Tag: Kaum Muda

  • Dr. H.A. Karim Amrullah: Ulama Pelopor dan Pembangun Jiwa Merdeka

    Dalam buku Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama Di Sumatera (Penerbit Umminda Jakarta, cetakan keempat, 1982), biografi yang ditulis oleh putranya yaitu Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), diceritakan ketika Presiden Soekarno datang ke Maninjau pada tahun 1948, beliau berpidato di depan beribu-ribu rakyat: “Saya adalah anak kehormatan orang Maninjau! Saya adalah anak angkatnya Dr. H. Abdul Karim Amrullah!”

    Syekh Dr. H.A. Karim Amrullah tidak sempat menghirup udara kemerdekaan tanah air Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Beliau tidak sempat melihat Soekarno menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia. Beliau meninggal dua bulan sebelum proklamasi. Tetapi beliau pernah memberikan nasihat berharga sebagai pegangan bagi Bung Karno dan para pemimpin bangsa agar memberi contoh kepada rakyat dalam hal  kesederhanaan, “Janganlah terlalu mewah, Karno! Kalau hidup pemimpin terlalu mewah, segan rakyat mendekati!” pesannya kepada Bung Karno sebagaimana diungkapkan Buya Hamka.

    Setelah Syekh H.A. Karim Amrullah dibebaskan dari pengasingan oleh Belanda di Sukabumi disebabkan dakwahnya yang dianggap membahayakan kepentingan kolonial, beliau menetap di Jakarta hingga wafat. Beliau memberikan tabligh dan pengajian kepada murid-muridnya dan jamaah di Masjid Tanah Tinggi. Semasa pendudukan Balatentara Jepang tahun 1942 – 1945, Syekh H.A. Karim Amrullah dibantu muridnya H.S.M. Nasaruddin Latif sebagai asistennya menyelenggarakan Kursus Muballigh di Jakarta.

    Banyak muridnya dari kalangan aktivis Muhammadiyah dan para pemuda pengagumnya datang silih berganti dari segala golongan dan lapisan untuk menimba ilmu atau meminta nasihat-nasihatnya. Ketika Hamka datang dari Medan menziarahi ayahnya, sejumlah tokoh datang di kediaman Syekh H.A. Karim Amrullah di Tanah Abang, di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Mudzakkir, K.H.A. Wahid Hasjim, S.K. Trimurti dan Parada Harahap.

    Hamka mengisahkan suatu hari ayahnya diundang makan ke rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. Ketika itulah Bung Karno dilewakan (dicanangkan) menjadi anak angkatnya Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Gerakan Pembaruan Islam

    Perjuangan ulama besar Minangkabau dan tokoh gerakan pembaruan Islam yang populer dipanggil Haji Rasul atau Inyiak De Er ditulis menjadi tesis di Institute of Islamic Studies McGill University Montreal Canada oleh Prof. Murni Djamal, MA. Tahun 1990-an ia pernah menjabat Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama.

    Tesis Murni Djamal diterbitkan menjadi buku berjudul Dr. H. Abdul Karim Amrullah: Pengaruhnya Dalam Gerakan Pembaruan Islam di Minangkabau Pada Awal Abad Ke-20 (INIS Leiden-Jakarta, 2002). Adapun buku Ayahku karya Hamka diterbitkan dalam bahasa Jepang oleh Prof. Nakamura. 

    Syekh H.A. Karim Amrullah lahir pada tanggal 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Maninjau, Sumatera Barat, dan wafat tanggal 21 Jumadil Akhir 1364 H/2 Juni 1945 di Jakarta dalam usia 68 tahun. Semasa muda belajar mendalami pengetahuan Islam kepada ayahnya Syekh Muhammad Amrullah (Tuanku Kisai). Pada tahun 1894 beliau melanjutkan pelajaran di Mekkah kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy selama 7 tahun sampai 1901. Dan berangkat kembali ke Mekkah tahun 1903 untuk kedua kali selama 3 tahun. Salah satu keteladanan Syekh H.A. Karim Amrullah ialah sangat menghormati gurunya walau dalam beberapa ijtihad hukum agama pernah berbeda pendapat. Ketika menyebut nama gurunya selalu menggunakan ungkapan takzim “Tuan Ahmad Khatib”.  

    Beliau bersama Syekh Haji Abdullah Ahmad adalah dua ulama Indonesia pertama yang mendapat titel kehormatan Doctor Honoris Causa. Penganugerahan Doktor diberikan dalam pertemuan Hai’at Jam’iyyah Kubbar al-‘Ulama’ (Organisasi Masyarakat Ulama Utama) di Universitas Al-Azhar Mesir pada tahun 1926. Promotor penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Syekh H.A. Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad adalah Syekh Khalil al-Khalidi, mantan mufti Palestina, dan Atai’llah Effendi, Menteri Urusan Wakaf Irak. 

    Dalam lawatan ke Mesir dalam rangka menghadiri kongres ulama internasional, seorang ulama Timur Tengah bertanya kepada beliau; mengapa tidak memakai pakaian (jubah) ulama? Syekh H.A. Karim Amrullah yang berpakaian jas dan berpeci dengan percaya diri menjawab, “Di negeri kami, ilmu itu bukan di sudut jubah atau serban, tetapi di dada dan tahan uji.” 

    Selama kunjungan di Mesir itu beliau menyewa kamar di hotel kecil  sedangkan utusan negara-negara lain menginap di hotel besar. Ketika diwawancara wartawan, mengapa utusan dari Hindia Belanda (Indonesia) menyewa hotel murah? Syekh H.A. Karim Amrullah menerangkan, “Mereka adalah utusan resmi atau setengah resmi dari pemerintahan yang berkuasa di negerinya. Sedang kami adalah utusan dari rakyat jelata, bukan utusan dari pemerintah yang berkuasa di tanah air kami. Oleh sebab itu perbelanjaan kami terbatas.”

    Sekembali dari lawatan ke Jawa dan bertemu K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Syekh H.A. Karim Amrullah, menjadi penganjur dan pendiri organisasi Muhammadiyah di Minangkabau tahun 1925. Muhammadiyah pertama kali berkembang di Sumatera adalah di Sungai Batang, Maninjau. Uniknya, Syekh H.A. Karim Amrullah tidak menjadi anggota resmi Muhammadiyah. Tetapi perjuangan dan bantuannya sangat besar bagi perkembangan Muhammadiyah di luar Jawa.

    Minangkabau menjadi pusat perkembangan Muhammadiyah yang pertama di luar Jawa. Dari Minangkabau tampil para mubaligh dan konsul Muhammadiyah yang diberi tugas mengembangkan Muhammadiyah ke berbagai daerah lain. Reformasi sistem pendidikan Islam secara klasikal dari pengajaran pondok menjadi belajar di kelas yang dipelopori Muhammadiyah di bawah bimbingan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta diadopsi oleh Sumatera Thawalib Padang Panjang. Pelajar Thawalib dibagi ke dalam tujuh kelas. Syekh H.A. Karim Amrullah mengajar di kelas tertinggi yaitu Kelas 7. 

    Sumatera Thawalib dan Muhammadiyah – mengutip tesis Murni Djamal – merupakan dua institusi penting yang dibentuk oleh Syekh H.A. Karim Amrullah bersama-sama tokoh Kaum Muda lainnya menjadi inti pelaksanaan gagasan dan gerakan pembaruan Islam di Minangkabau. Kegiatan beliau antara tahun 1918 sampai 1930 itu merupakan sumbangan penting kaum Muslimin di Minangkabau terhadap perjuangan Islam di Indonesia.  

    Murni Djamal mencatat tiga pemimpin pembaru yang paling berpengaruh dalam gerakan reformasi Islam awal abad ke-20 di Minangkabau yaitu: Dr. H.Abdul Karim Amrullah (1979 – 1945), Dr. H. Abdullah Ahmad (1878 – 1933), dan Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947). Tiga ulama pembaru itu adalah murid Syekh Ahmad Khatib (1860 – 1916), putra asli Koto Gadang yang bermukim di Mekkah dan Syekh Tahir Djalaluddin (1869 – 1956) yang belajar di Mekkah lalu ke Al-Azhar Cairo dan menetap sampai wafat di Kuala Kangsar, Perak, Malaysia.

    Dalam wawancara jarak jauh dengan Prof. Murni Djamal tanggal 27 Maret 2023 tentang perjuangan Syekh H.A. Karim Amrullah, saya mencatat   penjelasan bahwa gerakan pembaruan Islam yang antara lain dimotori oleh Syekh H.A. Karim Amrullah tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan gerakan pembaruan di negara lain misalnya di Mesir seperti yang dipelopori oleh Sayid Jamaluddin Al-Afghany dan muridnya Syekh Mohammad Abduh.  

    Gerakan pembaruan Islam yang timbul di tengah kondisi bangsa-bangsa muslim sedang dijajah bangsa lain waktu itu sungguh fenomenal. Gerakan pembaruan bukan sekadar pemurnian ajaran Islam. Gerakan pembaruan mengupayakan agar ajaran Islam mudah dipahami dan dilaksanakan oleh umatnya di seluruh dunia. Perjuangan dakwah Syekh H.A. Karim Amrullah sebagai fase lanjutan dari Gerakan Paderi bermuara pada pengembangan pemikiran moderat sebagai titik temu antara Kaum Muda (Kaum Reformis) dan Kaum Adat (Konservatif). Titik temu itu tertuang dalam Piagam Bukit Marapalam, “Adat bersendi Syara, Syara’ bersendi Kitabullah.”   

    Gerakan pembaruan, reformasi atau modernisme Islam di masa itu secara kategoris dikelompokkan dalam Kaum Muda di satu sisi dan Kaum Tua di sisi lain. Tantangan yang dihadapi Syekh H.A. Karim Amrullah sebagaimana terungkap dalam beberapa literatur berangkat dari upaya membersihkan Islam dari praktik-praktik yang tidak benar dan menghasilkan titik temu yang moderat. Para pengusung dan pendukung gerakan pembaruan di lapangan berhadapan dengan tantangan bukan hanya dari Kaum Tua, tetapi penguasa adat Minangkabau yang merupakan orang Islam juga.

    Para ulama pembaru mengaktualisasikan gagasan dan gerakannya dengan menerbitkan buku, mendirikan terbitan berkala (majalah) dan mendirikan sekolah seperti Sumatera Thawalib Padang Panjang dengan pelopornya Syekh H.A. Karim Amrullah, Madrasah Adabiah Padang pendirinya Syekh H. Abdullah Ahmad, dan Diniyyah Putra/Diniyyah Puteri Padang Panjang pelopornya Zainuddin Labay dan adiknya Rahmah El-Yunusiyyah. Mereka membentuk organisasi guru dalam hal ini Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di bawah pimpinan Dr. H. Abdullah Ahmad di Padang dalam rangka memperbarui sistem pendidikan Islam.

    Sumatera Thawalib Padang Panjang

    Sumatera Thawalib Padang Panjang didirikan tahun 1911 oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Embrio Thawalib adalah sekolah mengaji Surau Jembatan Besi Padang Panjang yang telah belangsung jauh sebelum tahun 1900 di bawah asuhan  Syekh Abdullah, diteruskan oleh Syekh Daud Rasjidi (ayahanda Buya H.M.D. Datuk Palimo Kayo) dan kemudian Syekh Abdul Latif. Sejak tahun 1911 pengajian Surau Jembatan Besi diasuh oleh Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Di lokasi bekas Surau Jembatan Besi kini berdiri Masjid Zuama’ (artinya pemimpin). Sebuah nama yang dipilihkan dan diresmikan oleh Buya Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo. Buya Datuk adalah ulama perintis kemerdekaan, mantan Duta Besar RI di Irak dan Ketua Umum MUI Pertama Provinsi Sumatera Barat. Ia adalah alumnus Thawalib Padang Panjang dan murid Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Sepanjang perjalanan sejarahnya Sumatera Thawalib Padang Panjang melahirkan banyak ulama, pendidik, pemimpin dan tokoh masyarakat yang mengisi berbagai tempat pengabdian di tingkat nasional dan daerah setelah kemerdekaan. Sistem pengajaran Thawalib, termasuk kurikulumnya, menurut penelitian Murni Djamal, adalah diciptakan oleh para pendiri Sumatera Thawalib yaitu Syekh H.A. Karim Amrullah dan para guru Thawalib sendiri, tanpa dipengaruhi oleh sistem sekolah Al-Azhar Mesir yang di masa itu masih mempertahankan garis tradisional. Kendati buku-buku yang digunakan di Thawalib kebanyakan dari Mesir.  

    “Sumatera Thawalib mungkin merupakan sekolah paling berpengaruh yang didirikan oleh Reformis Muslim di Minangkabau. Sekolah ini berhasil mencapai tujuannya yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin agama dan pendukung-pendukung gerakan pembaruan.” terang Murni Djamal.

    Pada tahun 1926 Syekh H.A. Karim Amrullah menyerahkan kepemimpinan Thawalib Padang Panjang kepada kader seniornya Angku Mudo Abdul Hamid Hakim (1893 – 1959). A. Hamid Hakim berasal dari Sumpur, Tanah Datar. Pada tahun 1946 didirikan Yayasan Thawalib Padang Panjang diketuai Abdul Hamid Hakim. Angku Mudo Abdul Hamid Hakim memimpin Thawalib Padang Panjang sampai wafat di Sumpur tahun 1959         

    Menarik disimak komentar Van der Plas, Kepala Kantor Urusan Pribumi Pemerintah Belanda tentang Thawalib Padang Panjang yang didirikan oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Menurut Van der Plas, pengajaran di sekolah itu (Thawalib) bermutu sangat tinggi, dan berlawanan dengan sistem pendidikan (tradisional, pen), tidak didasarkan atas belajar dengan menghafal, tetapi lebih banyak atas pemikiran dan pemahaman.

    Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (1960) menggambarkan, diperlukan 12 tahun pelajaran menurut sistem sekolah di Al-Azhar untuk mencapai apa yang diselesaikan dalam 7 tahun di Sumatera Thawalib. Semua itu adalah karena benih-benih pendidikan yang ditanam oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Sekolah Thawalib tidak hanya di Padang Panjang, tapi juga berdiri di Parabek, Padang Japang, dan beberapa tempat di Sumatera. Padang Panjang bukan hanya menjadi kota pelajar, tetapi dikenal sampai ke luar Minangkabau sebagai pusat kegiatan kaum reformis Islam atau pusat gerakan pembaruan Islam awal abad ke dua puluh. Murid-murid Thawalib diajar berpikir bebas dan melepaskan taqlid buta serta kemana pun pergi berani mempertahankan kebenaran.

    Derita Seorang Pemimpin

    Dalam perjalanan hidup dan perjuangan dakwahnya Syekh H.A. Karim Amrullah menghadapi tiga ujian terberat. Beliau lulus melewati ujian dengan rahmat Allah:

    Pertama, ujian bencana alam.

    Gempa bumi pada tahun 1926 mengguncang kota Padang Panjang dan sekitarnya. Gempa menelan banyak korban jiwa, harta benda dan merobohkan gedung sekolah Thawalib yang dibangun dengan susah payah. Perkataan yang keluar dari mulut Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu, “Tidak ada harta dunia yang kekal. Harta Allah pulang kepada Allah.”

    Kedua, ujian ideologi.

    Penetrasi ideologi radikalisme komunis mempengaruhi sejumlah pelajar Thawalib Padang Panjang. Gerakan “merah” komunis yang bersikap anti-penjajah menggunakan siasat mengelabui kaum agama sehingga memicu perselisihan dan perpecahan di Sumatera Thawalib.

    Komunisme diperkenalkan di Padang Panjang oleh Haji Datuk Batuah, salah seorang guru Thawalib. Syekh H.A. Karim Amrullah menentang habis-habisan komunis, bukan karena sikap radikal komunis terhadap Belanda, tetapi karena ketidakcocokannya dengan ajaran Islam. Komunis di mana pun pada hakikatnya memusuhi agama.

    Haji Datuk Batuah dan para pengikutnya menggunakan cara-cara partai komunis dalam menjatuhkan lawan politik. Mereka berhasil memaksa Syekh H.A. Karim Amrullah berhenti sebagai kepala sekolah Thawalib. Syekh H.A. Karim Amrullah akhirnya menarik diri secara total dari Thawalib Padang Panjang.

    Murni Djamal mengungkapkan dalam bukunya, “Bagi Haji Abdul Karim Amrullah peristiwa itu merupakan salah satu hari paling kelabu dalam hidupnya, terutama karena ia merupakan salah satu pendiri (guru) sekolah tersebut. Haji Abdul Karim Amrullah seolah-olah tanpa pekerjaan setelah meninggalkan Sumatera Thawalib tahun 1923 (data lain menyebut tahun 1926, pen). Syekh Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan beberapa guru agama anti komunis masih mempunyai suraunya sendiri, sedangkan Haji Abdul Karim Amrullah hanya mempunyai rumah dan keluarganya saja. Tidak lama setelah ia meninggalkan sekolah ia membuka rumahnya bagi mereka yang masih mau menuntut ilmu padanya, dan mulai menyusun kembali para pengikutnya.”

    Pada tahun 1923 Haji Datuk Batuah ditangkap Belanda dan dibuang ke  Nusa Tenggara Timur. Hamka menceritakan ayahnya (Syekh H.A. Karim Amrullah) kelihatan murung mendengar kabar tersebut. Meski mereka sudah berbeda paham dan berlainan jalan, tetapi kemuliaan jiwa seorang guru tampak disitu. Kepada Hamka, Syekh H.A. Karim Amrullah berkata, “Sudah tertangkap Haji Datuk Batuah. Sayang dia alim besar, terbenam saja ilmunya.”  

    Syekh H.A. Karim Amrullah seorang yang teguh menjaga akidah dan berani menyampaikan pendiriannya terhadap suatu aturan atau kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat dan membatasi kemerdekaan menyiarkan agama. Salah satu contoh, kebijakan Ordonansi Guru tahun 1928 yang telah diberlakukan di Jawa, saat hendak diterapkan di Minangkanbau ditentang oleh Syekh H.A. Karim Amrullah dan kawan-kawan para ulama pejuang. Ordonansi Guru intinya melarang guru-guru agama Islam mengajar sebelum terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

    Ketiga, ujian diasingkan ke luar daerah

    Sekitar tahun 1941 Syekh H.A. Karim Amrullah ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial ke Sukabumi Jawa Barat. Sejak beberapa waktu sebelumnya ketika memberikan ceramah dan pengajian telah dimatai-matai oleh dinas intelijen politik Belanda atau diikenal dengan nama PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Beliau bahkan pernah dipenjara di Bukittinggi.

    Sewaktu Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi tahun 1930 Syekh H.A. Karim Amrullah mengatakan dalam pidatonya, “Ulama-ulama tidak boleh kalau hanya duduk tafakur dalam suraunya sambil menggeleng-gelengkan kepala, seakan-akan kepala itu diberi per, lalu membilang-bilang tasbih kayu mati. Tetapi ulama-ulama harus tampil ke muka masyarakat, memimpinnya menuju kebenaran.”

    Di tempat pengasingan di kampung Cikirai Sukabumi, beliau tinggal di rumah Tuan Iskandar, Jalan Cikirai No 8. Ketika ditanya, apakah di tanah Jawa ini beliau akan meneruskan perjuangan? Beliau menjawab, “Selama nyawa masih dikandung badan, dan di bumi yang dimana juapun, saya akan tetap berjuang menegakkan agama!” Banyak ulama dan pemimpin umat di Jawa, termasuk Pengurus Besar Muhammadiyah dari Yogyakarta, datang mengunjungi Syekh H.A. Karim Amrullah ke Sukabumi. Sejarawan dan peminat sejarah dapat menelusuri rumah tempat pengasingan Syekh H.A. Karim Amrullah. 

    Menurut penuturan K.H. Abdullah Salim kepada Hamka, Pengurus Muhammadiyah setempat menggelar peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw dalam suatu rapat umum dan mengundang Syekh H.A. Karim Amrullah sebagai pembicara. Namun diperingatkan oleh Wedana melalui Abdullah Salim bahwa sebagai seseorang yang dalam pengasingan jangan membicarakan politik. Tanggapan beliau di luar dugaan, “Nanti setelah saya naik podium hendak bicara, hendaklah engkau stop saya dan engkau sampaikan perintah itu kepada saya di hadapan umum.”

    Revolusi Jiwa Menentang Nippon

    Setelah kekuasaan kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, dimulailah era penduduk balatentara Jepang di Indonesia, sekitar Maret 1942. Syekh H.A. Karim Amrullah dibebaskan. Beliau menetap di Jakarta, Gang Kebon Kacang IV No 22 Tanah Abang. Kegiatannya tetap berdakwah dan membina umat. Sikap kritisnya di masa penjajahan Hindia Belanda maupun di masa pendudukan balatentara Jepang tidak berubah.

    Sewaktu acara pertemuan para ulama se Jawa di Bandung sesuai protokoler di zaman Jepang semua hadirin wajib melakukan penghormatan Keirei yaitu berdiri dan membungkukkan badan ke arah Istana Kaisar Jepang Tenno Heika di Timur Laut. Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu telah diangkat menjadi guru pada latihan ulama seluruh tanah Jawa ditempatkan di tribun sederetan para pembesar Jepang. Satu-satunya ulama dan hadirin yang tidak berdiri dan tidak menundukkan badan, melainkan tetap duduk tenang di kursinya ialah Syekh H.A. Karim Amrullah. Beliau berprinsip Keirei merupakan perbuatan syirik karena menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan melebihi cara yang sewajarnya. Bung Hatta mengatakan, ulama yang mula-mula sekali menyatakan revolusi jiwa kepada Jepang di Indonesia ialah Abdul Karim Amrullah.

    Mengenai alasan mengapa beliau tidak bersedia Keirei, Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu menyatakan, “Tuan-tuan Ulama yang mulia! Memegang dan mempertahankan pendirian dan keyakinan tidaklah selalu membawa bahaya, bahkan asal kita tetap tawakkal kepada Tuhan. Cobalah lihat sikap saya tadi. Saya tetap duduk sekali-kali bukanlah karena ingin menentang perintah Saudara Tuan kita Dai Nippon, melainkan karena taat kepada ketentuan Allah. Allah yang melarang saya turut melakukan upacara rukuk kepada yang selain Dia. Cobalah tuan-tuan lihat sekarang. Paduka Tuan Kolonel tidaklah kecewa kepada saya karena saya tetap berpegang teguh kepada keyakinan agama saya. Sebab beliaupun orang yang taat setia pula kepada agamanya sendiri.”

    Dalam kasus lain Syekh H.A. Karim Amrullah merasa keberatan untuk memenuhi undangan memberikan ceramah agama Islam di radio karena persyaratan teks pidato harus terlebih dahulu diperiksa atau disensor dari hal-hal yang tidak menguntungkan Dai Nippon. Menurut beliau, pemeriksaan teks pidato sudah menunjukkan kurang percayanya pihak yang mengundang kepada orang yang diundang.

    Sekitar bulan April 1943, Syekh H.A. Karim Amrullah menulis risalah yang bersejarah atas permintaan Kolonel Horie, Kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu) di Jakarta. Tulisan tersebut sebagai tanggapan atas buku “Wajah Semangat”. Beliau pada waktu itu diangkat sebagai Penasihat Shumubu. Dalam buku Ayahku dimuat sebagai lampiran oleh Hamka, dan diberi judul Hanya Allah.

    Mengenai tata cara menghormati dengan sujud atau merundukkan badan, Syekh H.A. Karim Amrullah menjelaskan Hadis Rasulullah bahwa sekali-kali tidak patut sujud itu dilakukan kepada seorang juga, lain daripada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tidaklah layak bagi manusia akan sujud kepada sesama manusia pula. Oleh karena itu tidak juga boleh dilakukan ruku’ itu membesarkan sesuatu yang lain daripada Allah. Tidak ada pertuhanan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

    “Dengan ini saya tutuplah tulisan saya, ialah sekadar yang perlu untuk menjunjung tinggi permintaan Paduka Tuan Kolonel Horie. Dan sekali lagi saya harap, kiranya beliau akan memaafkan, jika di dalam tulisan ini kedapatan kata-kata yang janggal atau kurang baik menurut kesopanan tulis menulis terutama menurut perasaan dan pertimbangan tuan-tuan dari bangsa Nippon, yang bagi saya kesemuannya itu masih bersifat baru.” tulis Syekh H.A. Karim Amrullah pada bagian akhir karangannya.

    Syekh H.A. Karim Amrullah seorang yang jujur dan berani terus terang mengutarakan pandangannya tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tanpa takut atas kekejaman tentara Jepang yang sudah menjadi rahasia umum di masa itu. Malah sebaliknya penguasa Jepang bersikap respek kepada beliau. Pemerintah Dai Nippon belakangan mengerti bahwa Keirei berlawanan dengan kepercayaan Islam. Dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri umat Islam tidak diwajibkan lagi melakukan Keirei.

    Sampai Akhir Menutup Mata

    Sekitar awal tahun 1944 Hamka datang dari Medan ke Jakarta. Ia berencana menjemput ayahnya agar pulang ke Sumatera Barat sesuai pesan para ulama sahabatnya di ranah Minang, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Siddik. Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Candung), ulama yang sezaman namun berpisah karena perbedaan paham dan gerakan perjuangan, menuliskan notes dengan tulisan tangannya; “Abuya H. Abdul Karim. Segeralah pulang. Kami menunggumu dengan penuh pengharapan. Saudaramu Syekh Sulaiman Ar-Rasuli”.

    Hamka juga minta pertimbangan Bung Karno, Bung Hatta dan K.H. Mas Mansur (Ketua PB Muhammadiyah). Mereka sepakat menahan Syekh H.A. Karim Amrullah lebih baik tinggal di Jawa saja. Bung Karno mengatakan, “Ulama di Sumatera banyak, di Jawa kurang! Biarlah beliau tetap di sini!”

    Syekh H.A. Karim Amrullah dalam banyak pernyataannya menunjukkan watak keteguhannya dalam memegang prinsip akidah Islam dan sikap mencintai Tanah Air Indonesia di atas landasan Tauhid.

    Berikut dialog Hamka dengan ayahnya. Saat dibujuk Hamka agar pulang ke Sumatera Barat, Syekh H.A. Karim Amrullah berkata sebagaimana diabadikan dalam buku Ayahku:

    “Adapun perkara tempat tinggal, bagiku sama saja di antara tanah Jawa dan Minangkabau, atau dunia mana sekalipun. Tanah airku ialah setiap jengkal tanah yang dimana aku masih dapat mencecahkan keningku sujud kepada Tuhan.” 

    “Tetapi masih ada was-was keluarga, jika Buya menutup mata di tanah Jawa ini!”

    Jawab Syekh H.A. Karim Amrullah:

    “Itu hanyalah was-was yang tidak berdasar ilmu dan tidak bertali dengan kehendak Allah. Di mana saja manusia akan mati. Dan tidak ada kelebihannya dan keutamaannya mati di kampung atau mati di Jawa. Yang penting adalah suatu perkara, yaitu adakah tanah tempat kita akan dikuburkan itu, sudi menerima kita karena amalan kita yang shaleh?”

    Hamka mengenang perpisahan dengan ayahnya pada tanggal 4 April 1944 di Stasiun Tanah Abang. Pagi-pagi ia berangkat naik kereta api dari stasiun Tanah Abang menuju Pelabuhan Merak. Perjalanannya dilepas di stasiun kereta api oleh Syekh H.A. Karim Amrullah beserta istri dan beberapa muridnya. Bung Karno hadir mengantar di stasiun. “Saya katakan kepada Bung Karno: Ayah kita Bung!” Jangan khawatir Saudara. Kondektur melambaikan kipasnya, pluit berbunyi, dan saya pun berangkat…..Sejak itu saya tidak bertemu dengan beliau lagi.” tulis Hamka di bukunya.  

    Syekh H.A. Karim Amrullah, di samping memiliki keahlian berpidato, juga memiliki ketajaman mata pena yakni keahlian mengungkapkan pikiran dan ilmunya melalui tulisan. Buku karangannya sebagian diterbitkan dalam bahasa Arab atau menggunakan tulisan Arab gundul berbahasa Melayu. Hamka mendata buku-buku karangan ayahnya yang ditulis sebelum dan setelah pulang dari Mesir sebanyak 27 judul, dan 3 judul manuskrip belum diterbitkan. Buku-buku karya Syekh H.A. Karim Amrullah di antaranya: Sendi Aman Tiang Selamat, Al-Burhan (Tafsir Juz Amma), Cermin Terus, An-Nida, Pelita (2 jilid), Pedoman Guru, Al-Faraidh, Izharu Asathiril Mudhillin, Syamsul Hidayah, Dinullah, Pembuka Mata, dan Pertimbangan Adat Alam Minangkabau.

    Koleksi kitab-kitab dan warisan karya tulis Syekh H.A. Karim Amrullah sebagian tersimpan di perpustakaan pribadinya Kutub Chanah di Muara Pauh, Maninjau. Salah satu buku yang dicetak ulang oleh Penerbit Djajamurni dan Pustaka Panjimas berjudul Pengantar Usul Fiqh.

    Syekh H.A. Karim Amrullah selama hidupnya sampai akhir menutup mata telah berjuang untuk kemuliaan agama, bangsa dan tanah air. Sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasanya dan keteladanan bagi generasi muda, pemerintah pantas menganugerahkan tanda kehormatan bintang mahaputera kepada almarhum Dr. H. Abdul Karim Amrullah.

    Sumber asal: https://fuadnasar.wordpress.com/2023/03/25/dr-h-a-karim-amrullah-ulama-reformis-pendidik-dan-ayah-angkat-bung-karno/

  • Syekh Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah, Panas Dingin Politik

    Usut punya usut, Persatuan Muslim Indonesia (Permi) era 1930-an yang telah berhaluan politik tak hanya ingin menempatkan Sumatera Thawalib dalam payungnya, tetapi seluruh sekolah agama. Terkenanglah kita untaian kalimat Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969), “Biarlah perguruan ini tetap terasing selama-lamanya dari partai politik dan tinggalkan ia menjadi urusan dan tanggung jawab orang banyak, yang macam-macam aliran politiknya.”

    Kita telah paham jika Diniyyah School Puteri tak ada hubungan organisatoris dengan Sumatera Thawalib. Konon, Rahmah El-Yunusiyyah yang mengetahui gelagat rapat di Bukittinggi memilih keluar ruangan. Putri bungsu Rafi’ah (1872-1948) tak ambil pusing, apalagi perguruannya sedari awal telah dirintis dengan kekuatan sendiri.

    Lain soal jika ucapan itu dikeluarkan oleh seorang penyokong Sumatera Thawalib. Menarik mencermati uraian Tim Peneliti FIBA IAIN Padang (2009) terkait jejak Syekh Abbas Abdullah (1883-1957). Ucapan ulama asal Padang Japang ini senada dengan Rahmah El-Yunusiyyah. Beliau berucap, “Kalau sekolah sudah memasuki dunia politik, maka sekolah itu akan hancur. Boleh berpolitik tapi jangan di sekolah.” Abbas Abdullah serta-merta mengubah nama perguruannya menjadi Darul Funun.

    Dalam buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021) dituliskan, “Rahmah tak melarang murid-muridnya berpolitik, namun setelah mereka tamat. Dengan bekal keislaman dan kekuatan iman, politik yang dijalankan akan menghadirkan maslahat.”

    Abbas Abdullah memang belum sampai panas dingin seperti Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul (1879-1945). Pengaruh politik di Sumatera Thawalib Padang Panjang terjadi sedari lama. Bahkan, saking sukanya berpolitik, ada beberapa guru dan muridnya mengusung komunis. Dilibaslah mereka oleh Haji Rasul yang memang tipikal keras. Urusan murid berpolitik ini serba runyam. “Tentang ini beliau tidak hati-hati, sebagaimana hati-hatinya Zainuddin Labay El-Yunusy, yang seketika perasaan itu telah merata dalam kalangan murid-murid, dia hanya berdiam diri,” tutur Buya Hamka (1967: 132).

    Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah tentu merasakan sendiri gejolak komunis mencapai puncaknya sepeninggal Zainuddin Labay (1890-1924) pada 1926-1927. Seusai itu, gairah berpolitik tak sirna. Persatuan Sumatera Thawalib didirikan pada 1928 yang kemudian diubah nama menjadi Persatuan Muslim Indonesia dengan singkatan PMI sampai akhirnya disingkat Permi. Intinya tetaplah sebagai wahana menyalurkan hasrat politik.

    Diniyyah School Puteri terkena getah, apalagi Sumatera Thawalib Padang Japang. Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah mulailah demam. Kendati melarang murid-muridnya berpolitik, mereka tetap saja kecolongan. Ketika murid Diniyyah School Puteri berpolitik dan konon lalai salat berjamaah sebenarnya bukan melulu kesalahan Rasuna Said (1910-1965). Saat tindakan Belanda mulai keras, bukankah tiga guru dibekuk ketika Politieke Inlichtingen Dients (PID) menggeledah Diniyyah School Puteri?

    Nasib apes dialami Abbas Abdullah. Perguruan Darul Funun digeledah dan dibekukan sementara waktu. Burhanuddin Daya (1990: 133) menerangkan Perguruan Darul Funun berikhtiar bangkit kembali setelah 1936, namun murid-muridnya sangat kurang dan sewaktu zaman pendudukan Jepang terpaksa ditutup lagi.

    Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah dalam sejarahnya pernah panas dingin dengan politik. Namun, sejarah mencatat pula, mereka paling konsisten “berpolitik” menentang penjajahan dan teguh memegang prinsip dalam revolusi kemerdekaan.

    Tanpa menyebut sosok tokoh Permi, sejarah telah mencatat ada yang membelot ketika negeri ini berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan. Wallahu a’lam.(Hendra Sugiantoro, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, 2021).

    Diterbitkan di: Suhanews (31/08 2021)
    https://suhanews.co.id/syekh-abbas-abdullah-dan-rahmah-el-yunusiyyah-panas

  • Bedah Buku: Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia

    Nama Rahmah El Yunusiyyah menjadi perbincangan dan dijadikan alternatif sebagai penggerak pendidikan perempuan. Kiprahnya dalam mengembangkan institusi pendidikan Diniyah Putri Padang Panjang memberikan kontribusi besar sebagai loncatan pendidikan perempuan di Nusantara.

    Penulis Hendra Sugiantoro mengurai peran Rahmah El Yunusiyyah dalam arus sejarah Indonesia. Saksikan bincang santai, bedah buku tersebut disini.


    Bedah Buku: Rahmah El Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia
    (Penulis: Hendra Sugiantoro)

    Kamis, 12 Agustus 2021
    https://www.youtube.com/watch?v=zcLLV_dBxCM

  • Al-Imam: Susur Galur Majalah Islam, dari Paris hingga Padang

    Al-Imam: Susur Galur Majalah Islam, dari Paris hingga Padang

    al-imam

    Penulis:   – Lenteratimur.com (Creative Common – Non Commercial)

    Media massa yang memiliki tujuan dengan suatu cara pandang agaknya tidak pernah hilang. Jika pun satu hilang, tumbuh ia seribu. Esa hilang dua terbilang. Keyakinan yang dikandung membuatnya dapat berkembang biak tiada mengenal tempat. Dan agaknya itulah yang terjadi pada majalah Al-Imam.

    Al-Imam adalah majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Ia terbit perdana di Singapura pada Jumadil Akhir 1324 H/Juli 1906 M dan berakhir pada permulaan 1909. Majalah yang menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi dan berbahasa Melayu ini dicetak di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar, Singapura.

    Michael Laffan, dalam bukunya Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, The Umma Below the Winds(2002), mencatat adanya sejumlah tokoh kunci di balik lahirnya majalah ini. Di antara nama-nama itu tersebutlah Sayyid Ahmad Al-Hadi, yang merupakan anak angkat dari Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad Riau, dan Syekh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari, seorang ulama muda Minangkabau yang merupakan sepupu dari ulama Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860 – 1916). Pada 1890, keduanya dikirimkan dari Riau-Lingga ke Kairo, Mesir, untuk tugas belajar.

    Selain Al-Hadi dan Syekh Taher, nama lain yang juga menonjol dalam penerbitan majalah Al-Imam adalah Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali. Sayyid Muhammad dikenal sebagai ahli sunnah dan pendiri sekolah Islam Al-Iqbal di Singapura pada 1907. Sekolah ini berada di bawah perlindungan Raja Ali Haji. Sedangkan Syekh Muhammad Salim Al-Kalali adalah seorang saudagar keturunan Arab yang wafat di Lhokseumawe, Aceh. Al-Kalali disebut-sebut memainkan peran penting dalam masa-masa awal Perang Aceh.

    Selain itu, ada juga nama Haji Abbas bin Muhammad Thaha (1885) dan Encik Abdallah bin Abdul Rahman. Haji Abbas adalah seorang keturunan Minangkabau yang lahir di Singapura dan menghabiskan sebagian besar usia mudanya di Makkah. Adapun Encik Abdallah adalah orang yang mendatangkan majalah Al-Manar dari Mesir sebagai referensi ke Singapura.

    Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), dalam bukunya Ayahku (1950), menjelaskan bahwa keberadaan majalah Al-Imam ini seluruhnya dilakukan atas belanja Syekh Al-Kalali, yang juga bertindak sebagai mudir (direktur) majalah tersebut. Kemudian, melalui usaha ulama Sayyid Muhammad bin Aqil dan Sayyid Ahmad Al-Hadi, sempat didirikan suatu edisi “limited” yang khas untuk penerbitan majalah itu dengan modal dua puluh ringgit (Atjehpost.co, 26 Agustus 2014).

    Dalam hal citarasa kebahasaan, Hamka menilai bahwa bahasa Melayu yang dipakai Al-Imam mulai halus, tidak lagi semata-mata terikat kepada bahasa Arab. Dan majalah ini disebutkan mendapatkan perhatian dari ulama-ulama yang sepaham.

    Dalam penerbitannya, nama wakil-wakil Al-Imam pada tiap-tiap negeri dituliskan pada kulit dalam kedua (omslag II). Di antara nama-nama tersebut adalah Said Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab di Betawi, Haji Abdullah bin Haji Ahmad (kemudian dikenal sebagai Dr. H. Abdullah Ahmad) di Padang Panjang, Haji Abdul Karim bin Syekh Kisaa-iy (kemudian dikenal sebagai Dr. H. Abdul Karim Amrullah), di Danau Maninjau, dan seterusnya.

    Pada edisi kedua (Agustus 1906), majalah Al-Imam sudah mulai membuat macam-macam rubrik, seperti “tanya jawab” dan “pembaca bertanya Al-Imam menjawab”. Dan dalam perjalanannya, majalah ini mulai mendapatkan banyak tantangan. Sejumlah ejekan dan serangan disebutkan dialamatkan kepada mereka, termasuk kepada Syekh Taher.

    Namun hal-hal semacam ini langsung ditangkis oleh Syekh Al-Kalali. Dan pada edisi 12 jilid II yang terbit pada 1 Jumadil Awwal 1326 H/Juni 1908, Al-Imam menegaskan garis dirinya:

    Al-Imam adalah musuh yang amat bengis bagi sekalian bid’ah dan khurafat (karut-karut) dan ikut-ikutan dan adat yang dimasukkan orang pada agama”.

    “Itulah dia Al-Imam,” tulis Hamka dalam Ayahku.

    Mengenai karakternya yang demikian, William R. Roff, dalam bukunya The Origin of Malay Nationalism (1967), mengutip tulisan pembuka dari Syekh Al-Kalali yang menjadi maksud keberadaan majalah Al-Imam.

    Al-Imam bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah)”.

    Dalam laporannya, Atjehpost.co mengutip Hamka yang menulis artikel di majalah Panji Masyarakat No. 201, 15 Juni 1976, ihwal alasan penerbitan Al-Imam. Dalam pendahuluan majalah Al-Imam, Al-Kalali menulis bahwa dirinya merasa terpanggil untuk membangunkan bangsa dan kaumnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun.

    “Rasa cintanya kepada wathan (tanah air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkannya,” sebut Hamka dalam artikelnya itu.

    Michael Laffan juga mencatat bahwa Al-Imam bertujuan untuk mencapai kemerdekaan atas tanah-tanah yang ditindas oleh Belanda dan Inggris. Dalam mendefinisikan komunitas-komunitas yang tertindas itu, Al-Imammenghimpunnya dalam satu ikatan: Islam. Adapun wathan yang dimaksud majalah ini ditempelkan pada bangsa atau umat Melayu. Dan identifikasi akan hal ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah seperti “umat Timur”, “umat Melayu”, “umat Islam kita di sini”, atau “umat kita sebelah sini”.

    What do we see around us? To the Southwest the land of Sumatra (tanah Sumatra) is in the grip of the Dutch. To the Southeast lies the land of Java (tanah Jawa), also in the grip of the Dutch. To the East is Borneo (tanah Borneo), similarly dissected by that people (kaum). Across the Eastern sea lies Manado (tanah Manado) and the Sulu Isles also under that race (bangsa). Across the Western sea is the land of the Malay Peninsula (tanah Melayu peninsula), served up as a dish for England’s enjoyment. Does all this not make one’s heart heavy or indeed wound it?” tulis Al-Imam dalam Vol. 1, No. 3, 19 September 1906, sebagaimana dikutip oleh Laffan.

    Tulisan Al-Imam ini agaknya menandakan wathan yang ia maksud tak mengikuti jalan berpikir kolonial, baik Inggris maupun Belanda. Dan ini membuatnya berbeda dengan media macam Bintang Hindia (1902), yang menyatakan wathannya adalah tanah dimana Belanda ada di kepulauan ini, yang disebut India Belanda.

    Yet, unlike Bintang Hindia’s clear claims to loyalty for the tanah air of the Netherlands Indies, al-Imam was unable to be specific about where exactly the watan of the Malays lay…,” tulis Laffan.

    Lebih lanjut Laffan merujukkan upaya identifikasi wilayah dan kaum ini pada Partai Ummah (Hizb al-Umma) yang didirikan oleh Ahmed Lutfi el-Sayed di Kairo, Mesir, pada 1907. Partai ini kemudian dipahami sebagai partai bangsa Mesir.

    Akan tetapi, gegap gempita majalah Al-Imam tak berlangsung lama. Seiring waktu, majalah pun mulai mendapatkan kesulitan. Sayyid Muhammad bin Aqil dikatakan telah berusaha untuk mencari modal ke Mesir, tapi tidak membuahkan hasil.

    “Sehingga permulaan tahun 1909 M berhentilah terbit majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu,” tulis Hamka dalam Ayahku.

    Al-Urwatul Wutsqa di Paris dan Al-Manar di Mesir
    Dalam edisi perdananya, Atjehpost.co melaporkan bahwa Al-Imam menyalin dan menerbitkan ulang beberapa artikel dari majalah Al-Urwatul Wutsqa. Al-Urwatul Wutsqa adalah majalah Islam yang terbit pada 5 Jumadil Awwal 1301 H/13 Maret 1884 M di Paris, Perancis. Majalah Al-Urwatul Wutsqa berdiri atas prakarsa ulama bernama Syekh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin.

    “Jelas sekali pengaruh majalah itu di dalamnya,” terang Hamka dalam Ayahku.

    Pemuatan kembali artikel dari majalah Al-Urwatul Wutsqa memang bukan tanpa sebab. Dalam susur galurnya,Al-Imam memang menautkan diri kepada Al-Urwatul Wutsqa.

    “Majalah Islam itu diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam kalau kaum muslimin tetap lalai dan lengah,” tulis Hamka di bukunya itu.

    Majalah Al-Urwatul Wutsqa ini disebutkan bertahan hingga delapan belas edisi. Edisi terakhirnya terbit pada Zulhijjah 1301 H. Tekanan dan larangan beredar di negeri-negeri yang dikuasai Inggris membuat usianya tak sampai setahun.

    Akan tetapi, meski telah mendiang, tulisan-tulisan di majalah Al-Urwatul Wutsqa nyatanya meninggalkan pesona kepada seorang ulama muda bernama Sayyid Muhammad Ridha. Dia pun kemudian menjumpai gurunya, Syekh Muhammad Abduh, untuk membahas perihal penerbitan majalah.

    Dari upayanya itu, maka lahirlah majalah yang kemudian amat terkenal: Al-Manar. Majalah yang lahir di Mesir pada pada 1315 H/1897 M ini dimaksudkan sebagai penyambung Al-Urwatul Wutsqa dalam cita kebangkitan Islam yang lebih lengkap. Selain membangkitkan semangat, Sayyid Muhammad Ridha juga mengisi majalah itu dengan pandangan-pandangan Islam yang baru, termasuk tafsir Al-Quran menurut Syekh Muhammad Abduh.

    Dalam buku Ayahku, Hamka mencatat bahwa daya jangkau pengaruh Al-Urwatul Wutsqa di Paris dan Al-Manar di Mesir cukup kuat. Salah satunya adalah berdirinya majalah Al-Imam di Singapura, yang di antaranya diprakarsai oleh Al-Kalali, yang merupakan karib dari Syekh Taher, ulama asal Minangkabau lulusan Al-Azhar yang baru pulang dari Mesir. Tak ketinggalan peran dari Sayyid Muhammad bin Aqil sebagai orang yang bertanggungjawab pada sirkulasi majalah Al-Manar di Kepulauan Melayu.

    “Yang terang ialah bahwa sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 Hijriah, sampai majalah itu berhenti terbit, Syekh Taher Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syekh Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar,” kata Hamka dalam pidato yang dibacakannya ketika menerima gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, 21 Januari 1958.

    Majalah Al-Manar yang tersebar ke seluruh dunia Islam itu ditutup dengan wafatnya Sayyid Muhammad Ridha.

    Al-Munir dan Suluh Melayu
    Pada 1 April 1911, atau dua tahun setelah berhenti terbitnya majalah Al-Imam, terbitlah sebuah majalah Al-Munir di Padang. Al-Munir merupakan kelanjutan dari Al-Imam, yang sekaligus menjadi majalah Islam pertama yang terbit di Sumatera.

    Kelahiran majalah Al-Munir ini tak lepas dari gagasan Haji Abdullah Ahmad, seorang ulama muda yang mahir tulis menulis di Padang. Sebelumnya dia juga merupakan wakil Al-Imam di Padang Panjang.

    Sementara Haji Abdul Karim Amrullah Danau, yang merupakan ayah dari Hamka, juga berperan dalam mengisi majalah ini. Ia menjawab soal-soal yang menyangkut agama, yang menjadi rubrik yang menggoncangkan alam pikiran Islam di masa itu. Seperti Abdullah Ahmad, Abdul Karim pun sebelumnya menjadi wakil Al-Imam di Danau Maninjau.

    Dengan susur galur yang demikian, maka pertautan majalah Al-Munir di Padang kepada majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris diperoleh secara berturut-turut melalui majalah Al-Imam di Singapura dan majalah Al-Munir di Mesir. Namun, pada 15 Rabiul Awwal 1333 H/31 Januari 1915, Al-Munir berhenti terbit. Tutupnya majalah ini disebut-sebut dikarenakan kekurangan dana.

    Akan tetapi detik jarum jam belum berhenti berdetak. Kehadiran Al-Munir nyatanya telah memicu hadirnya sejumlah media massa Islam di Sumatera, khususnya Sumatera Barat, yang dipelopori kaum muda. Sebut saja di antaranya majalah Al-Akbar yang terbit di Padang (1913), majalah Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang (1918 – 1924), majalah Al-Basyir di Sungayang (1920), majalah Al-Itiqan di Maninjau, atau majalah Al-Imam(nama yang diambil dari pendahulu Al-Munir) di Padang Japang.

    Tak hanya majalah-majalah, kaum muda ini juga mendirikan sejumlah lembaga pendidikan terkemuka dengan semangat pembaharuan, seperti Sumatera Thawalib yang berdiri pada 1919. Kelompok pendidikan ini kemudian banyak mendorong atau menerbitkan majalah-majalah itu.

    Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh kaum muda ini pada gilirannya membangkitkan suatu reaksi dari apa yang disebut kaum tua di Sumatera Barat. Untuk menandingi sebaran gagasan dan cara pandang kaum muda itu, kaum tua kemudian turut menerbitkan sejumlah majalah. Maka, terbitlah majalah Suluh Melayu di Padang pada 1913, majalah Al-Mizan di Maninjau pada 1918, majalah Al-Radd Wa Al-Mardud di Bukittinggi pada 1926, dan majalah Suarti (Suara Tarbiyah Islamiyah) di Bukittinggi pada 1937 sampai 1945. Sama seperti kaum muda, gerakan kaum tua ini juga tak hanya di bidang penerbitan majalah, tetapi juga membuat organisasi seperti Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Bukittinggi pada 1928.

    Hamka mengatakan, terbitnya majalah-majalah tersebut membuat kutub menjadi terbelah dua. Di satu sisi, ada majalah Al-Munir dengan tokoh-tokoh pemikir macam Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Mohammad Djamil Djambek. Di sisi lain, ada majalah Suluh Melayu dengan pemikir-pemikir seperti Syekh Khatib Ali, Syekh Sa’at Mungka, dan Syekh Bayang.