Tag: PDRI

  • Syekh Abbas Abdullah, Pejuang Kemerdekaan

    Akibat gempuran Jepang, Belanda ingin membawa Sukarno yang tengah diasingkan di Bengkulu menuju Australia. Jalan satu-satunya yang memungkinkan adalah menaiki kapal di Teluk Bayur. Namun, beruntunglah Sukarno, sebab Padang telah dikuasai Jepang. Sedetik saja Belanda berhasil meloloskan Sukarno, anak Sukemi Sosrodihardjo dan Idayu Nyoman Rai Sarimben itu boleh jadi raib dari peta sejarah Indonesia.

    Titik balik sejarah Sukarno bisa dikatakan bermula di Padang. Sejak diasingkan ke Ende dan Bengkulu selama hampir delapan tahun, pesonanya hanya dalam kesunyian. Beruntung pula bagi Sukarno ketika Jepang menukarkannya dengan Madjid Usman (1907-1955). Tokoh Minangkabau ini sedang diasingkan di Garut, Pulau Jawa. Bagi Jepang, pertukaran ini sangat penting, sebab Sukarno memiliki daya retorika yang akan dimanfaatkan sebagai propagandis kepentingan Jepang di Jawa (Salmyah Madjid&Hasril Chaniago, (Ed.)., 2017: 151-154).

    Dalam catatan Audrey Kahin (2005: 137-141), Sukarno selama di Padang sejak Maret sampai Mei 1942 memainkan banyak peran. Namun, sejarawan Asia Tenggara dari Cornell University itu tak mengabadikan “jalan-jalan” Sukarno di tanah Minangkabau. Sukarno melakukan silaturahmi di Perguruan Darul Funun di Padang Japang.

    Hasril Chaniago dalam Indonesian Lawyer Club (ILC) TV One (8/9/2020) menyebutkan bahwa Sukarno datang terlambat dua jam dari waktu yang disepakati. Syekh Abbas Abdullah (1883-1957) menghubungkan soal waktu dengan janji. Sukarno dinasihati kalau ingin menjadi pemimpin harus menepati janji. Abbas Abdullah seolah-olah juga mengetahui kalau Sukarno “rambang mato” setelah melihat gigi suami Inggit Ganarsih itu. Selain itu, ulama besar dan pimpinan Darul Funun itu memberikan “peci tinggi” kepada Sukarno agar terlihat gagah.

    Muslim Syam dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981: 172) mengetengahkan riwayat Abbas Abdullah. Diterangkan bahwa Sukarno dalam perbincangan itu juga menyinggung soal landasan jika Indonesia merdeka dan menjadi sebuah negara. Abbas Abdullah menekankan dasar negara harus berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Dalam pidatonya di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, Sukarno menyebut ketuhanan pada poin terakhir atau dasar yang kelima. Menurut penulis, Abbas Abdullah kemungkinan marah besar terhadap Sukarno ketika komunis merasuki pemerintahan. Ternyata Sukarno tak menepati janji memegang teguh dasar ketuhanan.

    Lahir pada 1883, Abbas Abdullah termasuk ulama disegani di Minangkabau yang menghembuskan udara pembaruan bersama Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945), Muhammad Djamil Djambek (1860-1947), Ibrahim Musa (1882-1963), dan ulama lainnya.

    Dalam riwayatnya, ketika usia 13 tahun, ia pergi ke Mekah bersama pamannya dan tak mau pulang. Betah di Mekah selama tujuh tahun, ia mempelajari banyak hal termasuk berguru ke Syekh Ahmad Khatib (1860-1916).

    Setahun sebelum pulang, Syekh Abdullah (1830-1903) yang mendirikan Surau Gadang pada 1854 meninggal dunia. Abbas Abdullah pun turut membantu mengajar di surau yang didirikan ayahnya itu. Perlahan tapi pasti, ia melakukan modernisasi terhadap sistem pendidikan.

    Abbas Abdullah termasuk pimpinan dalam surat kabar al-Munir yang mulai terbit pada 1911. Ia pun bersatu padu mengibarkan bendera Sumatera Thawalib. Bahkan, pada 1920, Sumatera Thawalib Padang Japang menerbitkan surat kabar al-Imam. Setahun kemudian, Abbas Abdullah menuju lagi ke Mekah. Seusai haji, ia memperdalam ilmu ke Mesir dan ikut mendirikan Jam’iyyah Jawiyyah bersama Fathurrahman Kafrawi (Muslim Syam, 1981: 169; Burhanuddin Daya, 1990: 132). Fathurrahman Kafrawi (1901-1969) pernah menjabat Menteri Agama pada 1946 sampai 1947.

    Buya Hamka (1967: 242) menceritakan, “Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekah, terus ke Mesir dan menambah pengalamannya belajar di al-Azhar sampai tahun 1924. Pada tahun itu dengan melalui Palestina, Libanon, dan Syria beliau pulang ke tanah air dan meneruskan usahanya mengajar.”

    Diketahui pula bahwa Abbas Abdullah sempat ke Swiss dan bertemu Mahmud Yunus (1899-1982). Dalam catatan Muslim Syam (1981: 170), sebelum kembali ke Minangkabau, Abbas Abdullah singgah terlebih dahulu di Pulau Jawa untuk mengunjungi ulama-ulama dan pesantrennya. Ia berjumpa pula dengan Haji Agus Salim (1884-1954) dan beberapa pemimpin terkemuka.

    Ringkas cerita, dalam perkembangannnya, Sumatera Thawalib terinfiltrasi politik praktis dan aliran. Sekitar 1930-an, sebagaimana Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969) yang menolak usulan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) agar lembaga pendidikannya bernaung di bawahnya, Abbas Abdullah melakukan sikap serupa. Saat itulah Abbas Abdullah mengubah perguruannya dengan nama Darul Funun. Penamaan ini menarik, sebab cenderung beraroma Turki.

    Menurut penulis, Abbas Abdullah termasuk tokoh yang dikuntit Belanda. Ketika Darul Funun digeledah Belanda sekitar 1934, bukan sekadar soal adanya “buku-buku radikal” dan prasangka politik praktis, tetapi juga menghentikan gerak Abbas Abdullah. Kita ingat aksi penolakan Ordonansi Guru (1928) dan Ordonansi Sekolah Liar (1932) di Minangkabau yang membuat Belanda mati kutu. Dalam berbagai keterangan, seusai penggeledahan, Darul Funun diblokir Belanda alias dilarang beroperasi.

    Nasib Abbas Abdullah tak seperti Haji Rasul yang ditangkap dan diasingkan Belanda. Semasa pendudukan Jepang, Abbas Abdullah adalah salah satu ulama yang terpaksa berfatwa Perang Asia Timur Raya adalah perang sabil. Tentu, fatwa ini dengan niat menghancurkan Jepang di Minangkabau.

    Ketika pembentukan Giyugun, Abbas Abdullah menyuruh murid-muridnya turut berlatih dalam badan pertahanan bentukan Jepang itu. Bahkan, anaknya Azhari Abbas termasuk angkatan pertama. Kelak, barisan Giyugun ini berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

    Bukan main jika sejarah menarasikan peristiwa ini. Sebagaimana kita ketahui, Abbas Abdullah terlibat dalam Majelis Islam Tinggi (MIT) yang berpusat di Bukittinggi. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, MIT membentuk barisan Sabilillah. Ada empat resimen Sabilillah berkedudukan di Padang Panjang, Solok, Pesisir Selatan, dan Payakumbuh. Abbas Abdullah ditunjuk sebagai imam jihad. Fatwa yang dikeluarkan, berjuang mengusir musuh adalah fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah. Siapa yang mati, syahid dunia akhirat (Hendra Sugiantoro, 2021: 131-132).

    Resimen adalah pasukan yang terdiri dari beberapa batalion, sedangkan batalion bisa terdiri dari 300 sampai 1.000 pasukan. Itu di bawah komando Abbas Abdullah yang saat itu sudah berusia 62 tahun!

    Kiprah Abbas Abdullah dalam perjuangan kemerdekaan tak dimungkiri. Bahkan, ketika masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), perguruannya sempat sebagai markas Mr. Teuku Mohammad Hasan. Dalam struktur kabinet PDRI yang diumumkan Mr. Syafruddin Prawiranegara (1911-1989) per 22 Desember 1948, posisi Teuku Mohammad Hasan selaku Wakil Ketua merangkap Menteri Dalam Negeri, Pendidikan&Kebudayaan, dan Agama.

    Seusai kesepakatan Roem-Royen 1949, Syafruddin Prawiranegara yang beretika kekuasaan mengembalikan mandat kepada Sukarno. Di Perguruan Darul Funun, Mohammad Natsir dan Johannes Leimena menjemput pimpinan PDRI untuk pulang ke Yogyakarta.

    Abbas Abdullah meninggal dunia pada 17 Juni 1957. Sekitar delapan tahun kemudian, kekuasaan Sukarno runtuh, salah satunya akibat tak menepati janji mendasari negara dengan ketuhanan sebagaimana diamanatkan Abbas Abdullah. Wallahu a’lam. (Hendra Sugiantoro, 23-24 Agustus 2021).

    Sumber Acuan:

    • Ahmad Husein dkk. dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I di Minangkabau/Riau 1945-1950 (1978, 1992).
    • Andre Fernando dan Etmi Hardi dalam “Syekh Abbas Abdullah Padang Japang: Tokoh Pejuang Pada Masa PDRI 1948-1949”, Gelanggang Sejarah, 2019, Vol. 1(1), hlm. 74-89.
    • Audrey Kahin dalam buku Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (2005, 2008).
    • Burhanuddin Daya dalam buku Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib (1990).
    • Departemen Penerangan dalam buku Republik Indonesia Provinsi Sumatera Tengah (1954).
    • Hamka dalam buku Ajahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera (1967).
    • Hendra Sugiantoro dalam buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021).
    • M.D. Mansoer dkk dalam buku Sejarah Minangkabau (1970).
    • Mestika Zed dalam buku Somewhere in the Jungle Pemerintahan Darurat Republik Indonesia: Sebuah Mata Rantai Sejarah yang Terlupakan (1997).
    • Edward (Ed.) dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981).
    • Salmyah Madjid dan Hasril Chaniago (Ed.) dalam buku Memoar Siti Aminah Madjid Usman-Hiroko Osada: Kisah Hidup dan Perjuangan Seorang Putri Bangsawan Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia (2017).

    Diterbitkan pertama kali di: https://matapadi.co/syekh-abbas-abdullah-pejuang-kemerdekaan (25 Agustus 2021)

  • PDRI dan Bela Negara (Kepres Nomor 28 Tahun 2006)

    PDRI dan Bela Negara (Kepres Nomor 28 Tahun 2006)

    I.  PADANG JOPANG.

    Di kampung kelahiran saya banyak sekali situs bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia; merebut, mempertahankan dan membela ptoklamasi 17 Agustus 1945. Satu diantaranya tidak jauh dari rumah orang tua saya ada kuburan massal yang disebut “ kuburan Jepang “. Nama kuburan itu tidak ada sangkut pautnya dengan nama kampung saya Padang Jopang di nagari VII Koto. Di tempat tersebut berkubur sekitar 40-orang Jepang, eks tahanan di Kamp Ampang Godang.

    Sebuah prasasti bertuliskan lima (5) nama pejuang yang gugur di front pertempuran melawan Belanda dibangun di halaman depan Balai Adat Padang Jopang. Nama pejuang tersebut adalah; Martais, Saeran J, dan Amirudin yang gugur di medan tempur “Padang Area “1946; Abbas Manan (gugur di Bankinang 1947 ) dan Abbas Idrus (gugur di Bukittinggi 1947).

    Prasasti lainnya ada di halaman rumah Jawa di kampong suku Sikumbang, sementara itu di Ampang Godang ditemukan pula Kamp (Tangsi ) Militer, tempat tawanan Jepang, Kemudian sebuah tugu setinggi tujuh meter terdapat di lapangan bola kaki di Koto Kociak. Semuanya ini konon berkaitan dengan Perang Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Kompleks Perguruan Darul Funun El Abbasyah dan Nahdatun Nisaiyah, Tarbiyah Islamiyah gedung BPPI ( kini madrasah Aliman Syalihah) dan kantor partai Masyumi ( kini mushalla ) di Pokan Sinoyan adalah gedung yang berperan semasa Revolusi dan Perang Kemerdekaan. Menurut usianya sudah patut didaftarkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah .

    Berbagai cerita dan informasi dibalik prasasti yang sebutkan itu masih tersembunyi dan belum terungkap secara utuh sampai hari ini. Pada hal untuk mewariskan nilai-nilai kejuangan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), ada di sana. Suatu tantangan yang harus dipecahkan . Berbagai kendala ditemukan, untuk mendapatkan informasinya secara utuh, baik pelaku atau pun saksi-saksi peristiwa sudah banyak yang meninggal dunia, sementara yang masih hidup pergi merantau dan sebgaian dari mereka sudah pikun sulit mengingat kejadian dan pengalamannya.

    Disamping situs-situs dan prasasti itu ada pula monument hidup, yakni dua orang puteri pejuang RI bernama Sarong asal aceh bernama Syamsimar dan Nur’aini. Isteri Sarong dikenal masyarakat dengan panggilan Niea Judan ( Sjamniar isteri ajudan maksudnya). Rupanya adjudan Gubernur Sumatera semasa PDRI Mr. Teuku M.Hassan , AKBP ( polisi ) bernama Sarong sempat pacaran dan kawin selama Teuku M. Hassan berkantor di komplek perguruan milik Syech Abbas Abdullah di baruah “ Pucak Bakuang “. Dulu dikenal juga dengan ungkapan populer “ lembah Murni “ dikala revolusi sedang bergejolak. Monumen hidup lainnya yang menonjol adalah menikahnya staf Teuku M. Hassan, Machmud Junus (penulis tafsir Qur’an) dengan puteri suku Sikumbang bernama Jawahir, yang melahirkan anak perempuan Jawanis.

    Di rumah isteri Machmud Yunus ini perundingan pemulangan mandat PDRI oleh delegasi PDRI Sjafrudin Prawiranegara dengan delegasi penjemput dari Yogya yang dipimpin M. Natsir. Nama Soekarti, adik perempuan dari Diswar ( Paradeh ), anak dari Sjarkawi Rasoel Dr. Ajo Marajo diberikan langsung oleh Soekarno ( Presiden RI pertama ), dikala ia berkunjung ke perguruan Darul Funun El Abbasiyah, setelah ia dibebaskan dari pengasingan di Bengkulu. Dikala itu ibu Diswar Paradeh tengah hamil tua mengandung adiknya Soekarti, tetapi masih aktif menyambut kedatangan Soekarno ke Padang Jopang. Ibu Diswar Paradeh adalah kemenakan dari pimpinan Darul Funun Syesch Abbas Abdullah. Gelar “ Paradeh “ yang melekat di belakang nama Diswar adalah nama sebuah oragnisasi perjuangan kemerdekaan RI di Payakumbuh umumnya dan Kewedanaan Suliki khisusnya, yaitu Persatuan Dagang Suliki ( PERDAS ). Sama dengan kongsi dagang Roemah Obat Sumatera Tengah ( Roste ) yang hingga saat ini masih aktig di bunian Payakumbuh.

    Disamping itu banyak pula nama-nama pejuang seangkatannya, Polisi Tentara (PT) Ayun Inyiak, dan Sersan Abd. Muis (Pengawal Tahanan Jepang di Tangsi Ampang Gadang ), seperti si kembar Sainun dan Sainin , serta Makmus PT. Hampir semuanya berasal dari tentara pejuang Sabilillah, dengan komandannya Kapten Adnan Z dan Ka. Staf Letnan Dani Zaidan.( Adnan Z adalah ayah kandung Adrizal Adnan –mantan Kandatel Sumbar ). Terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu, namun demikian ada yang tinggal menetap dan beristeri di front pertempuran Padang Area, antara lain Darwis dan Sahari Kumbik di Kuranji dan Nazar di Tabing. Mantan Gyu Gun dan Haiho juga ada seperti Kapten Azhari Abbas, Letnan Mawardi HN , Makmus , Baha, Tabrani dll.

    Untuk mengungkap satu persatu item prasasti dan personal pelaku sejarah yang disebutkan di atas sangat sulit. Mencarikan bukti pisik, seperti foto dan dokumennnya. Hampir semua dokumen yang berbau kemiliteran telah dibuang dan dibakar sendiri oleh pelaku. Hal itu dilakukan karena takut dengan APRI, lantaran mereka hampir 100% terlibat gerakan PRRI tahun 1958 – 1960. Situasi setelah “kalah perang” masing-masing pelaku dan keluarganya yang rata-rata ikut PRRI, banyak memilih diam, “ tutup mulut “.

    Hal lain yang jadi penyebab adalah sumpah dan janji para pelaku tersebut dihadapan komandan, masyarakat dan apalagi janji mereka kepada Imam Jihad Syech Abdullah, bahwa mereka ”berjuang lillahi ta’ala”, mereka tidak mau “bunyi”. Mereka itu tidak mau menyebut Tuah, menepuk dada akulah pahlawan, apalagi mengungkap yang menjadi rahasia militer atau “yang dirahasiakan pasukannya”. Banyak diantara mereka yang tidak mau didaftarkan/mendaftarkan diri untuk dicatatkan sebagai anggota Veteran, dipanggil pejuang saja tidak mau, apalagi “pahlawan” . Tidak berbeda diantara pejuang wanita dan laki-laki di kampung saya ini.
    II. BELA NEGARA.

    Tanggal 19 Desember sudah ditetapkan oleh Negara Republik Indonesia sebagai hari besar Nasional. Dikenang dan peringati guna memupuk rasa Cinta Tanah Air, menanamkan semangat Kebangsaan, Rasa Nasionalisme, Mencintai kemerdekaan dan menghargai jasa Pahlawan serta tidak melupakan jalan dan lika-liku Sejarah.

    Kenapa Bukittinggi ditembaki Belanda secara bersamaan dengan ibukota RI Yogyakarta ? Kenapa tidak kota-kota lain ? Apa peranan penting yang dimainkan Bukittinggi, sehingga kota ini harus dihabisi Belanda bersaam dengan Yogyakarta ? Kernapa Bukan kota Bandung, Surabaya , Makasar atau Manado dan Pontianak, Banjarmasin yang hendak dihancurkan ?

    Untuk itu kita perlu merefleksikan kondisi dan suasana di Bukittinggi, saat itu yang disebut Ibukota kedua setelah Yogya. Hal ini barang kali akan dapat di apresiasi atau dilihat dari peranan Bukitinggi saat itu setelah kota Siantar ( Sumatera Utara ) jatuh ke tangan Belanda Juli 1947;

    1. Tempat kedudukan Kamandeman Sumatera
    2. Tempat kedudukan Gubernur Sumatera yang kemudian dirobah menjadi Komisariat Pemerintah Pusat ( Kompempus ).
    3. Gubernur Sumatera Tengah
    4. Pusat Pemerintahan Sumatera Barat.
    5. Markas Besar Divisi Banteng
    6. Tempat pengurus pusat partai-partai politik.

    Dengan membayangkan dan meng-analisa kegiatan dan dinamika masing dinas dan instansi maka dapat disimpulkan bahwa urat Nadi kehidupan Negara Republik Indonesia itu ada di Bukittinggi, jika Yogya bisa dihentikan oleh Belanda.

    Tokoh-tokoh penting Republik Indonesia disamping Soekarno – Hatta berada di Bukittinggi. Ini semua sudah diketahui Belanda dari lopran intelijen. Berhasil merebut Yogyakarta saja tidak akan bisa mematikan dan melenyapkan Republik Indonesia.

    Tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta sebagai ibukota Negara dan Bukittinggi sebagai ibukota RI bayangan. Serangan itu hendak digambarkan Belanda sebagai tindakan policyonil, kegiatan penertiban dan melindungi keamanan rakyat.

    Perjuangan dan perlawanan Republik Indonesia, digambarkan sebagai “gangguan keamanan “ dalam negeri oleh para pengacau criminal. Tujuan Belanda melenyapkan Negera Republik Indonesia, tidak ada pemerintahan di Hindia kecuali Belanda. Begitulah serangan itu dikemas dan dijadikan public opini dunia. Tetapi pihak yang diserang Republik Indonesia menyebutnya “ Agresi “; yaitu serangan dan penetrasi terhadap sebuah Negara Berdaulat. Pemakaian kata -kata perang, “Clash dengan Agresor” telah memenangkan diplomasi RI di mata dunia sehingga terbentuk Komisi Tiga Negara dan menimbulkan respon PBB. PDRI menjadi legilitimasi Republik Indonesia tetap aksis di mata dunia.

    Agresi Belanda terhadap kedaulatan RI telah menjadi pemicu terbentuk dan lahirnya Pemerintah RI darurat, pelanjut pemerintah pusat ( Soekarno – Hatta ) yang menyerahkan diri kepada Belanda di Yogyakarta 19 Desember 1948.

    Hari Ancaman terhadap keberadaan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Agresor Belanda tanggal 19 Desember 1948 ini ditetapkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, melalui sebuah Keputusan Presiden (Keppres ) Nomor 28 Tahun 2006; dengan sebutan ;
    HARI BELA NEGARA

    Pemerintah Darurat, bukan dadakan. Bukan di buat-buat. Jauh hari sudah diperkirakan . Sudah ada KIRKA ( Kira-kira Keadaan ). PDRI terbentuk, setelah disetujui para Pemimpin RI yang ada di Bukittinggi pada tanggal 19 Desember 1949 di Bukittinggi, Ketua (Presiden RI ) Mr. Sjafrudin Prawirnegara dan Wakil Ketua ( Wkl. Presiden) Mr. Teuku M. Hassan. Pengumumannya bersama susunan Kabinet lengkap di Halaban. Kemudian di udarakan melalui radio AU di Parak Lubang.

    “Pak Islam, apakah resmi dan betul PDRI dibentuk di Bukittinggi di bawah siraman mitraliur dan bom Belanda ?”; Tanya saya di gedung Tri Arga kepada Islam Salim.

    “ Kenapa ? “ jawabnya bertanya pula ?

    “Ya, Bapak bilang Bapak ikut membicarakannya dengan Mr. Teuku M.Hassan , Mr.Rasjid dan Mr.Sjafrudin. Bagaimana legitimasinya ?” Saya balik bertanya

    “ PDRI sudah dipersiapkan, sudah didukung tentara dan pemimpin sipil, ini memorandum Syahrir dan Daan Yahya, hanya tinggal penyusunan dan pengumuman , idea nya sudah ada , ini buku saya “ kata Islam Salim sambil menyodorkan buku yang disusunnya kepada penulis.

    Ternyata menurut buku Islam Salim, halaman 29-33 Pangkalan Cadangan ( Reserve Basis ) telah diupayakan Wakil Presiden Mohammad Hatta, setelah menerima memorandum dari Syahrir dan Daan Jahja dan masukan lain-lain. Hatta menugaskan tiga gelombang Pimpinan dan Perwira Tentara ke Bukittinggi pada bulai Mei 1948. Kemudian Wakil Presiden sendiri yang berangkat ke Bukittinggi.

    “Pembentukan PDRI di Sumatera Tengah dimungkinkan berkat persiapan yang seksama berdasarkan suatu memorandum Nayor Daan Jahja, dari staf Divisi Siliwangi, pada bulan Maret 1948 yang ditujukan kepada Perdana Menteri/ Menteri Pertahanan RI Drs. Mohammad Hatta, dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya agressi Belanda II.tulis A.E.Kawilarang”.

    “Kirka” yang dibayangkan beberapa pemimpin militer dan sipil di Yogyakarta menjadi kenyataan, hari Minggu 19 Desember 1948 Yogyakarkarta dan Bukittingi di serang Belanda dari Udara. Front Padang Are di bagian Timur Air Sirah diterobos Belanda, Pasukan payubng di turunkan di danau Singkarak.

    “Pemboman serentak oleh Belanda atas Yogya dan Bukittinggi pada Minmggu 19 Desember 1948, sebenarnya tidak sepenuhnya merupakan kejutan ( surprise ), namun menimbulkan shock yang cukup berarti. Pemimpin-pemimpin pemerintahan tidak kehialangan akal; segera diadaskan rapat bersama antara Mr.T.M Hassan , Mr.Sjafridin dan Gubernur Saumatera Tengah Mr.M.Nasroen pada kira-kira pukul 09.00 pagi di gedung Tamu Agung tempat kediaman Wakil Presiden Hatta, masing-masing beserta staf:.

    Republik Indonesia dalam ancaman, Belanda hendak melenyapkan Kedaulatan RI, serang dan tangkap pemerintahnya. Para pemimpin yang ada di Bukittinggi langsung mengadakan rapat mendiskusikan cara yang akan ditempuh untuk membela Negara, sementara Soekarno dan Hatta, sudah diperkirakan akan ditawan oleh Belanda. Mandat membentuk Pemerintahan belum diterima. Akhirnya rapat itu memutuskan sesuai dengan perkiraan sebelumnya, dibentuk pemerintah pusat, Ketua Mr.Sjafrudin Prawira Negara dan Wakil Ketua Mr.Teuku Mohammad Hassan. Langkah dan strategi membela Negara harus disusun . Demi keselematan seluruh pejabat pemerintah mengungsi ke Halaban di Selatan kota Payakumbuh pada jam 21.00.

    Kekuatan militer RI masih tangguh menahan serangan, Belanda lama tertahan sebelum memasuki Padang Panjang dan lembah Anai, dipaksa melayani tembakan tentara pejuang . Hal ini memberi kesempatan yang sempurna bagi pemimpin sipil dan militer di Bukittinggi mempersiapkan pengosongan kota dan bumi hanguskan kota.

    Setelah serangan Udara Belanda berhenti di Bukittinggi para pemimpin Republik mengadakan rapat untuk mengatisipasi serangan Belanda ini dan menganalisa keadaan yang tengah dan akan terjadi. Pertemuan dilangsungkan di gedung Tamu Agung ( Tri Arga/ Istana Bung Hatta ) Bukittinggi ; diantara Sjafrudin Prawiranegara menteri Kemakmuran RI, Mr. Teku M.Hassan , Mr. Lukman Hakim, Kolonel Hidayat, Kombes Pol Umar Said dan Mr. Nasroen Gubernur Sumatera Tengah. Serangan Belanda masih berlanjut terus, akhirnya rapat dihentikan.

    “Dan sore hari harinya Mr.Sjafrudin Prawiranegara berinisiatif bersama Kol.Hidayat datang ke kediaman Ketua Komisariat Pemerintah Pusat untuk Sumatera Mr. Teuku Mohammad Hassan di jalan Atas Ngarai untuk melanjutkan perundingan”.

    Pasukan RI mampu menghambat kekuatan angkatan perang Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan kendaraan lapis baja, dan diperkuat pula dengan pasukan angkatan udara patut juga menjadi kajian. Diperlukan waktu tiga hari oleh Belanda untuk bisa merebut Bukittinggi. Inilah karya anak bangsa yang menumpang di atas kekuatan Jepang. Kekuatan militer RI di Sumatera Barat ini atara lain bersumber dari GyuGun, pendidikan opsir Jepang, Lasykar-lasykar Rakyat, yang dilatih Eks Gyu Gun dan Pendidikan Kadet Divisi III Banteng.

    “Pada Selasa malam 21 Desember 1948 di sebuah lobang pertahanan peninggalan Jepang di kompleks Sekolah Pendidikan Opsir Bukittinggi, berlangsung suatu pertemuan tertutup yang dihadiri oleh Panglima Teritorium dan beberapa orang Perwira DivisiIX Banteng”

    Pertemuan tersebut dipimpin oleh Letkol Dahlan Ibrahim, hadir antara lain Kolonel Dahlan Jambek, Letkol Sjarif Usman, Mayor A.Thalib, Mayor A. Halim ( Aleng). Dalam pertemuan itu Kolonel Dahlan Jambek menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil Pemerintah, seperti Bukittinggi tidak akan dipertahankan dan dilakukan pembumi hangus-an.Tanggal 21 Desember 1948 malam kota Bukittinggi di bumi hangus, seluruh objek vital yang akan dimanfaatkan musuh dibakar semua. Kota Bukittinggi menjadi kosong rakyat bersama pemimpinnya mengungsi keluar kota.

    Rombongan PDRI terakhir sampai di Halaban adalah Mr. M. Rasyid; setelah menyelenggarakan sidang singkat untuk menyepakati susunan PDRI pukul 03.30 pagi tanggal 22 Desember 1948. Rombongan langsung menuju ke tempat ptempat yang telah dipakati sebelum. Saat itu dikhawarikan Pasukan Belanda sudah sampai di Payakumbuh.

    “Ketika Sjafrudin Prawiranegara dan rombongan berangkat ke Bangkinang, setelah buru-buru meninggal Halaban, setelah pengumaman susuanan PDRI, MR. St Mhd.Rasjid hanya menyingkir ke mudiak sekitar 13 km di utara Payakumbuh, tidak bergabuang dengan Sjafrudin Prawiranegera. Jum’at 24 Desember Rasjid berkeliling di nagari-nagari Kecamatan Guguak, Dangung-dangung, VII koto Talago, Limbanang dan Kubang . Masyarakat diajak membela Negara melalui PDRI”

    III. Dari Gyu Gun ke BKR dan TNI.

    Tahun 1942 Yano Kazo; Residen ( zaman Jepang ) untuk wilayah Sumatera Barat , mengumpulkan pemuka masayarakat, Ninik Mamak, Ulama dan Cerdik Pandai Sumbar, ia mengemukakan akan membangun Gyu Gun ( Lasykar Rakyat ); Pembela Tanah Air ( PETA) namanya di pulau Jawa.

    Setelah melalui diskusi dan tukar pendangan diantara pemuka masyarakat dalam rapat itu, akhirnya disepakati menerima usul Yano Kazo mendirikan Gyu Gun Ko En Kai, maka ditetapkan rapat tiga pemimpin yang akan membentukanya yakni Ahmad Dt. Simarajo (ninik Mamak), H. Machmud Yunus ( Ulama )dan Chatib Sulaiman (Cerdik Pandai ). Ketuanya ditetapkan Chatib Sulaiman dan dibantu oleh Suska, Rasuna Said, Latif Usman, Ratna Sari, Leon Salim, Mansur Taib, Rahmah El Yunusiah, Aziz Latif , Husin Ilyas, Tjik Ani, Nazarudin, Nurdin Kajai. Setelah diberikan penjelasan dan penerangan kepada masyarakat se Sumatera Barat, ternyata peminatnya cukup banyak.

    “Nama-nama yang telah terdaftar cukup banyak antara alain tiga orang putera dari Syech . M. Djamil Djambek, seorang ulama besar di Minangkabau serta banyak lagi yang berpendidikan Barat maupun Islam”

    Syech Abdullah, dikenal juga dengan sebutan “ Baliau Ketek” sejak awal, semasa usaha-usaha pra kemerdekaan RI ia aktif mendorong usaha-usaha pergerakan persiapan kemerdekaan, demikian pula dengan Syech Musatafa yang disebut juga “Baliau Godang”. Kedua beliau dari PERGURUAN Darul Funun, Puncak Bakuang ini melepaskan anaknya untuk ikut berjuang. Azhari Abbas anak baliau ketek di Koto Kociak, VII Koto, ikut berlatih Gyu Gun. dan Tantawi anak baliau Godang di Air Tobik ikut barisan Sabililah.

    Ketika Agresi Belanda kedua 1948-1949, keduanya sudah muncul menjadi Perwira Pertama ( Pama ) TNI yakni Kapten Azhari Abbas dan Kapten Tantawi yang tewas dalam peristiwa 15 Januari 1949 di Lurah Kincir Situjuah. Nama Kapten Tantawi diabadikan Pemda menjadi nama lapangan bola kaki Payakumbuh yang semula bernama Poliko diganti dengan sebutan lapangan Kapten Tantawi.

    “Berdirinya Gyu Gun di Sumatera Barat, yang sama dengan PETA di Jawa, mendapat sambutan yang hangat dari pemuda Payakumbuh dan Lima Puluh Kota, sehingga banyak diantara mereka yang mengambil bagian dalam Gyu Gun sebagai Pembela Tanah Air, seperti Nurmathias, Azhari Abbas, Amir Wahida, Inada Wahid, Makinudin HS dan lain-lainnya yang kemudian hari pada permulaan perjuangan kemerdekaan mereka memagang peranan di daerah ini”

    Dua hari setelah Jepang menyerah, di Padang tanggal 16 Agustus 1945 Gyu Gun dibubarkan dan di Bukittinggi pembubarannya tanggal 18 Agustus 1945.

    Lasykar Sabililah Lima Puluh Kota.

    Kongres MIT pada tanggal 7 Desember 1945 di Bukittinggi antara lain memutuskan membentuk Barisan Sabilillah. Divisi Sabilillah Sumatera terbentuk setelah Opsir-opsir Bataliyon Sabilillah dilantik 16 Maret 1946 di lapangan atas ngarai Bukittinggi, dihadiri oleh Manteri Penerangan Natsir dan Kepala Staf Umum Mabes TKR Sumatera Jenderal Mayor Suhardjo. Markasnya ditempatkan di Jalan Lurus Bukittinggi dibawah Pimpinan A. Gafar Djambek dan H. Rivai Yunus sebagai kepala Keuangan dan Perlengkapan.

    Sebagai langkah awal Calon Opsirnya, utusan seluruh Kabupaten dilatih terlebih di Kamang, selama dua bulan mulai 1 Januari 1946. Utusan dari Lima Puluh Kota adalah Anwar Muin dan C. Israr.

    Selesai latihan kemabli ke daerah masing – masing dengan tugas membentuk Batisan Sabililah Kabupaten dengan mengumpulkan pemuda dari seluruh Nagari. Langkah awalnya adalah mengumpulkan tenaga terdidik bidang kemiliteran dari mantan Gyu Gun, Heiho, Sei Nen Dan untuk dijadikan pelatih; latihan pelatih dilaksanakan Taram , Koto Kociak VII Koto, dan Payakumbuh.. Kepada pelatih nantinya dibebankan pembinaan pasukan sampai ke Nagari.

    IV. Mobilisasi Sabil

    Syech Abbas Abdullah : Pimpinan Darul Funun El Abbasiyah, “Puncak Bakuang” Padang Japang selaku Ulama yang terkemuka di Sumatera Barat telah mengeluarkan Fatwa dalam suatu konperensi ulama Sumatera di Bukittinggi, bahwa; perang melawan Penjajah adalah Jihad Fi Sabilillah dan bila mati akan mati dalam keadaan Syahid.

    Menurut keterangan Ismail Hasan dalam suatu wawancara dengan penulis salah satu keputusan konsperensi menetapkan; Syech Abbas Abdullah sebagai Imam Jihad. ( 2008/video/ dirumah orang tua Anwar ZA )

    “Gerakan Mobilisasi Sabil ini sebelum Perang Kemerdekaan kedua telah dicetuskan oleh para alim ulama dalam suatu Konpoerensi alim ulama dan mubaligh Islam di Sumatera Barat yang berlangsung di Bukittinggi pada tanggal 27 Juli 1947 pada saat bangsa Indonesia sedang menghadapi agresi militer Belanda yang pertama. Dalam pertemuan itu telah diputuskan untuk mengerahkan perang sabil terhadap tentara Balanda dengan mengobarkan semangat jihad serta memperhebat rasa pengorbanan arakyat untuk kepentingan perjuangan”. .

    Resimen Sabilillah Kab. Lima Puluh Kota termasuk Bangkinang: Komandan : Mayor Sjamsawi, membawahi lima Bataliyon . .M.Hikmat Israr; HC Israr Kesederhanaan & Kepejuangan Aanak Payakumbuh;Budaya Media;2004; halaman 43
    1. Kapten Nazarudin Saleh ( Payakumbuh – Akabiluru )
    2. Kaapten Saharudin (Luhak dan Harau )
    3. Kapten Adnan Z ( Kecamatan Guguak )
    4. Kapten Bermawi Taher ( Suliki )
    5. Kapten Umar ( Bangkinang dan sekitarnya )

    Kapten Adnan Z , menempatkan Markas Bataliyon III di Pokan Noyan ( Pasar Senin ) Padang Japang simpang empat jalan , sekarang dijadikan Mushalla.Menetapkan Kepala Stafnya. Dani Zaidan.yang mengendalikan perjuangan kemerdekaan di wilayah Kecamatan Guguak . Adnan Z adalah orang tua / ayah kandung Adrizal Adnan ( Mantan Kandatel-Sumbar ), ia merekrut hampir seluruh pemuda di VII Koto yang sehat ikut menjadi anggota Sabilillah. Polisi Tentara yang bertindak menjaga disiplin anggota Sabilillah adalah: Letnan Baharudin Alwi, dan anggotanya , Abdul Muis, Abdul Gani, Ayun Inyiak, Yulius Martunus . Polisi ini juga nantinya yang bertindak sebagi pengawal tawan tentara Jepang dan Kamp Ampang Godang.

    “Dalam bulan Juni 1949 , Mayor A. Thalib diangkat jadi Komandan Pertempuran Lima Puluh Kota, menggantikan Kapten Syafei. Letnan I Nurmathias ditempatkan sebagai Kepala Staf. Semenjak itu kedudukan markas komando pertempuran ditempatkan di Ampang Gadang VII Koto Talago”:

    Konsep ABRI manunggal dan Pertahanan Rakyat Semesta.

    Setelah Lasykar-lasykar, termasuk Sabilillah, Hisbulllah dan lain dilebur ke dalam BKR dan TNI, maka sewaktu menjalankan struktur Pemerintahan PDRI yang mengkombinasikan Cipil dan Militer, maka Mantan Gyu Gun dan amantan Pasukan Sahid atau lasykar-lasyakar itu umunya langsung mengisi struktur Camat Militer, Wali Perang , DPD, MPRD,MPRK, BPNK, dan tugas kejuangan lainnya seperti Pasukan Mobeil Teras ( PMT )

    Badan pengawal Nagari dan Kota (BPNK) didirikan Juli 1947,Peraturan No.15/DPD/P-1947 ( Dewan Pemerintah Daerah ). Pada Januari tahun1948, didirikan Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) yang membawahi BPNK/PMT.

    BPNK memperoleh pendidikan militer dibawah koordinasi Chatib Sulaiman; untuk dijadikan Pasukan Mobil Teras yang bertugas mengamankan Nagari

    Belanda membangun pos Patroli di rumah ( kapten Leon Salim ) di Tiakar Guguak:

    24 Januari 1949; Ibu Kota Kabupaten dipindahkan dari Limbanang ke Talago. Dan pada hari itu diadakan rapat konsolidasi pemerintah Kabupaten, salah satu keputusannya mengusulkan A. Malik Ahmad sebagai Wakil Bupati.

    Moral kejuangan rakyat terpukul dan menurun akibat serangan Belanda yang berhasil menerobos pertahanan PDRI, masuk sampai pusat pergerakan Koto Tinggi tanpa perlawanan yang berarti pada tanggal 10 Januari 1949. Kendaraan perang Belanda meluncur tanpa halangan berart, sekalipun rakyat telah memasang penghalang pada beberapa titik antara lain dengan menumbangkan pohon, serta membelintangkan batang kelapa di jalan raya. Penggeledahan dilakukan pada setiap rumah di tepi jalan dan membakar beberapa mobil yang ditemukan di tepi jalan. Balai Adat di Talago yang dikira belanda sebagai tempat berkantornya Bupati Lima Puluh Kota di bakar. Sasaran Utama operasi militer Belanda ini adalan sender radio.

    Sembilan orang petani yang ditemukan Belanda di Pandam Gadang menjelang menuju Koto Tinggi ditembak tentara Belanda di Titian Dalam. Beberapa bentuk keganasan perang dipertunjukan Belanda untuk menjatuhkan mental masyarakat.