Tag: Fauzi Abbas

  • Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Ziarah ke Makam Syekh Abbas Abdullah, Imam Jihad Sumatera Tengah

    Jika ada pertanyaan, siapa ulama asal Minangkabau yang dihormati Bung Karno? Barangkali, Syekh Abbas Abdullah adalah salah satu jawabannya. Imam Jihad Sumatera Tengah, pentolan Madrasyah Sumatera Thawalib dan pemimpin Darul Funun El-Abbasiyah ini, tidak sekadar memberi peci tinggi untuk Bung Karno. Tapi, juga menitip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Indonesia. Seperti apa sosok Syekh Abbas?

    Matahari sudah condong ke barat saat Padang Ekspres bersama sastrawan peraih penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, Gus tf Sakai, serta sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, Adri Sandra, berziarah ke makam Syekh Abbas Abdullah. Makam ulama besar ini terletak di kawasan Puncakbakuang, Jorong Padangjapang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota.

    Makam Syekh Abbas berada di dekat makam ayah kandungnya, Syekh Abdullah, lebih awal tercatat sebagai ulama besar di Ranah Minang. Selain makam sang ayah, di samping makam Syekh Abbas terdapat makam dua kakaknya, yakni Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Muhammad Shalih. Kemudian, juga ada makam putra kandung Syekh Abbas, yakni H Fauzi Abbas.

    ”Totalnya, ada lima makam di sini. Yang paling kanan, makam Syekh Abbas,” kata Faisal El-Abbasy, cicit Syekh Abbas yang menyambut hangat kedatangan kami. Sayangnya, Faisal yang saat itu didampingi seorang mualaf asal Timor Leste tidak mau banyak bercerita soal sejarah hidup kakek buyutnya.

    ”Saya takut salah-salah memberi keterangan. Apalagi untuk tulisan sejarah. Mungkin lebih baik menghubungi paman saya, Dr Afifi Fauzi Abbas, dosen IAIN Bukittinggi. Beliau, selain cucu Syekh Abbas, juga dipercaya sebagai ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Syekh Abbas,” saran Faisal.

    Saran serupa disampaikan sastrawan Adri Sandra yang asli putra Padangjapang. ”Kalau mau menulis soal Syekh Abbas, mungkin Dr Afifi bisa menjelaskan yang juga adalah pimpinan Darul Funul El-Abbasiyah saat ini.

    Meski sempat ngopi di rumah alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, tapi kami tidak sempat bercerita panjang soal Syekh Abbas karena Maghrib sudah datang menjelang. Walau begitu, bukan berarti riwayat hidup Syekh Abbas tidak bisa digali. Karena berjarak beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu (2/6), Padang Ekspres bertemu dengan Dr Afifi Fauzi Abbas di kawasan Tarok, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.

    Ulama Pembaharu

    Dr Afifi yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, lumayan luas mengetahui sejarah hidup Syekh Abbas. Kakeknya itu, menurut Afifi, lahir pada 1883 Masehi dan wafat pada 1957, dalam usia 74 tahun. ”Tentang riwayat hidup Syekh Abbas, sudah banyak yang menulisnya. Yang paling komplit itu, tulisan Fachrul Rasyid HF dan Adi Bermasa,” kata Dr Afifi, sambil menyebut nama dua wartawan senior Sumbar.

    Bagi Dr Afifi, Syekh Abbas adalah sosok ulama pembaharu di Ranah Minang. Meski lahir dari lingkungan Islam tradisional, karena ayahnya Syekh Abdullah, serta saudara lelakinya Syekh Mustafa dan Syekh Muhammad Shalih, merupakan ulama tariqat. Namun, Syekh Abbas yang pernah berguru kepada Syekh Khatib Kumango dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, memiliki pandangan lebih moderat.

    ”Syekh Abbas dengan pengalamannya menimba ilmu agama di Mekkah dan Mesir, serta melihat pola pendidikan Islam di Timor Tengah, termasuk pernah ke Iran, berhasil mengubah pola pendidikan Islam di Minangkabau. Dari sistem pendidikan halaqah (guru duduk mengelilingi murid) menjadi sistem klasikal atau madrasah seperti kita temui sekarang ini,” kata Dr Afifi Abbas.

    Hal ini juga dibenarkan Profesor Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang. Dalam diskusi terbatas dengan Padang Ekspres, Mestika menyebut, kepeloporan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau, ditandai dalam dua gelombang. Ada gelombang pembaharuan awal abad 19. Kemudian, ada pula gelombang pembaharuan awal abad 20.

    ”Generasi pertama dalam gelombang pembaharuan Islam awal abad 19, dipelopori tiga haji dalam Perang Paderi. Yakni, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka disebut berasal dari kelompok Wahabi. Tapi, saya lebih suka menyebut mereka dari kelompok puritan,” kata Mestika.

    Sedangkan bibit akhir dari generasi pembaharuan Islam awal abad 19 di Minangkabau itu, menurut Mestika Zed, sentranya berada di Padangjapang Limapuluh Kota. Yakni, di Perguruan Darul Funul El-Abbasiyah yang dipimpin Syekh Abbas sebagai kelanjutan dari surau yang didirikan ayahnya. ”Jadi Padangjapang dan Syekh Abbas itu memiliki peran penting dalam pembaharuan Islam di Minangkabau,” tukas Mestika.

    Disegani Bung Karno

    Peran Syekh Abbas Abdullah sebagai ulama pembaharu di Minangkabau diketahui oleh Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Buktinya, jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan bersama Drs Mohammad Hatta yang merupakan cucu dari Syekh Abdurrahman (ulama ini juga berasal dari Limapuluh Kota, red), Bung Karno pernah secara khusus menemui Syekh Abbas Abdullah di kampus Darul Funun El-Abbasiyah di Padangjapang.

    Pertemuan Bung Karno dan Syekh Abbas berlangsung pada 1942. Tepatnya setelah Bung Karno dibebaskan Belanda dari tempat pembuanganya di Bengkulu. Pertemuan empat mata antara “singa podium” dengan ulama pembaharu itu, dicatat wartawan senior Fachrul Rasyid HF dalam sejumlah tulisannya.

    Menurut Fachrul, Syekh Abbas yang bertubuh tinggi kekar dan bercambang, sempat kurang sedap menyambut kedatangan Bung Karno. Soalnya, Bung Karno yang ditemani istrinya Inggit Ganarsih, datang terlambat. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. ”Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

    Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, menurut cerita yang didengar Fachrul dari masyarakat dan keluarga syekh, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja Syekh Abbas. Hampir tiga jam berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit (istri Soekarno) dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu,” tulis Fachrul Rasyid dalam laporan jurnalistik di Majalah Gatra.

    Saat menemui Syekh Abbas di Padangjapang, Bung Karno mendapat hadiah berupa peci dengan ukuran lebih tinggi. Sebelumnya, peci Bung Karno berukuran pendek. Menariknya, saat memberikan peci kepada Bung Karno, Syekh Abbas sempat berpesan. ”Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini. Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” pesan Syekh Abbas.

    Selain meminta hati-hati terhadap bahaya komunis dan sekuler, Syekh Abbas yang diminta pendapat oleh Bung Karno tentang konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara, juga menitip pesan bahwa negara Indonesia yang akan didirikan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Syekh Abbas ini yang diyakini banyak pihak, dituangkan Bung Karno dalam sila pertama Pancasila yang dipidatokan pada 1 Juni 1945. (*)

    Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/105618/Tukar_Peci_Bung_Karno,_Titip_Sila_Ketuhanan

    Editor : Elsy Maisany
    Sumber Berita : Fajarillah Vesky – Padang Ekspres

  • 19 Tahun: Mengingat Mereka Yang Terus Percaya

    19 Tahun: Mengingat Mereka Yang Terus Percaya

    Di tahun ajaran yang baru ini, 19 tahun sejak dirintis kembali Madrasah Tsanawiyah kegiatan belajar mengajar (KBM) di Perguruan Darul Funun, dan 14 tahun sejak dibuka kembali kelas untuk Madrasah Aliyah.

    Seiring perjalanannya, YDFA (yayasan formal) dan orang-orang didalamnya baik warga Masyarakat Padang Japang, guru-guru maupun murid-muridnya yang tersebar, dan juga keluarga besar Syaikh Abdullah terinspirasi nilai-nilai semangat dan dedikasi pendidikan yang dirintis sejak tahun 1854, yang kemudian juga ikut berpartisipasi dalam reformasi pendidikan agama (halaqah ke sistem kelas 1918), (Sumatera Thawalib – Burhanuddin Daya, Kaum Muda Movement – Taufik Abdullah) bersama-sama dengan surau-surau yang lain dan juga sebagai sekolah pertama yang memperkenalkan reformasi pendidikan umum & agama (1920), dengan dikenalkannya pelajaran geografi, sejarah dan matematika.

    Ditahun yang sama setelah selesai masa pembuangan Soekarno di Bengkulu, khittah tentang Indonesia Bertauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) diamanahkan, seiring dengan menyerahkan marawa (simbol) berupa Kopiah Hitam yang menjadi khas di dataran Melayu hingga saat ini.

    Semangat ini pula yang dilanjutkan dengan pencerahan pendidikan tinggi, Training College (Nasharuddin Thaha), Ma’had Islamy (Zainuddin Hamidy), dsb.

    Pecah perang tak bisa dihindari, takdir yang Allah sudah gariskan, jepang melakukan pelarangan yang mereka tidak berkenan (Pelarangan Sekolah Liar), kemudian jatuhnya revolusi dengan tertangkapnya Soekarno Hatta di Yogyakarta, menjadikan rapat syura ulama (MTI) berijtihad dengan fatwa Jihad, mengarahkan umat dan lebih dari 30.000 pelajar untuk menyongsong peluru dengan pilihan bertahan atau syahid kembali nama.

    Inilah tahun-tahun yang sulit, tidak sampai sejatuh Baghdad ketika tentara mongol membumi hanguskan kota pendidikan, ditambah lagi ketidaksamaan visi dengan pemerintah pusat (PRRI), inflasi karena embargo dari poros kanan, menjadikan semua mencoba bertahan hidup, begitu juga perguruan, masyarakat berinfaq dengan harta dan hasil panen, guru-guru beramal dengan waktu, telur dibagi sepuluh, lauk disimpan untuk tamu, nasi hanya berbalur cabai, semua berinsaf dengan kondisi dan toleransi.

    Hingga kembalinya “Titik Nol”, pun juga YDFA ketika Depag memberikan asa untuk pembangunan sekolah, pimpinan Yayasan seorang lulusan Cairo menghubungi kawan-kawannya yang pada saat itu sudah menjadi tokoh-tokoh pendidikan agama, dirintislah tahun 1970an Madrasah Negeri (Tsanawiyah & Aliyah) di Padang Japang yang menjadi harapan pendidikan bagi satu Negeri, semua kegiatan mengajar dan belajar Darul Funun dialihkan atas nama Madrasah Negeri yang baru, walaupun sebagian besar kegiatan belajar mengajar masih di gedung puncak bakuang Darul Funun.

    YDFA mati suri, tetapi manusia-manusia nya yang mewarisi semangat kolektifnya masih terus berjuang untuk pendidikan, mereka menyebar diseluruh negeri.

    Hingga kemerosotan besar terjadi di negeri, pemuda-pemuda terjebak dengan fatamorgana, narkoba, minuman keras, budaya bebas, masjid ditinggalkan, individualistis, dsb.

    1997, tahun-tahun sebelumnya murid, pensiunan guru, masyarakat, yang kesemuanya tidak lagi muda, atuk nenek berkumpul di gedung Nahdah memaksa yang muda untuk menggiatkan lagi Darul Funun, maju sebagai muadzin lantang dalam Dakwah kebangkitan negeri, membangkik batang tarandam, hingga akhirnya ditahun tersebut murid-murid dijemput dari tengah hutan dan pedalaman negeri, untuk mengukuhkan satu semangat dakwah ini tidak boleh padam.

    Hingga hari ini 19 tahun yang lampau, semoga amal-amal mereka yang terus berjuang, yang sangat mungkin tidak tercatat karena segala khilaf yang ada, menjadi amalan terbaik yang Allah catat sebagai amalan jariyah, biidznillah.

    Allahumma barakatan fii amaluhum…

    * Mengingat mereka yang terus percaya: (alm) Tuk Mawi (Buya Bermawi Mukmin), Mak Tuo (Uo Labuah), (alm) Adilah Fauzi, (alm) Adli Fauzi, Ibu Rosliana Rusli, Arifah Thaha, dan semua yang ikhlas lillahi taala.

  • Sejarah MAN Padang Japang

    Sejarah MAN Padang Japang

    Sejarah MAN Padang Japang tidak dapat terlepas dari sejarah yang telah menjadi kenyataan, bahwa Madrasah Aliyah Negeri Padang japang berpangkal tolak dari keadaan sejarah Darul Funun El-Abbassiyah yang telah membuktikan kejayaannya masa lalu.

    Darul funun El-Abbassiyah dibangun oleh ayah Syech Abbas Abdullah pada tahun 1854 dengan system Halakah selama 70 tahun tanpa hentinya. Pada tahun 1924 seorang ulama besar Syech Abbas Abdullah , telah menyempurnakan  dan perobahan, dengan system klasikal yang baik dan rapi dengan memasukkan pelajaran umum dan telah menerbitkan media massa berupa majalah EL IMAM AL MUNIR AL BAYAN yang menyiarkan dan mempopulerkan ajaran Islam membasmi Khurafat dan tahyul, serta memajukan sains umum di pondok pesantern dan masyarakat muslim.

    Perkembangan Darul Funun waktu itu  sangat berjaya dan banyak melahirkan ulama-ulama dan pemimpin masyarakat yang menjadi pemimpin islam dan politik dalam masyarakat serta aktif berjuang menuju ketercapaian kemerdekaan Indonesia, mengisi dan membangun negara yang kita cintai.

    Terjadinya perang dunia kedua dan berlanjut dengan penjajahan jepang serta perjuangan fisik setelah merdeka membawa akibat pada perkembangan Darul Funun yang semakin menurun.

    Pada tahun 1968 dengan lahirnya Orde Baru, serta mulai dicanangkannya pembangunan disegala bidang dengan sebutan Era Pembangunan Lima Tahun yang pertama dan diiringi dengan tersusunnya Pelita demi Pelita yang direalisir tahun 1969 maka terbuka pemikiran tokoh-tokoh masyarakat yang dipelopori oleh Buya Fauzi Abbas untuk memperjuangkan pendirian Madrasah oleh pemerintahan yang ditempatkan di Padang Japang.

    Pemikiran tersebut mendorong musyawarah yang melahirkan pembentukan satu badan yang diketuai oleh Buya H. Fauzi Abbas. Dengan melengkapai data-data yang diperlukan, maka diajukan proposal untuk mendirikan Madrasah, maka akhirnya Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI dengan nomor : No.68/1968 . tanggal 13 April 1968 untuk mendirikan  dua Madrasah yaitu Madrasah Aliyah Negeri dan Madrasah Tsanawiyah Negeri Padang japang yang dikepalai oleh :

    Untuk Madrasah Tsanawiyah dikepalai oleh : AMIRULIS YAKUN
    Untuk Madrasah Aliyah dikepalai oleh : ALMUNIR MARTUNUS, Dt. Paduko Tuan.

    Kedua Madrasah untuk sementara belajar di komplek Darul funun dengan memakai 4 gedung dan 1 kantor. Untuk tenaga pengajar (guru) yaitu terdiri dari guru PNS dan honorer yang dibayar dengan iuran murid sebesar Rp. 200,- setiap bulan.

    Pada tahun 1970  Direktur Direktorat Pendidikan Agama Depertemen Agama RI yaitu bapak Mulya Martosudarso yang didampingi oleh Sekwilda Propinsi Sumatera Barat yaitu bapak Amir Thaib. S.H, meletakkan batu pertama pembangunan kedua Madrasah dengan dana swadaya dari masyarakat.

    Pada tahun 1975 Pemerintah melalui Departemen Agama membangun 5 ruang belajar termasuk kantor dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1975 yang dihadiri oleh segenap lapisan masyarakat kenagarian VII Koto Talago. Gedung ini dipakai oleh Madrasah Aliyah Negeri Padang japang pada tahun 1976.

    Dari tahun 1976 sampai sekarang MAN Padang japang telah berkembang dengan pesat, sehingga sekarang telah tersedia ruang belajar yang memadai, ruang kepala dan kantor tata usaha, ruang majelis guru, labor IPA dan Komputer, perpustakaan serta mushalla dengan data terlampir.

    Sumber: http://manpadangjapang50kota.mysch.id/sejarah/