Tag: Mustafa Abdullah

  • Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

    Ziarah ke Makam Syekh Abbas Abdullah, Imam Jihad Sumatera Tengah

    Jika ada pertanyaan, siapa ulama asal Minangkabau yang dihormati Bung Karno? Barangkali, Syekh Abbas Abdullah adalah salah satu jawabannya. Imam Jihad Sumatera Tengah, pentolan Madrasyah Sumatera Thawalib dan pemimpin Darul Funun El-Abbasiyah ini, tidak sekadar memberi peci tinggi untuk Bung Karno. Tapi, juga menitip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Indonesia. Seperti apa sosok Syekh Abbas?

    Matahari sudah condong ke barat saat Padang Ekspres bersama sastrawan peraih penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, Gus tf Sakai, serta sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, Adri Sandra, berziarah ke makam Syekh Abbas Abdullah. Makam ulama besar ini terletak di kawasan Puncakbakuang, Jorong Padangjapang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota.

    Makam Syekh Abbas berada di dekat makam ayah kandungnya, Syekh Abdullah, lebih awal tercatat sebagai ulama besar di Ranah Minang. Selain makam sang ayah, di samping makam Syekh Abbas terdapat makam dua kakaknya, yakni Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Muhammad Shalih. Kemudian, juga ada makam putra kandung Syekh Abbas, yakni H Fauzi Abbas.

    ”Totalnya, ada lima makam di sini. Yang paling kanan, makam Syekh Abbas,” kata Faisal El-Abbasy, cicit Syekh Abbas yang menyambut hangat kedatangan kami. Sayangnya, Faisal yang saat itu didampingi seorang mualaf asal Timor Leste tidak mau banyak bercerita soal sejarah hidup kakek buyutnya.

    ”Saya takut salah-salah memberi keterangan. Apalagi untuk tulisan sejarah. Mungkin lebih baik menghubungi paman saya, Dr Afifi Fauzi Abbas, dosen IAIN Bukittinggi. Beliau, selain cucu Syekh Abbas, juga dipercaya sebagai ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Syekh Abbas,” saran Faisal.

    Saran serupa disampaikan sastrawan Adri Sandra yang asli putra Padangjapang. ”Kalau mau menulis soal Syekh Abbas, mungkin Dr Afifi bisa menjelaskan yang juga adalah pimpinan Darul Funul El-Abbasiyah saat ini.

    Meski sempat ngopi di rumah alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, tapi kami tidak sempat bercerita panjang soal Syekh Abbas karena Maghrib sudah datang menjelang. Walau begitu, bukan berarti riwayat hidup Syekh Abbas tidak bisa digali. Karena berjarak beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu (2/6), Padang Ekspres bertemu dengan Dr Afifi Fauzi Abbas di kawasan Tarok, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.

    Ulama Pembaharu

    Dr Afifi yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, lumayan luas mengetahui sejarah hidup Syekh Abbas. Kakeknya itu, menurut Afifi, lahir pada 1883 Masehi dan wafat pada 1957, dalam usia 74 tahun. ”Tentang riwayat hidup Syekh Abbas, sudah banyak yang menulisnya. Yang paling komplit itu, tulisan Fachrul Rasyid HF dan Adi Bermasa,” kata Dr Afifi, sambil menyebut nama dua wartawan senior Sumbar.

    Bagi Dr Afifi, Syekh Abbas adalah sosok ulama pembaharu di Ranah Minang. Meski lahir dari lingkungan Islam tradisional, karena ayahnya Syekh Abdullah, serta saudara lelakinya Syekh Mustafa dan Syekh Muhammad Shalih, merupakan ulama tariqat. Namun, Syekh Abbas yang pernah berguru kepada Syekh Khatib Kumango dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, memiliki pandangan lebih moderat.

    ”Syekh Abbas dengan pengalamannya menimba ilmu agama di Mekkah dan Mesir, serta melihat pola pendidikan Islam di Timor Tengah, termasuk pernah ke Iran, berhasil mengubah pola pendidikan Islam di Minangkabau. Dari sistem pendidikan halaqah (guru duduk mengelilingi murid) menjadi sistem klasikal atau madrasah seperti kita temui sekarang ini,” kata Dr Afifi Abbas.

    Hal ini juga dibenarkan Profesor Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang. Dalam diskusi terbatas dengan Padang Ekspres, Mestika menyebut, kepeloporan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau, ditandai dalam dua gelombang. Ada gelombang pembaharuan awal abad 19. Kemudian, ada pula gelombang pembaharuan awal abad 20.

    ”Generasi pertama dalam gelombang pembaharuan Islam awal abad 19, dipelopori tiga haji dalam Perang Paderi. Yakni, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka disebut berasal dari kelompok Wahabi. Tapi, saya lebih suka menyebut mereka dari kelompok puritan,” kata Mestika.

    Sedangkan bibit akhir dari generasi pembaharuan Islam awal abad 19 di Minangkabau itu, menurut Mestika Zed, sentranya berada di Padangjapang Limapuluh Kota. Yakni, di Perguruan Darul Funul El-Abbasiyah yang dipimpin Syekh Abbas sebagai kelanjutan dari surau yang didirikan ayahnya. ”Jadi Padangjapang dan Syekh Abbas itu memiliki peran penting dalam pembaharuan Islam di Minangkabau,” tukas Mestika.

    Disegani Bung Karno

    Peran Syekh Abbas Abdullah sebagai ulama pembaharu di Minangkabau diketahui oleh Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Buktinya, jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan bersama Drs Mohammad Hatta yang merupakan cucu dari Syekh Abdurrahman (ulama ini juga berasal dari Limapuluh Kota, red), Bung Karno pernah secara khusus menemui Syekh Abbas Abdullah di kampus Darul Funun El-Abbasiyah di Padangjapang.

    Pertemuan Bung Karno dan Syekh Abbas berlangsung pada 1942. Tepatnya setelah Bung Karno dibebaskan Belanda dari tempat pembuanganya di Bengkulu. Pertemuan empat mata antara “singa podium” dengan ulama pembaharu itu, dicatat wartawan senior Fachrul Rasyid HF dalam sejumlah tulisannya.

    Menurut Fachrul, Syekh Abbas yang bertubuh tinggi kekar dan bercambang, sempat kurang sedap menyambut kedatangan Bung Karno. Soalnya, Bung Karno yang ditemani istrinya Inggit Ganarsih, datang terlambat. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. ”Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

    Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, menurut cerita yang didengar Fachrul dari masyarakat dan keluarga syekh, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja Syekh Abbas. Hampir tiga jam berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit (istri Soekarno) dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu,” tulis Fachrul Rasyid dalam laporan jurnalistik di Majalah Gatra.

    Saat menemui Syekh Abbas di Padangjapang, Bung Karno mendapat hadiah berupa peci dengan ukuran lebih tinggi. Sebelumnya, peci Bung Karno berukuran pendek. Menariknya, saat memberikan peci kepada Bung Karno, Syekh Abbas sempat berpesan. ”Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini. Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” pesan Syekh Abbas.

    Selain meminta hati-hati terhadap bahaya komunis dan sekuler, Syekh Abbas yang diminta pendapat oleh Bung Karno tentang konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara, juga menitip pesan bahwa negara Indonesia yang akan didirikan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Syekh Abbas ini yang diyakini banyak pihak, dituangkan Bung Karno dalam sila pertama Pancasila yang dipidatokan pada 1 Juni 1945. (*)

    Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/105618/Tukar_Peci_Bung_Karno,_Titip_Sila_Ketuhanan

    Editor : Elsy Maisany
    Sumber Berita : Fajarillah Vesky – Padang Ekspres

  • Bung Karno bersama Syekh Abbas dan Syekh Mustafa

    Bung Karno bersama Syekh Abbas dan Syekh Mustafa

    Syekh Abbas Abdullah, bersama kakaknya, Syekh Mustafa Abdullah, adalah tokoh Islam terkemuka di tanah Minangkabau. Selepas bebas dari pengasingannya di Bengkulu, sekitar tahun 1942, Bung Karno datang ke perguruan Darul Funun El-Abbasiyah, Sumatera Barat, khusus untuk meminta ‘wejangan’ dari mereka mengenai perjuangan bangsa Indonesia.

    Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah, ulama asal Indonesia yang menjadi imam, khatib sekaligus guru besar di Masjidil Haram, Mekkah–imam pertama dari kalangan non orang Arab. Mereka adalah tempat bertanya bagi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang saat itu berbasis di Bukittinggi.

    Ilustrator: VionydazzArt

    http://sukarno.org/bung-karno-bersama-syekh-mustafa-dan-syekh-abbas/

  • Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang

    Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang

    Oleh: Jose Hendra

    Sila ketuhanan dari Sukarno dianggap saran dari seorang ulama dari Padang Japang, Sumatra Barat.

    PIDATO Sukarno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dikukuhkan jadi hari lahir Pancasila. Dia mengajukan lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan.

    Konsep Ketuhanan yang ditempatkan pada prinsip kelima oleh Bung Karno akhirnya menjadi sila pertama dengan modifikasi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rumusan Panitia Sembilan.

    Menurut Charles Simabura, dosen ilmu tata negara Universitas Andalas, dalam sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, semua anggota memberi usul. Hampir semua menawarkan konsep Ketuhanan. Menurutnya, konsep Ketuhanan yang diusulkan terutama dari golongan agama lebih kongkret lagi yakni Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.

    Lalu dari mana ide Ketuhanan yang ditawarkan Bung Karno?

    Konsep tersebut bulir dari buah pergaulan Bung Karno dengan para ulama. Sejak muda dia tumbuh dalam lingkungan Sarekat Islam. Saat masa-masa pembuangan, Bung Karno terus berkorespondensi dengan ulama. Misalnya, dengan pendiri Persatuan Islam (Persis) Ahmad Hassan saat dibuang ke Ende. Hingga akhirnya, pada 1942, kata Ketuhanan terpatri dalam benaknya ketika kelak Indonesia merdeka dan membentuk dasar negara adalah sebuah keharusan.

    Adalah Syekh Abbas Abdullah yang memberi wejangan kepada Bung Karno. Kala itu, Bung Karno berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syekh Abbas.

    “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan benar-benar tercapai. Dalam hal ini Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalamRiwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981.

    Syekh Abbas, yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

    Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syekh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian. “Di hadapan guru dan siswa DFA, usai salat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syekh Abbas mengatakan kedatangan Bung Karno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara,” ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang dia dapat dari keluarga Syekh Abbas dan masyarakat setempat. “Persisnya, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan.”

    Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatra Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.

    Kebesaran kedua syekh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Bukti mesranya hubungan Bung Karno dengan dua ulama tersebut berjejak dalam selembar dokumentasi foto yang diambil Said Son.

    Syekh Abbas dan Syekh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Syekh Abbas juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lainnya, Syekh Abbas mendirikan nama madrasah yang sama yakni Madrasah Sumatra Thawalib.

    Tahun 1930, Syekh Abbas mengubah Sumatra Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syekh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatra Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.

    Sementara sekolah tetap menjadi basis menggapai dan mengisi kemerdekaan.

    “Wajar Sukarno menemui Syekh Abbas karena dia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatra Barat.

    Dikatakannya, perjumpaan Sukarno dengan Syekh Abbas hanya sebentar. Datang sekitar jam satu siang lalu balik sekitar sorenya. Bung Karno sendiri berada di Padang ketika era transisi dari Belanda ke Jepang. Dia berada di Sumatra Barat selama lima bulan, dari Februari 1942 hingga Juli 1942.

    http://historia.id/agama/sila-ketuhanan-dari-ulama-padang-japang

     

  • Seorang Teman Ayahku

    Seorang Teman Ayahku

    Seorang teman sehaluan Ayahku pula ialah Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang (Suliki). Beliau dilahirkan, pada tahun 1883 dan naik Haji ke Mekkah dalam usia 13 tahun / 1314 H) dan belajar pula kepada tuan Syekh Ahmad Khatib, dan pulang ke tanah air pada tahun 1904. Bersama dengan kakaknya Syekh Mustafa beliau mulai mengajar, melanjutkan usaha ayahnya Syekh Abdullah.

    Di tahun 1919 Madrasahnya menjadi Sumatera Thawalib, sebagai juga madrasah-madrasah yang lain di Minangkabau. Diterbitkan pula majalah “Al Imam” Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekkah, terus ke Mesir dan menambah pengalamannya belajar di Al Azhar sampai tahun 1924. Pada tahun itu dengan melalui Palestina, Libanon dan Syria beliau pulang kembali ke tanah air dan meneruskan usahanya mengajar.

    Pulangnya kembali melalui Mesir karena mengantarkan putera kakaknya Thaluth Mustafa dan Nasruddin Taha untuk belajar pula di sana. Di tahun 1930 Thawalib beliau tukar menjadi Darul Funun AlAbbasiyah.

    Beliau dua bersaudara adalah orang-orang keras hati, ber-jiwa revolusioner, tidak ragu-ragu memesan dan mengajarkan kitab-kitab Abduh dan Rasyid Ridha dan kitab-kitab yang lain memberi kebebasan fikiran dari Darul Funun-nya, sehingga di tahun 1934 pernah tempatnya mengajar itu digeledah pemerintah Belanda, karena datang laporan resersir bahwa di sana banyak kitab-kitab agama “yang berbahaya”.

    Dalam Revolusi bersenjata 1945 kedua beliau telah meng-gerakkan murid-muridnya supaya turut berjihad fi sabilillah, dan beliau Syekh Abbas diangkat menjadi “Imam Jihad” oleh Majelis Tinggi Islam. Di waktu Perang Kolonial Belanda yang kedua (1948) madrasah beliau telah menjadi pusat pertahanan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) beberapa lamanya. Setelah terjadi persetujuan “Roem-Royen” dan terjadi penghentian tembak menembak di Sumatera, di Padang Japang, di surau beliau itulah berkumpul kembali para pemimpin PDRI.

    Sikap beliau pendiam, beliau tidak begitu ahli berpidato, karena beliau hanya lebih mahir mengajar, tetapi setiap butir perkataan beliau tidak ada yang hampa.dengan utusan-utusan yang datang dari Bangka, menemui mereka.

    Syekh Abbas telah meninggal dunia pada 17 Juni 1957 di Padang. Kakaknya Syekh Musthafa pun seorang Ulama yang keras hati. puteranya Thaluth diserahkannya belajar ke Mesir, tetapi malang, anak yang baik itu mati dibunuh dengan teraniaya oleh seorang pemuda Indonesia yang turut belajar di Mesir. Seketika mendengar kematian puteranya, tidaklah berubah muka beliau, sebab beliau yakin bahwa puteranya bukanlah seorang jahat. Demikian juga seketika puteranya Thanthawi Mustafa tewas pula seketika dikepung Belanda di Situjuh bersama Khatib Sulaiman, Bupati Harisun dan Kapten Munir Latif, seketika disampaikan orang kepadanya bahwa putera beliau telah tewas, vang terlebih dahulu beliau tanyakan dari manakah tembusan peluru, adakah dari muka atau dari punggung? Kalau dari muka, yakinlah beliau bahwa puteranya mati syahid, sebab terang bahwa dia melawan. Tetapi kalau dari belakang, sedihlah hati beliau karena mungkin anaknya lari, lalu ditembak. Permohonan beliau kepada Tuhan, moga-moga tembus dada anak¬nya dari muka, jangan dari punggung.

    Itulah kawan-kawan Ayahku. Ulama-ulama yang konsekwen pada pendirian mereka, yang tidak mengenal menyerah. Tetapi kalau kita berjumpa mereka, kita hanya akan melihat orang-orang tua yang tawadhu’ , merendahkan diri seakan-akan tidak berisi apa-apa, padahal penuh dengan iman dan keteguhan hati.

    Ada beberapa orang lagi Ulama lain yang sehaluan dengan Ayahku, atau pendukung cita-cita beliau, sebagai Tuan Haji Ajhuri dan Haji Sa’id Batusangkar, Tuan Jama’in Abdul Mu-rad Sungai Puar, Haji Muhammad Siddik Bukittinggi, Tuanku Laut Lintau, Tuanku Haji Sutan Darab Pariaman, Tuanku Mudo Limbukan (Ayah Al Ustaz Nasruddin Taha); beliau sebagian besar telah meninggal dunia, tetapi nyatalah kebesaran Ayahku karena “pohon-pohon” yang mengitarinya itupun besar pula.

    (HAMKA – Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

  • Menelusuri Jejak Dua Ulama Bersaudara dari Padang Japang

    Menelusuri Jejak Dua Ulama Bersaudara dari Padang Japang

    abbas abdullah, mustafa abdullah dan soekarno
    image courtesy: (YDFA, Abdullah A.)

     

    Tempat Bung Karno Minta Petunjuk.

    Mereka dua saudara, jago urusan agama, punya pemikiran luas untuk Indonesia. Sama-sama murid dari Syekh Ahmad Chatib, anak Minang yang menjadi Imam Masjidil Haram Mekkah. Sama-sama pula mendirikan Perguruan Islam yang terkenal. Tak heran, bila Bung Karno minta petunjuk kepada mereka, dan Buya Hamka menaruh hormat tak terhingga.

    Bila masih ada pertanyaan, siapakah mereka? Itulah Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah, dua ulama kesohor Minangkabau asal Luhak Limopuluah. Keduanya, terkubur di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Tepatnya di Padangjapang, yang terletak sekitar 17 kilometer sebelah utara Kota Payakumbuh.

    Untuk menuju lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Dari Payakumbuh menuju arah utara. Setelah melewati jembatan Lampasi, anda akan menemui persimpangan. Kedua simpang, dapat anda pilih.

    Bila memilih jalan ke kiri, berarti Anda akan melewati Nagari Koto Baru Simalanggang dan Nagari Guguak VIII Koto. Setelah sampai di Dangung-dangung, anda dapat melanjutkan perjalanan arah ke Limbanang. Tapi, sesampai di kawasan bernama Talago, anda harus belok ke kanan. Maka sekitar tiga kilometer saja, anda akan sampai di Padangjapang.

    Tapi bila memilih jalan yang kanan, maka anda akan melewati nagari Simalanggang, Koto Tangah Simalanggang, Taehbaruah, Mungka, Jopangmangganti, dan barulah sampailah di Padangjapang.

    Pejuang Islam

    Syekh Mustafa Abdullah atau biasa dipanggil Inyiak Padang Japang dan adiknya Syekh Abbas Abdullah, merupakan pejuang Islam di Sumatera. Sepak terjang mereka sebagai penyebar dan penegak ajaran Islam di Minangkabau, sangat banyak dicatat dalam berbagai buku dan majalah yang terbit masa itu.

    Bahkan, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah Yulfian Azrial, menyebut perjuangan kedua Syekh ini amat terkait dengan perjuangan pendidikan Islam Sumatera Tawalib, ataupun pergerakan Tuanku Jamil Jaho di Padangpanjang.

    Meskipun demikian, satu hal yang membuat Syekh bersaudara ini amat terkenal adalah upaya mereka dalam mendirikan Perguruan Darul Funun di Puncakbakuang, Tanjungrongik, Padangjapang.

    Pada masa keemasannya, Darul Funun tidak hanya memiliki murid dari berbagai pelosok Sumatera Barat, melainkan juga dari berbagai provinsi sekitar, termasuk dari negeri Jiran Malaysia. Hebatnya lagi, para murid rata-rata adalah orang besar.

    ”Sebagai perguruan besar, Darul Funun memang banyak banyak melahirkan tokoh besar. Kebesaran kedua Syekh ini bahkan membuat Presiden Soekarno merasa perlu ke Padangjapang, setelah bebas dari masa pembuangannya di Bengkulu,” kata Yulfian Azrial.

    Disebutkan pula, Bung Karno sering melakukan diskusi dan minta petunjuk tentang berbagai masalah politik dan keagamaan. Bahkan tentang konsep menuju kemerdekaan Indonesia. Hal itu setidaknya bisa dibuktikan, dengan masih adanya dokumentasi Bung Karno semasa di Padangjapang.

    Begitu juga setelah zaman kemerdekaan. Para pejuang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), merasa sangat perlu untuk menemui Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah. Mereka sangat banyak mendapat masukan dari kedua Syekh kakak beradik ini.

    ”Mohammad Natsir yang diutus Soekarno untuk menemui tokoh PDRI di Sumatera, akhirnya juga harus menemui kedua tokoh ini,” kata Yulfian.

    Buya Hamka juga Menaruh Hormat

    Sebenarnya, tidak hanya Bung Karno, Natsir, dan tokoh bangsa lain yang menjadikan kedua Syeik ini sebagai kawan tempat berdiskusi. Ulama sekaligus sastrawan legendaris Haji Abdul Malik Karim Amarullah alias Hamka, juga amat hormat kepada Syekh Mustafa dan Abbas Abdullah.

    Bahkan menurut wartawan senior (alm) Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, semasa Agresi Militer II Belanda, Hamka sengaja datang ke Padangjapang, hanya untuk memberitahu khabar kematian Kapten Thantowi (putra kandung Syekh Mustafa Abdullah) dalam Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949.

    Namun ketika itu, Inyiak Padangjapang ternyata sudah tahu soal kematian putra mereka. Hanya saja, dia sempat bertanya kepada Hamka, sebelah mana Kapten Thantowi tertembak Belanda? Dijawablah oleh Hamka, dekat keningnya Inyiak?

    Mendengar hal tersebut, Inyiak Padangjapang langsung menyebut, ”Syahid-Syahid. Thantowi meninggal dalam keadaan Syahid Malik!”

    Begitulah cerita Hamka yang sangat menghormati kedua Syekh dari Padangjapang, kepada Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, puluhan tahun nan lampau. (***)

    (Fajar Rillah Veski)
    sumber : http://www.padang-today.com/?today=feature&id=258

  • Bangkit Lahirkan Para Ulama

    Bangkit Lahirkan Para Ulama

    Limapuluh Kota (Sumbar), BAKINNews—Perguruan Agama Islam Darul Funun El-Abasyiyah Padang Japang Kabupaten Limapuluh Kota, sangat diharapkan bangkit melahirkan para ulama dan kembali mengukir sejarah dalam dunia pendidikan Islam.

    Bangkitnya Lembaga Pendidikan Darul Funun itu bukan hanya harapan dari masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, tapi seluruh umat Islam yang berada di Sumatera Barat dan bahkan tingkat nasional.

    “Kebangkitan Darul Funun, memang ditunggu-tunggu masyarakat banyak. Ini yang sedang diupayakan oleh tokoh masyarakat dan kementerian agama,” kata Gusman Piliang Kepala kantor Kementerian Agama Kabupatern Limapuluh Kota, Rabu (11/8) di ruangan kerjanya.

    Kepala Kantor kementerian Agama Kabupaten Limapuluh Kota diminta tanggapannya sehubungan adanya dugaan perguruan agama Islam Darul Funun telah mati suri. Hanya tinggal nama bersamaan dengan dua tokoh pendirinya Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah.

    Dua saudara ini tidak hanya terkenal sebagai ulama yang memiliki banyak jamaah. Tapi juga kesohor karena mendirikan perguruan Darul Funun El-Abbasiyah di Padang Japang.
    Menurut Gusman Piliang aktifitas pendidikan masih jalan, proses belajar dan mengajar berjalan dengan baik, namun belum seperti yang dulu lagi.”Ini yang kita bina sekarang.”

    Sebagai kelanjut pembinaan tersebut, kata Gusman, Kepala Kantor kementerian Agama Sumatera, Darwas telah melakukan pembinaan pada seluruh penyelenggara lembaga pendidikan tersebut, Jumat (6/8) dalam kunjungan kerja.

    Untuk menunjang kelancaran pendidikan tersebut, kementerian agama Provinsi Sumatera Barat akan membantu bangunan gedung perpustakaan untuk Darul Funun dan MTI Tabek Gadang. BIN 763