Tag: Heritage

  • Jiwa-Jiwa yang Kembali

    Pria itu berumur sekitar 40 tahun dan bekerja sebagai seorang pegawai negeri dengan jabatan yang cukup tinggi. Saat menghadiri rapat tiba-tiba matanya tak bisa melihat. Ia pun berobat ke beberapa dokter mata di dalam dan luar negeri, namun tak ada hasil. Dokter tak menemukan kelainan pada matanya. Empat tahun sudah ia menderita kebutaan. Laki-laki itu benar-benar putus asa.

    Suatu hari dengan ditemani isterinya, dia datang berkonsultasi kepada seorang psikolog muslim. Psikolog itu justru melakukan pengobatan dimulai dengan percakapan mendalam. Ia diminta menceritakan perjalanan hidupnya sejak duduk di sekolah menengah hingga matanya buta. Dari hasil percakapan itu, ternyata ia seorang muslim yang tak pernah shalat, tak pandai membaca al-Qur’an, dan biasa dengan prilaku terlarang terutama dalam hubungan dengan wanita. Semua dilakukan tanpa pernah menyesal.

    Itulah kisah nyata yang pernah diceritakan oleh ahli jiwa, Prof. Zakiah Darajat, saat menyampaikan makalah tentang mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah untuk kesehatan jiwa di Bandung pada 1994 silam. Psikolog yang ditemui pria itu tak laina dalah Prof. Zakiah Darajat sendiri. Pria itu disuruhnya untuk bertobat, shalat, dan belajar al-Qur’an. Untuk mengobati perasaan berdosanya, kepadanya dibacakan ayat Allah Ta’ala, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.3, Ali Imran:133). Inilah ayat yang memberi harapan kepada mereka yang berdosa agar berlepas diri dari gangguan perasaan berdosa. Pria itu tak lagi menelan sebutir obat pun, kecuali hanya bersungguh-sungguh menjalankan ibadah. Setelah empat bulan sejak ia bertobat, matanya kembali melihat dan kesehatannya membaik.

    Kisah itu menuturkan jika jiwa yang sakit ikut mempengaruhi jasad.Karenanya, bertobat adalah pintu masuk untuk mengembalikan kondisi jiwa pada posisi semestinya. Jiwa yang bertobat adalah jiwa yang kembali ingat dengan Rabbnya sehingga ia meraih ketenangan (QS.3,
    Ali ‘Imran: 135; QS.13, Ar-Ra’d:28). Sebaliknya, keterasingan dari Allah Ta’ala akan membuat jiwa sempit dan gelisah (QS.43, Az-Zukhruf:36).

    Puncak ketenangan jiwa ketika ia bertemu dengan Tuhan yang sebenarnya. Selama itu belum dicapainya,maka jiwa akan tetap gelisah. Jiwa akan terus memberontak, mendesak untuk terus mencari jalan kembali kepada-Nya setelahterasing dari-Nya.Sebab, ia telah diciptakan untuk berada di jalan tauhid. Jalan yang membawanya patuh mengabdi kepada Rabb Yang Maha Pencipta, Rabb yang tidak ada Tuhan selain-Nya (QS.7, Al-A’raf:172-173). Selama jalan tauhid itubelum ditemuinya ia akan tetap terasing, bagaikan jatuh dari langit, lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS.22, Al-Hajj:31).

    Jiwa-jiwa yang kembali kepada Allah Ta’ala adalah jiwa-jiwa yang tak ingin berlarut-larut menjadi budak nafsu, hidup glamor, dan tak tentu arah. Jiwa-jiwa itu mengikuti gugatan akal sehatnya untuk mencari Tuhan yang layak disembah. Jiwa-jiwa seperti itu yang saat ini menghiasi bumi Eropa. Pasca peristiwa pemboman WTC pada 11 September 2001 yang sangat memburukkan citra Islam, justru terjadi pertumbuhan Islam paling cepat yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah Amerika. Terdapat 8 juta orang muslim yang kini menetap di Amerika dan 20.000 orang Amerika memeluk Islam setiap tahun. Mereka mempelajari langsung Islam sehingga menemukan pemahaman tentang ajaran Islam yang sesungguhnya.

    Selain angka 20.000 itu, ribuan orang dari negara-negara di luar benua Eropa juga mengambil keputusan yang sama. Terdapat keragaman alasan yang melatar belakangi mereka memeluk Islam. Diantaranya didorong oleh daya tarik al-Qur’an yang memberikan arah hidup yang jelas. Lalu, didukung oleh ajaran Islam yang lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, hari kebangkitan, dan konsep dosa yang tak mengenal dosa warisan.

    Saat jiwa telah kembali kepada-Nya, nafsu akan tetap selalu menguntitnya. Maka, pengenalan dan cinta kepada-Nya akan pudar jika nafsu masih kita manjakan. Kita simak pesan spiritual dari ulama sufi Ibnu ‘Athailah dalam kitabnya Al Hikam: “Keinginanmu terhadap kekalnya selain Allah menjadi bukti bahwa engkau belum bertemu dengan-Nya. Kerisauanmu lantaran kehilangan sesuatu selain Allah menjadi bukti bahwa engkau belum sampai kepada- Nya.”

  • Memperlakukan Agama

    Riaz Hassan, peneliti dari Flinders University Adelaide, Australia, pada 2006 menerbitkan hasil penelitiannya tentang kesadaran keagamaan dan sosial umat Islam di empat negara yang penduduknya mayoritas muslim, yaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Kazakhstan. Sebanyak 4500 orang ditanya tentang kepercayaan mereka kepada Allah dan komitmen menjalankan ibadah.Hasilnya,mereka yang ditanya di Indonesia, Pakistan, dan Mesir sebanyak 97 % setuju dengan pernyataan bahwa ‘saya yakin Allah benar-benar ada dan saya tidak ragu tentang hal itu’.Berbeda dengan kaum muslimin di Kazakhstan. Dari 970 orang, hanya sepertiga (31 %) yang percaya bahwa Allah benar-benar ada tanpa ragu.

    Lalu, dari 1472 orang Indonesia yang ditanya, 96 %mengaku melaksanakan shalat lima waktu secara rutin. Posisi kedua ditempati Mesir (90 %), dan yang mengejutkan hanya 57 % dari 1185 orang Pakistan melaksanakan shalat. Umat Islam di Kazakhstan paling jarang shalat lima waktu. Hanya 5 % dari 1000 orang yang mengatakan bahwa mereka shalat lima waktu. Untuk berpuasa, muslim Indonesia, Mesir, dan Pakistan mayoritas melaksanakannya dengan ketat, sementara hanya 19 % umat Islam Kazakhstan yang berpuasa di bulan Ramadhan.

    Bersyahadat dan Bersyariat

    Kesolehan seseorang ternyata tak selamanya berbanding lurus dengan wilayah tempat mereka berdiam.Pakistan yang secara nyata menyatakan diri sebagai negara Islam tak menjadi jaminan untuk mencerminkan kesolehan rakyatnya. Dari sisi keyakinan terhadap perkara yang wajib diimani mereka cukup menonjol, tapi jauh kalah dari sisi pengamalan dibanding Mesir dan Indonesia. Begitu juga dengan Kazakhstan. Sebagai sebuah negeri di Asia Tengah dengan penduduk sekitar 18 juta orang dan lebih sepertiga adalah muslim, umat Islam di Kazakhstan jauh kalah dibanding muslim di tiga negara lainnya dalam pola keyakinan dan pelaksanaan ibadah.

    Bersyahadat dan bersyariat adalah dua hal yang tak boleh dipisahkan. Syahadatain adalah sumpah kita dihadapan Allah untuk menjadikan-Nya sebagai Rabb dan beriman bahwa nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai Rasul-Nya. Sisi berikutnya adalah bersyariat, yaitu mau beribadah hanya kepada-Nya. Ibadah tak hanya dalam wujud ritual, tapi menjalankan syariat (aturan hidup) yang diwahyukan-Nya. Penggabungan keduanya dijelaskan Allah melalui wahyu-Nya: Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Mohonlah ampun kepada Allah atas dosamu sendiri dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kembali dan tenpat tinggal kalian di akhirat kelak (Surah Muhammad, 47:19). Dalam ayat ini, perintah untuk mengetahui dan menyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah diiringi dengan perintah untuk memohon ampun kepada-Nya. Artinya, ayat ini mengisyaratkan bahwa bersyahadat wajib diiringi dengan bersyariat.

    Disamping ayat-ayat tentang Iman dan ibadah, al-Qur’an juga mengandung ayat-ayat tentang hidup kekeluargaan, perkawinan, perceraian, hak waris dan sebagainya sebanyak 70 ayat. Juga, terdapat 70 ayat tentang perdagangan, gadai, perkenomian, jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, perseroan, kontrak, dan sebagainya. Perkara yang terkait dengan pidana sebanyak 30 ayat, 25 ayat tentang hubungan muslim dan non-muslim, 13 ayat tentang peradilan, 10 ayat tentang pola relasi antara orang kaya dan miskin, dan 10 ayat tentang ketatanegaraan.

    Ayat-ayat tentang hukum seperti dikemukan di atas memang sedikit. Dari ayat-ayat hukum yang sedikit itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alahi wa Sallam menganjurkan para sahabat untuk mengambil kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip umum. Karenanya, Islam membuka pintu untuk berijtihad sebagai upaya untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk merumuskan jawaban hukum atas berbagai persoalan. Ijtihad itu – sehingga ajaran Islam dapat merespon sesuai dengan segala lintasan waktu dan zaman.Hikmah lainnya, antara keimanan kepada Allah Ta’ala dan cara menjalani hidup dengan segala kompleksitasnya tetap berjalin erat.

    Islam Kaffah

    Ada orang mengaku bertuhan, tapi tak mau beragama. Barangkali, kita sulit mengenali mereka, karena terkadang mereka tak mau memberi pengakuan. Namun, dari ucapan, pikiran, dan tindakan mereka identitas bertuhan tapi tak beragama dapat dibaca. Ada seorang pebisnis yang berucap,” Saya tetap shalat, tapi kalau cara berbisnis tak mungkin dikaitkan dengan ajaran agama.” Ada pula wanita yang berkilah, “Saya tetap beriman kepada Allah, tapi cara saya menutup aurat tak ada hubungannya dengan keimanan saya kepada Allah.”

    Agama bukanlah simbol, tapi untuk memelihara kehidupan kita yang diciptakan oleh Yang Maha Hidup. Kenikmatan hidup dirasakan ketika keyakinan kepada agama diiringi dengan menjalani hidup dibawah aturan agama. Semua itu hanya terwujud manakala beragama sepenuh hati melalui pengamalan ajaran Islam secara kaffah (keseluruhan): Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkahlangkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al Baqarah: 208). Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka (Tafsir Ibn Katsir 1/335).

    Menurut pemahaman al-Qur’an bahwa Islam kaffah adalah Islam yang terpadu dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Islam kaffah tidak hanya mengedepankan aspek spiritual, tapi juga menfasilitas aspek material, mengutamakan ilmu pengetahuan tanpa memilah dan memilih asal usul ilmu pengetahuan (baca surah az-Zumar: 9). Islam kaffah juga memadukan masa lalu, masa sekarang dan masa depan, serta mengakui dan menghargai tempat di mana umat Islam menjalani kehidupannya.

    Islam kaffah juga menjunjung tinggi dan memperjuangkan nilai-nilai universal, seperti keadilan (an-Nahl: 90; an-Nisa: 58), perdamaian (al-Anfal: 61), keamanan (al-Nur: 55), dan kesejahteraan (an-Nisa: 9). Islam kaffah bukan semata-mata dalam bentuk lahiriah, formal, atau aspek-aspek instrumental yang bisa berubah sesuai perkembangan waktu dan tempat, namun mengutamakan keyakinan dan akhlak atau perilaku yang mengasihi sesama Muslim dan semua umat manusia, tumbuhan, hewan, dan alam semesta.

  • Tipologi Informasi Covid-19

    Krisis kesehatan selalu saja diiringi dengan persoalan penyebaran informasi.  Laporan resmi Kementerian Komunikasi dan Informasi RI menyebutkan bahwa penyebaran  informasi bohong atau hoaks  pada platform digital di Indonesia terkait pandemi (penyebaran penyakit) virus korona atau Covid-19 (Corona Virus Diseases) sejak 23 Januari hingga 6 April 2020, mencapai 1.096 informasi. Selain itu, tak sedikit informasi yang membingungkan dan saling kontradiktif  terkait Covid-19 bersileweran tertutama di media sosial.   

    Pada 1980-an hingga 2000-an, kita menyaksikan penyebaran informasi yang tidak benar   mengenai virus HIV/AIDS. Informasi yang disebarkan bahwa virus HIV/AIDS diciptakan di sebuah laboratorium, atau informasi bahwa HIV/AIDS bisa disembuhkan dengan susu kambing. Klaim-klaim ini ternyata meningkatkan perilaku berisiko dan memperburuk krisis. Saat ini kita menyaksikan membanjirnya informasi seputar pandemi virus korona atau dikenal dengan Covid-19. Di berbagai platform dari Facebook sampai pesan WhatsApp, sering ditemukan  informasi tentang pandemi wabah mencakup soal penyebab wabah hingga cara pencegahan dari penyakit tersebut. Tidak sedikit dari informasi itu yang membawa kerugian karena kontennya yang tidak benar. Di sebuah provinsi di Iran, misalnya, banyak yang meninggal setelah meneguk alkohol karena diklaim dapat mengobati Covid-19. Informasi sesat semacam ini hanya memberikan kenyaman palsu sehingga orang begitu mudah mengabaikan panduan dari pemerintah, bahkan  mengikis kepercayaan terhadap petugas kesehatan.

    Penolakan warga terhadap jenazah positif Covid-19 di sejumlah tempat di tanah air juga tidak terlepas karena asupan informasi yang salah itu.  Mereka menyangka akan dapat tertular virus ini jika jenazah dimakamkan di kampung mereka.    Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sibuk menyangkal beberapa informasi bohong seputar virus corona. Misalnya, informasi yang menyebutkan jika menyemprotkan   alkohol di seluruh tubuh bisa membunuh virus korona. Fakta yang ditelusuri WHO justru menunjukkan bahwa alkohol dan klorin dapat berfungsi untuk mendisinfeksi bagian permukaan, tetapi perlu digunakan di bawah rekomendasi yang tepat. Sebaliknya, menyemprotkan alkohol atau klorin ke seluruh tubuh tidak akan membunuh virus yang telah memasuki tubuh. Malahan menyemprotkan zat-zat semacam itu disebutkan bisa berbahaya bagi pakaian atau selaput lendir, misalnya mata dan mulut.

    “Kikir Kognitif”

    Kenapa informasi palsu begitu mudah menyelinap dan menetap di dalam pikiran seseorang? Jawabannya adalah karena penerima informasi tidak berpikir kritis. Mereka justru menggunakan intuisi  untuk menentukan apakah suatu informasi yang diterima benar atau tidak.  Orang yang menerima informasi tanpa menalarnya secara logis sering disebut oleh psikolog sebagai orang yang “kikir kognitif” karena mereka memiliki akal tetapi tidak banyak menggunakannya.   Dalam soal pernyataan seputar virus korona, orang seperti ini biasanya lebih mudah termakan berita palsu. Mereka tidak terlalu mempertimbangkan akurasi sebuah pernyataan, dan bahkan turut menyebarkannya dengan sukarela.

    Kehadiran orang-orang yang “kikir kognitif” ini telah lama dipahami oleh ahli propaganda dan penyebar informasi palsu.  Tragisnya, media sosial terlibat dalam pusaran penyebaran informasi bodong ini. Bukti terbaru memperlihatkan banyak orang menyebar sebuah informasi tanpa memikirkan akurasinya. Riset yang dilakukan Gordon Pennycook, seorang peneliti psikologi misinformasi dari University of Regina, Kanada,  menemukan bahwa sebanyak 25% responden yang ditelitinya dapat mengenali  berita palsu. Ketika ditanya apakah mereka akan menyebarkan informasi tersebut, 35% responden menjawab akan menyebarkannya. Temuan ini  memperlihatkan bahwa  orang yang menyebarkan informasi bohong itu sebenarnya dapat mengetahui bahwa informasi itu tidak benar seandainya  mereka berpikir dengan jernih sebelum menyebarkannya. Sepertinya orang lebih mementingkan berapa banyak yang suka atas unggahannya dibanding memikirkan akurasi unggahan itu.

    Disisi lain ada juga orang yang   mengalihkan tanggung jawab penilaian pada orang lain. Banyak informasi palsu dibagikan yang diawali dengan kalimat “saya tak tahu ini benar atau tidak”.  Mengulang-ulang suatu pernyataan baik dengan teks yang sama maupun diubah juga berpeluang untuk membuatnya seakan benar, apalagi semakin tingginya intensitas keakraban penerima informasi dengan informasi tersebut.

    Literasi Informasi

    Upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 turut ditentukan oleh literasi alias meleknya  masyarakat dengan informasi yang akurat seputar virus yang mematikan itu. Karenanya, dibutuhkan strategi khusus menyampaikan informasi kepada masyarakat yang orang-orang yang tak ingin merenung dan berpikir panjang.  Mengingat kebenaran akan mudah dikenali ketika pikiran bekerja dengan lancar dan tidak berbelit-belit, maka penyajian informasi yang membuat pikiran bekerja keras mesti dihindari. Penggunaan istilah yang rumit mesti diganti dengan istilah yang mudah dipahami, bahkan jika dibutuhkan dapat digunakan bahasa daerah fakta harus disajikan sesederhana mungkin dengan bantuan gambar dan grafis yang membuat ide lebih mudah divisualisasi. Berbagai wadah dan media yang efektif untuk penyaluran informasi mesti digunakan.

    Masyarakat juga perlu diedukasi terkait dengan berbagai tipologi informasi saat krisis Covid-19 ini. Beberapa tipologi informasi dimaksud adalah: Pertama,  Informasi Valid (Valid Information). Informasi tipe ini  adalah informasi yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaru dan dapat diterima serta berlaku untuk orang lain. Misalnya, mencuci tangan dengan protokol tertentu dapat mencegah penularan virus korona.  Karenanya, informasi valid ini harus terus menerus diinformasikan kepada masyarakat hingga ke akar rumput.  Kedua,   Informasi yang membingungkan  (Perplexing information). Jenis informasi ini adalah informasi ilmiah yang dibuat untuk meningkatkan pengetahuan orang lain, tetapi dikirim ke audien yang tidak tepat.  Misalnya, beberapa informasi ilmiah tingkat tinggi tentang Covid-19 dikirimkan kepada masyarakat umum atau remaja, yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan tidak dapat memahaminya sehingga  dapat memperburuk kekhawatiran mereka.

    Ketiga, Informasi yang salah (Misinformation). Jenis informasi ini tidak akurat dan tidak dapat diandalkan, tetapi orang yang menyebarkannya mempercayai bahwa informasi itu benar.   WHO meminta semua pihak tidak mempercayai bahwa cuaca dingin dapat membunuh virus korona atau penyakit lainnya. Selain tidak ada dasar, WHO menyatakan bahwa suhu tubuh manusia normal adalah tetap 36,5 hingga 37 derajat celcius, terlepas dari suhu eksternal atau cuaca.  WHO menyampaikan cara paling efektif untuk melindungi diri dari Covid-19 adalah sering membersihkan tangan dengan alkohol atau mencuci tangan dengan sabun dan air.

    Keempat, disinformasi (Disinformation). Ini adalah jenis informasi yang tidak akurat yang produsen dan distributornya hanya mengejar tujuan politik, ekonomi, budaya, atau lainnya. Jenis informasi ini disengaja, penempaan, dan manipulatif, serta mengubah realitas. Informasi seperti ini biasanya diproduksi dan disebarluaskan oleh orang-orang yang dendam.  Selain itu, juga ada informasi yang mengejutkan (Shocking Information). Membaca atau mendengar informasi seperti ini membuat penerima resah, kaget, dan cemas.  Tipe informasi lainnya adalah informasi kontradiktif (Contradictory Information). Jenis informasi ini diproduksi dan disebarluaskan karena perbedaan pendapat antara para ahli tentang suatu topik. Misalnya, WHO menyatakan Covid-19 tidak menular lewat udara, namun menular lewat tetesan (droplet) yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. WHO mengatakan seseorang dapat terinfeksi Covid-19 dengan menghirup virus jika berada dalam jarak 1 meter dari seseorang yang menderita Covid-19 atau dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata, hidung atau mulut sebelum mencuci tangan.   Bersihkan tangan secara teratur dan hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung juga menjadi opsi pencegahan. Pernyataan ini dilontarkan untuk mengklarifikasi pemberitaan sebelumnya kalau Covid-19 bisa bertahan di udara.

    Ketujuh, informasi diragukan (Doubtful Information). Jenis informasi ini tidak dapat divalidasi atau didiskreditkan karena bukti ilmiah yang tidak memadai. Misalnya,   beberapa orang mengklaim bahwa minum susu kuda liar,  dan konsumsi bawang putih atau makanan lain sangat membantu dalam pencegahan Covid-19. Untuk membuktikan khasiat minuman dan makanan tertentu untuk pencegahan Covid-19 mesti melewati uji laboratorium. Terakhir, informasi yang ditunda (Postponed Information). Informasi ini disajikan kepada orang lain dengan penundaan.  Sebagai contoh, beberapa negara pada awalnya tidak mengungkapkan jumlah kasus yang terinfeksi virus corona, tetapi dengan meningkatnya jumlah pasien, mereka dipaksa untuk memberikan informasi.

    Seperti halnya upaya kita untuk menahan laju virus korona ini, kita juga membutuhkan adanya pendekatan beragam untuk menahan laju penyebaran  informasi yang merugikan dan berbahaya saat pandemi Covid-19 ini. Semoga!

    Image credit: https://unsplash.com/photos/UuON4DYxlbw

  • Idul Fitri Tanpa Lebaran

    Sebagai bagian dari agama, Idul Fitri bersifat primer. Sementara lebaran bersifat sekunder atau pelengkap saja. Karena bersifat primer, Idul Fitri harus tetap dilaksanakan walaupun terdapat kesulitan-kesulitan juga untuk melaksanakannya.

    Penyebaran Covid-19 membuat tatanan kehidupan keagamaan dan sosial penduduk bumi tak bisa berjalan sebagaimana layaknya. Bagi umat Islam yang sebentar lagi akan melaksanakan Idul Fitri, berkemungkinan besar tak dapat melaksanakannya sesuai dengan yang semestinya. Di Indonesia, misalnya, mungkin umat Islam hanya akan melaksanakan Idul Fitri saja, tanpa lebaran.

    Idul Fitri selayaknya tetap dilaksanakan bagaimana pun kondisinya, karena sejatinya Idul Fitri itu sangat berbeda dengan lebaran. Idul Fitri adalah bagian dari agama, sedangkan lebaran hanyalah produk dari kebudayaan.

    Menurut cendekiawan muslim M. Natsir bahwa agama itu adalah problem of ultimate concern, yakni suatu keadaan yang tak dapat ditawar-tawar lagi dan merupakan keharusan. Sedangkan lebaran adalah kebudayaan atau tradisi yang lahir dari syariat Idul Fitri.

    Kebudayaan itu sendiri menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar

    Idul Fitri yang merupakan bagian dari ajaran atau doktrin agama itu memuat ajaran tentang ritual atau ibadah. Ibadah tersebut terdiri dari membayar zakat fitrah, takbir, tahmid, dan tahlil, shalat ied dan mendengarkan khutbah. Adapun sumbernya adalah sumber ajaran agama itu sendiri yakni Al-Quran dan al-Sunnah.

    Qur’an dan Sunnah

    Ada banyak dalil dalam al-Quran dan al-Sunnah yang menjelaskan tentang idul fitri ini, antara lain, al-Quran pada penghujung ayat 187 surat al-Baqarah, Allah berfirman “…maka hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa itu dan hendaklah kamu bertakbir kepada Allah atas petunjuk yang diberikanNya kepadamu. Mudah-mudahan kamu bersyukur”. Kemudian, berdasarkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW dahulu keluar dari rumahnya pada dua hari raya. Beliau mengangkat suaranya dengan tahlil dan takbir”.

    Juga hadits dari Nafi, “Dari Nafi’, ia berkata “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar ketika keluar pada pagi hari Iedul Fithri dan hari Iedul Adha, beliau mengeraskan takbir hingga sampai di tempat shalat, kemudian bertakbir sampai imam datang, lalu bertakbir dengan takbirnya imam tersebut (mengikuti takbir imam)”. (HR. Ad-Daruquthni).

    Karena Idul Fitri adalah bagian dari doktrin Islam, maka ia bersifat universal, dan berlaku sepanjang zaman tanpa mengalami perubahan dan perkembangan. Karena itu, dari dulu sampai sekarang kalimah takbir, bacaan dan jumlah rakaat shalat id tidak mengalami perubahan. Bahkan, mengubahnya adalah perbuatan bid’ah.

    Selain itu, Idul Fitri tidak berbeda-beda antara daerah muslim yang satu dengan muslim yang lain. Ke mana pun seorang muslim pergi melaksanakannya, seperti itulah yang didapati dan dilakukannya.

    Lebaran

    Berbeda dengan Idul Fitri, lebaran merupakan produk dari kebudayaan. Lebaran muncul dari ekspresi masyarakat Islam dalam merayakan Idul Fitri. Sumber dari kebudayaan bukan wahyu melainkan manusia itu sendiri. Kalaupun ada dalilnya, hanyalah dalil yang bersifat umum yang memberikan kesempatan kepada orang muslim untuk bergembira pada saat Idul Fitri sebagaimana hadits dari Anas Radhiyallaahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. ”Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Maka Allah Azza wa Jalla telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya yaitu hari Iedul Fitri dan Iedul Adha”. (HR. An-Nasai).

    Karena lebaran adalah produk dari kebudayaan, maka ia tidak bersifat universal melainkan temporal, berbeda antara masa yang satu dengan masa yang lain, dan berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.

    Tradisi

    Di Indonesia, misalnya, orang berlebaran dengan menyediakan ketupat, tunjangan hari raya alias THR, baju baru, mudik atau pulang kampung, dan ziarah kubur. Di Malaysia yang merupakan negara tetangga terdekat dengan Indonesia, masyarakatnya memiliki tradisi merayakan lebaran yang mirip dengan Indonesia seperti membuat ketupat dan rendang. Di Malaysia juga dikenal konsep mudik ke kampung halaman atau lebih dikenal dengan istilah “balik kampung” oleh masyarakat setempat.

    Ada pula tradisi orang sudah bekerja atau sudah berpenghasilan memberikan hadiah berbentuk uang kepada anak-anak. Setelah itu, barulah mereka pergi berziarah ke makam sanak keluarganya.

    Di Arab Saudi lain lagi, mereka biasanya berlebaran dengan mengadakan pertunjukan seni seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade musik, tari, dan berbagai macam pertunjukan seni lainnya. Hal ini bertujuan untuk memeriahkan hari yang sudah ditunggu-tunggu masyarakat selama setahun. Lain pula halnya di Turki. Orang melakukan berlebaran di Turki dengan festival gula atau seker bayram.

    Selain secara substansial, sebagaimana yang dikemukakan di atas, secara praktikal juga terdapat perbedaan yang nyata antara keduanya. Dalam sebutan misalnya, untuk Idul Fitri seperti shalat dan khutbah orang menyebutnya shalat id dan khutbah id, dan tidak lazim orang menyebutnya dengan shalat lebaran atau khutbah lebaran.

    Sementara untuk lebaran seperti kue, ketupat, mudik, orang menyebutnya dengan kue lebaran, ketupat lebaran, mudik lebaran. Tidak lazim orang menyebutnya kue Idul Fitri, ketupat Idul Fitri, atau mudik Idul Fitri.

    Sebagai bagian dari agama, Idul Fitri bersifat primer. Sementara lebaran bersifat sekunder atau pelengkap saja. Karena bersifat primer, maka harus tetap dilaksanakan walaupun terdapat kesulitan-kesulitan juga untuk melaksanakannya.

    Sedangkan lebaran yang sekunder, boleh saja dikerjakan atau ditinggalkan. Apalagi bila dilihat dari aspek hukumnya. Idul Fitri (baca shalat idul fitri) hukumnya menurut jumhur adalah sunnah muakkadah. Sementara, berlebaran itu hukumnya hanya mubah yakni boleh dikerjakan boleh juga ditinggalkan.

    Karena itu, tak apa-apa jika tak membuat kue, membeli baju baru, tidak halal bi halal, dan tidak mudik atau pulang kampung. Hanya saja barangkali ketika lebaran tidak dilakukan ada sesuatu yang hilang dari kehidupan.

    Dalam suasana Covid-19 amat sulit orang akan bisa berlebaran. Mau bersilaturrahmi ke rumah sanak famili, terhambat oleh himbauan untuk stay at home. Mau berhalal bi halal apalagi terhalang oleh larangan berkerumun, mau beli baju baru ke mana hendak dipakai. Dimasakpun ketupat lebaran, hanya anggota keluarga juga yang akan memakannya di rumah. Karena itu, kalau semua itu ditinggalkan, sebenarnya tidak mengapa, sebab tak ada ajaran agama yang terlanggar.

    Lain halnya dengan Idul Fitri yang bila ditinggalkan akan ada ajaran agama yang dilanggar yakni perintah untuk shalat ied. Kalaupun shalat ied itu susah untuk dilaksanakan di lapangan atau di masjid, terdapat keringanan untuk mengerjakannya di rumah sendiri-sendiri atau bersama keluarga. Wallahu a’lam.

  • Nilai-Nilai Fitrah untuk Peradaban

    Jalan fitrah adalah lintasan kehidupan yang selayaknya diikuti manusia. Keluar dari lintasan itu sama artinya menciptakan kehancuran.

    SEORANG penulis sejarah Perang Dunia II yang juga Jenderal Sekutu dalam perang Korea S.L.A. Marshall, menulis tentang perilaku tentara. Secara mencengangkan ia menemukan fakta bahwa ternyata para tentara takut membunuh. Sang Jenderal menyimpulkan bahwa penyebab paling utama kekalahan di medan perang adalah karena takut membunuh, bukan takut dibunuh.Para tentara itu enggan membunuh sesama manusia kalau bukan karena tuntutan tugas. Mereka tak mampu mendustai suara hatinya, karena itulah fitrahnya sebagai manusia.

    Manusia diciptakan Allah Ta’ala di atas cetak biru bernama fitrah yang mustahil musnah kendati tersembunyi dan terselubungi (QS.30:30). Jalan fitrah adalah lintasan kehidupan yang selayaknya diikuti manusia. Keluar dari lintasan itu sama artinya menciptakan kehancuran. Sama halnya dengan planet yang seandainya tergelincir 0,1 mm saja dari lintasannya, maka kehancuran segera datang dan kepala kita akan segera mendidih akibat panas yang sangat hebat. Alam inipun konsisten di atas fitrahnya sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Ta’ala.

    Al-Qur’an menyebut jalan fitrah dengan istilah shirotol mustaqiim/jalan yang lurus (QS. 1:6; QS.6:153), dan shirotol hamiid/jalan yang terpuji (QS.22:24). Jalan yang lurus itu bermuatan nilai-nilai mulia sebagai penyangga peradaban manusia.

    Nilai adalah sesuatu yang selayaknya dijunjung, dipegang erat, dan mengikat untuk diwujudkan dalam tindakan nyata. Nilai-nilai itu setidaknya mencakup: nilai pembebasan/nilai tauhid, nilai keluarga, nilai kemanusiaan, nilai kejujuran, dan nilai keadilan. Nilai-nilai itu menjadikan hidup manusia terarah dan bermakna.

    Sebaliknya, kealpaan nilai-nilai tersebut dalam peradaban manusia, akan menggiring manusia ke titik kehancurannya. Pertama, nilai pembebasan/nilai tauhid (QS.6:151). Manusia diperintahkan Allah Ta’ala untuk membebaskan jiwanya dari beragam ikatan berbuhul syirik kepada-Nya.

    Mengenal Tuhan adalah perkara fitrah, dan menyembah serta dorongan kepadaNya adalah bagian dari kesaksian batin (syuhud). Dalam keadaan ditimpa kesulitan, setiap manusia akan menyadari hubungan dan kesaksiannya tentang adanya Tuhan. Lalu, mereka menyembah dan mengadu kepadaNya (QS.29:65; 16:53).

    Larangan berbuat syirik bertujuan agar manusia mengikuti fitrahnya untuk tauhid. Bertauhid mengantarkan manusia mengenal dan berhubungan dengan Tuhan sejalan dengan fitrahnya. Kekokohan dalam bertauhid dikawal dengan kekokohan bersyahadat sebagai ikatan kuat antara seorang hamba dengan rabb-Nya (QS. 6:152).

    Berikutnya, nilai keluarga yang dimulai dengan memperbaiki hubungan dengan kedua orang tua (QS.6:151). Di dalam al-Qur’an, larangan durhaka kepada orang tua selalu berada setelah larangan syirik kepada Allah Ta’ala.

    Beragam persoalan keluarga dewasa ini menjadi ancaman yang sangat serius. Keluarga modern cenderung meninggalkan fungsi-fungsi yang semestinya mereka penuhi.

    Berbagai survei pendidikan moderen menunjukkan bahwa kekisruhan keluarga menjadi elemen terbesar terjadinya penyimpangan. Sumber awalnya adalah sirnanya keharmonisan dengan orang tua.

    Ketiga, nilai kemanusiaan yang ditandai dengan larangan membunuh anak karena takut miskin, mendekati perbuatan keji, membunuh manusia yang diharamkan Allah untuk dibunuh, dan mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat (QS.6:151-152).

    Keempat, nilai kejujuran yang diungkapkan dengan perintah menyempurnakan takaran dan timbangan (QS.6:152). Menyempurnakan takaran dan timbangan adalah salah satu contoh perbuatan jujur yang diwujudkan dengan penuh daya juang antara bisikan kejahatan dan dorongan kebaikan.

    Terakhir, nilai keadilan (QS.6:152). Semua manusia merindukan keadilan, sekaligus tak sudi diperlakukan dengan tidak adil. Pemberontakan terhadap kesemena-menaan hakikatnya adalah pemberontakan jiwa yang fitrah.

    Hidup di dunia ini hanya sekali, dan itu harus berarti. Jalan kehidupan yang berliku ini akan indah manakala yang kita tempuh adalah jalan fitrah. Di atas jalan itu berdiri rambu-rambu dalam bentuk nilai-nilai yang dirindukan seluruh jiwa manusia.

    Mengabaikan nilai-nilai itu hanya menyiksa jiwa dan secara perlahan membawa hidup menuju jurang kehancuran (QS.20, Thaahaa:124). Wallahu a’lam bish-Shawab.

  • Taktik Dakwah Damai Wali Songo

    Berkembangnya Islam di Indonesia tak lepas dari kiprah para Wali Songo. Karena itulah, di pentas sejarah, jelas jejak mereka dalam pengislaman dan syiar Islam di bumi Nusantara yang ketika itu meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan sebagian Thailand Selatan, sangat besar. Sukses Wali Songo dalam menyampaikan pesan-pesan Islam itu, antara lain karena metode yang mereka terapkan. Peneliti dari LPLI Sunan Ampel, Agus Sunyoto dalam bukunya Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa Abad 14-15 menilai gerakan dakwah Wali Songopunya kaitan benang merah dengan semangat gerakan dakwah Nabi SAW.

    “Taktik dan strategi dakwah mereka dapat dikata sebagai manifestasi-reflektif gerakan dakwah Nabi Muhammad SAW,” tulis Sunyoto. Model demikian inilah, menjadikan upaya para Wali Songo dalam mengislamisasi tanah Jawa dapat diterima banyak kalangan masyarakat saat itu di tengah berkembang pesatnya kepercayaan animisme dan dinamisme.

    Secara spesifik, dakwah yang ditempuh Wali Songo dilakukan melalui pendekatan ke berbagai lapisan masyarakat; dari kelompok bangsawan berpengaruh seperti raja, tumenggung, hingga kaum papa. Pendekatan seperti ini antara lain ditempuh dengan jalan mengikat tali kekeluargaan (perkawinan).

    Apa yang dilakukan Sunan Ampel yang menikahi Nyi Ageng Manila (putri Tumenggung Wilatikta) dan Maulana Ishak dengan putri Blambangan, adalah dalam rangka dakwah lewat kekeluargaan di kalangan bangsawan. Sementara di tingkat bawah, kalangan kaum miskin, dakwah Islam terutama dilakukan oleh Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Di bidang pendidikan, dakwah Wali Sanga dilakukan dengan mendirikan pesantren di berbagai daerah, seperti di Ampel, Giri, Denta, Gresik, dan Cirebon, yang sekaligus menjadi pusat Islam dan basis mereka.

    Oleh masyarakat, nama-nama daerah itu kemudian dipakai untuk memberi gelar Wali Songo, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati. Selain itu, para Wali Songo juga membangun masjid yang antara lain dijadikan sebagai pusat kajian berkaitan soal sosial dan keagamaan, selain sebagai tempat beribadah.

    Sementara dari sisi metodologis, Wali Songo memilih cara persuasif untuk menarik masyarakat ke dalam Islam. Mereka mengemas, menampilkan, dan mengembangkan kepribadian Islam dengan cara sangat mengesankan.

    Barangkali, ini pengembangan dari seruan Alquran untuk menyeru manusia ke dalam Islam dengan perkataan yang merasuk (membekas) dalam jiwa mereka (QS. 4:65). Di perkembangannya, Wali Songo kemudian memanfaatkan kesenian, adat-istiadat ataupun tradisi yang hidup di masayarakat sebagai media dakwah.

    Itu sebabnya mereka juga dikenal sebagai pencipta karya-karya seni semisal tembang macapat. Sunan Kali Jaga mencipta dandanggula yang berarti ajakan kepada optimisme, Sunan Giri membuat sinom, yang berarti cahaya kehidupan, sementara Sunan Gunung Jati menyusun pucung atau rasa, dan Sunan Bonang menciptakan durma atau perlambangan nafsu manusia.

    Penyebaran Islam juga dilakukan dengan memadukan unsur-unsur Hindu, Budha atau nilai-nilai lokal yang akrab di masyarakat. Yang menonjol adalah pengembangan pada lakon-lakon cerita wayang, seperti Sunan Kalijaga mencipta Jimat Kalimusada, yang tak lain dua kalimat syahadat. Di masa berikutnya, sejumlah seniman juga menjadikan kesenian ludruk sebagai wahana dakwah. Dalam penyampaiannya, kesenian ludruk kemudian diberi muatan pesan-pesan moral. Misalnya, mengajak masyarakat agar tidak melakukan molimo (madon, madat, main, maling, dan minum).

    Image: http://lmizakat.org/wali-songo-perintis-penyebaran-islam-di-jawa/

  • Perbedaan Pendapat dan Pengambilan Keputusan dalam Masyarakat Madani

    Tulisan ini dibuat untuk menanggapi fenomena perdebatan di masyarakat mengenai keluarnya fatwa keringanan tidak shalat jumat ataupun fatwa menghimbau masyarakat untuk shalat di rumah untuk menghindari infeksi wabah pandemi Covid19 atau Corona.

    Dalam fiqh sudah banyak orang memahami perihal ijtihad dan fatwa, kemudian siapa yang melakukannya, dan bagaimana ijtihad seseorang bisa menjadi fatwa, ataupun ijtihad yang dibincangkan dalam syura menjadi fatwa, ataupun ijtihad ulama ditepikan oleh ijtihad pemimpin.

    Ulama, majlis ulama, syura dapat memberikan ijtihad yang kemudian di akui menjadi fatwa ketika diberi kewenangan atau di sahkan oleh yang berwenang.

    Ada perkara yang sebetulnya kurang populer dibahas yakni ‘ittiba. Dalam masyarakat madani, ketika semua pihak terdidik, akses terhadap informasi, ijtihad dan fatwa tersedia secara luas, maka apa yang sebetulnya yang kemudian memberikan peran signifikan?

    ‘Ittiba, kemampuan individu untuk mengambil keputusan, atau dalam hal ini berijtihad dengan pilihan fatwa ataupun alternatif solusi yang ada.

    Begitu juga yang terjadi saat ini, begitu banyak ulama, syura dan pemerintah yang sudah menginformasikan terkait keringanan (rukhsah) shalat jumat di masa ini, tentu kita harus mencerna apakah kondisi tersebut dapat di aplikasikan kepada kita, ya kepada kita, jangan berfikir untuk orang lain.

    Jika kita berfikir untuk orang lain, sepatutnya kita berikan kepada mereka opsi keringanan yang mereka dapat gunakan sesuai dengan kondisi mereka, contoh kursi untuk manula, kursi roda untuk yang sulit berjalan, begitu juga fatwa dan rukhsah, opsi keringanan bagi mereka yang sesuai dengan kondisinya, misalnya shalat duduk bagi yang tidak mampu berdiri, shalat berbaring untuk yang tidak mampu duduk, tayammum yang tidak dapat berwudhu dengan air, ataupun bahaya terkena air, dsb.

    Pada akhirnya semua keputusan dilakukan oleh mereka yang menghadapi situasi secara frontal. Fatwa, ijtihad, pengalaman, kondisi aktual menjadi pertimbangan bagi mereka. Inilah salah satu ciri manusia dalam masyarakat madani.

    Sehingga apapun keputusan yang kita ambil, kita terima konsekuensinya di dunia baik dengan lingkungan dan pemerintah, juga kepada Allah kelak jika hal tersebut sengaja ataupun tidak sengaja menciptakan kedzaliman kepada pihak lain.

    Terlampir tulisan ringan terkait masalah skill ‘ittiba ini yang menjadi satu syarat sumber daya manusia untuk menciptakan industri halal menjadi lebih syariah dan bermanfaat untuk semua, secara umum skill manusia di masyarakat madani.

    https://www.researchgate.net/publication/339933679_Future_Challenge_of_Knowledge_Transfer_in_Shariah_Compliance_Business_Institutions

  • Membangkitkan Wakaf

    Alhamdulillah, dapat menghadiri Waqf Report 2019 Report di Kuala Lumpur yang diadakan oleh Bank Dunia, INCEIF dan ISRA.

    Menjadi perkembangan penting dimana entitas-entitas sosio ekonomi dalam Islam diperkenalkan dan diterima dalam skala global.

    Momentum yang baik waqf dapat di akui sebagai satu entitas oleh dunia global. Walau begitu masih banyak yang perlu di perbaiki, khususnya masalah data waqf di Indonesia yang tidak representatif seperti yang disampaikan bang Fahmi M. Nasir, Peneliti waqf dari IIUM dan Unsyiah.

    Menarik dari perbincangan singkat tersebut, ternyata di Aceh ada “Meusara”, di Sumut ada Tanah Ulayat, di Minang ada Pusaka Tinggi, dan sepertinya ada juga di daerah-daerah lain dengan nama yang beragam.

    Menjadi peran kita berikutnya adalah memainkan peranan dalam memajukan dan menunjukkan kepada dunia tentang perspektif kita.

    Memang mengenalkan perspektif waqf Indonesia ini ternyata cukup penting, walau ada arah dimana hegemoni Authority (Negara) di Indonesia untuk mendominasi aset waqf menjadi sentralistik, sehingga kita patut khawatir dengan waktu yang terus bergulir dan upaya negara mendesentralisasi dengan perangkat desa, kita akan dihadapkan kehilangan potensi alternatif dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat yang lebih organik, bottom to top.

    Karena pada masa periode Khalifah atau Kerajaan dan setelahnya WW2 jatuhnya Ottoman, banyak aset wakaf selain milik pemerintahan di hapuskan dikarenakan perbedaan politik ataupun pandangan, akan tetapi secara organik perkembangan aset sosial waqf ini tidak dapat dicegah, dia adalah proses alami dari pelaku sosial budaya untuk memperbaiki dan memberdayakan diri komunitasnya.

    Model yang organik ini bisa jadi menjadi solusi negara-negara miskin dan berkembang yang mayoritas muslim, dimana kita membantu membangun pondasi untuk mereka membangun dirinya, bukan saja kita membangun pondasi untuk kita dapat lebih membantu mereka.

    Tentu ada pro dan kontra, justru hal tersebut menjadi tantangan kedepan bagaimana kondisi di Indonesia menjadi unik. Kita memiliki BWI dalam skala negara, kita memiliki Dept Agama untuk negara yang bukan berbentuk negara Islam yang juga mengelola “waqf”, kita memiliki NGO-NGO yang bergerak dengan dana infaq, zakat dan waqf, dan kita juga memiliki yayasan-yayasan pendidikan yang menjadi tulang punggung dalam sejarah.

    Sehingga penting di masa-masa kedepan perspektif waqf di Indonesia khususnya Darulfunun perlu dibagi ke dunia, mungkin hanya Indonesia yang menjalankan praktek waqf inklusif dengan regulator pemerintah yang tetap memberikan ruang yang lebih besar bagi sosial masyarakat untuk bergerak.

    Insyaallah semua perkembangan dan inovasi yang dilakukan para muslih disini, baik akedemisi, industri dan juga otoritas dapat memberikan manfaat yang besar.

    Karena kita memberikan daya kekuatan kepada ummah untuk menolong diri mereka, bukan saja sekedar memberikan daya kekuatan (dalam bentuk regulasi dsb) kepada kita untuk menolong mereka.

    Bismillah, perjalanan masih panjang.

  • Syariah Dinikmati, Syariah Dicurigai

    Beberapa hari lalu saya mengikuti rapat koordinasi tingkat RW, dari sekian hal yang dibahas ada satu fenomena menarik, kas RW menipis sementara beban sosial semakin besar, untuk meningkatkan besaran iuran sulitnya bukan main dengan berbagi pertanyaan dari warga.

    Di sisi lain, salah satu musholla di perumahan yang sama memiliki kas hingga puluhan kali lipat jumlahnya. Dan saya pernah ditanyai bagaimana mengelola zakat, infaq, dan sodaqoh sementara orang yg berhak menerima zakat juga tidak terlalu banyak di perumahan tersebut.

    Dua kondisi di atas, buat saya adalah cerminan dari dua sistem pengelolaan keuangan yang ada di negara ini. Satu dengan sistem ekonomi konvensional, dan satu dengan sistem syariah.

    Ada perbedaan paradigma antara keduanya. Ekonomi konvensional memiiki paradigma dengan pengeluaran sekecil-kecilnya diperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara ekonomi syariah memiliki paradigma bagaimana pendapatan dan pengeluaran sesuai aturan Allah SWT.

    Menariknya ekonomi konvensional kini seperti mengalami kebuntuan dalam menciptakan sistem ekonomi yang berkeadilan sosial. Dunia dikuasai oleh orang-orang yang memiliki modal, yang mencari keuntungan sebesar-sebesarnya dengan menghindari kewajiban sosial (pajak) sekecil-kecilnya.

    Di sisi lain geliat ekonomi syariah makin marak di berbagai lininya, bermunculannya lembaga zakat infaq sodaqoh, fesyen syar’i, pariwisata halal (syar’i), industri halal, edukasi syar’i (peantren), bahkan kulkas pun menjual merk halalnya.

    Dari sini saya melihat ekonomi syariah saat ini menjadi alternatif dunia untuk menciptakan ekonomi yg lebih berkeadilan.

    Sayangnya standar kita kepada syariah masih sering menggunakan standar ganda. Kadang kita menikmatinya, kadang kita mencurigainya. Mungkin perlu penelitian lebih lanjut terkait standar ganda ini, karena bisa jadi standar ganda ini yang selama ini menjadi blocking untuk pengembangan sesuatu yang lebih baik sifatnya.

    Wallahu a’lam

  • Inferiority Complex dan Islam Nusantara

    Cerita hari ini rada sedih. Saya ditugaskan untuk jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Ketika sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat tidak begitu senang begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, “Mas ikhwan ya?”. Hah, emangnya kenapa pikir saya.

    Lalu tidak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. “Mas, bapak itu maunya standnya dijaga perempuan”. OK lah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan kawan lain. Pas sudah cari2, eh ternyata ga ada yg bisa diajak tukeran. Balik lah saya ke pemilik Stand dan sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan “cold blood” dia bilang, “Ya udah saya sendiri aja, Mas”.

    Saya perhatikan gerak-geriknya, lho koq rada melambai!!! Paham lah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita ga usah heran.

    Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah). Koq iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat2.

    Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya.

    Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita2 bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam2 ketimbang nyamperin penjaga2 dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. Subhanallah. Saya heran, tapi tidak terlalu heran.

    Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indo, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama salat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu2 apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

    Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi tidak perlu menyiapkan menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahun lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim.

    Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara2 begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, selalu isinya arca-arca dan patung Bali. Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, “Zico, negaramu ini betulan negara muslim???”. Saya jawab, Ya.

    “Kenapa ada patung-patung dewa ini di embassy kamu?” sahutnya.

    Saya terdiam tidak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali. Dan patung2 itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut.

    Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?

    Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin. Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.

    Inferiority complex.

    Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!!

    Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan.
    Mohon maaf bangsaku.

    Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar. Ga malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini ngga canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalin, dll.

    Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas. Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat lima mesjid ke segala arah penjurunya. Restoran-restoran ayam “KFC” India dan dan toko2 daging halal bertebaran. Mereka tidak canggung pasang tulisan ayat Quran selebar plang Tokonya. Kadang gede2 ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran. Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia?

    Buat salat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba sejam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat didalam mesjid. Kalo tidak, pasti saya salat dihalaman mesjid, padahal mesjidnya tiga tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

    Sembari memperhatikan tingkah bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. “Are you an Indonesian?”.. “Are you an Imaam here”. “No, I am just visitor”.

    Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. “Where are you come from”, tanyaku. “I was born here, but my parents came from Bangladesh”. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh “Vallo Achi (Apa kabarmu?)”.

    Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun ga kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi ga kagok sama krisis identitas.

    “Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana-dimana, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh”.

    “Sialan!!!” pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.

    “Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh”, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo.

    Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indo, seorang turis mendekati saya, “Are you Indonesian?”. “Yes”, I said.

    “Apakah acara seperti ini rutin diadakan setiap bulan?”, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, “Where are you come from”. Dijawab, “Saudi!”.

    Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini. “Ah, takallamta bi lughatil arabiyah (Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)”.
    “Naam”.
    “Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?”, tanyaku.

    “Aiwah”, katanya.

    Benar saja dia terlihat senang ada orang Indo bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam2. Untung dia pakai bahasa Arab asli. Umumnya kawan-kawan kami dulu orang-orang Arab Maroko dan Aljazair bicara dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.

    “Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?”, katanya

    Saya balas, “Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains”. Dalam hati gw mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius2 lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato tidak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya kalau mau coba eksis di jalur artis.

    “Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?”, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London.

    Orang seperti kamu harusnya ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Tidak lama beliau pun pamit.

    Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri, “Brother, will see you again tomorrow?”.

    “I will, Insha Allah”. Dan beliau pun nampak senang.

    Saya habiskan sisa hari berdua istri melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah.

    Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.

  • Indonesia Masih Butuhkan Roadmap dan Regulasi Halal

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Karenanya, Indonesia memang memiliki potensi pasar yang besar bagi industri halal dunia.

    Sayangnya, Indonesia sampai saat ini seakan belum memiliki roadmap dan regulasi yang tepat untuk menghadapi makanan yang diproduksi maupun beredar di Indonesia.

    Atas masalah tersebut, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan penelitian khusus. Ada Ilmi Mu’min Musyrifin, Khintan Anggraii, dan Ni’mah Amalia Suharsono.

    Penelitian mengangkat tema Pengaruh Penerapan Food Halal Supply Chain. Penelitian ini utamanya dilakukan untuk menghasilkan undang-undang (UU) baru.

    Lalu, memberikan otoritasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan sertifikasi halal. Tentu, melalui Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, dan Komisi Fatwa.

    Ketua Kelompok PKM-PSH, Ilmi mengatakan, besarnya permintaan produk halal baik dari pasar domestik maupun luar negeri tidak diiringi dukungan pemerintah. Wujudnya, roadmap dan regulasi.

    “Seperti kebanyakan negara penduduk Muslim mayoritas, sertifikasi halal kurang optimal karena adanya anggapan kalau setiap produk makanan yang diproduksi di negara tersebut halal,” kata Ilmi.

    Itu alasannya, dirasa tidak perlu lagi roadmap maupun regulasi untuk lebih memperhatikan lagi bentuk audit atau sidak MUI di setiap sector supplay chain suatu produk.

    Untuk itu, penelitian semakin penting agar dapat memberikan rancangan baru mengenai proses pangan menuju produksi halal. Tentu, yang ditetapkan pemerintah sebagai regulator dan pengawas.

    Ketua Umum MUI Prof Yunahar Ilyas menuturkan, MUI tidak sampai ke rantai pasok karena di dalam MUI ada LPPOM. Jadi, makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan itu diaudit LPPOM.

    Sebab, yang mengeluarkan fatwa MUI dan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) ini harus terakreditasi MUI. Dari sana, lembaga-lembaga yang tidak diakreditasi hasil auditnya tidak diterima.

    “Sampai sekarang belum ada lembaga-lembaga yang benar-benar fokus ke sana, masih LPPOM saja karena Lembaga Perlindungan Hukum (LPH) memiliki peraturan pemerintah,” ujar Yunahar.

    Penelitian ini diharapkan mampu memberikan solusi bagi pemerintah dan MUI untuk memberikan regulasi perihal makanan dan obat-obatan halal. Kemudian, memberi rasa aman dan nyaman bagi umat Islam.

    Sumber: https://republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/ptnf6z399/indonesia-masih-butuhkan-emroadmap-emdan-regulasi-halal

  • Sentuhan Peradaban Islam di Balik Populernya Tulip di Eropa

    Selama periode klasik Yunani, Romawi dan Islam, sangat banyak bunga yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi atau medis.

    Bunga-bunga yang indah dijadikan sebagai dekorasi sampai abad ke-16, sedangkan bunga yang mewangi dianggap dapat memberikan manfaat kesehatan, sehingga digolongkan sebagai obat-obatan herbal.

    Sebuah risalah yang ditulis sekitar 160 SM, Cato’s On Agriculture, menjelaskan tentang pertanian dari para ahli botani di Andalusia dan di beberapa tempat lain di dunia muslim pada Abad Pertengahan. Risalah tersebut cenderung berkonsentrasi pada kategori-kategori bunga tersebut. 

    Para Ahli hortikultura di Timur Jauh ini memang telah lama mempraktikkan pemuliaan tanaman untuk meningkatkan macam-macam tanaman hias. Tindakan mereka tersebut tampaknya telah meresap ke Barat, ke dunia Muslim dan Eropa sekitar 1500 M. 

    Zahiruddin Muḥammad bin Omar Sheikh atau lebih dikenali sebagai Babur, sangat terkesima dengan keindahan bunga Tulip. Babur adalah pendiri Kekaisaran Mughal di India pada awal abad ke-16. Dia seorang pecinta alam dan pencipta taman. Dia pernah menulis pada 1504 M:

    “Warna bunga Tulip banyak menutupi kaki ini. Saya pernah menghitungnya, ada sekitar 32 atau 33 macam. Kami menamakannya mawar yang mewangi, karena aromanya seperti mawar merah,” tulis Babur seperti dikutip dari laman aramcoworld, Kamis (31/1).  

    Kemudian, Babur mencoba memperkenalkan banyak tanaman ke India yang berasal dari tanah airnya di Uzbekistan serta dari Kashmir.

    Beberapa di antaranya muncul dalam miniatur Kekaisaran Mughal dan juga menjadi motif dekoratif pada produk sulaman, tekstil, karpet dan furnitur, serta produk ukiran dan tatahan. 

    Bunga tulip dan varietasnya kemudian banyak menyebar ke arah Barat melalui Iran dan Kekaisaran Ottoman, yang  mana pada masa itu kekaisaran tersebut sangat tertarik dengan bunga dan perkebunan, tepatnya pada abad ke-16. Bunga Tulip, eceng gondok, mawar dan anyelir menjadi favorit pada masa itu.

    Bunga Tulip dilukiskan secara berulang-ulang pada ubin yang tak terhitung jumlahnya, pada keramik terkenal dari Iznik, di lukisan dekoratif di istana, di sampul pernis manuskrip dan di tekstil, mulai dari beludru sutra hingga syal bersulam. Bahkan, pada abad ke-18 juga ada bunga tulip di sepanjang menara masjid yang dibangun di Durres, Albania.

    Informasi tentang berbagai bunga banyak berasal dari risalah yang diilustrasikan dengan indah. Risalah-risalah lainnya juga banyak memberikan informasi terperinci tentang asal mula bunga, budi daya bunga, dan sering mencatat tentang pemuliaan tanaman utama.

    Ada juga buku-buku tentang bunga anyelir dan bunga-bunga lainnya, tetapi sejauh ini bunga mawar dan tulip menjadi yang paling populer. 

    Menurut risalah yang ditulis abad ke-18, kepala hakim di bawah kekuasaan Sultan Turki Utsmani Suleiman Agung, Ebussuud Efendi memiliki tanggung jawab untuk mempopulerkan bunga tulip. Misalnya, ketika ia diberi tulip putih, kemudian dia sebarkan di kebunnya. 

    Pada 1630 M, muncul fenomena “tulipomania” yang luar biasa di Belanda dan terjadi industri ekspor besar-besaran. Tulipomania merupakan periode pada Zaman Keemasan Belanda selama kontrak harga untuk umbi dari bunga tulip yang baru diperkenalkan mencapai tingkat harga yang sangat tinggi dan tiba-tiba runtuh.

    Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/19/02/02/pm9vhc320-sentuhan-peradaban-islam-di-balik-populernya-tulip-di-eropa

  • Sering Dengar Kata Hadhrami, Siapa Mereka? Ini Penjelasannya

    Sering dengar kata Hadhrami? Siapakah sebenarnya yang disebut dengan Hadrami? Engseng Ho dalam The Graves of Tarim: Genealogy and Mobility across the Indian Ocean menuturkan seluk beluk masyarakat Hadhramaut. Mereka menamakan dirinya Hadharim (jamak) atau Hadhrami (tunggal).

    Silsilahnya diyakini sampai pada Nabi Hud AS. Makamnya dipercaya berada di barat wadi (lembah) Hadhramaut atau sekira 80 km dari Kota Tarim. Komunitas tersebut memiliki tradisi penulisan genealogi yang runtut.

    Di samping itu, ziarah ke pekuburan nenek moyang juga menjadi kebiasaan yang lestari. Di antara situs-situs terkemuka adalah, pusara Nabi Saleh AS di Lembah Sarr, makam Nabi Hud AS, Aidid, al-Aidrus, dan Ahmad bin Isa al-Muhajir. 

    Berbicara tentang Hadharim tidak lepas dari cabang keturunan Nabi Muhammad SAW yang berkembang di sana. Ensiklopedi Islam untuk Pelajar mengungkapkan, Ahmad bin Isa (873-956) merupakan leluhur kaum Sayyid (jamak: Saadah). Dari Basrah (Irak), tokoh tersebut datang ke Hadhramaut, melalui Madinah dan Makkah,demi menghindari prahara politik pada 931. 

    Sayyid berarti secara harfiah ‘tuan’ tetapi kemudian menjadi gelar untuk keturunan Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, sebutan syarif ditujukan bagi keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

    Kaum syarif cenderung menyebar di Afrika Utara dan Asia Barat. Beberapa sempat menduduki pemerintahan sebagai gubernur atau raja. Sebagai contoh, penguasa Maroko sekarang, RajaMuhammad VI, berasal dari Dinasti al-‘Alawiyyin al-Filalliyyin yang sampai pada Hasan bin Ali.

    Demikian pula dengan Syekh Muhammad bin Alawy al-Maliki (1947/1948-2004), seorang ulama tradisionalis di Makkah. Agak berlainan dengan mereka, kaum sayyid cenderung berdiaspora maritim ke India dan Nusantara. 

    Ahmad bin Isa merupakan generasi kedelapan dari keluarga Fatimah dan Ali. Sosok yang berjulukan al-Muhajir itu awalnya kerap mengalami penolakan dari penduduk Hadhramaut.

    Namun, perlahan-lahan dakwahnya berhasil sehingga memiliki pengikut untuk mengembangkan ajaran Islam. Masyarakat kemudian tidak hanya mengakuinya sayyid keturunan Rasulullah SAW.Mereka juga mencintainya sebagai figur panutan.

    Ahmad al-Muhajir memiliki empat orang putra, yakni Ali, Hussain, Muhammad, dan Ubaidillah. Sang bungsu menyertainya hijrah dari Basrah keHadhramaut. Ubaidillah kemudian punya tiga orang anak, yaitu Alwi, Jadid, dan Basri. Catatan seputar keturunan Jadid dan Basri tidak terdeteksi sejak abad keenam Hijriah.

    Hal itu berbeda daripada Alwi sebagai sayyid pertama yang lahir di Hadhramaut. Rekaman genealogisnya terus tercatat bahkan hingga masa kini. Jadilah sayyid keturunan Ahmad al-Muhajir disebut sebagai Ba’Alawi atau Alawiyin.Demikian dipaparkan Nourellyssa dalam memoarnya, My Journey to the Land of Love: Hadramawt-Tarim. 

    Di Hadhramaut, kaum sayyid menjadi kelas sosial dengan kedudukan tertinggi. Kalangan ini selalu diminta bantuannya dalam meredakan konflik antarsuku. Strata sosial di bawah mereka adalah masayekh danqabail. Masayekh terdiri atas kaum cendekiawan Muslim di luar kelompok sayyid.

    Sebelum kedatangan keluarga Ahmad bin Isa, golongan ini menduduki posisi terpenting di tengah masyarakat setempat, tetapi kemudian tergantikan kaum sayyid. Sementara itu, qabail merujuk pada faksi prajurit yang siap bertempur dengan perintah kepala suku.Kaum pekerja kasar, semisal nelayan dan petani, menduduki posisi terbawah. 

    Meskipun secara sosial berkedudukan tinggi, kaum sayyid tidak punya kekuatan politik yang memadai. Mereka hanya dapat bertahan di sana menghindari rupa-rupa prahara, mulai dari konflik antardinasti kecil selama abad ke-13 hingga munculnya Kesultanan Kathiri pada abad ke-16 yang akhirnya dikuasai Inggris.Ketidakstabilan tersebut mendorong mereka atauHadharim umumnya untuk merantau ke pesisir Afrika Timur dan Asia. 

    Alasannya berkelana ke luar Hadhramaut tidak hanya lantaran kegentingan politik. Darah pelaut ulung memang mengalir dalam tubuh mereka. Sejak ratusan tahun silam, bangsa Arab akrab dengan jalur maritim yang menghubungkan Laut Tengah, Samudra Hindia, dan Laut Cina Selatan.

    Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara mengutip TW Arnold (1968) yang menyatakan, bangsa Arab telah menguasai perniagaan di Sri Lanka sejak abad kedua SM. Kaum cendekiawan Eropa pun mengakui mereka sebagai perintis globalisasi atau perdagangan dunia. Pengakuan itu antara lain disampaikan orientalis Austria abad ke-19, Aloys Sprenger, sebagaimana dikutip Benedikt Koehler dalam Early Islam and the Birth of Capitalism.  

    Dengan demikian, jauh sebelum risalah Islam ada, bangsa Arab berperan penting dalam lalu lintas komersial Asia-Afrika-Eropa. Pada masa wafatnya Rasulullah SAW atau sekitar abad ketujuh, para pelaut Arab mendominasi distribusi rempah-rempah dari pusatnya di Maluku hingga bandar-bandar di Laut Tengah, utamanya Venesia (Italia).

    Menurut Abdul Hadi WM dalam Cakrawala Budaya Islam, mereka tidak hanya membawa semangat berdagang dan berinteraksi dengan penduduk-penduduk lokal, tetapi juga memperkenalkan Islam.

    Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/10/16/pgpaao320-sering-dengar-kata-hadhrami-siapa-mereka-ini-penjelasannya


  • Jejak Kaum Nabi Shaleh di Petroglif Pegunungan Saudi

    Pegunungan di kota Jubbah, Arab Saudi menyimpan segudang kisah tentang kehidupan manusia ribuan tahun lalu yang tinggal di daerah itu. 

    Yakni suku Tsamud. Di pegunungan itu, tak hanya memberitahu tentang gaya hidup namun juga bahasa yang digunakan suku Tsamud masa itu. 

    Untuk diketahui, Suku Tsamud adalah sekelompok suku yang mendiami sebuah kota di Barat Semenanjung Arab. 

    Menurut sejarah Islam, suku ini hidup di zaman Nabi Shaleh. Suku ini telah melewati banyak fase perkembangan zaman.

    Seperti yang terdapat dalam petroglif yang terdapat di batu-batu pegunugan Jubbah yang menggambarkan adanya kegiatan menggembala, pertanian dan perdagangan. 

    Selain itu dalam petroglif juga menunjukkan tentang jenis hiburan dan gaya hidup suku Tsamud kala itu. Di mana terdapat petroglif bergambar orang menari.  

    Dalam petroglif di pengunungan Jubbah banyak menggambarkan tentang manusia dan hewan yang hidup ribuan tahun lalu.

    Menurut UNESCO, nilai universal seninya terdapat pada petroglif yang dibuat dengan menggunakan perkakas sederhana seperti palu batu yang sederhana dengan latar degradasi lingkungan yang bertahap. 

    Karenanya petroglif di pegunungan Jubbah pun merupakan hasil ekspresi jenius manusia yang menakjubkan. 

    Alhasil menurut UNESCO, banyaknya petroglif di pegunungan Jubbah membuat kota tersebut menjadi kota yang memiliki komplek seni cadas terbesar di Arab Saudi. 

    Sejarawan Arab Saudi, Mamdouh Mzawem menjadi orang yang telah menghabiskan banyak waktunya untuk meneliti tentang petroglif karya suku Tsamud. 

    Dia telah berpindah-pindah lokasi di pegunungan Jubbah untuk mengebal seluruh karakter petroglif di sana. Mzawem pun menemukan berbagai hal menarik setelah membaca skrip, menganalisis gambar dan menemukan karakter-karakter baru dalam petroglif di pegunungan Jubbah.

    “Saya sudah mendokumentasikan 58 naskah dari seorang Tsamud yang tinggal di Jubbah dengan perincian yang lengkap dan bergambar. Saya telah membaca otobiografinya,” kata Mahmoud Mzawem seperti dilansir Alarabiya pada Jum’at (1 /2).  

    Mzawem menuturkan salah satu tokoh suku Thamud yang diketahui melalui petroglif dan sumber lainnya yakni Hajjaj si pemburu. Hajjaj adalah pria yang dikenal sebagai pemburu singa, kambing gunung dan orxy Arab. 

    Dalam melakukan pemburuan, dia menggunakan alat alat seperti perisai, tombak, dan bayonet. Hajjaj juga digambarkan mempunyai fisik yang kokoh. 

    Selain Hajjaj, Mahmoud Mzawem juga menemukan karakter lainnya. Yakni Ken putra Tal. Tokoh suku Tsamud ini merupakan orang yang dikenal keberaniannya. Seperti Hajjaj si pemburu, Ken putra Tal juga memiliki singa seperti dalam petroglif di pegunungan Jubbah. 

    “Dua dari karya-karyanya yang terkenal memperlihatkan dia menunggang singa, memegang tombak, dan melawan seorang yang menunggang unta dengan busur dan anak panah. Ini berarti dia menguasai singa, menunjukan kekuatannya,” Andrian Saputra

    Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/19/02/01/pm9959320-jejak-kaum-nabi-shaleh-di-petroglif-pegunungan-saudi

  • Pembenaran Haji dan Air Zamzam didalam Taurat

    Oleh: Mohammad Ali MA,
    Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

    Alquran menyebutkan ayat penting berkaitan dengan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah sebagai bagian dari situs suci pelaksanaan ibadah Haji. Dan ini tentu saja terkait langsung dengan latar belakang adanya kemunculan sumur zamzam.

    Hal ini dapat dibaca pada nas Qs. Al-Baqarah 2:158:

    ان الصفا والمروة من شعاءرالله (“Inna ash-Shafa wa al-Marwata min sha’airi-LLAH ..”)

    Dalam kitab Taurat juga disebut:

    הנה אצ-צפא ואל-מרוה מטקסי יהוה (“Hinne atz-Tzafa ve al-Marvah mith-thiqsei ADONAI …”)

    Memang, dalam Alquran memang disebutkan penyebutan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah. Namun, Alquran tidak menyebutkan adanya penyebutan situs sumur zamzam.

    Sebaliknya, kitab Torah (Taurat, red) memang hanya menyebutkan narasi peristiwa Hagar (Hajar, bahasa arab red), bunda Ishmael (Ismail) yang hal ini terkait kemunculan situs “sumur Lahai” (sumur zamzam).

    Tetapi dalam hal ini Torah tidak menyebutkan penjelasan mengenai adanya situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah yang menjadi sebab akibat kemunculan sumur Lahai (sumur zamzam). Namun, kedua teks suci ini tidak saling bertentangan, justru saling melengkapi dan saling menguatkan tentang adanya latar belakang kemunculan sumur zamzam.

    Maka utulah sebabnya, Rav Nosson Scherman dalam ‘Le’ houmach: Chamisha Chumshe Torah. Le’ edition Edmond J. Safra’, terkait nas Sefer Bereshit 16:14 beliau menyatakan bahwa sumur tersebut akhirnya menjadi tempat doa di masa depan. Ini bisa dilihat dalam lihat Sefer Bereshit 24:62.

    Rav Nosson Scherman ketika mengomentari ayat ini beliau berkata: Par la suite, ce puits est devenu un lieu de priere, voir plus loin, Sefer Bereshit 24:62 (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 2015), hlm. 75.

    Rabbi Bachya ben Asher ketika menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) pada Sefer Bereshit 16:14 beliau pun berkata: כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם (ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam).

    Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, dan juga sekarang ini disebut sumur zamzam.”

    Ibn Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga telah menyatakan dengan tegas:

    כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם (ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er Zamzam).

    Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur itu dan juga sekarang ini sumur tersebut disebut sumur Zammzam.”

    Dalam dokumen-dokumen Rabbinik, kesinambungan tradisi intelektual Rabbi Bachya ben Asher hingga Rabbi Ibn Ezra dapat ditelusuri secara akademik.

    Rabbi Bachya ben Asher (1255 – 1340 M.) murid utama Rabbi Shlomo ben Avraham Aderet/Rashba (1235 – 1310 M), dan Rashba adalah murid utama Rabbi Moshe ben Nachman/Ramban (1194 – 1270 M.), sedangkan Ramban sendiri sangat akrab dengan karya intelektual Rabbi Avraham Ibn Ezra (1089 – 1164 M.).

    Karya Ibn Ezra אבן עזרא על התורה (Ibn Ezra ‘al ha-Torah) ini merupakan karya yang disusun berdasar Torah she be’al phe (Torah Lisan). Itulah sebabnya dalam buku עיונים בלשונות הראב”ע karya Abe Lipshitz (Chicago: the College of Jewish Studies Press, 1969) disebutkan adanya banyak kutipan dari karya Ibn Ezra yang termaktub dalam tulisan-tulisan rabbi-rabbi otoritatif era Rishonim.

    Dan kebenaran teksnya itu pun dikonfirmasi oleh mereka sendiri, di antaranya Rabbi David Kimchi/Radak (1160 – 1235 M.), Rabbi Moshe ben Nachman/ Nachmanides (1194 – 1270 M.), Rabbi Bachya ben Asher (1255 -1340 M.) dan para Tosafis yang pernyataan mereka juga termaktub dalam teks Gemara, Talmud Bavli.

    Yang lainnya separate Rabbi Moshe ben Maimon/ Maimonides (1135 – 1204 M.) berkata: “study them (Ibn Ezra’s words) with intelligence, understanding and deep insight.” H. Norman Strickman, Ibn Ezra’s Commentary on the Pentateuch. Genesis. Bereshit (New York: Menorah Publishing Company, 1988), p. xxii) juga berpendapat sama.

  • Hejaz Railway Museum, Saksi Sejarah Kereta Api Pertama di Madinah

    Kota Madinah dan Damaskus pernah terhubung oleh jaringan rel kereta api. Jejak transportasi itu kini bisa dilihat di Hejaz Railway Museum, Madinah. Di sela kesibukan meliput penyelenggaraan musim haji kali ini, tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Madinah sempat bertandang kesana. Seperti apa museum kereta api yang kini berubah menjadi restoran itu? Berikut laporannya.

    Dilihat sekilas, Hejaz Railway Museum lebih mirip taman. MCH Daker Madinah, Kamis (13/09) sore berkunjung ke museum yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Masjid Nabawi tersebut. Tiket masuk hanya 5 riyal atau sekitar Rp 20 ribu per orang. Saat peak season, tiket dijual dengan harga dua kali lipat atau 10 riyal. Tapi, jangan harap mendapat bukti tiket. Begitu uang diserahkan, petugas loket langsung mempersilakan masuk tanpa memberi kertas tiket.

    Pengunjung saat itu sedang sepi. Hanya ada beberapa keluarga Arab yang terlihat duduk-duduk di kursi taman. Ada juga beberapa perempuan yang mengenakan abaya dan cadar berwarna hitam. “Kalau sore memang sepi, soalnya menjelang Magrib. Setelah salat Isya biasanya ramai,” kata Mohammed Hamim, sang penjaga loket yang lumayan mampu berbahasa Inggris.

    Arab Saudi memang menerapkan aturan ketat pada semua pelaku usaha. Setiap terdengar suara azan, semua aktifitas usaha harus berhenti. Tidak boleh tidak. Selesai salat baru boleh buka lagi.

    Di dekat pintu masuk museum terdapat satu gerbong berwarna cokelat. Gerbong itu pernah berjaya pada masanya. Agak masuk ke dalam, terdapat amphitheater mini untuk tempat pertunjukan atau sekadar nongkrong. Di antara pepohonan terdapat jalan setapak. Sisi kiri dan kanannya dilengkapi bangku panjang untuk tempat duduk pengunjung. Ada pula taman rumput yang dihiasi pepohonan kurma. Saat malam, lampu biru dan kuning yang melilit pohon kurma itu menyala. Pemandangan terasa makin warna-warni.

    Di pinggir taman terdapat kios-kios yang menyajikan aneka cemilan dan minuman. Agak aneh rasanya melihat pemandangan serbahijau di Arab Saudi yang panas dan tandus. ’’Kota Madinah memang beda dengan Makkah. Tata kota Madinah lebih baik. Banyak taman. Lebih tentram,’’ jelas M. Rofi’i, warga Indonesia yang menjadi penerjemah bagi petugas haji.

    Di ujung museum ada dua lokomotif yang pernah beroperasi pada tahun 1900-an. Namun, dua lokomotif itu telah dirombak menjadi restoran unik. Lokomotif dicat warna hitam dan tersambung dengan 12 gerbong. Tapi, bukan gerbong asli. Gerbong-gerbong itu telah disulap menjadi ruang makan. Saat malam, restoran lokomotif itu terlihat lebih hidup karena dihiasi lampu sorot.

    Restorasi museum rupanya belum selesai. Sebab, di beberapa lokasi terlihat material proyek masih berserakan. Rencananya, museum itu dilengkapi dengan kids zone untuk area permainan anak. Ada juga rencana pembangunan taman baru yang sedang dikerjakan. Kerajaan Arab Saudi kini memang getol-getolnya membenahi berbagai obyek wisata.

    Mereka telah mencanangkan gerakan Saudi Vision 2030. Inti dari gerakan itu adalah melepaskan Arab Saudi dari ketergantungan pada minyak. Sektor pariwisata diharapkan mampu mengganti pendapatan negara dari penjualan minyak. Nah, Hejaz Railway Museum termasuk salah satu destinasi wisata andalan Arab Saudi yang kini sedang direstorasi.

    Museum ini masuk wilayah distrik Al-Anbariya. Pada masa lalu, kawasan tersebut merupakan stasiun kereta api aktif. Sisa-sisa rel kereta masih tampak di area museum terbuka itu. Beberapa referensi menyebutkan, jaringan rel kereta api itu dibangun pada tahun 1900 dan selesai pada 1908. Kedatangan perdana kereta di Madinah pada 1 September 1908.

    Rel tersebut pernah menghubungkan kawasan Damaskus (Syria) dengan Madinah (Arab Saudi). Jaraknya sekitar 1.320 kilometer. Pada masa itu, kereta api tersebut menjadi satu-satunya alat transportasi umum yang dimanfaatkan oleh jamaah haji dari Syria, Jordania, Pakistan, Iraq, dan Turki. Sebelum kereta api tersebut beroperasi, perjalanan menuju Arab Saudi butuh waktu sekitar 40 hari menggunakan unta. Melintasi gunung dan gurun pasir. Setelah kereta api beroperasi, perjalanan makin singkat. Hanya lima hari.

    Sempat muncul rencana untuk memperpanjang jaringan rel hingga menjangkau Makkah. Namun, perang dunia pertama membatalkan rencana prestisius tersebut. Beberapa stasiun dan jaringan rel hancur akibat perang. Kereta api tersebut akhirnya benar-benar berhenti beroperasi pada 1921.

    Pada 1983, pengelolaan Hejaz Railway Station diserahkan pada lembaga bernama Antiquities and Museum Agency. Lalu, pada 1998, Gubernur Madinah Prince Abdul Majeed bin Abdulaziz meresmikan dimulainya proyek restorasi stasiun tersebut. Proyek tersebut dikendalikan oleh Saudi Commission for Tourism and Antiquities (SCTA). Saat itulah stasiun itu diubah menjadi museum.

    Kini, museum kereta api itu menjadi satu dengan kantor Al Madina Al-Munawara Antiquities. MCH Daker Madinah juga mengunjungi kantor dua lantai tersebut. Kantor itu juga memamerkan foto-foto Madinah masa lalu. Ada pula aneka batu-batuan asli Madinah yang dikumpulkan dari berbagai masa. Misalnya, translucent quartz yang mirip berlian, harrie stone, pink quartz, dan flint stone.

    ”Madinah punya banyak batu unik karena dikelilingi perbukitan,’’ kata seorang penjaga museum. Selain menjadi saksi sejarah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Madinah memang memang menyimpan potensi arkeologis bernilai seni tinggi.

    Sumber: https://kemenag.go.id/berita/read/508738/hejaz-railway-museum–saksi-sejarah-kereta-api-pertama-di-madinah

  • Arkeolog Temukan Situs Masjid Berusia 1.000 Tahun

    Arkeolog dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi (DCT Abu Dhabi) membuat penemuan spektakuler yang memberi petunjuk baru tentang sejarah Uni Emirat Arab (UEA) pada awal masa Islam. Berlokasi dekat dengan bangunan Masjid Sheikh Khalifa di Al Ain, para arkeologi menemukan beberapa falaj (saluran air irigasi), tiga bangunan, dan sebuah masjid berasal dari kekhalifahan Abbasiyah yakni 1.000 tahun lalu.

    Masjid ini diperkirakan yang paling tua ditemukan di UEA. Dilansir Gulf Today, masa kekhalifahan Abbasiyah merupakan periode waktu yang membawa perubahan di UEA. Sebuah kepercayaan atau agama baru masuk dengan nilai-nilainya dan ini mengubah sejarah negara.

    Ahli DCT pun terus melakukan penelitian di Al Ain dan tempat lain di Abu Dhabi dalam upaya menjelaskan lebih lanjut tentang abad-abad awal Islam. Arkeolog DCT sebelumnya sudah meneliti sebuah gereja di Pulau Sir Bani Yas.

    Bangunan ini menyoroti fitur penting lain dari periode awal Islam. Salah satunya toleransi dan penerimaan agama lain yang masih menjadi ciri kehidupan di UEA saat ini.

    “Temuan baru situs arkeolog di Al Ain membuktikan kekayaan sejarah di kawasan ini. Ini memungkinkan kami untuk memperluas pengetahuan tentang masa lalu,” ujar Ketua DCT Abu Dhabi Mohamed Khalifa Al Mubarak dilansir di Gulf Today, Ahad (9/9).

    Penemuan masjid dari periode Abbasiyah di Al Ain menunjukkan pengaruh Islam yang sangat mengakar di daerah tersebut. Jaraknya diketahui jauh dari tempat Islam pertama kali muncul dan pada saat itu moda transportasi belum sebaik saat ini.

    “Temuan ini menunjukkan pengaruh budaya dan negara tetangga melampaui batas dan mengatasi masalah transportasi. Pada gilirannya akan menunjukkan analisis lebih lanjut untuk membentuk pemahaman holistik tentang masa lalu,” lanjutnya.

    Para ahli menyebut bangunan di situs tersebut terbuat dari mudbrick, yaitu sisa-sisa benteng kecil dan bangunan lainnya. Orang-orang yang tinggal di gedung-gedung ini akan memperoleh air bersih dari beberapa falaj yang dibangun di sekitar pemukiman.

    Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/09/09/persa7409-arkeolog-temukan-situs-masjid-berusia-1000-tahun

  • Warisan Islam di Kota Tua Bhopal, India

    Kehidupan masih berputar di Bhopal, India dengan tingkat energi yang sama seperti yang terjadi berabad-abad lalu. Jalan-jalan yang padat di Kota Tua Bhopal memancarkan udara Islam pada abad pertengahan dengan gerbang kuno yang berhadapan dengan kumpulan bangunan antik dan monumen.

    Dilansir The New Indian Express, wilayah ini adalah pusat dinasti Muslim yang dipimpin oleh jenderal Afghanistan, Dost Mohammed Khan. Permata dari pemerintahannya yang berumur 200 tahun itu adalah empat penguasa wanita di tanah itu. Mereka dikenal sebagai Begums of Bhopal.

    Selama mereka menjabat, yaitu dari 1817 hingga 1926, mereka membentuk Bhopal menjadi salah satu kota terindah di India. Kota ini pun mengundang pujian dari kaisar Mughal di Delhi.

    Para ratu tidak hanya membentuk lanskap danau kota dengan istana, rumah bangsawan, masjid, pasar, dan monumen yang menarik perhatian. Tetapi juga memberikan penyelesaian fasilitas umum yang penting seperti pengairan, kereta api, sistem pos dan kotamadya. Sebagian besar arsitektur tersebut masih ada untuk menunjukkan sentuhan agung dan campuran gaya arsitektur yang luar biasa. Bangunan-bangunannya bertahan dari panas dan debu di Central India.

    Chowk adalah jantung dari Kota Tua Bhopal. Bangunannya dengan puncak yang menjulang, siluet cembung dari kubahnya dan dinding pertahanan yang besar. Jalan raya dipenuhi dengan toko-toko dan rumah-rumah tua, dipenuhi oleh orang-orang yang berkendara. Seorang muazin mengumandangkan adzan dari masjid terdekat di kota itu.

    Masjid adalah permata Bhopal. Taj-ul-Masajid — dikatakan sebagai tempat ibadah Islam terbesar di India — menempati urutan teratas. Pengaturan kolosal dengan dinding merah muda yang mewah, kubah putih dan menara-menara yang menjulang tinggi memesona. Penguasa perempuan ketiga Bhopal Shah Jehan Begum menugaskan pembangunan masjid tersebut pada akhir abad ke-19. Tetapi konstruksinya dihentikan setelah kematiannya. Pekerjaan itu pun dilanjutkan pada akhir abad ke-20.

    Dua masjid lain yang menarik perhatian adalah Masjid Jama, yang terkenal karena kubahnya yang berlapis emas. Juga Masjid Moti, yang secara arsitektur menyerupai Masjid Jama di Delhi. Begums telah meninggalkan jejak arsitektur yang indah di belakangnya.

    Terdapat pula masjid yang dianggap sebagai masjid terkecil di dunia. Masjid itu berdiri di atas menara batu yang telah hancur. Duly, masjid itu merupakan bagian dari benteng tua, yang sekarang menjadi rumah sakit modern.

    Legenda mengatakan masjid dibangun oleh penguasa awal rezim Khan untuk penjaga benteng. Di situ dia beribadah di saat jam kerja. Untuk masuk ke dalam masjid membutuhkan dua langkah besar dan satu langkah yang relatif lebih kecil. Itulah sebabnya masjid ini secara lokal dikenal sebagai ‘Masjid Dua dan Setengah Langkah’. Warisan Islam di sini memiliki tempat baik untuk kesalehan dan kesenangan.

  • Ketika Dunia Terlupa Pembantaian Muslim Bosnia

    ‘’Mereka itu Nazi. Dia datang menembaki semua orang.’’ Fatma, perempuan setengah baya yang menjaga gerai di sebuah hotel di Sarajevo terlihat tercekat ketika menceritakan soal perang saudara yang pernah berkecamuk di negerinya. Dia berbicara lirih dan dingin seperti suara gesekan udara di akhir musim semi di ibu koa Bosnia.

    ’Are you Muslim,’ tanyanya. Saya pun menangguk. Perempuan dengan dua orang cucu  tersenyum manis. Dia bertanya lagi dari mana asal saya: Are you Malaysia? tukasnya. Begitu saya menyebut Indonesia, dia segera menyahut. “Ya, di sini ada Masjid Indonesia. Masjid Soeharto. Di pusat kota,’’ tukas Fatma lagi.Seperti warga Muslim Bosnia lainnya, memang masjid Indonesia yang dibangun Presiden Soeharto melekat di mata dan hati orang mereka.

    Benar, tempat ibadah umat Islam yang di dalamnya terdapat  mimbar berukir sumbangan BJ Habibie, di pusat kota Sarajevo masjid karya aritek asal Bandung, Ahmad Nuqman, itu tampak  berdiri megah. Di sebelahnya ada lapangan sepakbola. Tak jauh dari masjid ada jalur trem yang membelah kota yang di dekatnya ada trotoar yang sangat enak untuk berjalan kaki. Masjid itu berada dicekungan bukit. Letaknya sebenarnya yak begitu jauh dari lapangan terbang Sarajevo. Para jejaka dan gadis berdandan modis lalu lalang di situ.

    Kata warga setempat, dahulu semasa perang perbukitan di sekeliling masjid itu sangat berbahaya. Di sana bertebaran sniper dan senjata berat dari Serbia. Siapa pun yang berani masuk ke arah lapangan terbang yang searah dengan lokasi masjid tak ada yang bisa selamat. Sisa-sisa bekas perang di beberapa gedung pun masih terlihat. Meski begitu Sarajevo tetap kota yang cantik. Ciri sebuah kota megah yang pernah menjadi pusat Olimpida Musim dingin pada tahun 1982, masih terasa adanya.

    Ya memang kota ini memang sekarang tentram. Tapi nun 23 tahun silam, tempat ini malah menjadi ajang konflik akibat runtuhnya Yugoslavia menjadi tujuh negara. Bekas kekuasan diktator Joseph Broz Tito hancur berkeping-keping. Celakanya tak hanya konflik, tapi perpecahan ini malah kemudian memantik perang dan pembantaian massal. Sisa konflik itu berbekas pada bekas taman di tengah kota yang menjadi tempat pekuburan masal. Taman bunga melati dan mawar sesuai perang berubah menjadi pemakaman massal. Lokasi memanjang serta meninggi ke arah sebuah bukit.

    ‘’Saudara saya banyak yang mati menjadi korban. Entah apa tiba-tiba Serbia datang menyerbu dan membantai seperti Nazi,’’ Fatma berulangkai mengulang kata ‘Nazi’. Tampak ada kepilaun yang mendalam di wajahnya ketika menyebut kata itu. Dan memang dari sejarahnya wilayah Bosnia atau Balkan banyak bersinggungan dengan ekspansi Hitler semasa perang dunia II.

    ‘’Mereka bantai kami karena Muslim,’’ ujarnya lagi. Bukan hanya itu, lanjut Fatma, tak cukup membunuh mereka juga memperkosa. Dan hasilnya setelah itu banyak perempuan Bosnia yang pikirannya terganggu dan mendapat anak hasil tindakan perkosaan.’’Mereka ingin menghilangkan darah dan keturunan asli orang Bosnia,’’ ujarnya lagi. Setelah berkata seperti itu dengan terbata Fatma membaca Alfatihah yang ternyata masih bisa diingatnya. Sesaat dia kemudian berhasil menguasai emosinya yang sempat bergejolak hebat.

    Memang bekas pembantaian kini tak begitu terlihat di Sarajevo. Namun ketika pergi menuju sebuah kota kecil yang berada di sebelah timur, Srebenica, nuansa horor pembantaian dapat segera terlihat. Begitu masuk kota Srebrenica, sebuah pekuburan masal segera terlihat. Letaknya persis di pinggir jalan besar. Dalam pemakaman masal tercantum nama para korban. Semua Muslim dan ini bisa terlihat dari namanya yang memakai nama Islam meski dalam ejaan Bosnia yang agak mirip dengan bahasa Turki.

    ‘’Sampai kini sisa konflik masih tersisa. Orang Serbia yang melintas di dekat pemakaman masal itu kerap memancing keributan dengan membunyikan klakson mobil keras-keras. Akibatnya, warga Srebrenica banyak yang kesal dan membalas dengan melempari mobil itu,’’ kata seorang warga Bosnia yang menjadi mengelola sebuah restoran ala Turki di sebuah pinggir jalan sebelum masuk ke Srebrecina.

    Tak hanya itu, dendam kesumat antara warga Serbia dan Bosnia bahkan sempat terjadi langsung di sebuah plaza. Entah mengapa tiba-tiba ada dua kelompok orang ribut sambil memakai. Tak jelas apa yang mereka pertengkarkan karena memakai bahasa lokal. Namun dari cerita orang-orang ada disekitarnya yang ikut menjaga toko, menyebutnya sebagai perterungan ‘Derbi’ (pertarungan orang sekota). Kedua kelompok itu bertengkar kata saling mengejek dan menantang. Yang satu menuduh orang Bosnia pengecut, yang satu menyebut orang Serbia penjajah dan pembantai. Perang kata-kata berlangsung cukup lama, meski tidak sampai kemudian terjadi keributan fisik.

    ‘’Orang Bosnia dan Serbia masih saling bertengkar ketika bertemu,’’ kata Nadeem pemandu wisata asal Belanda yang keturunan Turki. Kebetulan dia adalah saksi mata langsung tragedi pembantaian itu. Tak hanya itu Nadeem hadir sebagai relawan yang pertama pada hari-hari sesuai terjadi pembantaian dan pengungsian besar-besar Muslim Srebrenica.

    ’’Mengenang pembantaian itu saya pun masih emosi. Setiap datang ke sini saya sedih luar biasa,’’ ujarnya.

    Pada 11 Juli 1995 atau 23 tahun silam atau sesudah tiga tahun Bosnia memasuki masa perang saudar,militer Serbia  menyerbu zona aman yang didirikan PBB di kota timur Sarajevo, yakni Srebrenica. Mereka memisahkan sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dari para wanita yang mencari perlindungan di daerah tersebut.

    Setelah mengumpulkan para lelaki Musllim Bosnia, mereka membawanya ke ladang dan gudang di desa-desa sekitarnya. Di situlah tragedi terjadi. Para lelaki Serbia bersenjata ini membantai mereka selama tiga hari. Sebagian pengungsi ada yang berhasil lari, namun sebagian besar terbunuh.

    Kekejaman itu terlihat jelas adanya usaha nyata yang berusaha melikuidasi penduduk Muslim Bosnia. Skenario ini sebagai bagian dari upaya untuk mengukir kebesaran Serbia setelah keluar dari reruntuhan Yugoslavia. Bosnia memilki memiliki populasi Muslim yang besar. Kroasia, dan Serbia pun begitu sebenarnya, namun dahulu tak menjadi masasalah ketika mereka masih bersatu dalam republik sosialias komunis Yugoslavia yang memang nyaris tanpa tanpa adanya mayoritas etnis. (lihat peta).

    Militer Serbia di bawah komando Milosevic, Karadzic, dan para militan yang di bawah kepemimpinan Ratko Mladic, mereka  melakukan pembersihan etnis untuk membasmi sebanyak mungkin Bosnia dari bekas Yugoslavia itu. Tujuannya jelas, menguasai Bosnia dan mendirikan Serbia Raya.

    Maka peristiwa pembantaian Srebrenica adalah hasil yang tak terelakkan. Tindakan pembunuhan massal ini menyampaikan pesan brutal bahwa umat Islam tidak aman di mana pun di dalam negeri itu. Bukan hanya itu saja, semenjak awal PBB dan masyarakat internasional sepertinya tidak dapat  dan tidak mau melindungi mereka.

    Padahal kala itu, yakni semenjak tahun 1993 PBB sebenarnya ya telah membentuk zona demiliterisasi di Srebrenica. Organisasi dunia ini berusaha menciptakan sebuah wilayah di mana Muslim yang dipaksa keluar dari rumah mereka di tempat lain di Bosnia dapat menemukan keamanan dari serangan Serbia bila tinggal di tempat itu.

    Namun, orang-orang Serbia berniat mengambil wilayah ini yang juga menjadi kantong perlawanan para Muslim Bosnia.  Bagi Serbia, mengutip sebuah memo CIA yang tidak diklasifikasikan, kala itu menggambarkan Srebrenica sebagai sebuah zona yang menyedak lehernya. Zona aman di timur Bosnia ini dipandang layaknya ‘tulang ikan di tenggorokan orang Serbia.’ Maka Serbia akhirnya nekad melakukan penyerbuan ke Srebrenica.  Mereka juga sebenarnya tahu bila penyerangan itu berisiko terjadinya pembantaian terhadap kaum Muslim Bosnia.

    Nah, pada hari pekan pertama di awal Juni 1995 itulah kekejaman terjadi. Pasukan Serbia menyisir desa-desa sekitar, memaksa sekitar 20.000 Muslim Bosnia mengungsi dan keluar dari zona aman yang ada di dalam wilayah aman PBB tersebut.

    Tak hanya menculik warga Bosnia, pasukan Serbia juga telah menculik 30 pasukan pemelihara perdamaian asal Belanda. Apalagi, kala itu pasukan perdamaian asal Belanda tak punya kekuatan senjata yang cukup. Selain kalah jumlah, mereka hanya dilengkai senjata seadanya sehingga tak mampu menjaga Serbenica yang dijadikan zona aman oleh PBB tersebut. Tak ayal lagi, tepat pada 6 Juli 1995 penyerbuan Srebrenica dimulai. Serbia dengan sangat jelas  tidak menghormati area aman PBB tersebut.

    Pada jam-jam menjelang pembunuhan, Jendral Serbia Ratzko Mladic –yang menghadapi kini tuduhan kejahatan perang– dalam sebuah video tertawa-tawa dan membagi-bagikan permen kepada pasukannya. Seorang wartawan veteran CNN, Christiane Amanpour, sempat merekam momen itu. Hasilnya, salah satu potongan video yang dibuatnya menjadi momentum hidup Amanpour yang  paling tidak bisa dihilangkan dari ingatannya,”Gambar itu menjadi sebuah tanyangan yang paling mengerikan yang pernah saya lihat dalam hidup saya.”

    Ironinya, petualangan dan kekejaman pasukan Serbia tak mendapat soroton yang layak. Komunitas internasional seakan tidak peduli. Pasukan PBB hanya sedikit sekali di Serbenica. Tempat itu yang seharusnya dijaga oleh 6.000 pasukan perdamaian, kala penyerbuan Serbia datang hanya dijaga sekitar 600 orang saja. Mereka tak berarti apa-apa karena hanya dilengkapi senjata ringan. Sedangkan pasukan Serbia menyerbu dengan senjata lengkap dan dilengkapi dengan tank serta senjata berat lainnya.

    Memang ketika pasukan Mladic dan tentara Serbia Bosnia (kemudian ditulis Serbia saja, red) memasuki Srebrenica, pasukan penjaga perdamaian memasang melakukan sedikit perlawanan dan bahkan membatalkan serangan udara ketika orang-orang Serbia mengancam akan membunuh sandera Belanda mereka. Tapi mereka tak berdaya banyak. Bahkan, di kemudian hari, penjaga perdamaian ini dituduh merusak bukti video yang menandai aksi kelambanan mereka untuk menyelematkan warga Muslim Bosnia di Srebrenica.

    Sebuah catatan seorang warga Bosnia, Armin Rosen, menceritakan kekejaman itu.  Katanya, “Mereka culik warga dari pengungsian serta di tembaki di sekitar wilayah Srebrenica yang berbukit-bukit. Pasukan Serbia menahan hampir semua pria Muslim yang ada di daerah itu untuk ‘interogasi’. Lebih dari 8.000 orang mereka bunuh pada hari-hari berikutnya,’’ kata Armin dalam tulisannya.

    Akhirnya, dunia internasional pun tak tahan terhadap aksi kejam itu. Pembantaian itu menggugah opini internasional dan menyebabkan intervensi Amerika Serikat. NATO terpaksa masuk ke dalam perang sipil Bosnia. Alhasil, tak lama setelah penyerbuan dan pembantaian itu, bom NATO mulai dijatuhkan pada posisi Serbia.

    Alhasil, fajar perdamaian mulai muncul. Pada November 1995, Milosevic dan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic menandatangani Kesepakatan Dayton yang ditengahi AS. Kesepakatan inilah yang menjadikan Bosnia sebagai satu negara sekaligus menciptakan sebuah ‘republik’ di belakang garis depan Serbia.

    Menurut The New York Times, 6.930 mayat telah diidentifikasi dari 17.000 bagian tubuh yang ditemukan di lusinan kuburan massal Srebrenica. Seorang direktur jenderal Komisi Internasional untuk Orang Hilang, menulis dalam editorial di The Guardian sempat mengatakan: “Mereka yang tewas di Srebrenica pada Juli 1995 percaya mereka bisa lolos dari pembunuhan. Mereka pikir mereka bisa menghapus identitas korban mereka secara permanen. Sayangnya anggapan mereka salah!”

    Dan ini terbukti lima belas tahun kemudian, yakni pada 26 Mei 2011, Jendral Ratko Mladic ditangkap dan ditahan di Serbia sebagai tersangka dalam pembantaian di Srebrenica itu. Kemudian pada Maret lalu 2017, delapan tentara Serbia lainnya ditangkap karena dicurigai ikut serta dalam pembunuhan.

    Ya itulah tragedi pembantaian baru atau genosida di abad moderen ini. Apakah orang masih peduli dan ingat? Apakah mereka dibiarkan saja karena mereka Muslim? Kalau benar celaka sekaligus ironis memang!

    Sumber: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/07/12/pbppxj385-ketika-dunia-terlupa-pembantaian-muslim-bosnia

  • 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation

    1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation tells the fascinating story of how generations of physicians from different countries and creeds created a medical tradition admired by friend and foe…

    About The Book

    Medicine and allied sciences flourished in the medieval Islamic world. 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation tells the fascinating story of how generations of physicians from different countries and creeds created a medical tradition admired by friend and foe. It influences the fates and fortunes of countless human beings, both East and West.

    Based on a translation movement of Greek medical tests, it drew on the legacy of surrounding cultures (Egyptian, Persian, Indian and Chinese). Importantly, it innovated in surgery, gynaecology, paediatrics and pharmacology, to name just a few areas. Ultimately, this tradition served as the foundation for European university medicine in the medieval and early modern period and has thus impacted on healthcare until today.

    The choice of the title 1001 cures like its predecessor publication 1001 Inventions, reminds us of the famous 1001 Nights or the Arabian Nights. These were allegedly stories to entertain the caliph of Baghdad Harun al-Rasheed who, like his son Al-Mamoon, was a patron of the arts and mathematics. During their period the movement of translation of philosophical, cultural and medical heritage of the antiquities to Arabic contributed to the start of new Renaissance of intellectual activities in the Middle East, North Africa and Central Asia in the high middle age. This is demonstrated in this superb volume. It is a substantial contribution to this important point of the history of Medicine and Healthcare. It comes at a time when the world desperately needs intercultural understanding and appreciation. It is an unalloyed pleasure to commend it to you.” Professor Sir Magdi Yacoub (Extract from book foreword)

    About The Authors

    1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation is a multi-author book, where distinguished authors, physicians and historians of science have key contributions. The book, which is edited by Peter E Pormann, falls in 19 chapters and features 13 authors.

    Rabie E. Ebdel-Halim

    Rabie E. Abdel-Halim (deceased) was a consultant urologist who researched and lectured on the subject for more than 30 years and was last an emeritus professor of urology at King Saud University Medical College, Riyadh, Saudi Arabia. Professor Abdel-Halim developed an interest in medical history for over 20 years and published widely in various international journals and conference proceedings, and became a visiting professor at Al-Faisal University, Riyadh, where he authored and taught courses on the History of Islamic Science and Islamic Medical Ethics. In 2005 he was awarded the Kuwait Foundation for Advancement of Sciences prize. He was also a poet with several Arabic poetry publications. His website is www.rabieabdelhalim.com.

    Peter Adamson

    Peter Adamson is Professor of Late Ancient and Arabic Philosophy at the LMU in Munich; he moved to Munich from King’s College London, where he is still affiliated. He has written two monographs on al-Kindī and his circle, and together with Peter E. Pormann produced a book of translations of al-Kindī’s works. He has published numerous articles on ancient and medieval philosophy and edited a number of volumes, mostly recently, again together with Peter E. Pormann, Philosophy and Medicine in the Formative Period of Islam (2017).

    Natalia Bachour

    Natalia Bachour studied pharmacy at the Universities of Damascus and Kiel, translation at the University of Mainz, and history of medicine at the University of Heidelberg, where she obtained a doctorate with the thesis on early modern Paracelsian physicians and how their word was received in Arabic and Turkish; the thesis won the Prix Carmen Francés. Since 2010, she works at the University of Zurich, teaching Arabic and history of medicine. Her research focuses on the human body as a remedy in cultural and medical history.

    Hans Hinrich Biesterfeldt

    Hans Hinrich Biesterfeldt read Arabic and Islamic Studies, Ancient Philosophy and Medieval History at Freiburg im Breisgau, Munich, Göttingen (PhD 1970), and Yale. After a two-year fellowship at the Orient-Institut of the Deutsche Morgenländische Gesellschaft in Beirut he taught Arabic and Islamic Intellectual History at the Universities of Heidelberg and Bochum. He published on the transmission of Greek medicine and philosophy to Arabic culture, on the early history of classifications and transmission of knowledge in Islam, and on classical Arabic prose literature.

    Leigh Chipman

    Leigh Chipman (PhD 2006, The Hebrew University of Jerusalem) is an independent scholar, editor and translator based in Jerusalem. She has held post-doctoral fellowships at Ben-Gurion University of the Negev (Beersheba) and Tel Aviv University, and has been a research fellow on projects on the reception of Galen in Arabic and Hebrew (Bar-Ilan University) and on Arabic epigraphy and on affluence in the Fatimid period (both at the Hebrew University of Jerusalem). Her own research focuses social and intellectual history of medicine and science in the Mamluk period and the Cairo Genizah. With Peter E. Pormann and Miri Shefer-Mossensohn, she has recently editied the two-volume special issue of Intellectual History of the Islamicate World on ‘Medical Traditions’.

    Aileen Das

    Aileen Das is an Assistant Professor of Classical Studies at the University of Michigan. Her work draws attention to the relationship between medicine and philosophy in the classical and medieval Islamicate worlds. She is broadly interested in the transfer of Greek philosophical knowledge into Arabic. Her research considers not only how the transmission of certain texts shaped the development of ‘Arabic Platonism and Aristotelianism’, but also how the translators of these texts, who were working in the Sinai, Palestine, and Baghdad, adapted the sources for their monotheistic readership.

    Nahyan Fancy

    Nahyan Fancy is an Associate Professor of Middle East/ Comparative History at DePauw University. His research interests are in pre-1500 medicine and intellectual history. He published a monograph on Science and Religion in Mamluk Egypt (Routledge, 2013), examining the intersections of philosophy, theology and medical physiology in the works of Ibn al-Nafīs. His current research focuses on Arabic medical commentaries on Avicenna’s Canon of Medicine, particularly the many developments that took place in medical physiology between 1250–1520 across Islamic societies. He was a member of the Institute for Advanced Study, Princeton, in autumn 2015.

    Peter E. Pormann

    Peter E. Pormann in Professor of Classics and Graeco-Arabic Studies at the University of Manchester. Recent publications include two special double issues The Arabic Commentaries on the Hippocratic ‘Aphorisms’ (Oriens, co-edited with Kamran I. Karimullah; 2017), and Medical Traditions (Intellectual History of the Islamicate World, co-edited with Leigh Chipman, Miri Schefer-Mossensohn; 2017–18) and two edited books: La construction de la médecine arabe médiévale (with Pauline Koetschet, 2016); and Philosophy and Medicine in the Formative Period of Islam (with Peter Adamson; 2017). His Cambridge Companion to Hippocrates is forthcoming in 2018.

    Pauline Koetschet

    Pauline Koetschet is a researcher at the Centre National de la Research Scientifique. She studied philosophy at the École normale supérieure (Rue d’Ulm) in Paris, and obtained a doctorate from the Unversities of Paris-Sorbonne and Warwick with a thesis on Abū Bakr al-Rāzī. She has published an anthology of Arabic philosophy (La Philosophie arabe, IVe-XIVe siècle, 2011) and edited, with Peter E. Pormann, La construction de la médecine arabe médiévale (2016). She is currently preparing a critical edition and French translation of al-Rāzī’s Doubts about Galen (al-Shukūk ʿalā Jālīnūs).

    Mahmoud Misry

    Mahmoud Misry, Lecturer at Fatih Sultan Mehmet University, Istanbul. In 1990 he obtained a BSc degree in Paediatrics, and in 2002 he obtained a PhD on the History of Medicine from the Institute for the History of Arabic Science, Aleppo University. He is also the Director of the Wakfiyah Manuscript Library. He is the author of numerous books, papers and presentation on history of medicine in Arabic. In 2005 his book on the Benefits of Bodies and Souls (Maṣāliḥ al-abdān wa-l-anfus) by al-Balkhī was awarded a prize by the International Union for the History and Philosophy of Science. His book on the History of Paediatrics in Arabic and Islamic Heritage was awarded the 2005 Prize of Kuwait Foundation for the Advancement of Sciences.

    Ahmed Ragab

    Ahmed Ragab is the Richard T. Watson Associate Professor of Science and Religion at Harvard Divinity School, affiliate associate professor at the department of the history of science, and director of the Science, Religion and Culture program at Harvard Divinity School. He obtained an MD from Cairo University in 2005 and a PhD in History and Philosophy of Science from L’École Pratique des Hautes Études in Paris (2010). His thesis, now published as a book The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion and Charity (2015), dealt with medieval hospital provisions in the Islamic world. Other interests include the history of prophetic medicine and modern Islam’s relationship to science and medicine.

    Emily Selove

    Emily Selove is a lecturer at the University of Exeter, where she teaches and researches medieval Arabic literature. Her published monograph, Ḥikayat Abī al-Qāsim: A Literary Banquet, centres on the eleventh century story of a Baghdadi party-crasher in Isfahan. She published a translation of Al-Khaṭīb al-Baghdādī’s partycrashing book, Selections from the Art of Party-Crashing in Medieval Iraq (2012). Her current research involves a literary reading of medieval Arabic magical texts, and a translation and edition of Sirāj al-Dīn al-Sakkākī’s thirteenth-century handbook of magic, Al-Kitāb al-Shāmil wa-l-baḥr al-kāmil (The Comprehensive Book and the Full Sea).

    Justin Stearns

    Justin Stearns is an Associate Professor at New York University Abu Dhabi. His research interests focus on the intersection of law, science, and theology in the pre-modern Muslim Middle East. His first book was Infectious Ideas: Contagion in Pre-Modern Islamic and Christian Thought in the Western Mediterranean (2011) and he has published articles in Islamic Law and Society, Medieval Encounters, Al-Qantara, and History Compass. He is currently working on a book on the social status of the natural sciences in early modern Morocco entitled Revealed Science: The Natural Sciences in Islam in the Age of al-Ḥasan al-Yūsī (d. 1691) as well as on an edition and translation of al-Yūsī’s Muḥāḍarāt for the Library of Arabic Literature.

    RS Book Launch
    London: 14 March 2018; The Foundation of Science, Technology and Civilisation (FSTC), the publishers of the title 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare, in partnership with Healthcare Development Holding (HDH) organised a book launch event at the Royal Society in London in celebration of the British Science Week 2018.

    The book launch event included an enlightening panel discussion that presented the long medical traditions from the East including Muslim and Indian civilisations as well as along the Silk Road. The panel, which was moderated by Bettany Hughes, included Peter Frankopan, Peter Pormann and Aarathi Prasad. The distinguished speakers discussed the fascinating legacy of healthcare from the Eastern world, and how it drew on ancient cultures and influenced European thought.

    After the panel speeches were made by: Mr Ian Fenn, representing publishers; Dr Wael Kaawch representing the sponsors; Prof Peter Porrman representing the authors; Dr Tarek Fadaak and Dr Ahmed Abo Khatwa representing the readers; Dr Sharif Kaf Al-Ghazal reading a tribute on late Dr Rabie Abdel Halim sent by Prof Glen Cooper.


    At the centre, Prof Sir Venki Ramakrishnan, president of Royal Society, recieving 1001 Cures book in his office

    Where to find
    To enquire about obtaining a copy of the 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare in Muslim Civilisation, please contact fstc.

    Sumber: http://www.fstc.org.uk/node/302

     

  • Barat Akui Akurasi Peta Al-Idrisi

    Barat Akui Akurasi Peta Al-Idrisi

    Bukunya tentang geografi sangat populer selama beberapa abad. Al-Idrisi sangat termasyhur di Barat sebagai ahli geografi yang membuat bola dunia perak bagi Raja Roger II dari Sisilia pada 1154 M. Pada bola dunia seberat 400 kilogram itu dengan cermat ia catatkan tujuh benua beserta jalur perdagangan, danau dan sungai, kota-kota besar, dataran, dan pegunungan.

    Al-Idrisi lahir di Ceuta, Maroko, Afrika Utara, pada 1100 M. Saat bertemu Raja Roger untuk mendiskusikan pembuatan bola dunia, ia berusia akhir 30-an. Pembuatan bola dunia itu memakan waktu 15 tahun. Dia juga memberi informasi, termasuk jarak, panjang, dan tinggi yang sesuai. Bola dunia itu juga dilengkapi dengan bukunya Al-Kitab al-Rujari (Buku Roger). Dalam buku itu terdapat 71 bagian peta, sebuah peta dunia, dan 70 tambahan bagian peta.

    Dia juga membuat representasi dunia pada sebuah piringan. Seperti pakar geografi Muslim lain sebelumnya, al-Idrisi mengunjungi banyak tempat yang jauh, termasuk Eropa. Tujuannya, untuk mengumpulkan data geografis. Para ahli geografi Muslim telah membuat pengukuran akurat permukaan bumi dan beberapa peta dari seluruh dunia.

    Al-Idrisi menggabungkan pengetahuan yang tersedia dengan temuannya sendiri untuk menciptakan informasi yang komprehensif dari semua ba gian dunia. Seiring dengan kepopulerannya yang menyebar, dia mendapatkan perhatian dari para navigator laut Eropa dan perencana militer, tidak terkecuali Roger II, Raja Norman Sisilia.

    Sang raja memintanya untuk membuat peta dunia teranyar. Figur dan karya al-Idrisi lebih dikenal di dunia Barat di bandingkan ahli geografi Muslim lain karena kapal dan navigator dari Laut Utara, Atlantik, dan Mediterania kerap singgah di Sisilia yang berada di bawah kekuasaan Muslim sebelum Raja Roger. Karya-karya pemikir Muslim tersedia secara bebas dan menyebar ke Eropa melalui Latin Barat. (Republika)

  • Prof Jamhari: Pesantren dapat meniru modernisasi Jepang

    Prof Jamhari: Pesantren dapat meniru modernisasi Jepang

    Inisiator program pengiriman guru agama dan pimpinan pesantren Indonesia ke Jepang Profesor Jamhari Makruf melihat banyak nilai modernisasi yang bisa ditiru dari Negeri Sakura tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.

    “Biasanya orang Islam takut sekali kalau sekolah atau pendidikannya berubah kemudian akan ikut mengubah jati diri Islamnya. Jepang bisa memberi contoh meskipun berkembang menjadi negara maju dan modern, tetapi nilai-nilai budaya aslinya masih tertanam dengan sangat baik,” ujar Jamhari usai acara Penyampaian Laporan Hasil Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang tahun 2017 di Jakarta, Kamis malam.

    Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut beberapa nilai budaya Jepang yang patut dicontoh oleh sekolah dan pesantren di Tanah Air antara lain kebersihan, kedisiplinan, menghargai waktu, ramah dan sopan santun, saling menghormati, etos kerja yang tinggi, kreativitas dan inovasi, serta kemajuan teknologi.

    Dengan mengikuti program kunjungan selama 10 hari di Jepang, guru dan pimpinan pesantren Indonesia diharapkan dapat membagikan inspirasi dan pengalamannya mengamati dan merasakan tinggal di tengah-tengah masyarakat Jepang kepada para santri di daerah asal masing-masing.

    Program yang bertujuan memperdalam pemahaman antara Jepang dan masyarakat Muslim Indonesia dilaksanakan setiap tahun sejak 2004 dengan pembiayaan penuh dari pemerintah Jepang.

    Tahun ini, sebanyak sembilan guru dan pimpinan pesantren serta seorang pendamping dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN mengunjungi Tokyo, Hiroshima, dan wilayah Kansai untuk melakukan berbagai kegiatan antara lain peninjauan ke sekolah, program homestay, dan dialog lintas agama pada 3-12 Oktober.

    Proses seleksi dilakukan oleh PPIM dengan menilai pesantren-pesantren yang berpengaruh di wilayahnya, jumlah santrinya cukup banyak, kiainya dipandang oleh masyarakat sekitar, serta memiliki sekolah formal yang bisa dikembangkan.

    Salah satu kisah sukses dari program kunjungan para pimpinan pesantren ke Jepang dapat dilihat dari sebuah pesantren diniyah putri di Padang Panjang, Sumatera Barat.

    “Kini selain terinspirasi untuk membuat pesantrennya lebih bersih dan nyaman, pesantren tersebut telah bekerja sama dengan sekolah di Jepang untuk program pertukaran pelajar. Jadi setiap tahun beberapa santri dari Sumatera Barat dikirim ke Jepang dengan biaya mereka sendiri,” ujar Jamhari.

    Kesuksesan program kunjungan pimpinan pesantren ke Jepang ternyata menarik minat guru-guru agama dari negara lain untuk berpartisipasi dalam program serupa.

    Pada 2016 sebanyak 10 pimpinan pesantren dari Malaysia telah mengikuti langkah Indonesia, dan saat ini guru-guru agama dari Filipina sedang menjajaki keikutsertaan mereka untuk program yang sama.

  • Menristekdikti Dorong Negara OKI Kembangkan Pusat IPTEK

    Indonesia mendorong seluruh negara anggota Organisasi Kerjasama Islam/OKI agar dapat mengembangkan berbagai Science Center di berbagai kawasan. Pembentukan berbagai center tersebut akan memberikan dampak positif terutama terhadap generasi muda yang sejak usia muda telah diperkenalkan terhadap Ilmu Pengetahuan dan teknologi.

    Hal tersebut ditekankan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Prof. Dr. Mohamad Nasir, pada saat memberikan pernyataan atas nama Pemerintah RI pada pertemuan para Menteri Ristek negara-negara anggota OKI di Astana, Kazakhstan, tanggal 9 September 2017.

    Menristekdikti juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga pendidik karena hal ini akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan murid yang berkarakter serta memiliki sikap kritis, jujur dan kreatif. Selain itu, isu kualitas pendidikan juga perlu diperhatikan sebagai syarat bagi terciptanya masyarakat yang sejahtera di seluruh negara OKI.

    Peningkatan jumlah dan kualitas pendidikan tinggi (vocational education) juga perlu terus dilakukan untuk menunjang kegiatan industri di seluruh negara OKI. Oleh karena itu Indonesia mendorong kalangan industri dapat terlibat di dalam pengembangan vocational education dimaksud.

    Menristekdikti juga telah menggunakan kesempatan pertemuan ini untuk menyampaikan berbagai rencana Indonesia dalam memajukan Iptek nasional, antara lain: pembangunan terbagai science and techno parks; capacity building programme; pertukaran Professor di tingkat global; serta penyelenggaraan kerjasama riset dan pengembangan serta techno entrepreneurship.

    Pertemuan tingkat Menteri para Menristek negara anggota OKI diselenggarakan sebagai salah satu pertemuan pada rangkaian Konperensi Tingkat Tinggi OKI mengenai Iptek yang diselenggarakan di Astana Kazakhstan, tanggal 10-11 September 2017. Delegasi RI pada pertemuan puncak KTT akan dipimpin oleh Wapres RI. Selain pertemuan tingkat Menteri, rangkaian pertemuan juga telah dimulai dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (Senior Official Meeting/SOM).

    KTT OKI mengenai Iptek merupakan KTT tematik pertama di bawah kerangka forum kerjasama OKI. Tema KTT ini adalah “Science, Technology, Innovation and Modernization of the Muslim World”. KTT diselenggarakan atas kesepakatan seluruh negara OKI pada berbagai pertemuan KTT OKI, termasuk KTT OKI terakhir yang diselenggarakan di Istanbul pada bulan April 2016. Seluruh 56 negara anggota OKI telah berpartisipasi pada rangkaian pertemuan KTT OKI Iptek ini.

    Pada akhir KTT, diharapkan seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara akan mengesahkan beberapa dokumen akhir, yaitu dokumen OIC Science, Technology and Innovation 2026 serta dokumen Astana Declaration. Dokumen OIC STI 2026 pada intinya merupakan road map Iptek negara-negara OKI untuk periode 2017-2026; sedangkan Astana Declaration akan berisi deklarasi bersama seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara OKI mengenai hal-hal utama mengenai pengembangan iptek di negara OKI bagi kepentingan seluruh umat manusia.

    img-20170909-wa0013
    Astana, 9 September 2017

  • Kordoba Rujukan Penguasa Eropa Soal Kota Modern

    Dalam bahasa Arab, ia bernama al- Qurthubah al-Thayyibah. Letaknya di Semenanjung Iberia (kini Spanyol). Kota ini mencapai zaman keemasannya di bawah kesultanan Khalifah al-Hakam II (wa fat 976). Sang khalifah rupanya juga se orang yang haus akan ilmu pengetahuan.

    Dalam setiap lawatannya ke negerinegeri luar, ia kerap memborong bukubuku untuk memperkaya perpustakaan pribadi. Sebagaimana Baghdad di timur, Kordoba juga menjadi pusat aktivitas intelektual, utamanya penerjemahan teksteks dari pelbagai peradaban dunia ke dalam bahasa Arab.

    Tidak kurang dari 70 perpustakaan publik tersebar merata di seantero Kordoba dalam abad ke-10 Masehi.Tidak meng herankan bila kota ini mendapatkan julukan Permata Eropa. Sebab, hampir seluruh Eropa, utamanya yang didiami bangsa Frank (Prancis) atau Roma sekalipun, di saat yang sama sedang diliputi Abad Kegelapan.

    Kota ini dilengkapi dengan pelbagai fasilitas yang amat jarang dijumpai kotakota lain di penjuru Eropa. Misalnya, lampu-lampu penerangan, jalan umum yang bersih, kolam-kolam air mancur, bangunan-bangunan indah, taman, hingga toko-toko buku. Segenap fasilitas umum itu sudah dibangun sejak kekuasaan Khalifah Abdurrahman I, sang amir pertama Kordoba (756-788).

    Oleh karena itu, Kordoba menjadi rujukan bagi para penguasa Eropa untuk mendapatkan kemewahan hidup. Seperti di lansir dari MuslimHeritage.com, umpamanya Raja Leon atau penguasa Barcelona memerlukan seorang dokter, perancang bangunan atau busana, mereka akan mencarinya di Kordoba. Meskipun dikuasai Islam, penduduk Kordoba merupakan masyarakat yang heterogen.

    Dalam era Khalifah al-Hakam II, Universitas Cordoba mulai mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan, lembaga tersebut menjadi perguruan tinggi yang paling disegani seantero Eropa pada masa itu sebanding dengan Universitas al-Azhar di Kairo dan Universitas Nizamiyah di Baghdad.

    Banyak pelajar dari berbagai wilayah Ero pa, Afrika Utara, serta Asia, datang untuk menimba ilmu di sini. Apalagi, kam pus itu terbuka kepada baik Muslim ataupun non-Muslim. Salah satu tokoh Kristen yang ikut belajar di sini adalah Gerbert d’Aurillac (945-1003), yang kelak menjadi Paus Sylvester II.

    Di sekitar Kordoba juga terdapat Madinah az-Zahra, yakni sebuah kompleks kota-benteng yang menakjubkan. Pem bangunannya bermula pada 936 Masehi atau dalam masa Khalifah Abdur Rahman III. Perlu waktu 25 tahun lamanya hingga Madinah az-Zahra selesai dengan sempurna. Lokasinya berada sekitar lima kilometer dari pusat kota Kordoba.

    Secara arsitektur, penampaknya mencontoh istana Diansti Umayyah klasik di Damaskus. Hal itu seakan-akan bermakna, sang khalifah hendak mencari akar budayanya ke Suriah. Baru pada 947 Masehi, pusat pemerintahan mulai pindah ke Madinah az- Zahra dari Kordoba. Di puncak kemakmurannya, Madinah az-Zahra berpenduduk sekira 12 ribu jiwa.

    Di dalamnya lengkap dengan bangunan-bangunan indah, taman-taman dengan sistem irigasi yang andal, serta tentu saja istana sang khalifah. Dalam perspektif modern, Madinah az-Zahra merupakan sebuah kawasan hunian urban. Setengah abad lamanya kota-benteng ini berdiri kokoh. Sebab, mulai 1010 hingga tiga tahun kemudian, perang saudara melanda.

    Beberapa ilmuwan Muslim pada zaman keemasan Kordoba antara lain pakar ilmu medis al-Zahrawi (wafat 1013). Orang Eropa menyebutnya Abul casis (berasal dari panggilannya, Abu al-Qasim). Dia dikenal sebagai Bapak Ilmu Bedah di dunia kedokteran. Karyanya yang paling terkemuka adalah Kitab al-Tasrif, yang merupakan ensiklopedia tentang praktikpraktik bedah medis. (Republika)