Tag: Khutbah Jumat

  • KH Cholil Nafis: Jangan Sampai Khutbah Jadi Orientasi Duniawi

    JAKARTA – Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Wadah Silaturohim Indonesia (WASATHI) Gelar Pembukaan Pendidikan Khatib Wasathi di Gedung Majelis Ulama Indonesia Pusat, (08/01).

    Dalam sambutannya Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah Kyai Cholil mengungkapkan rasa senangnya, karena ada lembaga masyarakat yang bermitra dengan MUI khususnya pada kesempatan kali ini dibidang penguatan dakwah rutin yaitu khatib jum’at.

    Kiai Cholil Nafis menjelaskan, khatib memiliki peran penting dalam setiap pelaksanaan Shalat Jumat. Sebab, dalam seluruh jamaah dilarang untuk berbicara saat khutbah sedang berlangsung, tanpa memandang struktur sosial dan ilmu .

    Namun demikian, Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengamati, saat ini muncul kesan posisi khatib yang mulia direndahkan dan dirasa membosankan. Alasannya, isi khutbah yang tidak berbobot dan terkesan asal-asalan.

    “Khutbah adalah pekerjaan yang paling sulit karena durasinya pendek, tapi harus mengemukakan banyak hal,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Wasathi Channel, Sabtu (08/01).

    Kiai Cholil mengatakan, yang paling baik dari khutbah adalah sedikit tapi mempunyai cakupan yang banyak, baik aspek ayat dan tafsirnya, sejarah dan lain-lain. Sebaliknya, apabila khatib menyampaikan khutbah tidak menarik, tidak jelas, dan memprovokasi orang lain maka khutbah tidak lagi diposisikan sebagai keadaan yang sangat sakral.

    Ulama yang juga Dosen Universitas Indonesia ini menegaskan, sebagai umat Islam yang memiliki paradigma moderat harus fokus mengajak jamaah hanya yang terkait praktek ibadah jumat. Doktor Universitas Malaya ini menekankan, khutbah tidak boleh dijadikan sarana untuk memaki, menistakan, bahkan menyudutkan siapapun.

    “Jangan sampai khutbah menjadi orientasi duniawi, baik oleh khatibnya maupun kepentingan masa, dimanapun khutbah kita harus punya komitmen,” tegas Kiai Cholil Nafis. .

    Dalam penutupnya, Kiai Cholil berharap, seluruh peserta yang menjadi peserta diberkahi. Ia memberi saran pada Wasathi untuk membuat modul-modul agar menjadi penggerak dan ditiru oleh khatib-khatib lain.

    (Abi Rachman A.P/Angga)

  • Meneguhkan Diri sebagai Ummatan Wasatha

    A. Khoirul Anam, M.Sy.
    Wakil Sekretaris Komisi Infokom MUI

    اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    إِنَّ الْحَمْد للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمْنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَ الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَ الْهَادِيْ إِلِى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ عَلَى آلِهِ وَصُحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَ مِقْدَارِهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.*

    *فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ, قال الله تعالى في القرآن الكريم. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    *أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهُ تَعَالَى،أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    Hadirin jamaah Jum’an yang dimuliakan Allah SWT,

    Ada satu peristiwa penting berkaitan dengan ibadah shalat yang telah diwajibkan lima kali sehari semalam sejak peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa ini adalah perintah perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka’bah di Masjidil Haram Makkah. Perintah ini diabadikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 142-152 atau permulaan juz 2. Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al-Munir mengutip hadits riwayat Al-Bukhari dari al-Barra’ menyebutkan bahwa peristiwa perubahan arah kiblat ini terjadi setelah Rasulullah SAW berada di Madinah selama enam belas atau tujuh belas bulan.

    Pada saat berada di Makkah, Rasulullah SAW melakukan shalat di sebelah Selatan Ka’bah atau menghadap ke utara. Para sahabat ketika itu mengira Rasulullah shalat menghadap ke Ka’bah. Padahal Rasulullah menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina yang juga berada di utara Makkah serong sedikit ke barat, tepatnya arah barat laut.

    Setelah Rasulullah SAW berada di Madinah, para sahabat baru menyadari bahwa ternyata shalat Rasulullah SAW menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina. Madinah sendiri berada di tengah-tengah antara Palestina dan Makkah sehingga ketika berada di Madinah, sangat kelihatan bahwa Rasulullah shalat menghadap ke Baitul Maqdis atau menghadap ke utara, membelakangi Ka’bah yang berada di selatan Madinah.

    Sebelum sampai pada ayat inti mengenai perintah perpindahan arah kiblat atau ayat ke 144, terutama pada kalimat

     قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

    “Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram”

    Sebelum itu, ada dua ayat yang disebutkan lebih dulu atau oleh Syekh Wahbah Zuhali disebut sebagai tamhid atau kalimat pengantar sebelum sampai pada ayat inti mengenai perintah perpindahan kiblat itu.

    Tamhid li tahwil al-qiblat atau kalimat pengantar sebelum perintah perpindahan awah kiblat itu antara lain berbunyi:

     وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

    “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umatan wasatha agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu,” dalam ayat 143.

    Istilah atau penyebutan umat Islam sebagai “ummatan washata” ini yang akan kita bahas kali ini.

    Kata wasatha artinya tengah-tengah. Umat Islam adalah umat yang tengah-tengah, atau umat yang moderat. Dalam konteks kiblat dan hubungan dengan tempat suci agama-agama sebelumnya, Syekh Wahbah menyebutkan bahwa tengah-tengah ini maksudnya antara umat Yahudi yang berorientasi ke materi (maddiyyin) dan umat Nasrani yang berorientasi ke ruh (ruhiyiin). Islam adalah agama yang menempatkan jazad atau materi dan ruh secara proporsional.

    Ada kaidah hukum Islam yang menyebutkan bahwa “al ibrah bi umumil lafdzi la bikhusussis sabab”, yang diambil adalah keumuman lafadznya, bukan kekhususan sababnya. Posisi tengah-tengah (al-wasath) ini bisa diterapkan dalam segala aspek (fil umuri kulliha), yakni tengah-tengah antara sifat yang terlalu bersemangat atau berlebihan (ifrath) dan yang loyo dan lalai (tafrith). Misalnya, sifat berani adalah tengah-tengah antara sifat nekat dan penakut, namun tidak semua sifat yang tengah-tengah ini mempunyai definisi khusus.

    Apalagi sifat yang tengah-tengah ini dikuatkan dengan dalil lain yang memerintahkan umat Islam untuk menjadikan sifat moderat ini sebagai pilihan. Misalnya, tidak boleh terlau pelit dan tidak boleh terlalu boros:

     وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ ٱلْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا (QS Al-Isra: 29),

    lalu tidak boleh terlalu lantang dan telalu lirih:

     وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا (QS: Al-Isra: 110).

    Lalu tidak boleh terlalu berorientasi akhirat dengan melupakan dunia, atau sebaliknya:

     وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ (Al-Qashash ayat 77).

    Alwasath-atau tengah-tengah adalah pilihan terbaik.

    Alwasath artinya tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan. Ada istilah lain yang sepadan dengan itu yakni i’tidal (dari kata adil) yakni tegak lurus, tidak menceng ke kiri dan ke kanan.

    Sifat tengah-tengah ini bukan berarti tidak punya sikap atau pendirian. Posisi di tengah, proporsional, atau seimbang itulah sikap kita. Sebagai mana Ka’bah yang disebut tepat berada di tengah-tengah bumi, ummatan wasatha atau umat yang tengah-tengah itu adalah umat yang berada di jalan yang lurus (shiratal mustaqim) atau agama Islam (dinul Islam) itu sendiri.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اْغِفْر وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاِحِمِيْنَ*

    KHUTBAH KEDUA

    الْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحِ الْغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ*

    *فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي  بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّئَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ قَدْ قَالَ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ.*

     *أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَملاَ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْا اللهَ إِلَى مَا دَعَاكُمْ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى مَنْ بِهِ اللهً هَدَاكُمْ*.

    *اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ  وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ اللهُ عَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِينَْ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ*.

    *اَللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنِ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً طَيِّبَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. يَا إِلَهَنَا وَإِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ. هَذَا حَالُنَا يَا اللهُ لاَ يَخْفَى عَلَيْكَ*

    *اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِ خْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ* *عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ. وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر*

  • Tetap Bersyukur dan Bersikap Moderat di Tengah Pandemi

    اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ،

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

    فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

    قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم،

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.

    يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    Kaum Muslimin yang berbahagia.

    Pertama kali marilah kita panjatkan puja syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam serta kesehatan yang prima sehingga kita dapat menghadiri sidang Jumat ini meskipun dalam suasana New Normal di tengah pandemi Covid-19.

    Semoga kita dan seluruh warga bangsa ini mendapatkan tambahan karunia Allah SWT dengan terus membaiknya situasi sehingga kita dapat melanjutkan pembangunan nasional yang lebih baik di masa mendatang.

    Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang beriman hingga akhir zaman.

    Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenung sejenak tentang sesuatu yang telah menimpa kita belakangan ini. Kita harus memahami bahwa kejadian yang menimpa penduduk bumi saat ini merupakan bagian dari paket penciptaan alam semesta itu sendiri. Sifat dari alam semesta adalah rusak dan menerima rusak.

    Sedangkan yang memiliki sifat tetap dan abadi hanya Dzat Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam QS: Al-Qasshash: 8:

    كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

    Artinya: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Dzat Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS Al-Qasshash: 8)

    Alam raya ini, termasuk bumi dan penduduknya tidak pernah dalam kondisi yang utuh dan aman dari kerusakan (bencana) sepanjang masa. Kebaikan dan kerusakan (nikmat hidup dan musibah/kematian) ada dalam keseiringan dan melingkupi kehidupan manusia.

    Keduanya datang silih berganti dengan tujuan menguji tingkat kualitas amal baik mamnusia.
    Bagi manusia, musibah atau kesulitan dipahami sebagai peristiwa yang tidak diinginkan. Namun hal itu pasti akan melintasi perjalanan hidup manusia untuk menguji kesabaran agar mereka kembali mengingat Allah SWT.

    Dalam QS: Al-Baqarah: 155-156 Allah berfirman:

    وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ. ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

    Artinya: Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. (QS: Al-Baqarah: 155-156).

    Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

    ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

    Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS: Al-Mulk: 2).

    Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa mati dan hidup adalah bagian yang tak terpisahkan bagi umat manusia.

    Syaikh Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir dari negeri Suriah menyebutkan bahwa Allah menciptakan maut dan kehidupan semata untuk menguji umat manusia, yaitu siapa di antara kalian yang baik dalam beramal, dan juga sebagai balasan atas amalan mana yang pantas diberikan pahala.

    Sebaik-baik amalan adalah yang ikhlas mencari ridha Allah dan mengikuti kebenaran, yaitu mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

    Titik tekan dari amalan kita adalah pada tingkat keikhlasan. Ayat tersebut mengindikasikan bukan pada “yang paling banyak amalnya”, tetapi sejauh mana amalan itu dilaksanakan dengan tingkat kerelaan yang tinggi.

    Di dalam ayat tersebut juga menyebutkan ampunan (al-ghafur) setelah kemuliaan (al-aziz) yang memiliki makna bahwa kemuliaan akan diperoleh setelah mendapatkan pengampunan dosa dan amal shalih.

    Sebagai orang yang beriman, kita mestinya mampu menangkap isyarat yang diberikan Allah kepada kita, apapun bentuknya. Begitu banyak ayat Al-Quran yang menyebut objek bicara (mukhathab) ditujukan kepada orang-orang beriman.

    Kenapa? Karena orang-orang beriman lah kelompok yang memiliki kemampuan untuk menangkap pesan-pesan ketuhanan, baik yang tersurat maupun yang tersirat, termasuk pesan-pesan musibah Covid-19 yang sedang kita alami saat ini.

    Oleh karena itu, seberat apapun ujian yang kita rasakan, kita tidak perlu berkecil hati di hadapan Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha segalannya dan Allah bisa melakukan apapun jika Dia berkehendak.

    Tentu, selain kita harus bersabar dan tetap berusaha sebaik mungkin agar terhindar dari musibah, kita harus tetap menyediakan ruang batin untuk terus bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan selama ini.

    Jika kita hitung, musibah yang sedang melanda dunia tidak sebanding dengan jumlah nikmat yang pernah diberikan Allah sepanjang kehidupan di dunia ini.

    Terkait hal tersebut, syukur adalah cara terbaik agar kita tetap survive dengan sikap yang positif di tengah musibah pandemi. Syukur merupakan cara cerdas orang beriman dalam menghadapi musibah.

    Syukur adalah wujud penghambaan nyata kepada Allah bahwa manusia sangat bergantung kepada-Nya. Syukur juga sekaligus menunjukkan bahwa musibah tidak menjadikan semua proses kehidupan ini berhenti total, apalagi dengan sikap putus asa dengan menuntut keadilan Tuhan.

    Hadirin sekalian yang berbahagia,

    Satu hal lagi yang juga patut kita syukuri di tengah situasi sulit seperti ini kita merasakan adanya iklim solidaritas yang terus tumbuh di tengah masyarakat.

    Banyak kalangan berpunya yang memiliki kepedulian sosial (filantropi) untuk ikut serta memilkul beban dalam menghadapi bencana ini melalui penyaluran bantuan-bantuan sosial. Patut kiranya hal ini terus kita tumbuhkan agar situasi semakin membaik dengan terus saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

    Dalam konteks kehidupan umat beragama, kita juga merasakan terjaganya kerukunan, kebersamaan, dan saling pengertian di tengah keragaman, meski dinamika kecil tidak dapat dihindarkan. Hal ini tidak dapat dilepaskan karena praktik moderasi beragama (wasathiyah) yang telah terjaga di tengah umat beragama.

    Sikap moderat dalam beragama benar-benar menjadi pondasi yang kokoh selain faktor ekonomi dan politik di tengah wabah penyakit yang melanda bangsa ini.

    Jika kita semua mampu menempatkan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama moderat dan tidak terseret dalam tarikan paham dan perilaku ekstrem kanan dan ekstrem kiri, niscaya kita akan tetap mampu bertahan sebagai bangsa yang besar dan maju.

    Sejarah telah membuktikan bahwa umat beragama di Indonbesia telah mampu menunjukkan kepada dunia bahwa praktik “moderasi beragama” merupakan modal penting bagi berdiri dan tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah NKRI yang terbangun hingga kini.

    Pilar-pilar kebersamaan dan keharmonian dirajut melalui paham, sikap, dan perilaku beragama “jalan tengah” sehingga mempertebal ikatan persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan.

    Paham, sikap, dan perilaku moderat merupakan ajaran yang telah ditandaskan oleh Allah dalam QS: Al-Baqarah: 143:

    وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

    Artinya: “Dan yang demikian ini Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.” (QS: Al-Baqarah: 143)

    Nilai moderasi yang ditekankan pada ayat tersebut terletak pada posisi di tengah, sehingga menjadi pangkal untuk menumbuhkan sikap beragama yang damai dan teduh.

    Moderasi beragama adalah jalan tengah yang mengedepankan nilai keadilan, di mana bergama atau berprilaku agama sesuai dengan porsi yang telah ada.

    Tidak ada intrik untuk melebihkan atau mengurangi sebuah ajaran sebagaimana dilakukan oleh sekelompok kecil umat beragama.

    Dengan moderasi agama, kita akan menjalankan pesan-pesan Tuhan sesuai dengan apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW kepada kita. Kita tentu tahu bahwa radikalisme agama, atau konflik kekerasan yang banyak terjadi itu karena adanya prilaku berlebihan sehingga mereduksi nilai keadilan sebagai pondasi utama bermasyarakat.

    Agama wajib dipahami dengan pemahaman yang adil agar tidak menimbulkan konflik di tengah kehidupan umat.

    Sebagai umat beragama, tugas kita adalah menyampaikan bahwa agama mengusung misi yang mencerahkan pikiran dan tindakan dalam konteks apapun.

    Agama harus mampu menghadirkan rasa adil agar setiap masalah yang muncul bisa menemukan penyelesaian dengan baik. Agama harus dijadikan jalan untuk menemukan masalah kesejahteraan dan kedamaian agar problem-problem hidup tidak terus muncul.

    Apalagi di tengah situasi pandemi seperti ini, seluruh tokoh agama dan umat Islam secara keseluruhan harus dapat menempatkan seluruh konteks kehidupan secara lebih proporsional dan akhirnya kita mampu melalui situasi ini dengan baik, rukun, dan damai.

    بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم، وجعلني واياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. إنه هو البر التواب الرؤوف الرحيم

    Khutbah II

    الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.

    وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

    اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ

    فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ

    وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ

    اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

    اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

    رَبَّنَا آتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

    . عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

    وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

    Disusun oleh:

    Dr. H. Thobib Al-Asyhar, M.Si, Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Pusat, Dosen Psikologi Islam pada Program Kajian Timteng dan Islam, SKSG Universitas Indonesia.

  • Dr Maza: Dakwatul Islam

    Dr Maza: Dakwatul Islam

    Abdullah bin Mas’ud berkata (atsar sahabat) akan datang satu masa dimana anak kecil besar dengan fitnah, orang-orang tua dengan fitnah, yakni ketika:

    Ketika orang yang amanah sedikit, dan ketika banyak orang yang berpolitik

    Ketika sedikit orang yang paham agama, dan ketika banyak yang membaca tetapi tidak memahami bacaannya

    Ketika belajar ingin pandai agama bukan karena tujuan agama itu diturunkan dan dicari dunia dengan menggunakan amalan akhirat