Tag: Atsar

  • Cerminan Berpuasa dari  Seorang Penggembala Kambing

    Cerminan Berpuasa dari Seorang Penggembala Kambing

    Terdapat kedahsyatan puasa seorang penggembala, yang paling mengagumkan dan jarang dilakukan oleh orang masa sekarang. Ceritanya berawal dari siang hari yang terik, saat Ibnu Umar melakukan perjalanan dipadang pasir. Sesampainya di suatu tempat, beliau beristirahat sejenak dan membuka perbekalan. Beliau lalu bertemu dengan seorang budak yang sedang menggembala kambing di sekitar bukit tersebut. Ibnu Umar kemudian mengajak penggembala itu makan bersama. Akan tetapi, penggembala tersebut menolak.

    “Maaf, saya sedang berpuasa,” ujarnya.

    Ibnu Umar pun terkejut dan bertanya, “Apakah di hari yang panas menyengat ini, di tengah-tengah pegunungan terjal dengan pekerjaan menggembala kambing ini, engkau tetap berpuasa?”

    Dengan penuh keyakinan dan ketenangan, budak itu menjawab, “Aku ingin mempercepat hari-hariku di dunia ini dengan kebaikan.”

    Ibnu Umar lalu mencoba menguji budak tersebut dan berkata, “Maukah kau menjual kambing itu kepada kami dan makan bersama kami? Aku akan membayar kambing tersebut.”

    Budak itu menjawab, “Kambing itu bukan milikku, tapi milik majikanku.”

    Ibnu Umar terus mengujinya. “Bukankah engkau bisa berbohong dan mengatakan pada tuanmu bahwa kambingnya diterkam serigala?”

    Budak itu bertanya balik kepada Ibnu Umar, “Kalau demikian, dimanakah Allah?”

    Ibnu Umar pun kagum dengan jawaban dan sikap budak tersebut. Setelah kembali ke Madinah, Ibnu Umar memerdekakan budak itu dari majikannya sebagai bentuk kekaguman beliau atas keimanan sang budak.

    Itulah gambaran dari seorang penggembala yang mencerminkan, jika dengan berpuasa bisa melatih dan mendidik mereka untuk bersikap jujur dan seantiasa sabar menghadapi ujian. [Jalan Sirah]

  • Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!

    Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!

    Wahyu tak memberinya kesempatan untuk menarik napas. Saat beliau baru saja kembali ke rumahnya dalam keadaan menggigil. Tak lama wahyu kembali turun, memanggilnya untuk segera bangkit dari bawah selimutnya, Beliau pun segera bangkit. Tak ada lagi pertanyaan seputar tugas dan tanggung jawab agung yang dibebankan kepadanya berdasarkan wahyu yang pertama kali beliau terima.

    Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS AI-Muddatstsir: 1-2).

    Beliau pun bangkit, menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan hati yang lurus serta berserah diri. Beliau pun segera menyeru kepada Allah dengan hujjah yang nyata, ditopang oleh modal yang amat agung, dan jarang dimiliki manusia berupa akhlak yang utama, kepribadian yang luhur, dan keteguhan yang membaja, “Wahai sekalian kaum Quraisy, katakan kepadaku, jika kuberitahukan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerang, percayakah kalian?”

    “Ya,” jawab mereka. “Belum pernah kami melihat engkau berdusta wahai Muhammad.”

    Rasulullah Saw. kemudian melanjutkan, “Aku adalah utusan Allah bagi kalian.”

    Kata-kata ini pun mengundang berbagai reaksi. Ada yang diam membisu, ada pula yang menyerang membabi buta. Sikap membisu terjadi lantaran mereka masih diliputi kebingungan. Sementara serangan gencar datang dari pembesar mereka, Abu Lahab, seraya membawa kesombongan dan kedunguannya.

    Sejak momentum yang agung itu, perjalanan kafilah Islam pun dimulai. Jumlah pemeluk dan pengikutnya tumbuh dengan amat lambat. Namun, dengan segala kemurnian dan kedalamannya, beberapa orang kemudian mengambil tempat sebagai lokomotif.

    Mereka ada-lah Khadijah, ‘Ali, Abu Bakar, dan Zaid ibn Haritsah. Kemudian disusul dengan para sahabat yang lain: ‘Utsman ibn `Affan, `Abdurrahman ibn ‘Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqash, Zubair ibn Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, Bilal, Khabbab, Ibn Masud, `Ammar, Sumayyah, Sa’id ibn Zaid, Fathimah binti Al-Khaththab, dan Mush`ab ibn Umair. []

    Sumber: 10 Episode Teragung Rasulullah SAW/ Penulis: Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit: Mizania/ 2015

  • Aku Menangis Terlambat Masuk Islam

    Aku Menangis Terlambat Masuk Islam

    Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Peristiwa-peristiwa mulia yang ditempuh kaum Muslimin bersama Rasulullah begitu saja berlalu. Indahnya masa-masa turunnya wahyu, gegap gempita kemenangan di medan perang, derap kaki-kaki kuda di dalam perjalanan menuju jihad, isak tangis yang mengiringi para syuhada menuju kampung akhirat, lautan ilmu di majelis-majelis Rasulullah semuanya terlambat ia rasakan.

    Ketika tengah hamil tua, ibunya masuk ke dalam Kabah untuk suatu keperluan. Lalu ia merasakan perutnya mulas-mulas. Orang-orang segera mengambil alas dari kulit binatang. Tak lama kemudian, bayi laki-laki tampan dan sehat pun lahir ke dunia. lalah Hakim bin Hizam bin Asad bin Abdul Ghazi.

    Usianya yang hanya lima tahun lebih tua dari Muhammad menjadikannya tak sulit untuk bersahabat karib dan melewati masa remaja bersama. Apalagi ketika Muhammad menjadi suami dari bibinya, Khadijah binti Khuwailid.

    Kecintaannya kepada Muhammad pun telah membenih semenjak kanak-kanak, bahkan ia mengatakan, “Muhammad adalah orang yang paling aku cintai semasa jahiliah.” la pula yang membeli Zaid bin Haritsah, lalu ia berikan pada Khadijah. Zaid lantas dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah dan ia menjelma menjadi pejuang Islam yang tinggi derajatnya dengan syahid.

    Namun sayang, semua itu tak juga membuat sinar hidayah menembus hatinya. Ketika ia mulai condong kepada Islam, ia selalu melihat keteguhan dan keuletan para pembesar Quraisy dalam mempertahankan agama nenek moyang. Akibatnya, hidayah kembali menjauh darinya. Apa yang diucapkan Rasulullah menjadi kenyataan. Usianya menginjak 70-an tahun. Hakim mengucapkan kalimat syahadat bersama orang-orang Quraisy yang tak berkutik melawan tentara Muslim dalam peristiwa Fathu Makkah. Hakim menangis dengan air mata mengalir deras hingga anaknya heran dan bertanya. “Mengapa engkau menangis, wahai ayahku?” tanyanya.

    Penyesalan Hakim bin Hizam tak terbendung lagi. Padahal sejak kanak-kanak ia telah akrab dengan sang calon rasul mulia.

    “Aku menangis terlambat masuk Islam, Anakku. Hingga begitu banyak peristiwa berharga terlewatkan, yang tak mungkin bisa aku dapatkan dengan kepingan emas dan perak.”

    Hakim tak putus asa. Sekuat tenaga ia mengejar ketertinggalannya. Harta berlimpah yang ia miliki, ia sedekahkan untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya. Pada haji pertamanya, Hakim menggiring 100 ekor unta untuk disembelih di Makkah.

    Haji yang kedua, ia membawa 100 budak dengan tulisan yang tergantung di leher mereka, “Dibebaskan oleh Hakim untuk Allah”.

    Lalu pada haji yang ketiga, ia menggiring 1000 ekor kambing untuk disembelih dan dibagikan kepada fakir miskin di Mina. Tak cukup di situ, Hakim tak puas dengan infak-infak sebelumnya. Maka ia menjual Darun Nadwah, sebuah bangunan megah miliknya yang biasanya digunakan untuk rapat-rapat penting kaum Quraisy. Uang hasil penjualan bangunan itu ia infakkan di jalan Allah Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, Hakim menjawab, “Sesungguhnya aku menggantinya dengan membeli sebuah rumah di surga dan engkaulah yang menjadi saksinya,” jawab Hakim.

    Pengorbanan Hakim ia berikan dengan talus dan ikhlas. la seorang dermawan sejati yang selalu merindukan kedua tangannya mengulurkan sedekah. Saking cintanya kepada sedekah, ia pernah berkata, “Tidaklah pagi datang padaku tanpa seseorang di depan pintuku untuk meminta sedekah, kecuali itu adalah musibah yang aku mintakan Allah pahala darinya.” []

    Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

  • Abu Bakar, Sebelum Masuk Islampun Tak Pernah Minum Khammar

    Abu Bakar, Sebelum Masuk Islampun Tak Pernah Minum Khammar

    Sejak masa kecilnya, Abu Bakar adalah orang yang pendiam dan tulus. Dia sangat jujur. Karena karakternya yang bersih ini, dia menjadi teman terdekat Nabi sejak masa mudanya dan, pertemanan itu terbukti seumur hidup.

    Abu Bakar adalah orang yang berhati lembut dan sangat mudah merasakan penderitaan dan kesengsaraan orang lain. Dia biasa membantu orang miskin dan yang membutuhkan, yang tertekan dan tertindas.

    Bahkan sebelum memeluk Islam pun, dia tidak menyukai sebagian besar kebiasaan jahiliyah kaumnya dan tidak pernah minum minuman keras (khammar) sedikitpun.

    Pekerjaan utamanya adalah berdagang. Dia juga menemani Nabi dalam perjalanan dagang ke beberapa daerah. Karena kejujurannya, orang mempercayai Abu Bakar dan sering menyimpan uang mereka kepadanya. Kemuliaan dan kejujurannya segera membuatnya menjadi pedagang kaya. []