mengadakan pengembangan-pengembangan di Pesantrennya. Pengembangan itu dilakukan dengan menyesuaikan sistem pendidikan di madrasahnya dengan sistem pendidikan yang diterapkan di al-Azhar, yaitu 4 tahun untuk tingkat Ibtidaiyah dan 4 tahun untuk Tsanawiyah. Sekarang tentu saja sistem ini telah mengalami berbagai perubahan dengan kebijakan Standarisasi Kurikulum Madrasah oleh Kementrian Agama. Maka Darul Funun Abbasiyah pun ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan itu, kecuali untuk pengajian kitab-kitab kuning bagi santri yang menetap yang masih tidak jauh berbeda dari Pesantren-pesantren lainnya di Indonesia.

Perjalanan Pesantren Darul Funun Abbasiyah termasuk Madrasahnya tidak selalu mulus tanpa gangguan apapun. Sikap Syeikh Abbas, sebagaimana ulama lainnya, terhadap penjajah Brlanda adalah non cooperation, baik secara terang-terangan ataupun secara pasif. Sehingga tidak aneh kalau kemudian Gubernemen Hindia-Belanda, lewat residennya di Sumatera Tengah (Sumatera Barat, Riau dan Jambi) beserta aparatnya, mengadakan penggeledahan ke Pesantren Darul Funun Abbasiyah pada tahun 1934 M. Syeikh Abbas dicurigai hendak memberontak atau minimal merongrong kewibawaan Pemerintah Hindia-Belanda. Untuk sementara waktu, Pesantren Darul Funun menghentikan kegiatan kurikulernya, tetapi setelah masa penggeledahan selesai kegiatan Pesantren normal kembali, bahkan santrinya bertambah banyak.

Sikap Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang terhadap perjuangan untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan sangat jelas. Beliau merupakan ulama pejuang lahir maupun batin, dan itu terbukti pula pada awal kemerdekaan ketika beliau terpilih sebagai Imam Jihad barisan laskar Sabilillah yang didirikan oleh MIT (Majelis Islam Tinggi) Sumatera Barat. Peran Syeikh Abbas dalam perang kemerdekaan besar sekali, khhususnya di Sumatera Barat. Lebih dari itu, Syeikh Abbas dengan Pesantren Darul Funun Abbasiyah mempunyai jasa besar sekali bagi keberlangsungan hidup pemerintahan Indonesia di masa Revolusi fisik (1945-1949 M).

Dengan teerjadinya Clash II, pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral Spoor berhasil menduduki Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta, dan berhasil menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta dan beberapa pejabat tinggi Indonesia lainnya. Sebelum Presiden Soekarno diasingkan ke Brastagi (Sumatera Utara), beliau sempat membuat surat mandat kepada Menteri Kemakmuran, Syafrudin Prawiranegara, SH., untuk membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Dengan surat mandat tersebut, Syafrudin yang berada di Sumatera membentuk PDRI yang berpusat di Bukittinggi.

Pada masa pemerintahan PDRI itulah Padang Japang menjadi salah satu pusat kegiatan pemerintahan. Pesantren Darul Funun Abbasiyah pimpinan Syeikh Abbas dijadikan Kantor Kementerian PKK dan Agama, yang di kepalai oleh Teuku Muhammad Hasan, SH. Sedangkan kegiatan perkantoran setiap hari dipimpin oleh Sekjennya, Haji Mahmud Yunus, yang sejak lama telah berkecimpung dalam dunia pendidikan agama di Sumatera Barat. Sebagai pusat kegiatan pemerintahan PDRI tentu saja Padang Japang tidak sampai terjangkau oleh musuh (Belanda), karena letaknya jauh di pedalaman. Dengan demikian, kegiatan Pesantren dan Madrasah Darul Funun Abbasiyah tetap berjalan sebagaimana biasanya.

Syeikh Abbas mempunyai andil sangat besar dalam memberikan dorongan semangat perjuangan kepada para pejuang, khususnya barisan Hizbullah-Sabilillah yang dipimpinnya sendiri. Disamping itu, ulama Darul Funun ini memberikan nasihat dan semangat perjuangan kepada aparat PDRI dan kaum Republikeinlainnya. Beberapa pejabat dari Pemerintah Pusat (Yogyakarta) pernah berkunjung ke Padang Japang setelah dicapainya kesepakatan dalam Perundingan Roem-Royen, 7 Mei 1949, yang berisi tentang gencatan senjata (Cease Fire) dan pemulangan tokoh-tokoh RI ke Yogya. DR. J. Laimena dan Muhammad Natsir datang ke Padang Japang untuk berunding dengan Perdana Menteri PDRI Syafrudin Prawiranegara, yang juga dihadiri oleh Syeikh Abbas Abdullah sebagai Sesepuh Padang Japang. Dari pertemuan itulah, Perdana Menteri Syafrudin Prawiranegara bersama Lukman Hakim (Menteri Keuangan mewakili Kehakiman PDRI) menghadap Presiden Soekarno di Yogyakarta untuk menyerahkan kembali mandatnya. Beberapa peristiwa ini menunjukkan bahwa Syeikh Abbas mempunyai andil yang berarti dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah berjuang, mengabdi dan mempelopori pembaharuan pendidikan Islam di Sumatera Barat lebih dari setengah abad, ulama besar ini dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Syeikh Abbas wafat pada hari Senin, 17 Juni 1957 M dalam usia cukup lanjut (74 tahun), karena sakit asma yang telah dideritanya selama beberapa tahun. Walaupun Syeikh Abbas Abdullah telah tiada, tetapi pengaruhnya masih besar di kalangan masyarakat. Syeikh Abbas Abdullah boleh meninggal tetapi Darul Funun Abbasiyah tetap hidup dan terus berkembang. Sampai kini pesantren yang dirintis oleh Syeikh Abbas Abdullah serta kakaknya, Syeikh Mustafa Abdullah, tetap berjalan dan mengadakan berbagai pembaharuan dalam sistem pengajarannya, sehingga Pesantren tersebut terus berkembang hingga kini.

 

Tentu saja Syeikh Abbas sebagai ulama besar dan Darul Funun sebagai pesantren besar telah banyak mencetak ulama dan tokoh masyarakat dengan berbagai macam profesi. Diantara mereka terdapat ulama muda terkenal Zainuddin Labay El Yunusi, pendiri Diniyah Putra School, sayangnya beliau berusia pendek dan wafat sekitar tahun 1923 M. Syeikh Sulaiman Rasyid, pengarang buku Fiqih terkenal dan menjadi rujukan untuk pendidikan agama di sekolah umum, Fiqhul Islami, yang sekaligus juga sebagai pendiri IAIN Raden Intan Lampung adalah juga santri Padang Japang, asuhan Syeikh Abbas. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang pernah diasuh ulama besar ini. Yang jelas Syeikh Abbas Abdullah adalah ulama besar, tergolong ulama tradisionalis, tetapi mampu melaksanakan terobosan-terobosan penting untuk kemajuan pendidikan Islam khususnya di Sumatera Barat yang gemanya sampai ke seluruh Indonesia, secara langsung ataupun tidak langsung.

Sumber: http://islamtajug.blogspot.nl/2016/12/biografi-singkat-syeikh-abbas-abdullah.html

Exit mobile version