Tag: Anak

  • 4 Kedudukan Anak yang Disebutkan dalam Alquran

    Alquran menyebutkan terdapat tiga fase umum kehidupan yang akan dilewati manusia.
    Fase pertama, manusia berada dalam keadaan lemah, yaitu pada masa bayi dan anak-anak.
    Fase kedua, manusia berada dalam keadaan kuat atau dewasa. Terakhir, fase ketiga yaitu dimana manusia lemah dan beruban. Fase ini menunjukan bahwa seseorang telah memasuki usia tua atau lansia.
    Namun tidak semua manusia dapat mencapai ketiga fase yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagian ada yang hanya mencapai pada fase pertama ataupun kedua. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rum ayat 54:
    اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
    “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Mahamengetahui, Mahakuasa.”
    Allah ﷻ menjelaskan dalam Alquran terdapat lima kedudukan anak terhadap orang tua. Kedudukan tersebut disebutkan-Nya pada empat surat yang berbeda, yaitu:

    1. Kedudukan anak sebagai kesenangan hidup (Perhiasan) di dunia. Allah ﷻ berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14, yaitu:
      زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
      “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
      Merujuk pada penjelasan dari tafsir ringkas Kementerian Agama RI terdapat beberapa hal dari kesenangan hidup yang Allah ﷻ berikan yaitu dengan kehadiran anak dalam keluarga.
      Adapun kedudukan anak sebagai kesenangan hidup dapat dipahami bahwa manusia secara naluriah memiliki kecenderungan untuk senang terhadap anak. Ayat di atas senada pula dengan firman-Nya di surat Al Kahfi ayat 46
    2. Kedudukan anak sebagai cobaan atau fitnah. Firman Allah ﷻ dalam Alquran surat Al Anfal ayat 28:
      وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْم
      “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
      Mengutip dari kitab Al-Mufradat fi Gharib al-Quran karya ar-Ragib al-Isfahani, lafaz fitnah berasal dari kata fatana yang memiliki makna dasar ‘membakar logam emas atau perak untuk mengetahui kemurniannya’.
      Sebagaimana yang dijelaskan Prof Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, kedudukan anak anak sebagai fitnah tak hanya ketika orang tua memiliki dorongan atas dasar cinta kepadanya sehingga melanggar ketetapan Allah ﷻ, akan tetapi hal tersebur berlaku dalam kedudukan anak sebagai amanah Allah ﷻ.
      Allah menguji hamba-Nya melalui anak yang dikaruniai oleh-Nya adalah untuk melihat apakah hamba tersebut mampu merawatnya dengan baik. Tak hanya memberi sandang, pangan, dan papan yang cukup tapi juga mendidik dan mengembangkan potensi pada anak.
      Potensi tersebutlah yang kelak menjadikan manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah ﷻ, yaitu sebagai hamba-Nya sekaligus khalifah di dunia.
    3. Kedudukan anak sebagai musuh. Firman Allah ﷻ dalam surat At Taghabun ayat 14:
      يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
      “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah MahaPengampun, Mahapenyayang.”
      Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan mengenai sebab turun ayat di atas, salah satunya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dalam kitab tafsir Al-Qur’an al-Adhim, Ibnu Katsir mengutip ayat di atas berkaitan dengan persoalan sebagian dari penduduk Makkah yang ingin berhijrah namun dihalangi istri dan anak-anak mereka.
      Setelah berhijrah, mereka menemukan teman-teman yang telah lebih dahulu hijrah serta memiliki pengetahuan mendalam mengenai Islam. Pada saat itu, penyesalan timbul dan mereka bermaksud untuk menghukum istri dan anak-anak mereka yang menjadi penyebab ketertinggalan tersebut. Karenanya turunlah ayat ini untuk menjawab persoalan mereka.
    4. Kedudukan anak sebagai penyenang hati. Firman Allah ﷻ dalam surat Al Furqan ayat 74:
      وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
      “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
      Mengutip dari Tafsir Departemen Agama RI ayat di atas menjelaskan mengenai doa yang selalu dipanjatkan hamba-hamba yang dikasihi Allah ﷻ agar diberikan pasangan dan anak-anak yang mampu menjadi penenang hati dan menyejukkan perasaan.
      Dengan demikian akan bertambah pula di bumi ini hamba-hamba Allah ﷻ yang bertakwa lagi menyucikan zat-Nya Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. (Isyatami Aulia/ Nashih Nashrullah)
  • Kepentingan Pendidikan Agama Buat Anak

    Kajian yang dijalankan oleh Harvard University mendapati bahawa anak-anak yang dibesarkan dengan didikan agama akan membesar dengan lebih sihat dan mempunyai kehidupan yang lebih baik ketika dewasa.

    Kajian yang dikendalikan oleh Harvard School of Public Health ini dijalankan ke atas 5000 responden berusia di antara 8 hingga 14 tahun. 18% daripada mereka menikmati kadar kegembiraan yang lebih tinggi berbanding mereka yang tidak menerima pendidikan agama sejak dari kecil.

    Sekalipun kesedaran tentang agama dilihat menurun di Amerika, 51% daripada mereka masih menganggap agama sebagai sesuatu yang sangat penting. Perkembangan di Amerika sangat membimbangkan apabila Pew Research Centre mengeluarkan data bahawa 36% daripada anak-anak yang lahir sekitar tahun 1990 hingga 1996 tidak mengikat diri mereka dengan sebarang agama.

    Atas dasar itu Rasulullah menekankan tentang kepentingan membesarkan anak dengan agama. Mereka yang dibimbang dengan iman akan mempunyai hidup yang lebih terpandu dan sejahtera seperti yang dinyatakan oleh kajian di Harvard tersebut. Anehnya kita cuba pula mengurangkan pendidikan agama kerana bimbang anak-anak akan lebih menjadi lebai sedangkan kajian mengesahkan dapatan yang lebih positif.

    Rasulullah ﷺ sangat menekankan pendidikan asas agama bagi anak-anak Muslim. Al-Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan bahawa seawal kelahiran anak kecil itu lagi kita telah dianjurkan untuk membisikkan azan ditelinga mereka. Lafaz-lafaz tauhid yang menerobos ke telinga mereka menggambarkan betapa penerapan nilai aqidah perlu diterapkan sejak anak kecil itu lahir ke dunia lagi. (Ibn al-Qayyim, Tuhfah al-Maudud)

    Al-Imam al-Bayhaqi merekodkan bagaimana Rasulullah ﷺ berpesan kepada Ibn Abbas dan Ibn Amru (riwayat Ibn al-Sunni), bahawa perkataan pertama yang seharusnya diajarkan kepada anak kecilmu adalah kalimah tauhid. Sabda Nabi ﷺ kepada Ibn Abbas:

    افتحوا على صبيانكم أول كلمة لا إله إلا الله ولقنوهم عند الموت لا إله إلا الله

    “Ajarkanlah atau jadikanlah perkataan pertama pertama anak kecilmu perkataan Lailahaillah. Dan ajarilah mereka saat kematian mereka juga perkataan Lailahaillah. (al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman)

    Sunnah Rasulullah ﷺ ini juga dapat kita fahami melalui perilaku sahabat. Jundub al-Bajilli turut menceritakan bagaimana ketika mereka muda remaja, Rasulullah akan menekankan tentang perkara aqidah dahulu sebelum pengajian Quran (Shuab al-Iman). Begitu juga dengan Ummu Sulaym yang mengajarkan Saidina Anas tentang lafaz tauhid sebelum perkara yang lain (al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala).

    Penekanan ini tidak lain tidak bukan adalah untuk menerapkan keutuhan aqidah sejak mereka kecil. Pendidikan agama seawal usia ini adalah bagi membentuk etika serta peribadi anak kecil ini.

    Janganlah kerana kehendak politik kita mengurangkan pula pendidikan agama anak-anak kita disekolah. Ia tidak lain hanya akan merugikan kita dalam pembentukan jiwa Muslim dalam anak-anak kita.

    Semoga Allah membimbing kita.

  • Anak Ramai Tapi Mandul

    Anak Ramai Tapi Mandul

    1. Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang persoalan mandul. Sabda Nabi:

    مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ؟ قَالَ قُلْنَا: الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ، قَالَ: «لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا

    “Apa yang kamu faham tentang mandul? Sahabat lalu menjawab: Mandul adalah mereka yang tidak memiliki anak. Lalu Rasulullah bersabda: Mandul yang sebenar adalah mereka yang memiliki anak, tetapu anaknya tidak memberi manfaat buatnya.” (HR Ahmad).

    2. Inilah perbezaan pertimbangan manusia dengan penilaian Allah. Rasulullah mendidik sahabat supaya memandang tinggi kepentingan mendidik anak yang soleh. Anak yang ramai belum tentu memberikan manfaat buat ibubapa terutama di akhirat. Sebab itu Rasulullah tegaskan peranan anak yang soleh. Sabda Nabi:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

    “Apabila meninggalnya seorang manusia itu terputuslah segala amalannya melainkan tiga perkara: Anak yang soleh yang mendoakannya, sedeqah jariah serta ilmu yang bermanfaat.”

    3. Sedarkah kita bahawa istighfar seorang anak buat bapanya akan mengangkat kedudukan bapanya? Perkara ini diceritakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadith:

    إِنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ في الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

    “Sesungguhnya Allah mengangkat kedudukan seorang hamba soleh di dalam syurga. Lalu hamba itu bertanya: Wahai Tuhanku, bagaimana aku boleh mendapat kedudukan tinggi seperti ini? Lalu dijawab kepadanya: Melalui istighfar yang anakmu lakukan buatmu.” (HR Ahmad, Ibn Majah)

    Lihatlah betapa pentingnya peranan anak yang soleh. Sehingga istighfar yang dia lakukan boleh memberikan kesan kepada ayahnya.

    4. Atas dasar itu Nabi Ibrahim berdoa di dalam al-Quran agar dikurniakan anak yang soleh. Lihatlah betapa pentingnya peranan anak yang soleh sehingga seorang Nabi sendiri berdoa agar dikurniakan anak yang soleh. Doa ini direkodkan di dalam al-Quran. Kata Nabi Ibrahim:

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    “Wahai Tuhanku, kurniakanlah daku anak-anak yang soleh (al-Saffat: 100)

    Marilah bersama kita amalkan doa yang dibaca oleh Nabi Ibrahim ini. Mudah-mudahan kita dikurniakan anak yang soleh.

    Dr. Ahmad Sanusi Azmi
    https://www.facebook.com/DrAhmadSanusi/