Tag: Waqaf

  • Kuliah Lapangan UIN Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru ke DFA

    Kuliah Lapangan UIN Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru ke DFA

    Pada hari kamis kemarin (26/10), mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II (UIN SUSKA) Pekanbaru, Riau melakukan kunjungan Kuliah Lapangan ke Perguruan Darul Funun el-Abbasiyah, sebagai salah satu perguruan tua yang mempunyai sejarah panjang dalam pendidikan dan pergerakan Islam di Sumatera.

    Kunjungan ini didampingi oleh Ketua Yayasan Buya Afifi Fauzi Abbas, Kepala Perguruan (Kamad MA) Buya Adia Putra, dan Kamad MTs Ust Nasrullah. Dalam kunjungan ini dipaparkan sejarah Darul Funun el-Abbasiyah dan perananannya pra-kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan, dan saat ini mengisi kemerdekaan dengan berperan aktif dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat.

    Darulfunun adalah aset waqaf umat yang dikelola oleh Yayasan Waqaf Darul Funun El-Abbasiyah, berlokasi di Jorong Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Kabupaten Limapuluhkota, Propinsi Sumatera Barat.

    sumber: FB Ust Nasrullah

  • Laporan Waqaf Pengadaan Kursi dan Meja untuk Tahun 2017/2018

    Laporan Waqaf Pengadaan Kursi dan Meja untuk Tahun 2017/2018

    Dimulainya tahun ajaran baru 2017/2018 ini, alhamdulillah ada pertambahan siswa/i yang melebihi kapasitas perguruan.

    Sebanyak 60 meja dan kursi diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, alhamdulillah kami menerima infaq Waqaf dari para shalihin/shalihat untuk mendukung keperluan ini.

    Waqaf yang disalurkan dalam pengadaan kursi dan meja ini berjumlah Rp. 18.5jt. Semoga Allah beri keberkahan dan kemudahan kepada para shalihin/shalihat, dan waqaf ini dijadikan shadaqah jariyah, insyaallah.

    Untuk para shalihin dan shalihat yang ingin menyalurkan waqaf, infaq, shadaqah nya dapat melalui link berikut ini: https://kitabisa.com/tabunginfaq2017 , ataupun dapat juga menghubungi perguruan dan yayasan.

  • Contoh orang-orang kaya dunia & akherat di Indonesia

    Contoh orang-orang kaya dunia & akherat di Indonesia

    by Ihsan Zainuddin (edited)

    Anda kagum dengan aset perusahaan Djarum, Sampoerna, BCA, dsb……?. Izinkan saya menyampaikan sesuatu.

    64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya: sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?

    90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian GONTOR punya 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga orang bersaudara. Sebutkan kepada saya, orang Indonesia dari penjajahan hingga sekarang, yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.

    Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu. KH, Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah.

    Kini, 104 tahun kemudian Muhammadiyah telah memiliki 10.000 lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMU, 170 lebih universitas, 104 rumah sakit, yang pemerintah Indonesia baru punya 48 rumah sakit vertikal, 300 klinik, 10 Fakultas Kedokteran, 700 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Dan hampir 1000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru amal usaha yang dimiliki ormas ini

    NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar.

    NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis.

    Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 ha atau senilai Rp. 1,6 Triliun. Sebutkan padaku, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 T dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis.

    Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu, dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektar, dan juga mengelola unit usaha yang beragam.

    Woouw, pesantren seperti perusahaan ya. Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Kalau begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok.

    Maka, jangan under-estimate, bahwa pesantren tidak bisa apa-apa. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.

    Buya Hamka seandainya masih hidup, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, mungkin tidak pusing dengan tax amnesty, karena mereka punya rekening gendut di akhirat dan di dunia, biasa-biasa saja. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya.

    Seperti yang saya ketahui ada sebuah Hadis Nabi yang intinya: “Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya.”

    Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?

    Maka, para ulama kita itu abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan jembar (lapang) karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!

    Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti –meminjam istilah Taufik Ismail– “Sajadah Panjang”, tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-tellernya.

  • Waqaf 1000 Al-Quran

    Waqaf 1000 Al-Quran

    Program Waqaf 1000 Al-Quran untuk Takmir – Muadzin Muda

    Program Waqaf Al-Quran dalam rangka memberikan motivasi untuk menghafal dan mempelajari Al-Quran, program ini juga untuk memotivasi pemuda-pemudi untuk mengaktifkan surau ataupun musholla.

    Pendistribusian akan diutamakan kepada mereka yang aktif dalam menyemarakkan surau/musholla/masjid ditempat tinggal mereka, baik sebagai takmir, piket adzan, membersihkan masjid, berpartisipasi dalam kegiatan IQRA bagi anak-anak, dsb.

    Infaq & Waqaf:

    50rb rupiah untuk 1 Al-Quran 

    Pendistribusian:

    Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat

    Periode 1
    Rencana: September 2016
    Target: 200 Al-Quran

    Periode 2

    Periode 3

    Periode 4

    Deskripsi Al-Quran

    alternatif 1Syaamil-AlQuran-Tajwid-terjemah-Alhambra-isi-

    alternatif 2syaamil-alquran-tajwid-terjemah-cordova-isi

    alternatif 3
    09bda688-c5b3-408b-9270-34cb592fe239

    1. Ukuran A6 resleting
    2. Khat rasm Utsmani
    3. Standard & tashih Kementerian Agama
    4. Indeks

    Caranya

    1. via KITABISA
      kitabisa.com/Q1000step1
    2. via PAYPAL
      paypal.me/infaqDFA

    Konfirmasi via comment dibawah ini atau tidak perlu jika sudah memberikan informasi di KITABISA atau PAYPAL

    format: nama_nominal_quran

    Jazakallah khairan, semoga Allah menjadikan amal ini menjadi shadaqah jariyah.

  • Waqaf Shadaqah Jariyah Milik Utsman bin ‘Affan di Madinah

    Waqaf Shadaqah Jariyah Milik Utsman bin ‘Affan di Madinah

    Oleh : Ustadz Shalahuddin AR Daeng Nya’la (Sumber)

    1185273_10201920384397984_1006842819_n

    Tahukah kalian kalau khalifah ‘Utsman bin ‘Affan adalah salah seorang sahabat nabi yang merupakan seorang pebisnis kaya raya tapi murah hati dan dermawan ternyata memiliki rekening atas namanya di salah satu bank di Saudi??? Tahukah kalian bahwa  beliau juga memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi, bahkan rekening dan tagihan listrik hotel tersebut masih atas nama beliau .. ???

    Gimana ceritanya hingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..??

    Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih. Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasa airnya pun mirip dengan sumur zamzam. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut.

    Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

    Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.

    Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.

    “Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya.

    “Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.

    “Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?”jelas Utsman.

    Yahudi itupun berfikir cepat, “… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin AffanRadhiyallahu ‘anhu.

    Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATISkarena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.

    Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh.

    Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah. Sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.

    Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.

    Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar2.. setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin.. sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama ‘Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.

    Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yg cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi.

    Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5. Diperkirakan omsetnya sekitar 50 Juta Riyal Saudi per tahun. Setengahnya untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu..

    Subhanallah,… Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi..

    Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..

    Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

    Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda.

    إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

    “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.

    Like dan sebarkan tulisan ini, agar manfaat dari informasi ini tidak hanya berhenti pada anda, tapi juga bisa dirasakan oleh orang lain, sekaligus merangkai jaring pahala..!