Tag: pemuda

  • Selagi Muda (1): Kuatkan Integritas Perkaya Pengalaman

    Diantara kelebihan dari karakter pemuda adalah idealisme, melihat sesuatu secara ideal. Namun dibalik itu juga terdapat kelemahan dari sisi kontekstual atau pengalaman, sehingga kesempatan untuk mengetes idealisme adalah pengalaman yang sangat berharga. Bertolak belakang dengan pemuda, untuk karakter yang mereka yang cukup berumur adalah pengalaman, sehingga hilangnya kesempatan untuk memiliki idealisme dalam masa muda akan terlihat bagaimana terlalu kontekstualnya di masa muda, atau dengan bahasa sederhana mengikuti kemana angin bertiup.

    Idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran harus terus diasah dan menjadi satu karakter integritas yang memang nampak dari seseorang. Nabi SAW memberikan satu nasihat yang sangat baik tentang pemuda yang berintegritas:

    يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

    Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah [HR. Ahmad].

    * shobwah adalah kecenderungan untuk berniat/berlaku buruk

    Dalam satu kondisi lain, sahabat yang pada saat itu diamanahi menjadi Khalifah, Abu Bakar RA, menilai pemuda juga dari idealisme kejujuran. Bagaimana integritas menjadi penilai tinggi setelah memiliki kemampuan yang terkualifikasi untuk urusan tertentu.

    قَالَ أَبُو بَكْرٍ –وَعِنْدَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ- لِزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ : إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لاَنَتَّهِمُكَ، وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَتَبَّعِ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ

    Abu Bakr RA mengatakan kepada Zaid bin Tsabit saat itu Umar bin Khatthab RAu anhu berada diantara mereka, “Sesungguhnya kamu laki-laki yang masih muda, cerdas dan kami tidak menuduhmu (berbuat dusta), kamu dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah, maka sekarang telitilah al-Qur’an itu dan kumpulkanlah ia (Al-Quran itu) [HR. Bukhari].

    Bagaimana seorang pemuda diberi amanah besar untuk mengumpulkan Al-Quran yang pada saat itu masih tercerai berai dalam catatan banyak sahabat, dalam bentuk catatan yang bervariasi. Dan ditangan Zaid bin Tsabit ini lah Al-Quran dalam bentuk mushaf terkumpul dan disahihkan oleh para sahabat.

    Pemuda juga harus mengambil peran pada saat diberikan kesempatan, karena pada saat itu karakter dan tekad dibina, dan bagaimana alasan-alasan untuk dikalahkan oleh kuatnya tekad dan tanggung jawab yang terbina. Ibnu Mas’ud bercerita bagaimana beliau bersama para sahabat-sahabat yang masih muda umurnya diajak untuk menguatkan tekad dalam jihad yang riil, berhadapan dengan kematian selagi menjaga niat lillahi taala, satu pengalaman besar yang kemudian mengantarkan para sahabat-sahabat muda ini menjadi pondasi Islam dimasa kemudian.

    عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نَغْزُوْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَابٌ

    Dari Ibnu Mas’ud RA berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasulullah padahal saat itu kami masih muda [HR. Ahmad]

    Dari uraian diatas dapat diambil ibrah, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita jadikan pelajaran:

    1. Idealisme adalah hal yang paling berharga dimiliki oleh pemuda,
    2. Integritas adalah satu karakter unggul yang menjadi pembeda. Integritas dapat dibina dari konsistensi terhadap idealisme yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran.
    3. Masa muda adalah masa tepat yang belajar bersama-sama berpartisipasi dalam upaya melakukan kebaikan dan kebenaran dalam kegiatan-kegiatan yang bernilai positif dan menginpirasi. Sekiranya disaat muda sudah terbina pondasi yang kuat, tentunya kita berharap dimasa yang akan datang ada lebih banyak kebaikan yang datang dan terbangun dari hal-hal tersebut, biidznillah.

    Semoga bermanfaat.

  • Covid-19 Menyadarkan Manusia untuk Ikhtiar dan Tawakkal

    JAKARTA — Wakil Sekretarsi Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH.Muhammad Faiz, Lc., MA menganalogikan munculnya pandemi layaknya seorang tamu, yang harus disambut dan perlu disikapi dengan baik.

    “Pandemi ini adalah tamu yang datang ke rumah kita. Pasti ada hajatnya, jika kita menyegerakan menjawab keperluan itu, maka tamu kita akan segera pulang,” kata dia dalam Pelatihan Kepeloporan Pemuda Bidang Teknologi Terkait Penanganan Covid-19 via daring, Kamis (24/09) Pagi.

    Kyai Faiz juga mengajak setiap umat Muslim untuk mengambil sudut pandang positif dalam menilai kehadiran wabah global Covid-19 ini. Ia menuturkan bahwa semua pemberian Allah adalah kenikmatan.

    “Pada hakikatnya semua yang diberikan oleh Allah adalah kenikmtan, termasuk pandemi ini adalah kenikmatan jika kita mau melihat dari sisi positifnya,” ujarnya.

    Pandemi memposisikan manusia dalam banyak keterhambatan dan keterlambatan laju kehidupan. Segala ruang aktifitas terpaksa harus dibatasi dan beberapa dialihkan menggunakan sistem daring. Terlebih lagi aktifitas ibadah yang sekarang hanya bisa dilakukan di rumah saja.

    Namun di tengah keterhambatan tersebut, ada sisi positif yang harus digunakan sebagai lensa bagi masyarakat dalam memandang pandemi ini. Menurut Kyai Faiz pandemi ini sedang mengajarkan kita untuk lebih memaknai ikhtiar dan tawakkal sebagai tugas penghambaan manusia kepada Tuhan.

    “Dia (covid-19) dikirim oleh Allah untuk meyadarkan manusia agar mau mengikuti 2 aturan Allah yaitu tawakkal dan ikhtiar,” pungkasnya

    Tawakkal dilakukan dengan pendekatan zahir, lebih memasrahkan seluruh diri dan jiwa kita kepada Allah. Namun dengan tetap melakukan upaya-upaya ikhtiar menjalankan protokol kesehatan sebagaimana yang dianjurkan pemerintah. “Ini adalah keseimbangan yang harus dijaga,” imbuhnya.
    (Nurul/Din)

  • Prof Amany Lubis: Tanamkan Cinta Lingkungan ke Anak Sejak Dini

    JAKARTA— Ketua Majelis Ulama Indonesia(MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Prof Amany Lubis, menyatakan pengajaran rasa cinta lingkungan harus ditanamkan sejak anak dalam kandungan.

    “Ibu harus meniatkan. Kita memberikan contoh pada anak kita sejak dari kandungan, dan ini kita niatkan untuk melestarikan lingkungan. Mencontohkan dengan perilaku, dan belajar berdialog dengan bayi,” kata Amany Lubis dalam tayangan Youtube Channel Eco Masjid, Kamis (09/07) malam.

    Dia menegaskan, peran perempuan terhadap lingkungan sangat besar, tidak dibedakan dengan laki-laki. Namun menurutnya, perempuan lebih memiliki andil untuk menerapkan pola perilaku menjaga lingkungan hidup dimulai dari rumah dan pendidikan untuk keluarga.

    “Peran perempuan menjadi lebih penting karena kan ada limbah domestik di dalam rumah, dimulai dari situ, maka kita sebagai ibu harus pandai dan paham betul mengelola sampah,” tambahnya.

    Melalui pendidikan lingkungan hidup di dalam rumah, kata Prof Amany, nantinya akan tercipta anak-anak yang tumbuh dewasa dan ikut serta mencontoh perilaku melestarikan lingkungan hidup dengan caranya sendiri sesuai pada zamannya.

    Amany juga menjelaskan untuk menghasilkan hal yang besar maka harus dimulai dari diri sendiri. Dia berharap setiap individu menjadikan alam ini sebagai ajang untuk bersyukur dan meningkatkan ketakwaan. Dengan begitu, maka tingkat kerusakan yang akan ditimbulkan akan semakin berkurang.

    Untuk memulai langkah kecil, ujarnya, perempuan memiliki peran dimulai dari rumah. Dengan mulai menciptakan pekarangan yang sejuk dan hijau untuk bisa menjadi paru-paru keluarga di dalam rumah.

    “Perempuan punya peran penting disini, dimana bisa dimulai dari mencintai pekarangan rumah sendiri. Kita hijaukan, kita rawat, dan jadikan pekarangan rumah sebagai tempat yang sejuk, hijau, dan indah,” tuturnya. (Nurul/Nashih)

  • 10 Nama Pemuda Inspiratif Warnai Anugerah Syiar Ramadhan 2020

    JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Komisi Penyiaraan Indonesia (KPI), dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, menyelenggarakan Anugerah Syiar Ramadhan (ASR). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ASR tahun 2020 digelar secara virtual melalui Zoom.

    Pemandangan yang berbeda nampak pada ASR tahun ini dimana di tahun 2020 ini jumlah nominasi untuk kategori pemuda inspiratif lebih banyak. Menurut Asrori S Karni selaku Ketua Komisi Infokom MUI, hal ini dilakukan sebagai bentuk dorongan agar talenta muda bangsa semakin bersemangat berkarya dalam bidang pertelevisian.

    “Infokom memandang penting bekerja sama dengan kemenpora khususnya deputi pengembangan pemuda karena kita inign memberi motivasi dan dukungan moral terhadap talenta muda,” kata Asrori saat dihubungi oleh tim mui.or.id setelah ASR berlangsung, Sabtu (11/07).

    Penghargaan pemuda inspiratif ini sekaligus ajang pemberian stimulus agar menimbulkan dampak motivasi kepada kalangan muda lainnya.

    Berikut kategori pemuda pemenang ASR 2020 :

    1. Kategori Aktor Muda Inspiratif : Syakir Daulay
    2. Kategori Aktris Muda Inspiratif : Betari Ayu Almadania
    3. Kategori Group Musik Inspiratif : The Amazing Putri Bani Harum (TAPBH)
    4. Kategori Penyanyi Pria Inspiratif : Fildan Rahayu
    5. Kategori Penyanyi Wanita Inspiratif : Nada Shikkah
    6. Kategori Da’i Muda Inspiratif : Muhammad Azhari
    7. Kategori Da’iyah Muda Inspiratif : Mumpuni Handayayekti
    8. Kategori Qori’ Muda Inspiratif : Muzamil Hasballah
    9. Kategori Qori’ah Muda Inspiratif : Nadia Hawasyi
    10. Kategori Host Muda Inspiratif : Lesti Kejora

    Menghadapi bonus demografi Indonesia dengan presentase usia muda produktif yang tinggi, Asrori juga mengungkapkan harapannya agar ke depan pemuda inspiratif yang terpilih mampu menjadi contoh dalam mewarnai konten televisi menjadi lebih sehat dan edukatif. “Jadi itu arahnya karena usia muda ini penting apalagi di era bonus demografi nanti, ini juga supaya mereka terus berinovasi dan mengembangkan kapasitas mereka,” ungkapnya. (Nurul/Din)

  • MUI Ajak Pemuda Perkuat Ukhuwah Sambut Pilpres 2019

    MUI Ajak Pemuda Perkuat Ukhuwah Sambut Pilpres 2019

    JAKARTA- Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak pemuda Islam tetap menjaga ukhuwah dengan penguatan aqidah saat acara Sarasehan Forum Silaturahim Ormas Pemuda Islam Rabu (12/12) di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat.

    Pendakwah KH Nurhasan Zaidi, memaparkan Indonesia akan mengalami bonus demografi dalam beberapa tahun ke depan. Komposisi antara generasi muda dan tua sekitar 70 persen banding 30 persen .

    Menurut Nurhasan, keadaan ini mirip seperti kondisi setelah kemerdekaan Republik Indonesia di mana saat itu kepemimpinan Bangsa Indonesia sebagian besar ditangan para pemuda. “Usia Bung Karno saat menjadi presiden Indonesia pertama adalah sekitar 44 tahun,“ katanya.

    Untuk menghadapi bonus demografi ini, kata dia, ormas pemuda Islam hendaknya menyiapkan para pemuda dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan menanamkan akidah yang kuat dan ukhuwah yang erat.

    Terkait perbedaan dalam pesta demokrasi, kata Nurhasan, itu adalah hak masing-masing, jangan sampai perbedaan itu membuat ukhuwah pemuda Islam merenggang.

    “Rasa tasamuh atau toleransi itu terkait wawasan, semakin luas wawasan seseorang maka akan semakin memaklumi dengan kemajemukan, “ kata dia.(Ichwan/Nashih)

    The post MUI Ajak Pemuda Perkuat Ukhuwah Sambut Pilpres 2019 appeared first on Majelis Ulama Indonesia.

  • Wahai Pemuda, dimana kita?

    Wahai Pemuda, dimana kita?

    Wahai pemuda, jika semangat dakwahmu melemah, lihatlah mereka para assabiqunal awwalun yang ditempa Rasulullah SAW di rumah Arqam bin abi Arqam. Tak kurang 25 dari 40 orang assabiqunal awwalun itu berusia di bawah 30 tahun. Mereka adalah pemuda! Sepertimu! Dan sejarah kemenangan selalu diukir oleh para pemuda.

    Wahai pemuda, semestinya kita malu jika usia kita masih muda, status kita pemuda, tetapi kita tidak memiliki semangat juang dalam menegakkan kebenaran dan mendakwahkan Islam. Apa artinya menjadi pemuda jika energi dan vitalitas untuk bergerak tidak dimiliki? Apa artinya menjadi pemuda jika sikap diam menghalangi diri berkebajikan?

    “Pemuda yang tidak memiliki semangat dakwah,” kata Imam Syafi’i, “takbirkanlah ia empat kali, karena sesungguhnya ia telah mati.”

    Lihatlah mereka, para assabiqunal awwalun yang ditarbiyah Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Tidakkah kita iri dengan mereka yang usianya masih belia tetapi menjadi tonggak dakwah Islam dengan segala konsekuensi dan resikonya. Lepas dari mereka disebut sebagai kutlah oleh harakah tertentu dan disebut sebagai kataib oleh harakah lainnya, tak kurang 25 dari 40 sahabat itu berusia kurang dari 30 tahun. Mari simak nama-nama assabiqunal awwalun ini, lihatlah usianya dan seraplah semangat juang mereka:

    1. Ali bin Abu Thalib berusia 8 tahun
    2. Zubair bin Awwam berusia 8 tahun
    3. Thalhah bin Ubaidillah berusia 11 tahun
    4. Arqam bin Abi Arqam berusia 12 tahun
    5. Abdullah bin Mas’ud berusia 14 tahun
    6. Sa’ad bin Abi Waqash berusia 17 tahun
    7. Mas’ud bin Rabi’ah berusia 17 tahun
    8. Abdullah bin Mazhun berusia 17 tahun
    9. Ja’far bin Abu Thalib berusia 18 tahun
    10. Qudamah bin Mazhun berusia berusia 19 tahun
    11. Sa’id bin Zaid berusia < 20 tahun
    12. Shuhaib ar-Rumi berusia < 20 tahun
    13. Zaid bin Haristah berusia sekitar 20 tahun
    14. Utsman bin Affan berusia sekitar 20 tahun
    15. Thulaib bin Umair berusia sekitar 20 tahun
    16. Khabab bin Al-Art berusia sekitar 20 tahun
    17. Saib bin Mazhun berusia sekitar 20 tahun
    18. Amir bin Fuhairah berusia berusia 23 tahun
    19. Mush’ab bin Umair berusia 24 tahun
    20. Miqdad bin Al-Aswad berusia berusia 24 tahun
    21. Abdullah bin Jahsy berusia 25 tahun
    22. Umar bin Khatab berusia 26 tahun
    23. Abu Ubaidah bin Jarah berusia 27 tahun
    24. Utbah bin Ghazwan berusia 27 tahun
    25. Abu Hudzaifah bin Utbah berusia sekitar 30 tahun
    26. Bilal bin Rabah berusia sekitar 30 tahun
    27. ‘Ayash bin Rabi’ah berusia sekitar 30 tahun
    28. ‘Amir bin Rabi’ah berusia sekitar 30 tahun
    29. Na’im bin Abdullah berusia sekitar 30 tahun
    30. Utsman bin Mazhun berusia sekitar 30 tahun
    31. Abu Salmah Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumi berusia sekitar 30 tahun
    32. Abdurrahman bin Auf berusia sekitar 30 tahun
    33. Ammar bin Yasar berusia sekitar 30-40 tahun
    34. Abu Bakar Ash Shidiq berusia 37 tahun
    35. Hamzah bin Abdul Muthalib berusia 42 tahun
    36. Ubaidah bin Al-Harits berusia 50 tahun

    Selain 36 nama di atas, ada beberapa shahabiyah assabiqunal awwalun seperti Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Khatab, Ummu Aiman, Ruqayyah, dan Sumayyah. Nama yang disebut terakhir ini menjadi syahidah pertama fi sabilillah bersama suaminya yang juga syahid: Yasir. Sehingga keduanya tidak dimasukkan ke dalam nama-nama sahabat yang dibina Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam.

    Menjadi pemuda, artinya adalah menjadi manusia yang bersemangat. Menjadi pemuda, artinya adalah menjadi orang-orang yang mampu bergerak cepat. Menjadi pemuda, artinya menjadi pribadi tangguh yang siap menyelamatkan umat. Para pemuda pendahulu kita telah memberikan contoh dan menjadi teladan, jika engkau tak juga menemukan siapa mereka, lihatlah mereka assabiqunal awwalun; generasi pertama dari kalangan sahabat. [Muchlisin]

    Sumber : http://www.bersamadakwah.com/