Category: Sejarah

  • Mudirah Pertama Perguruan Darulfunun: Ummi Hajjah Mona Eliza

    Mudirah Pertama Perguruan Darulfunun: Ummi Hajjah Mona Eliza

    Ummi Hajjah Mona Eliza adalah sosok perempuan inspiratif yang menjadi mudirah pertama Perguruan Darulfunun, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan dengan tujuan untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pendidik yang berdedikasi, tetapi juga sebagai istri dari Buya Afifi Fauzi Abbas dan ibu dari Tan Abdullah Afifi, dua tokoh yang juga memiliki pengaruh dalam dunia pendidikan dan keagamaan.

    Latar Belakang dan Pendidikan

    Ummi Hajjah Mona Eliza lahir di sebuah keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan keagamaan. Ayah beliau adalah yang sedikit yang sempat menempuh pendidikan di University of Texas, Amerika. Keluarga beliau berasal dari Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh. Pendidikan formalnya ditempuh di beberapa lembaga pendidikan Islam ternama, PGA Payakumbuh, UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta di mana beliau tidak hanya belajar ilmu agama tetapi juga berbagai disiplin ilmu lainnya yang menunjang perannya sebagai pendidik. Beliau pernah berkiprah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pelaksana administrasi dan juga dosen pengajar, kemudian berpindah ke UIN Bukittinggi menyusul Buya Afifi Fauzi Abbas yang terlebih dahulu kembali pulang untuk mengurus Darulfunun.

    Latar belakang pendidikan dan organisasi:

    • PGA Payakumbuh (skrg MAN 2 Payakumbuh)
    • BA, SAg – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    • MA – Universitas Muhammadiyah Jakarta
    • IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    • ASA (Awak Samo Awak) Ciputat dan sekitarnya
    • Muhammadiyah – Aisyiyah
    • PCM Aisyiyah Kota Payakumbuh

    Peran sebagai Istri dan Ibu

    Sebagai istri dari Buya Afifi Fauzi Abbas, Ummi Hajjah Mona Eliza berperan aktif dalam mendukung suaminya dalam berbagai aktivitas keagamaan dan pendidikan. Buya Afifi Fauzi Abbas adalah seorang ulama yang dihormati dan dikenal luas atas kontribusinya dalam menyebarkan ajaran Islam yang moderat dan inklusif baik dalam organisasi Muhammadiyah ataupun secara umum di masyarakat. Dalam peran ini, Ummi Hajjah Mona Eliza sering kali menjadi partner diskusi dan pendukung utama, membantu mewujudkan berbagai inisiatif pendidikan dan sosial yang digagas oleh suaminya. Ummi Hajjah Mona Eliza juga terlibat dalam pergerakan Aisyiyah baik di Jakarta ataupun Payakumbuh.

    Sebagai orang tua, beliau juga berperan penting dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya untuk menjadi individu yang berakhlak mulia dan berilmu. Anak-anaknya sendiri telah mengikuti jejak orang tuanya dengan menjadi seorang pendidik, tokoh dan berperan aktif berkontribusi pada masyarakat luas. Ummi Hajjah Mona Eliza adalah yang menguatkan tekad Buya Afifi Fauzi Abbas untuk menyelesaikan janjinya kepada ayahnya Buya Fauzi Abbas untuk pulang dan membangun kembali Darulfunun.

    Kepemimpinan di Perguruan Darulfunun

    Sebagai mudirah pertama Perguruan Darulfunun (2018-2023), Ummi Hajjah Mona Eliza menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan lembaga pendidikan ini. Bahkan tidak jarang fitnah dan tantangan diberikan oleh orang-orang yang hasad dengan kiprah beliau. Beliau adalah pimpinan perguruan Islam satu-satunya yang merupakan perempuan, sehingga tantangan bukan hanya dari internal tetapi juga dari eksternal dan budaya. Akan tetapi dengan visi yang jelas dan semangat yang tinggi, beliau berhasil membawa Perguruan Darulfunun, khususnya setelah meninggal Buya Afifi Fauzi Abbas, menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang diperhitungkan. Kepemimpinannya yang tegas namun bijaksana membuat Perguruan Darulfunun dikenal sebagai lembaga yang tidak hanya mengutamakan aspek akademis tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak para siswa.

    Jumlah siswa Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah mencapai 520 siswa, menjadi jumlah siswa terbanyak selama 20 tahun terakhir perguruan ini didirikan. Beliau memprakasai kelas Fikih Perempuan, Surau Camp dan juga program Tahfiz. Dalam masa beliau, pembinaan siswa dilakukan secara intensif seperti perlakuan seorang ibu kepada anak-anaknya sendiri. Beliau turun tangan sendiri memastikan siswa didik mendapatkan makanan yang bergizi untuk aktifitasnya, beliau juga yang memastikan perbaikan-perbaikan infrastruktur tetap berjalan untuk memberikan kenyamanan pada siswa didik. Beliau bahkan tidak sungkan pada bulan ramadhan menjemput dan mengantarkan siswa untuk berpartisipasi memberikan tausiyah ramadhan di masjid-masjid dan musholla di Kota Payakumbuh. Untuk keperluan itu beliau memaksakan diri untuk belajar mengemudikan mobil setelah meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas.

    Inovasi dan Kontribusi

    Ummi Hajjah Mona Eliza dikenal sebagai inovator dan disiplin dalam bidang pendidikan. Beliau memperkenalkan berbagai perbaikan-perbaikan administratif dan metode pengajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan, serta selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Darulfunun. Beliau juga yang menanamkan pentingnya KSM (kompetisi sains madrasah), dan perlu diadakan kelas Matrik untuk mendukung hal tersebut. Beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, memberikan bimbingan kepada masyarakat luas, khususnya dalam hal pendidikan anak dan peran perempuan dalam Islam.

    Dalam perbaikan yang dilakukan Perguruan Darulfunun dapat mencapai hasil yang terbaik dalam 20 tahun terakhir. Diantaranya:

    1. Jumlah siswa 520 siswa
    2. Lolos KSM hingga tingkat provinsi untuk mata pelajaran umum
    3. Kelulusan 78% PTN (perguruan tinggi nasional)
    4. Pionir Wisuda Tahfiz Al-Quran di Payakumbuh dan Limapuluh Kota
    5. Target 1-2 Juz dalam satu tahun
    6. Daurah Surau Camp
    7. Kurikulum Surau
    8. Pelatihan IT untuk siswa yang akan tamat belajar
    9. dsb

    Selain itu beliau juga termasuk yang menggagas perbaikan-perbaikan infrastruktur pelayanan siswa, diantaranya:

    1. Dapur atau Kantin Perguruan dari sebelumnya siswa makan menggunakan sistem katering luar, memberikan pengurangan biaya makan hingga 50%
    2. Pengadaan tempat tidur dan fasilitas siswa di asrama dari sebelumnya siswa tidur dengan membawa kasur dan peralatan masing-masing.
    3. Merenovasi toilet umum dan untuk guru, untuk meningkatkan kebersihan dan sanitasi sekolah

    Fitnah dan Cobaan

    Sebagai mudirah, pimpinan perempuan pertama di Perguruan bersejarah di Indonesia. Ummi Hajjah Mona Eliza tidak tidak luput dari berbagai cobaan dan fitnah. Sebagai seorang atasan di lembaga pendidikan Islam yang terkemuka, beliau sering kali dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Berbagai fitnah dan isu negatif pernah diarahkan kepadanya, baik dari pihak internal maupun eksternal, terlebih setelah meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas. Namun, Ummi Hajjah Mona Eliza selalu mampu menghadapi semua itu dengan ketabahan dan kebijaksanaan demi amanah yang selalu disebut-sebutnya.

    Ketika menghadapi cobaan, Ummi Hajjah Mona Eliza selalu mengedepankan sikap sabar dan tawakkal kepada Allah. Beliau meyakini bahwa setiap ujian yang datang adalah bagian dari rencana Allah untuk menguji kesabaran dan keimanannya. Dalam menghadapi cobaan, beliau selalu mengingatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya untuk tetap tegar dan tidak mudah menyerah.

    Fitnah sering kali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seseorang yang berada di posisi publik. Ummi Hajjah Mona Eliza menghadapi berbagai fitnah dengan cara yang sangat bijaksana. Beliau selalu berusaha untuk menunjukkan integritas dan kejujuran dalam setiap tindakannya. Fitnah muncul dari orang-orang yang hasad dengan keberhasilan beliau, dan juga internal yang sering didisiplinkan oleh beliau.

    Dalam menghadapi fitnah, beliau juga selalu memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil berdasarkan prinsip keadilan dan kebenaran. Dengan menunjukkan transparansi dan akuntabilitas dalam kepemimpinannya, beliau berhasil meredam berbagai isu negatif yang pernah menyerangnya. Integritas dan konsistensi inilah yang membuat banyak orang tidak mampu menghadapi beliau.

    Dari berbagai cobaan dan fitnah yang dihadapinya, Ummi Hajjah Mona Eliza selalu mengambil hikmah dan pelajaran berharga. Beliau selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. Cobaan dan fitnah tidak membuatnya lemah, tetapi justru semakin mengokohkan tekadnya untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik.

    Beliau juga mengajarkan kepada murid-murid dan orang-orang di sekitarnya untuk selalu bersikap sabar dan tidak mudah putus asa. Dalam setiap ceramah dan bimbingannya, beliau sering kali menekankan pentingnya menjaga keimanan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

    Kontroversi

    Untuk menghalang-halangi kiprah beliau, fitnah dan hasutan dilakukan oleh pihak internal dan eksternal. Hingga akhirnya pihak-pihak tersebut mencoba memberhentikan beliau dengan melakukan kudeta kepada anak beliau yang merupakan Ketua Yayasan yang diamanahkan oleh Buya Afifi Fauzi Abbas.

    Dengan meninggalnya Buya Afifi Fauzi Abbas, pihak-pihak yang hasad ini semakin kuat memberikan tekanan kepada beliau. Hingga pada akhirnya untuk memberhentikan beliau, pihak-pihak ini perlu melakukan kudeta terhadap Yayasan dan mengganti ketua yayasan bukan dari keturunan Syekh Abbas Abdullah. Dalam aksi ini juga pihak-pihak tersebut menjanjikan mengganti uang terpakai yang tidak sedikit yang dipergunakan untuk menalangi gaji guru, yang pada akhirnya hutang tersebut tidak dibayarkan.

    Warisan dan Pengaruh

    Warisan yang ditinggalkan oleh Ummi Hajjah Mona Eliza tidak hanya terlihat dari perkembangan Perguruan Darulfunun, tetapi juga dari banyaknya murid dan pengikut yang terinspirasi oleh ajaran dan teladannya. Beliau telah membuktikan bahwa dengan dedikasi dan kerja keras, seorang perempuan harus dapat memberikan kontribusi yang besar dalam dunia pendidikan dan agama.

    Kesuksesan Ummi Hajjah Mona Eliza sebagai mudirah pertama Perguruan Darulfunun menjadi contoh nyata bahwa peran perempuan dalam Islam sangatlah penting dan tidak boleh diremehkan. Beliau telah membuka jalan bagi banyak perempuan lain untuk berkiprah dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

    Dengan segala prestasi dan dedikasinya, Ummi Hajjah Mona Eliza akan selalu dikenang sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan teladan bagi generasi-generasi berikutnya. Keberhasilannya dalam memimpin Perguruan Darulfunun walaupum sebentar, telah memberikan warna yang berharga dalam perkembangan Perguruan di 20 tahun terakhir, terutama sebagai peran perempuan dalam kelembagaan pondok pesantren.

  • Kisah Kepahlawanan Tariq Bin Ziyad: Pemimpin Maroko yang Menaklukkan Andalusia

    Kisah Kepahlawanan Tariq Bin Ziyad: Pemimpin Maroko yang Menaklukkan Andalusia

    Pada tahun 711 M, seorang pemimpin Maroko yang gagah berani, Pangeran Tanger: Tariq Ibn Ziyad, menjelma menjadi pahlawan bagi Andalusia (Selatan Spanyol 🇪🇦 dan Selatan Portugal 🇵🇹). Tariq kemudian menjadi raja pertama Andalusia setelah merebut takhta pada tahun tersebut.

    Kisah kepahlawanannya dimulai ketika Tariq memimpin pasukan Moor melintasi Selat Gibraltar 🇬🇮, yang dikenal sebagai Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Pada saat itu, selat tersebut menjadi saksi perjalanan epik pasukan Tariq yang memasuki Iberia. Langkahnya yang penuh tekad dan keberanian menginspirasi pasukan untuk menaklukkan Iberia.

    Dalam perjalanannya, Tariq menghadapi Raja Castilian (Spanyol) yang akhirnya digulingkan dari takhtanya. Pergantian kekuasaan ini menciptakan sejarah baru bagi Andalusia yang kemudian diperintah oleh Tariq Ibn Ziyad. Kepemimpinan dan keberanian Tariq membawa keemasan bagi wilayah tersebut, menciptakan periode kejayaan budaya, ilmiah, dan ekonomi.

    Pemerintahan Maroko atas Semenanjung Iberia dimulai pada tahun 711 dan berlangsung hingga tahun 1492. Selama kurun waktu ini, Andalusia menjadi pusat peradaban yang berpengaruh, dengan warisan Moor yang terus terlihat dalam seni, arsitektur, dan ilmu pengetahuan.

    Sebagai penghormatan atas jasanya, nama Gibraltar tetap melekat pada gunung yang dicapainya, mengabadikan kisah kepahlawanan Tariq Bin Ziyad. Hari ini, kita masih dapat merasakan jejak sejarahnya yang mengilhami perjalanan panjang Iberia menuju kejayaannya yang dulu.

  • Wanita Pendiri Kampus Tertua di Dunia

    Wanita Pendiri Kampus Tertua di Dunia

    Kenalkan, Fatima bint Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya, seorang pionir hebat yang mendirikan universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko pada tahun 859 Masehi.

    Fatima bint Muhammad Al-Fihriya lahir di Kairouan, Tunisia, dan setelah pindah ke Fes bersama keluarganya, dia memiliki visi besar untuk membangun pusat pembelajaran yang memajukan ilmu pengetahuan dan kebijakan.

    Bersama dengan saudara laki-lakinya, Fatima membangun masjid dan menambahkan fasilitas pendidikan. Al-Qarawiyyin menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan, humaniora, agama, dan bahkan musik dikembangkan.

    Hingga hari ini, Al-Qarawiyyin tetap menjadi salah satu universitas tertua yang masih beroperasi di dunia.

    Kita punya juga wanita hebat. Namanya Sheikhah Rahmah Al Yunusiyah dari Sumatra Barat. Beliau pendiri madrasah khusus wanita pertama di Nusantara, diawal 1900-an.

    Apa yang bisa kita ambil dari kisah luar biasa Fatima? Bahwa semangat dan tekad kita dapat membawa perubahan besar!

    Mari kita terus menginspirasi satu sama lain untuk mengejar impian dan memberikan kontribusi positif bagi dunia.

  • Sosok dan Kepribadian KH Sahal Mahfud di Mata Kang Abik

    Sosok dan Kepribadian KH Sahal Mahfud di Mata Kang Abik

    JAKARTA— Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Habiburrahman El Shirazy, mengenang sosok KH Sahal Mahfud sebagai sosok yang tidak boleh dilupakan.
    Pria yang akrap disapa Kang Abik ini menilai, KH Sahal Mahfud memiliki keteladanan dan pikiran-pikirannya yang harus ditampilkan di tengah umat.

    “Saya secara pribadi sangat mencintai KH Ahmad Sahal Mahfud. Kenal beliau sebagai santri di Sragen,”ujarnya di kegiatan Ngabuburit Kebudayaan yang digelar oleh LSBPI MUI, Jumat (15/4/2022).

    Kegiatan ini bertema “KH Sahal Mahfud: Pemandu Ulama yang Mengayomi Umat Indonesia” yang dihadiri oleh sejumlah tokoh di antaranya Ketua MUI Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam, KH Jeje Zaenudin, Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal, KH Sholahuddin Al-Aiyub dan Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning, Dr Jamal Makmur Asmani.

    Kang Abik mengaku beberapa kali berjumpa dengan KH Sahal Mahfud saat di Kairo, Mesir. Ia melihat sosok KH Sahal Mahfud sebagai seorang ushuly, yang sangat luar biasa dalam fiqh dan ushul fiqhnya.

    “Dan kita bisa melihat sekrang yang faqih, ilmu fikihnya untuk mengayomi umat, bangsa, perempuan dan sebagainya,” tutupnya.

    Sementara itu, saat menyampaikan sambutan pembukaan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang seni Budaya dan Peradaban Islam, KH Jeje Zaenudin, mengingatkan keberkahan dengan mencintai dan meneladani para ulama.

    Kiai Jeje menambahkan, hal ini juga diperkuat dengan hadits Nabi yang menyatakan bahwa “kamu akan dikumpulkan bersama yang kamu cintai.”
    “Insya Allah dengan mencintai para Nabi, mencintai para sahabat, para sholihin dan ulama. Minimal mendapatkan keberkahan (dan) kecintaan itu, diangkat kedudukan, didekatkan dengan mereka,” ujarnya.

    Menurut dia, sangat penting untuk menggali aspek-aspek ketauladan, kebaikan dan para ulama khususnya para ulama yang ada di MUI untuk mendapatkan kebaikan. Apalagi, dilakukan pada Ramadhan yang penuh berkah ini.

    Selain itu, dia juga mengapresiasi LSBPI MUI yang konsisten menyelenggarakan kegiatan ini. Dia berharap, kegiatan seperti ini yang menggali sejarah para ulama, bisa mendekatkan generasi muda Islam agar memiliki sosok panutan.

    “Tidak mengikuti keteladanan dan figur yang dilihat konteks kehidupan dalam berislam dan bernegara di bumi Indonesia ini,” kata dia. (Sadam Al-Ghifari, ed: nashih)

  • Terbakarnya Perpustakaan Terbesar di Dunia

    Terbakarnya Perpustakaan Terbesar di Dunia

    Kisah tentang terbakarnya Perpustakaan Baghdad, perpustakaan terbesar di zamannya adalah sebuah kisah pilu. Hilangnya begitu banyak ilmu. Dan awal dari mundurnya peradaban di dunia Islam. 

    Setelah Kota Baghdad jatuh ke tangan Tatar, mereka melakukan apapun yang mereka inginkan terhadap ibu kota Daulah Abbasiyah ini. Sebagian dari mereka membantai penduduknya. Sebagian lagi melakukan pengrusakan kota. Entah mengapa, kala itu Tatar selalu melakukan pembantaian dan penghancuran setiap kota yang mereka taklukkan dengan peperangan.

    Bisa jadi penyebabnya adalah adanya kesenjangan budaya, antara umat Islam dengan orang-orang Tatar. Umat Islam memiliki sejarah panjang dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, dan etika. Peradaban Islam telah membidani lahirnya puluhan ribu ilmuan terkemuka di semua cabang ilmu pengetahuan.

    Tatar adalah komunitas masyarakat nomaden yang berasal dari gurun sebelah utara Cina. Mereka tumbuh dengan hukum rimba. Mereka saling berperang layaknya hewan saling memangsa. Tidak berlebihan kalau kita katakan kehidupan mereka seperti kehidupan hewan. Karena memang mereka tak kenal peradaban. Mereka tak berkeinginan memberi kontribusi memakmurkan bumi. Hidup dengan nilai-nilai perbaikan di dunia. Karena itu, setiap wilayah yang mereka taklukkan dengan perang selalu dihancurkan. Membaca sejarah mereka di masa itu sungguh mengerikan.

    Di antara bukti nyata pernyataan di atas adalah apa yang mereka lakukan terhadap perpustakaan terbesar di dunia kala itu. Perpustakaan Baghdad di masa Daulah Abbasiyah. Perpustakaan yang mewariskan peradaban dunia, ringan saja mereka hancurkan. Sama sekali tak ada kepedulian dengan ilmu pengetahuan yang dihimpun di dalamnya. Perpustakaan Baghdad saat itu adalah hazanah keilmuan kaum muslimin dan umat-umat selainnya. Bagaimana tidak, perpustakaan itu telah dibangun selama 600 tahun dan menghimpun semua cabang ilmu pengetahuan. Ilmu syariat, ilmu alam, ilmu tentang kemanusiaan, dll. Selama 6 abad tentu tak terbayang koleksi buku yang dimiliki.

    Dahulu, ilmu-ilmu yang ditulis dengan bahasa Persia, Yunani, Sansekerta, dll. diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kemudian disimpan di Perpustakaan Baghdad. Sehingga orang cukup menguasai bahasa Arab dan pergi ke Baghdad, ia akan menguasai banyak ilmu yang ada di dunia ini. 

    Saat kota ini jatuh, koleksi sebesar itu seolah tak berharga. Bayangkan! Warisan besar itu mereka lempar ke Sungai Tigris hingga air sungai berubah menjadi hitam. Bahkan ada yang mengatakan, kuda-kuda Tatar bisa melintasi sungai dengan jembatan timbunan berjilid-jilid buku yang mereka lemparkan ke sungai.

    Tentu kejahatan ini tidak hanya merugikan umat Islam saja. Bahkan merugikan peradaban manusia juga.

    Sumber: https://lite.islamstory.com/ar/artical/9270/قصة-حرق-أعظم-مكتبة-على-وجه-الأرض

    Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

    Artikel www.KisahMuslim.com

  • Bung Karno dan Sejarah Tren Kopiah Hitam Indonesia

    “Ciri khas saya…simbol nasionalisme kami.” begitulah ucap Sukarno dalam buku biografinya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis Cindy Adams.

    Saat berusia 20 tahun, Bung Karno kecil sedang duduk di belakang tukang sate. Bung Karno tegang. Perutnya mulas. Sambil menahan sakit, Sukarno mengamati banyak kawan-kawannya. Dalam pengamatannya, Bung Karno menilai bahwa kawannya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

    Hasil itu ia temukan usai perdebatan sengit terjadi di dalam nuraninya. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” tanyanya dalam batin. “Aku seorang pemimpin.” timpalnya lagi. “Kalau begitu, buktikanlah,” balasnya. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”.

    Tingkah ‘Putra Sang Fajar’ ini membuar orang-orang ternganga melihatnya. Mereka, kaum intelegensia yang membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Kemudian Bung Karno memecah sunyi.

    “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia. Merdeka,” katanya.

    Namun, Bung Karno bukanlah intelektual pertama kali yang menggunakan peci. Salah satu guru Bung Karno, dr Tjipto sudah lebih dulu mengenakkan topi serupa. Pada 1913, dalam rapat Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP), di Den Haag, Belanda, Tjipto sudah mengenakkan kopiah dari beludru hitam.

    Pengaruh Bung Karno ternyata begitu luas. Pada pertengahan 1932, dalam Partindo Sukarno melancarkan kampanye memakai barang-barang bikinan Indonesia, termasuk peci lurik. Hingga akhirnya peci atau kopiah hitam kemudian begitu populer.

    Kecintaannya kepada peci juga bisa dilihat usai mengunjungi Pondok Pesantren Darul Funun El Abbasiyah (DFA). Sebelum kemerdekaan Inonesia, ia mengunjungi Syekh Abbas Abdullah, pemimpin ponpes tersebut. Kedatangannya untuk bertanya soal Indonesia ke depannya.

    Sepulangnya dari sana Bung Karno terlihat sumringah. Ternyata ia mendapat buah tangan favorit dari Syekh Abbas. Sukarno terlihat memakai peci baru yang agak lebih tinggi. (*)

  • Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Ziarah ke Makam Syekh Abbas Abdullah, Imam Jihad Sumatera Tengah

    Jika ada pertanyaan, siapa ulama asal Minangkabau yang dihormati Bung Karno? Barangkali, Syekh Abbas Abdullah adalah salah satu jawabannya. Imam Jihad Sumatera Tengah, pentolan Madrasyah Sumatera Thawalib dan pemimpin Darul Funun El-Abbasiyah ini, tidak sekadar memberi peci tinggi untuk Bung Karno. Tapi, juga menitip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Indonesia. Seperti apa sosok Syekh Abbas?

    Matahari sudah condong ke barat saat Padang Ekspres bersama sastrawan peraih penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, Gus tf Sakai, serta sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, Adri Sandra, berziarah ke makam Syekh Abbas Abdullah. Makam ulama besar ini terletak di kawasan Puncakbakuang, Jorong Padangjapang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota.

    Makam Syekh Abbas berada di dekat makam ayah kandungnya, Syekh Abdullah, lebih awal tercatat sebagai ulama besar di Ranah Minang. Selain makam sang ayah, di samping makam Syekh Abbas terdapat makam dua kakaknya, yakni Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Muhammad Shalih. Kemudian, juga ada makam putra kandung Syekh Abbas, yakni H Fauzi Abbas.

    ”Totalnya, ada lima makam di sini. Yang paling kanan, makam Syekh Abbas,” kata Faisal El-Abbasy, cicit Syekh Abbas yang menyambut hangat kedatangan kami. Sayangnya, Faisal yang saat itu didampingi seorang mualaf asal Timor Leste tidak mau banyak bercerita soal sejarah hidup kakek buyutnya.

    ”Saya takut salah-salah memberi keterangan. Apalagi untuk tulisan sejarah. Mungkin lebih baik menghubungi paman saya, Dr Afifi Fauzi Abbas, dosen IAIN Bukittinggi. Beliau, selain cucu Syekh Abbas, juga dipercaya sebagai ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Syekh Abbas,” saran Faisal.

    Saran serupa disampaikan sastrawan Adri Sandra yang asli putra Padangjapang. ”Kalau mau menulis soal Syekh Abbas, mungkin Dr Afifi bisa menjelaskan yang juga adalah pimpinan Darul Funul El-Abbasiyah saat ini.

    Meski sempat ngopi di rumah alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, tapi kami tidak sempat bercerita panjang soal Syekh Abbas karena Maghrib sudah datang menjelang. Walau begitu, bukan berarti riwayat hidup Syekh Abbas tidak bisa digali. Karena berjarak beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu (2/6), Padang Ekspres bertemu dengan Dr Afifi Fauzi Abbas di kawasan Tarok, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.

    Ulama Pembaharu

    Dr Afifi yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, lumayan luas mengetahui sejarah hidup Syekh Abbas. Kakeknya itu, menurut Afifi, lahir pada 1883 Masehi dan wafat pada 1957, dalam usia 74 tahun. ”Tentang riwayat hidup Syekh Abbas, sudah banyak yang menulisnya. Yang paling komplit itu, tulisan Fachrul Rasyid HF dan Adi Bermasa,” kata Dr Afifi, sambil menyebut nama dua wartawan senior Sumbar.

    Bagi Dr Afifi, Syekh Abbas adalah sosok ulama pembaharu di Ranah Minang. Meski lahir dari lingkungan Islam tradisional, karena ayahnya Syekh Abdullah, serta saudara lelakinya Syekh Mustafa dan Syekh Muhammad Shalih, merupakan ulama tariqat. Namun, Syekh Abbas yang pernah berguru kepada Syekh Khatib Kumango dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, memiliki pandangan lebih moderat.

    ”Syekh Abbas dengan pengalamannya menimba ilmu agama di Mekkah dan Mesir, serta melihat pola pendidikan Islam di Timor Tengah, termasuk pernah ke Iran, berhasil mengubah pola pendidikan Islam di Minangkabau. Dari sistem pendidikan halaqah (guru duduk mengelilingi murid) menjadi sistem klasikal atau madrasah seperti kita temui sekarang ini,” kata Dr Afifi Abbas.

    Hal ini juga dibenarkan Profesor Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang. Dalam diskusi terbatas dengan Padang Ekspres, Mestika menyebut, kepeloporan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau, ditandai dalam dua gelombang. Ada gelombang pembaharuan awal abad 19. Kemudian, ada pula gelombang pembaharuan awal abad 20.

    ”Generasi pertama dalam gelombang pembaharuan Islam awal abad 19, dipelopori tiga haji dalam Perang Paderi. Yakni, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka disebut berasal dari kelompok Wahabi. Tapi, saya lebih suka menyebut mereka dari kelompok puritan,” kata Mestika.

    Sedangkan bibit akhir dari generasi pembaharuan Islam awal abad 19 di Minangkabau itu, menurut Mestika Zed, sentranya berada di Padangjapang Limapuluh Kota. Yakni, di Perguruan Darul Funul El-Abbasiyah yang dipimpin Syekh Abbas sebagai kelanjutan dari surau yang didirikan ayahnya. ”Jadi Padangjapang dan Syekh Abbas itu memiliki peran penting dalam pembaharuan Islam di Minangkabau,” tukas Mestika.

    Disegani Bung Karno

    Peran Syekh Abbas Abdullah sebagai ulama pembaharu di Minangkabau diketahui oleh Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Buktinya, jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan bersama Drs Mohammad Hatta yang merupakan cucu dari Syekh Abdurrahman (ulama ini juga berasal dari Limapuluh Kota, red), Bung Karno pernah secara khusus menemui Syekh Abbas Abdullah di kampus Darul Funun El-Abbasiyah di Padangjapang.

    Pertemuan Bung Karno dan Syekh Abbas berlangsung pada 1942. Tepatnya setelah Bung Karno dibebaskan Belanda dari tempat pembuanganya di Bengkulu. Pertemuan empat mata antara “singa podium” dengan ulama pembaharu itu, dicatat wartawan senior Fachrul Rasyid HF dalam sejumlah tulisannya.

    Menurut Fachrul, Syekh Abbas yang bertubuh tinggi kekar dan bercambang, sempat kurang sedap menyambut kedatangan Bung Karno. Soalnya, Bung Karno yang ditemani istrinya Inggit Ganarsih, datang terlambat. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. ”Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

    Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, menurut cerita yang didengar Fachrul dari masyarakat dan keluarga syekh, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja Syekh Abbas. Hampir tiga jam berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit (istri Soekarno) dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu,” tulis Fachrul Rasyid dalam laporan jurnalistik di Majalah Gatra.

    Saat menemui Syekh Abbas di Padangjapang, Bung Karno mendapat hadiah berupa peci dengan ukuran lebih tinggi. Sebelumnya, peci Bung Karno berukuran pendek. Menariknya, saat memberikan peci kepada Bung Karno, Syekh Abbas sempat berpesan. ”Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini. Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” pesan Syekh Abbas.

    Selain meminta hati-hati terhadap bahaya komunis dan sekuler, Syekh Abbas yang diminta pendapat oleh Bung Karno tentang konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara, juga menitip pesan bahwa negara Indonesia yang akan didirikan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Syekh Abbas ini yang diyakini banyak pihak, dituangkan Bung Karno dalam sila pertama Pancasila yang dipidatokan pada 1 Juni 1945. (*)

    Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/105618/Tukar_Peci_Bung_Karno,_Titip_Sila_Ketuhanan

    Editor : Elsy Maisany
    Sumber Berita : Fajarillah Vesky – Padang Ekspres

  • Ali bin Abi Thalib Mengecam Yang Mengkhianatinya

    Ali bin Abi Thalib Mengecam Yang Mengkhianatinya

    Di dalam kamus Lisanul Arab, makna Syiah adalah seseorang yang menyepakati suatu hal. Atau orang-orang yang bersepakat dalam suatu permasalahan. Atau sekelompok orang yang memiliki suatu kesepakatan, mereka mengikuti pendapat seseorang di antara mereka (Lisanul Arab, Harfu asy-Syin: islamweb).

    Setelah Amirul Mukminun Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu wafat, umat Islam berbeda pendapat dalam menyikapi para pembunuhnya. Ali berpendapat Muawiyah harus berbaiat kepadanya terlebih dahulu, baru urusan pembunuh Utsman bisa diselesaikan. Sedangkan Muawiyah sebagai keluarga Utsman, menuntut agar para pembunuh sepupunya itu segera diadili. Orang-orang yang sepakat dengan pendapat Ali, disebut Syiahnya Ali. Sedangkan orang-orang yang sepakat dengan Muawiyah disebut Syiahnya Muawiyah. Inilah makna asal dari Syiah. Seiring zaman, Syiah Ali terus berkembang. Bahkan sekarang pendapat mereka tentang Ali sangat ekstrim.

    Ali dan Syiahnya

    Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengeluhkan pendukungnya, yaitu penduduk Kufah. Ia berkata, “Umat-umat terdahulu takut terhadap kezhaliman para pemimpinnya. Tapi aku, justru takut akan kezhaliman rakyatku. Aku mengajak kalian untuk berjihad, namun tak ada yang menyambut ajakanku. Aku berbicara pada kalian, tetapi kalian tak mendengarkan. Aku mengajak kalian kepada kebaikan secara rahasia dan terang-terangan, tapi kalian tak menurut. Aku menasihati kalian, tapi kalian tak menerima. Apakah kalian ada? Hakikatnya kalian tak ada. Apakah kalian hamba sahaya? Tapi seolah-olah kalian sebagai majikan.

    Aku bacakan hukum pada kalian, namun kalian lari darinya. Aku nasihati kalian dengan nasihat yang bagus, namun kalian lari darinya. Aku ajak kalian berjihad menghadapi para pembelot, tapi belum sempat aku mengakhiri perkataanku, kalian sudah bubar kembali ke tempat kalian. Dan kalian manipulasi nasihat yang diberikan. Aku meluruskan kalian pada pagi hari. Sore harinya kalian kembali padaku dalam keadaan bengkok bak punggung ular. Yang memberi nasihat telah melemah, tapi yang dinasihati makin mengeras.

    Wahai orang-orang yang hadir di sini tapi pikirannya entah di mana, yang berbeda-beda keinginannya, dan yang menjadi ujian bagi para pemimpinnya. Teman kalian tunduk kepada Allah. Sedangkan kalian mendruhakai-Nya. Aku sungguh sangat berharap -demi Allah- Muawiyah akan menukar kalian dariku, seperti menukar dinar dengan dirham, dimana dia mengambil dariku sepuluh orang di antara kalian dan memberiku seorang dari mereka.

    Wahai penduduk Kufah, aku diuji melalui kalian dengan lima masalah: (1) kalian ini tuli tapi punya pendengaran, (2) bisu tapi bisa berbicara, (3) buta tapi punya penglihatan, (4) pengecut ketika menghadapi peperangan; dan (5) tidak ada teman yang dapat dipercaya ketika mendapat ujian. Celaka kalian! Kalian seperti kawanan unta kehilangan pengembalaannya, jika digiring dari satu sisi dia lari ke sisi yang lain (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 247-248, mengutip dari Najhul Balaghah 1/187-189).

    Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka juga menuduh Ali radhiallahu ‘anhu sebagai pembohong. Syarif ar-Radhi meriwayatkan dari Amirul Mukminin, Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Amma ba’du.. Wahai penduduk Irak! Kalian itu seperti wanita hamil yang ketika kehamilannya telah sempurna ia keguguran, suaminya mati, menjanda dalam waktu yang lama, dan pusakanya diwarisi orang yang hubungan kekeluargaannya sangat jauh dengannya. Demi Allah, aku tidak mendatangi kalian dengan sukarela, tapi aku datang kepada kalian (tinggal di Irak) dengan terpaksa. Aku sudah mendengar bahwa kalian mengatakan bahwa Ali berbohong. Semoga Allah membinasakan kalian. Kepada siapa aku pernah berbohong?” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 249, mengutip dari Najhul Balaghah 1/118-119).

    Ali radhiallahu ‘anhu juga mengatakan, “Semoga Allah memerangi kalian! Kalian mencemari hatiku dengan nanah, memenuhi dadaku dengan amarah, mencekokiku dengan kesedihan, seteguk demi seteguk, dan kalian merusak pikiranku dengan kedurhakaan dan pengkhianatan.” al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 249, mengutip dari Najhul Balaghah 1/187-189).

    Penilaian Para Sahabat Terhadap Syiah Ali

    Karena itu, wajar para sahabat khawatir kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma yang menyambut undangan penduduk Irak.

    Pertama: Abdullah bin az-Zubair

    Saat Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma hendak berangkat ke Irak, Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhuma berkata padanya, “Engkau hendak pergi ke mana? Apakah engkau ingin pergi ke tempat kaum yang telah membunuh ayah dan saudaramu? Janganlah engkau pergi.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 236, mengutip dari al-Bidayah wa an-Nihayah, 8/163).

    Kedua: Abu Said al-Khudri

    Ia berkata, “Wahai Abu Abdullah (kunyah Husein), aku ingin menasihatimu, dan aku benar-benar menyayangi kalian (ahlul bait). Aku sudah mendengar kabar bahwa sekelompok Syiahmu di Kufah telah menyuratimu dan mengajakmu untuk pergi ke tempat mereka. Padahal aku telah mendengar ayahmu berkata, ‘Demi Allah, aku telah bosan dan marah kepada mereka. Mereka pun telah marah dan bosan padaku. Mereka sama sekali tidak pernah menepati janji. Siapa saja yang mendapat dukungan mereka, maka dia telah mendapatkan anak panah yang tumpul. Demi Allah, mereka sama sekali tak mempunyai niat dan tekad untuk membela suatu urusan. Mereka juga sama sekali tidak mempunyai kesabaran dalam peperangan’.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 236, mengutip dari al-Bidayah wa an-Nihayah, 8/163).

    Pendapat Ulama Syiah Ali

    Pertama: Murtadha al-Muthahhari

    Ia berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Kufah (Irak) adalah pendukung Ali dan yang membunuh Imam al-Husein adalah pendukungnya (Syiahnya) sendiri.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari al-Malhamatul Husainiyah, 1/129).

    Kedua: Kadzim al-Ihsa-i an-Najafi

    Ia berkata, “Pasukan yang keluar untuk memerangi Imam al-Husein berjumlah tiga ratus ribu orang. Semuanya penduduk Kufah. Tidak ada orang Syam (Syiah nya Muawiyah), Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika di antara mereka. Mereka semua adalah orang Kufah yang berkumpul dari berbagai daerah.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Asyura, Hal: 89).

    Ketiga: Husein bin Ahmad al-Baraqi an-Najafi

    Mengutip ucapan al-Qazwini: “Di antara perbuatan sangat keji yang dilakukan orang-orang kufah adalah mereka menuduh al-Hasan bin Ali dan membunuh al-Husein setelah mereka mengundangnya.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Tarikhul Kufah, Hal: 113).

    Keempat: Muhsin al-Amin

    Ia mengatakan, “Ada dua puluh ribu orang penduduk yang membaiat al-Husein dan mengkhianatinya, lalu memeranginya. Padahal, baiat itu masih mereka pegang. Hingga akhirnya mereka membunuhnya.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari A’yanusy Syiah, 1/26).

    Seorang ulama Syiah, ath-Thusi, memasukkan Ubaidullah bin Ziyad dalam sahabat-sahabat ali bin Abi Thalib. (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Rijal ath-Thusi, Hal: 54. Terbitan al-Matba’ah al-Haidariyyah, Najaf, 1961 M, dengna tahqiq Muhammad Shadiq Bahrul Ulum).

    Ulama Syiah yang lain, An-Nazimi asy-Syahrudi, mengomentari Syamr bin Dzul Jausyan (orang yang memerintahkan pasukan untuk membunuh Husein): “Pada Perang Shiffin, ia berada di dalam barisan pasukan Amirul Mukmin Ali bin Abu Thalib.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Mustadrakat Ilm Rijalul Hadits karya al-Allamah an-Nazimi asy-Syahrudi, 6/220 bagian ke-6899, terbitan Mu-assasah an-Nasyr al-Islami, Qumm, 1425 H).

    Sumber:
    – al-Khamis, Utsman bin Muhammad. 2012. Huqbah min at-Tarikh, Terj. Inilah Faktanya. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i.

    Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
    Read more http://kisahmuslim.com/5884-ali-bin-abi-thalib-mengecam-syiah-yang-mengkhianatinya.html

  • H. Bermawi, ‘Parewa’ yang Tundukkan OPR dan ‘Alumni’ Nusakambangan

    H. Bermawi, ‘Parewa’ yang Tundukkan OPR dan ‘Alumni’ Nusakambangan

    KEBERANIAN Haji Bermawi, putra Padangjapang, Kabupaten Limapuluh Kota, terbilang luar biasa. Sosoknya seperti tidak takut menghadang maut. Entah ilmu apa yang dimilikinya. Senjata pun tidak mampu memuntahkan pelurunya saat H. Bermawi berhadapan dengan pasukan berbaju hijau.

    Dalam kesehariannya, H. Bermawi adalah warga kampung yang dituakan di lingkungannya, daerah Padangjapang dan sekitarnya. Sebab, ilmu ke-Islamannya sangat disenangi banyak orang.

    Selain kemenakan kesayangan Imam Jihad semasa perjuangan melawan penjajah, Syech Abbas Abdullah, H. Bermawi juga gigih belajar pada pendidikan formal yang kini sudah menjadi lembaga pendidikan, DR.H. Abdullah Ahmad, PGAI Sumatra Barat. Dengan bekal itulah, H. Bermawi jadi guru selama bertahun-tahun di lembaga pendidikan Darul Funun di Padangjapang, yang penggeraknya adalah Syech Abbas Abdullah.

    Selain itu, H. Bermawi juga salah seorang tokoh tarjih Muhammadiyah Sumatra Barat, seangkatan dengan Tazar Kuran, Mansur Malik, Radhin Rahman, dan tokoh lainnya.

    Beragam pemikiran dan dukungan bersumber dari tarjih yang dimotori Alquran dan hadis Rasulullah dikemukakan H. Bermawi bersama kawan segenerasinya demi lebih eksisnya Muhammadiyah dan umat Islam.

    Di samping sebagai guru agama dan pentarjih Muhammadiyah Sumatra Barat, H. Bermawi juga seorang petani dan peternak. Ternak sapinya sebanyak 25 ekor dipelihara warga dhuafa binaannya. Dia juga bertani padi, kacang, cabai, dan ternak ikan.

    Khusus berkebun cabai, H. Bermawi sangat tekun. Bahkan, sebatang cabai bisa panen satu kilogram. Bayangkan, dua ribu batang cabai dalam sekali masa panen bisa memproduksi sebanyak dua ton. Luar biasa hasilnya. Apalagi, harga cabai terbilang mahal dari dulu sampai sekarang.

    Ulama, pentarjih, guru yang disegani, petani, hingga peternak, nyatanya belum cukup dalam keseharian H. Bermawi yang terkenal dengan rezekinya yang murah. Beliau juga pemberani atau istilah populernya, ‘parewa’. Mantan napi yang baru pulang dari penjara Nusakambangan, bernama Saidun Catuak, dilawannya berkelahi. Saidun yang suka melukai orang dengan parang itu ternyata kalah nyali berhadapan dengan H. Bermawi saat akan ‘bakuhampeh’ di jalan depan pesantren Nahdatunnisaiyah Padangjapang.

    Masih ada lagi cerita tentang keberanian H. Bermawi. Di saat Sumbar dilanda ‘prahara PRRI’, beragam peristiwa berdarah dihadang H. Bermawi. Beliau pernah menguburkan kepala manusia tanpa jasadnya. Kepala tersebut digantungkan dalam ‘kambuik’ di pekayuan kedai penduduk, di depan gerbang Masjid Raya Padangjapang.

    Masih di masa pergolakan PRRI, H. Bermawi juga pernah menurunkan mayat lelaki bernama Main yang digantung tentara OPR di sudut bangunan sebuah sekolah di Pasar Senen Padangjapang. Kuburan Main yang malang tersebut masih bisa dijumpai hingga sekarang di belakang bangunan sekolah itu.

    Namun, cerita yang menjadi legenda di tengah-tengah masyarakat padangjapang hingga kini adalah peristiwa hilangnya sebanyak 30 ekor itik H. Bermawi dari dalam kandangnya. Peristiwa itu terjadi juga di masa pergolakan PRRI sekitar tahun 1958-1959. H. Bermawi sudah mencari itik-itiknya itu ke berbagai lokasi yang dicurigai, namun tidak kunjung ditemukan.

    Karena firasat H. Bermawi yang begitu tajam, Beliau terus mencari itiknya yang hilang itu. Pencariannya tidak sia-sia. Ternyata, 30 ekor itik itu ditemukan di rumah seorang perempuan bernama Nubai Sikumbang, yang anaknya adalah Komandan OPR di Kecamatan Guguk, Limapuluh Kota.

    Meski di sekitar rumah itu banyak tentara OPR bersenjata, namun H. Bermawi tidak ditembak. Padahal, situasi saat itu sangat memungkinkan ‘menyudahi’ H. Bermawi. Apalagi, negeri dalam keadaan darurat perang. Tentara OPR terkenal dengan keganasannya. Namun, senjatanya bungkam kala berhadapan dengan H. Bermawi. H. Bermawi berhasil membawa pulang ke-30 ekor itiknya itu tanpa sebutir peluru pun ditembakkan dan tanpa luka segores-pun.

    Ada lagi kisah lainnya. Pada hari Jumat, Jorong Padangjapang berhasil dikuasai APRI dan rakyat diberi pilihan, mengungsi ke rimba atau masuk ke daerah yang sudah dibebaskan. Pada saat itu, H. Bermawi dijemput mertuanya yang bernama Usman Engku nan Bulek.

    Akhirnya, Padangjapang dikosongkan. Rakyat memilih lokasi pengamanan masing-masing, kebanyakan pindah ke jorong tetangga: Ampanggadang dan Talago. Di saat itulah terjadi peristiwa ‘luar biasa’ yang belum pernah terjadi selama ini, yakni tidak ada pelaksanaan ibadah Salat Jumat.

    Begitu terkenalnya sosok H. Bermawi yang bermukim di Padangjapang berjarak sekitar 140 kilometer dari Padang. Suatu ketika, pernah penulis bercengkrama dengan seorang perwira polisi di ibuprovinsi dan perwira itu menanyakan kepada penulis, “tahukah saudara dengan H. Bermawi? Dia adalah guru saya,” kata polisi itu.

    “H. Bermawi itu hebat. Ilmunya luar biasa. Pemberani, tawaddhu’, hidupnya sejahtera lahir dan bathin,” kata polisi itu yang mengenal H. Bermawi saat dia bertugas sebagai Kapolsek Guguk, Limapuluh Kota.

    Kini H. Bermawi sudah tiada. Berpulang ke Rahmatullah tujuh tahun lalu dalam usia 82 tahun di RSUP M. Djamil Padang dan dimakamkan di Padangjapang. Beliau meninggalkan dua anak, lima cucu, dan delapan piut. *

    Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/adibermasa/h-bermawi-parewa-yang-tundukkan-opr-dan-alumni-nusakambangan_58909a42a3afbd5f09c9419c

  • H Sulaiman Rasyid (1898-1976): Penyusun Fikih Pertama

    H Sulaiman Rasyid (1898-1976): Penyusun Fikih Pertama

    Ilmu Pengetahuan itu milik orang mukmin yang hilang. Di mana saja ia menemukannya, dia lebih berhak atasnya (Hadis Riwayat At-Turmudzy)

    SALAH satu wujud keindahan dan kesempurnaan ajaran agama Islam adalah fikih. Di dalamnya setiap orang bisa membaca aturan-aturan yang praktis. Sebuah ajaran yang, mengutip kata-kata Muhamad Iqbal, mengarahkan manusia pada tindakan dan bukan sekadar wacana.

    Namun, terbayangkah kesukaran seperti apa yang akan dihadapi umat Islam yang hidup kini seandainya tidak ada seorang seperti Haji Sulaiman Rasjid bin Lasa. Dialah penyusun fikih pertama di negeri ini. Fiqih Islam, terbit 1951, karangan pria kelahiran Pekon Tengah, Liwa, tahun 1898, menjadi buku wajib di perguruan tinggi dan menengah di Indonesia serta Malaysia, sampai sekarang.

    Kecintaannya pada Islam membawa Sulaiman Rasjid belajar ke Darul Funun El-Abbasiyah Padang Japang di Sumatera Barat dibawah asuhan Syekh Abbas Abdullah, setelah itu ia melanjutkan ke sekolah Mualim, sekolah guru, di Mesir (1926), dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhashus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) dan selesai 1935.

    Di sinilah lelaki bersahaja ini lebih mendalami bahasa Arab sebelum akhirnya menyusun kitab fikih. Ini bukanlah sekadar usaha menyalin atau menerjemahkan hukum Islam ke dalam bahasa Indonesia. Sulaiman Rasjid harus “menaklukkan” kompleksitas bahasa Arab. Tata bahasa Arab pun sangat rasional dan saksama, tapi rumit, apalagi jika dibanding dengan bahasa Indonesia. Bahkan, bunyi suatu kata dapat mengakibatkan perbedaan arti yang sangat jauh. Namun, semua ini tidak membuat semangat Rasjid berkurang sedikit pun. Justru ia makin gigih memahami keunikan dan kekayaan bahasa Arab.

    Berkat usaha Sahabat Utsman bin Affan ra., mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang berserakan, kemudian dibukukan, umat Islam (bahkan non-Islam) banyak memetik manfaat besar dari Alquran. Demikian pula, berkat upaya Haji Sulaiman Rasjid menyusun buku fikih versi Indonesia, umat Islam di negeri ini bisa meraih hikmah sebanyak-banyaknya.

    Namun, pengabdian Rasjid bukan cuma untuk agamanya. Ia juga seorang pemikir dan pejuang bangsa. Pada 1936, bapak delapan anak ini ditunjuk Belanda sebagai ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung. Dalam rentang 1937–1942, dia menjadi pegawai tinggi agama pada kantor Syambu dalam era pendudukan Jepang. Namun, kedudukan yang diembannya tidak menghalanginya mengangkat senjata. Setahun menjelang kemerdekaan, Sulaiman berjuang di Kalianda bersama tokoh setempat, H. Ali.

    Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno menugaskannya ke Departemen Agama Republik Indonesia, lantas menjadi kepala Jawatan Agama Republik Indonesia Jakarta (1947–1955) lalu memangku amanat sebagai kepala Perjalanan Haji Indonesia.

    Dalam tahun itu pula ia menjadi staf ahli Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus menjadi asisten dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTIAN) Jakarta sembari mengajar sebagai dosen PTAIN Yogyakarta. Tahun 1960, Sulaiman Rasjid diangkat menjadi guru besar Ilmu Fikih.

    Ayah delapan putra-putri dan kakek 20 cucu ini juga tercatat sebagai pendiri IAIN Radin Intan Lampung tahun 1964 silam. Sulaiman, yang amat menekankan nilai-nilai pendidikan dan mewajibkan semua anaknya menempuh pendidikan tinggi, wafat 26 Januari 1976 dan dimakamkan di TPU Pakiskawat Enggal, Bandar Lampung. n

    BIODATA

    Nama: H. Sulaiman Rasyid bin Lasa
    Lahir: Pekon Tengah Liwa, Lampung Barat, 1898
    Meninggal: Bandar Lampung, 26 Januari 1976

    Pendidikan:
    1. Darul Funun El-Abbasiyah Padang Japang
    2. Sekolah Mualim, sekolah guru di Mesir
    3. Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhasuhus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) selesai tahun 1935

    Tahun 1936: Ditunjuk Belanda sebagai Ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung
    Tahun 1937–1942: Pegawai Tinggi Agama pada Kantor Syambu dalam Zaman Pendudukan Jepang

  • Biografi singkat Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh (1883-1957 M)

    Biografi singkat Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh (1883-1957 M)

    Pada paruh abad pertama abad ke-20 di Ranah Minangkabau terdapat dua orang yang bernama Abbas, yakni Syeikh Abbas Ladang Lawas, Bukit Tinggi dan Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, Payakumbuh. Keduanya terkenal sebagai ulama tradisional, tetapi menerima juga ide-ide pembaharuan, yang diberikan guru mereka, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama besar asal tanah Minangkabau yang bermukim di Tanah Suci Mekah.

    Abbas Abdullah dilahirkan tahun 1883 M, sebagai putra Syeikh Abdullah, salah seorang ulama terkenal di wilayah Minangkabau di penghujung abad ke-19. Ulama inilah yang mendirikan Surau (Pondok Pesantren) Padang Japang tahun 1854, yang kemudian bernama Darul Funun Abbasiyah. Syeikh Abdullah mempunyai beberapa putra, diantaranya yang paling terkenal dan meneruskan perjuangannya sebagai ulama adalah Syeikh Mustafa Abdullah dan adiknya Syeikh Abbas Abdullah.

    Sebagai seorang putra ulama, tidak aneh apabila Mustafa dan Abbas mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu keislaman sejak dini. Sejak masa kanak-kanak beliau sudah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri yang kemudian diteruskan dengan belajar kepada ulama-ulama di daerah sekitar. Sebagaimana layaknya pemuda santri masa itu, terutama dari kalangan putra ulama, sangat mendambakan untuk bisa belajar ke Tanah Suci Mekah. Begitu pula pemuda Mustafa dan Abbas yang mempunyai keinginan sangat kuat untuk meneruskan studinya di Haramain.
    Pada masa itu cukup banyak ulama al-Jawi (Indonesia dan Melayu) meneruskan pendidikannya ke Tanah Suci, bahkan sebagian telah menjadi ulama besar dan kebanggaan Nusantara disana, seperti Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Abdul Karim dan Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau.

    Menjelang usia pubertas (aqil-baligh), tepatnya ketika Abbas Abdulah berusia 13 tahun, dia berangkat ke Tanah Suci Mekah, untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman, sebagaimana kakaknya, Mustafa Abdullah. Disana ia mengaji kepada beberapa ulama termasuk dari kalangan Ulama al-Jawi sendiri. Ia belajar ilmu-ilmu Alquran Syeikh Khatib Kumango, kemudian memperdalam ilmu-ilmu seputar kitab kuning kepada Syeikh Abdul Latif Syukur, dan Syeikh Muhammad Jamil Jambek yang berasal dari Minangkabau, sekaligus menjadi seniornya. Tidak ketinggalan ia belajar kepada ulama al-Jawi yang terkenal, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang saat itu menjabat sebagai Imam Masjid al-Haram dan sebagai Guru Besar Ilmu Fikih serta Mufti Madzhab Syafi’i di Mekah.

    Syeikh Abbas Abdullah belajar di Mekah dan sekitarnya selama delapan tahun (1896-1904M), satu periode di belakang Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan Syeikh Dahlan serta Syeikh Thahir Jalaluddin, seangkatan dengan Syeikh Abdul Karim Amrullah, Syeikh Jamil Jambek, dan Syeikh Abdullah Ahmad dan satu periode sebelum Syeikh Wahab Hasbullah, Syeikh Bisri Syansuri, Syeikh Mas Mansur maupun Syeikh Mustafa Husein Nasution. Setelah merasa cukup banyak ilmu yang diraihnya selama sewindu di Tanah Haram, walau ilmu itu sendiri tidak akan ada habisnya, maka Syeikh Abbas Abdullah dan Syeikh Mustafa Abdullah yang telah menjadi ulama muda itu kembali ke kampung halaman untuk membantu ayahanda (1904). Syeikh Abbas dan kakaknya mulai mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan kegamaan, khususnya dunia pesantren.

    Beban berat Syeikh Abdullah yang telah setengah abad mengasuh Pesantren (Surau) Padang Japang mulai agak berkurang dengan adanya bantuan dari kedua putranya itu. Dalam perkembangannya sepasang kakak beradik ini mampu menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai ulamauddin maupun ulamaulummah. Kedua orang inilah yang nantinya berhasil mengembangkan Surau dan Madrasah yang telah dirintis oleh Syeikh Abdullah, sesuai dengan perkembangan pendidikan keislaman yang ada di Timur Tengah maupun di Tanah Air.

    Syeikh Abbas mengubah sistem halaqah yang lazim dipakai dalam dunia pendidikan tradisional, sebagaimana biasanya Pondok Pesantren , menjadi sistem klasikal atau Madrasah (Sekolah). Dengan lahirnya Sumatera Thawalib yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Karim Amrullah dimana Syeikh Abbas termasuk salah seorang pendirinya, maka beliau pun tidak mau ketinggalan, sehingga Pesantren dan Madrasah Padang Japang yang dipimpinnya juga diberi nama tidak jauh berbeda, yaitu Madrasah Sumatera Thawalib, yang memiliki jenjang pendidikan sampai tujuh (Kelas 1 sampai kelas 7) dan merupakan bentuk seragam untuk seluruh Madrasah sumatera Thawalib saat itu.

    Perkembangan Sumatera Thawalib cukup pesat, walau tidak lepas dari berbagai tantangan dan halangan yang menghadang di tengah jalan. Dengan terjadinya pemberontakan Partai Komunis di Minangkabau tahun 1926, sebagian oknum yang berasal dari Sumatera Thawalib ikut menjadi penyokongnya, yang menyebabkan mereka dipenjarakan ataupun dibuang ke Boven Digul (Irian) dan Sumatera Thawalib pecah. Pada tahun 1930, lahirlah PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang kemudian mengarah menjadi Partai Politik. Sebagian tokoh Sumatera Thawalib ikut terlibat dalam partai tersebut dan sebagian lagi tidak mau ikut serta. Pengurus Sumatera Thawalib berusaha membersihkan diri dari kasus 1926 dan merubah nama dari Sumatera Thawalib menjadi Thawalib. Sementara itu Syeikh Abbas Abdullah yang juga tidak mau melibatkan diri dalam masalah ini ikut merubah nama Pesantren dan Madrasahnya menjadi Darul Funun Abbasiyah, yang bertahan hingga sekarang ini.

    Bila dilihat dari sikap yang diambil ulama ini, maka beliau bisa digolongkan sebagai ulama tradisional. Namun begitu, beliau bersikap netral terhadap ‘perbedaan pendapat’ yang terjadi antara kelompok Kaum Tua (Ulama Tradisional) -dibawah pimpinan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli dengan Ittihadul ’Ulamanya yang kemudian berkembang menjadi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)- dengan kelompok Kaum Muda(Ulama Pembaharu) -dibawah pimpinan Syeikh Abdul Karim Amrullah dengan PGAI (Persatuan Guru-guru Agama Islam)-. Perkembangan Thawalib yang pesat tersebut kemudian ikut mewarnai perkembangan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

    Pada saat yang hampir bersamaan di wilayah Minangkabau terdapat beberapa Madrasah lain yang telah menggunakan sistem klasikal. Madrasah-madrasah tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok: Thawalib, Darul Funun Abbasiyah, Tarbiyah Islam, dan Diniyah Putra-Diniyah Putri. Pengelompokkan ini tentu untuk sekedar memudahkan, andaikan terjadi perbedaan pendapat hanya berkisar masalah metode dan masalah furu fiqhiyah saja, dan tidak sampai menyangkut masalah prinsipil atau aqidah. Berdirinya lembaga-lembaga yang cukup modern di Sumatera Barat ini telah mampu membuka cakrawala wawasan umat Islam di wilayah itu. Dengan demikian, rata-rata tokoh Islam yang datang kemudian dari Sumatera Barat mempunyai pola berpikir progresif (maju) dan dinamis (berkembang) dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Sikap demikian dipengaruhi juga oleh budaya masyarakat Minang yang tergolong masyarakat dagang dan perantau (pengembara) yang memiliki mobilitas cukup tinggi, bahkan tertinggi dibandingkan masyarakat lain di Indonesia.

    Meski telah menjadi seorang ulama besar dan berpengaruh namun Syeikh Abbas tidak segan-segan untuk selalu menambah ilmu dan pengetahuan. Beliau sering berkunjung ke negara-negara Islam, khususnya Timur Tengah (Mesir, Libanon, Syiria dan lain sebagainya) bahkan sampai ke Eropa, untuk mengadakan studi banding, mencari sistem yang lebih tepat untuk dikembangkan. Seusai kunjungannya ke al-Azhar dalam rangkaian pengembaraannya selama 3 tahun (1921-1924 M). Maka dengan dukungan kakaknya, Syeikh Mustafa Abdullah, Syeikh Abbas mengadakan pengembangan-pengembangan di Pesantrennya. Pengembangan itu dilakukan dengan menyesuaikan sistem pendidikan di madrasahnya dengan sistem pendidikan yang diterapkan di al-Azhar, yaitu 4 tahun untuk tingkat Ibtidaiyah dan 4 tahun untuk Tsanawiyah. Sekarang tentu saja sistem ini telah mengalami berbagai perubahan dengan kebijakan Standarisasi Kurikulum Madrasah oleh Kementrian Agama. Maka Darul Funun Abbasiyah pun ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan itu, kecuali untuk pengajian kitab-kitab kuning bagi santri yang menetap yang masih tidak jauh berbeda dari Pesantren-pesantren lainnya di Indonesia.

    Perjalanan Pesantren Darul Funun Abbasiyah termasuk Madrasahnya tidak selalu mulus tanpa gangguan apapun. Sikap Syeikh Abbas, sebagaimana ulama lainnya, terhadap penjajah Brlanda adalah non cooperation, baik secara terang-terangan ataupun secara pasif. Sehingga tidak aneh kalau kemudian Gubernemen Hindia-Belanda, lewat residennya di Sumatera Tengah (Sumatera Barat, Riau dan Jambi) beserta aparatnya, mengadakan penggeledahan ke Pesantren Darul Funun Abbasiyah pada tahun 1934 M. Syeikh Abbas dicurigai hendak memberontak atau minimal merongrong kewibawaan Pemerintah Hindia-Belanda. Untuk sementara waktu, Pesantren Darul Funun menghentikan kegiatan kurikulernya, tetapi setelah masa penggeledahan selesai kegiatan Pesantren normal kembali, bahkan santrinya bertambah banyak.

    Sikap Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang terhadap perjuangan untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan sangat jelas. Beliau merupakan ulama pejuang lahir maupun batin, dan itu terbukti pula pada awal kemerdekaan ketika beliau terpilih sebagai Imam Jihad barisan laskar Sabilillah yang didirikan oleh MIT (Majelis Islam Tinggi) Sumatera Barat. Peran Syeikh Abbas dalam perang kemerdekaan besar sekali, khhususnya di Sumatera Barat. Lebih dari itu, Syeikh Abbas dengan Pesantren Darul Funun Abbasiyah mempunyai jasa besar sekali bagi keberlangsungan hidup pemerintahan Indonesia di masa Revolusi fisik (1945-1949 M).

    Dengan teerjadinya Clash II, pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral Spoor berhasil menduduki Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta, dan berhasil menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta dan beberapa pejabat tinggi Indonesia lainnya. Sebelum Presiden Soekarno diasingkan ke Brastagi (Sumatera Utara), beliau sempat membuat surat mandat kepada Menteri Kemakmuran, Syafrudin Prawiranegara, SH., untuk membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Dengan surat mandat tersebut, Syafrudin yang berada di Sumatera membentuk PDRI yang berpusat di Bukittinggi.

    Pada masa pemerintahan PDRI itulah Padang Japang menjadi salah satu pusat kegiatan pemerintahan. Pesantren Darul Funun Abbasiyah pimpinan Syeikh Abbas dijadikan Kantor Kementerian PKK dan Agama, yang di kepalai oleh Teuku Muhammad Hasan, SH. Sedangkan kegiatan perkantoran setiap hari dipimpin oleh Sekjennya, Haji Mahmud Yunus, yang sejak lama telah berkecimpung dalam dunia pendidikan agama di Sumatera Barat. Sebagai pusat kegiatan pemerintahan PDRI tentu saja Padang Japang tidak sampai terjangkau oleh musuh (Belanda), karena letaknya jauh di pedalaman. Dengan demikian, kegiatan Pesantren dan Madrasah Darul Funun Abbasiyah tetap berjalan sebagaimana biasanya.

    Syeikh Abbas mempunyai andil sangat besar dalam memberikan dorongan semangat perjuangan kepada para pejuang, khususnya barisan Hizbullah-Sabilillah yang dipimpinnya sendiri. Disamping itu, ulama Darul Funun ini memberikan nasihat dan semangat perjuangan kepada aparat PDRI dan kaum Republikeinlainnya. Beberapa pejabat dari Pemerintah Pusat (Yogyakarta) pernah berkunjung ke Padang Japang setelah dicapainya kesepakatan dalam Perundingan Roem-Royen, 7 Mei 1949, yang berisi tentang gencatan senjata (Cease Fire) dan pemulangan tokoh-tokoh RI ke Yogya. DR. J. Laimena dan Muhammad Natsir datang ke Padang Japang untuk berunding dengan Perdana Menteri PDRI Syafrudin Prawiranegara, yang juga dihadiri oleh Syeikh Abbas Abdullah sebagai Sesepuh Padang Japang. Dari pertemuan itulah, Perdana Menteri Syafrudin Prawiranegara bersama Lukman Hakim (Menteri Keuangan mewakili Kehakiman PDRI) menghadap Presiden Soekarno di Yogyakarta untuk menyerahkan kembali mandatnya. Beberapa peristiwa ini menunjukkan bahwa Syeikh Abbas mempunyai andil yang berarti dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia.

    Setelah berjuang, mengabdi dan mempelopori pembaharuan pendidikan Islam di Sumatera Barat lebih dari setengah abad, ulama besar ini dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Syeikh Abbas wafat pada hari Senin, 17 Juni 1957 M dalam usia cukup lanjut (74 tahun), karena sakit asma yang telah dideritanya selama beberapa tahun. Walaupun Syeikh Abbas Abdullah telah tiada, tetapi pengaruhnya masih besar di kalangan masyarakat. Syeikh Abbas Abdullah boleh meninggal tetapi Darul Funun Abbasiyah tetap hidup dan terus berkembang. Sampai kini pesantren yang dirintis oleh Syeikh Abbas Abdullah serta kakaknya, Syeikh Mustafa Abdullah, tetap berjalan dan mengadakan berbagai pembaharuan dalam sistem pengajarannya, sehingga Pesantren tersebut terus berkembang hingga kini.

     

    Tentu saja Syeikh Abbas sebagai ulama besar dan Darul Funun sebagai pesantren besar telah banyak mencetak ulama dan tokoh masyarakat dengan berbagai macam profesi. Diantara mereka terdapat ulama muda terkenal Zainuddin Labay El Yunusi, pendiri Diniyah Putra School, sayangnya beliau berusia pendek dan wafat sekitar tahun 1923 M. Syeikh Sulaiman Rasyid, pengarang buku Fiqih terkenal dan menjadi rujukan untuk pendidikan agama di sekolah umum, Fiqhul Islami, yang sekaligus juga sebagai pendiri IAIN Raden Intan Lampung adalah juga santri Padang Japang, asuhan Syeikh Abbas. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang pernah diasuh ulama besar ini. Yang jelas Syeikh Abbas Abdullah adalah ulama besar, tergolong ulama tradisionalis, tetapi mampu melaksanakan terobosan-terobosan penting untuk kemajuan pendidikan Islam khususnya di Sumatera Barat yang gemanya sampai ke seluruh Indonesia, secara langsung ataupun tidak langsung.

    Sumber: http://islamtajug.blogspot.nl/2016/12/biografi-singkat-syeikh-abbas-abdullah.html

  • Mengenang Jejak Langkah Prof. H. Bustanul Arifin, S.H.

    Mengenang Jejak Langkah Prof. H. Bustanul Arifin, S.H.

    Sang Perintis…

    Pernah menjadi jembatan penghubung antara MA dan Depag. Menyumbangkan sebagian besar episode hidupnya untuk mengembangkan hukum Islam dan peradilan agama di Indonesia. Mahakaryanya berupa UU Perkawinan dan KHI.

    Pada akhir tahun 1970-an, hubungan Mahkamah Agung (MA) dan Departemen Agama (Depag) menegang. Salah satu pangkal masalahnya ialah soal kasasi. Depag bersikeras putusan dari peradilan agama tidak boleh diajukan kasasi ke MA.

    “Di samping prosedurnya belum ada, juga karena belum ada hakim agung bidang agama di MA,” kata Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Depag, H. Ichtijanto SA, S.H., sebagaimana ditulis Tempo edisi 14 April 1979.

    Sebaliknya, demi memberi akses masyarakat untuk memperoleh keadilan, MA tetap membuka pintu kasasi, bahkan kasasi itu bisa langsung diajukan ke MA tanpa melalui pengadilan agama.

    “Kalau tidak ke MA mau minta kasasi ke mana lagi?” ujar Ketua MA saat itu, Prof. Oemar Seno Adji, S.H.

    UU Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman tahun 1970 memang mengatur bahwa MA merupakan puncak peradilan yang membawahi peradilan umum, peradilan agama dan peradilan militer. Namun UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sama sekali tidak mengatur mengenai upaya kasasi perkara-perkara perdata agama yang jadi kewenangan peradilan agama.

    Ketegangan antara MA dan Depag itu mulai mengendur pada tahun 1979. Ketua MA mengeluarkan SK No. 3/KMA/1979tertanggal 10 April 1979 tentang “Penyelesaian Pemeriksaan  dalam Kasasi Perkara-perkara yang Berasal dari Pengadilandalam Lingkungan Peradilan Agama”. SK tersebut perlu dikeluarkan lantaran perkara kasasi yang kian menumpuk di MA, baik melalui peradilan agama sendiri maupun yang diterima langsung oleh MA dari pemohon, perlu segera dibereskan.

    Nah, dalam SK itu, nama Bustanul Arifin, S.H. turut disebut. Ia ditunjuk oleh Ketua MA menjadi salah satu di antara enam hakim agung MA yang bertugas menyidangkan dan menyelesaikan perkara-perkara kasasi dari peradilan agama. Lima hakim agung lainnya adalah Ny Widoyati Wiratmo Soekito S.H., Z.
    Asikin Kusumah Atmadja, S.H., B.R.M. Hanindyopoetro Sosropranoto, S.H., Purwoto S. Gandasubrata, S.H., dan Kaboel Arifin, S.H.

    Sejak itu, hubungan MA dan Depag tidak lagi menegang. Hubungan itu kian membaik ketika untuk kali pertama dalam sejarah, pada tahun 1982 MA memiliki Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama (Tuada Uldilag). Hakim agung yang terpilih jadi Tuada Ulidlag itu tidak lain adalah Bustanul Arifin. Ia diangkat berdasarkan Keppres No. 33/M/1982 tertanggal 22 Februari 1982.

    Setahun kemudian, jurang pemisah antara MA dan Depag semakin hilang. Itu terjadi ketika Ketua MA Mudjono dan Menag Alamsyah meneken Surat Keputusan Bersama (SKB). SKB tertanggal 7 Januari 1983 itu berisi empat hal: pengangkatan hakim peradilan agama, pengawasan hakim peradilan agama, pemberian bantuan hukum, dan pembentukan lembagakonsultasi antara kedua instansi.

    Mencairnya hubungan antara MA dan Depag membuat Bustanul Arifin dapat lebih mengaktualisasikan diri dan memberi kontribusi yang lebih besar untuk pengembangan hukum Islam dan peradilan agama di Indonesia.

    Hal itu terbukti dari dua momen penting dalam hidupnya. Yang pertama ialah saat ia dipercaya menjadi ketua tim penyusun RUU Peradilan Agama. RUU itu sebenarnya sudah dipersiapkan sejak 1971, berdasarkan Inpres Tahun 1970. Hanya, naskah yang berisi pokok-pokok dan kandungan RUU Peradilan Agama ketika itu tak bisa dilanjutkan ke DPR. Menteri Kehakiman waktu itu menyarankan agar RUU tersebut disampaikan setelah UU MA dan UU Peradilan Umum disahkan DPR.

    Pada masa Menteri Agama Mukti Ali, usaha penyusunan RUU Peradilan Agama dimulai lagi. Ketika itu tim penyusun beranggotakan wakil-wakil dari MA, Departemen Kehakiman, Departemen Agama, Universitas Indonesia, dan Fakultas Syar’iyah IAIN Jakarta. Tim itu yang diketuai Bustanul Arifin itu terbukti berhasil menyusun RUU Peradilan Agama dan RUU Acara Perdata Agama. Akhirnya dua RUU itu dijadikan satu dan disahkan menjadi UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

    Momen penting lainnya ialah kala Bustanul Arifin diberi amanah untuk memimpin tim penyusun rancangan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Saat itu, selain jadi Tuada Uldilag, ia juga jadi Sekjen Perhimpunan Ahli Hukum Islam Asia Tenggara. Saat menyusun rancangan KHI, ia dibantu Prof. Chalid, Masrani Basran, Amiruddin Nur, dan Muchtar Zarkasyi.

    Gagasan penyusunan KHI itu merupakan tindak lanjut atas SKB Ketua MA dan Menag yang diteken pada 1985. Berisi tentang perkawinan, waris dan wakaf, rancangan KHI itu jadi pada Desember 1987 lalu diseminarkan setahun berikutnya. Pada akhirnya, KHI itu disahkan oleh Presiden Soeharto melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991.

    ***

    Bustanul Arifin dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, pada tanggal 2 Juni 1929. Ia anak terakhir dari enam bersaudara, putra pasangan Andaran Gelar Mahatajo Sutan-Kana.

    Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Dasar Belanda. Bukan sekolah agama memang, tapi sebagaimana anak laki-laki di Minangkabau, Bustanul kecil tidak punya tempat di rumah. Maka kehidupan kanak-kanaknya hingga menjelang dewasa dilewatkan di surau. Di tempat itulah Bustanul mempersiapkan pelajaran sekolahnya. Di surau pula ia belajar membaca al-Qur’an.

    “Kelas dua SD saya sudah khatam al-Qur’an,” ungkap Bustanul, sebagaimana tertulis di buku Mutiara yang Tak Terlupakan.

    Bustanul belajar mengaji kepada pamannya yang bernama sama dengan nama salah seorang sahabat Nabi saw. Ibnu Abbas. Pada masanya, pamannya itu adalah qari ternama di daerahnya. Selain belajar mengaji kepada pamannya, Bustanul pun memperoleh pemahaman tauhid dari kakeknya, Tuanku Keramat.

    “Biasanya pada bulan Ramadhan saya tinggal di rumah kakek. Sesudah makan sahur sampai subuh saya mengaji kepada beliau. Seperti paman saya, datuk saya pun buta huruf latin,” kenang Bustanul.

    Surau makin akrab dengannya, ketika setamat SD, Bustanul tidak boleh melanjutkan sekolah ke SMP. Ketika itu, satu-satunya SMP ada di Padang sementara jarak antara Payakumbuh-Padang waktu itu terasa amat jauh. Namanya anak-anak, dilarang melanjutkan sekolah Bustanul malah senang. Dua setengah tahun Bustanul tidak sekolah. Selama masa itu, pekerjaannya sehari-hari ialah pergi ke sawah, lading, mengaji, belajar silat, dan membaca buku.

    Ketika Jepang masuk ke Indonesia, Bustanul sempat masuk Seinenda yang pelatihannya amat keras. Mungkin karena itu, meskipun baru berusia belasan, Bustanul diperlakukan bagai orang dewasa. Dia mulai sering diminta bertabligh. Karena sering diminta bertabligh itulah, mau tidak mau Bustanul terus menambah ilmu-ilmu keislaman, baik dari hasil bacaan, maupun dari pergaulan.

    Ketaatan kedua orang tua Bustanul dalam beribadah, juga meninggalkan jejak mendalam di hatinya; Begitu mendalam, sampai-sampai ketika masih SMP Bustanul menyatakan hasratnya untuk mengikuti jejak kedua orang tuanya masuk tarekat. Tetapi, hasranya itu dicegah ibunya: “Jangan. Kamu berdosa nanti, karena kamu masih sering hilir mudik ke sana ke mari, dan ketawa-ketawa”.

    Sekitar tahun 1947, ketika masih kelas dua SMP, Bustanul sakit keras selama enam bulan. Entah apa penyakitnya, yang jelas obat-obatan susah didapat karena diblokade oleh Belanda. Begitu parahnya penyakit yang mendera Bustanul, sehingga dia pernah koma selama 24 jam. Dokter yang menanganinya sudah menyerah, dan menyatakan tidak ada lagi harapan hidup bagi Bustanul.

    Semua sanak famili telah berkumpul seraya membaca surat Yasin di sekitar tempat tidur. Dalam keadaan demikian, ibun Bustanul bernadzar: “Kalau kamu sembuh nanti, ibu akan sekolahkan kamu ke Sumatera Thawalib supaya bisa berguru ke Inyik Candung (Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli – pen)”. Konon, dalam keadaan koma, Bustanul mengiyakan nadzar ibunya itu.

    Sesudah ternyata Bustanul sembuh, Ny. Kana bermaksud melaksanakan nadzarnya. Bustanul pun sudah bersiap-siap berangkat ke Sumatera Thawalib. Namun ayahandanya punya pendapat lain. Menurutnya, jika Bustanul dikirim ke Sumatera Thawalib, dia harus mengulang kembali pelajarannya dari awal. Padahal Bustanul sudah kelas dua SMP. Lagi pula, kata ayahndanyaL “Agama itu, kemampun kita berjalan asal niatnya sudah betul, sudah dapat.

    Akhirnya Ny. Kana membatalkan nadzarnya dengan membayar kafarat. Kelak, ketika Bustanul sudah menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UGM, ayahnya berkirim surat – sesuatu yang di luar kebiasannya. Isi surat itu antara lain: “Kamu sekarang sudah sekolah tinggi hukum. Satu hal jangan pernah kamu lupakan: tidak bergerak selain di jalan Allah.”

    Kalimat terakhir itu digarisbawahi. Tidak lama sesudah berkirim surat tersebut, ayahnya Bustanul wafat. Karena itu Bustanul menganggap surat itu sebagai wasiat. Wasiat dan keinginan ibundanya menyekolahkan Bustanul ke lembaga pendidikan Islam, kelak mempengaruhi jalan hidupnya.

    Sebuah keajaiban dialami Bustanul. Dirinya yang selama di SMP aktif berorganisasi – antara lain pernah menjadi sekretaris Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Sumatera yang diketahui oleh Bustaman (kini Dr. S.H. –pen), tidak terlalu baik prestasi belajarnya, dalam ujian akhir SMP justru meraih prediket terbaik se-Sumatera Tengah. Karena prestasinya itu, pemerintah RI berniat menyekolahkan Bustanul ke Singapura dengan beasiswa. Karena itulah setamat SMP pada 1948, Bustanul tidak segera mendaftar ke SMA Bukittinggi. Dia menunggu kabar dari ibu kota, Yogyakarta. Namun, karena terjadi agresi Belanda, kabar dari Yogya tidak pernah diterimanya, dan rencana melanjutkan sekolah ke Singapura pun gagal.

    Bustanul kemudian mencemplungkan diri ke kancah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dia bergabung ke dalam Pasukan Mobil Teras “Gerilya Antara” Sektor II Front utara Payakumbuh. Dalam pasukan itu, Bustanul menjadi anggota Brigade Tempur Istimewa.

    Sesudah pengakuan kedaulatan, 1949, Bustanul berangkat ke Jakarta dan masuk SMA. Tahun 1951, Bustanul lulus. Tahun itu juga dia berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi di Fakultas Hukum UGM (ketika itu bernama Fakultas Hukum; Ekonomi, Sosial, dan Politik –pen). Bustanul kuliah sambil aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Atas desakan teman-temannya, Bushtanul menjadi Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta (1954-1955). Selain aktif di organisasi, Bustanul pun mengajar di salah satu SMA swasta.

    Sesudah lulus dari fakultas hukum pada akhir 1955, Bustanul meniti karier sebagai hakim di Semarang. Sambil bekerja sebagai hakim, Bustanul mengajar di sebuah SMA swasta. Suatu hari beberapa temannya mengajak mendirikan perguruan tinggi. “Masak mau mengajar di SMA terus,” kata mereka. Sejak itulah Bustanul terlibat aktif dalam panitia pembentukan Universitas Semarang yang kemudian menjadi Universitas Diponegoro. Ketua panitiana Imam Bardjo, pernah menjadi Jaksa Tinggi di Jawa Tengah. Mantan Ketua Mahkamah Agung, Mr. Soerjadi, turut pula dalam kepanitiaan.

    Waktu rapat pembagian tugas mengajar, Bustanul langsung menawarkan diri untuk memegang mata kuliah hukum pidana sesuai dengan disiplin ilmunya. Namun rapat terbentur pada siapa yang akan mengajar mata kuliah hukum Islam, padahal mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah wajib di fakultas hukum. Akhirnya ketua panitia memutuskan bahwa mata kuliah hukum Islam harus dipegang Bustanul.

    “Mata kuliah hukum Islam harus kamu yang memegang. Yang bisa baca Qur’an cuma kamu. Masak kami yang tidak membaca al-Qur’an harus mengajar hukum Islam,” kata Bardjo mendesak. Akhirnya resmilah Bustanul memegang mata kuliah hukum Islam. Karena harus mengajar sesuatu yang bukan disiplin ilmunya, mau tidak mau Bustanul pun mesti giat belajar. Yang amat disyukurinya, buku-buku mengenai hukum Islam relative mudah diperoleh.

    Kebiasaannya di kampong dan di Yogya, juga terus berlanjut. Di Semarang, Bustanul dekat dengan para ulama dan tokoh-tokoh Islam seperti K.H. Moenawar Cholil, K.H.A Gaffar Ismail (Pekalongan), dan Imam Sofwan. “Kalau saya berkunjung ke rumah Kiai Moenawar Cholil, atau beliau mengunjung isaya, bisa dipastikan subuh baru kami selesai ngobrol,” ungkap Bustanul tentang keintimannya dengan Kiai Moenawar Cholil.

    Ketika Bustanul diangkat menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Negeri Kalimantan Selatan dan Tengah yang berkedudukan di Banjarmasin (1966-1968), mengingat frekuensi kesibukannya yang demikian tinggi, dirinya menduga waktunya akan habis mengurusi tugas, dan tidak ada lagi waktu luang untuk berkomunikasi dengan para ulama. Dugaan Bustanul itu ternyata keliru. Di Banjarmasin, dia tetap dekat dengan para ulama.

    Dalam menjalin komunikasi dengan para ulama dan tokoh-tokoh agama, Bustanul sama sekali tidak memandang latar belakang politik atau pendirian tokoh yang bersangkutan. Dengan mantan Perdana Menteri RI dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Mohammad Natsir (1908-1993) pun, Bustanul menjalin hubungan cukup akrab.

    Di tengah perdebatan soal RUU-PA, dua kali Natsir mengundang Bustanul untuk berceramah soal RUU-PA. Pertama di depan para ulama dan pimpinan pondok pesanteren se-Jawa Barat, di Sukabumi. Kedua, di depan para da’i Dewan Dakwah dari seluruh Indonesia yang dikumpulkan di Jakarta. Kedua undangan itu, dipenuhi Bustanul. Tetapi karena Natsir adalah salah seorang penandatanganan Petisi 50 salah seorang sejawatnya di Mahkamah Agung, sempat mempertanyakan kesediaan Bustanul memenuhi undangan Natsir. Dan Bustanul menjawab pertanyaan itu dengan tegar: “Mengapa tidak? Pak Natsir itu kan Ketua Dewan Dakwah, tokoh agama yang banyak jasanya untuk negara kita. Jangankan Pak Natsir, orang komunis pun kalau mereka meminta saya menerangkan soal agama, akan saya penuhi.

    Dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 38 tahun 1968 tertanggal 3 Februari 1968, Bustanul diangkat menjadi Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI. Ketika diangkat menjadi Hakim Agung itu, usia  Bustanul baru 38 tahun.

    Sesudah 14 tahun menjadi Hakim Agung, pada tanggal 22 Februari 1982 melalui Keppres No. 33/M Tahun 1982, Bustanul diangkat menjadi Ketua Muda Mahkamah Agung RI Urusan  Lingkungan Peradilan Agama.  Jabatan itu dipangkunya sampai saat Bustanul memasuki masa pensiun pada 30 Juli 1994.

    ***

    Pada 18 September 2012, ketika Badilag menggelar acara puncak Peringatan 130 Tahun Peradilan Agama di Hotel Mercure Jakarta, Bustanul Arifin hadir di sana. Ia banyak bercerita dan membagi nasehatnya ketika para sesepuh dan tokoh peradilan agama berkumpul.

    Mengawali ceramahnya, Pak Bus—demikian sapaan akrabnya—menegaskan peradilan agama harus terus mengikatkan diri pada landasan syar’i dalam membuat putusan. Menurutnya, ilmu hakim berbeda dengan ilmu hukum.

    “Jika ilmu hukum hanya mengandalkan nalar, maka ilmu hakim harus menyeimbangkan ilmu nalar dan ilmu naluri,” ujarnya.

    Pak Bus juga mengatakan peradilan agama sejak dulu sudah dihormati oleh lembaga luar negeri dan sering diundang dalam acara internasional. Itu karena, salah satunya, SDM peradilan agama mumpuni.

    Pak Bus mengenang masa ketika menjadi Tuada Uldilag. Kala itu Pak Bus mendapat undangan istimewa untuk menyampaikan makalah seputar perkembangan peradilan agama di Belanda. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik, ditambah literatur bahasa Belanda yang familier, Pak Bus mampu mempesona para peserta dalam acara tersebut.

    Kepada para hakim peradilan agama di masa sekarang, Pak Bus berharap agar bisa lebih meningkatkan diri dengan mempelajari berbagai ilmu hukum. Di samping itu, menurut Pak Bus, para hakim perlu menguasai bahasa asing, agar dapat bergaul dengan berbagai kalangan, termasuk dari luar negeri.

    Kini Pak Bus telah tiada. Bukan saja keluarga besar peradilan—khususnya peradilan agama—yang berduka. Umat Islam dan anak-anak bangsa juga layak kehilangan sosoknya. Itu karena Pak Bus bukan saja tokoh peradilan, namun juga tokoh Islam dan tokoh bangsa.

    Selamat jalan, Pak Bus. Selamat jalan, Sang Perintis…

    [hermansyah l rahmat arijaya]

    Sumber: http://www.badilag.net/seputar-ditjen-badilag/seputar-ditjen-badilag/mengenang-jejak-langkah-prof-h-bustanul-arifin-s-h

  • Orang Minang Menghadapi Agresor Belanda

    Orang Minang Menghadapi Agresor Belanda

    Perang Sabil Melawan ‘Musuh Allah dan Musuh Kita’

    Pada pertengahan Juli 1947, kaum Muslim di Indonesia sedang menunaikan ibadah puasa. Suasana Ramadahn tentu terasa di mana-mana, juga di Sumatera Barat: surau dan mesjid diramaikan oleh jemaah yang melaksanakan shalat taraweh.

    Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh serangan Belanda yang dilakukan secara mendadak. Belanda menyerang titik-titik penting wilayah Republik Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Banyak orang tidak menyangka bahwa Belanda tanpa rasa malu melanggar kesepakatan damai Perundingan Linggarjati yang baru saja ditandatangani pada 25 Maret 1947.

    Pada 20 Juli 1947 Belanda melancarkan perang yang kemudian dikenal sebagai Agresi Belanda I.  Belanda, melalui mulut H.J. van Mook, tidak mengakui perjanjian yang sudah disetujuinya sendiri.

    Maka, tentu dapat dikira betapa marahnya rakyat Indonesia pada waktu itu. Mereka makin dapat melihat sifat bangsa Belanda yang sebenarnya. Namun, serangan sporadis tentara Belanda dengan persenjataan modern yang lengkap tidak membuat mereka takut. Malah sebaliknya: semangat untuk mempertahankan Republik justru makin menggebu.

    Artikel ini mengajak kita menjemput kenangan hari-hari pertama Agresi Belanda I itu, sekedar untuk mengajak pembaca memaknai peringatan Hari Pahlawan kali ini dengan melihat peran para ulama dan rakyat berderai pada umumnya.

    Sekitar seminggu setelah Belanda melancarkan serangan keji itu, kaum ulama Minangkabau mengeluarkan fatwa perang sabil melawan agresor Belanda. Saya beruntung menemukan dua lembar selebaran yang memuat seruan jihad itu di Belanda. Dokumen itu saya temukan ketika membongkar arsip NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service yang panjangnya kurang-lebih 7 meter yang tersimpan di Nationaal Archef Belanda di Den Haag.

    14473839751754945709

    “MAKLUMAT. KEPUTUSAN RAPAT PARA ALIM ULAMA DAN MUBALLIGIN S. BARAT. Pada petang Sabtu tgl. 25-26 Djuli 1947 di [gedung] Tamoe Agoeng Boekittinggi”, demikian kata-kata pembukaan pada halaman pertama selebaran ajakan merang sabil melawan aggressor Belanda itu. Berikut lanjutannya:

    “Pada tanggal terseboet telah berapat para Alim Ulama dan Muballigin jg terkemuka di Sumatera Barat, buat memperkatakan serangan Belanda dan perang kolonialnja mulai tanggal 20 Djuli 1947 dengan tjara besar2an dan biadab itu, Ulama dan Muballigin telah mengambil keputusan:

    1. PENGERAHAN PERANG SABIL TERHADAP BELANDA, MUSUH ALLAH DAN MUSUH KITA.
    2. HUKUM PERANG SEKARANG ADALAH FARDHU ‘AIN ATAS TIAP2 MUKALLAF LELAKI DAN PEREMPUAN.

    Dan unt[uk] melantjarkan perang Sabil ini, para Ulama dan Muballigin telah menentukan tugas pekerdjaannja sebagai berikut:

    1. Mempererat rasa persatuan untuk kemenangan.
    2. Mengobar-ngobarkan semangat djihat (sic) dan sjahid.
    3. Memperhebat rasa pengorbanan rakjat: darah, njawa, harta benda, tenaga dan pakaian.
    4. Turut mengumpulkan pengorbanan rakyat bersama-sama badan jang telah ditetapkan, atau diberi kuasa sendiri oleh pemerintah, ump[pamanya]: mengumpulkan emas, padi lumbung perang dll.
    5. Membawa rakjat patuh, thaat pada agama, karena menurut paham agama, bahwa meninggalkan segala jang dilarang Allah, serta mengerdjakan suruhan[n]ja dalam masa perang, adalah mendjadi satu sjarat kemenangan.
    6. Membawa rakjat patuh kepada pemerintah dan Negara Republik Indonesia.
    7. Mengandjurkan supaja seluruh kaum muslimin dan muslimat lelaki perempuan siap sedia dan waspada dengan segala matjam sendjata apapun djuga. Ump[amanya]: tombak lembing, pisau; kapak dan sebagainja, untuk menjambut segala kemungkinan dan buat menghantjurkan musuh Allah dan musuh kita.

    ————————————————————-

    SIARAN:

    DEWAN PERTAHANAN

    DAERAH SUMATERA BARAT

    Bag: PUBLIKASI

    Dapat kita menduga bahwa kedua lembar selebaran itu jatuh ke tangan Belanda mungkin lewat bantuan ‘jasa’ intel-intel Melayu NEFIS. Namun, hal itu memberi penjelasan kepada Belanda bahwa bangsa Indonesia tidak takut menghadapi agresi militer yang mereka lancarkan, yang bertujuan untuk menjajah Indonesia kembali.

    Lembaran kedua berisi himbauan untuk melancarkan perang jihad melawan Belanda, diawali dengan kata-kata: “PENGERAHAN PERANG SABIL TERHADAP BELANDA

    MUSUH ALLAH DAN MUSUH KITA”.

    Kata-kata berikutnya adalah seruan untuk melakukan perang sabil:

    “Belanda telah njata2 berniat hendak melebur Agama Tuhan dan menghantjurkan Negara kita.

    Belanda telah memerangi kita didarat, diudara, dan dilautan.

    Tengah kita melakukan ibadat PUASA, dibulan jang sutji ini, tiba2 kita digempur.

    Oleh sebab itu kami Ulama2 Besar diatas nama kaum MUSLIMIN dan MUSLIMAT, dengan ini mengerahkan:

    “PERANG SABIL”

    terhadap Belanda, musuh Allah dan musuh kita.

    KEPADA SELURUH KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG MUKALLAF DISERUKAN SUPAYA: BERJIHAD DENGAN KEIMANAN DAN KEJAKINAN, DENGAN HARTA; NJAWA, TENAGA DAN PIKIRAN.

    KEPADA SELURUH ULAMA JANG BERTANGGUNG DJAWAB LANGSUNG TENTANG KETINGGIAN AGAMA SUTJI KITA, BERIKANLAH TENAGA JANG SEBESAR-BESARNJA DALAM MELAKSANAKAN PERANG FI SABILILLAH JANG TENGAH KITA LANTJARKAN INI, DAN BERTJAJALAH BAHWA ALLAH DIPIHAK KITA.

    Firman ALLAH: artinja:

    1. PERANGILAH OLEHMU AKAN MUSUH2 KAMU JG TENGAH MEMERANGI KAMU (KERAS LAWAN KERAS) (Albaqarah ajat).
    2. BUNUHLAH OLEHMU AKAN MUSUH2 KAMU DIMANA SADJA KAMU DJUMPAI (Albaqarah ajat).

    KAMI ATAS NAMA ‘ALIM ULAMA SUMATERA BARAT:

    1. Sech Mhd. Djamil Djambek Bukit Tinggi
    2. Sech Abbas Abdullah Pajakumbuh
    3. Sech Ibrahim Musa Parabek Bukit Tinggi
    4. Sech Daoed Rasjidi Balingka Bukit Tinggi
    5. Sech Suleiman Arrasuli Tandjung Bukit Tinggi
    6. Sech Abd. Wahid Tabek Gadang Pajakumbuh
    7. Sech H. Mhd. Said Batusangkar
    8. Sech H. Adjhuri Batusangkar
    9. Sech Ibrahim Tjakar Pajakumbuh
    10. Sech Mustafa Abdullah Pajakumbuh

    Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

    Bukittinggi 27 Djuli 1947

    Peringatan:

    Maklumat ini hendaklah dibatjakan dimesdjid2 Djumat dan sesudah sembahjang tarawih disurau2 dan langgar2.

    1. Berdasarkan kepada “maklumat” ini diwadjibkan kaum Muslimin memberi nafkah perang, apabila diminta oleh badan pemerintah jang bertanggung djawab, kalau tidak berdosa besar.

     

    Pertj[etakan] NRI                                                 Siaran DPD

     

    Demikian salinan dari selebaran yang berisi himbauan dari kaum ulama Minangkabau untuk melakukan perang fi sabilillah melawan Belanda menyusul dilancarkannya agresi militer oleh bekas bangsa penjajah itu terhadap negara Republik Indonesia yang masih bayi merah itu.

    Dokumen ini mengungkapkan peram ulama Sumatera Barat dalam menggerakkan massa melawan decolonisatieoorlog yang dilancarkan Belanda di Indonesia. Sejarah telah mencatat bahwa massa rakyat – besar, kecil, tua, muda, lelaki, perempuan – dengan gagah berani maju ke depan menghadang peluru-peluru tentara Belanda.  Ribuan kesuma bangsa gugur di medan perang itu.

    Seperti halnya lima pahlawan nasional baru yang ditetapkan berdasarkan Kepres 116/TK Tahun 2015 (Bernard Willem Lapian, Mas Iman, Komjen Pol Moehamad Jasin, I Gusti Ngurah Made Jelantik, dan Ki Bagus Hadikusumo), Sech/Syekh Djamil Djambek dan kawan-kawannya, dan juga seluruh rakyat Sumatera Barat yang sudah berjuang melawan agresi Belanda, dengan mengorbankan harta, benda, dan nyawa mereka, adalah pahlawan bagi bangsa dan negara ini.

    Mereka semua telah tiada: jiwa-jiwa yang telah “melayang untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan”. Dan seperti kata Chairil Anwar lagi: mereka “tidak lagi bisa berkata”, “tapi adalah kepunyaan” kita. “Kenang, kenanglah” mereka. Sebisamu!

    Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda

  • Sejarah MAN Padang Japang

    Sejarah MAN Padang Japang

    Sejarah MAN Padang Japang tidak dapat terlepas dari sejarah yang telah menjadi kenyataan, bahwa Madrasah Aliyah Negeri Padang japang berpangkal tolak dari keadaan sejarah Darul Funun El-Abbassiyah yang telah membuktikan kejayaannya masa lalu.

    Darul funun El-Abbassiyah dibangun oleh ayah Syech Abbas Abdullah pada tahun 1854 dengan system Halakah selama 70 tahun tanpa hentinya. Pada tahun 1924 seorang ulama besar Syech Abbas Abdullah , telah menyempurnakan  dan perobahan, dengan system klasikal yang baik dan rapi dengan memasukkan pelajaran umum dan telah menerbitkan media massa berupa majalah EL IMAM AL MUNIR AL BAYAN yang menyiarkan dan mempopulerkan ajaran Islam membasmi Khurafat dan tahyul, serta memajukan sains umum di pondok pesantern dan masyarakat muslim.

    Perkembangan Darul Funun waktu itu  sangat berjaya dan banyak melahirkan ulama-ulama dan pemimpin masyarakat yang menjadi pemimpin islam dan politik dalam masyarakat serta aktif berjuang menuju ketercapaian kemerdekaan Indonesia, mengisi dan membangun negara yang kita cintai.

    Terjadinya perang dunia kedua dan berlanjut dengan penjajahan jepang serta perjuangan fisik setelah merdeka membawa akibat pada perkembangan Darul Funun yang semakin menurun.

    Pada tahun 1968 dengan lahirnya Orde Baru, serta mulai dicanangkannya pembangunan disegala bidang dengan sebutan Era Pembangunan Lima Tahun yang pertama dan diiringi dengan tersusunnya Pelita demi Pelita yang direalisir tahun 1969 maka terbuka pemikiran tokoh-tokoh masyarakat yang dipelopori oleh Buya Fauzi Abbas untuk memperjuangkan pendirian Madrasah oleh pemerintahan yang ditempatkan di Padang Japang.

    Pemikiran tersebut mendorong musyawarah yang melahirkan pembentukan satu badan yang diketuai oleh Buya H. Fauzi Abbas. Dengan melengkapai data-data yang diperlukan, maka diajukan proposal untuk mendirikan Madrasah, maka akhirnya Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI dengan nomor : No.68/1968 . tanggal 13 April 1968 untuk mendirikan  dua Madrasah yaitu Madrasah Aliyah Negeri dan Madrasah Tsanawiyah Negeri Padang japang yang dikepalai oleh :

    Untuk Madrasah Tsanawiyah dikepalai oleh : AMIRULIS YAKUN
    Untuk Madrasah Aliyah dikepalai oleh : ALMUNIR MARTUNUS, Dt. Paduko Tuan.

    Kedua Madrasah untuk sementara belajar di komplek Darul funun dengan memakai 4 gedung dan 1 kantor. Untuk tenaga pengajar (guru) yaitu terdiri dari guru PNS dan honorer yang dibayar dengan iuran murid sebesar Rp. 200,- setiap bulan.

    Pada tahun 1970  Direktur Direktorat Pendidikan Agama Depertemen Agama RI yaitu bapak Mulya Martosudarso yang didampingi oleh Sekwilda Propinsi Sumatera Barat yaitu bapak Amir Thaib. S.H, meletakkan batu pertama pembangunan kedua Madrasah dengan dana swadaya dari masyarakat.

    Pada tahun 1975 Pemerintah melalui Departemen Agama membangun 5 ruang belajar termasuk kantor dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1975 yang dihadiri oleh segenap lapisan masyarakat kenagarian VII Koto Talago. Gedung ini dipakai oleh Madrasah Aliyah Negeri Padang japang pada tahun 1976.

    Dari tahun 1976 sampai sekarang MAN Padang japang telah berkembang dengan pesat, sehingga sekarang telah tersedia ruang belajar yang memadai, ruang kepala dan kantor tata usaha, ruang majelis guru, labor IPA dan Komputer, perpustakaan serta mushalla dengan data terlampir.

    Sumber: http://manpadangjapang50kota.mysch.id/sejarah/

  • Bung Karno bersama Syekh Abbas dan Syekh Mustafa

    Bung Karno bersama Syekh Abbas dan Syekh Mustafa

    Syekh Abbas Abdullah, bersama kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah, adalah tokoh Islam terkemuka di tanah Minangkabau. Selepas bebas dari pengasingannya di Bengkulu, sekitar tahun 1942, Bung Karno datang ke perguruan Darul Funun El-Abbasiyah, Sumatera Barat, khusus untuk meminta ‘wejangan’ dari mereka mengenai perjuangan bangsa Indonesia.

    Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah, ulama asal Indonesia yang menjadi imam, khatib sekaligus guru besar di Masjidil Haram, Mekkah–imam pertama dari kalangan non orang Arab. Mereka adalah tempat bertanya bagi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang saat itu berbasis di Bukittinggi.

    Ilustrator: VionydazzArt

    http://sukarno.org/bung-karno-bersama-syekh-mustafa-dan-syekh-abbas/

  • Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang

    Oleh: Jose Hendra

    Sila ketuhanan dari Sukarno dianggap saran dari seorang ulama dari Padang Japang, Sumatra Barat.

    PIDATO Sukarno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dikukuhkan jadi hari lahir Pancasila. Dia mengajukan lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan.

    Konsep Ketuhanan yang ditempatkan pada prinsip kelima oleh Bung Karno akhirnya menjadi sila pertama dengan modifikasi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rumusan Panitia Sembilan.

    Menurut Charles Simabura, dosen ilmu tata negara Universitas Andalas, dalam sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, semua anggota memberi usul. Hampir semua menawarkan konsep Ketuhanan. Menurutnya, konsep Ketuhanan yang diusulkan terutama dari golongan agama lebih kongkret lagi yakni Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.

    Lalu dari mana ide Ketuhanan yang ditawarkan Bung Karno?

    Konsep tersebut bulir dari buah pergaulan Bung Karno dengan para ulama. Sejak muda dia tumbuh dalam lingkungan Sarekat Islam. Saat masa-masa pembuangan, Bung Karno terus berkorespondensi dengan ulama. Misalnya, dengan pendiri Persatuan Islam (Persis) Ahmad Hassan saat dibuang ke Ende. Hingga akhirnya, pada 1942, kata Ketuhanan terpatri dalam benaknya ketika kelak Indonesia merdeka dan membentuk dasar negara adalah sebuah keharusan.

    Adalah Syekh Abbas Abdullah yang memberi wejangan kepada Bung Karno. Kala itu, Bung Karno berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syekh Abbas.

    “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan benar-benar tercapai. Dalam hal ini Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalamRiwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981.

    Syekh Abbas, yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

    Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syekh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian. “Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang dia dapat dari keluarga Syekh Abbas dan masyarakat setempat. “Persisnya, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan.”

    Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatra Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.

    Kebesaran kedua syekh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Bukti mesranya hubungan Bung Karno dengan dua ulama tersebut berjejak dalam selembar dokumentasi foto yang diambil Said Son.

    Syekh Abbas dan Syekh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syekh Abbas juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya, Syekh Abbas mendirikan nama madrasah yang sama yakni Madrasah Sumatra Thawalib.

    Tahun 1930, Syekh Abbas mengubah Sumatra Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syekh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatra Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.

    Sementara sekolah tetap menjadi basis menggapai dan mengisi kemerdekaan.

    “Wajar Sukarno menemui Syekh Abbas karena dia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatra Barat.

    Dikatakannya, perjumpaan Sukarno dengan Syekh Abbas hanya sebentar. Datang sekitar jam satu siang lalu balik sekitar sorenya. Bung Karno sendiri berada di Padang ketika era transisi dari Belanda ke Jepang. Dia berada di Sumatra Barat selama lima bulan, dari Februari 1942 hingga Juli 1942.

    http://historia.id/agama/sila-ketuhanan-dari-ulama-padang-japang

     

  • Pedang Para Nabi

    Pedang Para Nabi

    by: Zico Pratama Putra

    Beberapa bulan lalu saya dan istri berkesempatan berkunjung ke Topkapi Palace, Istanbul, Turki. Kunjungan kami ini terasa spesial berhubung kami disana disambut oleh seorang ustadz muda yang suara qiraatnya mirip syekh Mishari Rasyid, sdr. Tarmidzi Al-Khudriyyi. Beliau mahasiswa Indonesia jurusan agama di univ. Istanbul.

    Topkapi Palace adalah kediaman banyak Sultan, saksi dari kunjungan banyak raja dan duta yang mengunjunginya selama berabad-abad. Namun, apa yang membuat istana itu begitu istimewa bukan hanya bekas penghuninya, tetapi Peninggalan Suci, yang meliputi barang-barang pribadi dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Digali dari kamar yang paling pribadi dan tersembunyi dari istana, semua peninggalannya dikumpulkan di sini untuk pertama kalinya, termasuk jenis yang jarang dipamerkan untuk kunjungan sehari-hari. Dari tongkat dari Nabi Musa AS sampai Jubah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, yang semuanya adalah Peninggalan Suci yang dilindungi Dinasti Utsmani di Istana Topkapi.

    Kita bisa melihat sejumlah Quran, mulai dari Quran tertua milik Sayyidina Utsman. Konon ini adalah Quran yang beliau baca menjelang wafatnya, dan masih terdapat bercak darah pada halaman yang beliau baca ketika hari beliau terbunuh). Lalu ada banyak koleksi Quran dari abad ke abad, baik yang masih berupa fragmen maupun satu koleksi lengkap.

    Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah beberapa koleksi dari Nabi-nabi terdahulu. Yes, nabi2 terdahulu, alaihimussalam. How come?!!

    Topkapi menyimpan -dalam ruang khusus- peninggalan nabi, diantaranya adalah Tongkat nabi Musa AS, Sorban Nabi Yahya AS, Pedang Nabi Daud AS, dan potongan lengan kanan Nabi Yahya AS. Semua ini merupakan koleksi paling kontroversial menurut saya. Bagaimana mungkin barang sejarah -yang pelakunya berusia lebih dari 2000 tahun- tapi masih terjaga sampai sekarang???!! Masa sorban yang kain begitu bisa awet? Apalagi pedang nabi Daud yang menurut Museum memperkirakan beliau hidup seribu tahun sebelum masehi. Lebih keterlaluan lagi, ada satu item yang lebih tua…. Panci makan nabi Ibrahim AS. Betul-betul humor yang keterlaluan menurut saya.

    Sayang, pada kunjungan yang berharga ini saya tidak didampingi tour guide yang biasanya akan menjelaskan dengan detil kisah-kisah setiap item. Diawal saya menyayangkan dan meragukan otentisitas item2 tersebut dan menuduh Dinasti Ustmani macam2. Apalagi sebagian pedang-pedang tersebut berlapis emas dan berukir tulisan arab. Padahal khan tulisan arab saat itu belum seperti tulisan arab hari ini. Bagaimana barang-barang bersejarah ini didapat? Begini kisahnya….

    Ketika Sultan Salim kembali dari kunjungannya ke Mesir (1517), ia ke Istanbul dengan membawa Peninggalan Suci dari perbendaharaan negara Mamluk, Kekhalifahan Abbasiyah, dan Hijaz Emirat.

    Sultan Salim I mulai mengumpulkan Peninggalan Suci di Istana Topkapi, dan penerusnya melanjutkan tradisi ini sampai awal abad kedua puluh. Sultan mengumpulkan peninggalan Nabi dan Tokoh Muslim besar lainnya, serta barang-barang dari situs keagamaan yang dihormati. Pada awal abad kesembilan belas dan kedua puluh, perhatian utama mereka adalah demi melindungi peninggalan dari kerusakan potensial oleh kaum Wahabi. Mereka pikir, Wahabi akan menuduh penjagaan terhadap barang-barang bersejarah tersebut merupakan kemusyrikan, sehingga benda-benda sejarah ini dikirim ke Istanbul untuk perlindungan dan perawatan. Selama Perang Dunia I, ketika sedang mempertimbangkan penyerahan Madina, wali kota Fahreddin Pasha, mengirim sejumlah hadiah berharga yang telah dijaga selama berabad-abad ke Istanbul, bersama dengan beberapa Peninggalan Suci.

    Sebagian besar terjaga di Istana Topkapi Treasury Collection. Saat ini, ada 605 item yang terdaftar di Museum Topkapi Palace Divisi Peninggalan Suci. Selain itu, ada banyak benda yang dapat dianggap Peninggalan Suci disimpan di divisi treasury. Sebetulnya Kesultanan Utsmaniyah tidak menghubungkan apapun terkait kesucian ke objek material; namun, mereka sadar bahwa barang-barang milik Rasulullah memiliki barakah tersendiri.

    Tahsin OZ, ahli purbakala Tutki, menulis sebagai berikut dalam bukunya Emanat-i Mukaddes [The Sacred Relic] yang diterbitkan pada tahun 1953: ” Peninggalan Suci ini dikumpulkan berkat berbagai manifestasi takdir sejarah selama berabad-abad. Harta ini diteruskan ke Turki sepotong demi sepotong dengan upaya berlandaskan iman dan kadang-kadang dengan keberuntungan. Hal ini jelas bahwa bahwa mereka bukan hanya mengumpulkan dan melindungi benda-benda suci dengan ikatan agama dan cinta, tetapi juga berharga dalam standar dunia artistik dan historis. Perawatan dan penghormatan untuk perlindungan benda-benda sakral sejauh ini sangat tak terhingga. Selama kami ada, tugas suci ini akan dilakukan dengan cinta, rasa peduli, dan demi kehormatan. ”

    Jadi barang-barang bersejarah tersebut bukan dibikin2 oleh para sultan utsmani, tetapi punya akar sejarahnya masing-masing.

    Perhatian saya tertuju pada potongan tangan kanan Nabi Yahya dan terutama pedang Nabi Dawud AS. Tapi pada kesempatan ini biar saya ulas saja tentang pedang ini dahulu.

    Menurut sejarah, Rasulullah memiliki sejumlah pedang yang umumnya tidak pernah beliau gunakan. Tentu sebagiannya beliau bawa dalam perang, cuma saya belum pernah baca dalam sirah bahwa beliau pernah gunakan untuk membunuh orang, kecuali pernah sekali sabetannya melukai musuh dengan luka ringan.

    Tercatat, ada 9 pedang yang dimiliki Rasulullah, dan masing-masing memiliki nama. Diantara pedang tersebut, adalah pedang Al-Battar dan pedang Hatf. Kedua pedang ini merupakan rampasan perang dari bani Qainuqa. Pedang Al-Battar ini disebut “Pedang para nabi ‘, dan di pedang memiliki ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Dawud, AS, Sulaiman AS, Nabi Musa, AS, Harun AS, Nabi Yusuf, Nabi Zakaria AS, Yahya AS, Nabi Isa, Nabi Muhammad’.

    Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya: Di dalam ada juga gambar dari Daud memenggal kepala Jalut, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Dalam pedang ini terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk bilah dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa inilah pedang Nabi Isa yang akan digunakan kemudian ketika ia turun ke bumi lagi untuk mengalahkan Dajjal. Wallahu A’lam

    Tulisan pada bilahnya ini bertanggal 880 H (1475 M) yang dibawa bersama dengan pedang nabi Dawud dari Mesir. Ditulis satu setengah abad sebelum Kesultanan Ustmani menaklukkan Mesir, berisi 33 baris yang menjelaskan bagaimana Daud mengalahkan Jalut dengan pedang. Tetapi kita dapatkan riwayat bahwa Nabi Daud menumbangkan Jalut dengan ketapelnya, bukan dengan pedang. Boleh jadi Jalut roboh dan tewas dengan ketapel, lalu Nabiyullah Daud penggal kepalanya dengan pedang itu. Baris tersebut juga menjelaskan bagaimana pedang itu diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari Nabi Yusuf, lalu kepada Harun, lalu bagaimana pedang ini juga digunakan ketika orang-orang majusi berusaha merusak kubur rasulullah SAW.

    Pedang ini diwariskan melalui tangan para raja dan terakhir hingga tangan raja Muqawqis, penguasa Mesir saat itu. Menariknya, bait tulisan dari pedang itu tidak hanya menampilkan ramalan penaklukan Mesir oleh Ustmani, tetapi juga menyatakan bahwa di masa depan, pedang Dawud ini akan diserahkan kepada Ustmani lalu kepada Nabiyullah Isa Al Masih pada akhirnya. Bahasa yang digunakan pada tulisan itu agak kabur dan agak sulit dipahami.

    Terjemahnya sbb: Ali bin Abi Thalib berkata: Aku temukan pedang dan bilah ini pada simpanan Muqawqis, Penguasa Mesir. Ada tulisan didalamnya oleh Daud dalam bahasa Syria (kuno) dan Hebrew (Aramaic?). Dikatakan : Ketika Jalut menjadi penguasa zalim, aku membuat pedang dan panah sebagaimana yang telah Allah ajarkan kepadaku. Allah berikan aku kemenangan. Ciri pedang itu sbb: disatu sisinya ada gambar seseorang dengan pedang dan tangan satunya memegang kepala. Satu sisinya lagi ada gambar seseorang duduk diatas mimbar. Satu gambar menggambarkan Jalut yang kupenggal dan gambar lelaki di mimbar adalah Sulaiman. Pedang ini akan sampai kepada Nabi Yusuf. Darinya, akan beralih ke Sultan Sanjar. Ketika beliau wafat, maka wilayahnya akan dikuasai. Lalu para firaun akan muncul dan memerintah Mesir dengan Zalim.

    Allah akan menyembunyikan pedang ini darinya. Dan dia akan sampai ke tangan Asiyah, istri firaun. Asiya adalah wanita beriman. Lalu ia akan diwariskan kepada Musa, yang akan ia wariskan kepada Harun. Dari Harun diwariskan ke Nabi Yusya’, lalu kepada Malik, lalu raja Shemun, lalu raja Helbum, lalu raja Hubr, ke Ehram, ke Raja Defnu, ke Raja Lahud, ke Raja Maimun, ke raja Darut, ke raja Melc, ke Raja Ranan, lalu ke raja Syits. Ini akan terus diwariskan kepada para raja hingga sampai kepada Nabi Zakaria, lalu Yahya, lalu kepada Isa.

    Ini akan dihadiahkan kepada Nabi Muhammad, yang akan digunakannya untuk berperang. Setelah Rasulullah, maka akan digunakan Abu Bakar, yang nantinya diwariskan kepada anaknya, Muhammad. Ali bin Abi Thalib akan menunjuk Muhammad bin Abu bakar sebagai gubernur Mesir. dst…. Turki percaya pada waktunya nanti, Imam Mahdi akan datang ke Istanbul dan meminta atribut2 tersebut, yaitu bendera perang Rasulullah dan pedang para nabi ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Imam Mahdi akan berperang dengan sejumlah barang tersebut.

    Tentu saja narasi diatas debatable, setidaknya saya pernah tanyakan pandangan ustadz kami di Madinah, lalu beliau tanyakan kepada syekh beliau disana. Syekh beliau meragukannya.

    Wallahu A’lam.

  • Syekh Abdullah Dt Jabok

    Syekh Abdullah Dt Jabok

    Syekh Abdullah memiliki gelar Dt Jabok karena perawakannya yang besar dan ber-jabok (bulu). Ayahnya adalah Tuanku nan Banyak Dt Perpatih nan Sabatang wakil Tuanku nan Bonjol untuk urusan Pengadilan dan Hakim pada masa paderi.

    Di VII Koto Tuanku nan Banyak bahu membahu dengan Tuanku nan Biru Dt Bandaro nan Itam dalam bidang Pemerintahan di sekitar daerah Mudiak, Suliki, Limbanang, Guguak, Mungka, Kubu Godang, Taeh Baruah, Padang Japang, Dangung-Dangung, Koto Kociak,  yang lebih dikenal dengan parik (parit) gadang atau daerah kubu pertahanan Tuanku nan Biru.

    Syaikh Abdullah berasal dari suku Koto dilahirkan di Padang Japang pada tahun 1830. Waktu Syekh Abdullah lahir, situasi sosial politik Minangkabau pada waktu itu sedang hangat-hangatnya Perang Paderi. Ia merupakan murid tertua dari Syekh Taram (Beliau surau Durian) dan dari Syekh Kumai serta Tuanku Gadut yang semuanya merupakan ulama-ulama besar Minangkabau pada masanya.

    Setelah menamatkan pelajarannya, langsung membuka surau di Padang Japang pada tahun 1854. Tidak lama setelah itu, beliau pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada tahun 1857, beliau kembali ke kampung halamannya dan mengajar kembali mengajar di surau kembali.

    Diantara murid-muridnya yang kemudian dikenal sebagai ulama terkemuka di daerah mereka masing-masing antara lain adalah Engku Mudo Karuang Sicincin, Engku Sutan Air Tabit, Engku Capuak Air Tiris, Engku Lima Puluh di Malalo, dan juga anak-anaknya Syaikh Muhammad Shalih Pariaman, Syaikh Mustafa Abdullah Padang Japang, dan Syaikh Abbas Abdullah Padang Japang.

    Syekh Abdullah memiliki istri bernama Seko yang berasal dari Pitopang nagari Padang Japang, berasal dari keluarga hartawan yang taat beragama. Syekh Abdullah memiliki enam orang anak dari tiga orang istri.

    Yang tertua bernama Syekh Muhammad Shalih, yang kedua Syekh Mustafa Abdullah dan merupakan saudara seayah seibu Syekh Abbas Abdullah. Sedangkan dari ibunya yang lain terdapat saudaranya yang lain yaitu Syekh Muhammad Said, Sa’adah dan Sa’adud.

     

  • Syekh Abdul Wahid Shaleh

    Syekh Abdul Wahid Shaleh

    Syekh Abdul Wahid Shaleh adalah anak dari Syekh Muhammad Shaleh, berasal dari suku Sikumbang Padang Japang. Tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tetapi tahun wafatnya diperkirakan pada tahun 1369H / 1950M.

    Syekh Muhammad Shaleh adalah kamanakan sepersukuan dari Tuanku nan Banyak yang bergelar Dt Perpatih nan Sabatang ayah dari Syekh Abdullah, Tuanku nan Banyak merupakan Wakil Tuanku nan Bonjol dalam bidang Pengadilan dan Hukum.

    Tuanku nan Banyak Dt Perpatih nan  Sabatang ini bahu membahu dengan Tuanku nan Biru Dt Bandaro nan Itam didaerah VII Koto.

    Syaikh Abdul Wahid Shalih mendapat pendidikan pada mulanya dari ayahnya Syekh Muhammad Shaleh, setelah itu dengan Syekh Muhammad Saad Mungka, kemudian melanjutkan kepada Syekh Muhammad Thaib Umar di Sungayang.

    Setelah menamatkan pelajarannya dengan Syekh Muhammad Thaib Umar, ia membuka pesantren di Tabek Gadang Padang Japang pada tahun 1906. Memindahkan surau ayahnya Syekh Muhammad Shaleh yang pada mulanya didirikan di Padang Kandis, Jopang Manganti.

    Di waktu menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau berkesempatan tinggal di sana untuk belajar dengan Syekh Said Yamany dan Syekh Said al-Malikiy.

    Setelah kembali ke kampung halamannya, beliau langsung mengajar di tempat semula dan menggabungkannya dengan sekolah yang sealiran yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) pada tahun 1928.

  • Membaca visi Syekh Abbas Abdullah dalam nama Darulfunun

    Membaca visi Syekh Abbas Abdullah dalam nama Darulfunun

    15-10 tahun yang lalu, disaat keterbatasan media informasi, nama ini menjadi misteri, disaat banyak perguruan lainnya menggunakan nama Darul Ullum, hanya satu dan pertama kali pada tahun 1930 di Indonesia, satu perguruan bersejarah revolusioner menggunakan nama Darul Funun, apakah sebatas pemilihan nama ataukah satu visi besar yang sedang dilekatkan oleh Syekh Abbas Abdullah pada institusi wakaf pendidikan yang besar dimasa nya yang juga dikenal sebelumnya dengan nama Sumatera Thawalib Padang Japang?

    Dari namanya Darul Funun berarti tidak jauh dari Darul Ulum, rumah ilmu pengetahuan, dalam praktiknya istilah Darul Ulum dipergunakan untuk Madrasah Agama dan Darul Funun dipergunakan untuk mengambarkan banyaknya macam ilmu, seperti Politeknik.

    Istilah Darul Funun dipergunakan Turki Usmani dan Shah Iran untuk merintis yang sekarang disebut Universitas. Darul Funun adalah satu pondasi penting bagi dunia pendidikan Islam di Turki dan Iran untuk menyambut era kegemilangan ilmu pengetahuan di dunia Islam dan menjadi pondasi penting perkembangan Institusi Modern Pendidikan Islam di penghujung abad 20.

    Terdapat dua buah Darul Funun pada masanya yang dirasa menjadi inspirasi dalam perjalanan menuntut ilmu yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah sebelum tahun 1920, dan kedua institusi ini menjadi pondasi pengembangan ilmu pengetahuan sains dan teknologi Islam di dua buah negara yang dewasa ini memegang peranan kemajuan penting dalam pengetahuan di dunia Islam, karena risetnya, karena kemandirian pendidikannya dan karena tokoh-tokoh yang dihasilkan yang membawa kemajuan dalam Negara tersebut, yakni Turki dan Iran.

    Di Turki Darul Funun berkembang menjadi Universitas of Istanbul, dan di Iran Darul Funun berkembang menjadi University of Taheran. Jika mengacu statistik, kita akan dibuat tercengang bagaimana dalam 150 tahun lebih perkembangan keilmuan di dua institusi ini berkembang, University of Taheran saat ini membuka 111 jalur program sarjana, 177 program master dan 156 program doktor.

    Dalam pemilihan nama Darul Funun, Syekh Abbas Abdullah terlihat menanamkan visi yang jauh kedepan, bagaimana Institusi yang dikembangkannya bersama saudara dan sahabat-sahabatnya diharapkan dapat berkembang jauh dalam dunia pendidikan islam.

    Adalah Qadarullah, bagaimana tahun 1945 Indonesia merdeka dan bagaimana Darul Funun El-Abbasiyah dan jaringan sekolah-sekolah Sumatera Thawalib menopang perjuangan PDRI 1948 bukan hanya dengan tempat persinggahannya, tetapi yang paling mendasar adalah suntikan SDM-SDM yang menjadi amunisi-amunisi perjuangan Indonesia di awal kemerdekaannya, khususnya di Sumatera Barat dan sekitarnya.  Kemudian terjadi periode bergolakan sampai tahun 1960. Dimulai masa tersebut, terjadi masa resesi yang berkepanjangan dalam perkembangan institusi pendidikan, yang terjadi hampir di seluruh daerah, begitu juga yang terjadi di Darul Funun.

    Kini, 140 tahun setelah tahun 1854 pengajaran Surau Gadang Padang Japang dimulai oleh Syekh Abdullah Dt Jabok, dan 84 tahun setelah 1931 dikukuhkannya nama Darul Funun oleh Syekh Abbas Abdullah.

    Mari kita bangun kembali dan segarkan kembali visi Syekh Abbas Abdullah, meyakini kembali pendidikan akan mampu membawa kemajuan kepada individu, dan terlebih sistem pendidikan akan membawa kemajuan yang massif dalam masyarakat.

    “Jika seseorang meninggal dunia putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

    tambahan bacaan:

    https://en.wikipedia.org/wiki/Istanbul_University

    https://en.wikipedia.org/wiki/University_of_Tehran

  • Al-Imam: Susur Galur Majalah Islam, dari Paris hingga Padang

    Al-Imam: Susur Galur Majalah Islam, dari Paris hingga Padang

    al-imam

    Penulis:   – Lenteratimur.com (Creative Common – Non Commercial)

    Media massa yang memiliki tujuan dengan suatu cara pandang agaknya tidak pernah hilang. Jika pun satu hilang, tumbuh ia seribu. Esa hilang dua terbilang. Keyakinan yang dikandung membuatnya dapat berkembang biak tiada mengenal tempat. Dan agaknya itulah yang terjadi pada majalah Al-Imam.

    Al-Imam adalah majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Ia terbit perdana di Singapura pada Jumadil Akhir 1324 H/Juli 1906 M dan berakhir pada permulaan 1909. Majalah yang menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi dan berbahasa Melayu ini dicetak di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar, Singapura.

    Michael Laffan, dalam bukunya Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, The Umma Below the Winds(2002), mencatat adanya sejumlah tokoh kunci di balik lahirnya majalah ini. Di antara nama-nama itu tersebutlah Sayyid Ahmad Al-Hadi, yang merupakan anak angkat dari Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad Riau, dan Syekh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari, seorang ulama muda Minangkabau yang merupakan sepupu dari ulama Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860 – 1916). Pada 1890, keduanya dikirimkan dari Riau-Lingga ke Kairo, Mesir, untuk tugas belajar.

    Selain Al-Hadi dan Syekh Taher, nama lain yang juga menonjol dalam penerbitan majalah Al-Imam adalah Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali. Sayyid Muhammad dikenal sebagai ahli sunnah dan pendiri sekolah Islam Al-Iqbal di Singapura pada 1907. Sekolah ini berada di bawah perlindungan Raja Ali Haji. Sedangkan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali adalah seorang saudagar keturunan Arab yang wafat di Lhokseumawe, Aceh. Al-Kalali disebut-sebut memainkan peran penting dalam masa-masa awal Perang Aceh.

    Selain itu, ada juga nama Haji Abbas bin Muhammad Thaha (1885) dan Encik Abdallah bin Abdul Rahman. Haji Abbas adalah seorang keturunan Minangkabau yang lahir di Singapura dan menghabiskan sebagian besar usia mudanya di Makkah. Adapun Encik Abdallah adalah orang yang mendatangkan majalah Al-Manar dari Mesir sebagai referensi ke Singapura.

    Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), dalam bukunya Ayahku (1950), menjelaskan bahwa keberadaan majalah Al-Imam ini seluruhnya dilakukan atas belanja Syekh Al-Kalali, yang juga bertindak sebagai mudir (direktur) majalah tersebut. Kemudian, melalui usaha ulama Sayyid Muhammad bin Aqil dan Sayyid Ahmad Al-Hadi, sempat didirikan suatu edisi “limited” yang khas untuk penerbitan majalah itu dengan modal dua puluh ringgit (Atjehpost.co, 26 Agustus 2014).

    Dalam hal citarasa kebahasaan, Hamka menilai bahwa bahasa Melayu yang dipakai Al-Imam mulai halus, tidak lagi semata-mata terikat kepada bahasa Arab. Dan majalah ini disebutkan mendapatkan perhatian dari ulama-ulama yang sepaham.

    Dalam penerbitannya, nama wakil-wakil Al-Imam pada tiap-tiap negeri dituliskan pada kulit dalam kedua (omslag II). Di antara nama-nama tersebut adalah Said Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab di Betawi, Haji Abdullah bin Haji Ahmad (kemudian dikenal sebagai Dr. H. Abdullah Ahmad) di Padang Panjang, Haji Abdul Karim bin Syekh Kisaa-iy (kemudian dikenal sebagai Dr. H. Abdul Karim Amrullah), di Danau Maninjau, dan seterusnya.

    Pada edisi kedua (Agustus 1906), majalah Al-Imam sudah mulai membuat macam-macam rubrik, seperti “tanya jawab” dan “pembaca bertanya Al-Imam menjawab”. Dan dalam perjalanannya, majalah ini mulai mendapatkan banyak tantangan. Sejumlah ejekan dan serangan disebutkan dialamatkan kepada mereka, termasuk kepada Syekh Taher.

    Namun hal-hal semacam ini langsung ditangkis oleh Syekh Al-Kalali. Dan pada edisi 12 jilid II yang terbit pada 1 Jumadil Awwal 1326 H/Juni 1908, Al-Imam menegaskan garis dirinya:

    Al-Imam adalah musuh yang amat bengis bagi sekalian bid’ah dan khurafat (karut-karut) dan ikut-ikutan dan adat yang dimasukkan orang pada agama”.

    “Itulah dia Al-Imam,” tulis Hamka dalam Ayahku.

    Mengenai karakternya yang demikian, William R. Roff, dalam bukunya The Origin of Malay Nationalism (1967), mengutip tulisan pembuka dari Syekh Al-Kalali yang menjadi maksud keberadaan majalah Al-Imam.

    Al-Imam bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah)”.

    Dalam laporannya, Atjehpost.co mengutip Hamka yang menulis artikel di majalah Panji Masyarakat No. 201, 15 Juni 1976, ihwal alasan penerbitan Al-Imam. Dalam pendahuluan majalah Al-Imam, Al-Kalali menulis bahwa dirinya merasa terpanggil untuk membangunkan bangsa dan kaumnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun.

    “Rasa cintanya kepada wathan (tanah air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkannya,” sebut Hamka dalam artikelnya itu.

    Michael Laffan juga mencatat bahwa Al-Imam bertujuan untuk mencapai kemerdekaan atas tanah-tanah yang ditindas oleh Belanda dan Inggris. Dalam mendefinisikan komunitas-komunitas yang tertindas itu, Al-Imammenghimpunnya dalam satu ikatan: Islam. Adapun wathan yang dimaksud majalah ini ditempelkan pada bangsa atau umat Melayu. Dan identifikasi akan hal ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah seperti “umat Timur”, “umat Melayu”, “umat Islam kita di sini”, atau “umat kita sebelah sini”.

    What do we see around us? To the Southwest the land of Sumatra (tanah Sumatra) is in the grip of the Dutch. To the Southeast lies the land of Java (tanah Jawa), also in the grip of the Dutch. To the East is Borneo (tanah Borneo), similarly dissected by that people (kaum). Across the Eastern sea lies Manado (tanah Manado) and the Sulu Isles also under that race (bangsa). Across the Western sea is the land of the Malay Peninsula (tanah Melayu peninsula), served up as a dish for England’s enjoyment. Does all this not make one’s heart heavy or indeed wound it?” tulis Al-Imam dalam Vol. 1, No. 3, 19 September 1906, sebagaimana dikutip oleh Laffan.

    Tulisan Al-Imam ini agaknya menandakan wathan yang ia maksud tak mengikuti jalan berpikir kolonial, baik Inggris maupun Belanda. Dan ini membuatnya berbeda dengan media macam Bintang Hindia (1902), yang menyatakan wathannya adalah tanah dimana Belanda ada di kepulauan ini, yang disebut India Belanda.

    Yet, unlike Bintang Hindia’s clear claims to loyalty for the tanah air of the Netherlands Indies, al-Imam was unable to be specific about where exactly the watan of the Malays lay…,” tulis Laffan.

    Lebih lanjut Laffan merujukkan upaya identifikasi wilayah dan kaum ini pada Partai Ummah (Hizb al-Umma) yang didirikan oleh Ahmed Lutfi el-Sayed di Kairo, Mesir, pada 1907. Partai ini kemudian dipahami sebagai partai bangsa Mesir.

    Akan tetapi, gegap gempita majalah Al-Imam tak berlangsung lama. Seiring waktu, majalah pun mulai mendapatkan kesulitan. Sayyid Muhammad bin Aqil dikatakan telah berusaha untuk mencari modal ke Mesir, tapi tidak membuahkan hasil.

    “Sehingga permulaan tahun 1909 M berhentilah terbit majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu,” tulis Hamka dalam Ayahku.

    Al-Urwatul Wutsqa di Paris dan Al-Manar di Mesir
    Dalam edisi perdananya, Atjehpost.co melaporkan bahwa Al-Imam menyalin dan menerbitkan ulang beberapa artikel dari majalah Al-Urwatul Wutsqa. Al-Urwatul Wutsqa adalah majalah Islam yang terbit pada 5 Jumadil Awwal 1301 H/13 Maret 1884 M di Paris, Perancis. Majalah Al-Urwatul Wutsqa berdiri atas prakarsa ulama bernama Syekh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin.

    “Jelas sekali pengaruh majalah itu di dalamnya,” terang Hamka dalam Ayahku.

    Pemuatan kembali artikel dari majalah Al-Urwatul Wutsqa memang bukan tanpa sebab. Dalam susur galurnya,Al-Imam memang menautkan diri kepada Al-Urwatul Wutsqa.

    “Majalah Islam itu diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam kalau kaum muslimin tetap lalai dan lengah,” tulis Hamka di bukunya itu.

    Majalah Al-Urwatul Wutsqa ini disebutkan bertahan hingga delapan belas edisi. Edisi terakhirnya terbit pada Zulhijjah 1301 H. Tekanan dan larangan beredar di negeri-negeri yang dikuasai Inggris membuat usianya tak sampai setahun.

    Akan tetapi, meski telah mendiang, tulisan-tulisan di majalah Al-Urwatul Wutsqa nyatanya meninggalkan pesona kepada seorang ulama muda bernama Sayyid Muhammad Ridha. Dia pun kemudian menjumpai gurunya, Syekh Muhammad Abduh, untuk membahas perihal penerbitan majalah.

    Dari upayanya itu, maka lahirlah majalah yang kemudian amat terkenal: Al-Manar. Majalah yang lahir di Mesir pada pada 1315 H/1897 M ini dimaksudkan sebagai penyambung Al-Urwatul Wutsqa dalam cita kebangkitan Islam yang lebih lengkap. Selain membangkitkan semangat, Sayyid Muhammad Ridha juga mengisi majalah itu dengan pandangan-pandangan Islam yang baru, termasuk tafsir Al-Quran menurut Syekh Muhammad Abduh.

    Dalam buku Ayahku, Hamka mencatat bahwa daya jangkau pengaruh Al-Urwatul Wutsqa di Paris dan Al-Manar di Mesir cukup kuat. Salah satunya adalah berdirinya majalah Al-Imam di Singapura, yang di antaranya diprakarsai oleh Al-Kalali, yang merupakan karib dari Syekh Taher, ulama asal Minangkabau lulusan Al-Azhar yang baru pulang dari Mesir. Tak ketinggalan peran dari Sayyid Muhammad bin Aqil sebagai orang yang bertanggungjawab pada sirkulasi majalah Al-Manar di Kepulauan Melayu.

    “Yang terang ialah bahwa sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 Hijriah, sampai majalah itu berhenti terbit, Syekh Taher Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syekh Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar,” kata Hamka dalam pidato yang dibacakannya ketika menerima gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, 21 Januari 1958.

    Majalah Al-Manar yang tersebar ke seluruh dunia Islam itu ditutup dengan wafatnya Sayyid Muhammad Ridha.

    Al-Munir dan Suluh Melayu
    Pada 1 April 1911, atau dua tahun setelah berhenti terbitnya majalah Al-Imam, terbitlah sebuah majalah Al-Munir di Padang. Al-Munir merupakan kelanjutan dari Al-Imam, yang sekaligus menjadi majalah Islam pertama yang terbit di Sumatera.

    Kelahiran majalah Al-Munir ini tak lepas dari gagasan Haji Abdullah Ahmad, seorang ulama muda yang mahir tulis menulis di Padang. Sebelumnya dia juga merupakan wakil Al-Imam di Padang Panjang.

    Sementara Haji Abdul Karim Amrullah Danau, yang merupakan ayah dari Hamka, juga berperan dalam mengisi majalah ini. Ia menjawab soal-soal yang menyangkut agama, yang menjadi rubrik yang menggoncangkan alam pikiran Islam di masa itu. Seperti Abdullah Ahmad, Abdul Karim pun sebelumnya menjadi wakil Al-Imam di Danau Maninjau.

    Dengan susur galur yang demikian, maka pertautan majalah Al-Munir di Padang kepada majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris diperoleh secara berturut-turut melalui majalah Al-Imam di Singapura dan majalah Al-Munir di Mesir. Namun, pada 15 Rabiul Awwal 1333 H/31 Januari 1915, Al-Munir berhenti terbit. Tutupnya majalah ini disebut-sebut dikarenakan kekurangan dana.

    Akan tetapi detik jarum jam belum berhenti berdetak. Kehadiran Al-Munir nyatanya telah memicu hadirnya sejumlah media massa Islam di Sumatera, khususnya Sumatera Barat, yang dipelopori kaum muda. Sebut saja di antaranya majalah Al-Akbar yang terbit di Padang (1913), majalah Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang (1918 – 1924), majalah Al-Basyir di Sungayang (1920), majalah Al-Itiqan di Maninjau, atau majalah Al-Imam(nama yang diambil dari pendahulu Al-Munir) di Padang Japang.

    Tak hanya majalah-majalah, kaum muda ini juga mendirikan sejumlah lembaga pendidikan terkemuka dengan semangat pembaharuan, seperti Sumatera Thawalib yang berdiri pada 1919. Kelompok pendidikan ini kemudian banyak mendorong atau menerbitkan majalah-majalah itu.

    Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh kaum muda ini pada gilirannya membangkitkan suatu reaksi dari apa yang disebut kaum tua di Sumatera Barat. Untuk menandingi sebaran gagasan dan cara pandang kaum muda itu, kaum tua kemudian turut menerbitkan sejumlah majalah. Maka, terbitlah majalah Suluh Melayu di Padang pada 1913, majalah Al-Mizan di Maninjau pada 1918, majalah Al-Radd Wa Al-Mardud di Bukittinggi pada 1926, dan majalah Suarti (Suara Tarbiyah Islamiyah) di Bukittinggi pada 1937 sampai 1945. Sama seperti kaum muda, gerakan kaum tua ini juga tak hanya di bidang penerbitan majalah, tetapi juga membuat organisasi seperti Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Bukittinggi pada 1928.

    Hamka mengatakan, terbitnya majalah-majalah tersebut membuat kutub menjadi terbelah dua. Di satu sisi, ada majalah Al-Munir dengan tokoh-tokoh pemikir macam Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Mohammad Djamil Djambek. Di sisi lain, ada majalah Suluh Melayu dengan pemikir-pemikir seperti Syekh Khatib Ali, Syekh Sa’at Mungka, dan Syekh Bayang.

  • ‘Al-Imam’ Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

    ‘Al-Imam’ Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

    credits: Atjeh Post

    “AL-IMAM bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah)”.

    Itulah editorial pembuka yang ditulis Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dalam majalah Al-Imam. Editorial itu kemudian dikutip William R. Roff, seorang profesor sejarah ketika membahas tujuan penerbitan majalah Al-Imam dalam bukunya, “The Origin of Malay Nationalism(1967)”.

    Al-Imam merupakan majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Majalah Islam berbahasa Jawiy tersebut terbit di Singapura pada tahun 1906 hingga permulaan 1909 “Al-Imam megumandankan suara pembaruan demi kebangkitan bangsa-bangsa Islam dari kelenaan,” kata Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, di Lhokseumawe, belum lama ini.

    ***

    Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) menyebutkan, Al-Imam mengambil haluan majalah Al-Manaryang terbit lebih dulu di Mesir. Al-Manar diterbitkan ulama muda bernama Sayyid Rasyid Ridha, sembilan tahun lebih awal dari Al-Imam.

    “Yang terang ialah bahwa sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 Hijriah, sampai majalah itu berhenti terbit, Syaikh Thahir Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syeikh Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar,” kata Hamka dalam pidato yang dibacakannya ketika menerima gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, 21 Januari 1958.

    Keterangan lebih lengkap diulas dalam dalam buku Hamka, “Ayahku, (1950) ”. Mulanya terbit majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris atas prakarsa ulama bernama Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin. “Majalah Islam itu diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum Muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam kalau kaum Muslimin tetap lalai dan lengah,” tulis Hamka.

    Majalah Al-Urwatul Wutsqa terbit perdana 5 Jumadil Awwal 1301 Hijriah (13 Maret 1884 Masehi) hingga 18 nomor (edisi). Nomor terakhir terbit bulan Zulhijjah 1301 H. Usia majalah itu tidak sampai setahun lantaran dilarang beredar di negeri-negeri yang dikuasai Inggris.

    Lima tahun kemudian atau 1315 H/1898 M, seorang ulama muda Sayyid Muhammad Ridha yang sangat terpesona dengan tulisan-tulisan dalam majalah Al-Urwatul Wutsqa lantas menemui gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Pada tahun tersebut Sayyid Muhammad Ridha menerbitka majalah Al-Manar sebagai penyambung Al-Urwatul Wutsqa dalam cita kebangkitan Islam yang lebih lengkap.

    Selain membangkitkan semangat, Sayyid Muhammad Ridha mengisinya dengan pandangan-pandangan Islam yang baru. Dalam Al-Manar juga dimuat tafsir Al-Quran menurut sistim Syaikh Muhammad Abduh. Majalah yang tersebar ke seluruh dunia Islam itu ditutup dengan wafatnya Sayyid Muhammad Ridha.

    Masih menurut Hamka dalam buku, “Ayahku”, pengaruh Al-Urwatul Wutsqa dan Al-Manar meresap ke Jawa, sehingga orang-orang Arab pada 1905 mendirikan perkumpulan “Jami’at Khair”. Dan di Singapura terpengaruh pula seorang hartawan keturunan Arab, Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy, sahabat karib ulama asal Minangkabau yang baru pulang dari Mesir dan lulusan Al-Azhar, Syaikh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari.

    Pada satu hari bulan Jumadil Akhir 1324 H (Juli 1906 M) terbitlah nomor (edisi) perdana majalah Al-Imam. Mudir(Direktur) majalah Islam itu adalah Syaikh Muhammad Al-Kalaliy. Pada edisi kedua (Agustus 1906) kemudian dijelaskan bahwa pengarang (penulis) majalah ini Syaikh Taher Jalaluddin tersebut.

    Dalam edisi pertama Al-Imam turut disalin sebuah makalah dari majalah Al-Urwatul Wutsqa yang berkepala (berjudul) “Wazakkir fa innaz-zikra tanfa’ul mukminin. Pada edisi kedua disalin pula makalah Al-Urwatul Wutsqayang terkenal yaitu “Al-Qadha dan Al-Qadar”. “Jelas sekali pengaruh majalah itu di dalamnya,” tulis Hamka dalam buku, “Ayahku”.

    Edisi kedua lantas diisi dengan rubrik taya jawab, pembaca/pelanggan majalah bertanya, Al-Imam menjawab. Akhirnya majalah itupun mulai mendapat tantangan akibat banyak lawan, termasuk yang mengejek Syaikh Taher, namun langsung ditangkis Syaikh Al-Kalaliy.

    Pada edisi 12 jilid II terbit 1 Jumadil Awwal 1326 H (Juni 1908 M) dengan tegas Al-Imam menulis: “Al-Imamadalah musuh yang amat bengis bagi sekalian bid’ah dan khurafat (karut-karut) dan ikut-ikutan dan adat yang dimasukkan orang pada agama”.

    “Itulah dia Al-Imam,” tulis Hamka lagi.

    Dalam buku “Áyahku”, Hamka kemudian menjelaskan mulanya penerbitan majalah Al-Imam seluruhnya atas belanja Syaikh Al-Kalaliy. Kemudian melalui usaha ulama bernama Sayyid Muhammad bin Agil dan Sayyid Syaikh Al-Hadi didirikan sebuah “limited” yang khas untuk penerbitan itu dengan modal 20 ribu ringgit.

    Sayanganya, menurut Hamka, penerbitan Al-Imam tidak dapat dilanjutkan karena sudah banyak saingan dengan terbit surat kabar lainnya. “Sehingga permulaan tahun 1909 M berhentilah terbit majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu”.

    Sayyid Muhammad bin Agil berusaha mencari modal ke Mesir, tapi tidak membuahkan hasil.

    Dua tahun kemudian atau 1911 M, terbit majalah Al-Munir di Padang, lanjutan dari Al-Imam. Majalah Al-Munirterbit atas gagasan H. Abdullah Ahmad, ulama muda yang mahir tulis menulis di Padang. Majalah Islam pertama di Sumatera ini terbit perdana 1 April 1911.

    Haji Abdul Karim Amrullah Danau, ayahnya Hamka kemudian berperan mengisi majalah ini terutama dalam menjawab soal-soal menyangkut agama, satu rubrik yang menggoncangkan alam pikiran Islam masa itu.

    Dalam tulisannya tentang majalah Al-Imam yang dimuat majalah Panji Masyarakat Nomor 201 tanggal 15 Juni 1976, Hamka menyebutkan bahwa dalam kebangkitan Islam di Indonesia dari sudut kewartawanan dan majalah sebagai mass-media, tidak dapat dipungkiri majalah Islam yang mula-mula terbit ialah Al-Imam. Majalah ini terbit perdana 23 Juli 1906 dan dicetak di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar Singapura.

    “Dalam kata pendahuluannya, penerbitnya Syaikh Al-Kalaliy menyatakan bahwa dia merasa terpanggil buat menerbitkan majalah Islam ini untuk membangunkan bangsa dan kaummnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun. Rasa citanya kepada Wathan (Tanah Air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkanya,” tulis Hamka dalam artikelnya itu.

    Hamka menilai bahasa Melayu yang dipakai Al-Kalaliy mulai halus, tidak lagi seata-mata terikat kepada bahasa Arab.

    Al-Kalaliy juga menulis, “Sungguhpun kami bukan daripada orang sini dari pihak keturunan, tetapi daripada mereka itu dari pihak peranakkan. Istimewa pula telah kami sukakan negeri mereka itu wathan bagi kami. Betapa tidak, padahal sudah meminum kami akan air-susunya, dan telah tumbuh daripadaya daging dan darah kami, dan telah terbit daripadanya nikmat perhiasan kami”.

    Pada edisi empat yang terbit Ramadhan 1324 H/19 Oktober 1906 M, kata Hamka, disebutkan bahwa penertib majalah itu Syaikh Al-Kalaliy sedang berangkat ke Cirebon (Jawa Barat). Selama beliau dalam perjalanan ke tanah Jawa itu, pimpinan penerbitan dirangkap penulis majalah, Syaikh Muhammad Taher Jalaluddin.

    Hamka menyebut Al-Imam mendapat perhatian besar dari ulama-ulama yang sepaham. Nama wakil-wakil Al-Imam pada tiap-tiap negeri dituliskan pada kulit dalam kedua (omslag II). Di antaranya, terdapat wakilnya di Betawi Said Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab. Di Padang Panjang, Haji Abdullah bin Haji Ahmad (kemudian dikenal Dr. H. Abdullah Ahmad). Di Danau Maninjau, Haji Abdul Karim bin Syaikh Kisaa-iy (kemudian dikenal Dr. H. Abdul Karim Amrullah), dan lainnya

    ***

    Dalam bukunya, “The Origin of Malay Nationalism (1967)”, William R. Roff  turut mengutip isi salah satu artikel perdana yang diterbitkan majalah Al-Imam. Artikel yang membicarakan tentang “Tugas yang Tepat: Apa yang paling Dibutuhkan untuk Kebaikan Rakyat Kita.”

    Penulis artikel tersebut menegaskan tugas para pemimpin rakyat untuk mendiagnosa dan memberikan resep mujarab untuk penyakit yang diderita  rakyatnya. Ia kemudian menyebutkan, “Barangkali dapat dikatakan bahwa suatu hal yang paling kita butuhkan adalah keterampilan kerja dan pertanian, atau pengetahuan tentang bagaimana mempertahankan negara kita dari musuh-musuhnya, atau bahwa kita perlu pendidikan untuk menyelamatkan kita dari rawa apatis dan kemalasan, atau bahwa kita harus belajar untuk bersatu demi kebaikan bersama”.

    “Semua ini benar. Tapi satu hal yang akan memperkuat dan mewujudkan semua keinginan kita adalah pengetahuan tentang perintah agama kita. Agama merupakan penyembuh terbukti untuk semua penyakit yang diderita oleh masyarakat kita.”

    Begitulah pesan penting lewat artikel majalah Islam Al-Imam yang dipimpin Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy.(Atjehpost)

  • Soekarno Menghadap Panglima Jihad

    Soekarno Menghadap Panglima Jihad

    SIANG itu, Juni 1942, ada sesuatu yang berubah pada diri Soekarno. Ia tampil lebih elegan. Peci hitamnya yang semula pendek berubah bentuk menjadi lebih tinggi. Rupanya, itulah peci baru hadiah dari Syekh Abbas Abdullah. Kenang-kenangan yang diberikan Syekh Abbas di Jorong Padang Japang, Kecamatan Guguk, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, sebelum kemerdekaan Indonesia.

    “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” kata Syekh Abbas, seperti dituturkan Kepala Desa Padang Japang, Harmaini, 61 tahun, kepada Gatra. Syekh Abbas adalah penerus Darul Funun El Abbassyiah (DFA), pondok pesantren tebesar dan pelopor pembaruan di Sumatera Tengah.

    Waktu itu, peci merupakan indentitas kaum muslim. “Umat akan mendu kung kamu, selama kamu tidak memisahkan agama dan pemerintah. Kamu juga harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan –

    menghancurkan bangsa kita,” kata Syekh Abbas, seraya menatap Bung Karno yang masih membetulkan letak pecinya.

    Peci tinggi itu tampak pas. Serasi dengan wajah Bung Karno yang kala itu agak kurus. Peci lama Bung Karno -yang sudah lusuh dan pendek- ditinggalkan di surau syekh. Bung Karno tampak menikmati peci barunya. Beberapa kali ia bercermin di dinding kamar Syekh Abbas. Sesaat kemudian keduanya melangkah ke halaman Gedung DFA, sekitar 50 meter dari kediaman syekh. Di situ, Bung Karno berpidato sekitar 30 menit di hadapan para siswa, lalu pamit kembali ke Padang.

    Namun, sebelum pulang, Bung Karno diapit Syekh Abbas dan Syekh Mustafa -kakak beradik putra Syekh Abdullah, pendiri DFA- dijepret juru kamera Said Son. Tiga hari kemudian, Syekh Abbas mengungkapkan pertemuannya dengan Bung Karno di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid Al-Abbasyiah. Kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara.

    Syekh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan. Selain itu, ia juga mengingatkan agar Bung Karno pandai-pandai menjaga martabatnya. Sebab, menurut syekh, gigi taring sebelah kanan Bung Karno dempet. Maksudnya? “Biasanya orang bergigi begitu bersifat ramang mata, alias mudah jatuh cinta kepada wanita,” kata Syekh Abbas.

    Maka, jika tidak berhati-hati, Bung Karno bisa tacemo alias tercela oleh wanita. “Peci itu, paling tidak, akan senantiasa menyadarkan kita kepada agama dan bangsa,” kata Syekh Abbas. Tak jelas, apa reaksi Bung Karno saat menerima petuah itu.

    Yang pasti, di mata Bung Karno, Syekh Abbas adalah orang yang dicarinya, untuk dimintai pendapatnya sehubungan dengan persiapan kemerdekaan Indonesia. Dan, kesempatan itu muncul saat ia terbebaskan dari tawanan Belanda di Bengkulu, 1942. Saat itu, Jepang mulai memasuki Indonesia. Cemas melihat situasi negeri ini yang mulai kacau, Bung Karno yang dibui di Bengkulu diboyong Belanda ke Kota Cane, Aceh.

    Kala perjalanan sampai di Painan, sekitar 70 kilometer dari Padang, Bung Karno ditinggalkan. Belanda ketakutan karena Jepang telah sampai di Bukittinggi. Maka, bersama istrinya, Ibu Inggit dan seorang anak angkatnya, Bung Karno naik pedati ke Padang.

    Dua hari kemudian mereka sampai di Padang, dan disambut Abu Bakar Djafar. Pakaian Bung Karno yang kotor kemudian diganti dengan beberapa setelan jas oleh Persaudaraan Saudagar Indonesia (Persdi). Lalu, pakaiannya yang kumuh dibagikan kepada anggota Persdi untuk kenang-kenangan.

    Dari Padang, rombongan meneruskan perjalanan ke Bukittinggi. Ia bermalam di kota dingin itu, dan membebaskan Anwar Sutan Saidi, ayah Rsutam Anwar, pemilik Hotel Minang, tokoh pergerakan yang ditahan Jepang karena dituduh berpihak kepada Belanda. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Payakumbuh. Dari sini, Bung Karno menuju Jorong Padang Japang, yang jalan tanahnya berdebu sejauh 18 kilometer. Ia disambut ribuan warga serta siswa DFA dan Nahdhatunnisyaiyah di sepanjang jalan 500 meter.

    Peninjauan Bung Karno ke Jorong Padang Japang ternyata cukup “rumit”. Misalnya, ia masih harus menuruni ratusan anak tangga yang terbuat dari sabut kelapa. Lalu, untuk menuju kampus DFA, ia meniti pematang tebat nan berliku, yang cuma bisa dilewati satu orang sejauh 600 meter.

    Kini, kampus DFA menyisakan dua bangunan. Yakni, enam lokal ruang belajar dan kantor merangkap asrama siswa berukuran 22 x 12 meter. Kondisi bangunan itu menyedihkan. Langit-langitnya lapuk dimakan usia. Makam dua ulama besar, Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah, ditumbuhi lumut menandakan jarang dikunjungi orang. Setelah lama tak aktif, sejak tahun 1994 DFA kemudian dihidupkan kembali oleh Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah. Kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke gedung baru tiga lokal dengan seratusan siswa, persis di atas tebing gedung lama.

    DFA, yang didirikan Syekh Abdullah pada 1875, awalnya hanya pengajian sistem halaqah di sebuah masjid tua beratap ijuk. Setelah Syekh Abdullah meninggal pada 1903 dalam usia 73 tahun, DFA ditangani dua putranya, Syekh Abbas dan Syekh Mustafa. Keduanya pernah diasuh ulama Minangkabau terkemuka di Mekkah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Mereka juga belajar di beberapa perguruan di Timur Tengah dan Eropa. Bahkan, keduanya sempat jadi murid Syekh Djamaluddin Al-Afghani dan Syekh Muhammad Abduh di Kairo, Mesir.

    Pulang ke Tanah Air pada 1919, dalam usia 36 tahun, Syekh Abbas bersama Syekh Abdul Karim Amarullah, ayah almarhum Prof. Dr. HAMKA, dan beberapa ulama tamatan Mesir, mendirikan sejumlah sekolah dengan satu nama: Madrasah Sumatra Thawalib. Inilah madrasah pertama sistem klasikal yang memakai papan tulis serta kursi dan meja. Tapi, pada 1930, Syekh Abbas mengganti nama sekolahnya menjadi DFA karena menolak bergabung ke dalam Persatuan Muslimin Indonesia (Permi).

    DFA tak sebatas mengajarkan Al-Quran dan Hadits, tapi juga ilmu falaq, geografi, fisika, kimia, aljabar, serta kesenian, semuanya dalam bahasa Arab. DFA juga punya barisan pandu terlatih, grup kesenian, dan kesebelasan yang mampu bermain hingga ke Singapura. Majalah Al Imam adalah media perjuangan mereka.

    Syekh Abbas, berdarah Arab Yaman, bertubuh tinggi kekar dan bercambang, tak memerlukan bantuan siapa pun dalam mengelola pesantrennya. DFA bisa tumbuh pesat berkat dukungan tanah wakaf penduduk dan usaha kebun karet dan tujuh toko buku milik Syekh Abbas di kota Payakumbuh. Toko itu adalah merupakan agen dan penyalur buku-buku asal Timur Tengah untuk Sumatera Tengah. Pada 1940, siswa DFA tercatat lebih dari 4.000 orang. Mereka berdatangan dari berbagai pelosok Sumatera, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

    Sejalan dengan kemajuan itu, sekolah ini merupakan basis perjuangan kemerdekaan. Pasukan jihad untuk menghadapi penjajah Belanda terlahir dari sini. Waktu itu, Syekh Abbas sendiri terpilih menjadi imam (panglima) jihad wilayah Sumatera Tengah. Itu sebabnya, beberapa kali Belanda ingin memberangus DFA. Namun, niat itu selalu urung terlaksana setelah Belanda bertatap muka dengan Syekh Abbas.

    Kala Bung Karno mengunjunginya, Syekh Abbas yang telah menanti di tangga Surau Baru, nama kediaman syekh, ia tampak kurang sedap menyambut. Rupanya syekh kecewa berat. Soalnya, janji Bung Karno kurang tepat, alias molor dua jam. Bung Karno baru tiba di kampus DFA pukul 13.00. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. Masakan rendang dan gulai kambing untuk sang tamu pun lama tak tersentuh. “Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

    Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja syekh. Hampir tiga jam keduanya berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu. Saat makan siang inilah Bung Karno dihadiahi peci tinggi. Sejak itu, Bung Karno selalu mengenakan peci tinggi, dan tampak lebih gagah.

    Peci tinggi itu seakan menjadi tak terpisahkan dari Bung Karno. Peci itu pula yang pernah digunakan Bung Karno sebagai alat “diplomasi”. Kala Bung Karno mengunjungi Kuba, pada 1962, pemimpin Revolusi Kuba Fidel Castro sempat bertukar “tutup kepala” dengannya. Castro ganti mengenakan peci Bung Karno, dan kepala Bung Karno ditutupi topi tentara ciri khas Castro. Keduanya tertawa lepas menikmati adegan langka ini.

    (Fachrul Rasyid HF/Dari Buku Refleksi Sejarah Minangkabau : Dari Pagaruyung sampai Semenanjung & Majalah GATRA 9 Juni 2001-)

  • Syekh Abbas Abdullah – Stylist Proklamasi

    Syekh Abbas Abdullah – Stylist Proklamasi

    Oleh: Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta (2010) (Sumber)

    Tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa proklamasi yang disuarakan pada 17 Agustus 1945 lekat dan terbungkus dengan seni. Justru sebaliknya banyak dari kita yang mengendapkan kesan bahwa prokalmasi sama dan sebangun dengan asap mesiu, bambu runcing, tentara pelajar, pekik merdeka, laskar-laskar perjuangan atau pertempuran bersenjata.

    Ya jelas, kalau sedang lagi berjuang membela sebuah prinsip penting, tidak ada tempat lain selain berjuang dengan kekuatan seadanya. Kalau perlu dengan ayunan tangan pun tak menjadi soal atau kekuatan senjata. Yang penting berjuang secara fisik. Memikirkan yang lain, maaf saja, tidak ada tempat untuk dilakukan. Apakah benar proklamasi 17 Agustus 1945 seperti itu? Jawabannya cukup lima huruf: TIDAK.

    Mungkin hanya Indonesia negara satu-satunya di dunia yang getol mengurusi hal-hal berkaitan dengan seni ketika sedang perang revolusi. Kalau kita membayangkan revolusi di Afrika, pasti terbayang akan pembantaian suku, pertumpahan darah dan kematian. Bagaimana dengan di Amerika Latin? Sama saja. Yang terdengar hanya perang gerilya melawan penguasa. Gerilya berasal dari bahasa Spanyol, /guerra/ yang artinya perang dan diadaptasi ke bahasa Inggri menjadi /guerilla/ atau gerilya daam bahasa Indonesia. Di belahan dunia manapun begitu, kalau lagi perang, ya perang! Mengurusi yang lain, seperti kesenian, menjadi urusan kesekian. Nanti saja kalau sudah selesai revolusinya.

    Ketika baru masuk SMA di Jakarta, saya dan teman-teman pernah mengunjungi pameran seni Bung Karno di Taman Ismail Marzuki tahun 1983. Saat itu namanya sedang dipendam dalam-dalam oleh penguasa. Tapi sebaliknya pameran itu dipadati pengunjung yang sangat antusias dengan masalah seni, terutama pada masa revolusi. Terlihat bagaimana nuansa seni, terutama lukisan dan pahatan, sangat identik dengan gelora revolusi dan perang kemerdekaan.

    Nah, Indonesia justru sebaliknya, beda negara-negara lain. Proklamasi 17 Agustus 1945 seperti sudah dipersiapkan tata seninya jauh sebelum negeri ini lahir. Apa yang dibicarakan Soekarno pertama kali mendarat di Jakarta di Pelabuhan Pasar Ikan pada 1942? Setelah dia dibuang bertahun-tahun di Ende, Flores, lalu ke Bengkulu, lalu melanglang keliling Sumatera dan akhirnya terdampar di Palembang, dan pulang berlayar dengan perahu kecil ke Jakarta? Dia hanya membicarakan masalah model jas dengan penjemputnya, yang juga bekas iparnya, Anwar Tjokroaminoto. Bukan strategi perjuangan.

    Sekolah-Tinggi-Tabib-Geneeskundiga-Hoge-School-di-Jakarta

    Lalu apa yang dilakukan pemerintah negeri ini yang baru berusia 4 bulan, ketika keadaan Jakarta sedang genting melinting dengan kacau balau menghalau apapun? Pameran lukisan! Beberapa pelukis seperti Affandi, Basuki Abdullah, Sudjojono, Mochtar Subianto, Raden Ali, Kartono Judoko dan seniman lainnya, mengadakan pameran di gedung Sekolah Tinggi Tabib Jakarta. Pameran itu dibuka oleh Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin dan dihadiri pembukaannya oleh Presiden Soekarno yang gila seni beserta istri, Wakil Presiden Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir serta beberapa menteri, termasuk Sir Philip Christison, seorang juru runding dari Inggris.

    Semua itu tak lepas dari intelijensi para pendiri negara ini yang punya wawasan luas, termasuk menyentuh dunia seni dan penampilan. Lihat saja, mana ada penampilan modis mereka yang kelihatan jelek dan kumuh, meski untuk memikirkan pangan saja sangat susah saat itu. Mereka semua terlihat ganteng, necis, parlente dan sedikti modis dengan pakaian dan penampilan a la kadarnya. Bandingkan dengan tokoh-tokoh asing… Hmmm… jauuuuh.

    Paman Ho Chi Minh, terlihat seperti opa-opa tua ompong berpakaian lusuh. Churchill yang perlente mirip gentong besar yang bisa berjalan. Mao seperti tukang obat yang baru keluar hutan mencari ramuan dari tanaman. Castro mirip tentara dekil yang jarang mandi dan berdandan dengan brewok seperti hutan lindung. Nehru bagaikan mannequin. Beda dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir atau Amir Sjarifuddin yang terlihat bersih, intelek dan good-looking dengan penampilannya.

    Penampilan tokoh dan pendiri bangsa-bangsa lain di manapun sangat jelas mewakili apa yang mereka perjuangkan. Melihat para pria berkumpul memakai kaffiyeh (penutup kapal untuk pria Arab), pasti mereka sedang membicakan Yasser Arafat, tokoh Palestina. Atau topi hijau dengan bintang merah yang dipakai oleh Tentara Merah (ABRI-nya Cina), pasti itu gaya Mao Tse-tung, serta Fidel Castro dengan topi militer warna hijau khasnya atau tokoh Prancis Charles de Gaulle dengan topi mirip kaleng. Juga seorang Nehru dari India dengan peci putihnya.

    Bagaimana dengan Indonesia? Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah sulit dipisahkan dengan visual peci hitam yang bertengger di atas kepala beberapa pentolan pendiri negeri ini, seperi Soekarno dan Hatta. Saat masa revolusi ketika orang melihat ada tokoh berpeci, pasti yang dibicarakan tentang proklamasi. Tentang kemerdekaan. Tentang tanggal 17 Agustus 1945. Terutama pada diri Soekarno dan juga Hatta. Sang dua sejoli.

    Soekarno-tanpa-peci

    Sejak kapan peci hitam menjadi ciri khas proklamasi? Ya sejak 17 Agustus 1945! Sampai tanggal 17 Agustus 1966, hari 17an terakhir Soekarno, dia selalu memakai peci hitam bergaya khas ketika bertindak sebagai pusat perhatian di podium perayaan 17 Agustus. Hanya menjelang akhir hayatnya, rakyat Indonesia baru bisa melihat Soekarno asli tanpa peci hitam. Saat dia tak punya kekuasaan lagi dan mulai sakit-sakitan.

    Ketika selesai menjalani pembuangan di Bengkulu bersama keluarga dan para pembantunya tahun 1942, Soekarno terpaksa berkeliling Sumatera dengan kondisi yang melelahkan dan menyebalkan. Pakaiannya lusuh dengan peci hitam yang pendek terlihat kurang tampan dan proporsional, ditambah lagi jarang mandi karena dia dan keluarganya melakukan perjalanan jauh itu (kadang mengendarai dokar) dengan penuh ketakutan atas gangguan dari tentara Jepang, yang sedang menderita kekalahan oleh pihak Sekutu.

    Dari Bengkulu melalui jalan darat menuju kota Painan (kota pesisir kearah tenggara Padang), lalu ke Bukittingi dan berkeliling ke Payakumbuh dan akhirnya menemui sahabatnya, yang juga memimpin sebuah pesantren terkenal, Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Kala itu Soekarno bukan siapa-siapa dan belum menjadi presiden.

    “Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini”, kata pemimpin pesantren sambil menatap Soekarno yang sedang membetulkan sebuah peci hitam tinggi. Peci tersebut memang baru saja diberikan oleh Syech Abbas Abdullah, pemimpin pesantren itu ketika melihat penampilan Soekarno kurang oke dengan peci lamanya yang lebih pendek.

    Perbedaan-peci-hitam-Soekarno

    Peci itu memang pas dan serasi dengan visual wajah Soekarno. Pas margopas! Peci lamanya mana? Di tinggal di pesantren Syech Abbas Abdullah, yang juga menyarankan agar kelak Indonesia merdeka dan Soekarno menjadi pemimpinnya, Indonesia harus berdasarkan ketuhanan. “Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam”, ujar sang syech kepada calon pemimpin bangsa terbesar umat Islamnya di jagat.

    Lengkap dan pantas sudah penampilan baru Soekarno. Dia terlihat lebih ganteng dan siap memimpin negeri ini dengan penampilan khasnya tiada dua di dunia: peci hitam tinggi pemberian Syech Abbas Abdullah. Tapi nanti duluuu… Sang tuan rumah juga menyarankan agar penampilan baru Soekarno diimbangi dengan martabatnya yang handsome juga. Menurut penerawangannya, gigi taring Soekarno sebelah kanan itu dempet. Artinya? “Biasanya orang bergigi begitu bersifat rimbang mata atau mudah jatuh cintah kepada wanita”, ramal Syech Abbas Abdullah.

    Akhirnya, peci hitam itu menjadi ciri khas visual proklamasi dan perjuangannnya di tahun-tahun kemudian. Peci itu menjadi benda seni yang memwakilkan sebuah sosok yang memiliki andil dengan proklamasi. Di kemudian hari bahkan menjadi ciri khas orang Indonesia. Hatta yang tak biasa berpeci selama sekolah di Eropa, akhirnya mengikuti Soekarno berpeci pada saat-saat tugas kenegaraan dan hingga sekarang diikuti menjadi bagian penting dari busana resmi presiden-presiden Indonesia.

    Proklamasi 17 Agustus 1945 telah dikumandang, lalu dipertahankan dengan berdarah-darah dan akhirnya diisi dengan susah payah, selalu diwakili dengan visual pelakunya yang berpeci hitam. Ketika Soekarno membacakan naskah proklamasi, ikut upacara keagamaan di Gereja Mormon, berziarah ke makam Abdul Qadir Jailani serta makam George Washington, berpidato di Kongres Amerika Serikat, rapat umum di Stadion Lenin, Moskow, berdiskusi di Balai Rakyat Beijing dengan Mao, sowan berkali-kali ke Kaisar Hirohito, hampir pingsan di La Paz, Bolivia, ditangkap dan dibuang Belanda ke Prapat, bersembahyang di mesjid Leningrad (Petersburg), berpesta dengan Marilyn Monroe, naik sepeda di Kobenhavn, Denmark, merokok bareng Nehru di India, diskusi dengan Juan Peron di Buenos Aires, serta ngobrol dengan Elvis Presley di Hawaii, peci hitam itu selalu ada dan memvisualkan keindonesiaan yang makin melekat.

    Tidak terbayang bila Soekarno melepas peci hitamnya setelah dibuang dari Bengkulu, karena pendek dan lusuh bentuknya. Untungnya hal ini tidak terjadi, karena jasa Syech Abbas Abdullah. Dia menjadi stylist proklamasi tanpa disadari. Hal-hal sepele sebelum dan sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, memang selalu diperhatikan terutama masalah seni dan penampilan untuk memancarkan kekuatan visual yang dominan. Indonesia tanpa Soekarno tidak terbayangkan seperti apa. Soekarno tanpa peci hitam tinggi, juga tak bisa dibayangkan.

    Seperti yang dinubuatkan Syech Abbas Abdullah, negara Indonesia akan selalu memikirkan penampilan tanpa esensi. Bangsa Indonesia memang tak mengenal dan kurang suka dengan kekuatan riset. Senangnya bereksperiman sesaat dan improvisasi tanpa rencana. Mirip seperti seni, yang kaya improvisasi. Bukankah naskah proklamasi kemerdekaan ini ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta di atas sebuah piano? (*).

    SUMBER:

    1. Majalah Gatra, 9 Juni 2001, “Peci Tinggi Panglima Jihad” .

    2. Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil, “Kronik Revolusi Indonesia” (Jilid I 1945), Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan dikarya IKAPI dan The Ford Foundation, Jakarta, 1999.