Pidato Pertama KH. Miftachul Akhyar sebagai Ketua Umum MUI 2020 – 2025

Saat Penutupan Munas X MUI 2020

JAKARTA, 27 NOVEMBER 2020

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لِلّهِ وَنَشْكُرُهُ عَلَى مَا اَلْهَمَنَا وَنَسْأَلُ التَّوْفِيْقَ لِلْعَمَلِ بِماَ عَلَّمَنَا. فَإِنَّ الْخَيْرَ لَايُدْرَكُ إِلَّا بِتَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلَا هَادِيَ لَهُمْ. أشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا يَوْمَ الزِّحَامِ

وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا وَصَفِيَّنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا سَيِّدَنَا محمد ﷺ الشَّافِعِ الْمُشَفَّعِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ وَسَرِّ الْأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَمِفْتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدِ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ الْأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهَ الْأَخْيَارَ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ.أَمَّا بَعْدُ…

حَضْرَةَ الْكُرَمَاءِ وَالْأَعِزَّاءِ وَالْعُلَمَاء وَالْمَشَايِخِ الْأَبَاجِل وَالتَّمَاثِيْل وَنَخُصُّ ذِكْرًا حَضْرَةِ الْمُكَرَّم

Prof KH Ma’ruf Amin Wakil Presiden RI sekaligus sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, masa khidmat 2020-2025.

Wakil Menteri Agama yang mulia Bapak Drs Zainut Tauhid Sa’adi.

Para pimpinan pengurus MUI, baik dari Dewan Pertimbangan dan seluruh pimpinan pengurus harian MUI yang baru nama-nama beliau disebutkan sebagai pemegang amanah. Amanah dirosah nabawiyyah, amanah yang sangat agung, amanah yang sedang ditunggu-tunggu umat, bangsa bahkan dunia. Rohimakulullahu jami’an.

Dari perwakilan perguruan tinggi, yang saya muliakan perwakilan pondok pesantren, dan semua yang terlibat di dalam Munas yang ke-10 MUI pada 2020, yang hari-hari ini adalah hari terakhir sebagai penutupan pamungkas, atas semua jerih payah berhari-berhari meninggalkan kampung halaman, terutama dari para pimpinan MUI Provinsi dan semua utusan, undangan kehormatan Munas MUI tahun 2020 ini.

Sebagaimana kita maklumi, saya Al-faqir Miftachul Akhyar mendapat kepercayaan, amanah yang besar. Amanah yang berat ini, bukan berarti saya ini lebih baik daripada yang lain. Justru saya ini yang lebih terbebani daripada yang lain. Karena saat ini, bukan hanya anak bangsa, melainkan dunia sedang menanti kiprah dan apa yang akan kita suguhkan kepada mereka, dalam menghadapi era teknologi yang sudah disebut dengan zaman VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity), yang penuh ketidakjelasan ini, zaman idhthiroob (keguncangan) atau dalam hadist disebut sebagai yaumul haroj. Di situ Rasulullah SAW pernah menyatakan:

لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لاَ يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَا قَتَلَ وَلاَ الْمَقْتُولُ فِيمَا قُتِلَ ‏”‏‏ قَالَوْا “وَمَا ذَاكَ يأ رَسُول الله؟” قَالَ ‏”‏الْهَرَجُ” قَالُوا “وَماَ الْهَرَجُ؟” قَالَ “اَلْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ” -وَفيْ رِوَأيَةٍ الْإِخْتِلَافُ-

Hari itu sudah diramalkan dengan ramalan suci Rasulullah SAW bahwa kiamat belum akan diselenggarakan sebagai penutup kehidupan di dunia ini, sehingga akan datang suatu masa dimana seseorang sudah tidak tahu apa motivasi dalam kehidupannya, apa penggeraknya, apa penyebabnya.

Dia hanya ikut dan terpengaruh dengan situasi dan kondisi, sehingga disebutkan لاَ يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَا قَتَلَ laa yadri al qaatilu fii maa qatala seorang membunuh tapi dia tidak tahu apa motivasi dia membunuhوَلاَ الْمَقْتُولُ فِيمَا قُتِلَ wa laa al maqtul fii maa qutila yang terbunuh pun tidak tahu apa penyebabnya dia sampai dibunuh menjadi korban. Sehingga sahabat bertanya, apa, mengapa kejadian itu bisa terjadi ya Rasulullah, apa penyebabnya?

Rasulullah menjawab, الْهَرَجُ al Haraj. Suatu ketidakpastian, suatu idhthirab, zaman yang gonjang ganjing, zaman menipisnya perbedaan antara yang haq dan yang batil sehingga terjadi pergolakan yang dia tidak tahu motivasinya. Hanya yang ada mengatakan saling menyatakan kebenaran, seorang pembunuh tidak tahu apa motivasi membunuhnya dan yang terbunuh pun kebingungan kenapa saya menjadi korban. Lalu dilanjut di hadist ini, Rasulullah SAW mengatakan,

اَلْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي اَلنَّارِ

“Kedua-duanya masuk neraka.”

Mengapa sampai demikian? Karena saat itu tidak ada upaya untuk mencari kebenaran yang hakiki, untuk mencari sebuah penjelasan karena yang menjelaskan sudah hampir punah, hampir tidak ada.

Di masa-masa kita kehilangan seorag pemimpin, bahkan pemimpinnya pun banyak yang ikutan dalam situasi-situasi semacam itu. Berita-berita hoaks sudah menjadi acuan mereka. Bahkan sahabat Abdullah bin Abbas RA menyatakan

كَيْفَ أَنْتُمْ إذَا لَبِسْتُمْ الفِتْنَةُ ؟

“Bagaimana keadaan kalian manakala fitnah ini sudah seperti pakaian yang kau kenakan, melekat dimana-mana.”

Seorang tua hidup sampai mencapai masa tuanya dalam fitnah itu. Anak kecil tumbuh, tumbuh dalam fitnah. Sehingga fitnah dianggap sunnah. Apabila ada seorang alim yang mengupayakan untuk memberikan sebuah pencerahan tentang fitnah, tinggalkan fitnah itu, malah dituduh dia telah melakukan sebuah bidah.

Saat-saat ini tanda-tanda semacam ini sudah ada di tengah-tengah kita. Betapa beratnya tugas para alim ulama yang disebutkan “الْعُلَمَاءُ وَرَثَة الْأَنْبِيَاءِ”

Ulama adalah pewarisnya para nabi, فَأَكْرِمْهُمْ فَأَكْرِمْ بِهِمْ وَوَارِثًا وَ مَوْرُوْثًا Sungguh mulia luar biasa antara pewaris dan yang mewarisi.

Nilai-nilai keulamaan inilah yang seharusnya saat ini kita angkat kembali. Bagaimana jati diri ulama yang mendapatkan sebuah amanah untuk mengerek bendera Islam yang secara benar. Dan nantinya kita-kita ini diharapkan menjadi saksi-saksi alam dan itulah yang disebut dengan ummatan wasatha. Sebagaimana tema yang ada di dalam Munas MUI 2020 kali ini.

Para masayikh para ulama sekalian rahimakumullah jami’an

Tugas-tugas para ulama sebagaimana umumnya kita ketahui adalah berdakwah. Tidak ada suatu maqam yang lebih tinggi daripada dakwah. Dakwah itu mengajak bukan mengejek sebagaimana yang kita ketahui, merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, mencari solusi bukan mencari simpati, membela bukan mencela.

Tugas-tugas ini saya harapkan dalam periode pengkhidmatan kita, ini akan mewarnai dalam kehidupan kita. Umat sedang menunggu apa langkah kita.

Oleh karena itu Imam Syafii RApernah memberikan sebuah kriteria tentang ulama. Kalau tidak keliru bunyinya demikian:

الْعَالِمُ وَالْعَاكِفُ فِيْ دِيْنِهِ وَالْعَارِفُ بِحَالِ أُمَّتِهِ

Seorang alim adalah aaqif fii diinihi, semua urusannya,  perilakunya, sepak terjangnya selalu berkesinambungan dengan agamanya. Semua ada dasar hukumnya. Semua bukan karena ikut-ikutan. Semua bukan karena situasi dan kondisi. Tapi semua itu ada bayyinah.

لَا أَهْلِكُ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ

Orang yang gagal pun ada bayyinahnya, orang yang sukses pun ada bayyinahnya. Ini harapan Islam pada kita-kita, terutama para penanggung jawab keulamaan untuk memberikan sebuah pencerahan-pencerahan pada umat. Atau disebutkan dalam maqaalah (ungkapan) yang lain

الْعُلَمَاءُ الّذِيْنَ يَنْظُرُوْنَ الْاُمَّةَ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ

“Ulama adalah mereka yang melihat umat dengan mata kasih sayang.”

Manakala terjadi sesuatu mari klarifikasi apa penyebabnya. Bukan lalu kita memvonis tanpa ada tabayyun, tanpa ada klarifikasi. Islam yang kita pahami selama ini mungkin masih seperlima atau seperempat. Tidak ada di dunia ini seorang yang telah mengakui sempurna dengan pemahaman tentang Islamnya.

Kalau kita tengok bagaimana Alquran telah menggambarkan tentang Islam ini. Dalam firman Allah SWT surat Luqman ayat 27 disebutkan:  

وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَٰامٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍۢ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Andaikan di dalam bumi ini pohon-pohon yang ada di permukaan bumi menjadi pena-pena dan lautan, semua lautan yang ada menjadi tinta sampai tujuh lautan bahkan ditambah lautan selanjutnya, kalimat Allah belum punah, belum habis, tinta-tinta mengering. Pohon yang tumbuh di seluruh jagat raya ini habis digunakan sebagai pena, tapi kalimatullah tidak pernah habis.

Tidak ada sebuah orang sukses pun dari alim ulama yang mengakui telah berhasil memahami Islam secara utuh. Oleh karena itu, kita ketahui Islam datang di akhir, atau sebagai penutup agama-agama yang lain tentu akan lebih sempurna dari akidah, moralitas, syar’iyahnya, tentu akan tampak cantik kalau Islam ini kita artikan, kita manifestasikan, kita jabarkan kepada umat sebagaimana Islam yang rahmatan lil alamin.

Kita harus bedakan kalimat rahmat dan kalimat mawaddah dan kalimat-kalimat yang punya arti hampir sama, tapi untuk umat, untuk alam, kalimatnya adalah rahmatan lil ‘alamin.

Saya tidak akan menjabarkan secara panjang lebar. Dalam sambutan perkenalan ini mungkin kalau makin panjang makin ketahuan kesalahan-kesalahan dan kekurang-kurangannya.

Oleh karena itu, kami memohon kepada semuanya, para pengurus, para pimpinan MUI, bersama-sama memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan cantik, dengan tertangkap ikannya tanpa membuat airnya menjadi keruh.

Jangan melakukan sesuatu dengan dasar kita melakukan kebaikan atau amar makruf nahi mungkar tapi meninggalkan mungkar-mungkar yang lain bahkan mungkar yang lebih besar lagi. Justru pelaku yang demikian menjadi mungkar itu sendiri. Kita maunya menghilangkan mungkar, tapi mendatangkan mungkar yang lain.

Itulah mungkin yang bisa kami sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf. 

Manakala dalam masa khidmat ini kapanpun walaupun kurang satu detik terdapat sebuah kekeliuran langkah, kesalahan dalam kami melaksanaan amanah pengkhidmatan ini, kami memohon dengan setulusnya untuk diingatkan, untuk diluruskan.

Nawaitu kita sebuah kebersamaan. Alangkah indahnya kalau kita yang dari berbagai organisasi ormas keislaman ini untuk menyatukan visi dan misi demi untuk menunjukkan Islam itu indah.

Demikian kurang lebihnya yang bisa kami sampaikan.

إهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْم

وَفَّقَنَا اللّهُ وَإِيَّاكُمْ إلَى التَّوْفِيْقِ وَالرَّشَادِ

وَاللّهُ الْمُوَفِّق إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقَ

Ihdinash shirootol mustaqiim

Wafaqqinallah wa iyyakum i laa taufiiq war rosyaad

Wallahu muwaffiq ilaa aqwamit thoriiq Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh  



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development