All posts by Admin

Komisi Ukhuwah MUI Agendakan Rekam Dakwah Digital Jelaskan Perkara Ukhuwah

komisi-ukhuwah-mui-agendakan-rekam-dakwah-digital-jelaskan-perkara-ukhuwah

FOKUS, muisulsel.com — Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel merencanakan memanfaatkan perkemvagan teknologi digital untuk mengoptimalkan dakwah digital, mulai Januari ini.

Hal ini terungkap saat rapat di sekertariat MUI Sulsel Jln Masjid Raya Makassar, Selasa (18/1/2022).

Teknologi digital saat ini sangat besar perannya dalam kehidupan manusia. Salah satu keunggulan media digital adalah mampu menyimpan rekaman atau jejak ilmu yang dapat diwarisi oleh generasi sesudahnya.

Setiap kegiatan yang direkam akan abadi lama dinikmati dan tentunya mengalir kebaikan sebagai amal jariyah.

Sekertaris Umum MUI Sulsel DR Muammar Bakry mengungkapkan “Apapun besarnya kegiatan kalau tidak direkam maka nilainya tidak ada karena rekam jejaknya akan hilang”.

Muammar juga berharap rekaman video dapat menyentuh atau memberi wawasan kepada masyarakat secara luas hingga ke pelosok daerah.

Ketua bidang Ukhuwah Islamiyah Prof Dr H Natsir Siola MA menyambut baik rencana perekaman dakwah digital ini. Menurutnya rekaman digital sangat diperlukan untuk mensosialisasikan ukhuwah Islamiyah.

Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyyah MUI Sulsel Prof H Kadir Ahmad MSi PhD juga berharap perekaman dakwah dapat menyentuh masyarakat lebih luas sehingga jejak digitalnya akan tetap tersimpan sebagai arsip.

Komisi ukhuwah juga berencana menyiapkan materi seputar Ukhuwah Wathaniyah, Islamiyyah dan Insaniyah.

Tak hanya rekaman video, Komisi Ukhuwah MUI juga akan menjadikan rekaman sebagai bacaan materi khutbah atau ceramah di masyarakat terutama umat Islam yang mencari rujukan materi dakwah.

Rekaman video yang dituliskan nanti akan dibukukan dan dibagikan kepada jamaah atau para mubaligh sebagai bahan rujukan.■ Irfan

The post Komisi Ukhuwah MUI Agendakan Rekam Dakwah Digital Jelaskan Perkara Ukhuwah appeared first on MUI SULSEL.



UMKM Halal Hub, Upaya MUI Bangkitkan UMKM Berbasis Wakaf

JAKARTA—UMKM Halal Hub yang dijalankan Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkomitmen mengembangkan industri halal dan membangkitkan UMKM Indonesia. Dengan demikian Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan juga masuk pasar ekspor.

Sekretaris Lembaga Wakaf MUI, Guntur Subagja Mahardika mengatakan layanan dari UMKM Halal Hub adalah melakukan kurasi produk-produk halal usaha mikro dan kecil yang akan didampingi dan dibantu pengemasan yang baik dan menjual sampai ke pemasaran lokal, nasional, bahkan ekspor.

Dia menjelaskan, Program UMKM Halal Hub sebagai tindak lanjut dari Gerakan Nasional Wakaf Uang yang diresmikan Presiden Joko Widodo dan Wapres KH Maruf Amin.

Guntur menambahkan dalah program kolaborasi LW MUI dengan Bank Indonesia yang didukung KNEKS, Asosiasi Platform Digital Ekapor (PD Expor), dan Goorita sebagai manajemen profesional yang berpengalaman menjadi agregator produk UMKM hingga pasar ekspor.

UMKM Halal Hub LW MUI, kata dia, dibangun di Kawasan Industri Halal Safe and Lock atau dikenal dengan nama Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS) Jawa Timur. Lembaga Wakaf MUI membeli gedung tersebut menggunakan dana wakaf uang dan wakaf produktif dengan pembayaran bertahap kepada developer. Sementara itu, mesin peralatan packaging untuk tahap pertama mendapat bantuan PSBI (Program Sosial Bank Indonesia/CSR).

“Nilai Rumah Kemasan UMKM Halal LWMUI sekitar 5,5 miliar. Terdiri dari Gedung sekitar Rp 1,5 miliar dan mesin/peralatan berstandar produk ekapor senilai Rp 3,7 miliar,” katanya kepada MUIDigital, Rabu (19/1/2022).
Dia juga mengajak para wakif dan donatur berpartisipasi untuk membantu usaha-usaha mikro dan kecil naik kelas melalui program wakaf produktif LWMUI. (Ilham Balindra/ Nashih)



Bentuk Otonom Kepemudaan, Al Washliyah Sulsel Perkuat Digitalisasi

bentuk-otonom-kepemudaan,-al-washliyah-sulsel-perkuat-digitalisasi

FOKUS, muisulsel.com — Pengurus Al Washliyah Sulawesi Selatan membentuk badan otonom kepemudaan di Warkop Shiniki Jln Matahari Kabupaten Pangkep, Ahad (16/1/2022).

Pembentukan badan kepemudaan ini dihadiri oleh puluhan pemuda dari kabupaten kota yang ada di Sulsel.

Untuk menjawab tantangan jaman terutama teknologi digital organisasi harus berbenah dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai alat komunikasi dan informasi untuk mempublikasikan kegiatan.

Al Washliyah sebagai organisasi besar harus memanfaatkan teknologi digital sebagai bahan sosialisasi terutama pengenalan organisasi kepada masyarakat terutama kaum milenial.

Menurut pengurus harian Al Washliyah Sulsel Sibgatullah Halik ST MM pembentukan Badan Otonom Kepemudaan ini juga berdasarkan pembacaan di lapangan.

Halik melanjutkan saat ini banyak pemuda mencari ruang untuk diskusi dan melakukan kegiatan sosial sehingga pembentukan otonom ini diharapkan dapat memberi ruang ekspresi bagi pemuda terutama perannya dalam mengisi dakwah di ruang digital.

“Harapan saya selaku pengurus Al Washliyah agar badan kepemudaan yang dibentuk ini semakin eksis dalam kegiatannya dan bisa membesarkan Al Washliyah di Sulsel” imbuhnya.

Sementara itu Sekertaris Umum Al Washliyah Sulsel Dr Abd Majid S Pd M Pd juga berharap Badan Otonom Kepemudaan ini dapat membesarkan Al Washliyah di Sulsel dan konsisten untuk memperkuat otonom baru ini.

Berikut Badan Otonom Kepemudaan Al Washliyah Sulsel yang terbentuk diantaranya: Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA), Angkatan Putri Al Washliyah (APA), Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) dan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH), dan Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH).■ Irfan

The post Bentuk Otonom Kepemudaan, Al Washliyah Sulsel Perkuat Digitalisasi appeared first on MUI SULSEL.



Milad Masjid Al Markaz, Prof Basri Janji Tingkatkan Program Pendidikan

milad-masjid-al-markaz,-prof-basri-janji-tingkatkan-program-pendidikan

PortalAMANAH.com — Peringatan Milad ke-26 Masjid Al Markaz Islami Makassar berlangsung khidmat dengan dzikir dan doa yang dipimpin oleh Imam Besar Masjid Al Markaz DR KH Muammar Bakri Lc MA, Rabu (12/1/2022).

Sebelumnya rangkaian peringatan milad ini diisi dengan berziarah ke makam almarhum Jendral M Jusuf di Taman Makam Pahlawan Jln Urip Sumoharjo Makassar.

Masjid Al Markaz Al Islami didirikan atas inisiatif Jendral M Jusuf pada 12 Januari 1996. Saat ini Masjid Al Markaz terus berbenah dengan mendirikan lembaga sosial, pendidikan, layanan zakat dan lainnya.

Ketua Yayasan Masjid Al Markaz Prof DR H Basri Hasanuddin MA berharap dengan milad yang ke-26 ini semoga Al Markaz bertambah makmur dan terus berbenah terutama bidang pendidikan.

Salah satu citia-cita pendiri masjid Jendral M Jusuf adalah ingin menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Islami hingga bertaraf internasional.

Basri yang juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan MUI Sulsel menambahkan saat ini Yayasan Masjid Al Markaz terus berbenah dengan mendirikan Hafiz Al-Quran yang sudah dihuni oleh ratusan santri.”

“Ke depanya juga kita akan tingkatkan pendidikan mulai dari TK sampai ke jenjang SMA,” imbuhnya.

Sekertaris Pendidikan Islam Yayasan Masjid Al Markaz, Dr Saparuddin MAg berharap pandemi ini segera berlalu sehingga kegiatan pendidikan TK, TPQ dan kajian kepemudaan lainya berjalan dengan normal lagi.

“Kita ingin Masjid Al Markas kembali semarak dengan kegiatan pendidikan Islami dan kegiatan lainya seperti sebelumnya. Semoga saat memasuki Ramadhan kegiatan berjalan normal lagi,” harapnya.

Menyemarakkan milad tersebuy juga dilakukan juga pembagian hadiah berupa pakaian sholat dan juga hadiah umroh untuk jamaah Masjid Al Markaz.■ Irfan

The post Milad Masjid Al Markaz, Prof Basri Janji Tingkatkan Program Pendidikan appeared first on MUI SULSEL.



Ini Kata Prof AGH Faried Wadjedy Tentang Spirit Doll

ini-kata-prof-agh-faried-wadjedy-tentang-spirit-doll

FOKUS, muisulsel.com — Spirit Doll atau boneka anak yang lagi viral dimiliki sejumlah selebriti akhir-akhir ini dipercaya membawa keberuntungan oleh sebagian artis di Indonesia.

Hal ini diketahui dari beberapa artis Indonesia yang memamerkan spirit doll yang dikenal sebagai ‘Boneka Arwah’. Netizen kian penasaran tentang spirit doll.

Spirit doll adalah boneka yang menyerupai bayi dan diperlakukan layaknya anak dengan diberi makan, berpakaian dan dirawat setiap hari.

Beberapa artis seperti Ivan Gunawan, Celine Evangelista dan banyak lainnya mengaku memiliki spirit doll bahkan mereka memamerkannya di jagat maya.

Menanggapi persolan ini Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sulsel Prof DR AGH Faried Wadjedy MA menjelaskan jika boneka yang digunakan sebagai alat penghibur atau alat peraga dan pendidikan maka itu boleh-boleh saja.

Namun jika diyakini bahwa boneka tersebut sebagai anak, memiliki roh dan mendatangkan keberuntungan maka itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam karena menyaingi ciptaan Allah dan mengandung unsur kesyirikan.

“Jadi semua kembali kepada tujuan dan niat memiliki boneka tersebut, jika diniatkan untuk hiburan semata itu tidak menjadi persoalan,” jelasnya.

Wadjedy yang juga Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso ini menambahkan dengan cerita sejarah nabi “Suatu ketika istri Nabi Aisy RA sedang bermain boneka kuda bersayap dengan temannya, ketika Nabi datang maka berhamburan semua temanya karena ketakutan. Melihat peristiwa itu Nabi menghampiri Aisya RA dan membiarkan mereka bermain boneka tersebut.”

Dari peristiwa itu menunjukan bahwa hiburan boneka itu diperbolehkan selama tidak ada unsur penyembahan atau dianggap membawa keberuntungan lainya.

Ikuti ulasan lengkapnya di channel YouTube MUI Chanel.■ Irfan

The post Ini Kata Prof AGH Faried Wadjedy Tentang Spirit Doll appeared first on MUI SULSEL.



Cacat Logika Feminisme dan Penghormatan Islam Terhadap Perempuan

Feminisme kian menjadi isu fundamental yang terus digaung-gaungkan. Gerakan yang menuntut kesetaraan gender menjadi wacana sosial yang tidak habis-habisnya digalakkan. Konsep kesetaraan bukan lagi keniscayaan, hadir dalam jiwa feminis mewujud misi perubahan terhadap realitas sosial. Melalui feminisme, mereka mencoba mengorkestra ulang kerangka sosial dan abstraksi mental masyarakat dalam mematok konsep kesetaraan.

Istilah Feminisme dalam Islam merupakan “gerakan baru” dengan kecenderungan bias gender yang berlebihan. Abstraksi mental yang skeptisis dalam memandang entitas feminis dalam ruang sosial, menurut penulis, akan mengungkung seseorang dalam nihilisme berpikir. Sehingga potensi lupa pada orientasi hidup kemanusiaan sangat terbuka karena disibukkan dengan persepsi sementara.
Islam mengenal feminisme sebagai fantasi dalam ruang hampa: memperjuangkan hal yang eksistensinya memang suatu keniscayaan, an sich (Taufiq Apandi, 2015). Gerakan ini muncul sekitar 1984 di Eropa Barat yang merupakan distorsi tafsir teologis dan interpretasi tekstual keagamaan secara membabi buta. Sejauh ini, Paham ini cukup berhasil mendobrak paham keagamaan orang Islam.

Ada banyak sekali tuduhan berikut sanggahan dari paham tersebut. Penyebaran gerakan Feminisme yang brutal telah memaksa para wanita untuk berontak terhadap sebuah sistem kultural maupun struktural yang dianggap mendiskreditkan eksistensi mereka.

Salah satu pijakannya didasarkan pada adanya keyakinan Nabi Adam AS yang mempertanyakan organ vital yang terdapat dalam dirinya kepada Tuhan. Hal itu berimplikasi terhadap pencipataan Siti Hawa dari tulang rusuk Adam sendiri.

Penciptaan Hawa dari tulung rusuk Adam inilah yang diklaim cenderung menempatkan perempuan secara derivatif atau sekunder: dinomorduakan. Keberadaan perempuan tidak lebih hanya manifestasi pelengkap bagi jiwa lelaki. Oleh karena pelengkap, entitasnya bersifat instrumental dengan orientasi pragmatis. Perempuan bernilai dan berfungsi jika memiliki orientasi pragmatis di depan laki-laki.

Di lain sisi juga, gerakan feminis menyoal otoritas perempuan sebagai mujahid tafsir terhadap teks-teks kitab sebagai sumber ajaran Islam. Feminisme menganggap agama Islam tidak memberikan ruang yang sama kepada perempuan menjadi mufasir dalam menginterpretasikan teks-teks kitab keagamaan.

Menurut mereka, kealpaan perempuan sebagai mufasir berimpliksi pada dominasi instuisi dan kerangka berpikir maskulin terhadap objek turunan eksposisi yang memungkinkan adanya unsur marginalisasi perempuan di dalamnya.

Ketika gerakan feminisme masuk ke dalam Islam, gerakan ini mempunyai dampak yang cukup signifikan dan cenderung destruktif. Melalui doktrin teologis feminis, mereka mencoba mengotak-atik ulang kemantapan syariah dalam Islam. Hal ini didorong salah kaprah memaknai ajaran Islam sebagai legal doktrinal pembaharuan, di antaranya:

Terdapat reinterpretasi teks yang menyimpang. Islam sangat menjunjung kesetaraan. Hal itu sebagaimana termaktub dalam Alquran surah Al-Hujarat ayat 13. Namun pamor ayat tersebut tergantikan dengan justifikasi dari ayat yang dijadikan legitimasi gerakan feminis, seperti surat An Nisa ayat 34 atau Ali Imran ayat 36. Padahal kalau dicermati lebih dalam makna penggalan ayat itu memiliki konstruksi moral yang lebih berarti dari sekadar kata-kata yang termaktub di sana.

Menurut Muhammad Asad (2016), surah An Nisa ayat 34 misalnya lafaz qawwamuna bukan berarti menjadi alasan untuk melakukan mearginalisasi perempuan, melainkan sebuah pengayoman sebagai tanggung jawab laki-laki, atau Ali Imran ayat 36, di mana harus dipahami bahwa kelahiran Maryam lebih bermakna dibandingkan dengan kelahiran laki-laki seperti yang seorang ibu dambakan pada masa itu.

Selanjutnya, kurangnya pemahaman terhadap konsep ontologis manusia. Gerakan feminis menuntuk kesamaan (equality) di semua lini, kelas, pendidikan, pekerjaan, bahkan melampaui kondisi normal biologis permepuan. Hal ini diakibatkan mereka tidak memahami kondisi ontologis yang secara kodrati melekat dalam jiwa laki-laki dan perempuan. Allah SWT Pencipta makhluk (Khaliq), memang menciptakan laki-laki “satu tingkat” di atas perempuan baik secara fisik, mentalitas, dan intelektual.


وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS Al Baqarah ayat 228).

Misalnya, terdapat penelitian yang menujukkan IQ laki-laki lebih tinggi, namun tidak dapat dimungkiri ketekunan perempuan juga melebihi, atau takaran nafsu manusiawi dengan keseimbangan tekanan birahi. Hal itu bukan mejadi alasan untuk mendomistifikasi (inferior) perempuan, melainkan sebagai suatu kondisi untuk saling melengkapi, di satu sisi juga, tanggung jawab seorang laki-laki lebih berat dalam mengarahkan, membimbing dan mengayomi.

Dari banyak tuduhan yang diberikan, setidaknya ada dua faktor, menurut penulis, yang mendikte adanya paham tersebut terus bermunculan.
Pertama, yakni faktor internal yang muncul akibat sikap skeptisis jiwa feminis. Mereka cenderung pesimis dalam memaknai entitas dan merefleksi nilai personal dalam hidup. Kenaifan dalam memaknai diri dalam tatanan sosial mengakibatkan mereka lari dan menuduh sistem struktural keagamaan yang berafiliasi secara kultural dalam hidup keseharian memarginalisasi perempuan.

Padahal kalau ditelisik, manusia yang diterminkan dengan makhluk rasional (Aristoteles, the animal that reason) dengan otodidak ditempatkan dalam kebebasan dan otoritas yang bisa dipertanggungjawabkan. Manusia hidup dalam konstelasi percaturan dinamika paham dan perbedaan. Kondisi instrinsik manusia yang demikian otonom seharusnya bisa ditaruh dalam dialektika kemanusiaan tadi menjadi ruang asosiasi kebenaran.

Kedua, faktor eksternal yang secara kultural merupakan asumsi kolektif masyarakat. Konsepsi gender tentu adalah hasil rumusan kultur masyarakat dalam memposisikan laki-laki dan perempuan. Terdapat takaran hidup di mana lini sektor sosial yang harus didominasi antara keduanya. Terlepas dari takaran tersebut, maka sanksi menyimpang akan berlaku di sana.
Gerakan feminis dalam menyikapi konsep gender masyarakat cenderung subordinatif sehingga berdampak pada destruktifikasi sistem keagamaan yang dianutnya selama ini. Sifat pesimistik dalam pergulatan gender membuat mereka memberikan tafsiran menyimpang sebagai tandingan paham baru dengan mengangung-agungkan perempuan.


Kita memang tidak bisa menampik bahwa konsep maskulin-feminim masyarakat tidak hanya hadir mengisi sistem sosial, akan tetapi membentuk normatif etik mematok seksualitas di luar manusia, seperti semiotik-linguistik, warna atau profesi. Namun kerangka berfikir yang sehat akan memungkinkan perempuan tetap survive sesuai perannya.

Bersamaan dengan maraknya dialog feminisme Islam dalam ruang-ruang dakwah, kajian akademis di kampus, dan organisasi keislaman, femisnisme harus bisa dikawal sesuai fitrah Islam. Asosiasi paham feminis jangan sampai mewujud oase perjuangan untuk mendiskreditkan agama melalui tafsiran tekstual suka-suka.

Agama Islam secara fitrah tetap mengakui adanya kesetaraan gender sebagai proses keseimbangan hidup. saat ini, dialog feminisme yang berkembang dalam Islam diharapkan bisa menafsirkan ulang konsep gender melalui perspektif Islam yang benar. ( A Fahrur Rozi/ Nashih)



Ketua MUI Sulsel Lantik Pengurus MUI Wajo. Bupati Janjikan Sekretariat Tetap

ketua-mui-sulsel-lantik-pengurus-mui-wajo.-bupati-janjikan-sekretariat-tetap

KABAR, muisulsel.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wajo menggelar Pelantikan dan Pengukuhan Dewan Pimpinan MUI Wajo Masa Khidmat 2021-2026 di Ruang Pola Kantor Bupati Wajo, Senin (17/1/2022).

Pelantikan tersebut turut dihadiri Bupati Wajo, Wakil Bupati Wajo, unsur Forkpimda, Kepala Kemenag Wajo, para Camat se-Wajo. Kepala KUA Kecamatan, dan seluruh Ketua Ormas Islam serta Pimpinan Pondok Pesantren se-Wajo.

Dr. KH. Yunus Pasanreseng Andi Padi, M.Ag dilantik dan dikukuhkan sebagai Ketua Umum MUI)l Wajo bersama dengan Dewan Pertimbangan dan Pengurus Harian yang berjumlah 28 orang oleh Ketua Umum MUI Sulawesi Selatan Prof. Dr. KH, Najamuddin, Lc., MA.

Selanjutnya sebagai Ketua Umum MUI Wajo, Dr. KH. Yunus Pasanreseng mengukuhkan personalia pengurus Komisi-komisi MUI Wajo yang berjumlah 88 orang dengan 11 Komisi.

Komisi yang memperkuat kepengurusan MUI Wajo, Pembinaan Seni dan Budaya Islam; Fatwa, Dakwah, dan Pengembangan Masyarakat Islam; Hukum dan Perundang-Undangan; Pemberdayaan Perempuan; Pengkajian dan Penelitian; Pendidikan dan Kaderisasi; Pemberdayaan Ekonomi Islam; Ukhuwah Islamiyah dan Hubungan Antar Umat Beragama; Layanan Kesehatan dan Resiko Bencana; Informasi, Komunikasi dan Pemeliharaan Dokumentasi.

Juga dikukuhkan Dewan Pimpinan MUI Kecamatan se-Kabupaten Wajo yang berjumlah 14 Kecamatan yaitu : Belawa, Bola, Gilireng, Keera, Majauleng, Maniangpajo, Pammana, Penrang, Pitumpanua, Sabbangparu, Sajoanging, Takkalalla, Tanasitolo dan Tempe.

Untuk pengukuhan tersebut hanya mengundang Ketum, Sekum dan Bendum dengan pertimbangan pembatasan jumlah kerumunan di masa pandemic covid-19.

Pada pidatonya, KH Yunus Pasanreseng menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada pihak pemerintah dalam hal ini Bupati Wajo, Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si atas dukungan sepenuhnya terhadap even yang dihelat oleh MUI Wajo.

“InsyaAllah, MUI Wajo akan senantiasa seiring sejalan dan bersinergi dengan pihak pemerintah dan siap mengawal serta mendukung program-program khususnya di bidang keagamaan,” ujarnya.

Apresiasi dan ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ketum MUI Sulsel atas berkesempatannya berkunjung di Bumi Lamaddukklleng untuk melantik dan mengukuhkan Dewan Pimpinan MUI Wajo.

“Kita patut berbangga karena ini adalah pertama kalinya pelantikan dan pengukuhan yang dihadiri langsung oleh beliau (Ketua MUI Sulsel”, ujarnya.

Dalam sambutannya, Prof AGH Najamuddin, memberikan penguatan tentang fungsi dan leran utama MUI yaitu: Sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (warasatul-anbiya’); Sebagai pemberi fatwa (mufti); Sebagai pembimbing dan pelayan umat (ri’ayat wa khadim al-ummah); Sebagai gerakan islah wal-tajdid dan sebagai penegak amar ma’ruf nahi munkar.

“Kita harus senantiasa meningkatkan dan mempererat ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa dan menjadi penghubung antara ulama dan umara (pemerintah) dan penterjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Bupati Amran Mahmud, sangat mengapresiasi spirit yang ditunjukkan oleh Dewan Pimpinan MUI Wajo dengan harapan dapat bersama-sama dan bersinergi membangun Wajo secara khusus.

Beliau juga menyampaikan dukungan sepenuhnya dengan keberadaan MUI Kab. Wajo. “Insya Allah kami akan memfasilitasi pengadaan Sekretariat yang permanen demi kelancaran roda organisasi yang dinakhodai oleh KH. Yunus Pasanreseng,” tuturnya.■ hamzah

The post Ketua MUI Sulsel Lantik Pengurus MUI Wajo. Bupati Janjikan Sekretariat Tetap appeared first on MUI SULSEL.



Ganas Annar MUI Buka Layanan Konseling Terpadu bagi Korban Narkoba

JAKARTA — Gerakan Nasional Anti Narkoba Majelis Ulama Indonesia (Ganas Annar MUI) membuka konseling terpadu bagi korban penyalahgunaan narkotika.

Program tersebut digalakkan atas dasar pandangan bahwa layanan konseling dan rehabilitasi merupakan solusi tepat untuk memberikan pemulihan dan penyembuhan bagi para korban narkoba.

Layanan konseling terpadu dari Ganas Annar MUI diberikan secara gratis bagi masyarakat yang ingin melakukan rehabilitasi dan konsultasi bersama mitra.

Di samping itu, bagi korban yang mengajukan konsultasi harus mendatangi lokasi Layanan Konseling Terpadu Ganas Annar MUI Pusat di Jalan Proklamasi No. 51, Menteng, Jakarta Pusat.

Adapun berkaitan dengan jadwal konsultasi, Ganas Annar MUI memberikan pelayanan pada hari Senin-Kamis dari pukul 08.00-16.00 WIB. Sedangkan pada hari Jum’at dan Sabtu mulai pukul 09.00-15.00 WIB.

Lebih lanjut, informasi mengenai Layanan Konsultasi Terpadu dapat didapatkan dari sosial media resmi yang dimiliki oleh Ganas Annar MUI baik itu Instagram, Facebook, Twitter, Email dan Whatsapp dengan nomor 0811-2111-0000.

Hadirnya layanan konseling terpadu yang dilakukan oleh Ganas Annar MUI merupakan kontribusi ulama dalam merespons upaya pemulihan dari dampak kecanduan narkotika di Indonesia. Karenanya hal tersebut merupakan komitmen MUI sebagai khadimul ummah sekaligus mitra Pemerintah. (Isyatami Aulia/Angga)



Cara Sederhana Mensyukuri Nikmat yang Diberikan Allah SWT

Keadaan yang terkadang tak menentu membuat kita lupa untuk bersyukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua.
Pada hakikatnya bersyukur kepada Allah SWT, selalu didasarkan atas pengakuan diri bahwa segala kenikmatan yang ada baik pada diri kita ataupun semua makhluk ciptaan-Nya hanyalah berasal dari Allah SWT.

Oleh karena itu, semua kenikmatan itu harus digunakan hanya untuk Allah SWT. Yakni dengan menggunakan berbagai kenikmatan sesuai keinginan dan maksud tujuan Allah SWT untuk memberikan nikmat tersebut.

Dalam keadaan pandemi covid-19 yang tak kunjung usai sudah barang tentu kita bersyukur sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, karena tidak lain pandemi ini dapat dijadikan ibrah (pelajaran) bagi kita semua agar selalu ingat dan bersyukur kepada Allah SWT pada saat kita diberikan kesehatan. Pastinya kita juga akan selalu ingat untuk selalu menjaga kebersihan dan menjaga kesehatan baik jasmani maupun rohani.

Pastinya sudah lumrah tentang pengertian bersyukur, ada yang mengartikan pujian atas kebaikan seperti mengucapkan hamdalah sesudah menikmati sesuatu ataupun mengucapkan terimakasih ketika diberi sesuatu.

Sebagai seorang Muslim hendaknya kita bersyukur kepada Allah SWT dengan cara mengakui adanya nikmat yang diberikan Allah SWT pada diri kita dan menggunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Semua yang kita miliki baik kebutuhan sandang, pangan dan papan adalah pemberian dari Allah SWT. Tentunya Allah SWT memberikan kita seluruh nikmat tersebut tidak lain kecuali agar digunakan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Alquran:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat ayat 56)

Oleh Karena itu cara bersyukur yang palang dasar bagi setiap Muslim ialah dengan mengakui bahwa semua nikmat adalah dari Allah SWT adalah menggunakan nikmat itu untuk jalan beribadah kepada Allah SWT.

Sedangkan lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yakni tidak ingin menyadari atau bahkan mengingkari bahwa seluruh nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah SWT dan menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka atau bahkan bermaksiat kepada Allah SWT.

Nikmat Allah SWT yang digunakan untuk maksiat pada dasarnya bukanlah nikmat, tapi justru akan menimbulkan musibah, karena pada hakikatnya maksiat hanya akan mengantarkan kepada kesengsaraan yang berkepanjangan baik di dunia maupun kelak di akhirat. Segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita semua kelak di akhirat akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Banyak sekali ayat Alquran yang memerintahkan seluruh umat manusia untuk senantiasa bersyukur di antaranya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS Al Baqarah ayat 152)
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا کُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَا شْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ کُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS Al Baqarah ayat 172)

Jika kita merenungkan tentang nikmat-nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita semua, maka kita akan menyadari bahwa kita selalu dikelilingi nikmat yang melimpah. Dalam hitungan detik, menit, dan seterusnya tercurah kenikmatan dari Allah tak terhenti yang berupa hidup, kesehatan, panca indra, bahkan udara yang dihirup.

Cara agar selalu menjadi hamba Allah SWT yang senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan yakni dengan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT melalui hati, maksudnya adalah dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya hanya dari Allah SWT semata.

Dapat pula kita mensyukuri nikmat Allah dengan melalui lisan, yakni dengan kita memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah). Selanjutnya kita dapat mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan kita yakni dengan bentuk ketaatan menjalankan segala apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
(Abi Rachman A.P/Nashih)



Kunjungi Kantor MUI Sulsel, Pimpinan Al Washliyah Minta Dukungan Program Kerja

kunjungi-kantor-mui-sulsel,-pimpinan-al-washliyah-minta-dukungan-program-kerja

FOKUS, muisulsel.com — Ketua Umum Al Washliyah Sulsel DRS KH Hasbuddin Halik Lc MA meminta dukungan MUI Sulsel untuk pelaksanaan program kerja lima tahun kedepan.

Hal ini disampaikan Hasbuddin di sela kunjungannya ke sekretariat MUI Sulsel Jln Masjid Raya Makassar, Ahad (16/1/2022).

“Agenda pertemuan ini dalam rangka silaturahmi terutama meminta dukungan MUI terhadap agenda kegiatan kunjungan Ketua Umum Al Washliyah DR KH Masyhuril Khamis SH MH pada akhir Januari 2022 Mendatang,” jelasnya.

Berdiri sejak 30 November 1930, Al Washliyah merupakan organisasi lama di Indonesia yang sekian tahun melayani umat Islam melalui pendidikan, ekonomi, kaderisasi dan pengembangan umat lainya.

Di Sulsel Al Washliyah mulai terbentuk pada 4 Januari 2021. Sejak terbentuk kepengurusan baru di Sulsel Al Washliyah mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka cabang di enam kabupaten kota yang ada di Sulsel dan juga membentuk Muslimat Al Washliyah.

Sekertaris Umum MUI Sulsel DR KH Muammar Bakry Lc MA juga menyambut baik kunjungan tersebut. Dirinya merasa bersyukur atas kehadiran Al Washliyah di Sulsel karena menambah kekuatan dalam menyampaikan Islam yang moderat.

“Kita berharap Al Washliyah bisa memberi kekuatan di bidang pendidikan dan keagamaan untuk penguatan umat yang lebih berkualitas,” imbunya.

Adapun rencana Silaturahmi Ketua Umum Al Washliyah pada Januari ini di antaranya bertemu dengan Plt Gubernur Sulsel, Kakanwil Sulsel dan MUI Sulsel.

Menurut Hasbuddin, Ketua Umum Al Washliyah juga akan mengisi ceramah di Masjid Raya dan Al Markaz Al Islami.■ Irfan

The post Kunjungi Kantor MUI Sulsel, Pimpinan Al Washliyah Minta Dukungan Program Kerja appeared first on MUI SULSEL.



Temui MUI Sulsel, KPID Sulsel Ajak Sinergi Syiar Penyiaran Positif

temui-mui-sulsel,-kpid-sulsel-ajak-sinergi-syiar-penyiaran-positif

FOKUS muisulsel.com — Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan berkunjung ke Sekertariat MUI Sulsel Jln Masjid Raya No 1 Makassar, Kamis (13/1/2022).

Dari pertemuan tersebut terungkap media yang menjadi alat lenyiaran informasi pabrik saat ini sangat masif.

Masyarakat yang sering mengonsumsi berita hoax perlu mendapat pengetahuan tentang bagaimana bermedia yang sehat sehingga tidak serta merta menyebarkan konten atau berita yang belum jelas sumber dan kebenaranya.

MUI sebagai lembaga keumatan dinilai sangat penting untuk menyampaikan pesan tentang bahaya hoax kepada masyarakat terutama konten dakwah yang menyimpang.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel Muhammad Hasrul Hasan SE MM berharap ada sinergitas antara KPID dengan MUI Sulsel dalam hal penanganan berita hoax yang beredar di masyarakat.

Hasrul melanjutkan saat ini banyak konten video dakwah yang menyebarkan kebencian dan penyimpanan sehingga kerjasama dengan MUI Sulsel merupakan hal yang penting terutama menangkal muatan ceramah yang dinilai menyimpang dan provokatif.

Dalam kesempatan ini juga hasrul meminta kerjasama dengan MUI Sulsel untuk menyusun khutbah Jumad tentang informasi penyiaran yang sehat dan sosialisasi tentang bahaya berita hoax dalam rangka menyambut hari Penyiaran Nasional pada 1 April mendatang.

Ketua Umum MUI Sulsel Prof DR KH Najamuddin MA berharap kerjasama yang berkelanjutan terutama untuk menangkal berita hoax dan konten dakwah yang menyimpang.

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Sulsel Dr H M Ishaq Samad MA juga menyambut baik silaturahmi ini dan berharap agar kerjasama ini ditingkatkan terutama mensuport MUI Chanel. Hadir memandu pertemuan tersebut Sekretaris MUI Sulsel DR KH Muamar Bakri Lc MA didampingi sejumlah pimpinan MUI Sulsel.■ Irfan

The post Temui MUI Sulsel, KPID Sulsel Ajak Sinergi Syiar Penyiaran Positif appeared first on MUI SULSEL.



Haramkan Penjualan Mystery Box, Ini Alasan MUI Sulsel

haramkan-penjualan-mystery-box,-ini-alasan-mui-sulsel

FOKUS, muisulsel.com — Komisi Fatwa MUI Sulsel mengeluarkan Fatwa No 1 Tahun 2022 yang mengharamkan penjualan online mystery box di marketplece, Kamis (13/1/2022).

Fatwa dibacakan langsung oleh Sekertaris Umum MUI Sulsel DR KH Muammar Bakri Lc MA di Sekertariat MUI Sulsel Jln Masjid Raya No 1 Makasaar.

Mystery box adalah cara penjualan secara online di marketplece dengan metode pembeli mengirim sejumlah uang untuk membeli barang yang isinya tidk diketahui secara pasti oleh pembeli karena isi dalam box tersebut dirahasiakan.

Hadir pada jumpa pers pengurus MUI Sulsel (kiri ke kanan) Sekretaris Bidang Kominfo Prof Dr Sukardi Weda, Ketua Bidang Kominfo Dr HM Ishaq Samad MEd, Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum Ir H A Thaswin Abdullah, Wakil Ketua Komisi Fatwa Dr. KH. Shaifullah Rusmin, Lc., M.Th.I. dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa  Dr. H. Abdul Syatar, Lc., M.H.I.

Dalam transaksi mistery box banyak masyarakat yang merasa dirugikan oleh karena barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan uang yang dikirimkan. Masyarakat juga merasa tertipu dengan box yang berisi barang rusak.

Dalam Islam, akad jual beli hukumnya boleh selama syarat dan rukunnya terpenuhi, dan tidak ada unsur-unsur yang tidak diperbolehkan oleh syariat.

Salah satu praktek jual beli yang dilarang adalah akad jual beli yang mengandung ketidakjelasan maupun spekulasi. Akad jual beli semacam ini disebut dengan jual beli ‘garar’ ( penipuan) yang telah ditegaskan Rasulillah “Dari Abu Hurairah berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli al hashah dan jual-beli al-garar.” (HR. Muslim).

Ketua Umum MUI Sulsel Prof DR AGH Najamuddin H Abd Safa MA mengungkapkan mistery box merupakan kasus lama hanya beda istilah saja.

Najamuddin juga melanjutkan selama transaksi tidak ada unsur penipuan atau kerugian makan itu sah-sah saja.

Ketua Komisi Fatwa MUI Sulsel Prof Dr KH M Rusydi Khalid MA juga menjelaskan kasus ketidakjelasan dan penipuan dalam transaksi mystery box menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi.

Rusydi juga berharap dengan fatwa ini agar pemerintah lebih mengawasi dan melindungi masyarakat dari kasus mystery box yang banyak merugikan masyarakat.

“Dalam Islam sudah jelas tentang aturan jual beli seperti barang yang dijual harus jelas diperlihatkan, dan tidak boleh ada yang dirugikan.Transaksi mystery box sudah lama berlaku di negara Amerika Serikat hanya saja baru berlaku di Indonesia,” jelasnya

Berikut beberapa Rekomendasi yang dikeluarkan Komisi Fatwa MUI Sulsel tersebut:

1. Kepada masyarakat agar menghindarkan diri dari transaksi jual beli yang mengandung unsur maisir (spekulasi), gharar (penipuan), dan jahalah (ketidakjelasan barang) serta tadlis (pemalsuan);

2. Kepada pihak marketplace untuk tidak menyediakan ruang untuk transaksi jual beli mystery box.

4. Kepada lemerintah hendaknya mengawasi transaksi yang dapat merugikan masyarakat.■ Irfan

The post Haramkan Penjualan Mystery Box, Ini Alasan MUI Sulsel appeared first on MUI SULSEL.



Silaturahmi ke MUI Sulsel, Gojek Dukung Digitalisasi Masjid

silaturahmi-ke-mui-sulsel,-gojek-dukung-digitalisasi-masjid

FOKUS, muisulsel.com — Manajemen Gojek Indonesia timur bersilaturahmi ke Sekretariat MUI Sulsel membahas program digitalisasi masjid, Rabu (12/1/2022).

Pihak Gojek dan pengurus MUI Sulsel memahami program digitalisasi merupakan hal yang penting di era teknologi ini. Saat ini akses internet begitu masif terjadi di masyarakat. Tak hanya komunikasi kegiatan transaksi juga sekarang juga melalui internet.

Masjid sebagai tempat ibadah dan kegiatan umat harus terdata secara digitalisasi sehingga memudahkan jamaah untuk mengakses secara mudah terutama jamaah yang jauh bermukim. Tak hanya alamat dan data pengurus, masjid juga menjadi pusat kegiatan ekonomi umat dengan memanfaatkan teknologi digital.

Sekertaris Umum MUI Sulsel KH DR Muammar Bakri Lc MA berharap program digitalisasi masjid dapat membangun sinergitas antar masjid.

“Banyak masjid yang keuangan yang memadai sementara ada masjid yang membutuhkan bantuan sehingga program digitalisasi bisa memudahkan jamaah untuk saling membantu. Tak hanya ekonomi, digitalisasi masjid juga dapat membantu jamaah terutama informasi atau jadwal ceramah di masjid lain,” imbuhnya.

Regional Government Relations Senior Associate-East Indonesia Mohammad Khomeiny S Sos juga menambahkan Gojek akan mensuport program digitalisasi masjid yang ada di Sulsel. Ia berharap kerjasama ini dapat mempererat ulama dengan Gojek terutama program digitalisasi masjid.

“MUI Sulsel perlu mendirikan lembaga khusus untuk menerima dan menyalurkan sedekah. GoPay yang juga bagian dari Gojek siap membantu kegiatan transaksi sedekah,” harapnya.

Aplikasi GoPay adalah layanan transaksi keuangan sehingga bisa digunakan untuk mentransfer uang, bayar kredit dan listrik dan tagihan lainya.

Ketua Komisi Kesehatan MUI Sulsel Ardadi S Farm MKes juga menyampaikan dukungan terhadap program digitalisasi masjid. “MUI Sulsel perlu berdiskusi dengan ketua masjid atau dewan masjid untuk meminta data dan dukungan,” usulnya.■ Irfan

The post Silaturahmi ke MUI Sulsel, Gojek Dukung Digitalisasi Masjid appeared first on MUI SULSEL.



Istri Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut Berpulang, MUI Sumut Ikut Berduka

istri-ketua-komisi-fatwa-mui-sumut-berpulang,-mui-sumut-ikut-berduka

Istri dari Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara, Dr. H Ramlan Yusuf Rangkuti, MA yakni Nurhayati Mustafa, S.Ag, meninggal dunia di usia 71 tahun.

Ia mengehembuskan napas terakhirnya pada 12 Januari 2021 pukul 03.05 WIB.

Dari informasi pihak keluarga, pemakaman akan dilakukan di Pasar Bengkel, Serdang Bedagai.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan lebih dulu di rumah duka yang beralamat di Jl. Menteng Raya Gg. Mesjid Attaharah Medan.

Atas kabar kepulangan ini, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak menyampaikan ucapan belasungkawa.

“Keluarga MUI Sumut turut berduka, kami mengucapkan belasungkawa. Berharap keluarga diberi kesabaran,” ucapannya.

Kepada Dr. H Ramlan Yusuf Rangkuti, MA, Maratua pun menyampaikan harapannya agar ia bersama keluarga mampu mengambil iktibar atas kepergian istrinya itu.

“Satu kesedihan memang, berat ditinggal seorang istri, anak-anak juga pasti bersedih kehilangan tempat bermanja tapi yakinlah bahwa Allah lebih mengasihinya, maka ikhlaskanlah,” sampainya.

Bersama jajaran pengurus lainnya, Maratua hadir takziah ke rumah duka dan ikut menyolatkan di Masjid At Thoharah Menteng.

Nurhayati Mustafa, S.Ag berpulang dengan meninggalkan 6 orang anak serta 15 cucu.



4 Kedudukan Anak yang Disebutkan dalam Alquran

Alquran menyebutkan terdapat tiga fase umum kehidupan yang akan dilewati manusia.
Fase pertama, manusia berada dalam keadaan lemah, yaitu pada masa bayi dan anak-anak.
Fase kedua, manusia berada dalam keadaan kuat atau dewasa. Terakhir, fase ketiga yaitu dimana manusia lemah dan beruban. Fase ini menunjukan bahwa seseorang telah memasuki usia tua atau lansia.
Namun tidak semua manusia dapat mencapai ketiga fase yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagian ada yang hanya mencapai pada fase pertama ataupun kedua. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rum ayat 54:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Mahamengetahui, Mahakuasa.”
Allah ﷻ menjelaskan dalam Alquran terdapat lima kedudukan anak terhadap orang tua. Kedudukan tersebut disebutkan-Nya pada empat surat yang berbeda, yaitu:

  1. Kedudukan anak sebagai kesenangan hidup (Perhiasan) di dunia. Allah ﷻ berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14, yaitu:
    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
    “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
    Merujuk pada penjelasan dari tafsir ringkas Kementerian Agama RI terdapat beberapa hal dari kesenangan hidup yang Allah ﷻ berikan yaitu dengan kehadiran anak dalam keluarga.
    Adapun kedudukan anak sebagai kesenangan hidup dapat dipahami bahwa manusia secara naluriah memiliki kecenderungan untuk senang terhadap anak. Ayat di atas senada pula dengan firman-Nya di surat Al Kahfi ayat 46
  2. Kedudukan anak sebagai cobaan atau fitnah. Firman Allah ﷻ dalam Alquran surat Al Anfal ayat 28:
    وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْم
    “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
    Mengutip dari kitab Al-Mufradat fi Gharib al-Quran karya ar-Ragib al-Isfahani, lafaz fitnah berasal dari kata fatana yang memiliki makna dasar ‘membakar logam emas atau perak untuk mengetahui kemurniannya’.
    Sebagaimana yang dijelaskan Prof Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, kedudukan anak anak sebagai fitnah tak hanya ketika orang tua memiliki dorongan atas dasar cinta kepadanya sehingga melanggar ketetapan Allah ﷻ, akan tetapi hal tersebur berlaku dalam kedudukan anak sebagai amanah Allah ﷻ.
    Allah menguji hamba-Nya melalui anak yang dikaruniai oleh-Nya adalah untuk melihat apakah hamba tersebut mampu merawatnya dengan baik. Tak hanya memberi sandang, pangan, dan papan yang cukup tapi juga mendidik dan mengembangkan potensi pada anak.
    Potensi tersebutlah yang kelak menjadikan manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah ﷻ, yaitu sebagai hamba-Nya sekaligus khalifah di dunia.
  3. Kedudukan anak sebagai musuh. Firman Allah ﷻ dalam surat At Taghabun ayat 14:
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah MahaPengampun, Mahapenyayang.”
    Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan mengenai sebab turun ayat di atas, salah satunya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dalam kitab tafsir Al-Qur’an al-Adhim, Ibnu Katsir mengutip ayat di atas berkaitan dengan persoalan sebagian dari penduduk Makkah yang ingin berhijrah namun dihalangi istri dan anak-anak mereka.
    Setelah berhijrah, mereka menemukan teman-teman yang telah lebih dahulu hijrah serta memiliki pengetahuan mendalam mengenai Islam. Pada saat itu, penyesalan timbul dan mereka bermaksud untuk menghukum istri dan anak-anak mereka yang menjadi penyebab ketertinggalan tersebut. Karenanya turunlah ayat ini untuk menjawab persoalan mereka.
  4. Kedudukan anak sebagai penyenang hati. Firman Allah ﷻ dalam surat Al Furqan ayat 74:
    وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
    “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
    Mengutip dari Tafsir Departemen Agama RI ayat di atas menjelaskan mengenai doa yang selalu dipanjatkan hamba-hamba yang dikasihi Allah ﷻ agar diberikan pasangan dan anak-anak yang mampu menjadi penenang hati dan menyejukkan perasaan.
    Dengan demikian akan bertambah pula di bumi ini hamba-hamba Allah ﷻ yang bertakwa lagi menyucikan zat-Nya Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. (Isyatami Aulia/ Nashih Nashrullah)


Pengurus Komisi Infokom MUI Sulsel Ajak Muhamadiyah Bulukumba Maksimalkan Dakwa Digital

pengurus-komisi-infokom-mui-sulsel-ajak-muhamadiyah-bulukumba-maksimalkan-dakwa-digital

KABAR, muisulsel.com — Pengurus Muhamadiyah Bulukumba berencana akan mengoptimalkan program dakwah digital. Hal ini terungkap dari kegiatan Baitul Arkam, belum lama ini.

Kegiatan “Baitul Arqam dan Pelatihan Muballigh Mahasantri Djazman Al-Kindi Universitas Muhammadiyah Bulukumba, serta Baitul Arqam Pimpinan Dosen Karyawan UMB” Pelatihan Muballigh/Muballighat Muhammadiyah tersebut dilaksanakan di Kampus II Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Kelurahan Mariorennu, Kecamatan Gantarang, Bulukumba, Sabtu (8/1/2022).

Berdasarkan survei HootSuite, sebuah situs layanan manajemen konten yang menyediakan layanan media daring, menyebutkan pengguna internet di Indonesia pada 2020 berjumlah 175,4 juta orang dari total 272,1 juta jiwa penduduk Indonesia.

Dari 175,4 juta orang pengguna internet tersebut, sebanyak 160 juta orang di antaranya merupakan pengguna media sosial (medsos) aktif.

Maka bisa disimpulkan bahwa dunia internet atau dunia maya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Indonesia. Dan itu berarti, dunia maya sedikit banyak sudah mampu mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

“Maka mau tidak mau, para pemuka agama, para da’i, para muballigh harus berbenah dalam berdakwah. Dakwah harus masuk ke dunia maya, terutama di media sosial yang penggunanya di Indonesia mencapai 160 juta orang,” kata Anggota Komisi Kominfo Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulsel, yang juga Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulsel, Asnawin Aminuddin.

Menurutnya, jumlah umat Islam yang rajin ke masjid sangat sedikit, dan yang sedikit itu pun kebanyakan orang dewasa yang berumur empat puluh tahun ke atas.

“Mereka itulah yang rajin mendengarkan ceramah agama, sedangkan sebagian besar lainnya, terutama kaum remaja dan ibu-ibu, jarang mendengarkan ceramah di masjid. Mereka inilah yang harus disasar untuk didakwahi melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp (WA), serta YouTube,” kata Asnawin.

Pemegang sertifikat Pelatih Nasional Wartawan PWI mengatakan, format konten dakwah bisa berupa video, infografis, gambar, maupun suara, sedangkan jenis konten media sosial antara lain interaksi atau interaktif, edukasi atau pendidikan, hiburan, motivasi, dan profil orang-orang ternama dalam dunia Islam.

“Para muballigh juga sebaiknya paham tentang manajemen isu. Jika ada momen tertentu berupa informasi yang sedang viral di dunia maya, maka para muballigh sebaiknya menunggangi isu tersebut dengan cara membelokkan atau meluruskan isunya sesuai tuntunan agama,” kata Asnawin.

Pengajar pada beberapa perguruan tinggi di Makassar juga mengingatkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berdakwah di media social, antara lain konten harus bermanfaat dan menunjukkan Islam yang damai, konten harus berisi sesuatu yang menarik.

“Dakwah juga sebaiknya menyesuaikan dengan tren atau hal-hal terbaru yang digandrungi masyarakat dan sedang jadi pembicaraan, serta dilakukan dengan responsif atau memancing umpan balik dari masyarakat,” kata Asnawin.

Materi Pelatihan

Selain materi “Digitalisasi Dakwah” yang dibawakan oleh Asnawin Aminuddin, juga disajikan beberapa materi lainnya yakni “Sejarah, Materi, dan Metode Dakwah Rasulullah SAW” (dibawakan oleh Kaharuddin Yunus), “Metode Khitabah: Penulisan Naskah Khutbah dan Ceramah” (Dr Nurdin Mappa).

“Prinsip Dakwah Muhammadiyah dan Peran IMM di PTM” (Dr Aminuddin SPd MSi), “Harapan dan Tantangan Dakwah Abad Kedua Muhammadiyah” (Dr Dahlan Lama Bawa).

“Kajian Ketarjihan: Ibadah Praktis Seputar Ramadhan” (Hasanuddin Arasy MPdI), “Retorika Dakwah” (Amiruddin Bakri), serta “Kepribadian Muballigh Muda Muhammadiyah” (Dr Nurdin Mappa).

Ketua Panitia yang juga Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Irfan Surya, mengatakan, pelatihan yang dibuka oleh Rektor UMB Dr Juamse Basra dilangsungkan selama tiga hari (Kamis – Sabtu, 06-08 Januari 2022) dan diikuti 90 peserta.
“Para peserta adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bulukumba yang mondok di Asrama Mahasiswa,” jelas Irfan.■

The post Pengurus Komisi Infokom MUI Sulsel Ajak Muhamadiyah Bulukumba Maksimalkan Dakwa Digital appeared first on MUI SULSEL.



Ciptakan Kerukunan Antar Umat Beragama, Ketum MUI Sulsel Raih Penghargaan dari Kanwil Sulsel

ciptakan-kerukunan-antar-umat-beragama,-ketum-mui-sulsel-raih-penghargaan-dari-kanwil-sulsel

FOKUS, muisulsel.com — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan Prof DR AGH Najamuddin MA meraih penghargaan sebagai penjaga kerukunan umat beragama di Sulsel.

Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan Drs H Khaeroni MSi pada penutupan kegiatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama RI ke-76 di Aula Kampung Anda Pantai Bira Bulukumba, Sabtu (8/1/2022).

Dalam sambutanya Khaeroni mengapresiasi MUI Sulsel dan ormas agama lainya yang telah berupaya dan berperan besar menjaga dan menciptakan kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Selatan.

“Kami berharap agar kedepannya ormas-ormas agama terus menciptakan dan meningkatkan kerukunan antar umat beragama,” harapnya.

Tak hanya acara penyerahan penghargaan dan ramah tamah kegiatan ini dirangkaikan juga dengan penyerahan hadiah bagi peserta perlombaan Hari Amal Bakti.

Selain Ketum MUI Sulsel, ketua ormas agama lainya juga mendapat penghargaan yang sama diantaranya FKUB Sulsel, PWNU Sulsel, PWM Muhamadiyah Sulsel, DMI Sulsel, Keuskupan Agung Makassar, Permabudhi Sulsel, Ketua Walubi Sulsel, PHDI Sulsel, PGIW Sulselbar, Matakin Sulsel, Ponpest Tahfidz Quran Al-Imam Ahsim Makassar dan Drs H Syarir Nur.

Sejumlah program yang diamanahkan Ketum MUI Sulsel diselenggarakan sejumlah komisi MUI Sulsel pasca pelantikan, oleh sebagian pihak menilai sarat dengan pesan dan misi menjaga persatuan antar umat beragama.

Sebut beberapa di antaranya terselenggaranya silaturahmi antar tokoh agama yang melahirkan Forum Kemanusiaan Lintas Agama Sulsel.

Demikian pula penyelenggaraan webinar internasional mengupas idiologi radikal trans nasional. Webinar tersebut untuk menjadi referensi masyarakat untuk terhindar dan mewaspadai radikalisme sebagai salah satu paham pemecah belah.■ irfan

Irfan

The post Ciptakan Kerukunan Antar Umat Beragama, Ketum MUI Sulsel Raih Penghargaan dari Kanwil Sulsel appeared first on MUI SULSEL.



Muslimat Al Washliyah Sulsel Konsolidasi dan Pembentukan Pengurus

muslimat-al-washliyah-sulsel-konsolidasi-dan-pembentukan-pengurus

KABAR, muisulsel.com — Muslimah Al Washiyah Sulawesi Selatan adakan silaturahmi dan pembentukan pengurus baru di Makassar, Sabtu (8/1/2022).

Pimpinan Pusat Muslimat Al Washliyah (PPMA) DRA Hj Nurliati Ahmad MA dalam sambutanya menjelaskan organisasi ini merupakan penghubung antar organisasi lainya terutama muslimat. “Al Washliyah adalah organisasi pengabdian sehingga dibutuhkan keikhlasan untuk bekerja,” jelasnya.

Silaturahmi yang berlangsung offline dan online ini menghadirkan perwakilan pengurus Al Washliyah dari tiap kabupaten kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Ketua Umum Al Washliyah Sulsel Drs H Hasbuddin Halik Lc MA dalam sambutanya berharap silaturahmi dan pembentukan pengurus ini kedepannya bisa membawa perubahan atau terobosan baru terutama mempererat hubungan persatuan muslimah baik internal maupun eksternal.

Hasbuddin juga menambahkan silaturahmi tak hanya mempererat hubungan tetapi bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki sesuai dengan hadits nabi.

Silaturahmi ini dipimpin langsung oleh anggota Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Muslimat PPMA Al-Washliyah Pusat DR Basaria Nainggolan MAg.

Basaria yang juga sebagai Pimpinan Muslimat Al Washliyah Wilayah Maluku Utara ini berharap adanya pembentukan pengurus Muslimah Al Washliyah Sulsel ini bisa membawa perubahan terutama bidang-bidang yang telah ditentukan bisa memberikan kontribusi yang baik terutama bidang pendidikan dan pengembangan umat.

Adapun susunan pengurus Al Washliyah Sulsel Ketua Umum Hj Nurhayati SPd MSi, Wakil ketua Nurlaelah Sultan SPdI M Pd, Sekertaris Umum DR Suhartini Suaedy.

Hadir di acara ini, pengurus harian dan bendara umum Al Washliyah Sulsel Shibgatullah Halik ST MM dan peserta muslimat Al Washliyah di Sulawesi Selatan baik online maupun offline.■ Irfan

The post Muslimat Al Washliyah Sulsel Konsolidasi dan Pembentukan Pengurus appeared first on MUI SULSEL.



KH Cholil Nafis: Jangan Sampai Khutbah Jadi Orientasi Duniawi

JAKARTA – Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Wadah Silaturohim Indonesia (WASATHI) Gelar Pembukaan Pendidikan Khatib Wasathi di Gedung Majelis Ulama Indonesia Pusat, (08/01).

Dalam sambutannya Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah Kyai Cholil mengungkapkan rasa senangnya, karena ada lembaga masyarakat yang bermitra dengan MUI khususnya pada kesempatan kali ini dibidang penguatan dakwah rutin yaitu khatib jum’at.

Kiai Cholil Nafis menjelaskan, khatib memiliki peran penting dalam setiap pelaksanaan Shalat Jumat. Sebab, dalam seluruh jamaah dilarang untuk berbicara saat khutbah sedang berlangsung, tanpa memandang struktur sosial dan ilmu .

Namun demikian, Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengamati, saat ini muncul kesan posisi khatib yang mulia direndahkan dan dirasa membosankan. Alasannya, isi khutbah yang tidak berbobot dan terkesan asal-asalan.

“Khutbah adalah pekerjaan yang paling sulit karena durasinya pendek, tapi harus mengemukakan banyak hal,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Wasathi Channel, Sabtu (08/01).

Kiai Cholil mengatakan, yang paling baik dari khutbah adalah sedikit tapi mempunyai cakupan yang banyak, baik aspek ayat dan tafsirnya, sejarah dan lain-lain. Sebaliknya, apabila khatib menyampaikan khutbah tidak menarik, tidak jelas, dan memprovokasi orang lain maka khutbah tidak lagi diposisikan sebagai keadaan yang sangat sakral.

Ulama yang juga Dosen Universitas Indonesia ini menegaskan, sebagai umat Islam yang memiliki paradigma moderat harus fokus mengajak jamaah hanya yang terkait praktek ibadah jumat. Doktor Universitas Malaya ini menekankan, khutbah tidak boleh dijadikan sarana untuk memaki, menistakan, bahkan menyudutkan siapapun.

“Jangan sampai khutbah menjadi orientasi duniawi, baik oleh khatibnya maupun kepentingan masa, dimanapun khutbah kita harus punya komitmen,” tegas Kiai Cholil Nafis. .

Dalam penutupnya, Kiai Cholil berharap, seluruh peserta yang menjadi peserta diberkahi. Ia memberi saran pada Wasathi untuk membuat modul-modul agar menjadi penggerak dan ditiru oleh khatib-khatib lain.

(Abi Rachman A.P/Angga)



Kemenangan Strategis Umat Islam dalam Perang Badar

Pada Ramadhan tahun pertama Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau telah menyerahkan bendera pasukan kaum Muslimin kepada Hamzah bin Abdul Muththalib sebagai komandan yang membawahi tiga puluh pasukan kaum muslimin yang berasal dari kalangan kaum Muhajirin untuk mencegat kafilah dagang Quraisy. Hamzah mendapatkan Abu Jahal dengan tiga ratus orang yang lainnya dalam misinya, tetapi tidak sampai terjadi kontak senjata karena dicegat oleh Umar Al-Jahni.

Rasulullah SAW akhirnya langsung memimpin pasukannya pada Rabi’ul Awwal tahun kedua hijrah menuju kampung Wuddan yang berjarak delapan mil dari Al-Abwa’ untuk menghadang orang-orang Quraisy dan Bani Dhamrah. Rasulullah SAW dan pasukannya berhasil mengikat perdamaian dengan Bani Dhamrah, perang ini dikenal dengan sebutan Perang Al Abwa’.

Selanjutnya, pada  Rajab di tahun ini Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Jahasy bersama delapan orang Muhajirin. Rasulullah SAW menulis surat untuk Abdullah bin Jahasy dan memerintahkan agar ia jangan membuka surat itu sebelum berjalan dua hari, maka Abdullah pun mematuhi perintah tersebut.

Dalam tafsir Ath-Thabari jilid empat dinyatakan isi suratnya sebagai berikut : “Sesudah engkau membaca suratku ini, hendaklah terus melanjutkan perjalananmu sampai engkau tiba di Nakhlah yang terletak antara Makkah dan Thaif. Kemudian intailah orang-orang Quraisy dan sampaikan beritanya kepada kami.”

Ketika mereka sampai di Nakhlah, didapatkan kafilah dagang Quraisy dan dalam rombongan tersebut terdapat ‘Amr bin Al-Hadramain. Sehingga terjadilah kontak senjata yang menyebabkan tertawannya Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin kaisan, lalu bersama unta yang membawa dagangan orang-orang Quraisy digiring untuk dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Tatkala perang berakhir, orang-orang musyrik mengutus delegasi untuk menebus dua orang yang tertawan. Rasulullah SAW tidak akan menyerahkan tawanan kecuali Sa’ad bin Abi Waqas dan ‘Utbah bin Ghazwan dibebaskan pula, ketika Sa’ad dan ‘Utbah datang, barulah Rasulullah SAW menyerahkan mereka. Sedangkan saat itu Hakam bin Kaisan telah masuk Islam hingga gugur dalam Perang Bi’r Ma’unah.

Ramadhan tahun kedua hijrah meletuslah Perang Badar Al-Kubra, Rasulullah SAW bersama pasukannya bertemu dengan pasukan Quraisy di dekat Sumur Badr. Pasukan Quraisy berjumlah sekitar sembilan ratus sampai seribu orang. Adapun di antaranya terdapat Abu Jahal bin Hisyam bin Al-Mughirah, dan Al ‘Abbas bin Abdul Muththalib, paman beliau.

Dalam kitab Tafsir At-Tabari jilid empat dinyatakan demikian: “Kaum Muslimin mendapat kemenangan dalam perang ini berkat pertolongan Allah SWT, sedang tujuh puluh orang pihak Quraisy mati terbunuh sebagiannya adalah pemuka Quraisy, adapun dari pihak Rasulullah SAW tercatat hanya empat belas orang saja.”

Pengaruh Perang Badar sangatlah besar dalam sejarah Islam, Perang Badar merupakan perang besar antara kaum Muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Adapun dalam perang ini kaum Muslimin tampil sebagai pemenang atas orang-orang kafir. Melalui Perang Badar tampaklah di mata kaum musyrikin keteguhan kaum muslimin dalam mempertahankan aqidah dan membela agama Islam. Tokoh-tokoh Quraisy amat dalam memendam dendam atas kekalahan mereka dalam perang tersebut, sehingga mereka sepakat untuk menebusnya dengan perang lain guna membalas kekalahannya.

Kaum Muslimin sangat bangga dengan kemenangan yang diraih pada perang badar, sehingga oleh kaum Muslimin perang badar dinamai dengan perang Al-Furqan. Sebab, dalam perang tersebut Allah SWT. telah memisahkan antara yang hak dan yang bathil, begitu juga dengan perang ini Allah SWT. telah memuliakan Islam dan menghinakan kekufuran dengan terbunuhnya sebagian para pemuka Quraisy lalu sebagian yang lain tertawan, walaupun pasukan kaum Muslimin berjumlah sedikit sedang kaum musyrikin berjumlah banyak. Mereka sangat bangga dengan kemenangan yang diraih dalam perang Badar, sehingga seluruh kaum Muslimin yang terlibat dalam perang ini dipanggil dengan Ahli Badar.

Dendam kaum musyrikin Quraisy atas kekalahan mereka dalam perang Badar sangat mendalam sehingga seluruh kekayaan yang terdapat dalam kafilah dagang yang menjadi awal penyebab meletusnya perang ini dikumpulkan dan digunakan untuk memerangi dan menghancurkan Rasulullah SAW beserta para sahabatnya. Dari saat itu pulalah rangkaian peperangan mewarnai perjalanan sejarah kaum Muslimin.

Dalam sejarah, tercatat bahwa kemenangan selalu berpihak kepada Rasulullah SAW dan kaum Muslimin, kecuali Perang Uhud. Namun demikian, kemenangan-kemenangan tersebut tidak dapat diraih dengan mudah dan tanpa kesungguhan, melainkan penuh dengan kesabaran dan keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT.
(Abi Rachman AP/ Nashih)



Wasekjen MUI: Khatib Harus Terus Sinergi Dakwahkan Narasi Wasathi

JAKARTA — Hingga saat ini, perjuangan dan semangat wasathiyah keislaman diharapkan mampu memenuhi ruang-ruang dakwah keagamaan secara istikamah dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan oleh Wasekjen MUI Arif Fahrudin, dalam acara Pembukaan Pendidikan Khatib Wasathi oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sabtu (08/01).

Dalam sambutan yang disampaikan secara virtual, pria yang sekaligus Pembina Forum Khatib Wasathi menyampaikan, keberadaan para dai dan khutaba dipastikan mampu menghidupkan oase moderasi keislaman dalam dinamika umat melalui media dakwah yang berkembang saat ini.

“Narasi-narasi wasathiyah, terutama di ruang dakwah harus dipenuhi. Para khutaba dipastikan mampu terus bersinergi mengisi ruang-ruang yang telah penuh tersebut,” terangnya.

Hal itu, kata dia, sesuai dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman. Dia melihat, kesempatan dakwah yang dimiliki para khutaba di setiap hari Jumat sangat besar dalam menyampaikan nilai-nilai Islam moderat.

Oleh demikian itu, Arif berharap ruang dakwah khutbah Jumat harus bisa dimaksimalkan dengan sebaik mungkin. Pendidikan Komisi Dakwah kali ini diharapkan mampu mengkolaborasikan kesiapan khatib yang kompeten, substansi materi khutbah dan para jamaah sebagai objek khutbah.

“Begitu luar biasanya Allah mensyariatkan hari Jumat kepada kita, di mana di dalamnya terdapat khutbah Jumat. Maka oleh karena itu khutbah Jumat bisa kita maksimalkan sebaik mungkin, baik Khatib, isi dan umat yang mendengarkan,” kata dia.

Lebih lanjut, menanggapi kegiatan ini, Arif menyampaikan apresiasi besar kepada Komisi Dakwah MUI yang telah merealisasikan suatu kegiatan pencerahan dan bimbingan keumatan dengan semangat wasathiyah Islam.

“Kami sangat bangga. Ini langkah positif, para kharib dibimbing oleh komisi dakwah, dan komisi dakwah terus bisa melakukan kolaborasi dengan para khutaba. Sehingga ini menjadi ujung tombak bimbingan bagi umat,” ucapnya dengan apresiatif.

(A. Fahrur Rozi/Angga)



Khutbah di Masjid Raya, Ini Pesan AGH Faried Wadjedy

khutbah-di-masjid-raya,-ini-pesan-agh-faried-wadjedy

FOKUS, muisulsel.com — Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sulsel Prof DR AGH Faried Wadjedy MA mengisi Khutbah Jumat di Masjid Raya Makassar, Jumat (7/1/2021).

Dalam khutbahnya AGH Faried Wadjedy berpesan untuk melakukan kebaikan walau sekecil apapun. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan maka akan bernilai pahala yang besar di sisi Allah.

“Jangan pernah meremehkan kebaikan yang kecil karena boleh jadi kebaikan itu yang menyelamatkan kita di akhirat nanti,” ujar Pimpinan Ponpes DDI Mangkoso itu.

Ia mengutip firman Allah, “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Qs :An Nahl:97).

Ada beberapa petunjuk kebaikan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat,
di antaranya jangan pernah lewatkan setiap kebaikan walau sekecil apapun, berbuat baik dengan dasar keimanan, jadikan diri sebagai sumber kebaikan dan jangan membeda-bedakan jika berbuat kebaikan kepada manusia.

Imam Masjid Raya Makassar Muh Syahril S Ag M HI berharap khutbah ulama kharismatik itu difahami dan diamalkan oleh jamaah yang hadir di Masjid Raya Makassar.

Usai melaksanakan shalat Jumat AGH Faried Wadjedy bersilaturahmi dengan jajaran pengurus Masjid Raya Makassar di Sekretariat MUI Sulsel.■ irfan

The post Khutbah di Masjid Raya, Ini Pesan AGH Faried Wadjedy appeared first on MUI SULSEL.



Komisi Pemberdayaan Ekonomi MUI Sulsel Akan Gencarkan Sosialisasi Ekonomi Syariah

komisi-pemberdayaan-ekonomi-mui-sulsel-akan-gencarkan-sosialisasi-ekonomi-syariah

FOKUS, muisulsel.com — Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sulsel menggelar rapat membahas agenda shooting dakwah ekonomi syariah di RM Padang Sederhana Jln Ratulangi Makassar, Kamis (6/1/2022).

Saat ini ekonomi syariah baru dikenal di kalangan ekonomi atas saja ketimbang masyarakat biasa. Banyak masyarakat khususnya umat Islam yang belum faham dengan ekonomi syariah.

Terkadang sebagian masyarakat sudah menjalankan ekonomi syariah tapi mereka belum menyadarinya. Para dai atau mubaligh saat ini berceramah namun jarang menyentuh soal ekonomi syariah.

Hal tersebut mendasari rencana Komisi Pemerdayaan Ekonomi Ummat untuk gencarkan sosialisasi dengan memanfaatkan teknologi digital seperti perekaman konten dakwah ekonomi syariah.

Ketua Bidang Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sulsel Prof Dr Arfin Hamid SH MH berharap dengan adanya perekaman dakwah video di MUI Channel nanti bisa menyebar ke masyarakat terutama memberi pemahaman tentang ekonomi syariah kepada masyarakat luas.

“Ekonomi syariah itu bukan hanya sekedar ceramah tapi dipraktekkan atau dijalankan,” tambahnya.

Sekretaris Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sulsel H Baidillah Sahabuddin SE M Si menambahkan dalam waktu dekat ini juga akan didirikan Halal Mart sebagai wujud dari implementasi ekonomi syariah.

Baidillah berharap perekaman dakwah digital dapat menyentuh masyarakat luas terutama meningkatkan pemahaman ekonomi syariah.

Turut hadir Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sulsel, M Rusdi SSi MSi Apt, Ir Ahmad Huzaen MM, Dr Sanusi Fattah SE MSi ,H Idris K SE , Budi Kurniawan Kamrul dan Nur Alam.■ irfan

The post Komisi Pemberdayaan Ekonomi MUI Sulsel Akan Gencarkan Sosialisasi Ekonomi Syariah appeared first on MUI SULSEL.