Tag: Abbas Abdullah

  • Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Ziarah ke Makam Syekh Abbas Abdullah, Imam Jihad Sumatera Tengah

    Jika ada pertanyaan, siapa ulama asal Minangkabau yang dihormati Bung Karno? Barangkali, Syekh Abbas Abdullah adalah salah satu jawabannya. Imam Jihad Sumatera Tengah, pentolan Madrasyah Sumatera Thawalib dan pemimpin Darul Funun El-Abbasiyah ini, tidak sekadar memberi peci tinggi untuk Bung Karno. Tapi, juga menitip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Indonesia. Seperti apa sosok Syekh Abbas?

    Matahari sudah condong ke barat saat Padang Ekspres bersama sastrawan peraih penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, Gus tf Sakai, serta sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, Adri Sandra, berziarah ke makam Syekh Abbas Abdullah. Makam ulama besar ini terletak di kawasan Puncakbakuang, Jorong Padangjapang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota.

    Makam Syekh Abbas berada di dekat makam ayah kandungnya, Syekh Abdullah, lebih awal tercatat sebagai ulama besar di Ranah Minang. Selain makam sang ayah, di samping makam Syekh Abbas terdapat makam dua kakaknya, yakni Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Muhammad Shalih. Kemudian, juga ada makam putra kandung Syekh Abbas, yakni H Fauzi Abbas.

    ”Totalnya, ada lima makam di sini. Yang paling kanan, makam Syekh Abbas,” kata Faisal El-Abbasy, cicit Syekh Abbas yang menyambut hangat kedatangan kami. Sayangnya, Faisal yang saat itu didampingi seorang mualaf asal Timor Leste tidak mau banyak bercerita soal sejarah hidup kakek buyutnya.

    ”Saya takut salah-salah memberi keterangan. Apalagi untuk tulisan sejarah. Mungkin lebih baik menghubungi paman saya, Dr Afifi Fauzi Abbas, dosen IAIN Bukittinggi. Beliau, selain cucu Syekh Abbas, juga dipercaya sebagai ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Syekh Abbas,” saran Faisal.

    Saran serupa disampaikan sastrawan Adri Sandra yang asli putra Padangjapang. ”Kalau mau menulis soal Syekh Abbas, mungkin Dr Afifi bisa menjelaskan yang juga adalah pimpinan Darul Funul El-Abbasiyah saat ini.

    Meski sempat ngopi di rumah alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, tapi kami tidak sempat bercerita panjang soal Syekh Abbas karena Maghrib sudah datang menjelang. Walau begitu, bukan berarti riwayat hidup Syekh Abbas tidak bisa digali. Karena berjarak beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu (2/6), Padang Ekspres bertemu dengan Dr Afifi Fauzi Abbas di kawasan Tarok, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.

    Ulama Pembaharu

    Dr Afifi yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, lumayan luas mengetahui sejarah hidup Syekh Abbas. Kakeknya itu, menurut Afifi, lahir pada 1883 Masehi dan wafat pada 1957, dalam usia 74 tahun. ”Tentang riwayat hidup Syekh Abbas, sudah banyak yang menulisnya. Yang paling komplit itu, tulisan Fachrul Rasyid HF dan Adi Bermasa,” kata Dr Afifi, sambil menyebut nama dua wartawan senior Sumbar.

    Bagi Dr Afifi, Syekh Abbas adalah sosok ulama pembaharu di Ranah Minang. Meski lahir dari lingkungan Islam tradisional, karena ayahnya Syekh Abdullah, serta saudara lelakinya Syekh Mustafa dan Syekh Muhammad Shalih, merupakan ulama tariqat. Namun, Syekh Abbas yang pernah berguru kepada Syekh Khatib Kumango dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, memiliki pandangan lebih moderat.

    ”Syekh Abbas dengan pengalamannya menimba ilmu agama di Mekkah dan Mesir, serta melihat pola pendidikan Islam di Timor Tengah, termasuk pernah ke Iran, berhasil mengubah pola pendidikan Islam di Minangkabau. Dari sistem pendidikan halaqah (guru duduk mengelilingi murid) menjadi sistem klasikal atau madrasah seperti kita temui sekarang ini,” kata Dr Afifi Abbas.

    Hal ini juga dibenarkan Profesor Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang. Dalam diskusi terbatas dengan Padang Ekspres, Mestika menyebut, kepeloporan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau, ditandai dalam dua gelombang. Ada gelombang pembaharuan awal abad 19. Kemudian, ada pula gelombang pembaharuan awal abad 20.

    ”Generasi pertama dalam gelombang pembaharuan Islam awal abad 19, dipelopori tiga haji dalam Perang Paderi. Yakni, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka disebut berasal dari kelompok Wahabi. Tapi, saya lebih suka menyebut mereka dari kelompok puritan,” kata Mestika.

    Sedangkan bibit akhir dari generasi pembaharuan Islam awal abad 19 di Minangkabau itu, menurut Mestika Zed, sentranya berada di Padangjapang Limapuluh Kota. Yakni, di Perguruan Darul Funul El-Abbasiyah yang dipimpin Syekh Abbas sebagai kelanjutan dari surau yang didirikan ayahnya. ”Jadi Padangjapang dan Syekh Abbas itu memiliki peran penting dalam pembaharuan Islam di Minangkabau,” tukas Mestika.

    Disegani Bung Karno

    Peran Syekh Abbas Abdullah sebagai ulama pembaharu di Minangkabau diketahui oleh Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Buktinya, jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan bersama Drs Mohammad Hatta yang merupakan cucu dari Syekh Abdurrahman (ulama ini juga berasal dari Limapuluh Kota, red), Bung Karno pernah secara khusus menemui Syekh Abbas Abdullah di kampus Darul Funun El-Abbasiyah di Padangjapang.

    Pertemuan Bung Karno dan Syekh Abbas berlangsung pada 1942. Tepatnya setelah Bung Karno dibebaskan Belanda dari tempat pembuanganya di Bengkulu. Pertemuan empat mata antara “singa podium” dengan ulama pembaharu itu, dicatat wartawan senior Fachrul Rasyid HF dalam sejumlah tulisannya.

    Menurut Fachrul, Syekh Abbas yang bertubuh tinggi kekar dan bercambang, sempat kurang sedap menyambut kedatangan Bung Karno. Soalnya, Bung Karno yang ditemani istrinya Inggit Ganarsih, datang terlambat. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. ”Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

    Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, menurut cerita yang didengar Fachrul dari masyarakat dan keluarga syekh, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja Syekh Abbas. Hampir tiga jam berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit (istri Soekarno) dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu,” tulis Fachrul Rasyid dalam laporan jurnalistik di Majalah Gatra.

    Saat menemui Syekh Abbas di Padangjapang, Bung Karno mendapat hadiah berupa peci dengan ukuran lebih tinggi. Sebelumnya, peci Bung Karno berukuran pendek. Menariknya, saat memberikan peci kepada Bung Karno, Syekh Abbas sempat berpesan. ”Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini. Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” pesan Syekh Abbas.

    Selain meminta hati-hati terhadap bahaya komunis dan sekuler, Syekh Abbas yang diminta pendapat oleh Bung Karno tentang konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara, juga menitip pesan bahwa negara Indonesia yang akan didirikan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Syekh Abbas ini yang diyakini banyak pihak, dituangkan Bung Karno dalam sila pertama Pancasila yang dipidatokan pada 1 Juni 1945. (*)

    Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/105618/Tukar_Peci_Bung_Karno,_Titip_Sila_Ketuhanan

    Editor : Elsy Maisany
    Sumber Berita : Fajarillah Vesky – Padang Ekspres

  • Biografi singkat Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh (1883-1957 M)

    Biografi singkat Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh (1883-1957 M)

    Pada paruh abad pertama abad ke-20 di Ranah Minangkabau terdapat dua orang yang bernama Abbas, yakni Syeikh Abbas Ladang Lawas, Bukit Tinggi dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh. Keduanya terkenal sebagai ulama tradisional, tetapi menerima juga ide-ide pembaharuan, yang diberikan guru mereka, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama besar asal tanah Minangkabau yang bermukim di Tanah Suci Mekah.

    Abbas Abdullah dilahirkan tahun 1883 M, sebagai putra Syeikh Abdullah, salah seorang ulama terkenal di wilayah Minangkabau di penghujung abad ke-19. Ulama inilah yang mendirikan Surau (Pondok Pesantren) Padang Japang tahun 1854, yang kemudian bernama Darul Funun Abbasiyah. Syeikh Abdullah mempunyai beberapa putra, diantaranya yang paling terkenal dan meneruskan perjuangannya sebagai ulama adalah Syeikh Mustafa Abdullah dan adiknya Syeikh Abbas Abdullah.

    Sebagai seorang putra ulama, tidak aneh apabila Mustafa dan Abbas mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu keislaman sejak dini. Sejak masa kanak-kanak beliau sudah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri yang kemudian diteruskan dengan belajar kepada ulama-ulama di daerah sekitar. Sebagaimana layaknya pemuda santri masa itu, terutama dari kalangan putra ulama, sangat mendambakan untuk bisa belajar ke Tanah Suci Mekah. Begitu pula pemuda Mustafa dan Abbas yang mempunyai keinginan sangat kuat untuk meneruskan studinya di Haramain.
    Pada masa itu cukup banyak ulama al-Jawi (Indonesia dan Melayu) meneruskan pendidikannya ke Tanah Suci, bahkan sebagian telah menjadi ulama besar dan kebanggaan Nusantara disana, seperti Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Abdul Karim dan Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau.

    Menjelang usia pubertas (aqil-baligh), tepatnya ketika Abbas Abdulah berusia 13 tahun, dia berangkat ke Tanah Suci Mekah, untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman, sebagaimana kakaknya, Mustafa Abdullah. Disana ia mengaji kepada beberapa ulama termasuk dari kalangan Ulama al-Jawi sendiri. Ia belajar ilmu-ilmu Alquran Syeikh Khatib Kumango, kemudian memperdalam ilmu-ilmu seputar kitab kuning kepada Syeikh Abdul Latif Syukur, dan Syeikh Muhammad Jamil Jambek yang berasal dari Minangkabau, sekaligus menjadi seniornya. Tidak ketinggalan ia belajar kepada ulama al-Jawi yang terkenal, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang saat itu menjabat sebagai Imam Masjid al-Haram dan sebagai Guru Besar Ilmu Fikih serta Mufti Madzhab Syafi’i di Mekah.

    Syeikh Abbas Abdullah belajar di Mekah dan sekitarnya selama delapan tahun (1896-1904M), satu periode di belakang Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan Syeikh Dahlan serta Syeikh Thahir Jalaluddin, seangkatan dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Jamil Jambek, dan Syeikh Abdullah Ahmad dan satu periode sebelum Syeikh Wahab Hasbullah, Syeikh Bisri Syansuri, Syeikh Mas Mansur maupun Syeikh Mustafa Husein Nasution. Setelah merasa cukup banyak ilmu yang diraihnya selama sewindu di Tanah Haram, walau ilmu itu sendiri tidak akan ada habisnya, maka Syeikh Abbas Abdullah dan Syeikh Mustafa Abdullah yang telah menjadi ulama muda itu kembali ke kampung halaman untuk membantu ayahanda (1904). Syeikh Abbas dan kakaknya mulai mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan kegamaan, khususnya dunia pesantren.

    Beban berat Syeikh Abdullah yang telah setengah abad mengasuh Pesantren (Surau) Padang Japang mulai agak berkurang dengan adanya bantuan dari kedua putranya itu. Dalam perkembangannya sepasang kakak beradik ini mampu menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai ulamauddin maupun ulamaulummah. Kedua orang inilah yang nantinya berhasil mengembangkan Surau dan Madrasah yang telah dirintis oleh Syeikh Abdullah, sesuai dengan perkembangan pendidikan keislaman yang ada di Timur Tengah maupun di Tanah Air.

    Syeikh Abbas mengubah sistem halaqah yang lazim dipakai dalam dunia pendidikan tradisional, sebagaimana biasanya Pondok Pesantren , menjadi sistem klasikal atau Madrasah (Sekolah). Dengan lahirnya Sumatera Thawalib yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Karim Amrullah dimana Syeikh Abbas termasuk salah seorang pendirinya, maka beliau pun tidak mau ketinggalan, sehingga Pesantren dan Madrasah Padang Japang yang dipimpinnya juga diberi nama tidak jauh berbeda, yaitu Madrasah Sumatera Thawalib, yang memiliki jenjang pendidikan sampai tujuh (Kelas 1 sampai kelas 7) dan merupakan bentuk seragam untuk seluruh Madrasah sumatera Thawalib saat itu.

    Perkembangan Sumatera Thawalib cukup pesat, walau tidak lepas dari berbagai tantangan dan halangan yang menghadang di tengah jalan. Dengan terjadinya pemberontakan Partai Komunis di Minangkabau tahun 1926, sebagian oknum yang berasal dari Sumatera Thawalib ikut menjadi penyokongnya, yang menyebabkan mereka dipenjarakan ataupun dibuang ke Boven Digul (Irian) dan Sumatera Thawalib pecah. Pada tahun 1930, lahirlah PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang kemudian mengarah menjadi Partai Politik. Sebagian tokoh Sumatera Thawalib ikut terlibat dalam partai tersebut dan sebagian lagi tidak mau ikut serta. Pengurus Sumatera Thawalib berusaha membersihkan diri dari kasus 1926 dan merubah nama dari Sumatera Thawalib menjadi Thawalib. Sementara itu Syeikh Abbas Abdullah yang juga tidak mau melibatkan diri dalam masalah ini ikut merubah nama Pesantren dan Madrasahnya menjadi Darul Funun Abbasiyah, yang bertahan hingga sekarang ini.

    Bila dilihat dari sikap yang diambil ulama ini, maka beliau bisa digolongkan sebagai ulama tradisional. Namun begitu, beliau bersikap netral terhadap ‘perbedaan pendapat’ yang terjadi antara kelompok Kaum Tua (Ulama Tradisional) -dibawah pimpinan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli dengan Ittihadul ’Ulamanya yang kemudian berkembang menjadi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)- dengan kelompok Kaum Muda(Ulama Pembaharu) -dibawah pimpinan Syeikh Abdul Karim Amrullah dengan PGAI (Persatuan Guru-guru Agama Islam)-. Perkembangan Thawalib yang pesat tersebut kemudian ikut mewarnai perkembangan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

    Pada saat yang hampir bersamaan di wilayah Minangkabau terdapat beberapa Madrasah lain yang telah menggunakan sistem klasikal. Madrasah-madrasah tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok: Thawalib, Darul Funun Abbasiyah, Tarbiyah Islam, dan Diniyah Putra-Diniyah Putri. Pengelompokkan ini tentu untuk sekedar memudahkan, andaikan terjadi perbedaan pendapat hanya berkisar masalah metode dan masalah furu fiqhiyah saja, dan tidak sampai menyangkut masalah prinsipil atau aqidah. Berdirinya lembaga-lembaga yang cukup modern di Sumatera Barat ini telah mampu membuka cakrawala wawasan umat Islam di wilayah itu. Dengan demikian, rata-rata tokoh Islam yang datang kemudian dari Sumatera Barat mempunyai pola berpikir progresif (maju) dan dinamis (berkembang) dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Sikap demikian dipengaruhi juga oleh budaya masyarakat Minang yang tergolong masyarakat dagang dan perantau (pengembara) yang memiliki mobilitas cukup tinggi, bahkan tertinggi dibandingkan masyarakat lain di Indonesia.

    Meski telah menjadi seorang ulama besar dan berpengaruh namun Syeikh Abbas tidak segan-segan untuk selalu menambah ilmu dan pengetahuan. Beliau sering berkunjung ke negara-negara Islam, khususnya Timur Tengah (Mesir, Libanon, Syiria dan lain sebagainya) bahkan sampai ke Eropa, untuk mengadakan studi banding, mencari sistem yang lebih tepat untuk dikembangkan. Seusai kunjungannya ke al-Azhar dalam rangkaian pengembaraannya selama 3 tahun (1921-1924 M). Maka dengan dukungan kakaknya, Syeikh Mustafa Abdullah, Syeikh Abbas mengadakan pengembangan-pengembangan di Pesantrennya. Pengembangan itu dilakukan dengan menyesuaikan sistem pendidikan di madrasahnya dengan sistem pendidikan yang diterapkan di al-Azhar, yaitu 4 tahun untuk tingkat Ibtidaiyah dan 4 tahun untuk Tsanawiyah. Sekarang tentu saja sistem ini telah mengalami berbagai perubahan dengan kebijakan Standarisasi Kurikulum Madrasah oleh Kementrian Agama. Maka Darul Funun Abbasiyah pun ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan itu, kecuali untuk pengajian kitab-kitab kuning bagi santri yang menetap yang masih tidak jauh berbeda dari Pesantren-pesantren lainnya di Indonesia.

    Perjalanan Pesantren Darul Funun Abbasiyah termasuk Madrasahnya tidak selalu mulus tanpa gangguan apapun. Sikap Syeikh Abbas, sebagaimana ulama lainnya, terhadap penjajah Brlanda adalah non cooperation, baik secara terang-terangan ataupun secara pasif. Sehingga tidak aneh kalau kemudian Gubernemen Hindia-Belanda, lewat residennya di Sumatera Tengah (Sumatera Barat, Riau dan Jambi) beserta aparatnya, mengadakan penggeledahan ke Pesantren Darul Funun Abbasiyah pada tahun 1934 M. Syeikh Abbas dicurigai hendak memberontak atau minimal merongrong kewibawaan Pemerintah Hindia-Belanda. Untuk sementara waktu, Pesantren Darul Funun menghentikan kegiatan kurikulernya, tetapi setelah masa penggeledahan selesai kegiatan Pesantren normal kembali, bahkan santrinya bertambah banyak.

    Sikap Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang terhadap perjuangan untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan sangat jelas. Beliau merupakan ulama pejuang lahir maupun batin, dan itu terbukti pula pada awal kemerdekaan ketika beliau terpilih sebagai Imam Jihad barisan laskar Sabilillah yang didirikan oleh MIT (Majelis Islam Tinggi) Sumatera Barat. Peran Syeikh Abbas dalam perang kemerdekaan besar sekali, khhususnya di Sumatera Barat. Lebih dari itu, Syeikh Abbas dengan Pesantren Darul Funun Abbasiyah mempunyai jasa besar sekali bagi keberlangsungan hidup pemerintahan Indonesia di masa Revolusi fisik (1945-1949 M).

    Dengan teerjadinya Clash II, pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral Spoor berhasil menduduki Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta, dan berhasil menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta dan beberapa pejabat tinggi Indonesia lainnya. Sebelum Presiden Soekarno diasingkan ke Brastagi (Sumatera Utara), beliau sempat membuat surat mandat kepada Menteri Kemakmuran, Syafrudin Prawiranegara, SH., untuk membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Dengan surat mandat tersebut, Syafrudin yang berada di Sumatera membentuk PDRI yang berpusat di Bukittinggi.

    Pada masa pemerintahan PDRI itulah Padang Japang menjadi salah satu pusat kegiatan pemerintahan. Pesantren Darul Funun Abbasiyah pimpinan Syeikh Abbas dijadikan Kantor Kementerian PKK dan Agama, yang di kepalai oleh Teuku Muhammad Hasan, SH. Sedangkan kegiatan perkantoran setiap hari dipimpin oleh Sekjennya, Haji Mahmud Yunus, yang sejak lama telah berkecimpung dalam dunia pendidikan agama di Sumatera Barat. Sebagai pusat kegiatan pemerintahan PDRI tentu saja Padang Japang tidak sampai terjangkau oleh musuh (Belanda), karena letaknya jauh di pedalaman. Dengan demikian, kegiatan Pesantren dan Madrasah Darul Funun Abbasiyah tetap berjalan sebagaimana biasanya.

    Syeikh Abbas mempunyai andil sangat besar dalam memberikan dorongan semangat perjuangan kepada para pejuang, khususnya barisan Hizbullah-Sabilillah yang dipimpinnya sendiri. Disamping itu, ulama Darul Funun ini memberikan nasihat dan semangat perjuangan kepada aparat PDRI dan kaum Republikeinlainnya. Beberapa pejabat dari Pemerintah Pusat (Yogyakarta) pernah berkunjung ke Padang Japang setelah dicapainya kesepakatan dalam Perundingan Roem-Royen, 7 Mei 1949, yang berisi tentang gencatan senjata (Cease Fire) dan pemulangan tokoh-tokoh RI ke Yogya. DR. J. Laimena dan Muhammad Natsir datang ke Padang Japang untuk berunding dengan Perdana Menteri PDRI Syafrudin Prawiranegara, yang juga dihadiri oleh Syeikh Abbas Abdullah sebagai Sesepuh Padang Japang. Dari pertemuan itulah, Perdana Menteri Syafrudin Prawiranegara bersama Lukman Hakim (Menteri Keuangan mewakili Kehakiman PDRI) menghadap Presiden Soekarno di Yogyakarta untuk menyerahkan kembali mandatnya. Beberapa peristiwa ini menunjukkan bahwa Syeikh Abbas mempunyai andil yang berarti dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia.

    Setelah berjuang, mengabdi dan mempelopori pembaharuan pendidikan Islam di Sumatera Barat lebih dari setengah abad, ulama besar ini dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Syeikh Abbas wafat pada hari Senin, 17 Juni 1957 M dalam usia cukup lanjut (74 tahun), karena sakit asma yang telah dideritanya selama beberapa tahun. Walaupun Syeikh Abbas Abdullah telah tiada, tetapi pengaruhnya masih besar di kalangan masyarakat. Syeikh Abbas Abdullah boleh meninggal tetapi Darul Funun Abbasiyah tetap hidup dan terus berkembang. Sampai kini pesantren yang dirintis oleh Syeikh Abbas Abdullah serta kakaknya, Syeikh Mustafa Abdullah, tetap berjalan dan mengadakan berbagai pembaharuan dalam sistem pengajarannya, sehingga Pesantren tersebut terus berkembang hingga kini.

     

    Tentu saja Syeikh Abbas sebagai ulama besar dan Darul Funun sebagai pesantren besar telah banyak mencetak ulama dan tokoh masyarakat dengan berbagai macam profesi. Diantara mereka terdapat ulama muda terkenal Zainuddin Labay El Yunusi, pendiri Diniyah Putra School, sayangnya beliau berusia pendek dan wafat sekitar tahun 1923 M. Syeikh Sulaiman Rasyid, pengarang buku Fiqih terkenal dan menjadi rujukan untuk pendidikan agama di sekolah umum, Fiqhul Islami, yang sekaligus juga sebagai pendiri IAIN Raden Intan Lampung adalah juga santri Padang Japang, asuhan Syeikh Abbas. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang pernah diasuh ulama besar ini. Yang jelas Syeikh Abbas Abdullah adalah ulama besar, tergolong ulama tradisionalis, tetapi mampu melaksanakan terobosan-terobosan penting untuk kemajuan pendidikan Islam khususnya di Sumatera Barat yang gemanya sampai ke seluruh Indonesia, secara langsung ataupun tidak langsung.

    Sumber: http://islamtajug.blogspot.nl/2016/12/biografi-singkat-syeikh-abbas-abdullah.html

  • Bung Karno bersama Syekh Abbas dan Syekh Mustafa

    Bung Karno bersama Syekh Abbas dan Syekh Mustafa

    Syekh Abbas Abdullah, bersama kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah, adalah tokoh Islam terkemuka di tanah Minangkabau. Selepas bebas dari pengasingannya di Bengkulu, sekitar tahun 1942, Bung Karno datang ke perguruan Darul Funun El-Abbasiyah, Sumatera Barat, khusus untuk meminta ‘wejangan’ dari mereka mengenai perjuangan bangsa Indonesia.

    Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah, ulama asal Indonesia yang menjadi imam, khatib sekaligus guru besar di Masjidil Haram, Mekkah–imam pertama dari kalangan non orang Arab. Mereka adalah tempat bertanya bagi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang saat itu berbasis di Bukittinggi.

    Ilustrator: VionydazzArt

    http://sukarno.org/bung-karno-bersama-syekh-mustafa-dan-syekh-abbas/

  • Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang

    Oleh: Jose Hendra

    Sila ketuhanan dari Sukarno dianggap saran dari seorang ulama dari Padang Japang, Sumatra Barat.

    PIDATO Sukarno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dikukuhkan jadi hari lahir Pancasila. Dia mengajukan lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan.

    Konsep Ketuhanan yang ditempatkan pada prinsip kelima oleh Bung Karno akhirnya menjadi sila pertama dengan modifikasi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rumusan Panitia Sembilan.

    Menurut Charles Simabura, dosen ilmu tata negara Universitas Andalas, dalam sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, semua anggota memberi usul. Hampir semua menawarkan konsep Ketuhanan. Menurutnya, konsep Ketuhanan yang diusulkan terutama dari golongan agama lebih kongkret lagi yakni Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.

    Lalu dari mana ide Ketuhanan yang ditawarkan Bung Karno?

    Konsep tersebut bulir dari buah pergaulan Bung Karno dengan para ulama. Sejak muda dia tumbuh dalam lingkungan Sarekat Islam. Saat masa-masa pembuangan, Bung Karno terus berkorespondensi dengan ulama. Misalnya, dengan pendiri Persatuan Islam (Persis) Ahmad Hassan saat dibuang ke Ende. Hingga akhirnya, pada 1942, kata Ketuhanan terpatri dalam benaknya ketika kelak Indonesia merdeka dan membentuk dasar negara adalah sebuah keharusan.

    Adalah Syekh Abbas Abdullah yang memberi wejangan kepada Bung Karno. Kala itu, Bung Karno berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syekh Abbas.

    “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan benar-benar tercapai. Dalam hal ini Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalamRiwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981.

    Syekh Abbas, yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

    Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syekh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian. “Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang dia dapat dari keluarga Syekh Abbas dan masyarakat setempat. “Persisnya, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan.”

    Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatra Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.

    Kebesaran kedua syekh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Bukti mesranya hubungan Bung Karno dengan dua ulama tersebut berjejak dalam selembar dokumentasi foto yang diambil Said Son.

    Syekh Abbas dan Syekh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syekh Abbas juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya, Syekh Abbas mendirikan nama madrasah yang sama yakni Madrasah Sumatra Thawalib.

    Tahun 1930, Syekh Abbas mengubah Sumatra Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syekh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatra Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.

    Sementara sekolah tetap menjadi basis menggapai dan mengisi kemerdekaan.

    “Wajar Sukarno menemui Syekh Abbas karena dia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatra Barat.

    Dikatakannya, perjumpaan Sukarno dengan Syekh Abbas hanya sebentar. Datang sekitar jam satu siang lalu balik sekitar sorenya. Bung Karno sendiri berada di Padang ketika era transisi dari Belanda ke Jepang. Dia berada di Sumatra Barat selama lima bulan, dari Februari 1942 hingga Juli 1942.

    http://historia.id/agama/sila-ketuhanan-dari-ulama-padang-japang

     

  • Syekh Abbas Abdullah – Stylist Proklamasi

    Syekh Abbas Abdullah – Stylist Proklamasi

    Oleh: Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta (2010) (Sumber)

    Tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa proklamasi yang disuarakan pada 17 Agustus 1945 lekat dan terbungkus dengan seni. Justru sebaliknya banyak dari kita yang mengendapkan kesan bahwa prokalmasi sama dan sebangun dengan asap mesiu, bambu runcing, tentara pelajar, pekik merdeka, laskar-laskar perjuangan atau pertempuran bersenjata.

    Ya jelas, kalau sedang lagi berjuang membela sebuah prinsip penting, tidak ada tempat lain selain berjuang dengan kekuatan seadanya. Kalau perlu dengan ayunan tangan pun tak menjadi soal atau kekuatan senjata. Yang penting berjuang secara fisik. Memikirkan yang lain, maaf saja, tidak ada tempat untuk dilakukan. Apakah benar proklamasi 17 Agustus 1945 seperti itu? Jawabannya cukup lima huruf: TIDAK.

    Mungkin hanya Indonesia negara satu-satunya di dunia yang getol mengurusi hal-hal berkaitan dengan seni ketika sedang perang revolusi. Kalau kita membayangkan revolusi di Afrika, pasti terbayang akan pembantaian suku, pertumpahan darah dan kematian. Bagaimana dengan di Amerika Latin? Sama saja. Yang terdengar hanya perang gerilya melawan penguasa. Gerilya berasal dari bahasa Spanyol, /guerra/ yang artinya perang dan diadaptasi ke bahasa Inggri menjadi /guerilla/ atau gerilya daam bahasa Indonesia. Di belahan dunia manapun begitu, kalau lagi perang, ya perang! Mengurusi yang lain, seperti kesenian, menjadi urusan kesekian. Nanti saja kalau sudah selesai revolusinya.

    Ketika baru masuk SMA di Jakarta, saya dan teman-teman pernah mengunjungi pameran seni Bung Karno di Taman Ismail Marzuki tahun 1983. Saat itu namanya sedang dipendam dalam-dalam oleh penguasa. Tapi sebaliknya pameran itu dipadati pengunjung yang sangat antusias dengan masalah seni, terutama pada masa revolusi. Terlihat bagaimana nuansa seni, terutama lukisan dan pahatan, sangat identik dengan gelora revolusi dan perang kemerdekaan.

    Nah, Indonesia justru sebaliknya, beda negara-negara lain. Proklamasi 17 Agustus 1945 seperti sudah dipersiapkan tata seninya jauh sebelum negeri ini lahir. Apa yang dibicarakan Soekarno pertama kali mendarat di Jakarta di Pelabuhan Pasar Ikan pada 1942? Setelah dia dibuang bertahun-tahun di Ende, Flores, lalu ke Bengkulu, lalu melanglang keliling Sumatera dan akhirnya terdampar di Palembang, dan pulang berlayar dengan perahu kecil ke Jakarta? Dia hanya membicarakan masalah model jas dengan penjemputnya, yang juga bekas iparnya, Anwar Tjokroaminoto. Bukan strategi perjuangan.

    Sekolah-Tinggi-Tabib-Geneeskundiga-Hoge-School-di-Jakarta

    Lalu apa yang dilakukan pemerintah negeri ini yang baru berusia 4 bulan, ketika keadaan Jakarta sedang genting melinting dengan kacau balau menghalau apapun? Pameran lukisan! Beberapa pelukis seperti Affandi, Basuki Abdullah, Sudjojono, Mochtar Subianto, Raden Ali, Kartono Judoko dan seniman lainnya, mengadakan pameran di gedung Sekolah Tinggi Tabib Jakarta. Pameran itu dibuka oleh Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin dan dihadiri pembukaannya oleh Presiden Soekarno yang gila seni beserta istri, Wakil Presiden Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir serta beberapa menteri, termasuk Sir Philip Christison, seorang juru runding dari Inggris.

    Semua itu tak lepas dari intelijensi para pendiri negara ini yang punya wawasan luas, termasuk menyentuh dunia seni dan penampilan. Lihat saja, mana ada penampilan modis mereka yang kelihatan jelek dan kumuh, meski untuk memikirkan pangan saja sangat susah saat itu. Mereka semua terlihat ganteng, necis, parlente dan sedikti modis dengan pakaian dan penampilan a la kadarnya. Bandingkan dengan tokoh-tokoh asing… Hmmm… jauuuuh.

    Paman Ho Chi Minh, terlihat seperti opa-opa tua ompong berpakaian lusuh. Churchill yang perlente mirip gentong besar yang bisa berjalan. Mao seperti tukang obat yang baru keluar hutan mencari ramuan dari tanaman. Castro mirip tentara dekil yang jarang mandi dan berdandan dengan brewok seperti hutan lindung. Nehru bagaikan mannequin. Beda dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir atau Amir Sjarifuddin yang terlihat bersih, intelek dan good-looking dengan penampilannya.

    Penampilan tokoh dan pendiri bangsa-bangsa lain di manapun sangat jelas mewakili apa yang mereka perjuangkan. Melihat para pria berkumpul memakai kaffiyeh (penutup kapal untuk pria Arab), pasti mereka sedang membicakan Yasser Arafat, tokoh Palestina. Atau topi hijau dengan bintang merah yang dipakai oleh Tentara Merah (ABRI-nya Cina), pasti itu gaya Mao Tse-tung, serta Fidel Castro dengan topi militer warna hijau khasnya atau tokoh Prancis Charles de Gaulle dengan topi mirip kaleng. Juga seorang Nehru dari India dengan peci putihnya.

    Bagaimana dengan Indonesia? Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah sulit dipisahkan dengan visual peci hitam yang bertengger di atas kepala beberapa pentolan pendiri negeri ini, seperi Soekarno dan Hatta. Saat masa revolusi ketika orang melihat ada tokoh berpeci, pasti yang dibicarakan tentang proklamasi. Tentang kemerdekaan. Tentang tanggal 17 Agustus 1945. Terutama pada diri Soekarno dan juga Hatta. Sang dua sejoli.

    Soekarno-tanpa-peci

    Sejak kapan peci hitam menjadi ciri khas proklamasi? Ya sejak 17 Agustus 1945! Sampai tanggal 17 Agustus 1966, hari 17an terakhir Soekarno, dia selalu memakai peci hitam bergaya khas ketika bertindak sebagai pusat perhatian di podium perayaan 17 Agustus. Hanya menjelang akhir hayatnya, rakyat Indonesia baru bisa melihat Soekarno asli tanpa peci hitam. Saat dia tak punya kekuasaan lagi dan mulai sakit-sakitan.

    Ketika selesai menjalani pembuangan di Bengkulu bersama keluarga dan para pembantunya tahun 1942, Soekarno terpaksa berkeliling Sumatera dengan kondisi yang melelahkan dan menyebalkan. Pakaiannya lusuh dengan peci hitam yang pendek terlihat kurang tampan dan proporsional, ditambah lagi jarang mandi karena dia dan keluarganya melakukan perjalanan jauh itu (kadang mengendarai dokar) dengan penuh ketakutan atas gangguan dari tentara Jepang, yang sedang menderita kekalahan oleh pihak Sekutu.

    Dari Bengkulu melalui jalan darat menuju kota Painan (kota pesisir kearah tenggara Padang), lalu ke Bukittingi dan berkeliling ke Payakumbuh dan akhirnya menemui sahabatnya, yang juga memimpin sebuah pesantren terkenal, Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Kala itu Soekarno bukan siapa-siapa dan belum menjadi presiden.

    “Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini”, kata pemimpin pesantren sambil menatap Soekarno yang sedang membetulkan sebuah peci hitam tinggi. Peci tersebut memang baru saja diberikan oleh Syech Abbas Abdullah, pemimpin pesantren itu ketika melihat penampilan Soekarno kurang oke dengan peci lamanya yang lebih pendek.

    Perbedaan-peci-hitam-Soekarno

    Peci itu memang pas dan serasi dengan visual wajah Soekarno. Pas margopas! Peci lamanya mana? Di tinggal di pesantren Syech Abbas Abdullah, yang juga menyarankan agar kelak Indonesia merdeka dan Soekarno menjadi pemimpinnya, Indonesia harus berdasarkan ketuhanan. “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam”, ujar sang syech kepada calon pemimpin bangsa terbesar umat Islamnya di jagat.

    Lengkap dan pantas sudah penampilan baru Soekarno. Dia terlihat lebih ganteng dan siap memimpin negeri ini dengan penampilan khasnya tiada dua di dunia: peci hitam tinggi pemberian Syech Abbas Abdullah. Tapi nanti duluuu… Sang tuan rumah juga menyarankan agar penampilan baru Soekarno diimbangi dengan martabatnya yang handsome juga. Menurut penerawangannya, gigi taring Soekarno sebelah kanan itu dempet. Artinya? “Biasanya orang bergigi begitu bersifat rimbang mata atau mudah jatuh cintah kepada wanita”, ramal Syech Abbas Abdullah.

    Akhirnya, peci hitam itu menjadi ciri khas visual proklamasi dan perjuangannnya di tahun-tahun kemudian. Peci itu menjadi benda seni yang memwakilkan sebuah sosok yang memiliki andil dengan proklamasi. Di kemudian hari bahkan menjadi ciri khas orang Indonesia. Hatta yang tak biasa berpeci selama sekolah di Eropa, akhirnya mengikuti Soekarno berpeci pada saat-saat tugas kenegaraan dan hingga sekarang diikuti menjadi bagian penting dari busana resmi presiden-presiden Indonesia.

    Proklamasi 17 Agustus 1945 telah dikumandang, lalu dipertahankan dengan berdarah-darah dan akhirnya diisi dengan susah payah, selalu diwakili dengan visual pelakunya yang berpeci hitam. Ketika Soekarno membacakan naskah proklamasi, ikut upacara keagamaan di Gereja Mormon, berziarah ke makam Abdul Qadir Jailani serta makam George Washington, berpidato di Kongres Amerika Serikat, rapat umum di Stadion Lenin, Moskow, berdiskusi di Balai Rakyat Beijing dengan Mao, sowan berkali-kali ke Kaisar Hirohito, hampir pingsan di La Paz, Bolivia, ditangkap dan dibuang Belanda ke Prapat, bersembahyang di mesjid Leningrad (Petersburg), berpesta dengan Marilyn Monroe, naik sepeda di Kobenhavn, Denmark, merokok bareng Nehru di India, diskusi dengan Juan Peron di Buenos Aires, serta ngobrol dengan Elvis Presley di Hawaii, peci hitam itu selalu ada dan memvisualkan keindonesiaan yang makin melekat.

    Tidak terbayang bila Soekarno melepas peci hitamnya setelah dibuang dari Bengkulu, karena pendek dan lusuh bentuknya. Untungnya hal ini tidak terjadi, karena jasa Syech Abbas Abdullah. Dia menjadi stylist proklamasi tanpa disadari. Hal-hal sepele sebelum dan sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, memang selalu diperhatikan terutama masalah seni dan penampilan untuk memancarkan kekuatan visual yang dominan. Indonesia tanpa Soekarno tidak terbayangkan seperti apa. Soekarno tanpa peci hitam tinggi, juga tak bisa dibayangkan.

    Seperti yang dinubuatkan Syech Abbas Abdullah, negara Indonesia akan selalu memikirkan penampilan tanpa esensi. Bangsa Indonesia memang tak mengenal dan kurang suka dengan kekuatan riset. Senangnya bereksperiman sesaat dan improvisasi tanpa rencana. Mirip seperti seni, yang kaya improvisasi. Bukankah naskah proklamasi kemerdekaan ini ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta di atas sebuah piano? (*).

    SUMBER:

    1. Majalah Gatra, 9 Juni 2001, “Peci Tinggi Panglima Jihad” .

    2. Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, “Kronik Revolusi Indonesia” (Jilid I 1945), Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan dikarya IKAPI dan The Ford Foundation, Jakarta, 1999.

  • Seorang Teman Ayahku

    Seorang Teman Ayahku

    Seorang teman sehaluan Ayahku pula ialah Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang (Suliki). Beliau dilahirkan, pada tahun 1883 dan naik Haji ke Mekkah dalam usia 13 tahun / 1314 H) dan belajar pula kepada tuan Syekh Ahmad Khatib, dan pulang ke tanah air pada tahun 1904. Bersama dengan kakaknya Syekh Mustafa beliau mulai mengajar, melanjutkan usaha ayahnya Syekh Abdullah.

    Di tahun 1919 Madrasahnya menjadi Sumatera Thawalib, sebagai juga madrasah-madrasah yang lain di Minangkabau. Diterbitkan pula majalah “Al Imam” Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekkah, terus ke Mesir dan menambah pengalamannya belajar di Al Azhar sampai tahun 1924. Pada tahun itu dengan melalui Palestina, Libanon dan Syria beliau pulang kembali ke tanah air dan meneruskan usahanya mengajar.

    Pulangnya kembali melalui Mesir karena mengantarkan putera kakaknya Thaluth Mustafa dan Nasruddin Taha untuk belajar pula di sana. Di tahun 1930 Thawalib beliau tukar menjadi Darul Funun AlAbbasiyah.

    Beliau dua bersaudara adalah orang-orang keras hati, ber-jiwa revolusioner, tidak ragu-ragu memesan dan mengajarkan kitab-kitab Abduh dan Rasyid Ridha dan kitab-kitab yang lain memberi kebebasan fikiran dari Darul Funun-nya, sehingga di tahun 1934 pernah tempatnya mengajar itu digeledah pemerintah Belanda, karena datang laporan resersir bahwa di sana banyak kitab-kitab agama “yang berbahaya”.

    Dalam Revolusi bersenjata 1945 kedua beliau telah meng-gerakkan murid-muridnya supaya turut berjihad fi sabilillah, dan beliau Syekh Abbas diangkat menjadi “Imam Jihad” oleh Majelis Tinggi Islam. Di waktu Perang Kolonial Belanda yang kedua (1948) madrasah beliau telah menjadi pusat pertahanan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) beberapa lamanya. Setelah terjadi persetujuan “Roem-Royen” dan terjadi penghentian tembak menembak di Sumatera, di Padang Japang, di surau beliau itulah berkumpul kembali para pemimpin PDRI.

    Sikap beliau pendiam, beliau tidak begitu ahli berpidato, karena beliau hanya lebih mahir mengajar, tetapi setiap butir perkataan beliau tidak ada yang hampa.dengan utusan-utusan yang datang dari Bangka, menemui mereka.

    Syekh Abbas telah meninggal dunia pada 17 Juni 1957 di Padang. Kakaknya Syekh Musthafa pun seorang Ulama yang keras hati. puteranya Thaluth diserahkannya belajar ke Mesir, tetapi malang, anak yang baik itu mati dibunuh dengan teraniaya oleh seorang pemuda Indonesia yang turut belajar di Mesir. Seketika mendengar kematian puteranya, tidaklah berubah muka beliau, sebab beliau yakin bahwa puteranya bukanlah seorang jahat. Demikian juga seketika puteranya Thanthawi Mustafa tewas pula seketika dikepung Belanda di Situjuh bersama Khatib Sulaiman, Bupati Harisun dan Kapten Munir Latif, seketika disampaikan orang kepadanya bahwa putera beliau telah tewas, vang terlebih dahulu beliau tanyakan dari manakah tembusan peluru, adakah dari muka atau dari punggung? Kalau dari muka, yakinlah beliau bahwa puteranya mati syahid, sebab terang bahwa dia melawan. Tetapi kalau dari belakang, sedihlah hati beliau karena mungkin anaknya lari, lalu ditembak. Permohonan beliau kepada Tuhan, moga-moga tembus dada anak¬nya dari muka, jangan dari punggung.

    Itulah kawan-kawan Ayahku. Ulama-ulama yang konsekwen pada pendirian mereka, yang tidak mengenal menyerah. Tetapi kalau kita berjumpa mereka, kita hanya akan melihat orang-orang tua yang tawadhu’ , merendahkan diri seakan-akan tidak berisi apa-apa, padahal penuh dengan iman dan keteguhan hati.

    Ada beberapa orang lagi Ulama lain yang sehaluan dengan Ayahku, atau pendukung cita-cita beliau, sebagai Tuan Haji Ajhuri dan Haji Sa’id Batusangkar, Tuan Jama’in Abdul Mu-rad Sungai Puar, Haji Muhammad Siddik Bukittinggi, Tuanku Laut Lintau, Tuanku Haji Sutan Darab Pariaman, Tuanku Mudo Limbukan (Ayah Al Ustaz Nasruddin Taha); beliau sebagian besar telah meninggal dunia, tetapi nyatalah kebesaran Ayahku karena “pohon-pohon” yang mengitarinya itupun besar pula.

    (HAMKA – Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

  • Menelusuri Jejak Dua Ulama Bersaudara dari Padang Japang

    Menelusuri Jejak Dua Ulama Bersaudara dari Padang Japang

    abbas abdullah, mustafa abdullah dan soekarno
    image courtesy: (YDFA, Abdullah A.)

     

    Tempat Bung Karno Minta Petunjuk.

    Mereka dua saudara, jago urusan agama, punya pemikiran luas untuk Indonesia. Sama-sama murid dari Syekh Ahmad Chatib, anak Minang yang menjadi Imam Masjidil Haram Mekkah. Sama-sama pula mendirikan Perguruan Islam yang terkenal. Tak heran, bila Bung Karno minta petunjuk kepada mereka, dan Buya Hamka menaruh hormat tak terhingga.

    Bila masih ada pertanyaan, siapakah mereka? Itulah Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah, dua ulama kesohor Minangkabau asal Luhak Limopuluah. Keduanya, terkubur di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Tepatnya di Padangjapang, yang terletak sekitar 17 kilometer sebelah utara Kota Payakumbuh.

    Untuk menuju lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Dari Payakumbuh menuju arah utara. Setelah melewati jembatan Lampasi, anda akan menemui persimpangan. Kedua simpang, dapat anda pilih.

    Bila memilih jalan ke kiri, berarti Anda akan melewati Nagari Koto Baru Simalanggang dan Nagari Guguak VIII Koto. Setelah sampai di Dangung-dangung, anda dapat melanjutkan perjalanan arah ke Limbanang. Tapi, sesampai di kawasan bernama Talago, anda harus belok ke kanan. Maka sekitar tiga kilometer saja, anda akan sampai di Padangjapang.

    Tapi bila memilih jalan yang kanan, maka anda akan melewati nagari Simalanggang, Koto Tangah Simalanggang, Taehbaruah, Mungka, Jopangmangganti, dan barulah sampailah di Padangjapang.

    Pejuang Islam

    Syekh Mustafa Abdullah atau biasa dipanggil Inyiak Padang Japang dan adiknya Syekh Abbas Abdullah, merupakan pejuang Islam di Sumatera. Sepak terjang mereka sebagai penyebar dan penegak ajaran Islam di Minangkabau, sangat banyak dicatat dalam berbagai buku dan majalah yang terbit masa itu.

    Bahkan, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah Yulfian Azrial, menyebut perjuangan kedua Syekh ini amat terkait dengan perjuangan pendidikan Islam Sumatera Tawalib, ataupun pergerakan Tuanku Jamil Jaho di Padangpanjang.

    Meskipun demikian, satu hal yang membuat Syekh bersaudara ini amat terkenal adalah upaya mereka dalam mendirikan Perguruan Darul Funun di Puncakbakuang, Tanjungrongik, Padangjapang.

    Pada masa keemasannya, Darul Funun tidak hanya memiliki murid dari berbagai pelosok Sumatera Barat, melainkan juga dari berbagai provinsi sekitar, termasuk dari negeri Jiran Malaysia. Hebatnya lagi, para murid rata-rata adalah orang besar.

    ”Sebagai perguruan besar, Darul Funun memang banyak banyak melahirkan tokoh besar. Kebesaran kedua Syekh ini bahkan membuat Presiden Soekarno merasa perlu ke Padangjapang, setelah bebas dari masa pembuangannya di Bengkulu,” kata Yulfian Azrial.

    Disebutkan pula, Bung Karno sering melakukan diskusi dan minta petunjuk tentang berbagai masalah politik dan keagamaan. Bahkan tentang konsep menuju kemerdekaan Indonesia. Hal itu setidaknya bisa dibuktikan, dengan masih adanya dokumentasi Bung Karno semasa di Padangjapang.

    Begitu juga setelah zaman kemerdekaan. Para pejuang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), merasa sangat perlu untuk menemui Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah. Mereka sangat banyak mendapat masukan dari kedua Syekh kakak beradik ini.

    ”Mohammad Natsir yang diutus Soekarno untuk menemui tokoh PDRI di Sumatera, akhirnya juga harus menemui kedua tokoh ini,” kata Yulfian.

    Buya Hamka juga Menaruh Hormat

    Sebenarnya, tidak hanya Bung Karno, Natsir, dan tokoh bangsa lain yang menjadikan kedua Syeik ini sebagai kawan tempat berdiskusi. Ulama sekaligus sastrawan legendaris Haji Abdul Malik Karim Amarullah alias Hamka, juga amat hormat kepada Syekh Mustafa dan Abbas Abdullah.

    Bahkan menurut wartawan senior (alm) Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, semasa Agresi Militer II Belanda, Hamka sengaja datang ke Padangjapang, hanya untuk memberitahu khabar kematian Kapten Thantowi (putra kandung Syekh Mustafa Abdullah) dalam Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949.

    Namun ketika itu, Inyiak Padangjapang ternyata sudah tahu soal kematian putra mereka. Hanya saja, dia sempat bertanya kepada Hamka, sebelah mana Kapten Thantowi tertembak Belanda? Dijawablah oleh Hamka, dekat keningnya Inyiak?

    Mendengar hal tersebut, Inyiak Padangjapang langsung menyebut, ”Syahid-Syahid. Thantowi meninggal dalam keadaan Syahid Malik!”

    Begitulah cerita Hamka yang sangat menghormati kedua Syekh dari Padangjapang, kepada Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, puluhan tahun nan lampau. (***)

    (Fajar Rillah Veski)
    sumber : http://www.padang-today.com/?today=feature&id=258

  • Bangkit Lahirkan Para Ulama

    Bangkit Lahirkan Para Ulama

    Limapuluh Kota (Sumbar), BAKINNews—Perguruan Agama Islam Darul Funun El-Abasyiyah Padang Japang Kabupaten Limapuluh Kota, sangat diharapkan bangkit melahirkan para ulama dan kembali mengukir sejarah dalam dunia pendidikan Islam.

    Bangkitnya Lembaga Pendidikan Darul Funun itu bukan hanya harapan dari masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, tapi seluruh umat Islam yang berada di Sumatera Barat dan bahkan tingkat nasional.

    “Kebangkitan Darul Funun, memang ditunggu-tunggu masyarakat banyak. Ini yang sedang diupayakan oleh tokoh masyarakat dan kementerian agama,” kata Gusman Piliang Kepala kantor Kementerian Agama Kabupatern Limapuluh Kota, Rabu (11/8) di ruangan kerjanya.

    Kepala Kantor kementerian Agama Kabupaten Limapuluh Kota diminta tanggapannya sehubungan adanya dugaan perguruan agama Islam Darul Funun telah mati suri. Hanya tinggal nama bersamaan dengan dua tokoh pendirinya Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah.

    Dua saudara ini tidak hanya terkenal sebagai ulama yang memiliki banyak jamaah. Tapi juga kesohor karena mendirikan perguruan Darul Funun El-Abbasiyah di Padang Japang.
    Menurut Gusman Piliang aktifitas pendidikan masih jalan, proses belajar dan mengajar berjalan dengan baik, namun belum seperti yang dulu lagi.”Ini yang kita bina sekarang.”

    Sebagai kelanjut pembinaan tersebut, kata Gusman, Kepala Kantor kementerian Agama Sumatera, Darwas telah melakukan pembinaan pada seluruh penyelenggara lembaga pendidikan tersebut, Jumat (6/8) dalam kunjungan kerja.

    Untuk menunjang kelancaran pendidikan tersebut, kementerian agama Provinsi Sumatera Barat akan membantu bangunan gedung perpustakaan untuk Darul Funun dan MTI Tabek Gadang. BIN 763

  • Peci Tinggi Panglima Jihad untuk Soekarno

    Peci Tinggi Panglima Jihad untuk Soekarno

    Perbedaan-peci-hitam-Soekarno

    Tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa proklamasi yang disuarakan pada 17 Agustus 1945 lekat dan terbungkus dengan seni. Justru sebaliknya banyak dari kita yang mengendapkan kesan bahwa prokalmasi sama dan sebangun dengan asap mesiu, bambu runcing, tentara pelajar, pekik merdeka, laskar-laskar perjuangan atau pertempuran bersenjata.

    Ya jelas, kalau sedang lagi berjuang membela sebuah prinsip penting, tidak ada tempat lain selain berjuang dengan kekuatan seadanya. Kalau perlu dengan ayunan tangan pun tak menjadi soal atau kekuatan senjata. Yang penting berjuang secara fisik. Memikirkan yang lain, maaf saja, tidak ada tempat untuk dilakukan. Apakah benar proklamasi 17 Agustus 1945 seperti itu? Jawabannya cukup lima huruf: TIDAK.

    Mungkin hanya Indonesia negara satu-satunya di dunia yang getol mengurusi hal-hal berkaitan dengan seni ketika sedang perang revolusi. Kalau kita membayangkan revolusi di Afrika, pasti terbayang akan pembantaian suku, pertumpahan darah dan kematian. Bagaimana dengan di Amerika Latin? Sama saja. Yang terdengar hanya perang gerilya melawan penguasa. Gerilya berasal dari bahasa Spanyol, /guerra/ yang artinya perang dan diadaptasi ke bahasa Inggri menjadi /guerilla/ atau gerilya daam bahasa Indonesia. Di belahan dunia manapun begitu, kalau lagi perang, ya perang! Mengurusi yang lain, seperti kesenian, menjadi urusan kesekian. Nanti saja kalau sudah selesai revolusinya.

    Ketika baru masuk SMA di Jakarta, saya dan teman-teman pernah mengunjungi pameran seni Bung Karno di Taman Ismail Marzuki tahun 1983. Saat itu namanya sedang dipendam dalam-dalam oleh penguasa. Tapi sebaliknya pameran itu dipadati pengunjung yang sangat antusias dengan masalah seni, terutama pada masa revolusi. Terlihat bagaimana nuansa seni, terutama lukisan dan pahatan, sangat identik dengan gelora revolusi dan perang kemerdekaan.

    Nah, Indonesia justru sebaliknya, beda negara-negara lain. Proklamasi 17 Agustus 1945 seperti sudah dipersiapkan tata seninya jauh sebelum negeri ini lahir. Apa yang dibicarakan Soekarno pertama kali mendarat di Jakarta di Pelabuhan Pasar Ikan pada 1942? Setelah dia dibuang bertahun-tahun di Ende, Flores, lalu ke Bengkulu, lalu melanglang keliling Sumatera dan akhirnya terdampar di Palembang, dan pulang berlayar dengan perahu kecil ke Jakarta? Dia hanya membicarakan masalah model jas dengan penjemputnya, yang juga bekas iparnya, Anwar Tjokroaminoto. Bukan strategi perjuangan.

    Lalu apa yang dilakukan pemerintah negeri ini yang baru berusia 4 bulan, ketika keadaan Jakarta sedang genting melinting dengan kacau balau menghalau apapun? Pameran lukisan! Beberapa pelukis seperti Affandi, Basuki Abdullah, Sudjojono, Mochtar Subianto, Raden Ali, Kartono Judoko dan seniman lainnya, mengadakan pameran di gedung Sekolah Tinggi Tabib Jakarta. Pameran itu dibuka oleh Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin dan dihadiri pembukaannya oleh Presiden Soekarno yang gila seni beserta istri, Wakil Presiden Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir serta beberapa menteri, termasuk Sir Philip Christison, seorang juru runding dari Inggris.

    Semua itu tak lepas dari intelijensi para pendiri negara ini yang punya wawasan luas, termasuk menyentuh dunia seni dan penampilan. Lihat saja, mana ada penampilan modis mereka yang kelihatan jelek dan kumuh, meski untuk memikirkan pangan saja sangat susah saat itu. Mereka semua terlihat ganteng, necis, parlente dan sedikti modis dengan pakaian dan penampilan a la kadarnya. Bandingkan dengan tokoh-tokoh asing… Hmmm… jauuuuh.

    Paman Ho Chi Minh, terlihat seperti opa-opa tua ompong berpakaian lusuh. Churchill yang perlente mirip gentong besar yang bisa berjalan. Mao seperti tukang obat yang baru keluar hutan mencari ramuan dari tanaman. Castro mirip tentara dekil yang jarang mandi dan berdandan dengan brewok seperti hutan lindung. Nehru bagaikan mannequin. Beda dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir atau Amir Sjarifuddin yang terlihat bersih, intelek dan good-looking dengan penampilannya.

    Penampilan tokoh dan pendiri bangsa-bangsa lain di manapun sangat jelas mewakili apa yang mereka perjuangkan. Melihat para pria berkumpul memakai kaffiyeh (penutup kapal untuk pria Arab), pasti mereka sedang membicakan Yasser Arafat, tokoh Palestina. Atau topi hijau dengan bintang merah yang dipakai oleh Tentara Merah (ABRI-nya Cina), pasti itu gaya Mao Tse-tung, serta Fidel Castro dengan topi militer warna hijau khasnya atau tokoh Prancis Charles de Gaulle dengan topi mirip kaleng. Juga seorang Nehru dari India dengan peci putihnya.

    Bagaimana dengan Indonesia? Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah sulit dipisahkan dengan visual peci hitam yang bertengger di atas kepala beberapa pentolan pendiri negeri ini, seperi Soekarno dan Hatta. Saat masa revolusi ketika orang melihat ada tokoh berpeci, pasti yang dibicarakan tentang proklamasi. Tentang kemerdekaan. Tentang tanggal 17 Agustus 1945. Terutama pada diri Soekarno dan juga Hatta. Sang dua sejoli.

    Sejak kapan peci hitam menjadi ciri khas proklamasi? Ya sejak 17 Agustus 1945! Sampai tanggal 17 Agustus 1966, hari 17an terakhir Soekarno, dia selalu memakai peci hitam bergaya khas ketika bertindak sebagai pusat perhatian di podium perayaan 17 Agustus. Hanya menjelang akhir hayatnya, rakyat Indonesia baru bisa melihat Soekarno asli tanpa peci hitam. Saat dia tak punya kekuasaan lagi dan mulai sakit-sakitan.

    Peci Hitam Soekarno

    Ketika selesai menjalani pembuangan di Bengkulu bersama keluarga dan para pembantunya tahun 1942, Soekarno terpaksa berkeliling Sumatera dengan kondisi yang melelahkan dan menyebalkan. Pakaiannya lusuh dengan peci hitam yang pendek terlihat kurang tampan dan proporsional, ditambah lagi jarang mandi karena dia dan keluarganya melakukan perjalanan jauh itu (kadang mengendarai dokar) dengan penuh ketakutan atas gangguan dari tentara Jepang, yang sedang menderita kekalahan oleh pihak Sekutu.

    Dari Bengkulu melalui jalan darat menuju kota Painan (kota pesisir kearah tenggara Padang), lalu ke Bukittingi dan berkeliling ke Payakumbuh dan akhirnya menemui sahabatnya, yang juga memimpin sebuah pesantren terkenal, Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Kala itu Soekarno bukan siapa-siapa dan belum menjadi presiden.

    “Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini”, kata pemimpin pesantren sambil menatap Soekarno yang sedang membetulkan sebuah peci hitam tinggi. Peci tersebut memang baru saja diberikan oleh Syech Abbas Abdullah, pemimpin pesantren itu ketika melihat penampilan Soekarno kurang oke dengan peci lamanya yang lebih pendek.

    Peci itu memang pas dan serasi dengan visual wajah Soekarno. Pas margopas! Peci lamanya mana? Di tinggal di pesantren Syech Abbas Abdullah, yang juga menyarankan agar kelak Indonesia merdeka dan Soekarno menjadi pemimpinnya, Indonesia harus berdasarkan ketuhanan. “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam”, ujar sang syech kepada calon pemimpin bangsa terbesar umat Islamnya di jagat.

    Lengkap dan pantas sudah penampilan baru Soekarno. Dia terlihat lebih ganteng dan siap memimpin negeri ini dengan penampilan khasnya tiada dua di dunia: peci hitam tinggi pemberian Syech Abbas Abdullah. Tapi nanti duluuu… Sang tuan rumah juga menyarankan agar penampilan baru Soekarno diimbangi dengan martabatnya yang handsome juga. Menurut penerawangannya, gigi taring Soekarno sebelah kanan itu dempet. Artinya? “Biasanya orang bergigi begitu bersifat rimbang mata atau mudah jatuh cintah kepada wanita”, ramal Syech Abbas Abdullah.

    Akhirnya, peci hitam itu menjadi ciri khas visual proklamasi dan perjuangannnya di tahun-tahun kemudian. Peci itu menjadi benda seni yang memwakilkan sebuah sosok yang memiliki andil dengan proklamasi. Di kemudian hari bahkan menjadi ciri khas orang Indonesia. Hatta yang tak biasa berpeci selama sekolah di Eropa, akhirnya mengikuti Soekarno berpeci pada saat-saat tugas kenegaraan dan hingga sekarang diikuti menjadi bagian penting dari busana resmi presiden-presiden Indonesia.

    Proklamasi 17 Agustus 1945 telah dikumandang, lalu dipertahankan dengan berdarah-darah dan akhirnya diisi dengan susah payah, selalu diwakili dengan visual pelakunya yang berpeci hitam. Ketika Soekarno membacakan naskah proklamasi, ikut upacara keagamaan di Gereja Mormon, berziarah ke makam Abdul Qadir Jailani serta makam George Washington, berpidato di Kongres Amerika Serikat, rapat umum di Stadion Lenin, Moskow, berdiskusi di Balai Rakyat Beijing dengan Mao, sowan berkali-kali ke Kaisar Hirohito, hampir pingsan di La Paz, Bolivia, ditangkap dan dibuang Belanda ke Prapat, bersembahyang di mesjid Leningrad (Petersburg), berpesta dengan Marilyn Monroe, naik sepeda di Kobenhavn, Denmark, merokok bareng Nehru di India, diskusi dengan Juan Peron di Buenos Aires, serta ngobrol dengan Elvis Presley di Hawaii, peci hitam itu selalu ada dan memvisualkan keindonesiaan yang makin melekat.

    Tidak terbayang bila Soekarno melepas peci hitamnya setelah dibuang dari Bengkulu, karena pendek dan lusuh bentuknya. Untungnya hal ini tidak terjadi, karena jasa Syech Abbas Abdullah. Dia menjadi stylist proklamasi tanpa disadari. Hal-hal sepele sebelum dan sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, memang selalu diperhatikan terutama masalah seni dan penampilan untuk memancarkan kekuatan visual yang dominan. Indonesia tanpa Soekarno tidak terbayangkan seperti apa. Soekarno tanpa peci hitam tinggi, juga tak bisa dibayangkan.

    Seperti yang dinubuatkan Syech Abbas Abdullah, negara Indonesia akan selalu memikirkan penampilan tanpa esensi. Bangsa Indonesia memang tak mengenal dan kurang suka dengan kekuatan riset. Senangnya bereksperiman sesaat dan improvisasi tanpa rencana. Mirip seperti seni, yang kaya improvisasi. Bukankah naskah proklamasi kemerdekaan ini ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta di atas sebuah piano? (*).

    SUMBER:
    1. Majalah Gatra, 9 Juni 2001, “Peci Tinggi Panglima Jihad”, Fachrul Rasyid.
    2. Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, “Kronik Revolusi Indonesia” (Jilid I 1945), Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan dikarya IKAPI dan The Ford Foundation, Jakarta, 1999.

    (ISK)

  • Syekh Abbas Abdullah

    Syekh Abbas Abdullah

    “Kalah politik Jepang oleh Belanda. Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya” (Syekh Abbas Abdullah, 1944)

    “Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini.”
    “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam.”
    (Syekh Abbas Abdullah, saat memberikan kopiah tinggi yang diberikan kepada Soekarno, dan menjadi identitas selanjutnya bagi Soekarno)

    Syekh Abbas Abdullah (1883M- 1957M / 1376H) dilahirkan di nagari yang bernama Padang Japang, sebuah nagari di kenagarian kecamatan Guguk Kabupaten 50 Kota sekarang ini. Dalam bidang pendidikan, nagari ini adalah nagari yang termasuk paling dahulu mempunyai tradisi edukasi dibandingkan daerah lain pada masanya.

    Hal ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya di daerah ini dua buah institusi pendidikan Islam yang termasuk tertua di Sumatera Barat yaitu surau Syekh Abdullah, ayah dari Syekh Abbas. Kemudian yang satu lagi, surau Syekh Muhammad Shaleh, ayah dari Syekh Abdul Wahid.

    Surau Syekh Abdullah didirikan di Padang Japang pada tahun 1854, tidak lama setelah berakhirnya Perang Paderi. Sedangkan surau Syekh Muhammad Shaleh pada mulanya didirikan di Padang Kandis, kemudian dipindahkan ke Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Kedua institusi pendidikan (baca: tradisional) Islam ini telah banyak melahirkan cerdik pandai dan tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat dan di luar Sumatera Barat.

    Syekh Abbas Abdullah secara genealogis berasal dari kalangan ulama. Dalam dirinya terdapat “darah biru” ulama-ulama terkemuka di daerahnya pada zaman mereka masing-masing. Dari pihak ayahnya terdapat tiga orang Syekh yaitu Syekh Muhammad Shaleh (Syekh Munggu), Syekh Abdul Wahid dan ayah Syekh Abbas Abdullah sendiri yakni Syekh Abdullah. Syekh Muhammad Shaleh hidup dipertengahan abad ke-19 Masehi yang berasal dari suku Tanjung nagari Padang Kandis. Beliau adalah ulama tasawuf yang menganut aliran tarekat naqsyabandiah. Tarekat ini dipelajarinya langsung dari Mekkah. Ia merupakan kemenakan persukuan ayah Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan Syekh Abdullah Wahid Shaleh adalah anak dari Syekh Muhammad Shaleh. Tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tetapi tahun wafatnya diperkirakan pada tahun 1369 H. Beliau mendapat pendidikan pada mulanya dari ayahnya Syekh Muhammad Shaleh, setelah itu dengan Syekh Muhammad Saad Mungka, kemudian melanjutkan kepada Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang. Setelah menamatkan pelajarannya dengan Syekh Muhammad Thaib Umar, ia membuka pesantren di Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Di waktu menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau berkesempatan tinggal di sana untuk belajar dengan Syekh Said Yamany dan Syekh Said al-Malikiy. Setelah kembali ke kampung halamannya, beliau langsung mengajar di tempat semula dan menggabungkannya dengan sekolah yang sealiran yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) pada tahun 1928.

    Syekh Abdullah adalah ayah Syekh Abbas Abdullah. Dilahirkan di Padang Japang pada tahun 1830. Bapaknya merupakan mamak (paman) dari ayah Syekh Muhammad Shaleh. Waktu Syekh Abdullah lahir, situasi sosial politik Minangkabau pada waktu itu sedang hangat-hangatnya Perang Paderi. Ia merupakan murid tertua dari Syekh Taram (Beliau surau Durian) dan dari Syekh Kumai serta Tuanku Gadut yang semuanya merupakan ulama-ulama besar Minangkabau pada masanya. Setelah menamatkan pelajarannya, langsung membuka pesantren di Padang Japang pada tahun 1854. Tidak lama setelah itu, beliau pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada tahun 1857, beliau kembali ke kampung halamannya dan mengajar kembali di sekolah semula. Diantara murid-muridnya yang kemudian dikenal sebagai ulama terkemuka di daerah mereka masing-masing antara lain adalah Engku Mudo Karuang Sicincin, Engku Sutan Air Tabit, Engku Capuak Air Tiris dan Engku Lima Puluh di Malalo.

    Ibu Syekh Abbas Abdullah bernama Seko yang berasal dari nagari Padang Japang. Ibunya bukan berasal dari kalangan ulama, akan tetapi berasal dari keluarga hartawan yang taat beragama. Syekh Abbas Abdullah bersaudara enam orang dari satu ayah dengan tiga orang ibu. Yang tertua bernama Syekh Muhammad Shalih, yang kedua Syekh Mustafa Abdullah dan merupakan saudara seayah seibu Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan dari ibunya yang lain terdapat saudaranya yang lain yaitu Syekh Muhammad Said, Sa’adah dan Sa’adud. Dari enam orang tersebut, empat orang menjadi ulama. Dengan memiliki latar belakang keluarga seperti yang diterangkan diatas, telah membuka jalan yang sangat luas bagi Syekh Abbas Abdullah untuk menjadi ulama besar. Apalagi sejak kecil, beliau memang dikondisikan oleh ayahnya untuk kelak menjadi seorang ulama.

    Sebagaimana halnya ulama pada masanya, Syekh Abbas Abdullah juga merupakan “orang jemputan”. Istri beliau berjumlah tujuh orang yaitu Kalimah, Lian, Tobik, Soviah, Saliah, Rohana dan seorang lagi di Batuhampar (tidak diketahui namanya). Dari ketujuh orang istrinya tersebut, Syekh Abbas Abdullah dikaruniai 15 orang anak yang diberinya nama Sofia, Zuraidah, Abdul Muis, Fauzi, Naimah, Azhariah, Damsakti, Azhari, Nuraini, Zahriah, Firman, Ismet, Faruq, Farid dan Adliah. Pada umumnya mereka dididik disekolah Syekh Abbas Abdullah kecuali tiga orang yaitu Azhari, Faruq dan Firman. Diantara anaknya yang cukup berhasil dan mengikuti jejak beliau menjadi ulama adalah H. Fauzi Abbas yang melanjutkan memimpin sekolah Darul Funun. Syekh Abbas wafat pada tanggal 17 Juni 1957.

    Syekh Abbas Abdullah mulai masuk sekolah pada umur tujuh tahun. Waktu itu, pendidikan dan institusi pendidikan merupakan sesuatu yang langka dan elitis, baik untuk daerah Padang Japang maupun daerah-daerah lain di Sumatera Barat pada umumnya. Hal ini disebabkan karena pemerintah kolonial Belanda tidak begitu memperhatikan kebutuhan pendidikan rakyat. Sekolah yang ada hanyalah Kweekschool di Bukittinggi dan beberapa sekolah Gubernemen kelas II.

    Maka kondisi yang minim ini, pendidikan surau merupakan alternatif yang terbaik ketika itu. Di daerah 50 Kota pada masa Syekh Abbas Abdullah ini tidak begitu banyak terdapat institusi pendidikan surau yang cukup baik, diantaranya surau yang terdapat di Batuhampar, Canduang, Sicincin, Mungka, Padang Panjang, Padang Japang dan Pandam Garang Suliki. Oleh ayahnya, Syekh Abbas Abdullah dimasukkan ayahnya ke surau Pandang Gadang. Walaupun ayahnya merupakan seorang ulama dan memiliki surau sendiri, namun Syekh Abbas Abdullah bukan belajar di surau yang dipimpin ayahnya tersebut. Hal ini disebabkan karena tuntutan adat istiadat Minangkabau yang berlaku pada waktu itu dimana anak-anak yang telah berumur tujuh tahun ke atas tidak baik tidur bersama dengan keluarganya lagi.

    Waktu belajar di Pandan Gadang ini, Syekh Abbas Abdullah termasuk anak yang cerdas dan keras hati dalam mendapatkan pelajaran. Dari gurunya di Pandam Gadang inilah ia mendapat “mutiara kata” yang kelak menentukan jalan hidupnya. Isi mutiara kata tersebut adalah “kalau kamu ingin menjadi orang yang pintar dan berguna nanti, maka pergilah belajar ke negeri Mekkah”. Perkataan inilah yang mendorongnya untuk pergi ke Mekkah selagi umurnya belum pantas menunaikan ibadah haji. Setelah enam tahun belajar di Pandam Gadang, keinginannya untuk pergi ke Mekkah semakin menggebu-gebu.

    Pada tahun 1896, satu kesempatan berharga terbuka baginya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Pada waktu itu, mamaknya, Ibrahim akan pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. Ia bermohon kepada mamak dan keluarganya untuk diizinkan ikut ke Mekkah. Tetapi mamaknya melarang, sebab umurnya masih kecil dan jalan yang akan dilalui sangat sulit. Tapi melihat keinginan yang demikian besar dan kegigihan Syekh Abbas Abdullah merayu dan memohon mamak serta keluarga, akhirnya Syekh Abbas Abdullah diizinkan berangkat. Tetapi setelah selesai menunaikan ibadah haji, Syekh Abbas Abdullah tidak mau pulang karena ia ingin belajar di Mekkah. Pada mulanya mamaknya melarang, akan tetapi berkat kegigihannya, mamaknya terpaksa memberi izin. Di Mekkah ini kemudian ia belajar kepada banyak guru, salah satunya adalah kepada mufti mazhab Syafii yang juga merupakan putra asli Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawiy.

    Setelah beberapa tahun belajar dibawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abbas Abdullah kemudian pulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa tahun mengabdikan diri dan mengajar di kampung halamannya, Syekh Abbas Abdullah kemudian melanjutkan pendidikannya ke centre ilmu pengetahuan Islam lainnya pada masa itu yaitu ke Mesir. Di Mesir, beliau belajar di Universitas Al-Azhar sebagai pendengar (mustami’). Salah seorang gurunya yang kemudian sering disebutnya adalah Syekh Badwiy, ulama pintar tapi memiliki cacat penglihatan (buta).

    Sementara itu, disamping belajar di Mesir beliau menyempatkan diri pergi belajar ke daerah-daerah lain di Timur Tengah serta Eropa untuk mengadakan komparasi (studi perbandingan) seperti Palestina, Libanon, Syiria, Swiss dan lain-lain. Di Swiss beliau bertemu dengan Mahmud Yunus yang pada waktu itu sedang melakukan kunjungan ke sana. Sewaktu akan kembali ke kampung halamannya kembali, beliau kembali menunaikan ibadah haji ke Mekkah, kemudian beliau terus menuju Mesir untuk mengantarkan putera kakaknya Talut Musthafa dan Nazaruddin Thaha.

    Melihat perjalanan pendidikan Syekh Abbas Abdullah ini, maka dari berbagai institusi pendidikan serta “warna” pendidikan yang dilaluinya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa Mekkah dan Mesir merupakan dua “warna” yang sangat mempengaruhi pemikiran Syekh Abbas Abdullah. Figur Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mesir dan figur pemikiran serta ide-ide Muhammad Abduh di Mesir, menjadi konhtributor terbesar dalam mempengaruhi orientasi pemikiran Syekh Abbas Abdullah dalam pergulatan hidup dan pemikirannya kedepan.

    Melihat masih banyaknya tradisi kultural di Minangkabau, khususnya didaerahnya yang masih banyak terjadi hal-hal yang bersifat bid’ah dan khurafat, maka Syekh Abbas Abdullah mencari format dan strategi yang efektif menanggulangi ini. Untuk itu ia pergi menemui teman-temannya yang dianggapnya bisa memahami keinginannya seperti Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang Batusangkar, Syekh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang dan Syekh Ibrahim Musa di Parabek.

    Bertepatan di waktu itu di Padang Panjang dan Parabek, Syekh Abdul Karim Amrullah dan Syekh Ibrahim Musa sedang mengkoordinir murid-muridnya di bawah suatu organisasi yang diberinya nama Sumatera Thawalib. Sebagai hasil dari kunjungan Syekh Abbas Abdullah menemui teman-temannya itu adalah bergabungnya pelajar-pelajar surau Padang Japang ke dalam Sumatera Thawalib dan sekaligus sekolahnya dinamakan dengan Madrasah Sumatera Thawalib. Dalam institusi pendidikan ini, Syekh Abbas Abdullah membina dan mengembangkan pola pendidikan yang nantinya berguna bagi murid-muridnya untuk menghadapi tantangan lingkungan yang penuh dengan tantangan.

    Diantara pembinaan dan pengembangan yang beliau lakukan adalah mempersiapkan kader-kader muballigh. Kader-kader muballigh ini dilatihnya sekali seminggu yang disebut dengan muhadarah. Murid-murid dilatih bagaimana cara memberikan ilmu yang telah didapat kepada masyarakat. Pada mulanya kegiatan ini terkonsentrasi di sekolah saja, tetapi melihat animo masyarakat yang demikian tinggi, maka beliau mulai mengembangkannya dan membuka diri untuk masyarakat sekitarnya serta tidak hanya terfokus bagi para pelajar saja.

    Diantara pelajar-pelajar yang telah dirasa cakap dan mampu dalam muhadarah ini, barulah diterjunkan ke dalam masyarakat. Mereka inilah yang dibawa oleh Syekh Abbas Abdullah berkeliling dari kampung ke kampung. Di saat para murid-muridnya berdakwah, Syekh Abbas Abdullah sering ikut tapi tidak ikut berdakwah. Beliau baru ikut menerangkan suatu materi ketika ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh para muridnya. Menurut H. Sya’ban Naim, salah seorang muridnya, Syekh Abbas Abdullah tidak biasa berdakwah dan berpidato. Ia tidak memiliki kemampuan maksimal sebagai seorang orator.

    Ide-ide baru yang dikembangkan melalui media dakwah ini ialah merobah cara berfikir masyarakat yang telah terkontaminasi. Pelaksanaannya adalah berpedoman kepada pemikiran Muhammad Abduh yang masuk ke Sumatera Barat melalui majalah-majalah dan buku-buku karangan Muhammad Abduh sendiri seperti Al-Islam Ruhul Madaniyah. Di antara ide-ide Muhammad Abduh yang begitu ditonjolkan pada waktu itu adalah masih terbukanya pintu ijtihad, tetapi ijtihad tersebut tidak boleh dilakukan oleh semua orang, melainkan bagi orang yang telah memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan.

    Masalah yang masuk dalam “wilayah” ijtihad ini tidak mengenai masalah ibadah, akan tetapi mayoritas masalah kemasyarakatan. Kemasuarakatan inilah yang harus disesuaikan dengan kehendak zaman. Dengan sendirinya taqlid kepada ulama tak perlu lagi dipertahankan, tetapi perlu diperangi karena taqlid seperti inilah yang akan membawa ummat Islam berada dalam kemunduran dan tidak dapat maju.

    Sebagai konsekuensi dari ide-ide yang dikemukakan oleh pelajar-pelajar Sumatera Thawalib Padang japang dibawah bimbingan Syekh Abbas Abdullah ini mendapat tantangan dari beberapa kalangan ulama. Kondisi ini menimbulkan perdebatan-perdebatan antara yang mempertahankan dan yang menentang. Di mana-mana diadakan Majelis Tarjih untuk memperbincangkan berbagai masalah-masalah yang muncul sehingga masing-masing kelompok berusaha untuk mempertahankan perspektif mereka. Dalam konteks ini, maka timbullah iklim intelektual yang hidup.

    Syekh Abbas Abdullah dengan pelajar-pelajar asuhannya membentuk suatu majelis tarjih yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Debating Club. Debating Club ini pada mulanya diadakan dalam perkumpulan pelajar-pelajar di bawah bimbingan Syekh Abdullah Abbas saja, satu kali dalam satu minggu. Kemudian, sebagaimana halnya yang juga terjadi pada pelatihan muhadarah, kegiatan Debating Club ini juga menarik perhatian masyarakat. Akhirnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Debating Club ini sering di tempat terbuka dengan mengundang pelajar-pelajar lain seperti dari Tabek Gadang, Mungka dan lain-lain.

    Materi yang diperbincangkan dalam Debating Club ini adalah masalah-masalah yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti masalah riba, judi, ibadat, bank dan lain-lain. Pengikut-pengikutnya terdiri dari guru-guru dan murid-murid dari kelas tertinggi. Sedangkan Syekh Abdullah Abbas sebagai pembina hanya ikut menghadiri dan ikut aktif apabila ada masalah yang sulit dipecahkan atau dicari jalan tengahnya. Hasil dari Debating Club ini kemudian akan disiarkan atau diberitahu kepada masyarakat oleh para muballigh. Hasil yang diperoleh dari tradisi Debating Club ini sangat besar sekali. Terjadi perubahan pola pikir dalam masyarakat. Seorang yang akan berfatwa harus meneliti secara cermat darimana sumbernya. Karena itu, suatu hal tidak lagi diterima secara “membabi buta atau taqlid” dari seseorang begitu saja. Masyarakat tidak disuruh menerima tanpa mengetahui dasar-dasarnya. Dengan demikian, dalam masyarakat, timbul tradisi kritis.

    Sementara itu, cara berfikir ulama-ulama semakin hari semakin maju dan terbuka. Pengembangan ajaran Islam tidak hanya melalui media dakwah (lisan) saja lagi, akan tetapi ditambah dengan media jurnalistik (tulis) yaitu dengan menerbitkan majalah. Majalah Islam yang pertama sekali terbit di Sumatera Barat adalah Al-Munir di bawah pimpinan Syekh Abdullah Ahmad dan H. Marah Muhammad bin Abdul Hamid yang dibantu oleh HAKA, Dahlan Sutan Lembak Tuah, H. Muhammad Thaib Umar dan Sutan Mahmud Salim. Isinya mengupas tentang soal-soal agama yang sulit seperti masalah taqlid kepada satu iman, soal berhimpun di rumah orang kematian pada waktu hari pertama dan ketiga serta seterusnya, soal niat dan membaca usalli, soal berfoto, soal berdiri di waktu barzanji, soal tuah burung ketitiran dan masalah berpuasa dengan hisab dan rukyah. Majalah ini kemudian terhenti terbitnya karena percetakannya terbakar.

    Kemudian pada tahun 1918, majalah Al-Munir diterbitkan kembali di Padang Panjang dengan nama Al-Munir el-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Jamiah Sumatera Thawalib Padang Panjang dua kali dalam satu bulan. Rais Tahrirnya adalah Zainuddin Labay el-Yunusiy, al-Mudirnya H. Syu’ib, Muharrirnya Abdul Hamid dan Annazirnya Basa Bandaro Padang. Pembantu-pembantunya terdiri dari H. Ahmad Khatib, H. Rasyid dan Abdul Madjid Sidi Sutan. Sedangkan pemimpinnya adalah HAKA, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang. Penerbitan majalah ini kemudian diikuti oleh Jami’atul Muzakarah Ikhwan Parabek dengan nama Al-Bayan. Sedangkan Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan pula dengan nama Al-Imam yang dipimpin sendiri oleh Syekh Abbas Abdullah. Nomor pertamanya diterbitkan pada bulan Nopember 1919 M./1338 H. Majalah ini diusahakan oleh pelajar-pelajar Padang Japang dengan biaya dari Syekh Abbas Abdullah. Isinya terutama mengupas tentang masalah agama yang berkaitan dengan pembaharuan pemikiran. Disamping itu juga terdapat ruangan terjemahan dari majalah-majalah Arab seperti Al-Manar dan Al-Ahram dari Mesir.

    Majalah ini disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat, sehingga orang yang jauh dapat bertanya kepada ulama tentang soal agama atau soal lain yang dikeragui. Karena itu, pengembangan pembaharuan pemikiran melalui majalah ini sangat besar pengaruh nya. Dengan cara-cara seperti ini, Syekh Abbas Abdullah telah banyak menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam membentuk dan membina kader-kader ulama yang dapat diterjunkan ke dalam masyarakat untuk memperbaiki pola dan perspektif pemikiran mereka. Perjuangan yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah, akan tetapi membutuhkan kesungguhan, ketabahan, pengorbanan fisik mental finansial dan keuletan. Karena yang diubah bukanlah masalah bentuk luarnya, melainkan adalah adat tradisi yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat kala itu.

    Langkah awal yang dilakukannya adalah terlibat secara langsung dalam pembinaan (ikut mengajar) di surau peninggalan ayahnya yang dipimpin oleh kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah. Usaha yang dilakukannya pertama sekali adalah menukar cara belajar yang waktu itu hanya mementingkan beberapa mata pelajaran saja. Kemudian berusaha memperbaharui beberapa kitab yang dipelajari. Melalui Syekh Abbas Abdullah, sistem pelajaran di surau milik ayahnya ini yang kemudian dirubahnya menjadi Sumatera Thawalib Padang Japang, mulai diperkenalkan kitab-kitab yang dikeluarkan Mesir seperti Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir. Kitab-kitab ini diajarkan pada murid-mirid yang telah berada pada kelas tertinggi yaitu kelas VI dan kelas VII. Di samping itu, beliau juga mengajarkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah kepada murid-murid tertentu.

    Kitab-kitab yang beliau ajarkan ini sangat disukai oleh pelajar-pelajar yang berfikiran maju. Kitab Bidayatul Mujtahid tidak memihak pada salah satu mazhab, sangat sesuai dengan pemikiran yang suka berijtihad. Tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir yang uraiannya sesuai dengan rasio, cocok pula dengan perkem-bangan zaman. Sedangkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah disukai pula karena dapat menimbulkan kesadaran dan semangat juang ummat Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Disamping itu, ilmu matiq mulai diajarkan pada murid-murid kelas lima ke atas. Ilmu ini sangat berguna dalam melatih menegakkan pendapat dalam berdiskusi. Sejalan dengan diajarkannya ilmu matiq, maka cara belajar pun mulai berobah. Kalau sebelumnya murid belajar secara pasif, maka sekarang para murid diminta untuk aktif. Seorang murid ditunjuk untuk membaca, kemudian yang lainnya diminta untuk membandingkan bila ada yang salah.

    Di samping perubahan materi dan cara belajar ini, cara menuntut pelajaran juga berubah. Pada masa sebelumnya seseorang yang pergi menuntut ilmu terlebih dahulu harus pergi mencari “induk semang”. Bila tidak dapat induk semang, maka pergi meminta-minta tiap hari kamis ke kampung-kampung. Tradisi ini mulai dilarang oleh Syekh Abbas Abdullah karena menurut beliau meminta-minta bertentangan dengan ajaran Islam dan merendahkan derajat serta ilmu seseorang. Dengan demikian, seorang murid membawa perbekalan yang cukup dari kampung halaman mereka masing-masing. Bagi yang kurang mampu, dicarikan pekerjaan pada sore harinya. Untuk meninggikan pandangan masyarakat terhadap pelajar-pelajar, maka Syekh Abbas Abdullah mulai mengatur cara berpakaian. Kalau pada masa dulu seorang pelajar mirip dengan “labai”, maka oleh Syekh Abbas Abdullah, para murid disuruh berpakaian bersih dan rapi, memakai alas kaki dan rambut dipotong tetapi tidak dicukur habis. Melihat perkembangan Sumatera Thawalib Padang Japang yang demikian, membuat masyarakat banyak yang tertarik untuk belajar. Sehingga berdatanganlah murid-muridnya dari berbagai pelosok daerah seperti dari Tapanuli, Bangkinang, Bengkulu, Jambi dan lain-lain. Murid-murid periode inilah yang menentukan perkembangan pendidikan agama pada masa selanjutnya seperti Nasharuddin Thaha, Zainuddin Hamidy dan lain-lain. Sekembalinya dari menuntut ilmu ke Mesir, Syekh Abbas Abdullah langsung mencurahkan tenaga dan fikiran sepenuhnya pada perguruan Sumatera Thawalib Padang Japang. Diadakannya perbaikan dalam sistem pengajaran dan peralatan dengan menerapkan apa yang dilihatnya di Universitas Al-Azhar. Sekolah dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Ibtidaiyah dengan lama belajar selama empat tahun dan Tsanawiyah dengan lama belajar selama empat tahun. Sementara itu, pada tahun 1928, pengetahuan umum seperti ilmu bumi, sejarah, tata negara, biologi dan bahasa asing mulai di perkenalkan.

    Dalam pada itu, organisasi Sumatera Thawalib yang telah berusaha menyatukan pelajar-pelajar Madrasah Sumatera Thawalib yang ada, mengadakan rapat di Bukittinggi. Di antara isi rapat tersebut adalah meninjau kembali kemungkinan dimasukkannya mata pelajaran praktis seperti mata pelajaran pertanian, pertukangan dan perdagangan. Rapat ini tidak berjalan mulus karena sebagian peserta menarik diri. Tambahan lagi, suasana politik sudah mulai masuk kedalam Sumatera Thawalib yang mengakibatkan organisasi ini berubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Syekh Abbas Abdullah selaku orang yang telah banyak merasakan asam garam kehidupan ini, telah mengetahui hal ini. Beliau kemudian berkata : “kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur, boleh berpolitik tapi jangan di sekolah”. Karena itu, ia menarik sekolahnya dari keanggotaan Sumatera Thawalib dan kemudian menukar nama madrasahnya menjadi Darul Funun el-Abasiyah.

    Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah adalah memperbaharui bangunan gedung tempat belajar. Hal ini dilakukan karena pada masa sebelumnya pelajar-pelajar Padang Japang hanya belajar di surau. Untuk itu, Syekh Abbas Abdullah mewakafkan sebagian tanahnya dan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Tahun 1928, keinginan kemudian terealisasi. Pada tahun 1927, Muhammadiyah mulai masuk ke Padang Japang. Salah satu kegiatannya adalah mendidik pemuda berorganisasi melalui organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Terinspirasi dengan organisasi Hizbul Wathan ini, maka banyak institusi pendidikan Islam pada masa itu mendirikan organisasi seperti Hizbul Wathan tersebut. Sumatera Thawalib Parabek dengan Ansharullah-nya, Thawalib Padang Panjang dengan Al-Hilal-nya dan Darul Funun el-Abasiyah Padang Japang dengan kepanduan Al-Kasyaf-nya. Dengan berdirinya Al-Kasyaf ini, maka bidang pelajaran keterampilan mendapat perhatian yang besar pula di madrasah tersebut. Sehingga madrasah Padang Japang ini betul-betul termasuk institusi pendidikan Islam yang maju waktu itu.

    Sekitar tahun 1934, kemajuan madrasah ini mulai goncang karena pemerintah kolonial Belanda mulai mencurigai madrasah-madrasah di Indonesia, terutama di Sumatera Barat, yang mempelajari materi yang memiliki potensi untuk menumbuhkan perasaan nasionalisme kebangsaan. Penggeledahan mulai dilakukan, tidak terkecuali Darul Funun. Hal ini membuat kegiatan pendidikan berhenti untuk sementara waktu, walaupun akhirnya kemudian dilanjutkan lagi. Pada tahun 1942, konstelasi sosial politik Indonesia berubah. Menyikapi perubahan sosial politik yang terjadi, berbagai madrasah di Sumatera Barat membentuk berbagai lasykar pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah air. Madrasah Darul Funun Padang Jabang oleh Syekh Abbas Abdullah dibentuk lasykar Sabilillah dibawah pimpinan Saaduddin Syarbaini. Setelah Indonesia merdeka, sebahagian dari anggota lasykar ini ada yang aktif dan menjadi anggota militer, seperti anaknya sendiri, Kapten Azhari, dan lain-lain.

    Secara ideologis, Syekh Abbas Abdullah telah membentuk rasa kebangsaan para anak didiknyua. Dengan dirubahnya kurikulum Sumatera Thawalib Padang Japang yang memberikan porsi pembelajaran mengenai tata negara dan sejarah yang secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kebangsaan, membuat pemerintah kolonial Belanda menaruh curiga terhadap institusi pendidikan Islam seperti Sumatera Thawalib Padang Japang ini. Ketika Syekh Abbas Abdullah mulai berkiprah dalam dunia kemasyarakatan dan pendidikan di kampung halamannya, pengaruh komunis mulai merambah Sumatera Barat, tidak terkecuali di institusi pendidikan yang dipimpinnya. Pelajar-pelajar Sumatera Thawalib banyak yang apresiatif terhadap komunis dan berkeinginan untuk memasukinya. Oleh Syekh Abbas Abdullah hal ini ditentangnya habis-habisan dengan mengatakan bahwa komunis merupakan ideologi yang berseberangan secara total dengan ajaran agama Islam, terutama yang menyangkut ajaran mereka mengenai anti Tuhan. Dengan demikian, Syekh Abbas Abdullah memiliki kontribusi yang besar dalam mengantisipasi pernyebaran ajaran komunis, terutama dalam masyarakatnya dan para pelajarnya.

    Kedatangan Jepang ke Sumatera Barat, kolonial Jepang berusaha mendekati para ulama. Sementara itu, para ulama memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengorganisir diri dalam suatu badan yang bernama Majelis Islam Tinggi (MIT) dibawah pimpinan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. MIT secara umum bertujuan untuk memperkokoh keimanan dan menolak secara tegas tradisi Seikere (menyembah atau membungkukkan badan menghadap Tokyo). Ketika Jepang terdesak, Jepang berusaha untuk menarik pemuda-pemuda ikut perang membela Jepang. Akan tetapi, umumnya para pemuda tersebut tidak begitu tertarik. Yeno Kenzo, Residen Jepang di Sumatera Barat berusaha mengumpulkan sejumlah pemuka agama, adat dan cerdik pandai dalam rangka membentuk badan lain yang bernama Gyu Gun Ko En Kai yang merupakan bagian dari Hoko Kai. Rasionalisasinya adalah bahwa badan yang dibentuk ini merupakan tentara rakyat dan akan berdampingan membela tanah air dengan Jepang. Keinginan inipun disosialisasikan kepada masyarakat. Ketika kabar ini sampai ke Padang Japang, banyak para pemuda yang ragu-ragu, kemudian mereka pergi menemui Syekh Abbas Abdullah yang waktu itu merupakan salah seorang anggota MIT untuk minta pendapat. Syekh Abbas Abdullah kemudian mengatakan : “Kalah politik Jepang oleh Belanda. Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya”. Perkataan Syekh Abbas Abdullah ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat dan murid-muridnya. Sehingga banyak dari masyarakat yang memasuki Gyu Gun, diantara Azhari, anak beliau sendiri. Ketika Indonesia merdeka, dan untuk mensikapi hal ini, maka pada bulan Desember 1945, MIT sebagai badan yang memiliki pengaruh besar di Sumatera Barat mengadakan kongres di Bukittinggi pada bulan Desember 1945. Hadir dalam kongres tersebut para ulama dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Hasil kongres tersebut menghasilkan semboyan revolusioner yang berbunyi : “Siapa-siapa yang tewas dalam memperjuangkan kemerdekaan dewasa ini adalah mati syahid dunia dan akhirat”. Di samping itu kongres tersebut juga membentuk tiga panitia yakni panitia fatwa, panitia barisan Sabilillah dan panitia politik.

    (c) Tim Peneliti FIBA IAIN Padang (Muhammad Ilham)
    Redaksi

  • Syekh Abbas Abdullah (wafat : 1376 H / 1957M)

    Syekh Abbas Abdullah (wafat : 1376 H / 1957M)

    Sumber: 100 Riwayat Hidup Ulama Minangkabau, Pemda Sumbar

    Syekh Abbas Abdullah dilahirkan di nagari yang bernama Padang Japang, sebuah nagari di kenagarian kecamatan Guguk Kabupaten 50 Kota sekarang ini. Dalam bidang pendidikan, nagari ini adalah nagari yang termasuk paling dahulu mempunyai tradisi edukasi dibandingkan daerah lain pada masanya. Hal ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya di daerah ini dua buah institusi pendidikan Islam yang termasuk tertua di Sumatera Barat yaitu surau Syekh Abdullah, ayah dari Syekh Abbas. Kemudian yang satu lagi, surau Syekh Muhammad Shaleh, ayah dari Syekh Abdul Wahid. Surau Syekh Abdullah didirikan di Padang Japang pada tahun 1854, tidak lama setelah berakhirnya Perang Paderi. Sedangkan surau Syekh Muhammad Shaleh pada mulanya didirikan di Padang Kandis, kemudian dipindahkan ke Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Kedua institusi pendidikan (baca: tradisional) Islam ini telah banyak melahirkan cerdik pandai dan tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat dan di luar Sumatera Barat.

    Syekh Abbas Abdullah secara genealogis berasal dari kalangan ulama. Dalam dirinya terdapat “darah biru” ulama-ulama terkemuka di daerahnya pada zaman mereka masing-masing. Dari pihak ayahnya terdapat tiga orang Syekh yaitu Syekh Muhammad Shaleh (Syekh Munggu), Syekh Abdul Wahid dan ayah Syekh Abbas Abdullah sendiri yakni Syekh Abdullah. Syekh Muhammad Shaleh hidup dipertengahan abad ke-19 Masehi yang berasal dari suku Tanjung nagari Padang Kandis. Beliau adalah ulama tasawuf yang menganut aliran tarekat naqsyabandiah. Tarekat ini dipelajarinya langsung dari Mekkah. Ia merupakan kemenakan persukuan ayah Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan Syekh Abdullah Wahid Shaleh adalah anak dari Syekh Muhammad Shaleh. Tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tetapi tahun wafatnya diperkirakan pada tahun 1369 H. Beliau mendapat pendidikan pada mulanya dari ayahnya Syekh Muhammad Shaleh, setelah itu dengan Syekh Muhammad Saad Mungka, kemudian melanjutkan kepada Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang. Setelah menamatkan pelajarannya dengan Syekh Muhammad Thaib Umar, ia membuka pesantren di Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Di waktu menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau berkesempatan tinggal di sana untuk belajar dengan Syekh Said Yamany dan Syekh Said al-Malikiy. Setelah kembali ke kampung halamannya, beliau langsung mengajar di tempat semula dan menggabungkannya dengan sekolah yang sealiran yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) pada tahun 1928.

    Syekh Abdullah adalah ayah Syekh Abbas Abdullah. Dilahirkan di Padang Japang pada tahun 1830. Bapaknya merupakan mamak (paman) dari ayah Syekh Muhammad Shaleh. Waktu Syekh Abdullah lahir, situasi sosial politik Minangkabau pada waktu itu sedang hangat-hangatnya Perang Paderi. Ia merupakan murid tertua dari Syekh Taram (Beliau surau Durian) dan dari Syekh Kumai serta Tuanku Gadut yang semuanya merupakan ulama-ulama besar Minangkabau pada masanya. Setelah menamatkan pelajarannya, langsung membuka pesantren di Padang Japang pada tahun 1854. Tidak lama setelah itu, beliau pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada tahun 1857, beliau kembali ke kampung halamannya dan mengajar kembali di sekolah semula. Diantara murid-muridnya yang kemudian dikenal sebagai ulama terkemuka di daerah mereka masing-masing antara lain adalah Engku Mudo Karuang Sicincin, Engku Sutan Air Tabit, Engku Capuak Air Tiris dan Engku Lima Puluh di Malalo.

    Ibu Syekh Abbas Abdullah bernama Seko yang berasal dari nagari Padang Japang. Ibunya bukan berasal dari kalangan ulama, akan tetapi berasal dari keluarga hartawan yang taat beragama. Syekh Abbas Abdullah bersaudara enam orang dari satu ayah dengan tiga orang ibu. Yang tertua bernama Syekh Muhammad Shalih, yang kedua Syekh Mustafa Abdullah dan merupakan saudara seayah seibu Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan dari ibunya yang lain terdapat saudaranya yang lain yaitu Syekh Muhammad Said, Sa’adah dan Sa’adud. Dari enam orang tersebut, empat orang menjadi ulama. Dengan memiliki latar belakang keluarga seperti yang diterangkan diatas, telah membuka jalan yang sangat luas bagi Syekh Abbas Abdullah untuk menjadi ulama besar. Apalagi sejak kecil, beliau memang dikondisikan oleh ayahnya untuk kelak menjadi seorang ulama.

    Sebagaimana halnya ulama pada masanya, Syekh Abbas Abdullah juga merupakan “orang jemputan”. Istri beliau berjumlah tujuh orang yaitu Kalimah, Lian, Tobik, Soviah, Saliah, Rohana dan seorang lagi di Batuhampar (tidak diketahui namanya). Dari ketujuh orang istrinya tersebut, Syekh Abbas Abdullah dikaruniai 15 orang anak yang diberinya nama Sofia, Zuraidah, Abdul Muis, Fauzi, Naimah, Azhariah, Damsakti, Azhari, Nuraini, Zahriah, Firman, Ismet, Faruq, Farid dan Adliah. Pada umumnya mereka dididik disekolah Syekh Abbas Abdullah kecuali tiga orang yaitu Azhari, Faruq dan Firman. Diantara anaknya yang cukup berhasil dan mengikuti jejak beliau menjadi ulama adalah H. Fauzi Abbas yang melanjutkan memimpin sekolah Darul Funun. Syekh Abbas wafat pada tanggal 17 Juni 1957.

    Syekh Abbas Abdullah mulai masuk sekolah pada umur tujuh tahun. Waktu itu, pendidikan dan institusi pendidikan merupakan sesuatu yang langka dan elitis, baik untuk daerah Padang Japang maupun daerah-daerah lain di Sumatera Barat pada umumnya. Hal ini disebabkan karena pemerintah kolonial Belanda tidak begitu memperhatikan kebutuhan pendidikan rakyat. Sekolah yang ada hanyalah Kweekschool di Bukittinggi dan beberapa sekolah Gubernemen kelas II. Maka kondisi yang minim ini, pendidikan surau merupakan alternatif yang terbaik ketika itu. Di daerah 50 Kota pada masa Syekh Abbas Abdullah ini tidak begitu banyak terdapat institusi pendidikan surau yang cukup baik, diantaranya surau yang terdapat di Batuhampar, Canduang, Sicincin, Mungka, Padang Panjang, Padang Japang dan Pandam Garang Suliki. Oleh ayahnya, Syekh Abbas Abdullah dimasukkan ayahnya ke surau Pandam Garang. Walaupun ayahnya merupakan seorang ulama dan memiliki surau sendiri, namun Syekh Abbas Abdullah bukan belajar di surau yang dipimpin ayahnya tersebut. Hal ini disebabkan karena tuntutan adat istiadat Minangkabau yang berlaku pada waktu itu dimana anak-anak yang telah berumur tujuh tahun ke atas tidak baik tidur bersama dengan keluarganya lagi.

    Waktu belajar di Pandan Gadang ini, Syekh Abbas Abdullah termasuk anak yang cerdas dan keras hati dalam mendapatkan pelajaran. Dari gurunya di Pandam Gadang inilah ia mendapat “mutiara kata” yang kelak menentukan jalan hidupnya. Isi mutiara kata tersebut adalah “kalau kamu ingin menjadi orang yang pintar dan berguna nanti, maka pergilah belajar ke negeri Mekkah”. Perkataan inilah yang mendorongnya untuk pergi ke Mekkah selagi umurnya belum pantas menunaikan ibadah haji. Setelah enam tahun belajar di Pandam Gadang, keinginannya untuk pergi ke Mekkah semakin menggebu-gebu. Pada tahun 1896, satu kesempatan berharga terbuka baginya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Pada waktu itu, mamaknya, Ibrahim akan pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. Ia bermohon kepada mamak dan keluarganya untuk diizinkan ikut ke Mekkah. Tetapi mamaknya melarang, sebab umurnya masih kecil dan jalan yang akan dilalui sangat sulit. Tapi melihat keinginan yang demikian besar dan kegigihan Syekh Abbas Abdullah merayu dan memohon mamak serta keluarga, akhirnya Syekh Abbas Abdullah diizinkan berangkat. Tetapi setelah selesai menunaikan ibadah haji, Syekh Abbas Abdullah tidak mau pulang karena ia ingin belajar di Mekkah. Pada mulanya mamaknya melarang, akan tetapi berkat kegigihannya, mamaknya terpaksa memberi izin. Di Mekkah ini kemudian ia belajar kepada mufti mazhab Syafii yang juga merupakan putra asli Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawiy.

    Setelah beberapa tahun belajar dibawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abbas Abdullah kemudian npulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa tahun mengabdikan diri dan mengajar di kampung halamannya, Syekh Abbas Abdullah kemudian melanjutkan pendidikannya ke centre ilmu pengetahuan Islam lainnya pada masa itu yaitu ke Mesir. Di Mesir, beliau belajar di Universitas Al-Azhar sebagai pendengar (mustami’). Salah seorang gurunya yang kemudian sering disebutnya adalah Syekh Badwiy, ulama pintar tapi memiliki cacat penglihatan (buta). Sementara itu, disamping belajar di Mesir beliau menyempatkan diri pergi belajar ke daerah-daerah lain di Timur Tengah serta Eropa untuk mengadakan komparasi (studi perbandingan) seperti Palestina, Libanon, Syiria, Swiss dan lain-lain. Di Swiss beliau bertemu dengan Mahmud Yunus yang pada waktu itu sedang melakukan kunjungan ke sana. Sewaktu akan kembali ke kampung halamannya kembali, beliau kembali menunaikan ibadah haji ke Mekkah, kemudian beliau terus menuju Mesir untuk mengantarkan putera kakaknya Talut Musthafa dan Nazaruddin Thaha. Melihat perjalanan pendidikan Syekh Abbas Abdullah ini, maka dari berbagai institusi pendidikan serta “warna” pendidikan yang dilaluinya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa Mekkah dan Mesir merupakan dua “warna” yang sangat mempengaruhi pemikiran Syekh Abbas Abdullah. Figur Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Mesir dan figur pemikiran serta ide-ide Muhammad Abduh di Mesir, menjadi konhtributor terbesar dalam mempengaruhi orientasi pemikiran Syekh Abbas Abdullah dalam pergulatan hidup dan pemikirannya kedepan.
    Melihat masih banyaknya tradisi kultural di Minangkabau, khususnya didaerahnya yang masih banyak terjadi hal-hal yang bersifat bid’ah dan khurafat, maka Syekh Abbas Abdullah mencari format dan strategi yang efektif menanggulangi ini. Untuk itu ia pergi menemui teman-temannya yang dianggapnya bisa memahami keinginannya seperti Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang Batusangkar, Syekh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang dan Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Bertepatan di waktu itu di Padang Panjang dan Parabek, Syekh Abdul Karim Amrullah dan Syekh Ibrahim Musa sedang mengkoordinir murid-muridnya di bawah suatu organisasi yang diberinya nama Sumatera Thawalib. Sebagai hasil dari kunjungan Syekh Abbas Abdullah menemui teman-temannya itu adalah bergabungnya pelajar-pelajar surau Padang Japang ke dalam Sumatera Thawalib dan sekaligus sekolahnya dinamakan dengan Madrasah Sumatera Thawalib. Dalam institusi pendidikan ini, Syekh Abbas Abdullah membina dan mengembangkan pola pendidikan yang nantinya berguna bagi murid-muridnya untuk menghadapi tantangan lingkungan yang penuh dengan tantangan.

    Diantara pembinaan dan pengembangan yang beliau lakukan adalah mempersiapkan kader-kader muballigh. Kader-kader muballigh ini dilatihnya sekali seminggu yang disebut dengan muhadarah. Murid-murid dilatih bagaimana cara memberikan ilmu yang telah didapat kepada masyarakat. Pada mulanya kegiatan ini terkonsentrasi di sekolah saja, tetapi melihat animo masyarakat yang demikian tinggi, maka beliau mulai mengembangkannya dan membuka diri untuk masyarakat sekitarnya serta tidak hanya terfokus bagi para pelajar saja. Diantara pelajar-pelajar yang telah dirasa cakap dan mampu dalam muhadarah ini, barulah diterjunkan ke dalam masyarakat. Mereka inilah yang dibawa oleh Syekh Abbas Abdullah berkeliling dari kampung ke kampung. Di saat para murid-muridnya berdakwah, Syekh Abbas Abdullah sering ikut tapi tidak ikut berdakwah. Beliau baru ikut menerangkan suatu materi ketika ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh para muridnya. Menurut H. Sya’ban Naim, salah seorang muridnya, Syekh Abbas Abdullah tidak biasa berdakwah dan berpidato. Ia tidak memiliki kemampuan maksimal sebagai seorang orator.

    Ide-ide baru yang dikembangkan melalui media dakwah ini ialah merobah cara berfikir masyarakat yang telah terkontaminasi. Pelaksanaannya adalah berpedoman kepada pemikiran Muhammad Abduh yang masuk ke Sumatera Barat melalui majalah-majalah dan buku-buku karangan Muhammad Abduh sendiri seperti Al-Islam Ruhul Madaniyah. Di antara ide-ide Muhammad Abduh yang begitu ditonjolkan pada waktu itu adalah masih terbukanya pintu ijtihad, tetapi ijtihad tersebut tidak boleh dilakukan oleh semua orang, melainkan bagi orang yang telah memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan. Masalah yang masuk dalam “wilayah” ijtihad ini tidak mengenai masalah ibadah, akan tetapi mayoritas masalah kemasyarakatan. Kemasuarakatan inilah yang harus disesuaikan dengan kehendak zaman. Dengan sendirinya taqlid kepada ulama tak perlu lagi dipertahankan, tetapi perlu diperangi karena taqlid seperti inilah yang akan membawa ummat Islam berada dalam kemunduran dan tidak dapat maju.

    Sebagai konsekuensi dari ide-ide yang dikemukakan oleh pelajar-pelajar Sumatera Thawalib Padang japang dibawah bimbingan Syekh Abbas Abdullah ini mendapat tantangan dari beberapa kalangan ulama. Kondisi ini menimbulkan perdebatan-perdebatan antara yang mempertahankan dan yang menentang. Di mana-mana diadakan Majelis Tarjih untuk memperbincangkan berbagai masalah-masalah yang muncul sehingga masing-masing kelompok berusaha untuk mempertahankan perspektif mereka. Dalam konteks ini, maka timbullah iklim intelektual yang hidup. Syekh Abbas Abdullah dengan pelajar-pelajar asuhannya membentuk suatu majelis tarjih yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Debating Club. Debating Club ini pada mulanya diadakan dalam perkumpulan pelajar-pelajar di bawah bimbingan Syekh Abdullah Abbas saja, satu kali dalam satu minggu. Kemudian, sebagaimana halnya yang juga terjadi pada pelatihan muhadarah, kegiatan Debating Club ini juga menarik perhatian masyarakat. Akhirnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Debating Club ini sering di tempat terbuka dengan mengundang pelajar-pelajar lain seperti dari Tabek Gadang, Mungka dan lain-lain.

    Materi yang diperbincangkan dalam Debating Club ini adalah masalah-masalah yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti masalah riba, judi, ibadat, bank dan lain-lain. Pengikut-pengikutnya terdiri dari guru-guru dan murid-murid dari kelas tertinggi. Sedangkan Syekh Abdullah Abbas sebagai pembina hanya ikut menghadiri dan ikut aktif apabila ada masalah yang sulit dipecahkan atau dicari jalan tengahnya. Hasil dari Debating Club ini kemudian akan disiarkan atau diberitahu kepada masyarakat oleh para muballigh. Hasil yang diperoleh dari tradisi Debating Club ini sangat besar sekali. Terjadi perubahan pola pikir dalam masyarakat. Seorang yang akan berfatwa harus meneliti secara cermat darimana sumbernya. Karena itu, suatu hal tidak lagi diterima secara “membabi buta atau taqlid” dari seseorang begitu saja. Masyarakat tidak disuruh menerima tanpa mengetahui dasar-dasarnya. Dengan demikian, dalam masyarakat, timbul tradisi kritis.

    Sementara itu, cara berfikir ulama-ulama semakin hari semakin maju dan terbuka. Pengembangan ajaran Islam tidak hanya melalui media dakwah (lisan) saja lagi, akan tetapi ditambah dengan media jurnalistik (tulis) yaitu dengan menerbitkan majalah. Majalah Islam yang pertama sekali terbit di Sumatera Barat adalah Al-Munir di bawah pimpinan Syekh Abdullah Ahmad dan H. Marah Muhammad bin Abdul Hamid yang dibantu oleh HAKA, Dahlan Sutan Lembak Tuah, H. Muhammad Thaib Umar dan Sutan Mahmud Salim. Isinya mengupas tentang soal-soal agama yang sulit seperti masalah taqlid kepada satu iman, soal berhimpun di rumah orang kematian pada waktu hari pertama dan ketiga serta seterusnya, soal niat dan membaca usalli, soal berfoto, soal berdiri di waktu barzanji, soal tuah burung ketitiran dan masalah berpuasa dengan hisab dan rukyah. Majalah ini kemudian terhenti terbitnya karena percetakannya terbakar.
    Kemudian pada tahun 1918, majalah Al-Munir diterbitkan kembali di Padang Panjang dengan nama Al-Munir el-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Jamiah Sumatera Thawalib Padang Panjang dua kali dalam satu bulan. Rais Tahrirnya adalah Zainuddin Labay el-Yunusiy, al-Mudirnya H. Syu’ib, Muharrirnya Abdul Hamid dan Annazirnya Basa Bandaro Padang. Pembantu-pembantunya terdiri dari H. Ahmad Khatib, H. Rasyid dan Abdul Madjid Sidi Sutan. Sedangkan pemimpinnya adalah HAKA, Syekh Muhammad Djamil Djambek, H. Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang. Penerbitan majalah ini kemudian diikuti oleh Jami’atul Muzakarah Ikhwan Parabek dengan nama Al-Bayan. Sedangkan Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan pula dengan nama Al-Imam yang dipimpin sendiri oleh Syekh Abbas Abdullah. Nomor pertamanya diterbitkan pada bulan Nopember 1919 M./1338 H. Majalah ini diusahakan oleh pelajar-pelajar Padang Japang dengan biaya dari Syekh Abbas Abdullah. Isinya terutama mengupas tentang masalah agama yang berkaitan dengan pembaharuan pemikiran. Disamping itu juga terdapat ruangan terjemahan dari majalah-majalah Arab seperti Al-Manar dan Al-Ahram dari Mesir.

    Majalah ini disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat, sehingga orang yang jauh dapat bertanya kepada ulama tentang soal agama atau soal lain yang dikeragui. Karena itu, pengembangan pembaharuan pemikiran melalui majalah ini sangat besar pengaruh nya. Dengan cara-cara seperti ini, Syekh Abbas Abdullah telah banyak menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam membentuk dan membina kader-kader ulama yang dapat diterjunkan ke dalam masyarakat untuk memperbaiki pola dan perspektif pemikiran mereka. Perjuangan yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah, akan tetapi membutuhkan kesungguhan, ketabahan, pengorbanan fisik mental finansial dan keuletan. Karena yang diubah bukanlah masalah bentuk luarnya, melainkan adalah adat tradisi yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat kala itu.

    Langkah awal yang dilakukannya adalah terlibat secara langsung dalam pembinaan (ikut mengajar) di surau peninggalan ayahnya yang dipimpin oleh kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah. Usaha yang dilakukannya pertama sekali adalah menukar cara belajar yang waktu itu hanya mementingkan beberapa mata pelajaran saja. Kemudian berusaha memperbaharui beberapa kitab yang dipelajari. Melalui Syekh Abbas Abdullah, sistem pelajaran di surau milik ayahnya ini yang kemudian dirubahnya menjadi Sumatera Thawalib Padang Japang, mulai diperkenalkan kitab-kitab yang dikeluarkan Mesir seperti Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd, tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir. Kitab-kitab ini diajarkan pada murid-mirid yang telah berada pada kelas tertinggi yaitu kelas VI dan kelas VII. Di samping itu, beliau juga mengajarkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah kepada murid-murid tertentu.

    Kitab-kitab yang beliau ajarkan ini sangat disukai oleh pelajar-pelajar yang berfikiran maju. Kitab Bidayatul Mujtahid tidak memihak pada salah satu mazhab, sangat sesuai dengan pemikiran yang suka berijtihad. Tafsir Muhammad Abduh dan tafsir Al-Jawahir yang uraiannya sesuai dengan rasio, cocok pula dengan perkem-bangan zaman. Sedangkan kitab Al-Islam wal Ulumul Ashriyah disukai pula karena dapat menimbulkan kesadaran dan semangat juang ummat Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Disamping itu, ilmu matiq mulai diajarkan pada murid-murid kelas lima ke atas. Ilmu ini sangat berguna dalam melatih menegakkan pendapat dalam berdiskusi. Sejalan dengan diajarkannya ilmu matiq, maka cara belajar pun mulai berobah. Kalau sebelumnya murid belajar secara pasif, maka sekarang para murid diminta untuk aktif. Seorang murid ditunjuk untuk membaca, kemudian yang lainnya diminta untuk membandingkan bila ada yang salah.

    Di samping perubahan materi dan cara belajar ini, cara menuntut pelajaran juga berubah. Pada masa sebelumnya seseorang yang pergi menuntut ilmu terlebih dahulu harus pergi mencari “induk semang”. Bila tidak dapat induk semang, maka pergi meminta-minta tiap hari kamis ke kampung-kampung. Tradisi ini mulai dilarang oleh Syekh Abbas Abdullah karena menurut beliau meminta-minta bertentangan dengan ajaran Islam dan merendahkan derajat serta ilmu seseorang. Dengan demikian, seorang murid membawa perbekalan yang cukup dari kampung halaman mereka masing-masing. Bagi yang kurang mampu, dicarikan pekerjaan pada sore harinya. Untuk meninggikan pandangan masyarakat terhadap pelajar-pelajar, maka Syekh Abbas Abdullah mulai mengatur cara berpakaian. Kalau pada masa dulu seorang pelajar mirip dengan “labai”, maka oleh Syekh Abbas Abdullah, para murid disuruh berpakaian bersih dan rapi, memakai alas kaki dan rambut dipotong tetapi tidak dicukur habis. Melihat perkembangan Sumatera Thawalib Padang Japang yang demikian, membuat masyarakat banyak yang tertarik untuk belajar. Sehingga berdatanganlah murid-muridnya dari berbagai pelosok daerah seperti dari Tapanuli, Bangkinang, Bengkulu, Jambi dan lain-lain. Murid-murid periode inilah yang menentukan perkembangan pendidikan agama pada masa selanjutnya seperti Nasharuddin Thaha, Zainuddin Hamidy dan lain-lain.

    Sekembalinya dari menuntut ilmu ke Mesir, Syekh Abbas Abdullah langsung mencurahkan tenaga dan fikiran sepenuhnya pada perguruan Sumatera Thawalib Padang Japang. Diadakannya perbaikan dalam sistem pengajaran dan peralatan dengan menerapkan apa yang dilihatnya di Universitas Al-Azhar. Sekolah dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian Ibtidaiyah dengan lama belajar selama empat tahun dan Tsanawiyah dengan lama belajar selama empat tahun. Sementara itu, pada tahun 1928, pengetahuan umum seperti ilmu bumi, sejarah, tata negara, biologi dan bahasa asing mulai di perkenalkan.

    Dalam pada itu, organisasi Sumatera Thawalib yang telah berusaha menyatukan pelajar-pelajar Madrasah Sumatera Thawalib yang ada, mengadakan rapat di Bukittinggi. Di antara isi rapat tersebut adalah meninjau kembali kemungkinan dimasukkannya mata pelajaran praktis seperti mata pelajaran pertanian, pertukangan dan perdagangan. Rapat ini tidak berjalan mulus karena sebagian peserta menarik diri. Tambahan lagi, suasana politik sudah mulai masuk kedalam Sumatera Thawalib yang mengakibatkan organisasi ini berubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Syekh Abbas Abdullah selaku orang yang telah banyak merasakan asam garam kehidupan ini, telah mengetahui hal ini. Beliau kemudian berkata : “kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur, boleh berpolitik tapi jangan di sekolah”. Karena itu, ia menarik sekolahnya dari keanggotaan Sumatera Thawalib dan kemudian menukar nama madrasahnya menjadi Darul Funun el-Abasiyah.

    Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah adalah memperbaharui bangunan gedung tempat belajar. Hal ini dilakukan karena pada masa sebelumnya pelajar-pelajar Padang Japang hanya belajar di surau. Untuk itu, Syekh Abbas Abdullah mewakafkan sebagian tanahnya dan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Tahun 1928, keinginan kemudian terealisasi. Pada tahun 1927, Muhammadiyah mulai masuk ke Padang Japang. Salah satu kegiatannya adalah mendidik pemuda berorganisasi melalui organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Terinspirasi dengan organisasi Hizbul Wathan ini, maka banyak institusi pendidikan Islam pada masa itu mendirikan organisasi seperti Hizbul Wathan tersebut. Sumatera Thawalib Parabek dengan Ansharullah-nya, Thawalib Padang Panjang dengan Al-Hilal-nya dan Darul Funun el-Abasiyah Padang Japang dengan kepanduan Al-Kasyaf-nya. Dengan berdirinya Al-Kasyaf ini, maka bidang pelajaran keterampilan mendapat perhatian yang besar pula di madrasah tersebut. Sehingga madrasah Padang Japang ini betul-betul termasuk institusi pendidikan Islam yang maju waktu itu.

    Sekitar tahun 1934, kemajuan madrasah ini mulai goncang karena pemerintah kolonial Belanda mulai mencurigai madrasah-madrasah di Indonesia, terutama di Sumatera Barat, yang mempelajari materi yang memiliki potensi untuk menumbuhkan perasaan nasionalisme kebangsaan. Penggeledahan mulai dilakukan, tidak terkecuali Darul Funun. Hal ini membuat kegiatan pendidikan berhenti untuk sementara waktu, walaupun akhirnya kemudian dilanjutkan lagi. Pada tahun 1942, konstelasi sosial politik Indonesia berubah. Menyikapi perubahan sosial politik yang terjadi, berbagai madrasah di Sumatera Barat membentuk berbagai lasykar pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah air. Madrasah Darul Funun Padang Jabang oleh Syekh Abbas Abdullah dibentuk lasykar Sabilillah dibawah pimpinan Saaduddin Syarbaini. Setelah Indonesia merdeka, sebahagian dari anggota lasykar ini ada yang aktif dan menjadi anggota militer, seperti anaknya sendiri, Kapten Azhari, dan lain-lain.

    Secara ideologis, Syekh Abbas Abdullah telah membentuk rasa kebangsaan para anak didiknyua. Dengan dirubahnya kurikulum Sumatera Thawalib Padang Japang yang memberikan porsi pembelajaran mengenai tata negara dan sejarah yang secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kebangsaan, membuat pemerintah kolonial Belanda menaruh curiga terhadap institusi pendidikan Islam seperti Sumatera Thawalib Padang Japang ini. Ketika Syekh Abbas Abdullah mulai berkiprah dalam dunia kemasyarakatan dan pendidikan di kampung halamannya, pengaruh komunis mulai merambah Sumatera Barat, tidak terkecuali di institusi pendidikan yang dipimpinnya. Pelajar-pelajar Sumatera Thawalib banyak yang apresiatif terhadap komunis dan berkeinginan untuk memasukinya. Oleh Syekh Abbas Abdullah hal ini ditentangnya habis-habisan dengan mengatakan bahwa komunis merupakan ideologi yang berseberangan secara total dengan ajaran agama Islam, terutama yang menyangkut ajaran mereka mengenai anti Tuhan. Dengan demikian, Syekh Abbas Abdullah memiliki kontribusi yang besar dalam mengantisipasi pernyebaran ajaran komunis, terutama dalam masyarakatnya dan para pelajarnya.

    Kedatangan Jepang ke Sumatera Barat, kolonial Jepang berusaha mendekati para ulama. Sementara itu, para ulama memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengorganisir diri dalam suatu badan yang bernama Majelis Islam Tinggi (MIT) dibawah pimpinan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. MIT secara umum bertujuan untuk memperkokoh keimanan dan menolak secara tegas tradisi Seikere (menyembah atau membungkukkan badan menghadap Tokyo). Ketika Jepang terdesak, Jepang berusaha untuk menarik pemuda-pemuda ikut perang membela Jepang. Akan tetapi, umumnya para pemuda tersebut tidak begitu tertarik. Yeno Kenzo, Residen Jepang di Sumatera Barat berusaha mengumpulkan sejumlah pemuka agama, adat dan cerdik pandai dalam rangka membentuk badan lain yang bernama Gyu Gun Ko En Kai yang merupakan bagian dari Hoko Kai. Rasionalisasinya adalah bahwa badan yang dibentuk ini merupakan tentara rakyat dan akan berdampingan membela tanah air dengan Jepang. Keinginan inipun disosialisasikan kepada masyarakat. Ketika kabar ini sampai ke Padang Japang, banyak para pemuda yang ragu-ragu, kemudian mereka pergi menemui Syekh Abbas Abdullah yang waktu itu merupakan salah seorang anggota MIT untuk minta pendapat. Syekh Abbas Abdullah kemudian mengatakan : “Kalah politik Jepang oleh Belanda. Kalau Belanda tidak boleh kita menjadi tentara baginya, tetapi Jepang dibolehkannya. Masukilah Gyu Gun itu nanti berguna bagi kita untuk memeranginya”. Perkataan Syekh Abbas Abdullah ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat dan murid-muridnya. Sehingga banyak dari masyarakat yang memasuki Gyu Gun, diantara Azhari, anak beliau sendiri. Ketika Indonesia merdeka, dan untuk mensikapi hal ini, maka pada bulan Desember 1945, MIT sebagai badan yang memiliki pengaruh besar di Sumatera Barat mengadakan kongres di Bukittinggi pada bulan Desember 1945. Hadir dalam kongres tersebut para ulama dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Hasil kongres tersebut menghasilkan semboyan revolusioner yang berbunyi : “Siapa-siapa yang tewas dalam memperjuangkan kemerdekaan dewasa ini adalah mati syahid dunia dan akhirat”. Di samping itu kongres tersebut juga membentuk tiga panitia yakni panitia fatwa, panitia barisan Sabilillah dan panitia politik.

    (C) Tim Peneliti-Penulis FIB-Adab IAIN Padang