Tag: muhasabah

  • Muhasabah Akhir Tahun MUI, Wamenag: Pemerintah Mencanangkan 2022 Jadi Tahun Toleransi

    JAKARTA—Wakil Menteri Agama RI, Buya Zainut Tauhid Sa’adi, menyampaikan bahwa pemerintah mencanangkan 2022 menjadi tahun toleransi. Hal itu dia sampaikan saat memberikan sambutan dalam kegiatan Muhasabah dan Istighasah Kubra Akhir Tahun 2021 yang diselenggarakan MUI di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (30/12) malam.

    “Pemerintah mencanangkan tahun 2022 akan menjadi tahun toleransi. Mari kita bersama-sama sukseskan program tersebut, sehingga Indonesia mampu menjadi barometer bangsa yang memiliki toleransi tinggi dalam keberagaman,” ujarnya.

    Menurut dia, setiap manusia tidak lahir dalam ruang hampa. Manusia merupakan anak zamannya yang memiliki peradaban tersendiri. Lahirnya keberagaman di Indonesia, kata dia, merupakan sunnatullah yang harus dirawat bersama melalui toleransi.

    Saat bangsa-bangsa lain masih sibuk mencari cara menata keragaman, bangsa Indonesia, ujar dia, jauh lebih maju dengan mengelola keragaman menjadi harmoni.

    “Indonesia diberkahi dengan berbagai ragam budaya, bahasa, hingga agama. Di atas dasar negara Pancasila, telah banyak ruang dan waktu di mana Indonesia berjibaku membangun nusantara,” tuturnya.

    Menurut dia, bangsa yang besar adalah yang mampu menempatkan persamaan di atas perbedaan. Bangsa Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin berat dan kompleks. Karena itu, dibutuhkan sinergi berbagai pihak untuk menjawab tantangan zaman ini.

    “Ini nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada kita semua. Tentu saja peran dari tokoh agama, Kiai dan para pendiri bangsa membawa Indonesia menjadi bangsa yang ramah, damai, dan sejahtera,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia menperkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah basyariyah. Salah satu caranya, kata dia, yaitu dengan mengorbankan ego dan lebih berani mencari titik temu daripada sibuk dengan perbedaan yang ada.

    Wamenag menyatakan, acara muhasabah dan istighatsah adalah momentum yang menjadi keharusan bagi setiap muslim. Kewajiban tersebut dilakukan dengan perenungan atas apa yang berlalu dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

    Dalam acara yang diinisiasi Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI tersebut, dia menyampaikan kegiatan ini adalah wujud komitmen bersama antara ulama dan umara/pemerintah. Pemerintah terus berkomitmen menjadi mitra strategis ulama melalui semangat Islam rahmatan lil ‘alamin. Tanpa adanya sinergi, bangsa Indonesia akan kesulitan menjalankan tugas pembangunan di masa mendatang.

    “Semoga hubungan ini terus memberikan kemaslahatan dan keberkahan bagi bangsa Indonesia. Acara malam ini menjadi bukti adanya sinergi antara ulama dan umara,” ujarnya. (Isyatami Aulia/Azhar)

  • Ketua Komisi Dakwah MUI Ajak Bermuhasabah Hadapi Pandemi

    JAKARTA — Ketua Komisi Dakwah MUI, KH. Ahmad Zubaidi, menyampaikan bahwa muhasabah merupakan jalan terbaik untuk meredakan Covid-19 saat ini. Menurutnya, para Nabi terdahulu ketika tertimpa musibah segera mengakui kesalahannya kepada Allah SWT. Mereka mengakui dirinya sebagai orang yang dzalim dan setelah itu musibah akan berlalu.

    “Sebelum berdzikir, kita harus merenungi apa yang sudah kita lakukan. Sesungguhnya apa yang terjadi di bumi ini, termasuk musibah Covid-19, tidak lepas dari ulah tangan manusia. Maka, daripada kita menyalahkan orang lain, lebih baik di hadapan Allah SWT kita mengaku sebagai orang yang salah. Kalau kita senantiasa merasa benar, maka justru pertolongan Allah SWT semakin jauh, ” ujarnya dalam kegiatan Muhasabah dan Istighosah Virtual untuk Keselamatan Umat Islam dari Ancaman Covid-19, Sabtu (26/06) malam di Jakarta.

    Dia menyampaikan, selain dzikir, muhasabah adalah upaya batiniah sebagai bukti tunduk kepada Allah SWT. Bagaimanapun, Allah SWT yang menjadi pencipta segalanya termasuk Covid-19. Ikhtiar lahiriyah yang selama ini sudah dilakukan, ujar dia, belum cukup. Karena itu, upaya batiniah seperti muhasabah dan dzikir dibutuhkan untuk menyambungkan hati kepada Allah SWT.

    “Kita semua merasakan musibah yang menimpa negeri ini satu setengah tahun. Harapan kita, Covid-19 ini bisa segera berakhir namun nampaknya sampai hari ini penderitanya terus bertambah dan korban berjatuhan. Istighosah yang dulunya bisa kita lakukan hybrid, namun saat ini semuanya hadir full virtual di rumahnya masing-masing, ” ujarnya.

    Menurutnya, muhasabah juga menjadi koreksi atas upaya lahiriyah yang selama ini sudah dilakukan. Pemerintah sudah mengupayakan vaksinasi maupun literasi kepada masyarakat. MUI juga terus melakukan sosialisasi fatwa Covid-19 ke seluruh Indonesia untuk membangkitkan ikhtiar masyarakat. Karena Covid-19 belum mereda dan justru bertambah, kemungkinan ada yang masih kurang dalam ikhtiar itu.

    “Maka selain memaksimalkan ikhtiar lahiriyah, ikhtiar batiniah dengan menyambungkan hati kita berdzikir kepada Allah SWT, bisa menjadi solusi kita untuk menghadapi Covid-19 ini. Hanya kepada Allah SWT kita meminta serta hanya kepada-Nya kita memohon musibah ini lekas berakhir, ” ujarnya. (Muhamad Saepudin/Din)

  • Kiai Cholil Nafis: Berita Covid-19 Membuat Khawatir, Perbanyak Dzikir untuk Menenangkan Diri

    JAKARTA─ Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. Cholil Nafis, menilai berita Covid-19 yang saat ini beredar membawa dampak negatif bagi psikologi masyarakat. Sebagai orang yang sedang berjuang sembuh dari Covid-19, dia merasa, berita yang ada terkesan menakutkan dan melemahkan psikologis. Dia berharap, berita yang muncul bisa lebih informatif dan edukatif, bukan selalu fearmongering (menyebar ketakutan).

    “Saya mendengarkan banyak berita duka belakangan ini dari teman-teman saya. Pemberitaan penguburan massal di media membuat saya khawatir. Solusi terbaik dari saya, adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, ” ungkapnya dalam acara Muhasabah dan Istighosah Virtual untuk Keselamatan Umat Islam dari Ancaman Covid-19, Sabtu (26/06) di Jakarta.

    Dia mengatakan, dzikir menjadikannya lebih merasakan ketenangan di tengah banjirnya berita Covid-19 yang menakutkan. Amalan ibadah seperti dzikir, shalawat, istighfar, dan membawa Al-Quran membuatnya merasakan ketenangan.

    “Berita yang ada hendaknya dibuat untuk menyebarkan pemahaman atau edukasi kepada masyarakat. Jangan terlalu menyebarkan berita yang dapat berdampak negatif bagi psikologi masyarakat, ” ungkapnya.

    Sebagai salah seorang pasien Covid-19, Kiai Cholil merasakan betul dan terpengaruh dengan informasi yang beredar di media masa. Berita-berita memburuknya kondisi Covid-19 dan meningkatnya angka kematian akibat Covid-19 membuat kondisinya melemah. Di sela-sela proses isolasi mandiri, dirinya memutuskan memperbanyak amalan ibadah agar hatinya tenang.

    Isolasi Mandiri membuat Kiai Cholil banyak memiliki waktu luang. Meski begitu, dia tetap mengisi beberapa aktivitas secara virtual. Di sela-sela waktu luangnya, dia tidak menyiapkan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, betapa pun ia berusaha menghindari Covid—19, jika Allah SWT menghendaki positif, maka yang ia bisa lakukan hanya berdoa dan ikhtiar.

    “Kepada teman-teman yang hadir dalam acara virtual ini, saran saya, hindarilah aktivitas berkerumun dan patuhi protokol kesehatan. Kalau sudah sakit, rasanya masyaAllah sekali. Akan tetapi, perlu diingat bahwa Allah SWT memberikan musibah pasti ada hikmah di baliknya. Bisa jadi Allah SWT mengangkat dosa kita yang telah lalu. Jadikan momen ini sebagai pendekatan diri kepada Allah SWT, ” pungkasnya. (Hurryyati Aliyah/Din)

  • Doa Prof Nasar dan Kiai Cholil Tutup Istighosah dan Muhasabah di Istiqlal

    JAKARTA — Lantunan doa Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nasaruddin Umar dan Ketua MUI Bidang Dakwah KH. Cholil Nafis menutup rangkaian Muhasabah dan Istighosah untuk Negeri, Kamis (28/01) malam ini. Kiai Cholil memimpin doa melalui Masjid Istiqlal Jakarta, sementara Prof. Nasaruddin Umar secara virtual.

    Doa tersebut dilantunkan setelah sebelumnya ada sambutan dari Ketua Umum MUI KH. Miftachul Akhyar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH. Ma’ruf Amin, dan seremonial Istighosah.

    Sebelum doa-doa tersebut dilantunkan, saat memimpin Istighosah,Habib Nabil al Musawwa berharap mudah-mudahan Istighosah dan doa yang terlantunkan pada malam hari ini diterima Allah SWT.

    “Mudah-mudahan Allah mengabulkan doa kita pada malam hari dan menjauhkan dari segala bala bencana dari negeri ini,” ujarnya sambil mengucap lafadz Allah.

    Kiai Cholil Nafis sebelum memulai doa mengatakan, doa adalah senjata kaum Muslim dan itu menjadi inti dari ibadah. Kiai Cholil melafadzkan doa yang biasa dilantunkan pascashalat rawatib. Kiai Cholil juga berdoa agar negeri ini terhindar dari segala kerusakan termasuk virus Covid-19.

    Sementara itu, Prof. Nasaruddin Umar memimpin dengan melantunkan doa yang lebih khusus. Dia berdoa agar negeri ini bisa bersinergi kembali, menghasilkan energi yang kokoh dan kuat, sehingga bisa pulih seperti sedia kala. Dia berdoa semoga Indonesia terhindar dari berbagai macam perpecahan dan kontroversi yang tidak perlu. Sebab itu begitu menguras energi bangsa.

    “Ampuni segala dosa dan kekhilafan yang pernah hambaMu lakukan, janganlah kesalahan dan kekeliruan kami menyebabkan terjadinya bencana dan musibah ini. Kami yakin sebesar apapun dosa dan kesalahan kami, pengampunanMu jauh lebih besar. Hanyalah Engkau yang mampu menyelematkan kami semuanya dan hanya kepadaMulah kami memasrahkan diri. Ya Allah kabulkanlah permohonan kami,” pintanya melalui doa. (Azhar/Din)

  • Muhasabah, Wantim MUI Ajak Masyarakat Cari Solusi Bersama untuk Indonesia

    JAKARTA – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Prof. DR. KH. Maruf Amin berpesan kepada seluruh masyarakat untuk bersama mencari solusi dalam menghadapi berbagai kerusakan dan bencana yang saat ini sedang melanda Indonesia.

    Pada saat bangsa Indonesia berjuang dalam melawan pandemi Covid-19, bencana alam juga menyusul secara berangsur di beberapa wilayah. Menurutnya, kondisi ini harus menjadikan masyarakat Indonesia untuk lebih melihat dan menjaga kelestarian lingkungan.

    “Adanya berbagai musibah dan kerusakan yang sekarang ini yang utama adalah kita melihat bagaimana ini terjadi, lalu kita bersama mencari solusi dalam mengatasi masalah tersebut,” ucapnya saat menyampaikan taushiyah dalam acara Muhasabah dan Istighasah untuk Negeri, Kamis (28/01) malam yang berpusat di Majis Istiqlal Jakarta.

    Setiap apa yang terjadi di dunia adalah akibat ulah manusia, dan dalam situasi yang seperti ini, ia berpesan kepada masyarakat agar tidak saling menyalahkan. Islam adalah Ar-Risalah Al-Ilahiyyah, agama dengan tuntutan untuk melakukan perbaikan yang menyangkut seluruh lini kehidupan.

    “Ini tugas kita. Kita tidak boleh hanya menggerutu hanya menyalahkan orang tetapi sebaiknya kita mencari solusi-solusi yang bisa kita berikan dalam rangka menyelamatkan situasi kepada keadaan yang semula,” tambahnya.

    Di dunia ini ada aturan yang disebut dengan nidzhamul kauniyah yakni aturan alam yang jika dilanggar maka akan menimbulkan kerusakan. Ini menyangkut masalah berbagai hal yang menjadi karakteristik dari keadaan alam, bumi, langit dan semuanya itu ada tata aturan yg diberikan Allah swt dan itu untuk kemaslahatan manusia.

    Wakil Presiden RI ini juga menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di dunia terbagi menjadi dua, yakni al-fasadul maddi (kerusakan fisik), dan al-fasadul ma’nawi (non fisik dan perilaku). Seperti terjadinya Banjir di Sulawesi dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia, selain terjadi karena factor iklim global namun juga ada factor campur tangan manusia yang seringkali melakukan kerusakan lingkungan.

    “Ini adalah contoh dari nidhamul kauniyah, karena eksploitasi, mengambil, dan menggunakan dunia ini dengan tidak menjaga tata nilai nidhamul kauniyah,” imbuhnya. (Nurul/Anam)

  • Istighasah dan Muhasabah MUI Dihadiri Ratusan Peserta Daring

    JAKARTA— Sekitar 700 peserta daring menghadiri acara Istighasah dan Muhasabah untuk Negeri. Para peserta mengikuti acara secara daring tersebar dari dua sumber, dari Zoom dan Youtube.


    Peserta dari Zoom terdiri sekitar 200 orang. Sementara sisanya berasal dari channel Youtube Official TVMUI, 164 Channel-Nahdlatul Ulama, NU Channel, Masjid Istiqlal TV, serta Wakaf Adventure.


    Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, menyampaikan kehadiran peserta secara virtual ini mengingatkannya akan tujuan kegiatan ini. Tujuannya, ujar beliau, yaitu untuk mengimbangi respon bencana dengan hal-hal yang ghaib, setelah selama ini melalui yang fisik/nyata. Menurutnya, istighasah virtual ini mirip dengan doa gaib.


    “Muhasabah dan istighasah pada malam hari lebih banyak kita ikuti secara virtual, hal-hal yang gaib atau min malakutis samaawati wal ard,” katanya Kamis (28/01) malam saat memberikan sambutan secara virtual.


    Salah satu peserta istighasah dan muhasabah dari Bandung, Umar Wirahadi, menyampaikan harapannya. Dia berharap, melalui doa bersama dan muhasabah ini, akan membantu indonesia pulih dari pandemi maupun bencana yang terjadi belakangan.


    “Saya sangat senang sekali dapat mengikuti acara ini. Saya harap, dengan doa bersama dan muhasabah ini, Indonesia bisa segera keluar dari berbagai musibah seperti pandemi Covid-19 maupun bencana alam yang terjadi belakangan ini,” ujarnya Kamis (28/01) saat dihubungi MUI.or.id.


    Dia mengatakan, sudah lama dia menunggu acara sejenis ini untuk merespons bencana. Dia menilai, tausiah yang disampaikan Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar menjadi bahan muhasabah penting bagi dirinya.


    “Hati saya kembali tertegun saat mendengar sambutan Kiai Miftach, menjadi semakin mengingat Allah SWT. Semoga ini menjadi upaya saya meningkatkan terus ibadah,” katanya. (Azhar/Nashih)

  • Ini Bacaan Doa Istighatsah dan Muhasabah

    JAKARTA – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan acara Muhasabah dan Istighatsah untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/1/2021) malam atau malam Jumat yang akan disiarkan langsung di chanel youtube Official TV MUI pada pukul 20.00 WIB. Ini dzikir dan doa yang akan dipimpin oleh Habib Nabil Al-Musawwa:

    الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّد صلى الله عليه وآله وسلم – الفاتحة

    Al Fatihah ila hadhrati Sayyidina wa syafi’ina wa nabiyyina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam – Al Fatihah

    (Kami bacakan Al Fatihah ke hadirat pemimpin kami, pemberi syafa’at pd kami, dan Nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa wa alihi wasallam, Al Fatihah)

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ

    الإستغفار

    Beristighfar 3x

    لَاإلهَ إلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّا كُنْا مِنَ الظَّالِمِيْنَ

    Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inna kunna minadh dhalimiin (3x)

    (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh kami semua termasuk orang2 yang zhalim)

    سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

    SubhaanaAllahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallahu wAllahu akbar (3x)

    (Maha Suci ALLAH, Segala Puji Bagi ALLAH, Dan Tiada Tuhan selain ALLAH, ALLAH Maha Besar)

    أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

    ‘A’udzu bi kalimaatillaahit taamaati min syarri maa khalaq (3x)

    (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat ALLAH yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya)

    بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bismillahil ladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’i wahuwas samii’ul ‘aliim (3x)

    (Dengan nama ALLAH yang dengan nama-Nya tiada sesuatu pun, baik di bumi maupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.)

    آمَنَّا بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِر تُبْنَا إِلَى اللهِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا

    Aamannaa billaahi walyaumil aakhiri tubna ilaallahi baathinan wa dzaahiran (3x).

    (Kami beriman kepada ALLAH dan kepada Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada ALLAH batin maupun dzohir)

    أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ

    AshlahAllahu umuural muslimiin. ShorofAllahu syarral mu’dziin. (3x)

    (Semoga ALLAH memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka berbuat kejahatan).

    يَا فَارِجَ الْهَمِّ، يَا كَاشِفَ الْغَمِّ، يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ

    Yaa faarijal hamm, yaa kasyifal ghamm, yaa Man li’abdihi yaghfir wa yarham (3x)

    (Wahai Tuhan yang melegakan dari kesusahan, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya)

    لا حول ولا قوة إلا بالله 

    Laa hawla walaa quwwata illaa billaah (3x)

    (Tiada daya dan upaya, kecuali hanya dengan pertolongan Engkau)

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيْثُ 

    Yaa hayyu yaa qayyuumu birahmatika nastaghiits (7x)

    (Wahai Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri, dg kasih sayang-MU kami memohon pertolongan)

    يَا لَطِيْفُ

    Yaa Lathiif (7x)

    (Wahai Yang Maha Lembut)

    يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ، اُلْطُفْ بِنا يَا لَطِيْفُ يَا عَلِيْمُ يَا خَبِيْرُ 

    Yaa lathiifan bikholqihii ya ‘aliiman bikholqihii ya khobiiran bikholqihii. Ulthuf binaa yaa lathiif. Ya ‘Aliimu ya khobiir. (3x)

    (Wahai Dzat Maha Lemah Lembut pada mahluk-Nya, wahai dzat yang Maha Mengetahui pada makhluk-Nya, Wahai dzat yang Maha meneliti pada makhluk-Nya, lemah lembutkanlah kami, wahai Dzat yang Maha Lembut, Maha Tahu, Lagi Maha Teliti)

    يَا أمَـانَ الْخَائِـفِيْن آمـِنَّا مِمَّا نَـخَافُ, يَا أَمَـانَ الْخَائِـفِيْن سَلِّمْنا مِمَّا نَخَافُ، يا أمَـانَ الْخَائِـفِيْن نَـجِّنَا مِمَّا نَخَافُ

    Yaa amaanal khoo’ifiin. Amiinnaa mimma nakhoof, Yaa amaanal khoo’ifiin sallimna mimmaa nakhoof, Yaa amaanal khoo’ifiin. Najjina mimma nakhoof (3x).

    (Wahai Dzat yang mengamankan orang-orang yang takut, amankanlah kami dari apa yang kami takuti. Wahai Dzat yang mengamankan orang-orang yang takut, Selamatkan kami dari apa-apa yang kami takuti. Wahai Dzat yang mengamankan kami dari apa-apa yang kami takut, lepaskanlah kami dari apa yang kami takuti).

    يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَا فِيْمَا نَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ 

    Yaa lathiifan lam yazal. Ulthuf binaa fiimaa nazal innaka lathiifun lam tazal. Ultuf binaa walmuslimiin. (3x)

    (Wahai Dzat yang selalu Maha Lemah Lembut, berilah kelembutan-Mu pada kami dan umat Islam)

    ‏يا الله

    Ya ALLAH (33x)

    (Wahai ALLAH)

    Al Fatihah

    آمِينَ

    Aamiiin

  • MUI Gelar Muhasabah dan Istighatsah di Majid Istiqlal Malam Jumat Ini

    JAKARTA – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan acara Muhasabah dan Istighatsah untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/1/2021) malam atau malam Jumat. Kegiatan yang dihadiri sejumlah ulama dan pejabat negara ini juga akan disiarkan langsung dan bisa diikuti oleh umat Islam melalui berbagai platform media sosial.

    Muhasabah dan Istighatsah disiarkan langsung melalui fasilitas zoom meeting dan youtube channel di akun Official TV MUI sehingga bisa diakses dan diikuti masyarakat luar. Live akan berlangsung tepat pada pukul 20.00 WIB. Istighatsah akan dipimpin oleh Habib Nabil Al-Musawwa yang dirangkai dengan doa dari sejumlah ulama.

    Menurut Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi yang ditunjuk sebagai ketua panitia muhasabah dan istighatsah, kegiatan ini akan diikuti oleh Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI KH Miftachul Achyar, dan segenap Dewan Pimpinan MUI, dan pimpinan MUI daerah yang tersambung secara virtual.

    Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengajak umat Islam Indonesia untuk bermuhasabah atau berintrospeksi, berkaca diri dan i’tiraf atau membuat pengakuan kepada Allah SWT bahwa kita masih berlumuran dosa, serta berzikir dan berdoa dan beristighotsah atau memohon pertolongan kepada Allah SWT.

    Secara khusus kegiatan ini juga terkait dengan terjadinya musibah dan bencana alam di beberapa daerah di Indonesia dalam beberapa waktu yang berdekatan. Pada saat yang sama pandemi Covid-19 juga masih belum berakhir.

    “Kita memohon kepada Allah SWT untuk agar dijauhkan dari segala bala bencana dan agar Allah menurunkan keberkahan-Nya kepada umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sehinga Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur,” demikian KH Ahmad Zubaidi. (Red: Anam)

  • Jejak Keislaman RA. Kartini

    Jejak Keislaman RA. Kartini

    Salin saji, sepenggal catatan menyongsong Hari Kartini,

    Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

    “Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

    “Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca”.

    “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya”.

    “Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

    RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

    “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya”.

    “Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

    Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

    Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

    Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

    Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

    Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

    “Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

    Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

    “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

    Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

    Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

    Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

    Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

    Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

    “Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban”.

    “Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”.

    Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disun dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT.

    RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

    RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

    Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

    Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

    Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

    Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh Dhulumaati ilan Nuur)

    Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

    Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

    Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

    Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

    “Selamat Hari Kartini”