Tag: alquran

  • Corak Penafsiran Buya Hamka dalam Mahakaryanya Tafsir Al-Azhar


    Alquran sebagai teks suci yang merupakan firman Allah SWT (kalamullah) sangat terjaga kemurnian dan kesuciannya, baik dari segi bacaan maupun tulisannya, semua pernyataannya dalam Alquran bersifat mutlak dan final.

    Namun, untuk memahami kandungannya, menusia melakukan usaha melalui tafsir Alquran yang secara teoritis mempunyai unsur subjektivitas. Di Indonesia, penafsiran Alquran dibagi kedalam dua bagian yaitu klasik dan modern.

    Pada masa modern, penafsiran di Indonesia mulai banyak dilakukan para ulama setelah merebaknya gerakan pembaruan Islam di Mesir yang dipelopori Jamaludin al-Afghani pada 1938-1897 dan Rasyid Ridha pada 1865-1935.

    Hampir semua tafsir di Indonesia yang muncul setelah masa itu, mengikuti gaya pemikiran tafsir al-manar dan yang semacamnya seperti tafsir al-Maraghi, tafsir al-Qasimi, dan lainnya.

    Di antara ciri khas pemikiran madrasah al-Manar adalah salafi dalam bidang akidah, kebebasan dalam berpikir, rasionalis, menggalakkan ijtihad, antitaklid, menjadikan Alquran sebagai pilihan utama untuk mengubah nasib masyarakat, dan menjadikan sejarah kemajuan serta kemunduran suatu bangsa sebagai pelajaran kehidupan.

    Hal ini diungkapkan oleh pakar bidang qira’at dan ilmu-ilmu Alquran, Dr Ahsin Sakho Muhammad dalam bukunya Membumikan Ulumul Quran: Tanya Jawab Memudahkan tentang Ilmu Qiraat, Ilmu Rasm Usmani, Ilmu Tafsir, dan Relevansinya dengan Muslim Indonesia yang terbit pada 2019.

    Salah satu penafsir Alquran pada masa modern yang mengikuti gaya al-manar adalah Abdul Malik Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka. Sosok ilmuan, ulama, budayawan, sastrawan, pendidik, dan aktivis Islam yang telah malang melintang dalam sejarah pergerakan di Indonesia ini mencetuskan karya di bidang tafsir Al-Azhar.

    Buya Hamka yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama ini dikenal sangat piawai dalam menulis. Atas kepiawaiannya itu, sangat membantu Buya Hamka dalam membuat tafsir Al-azhar sebagai salah satu karya masyhur dari buku-buku karya Buya Hamka lainnya.
    Latar belakang kehidupan dan keilmuan Buya Hamka sangat jelas membekas dan memengaruhi corak, serta karakteristik karya tafsirnya tersebut. Karakteristik tafsir ini berkisar antara adabi-ijtima’i atau sastra dan kemasyarakatan.

    Banyak pengalaman kehidupan yang dirasakan oleh Buya Hamka tertuang dalam tafsirnya ini. Selain itu, dalam hal pemikiran yang tertuang di tafsirnya ini, Buya Hamka sangat terpengaruh oleh Gerakan pencerahan keislaman Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

    Hal ini bisa dilihat daru tafsirnya. Namun, sebagai ulama besar dan kharismatik, Buya Hamka juga banyak mengutip hadist Nabi Muhammad SAW, perkataan sahabat dan tabiin sehingga, tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka ini menjadi karya tafsir yang harmonis antara tafsir bil matsur dan bil ma’qul. (Sadam Al-Ghifari, ed: Nashih)

  • 12 Keutamaan bagi Penghafal Alquran

    Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Salah satu tujuannya, untuk menjadi pegangan dan dasar petunjuk kehidupan bagi umat Muslim.

    Membaca, mendengarkan, mempelajari, dan mengamalkan Alquran tentu akan mendapatkan kemuliaan tersendiri dari Allah SWT. Apalagi, bisa menghafal Alquran.

    KH Ahsin Sakho Muhammad dalam bukunya (Menghafalkan Al-Quran, 2017) mengungkapkan 12 keutamaan bagi penghafal Alquran. Berikut 12 keutamaan bagi penghafal Alquran:

    Pertama, mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam pandangan Allah SWT. Hal ini dikarenakan, seseorang yang menghafal Alquran sudah pasti mencintai Kalamullah (perkataan Allah), sedangkan Allah sangat mencintai mereka yang cintai pada kalam-Nya.

    Kedua, penghafal Alquran akan meraih banyak sekali pahala. Kiai Ahsin Sakho menjelaskan, setiap huruf Alquran jika dibaca seseorang mendapatkan 10 pahala. Sedangkan jumlah huruf Alquran, sebagaimana disebutkan Imam Sayuthi dalam al-Itqan adalah 671.323 huruf.

    ‘’Maka bisa dibayangkan berapa juta pahala yang dihasilkan ketika seseorang penghfal Alquran berulang kali membaca ayat-ayat Alquran,’’ kata KH Ahsin Sakho dalam bukunya tersebut.

    Ketiga, penghafal Alquran yang menjunjung tinggi nilai Alquran dijuluki dengan ‘’Ahlullah’’ yang berarti keluarga Allah atau orang yang dekat dengan Allah. Hal ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW.

    Dari sahabat Anas bin Malik RA. Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘’Sesungguhnya bagi Allah ada orang yang terdekat dengannya.’’ Kemudian, sahabat bertanya ‘’Siapa mereka ya Rasul?’’ Nabi menjawab, “Mereka adalah ahlul Qur’an. Mereka itulah keluarga Allah dan orang-orang yang terdekat dengan-Nya.’’

    Keempat, Nabi Muhammad SAW pernah menyegerakan penguburan sahabat yang meninggal dunia dalam perang Uhud, yang hafalannya lebih banyak daripada lainnya.

    ‘’Ini adalah penghargaan bagi mereka yang menghafal Alquran,’’ sambungnya.

    Kelima, Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat agar yang menjadi imam sholat adalah mereka yang paling bagus membaca Alquran, sekaligus juga menghafalnya. Menurut KH Ahsin Sakho, Nabi telah menghantarkan para penghafal Alquran dalam jabatan yang mulia yaitu menjadi pemimpin saat sholat.

    ‘’jika penghafal Alquran sudah diberi tempat yang mulia oleh Nabi. Maka dia bisa mengembangkan diri untuk bisa berkiprah lebih jauh lagi dalam membimbing masyarakat,’’ jelasnya.

    Keenam, Nabi menjanjikan bahwa orang tua yang memiliki anak penghafal Alquran akan diberikan mahkota oleh Allah SWT pada hari kiamat nanti. Mahkota tersebut memiliki cahaya yang lebih indah daripada cahaya matahari yang menerangi kediaman mereka di dunia.

    Ketujuh, kata KH Ahsin Sakho, penghafal Alquran telah mengaktifkan sel-sel otaknya yang berjumlah miliaran melalui kegiatan menghafal. KH Ahsin Sakho menuturkan, kegiatan ini berpotensi untuk menjadikan otaknya menjadi semakin kuat dan cerdas.

    ‘’Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika dilatih terus menerus akan menjadi kuat,’’ tambahnya.

    Kedelapan, lanjutnya, penghafal Alquran termasuk orang-orang terdepan dalam menjaga keaslian, kemurnian dan kelestarian kitab suci Alquran.

    Kesembilan, KH Ahsin Sakho mengatakan, bahwa seseorang yang menghafal Alquran dan selalu membaca ayat-ayat suci Alquran akan menciptakan dirinya sebagai manusia yang saleh.

    ‘’Getaran bacaan Alquran akan mempengaruhi sel-sel tubuhnya, sehingga akan menciptakan DNA (Deeoxyribonucleic) atau asam deoksiribonukleat, yaitu sel-sel pembawa genetika seseorang,’’ ujarnya.

    Oleh karena itu, DNA yang dibawa oleh hafizh Alquran besar kemungkinan positif. Selain iu, KH Ahsin Sakho menerangkan bahwa hal ini atas seizin Allah juga akan mempunyai keturunan yang saleh pula.

    Kesepuluh, penghafal Alquran akan mendapatkan syafaat Alquran pada hari kiamat. Alquran akan terus mengawal ‘’Shahib’’nya semenjak dari kubur sampai masuk surga.

    Syimir bin ‘Athiyyah berkata: Pada hari kiamat, Alquran datang menjelma seorang laki-laki yang kurus kering dengan muka pucat pasi. Ia datang ke seseorang yang dibangkitkan dari kuburnya. Lelaki itu berkata, ’’Bergembiralah kamu dengan penghormatan dari Allah, bergembiralah kamu dengan keridaan Allah.’’

    Orang itu bertanya, ’’Apakah orang sepertimu memberi kabar gembira? Siapa kamu?’’ kemudian dia menjawab, ’’Akulah Alquran yang menjadikan kamu selalu bergadang pada malam hari (untuk membaca Alquran), dan menjadikan kamu haus pada siang hari (karena berpuasa).’’

    Kesebelas, penghafal Alquran yang selalu muraja’ah (mengulang hafalannya), ia sebenarnya tengah melakukan olahraga otak dan lidah. Pada saat itu, otaknya akan berjalan bagai kumparan yang terus-menerus bergerak.

    ‘’Hal ini sangat bermanfaat bagi Kesehatan otak dan urat Sharaf lainnya,’’ ungkapnya.

    Kedua belas, karena Alquran adalah kitab ‘’Mubarak’’ yang penuh berkah atau tempat menumpuknya kebaikan. KH Ahsin Sakho mengatakan, informasi yang dihafal dalam otaknya adalah kalam Allah yang penuh kesucian dan kemuliaan.

    Untuk itu, para penghafal Alquran akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya. Tidak hanya itu, Allah SWT juga akan memberikan penghargaan di dunia sebelum penghargaan di akhirat.

    ‘’Dia akan merasakan kepuasaan tersendiri dalam hidupnya yang tidak bisa diukur dengan materi,’’ pungkasnya. (Sadam Alghifari/Fakhruddin)

  • Raih Kemuliaan Ramadhan dengan Lailatul Qadar

    JAKARTA — Bulan Ramadhan menyimpan banyak keistimewaan di dalamnya. Rahmat, ampunan, dan pahala yang melimpah menjadikan berlomba-lombanya umat Muslim mengerjakan amal sholeh kala Ramadhan datang. Salah satu keistimewaan lain dari bulan Ramadhan yaitu dengan adanya Lailatul Qadr.

    Mengutip pendapat dari mufassir Indonesia, Prof Quraish Shihab, dalam kitabnya yaitu Tafsir al-Misbah disebutkan bahwa Lailatul Qadr adalah malam ketika Allah menurunkan Alquran.

    Mayoritas ulama berpendapat bahwa setiap tahun terjadi Lailatul Qadr. Malam tersebut menjadi mulia bukan saja karena waktu diturunkannya Alquran, akan tetapi malam itu sendiri memiliki kemulian, yang kemudian kemuliaannya bertambah dengan turunya Alquran. Firman Allah ta’ala dalam Alquran:

    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ (٣) تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ (٤) سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (Q.S. Al-Qadr: 1-5).

    Prof Quraish menjelaskan penafsiran Lailatul Qadr pada ayat pertama tentang turunnya Alquran sekaligus yaitu dari al-lauh al-Mahfuzh ke langit kedua. Adapun diturunkan secara berangsur-angsur adalah dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw yang dibawa oleh malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.

    Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

    Rasulullah tidak pernah menjelaskan secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadr. Karenanya para ulama memiliki argumen yang berbeda berkaitan dengan ini.

    Hikmah yang terkandung dalam rahasia kapan terjadinya Lailatul Qadr adalah agar umat Islam selalu beribadah, memperbanyak, dan memaksimalkan amal sholeh selama bulan Ramadhan seraya berharap dapat menjumpai malam tersebut.

    Sedikitnya terdapat sekitar empat puluh pendapat ulama mengenai kapan waktu terjadinya Lailatul Qadr. Di antaranya ulama ada yang berpendapat bahwa Lailatul Qadr hanya sekali diturunkan mana kala turunnya Alquran, pada hari pertama atau hari terakhir bulan Ramadhan, semua hari di bulan Ramadhan, hari-hari ganjil pada hari ke sepuluh terakhir bulan Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan masih banyak pendapat lainnya.

    Seperti salah satu hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadr:

    عن عائشةَ رضِيَ اللهُ عنها أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّمَ قال: ((تَحرُّوا لَيلةَ القَدْرِ في الوَتْر من العَشرِ الأواخِرِ من رمضانَ))  رواه البخاريُّ (2017) )

    “Dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: bersungguh-sungguhlah kamu beribadah pada malam Qadr yaitu pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

    Begitu juga pada hadis lain dari Imam at-Tirmidzi, yaitu:

    “Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh dan malam ke dua puluh sembilan dari bulan Ramadhan.” (HR. Al-Tirmidzi).

    Merujuk penjelasan dari Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, bahwa terdapat 45 pendapat mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadar. Menurutnya dari sekian banyak pendapat tersebut yang paling unggul adalah pendapat yang menyatakan terjadinya Lailatul Qadr yaitu dari 10 malam terakhir pada tanggal ganjil di Ramadhan tanggal ganjil dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

    Ibnu hajar juga mengatakan bahwa tanggal potensial terjadinya Lailatul Qadr yaitu pada tanggal 21 dan 23 Ramadhan. Argumen ini merujuk kepada pendapat Imam Syafi’i. Sementara mayoritas ulama berpendapat pada malam di tanggal 27 Ramadhan.

    Cara Meraih Lailatul Qadr

    Dalam salah satu ceramah dari KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha melalui program Narasi yang dipandu oleh Najwa Shihab, menuturkan bahwa perlu adanya persiapan guna meraih Lailatul Qadr.

    Kemuliaan Lailatul Qadr tidak akan didapat jika tanpa persiapan yang matang. Jika demikian halnya, maka tidak dinamai dengan mencari tetapi hanya menunggu tanpa persiapan untuk menyambutnya.

    Persiapan tersebut berupa memperbanyak ibadah, memfokuskan diri mencari ridha Allah, memdoakan orang mukmin untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadr.

    Selaras dengan pendapat Gus Baha, penulis Tafsir Al-Misbah, Prof Quraish Shihab berpendapat dalam acara yang sama bahwa terdapat ungkapan yang menyatakan bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban itu menyiram, sedangkan bulan Ramadhan adalah saatnya memanen hasil yanh telah ditanam dan dirawat sejak bulan Rajab dan Sya’ban.

    Perlunya ketenangan hati dan jiwa untuk menerima kedatangan Lailatul Qadr. Karena tidak mungkin malam kemuliaan datang kepada siapa yang hati dan jiwanya tidak mampu berdamai dan ikhlas menerimanya.

    Ramadhan yang akan berakhir tidak lama lagi secara langsung menjadi pengingat apakah amalan selama Ramadhan telah maksimal? Karena tidak ada jaminan bagi setiap jiwa bertemu pada Ramadhan selanjutnya.

    Sebagaimana yang disampaikan oleh KH Cholil Nafis saat momentum Tarhib Ramadhan 1443 H di Kantor MUI Pusat, jangan sampai umat Muslim seperti tikus yang mati di lumbung padi. Karena Ramadhan merupakan waktu yang Allah berikan kepada umat Islam untuk memanen pahala. Wallahu’alam

    (Isyatami Aulia/Fakhruddin)

  • Sapa Umat di Luar Negeri, MUI Tegaskan Dasar Negara Indonesia Tidak Bertentangan dengan Alquran dan Hadist

    BOGOR – Belakangan ini banyak sekali isu-isu yang membicarakan terkait bentuk maupun dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perdebatannya dasar negara NRKI dinilai kurang ideal dalam prespektif Islam.

    Pandangan itu dibantah dengan tegas oleh Ahmad Zubaidi selaku Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia menyampaikan bantahan saat hadir di agenda kajian dakwah internasional pada hari Ahad lalu, (11/4).

    “Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini tidak bertentangan dengan Alquran maupun hadist. Sudah banyak kajian dan landasan berfikir tentang berdirinya NKRI. Pancasila sebagai dasar negara sudah sangat ideal menyatukan negara Indonesia selama 76 tauhn merdeka,” tegasnya.

    Menurut Kiai Zubaidi, dasar negara yang sudah ditetapkan di Indonesia sudah sangat ideal, selama 76 tahun membawa masyarakat Indonesia hidup damai dan tentram. Meskipun ada beberapa konflik di dalamnya, konflik tersebut masih bisa teratasi dengan tepat.

    Kegiatan yang mengusung tema “Pengarustamaan Moderasi dalam Konstitusi Beragama” tersebut diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam rangka menyapa umat yang berada di luar negeri.

    Dalam penyelenggaraannya, Komisi Dakwah MUI bekerjasama dengan Masjid Al-Hikmah Den Haag Belanda serta Masyarakat Muslim Eropa.

    “Kegiatan ini memang sengaja kami selenggarakan dalam rangka MUI menyapa umat di luar negeri. Harapannya, walaupun kita berada di wilayah yang berbeda, tetapi tetap ada keterikatan emosional antara MUI dan teman – teman yahh ada di luar negeri,” pungkasnya. (Dhea Oktaviana/Angga)

  • 17 Sunnah Rasulullah SAW untuk Hidupkan Bulan Suci Ramadhan

    Oleh: Ustadz H Yendri Junaidi, Lc MA, Ketua Bidang Fatwa dan Hukum MUI Tanah Datar


    — Ramadhan merupakan bulan istimewa yang juga dimuliakan oleh Rasulullah, Muhammad SAW. Ada banyak tradisi atau sunnah yang dilakukan Rasulullah SAW selama Ramadhan. Sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW selama Ramadhan itu adalah:

    Pertama, mengakhirkan sahur
    عَنْ أَبِي حَازِمٍ أَنَّهُ سَمِعَ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ، يَقُولُ: كُنْتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهْلِي، ثُمَّ يَكُونُ سُرْعَةٌ بِيْ أَنْ أُدْرِكَ صَلاَةَ الفَجْرِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    Dari Abu Hazim, dia mendengar Sahal bin Sa’ad berkata, “Aku sahur bersama keluargaku, kemudian aku buru-buru menyelesaikannya untuk bisa dapat sholat Fajar (Subuh) berjamaah bersama Rasulullah SAW.” (HR Bukhari no 577)

    Kedua, sahurlah meskipun sedikit
    تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً “Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” (HR Bukhari 1923)
    عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
    Dari Amru bin al-‘Ash, Rasulullah SAW bersabda, “Beda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim 1096)

    Ketiga, mengajak teman makan sahur dan sahur dengan kurma
    قَالَ عِرْبَاض بْنُ سَارِيَة : دَعَانِي رَسُوْلُ اللهِ إِلَى السَّحُوْرِ فِى رَمَضَانَ فَقَالَ : هَلُمَّ إِلىَ هَذَا الْغَذَاءِ الْمُبَارَكِ
    ‘Irbadh bin Sariyah berkata, “Aku diajak Rasulullah SAW untuk sahur di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Mari nikmati makanan penuh berkah ini.” (HR Ahmad)
    نِعْمَ سُحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمَرُ “Sebaik-baik sahur adalah kurma.” (HR Abu Dawud)

    Keempat, mengurangi tidur dan banyak beristighfar
    كَانُوْا قَلِيْلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
    “Mereka sedikit tidur di malam hari. Di waktu sahur mereka beristighfar.” (QS Ad Dzariyat 17-18)

    Kelima, sholat sunnah Fajar dan sholat sunnah Syuruq
    كان الرسول صلى سنة الصبح ركعتين خفيفتين في بيته ثم يصلي الصبح جماعة ، ثم يجلس في المسجد يذكر الله تعالى حتى تطلع الشمس، فينتظر قرابة الثلث ساعة أو يزيد ثم يصلي ركعتين
    Nabi Muhammad SAW biasanya sholat sunnah Subuh dua rakaat yang ringan (singkat) di rumahnya. Kemudian beliau sholat Subuh berjamaah di masjid.
    Setelah itu duduk berdzikir sampai terbit matahari. Setelah menunggu sekitar sepertiga jam atau lebih sedikit beliau sholat dua rakaat (sholat sunat syuruq atau Dhuha).
    عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
    Dari Anas ra, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir sampai terbit matahari, lalu dia sholat dua rakaat, maka pahalanya sama seperti pahala haji dan umroh, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR At-Tirmidzi)


    Keenam, menjaga lidah selama puasa
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ سبحانه وتعالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
    Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Swt berfirman (hadits qudsi) : “Setiap amal anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa, itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa itu perisai (benteng). Apabila kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan bersuara keras (berteriak-teriak). Kalau ada yang mengajak bertengkar atau berdebat maka katakanlah: “Aku sedang puasa.” (HR Bukhari 1904)

    Ketujuh, berusaha untuk tetap puasa meski dalam perjalanan. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ، فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ (رواه البخاري رقم 1943)Dari Aisyah ra, Hamzah bin Amru al-Aslami bertanya pada Nabi SAW: “Apakah sebaiknya aku berpuasa dalam safar?” Hamzah adalah seorang yang hobi berpuasa. Nabi Saw menjawab: “Kalau mau silakan berpuasa, kalau mau silakan tidak berpuasa.” (HR Bukhari 1943)

    Kedelapan, lebih berfokus mengkaji Alquran
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi ketika bertemu Jibril. Jibril bertemu dengan Nabi setiap malam Ramadhan untuk mengkaji/mengulang (mudarasah) Alquran. Sungguh Rasulullah SAW lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (HR Bukhari 6)

    Kesembilan, memperbanyak sedekah
    عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : كُلٌّ امْرِئٍ فىِ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ ، قَالَ يَزِيْد : وَكَانَ أَبُو الْخَيْرِ لاَ يُخْطِئُهُ يَوْمٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ فِيْهِ بِشَيْءٍ وَلَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أَوْ كَذَا
    Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya sampai diputuskan perkara manusia.”

    Yazid berkata, “Abu al-Khair, tak pernah satu hari pun berlalu melainkan dia pasti bersedekah, walaupun hanya sepotong kue atau sebutir bawang dan semisalnya.” (HR Ahmad)

    Kesepuluh, memperbanyak berdoa
    ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ “Tiga doa yang tidak akan ditolak yaitu doa orang tua, doa orang berpuasa, dan doa musafir.” (HR Baihaqi)
    Kesebelas, konsisten dalam amal
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah SAW apabila mengerjakan sesuatu beliau konsisten (menetapinya). Apabila beliau tertidur di malam hari atau sakit beliau (menggantinya dengan) mengerjakan sholat sunnah dua belas rakaat di siang hari.” (HR Muslim 746)

    Keduabelas, menyegerakan berbuka
    عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْنَا : يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ، قَالَتْ: أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ؟ قَالَ : قُلْنَا عَبْدُ اللهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ قَالَتْ: كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    Dari Abu ‘Athiyyah, dia berkata: “Saya bersama Masruq datang menemui Sayyidah Aisyah. Kami berkata, “Wahai Ummul Mukminin, ada dua orang sahabat Nabi SAW yang pertama menyegerakan berbuka dan menyegerakan mengerjakan sholat. Yang kedua menunda buka dan menunda sholat.” Aisyah ra bertanya: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan sholat?” Kami menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” Ia berkata: “Demikian juga yang dilakukan Rasulullah SAW.” (HR Muslim)
    لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُوْدَ يُؤَخِّرُوْنَ “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Segerakanlah berbuka, karena orang-orang Yahudi sengaja melambatkannya.” (HR Ibnu Majah 1698)


    Ketiga belas, berbuka dengan kurma
    عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلىَ تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَّمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
    Dari Anas bin Malik ra, dia berkata: “Rasulullah SAW biasa berbuka dengan rutab (korma muda/basah) sebelum sholat Maghrib. Kalau tidak ada rutab maka beliau berbuka dengan tamar (kurma kering). Kalau tidak ada maka beliau berbuka dengan minum beberapa teguk air.”
    Keempat belas memberi hidangan berbuka orang berpuasa
    عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membukakan (memberikan perbukaan) orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala puasanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun.” (HR Tirimidzi 807)
    Kelima belas, qiyam Ramadhan
    إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Sesungguhnya orang yang qiyam bersama imam sampai imam pulang maka itu ditulis seolah-olah qiyam semalam penuh.” (HR Tirmidzi)

    Ini yang disabdakan Nabi SAW untuk umatnya. Adapun untuk beliau sendiri sebagai berikut:
    كان إذا انتهى من الصلاة نام قبل أن يصلي الوتر، فتسأله عائشة رضي الله عنها : يا رسول الله أتنام قبل أن توتر؟ قال: يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي
    Nabi SAW kalau selesai sholat tarawih beliau tidur sebelum sholat witir. Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, engkau tidur sebelum mengerjakan witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tak pernah tidur.”

    Keenam belas, memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir
    قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
    Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW bersungguh-sungguh melakukan ibadah di sepuluh terakhir melebihi malam-malam lainnya.” (HR Muslim)
    وقَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
    Aisyah juga berkata, “Ketika masuk sepuluh terakir, Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan seluruh malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 2024)

    Ketujuh belas, itikaf di sepuluh hari terakhir
    إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ، أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ، ثُمَّ أُتِيتُ، فَقِيلَ لِي: إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَه
    “Sesungguhnya aku itikaf di sepuluh pertama Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar. Setelah itu aku juga itikaf di sepuluh kedua (pertengahan). Kemudian aku diberi tahu bahwa Lailatul Qadar itu di sepuluh terakhir. Maka siapa yang ingin itikaf maka lakukanlah.” Akhirnya banyak orang yang itikaf bersama Nabi SAW.” (HR Muslim 1167).

  • Keutamaan Syaban dan Amalan-Amalan yang Dianjurkan

    JAKARTA— Syaban merupakan salah satu bulan yang mulia karena itu Rasulullah SAW senantiasa berdoa agar senantiasa diberkahi pada bulan ini dan juga Rajab, serta dipertemukan kembali dengan Ramadhan.

    Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indondesia (MUI), Ustadz Dr Candra Krisna Jaya, mengungkapkan keutamaan Syaban dan tiga amalan yang bisa dilakukan umat Islam selama Syaban.

    Ustadz Candra, sapaan akrabnya, mengatakan, keutamaan Syaban sangat luar biasa. Hal ini seperti hadits mashur yang banyak diketahui. Dalam hadits tersebut Nabi Muhammad SAW menjelaskan:
    للَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان
    Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa balighna Ramadhana.
    Artinya, “Ya Allah, berkailah umur kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga Ramadhan.”

    “Maka kalau kita lihat, fadilah Syaban ini kalau menurut riwayat literatur yang kita temukan. Bahwa memang beda antara Syaban dengan bulan-bulan lainnya, di antaranya bahwa Nabi kita Muhammad SAW paling banyak berpuasa pada Syaban,’’ kata Ustad Candra, saat berbincang dengan MUIdigital, Kamis (17/37/2022).

    Untuk itu, kata Ustadz Candra, salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada Syaban ini adalah berpuasa. Dalam berbagai Riwayat yang ditemukan, Ustadz Candra mengatakan, bahwa Nabi SAW banyak sekali melakukan puasa Syaban, selain berpuasa pada Ramadhan.

    Ustadz Candra menjelaskan, berpuasa Syaban ini bisa juga dianggap sebagai sarana latihan berpuasa agar tidak kaget dengan rutinitas berpuasa Ramadhan.

    “Yang sebenarnya (apabila) kita juga rajin (berpuasa) Senin-Kamis, Insya Allah kita tidak akan terkejut nanti ketika Ramadhan. Maka dari itu, kita bisa ambil hikmah keutamaannya dari Syaban ini adalah bulan ibadah. Selain dari Ramadhan, selain perbanyak ibadah, perbanyak puasa, dan juga memperbanyak amal-amal saleh yang banyak,’’ tuturnya.

    Lebih lanjut, berdasarkan kitab-kitab hadits, kata dia, amalan yang paling utama yang dilakukan umat Islam pada Syaban saat ini juga adalah berpuasa. ‘’Karena sejatinya memang puasa itu, menahan diri dari hawa nafsu dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Maka ketika dia berpuasa, maka dia terjaga dari sifat-sifat dan perilaku yang dimurkai Allah,’’ sambungnya.

    Ustadz Candra menambahkan, amalan selain berpuasa yang bisa dilakukan umat Islam pada Syaban ini adalah memperbanyak dzikir, dan membaca Alquran. Menurutnya, amalan berpuasa, memperbanyak dzikir, dan membaca Alquran merupakan amalan pada Syaban yang juga dilakuka para ulama.

    “Mulai dari sahabat, bahkan para masyayikh yang ada di Makkah ketika Ramadhan menjadikan bulan itu sebagai syahrul quran, yang artinya selama Syaban itu kita memperbanyak berinteraksi dengan Alquran. Lebih intens lagi dari segi kuantitas dan kualitas kita dengan Alquran pada Syaban ini dibanding dengan bulan-bulan lainnya,’’ tutur di. (Sadam Al-Ghifari, Ed: Nashih)

  • Hikmah di Balik Pengabadian Aneka Buah dan Tumbuhan dalam Alquran

    Ayat yang menelaah khasiat obat yang terkandung dalam aneka macam tumbuhan (farmakognosi) banyak dijumpai dalam Alquran. Terdapat perbedaan pendapat tentang jumlah ayat farmakognosi dalam Alquran.

    Meski sekurang-kurangnya terdapat 750 ayat yang menyebut aneka tumbuhan, ayat farmakognosi termasuk ke dalam ayat kauniyah karena memahami manfaat pengobatan dalam tumbuhan membutuhkan riset ilmu pengetahuan.

    Berbeda dengan Barat, riset ilmu sains farmakognosi dalam Islam tidak bebas nilai (value-laden), terdapat syariah sebagai basis nilai dasar kemanusiaan yang membingkainya. Karena sejatinya ilmu pengetahuan dalam Islam dipahami sebagai suatu produk pemahaman atas wahyu Tuhan yang didukung oleh agama dan diperkuat dengan akal-instuitif manusia.

    Dalam bukunya dengan tajuk “Tumbuhan Obat dalam Al-Quran”, seorang Sarjana Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Karyanto, menguraikan 23 jenis tumbuhan yang disebutkan secara leksikal dalam ayat Alquran, diantaranya al-mann (Al-Baqarah: 57, Al-A’raf: 160, dan Thaahaa: 80-81).

    Kemudian basal atau bawang merah, fum atau bawang putih, qiththa atau mentimun dan adas atau kacang (Al-Baqarah: 61), inab atau anggur (Al-An’am: 99, Ar-ra’d: 4), nakhl atau kurma (An-Nahl: 16, Al-Kahfi: 32), rumman atau delima (Al-An’am: 141, Ar-Rahman: 68), zaitun (Al-Mu’minun: 20, At-Tin: 1).

    Selanjutnya adalah, zaqqum (Ash-Shaffat: 62-68, Al-Waqiah: 52-55), khardal atau rai (Al-Anbiyaa: 41, Luqman: 16), Sidr atau bidara, khamt atau siwak dan athl (Saba’: 16), yaqtin atau labu (Ash-Shaffat: 146), rayhan atau kemangi (Ar-Rahman: 26, Al-Waqiah: 89).

    Sementara itu, ada pula ward atau mawar (Ar-Rahman: 37). Talh atau pisang (Al-Waqiah: 29), kafur (Al-Insan: 5), zan jabil atau jahe (Al-Insan: 17), buah tin (At-Tin: 1), dhari (Al-Gahsiyah: 6-7), dan tuba (Ar-ra’d: 29).

    Ada banyak sekali khasiat obat dalam buah dan tumbuhan yang diuraikan di atas. Salah satunya adalah khasiat basal atau bawang merah yang dapat memperkuat lambung, membangkitkan ghairah, memperbanyak hormone, menghaluskan kulit, menghilangkan dahak serta membersikan lambung.

    Juga pisang dengan kandungan vitamin C, B1, B2, B6, B12, bisa menghilangkan sesak dada, gangguan paru-paru, batuk, kolestrol, luka ginjal bahkan kandung kencing yang memperlancar buang air kecil (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2004: 354-355).

    Dengan mentafakuri ayat-ayat kauniyah, kita tentu menyadari bahwa semua ciptaan Tuhan di dunia merupakan rahmat besar dari-Nya. Tuhan sendiri telah membekali manusia dengan kondosi ontis yang sempurna dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain sebagai modal untuk menguak tanda-tanda kebesaran-Nya.

    Kondisi kemanusiaan itu menuntut kita untuk selalu bertafakkur tentang ciptaan-Nya, Alquran merepresentasikan itu dengan tokoh ulil albab yang senantiasa berdzikir dan berfikir sebagai pedoman hidupnya.
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

    الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran ayat 190-191). (A Fahrur Rozi/ Nashih).

  • Rahasia di Balik Pengulangan Ayat-Ayat Alquran

    Salah satu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada manusia yaitu kemampuan untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Karenanya, isyarat mengenai komunikasi tersebut dapat dilihat pada surat Ar Rahman ayat 4:

    عَلَّمَهُ الْبَيَانَ “Mengajarnya pandai berbicara.”
    Dalam Alquran, Allah SWT menggunakan beberapa pola komunikasi. Informasi yang disampaikan berulang-ulang menjadi salah satu di antara pola komunikasi yang diajarkan-Nya.

    Adapun adanya pengulangan pada suatu ayat memiliki maksud dan tujuan tertentu. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-Karîm menyebutkan para ulama tafsir hampir sepakat menyatakan dalam setiap pengulangan kata pada Alquran pasti memiliki makna yang sedikit atau banyak berbeda dengan kata yang diulang tersebut.

    Penjelasan para ulama mengenai hikmah pada pengulangan tersebut bersifat ijtihadi. Karenanya apabila terdapat beberapa perbedaan, maka dimungkinkan karena perbedaan sudut pandang yang digunakan.
    Menurut Syekh Muhammad bin Salih dalam Tafsir Juz ‘Amma terdapat beberapa hikmah pengulangan ayat atau kalimat dalam Alquran, di antaranya yaitu:

    a. Penjelasan mengenai urgensi masalah
    Pengulangan yang terjadi pada konteks ini menunjukkan bahwa masalah tersebut sangatlah penting, sebagaimana halnya pengulangan dalam surat Ar Rahman.

    Para ulama berpendapat mengenai rahasia pengulangan dalam surat Ar Rahman yaitu dikarenakan betapa pentingnya menampakkan aneka nikmat Allah SWT yang sangat melimpah bahkan tidak akan pernah sanggup dihitung dalam kehidupan manusia.

    Dalam al-Mizan, at-Thabathabai menjelaskan adanya pengulangan ayat dalam surat tersebut mengandung isyarat mengenai ciptaan Allah SWT yang sekian banyak bagian-bagiannya. Ciptaan tersebut terbentang di langit dan bumi, darat dan laut, bahkan manusia dan jin.

    Allah SWT pula yang mengatur segala hal tersebut berada pada satu pengaturan yang bermanfaat bagi golongan manusia dan jin. Karenanya, kemanfaatan tersebut akan tetal berlaku di dunia maupun di akhirat kelak.

    Pendapat yang hampir sama dinyatakan oleh al-Biqa’i dalam Nazmud-Durar bahwa rahasia adanya pengulangan ayat dalam surat Ar Rahman adalah menetapkan bahwa Allah SWT menyandang sifat rahmat yang tercurah kepada semua makhluk tanpa kecuali.

    Dari sini dapat dilihat pula bahwa nama Ar Rahman memiliki makna keluasan anugerah dan ketercakupannya bagi semua ciptaan-Nya.

    b. Agar pesan yang disampaikan lebih meresap ke dalam hati manusia
    Pengulangan dalam Alquran baik itu secara redaksi atau masalah bertujuan agar manusia lebih mampu meresapi kandungan maknanya. Seperti dalam surat Al Fatihah, pada ayat pertama berbunyi:

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ “Dengan nama Allah Yang Mahapengasih, Mahapenyayang.”
    Lalu pada ayat ketiga terdapat penggulangan lafaz yang sama dengan ayat pertama yaitu:

    الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ “Yang Mahapengasih, Mahapenyayang.”

    Pengulangan ayat di atas hanya terjadi pada redaksinya saja, namun tidak terjadi pengulangan pada hakikat maknanya. Sehingga pengulangan di atas bertujuan agar manusia lebih dapat meresapi mengenai betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia.

    Mengutip pendapat dari Rasyid Rida dalam Tafsir al-Manar menyebutkan bahwa pada ayat ketiga surat Al Fatihah menjelaskan mengenai rahmat dan kasih sayang Allah SWT dalam pemeliharaan dan pedidikan-Nya.

    Sedangkan dalam ayat pertama bertujuan untuk menjelaskan bahwa surat tersebut turun membawa rahmat Allah SWT. Karenanya meskipun redaksi pada ayat tersebut diulang ataupun sama, namun memiliki makna yang berbeda.

    Pendapat di atas diperkuat dengan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Qur’an al-Karim yang menyebutkan bahwa Ar Rahman dan Ar Rahim pada ayat ketiga surat Al Fatihah bukan pengulangan ayat pertama dari sisi substansi maknanya.

    Pengulangan tersebut untuk menekankan bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah SWT yang disebut pada ayat kedua bukan untuk kepentingan Allah SWT atau menginginkan pamrih sebagaimana sifat yang dimiliki oleh makhluk-Nya.

    Pendidikan dan pemeliharaan tersebut semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT yang dicurahkan kepada para makhluk ciptaan-Nya.

    c. Menunjukkan kebenaran bahwa Alquran merupakan wahyu yang berasal dari Allah SWT.

    Terdapat beberapa hal yang diulang dalam Alquran, khususnya yang berkaitan dengan kisah. Pengulangan dalam satu kisah menggunakan redaksi yang berbeda dan tidak ada kontroversi di dalamnya.

    Syekh Muhammad bin Salih berpendapat dalam Tafsir Juz ‘Amma bahwa hal ini sangat mustahil dapat dilakukan oleh manusia, kecuali bagi Yang Mahamengetahui.

    Seperti pada kisah Nabi Musa yang terdapat pada surat Thaha ayat 9-14, khususnya dalam kalimat wâdi thuwâ pada ayat ke 12 surat Thaha:
    اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ
    “Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”

    Kisah di atas berulang dalam surat An Naml ayat 7-12. Pengulangan tersebut, meskipun masih pada pembahasan mengenai kehidupan Nabi Musa, namun berbeda dalam pemaparannya.

    Salah satu perbedaan tersebut dapat dilihat pada surat Thaha khususnya ayat 11-12 yang menunjukkan bahwa Nabi Musa tengah berada di tempat yang diberkahi, karenanya Allah meminta dia untuk melepaskan sandalnya. Wallahu’alam (Isyatami Aulia/ Nashih)

  • MUI Sulteng Ajak Ormas Islam Bersatu Entaskan Buta Aksara


    PALU— Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tengah mengajak seluruh organisasi masyarakat Islam, agar bersatu membantu pemerintah mengentaskan buta aksara khususnya baca dan tulis Alquran.

    Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tengah(Sulteng), Prof H Sagaf S Pettalongi, merespons pernyataan Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komjen Pol (Purn) Syafruddin, yang mengingatkan sebanyak 65 persen umat Islam di Tanah Air tidak bisa membaca Alquran.

    “Apa yang disampaikan Dewan Masjid Indonesia mengenai banyaknya umat Islam yang tidak bisa membaca dan menulis Alquran, ini menjadi tantangan besar di negara yang mayoritas Muslim,” kata Prof Sagaf Pettalongi, sebagaimana dikutip MUIDigital dari Antara, Kamis (27/1/2022).

    Prof Sagaf yang juga Rektor UIN Palu menilai, jika pernyataan Waketum DMI tersebut benar adanya, tentu menjadi keprihatinan bagi semua ormas Islam.

    “Sejatinya Alquran sebagai kitab suci umat Islam haruslah bisa dipahami dan dimengerti serta diamalkan, karena merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Tetapi jika umat Islam sendiri masih banyak yang belum bisa membaca Alquran, maka seluruh komponen masyarakat Islam perlu saling bersinergi untuk menangani hal kondisi itu,” katanya.

    “Kondisi ini harus dituntaskan dengan program-program produktif, yang dilaksanakan secara sistematis dan masif di semua masjid. Maka, masjid harus dioptimalkan fungsinya sebagai pusat pendidikan dan perubahan,” ujarnya.

    Sinergi program antar-organisasi, menurut dia, menjadi kunci optimalisasi pembinaan terhadap masyarakat dan generasi muda di segala penjuru. Di satu sisi, menurut dia, rumah tangga atau orang tua, juga perlu mendorong anak-anaknya untuk menimbailmu-ilmu agama, minimal belajar membaca dan menulis Alquran.

    “Proses pembentukan mental, intelektual, dan keterampilan, pertama dilalui oleh manusia adalah di tingkat rumah tangga. Orang tua lah menjadi motor penggeraknya,” sebutnya.

    “Generasi muda menjadi sasaran dalam pengembangan kapasitas. Hal ini, sebagai bentuk upaya penyeimbangan perkembangan zaman, sehingga generasi muda meskipun terbawa dalam arus modernisasi, tetapi tetap memiliki kompetensi intelektual, keterampilan yang berciri Islam,” sebutnya.

    Wilayah Kabupaten Sigi, Donggala dan Kota Palu, menjadi wilayah sasaran pengembangan kapasitas masyarakat, yang dilakukan secara berkelanjutan.
    “MUI Sulteng tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan lembaga dan instansi apapun, dalam pengembangan kapasitas masyarakat, yang disesuaikan dengan fokus peran masing-masing,” kata Prof Sagaf.

    Angka keaksaraan (buta aksara) Sulteng saat ini sudah mencapai 3,11 persen. Pemprov Sulteng lewat visi gerak cepat Sulteng lebih maju dan sejahtera, memprioritaskan pembangunan manusia lewat visi percepatan pembangunan sumber daya manusia. (Antara/ Nashih)

  • 5 Adab Membaca Alquran, dari Kebersihan Jasmani Hingga Rohani

    Alquran adalah kalam Allah ﷻ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara malaikat Jibril. Kitab suci utama dalam agama islam ini yang dijadikan pedoman dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, terdiri dari beberapa surat dan pada setiap surat nya terdiri dari beberapa ayat.

    Menurut guru besar ilmu tafsir di Universitas Umm Al-Qura Arab Saudi, Prof Muhammad Ali ash-Shabuni, Alquran didefinisikan sebagai firman dari Allah ﷻ yang tidak ada tandingannya, diturunkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ yang merupakan penutup para nabi dan rasul melalui perantara malaikat Jibril. Alquran ditulis pada mushaf-mushaf dan lalu disampaikan kepada kita penerus umat secara mutawatir. Sementara itu, membaca, dan memahami Alquran bernilai ibadah.

    Alquran memiliki kebenaran secara mutlak, kebenarannya tidak perlu diragukan lagi oleh orang-orang yang beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir. Kitab Alquran merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, ilmu dalam mempelajari Alquran adalah sebaik-baiknya ilmu dan lebih diutamakan dibanding ilmu yang lain. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:
    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
    “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

    Adapun sebagai seorang Muslim yang baik, sebelum membaca atau bahkan mempelajari Alquran sangat perlu dalam memperhatikan adab-adabnya. Apa saja adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim untuk mendapatkan kesempurnaan dalam membaca Alquran ? Berikut ini adab-adabnya

    1. Memulai membaca Alquran dengan isti’adzah.
      Kalimat isti’adzah atau taawudz merupakan sebuah doa untuk memohon penjagaan dan perlindungan dari godaan setan. Allah ﷻ berfirman:
      فَاِ ذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰ نَ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
      “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Alquran , mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl ayat 98)
    2. Membaca Alquran dalam keadaan suci, duduk dengan sopan dan tenang.
      Ketika membaca Alquran seorang Muslim dianjurkan dalam keadaan suci dari najis Baik itu badan, pakaian, maupun tempat membaca Alquran harus terbebas dari najis. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
      لَّا يَمَسُّهٗۤ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ
      “tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.” (QS Al Waqiah ayat 79)
      Selain itu, walaupun membaca Alquran dengan berdiri atau berbaring tetap mendapatkan pahala, akan tetapi adab duduk dengan sopan dan tenang lebih utama.
    3. Membaca dengan tartil
      Membaca dengan tartil (pelan) dan tidak terburu-buru, agar dapat menghayati setiap ayat yang dibaca. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
      اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰ نَ تَرْتِيْلًا
      “atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS Al Muzzammil ayat 4)
    4. Membaca Alquran dengan khusyuk, dengan menangis karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca sehingga dapat menyentuh jiwa dan perasaan, serta membaguskan suara ketika membaca Alquran .
    5. Membaca Alquran dengan tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah, seperti contohnya tidak mengganggu yang sedang shalat, serta tidak membacanya dengan suara yang terlalu keras atau ditempat yang banyak orang. Bacalah Alquran dengan suara yang lirih dan khusyu’. Rasulullah ﷺ bersabda:
      أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ
      “Ingatlah bahwasannya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Alquran ) atau ketika dalam sholat.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi, dan Hakim).
      Adab-adab tersebut merupakan patokan bagi seorang Muslim untuk mendapatkan kesempurnaan dalam membaca Alquran . Dengan demikian, diharapkan agar setiap Muslim selalu menjaga adabnya dalam mempelajari ataupun membaca kitab suci Alquran . Dimana kitab suci ini merupakan petunjuk bagi seluruh manusia untuk menempuh jalan kebenaran yang akan membawa kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
      (Abi Rachman A.P/ Nashih)
  • Imam Asy Syathibi, Pakar Alquran yang Tunanetra Sejak Kecil

    Allah ﷻ menciptakan manusia dengan berbagai kenikmatan, salah satunya yaitu penglihatan. Namun justru nikmat yang besar itulah kadang jarang disadari oleh manusia.

    Allah ﷻ telah memberikan peringatan dengan firman-Nya bagi siapa yang bersyukur maka akan ditambah kenikmatan dari-Nya. Sedangkan bagi siapa yang mengingkarinya, maka tak lain akan mendapatkan azab yang pedih, firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:
    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
    “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

    Namun, tidak semua manusia diberikan kenikmatan yang lengkap, di antaranya yaitu kenikmatan penglihatan. Hal tersebut bukan berarti Allah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Akan tetapi yang demikian merupakan salah satu cobaan dan bentuk kasih sayang-Nya.

    Salah satu ulama yang lahir dalam keadaan tunanetra yaitu Imam Asy Syathibi Al Andalusi. Meskipun terlahir dengan keadaan tidak bisa melihat, dia dikenal sebagai seorang ulama besar dalam bidang ilmu qiraat pada zamannya.

    Imam Asy Syathibi memiliki nama lengkap Abu Al Qasim bin Fîrruh bin Khallaf bin Ahmad Asy Syathibi Ar Ru’aini. Asy Syathibi lahir di kota Xativa (Syathibah) Spanyol, sebuah kota di Andalusia di pengujung 538 H/1143 M.

    Ia wafat di Mesir pada hari ahad setelah sholat ashar, 28 Jumadil Akhir tahun 590 H di usia 52 tahun. Ia disemayamkan di pemakaman Al Fadhil Abdurrahman Al Bisani, tepatnya di kaki gunung Al Muqatam, Mesir.

    Dalam kitab Nakt Al-Himyan fi Nukat Al-‘Umyan karya Salahuddin Khalil Ash Shafadi merupakan kitab yang khusus membahas mengenai kelebihan orang-orang hebat dan terkenal namun tunanetra. Salah satu tokoh ulama yang ia sebutkan yaitu Imam Asy Syathibi.

    As Shafadi dalam kitabnya menyebutkan bahwa kebanyakan orang tunanetra mempunyai kecerdasan di atas rata-rata orang pada umumnya. Menurutnya, mempunyai kemampuan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan orang normal sehingga mereka memiliki tingkat fokus yang maksimal melebihi orang lain pada umumnya.

    Perjalanan intelektual
    Dalam bidang keilmuan, Asy Syathibi tak hanya pakar dalam ilmu qiraat, beliau juga menguasai berbagai disiplin ilmu seperti keislaman, tafsir, hadis, dan sastra Arab.

    Dalam kitab Tarikh al-Islam wa Wafiyat al-Masyahir wa al-A’lam, Imam Adz Dzahabi menyifati Asy Syathibi dengan berbagai macam gelar di antaranya, imam yang sangat alim, muhaqqiq yang cerdas dan jeli, kuat hafalannya, berpengetahuan luas, ahli dalam bidang qiraat dan hujjah-hujjahnya, serta seorang panutan, zuhud, ahli ibadah yang taat kepada Tuhannya.

    Pada awalnya ia belajar ilmu qiraat di kepada Abu Abdillah Muhammad bin Abul ‘As An Nafari di negerinya sendiri. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada Imam Abu ‘Amr Ad Dany, seorang ulama besar penulis kitab tentang qiraat saba’ah yaitu at-Taisîr fi Sab’i al-Qirâ’ât, yang sebelumnya telah ia hafal, di Kota Balansia.

    Tak hanya itu, beliau juga berguru dan mendengar periwayatan hadis dari Imam Abu Al Hasan Hudzail. Ia juga belajar kepada Abu Al Hasan Al Nikmah, Abu Abdillah bin Sa’adah, Abu Hasan Alinim Hani Al Umari, Abu Muhammad bin Asyir Abu Abdillah bin Abdurrahim, Alim bin Abdul Aziz dan Abu Abdillah bin Hamid dan masih banyak lagi guru beliau baik dari Spanyol, Mesir hingga Makkah.

    Karya-karya

    Salah satu kontribusi besar Asy Syathibi yaitu karya-karyanya yang mampu memudahkan para pengaji ilmu qiraat Alquran. Karya-karyanya tersebut diapresiasi dan terus dipelajari baik oleh generasi pada masanya maupun sesudahnya.

    Kitab Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani fi al-Qira’at al-Sab’i yang lebih masyhur dengan matan Asy Syathibi merupakan salah satu karyanya yang paling monumental hingga kini dalam bidang ilmu Qiraat. Ia merampungkan kitab tersebut saat menjadi guru besar qiraat pada Madrasah tempatnya mengajar di kawasan Mulukhia, Kairo, Mesir.

    Di sana pula, ia berhasil menyelesaikan karyanya yang lain seperti ‘Aqilatu Atrabil Qasâid fi Asnal Maqâsid, Nâzimatuz Zahr, serta ringkasan kitab at-Tahmid (Syarh al-Muwatha’).

    Karenanya tak heran jika para ulama memberikan banyak perhatian terhadap karyanya yang fenomenal yaitu matan Asy Syathibi, hingga Imam Al Jazari berkomentar dalam kitabnya Ghayat al-Nihayat fi Thabaqat al-Qurra’, mengenai kitab tersebut:

    “Barangsiapa yang mempelajari qashidah Imam Asy Syatibi ini, maka ia akan tahu kadar anugerah yang Allah berikan kepadanya. Terlebih, qashidah al-Lamiyah (matan Syatibi) yang banyak para pakar sastra setelahnya bahkan tidak mampu menandinginya. Kitab ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dan sangat terkenal, sehingga saya tidak tahu selain kitab ini.
    Bahkan (hampir saya mengatakan) selain disiplin ilmu ini tidak ada yang seterkenal kitab ini, saya setiap Negara pasti akan ditemukan naskah kitab ini, bahkah disetiap rumah para penuntut ilmu pasti ada naskah kitab ini.”

    Kehidupan yang sangat sederhana menjadikan Imam Asy Syathibi mengabdikan seluruh hidupnya untuk keilmuan khususnya dalam bidang qiraat. Ia selalu dalam keadaan suci sepanjang waktu, jikalau berhadas segera mengambil air wudhu.

    Tak hanya itu, ia dikenal seorang yang pendiam dan hanya berbicara untuk persoalan penting saja terutama dalam bidang ilmu. Tidak heran kalau Asy Syathibi dianggap sebagai wali Allah ﷻ oleh para muridnya.

    Kendati tidak dikaruniai penglihatan oleh Allah ﷻ, namun Imam Asy Syathibi membuktikan bahwa tingkat kualitas diri tergantung pada manusia tersebut. Apakah ia mau menggali dalam serta luasnya ilmu Allah ﷻdengan segala karunia yang telah diberikan-Nya.

    Kelebihan tidak menjadi penghalang, justru menjadi ladang rahmat yang Allah ﷻ berikan bagi hamba-Nya. Rasa syukurlah yang menjadikan setiap rahmat dan karunia Allah terus ditambahkan hingga melampaui kekurangan yang dimiliki. Wallahu’alam. (Isyatami Aulia/ Nashih).

  • Ar-Rahman

    Ar-Rahman

    Siapakah dia yang sifat kasih sayangnya begitu sempurna? Mulanya penduduk Mekkah tidak mengenal siapa itu ar-Rahman.

    Sebagaimana terukir dalam surat al-Furqon ayat ke 60, Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Sujudlah kepada ar-Rahman,” mereka menjawab : Siapakah ar-Rahman itu?”

    Alquran sendiri kemudian dalam beberapa kali kesempatan, seperti pada surat Al-Isra ayat 110, menggunakan kata ar-Rahman sebagai kata ganti Allah sebagai dzat yang disembah. Bahkan dalam az-zukhruf ayat 45 ditegaskan bahwa rosul-rosul pun menyeru untuk menyembah ar-Rahman (Allah yang Maha Pemurah).

    Ar-Rahman. Dialah dzat yang mengajarkan alquran. Demikian dua ayat pertama dari surat yang menurut riwayat al-Baihaqi dijuluki sebagai pengantin alquran karena keindahannya. Pertanyaannya yang kemudian muncul kenapa Allah atau ar-Rahman mensifati dirinya sebagai dzat yang mengajarkan alquran dengan nama Ar-Rahman, bukan dengan nama-nama yang lain?

    Mengomentari hal ini, sahabat Ali k.w. menuturkan bahwa semulia-mulia pelajaran adalah pelajaran Alquran. Semulia-mulai pengajar adalah orang yang mengajarkan alquran. Semulia-mulia pelajar adalah pelajar yang mempelajari alquran. Semulia-mulia majlis adalah yang di dalamnya terdapat pengejaran alquran.

    Sahabat Ibnu Abbas r.a. suatu ketika pernah ditanya oleh seorang arab badui tentang seberapa sering ia menghatamkan alquran.
    “Wahai ibnu Abbas, berapa kali engkau menghatamkan Alquran?”
    Beliau tidak langsung menjawab, malah bertanya balik kepada si penanya.

    “Apa yang engkau maksud dengan menghatamkan alquran? Apakah menghatamkan bacaannya? Ataukah memahami maknanya? ataukah mengamalkannya? ”

    Setelah beliau melihat si penanya kebingungan, beliau pun menjawab. “Kalau yang kau maksud adalah menghatamkan alquran dalam artian membaca, dalam satu minggu aku bisa menghatamkan delapan kali. Kalau yang kau maksud adalah memahami maknanya, aku baru tiga kali. Kalau yang kau maksud adalah mengamalkan, Aku baru sampai ayat kelima.”

    Dengan alquran sebagai panduan, seharusnya seorang muslim berakhlak yang baik -akhlaqul karimah. Karena ketika berinteraksi dengan alquran kita akan mendapati bahwa ayat-ayat tentang kasih sayang Allah jauh lebih banyak dari pada ayat-ayat tentang ancamanNya. Bukankah RahmatNya mencakup segala sesuatu?

    Bukankah rahmatNya senantiasa mendahului murkaNya? Bukankah rosul diutus untuk menyempurnakan akhlaq? Bukankah akhlaq beliau yang kita jadikan sebagai teladan adalah alquran sehingga beliau dijuluki alquran yang berjalan?

    Sekarang mari kita bertanya pada diri kita dimana posisi kita dalam berinteraksi dengan alquran? Sudah berapa kali kita khatam alquran, meski untuk sekedar membacanya saja? Atau alquran yang ada di rumah kita sudah berdebu dan kusam karena jarang kita sentuh?

    Ataukah hidup kita saat ini jauh dari tuntunan-tuntunan ilahi yang dihadirkan dalam alquran? (Jamaluddin Rosyidi)

    sumber: http://www.insancendekia.org/grak/263-ar-rahman