Tag: Kisah Muslim

  • Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid

    Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid

    Mengenalnya

    Dia adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al-Quraisyiah al-Asadiyah. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Jundub. Beliau dilahirkan di Mekah tahun 68 sebelum hijrah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Quraisy. Khadijah dididik dengan akhlak mulia dan terhormat sebagai seorang wanita. Sehingga tumbuhlah ia dengan karakter yang kuat, cerdas, dan menjaga kehormatan.

    Nasab Khadijah bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek kelima, Qushay. Ia adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang pertama yang menerima dakwah Islam. Dan wanita yang paling dicintai beliau.

    Khadijah di Masa Jahiliyah

    Di masa jahiliyah, sebelum kenal dengan Rasulullah, Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu dikenal sebagai seorang wanita yang kaya dan seorang pedagang besar. Ia bekerja sama dengan laki-laki untuk bagi hasil barang dagangannya. Karena laki-lakilah yang terbiasa bersafar ke Syam untuk berdagang. Sedangkan wanita-wanita di masa itu tidak terbiasa keluar-keluar menuju tempat yang jauh. Inilah tradisi Arab kala itu, hal ini juga sesuai dengan sifat menjaga kesucian diri yang beliau miliki.

    Hari-hari terus berlalu, hingga beliau mendengar kisah tentang seseorang yang bernama Muhammad bin Abdullah. Seorang laki-laki yang berakhlak mulia. Jujur lagi terpercaya. Jarang sekali terdengar di masa jahiliyah ada seorang laki-laki memiliki sifat sedemikian mulia. Ia kirim seseorang untuk menawarkan kerja sama dagang menuju Syam. Ia berikan barang kualitas super, yang tidak ia percayakan kepada pedagang lainnya.

    Ketika Khadijah dan Muhammad telah sepakat bekerja sama, Khadijah menyertakan seorang budak laki-lakinya yang bernama Maisaroh untuk membawa barang dagangan itu hingga ke Syam. Di daerah Romawi itu, Muhammad bin Abdullah berteduh di bawah pohon dekat dengan kuil milik seorang pendeta. Si pendeta datang mendekati Maisaroh. Ia berkata, “Siapa laki-laki yang berteduh di bawah pohon itu?” “Ia seorang laki-laki Quraisy dari penduduk al-Haram”, jawab Maisaroh. Si pendeta berkata lagi, “Tak seorang pun yang singgah di bahwa pohon ini kecuali seorang nabi.”

    Kemudian Rasulullah mulai menjual barang dagangannya dan membeli barang lainnya yang beliau inginkan. Sesampainya di Mekah, beliau menemui Khadijah dengan hasil keuntungan dagangnya. Kemudian Khadijah membeli barang bawaannya. Beliau pun mendapatkan untung berkali lipat.

    Maisaroh mengabarkan tentang kemuliaan akhlak Muhammad bin Abdullah dan sifat-sifatnya yang istimewa, yang ia lihat saat bersafar bersama. Demikianlah safar, ia menampakkan sesuatu yang tersembunyi dari perangai manusia. Terlebih safar di masa itu yang kendaraan dan keadaannya tidak senyaman sekarang.

    Membuka Hati Untuk Laki-Laki Mulia

    Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali. Pertama menikah dengan Atiq bin A’id al-Makhzumi, kemudian ia meninggal. Dan yang kedua, dengan Abu Halah bin Nabbasy at-Tamimi, yang juga meninggal. Tapi dari Abu Halah, ia mendapatkan seorang putra yang bernama Hind bin Abu Halah. Setelah itu, Khadijah menutup hatinya dari semua laki-laki. Ia tak ingin lagi menikah dan memutuskan hidup sendiri. Tapi, cerita-cerita tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia dengar dari orang-orang dan dari Maisaroh menggoyahkan keteguhannya. Ia begitu kagum dengan seorang laki-laki yang begitu mulia akhlaknya. Tidak hanya mendengar, ia pun membuktikkan dan “mengujinya” dengan mengajak kerja sama dalam masalah uang. Semakin tampaklah amanahnya dan sifat-sifat mulia lainnya.

    Dari sini dapat kita petik pelajaran, saat tertarik dengan seorang laki-laki atau perempuan, jangan tergesa-gesa menyatakan perasaan padanya. Uji dulu akhlaknya, apakah kebaikan yang disampaikan seseorang tentangnya benar atau hanya kabar burung saja. Khadijah adalah wanita yang cerdas, ia tidak tergesa-gesa. Emosinya stabil. Sehingga ia bisa mengetahui kabar tentang Nabi Muhammad, tanpa membuatnya merasa malu atau jatuh harga dirinya.

    Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara dua orang yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Khadijah binti Khuwailid. Maharnya adalah 500 dirham. Hal ini semakin menegaskan bahwa jodoh seseorang sesuai dengan keadaan dirinya. Pernikahan ini berlangsung saat Muhammad bin Abdullah belum mendapatkan kedudukan istimewa sebagai seorang nabi dan rasul. Sebelum Muhammad dikenal dan memiliki banyak pengikut. Sebelum Muhammad kaya dan menjadi pemimpin negara. Rumah tangga keduanya berlangsung kurang lebih selama 25 tahun. Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

    Kedua pasangan mulia ini terus bersama hingga Khadijah wafat di usia 65 tahun. Dan Rasulullah berusia 50 tahun. Ini adalah masa terlama kebersamaan nabi bersama istrinya, dibanding dengan istri-istri yang lain. Nabi tak menikahi wanita lain saat bersama Khadijah. Hal itu karena kemuliaan yang dimiliki Khadijah. Ia juga memberi beliau putra dan putri. Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan si bungsu Fatimah adalah buah dari pernikahan keduanya.

    Memeluk Islam

    Allah Ta’ala menganugerahkan Ummul Mukminin Khadijah hati dan ruh yang suci dan cahaya keimanan. Sehingga ia begitu siap ketika kebaikan datang menghampirinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama:

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [Quran Al-Alaq: 1].

    Nabi segera pulang dalam keadaan takut dan gemetar. Kemudian beliau bertemu dengan istrinya. “Selimuti aku. Selimuti aku.”, kata Nabi. Khadijah menyelimutinya sampai rasa cemasnya sirna. Nabi berkata,

    أَيْ خديجة، ما لي لقد خشيت على نفسي

    “Khadijah, apa yang terjadi padaku? Aku khawatir terjadi apa-apa pada diriku.” Khadijah menanggapi dengan kalimat yang sangat berarti bagi pskisi Nabi, ia berkata,

    كلا أبشر، فوالله لا يخزيك الله أبدًا، فوالله إنك لتصل الرحم، وتصدق الحديث، وتحمل الكلَّ، وتكسب المعدوم، وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق

    “Tidak. Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, engkau adalah seorang yang menyambung silaturahim, jujur ucapannya, memikul kesulitan orang lain, menanggung orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung usaha-usaha kebenaran.”

    Kemudian ia mengajak Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Di masa jahiliyah, Waraqah adalah seorang laki-laki Nasrani. Ia menulis Injil dengan Bahasa Arab. Dan ia sudah tua sampai-sampai buta karena ketuaannya. Ia memberi kabar baik kepada Nabi. Waraqah bercerita bahwa apa yang baru saja beliau jumpai adlaah an-Namus (Jibril) yang juga datang menemui Musa.

    Dalam keadaan yang aneh dan membingungkan itu, Khadijah lah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu hal ini semakin meringankan beban psikis Nabi. Nabi tak pernah mendengar sesuatu pun dari Khadijah yang membuat beliau tidak suka. Tidak mendustakannya dan membuatnya bersedih. Melalui wanita mulia ini, Allah berikan banyak jalan keluar dan kemudahan untuk beliau. Saat ia pulang mendakwahkan risalahnya, Khadijah selalu membuatnya jiwa kembali teguh dan bersemangat. Meringankan dan membenarkannya di saat orang-orang mendustakannya.

    Membayangkan keadaan tersebut. Dan sulitnya merintis dakwah di tengah orang-orang yang mengingkari. Tidak hanya mengingkari, mereka juga memusuhi dan merespon dakwah dengan gangguan. Tapi beliau memiliki istri seperti Khadijah. Yang melapangkan dan tak pernah mengecewakannya sedikit pun. Dari sini kita tahu, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikahi wanita lain selain dirinya saat ia masih hidup.

    Wanita Yang Cerdas

    Semua sumber-sumber sejarah yang menceritakan biografi Khadijah pasti menukilkan bahwa beliau adalah wanita yang cerdas. Hal itu terlihat dari bagaimana Khadijah meneliti sifat Muhammad bin Abdullah sebelum menjadi nabi dan bagaimana ia mampu bernegosiasi membersarkan usahanya.

    Kecerdasarnnya yang lain adalah saat ia ingin menikah dengan Nabi. Ia memilih seorang utusan yang bernama Nafisah bin Maniyah. Wanita ini ia pilih dan tugaskan meneliti Nabi Muhammad setelah pulang dari Syam. Agar ia tidak merasa malu -karena umumnya wanita malu menyatakan perasaan terlebih dahulu-, tampaklah seolah-olah Nabi Muhammad lah yang menginginkan Khadijah dan meminta dirinya untuk menikah dengan beliau.

    Setelah menikah, kembali Khadijah memberi ketaladanan dalam kematangan akal dan pikiran. Ia tidak panik tatkala suaminya dalam kebingunan menerima wahyu pertama. Ia jawab dengan yakin bahwa Allah tidak akan menghinakan suaminya. Jawaban itu ia kuatkan dengan alasan-alasan. Sehingga sang suami benar-benar merasa tenang. Tidak cukup sampai di situ, ia bawa suaminya ke Waraqah agar semakin tenang dengan peristiwa ajaib yang tengah terjadi. Perhatikanlah tahapan-tahapan Khadijah dalam menenangkan suaminya dalam menerima wahyu, pasti semakin tampaklah kecerdasan dan kematangan jiwanya.

    Membantu Dakwah Islam

    Bantuan Ummul Mukminin -setelah taufik dari Allah- terhadap dakwah amatlah banyak. Kalau seandainya kita sebutkan satu saja, sebagai orang pertama yang beriman, tentu itu sudah cukup sebagai keutamaan beliau. Itu sangat penting bagi Rasulullah. Sangat penting untuk beliau diterima di lingkungannya. Karena istrinya adalah orang pertama yang beriman.

    Setelah memeluk Islam, beliau korbankan hidupnya. Kehidupan yang tenang dan nyaman, berubah menjadi kehidupan yang menantang dan penuh gangguan. Kehidupan dakwah, jihad, dan pengepungan. Keadaan tersebut sama sekali tak mengurangi cintanya kepada suaminya, bahkan ia bertambah cinta kepada sang suami. Bertambah cinta pula terhadap agama yang ia bawa. Ia senantiasa mendampingi dan mendukungnya mencapai tujuan yang diperintahkan Allah Ta’ala.

    Ketika orang-orang Quraisy memboikot dan mengasingkan bani Hasyim ke pinggiran Mekah, Khadijah tak ragu pergi bersama suaminya. Waktu pengasingan dan boikot tersebut bukanlah waktu yang singkat. Bani Hasyim begitu menderita, kekurangan makanan, sampai-sampai mereka makan dedaunan karena tak ada makanan. Mereka seolah-olah akan mati kelaparan. Bayangkan! Quraisy memboikot mereka dengan tidak menikahi mereka, tidak membeli atau menjual sesuatu kepada mereka selama tiga tahun. Penderitaan seperti apa yang akan terjadi kalau demikian keadaannya? Dalam keadaan tersebut, Khadijah yang bukan bagian dari Bani Hasyim, tetap menemani sang suami. Padahal ia dulunya wanita kaya dan berkecukupan. Inilah jalan dakwah, tidak mudah. Sehingga pasangan hidup orang-orang yang meniti jalan dakwah pun adalah orang-orang yang tangguh. Sekali lagi, inilah di antara alasan nabi senantiasa mengenangnya dan tidak melakukan poligami saat bersamanya. Sekali lagi kita renungkan pula, jodoh seseorang itu sekadar kualitas dirinya.

    Keutamaan Khadijah

    Pertama: Wanita terbaik

    Tidak diragukan lagi, wanita dengan keadaan demikian adalah wanita yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lisannya sendiri memuji kemuliaan Khadijah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

    “Cukup bagimu 4 wanita terbaik di dunia: Maryam bintu Imran (Ibunda nabi Isa), Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, dan Asiyah Istri Firaun.” (HR. Ahmad 12391, Turmudzi 3878, dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

    Kedua: Allah menitip salam untuknya melalui Jibril

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: ‘Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan pada beliau:

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

    “Wahai Rasulallah shalallahu’alaihi wa sallam, Ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai.” (HR. Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432).

    Ketiga: Nabi menganggap mencintainya adalah karunia.

    Setelah mengetahui bagaimana setianya ibunda Khadijah menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita paham bagaimana kedudukan beliau di sisinya. Hal itu juga tampak dari riwayat-riwayat betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyebut namanya. Memuliakan teman-temannya sepeninggal beliau. Sampai-sampai Rasulullah ucapkan sebuah kalimat di hadapan Aisyah, yang menjelaskan kedudukan Khadijah di hati beliau.

    إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

    “Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah.” (HR. Muslim no 2435).

    Wafatnya

    Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu wafat tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Saat itu beliau berusia 65 tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang turun memakamkan jenazah sang istri tercinta. Dengan tangannya yang mulia, beliau memasukkan jenazahnya ke kuburnya.

    Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah sangat berdekatan waktunya dengan wafatnya Abu Thalib. Rasulullah benar-benar merasa sedih dengan wafatnya dua orang yang beliau cintai ini. Dua orang penolong dakwahnya. Ditambah lagi, sang paman wafat dalam keadaan berada di atas agama nenek moyangnya. Karena begitu sedihnya Rasulullah, tahun ini pun dinamakan Tahun Kesedihan.

    Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
    Artikel www.KisahMuslim.com

    Read more https://kisahmuslim.com/6155-ummul-mukminin-khadijah-binti-khuwailid.html

  • Terbakarnya Perpustakaan Terbesar di Dunia

    Terbakarnya Perpustakaan Terbesar di Dunia

    Kisah tentang terbakarnya Perpustakaan Baghdad, perpustakaan terbesar di zamannya adalah sebuah kisah pilu. Hilangnya begitu banyak ilmu. Dan awal dari mundurnya peradaban di dunia Islam. 

    Setelah Kota Baghdad jatuh ke tangan Tatar, mereka melakukan apapun yang mereka inginkan terhadap ibu kota Daulah Abbasiyah ini. Sebagian dari mereka membantai penduduknya. Sebagian lagi melakukan pengrusakan kota. Entah mengapa, kala itu Tatar selalu melakukan pembantaian dan penghancuran setiap kota yang mereka taklukkan dengan peperangan.

    Bisa jadi penyebabnya adalah adanya kesenjangan budaya, antara umat Islam dengan orang-orang Tatar. Umat Islam memiliki sejarah panjang dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, dan etika. Peradaban Islam telah membidani lahirnya puluhan ribu ilmuan terkemuka di semua cabang ilmu pengetahuan.

    Tatar adalah komunitas masyarakat nomaden yang berasal dari gurun sebelah utara Cina. Mereka tumbuh dengan hukum rimba. Mereka saling berperang layaknya hewan saling memangsa. Tidak berlebihan kalau kita katakan kehidupan mereka seperti kehidupan hewan. Karena memang mereka tak kenal peradaban. Mereka tak berkeinginan memberi kontribusi memakmurkan bumi. Hidup dengan nilai-nilai perbaikan di dunia. Karena itu, setiap wilayah yang mereka taklukkan dengan perang selalu dihancurkan. Membaca sejarah mereka di masa itu sungguh mengerikan.

    Di antara bukti nyata pernyataan di atas adalah apa yang mereka lakukan terhadap perpustakaan terbesar di dunia kala itu. Perpustakaan Baghdad di masa Daulah Abbasiyah. Perpustakaan yang mewariskan peradaban dunia, ringan saja mereka hancurkan. Sama sekali tak ada kepedulian dengan ilmu pengetahuan yang dihimpun di dalamnya. Perpustakaan Baghdad saat itu adalah hazanah keilmuan kaum muslimin dan umat-umat selainnya. Bagaimana tidak, perpustakaan itu telah dibangun selama 600 tahun dan menghimpun semua cabang ilmu pengetahuan. Ilmu syariat, ilmu alam, ilmu tentang kemanusiaan, dll. Selama 6 abad tentu tak terbayang koleksi buku yang dimiliki.

    Dahulu, ilmu-ilmu yang ditulis dengan bahasa Persia, Yunani, Sansekerta, dll. diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kemudian disimpan di Perpustakaan Baghdad. Sehingga orang cukup menguasai bahasa Arab dan pergi ke Baghdad, ia akan menguasai banyak ilmu yang ada di dunia ini. 

    Saat kota ini jatuh, koleksi sebesar itu seolah tak berharga. Bayangkan! Warisan besar itu mereka lempar ke Sungai Tigris hingga air sungai berubah menjadi hitam. Bahkan ada yang mengatakan, kuda-kuda Tatar bisa melintasi sungai dengan jembatan timbunan berjilid-jilid buku yang mereka lemparkan ke sungai.

    Tentu kejahatan ini tidak hanya merugikan umat Islam saja. Bahkan merugikan peradaban manusia juga.

    Sumber: https://lite.islamstory.com/ar/artical/9270/قصة-حرق-أعظم-مكتبة-على-وجه-الأرض

    Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

    Artikel www.KisahMuslim.com

  • Menyesal Aku Kehilangan Hidayah

    Menyesal Aku Kehilangan Hidayah

    Zaman tempat kita hidup sekarang begitu dinamis. Begitu cepat berubah. Keadaan kemarin sangat berbeda dengan hari ini. Hari ini bisa jauh tertinggal dibanding esok. Tentu, perubahan-perubahan itu berpengaruh terhadap keadaan kita. Seseorang bisa tiba-tiba jadi kaya raya. Bisa juga dari mapan jatuh pailit dan bangkrut. Dampak lainnya juga terjadi pada kondisi hati. Pagi beriman, siapa sangka sore hari menjadi kafir. Pagi kafir, sore hari mendapat hidayah. Dulu, di zaman dimana perubahan dan efek yang ditimbulkannya tidak sedahsyat sekarang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbicara tentang cepatnya perubahan kondisi hati.

    لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَسْرَعُ تَقَلُّبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلَيَانًا

    “Sungguh hati anak Adam itu lebih cepat berubah daripada (getaran) ketel di saat mendidih.” (as-Sunnah oleh Ibnu Abi Ashim, No: 182).

    Perhatikanlah teko saat air di dalamnya mencapai titik didih. Tutupnya bergetar. Bergeser dari posisinya semula. Uap air yang bergemuruh membuatnya bergetar. Bergerak dan terus berubah. Kondisi hati manusia lebih cepat lagi berubahnya dari keadaan tersebut.

    Ada sebuah kisah yang menunjukkan betapa hati itu sangat mungkin berubah. Dalam Tarikh Dimasyq No. 74431, Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah kisah:

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada penguasa Kerajaan Ghassan, Jabalah bin al-Iham (al-Ayham) mendakwahkan Islam kepadanya. Jabalah menyambut seruan itu dan memeluk Islam. Ia membalas surat Rasulullah, berisikan pernyataan keislamannya. Tak lupa sebagai penghormatan, ia bawakan hadiah untuk beliau. Jabalah pun menjalankan keislamannya. Dan hidup sebagai seorang muslim.

    Dalam riwayat al-Waqidi, Jabalah turut serta dalam Perang Yarmuk di barisan orang-orang Romawi. Setelah itu ia memeluk Islam di masa Umar bin al-Khattab.

    Waktu terus berjalan. Jabalah masih setia dengan ikrar Islamnya. Hingga ada satu kejadian yang mengubah hidupnya. Saat ia berada di Pasar Damaskus, seorang laki-laki Badui dari Muzainah menginjak jubah mewahnya. Sontak Raja terakhir Kerajaan Ghassan ini menempelengnya. Kemudian si Badui mengadu kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Ditetapkanlah qishash untuknya. Dibalas tempeleng oleh si Badui. Jabalah berkomentar, “Tidakkah kau lihat, wajahku ini sebanding dengan wajah kakekku.” Maksudnya, aku ini keturunan ningrat. “Sungguh agama ini keterlaluan jeleknya,” kata Jabalah mencela Islam. Ia pun murtad dan memeluk Nasrani. Kemudian lari bersama sekelompok pengikutnya menuju wilayah Romawi.

    Ketika menafsrikan ayat:

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).

    Syaikh Sa’id al-Kamali membawakan kisah Jabalah bin al-Iham. Kata beliau:

    Jabalah bin al-Iham raja terakhir Kerajaan Ghassan datang menemui Umar. Umar bergembira dengan keislamannya. Kemudian ia tawaf di Ka’bah dan pakaiannya terinjak oleh seorang Badui bani Fazarah. Jabalah menempelengnya. Laki-laki itu mengadu kepada Umar, “Jabalah bin al-Iham menempelngku,” katanya. Kemudian Umar memanggil Jabalah, “Kau memukulnya?” tanya Umar. “Bayarlah tebusan atas pukulanmu. Jika tidak, kuperintahkan dia untuk membalasmu,” lanjut Umar.

    “Bagaimana bisa demikian. Aku ini seorang raja sementara dia hanya orang pasar?” tanya Jabalah keheranan. “Islam menjadikan kalian berdua setara (di mata hukum),” jawab Umar.

    Jabalah mengatakan, “Aku menyangka, setelah memeluk Islam aku lebih mulia dibanding di masa jahiliyah.”

    Umar menjawab, “Tinggalkan itu semua. Tidak bermanfaat sama sekali. Bayar tebusan atau engkau dihukum setimpal.”

    “Kalau begitu aku pindah agama Nasrani saja,” jawab Jabalah kesal.

    “Kalau kau murtad menjadi Nasrani, kupenggal lehermu,” kata Umar.

    “Jika demikian, biarkan aku. Aku akan memikirkan urusan ini nanti malam,” kata Jabalah.

    Di malam harinya, ia bersama orang-orang yang setia dengannya pergi menuju wilayah Romawi. Lalu memeluk agama Nasrani.

    Dialah Jabalah bin al-Iham, pernah berjumpa orang shaleh seperti Umar. Bahkan tawaf bersamanya mengelilingi Ka’bah. Tapi ia wafat memeluk agama Nasrani. Jika demikian, bagaimana orang-orang yang hanya pernah duduk-duduk di majelis ustadz. Dekat dan ngobrol bersama mereka. Tentu kita lebih berhati-hati lagi.

    Di akhir hayat ia menyesal dan menggubah bait syair penyesalannya.

    تنصرت الأشراف من عار لطمة *** وما كان فيها لو صبرت لها ضرر
    تكنفني فيها لجاج ونخوة *** وبعت بها العين الصحيحة بالعور
    فيا ليت أمي لم تلدني وليتني *** رجعت إلى القول الذي قاله عمر
    ويا ليتني أرعى المخاض بقفرة*** وكنت أسيرا في ربيعة أو مضر
    ويا ليت لي بالشام أدنى معيشة *** أجالس قومي ذاهب السمع والبصر

    Aku menjadi Narani karena malu dari tamparan Padahal balasan itu tidak bahaya kalau aku bersabar
    ….
    Aduh celaka sekiranya ibuku tidak melahirkan Aduh celaka, seandainya aku tunduk dengan apa yang dikatakan Umar
    Aduh celaka coba kutahan sakitnya rasa melahirkan Atau menjadi tawanan di Rabiah atau Mudhar
    Aduh celaka sekiranya aku tetap di Syam walaupun rendah kehidupan Bersama kaumku, pergi, melihat, dan mendengar

    Pelajaran:

    Pertama: Hati itu cepat berubah.

    Kedua: Kesombongan dapat menghilangkan hidayah.

    Ketiga: Pernah bertemu, bersama, berteman dengan orang shaleh tidak menjamin hidayah. Sebagaimana Abu Thalib tidak memeluk Islam, padahal sering bersama Nabi. Kebersamaan dengan orang shaleh hendaknya dimanfaatkan untuk menambah ketakwaan dan ilmu bukan untuk menjadi bahan cerita. Karena hal itu tidak bermanfaat menambah iman dan takwa.

    Keempat: Strata sosial yang tinggi dan harta bisa menjadi penghalang hidayah.

    Kelima: Hidayah Islam itu lebih nikmat dibanding nikmat kedudukan, harta, dan kesenangan dunia lainnya. Karena Jabalah merasakan kenikmatan dunia di wilayah Romawi, tapi ia tetap menyesal. Dan berharap mengulang kehidupan, tinggal di Syam walaupun menjadi orang biasa.

    Keenam: Memperbanyak doa memohon kepada Allah agar memberikan ketetap hati.

    Read more http://kisahmuslim.com/5981-menyesal-aku-kehilangan-hidayah.html

  • Dicintai Manusia Karena Menaati Allah

    Dicintai Manusia Karena Menaati Allah

    Siapa yang tidak senang mendapat simpati dari manusia? Semua orang berharap agar orang-orang menyukainya. Orang ingin agar tidak memiliki musuh atau orang yang membenci. Dengan itu, ia bisa merasakan nikmat dan nyamannya hidup. Tapi, cinta dan simpati manusia jangan dijemput dengan cara membuat Allah murka. Alias bermaksiat kepada Allah.

    Terkadang, ada orang yang ingin diterima dalam pergaulan, ia meminum khamr, merokok, melepas jilbab, dll. Ada orang yang ingin mendapat simpati dan dikatakan bijaksana, ia menafikan prinsip-prinspi agama. Ada juga yang ingin diterima kerja, ia melanggar syariat Rabbnya. Akhirnya, ia mendapatkan cinta dan simpati manusia yang setipe dengannya. Tapi menjemput murka Allah. Belum lagi simpati manusia itu kadang hanya basa-basi saja.

    Ada cara yang sempurna. Ia bisa mendapat simpati dan cinta manusia, dan lebih-lebih lagi sekaligus mendapat cinta dari Allah.

    Dalam sebuah ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدّ

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” [Quran Maryam: 96].

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Suhail bi Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Dan ia meriwayatkan sebuah kisah, “Kami pernah berada di Arafah. Saat itu lewatlah Umar bin Abdul Aziz yang sedang berhaji. Orang-orang tegak berdiri memandanginya. Aku berkata pada ayahku, “Wahai ayah, aku yakin Allah mencintai Umar bin Abdul Aziz.” “Mengapa demikian?,” tanya ayahku. Aku berkata, “Dari kecintaan yang ada pada hati orang-orang padanya.”

    Ayahku mengatakan, “Melalui ayahmu, engkau meriwayatkan dari Abu Hurairah yang menyebutkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِى فِى السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ. فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ. وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّى أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِى فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِى الأَرْضِ

    “Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril: “Sesungguhnya Aku telah mencintai si fulan maka cintailah fulan”. Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru penduduk langit: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah kalian fulan”, maka penduduk langit pun mencintainya dan diletakkan baginya penerimaan di tengah-tengah penduduk bumi”.

    Dan jika Allah membenci seseorang, maka Allah menyeru Jibril dan berkata: “Sesungguhnya Aku membenci si fulan maka bencilah dia”. Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit: “Sesungguhnya Allah membenci si fulan maka becilah dia”. Penduduk langit pun membencinya, kemudian makluk dibumi pun membencinya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Birru wa ash-Shilatu wa al-Adabu, Bab Idza Ahabballahu ‘Abdan Habbabahu Ila ‘Ibadihi, No: 2637).

    Diriwayatkan oleh al-Baihaqi bahwasanya Abu Darda radhiallahu ‘anhu menulis surat kepada Maslamah bin Mukhallid radahiallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Gubernur Mesir. “Keselamatan atasmu. Amma ba’du… Sesungguhnya seorang hamba apabila mengamalkan ketaatan, Allah akan mencintainya. Jika Allah telah mencintainya, Dia akan membuat para hamba-Nya mencintainya. Dan seorang hamba apabila melakuan bermaksiat kepada Allah, Dia akan murka padanya. Jika Allah telah murka padanya, Dia akan membuat hamba-hamba-Nya juga membencinya.”

    Read more http://kisahmuslim.com/5967-dicintai-manusia-karena-menaati-allah.html

  • Ubay bin Ka’ab, Yang Paling Fasih Bacaan Alqurannya (1/2)

    Ubay bin Ka’ab, Yang Paling Fasih Bacaan Alqurannya (1/2)

    Ubay bin Ka’ab al-Anshari salah seorang sahabat mulia. Seorang sahabat Anshar yang disebut qari’nya (pembaca Alqurannya) Rasulullah. Ia datang ke Mekah. Bertemu Rasulullah dan menawarkan Kota Madinah, negeri yang aman untuk hijrah beliau. Berikut ini tulisan pertama dari dua tulisan tentang sahabat yang mulia, Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu.

    Mengenal Qari Rasulullah

    Dia adalah Ubay bin Ka’ab bin Qays al-Khazraji al-Anshari. Ia memiliki dua kun-yah. Rasulullah memberinya kun-yah Abu al-Mundzir. Sedangkan Umar bin al-Khattab menyebutnya Abu aht-Thufail. Karena ia memiliki seorang putra yang bernama ath-Thufail.

    Ubay adalah seorang laki-laki yang rambut dan janggutnya berwarna putih. Namun ia tak mengubah warna perak rambut kepalanya itu dengan inay. Atau pewarna lainnya.

    Allah Ta’ala memilih Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia bersyahadat saat Baiat Aqobah kedua. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, ia dipersaudarakan dengan Said bin Zaid. Salah seorang dari sepuluh orang sahabat utama, al-muabsyiruna bil jannah.

    Dididik Sang Nabi

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pendidik yang handal. Beliau memberi teladan dengan lisan dan perbuatan. Apa yang beliau ajarkan menancap di hati. Menjadi guratan-guratan yang muncul dalam perbuatan. Ubay pun merasakan murninya pendidikan nubuwah itu.

    عن أبي هريرة أن رسول الله خرج على أبي بن كعب، فقال رسول الله: “يا أُبيّ” وهو يصلي، فالتفت أبي ولم يجبه، وصلى أبيّ فخفف ثم انصرف إلى رسول الله، فقال: السلام عليك يا رسول الله. فقال رسول الله: “ما منعك يا أبي أن تجيبني إذ دعوتك؟”. فقال: يا رسول الله، إني كنت في الصلاة. قال: “أفلم تجد فيما أوحي إليَّ {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الأنفال: 24]؟” قال: بلى، ولا أعود إن شاء الله.

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ubay bin Ka’ab. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Ubay.” Saat itu Ubay sedang shalat. Ia hanya menoleh, tapi tidak menjawab panggilan Nabi. Ubay melanjutkan shalatnya. Dan menyegerakannya.

    Setelah itu ia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Assalamu’alaika ya Rasulullah,” sapa Ubay. Rasulullah bersabda, “Hai Ubay, apa yang menghalangi untuk menjawab panggilanku saat aku menanggilmu tadi?” “Wahai Rasulullah, tadi aku sedang shalat,” jawab Ubay.

    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Tidakkah engkau mendapati sesuatu yang diwahyukan kepadaku ‘Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu’?” [Quran Al-Anfal: 24].

    “Iya (aku telah mengetahuinya). Aku tidak akan mengulanginya lagi, insyaallah,” janji Ubay. (Sunan at-Turmudzi, Kitab Fadhail Quran, Juz: 5: 2875).

    Perhatikanlah, bagaimana para sahabat dalam menanggapi perintah Rasulullah. Mereka tidak membantah. Tidak mengedepankan hasrat dan keinginan mereka. Ketika mengetahui bahwa Rasulullah menafsirkan ayat tersebut demikian. Mereka pun berazam untuk mengamalkannya. Tentu ini menjadi teladan bagi kita. Bagaimana adab ketika mendengar atau membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah dan larangan.

    Rasulullah melarang kita dari riba, mendekati zina, dll. Beliau memerintahkan wanita muslimah untuk mengenakan hijab yang sempurna. Ingatlah pesan Allah yang disampaikan Rasulullah dalam Surat Al-Anfal ayat 24 tersebut.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” [Quran Al-Anfal: 24].

    Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’ab bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “ألا أعلمك سورة ما أنزل في التوراة ولا في الزبور ولا في الإنجيل ولا في القرآن مثلها؟” قلت: بلى. قال: “فإني أرجو أن لا تخرج من ذلك الباب حتى تعلمها”. ثم قام رسول الله فقمت معه، فأخذ بيدي فجعل يحدثني حتى بلغ قرب الباب. قال: فذكّرته فقلت: يا رسول الله، السورة التي قلت لي. قال: “فكيف تقرأ إذا قمت تصلي؟” فقرأ بفاتحة الكتاب، قال: “هي هي، وهي السبع المثاني والقرآن العظيم الذي أوتيتُه”.

    “Maukah kuajarkan kepadamu suatu surat yang tidak Dia turunkan yang semisalnya dalam Taurat dan Injil. Juga tidak ada pada Alquran yang semisalnya?” Ubay menjawab, “Tentu.” “Aku berharap sebelum engkau keluar dari pintu itu, engkau telah mempelajarinya,” kata Rasulullah.

    Kemudian Rasulullah berdiri. Dan aku berdiri bersamanya. Beliau mengandeng tanganku sambil mengajarkanku. Sampai beliau hampir sampai di pintu.

    Aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mana surat yang Anda janjikan untukku?”

    Beliau berkata, “Apa yang engkau baca saat shalat?”

    “Aku membaca surat Al-Fatihah,” jawabku.

    “Itulah dia. Itulah dia (surat yang tidak terdapat dalam Injil dan Taurat. Bahkan dalam Alquran yang menyamai kemuliaannya). Surat itu adalah tujuh yang berulang-ulang. Dan Alquran yang agung yang diwahyukan padaku.”

    Dalam riwayat yang lain, Ubay memperlambat langkahnya. Karena sangat ingin mendengar surat yang dijanjikan Rasulullah untuknya. Demikianlah semangatnya Ubay bin Ka’ab dan sahabat-sahabat lainnya memperoleh ilmu dari Rasulullah.

    Kemuliaan Ubay bin Ka’ab

    روى البخاري بسنده عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: قَالَ النَّبِيُّ لأُبَيٍّ: “إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ {لَمْ يَكُنْ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ}”. قَالَ: وَسَمَّانِي؟! قَالَ: “نَعَمْ”، فَبَكَى.

    Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi berkata kepada Ka’ab, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu ‘Orang-orang kafir yakni ahli Kitab… [Quran Al-Bayyinah: 1]”

    “Dia (Allah) menyebut namaku, wahai Rasulullah,” tanya Ubay penuh haru. “Iya,” jawab Nabi. Ubay pun menangis. (HR. al-Bukhari 4959)

    فكان ممن جمعوا القرآن على عهد رسول الله؛ ففي البخاري بسنده عن قتادة قال: سألت أنس بن مالك: من جمع القرآن على عهد النبي؟ قال: أربعة كلهم من الأنصار: أبي بن كعب، ومعاذ بن جبل، وزيد بن ثابت، وأبو زيد رضي الله عنهم جميعًا.

    Ubay adalah orang yang mencatat dan menyusun Alquran di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Qatadah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Siapa yang mengumpulkan Alquran di masa Nabi?’ Anas menjawab, ‘Ada empat orang. Semuanya dari kalangan Anshar. Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid -radhiallahu ‘anhum jami’an’.” (HR. al-Bukhari, 5003).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ia adalah orang yang paling fasih bacaan Alqurannya di umat ini. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

    “Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Alqurannya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. at-Turmudzi 3791).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui luasnya ilmu Ubay bin Ka’ab. Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

    “يا أبا المنذر، أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟” قال: قلت: الله ورسوله أعلم. قال: “يا أبا المنذر، أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟” قال: قلت: “اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ”. قال: فضرب في صدري وقال: “وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ”.

    “Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau satu ayat yang paling agung dalam Kitabullah yang kau hafal?” Ubay menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.” “Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau satu ayat yang paling agung dalam Kitabullah yang kau hafal?” Rasulullah ingin Ubay menjawabnya. Aku menjawab, “Allaahu laa ilaaha illaa huwa al-Hayyu al-Qayyum… (Allah Dialah yang tidak ada sesembahan selain Dia. Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurusi makhluknya).” Kemudian Rasulullah menderapkan tangannya di dadaku dan mengatakan, “Demi Allah, semoga dadamu dipenuhi dengan ilmu, wahai Abu Mundzir.” (HR. Muslim 810).

    Banyak tokoh-tokoh sahabat yang belajar Alquran dari Ubay. Di antara mereka: Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Saib, Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah, Abu Abdurrahman as-Sulami -radhiallahu ‘anhu jami’an-.

    Kemuliaan lainnya yang disandang sahabat Anshar ini adalah sebagai penulis wahyu. Ubay adalah orang pertama di Madinah yang menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Kalau tidak ada Ubay, baru Rasulullah memanggil Zaid bin Tsabit. Di zaman Umar, ia diangkat menjadi hakim di Yaman.

    Read more http://kisahmuslim.com/5960-ubay-bin-kaab-yang-paling-fasih-bacaan-alqurannya.html

  • 7 Ramadhan: Masjid Al-Azhar Resmi Dibuka

    7 Ramadhan: Masjid Al-Azhar Resmi Dibuka

    Tanggal 7 Ramadhan menjadi tanggal bersejarah dalam perkembangan pendidikan dunia Islam. 7 Ramadhan 361 H, al-Jami’ al-Azhar resmi dibuka. Masjid yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan dunia. Bahkan universitas pertama di dunia. Pada tanggal 7 Ramadhan inilah pertama kali shalat dilaksanakan di Al-Azhar. Suara muadzin terdengar dari puncak menaranya. Kemudian
  • Nasib Tawanan Sebelum Islam Datang

    Nasib Tawanan Sebelum Islam Datang

    Zaman sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal dengan zaman jahiliyah. Disebut jahiliyah (kebodohan) karena manusia tidak tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah pencipta mereka. Mereka terkurung dalam gelapnya akhlak jahiliyah. Peraturan dibuat hanya berdasarkan kepentingan dan perasaan. Sedangkan perasaan manusia itu berbeda-beda. Nilai-nilai yang baik bagi satu kelompok belum tentu baik bagi yang lain. Standar kebaikan dan maslahat mereka berbeda, tidak bisa diukur dengan akal satu orang. Kemudian Islam datang, menembus sekat dan batas. Menyatukan persepsi dan akal mereka dengan bimbingan wahyu.

    Di antara bentuk bimbingan dan teladan yang diajarkan Islam adalah berbuat baik walaupun kepada tawanan. Allah Ta’ala berfirman,

    وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

    “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” [Quran Al-Insan: 8].

    Lalu bagaimana ketika manusia dalam kegelapan jahiliyah? Bagaimana cara mereka memperlakukan para tawanan?

    Menilik lembaran sejarah, bagaimana dulu peperangan terjadi dan apa konsekuensinya. Dalam perang pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang menguasai dan yang kalah menjadi tawanan. Mereka yang kalah akan tunduk terhina. Bahkan istri dan anak-anak mereka pun dikuasai. Menyandang status tawanan, mereka tak lagi memiliki kebebasan. Sampai-sampai terhadap hak asasi pribadi mereka sendiri. Jadi, di zaman itu belas kasih terhadap tawanan ditentukan oleh kadar nurani, akhlak, dan agama sang penawan semata.

    Banyak agama, kelompok masyarakat, dan zaman mempraktikkan berbagai cara dalam berinteraksi dengan tawanan. Namun intinya interaksi mereka adalah interaksi yang kasar, kejam, dan zalim.

    Yahudi Memperlakukan Tawanan

    Orang-orang Yahudi meyakini mereka adalah etnis terbaik. Merekalah yang paling istimewa. Menurut mereka, keunggulan etnisnya merupakan hadiah khusus dari Allah untuk bangsa Yahudi. Yahudi adalah anak Allah. Bangsa yang suci. Dan lebih unggul dari yang lain.

    Berangkat dari keyakinan ini, orang-orang Yahudi beranggapan janji Rabb mereka hanya bisa diperoleh dengan cara memperbudak etnis-etnis lain. Jalannya adalah perang. Tidak heran, perang bangsa Yahudi dengan selain mereka adalah perang yang menghancurkan. Perang mereka adalah kebengisan dan perusakan. Karena tujuan peperangannya perbudakan. Sampai-sampai tatkala Yahudi mengadakan perjanjian damai, poin-poin perjanjian adalah bentuk perendahan terhadap musuh mereka. Perjanjian damai hanya sekadar nama yang tak memiliki arti.

    Demikianlah cara orang-orang Yahudi berinteraksi dengan tawanan mereka. Karena jiwa mereka memiliki benci dan dengki kepada selain Yahudi. Suka melakukan pengrusakan di muka bumi. Inilah cara mereka berinteraksi dengan para tawanan perang.

    Negara-Negara Dunia dan Tawanannya

    Tak ada beda perlakuan negara-negara dunia -sebelum Islam datang- dalam memperlakukan tawanan. Di antara tawanan ada yang disembelih, dipersembahkan untuk Tuhan-Tuhan. Atau direndahkan dijadikan budak. Atau diperjual-belikan.

    Di antara negara yang memberlakukan kebijakan keras terhadap tawanan adalah Persia dan Yunani. Para tawanan mengalami siksaan, disalib, bahkan dibunuh. Di Romawi, yang merupakan negara paling sering berperang, tawanan begitu melimpah. Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa di sebagian wilayah Romawi jumlah budak tiga kali lebih banyak dari orang-orang merdeka. Kalau tidak selamat dari pembunuhan, hak hidup yang layak mereka terima adalah menjadi budak. Kerajaan Romawi memberikan legalitas bagi para pemilik budak untuk membunuh atau membiarkan mereka hidup. Para budak tidak memiliki hak-hak asasi. Dan tidak memiliki kedudukan di kelas sosial. Sampai-sampai seorang filsuf yang dikenal moderat sekelas Plato pun menyatakan tidak boleh memberi budak hak kewarga-negaraan. Tidak berhenti di situ, orang-orang Romawi menempatkan para budak -yang merupakan manusia- satu kandang dengan hewan.

    Di tempat lain, di India, para budak menempati kelas sosial keempat, tingkat terakhir. Strata Sudra adalah yang paling layak untuk mereka. Mereka adalah orang-orang buangan. Lebih rendah dari anjing-anjing. Orang-orang Sudra yang mujur akan menjadi pelayan para dukun (tokoh agama) dan pemerintah. Meskipun demikian, mereka tetap tidak mendapat upah. Saking rendahnya kelompok budak ini, denda membunuh masyarakat kelas Sudra, sama dengan denda apabila salah seorang di antara mereka membunuh anjing, kucing, katak, dan burung hantu.

    Bangsa Arab dan Tawanan Perang

    Perang terjadi di mana saja, tidak terkecuali di wilayah Arab yang kala itu tidak teranggap. Masyarakat Arab yang terdiri dari suku dan kabilah terus saja bertikai. Sehingga kehidupan sosial mereka terpecah belah. Perang menuntut mereka memperbanyak jumlah keturunan laki. Selain memperkuat kabilah, laki-laki juga tidak menerima konsekuensi kekalahan perang sepahit perempuan. Perempuan ketika menjadi tawanan, kematian lebih terhormat untuk mereka dari pada kehidupan.

    Bagi mereka yang kalah perang, akan menjadi budak yang diperjual-belikan. Kegiatan ini menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat Arab kala itu.

    Peperangan di masyarakat Arab terus berlangsung hingga Islam datang mempersaudarakan mereka. Perang yang terkenal dalam sejarah Arab adalah perang antara kabilah Aus dan Khazraj di Madinah. Bakr dan Khuza’ah di dekat Mekah. Allah Ta’ala berfirman,

    وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

    “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” [Quran Ali Imran: 103].

    Peperangan membuat angka perbudakan meningkat. Potensi-potensi mereka terkubur dalam penjara budak. Kemudian Islam datang membebaskan raga dan potensi mereka. Lihatlah bagaimana Islam membebaskan potensi orang-orang seperti Bilal bin Rabah al-Habasyi, Shuhaib ar-Rumi, Salman al-Farisi, Salim Maula Abi Hudzaifah, Zaid bin Haritsah, Amir bin Fuhairah, dll.

    Banyak orang-orang yang memiliki potensi besar namun terkubur di dalam perbudakan. Setelah Islam membebaskan mereka, jadilah mereka tokoh dunia.

    Dikutip dari– as-Sirjani, Raghib. 2010. Akhlak al-Hurub fi Sunnati an-Nabawiyati.Kairo: Muas-sasah Iqra.

    Sumber: http://kisahmuslim.com/5894-nasib-tawanan-sebelum-islam-datang.html

  • Ilmuan Islam dan Timur Melahirkan Astronomi Modern

    Ilmuan Islam dan Timur Melahirkan Astronomi Modern

    Mungkin, Astronomi merupakan ilmu alam tertua di dunia. Sebelum manusia mengadakan kajian secara sistematis tentang benda-benda langit, mereka menjulurkan leher menanarkan pandangan ke atas. Mengamati gerakan aneh beberapa titik terang cahaya dan keheningan lainnya. Sejak dulu, peradaban di seluruh dunia telah memasukkan kajian astronomi ke seluruh aktivitas mereka. Mulai dari arsitektur hingga cara mereka bercerita. Hingga ilmu ini mencapai puncaknya diperkirakan di masa Renaissance. Pencapaian yang telah dirintis sejak seribu tahun sebelumnya di wilayah Timur.

    Sekitar abad ke-6, Eropa berada di sebuah era yang dikenal dengan Abad Kegelapan. Periode ini dimulai dari 500 M hingga abad ke-13. Saat itu, di benua biru itu terjadi intimidasi dan penindasan terhadap pemikiran intelektual dan para ilmuan. Hal ini merata di seluruh Eropa. Dan masyhur sebagai konflik ilmuan dengan agamawan gereja. Para ilmuan dianggap memiliki pandangan yang menentang keagamaan gereja. Di masa ini, karya tulis menjadi langka. Penelitian pun sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi.

    Sementara Eropa berada dalam koma intelektual, kerajaan Islam yang membentang dari Spanyol, Mesir, hingga China, memasuki era “Golden Age”. Astronomi adalah salah satu cabang sain yang digemari oleh ilmuan Islam, khususnya di Irak dan Iran. Hingga tahun 800 M, satu-satunya buku astronomi adalah Ptolemy Almagest yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi di Yunani. Dunia akademik moden masih menggunakan teks berharga ini sebagai acuan utama astronomi kuno. Ilmuan muslim menunggu 700 tahun agar teks Yunani yang fundamental ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Setelah itu, barulah mereka berusaha memahami isinya.

    Para astronom seperti Ibn Yunus dari Mesir menemukan kesalahan dalam perhitungan Ptolemy tentang pergerakan planet-planet dan eksentrisitasnya yaitu perubahan bentuk dari orbit imajiner planet-planet yang mengelilingi matahari. Ptolemy berusaha mencari penjelasan bagaimana benda-benda ini mengorbit di angkasa. Termasuk bagaimana gerakan bumi dalam kajian ini. Ptolemy menghitung bahwa gerakan bumi bervariasi 1 derajat setiap 100 tahun.

    Kemudian, astronom Ibn Yunus menemukan bahwa Ptolemy keliru, yang benar adalah 1 derajat setiap 70 tahun. Namun, mereka tidak tahu bahwa perubahan itu disebabkan oleh gerakan bumi. Karena di abad ke-10, orang-orang masih meyakini bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Penemuan Ibn Yunus dan lain-lain seperti Ibn al-Shatir mengubah cara pandang dunia astronomi di masa berikutnya. Sampai akhirnya Copernicus merumuskan teori heliosentris pada abad ke-16. Sebuah teori yang dibangun di berdasarkan kerangka pemikiran ilmuan muslim.

    Astronomi butuh akan matematika, yang juga merupakan cabang keilmuan yang dibesarkan oleh ilmuan Islam. Ilmuan Islam membidani ilmu spherical trigonometry dan aljabar, dua cabang ilmu matematika dasar yang memiliki presisi yang istimewa dalam menghitung bintang. Jamil Ragep, profesor studi Islam di Universitas McGill mengatakan tentang Astronomi, “Ada begitu banyak kontribusi selama lebih dari seribu tahun, rasanya tidak mungkin untuk menyatakan hanya beberapa.”

    Pada abad ke-8 di bawah Khalifah al-Makmun (pencetus khalqul Quran), observatorium pertama dibangun di Baghdad dan observatorium berikutnya dibangun di sekitar Irak dan Iran. Pada saat itu belum ada teknlogi teleskop. Para astronom kala itu mencepitakan observasional sextants. Beberapa dari obsevatorium ini ada yang memiliki luas 40 meter. Dan fungsiny yang terpenting adalah suapa ilmuan bisa mempelajari sudut matahari, pergerakan bintang-bintang, dan pemahaman tentang planet yang mengorbit.

    Sekitar tahun 964, setelah semakin banyak pengamatan berlangsung, seorang astronom Iran yang paling terkenal Abdurrahman al-Sufi menerbitkan buku The Book of Fixed Stars. Buku ini merupakan salah satu karya yang paling komprehensif tentang rasi bintang di langit. Abdurrahman al-Sufi juga merupakan astronom pertama yang mengamati galaksi Andromeda dan Large Magellanic Cloud. Penelitian ini murni dilakukan dengan mata telanjang karena teleskop belum diciptakan. Tentu saja saat itu Abdurrahman tidak tahu kalau itu adalah galaksi. Dalam catatannya, ia menyebut milky way sebagai “awan”. Karya ini kemudian terbukti sangat berguna untuk seorang astronom Denmark yang terkenal, Tycho Brahe.

    Kemudian pada abad ke-13, ilmuwan dari dunia timur dan filsuf Syiah Nasiruddin al-Tusi mengeluarkan teori Tusi Couple. Asad Ahmed, profesor studi Islam dan sejarah ilmu pengetahuan di UC Berkeley menjelaskan, “Tujuan dari pasangan ini adalah untuk menjelaskan gerakan linear benda-benda langit tertentu dengan jelas berdasarkan gerakan melingkar.” Tapi seperti yang kita tahu sekarang, gerakan di langit terjadi terus menerus dan tidak stasioner. Ptolemy kesulitan dalam menjelaskan fenomena ini, sehingga Tusi Couple mampu menunjukkan gerak linear keluar dari arah berlawanan dengan menempatkan benda berlingkaran kecil di dalam lingkaran yang lebih besar. Di kemudian hari, Tusi Couple menjadi bagian penting untuk memahami Teori Copernicus.

    Salah satu astronom Islam yang paling terkenal dan pemikir ilmiah, Ibnu al-Haytham, dikenal sebagai “bapak optik” karena ia adalah orang pertama yang memecahkan kode tentang bagaimana kita melihat cahaya. Dia menjelaskan bahwa cahaya berjalan dengan garis lurus menuju mata kita dan tidak keluar. Selama ratusan tahun, orang-orang seperti Ptolemy meyakini bahwa mata kitalah yang memancarkan cahaya, seperti senter interior. Karya Ibnu al-Haytam berhasil mengembangkan kamera obscura dan akhirnya membantu dalam pengembangan teleskop.

    Mungkin kontribusi paling signifikan Ibnu al-Haytham yang ia berikan kepada dunia adalah metodologi dalam melakukan eksperimen secara berulang kali untuk menguji sebuah teori. Metode ini kemudian dikenal sebagai metode ilmiah yang menjadi basic bagi sain modern yang kita kenal sekarang ini. Dia mencatat dalam penelitiannya bahwa, “Tugas seorang yang meneliti tulisan-tulisan para ilmuwan adalah  tujuannya mempelajari kebenaran. Atau, jika tidak demikian ia memposisikan diri sebagai pembantah dari semua yang ia baca. Kemudian ia membuat bantahan terhadap tulisan itu dari segala sisi. Dia juga harus kritis terhadap dirinya sebagaimana ia kritis ketika meneliti teks-teks tersebut. Sehingga ia dapat terhindar dari jatuh dalam salah prasangka.”

    Sepanjang waktu ini, dari awal era Golden Age hingga awal Renaissance, banyak universitas, madrasah atau sekolah yang sedang dibangun di wilayah kerajaan Islam. Pada tahun 859 M, universitas pertama dibangun di Fez, Maroko. Universitas ini dibangun dan mulai dikembangkan oleh Fatima al-Fihri, putri seorang pedagang kaya. Ulama dari seluruh dunia termasuk para ilmuwan Kristen dan Yahudi belajar astronomi di sana. Demikian juga dengan cabang ilmu matematika dan filsafat.

    Banyak sekolah dan masjid di masa ini dikelola dan di-manage oleh wanita muslimah. Para muslimah ini adalah wanita yang terdidik. Mereka telah mengenal aljabar, bentuk matematika juga disempurnakan oleh kaum muslimin. Salah satu alat astronomi yang paling terkenal disebut Astrolabe. Sebuah alat yang diciptakan oleh pemikir Yunani, Hipparkhos. Kemudian alat ini disempurnakan oleh ilmuwan Islam, khususnya kalangan perempuan. Mariam al-Astrulabi adalah seorang wanita Suriah pembuat astrolabe. Ia hidup di abad ke-10. Mariam dikenal karena ia mampu menyempurnakan seni membuat instrumen ini. Dihitung dari ketinggian benda langit di langit. Untuk menghormatinya, pada tahun 1990, astronom Henry E. Holt memberi nama sebuah asteroid belt dengan namanya.

    Ini hanya contoh dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh para astronom, filsuf, dan ilmuwan Muslim selama ribuan tahun. Dan studi astronomi di negara-negara Islam ini tidak berarti telah mencapai final. Terakhir, para ilmuwan tahun Qatar di Qatar Exoplanet Survey mengumumkan penemuan mereka tentang tiga exoplanets baru mengorbit di sekitar bintang-bintang.

    Cahaya bintang memiliki sejarahnya sendiri; sejarah dari puluhan ribu tahun. Terjadilah beberapa penemuan astronomi yang memiliki sejarah dan kisahnya masing-masing. Hingga perjalanan cahaya benda-benda langit dari ruang angkasa, mencapai mata dan cermin teleskop kita pada hari ini. Ribuan tahun kemudian, sekitar 200 bintang menyandang nama astronom Arab. Menunjukkan mereka memiliki dan membuat kontribusi yang signifikan di cabang ilmu ini. Pada permukaan bulan ada dua puluh empat kawah dinamai dengan nama astronom muslim. Mereka telah membuka jalan bagi ilmu pengetahuan modern dan astronomi.

    Mempelajari kosmos adalah sesuatu yang lebih berkesan dan memberi sumbangsi dalam dibanding hanya memandang. Jika Anda pernah menatap sabuk Orion atau Alcor dan Mizar, rasi bintang (Big Dipper), maka Anda sudah mendapatkan sekilas dari warisan yang diciptakan oleh ilmuwan muslim di seluruh dunia.

    Diterkemahkan dari: http://www.astronomy.com/news/2017/02/muslim-contributions-to-astronomy

    Sumber: http://kisahmuslim.com/5802-ilmuan-islam-dan-timur-melahirkan-astronomi-modern.html

  • Aku Memeluk Islam Tanpa Bertemu Seorang Muslim

    Aku Memeluk Islam Tanpa Bertemu Seorang Muslim

    Alan Rooney asal Skotlandia berbagi kisah tentang perjalanannya memeluk Islam. Hebatnya, perubahan besar itu terjadi pada dirinya terjadi tanpa pernah bertemu dengan seorang muslim pun. Berikut ini adalah kisah yang ia sampaikan sendiri:

    Bagaimana perjalanan seorang pria Skotlandia paruh baya, berkulit putih, tinggal di dataran tinggi Skotlandia bisa menjadi seorang Muslim – apalagi dia belum bertemu dengan seorang muslim pun dalam hidupnya?

    Kisah ini berawal ketika aku mendengar seruan untuk sholat dari masjid setempat saat berlibur di pantai di Turki. Panggilan ini membangkitkan sesuatu dalam diriku. Mengilhamiku untuk memulai pencarian spiritual.

    Pulang ke rumah di Inverness, aku pergi ke toko buku setempat. Membeli Alquran dan mulai membacanya. Saat membaca, aku selalu meminta kepada Tuhan untuk membimbingku dalam perjalanan yang telah ku jalani ini.

    Banyak berdoa. Banyak berlutut.

    Alquran benar-benar mengguncangkanku. Buku ini cukup menakutkan untuk dibaca. Karena menceritakan banyak hal tentang diri Anda. Aku menjumpai beberapa hal tentang diriku yang tidak kusukai. Dari sini kuputuskan untuk membuat beberapa perubahan.

    Aku tahu, bisa saja kuhentikan membaca Alquran kapan saja. Tapi aku sadar, hal itu berarti melepaskan sesuatu yang sangat penting.

    Dan aku sadar akhir dari proses yang sedang kujalani ini: Aku akan menjadi seorang muslim.

    Jadi, aku terus membaca. Ku baca Alquran tiga kali, agar bisa mencari sesuatu yang kurang. Namun, setelah tiga kali tamat, tidak juga ada celah yang kutemukan. Aku merasa cukup nyaman dengan segala hal yang dijelaskan Alquran.

    Bagian yang paling sulit dalam perjalanan ini adalah aku bertanya-tanya seperti apa aku nantinya. Apakah aku jadi seorang yang aneh. Berpakaian dan berbicara berbeda di mata orang lain?

    Apa yang akan dipikirkan keluarga, teman, dan rekan kerja tentangku?

    Dan yang terpenting, apa yang akan kupikirkan tentang diriku sendiri? Jadi seperti apa aku nanti?

    Aku akan meluangkan waktu, berselancar di dunia maya, mencari tahu cerita orang-orang yang telah lebih dulu melewati pengalaman ini. Yakni sendirian memeluk Islam. Sepertinya tak ada yang sama denganku. Perjalanan masing-masing orang tentu saja unik dan berbeda-beda. Bagaimanapun penting bagiku untuk mengetahuinya. Menyusuri jalan yang sama. Sederhananya, aku beralih membaca dunia online -dari membaca Alquran- karena aku takut terlihat aneh.

    Media online juga sangat bagus untuk mengetahui bagaimana shalat dipraktikkan dalam bahasa Arab, untuk mendengarkan Alquran dibacakan dengan suara keras atau mungkin untuk mendengarkan beberapa musik Islami. Bagiku, musik juga baik untuk menginspirasi beberapa ungkapan yang mulai ingin kugunakan.

    Intinya, semua ini penting. Aku mempertanyakan semuanya. Dan memang berbagai informasi itu mutlak diperlukan dalam berpindah agama. Anda mempertanyakan diri sendiri. Anda mempertanyakan apa yang Anda dengar, dan apa yang Anda baca.

    Jika ada sesuatu yang tidak beres menurutmu, tentu ini indikasi jelas bahwa hal ini bukan untuk Anda. Anda harus mendengarkan dengan baik dengan intuisi dan hati Anda.

    Proses ini kulalui sekitar 18 bulan. Beberapa orang, butuh waktu lebih sedikit. Tapi ada juga yang lebih. Sementara aku melakukan semua ini sendirian, tanpa ada yang membantu. Selama proses ini, aku belum pernah bertemu seorang muslim pun.

    Setelah 18 bulan, saya menganggap diriku adalah seorang muslim. Aku shalat lima kali sehari, berpuasa di bulan Ramadhan, hanya makan dan minum sesuatu yang sesuai dengan tuntuna Alquran.

    Setelah itu, baru kutemukan sebenarnya ada sebuah masjid kecil di kotaku. Aku berkunjung, mengetuk pintu, dan mengenalkan diriku.

    Penutup

    Benarlah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

    لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْشِّرْكَ وَأَهْلَهُ

    “Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhina; yaitu kemuliaan yang dengannya Allah akan memuliakan Islam dan penganutnya, dan menghinakan kesyirikan dan pengikutnya.” (HR. Ahmad dari Tamim ad-Dary radhiallahu ‘anhu).

    Dari kisah perjalanan keislaman Alan Rooney, kita mendapatkan bahwa Alquran itu memiliki pengaruh luar biasa di hati manusia. Isi yang dikandung Al-Quran adalah hikmah, kebenaran yang dijamin oleh Allah, selaras dengan alam dan logika yang bisa dicapai manusia. Rooney membacanya hingga tiga kali tamat, dan mengantarkannya kepada keimanan yang hakiki.

    Sumber:
    https://www.allamericanmuslim.com/alan-rooney/
    http://kisahmuslim.com/5905-aku-memeluk-islam-tanpa-bertemu-seorang-muslim.html

  • Indahnya Akhlak Islam Terhadap Tawanan

    Islam adalah agama yang relevan. Cocok dalam berbagai kondisi dan keadaan. Syariatnya bukanlah suatu yang khayali, tak bisa diterapkan, atau tak diterima logika yang lurus. Di antara wujud nyata syariat Islam sesuai dengan logika yang lurus adalah bagaimana Islam membimbing manusia berinteraksi dengan tawanan perang mereka. Emosi dan nafsu manusia
  • Syaikh Mahmud Khalil al-Hushari, Imam Dalam Qiraat

    Bagi mereka yang pernah mengikuti kelas tahsin atau tajwid, tentu tidak asing dengan nama Syaikh Mahmud Khalil al-Hushari. Biasanya guru-guru tahsin merekomendasikan murottal beliau untuk didengar. Beliau termasuk qari’ (pelantun Alquran) yang paling terkenal. Tidak hanya di negeri asalnya, Mesir, di Indonesia, suara beliau cukup akrab di telinga masyarakat nusantara.
  • Ali bin Abi Thalib Mengecam Yang Mengkhianatinya

    Ali bin Abi Thalib Mengecam Yang Mengkhianatinya

    Di dalam kamus Lisanul Arab, makna Syiah adalah seseorang yang menyepakati suatu hal. Atau orang-orang yang bersepakat dalam suatu permasalahan. Atau sekelompok orang yang memiliki suatu kesepakatan, mereka mengikuti pendapat seseorang di antara mereka (Lisanul Arab, Harfu asy-Syin: islamweb).

    Setelah Amirul Mukminun Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu wafat, umat Islam berbeda pendapat dalam menyikapi para pembunuhnya. Ali berpendapat Muawiyah harus berbaiat kepadanya terlebih dahulu, baru urusan pembunuh Utsman bisa diselesaikan. Sedangkan Muawiyah sebagai keluarga Utsman, menuntut agar para pembunuh sepupunya itu segera diadili. Orang-orang yang sepakat dengan pendapat Ali, disebut Syiahnya Ali. Sedangkan orang-orang yang sepakat dengan Muawiyah disebut Syiahnya Muawiyah. Inilah makna asal dari Syiah. Seiring zaman, Syiah Ali terus berkembang. Bahkan sekarang pendapat mereka tentang Ali sangat ekstrim.

    Ali dan Syiahnya

    Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengeluhkan pendukungnya, yaitu penduduk Kufah. Ia berkata, “Umat-umat terdahulu takut terhadap kezhaliman para pemimpinnya. Tapi aku, justru takut akan kezhaliman rakyatku. Aku mengajak kalian untuk berjihad, namun tak ada yang menyambut ajakanku. Aku berbicara pada kalian, tetapi kalian tak mendengarkan. Aku mengajak kalian kepada kebaikan secara rahasia dan terang-terangan, tapi kalian tak menurut. Aku menasihati kalian, tapi kalian tak menerima. Apakah kalian ada? Hakikatnya kalian tak ada. Apakah kalian hamba sahaya? Tapi seolah-olah kalian sebagai majikan.

    Aku bacakan hukum pada kalian, namun kalian lari darinya. Aku nasihati kalian dengan nasihat yang bagus, namun kalian lari darinya. Aku ajak kalian berjihad menghadapi para pembelot, tapi belum sempat aku mengakhiri perkataanku, kalian sudah bubar kembali ke tempat kalian. Dan kalian manipulasi nasihat yang diberikan. Aku meluruskan kalian pada pagi hari. Sore harinya kalian kembali padaku dalam keadaan bengkok bak punggung ular. Yang memberi nasihat telah melemah, tapi yang dinasihati makin mengeras.

    Wahai orang-orang yang hadir di sini tapi pikirannya entah di mana, yang berbeda-beda keinginannya, dan yang menjadi ujian bagi para pemimpinnya. Teman kalian tunduk kepada Allah. Sedangkan kalian mendruhakai-Nya. Aku sungguh sangat berharap -demi Allah- Muawiyah akan menukar kalian dariku, seperti menukar dinar dengan dirham, dimana dia mengambil dariku sepuluh orang di antara kalian dan memberiku seorang dari mereka.

    Wahai penduduk Kufah, aku diuji melalui kalian dengan lima masalah: (1) kalian ini tuli tapi punya pendengaran, (2) bisu tapi bisa berbicara, (3) buta tapi punya penglihatan, (4) pengecut ketika menghadapi peperangan; dan (5) tidak ada teman yang dapat dipercaya ketika mendapat ujian. Celaka kalian! Kalian seperti kawanan unta kehilangan pengembalaannya, jika digiring dari satu sisi dia lari ke sisi yang lain (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 247-248, mengutip dari Najhul Balaghah 1/187-189).

    Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka juga menuduh Ali radhiallahu ‘anhu sebagai pembohong. Syarif ar-Radhi meriwayatkan dari Amirul Mukminin, Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Amma ba’du.. Wahai penduduk Irak! Kalian itu seperti wanita hamil yang ketika kehamilannya telah sempurna ia keguguran, suaminya mati, menjanda dalam waktu yang lama, dan pusakanya diwarisi orang yang hubungan kekeluargaannya sangat jauh dengannya. Demi Allah, aku tidak mendatangi kalian dengan sukarela, tapi aku datang kepada kalian (tinggal di Irak) dengan terpaksa. Aku sudah mendengar bahwa kalian mengatakan bahwa Ali berbohong. Semoga Allah membinasakan kalian. Kepada siapa aku pernah berbohong?” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 249, mengutip dari Najhul Balaghah 1/118-119).

    Ali radhiallahu ‘anhu juga mengatakan, “Semoga Allah memerangi kalian! Kalian mencemari hatiku dengan nanah, memenuhi dadaku dengan amarah, mencekokiku dengan kesedihan, seteguk demi seteguk, dan kalian merusak pikiranku dengan kedurhakaan dan pengkhianatan.” al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 249, mengutip dari Najhul Balaghah 1/187-189).

    Penilaian Para Sahabat Terhadap Syiah Ali

    Karena itu, wajar para sahabat khawatir kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma yang menyambut undangan penduduk Irak.

    Pertama: Abdullah bin az-Zubair

    Saat Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma hendak berangkat ke Irak, Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhuma berkata padanya, “Engkau hendak pergi ke mana? Apakah engkau ingin pergi ke tempat kaum yang telah membunuh ayah dan saudaramu? Janganlah engkau pergi.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 236, mengutip dari al-Bidayah wa an-Nihayah, 8/163).

    Kedua: Abu Said al-Khudri

    Ia berkata, “Wahai Abu Abdullah (kunyah Husein), aku ingin menasihatimu, dan aku benar-benar menyayangi kalian (ahlul bait). Aku sudah mendengar kabar bahwa sekelompok Syiahmu di Kufah telah menyuratimu dan mengajakmu untuk pergi ke tempat mereka. Padahal aku telah mendengar ayahmu berkata, ‘Demi Allah, aku telah bosan dan marah kepada mereka. Mereka pun telah marah dan bosan padaku. Mereka sama sekali tidak pernah menepati janji. Siapa saja yang mendapat dukungan mereka, maka dia telah mendapatkan anak panah yang tumpul. Demi Allah, mereka sama sekali tak mempunyai niat dan tekad untuk membela suatu urusan. Mereka juga sama sekali tidak mempunyai kesabaran dalam peperangan’.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 236, mengutip dari al-Bidayah wa an-Nihayah, 8/163).

    Pendapat Ulama Syiah Ali

    Pertama: Murtadha al-Muthahhari

    Ia berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Kufah (Irak) adalah pendukung Ali dan yang membunuh Imam al-Husein adalah pendukungnya (Syiahnya) sendiri.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari al-Malhamatul Husainiyah, 1/129).

    Kedua: Kadzim al-Ihsa-i an-Najafi

    Ia berkata, “Pasukan yang keluar untuk memerangi Imam al-Husein berjumlah tiga ratus ribu orang. Semuanya penduduk Kufah. Tidak ada orang Syam (Syiah nya Muawiyah), Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika di antara mereka. Mereka semua adalah orang Kufah yang berkumpul dari berbagai daerah.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Asyura, Hal: 89).

    Ketiga: Husein bin Ahmad al-Baraqi an-Najafi

    Mengutip ucapan al-Qazwini: “Di antara perbuatan sangat keji yang dilakukan orang-orang kufah adalah mereka menuduh al-Hasan bin Ali dan membunuh al-Husein setelah mereka mengundangnya.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Tarikhul Kufah, Hal: 113).

    Keempat: Muhsin al-Amin

    Ia mengatakan, “Ada dua puluh ribu orang penduduk yang membaiat al-Husein dan mengkhianatinya, lalu memeranginya. Padahal, baiat itu masih mereka pegang. Hingga akhirnya mereka membunuhnya.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari A’yanusy Syiah, 1/26).

    Seorang ulama Syiah, ath-Thusi, memasukkan Ubaidullah bin Ziyad dalam sahabat-sahabat ali bin Abi Thalib. (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Rijal ath-Thusi, Hal: 54. Terbitan al-Matba’ah al-Haidariyyah, Najaf, 1961 M, dengna tahqiq Muhammad Shadiq Bahrul Ulum).

    Ulama Syiah yang lain, An-Nazimi asy-Syahrudi, mengomentari Syamr bin Dzul Jausyan (orang yang memerintahkan pasukan untuk membunuh Husein): “Pada Perang Shiffin, ia berada di dalam barisan pasukan Amirul Mukmin Ali bin Abu Thalib.” (al-Khamis, Inilah Faktanya Hal: 255, mengutip dari Mustadrakat Ilm Rijalul Hadits karya al-Allamah an-Nazimi asy-Syahrudi, 6/220 bagian ke-6899, terbitan Mu-assasah an-Nasyr al-Islami, Qumm, 1425 H).

    Sumber:
    – al-Khamis, Utsman bin Muhammad. 2012. Huqbah min at-Tarikh, Terj. Inilah Faktanya. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i.

    Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
    Read more http://kisahmuslim.com/5884-ali-bin-abi-thalib-mengecam-syiah-yang-mengkhianatinya.html

  • Abu Ayyub al-Anshari, Sang Penjamu Nabi

    Siapakah Abu Ayyub al-Anshari? Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Anshar. Namanya adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Malik bin an-Najjar. Ia dikenal dengan nama dan kun-yahnya. Ibunya adalah Hindun binti Said bin Amr dari Bani al-Harits bin al-Khazraj. Ia adalah
  • Wafatnya Abu Thalib Kesedihan Mendalam Bagi Rasulullah

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling ridha terhadap takdir Allah. Beliau adalah teladan, bagaimana selayaknya seseorang bersikap dalam menghadapi ujian hidup. Tapi, beliau juga memiliki sisi manusia umumnya. Merasakan apa yang dirasakan manusia biasa. Beliau merasakan lapar, sakit, perih karena luka, dan bersedih. Di antara peristiwa yang
  • Jejak Umat Islam di Kota Madrid

    Wilayah Madrid telah dihuni sejak zaman kuno. Kota yang dikenal sebagai ibu kota Spanyol itu berasal dari pemukiman kecil orang-orang Romawi yang dibangun di tepi Sungai Manzanares yang disebut Matrik. Pada akhir periode Visigothic (abad ke-7), pemukiman ini banyak ditinggalkan oleh penghuninya. Hanya terdapat sebuah desa kecil di sana. Barulah
  • Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Utsman bin Affan

    Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Utsman bin Affan

    Dia adalah laki-laki yang hebat. Memiliki nama besar dalam sejarah dunia. Namun capaiannya tidak banyak dikisahkan. Tidak seperti Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhuma. Bukan berarti capaiannya kalah mentereng dari kedua pendahulunya. Dialah juga pahlawan dalam arti sebenarnya.

    Nasab

    Dialah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Utsman bin Affan adalah salah seorang yang paling pertama menerima Islam, beriman kepada Nabi ﷺ, dan mendukung perjuangan beliau ﷺ. Disebutkan bahwasanya Utsman bin Affan adalah laki-laki keempat yang menerima dakwah Islam.

    Utsman lahir dari klan Umayyah, kabilah kaya dan terkemuka dari suku Quraisy. Ia memiliki status sosial dan ekonomi yang tinggi, namun ia seorang laki-laki sederhana dan rendah hati. Ketika ayahnya meninggal, sang ayah meninggalkan warisan besar untuk Utsman. Ia diwariskan bisnis keluarga. Bisnisnya terus berkembang, hingga ia menjadi salah seorang terkaya di Mekah.

    Pribadi Yang Mulia

    Laki-laki Quraisy ini dikenal dengan gelaran Dzun Nurain, pemilik dua cahaya. Karena ia menikahi dua orang putri Rasulullah ﷺ. Yang pertama Ruqayyah. Setelah Ruqayyah meninggal, Utsman dinikahkan Nabi ﷺ dengan putrinya Ummu Kultsum. Ummu Kultsum juga meninggal di masa hidup Nabi ﷺ.

    Dia melakukan dua kali hijrah, yang pertama ke Habasyah. Di sana ia sukses dalam berbisnis. Namun, dua tahun kemudian ia kembali ke Maekah. Dan kemudian turut serta hijrah ke Madinah.

    Pada saat Perang Badar, istri Utsman, putri Nabi ﷺ, Ruqayyah, menderita sakit parah. Utsman tinggal di Madinah untuk menemani istrinya yang sakit. Karena itulah ia tidak turut serta dalam Perang Badar. Pelajaran bagi kita, seorang tokoh besar dan berpengaruh di masyarakat, Utsman bin Affan, setia menemani istrinya di hari terakhir. Ia adalah seorang laki-laki baik yang penuh kasih dan manusia penyayang. Sesampainya kabar kemenangan kaum muslimin di Badar, saat itu pula Ruqayyah telah meninggal dan telah dimakamkan.

    Utsman bin Affan terkenal dengan sifat malu dan kemurahan hati yang tak berujung. Diriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad ﷺ berbaring di rumahnya sementara bagian dari kaki beliau terlihat. Abu Bakar meminta izin untuk masuk, beliau mengizinkannya dan berbicara dengannya. Kemudian Umar bin al-Khattab meminta izin masuk, beliau juga mengizinkannya dan berbicara kepadanya. Lalu Utsman bin Affan meminta izin masuk, lalu Nabi ﷺ duduk dan merapikan pakaiannya. Utsman pun diizinkan masuk dan beliau berbicara kepadanya.

    Ketika Utsman pergi, Ummul Mukminin Aisya radhiallahu ‘anha bertanya, “Abu Bakar datang Anda tidak bergerak. Umar datang Anda tidak juga bergerak, tapi ketika Utsman datang, Anda duduk dan merapikan pakaian Anda?”

    Nabi ﷺ menjawab, “Apakah aku tidak merasa malu dengan seorang laki-laki yang para malaikat merasa malu?” (Sahih Muslim, hadis: 2401). Betapa agung dan terhormat laki-laki ini, bahkan para malaikat surga pun menaruh penghormatan khusus padanya.

    Kedermawanan Menantu Rasulullah ﷺ

    Kemurahan hati dan kedermawanannya, terus tiada henti. Ia merasa bahagia menghabiskan sejumlah besar kekayaannya untuk membantu umat Islam.

    Tak beberapa lama setelah kaum muslimin hijrah ke Madinah, mereka mengalami kesulitan air. Dan mereka sangat membutuhkan sumber air minum. Sementara itu, hanya ada satu sumur di sekitar mereka. Sumur itu dimiliki oleh seorang pria Yahudi. Si Yahudi menjual air kepada kaum muslimin dengan harga yang begitu tinggi. Kondisi hidup pun kian sulit.

    Nabi Muhammad ﷺ memotivasi para sahabatnya, siapa yang dapat membeli sumur milik si Yahudi (Sumur Ruma), kemudian mendermakannya untuk kaum muslimin. Imbalannya adalah sebuah rumah di surga.

    Utsman bin Affan yang pertama maju. Dia mendekati si Yahudi, mencoba membeli sumur. Awalnya Yahudi itu menolak tawaran Utsman. Kemudian Utsman menawarkan membeli setengahnya. Satu hari menjadi milik Utsman, dan hari berikutnya menjadi miliki si Yahudi. Begitu seterusnya. Yahudi itu pun menerima tawaran Utsman. Pada hari giliran Utsman, ia memberikan air gratis untuk semua orang. Dan di hari berikutnya, tak ada yang datang untuk mengisi air. Sumur itu pun tak menghasilkan uang lagi untuk laki-laki Yahudi itu. Akhirnya, si Yahudi menjual setengah sisanya kepada Utsman.

    Utsman bin Affan memberikan air sumur tersebut secara gratis kepada masyarakat. Hingga hari ini, air sumur tersebut masih digunakan.

    Berulang kali, kemurahan hati Ustman menjadi berkah bagi kaum muslimin di masa-masa sulit. Pernah terjadi kemarau panjang di masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab. Satu tahun penuh tak juga turun hujan. Tanaman layu dan mati. Masyarakat ditimpa bencana kelaparan. Lalu datang sebuah kafilah dengan 1.000 onta yang sarat dengan biji-bijian dan perlengkapan. Barang-brang kebutuhan itu baru saja tiba dari Suriah. Semuanya adalah milik Utsman bin Affan.

    Para pedagang dan pembeli cepat-cepat bernegosiasi dengan Utsman. Menawar dan membeli barang-barangnya untuk untuk melepaskan diri dari lilitan kesulitan. Mereka menawar, membeli biji-bijian dengan keuntungan 5%, tapi tawaran mereka ditolak sang pemilik. Kata Utsman, ada tawaran yang lebih baik dari yang mereka berikan. Barangnya sudah ditawar dengan keuntungan sepuluh kali laba. Para pedagang dan pembeli merasa putus asa dengan tawaran Utsman. Mereka tidak sanggup membayar lebih dari penawar yang telah Utsman sebutkan. Sejurus kemudian, Utsman bagikan gratis barang-barang dagangannya. Allah lah yang akan membalasnya sepuluh kali lipat bahkan sampai tujuh ratus kali lebih. Utsman distribusikan seluruh persediaan biji-bijian tersebut kepada orang-orang miskin, gratis!

    Dalam hukum ekonomi, saat permintaan naik, maka harga barang pun akan naik. Namun itu tidak berlaku bagi Utsman, saat permintaan masyarakat naik karena terdesak dan sangat butuh akan bahan pangan, saat itu pula ia turunkan harga. Ia bagikan secara cuma-cuma. Dan ia jadikan momen tersebut untuk ‘berniaga’ dengan Allah ﷻ. Perdagangan yang tak akan rugi.

    Utsman juga pernah menginfakkan harta 1000 dinar untuk membiayai pasukan di masa-masa sulit (jaisyul usrah). Jika satu dinar sama dengan 2,3 juta. Maka satu kali infak tersebut, Utsman mengeluarkan uang 2,3 Milyar. 2,3 Milyar di zaman itu, berbeda nilainya dengan zaman sekarang. Di zaman itu nilai uang jauh lebih tinggi dibanding sekarang. hingga Rasulullah ﷺ bersabda,

    مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ.

    “Tidak membahayakan bagi Utsman apa yang dia kerjakan setelah hari ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang. (HR. Ahmad).

    Capaian di Masa Kekhalifahan

    Ketika Umar bin Al-Khattab terbunuh, dia menunjuk sebuah komite yang terdiri dari enam orang. Komite tersebut bertugas memilih siapa di antara mereka yang menjadi khalifah setelah Umar. Komite tersebut beranggotakan: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, az-Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Setelah dua hari bermusyawarah dan setelah memastikan pendapat kaum muslimin di Madinah, pilihan pun dibuat, lima anggota komite dan kaum muslimin Madinah berjanji setia (baiat) kepada Khalifah Ketiga, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

    Capaian Utsman bin Affan dalam masa pemerintahannya tentu tidak bisa diringkas dalam beberapa paragrap saja. Tapi setidaknya kita tahu sebagian dari jasa besarnya. Di masanya, Islam tersebar ke Barat hingga wilayah Maroko, ke Timur hingga ke Afghanistan, dan ke Utara hingga sampai Armenia dan Azerbaijan. Ia menerapakan kebijakan yang lebih longgar, tidak seketat di zaman pendahulunya, Umar bin al-Khattab.

    Selama paruh pertama pemerintahannya, dunia Islam menikmati perdamaian internal, ketenangan, dan kemakmuran ekonomi.

    Kontribusi paling menonjol di masa kekhalifahan Utsman adalah penyeragaman bacaan Alquran. Karena populasi muslim tersebar di wilayah yang luas, banyak orang dari budaya lain di negeri nan jauh yang masuk Islam, kebutuhan untuk menyeragamkan bacaan Alquran pun tak bisa ditawar. Alquran dibaca dengan dialek dan bahasa yang sama. Saat itu, hanya tersisa satu copy Alquran yang dibukukan di masa kekhalifahan Abu Bakar. Mushaf tersebut disimpan di kediaman Ummul Mukminin Hafshah radhiallahu ‘anha, putri Umar bin Al-Khattab.

    Utsman bin Affan meminta Alquran tersebut kepada Hafsah untuk diduplikasi. Kemudian membentuk tim yang terdiri dari: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin az-Zubair, Sa’ad bin al-Ash, dan Abdurrahman bin al-Harits. Merekalah yang ditugaskan untuk menyalin Alquran.

    Setelah selesai, salinan asli dikembalikan ke Hafsah. Sementara salinan yang baru dikirim ke berbagai negara Islam yang baru. Alquran tersebut dijadikan pedoman untuk membaca, belajar, menghafal, dan mengajarkan Alquran.

    Prestasi besar lainnya adalah Utsman membuat angkatan laut muslim pertama. Ekspedisi militer muslim di laut berlayar untuk pertama kalinya di bawah kekhalifahan Utsman. Pasukan tersebut dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu.

    Utsman bin Affan adalah sosok yang tak habis untuk diceritakan dan dikagumi. Untuk lebih mengenal beliau, silahkan membaca artikel-artikel kisahmuslim.com yang lain, yang memuat tentang beliau, Dzun Nurain, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

    Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

    Read more http://kisahmuslim.com/5470-pahlawan-tanpa-tanda-jasa-utsman-bin-affan.html

  • Seorang Anak Menjual Rumahnya Demi Bayarkan Utang Ayah

    Hampir semua cerita tentang orang Arab, khususnya Arab Saudi, yang sampai kepada kita adalah tentang hal-hal negatif. Kata “Puncak”, “malas”, “kasar”, “perang” adalah sesuatu yang dijejalkan di benak kita. Sehingga ketika mendengar kata “Arab” rekam memori kita langsung menalar hal-hal buruk. Sampai kita pun rasa-rasanya tak rela Islam itu dari
  • Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)

    Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu
  • Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

    Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka. Orang pertama yang akan kita
  • Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (1/3)

    Saat Abu Thalib mendekati akhir usia, berkumpullah tokoh-tokoh besar di sekitarnya. Penghulu manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tokoh kekafiran juga pemuka Quraisy, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Kehadiran para tokoh yang kontradiktif inilah, membuat peristiwa wafatnya Abu Thalib memuat banyak pelajaran. Ketika ajal Abu Thalib telah
  • Kata al-Walid bin al-Mughirah Tentang Alquran

    KisahMuslim.com – Al-Walid bin al-Mughirah adalah tokoh kafir Quraisy. Ia seorang yang terpandang lagi memiliki kekayaan. Dan memiliki putra yang terpandang pula, yaitu Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Putranya adalah tokoh sebelum ia memeluk Islam. Dan menjadi tokoh pula setelah memeluk Islam. Sedangkan al-Walid tetap dalam kekufurannya. Dan menjadi musuh
  • Kata Abu Jahal Tentang Pribadi Nabi Muhammad

    Al-Masur bin Mukhramah, keponakan Abu Jahal, anak dari saudari perempuannya, bertanya kepada Abu Jahal tentang pribadi Muhammad bin Abdullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad itu berdusta sebelum ia mengatakan apa yang dia katakan sekarang ini -yakni risalah kenabian-?” “Wahai anak saudariku, demi Allah! Sungguh sewaktu
  • Imam Muslim, Imam Para Ahli Hadits

    Salah satu ulama dan imam yang terkenal di kalangan kaum muslimin adalah Imam Muslim penyusun Shahih Muslim. Umat Islam banyak membaca hadits-hadits yang beliau riwayatkan. Walaupun tidak semua orang merasa ingin tahu lebih jauh tentang nama yang mereka baca itu. Berikut ini biografi singkat dari Imam Muslim, mudah-mudahan menambah rasa