This presentation is about the method used for rural economic development based on Technology-driven Resources (TDR) and Industrial Maturity Development Index (IMDI).
Wakaf Al-Quran Yayasan Darul Funun el Abbasiyah diserahkan oleh bapak Dr. Afifi Fauzi Abbas kepada rumah tahfidz Padang Japang, Pokan Noyan, sebanyak 38 Mushaf Al-Quran.
Semoga menjadi jariyah bagi para waqif dan anak-anak kita semakin bersemangat menghafal ayat-ayatnya.
Dalam buku yang juga tesisnya, “The Kaum Muda Movement”, Dr Taufik Abdullah menggambarkan perselisihan tajam antara kaum muda dan kaum tua, tetapi beliau sepertinya terlewat memberikan satu gambaran bagaimana toleransi itu muncul bukan dalam perang pemikiran berupa tulisan-tulisan yang mengkritisi pemahaman satu sama lain.
Di kampung ini, sekitar 100 tahun lalu hanya berjarak tidak lebih 5 kilometer surau-surau berdiri, masih dapat kita saksikan peninggalan sejarah ini, sebagai ibrah bagi kita toleransi bisa dibangun dengan interaksi.
Ketika meletus masa pergerakan kemerdekaan, para ulama muda dan ulama tua, bersatu pada berkumpul pada satu Majlis Tinggi Islam untuk mengerahkan pembelaan terhadap tanah air, dalam satu artikelnya “Orang Minang menghadapi Aggresor Belanda” Dr Suryadi memberikan satu dokumen penting terhadap sepakatnya para ulama ini dalam bela tanah air, yang dirumuskan dalam fatwa jihad melawan penjajah, kita dapat melihat nama-nama penggerak “Sumatera Thawalib” seperti Syekh Djamil Djambek, Syekh Abbas Abdullah, Syekh Mustafa Abdullah, dkk dan PERTI seperti Syekh Abd. Wahid Tabek Gadang.
Syekh Abbas Abdullah bersaudara seayah seibu dengan Syekh Mustafa Abdullah dan membina satu perguruan yang sama Darul Funun El-Abbasiyah, dan Syekh Abd. Wahid adalah saudara sepupu dengan kedua bersaudara tersebut.
Dalam keluarga Syekh Abbas dan Syekh Mustafa sendiri menarik untuk dicermati bagaimana perubahan keberagamaan terjadi hingga pembaharuan kegiatan dakwah terjadi, dan menginspirasi perubahan besar dalam kegiatan dakwah di Nusantara pada umumnya.
Kita berharap wacana keilmuan dalam keberagaman pemahaman baik agama, maupun pengetahuan umum seyogyanya tidak menimbulkan satu friksi yang tajam jika perkara ini adalah perdebatan yang khilafiyah, bukan perkara yang sudah menjadi ijma ulama dan muallim seperti dalam ilmu umum tentang bumi ini bulat.
Semoga Allah memberkahi kita dengan Ilmu kita.
Tanpa ilmu pengetahuan, amal tidak ada gunanya, dan tanpa amal, ilmu pengetahuan adalah sia-sia. (Abu Bakar ra)
Dalam rangka kelas meeting semester I 2015/2016, santri/santriwati Pondok Pesantren Darul Funun El-Abbasiyah Padang Japang mengadakan trekking dan latihan Kepramukaan di alam bebas Padang Japang Kecamatan Guguak Kab. Lima Puluh Kota.
15-10 tahun yang lalu, disaat keterbatasan media informasi, nama ini menjadi misteri, disaat banyak perguruan lainnya menggunakan nama Darul Ullum, hanya satu dan pertama kali pada tahun 1930 di Indonesia, satu perguruan bersejarah revolusioner menggunakan nama Darul Funun, apakah sebatas pemilihan nama ataukah satu visi besar yang sedang dilekatkan oleh Syekh Abbas Abdullah pada institusi wakaf pendidikan yang besar dimasa nya yang juga dikenal sebelumnya dengan nama Sumatera Thawalib Padang Japang?
Dari namanya Darul Funun berarti tidak jauh dari Darul Ulum, rumah ilmu pengetahuan, dalam praktiknya istilah Darul Ulum dipergunakan untuk Madrasah Agama dan Darul Funun dipergunakan untuk mengambarkan banyaknya macam ilmu, seperti Politeknik.
Istilah Darul Funun dipergunakan Turki Usmani dan Shah Iran untuk merintis yang sekarang disebut Universitas. Darul Funun adalah satu pondasi penting bagi dunia pendidikan Islam di Turki dan Iran untuk menyambut era kegemilangan ilmu pengetahuan di dunia Islam dan menjadi pondasi penting perkembangan Institusi Modern Pendidikan Islam di penghujung abad 20.
Terdapat dua buah Darul Funun pada masanya yang dirasa menjadi inspirasi dalam perjalanan menuntut ilmu yang dilakukan oleh Syekh Abbas Abdullah sebelum tahun 1920, dan kedua institusi ini menjadi pondasi pengembangan ilmu pengetahuan sains dan teknologi Islam di dua buah negara yang dewasa ini memegang peranan kemajuan penting dalam pengetahuan di dunia Islam, karena risetnya, karena kemandirian pendidikannya dan karena tokoh-tokoh yang dihasilkan yang membawa kemajuan dalam Negara tersebut, yakni Turki dan Iran.
Di Turki Darul Funun berkembang menjadi Universitas of Istanbul, dan di Iran Darul Funun berkembang menjadi University of Taheran. Jika mengacu statistik, kita akan dibuat tercengang bagaimana dalam 150 tahun lebih perkembangan keilmuan di dua institusi ini berkembang, University of Taheran saat ini membuka 111 jalur program sarjana, 177 program master dan 156 program doktor.
Dalam pemilihan nama Darul Funun, Syekh Abbas Abdullah terlihat menanamkan visi yang jauh kedepan, bagaimana Institusi yang dikembangkannya bersama saudara dan sahabat-sahabatnya diharapkan dapat berkembang jauh dalam dunia pendidikan islam.
Adalah Qadarullah, bagaimana tahun 1945 Indonesia merdeka dan bagaimana Darul Funun El-Abbasiyah dan jaringan sekolah-sekolah Sumatera Thawalib menopang perjuangan PDRI 1948 bukan hanya dengan tempat persinggahannya, tetapi yang paling mendasar adalah suntikan SDM-SDM yang menjadi amunisi-amunisi perjuangan Indonesia di awal kemerdekaannya, khususnya di Sumatera Barat dan sekitarnya. Kemudian terjadi periode bergolakan sampai tahun 1960. Dimulai masa tersebut, terjadi masa resesi yang berkepanjangan dalam perkembangan institusi pendidikan, yang terjadi hampir di seluruh daerah, begitu juga yang terjadi di Darul Funun.
Kini, 140 tahun setelah tahun 1854 pengajaran Surau Gadang Padang Japang dimulai oleh Syekh Abdullah Dt Jabok, dan 84 tahun setelah 1931 dikukuhkannya nama Darul Funun oleh Syekh Abbas Abdullah.
Mari kita bangun kembali dan segarkan kembali visi Syekh Abbas Abdullah, meyakini kembali pendidikan akan mampu membawa kemajuan kepada individu, dan terlebih sistem pendidikan akan membawa kemajuan yang massif dalam masyarakat.
“Jika seseorang meninggal dunia putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang selalu mendoakannya.”(HR. Muslim).
Keberadaan Masjid Raya Padang Japang di kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat ini, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan perguruan Darul Funun Padang Japang, dengan adanya sosok seorang ulama pejuang, Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Mustafa Abdullah yang popular dengan nama Syekh Padang Japang, Beliau Gadang dan Beliau Ketek.
Surau Darul Funun, yang lebih dikenal dengan Masjid Raya Padang Japang pada awalnya adalah sebuah surau kecil yang dibangun tahun 1914, tidak lama setelah Syekh Abbas Abdullah pulang dari menuntut ilmu di Mesir.
Didanai oleh waqaf-waqaf kaum muslimin dan juga murid-murid darul funun, surau ini dibangun untuk menjadi pusat tempat belajar kajian konvensional halaqah selain pola pengajaran sistem kelas yang coba diperkenalkan.
Foto oleh M Arsul (dalam buku)
Seiring waktu surau padang japang pun diperluas dan dirapikan hingga nampak seperti sekarang ini.
Sebagai orang yang pernah belajar di luar negeri, syekh Abbas ingin mengadakan pembaharuan dalam bidang pendidikan. Di masa itu di Sumatera Barat lembaga pendidikan Islam masih dibilang sangat sederhana, yakni di surau-surau, dimana anak laki-laki biasa tidur dan belajar agama. Pelajaran yang diberikan pun masih sebatas masalah yang pokok saja, seperti Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, dan Akhlak.
Tergugah oleh keadaan untuk memajukan pendidikan Islam maka diperkenalkan pelajaran ilmu umum pada tahun 1910, dan untuk pelajar putri dibangun sekolah khusus yang diberi nama Nahdhatun Nisaiyah. Sistem belajarnya menggunakan sistem klasikal yang dibagi menjadi dua tingkat, yaitu tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah. Kurikulumnya diambil dari Mesir. Alumni Darul Funun juga bisa melanjutkan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Ilmu umum yang diajarkan di kedua madrasah ini jseperti ilmu hitung, aljabar, ilmu bumi, biologi, sejarah.
Sedangkan bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Arab, Inggris, dan Belanda. Selain itu, di kedua madrasah ini juga diajarkan mata pelajaran keterampilan dan seni, seperti musik, drama, dan kursus kader (semacam latihan kepemimpinan). Tidak berlebihan jika pada masa itu Padang Japang menjadi tempat menimba ilmu di wilayah Sumatera Barat. Dan, untuk lembaga pendidikan Islam modern, Madrasah Darul Funun bisa disebut sebagai pelopor lembaga pendidikan Islam modern.
Dari Madrasah Darul Funun ini muncul nama-nama besar yang kelak menjadi tokoh pergerakan umat Islam. Mereka antara lain Zainudin Labay (pendiri Diniyah), Zainuddin Hamidi (pendiri Ma’had Islamy), Nashruddin Thaha (Islamic College Payakumbuh), Ilyas Ya’kub dan Mukhtar Luthfi. Dua orang yang terakhir ini kelak mendirikan organisasi PERMI (Persatuan Muslim Indonesia), sebuah organisasi politik yang radikal dan anti penjajah.
Dokumentasi Masyarakat
Karena keberpihakannya kepada perjuangan rakyat, pada tahun 1934, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menutup madrasah ini. Pemerintah colonial mengganggap sekolah ini berbahaya karena di sekolah ini ditanamkan kesadaran berjuang kepada umat Islam dan semangat antipenjajahan.
Dua tahun menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Bung Karno pernah dating ke tempat ini dan sempat berkonsultasi kepada Syekh Abbas Abdullah tentang dasar Negara Indonesia Merdeka. Dengan tegas ia meminta agar prinsip ketuhanan menjadi acuan dasar Negara yang akan dirumuskan.
Serba Bisa
Syekh Abbas Abdullah adalah figure all-round ‘serba bisa’. Selain itu diakui keulamaannya karena kedalaman ilmu dan kesederhanaan hidupnya. Ia juga dikenal sebagai politikus yang berani menyuarakan kepentingan rakyat.
Tidak heran, saat pecah revolusi 1945, ia diangkat sebagai Imam Laskar Mujahidin untuk daerah Sumatera Tengah (Minangkabau). Waktu Agresi Militer Belanda II, banyak pemimpin perjuangan berkumpul di Padang Japang. Madrasah Darul Funun menjadi markas pemerintahan Gubernur Sumatera yang waktu itu dijabat oleh Mr. Tengku Mohammad Hassan. Pada masa Pemerintahan Darurat (PDRI), Madrasah Darul Funun dijadikan kantor PPK dan Kementerian Agama PDRI. Ketika Mr. Mohammad Natsir dan Dr. Leimena dating dari Jawa untuk menjemput Ketua (Presiden) PDRI Mr. Syafrudin Prawiranegara kembali ke Pusat (Jakarta), pertemuan diadakan di gedung Madrasah Darul Funun ini.
Gedung awal Madrasah Darul Funun memang telah hancur menjadi puing, tetapi jasanya untuk perjuangan umat Islam dan bangsa Indonesia tidak pernah terlupakan.
info: perlahan tahap demi setahap perguruan dibangun kembali dengan dana waqaf dan infaq dari kaum muslimin sekalian, semoga Allah memberikan keberkahan kepada amal usaha ini.
Referensi:
– Masjid-masjid bersejarah di Indonesia: Abdul Baqir Zein (link)
– Sejarah Darul Funun El-Abbasiyah