Tag: ismail

  • Pembenaran Haji dan Air Zamzam didalam Taurat

    Oleh: Mohammad Ali MA,
    Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

    Alquran menyebutkan ayat penting berkaitan dengan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah sebagai bagian dari situs suci pelaksanaan ibadah Haji. Dan ini tentu saja terkait langsung dengan latar belakang adanya kemunculan sumur zamzam.

    Hal ini dapat dibaca pada nas Qs. Al-Baqarah 2:158:

    ان الصفا والمروة من شعاءرالله (“Inna ash-Shafa wa al-Marwata min sha’airi-LLAH ..”)

    Dalam kitab Taurat juga disebut:

    הנה אצ-צפא ואל-מרוה מטקסי יהוה (“Hinne atz-Tzafa ve al-Marvah mith-thiqsei ADONAI …”)

    Memang, dalam Alquran memang disebutkan penyebutan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah. Namun, Alquran tidak menyebutkan adanya penyebutan situs sumur zamzam.

    Sebaliknya, kitab Torah (Taurat, red) memang hanya menyebutkan narasi peristiwa Hagar (Hajar, bahasa arab red), bunda Ishmael (Ismail) yang hal ini terkait kemunculan situs “sumur Lahai” (sumur zamzam).

    Tetapi dalam hal ini Torah tidak menyebutkan penjelasan mengenai adanya situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah yang menjadi sebab akibat kemunculan sumur Lahai (sumur zamzam). Namun, kedua teks suci ini tidak saling bertentangan, justru saling melengkapi dan saling menguatkan tentang adanya latar belakang kemunculan sumur zamzam.

    Maka utulah sebabnya, Rav Nosson Scherman dalam ‘Le’ houmach: Chamisha Chumshe Torah. Le’ edition Edmond J. Safra’, terkait nas Sefer Bereshit 16:14 beliau menyatakan bahwa sumur tersebut akhirnya menjadi tempat doa di masa depan. Ini bisa dilihat dalam lihat Sefer Bereshit 24:62.

    Rav Nosson Scherman ketika mengomentari ayat ini beliau berkata: Par la suite, ce puits est devenu un lieu de priere, voir plus loin, Sefer Bereshit 24:62 (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 2015), hlm. 75.

    Rabbi Bachya ben Asher ketika menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) pada Sefer Bereshit 16:14 beliau pun berkata: כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם (ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam).

    Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, dan juga sekarang ini disebut sumur zamzam.”

    Ibn Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga telah menyatakan dengan tegas:

    כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם (ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er Zamzam).

    Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur itu dan juga sekarang ini sumur tersebut disebut sumur Zammzam.”

    Dalam dokumen-dokumen Rabbinik, kesinambungan tradisi intelektual Rabbi Bachya ben Asher hingga Rabbi Ibn Ezra dapat ditelusuri secara akademik.

    Rabbi Bachya ben Asher (1255 – 1340 M.) murid utama Rabbi Shlomo ben Avraham Aderet/Rashba (1235 – 1310 M), dan Rashba adalah murid utama Rabbi Moshe ben Nachman/Ramban (1194 – 1270 M.), sedangkan Ramban sendiri sangat akrab dengan karya intelektual Rabbi Avraham Ibn Ezra (1089 – 1164 M.).

    Karya Ibn Ezra אבן עזרא על התורה (Ibn Ezra ‘al ha-Torah) ini merupakan karya yang disusun berdasar Torah she be’al phe (Torah Lisan). Itulah sebabnya dalam buku עיונים בלשונות הראב”ע karya Abe Lipshitz (Chicago: the College of Jewish Studies Press, 1969) disebutkan adanya banyak kutipan dari karya Ibn Ezra yang termaktub dalam tulisan-tulisan rabbi-rabbi otoritatif era Rishonim.

    Dan kebenaran teksnya itu pun dikonfirmasi oleh mereka sendiri, di antaranya Rabbi David Kimchi/Radak (1160 – 1235 M.), Rabbi Moshe ben Nachman/ Nachmanides (1194 – 1270 M.), Rabbi Bachya ben Asher (1255 -1340 M.) dan para Tosafis yang pernyataan mereka juga termaktub dalam teks Gemara, Talmud Bavli.

    Yang lainnya separate Rabbi Moshe ben Maimon/ Maimonides (1135 – 1204 M.) berkata: “study them (Ibn Ezra’s words) with intelligence, understanding and deep insight.” H. Norman Strickman, Ibn Ezra’s Commentary on the Pentateuch. Genesis. Bereshit (New York: Menorah Publishing Company, 1988), p. xxii) juga berpendapat sama.

  • Kurban dan Hati Yang Tergerak

    Kurban dan Hati Yang Tergerak

    Didalam hari Ied Adha, ada dua perkara yang titik beratkan oleh Allah terhadap hambanya, yakni: shalat ied dan berkurban. Maka dirikanlah shalat karena rabbmu dan berkorbanlah (Surat Al-Kautsar : 2).

    Hari raya kurban sendiri tidak dapat dipisahkan dari satu teladan yang diberikan oleh nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail, dimana keduanya berusaha memenuhi mimpi bahwa Allah meminta nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya.

    … (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Dia (Ismail) menjawab:  ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,’” (QS As-Shaffat [37]: 102)

    Allah tidak hadir secara langsung pada mimpi nabi Ibrahim, dan Allah tidak juga hadir secara langsung ketika ayah dan anak tersebut berada dalam satu drama perbincangan yang direkam sangat indah dalam ayat Al-Quran.

    Yang kemudian dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan ayah dan anak ini ditemui oleh iblis yang menyamar sebagai manusia, dan menghalangi-halangi keduanya dengan perandai-andaian yang meragukan, akan tetapi tekad ayah dan anak ini tidak menyisakan satu ruang pun untuk sebuah keragu-raguan.

    Hingga prosesi penyembelihan yang tidak berhasil, barulah kemudian Allah hadir dengan mengganti kurban tersebut dengan seekor kambing.

    Tuan dan Puan sekalian, kemudian kita bertanya, apakah yang membuat nabi Ibrahim tergerak? apa yang membuat seorang ayah bisa mengorbankan anaknya?

    Pertanyaan serupa kepada diri kita, apa yang membuat semua manusia tergerak? apa yang membuat anak berbakti kepada orang tuanya? apa yang membuat satu manusia menolong manusia lainnya? apakah yang membuat kita semua tergerak sejatinya?

    Kita sering menyebutnya dengan keyakinan, yakni iman, perkara abstrak yang terletak pada hati yang nyata secara fisik.

    Dada yang bergetar ketika disebutkan orang-orang yang kita sayangi, ataupun perkara-perkara yang kita yakini, dan dari kesemua itu tidak ada yang lebih besar dari bergetarnya hati kita karena disebut, ataupun menyebut, diingatkan ataupun mengingat, diatasnamakan ataupun mengatasnamakan Allah rabbul alamin, tuhan sekalian alam.

    Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

    Inilah nabi Ibrahim, yang memberikan teladan atas keimanan, teladan atas hati yang tergerak, hati yang tersentuh, hati yang rapuh atas sebuah kalimat, Allah. Hingga pantaslah beliau diabadikan dalam Al-Quran sebagai khalilullah, kekasihnya Allah. Manusia yang lunak hatinya dan tergerak ketika disebutkan, diatasnamakan, diingatkan tentang Allah.

    Di dalam Al-Quran disebutkan ad-dzikr,  mengingat. Jika hati sudah teringat dan tergerak, maka tergeraklah seluruh anggota badannya, jika hati sudah meletakkan keyakinan, maka bergeraklah seluruh anggota badan mengerjakan amalnya.

    Tuan dan Puan sekalian, tanda-tanda hati yang tergerak adalah dia hati (jantung) berdegub, bergetar ketika disebutkan

    “Di dalam jasad terdapat segumpal daging. yang jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad, yang jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ia adalah hati (jantung).”

    Sebagaimana dicontohkan oleh nabi Ibrahim atas pengorbanannya, apakah dengan berkurban kita merasakan tergeraknya hati kita karena mengingat Allah, berdegubkah jantung kita saat mengucapkan: Bismillahi, allahumma taqabbal minna, dengan namamu ya Allah, terimalah kurban dari kami.

    Wallahualam, yang maha mengetahui yang gaib tersembunyi dalam hati dan yang maha melunakkan hati. Semoga kita termasuk manusia-manusia yang selalu tergerak hatinya.

    Iedul Mubarak, selamat hari raya Kurban dan semoga Allah menerima pengorbanan kita.

    Sumber: http://www.insancendekia.org/grak/156-kurban-dan-hati-yang-tergerak