
The post Fatwa Alkohol dan Etanol appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

The post Fatwa Alkohol dan Etanol appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

The post Infografis Ciri Konten Bermanfaat – Fatwa Muamalah Medsosiah appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

Referensi : Fatwa MUI No 41 Tahun 2014
The post Infografis Pengelolaan Sampah appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

The post Definisi Islam Wasathiyah appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

The post Infografis Fatwa Kepiting appeared first on Majelis Ulama Indonesia.
In
The post Infografis Perdukunan dan Peramalan appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

The post Infografis Perbedaan Terorisme dan Jihad appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

Fatwa Rujukan No 001/MUNAS-IX/MUI/2015
The post Infografis Zakat Untuk Sanitasi appeared first on Majelis Ulama Indonesia.
Arkeolog dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi (DCT Abu Dhabi) membuat penemuan spektakuler yang memberi petunjuk baru tentang sejarah Uni Emirat Arab (UEA) pada awal masa Islam. Berlokasi dekat dengan bangunan Masjid Sheikh Khalifa di Al Ain, para arkeologi menemukan beberapa falaj (saluran air irigasi), tiga bangunan, dan sebuah masjid berasal dari kekhalifahan Abbasiyah yakni 1.000 tahun lalu.
Masjid ini diperkirakan yang paling tua ditemukan di UEA. Dilansir Gulf Today, masa kekhalifahan Abbasiyah merupakan periode waktu yang membawa perubahan di UEA. Sebuah kepercayaan atau agama baru masuk dengan nilai-nilainya dan ini mengubah sejarah negara.
Ahli DCT pun terus melakukan penelitian di Al Ain dan tempat lain di Abu Dhabi dalam upaya menjelaskan lebih lanjut tentang abad-abad awal Islam. Arkeolog DCT sebelumnya sudah meneliti sebuah gereja di Pulau Sir Bani Yas.
Bangunan ini menyoroti fitur penting lain dari periode awal Islam. Salah satunya toleransi dan penerimaan agama lain yang masih menjadi ciri kehidupan di UEA saat ini.
“Temuan baru situs arkeolog di Al Ain membuktikan kekayaan sejarah di kawasan ini. Ini memungkinkan kami untuk memperluas pengetahuan tentang masa lalu,” ujar Ketua DCT Abu Dhabi Mohamed Khalifa Al Mubarak dilansir di Gulf Today, Ahad (9/9).
Penemuan masjid dari periode Abbasiyah di Al Ain menunjukkan pengaruh Islam yang sangat mengakar di daerah tersebut. Jaraknya diketahui jauh dari tempat Islam pertama kali muncul dan pada saat itu moda transportasi belum sebaik saat ini.
“Temuan ini menunjukkan pengaruh budaya dan negara tetangga melampaui batas dan mengatasi masalah transportasi. Pada gilirannya akan menunjukkan analisis lebih lanjut untuk membentuk pemahaman holistik tentang masa lalu,” lanjutnya.
Para ahli menyebut bangunan di situs tersebut terbuat dari mudbrick, yaitu sisa-sisa benteng kecil dan bangunan lainnya. Orang-orang yang tinggal di gedung-gedung ini akan memperoleh air bersih dari beberapa falaj yang dibangun di sekitar pemukiman.
Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/09/09/persa7409-arkeolog-temukan-situs-masjid-berusia-1000-tahun
Oleh KH. Husin Naparin
Ketua MUI Kalimantan Selatan
Di negeri kita, saat ini ditemukan banyak kasus terjadinya penyakit campak dan Rubella, penyakit yang mudah menular dan berbahaya, bisa menyebabkan cacat permanen (buta, tuli, radang paru-paru, radang otak dan lain-lain) dan kematian. Anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terkena penyakit tersebut. Untuk mencegah mewabahnya, dibutuhkan upaya efektif, satu di antaranya melalui imunisasi.
Setelah mendengarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan RI, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Pengurus Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Direktur PT Bio Farma, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jakarta menilai urgensi dan signifikansi pelaksanaan imunisasi MR di Indonesia sudah memenuhi darurat syar’iyyah.
Dalam Fatwa No 33 Th 2018 Tgl 8 Dzulhijjah 1439 H/20 Agustus 2018 M menetapkan keputusan berdasarkan; Pertama, ayat-ayat Alquran al-Karim, antara lain adanya larangan menjatuhkan diri dalam kebinasaan (Al-Baqarah 195). Peringatan agar tidak meninggalkan generasi yang lemah (Al-Nisa: 9). Perintah mengonsumsi yang halal dan thayyib (Al-Baqarah: 168). Penjelasan dalam kondisi kedaruratan syar’i dibolehkan mengkonsumsi yang haram (Al-Baqarah :173).
Kedua; Hadis-hadis Nabi SAW, antara lain “Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan (pula) obatnya” (HR Bukhari). Suruhan berobat, karena Allah tidak menjadikan penyakit kecuali menjadikan pula obatnya, kecuali satu penyakit yaitu pikun (tua) (HR.Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah). Tetapi janganlah berobat dengan yang haram (HR. Abu Dawud). Peringatan Beliau jangan mendatangkan sakit kepada orang yang sehat ( Bukhari).
Ketiga; Kaidah-Kaidah Fiqhiyyah antara lain yakni mencegah lebih utama dari pada menghilangkan. Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin dan harus dihilangkan. Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang. Sesuatu yang diharamkan karena dzatnya, dibolehkan karena adanya darurat, dan sesuatu yang diharamkan karena aspek di luar zatnya (lighairihi), dibolehkan karena adanya hajat.
Keempat; Pendapat para ulama akan kebolehan berobat menggunakan barang najis atau yang diharamkan ketika belum ditemukan benda suci yang dapat menggantikannya, yaitu dari Imam Al-‘Izz ibn ‘Abd Al-Salam (Qawa’id Al-Ahkam ), Imam Nawawi (Al-Majmu’ juz 9 hal.55), Imam Muhammad al-Khathib al-Syarbaini ( Mughni al-Muhtaj), Imam Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfatu al-Muhtaj 1/290), Syekh Ahmad al-Dardir ( al-Syarh al-Kabir 2/115), Imam Ibnu Qudamah (al-Mughni 9/416 bahwa dibolehkan hal yang diharamkan ketika keterpaksaan; dan Dr Wahbah al-Zuhaily (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh 4/2602) bahwa darurat yaitu takut atas jiwa dari kebinasaan, dengan pengetahuan (secara pasti) atau dugaan (prediksi).
Fatwa memutuskan menetapkan; Pertama, penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram; Kedua, vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya memanfaatkan bahan yang berasal dari babi; Ketiga, penggunaan vaksin produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah). Belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci.
Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal; Keempat, kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada poin ketiga tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.
MUI juga merekomendasikan; Pertama, pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat; Kedua, produsen vaksin wajib mengupayakan produksi yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; Ketiga, pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan; Keempat, pemerintah harus mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.
The post MUI Pusat dan Vaksin Rubella appeared first on Majelis Ulama Indonesia.
Berasarkan Fatwa MUI No 3 Tahun
The post Infografis Terorisme VS JIhad appeared first on Majelis Ulama Indonesia.
JAKARTA – Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai mengajak masyarakat untuk bersama memberantas narkoba dan tidak takut untuk menjadi pelapor tindak pidana narkoba karena akan dilindungi LPSK.
Ungkapan tersebut disampaikan dalam seminar Berbagi Pengalaman dalam Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba yang digagas Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) MUI, Selasa (7/8) kemarin di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat.
“Tindak pidana narkoba merupakan kriminal yang luar biasa menghancurkan generasi, perlu kerjasama semua pihak terutama masyarakat, jangan takut untuk melapor karena akan dilindungi, “ kata Abdul.
LPSK, lanjutnya, akan memberikan layanan perlindungan kepada saksi, korban, saksi pelaku, dan pelapor tindak pidana narkotika.

“Tindak pidana narkotika adalah tindak pidana yang saksi dan korbannya mendapat prioritas perlindungan disamping kasus korupsi, terorisme, pencucian uang, dan pelanggaran HAM berat, “ beber Abdul.
Bentuk perlindungan dan layanan LPSK, sambungnya, tertuang dalam Pasal 2 UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban yang antara lain memberikan perlindungan kepada saksi dan korban baik dalam perlindungan fisik, hukum, dan hak prosedural. Bahkan jika diperlukan akan bekerjsama dengan pihak keamanan seperti Brimob.
Selain layanan perlindungan, ada juga layanan bantuan yang diberikan LPSK kepada saksi dan korban meliputi bantuan medis, psikologis, psikososial, dan fasilitas restitusi.
“Dengan adanya upaya perlindungan untuk saksi dan pelapor diharapkan masyarakat mau berperan dalam rangka pengungkapan tindak pidana narkotika,” tutup Abdul.
Hadir sebagai narasumber Ketua Umum MUI Prof Dr KH Ma`ruf Amin, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Heru Winarko dengan peserta anggota Ganas Annar tingkat Pusat dan Provinsi. (Ichwan/Anam)
Kehidupan masih berputar di Bhopal, India dengan tingkat energi yang sama seperti yang terjadi berabad-abad lalu. Jalan-jalan yang padat di Kota Tua Bhopal memancarkan udara Islam pada abad pertengahan dengan gerbang kuno yang berhadapan dengan kumpulan bangunan antik dan monumen.
Dilansir The New Indian Express, wilayah ini adalah pusat dinasti Muslim yang dipimpin oleh jenderal Afghanistan, Dost Mohammed Khan. Permata dari pemerintahannya yang berumur 200 tahun itu adalah empat penguasa wanita di tanah itu. Mereka dikenal sebagai Begums of Bhopal.
Selama mereka menjabat, yaitu dari 1817 hingga 1926, mereka membentuk Bhopal menjadi salah satu kota terindah di India. Kota ini pun mengundang pujian dari kaisar Mughal di Delhi.
Para ratu tidak hanya membentuk lanskap danau kota dengan istana, rumah bangsawan, masjid, pasar, dan monumen yang menarik perhatian. Tetapi juga memberikan penyelesaian fasilitas umum yang penting seperti pengairan, kereta api, sistem pos dan kotamadya. Sebagian besar arsitektur tersebut masih ada untuk menunjukkan sentuhan agung dan campuran gaya arsitektur yang luar biasa. Bangunan-bangunannya bertahan dari panas dan debu di Central India.
Chowk adalah jantung dari Kota Tua Bhopal. Bangunannya dengan puncak yang menjulang, siluet cembung dari kubahnya dan dinding pertahanan yang besar. Jalan raya dipenuhi dengan toko-toko dan rumah-rumah tua, dipenuhi oleh orang-orang yang berkendara. Seorang muazin mengumandangkan adzan dari masjid terdekat di kota itu.
Masjid adalah permata Bhopal. Taj-ul-Masajid — dikatakan sebagai tempat ibadah Islam terbesar di India — menempati urutan teratas. Pengaturan kolosal dengan dinding merah muda yang mewah, kubah putih dan menara-menara yang menjulang tinggi memesona. Penguasa perempuan ketiga Bhopal Shah Jehan Begum menugaskan pembangunan masjid tersebut pada akhir abad ke-19. Tetapi konstruksinya dihentikan setelah kematiannya. Pekerjaan itu pun dilanjutkan pada akhir abad ke-20.
Dua masjid lain yang menarik perhatian adalah Masjid Jama, yang terkenal karena kubahnya yang berlapis emas. Juga Masjid Moti, yang secara arsitektur menyerupai Masjid Jama di Delhi. Begums telah meninggalkan jejak arsitektur yang indah di belakangnya.
Terdapat pula masjid yang dianggap sebagai masjid terkecil di dunia. Masjid itu berdiri di atas menara batu yang telah hancur. Duly, masjid itu merupakan bagian dari benteng tua, yang sekarang menjadi rumah sakit modern.
Legenda mengatakan masjid dibangun oleh penguasa awal rezim Khan untuk penjaga benteng. Di situ dia beribadah di saat jam kerja. Untuk masuk ke dalam masjid membutuhkan dua langkah besar dan satu langkah yang relatif lebih kecil. Itulah sebabnya masjid ini secara lokal dikenal sebagai ‘Masjid Dua dan Setengah Langkah’. Warisan Islam di sini memiliki tempat baik untuk kesalehan dan kesenangan.
‘’Mereka itu Nazi. Dia datang menembaki semua orang.’’ Fatma, perempuan setengah baya yang menjaga gerai di sebuah hotel di Sarajevo terlihat tercekat ketika menceritakan soal perang saudara yang pernah berkecamuk di negerinya. Dia berbicara lirih dan dingin seperti suara gesekan udara di akhir musim semi di ibu koa Bosnia.
‘’Are you Muslim,’ tanyanya. Saya pun menangguk. Perempuan dengan dua orang cucu tersenyum manis. Dia bertanya lagi dari mana asal saya: Are you Malaysia? tukasnya. Begitu saya menyebut Indonesia, dia segera menyahut. “Ya, di sini ada Masjid Indonesia. Masjid Soeharto. Di pusat kota,’’ tukas Fatma lagi.Seperti warga Muslim Bosnia lainnya, memang masjid Indonesia yang dibangun Presiden Soeharto melekat di mata dan hati orang mereka.
Benar, tempat ibadah umat Islam yang di dalamnya terdapat mimbar berukir sumbangan BJ Habibie, di pusat kota Sarajevo masjid karya aritek asal Bandung, Ahmad Nuqman, itu tampak berdiri megah. Di sebelahnya ada lapangan sepakbola. Tak jauh dari masjid ada jalur trem yang membelah kota yang di dekatnya ada trotoar yang sangat enak untuk berjalan kaki. Masjid itu berada dicekungan bukit. Letaknya sebenarnya yak begitu jauh dari lapangan terbang Sarajevo. Para jejaka dan gadis berdandan modis lalu lalang di situ.
Kata warga setempat, dahulu semasa perang perbukitan di sekeliling masjid itu sangat berbahaya. Di sana bertebaran sniper dan senjata berat dari Serbia. Siapa pun yang berani masuk ke arah lapangan terbang yang searah dengan lokasi masjid tak ada yang bisa selamat. Sisa-sisa bekas perang di beberapa gedung pun masih terlihat. Meski begitu Sarajevo tetap kota yang cantik. Ciri sebuah kota megah yang pernah menjadi pusat Olimpida Musim dingin pada tahun 1982, masih terasa adanya.
Ya memang kota ini memang sekarang tentram. Tapi nun 23 tahun silam, tempat ini malah menjadi ajang konflik akibat runtuhnya Yugoslavia menjadi tujuh negara. Bekas kekuasan diktator Joseph Broz Tito hancur berkeping-keping. Celakanya tak hanya konflik, tapi perpecahan ini malah kemudian memantik perang dan pembantaian massal. Sisa konflik itu berbekas pada bekas taman di tengah kota yang menjadi tempat pekuburan masal. Taman bunga melati dan mawar sesuai perang berubah menjadi pemakaman massal. Lokasi memanjang serta meninggi ke arah sebuah bukit.
‘’Saudara saya banyak yang mati menjadi korban. Entah apa tiba-tiba Serbia datang menyerbu dan membantai seperti Nazi,’’ Fatma berulangkai mengulang kata ‘Nazi’. Tampak ada kepilaun yang mendalam di wajahnya ketika menyebut kata itu. Dan memang dari sejarahnya wilayah Bosnia atau Balkan banyak bersinggungan dengan ekspansi Hitler semasa perang dunia II.
‘’Mereka bantai kami karena Muslim,’’ ujarnya lagi. Bukan hanya itu, lanjut Fatma, tak cukup membunuh mereka juga memperkosa. Dan hasilnya setelah itu banyak perempuan Bosnia yang pikirannya terganggu dan mendapat anak hasil tindakan perkosaan.’’Mereka ingin menghilangkan darah dan keturunan asli orang Bosnia,’’ ujarnya lagi. Setelah berkata seperti itu dengan terbata Fatma membaca Alfatihah yang ternyata masih bisa diingatnya. Sesaat dia kemudian berhasil menguasai emosinya yang sempat bergejolak hebat.

Memang bekas pembantaian kini tak begitu terlihat di Sarajevo. Namun ketika pergi menuju sebuah kota kecil yang berada di sebelah timur, Srebenica, nuansa horor pembantaian dapat segera terlihat. Begitu masuk kota Srebrenica, sebuah pekuburan masal segera terlihat. Letaknya persis di pinggir jalan besar. Dalam pemakaman masal tercantum nama para korban. Semua Muslim dan ini bisa terlihat dari namanya yang memakai nama Islam meski dalam ejaan Bosnia yang agak mirip dengan bahasa Turki.
‘’Sampai kini sisa konflik masih tersisa. Orang Serbia yang melintas di dekat pemakaman masal itu kerap memancing keributan dengan membunyikan klakson mobil keras-keras. Akibatnya, warga Srebrenica banyak yang kesal dan membalas dengan melempari mobil itu,’’ kata seorang warga Bosnia yang menjadi mengelola sebuah restoran ala Turki di sebuah pinggir jalan sebelum masuk ke Srebrecina.
Tak hanya itu, dendam kesumat antara warga Serbia dan Bosnia bahkan sempat terjadi langsung di sebuah plaza. Entah mengapa tiba-tiba ada dua kelompok orang ribut sambil memakai. Tak jelas apa yang mereka pertengkarkan karena memakai bahasa lokal. Namun dari cerita orang-orang ada disekitarnya yang ikut menjaga toko, menyebutnya sebagai perterungan ‘Derbi’ (pertarungan orang sekota). Kedua kelompok itu bertengkar kata saling mengejek dan menantang. Yang satu menuduh orang Bosnia pengecut, yang satu menyebut orang Serbia penjajah dan pembantai. Perang kata-kata berlangsung cukup lama, meski tidak sampai kemudian terjadi keributan fisik.
‘’Orang Bosnia dan Serbia masih saling bertengkar ketika bertemu,’’ kata Nadeem pemandu wisata asal Belanda yang keturunan Turki. Kebetulan dia adalah saksi mata langsung tragedi pembantaian itu. Tak hanya itu Nadeem hadir sebagai relawan yang pertama pada hari-hari sesuai terjadi pembantaian dan pengungsian besar-besar Muslim Srebrenica.
’’Mengenang pembantaian itu saya pun masih emosi. Setiap datang ke sini saya sedih luar biasa,’’ ujarnya.
Pada 11 Juli 1995 atau 23 tahun silam atau sesudah tiga tahun Bosnia memasuki masa perang saudar,militer Serbia menyerbu zona aman yang didirikan PBB di kota timur Sarajevo, yakni Srebrenica. Mereka memisahkan sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dari para wanita yang mencari perlindungan di daerah tersebut.
Setelah mengumpulkan para lelaki Musllim Bosnia, mereka membawanya ke ladang dan gudang di desa-desa sekitarnya. Di situlah tragedi terjadi. Para lelaki Serbia bersenjata ini membantai mereka selama tiga hari. Sebagian pengungsi ada yang berhasil lari, namun sebagian besar terbunuh.

Kekejaman itu terlihat jelas adanya usaha nyata yang berusaha melikuidasi penduduk Muslim Bosnia. Skenario ini sebagai bagian dari upaya untuk mengukir kebesaran Serbia setelah keluar dari reruntuhan Yugoslavia. Bosnia memilki memiliki populasi Muslim yang besar. Kroasia, dan Serbia pun begitu sebenarnya, namun dahulu tak menjadi masasalah ketika mereka masih bersatu dalam republik sosialias komunis Yugoslavia yang memang nyaris tanpa tanpa adanya mayoritas etnis. (lihat peta).
Militer Serbia di bawah komando Milosevic, Karadzic, dan para militan yang di bawah kepemimpinan Ratko Mladic, mereka melakukan pembersihan etnis untuk membasmi sebanyak mungkin Bosnia dari bekas Yugoslavia itu. Tujuannya jelas, menguasai Bosnia dan mendirikan Serbia Raya.
Maka peristiwa pembantaian Srebrenica adalah hasil yang tak terelakkan. Tindakan pembunuhan massal ini menyampaikan pesan brutal bahwa umat Islam tidak aman di mana pun di dalam negeri itu. Bukan hanya itu saja, semenjak awal PBB dan masyarakat internasional sepertinya tidak dapat dan tidak mau melindungi mereka.
Padahal kala itu, yakni semenjak tahun 1993 PBB sebenarnya ya telah membentuk zona demiliterisasi di Srebrenica. Organisasi dunia ini berusaha menciptakan sebuah wilayah di mana Muslim yang dipaksa keluar dari rumah mereka di tempat lain di Bosnia dapat menemukan keamanan dari serangan Serbia bila tinggal di tempat itu.
Namun, orang-orang Serbia berniat mengambil wilayah ini yang juga menjadi kantong perlawanan para Muslim Bosnia. Bagi Serbia, mengutip sebuah memo CIA yang tidak diklasifikasikan, kala itu menggambarkan Srebrenica sebagai sebuah zona yang menyedak lehernya. Zona aman di timur Bosnia ini dipandang layaknya ‘tulang ikan di tenggorokan orang Serbia.’ Maka Serbia akhirnya nekad melakukan penyerbuan ke Srebrenica. Mereka juga sebenarnya tahu bila penyerangan itu berisiko terjadinya pembantaian terhadap kaum Muslim Bosnia.
Nah, pada hari pekan pertama di awal Juni 1995 itulah kekejaman terjadi. Pasukan Serbia menyisir desa-desa sekitar, memaksa sekitar 20.000 Muslim Bosnia mengungsi dan keluar dari zona aman yang ada di dalam wilayah aman PBB tersebut.
Tak hanya menculik warga Bosnia, pasukan Serbia juga telah menculik 30 pasukan pemelihara perdamaian asal Belanda. Apalagi, kala itu pasukan perdamaian asal Belanda tak punya kekuatan senjata yang cukup. Selain kalah jumlah, mereka hanya dilengkai senjata seadanya sehingga tak mampu menjaga Serbenica yang dijadikan zona aman oleh PBB tersebut. Tak ayal lagi, tepat pada 6 Juli 1995 penyerbuan Srebrenica dimulai. Serbia dengan sangat jelas tidak menghormati area aman PBB tersebut.
Pada jam-jam menjelang pembunuhan, Jendral Serbia Ratzko Mladic –yang menghadapi kini tuduhan kejahatan perang– dalam sebuah video tertawa-tawa dan membagi-bagikan permen kepada pasukannya. Seorang wartawan veteran CNN, Christiane Amanpour, sempat merekam momen itu. Hasilnya, salah satu potongan video yang dibuatnya menjadi momentum hidup Amanpour yang paling tidak bisa dihilangkan dari ingatannya,”Gambar itu menjadi sebuah tanyangan yang paling mengerikan yang pernah saya lihat dalam hidup saya.”
Ironinya, petualangan dan kekejaman pasukan Serbia tak mendapat soroton yang layak. Komunitas internasional seakan tidak peduli. Pasukan PBB hanya sedikit sekali di Serbenica. Tempat itu yang seharusnya dijaga oleh 6.000 pasukan perdamaian, kala penyerbuan Serbia datang hanya dijaga sekitar 600 orang saja. Mereka tak berarti apa-apa karena hanya dilengkapi senjata ringan. Sedangkan pasukan Serbia menyerbu dengan senjata lengkap dan dilengkapi dengan tank serta senjata berat lainnya.
Memang ketika pasukan Mladic dan tentara Serbia Bosnia (kemudian ditulis Serbia saja, red) memasuki Srebrenica, pasukan penjaga perdamaian memasang melakukan sedikit perlawanan dan bahkan membatalkan serangan udara ketika orang-orang Serbia mengancam akan membunuh sandera Belanda mereka. Tapi mereka tak berdaya banyak. Bahkan, di kemudian hari, penjaga perdamaian ini dituduh merusak bukti video yang menandai aksi kelambanan mereka untuk menyelematkan warga Muslim Bosnia di Srebrenica.
Sebuah catatan seorang warga Bosnia, Armin Rosen, menceritakan kekejaman itu. Katanya, “Mereka culik warga dari pengungsian serta di tembaki di sekitar wilayah Srebrenica yang berbukit-bukit. Pasukan Serbia menahan hampir semua pria Muslim yang ada di daerah itu untuk ‘interogasi’. Lebih dari 8.000 orang mereka bunuh pada hari-hari berikutnya,’’ kata Armin dalam tulisannya.

Akhirnya, dunia internasional pun tak tahan terhadap aksi kejam itu. Pembantaian itu menggugah opini internasional dan menyebabkan intervensi Amerika Serikat. NATO terpaksa masuk ke dalam perang sipil Bosnia. Alhasil, tak lama setelah penyerbuan dan pembantaian itu, bom NATO mulai dijatuhkan pada posisi Serbia.
Alhasil, fajar perdamaian mulai muncul. Pada November 1995, Milosevic dan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic menandatangani Kesepakatan Dayton yang ditengahi AS. Kesepakatan inilah yang menjadikan Bosnia sebagai satu negara sekaligus menciptakan sebuah ‘republik’ di belakang garis depan Serbia.
Menurut The New York Times, 6.930 mayat telah diidentifikasi dari 17.000 bagian tubuh yang ditemukan di lusinan kuburan massal Srebrenica. Seorang direktur jenderal Komisi Internasional untuk Orang Hilang, menulis dalam editorial di The Guardian sempat mengatakan: “Mereka yang tewas di Srebrenica pada Juli 1995 percaya mereka bisa lolos dari pembunuhan. Mereka pikir mereka bisa menghapus identitas korban mereka secara permanen. Sayangnya anggapan mereka salah!”
Dan ini terbukti lima belas tahun kemudian, yakni pada 26 Mei 2011, Jendral Ratko Mladic ditangkap dan ditahan di Serbia sebagai tersangka dalam pembantaian di Srebrenica itu. Kemudian pada Maret lalu 2017, delapan tentara Serbia lainnya ditangkap karena dicurigai ikut serta dalam pembunuhan.
Ya itulah tragedi pembantaian baru atau genosida di abad moderen ini. Apakah orang masih peduli dan ingat? Apakah mereka dibiarkan saja karena mereka Muslim? Kalau benar celaka sekaligus ironis memang!
Sumber: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/07/12/pbppxj385-ketika-dunia-terlupa-pembantaian-muslim-bosnia

Terdapat kedahsyatan puasa seorang penggembala, yang paling mengagumkan dan jarang dilakukan oleh orang masa sekarang. Ceritanya berawal dari siang hari yang terik, saat Ibnu Umar melakukan perjalanan dipadang pasir. Sesampainya di suatu tempat, beliau beristirahat sejenak dan membuka perbekalan. Beliau lalu bertemu dengan seorang budak yang sedang menggembala kambing di sekitar bukit tersebut. Ibnu Umar kemudian mengajak penggembala itu makan bersama. Akan tetapi, penggembala tersebut menolak.
“Maaf, saya sedang berpuasa,” ujarnya.
Ibnu Umar pun terkejut dan bertanya, “Apakah di hari yang panas menyengat ini, di tengah-tengah pegunungan terjal dengan pekerjaan menggembala kambing ini, engkau tetap berpuasa?”
Dengan penuh keyakinan dan ketenangan, budak itu menjawab, “Aku ingin mempercepat hari-hariku di dunia ini dengan kebaikan.”
Ibnu Umar lalu mencoba menguji budak tersebut dan berkata, “Maukah kau menjual kambing itu kepada kami dan makan bersama kami? Aku akan membayar kambing tersebut.”
Budak itu menjawab, “Kambing itu bukan milikku, tapi milik majikanku.”
Ibnu Umar terus mengujinya. “Bukankah engkau bisa berbohong dan mengatakan pada tuanmu bahwa kambingnya diterkam serigala?”
Budak itu bertanya balik kepada Ibnu Umar, “Kalau demikian, dimanakah Allah?”
Ibnu Umar pun kagum dengan jawaban dan sikap budak tersebut. Setelah kembali ke Madinah, Ibnu Umar memerdekakan budak itu dari majikannya sebagai bentuk kekaguman beliau atas keimanan sang budak.
Itulah gambaran dari seorang penggembala yang mencerminkan, jika dengan berpuasa bisa melatih dan mendidik mereka untuk bersikap jujur dan seantiasa sabar menghadapi ujian. [Jalan Sirah]
1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation tells the fascinating story of how generations of physicians from different countries and creeds created a medical tradition admired by friend and foe…
About The Book
Medicine and allied sciences flourished in the medieval Islamic world. 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation tells the fascinating story of how generations of physicians from different countries and creeds created a medical tradition admired by friend and foe. It influences the fates and fortunes of countless human beings, both East and West.
Based on a translation movement of Greek medical tests, it drew on the legacy of surrounding cultures (Egyptian, Persian, Indian and Chinese). Importantly, it innovated in surgery, gynaecology, paediatrics and pharmacology, to name just a few areas. Ultimately, this tradition served as the foundation for European university medicine in the medieval and early modern period and has thus impacted on healthcare until today.
The choice of the title 1001 cures like its predecessor publication 1001 Inventions, reminds us of the famous 1001 Nights or the Arabian Nights. These were allegedly stories to entertain the caliph of Baghdad Harun al-Rasheed who, like his son Al-Mamoon, was a patron of the arts and mathematics. During their period the movement of translation of philosophical, cultural and medical heritage of the antiquities to Arabic contributed to the start of new Renaissance of intellectual activities in the Middle East, North Africa and Central Asia in the high middle age. This is demonstrated in this superb volume. It is a substantial contribution to this important point of the history of Medicine and Healthcare. It comes at a time when the world desperately needs intercultural understanding and appreciation. It is an unalloyed pleasure to commend it to you.” Professor Sir Magdi Yacoub (Extract from book foreword)
About The Authors
1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation is a multi-author book, where distinguished authors, physicians and historians of science have key contributions. The book, which is edited by Peter E Pormann, falls in 19 chapters and features 13 authors.
Rabie E. Ebdel-Halim
Rabie E. Abdel-Halim (deceased) was a consultant urologist who researched and lectured on the subject for more than 30 years and was last an emeritus professor of urology at King Saud University Medical College, Riyadh, Saudi Arabia. Professor Abdel-Halim developed an interest in medical history for over 20 years and published widely in various international journals and conference proceedings, and became a visiting professor at Al-Faisal University, Riyadh, where he authored and taught courses on the History of Islamic Science and Islamic Medical Ethics. In 2005 he was awarded the Kuwait Foundation for Advancement of Sciences prize. He was also a poet with several Arabic poetry publications. His website is www.rabieabdelhalim.com.
Peter Adamson
Peter Adamson is Professor of Late Ancient and Arabic Philosophy at the LMU in Munich; he moved to Munich from King’s College London, where he is still affiliated. He has written two monographs on al-Kindī and his circle, and together with Peter E. Pormann produced a book of translations of al-Kindī’s works. He has published numerous articles on ancient and medieval philosophy and edited a number of volumes, mostly recently, again together with Peter E. Pormann, Philosophy and Medicine in the Formative Period of Islam (2017).
Natalia Bachour
Natalia Bachour studied pharmacy at the Universities of Damascus and Kiel, translation at the University of Mainz, and history of medicine at the University of Heidelberg, where she obtained a doctorate with the thesis on early modern Paracelsian physicians and how their word was received in Arabic and Turkish; the thesis won the Prix Carmen Francés. Since 2010, she works at the University of Zurich, teaching Arabic and history of medicine. Her research focuses on the human body as a remedy in cultural and medical history.
Hans Hinrich Biesterfeldt
Hans Hinrich Biesterfeldt read Arabic and Islamic Studies, Ancient Philosophy and Medieval History at Freiburg im Breisgau, Munich, Göttingen (PhD 1970), and Yale. After a two-year fellowship at the Orient-Institut of the Deutsche Morgenländische Gesellschaft in Beirut he taught Arabic and Islamic Intellectual History at the Universities of Heidelberg and Bochum. He published on the transmission of Greek medicine and philosophy to Arabic culture, on the early history of classifications and transmission of knowledge in Islam, and on classical Arabic prose literature.
Leigh Chipman
Leigh Chipman (PhD 2006, The Hebrew University of Jerusalem) is an independent scholar, editor and translator based in Jerusalem. She has held post-doctoral fellowships at Ben-Gurion University of the Negev (Beersheba) and Tel Aviv University, and has been a research fellow on projects on the reception of Galen in Arabic and Hebrew (Bar-Ilan University) and on Arabic epigraphy and on affluence in the Fatimid period (both at the Hebrew University of Jerusalem). Her own research focuses social and intellectual history of medicine and science in the Mamluk period and the Cairo Genizah. With Peter E. Pormann and Miri Shefer-Mossensohn, she has recently editied the two-volume special issue of Intellectual History of the Islamicate World on ‘Medical Traditions’.
Aileen Das
Aileen Das is an Assistant Professor of Classical Studies at the University of Michigan. Her work draws attention to the relationship between medicine and philosophy in the classical and medieval Islamicate worlds. She is broadly interested in the transfer of Greek philosophical knowledge into Arabic. Her research considers not only how the transmission of certain texts shaped the development of ‘Arabic Platonism and Aristotelianism’, but also how the translators of these texts, who were working in the Sinai, Palestine, and Baghdad, adapted the sources for their monotheistic readership.
Nahyan Fancy
Nahyan Fancy is an Associate Professor of Middle East/ Comparative History at DePauw University. His research interests are in pre-1500 medicine and intellectual history. He published a monograph on Science and Religion in Mamluk Egypt (Routledge, 2013), examining the intersections of philosophy, theology and medical physiology in the works of Ibn al-Nafīs. His current research focuses on Arabic medical commentaries on Avicenna’s Canon of Medicine, particularly the many developments that took place in medical physiology between 1250–1520 across Islamic societies. He was a member of the Institute for Advanced Study, Princeton, in autumn 2015.
Peter E. Pormann
Peter E. Pormann in Professor of Classics and Graeco-Arabic Studies at the University of Manchester. Recent publications include two special double issues The Arabic Commentaries on the Hippocratic ‘Aphorisms’ (Oriens, co-edited with Kamran I. Karimullah; 2017), and Medical Traditions (Intellectual History of the Islamicate World, co-edited with Leigh Chipman, Miri Schefer-Mossensohn; 2017–18) and two edited books: La construction de la médecine arabe médiévale (with Pauline Koetschet, 2016); and Philosophy and Medicine in the Formative Period of Islam (with Peter Adamson; 2017). His Cambridge Companion to Hippocrates is forthcoming in 2018.
Pauline Koetschet
Pauline Koetschet is a researcher at the Centre National de la Research Scientifique. She studied philosophy at the École normale supérieure (Rue d’Ulm) in Paris, and obtained a doctorate from the Unversities of Paris-Sorbonne and Warwick with a thesis on Abū Bakr al-Rāzī. She has published an anthology of Arabic philosophy (La Philosophie arabe, IVe-XIVe siècle, 2011) and edited, with Peter E. Pormann, La construction de la médecine arabe médiévale (2016). She is currently preparing a critical edition and French translation of al-Rāzī’s Doubts about Galen (al-Shukūk ʿalā Jālīnūs).
Mahmoud Misry
Mahmoud Misry, Lecturer at Fatih Sultan Mehmet University, Istanbul. In 1990 he obtained a BSc degree in Paediatrics, and in 2002 he obtained a PhD on the History of Medicine from the Institute for the History of Arabic Science, Aleppo University. He is also the Director of the Wakfiyah Manuscript Library. He is the author of numerous books, papers and presentation on history of medicine in Arabic. In 2005 his book on the Benefits of Bodies and Souls (Maṣāliḥ al-abdān wa-l-anfus) by al-Balkhī was awarded a prize by the International Union for the History and Philosophy of Science. His book on the History of Paediatrics in Arabic and Islamic Heritage was awarded the 2005 Prize of Kuwait Foundation for the Advancement of Sciences.
Ahmed Ragab
Ahmed Ragab is the Richard T. Watson Associate Professor of Science and Religion at Harvard Divinity School, affiliate associate professor at the department of the history of science, and director of the Science, Religion and Culture program at Harvard Divinity School. He obtained an MD from Cairo University in 2005 and a PhD in History and Philosophy of Science from L’École Pratique des Hautes Études in Paris (2010). His thesis, now published as a book The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion and Charity (2015), dealt with medieval hospital provisions in the Islamic world. Other interests include the history of prophetic medicine and modern Islam’s relationship to science and medicine.
Emily Selove
Emily Selove is a lecturer at the University of Exeter, where she teaches and researches medieval Arabic literature. Her published monograph, Ḥikayat Abī al-Qāsim: A Literary Banquet, centres on the eleventh century story of a Baghdadi party-crasher in Isfahan. She published a translation of Al-Khaṭīb al-Baghdādī’s partycrashing book, Selections from the Art of Party-Crashing in Medieval Iraq (2012). Her current research involves a literary reading of medieval Arabic magical texts, and a translation and edition of Sirāj al-Dīn al-Sakkākī’s thirteenth-century handbook of magic, Al-Kitāb al-Shāmil wa-l-baḥr al-kāmil (The Comprehensive Book and the Full Sea).
Justin Stearns
Justin Stearns is an Associate Professor at New York University Abu Dhabi. His research interests focus on the intersection of law, science, and theology in the pre-modern Muslim Middle East. His first book was Infectious Ideas: Contagion in Pre-Modern Islamic and Christian Thought in the Western Mediterranean (2011) and he has published articles in Islamic Law and Society, Medieval Encounters, Al-Qantara, and History Compass. He is currently working on a book on the social status of the natural sciences in early modern Morocco entitled Revealed Science: The Natural Sciences in Islam in the Age of al-Ḥasan al-Yūsī (d. 1691) as well as on an edition and translation of al-Yūsī’s Muḥāḍarāt for the Library of Arabic Literature.
RS Book Launch
London: 14 March 2018; The Foundation of Science, Technology and Civilisation (FSTC), the publishers of the title 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare, in partnership with Healthcare Development Holding (HDH) organised a book launch event at the Royal Society in London in celebration of the British Science Week 2018.
The book launch event included an enlightening panel discussion that presented the long medical traditions from the East including Muslim and Indian civilisations as well as along the Silk Road. The panel, which was moderated by Bettany Hughes, included Peter Frankopan, Peter Pormann and Aarathi Prasad. The distinguished speakers discussed the fascinating legacy of healthcare from the Eastern world, and how it drew on ancient cultures and influenced European thought.
After the panel speeches were made by: Mr Ian Fenn, representing publishers; Dr Wael Kaawch representing the sponsors; Prof Peter Porrman representing the authors; Dr Tarek Fadaak and Dr Ahmed Abo Khatwa representing the readers; Dr Sharif Kaf Al-Ghazal reading a tribute on late Dr Rabie Abdel Halim sent by Prof Glen Cooper.

At the centre, Prof Sir Venki Ramakrishnan, president of Royal Society, recieving 1001 Cures book in his office
Where to find
To enquire about obtaining a copy of the 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare in Muslim Civilisation, please contact fstc.
Sumber: http://www.fstc.org.uk/node/302

Wahyu tak memberinya kesempatan untuk menarik napas. Saat beliau baru saja kembali ke rumahnya dalam keadaan menggigil. Tak lama wahyu kembali turun, memanggilnya untuk segera bangkit dari bawah selimutnya, Beliau pun segera bangkit. Tak ada lagi pertanyaan seputar tugas dan tanggung jawab agung yang dibebankan kepadanya berdasarkan wahyu yang pertama kali beliau terima.
Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS AI-Muddatstsir: 1-2).
Beliau pun bangkit, menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan hati yang lurus serta berserah diri. Beliau pun segera menyeru kepada Allah dengan hujjah yang nyata, ditopang oleh modal yang amat agung, dan jarang dimiliki manusia berupa akhlak yang utama, kepribadian yang luhur, dan keteguhan yang membaja, “Wahai sekalian kaum Quraisy, katakan kepadaku, jika kuberitahukan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerang, percayakah kalian?”
“Ya,” jawab mereka. “Belum pernah kami melihat engkau berdusta wahai Muhammad.”
Rasulullah Saw. kemudian melanjutkan, “Aku adalah utusan Allah bagi kalian.”
Kata-kata ini pun mengundang berbagai reaksi. Ada yang diam membisu, ada pula yang menyerang membabi buta. Sikap membisu terjadi lantaran mereka masih diliputi kebingungan. Sementara serangan gencar datang dari pembesar mereka, Abu Lahab, seraya membawa kesombongan dan kedunguannya.
Sejak momentum yang agung itu, perjalanan kafilah Islam pun dimulai. Jumlah pemeluk dan pengikutnya tumbuh dengan amat lambat. Namun, dengan segala kemurnian dan kedalamannya, beberapa orang kemudian mengambil tempat sebagai lokomotif.
Mereka ada-lah Khadijah, ‘Ali, Abu Bakar, dan Zaid ibn Haritsah. Kemudian disusul dengan para sahabat yang lain: ‘Utsman ibn `Affan, `Abdurrahman ibn ‘Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqash, Zubair ibn Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, Bilal, Khabbab, Ibn Masud, `Ammar, Sumayyah, Sa’id ibn Zaid, Fathimah binti Al-Khaththab, dan Mush`ab ibn Umair. []
Sumber: 10 Episode Teragung Rasulullah SAW/ Penulis: Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit: Mizania/ 2015

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Peristiwa-peristiwa mulia yang ditempuh kaum Muslimin bersama Rasulullah begitu saja berlalu. Indahnya masa-masa turunnya wahyu, gegap gempita kemenangan di medan perang, derap kaki-kaki kuda di dalam perjalanan menuju jihad, isak tangis yang mengiringi para syuhada menuju kampung akhirat, lautan ilmu di majelis-majelis Rasulullah semuanya terlambat ia rasakan.
Ketika tengah hamil tua, ibunya masuk ke dalam Kabah untuk suatu keperluan. Lalu ia merasakan perutnya mulas-mulas. Orang-orang segera mengambil alas dari kulit binatang. Tak lama kemudian, bayi laki-laki tampan dan sehat pun lahir ke dunia. lalah Hakim bin Hizam bin Asad bin Abdul Ghazi.
Usianya yang hanya lima tahun lebih tua dari Muhammad menjadikannya tak sulit untuk bersahabat karib dan melewati masa remaja bersama. Apalagi ketika Muhammad menjadi suami dari bibinya, Khadijah binti Khuwailid.
Kecintaannya kepada Muhammad pun telah membenih semenjak kanak-kanak, bahkan ia mengatakan, “Muhammad adalah orang yang paling aku cintai semasa jahiliah.” la pula yang membeli Zaid bin Haritsah, lalu ia berikan pada Khadijah. Zaid lantas dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah dan ia menjelma menjadi pejuang Islam yang tinggi derajatnya dengan syahid.
Namun sayang, semua itu tak juga membuat sinar hidayah menembus hatinya. Ketika ia mulai condong kepada Islam, ia selalu melihat keteguhan dan keuletan para pembesar Quraisy dalam mempertahankan agama nenek moyang. Akibatnya, hidayah kembali menjauh darinya. Apa yang diucapkan Rasulullah menjadi kenyataan. Usianya menginjak 70-an tahun. Hakim mengucapkan kalimat syahadat bersama orang-orang Quraisy yang tak berkutik melawan tentara Muslim dalam peristiwa Fathu Makkah. Hakim menangis dengan air mata mengalir deras hingga anaknya heran dan bertanya. “Mengapa engkau menangis, wahai ayahku?” tanyanya.
Penyesalan Hakim bin Hizam tak terbendung lagi. Padahal sejak kanak-kanak ia telah akrab dengan sang calon rasul mulia.
“Aku menangis terlambat masuk Islam, Anakku. Hingga begitu banyak peristiwa berharga terlewatkan, yang tak mungkin bisa aku dapatkan dengan kepingan emas dan perak.”
Hakim tak putus asa. Sekuat tenaga ia mengejar ketertinggalannya. Harta berlimpah yang ia miliki, ia sedekahkan untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya. Pada haji pertamanya, Hakim menggiring 100 ekor unta untuk disembelih di Makkah.
Haji yang kedua, ia membawa 100 budak dengan tulisan yang tergantung di leher mereka, “Dibebaskan oleh Hakim untuk Allah”.
Lalu pada haji yang ketiga, ia menggiring 1000 ekor kambing untuk disembelih dan dibagikan kepada fakir miskin di Mina. Tak cukup di situ, Hakim tak puas dengan infak-infak sebelumnya. Maka ia menjual Darun Nadwah, sebuah bangunan megah miliknya yang biasanya digunakan untuk rapat-rapat penting kaum Quraisy. Uang hasil penjualan bangunan itu ia infakkan di jalan Allah Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, Hakim menjawab, “Sesungguhnya aku menggantinya dengan membeli sebuah rumah di surga dan engkaulah yang menjadi saksinya,” jawab Hakim.
Pengorbanan Hakim ia berikan dengan talus dan ikhlas. la seorang dermawan sejati yang selalu merindukan kedua tangannya mengulurkan sedekah. Saking cintanya kepada sedekah, ia pernah berkata, “Tidaklah pagi datang padaku tanpa seseorang di depan pintuku untuk meminta sedekah, kecuali itu adalah musibah yang aku mintakan Allah pahala darinya.” []
Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

Sejak masa kecilnya, Abu Bakar adalah orang yang pendiam dan tulus. Dia sangat jujur. Karena karakternya yang bersih ini, dia menjadi teman terdekat Nabi sejak masa mudanya dan, pertemanan itu terbukti seumur hidup.
Abu Bakar adalah orang yang berhati lembut dan sangat mudah merasakan penderitaan dan kesengsaraan orang lain. Dia biasa membantu orang miskin dan yang membutuhkan, yang tertekan dan tertindas.
Bahkan sebelum memeluk Islam pun, dia tidak menyukai sebagian besar kebiasaan jahiliyah kaumnya dan tidak pernah minum minuman keras (khammar) sedikitpun.
Pekerjaan utamanya adalah berdagang. Dia juga menemani Nabi dalam perjalanan dagang ke beberapa daerah. Karena kejujurannya, orang mempercayai Abu Bakar dan sering menyimpan uang mereka kepadanya. Kemuliaan dan kejujurannya segera membuatnya menjadi pedagang kaya. []

Prof. Dr. Eka Srimulyani, MA., Guru Besar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
ALQURAN memiliki beberapa penggambaran konsep masyarakat atau umat yang ideal, di antaranya adalah ummatan wahidah (umat yang satu). Ungkapan ini disebutkan beberapa kali dalam Alquran, salah satunya dalam surat Al-Baqarah: 213. Ummatan wahidah adalah umat yang menyatu dan bersatu dalam keimanan kepada Allah Swt, dan diberi petunjuk oleh-Nya. Dalam ayat lain (Al-Baqarah: 143), Alquran menyebutkan konsep ummatan wasathan (umat pertengahan), umat atau masyarakat yang moderat. Istilah lain yang juga digunakan dalam Alquran dalam menjelaskan konsep umat adalah khairu ummah (umat yang terbaik) yang dilahirkan untuk manusia (QS. Ali Imran: 110).
Pemahaman khairu ummah dalam ayat tersebut dikaitkan dengan upaya-upaya mereka yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan beriman kepada Allah Swt. Satu contoh penggambaran masyarakat [ideal] yang lebih spesifik tergambar ketika Alquran menjelaskan kondisi kaum Saba’ (QS. Saba’: 15). Dalam ayat ini kontekstualisasi dari masyarakat yang ideal adalah penggabungan antara kemakmuran dan spiritualitas keagamaan/keimanan dalam wujud baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, gambaran mengenai sebuah negeri yang aman sentosa dan masyarakat yang terampuni dosanya.
Di sisi lain, diskusi mengenai konsep umat atau masyarakat yang “ideal” sering merujuk kepada istilah yang dikenal sebagai madaniyyah (berperadaban) atau dalam masyarakat kita disebut dengan istilah “masyarakat madani”. Secara bahasa madaniyyah berasal dari kata Bahasa Arab madinah yang mempunyai dua pengertian, yang pertama berarti “[masyarakat] kota”, dan kedua dalam artian “[masyarakat] berperadaban” yang mengacu pada kehidupan masyakarat yang berkeadilan dan berperadaban.
Diskusi mengenai masyarakat berperadaban sering dikaitkan dengan ubarnisasi dan perkotaan, karena dalam sejarah peradaban-peradaban besar yang ada di dunia, selalu berbasis di kota-kota besar sebagai pusat kehidupan sosial politik masyarakatnya yang kemudian mempengaruhi wilayah-wilayah sekelilingnya, dan juga karakteristik dasar peradaban lebih cepat diamati dan ditemui dalam kehidupan masyarakat yang berbasis kota.
Masyarakat madani
Referensi mengenai konsep masyarakat madani dalam tataran praktis adalah masyarakat Muslim awal di kota Madinah setelah hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah, yang berlanjut sampai masa kepemimpinan para Khulafaur-rasyidin setelah beliau wafat. Masyarakat yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw saat itu bersendikan pada dimensi keimanan yang diarahkan untuk memperkuat kondisi masyarakat sipil dalam pilar-pilar musyawarah, keadilan dan persaudaraan.
Sejarah mencatat adanya sebuah kohesi sosial yang ideal, terbangun secara kuat dalam masyarakat Madinah saat itu, salah satunya terlihat lewat ukhuwwah (persaudaraan) yang mendalam dan bersahaja antara suku Quraisy Mekkah yang dikenal dengan istilah kaum Muhajirin dan penduduk Yatsrib (Madinah) yang dikenal sebagai kaum Anshar. Kota Madinah sendiri saat itu juga terdiri dari beragam suku seperti Suku Aus, Khazraj dan masyarakat Yahudi (Bani Nadhir, Bani Qainuqa’, Bani Quraizah), di samping Muhajirin yang hijrah dari Mekah.
Prinsip yang melandasi kohesi sosial tersebut dilandasi dari prinsip-prinsip yang tertuang dalam sebuah konstitusi yang cukup yang terkenal dalam sejarah yaitu “Piagam Madinah”. Piagam Madinah mencantumkan beberapa prinsip-prinsip penting dalam membangun masyarakat ideal yang menekankan pada persatuan dan kesatuan, persaudaraan (al-‘ukhuwwah), perdamaian, toleransi, keadilan (al-’adalah), sikap tidak diskriminatif, dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman.
Prinsip-prinsip ini menjadi solusi dari kompleksitas kehidupan sosial politik masyarakat Madinah saat itu yang beragam baik dari sisi agama yang dianut, maupun kesukuan, yang sebenarnya memiliki potensi konflik di dalamnya. Kalau dikaji dan dianalisis, sebenarnya prinsip-prinsip yang ada dalam piagam Madinah tersebut sangat relevan diadopsi untuk kondisi masyarakat Muslim modern hari ini sekalipun.
Dari sisi wacana, konsep masyarakat madani terkadang sering disamakan dengan konsep civil society (masyarakat sipil), sebuah konsep masyarakat yang memiliki elemen-elemen kemasyarakatan yang kuat, dan/atau civilized society yang juga bermakna masyarakat berperadaban. Peradaban dalam konsep tamaddun seperti yang disebutkan oleh Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah.
Menurut Ibnu Khaldun, tamaddun merupakan pencapaian manusia yang sudah melebihi keperluan dasar manusia sehingga memberi kesempatan bagi mereka untuk berpikir dan menghasilkan daya cipta dan peradaban yang lebih tinggi dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan seni.
Masyarakat maju
Selain istilah tamaddun, Ibnu Khaldun juga memunculkan istilah umran yang merupakan kajian terhadap kawasan-kawasan bandar/perkotaan yang memiliki struktur tanah yang subur, infrastruktur yang memadai dalam suatu wilayah pembangunan yang baik ditempati secara permanen oleh sebuah masyarakat yang maju.
Di Indonesia, sejak 1990-an, diskusi tentang konsep masyarakat madani di Indonesia sudah mulai muncul secara intensif. Pada 1995 dalam sebuah diskusi di simposium Nasional dalam rangka Festival Istiqlal di Jakarta, Dato’ Anwar Ibrahim menyampaikan presentasi khusus tentang tawaran konsep masyarakat madani.
Para pakar lainnya juga tidak luput ikut berkontribusi dalam membentuk pemahaman mengenai konsep masyarakat madani tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan tidak hanya dalam bentuk diskusi dan wacana, istilah masyarakat madani kemudian juga diadopsi dalam tema pembangunan masyarakat kota/daerah di Indonesia.
Akhirul kalam, secara sederhana dapat dipahami, ada beberapa karakter yang melekat pada masyarakat Muslim madani (berperadaban) yang dimaksud, di antaranya adalah mengedepankan nilai-nilai keimanan kepada Allah Swt, mengembangkan prinsip keadilan dan kesetaraan, penguatan elemen masyarakat, toleransi, dan memiliki akhlaq mulia, serta penguasaan ilmu pengetahuan, termasuk seni yang digunakan bagi kemanfaatan umat/masyarakat.
Momentum Ramadhan yang penuh berkah ini sedianya merupakan saat yang tepat untuk mewujudkan dan memperkuat asas-asas masyarakat berperadaban tersebut dalam bingkai keimanan dan ketakwaan.
Wallahu a’lam bishawab.

Bukunya tentang geografi sangat populer selama beberapa abad. Al-Idrisi sangat termasyhur di Barat sebagai ahli geografi yang membuat bola dunia perak bagi Raja Roger II dari Sisilia pada 1154 M. Pada bola dunia seberat 400 kilogram itu dengan cermat ia catatkan tujuh benua beserta jalur perdagangan, danau dan sungai, kota-kota besar, dataran, dan pegunungan.
Al-Idrisi lahir di Ceuta, Maroko, Afrika Utara, pada 1100 M. Saat bertemu Raja Roger untuk mendiskusikan pembuatan bola dunia, ia berusia akhir 30-an. Pembuatan bola dunia itu memakan waktu 15 tahun. Dia juga memberi informasi, termasuk jarak, panjang, dan tinggi yang sesuai. Bola dunia itu juga dilengkapi dengan bukunya Al-Kitab al-Rujari (Buku Roger). Dalam buku itu terdapat 71 bagian peta, sebuah peta dunia, dan 70 tambahan bagian peta.
Dia juga membuat representasi dunia pada sebuah piringan. Seperti pakar geografi Muslim lain sebelumnya, al-Idrisi mengunjungi banyak tempat yang jauh, termasuk Eropa. Tujuannya, untuk mengumpulkan data geografis. Para ahli geografi Muslim telah membuat pengukuran akurat permukaan bumi dan beberapa peta dari seluruh dunia.
Al-Idrisi menggabungkan pengetahuan yang tersedia dengan temuannya sendiri untuk menciptakan informasi yang komprehensif dari semua ba gian dunia. Seiring dengan kepopulerannya yang menyebar, dia mendapatkan perhatian dari para navigator laut Eropa dan perencana militer, tidak terkecuali Roger II, Raja Norman Sisilia.
Sang raja memintanya untuk membuat peta dunia teranyar. Figur dan karya al-Idrisi lebih dikenal di dunia Barat di bandingkan ahli geografi Muslim lain karena kapal dan navigator dari Laut Utara, Atlantik, dan Mediterania kerap singgah di Sisilia yang berada di bawah kekuasaan Muslim sebelum Raja Roger. Karya-karya pemikir Muslim tersedia secara bebas dan menyebar ke Eropa melalui Latin Barat. (Republika)

Inisiator program pengiriman guru agama dan pimpinan pesantren Indonesia ke Jepang Profesor Jamhari Makruf melihat banyak nilai modernisasi yang bisa ditiru dari Negeri Sakura tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.
“Biasanya orang Islam takut sekali kalau sekolah atau pendidikannya berubah kemudian akan ikut mengubah jati diri Islamnya. Jepang bisa memberi contoh meskipun berkembang menjadi negara maju dan modern, tetapi nilai-nilai budaya aslinya masih tertanam dengan sangat baik,” ujar Jamhari usai acara Penyampaian Laporan Hasil Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang tahun 2017 di Jakarta, Kamis malam.
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut beberapa nilai budaya Jepang yang patut dicontoh oleh sekolah dan pesantren di Tanah Air antara lain kebersihan, kedisiplinan, menghargai waktu, ramah dan sopan santun, saling menghormati, etos kerja yang tinggi, kreativitas dan inovasi, serta kemajuan teknologi.
Dengan mengikuti program kunjungan selama 10 hari di Jepang, guru dan pimpinan pesantren Indonesia diharapkan dapat membagikan inspirasi dan pengalamannya mengamati dan merasakan tinggal di tengah-tengah masyarakat Jepang kepada para santri di daerah asal masing-masing.
Program yang bertujuan memperdalam pemahaman antara Jepang dan masyarakat Muslim Indonesia dilaksanakan setiap tahun sejak 2004 dengan pembiayaan penuh dari pemerintah Jepang.
Tahun ini, sebanyak sembilan guru dan pimpinan pesantren serta seorang pendamping dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN mengunjungi Tokyo, Hiroshima, dan wilayah Kansai untuk melakukan berbagai kegiatan antara lain peninjauan ke sekolah, program homestay, dan dialog lintas agama pada 3-12 Oktober.
Proses seleksi dilakukan oleh PPIM dengan menilai pesantren-pesantren yang berpengaruh di wilayahnya, jumlah santrinya cukup banyak, kiainya dipandang oleh masyarakat sekitar, serta memiliki sekolah formal yang bisa dikembangkan.
Salah satu kisah sukses dari program kunjungan para pimpinan pesantren ke Jepang dapat dilihat dari sebuah pesantren diniyah putri di Padang Panjang, Sumatera Barat.
“Kini selain terinspirasi untuk membuat pesantrennya lebih bersih dan nyaman, pesantren tersebut telah bekerja sama dengan sekolah di Jepang untuk program pertukaran pelajar. Jadi setiap tahun beberapa santri dari Sumatera Barat dikirim ke Jepang dengan biaya mereka sendiri,” ujar Jamhari.
Kesuksesan program kunjungan pimpinan pesantren ke Jepang ternyata menarik minat guru-guru agama dari negara lain untuk berpartisipasi dalam program serupa.
Pada 2016 sebanyak 10 pimpinan pesantren dari Malaysia telah mengikuti langkah Indonesia, dan saat ini guru-guru agama dari Filipina sedang menjajaki keikutsertaan mereka untuk program yang sama.
Indonesia mendorong seluruh negara anggota Organisasi Kerjasama Islam/OKI agar dapat mengembangkan berbagai Science Center di berbagai kawasan. Pembentukan berbagai center tersebut akan memberikan dampak positif terutama terhadap generasi muda yang sejak usia muda telah diperkenalkan terhadap Ilmu Pengetahuan dan teknologi.
Hal tersebut ditekankan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Prof. Dr. Mohamad Nasir, pada saat memberikan pernyataan atas nama Pemerintah RI pada pertemuan para Menteri Ristek negara-negara anggota OKI di Astana, Kazakhstan, tanggal 9 September 2017.
Menristekdikti juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga pendidik karena hal ini akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan murid yang berkarakter serta memiliki sikap kritis, jujur dan kreatif. Selain itu, isu kualitas pendidikan juga perlu diperhatikan sebagai syarat bagi terciptanya masyarakat yang sejahtera di seluruh negara OKI.
Peningkatan jumlah dan kualitas pendidikan tinggi (vocational education) juga perlu terus dilakukan untuk menunjang kegiatan industri di seluruh negara OKI. Oleh karena itu Indonesia mendorong kalangan industri dapat terlibat di dalam pengembangan vocational education dimaksud.
Menristekdikti juga telah menggunakan kesempatan pertemuan ini untuk menyampaikan berbagai rencana Indonesia dalam memajukan Iptek nasional, antara lain: pembangunan terbagai science and techno parks; capacity building programme; pertukaran Professor di tingkat global; serta penyelenggaraan kerjasama riset dan pengembangan serta techno entrepreneurship.
Pertemuan tingkat Menteri para Menristek negara anggota OKI diselenggarakan sebagai salah satu pertemuan pada rangkaian Konperensi Tingkat Tinggi OKI mengenai Iptek yang diselenggarakan di Astana Kazakhstan, tanggal 10-11 September 2017. Delegasi RI pada pertemuan puncak KTT akan dipimpin oleh Wapres RI. Selain pertemuan tingkat Menteri, rangkaian pertemuan juga telah dimulai dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (Senior Official Meeting/SOM).
KTT OKI mengenai Iptek merupakan KTT tematik pertama di bawah kerangka forum kerjasama OKI. Tema KTT ini adalah “Science, Technology, Innovation and Modernization of the Muslim World”. KTT diselenggarakan atas kesepakatan seluruh negara OKI pada berbagai pertemuan KTT OKI, termasuk KTT OKI terakhir yang diselenggarakan di Istanbul pada bulan April 2016. Seluruh 56 negara anggota OKI telah berpartisipasi pada rangkaian pertemuan KTT OKI Iptek ini.
Pada akhir KTT, diharapkan seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara akan mengesahkan beberapa dokumen akhir, yaitu dokumen OIC Science, Technology and Innovation 2026 serta dokumen Astana Declaration. Dokumen OIC STI 2026 pada intinya merupakan road map Iptek negara-negara OKI untuk periode 2017-2026; sedangkan Astana Declaration akan berisi deklarasi bersama seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara OKI mengenai hal-hal utama mengenai pengembangan iptek di negara OKI bagi kepentingan seluruh umat manusia.

After praising, and thanking Allah he said:
“O People, lend me an attentive ear, for I know not whether after this year, I shall ever be amongst you again. Therefore listen to what I am saying to you very carefully and TAKE THESE WORDS TO THOSE WHO COULD NOT BE PRESENT HERE TODAY.
O People, just as you regard this month, this day, this city as Sacred, so regard the life and property of every Muslim as a sacred trust. Return the goods entrusted to you to their rightful owners. Hurt no one so that no one may hurt you. Remember that you will indeed meet your LORD, and that HE will indeed reckon your deeds. ALLAH has forbidden you to take usury (interest), therefore all interest obligation shall henceforth be waived. Your capital, however, is yours to keep. You will neither inflict nor suffer any inequity. Allah has Judged that there shall be no interest and that all the interest due to Abbas ibn ‘Abd’al Muttalib (Prophet’s uncle) shall henceforth be waived…
Beware of Satan, for the safety of your religion. He has lost all hope that he will ever be able to lead you astray in big things, so beware of following him in small things.
O People, it is true that you have certain rights with regard to your women, but they also have rights over you. Remember that you have taken them as your wives only under Allah’s trust and with His permission. If they abide by your right then to them belongs the right to be fed and clothed in kindness. Do treat your women well and be kind to them for they are your partners and committed helpers. And it is your right that they do not make friends with any one of whom you do not approve, as well as never to be unchaste.
O People, listen to me in earnest, worship ALLAH, say your five daily prayers (Salah), fast during the month of Ramadan, and give your wealth in Zakat. Perform Hajj if you can afford to.
All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety and good action. Learn that every Muslim is a brother to every Muslim and that the Muslims constitute one brotherhood. Nothing shall be legitimate to a Muslim which belongs to a fellow Muslim unless it was given freely and willingly. Do not, therefore, do injustice to yourselves.
Remember, one day you will appear before ALLAH and answer your deeds. So beware, do not stray from the path of righteousness after I am gone.
O People, NO PROPHET OR APOSTLE WILL COME AFTER ME AND NO NEW FAITH WILL BE BORN. Reason well, therefore, O People, and understand words which I convey to you. I leave behind me two things, the QURAN and my example, the SUNNAH and if you follow these you will never go astray.
All those who listen to me shall pass on my words to others and those to others again; and may the last ones understand my words better than those who listen to me directly. Be my witness, O ALLAH, that I have conveyed your message to your people”.