All posts by Admin

Ini Bacaan Doa Istighatsah dan Muhasabah

JAKARTA – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan acara Muhasabah dan Istighatsah untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/1/2021) malam atau malam Jumat yang akan disiarkan langsung di chanel youtube Official TV MUI pada pukul 20.00 WIB. Ini dzikir dan doa yang akan dipimpin oleh Habib Nabil Al-Musawwa:

الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّد صلى الله عليه وآله وسلم – الفاتحة

Al Fatihah ila hadhrati Sayyidina wa syafi’ina wa nabiyyina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam – Al Fatihah

(Kami bacakan Al Fatihah ke hadirat pemimpin kami, pemberi syafa’at pd kami, dan Nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa wa alihi wasallam, Al Fatihah)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ

الإستغفار

Beristighfar 3x

لَاإلهَ إلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّا كُنْا مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inna kunna minadh dhalimiin (3x)

(Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh kami semua termasuk orang2 yang zhalim)

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

SubhaanaAllahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallahu wAllahu akbar (3x)

(Maha Suci ALLAH, Segala Puji Bagi ALLAH, Dan Tiada Tuhan selain ALLAH, ALLAH Maha Besar)

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

‘A’udzu bi kalimaatillaahit taamaati min syarri maa khalaq (3x)

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat ALLAH yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya)

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahil ladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’i wahuwas samii’ul ‘aliim (3x)

(Dengan nama ALLAH yang dengan nama-Nya tiada sesuatu pun, baik di bumi maupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.)

آمَنَّا بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِر تُبْنَا إِلَى اللهِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا

Aamannaa billaahi walyaumil aakhiri tubna ilaallahi baathinan wa dzaahiran (3x).

(Kami beriman kepada ALLAH dan kepada Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada ALLAH batin maupun dzohir)

أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ

AshlahAllahu umuural muslimiin. ShorofAllahu syarral mu’dziin. (3x)

(Semoga ALLAH memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka berbuat kejahatan).

يَا فَارِجَ الْهَمِّ، يَا كَاشِفَ الْغَمِّ، يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ

Yaa faarijal hamm, yaa kasyifal ghamm, yaa Man li’abdihi yaghfir wa yarham (3x)

(Wahai Tuhan yang melegakan dari kesusahan, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya)

لا حول ولا قوة إلا بالله 

Laa hawla walaa quwwata illaa billaah (3x)

(Tiada daya dan upaya, kecuali hanya dengan pertolongan Engkau)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيْثُ 

Yaa hayyu yaa qayyuumu birahmatika nastaghiits (7x)

(Wahai Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri, dg kasih sayang-MU kami memohon pertolongan)

يَا لَطِيْفُ

Yaa Lathiif (7x)

(Wahai Yang Maha Lembut)

يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ، اُلْطُفْ بِنا يَا لَطِيْفُ يَا عَلِيْمُ يَا خَبِيْرُ 

Yaa lathiifan bikholqihii ya ‘aliiman bikholqihii ya khobiiran bikholqihii. Ulthuf binaa yaa lathiif. Ya ‘Aliimu ya khobiir. (3x)

(Wahai Dzat Maha Lemah Lembut pada mahluk-Nya, wahai dzat yang Maha Mengetahui pada makhluk-Nya, Wahai dzat yang Maha meneliti pada makhluk-Nya, lemah lembutkanlah kami, wahai Dzat yang Maha Lembut, Maha Tahu, Lagi Maha Teliti)

يَا أمَـانَ الْخَائِـفِيْن آمـِنَّا مِمَّا نَـخَافُ, يَا أَمَـانَ الْخَائِـفِيْن سَلِّمْنا مِمَّا نَخَافُ، يا أمَـانَ الْخَائِـفِيْن نَـجِّنَا مِمَّا نَخَافُ

Yaa amaanal khoo’ifiin. Amiinnaa mimma nakhoof, Yaa amaanal khoo’ifiin sallimna mimmaa nakhoof, Yaa amaanal khoo’ifiin. Najjina mimma nakhoof (3x).

(Wahai Dzat yang mengamankan orang-orang yang takut, amankanlah kami dari apa yang kami takuti. Wahai Dzat yang mengamankan orang-orang yang takut, Selamatkan kami dari apa-apa yang kami takuti. Wahai Dzat yang mengamankan kami dari apa-apa yang kami takut, lepaskanlah kami dari apa yang kami takuti).

يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَا فِيْمَا نَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ 

Yaa lathiifan lam yazal. Ulthuf binaa fiimaa nazal innaka lathiifun lam tazal. Ultuf binaa walmuslimiin. (3x)

(Wahai Dzat yang selalu Maha Lemah Lembut, berilah kelembutan-Mu pada kami dan umat Islam)

‏يا الله

Ya ALLAH (33x)

(Wahai ALLAH)

Al Fatihah

آمِينَ

Aamiiin



Pimpin Istighatsah, Ini Pesan Habib Nabiel Almusawa

JAKARTA – Sesepuh Majelis Rasulullah yang juga Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, Habib Nabiel Almusawa, akan memimpin bacaan dzikir dan doa dalam acara Muhasabah dan Istighatsah untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/1/2021) malam atau malam Jumat. Berikut ini adalah pesan beliau untuk pemerintah dan umat Islam pada umumnya yang disampaikan di akun instagramnya.

Semua musibah itu diturunkan hanya dengan izin Allah SWT dan orang-orang yang beriman baik masyarakat maupun pemerintah wajib kembali kepada Allah SWT saat ditimpa bencana. Allah SWT berfirman, “Tak ada satu musibah pun yang menimpa seorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya ia akan memberi petunjuk pada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS At-Taghabun, 11]

Di antara penyebab turunnya musibah, sebagian besar ialah karena perbuatan manusia itu sendiri, baik ia sebagai rakyat maupun sebagai pemerintah. Maka jalan keluarnya adalah seluruhnya wajib bertaubat kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS Al-A’raf, 96]

Berdzikir, beristighfar dan beristighosah adalah salah satu cara untuk bertaubat serta kembali dan  memohon kepada Allah SWT, agar ia menghilangkan cobaan itu. Firman-Nya, “Dan Allah sekali-sekali tak akan mengazab mereka. Sedang engkau (wahai Muhammad) sedang berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) ALLAH akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [QS Al Anfal, 33)

Muhasabah dan Istighatsah disiarkan langsung melalui di akun Official TV MUI, TVRI, Inews TV,  dan beberapa chanel ormas-ormas Islam sehingga bisa diakses dan diikuti masyarakat secara luas. Live akan berlangsung tepat pada pukul 20.00 WIB.

Menurut Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi yang ditunjuk sebagai ketua panitia muhasabah dan istighatsah, kegiatan ini akan diikuti oleh Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI KH Miftachul Achyar, sejumlah menteri dan pejabat pemerintahan, dan segenap Dewan Pimpinan MUI, dan pimpinan MUI daerah yang tersambung secara virtual. (Red: Anam)



Perkembangan Ekonomi Syariah Menemukan Babak Baru, DSN MUI Diminta Terlibat Maksimal

JAKARTA — Kelahiran Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) adalah babak baru perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Itu sekaligus menandakan kehadiran serius pemerintah setelah ekonomi syariah selama ini terkesan dikembangkan masyarakat dan swasta. Dengan dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah seperti ini, Ketua Badan Pengawas DSN MUI KH. Ma’ruf Amin berharap DSN MUI memanfaatkan momen tersebut secara optimal.

“Penekanan utama (kelahiran KNEKS) ada pada penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, seperti pengembangan Kawasan Industri Halal (KIH), layanan sertifikasi halal satu atap (one stop services), dukungan ketersediaan bahan baku dan fasilitas ekspor, bahkan penguatan dukungan pemasaran ke pasar global sebagai bagian dari rantai nilai produk halal global (global halal value chain),” ungkapnya, Selasa (26/01) saat memberikan pengarahan dalam Rapat Pleno DSN MUI secara virtual.

Keterlibatan DSN tersebut, ujar Kiai Ma’ruf, salah satunya dilakukan dengan merancang program kerja yang matang. Sebelum ditetapkan, program kerja tersebut harus disesuaikan dengan babak baru ekonomi dan keuangan syariah saat ini. Salah satunya dengan membangun kerjasama lintas lembaga yang terkait, termasuk dengan pemerintah.

Kerjasama dengan pemerintah ini, menurutnya, sangat penting karena beberapa kebijakan terbaru pemerintah mendukung perkembangan ekonomi syariah. Kebijakan terbaru yang dalam waktu dekat akan merubah kondisi ekonomi syariah adalah merger (bergabung) beberapa bank BUMN syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

“Melalui merger ini, BSI akan memiliki total aset yang diperkirakan mencapai 214 triliun rupiah. Langkah ini mengangkat kemampuan dan daya saing Bank Syariah Indonesia dalam memberikan layanan, baik itu di tataran domestik atau global, untuk pengusaha kecil maupun besar,” ujar Kiai Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf menerangkan, program-program pemerintah di bidang ekonomi syariah itu tentu saja membutuhkan Fatwa DSN MUI. Agar fatwa-fatwa tersebut lebih responsif dengan perkembangan terkini, Kiai Ma’ruf berharap DSN intensif menjalin kerjasama dengan pihak terkait seperti Bank Indonesia, Otortias Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, KNEKS. Tidak kalah penting, kerjasama juga harus semakin dijain dengan Masyarakat Ekonomi Syariah maupun lembaga yang berkecimpung di keuangan dan bisnis syariah lainnya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Pusat KH. Miftachul Akhyar dalam kesempatan tersebut menyampaikan, DSN MUI akan terus menyebarkan kontribusinya. Visi mensyariahkan ekonomi masyarakat dan memasyarakatkan ekonomi syariah, menurutnya, akan terus dijunjung DSN MUI.

“Sesuai dengan visi memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat, DSN MUI akan terus berperan aktif di bidang ekonomi dan keuangan syariah. Sudah ada kerjasama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Keuangan. Kerajsama ini akan dikembangkan ke berbagai pihak,” ungkap Kiai Miftach.

Rapat Pleno DSN MUI perdana tersebut membahas program kerja DSN MUI satu tahun ke depan. Pleno tersebut juga menjadi ajang saling mengenal (ta’aruf) antarpimpinan dan anggota DSN MUI. Hadir dalam kegiatan tersebut Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua Badan Pelaksana Harian DSN MUI KH. Hasanuddin Maulana, Pimpinan Harian, dan anggota DSN MUI.

Acara dibuka dengan Laporan dan Perkenalan Pengurus DSN MUI masa khidmat 2020-2025 oleh Ketua BPH DSN MUI KH. Hasanuddin Maulana, dilanjutkan Sambutan Ketua Umum MUI Pusat oleh KH. Miftachul Akhyar dan Pengarahan oleh KH. Ma’ruf Amin.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Paparan Program Kerja DSN MUI Tahun 2021 oleh Prof. Jaih Mubarok selaku Sekretaris DSN MUI dan Pengesahan Program Kerja oleh KH. Miftachul Akhyar selaku Ketua Badan Pleno DSN MUI. (Harun/Din)



DSN MUI akan Terbitkan 9 Fatwa Keuangan Syariah Tahun Ini

JAKARTA— Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) tahun 2021 ini berencana menerbitkan sembilan fatwa terkait ekonomi dan keuangan syariah.
Rencana itu dibahas pada rapat pleno DSN MUI pertama tahun ini yang berlangsung Selasa (26/01) melalui virtual.

Selain membahas program kerja, rapat pleno tersebut juga menjadi ajang saling mengenal antarsesama pimpinan dan anggota DSN MUI yang baru.


Direktur DSN MUI Institute, AH Azharuddin Lathif, menjelaskan sembilan rencana fatwa tersebut mencakup fatwa tentang perbankan, pasar modal, industri keuangan non-bank (IKNB), serta industri, bisnis, dan ekonomi.


Fatwa tentang perbankan di antaranya fatwa tentang jizzaf (beli tebasan), pelunasan sebelum jatuh tempo (PSJT), cash financing, serta margin during construction (MDC). Fatwa tentang pasar modal terdiri dari exchange traded fund (ETF) dan securities crowdfunding.


Sedangkan fatwa terkait IKBN berisi fatwa tentang reasuransi syariah serta fatwa tentang kanal distribusi syariah. Sementara di bidang industri, bisnis, dan ekonomi syariah akan dibahas fatwa tentang koperasi syariah.


Dari sembilan rencana fatwa tersebut, Azhar mengatakan, fatwa tentang pelunasan sebelum jatuh tempo, reasuransi syariah, kanal distribusi asuransi Syariah, dan koperasi syariah kemungkinan menjadi yang paling cepat disahkan. Sebab, empat fatwa ini tinggal menunggu kajian.


“Fatwa tentang pelunasan sebelum jatuh tempo, reasuransi syariah, kanal distribusi asuransi syariah, dan koperasi syariah sudah ada draftnya, tinggal dilanjutkan kajian,” ungkapnya, Rabu (27/01) di Jakarta.


Dia menyampaikan, selain penerbitan fatwa sebagai fokus utama, DSN MUI dalam satu tahun ke depan memiliki tujuh program kerja lain.


Tujuh program kerja tersebut antara lain penyusunan Pedoman Implementasi (PI) Fatwa DSN MUI, penyusunan kajian, melaksanakan 11 kegiatan edukasi oleh DSN MUI Institute, melaksanakan 7 Kegiatan literasi dan sosialisasi, meningkatkan kualitas pelayanan di DSN MUI, meningkatkan layananan kepada Mitra DSN MUI, serta peningkatan kapasitas dan kualitas (upgrading) Dewan Pengawas Syariah (DPS) DSN MUI melalui kegiatan Workshop Pra-Ijtima’ Sanawi dan kegiatan Ijtima’ Sanawi DSN MUI (Annual Meeting). (Harun/ Nashih)



Muhasabah dan Istighatsah, Ini Cara Umat Islam Menghadapi Musibah

JAKARTA – Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH M. Cholil Nafis menyampaikan, musibah yang dialami oleh umat manusia, khususnya bangsa Indonesia yang terus tanpa henti tidak bisa hanya dipahami sebagai ujian saja. Kejadian itu mungkin juga adzab karena umat telah berbuat maksiat kepada Allah SWT. Kejadian itu juga bisa merupakan bagian dari hukum alam, karena mengikuti hukum kausalitas.

Demikian disampaikannya terkait pelaksanaan Muhasabah dan Istighatsah untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/1/2021) malam atau malam Jumat ini. Kegiatan yang dihadiri sejumlah ulama dan pejabat negara ini juga akan disiarkan langsung dan bisa diikuti oleh umat Islam melalui zoom meeting dan youtube channel di akun Official TV MUI pada pukul 20.00 WIB. Istighatsah akan dipimpin oleh Habib Nabil Al-Musawwa yang dirangkai dengan doa dari sejumlah ulama.

Kiai Cholil Nafis menyampaikan, ketiga hal tersebut baik musibah, adzab atau fenomena alam itu, semuanya berada dalam kekuasaan Allah. Oleh karena itu pihaknya mengajak kepada umat Islam mengetuk pintu langit. “Kalau kejadian itu berkenaan dengan hukum alam ya Allah berikanlah kekuatan kepada alam ini agar bencana diangkat oleh Allah,” ujarnya

“Kalau ini berkaitan dengan dosa kami Ya Allah kita bertaubat kepadamu mengajak kepada seluruh anak bangsa dan seluruh dunia untuk kita bertaubat agar Allah memberikan keselamatan kepada kita semua. Kalau itu berupa ujian, kita memohon kepada Allah agar kita diberikan kekuatan, bertambah keimananan dan ketakwaan kita,” tambahnya.

Ia menambahkan, Muhasabah dan Istighatsah yang berpusat di Majid Istiqlal ini merupakan bagian dari dakwah MUI kepada umat Islam di Indonesia khususnya untuk bersama-sama mendekatkan diri keada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana agar musibah atau azab, baik yang alam maupun non alam segera diangkat oleh ALlah SWT dari bumi Indonesia.

“MUI sebagai organisasi dari perkumpulan ormas-ormas, ulama dan cedekiawan juga ingin memberikan contoh dan mengajak agar kita semua meningkatkan doa kepada Allah sebagai senjata orang muslim dalam menghadapi segala hal, yakni dengan cara mendekatkan diri kepada Allah,” demikian Kiai Cholil Nafis. (Red: Anam)



MUI Gelar Muhasabah dan Istighatsah di Majid Istiqlal Malam Jumat Ini

JAKARTA – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengadakan acara Muhasabah dan Istighatsah untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/1/2021) malam atau malam Jumat. Kegiatan yang dihadiri sejumlah ulama dan pejabat negara ini juga akan disiarkan langsung dan bisa diikuti oleh umat Islam melalui berbagai platform media sosial.

Muhasabah dan Istighatsah disiarkan langsung melalui fasilitas zoom meeting dan youtube channel di akun Official TV MUI sehingga bisa diakses dan diikuti masyarakat luar. Live akan berlangsung tepat pada pukul 20.00 WIB. Istighatsah akan dipimpin oleh Habib Nabil Al-Musawwa yang dirangkai dengan doa dari sejumlah ulama.

Menurut Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi yang ditunjuk sebagai ketua panitia muhasabah dan istighatsah, kegiatan ini akan diikuti oleh Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI KH Miftachul Achyar, dan segenap Dewan Pimpinan MUI, dan pimpinan MUI daerah yang tersambung secara virtual.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengajak umat Islam Indonesia untuk bermuhasabah atau berintrospeksi, berkaca diri dan i’tiraf atau membuat pengakuan kepada Allah SWT bahwa kita masih berlumuran dosa, serta berzikir dan berdoa dan beristighotsah atau memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Secara khusus kegiatan ini juga terkait dengan terjadinya musibah dan bencana alam di beberapa daerah di Indonesia dalam beberapa waktu yang berdekatan. Pada saat yang sama pandemi Covid-19 juga masih belum berakhir.

“Kita memohon kepada Allah SWT untuk agar dijauhkan dari segala bala bencana dan agar Allah menurunkan keberkahan-Nya kepada umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sehinga Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur,” demikian KH Ahmad Zubaidi. (Red: Anam)



Bupati Sumedang Minta LPB MUI Edukasi Mitigasi Bencana

SUMEDANG— Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir berharap Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) MUI bisa memberikan bantuan dalam bentuk pemikiran wawasan mitigasi kebencanaan.
Bantuan seperti ini, menurutnya, penting karena wilayah Sumedang, juga wilayah Indonesia pada umumnya, sering menjadi langganan bencana alam.

Di Sumedang sendiri, tutur dia, masih banyak warga yang tinggal di jalur rawan bencana. Adanya pemberian wawasan bencana, diharapkan bisa mengantisipasi (mitigasi) bencana dengan lebih baik, sehingga tidak lagi banyak korban berjatuhan.

“Kami juga berharap LPB MUI terus bisa memberikan bantuannya dalam bentuk pemikiran dan pengetahuan, terutama kepada warga yang selama ini tinggal di kawasan rawan bencana,” ucapnya usai seremonial penyerahan bantuan LPB MUI kepada korban banjir, di Sumedang, Jawa Barat, Senin (25/1).

Dia mengatakan, saat ini ada sekitar 131 kepala keluarga di Sumedang yang akan direlokasi ke tempat aman. Meski lokasi baru tersebut sudah dinyatakan aman, namun belum semua keluarga siap untuk direlokasi.
Maka di peran MUI, menurut dia, di sini penting mengajak warga mau direlokasi di tempat aman.

“Kami terus melakukan sosialisasi kepada mereka, karena keselamatan warga merupakan tanggung jawab kami selaku kepala daerah,” ujarnya.


Menurutnya, wawasan kebencanaan seperti ini penting dilakukan untuk menekan risiko bencana jangka panjang dan komprehensif. Kontur Sumedang yang berbukit, gunung, dan lembah, membuatnya rawan longsor dan banjir. Beberapa lokasi kerap menjadi jalur langganan banjir dan tanah longsor yang menelan korban jiwa.


Banjir dan longsor di Sumedang yang terjadi pada Kamis (9/1) lalu menelan 90 korban jiwa dan puluhan bangunan mengalami kerusakan. Tanpa wawasan kebencanaan yang memadai, korban dan kerugian sebanyak ini akan terulang di masa mendatang.


“Solusi pengurangan risiko bencana jangka panjang dan komprehensif di Sumedang memerlukan sinergi berbagai pihak, termasuk LPB MUI bersama MUI Sumedang,” ujarnya. (Azhar/Nashih)



LPB MUI Pimpin Rapat Koordinasi Stakeholder Penanggulangan Bencana di Sumedang

JAKARTA — Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) MUI memimpin rapat koordinasi lintas organisasi pemangku kepentingan kebencanaan di Sumedang, Senin (25/01) malam. Selain LPB MUI, rapat koordinasi tersebut juga dipimpin Ketua MUI Sumedang KH Zainal Alimin dan Sekum MUI Sumedang KH Wawan Ridwan.

Hadir dalam koordinasi tersebut antara lain BPBD Sumedang, Kabag Kesra, Ketua PMI, KUA, serta koordinator relawan ormas Islam dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, PERSIS, Syarikat Islam, PUI, dan DMI di Sumedang. Momen ini juga dimanfaatkan LPB MUI untuk ta’aruf karena LPB MUI termasuk lembaga baru di MUI.

MUI memimpin rapat koordinasi ini selain sesuai dengan perannya sebagai rumah besar umat Islam atau pelayan umat (himayatul ummah) mitra pemerintah (shodiqul hukumah) . Koordinasi ini bertujuan agar penyaluran bencana berjalan efisien dan efektif.

“Untuk itu, MUI nanti akan mendampingi pemerataan kontribusi dan sinergi, sehingga kerjasama lintas organisasi bisa berjalan dengan baik, terarah, terukur, dan tidak tumpang tindih,” ujar Ketua LPB MUI Jafar Hafsah di Kantor Baznas Sumedang, Senin (25/01).

Rapat koordinasi antarlembaga dan relawan tersebut berlangsung secara interaktif dan dinamis. Rapat membahas tentang rencana pengelolaan bencana mulai dari Pengurangan Risiko Bencana, Tanggap Darurat Bencana, sampai Program Pemulihan Pasca Bencana.

Ketua LPB MUI Bidang Evaluasi, Monitoring, dan Pelaopran Bantuan Kemanusiaan, Rida Hesti Ratnasari mengatakan, koordinasi tersebut juga menjadi ajang taaruf LPB MUI. Masing-masing perwakilan pada pertemuan tersebut membagikan apa yang selama ini sudah dikerjakan. Mereka juga menyampaikan update kondisi terkini di lapangan.

“Pertemuan itu juga membahas tindak lanjut pertemuan dengan Bupati untuk mengarahkan langkah bersama di masa mendatang serta menggali informasi dan peluang apa yang bisa dikerjasamakan antara LPB MUI dengan organisasi relawan,” ujarnya.

“LPB MUI ingin melakukan langkah terarah dan terukur, sehingga setelah pertemuan ini, ada kelanjutan dengan jalinan komunikasi kondisi penyintas bencana,” imbuhnya.

Sebelumnya, pada Senin (25/01) siang, LPB MUI telah menyerahkan bantuan barang senilai seratus juta rupiah untuk korban terdampak banjir dan tanah longsor di Sumedang. Barang-barang tersebut berupa masker, face shield, hand sanitizier, westafel portabel, serta peralatan untuk dapur umum.

Banjir dan Longsor di Cimanggung, Sumedang, terjadi pada hari Kamis 9 Januari 2021. Bencana itu mengakibatkan 40 orang meninggal dunia, puluhan bangunan rusak, sehingga seribu lebih masyarakat harus mengungsi ke tempat aman. Banjir dan longsor ini juga membuat 314 kepala keluarga harus direlokasi ke tempat aman. (Azhar/Din)



LPB MUI Serahkan Bantuan Senilai Rp 100 Juta untuk Korban Longsor Sumedang

JAKARTA — Lembaga Penanggulangan Bencana Majelis Ulama Indonesia (LPB MUI) menyerahkan bantuan senilai seratus juta rupih untuk korban terdampak Banjir dan Tanah Longsor di Cimanggu, Sumedang. Ketua LPB MUI Jafar Hafsah menyerahkan langsung bantuan tersebut di Gedung Negara, Komplek Bupati Sumedang, Jawa Barat.

Jafar mengatakan, bantuan yang diberikan ini merupakan amanat umat sehingga harus disampaikan kepada warga yang terdampak bencana di Kabupaten Sumedang.

“Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi kami berharap bantuan ini dapat diterima dan dapat segera disalurkan kepada warga yang terdampak bencana,” ungkapnya di hadapan Bupati Sumedang, Senin (25/01).

Ketua LPB MUI Bidang Evaluasi, Monitoring, dan Pelaporan Bantuan Kemanusiaan, Rida Hesti Ratnasari memaparkan, bantuan senilai 100 juta tersebut berwujud barang. Barang-barang tersebut seperti masker, face shield, hand sanitizier, westafel portabel, serta peralatan untuk dapur umum.

“Kami memberikan bantuan dalam wujud barang sesuai dengan kebutuhan terkini bagi warga yang terdampak,” ujarnya.

Banjir dan Longsor di Cimanggu terjadi pada hari Kamis 9 Januari 2021. Bencana itu mengakibatkan 40 orang meninggal dunia, puluhan bangunan rusak, sehingga seribu lebih masyarakat harus mengungsi ke tempat aman.

Banjir dan longsor ini juga membuat 314 kepala keluarga harus direlokasi ke tempat aman. Sebab, selama ini lokasi mereka tinggal termasuk jalur rawan bencana. (Azhar/Din)



MUI Dukung Sekuat-kuatnya Gerakan Wakaf Uang

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung Gerakan Nasional Wakaf Uang dan Brand Ekonomi Syariah yang telah diluncurkan di Jakarta, Senin (25/01/2021). Peluncuran dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo selaku Ketua Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin selaku Ketua Harian KNEKS serta dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) M. Nuh.

“Kami mengucapkan selamat dan terimakasih kepada seluruh gubernur, menteri dan para penggerak ekonomi syariah, termasuk di dalamnya Gerakan Nasional Wakaf Uang dan Brand Ekonomi Syariah. Majelis Ulama Indonesia mendorong dan mendukung sekuat-kuatnya dari pengurus pusat sampai daerah untuk kiranya wakaf uang ini bisa berjalan dengan baik,” kata Wakil Ketua Umum MUI KH Marsyudi Syuhud.

Para penggerak wakaf uang, demikian Kiai Marsyudi Syuhud, telah meninggalkan legasi yang akan disaksikan oleh Allah, Rasulnya dan umat Islam sedunia. Sementara para wakif atau orang-orang yang mewakafkan uang akan mendapatkan pahala yang tiada putusnya.

Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) M. Nuh dalam kesempatan itu mengatakan, peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang dan Bran Ekonomi Syariah ini hanyalah pekerjaan awal. “Sesuai namanya ‘gerakan’ kita harus bergerak semua di semua lini,” katanya.

Presiden Jokowi sebelumnya menyampaikan, potensi wakaf di Indonesia cukup besar, termasuk di antaranya dalam bentuk uang. “Potensi aset wakaf pertahun mencapai Rp.2.000 triliun dan potensi wakaf uang bisa menembus angka Rp 188 triliun,” katanya.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengatakan, potensi tersebut dapat memberikan nilai manfaat lebih banyak, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Anam)



Gerakan Nasional Wakaf Uang Resmi Diluncurkan

JAKARTA— Gerakan Nasional Wakaf Uang resmi diluncurkan di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/1). Peluncuran dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin bersamaan dengan peresmian Brand Ekonomi Syariah Tahun 2021.

Jokowi mengatakan tahun ini Pemerintah akan terus mencari jalan dan menemukan terobosan untuk mengurangi ketimpangan sosial dalam rangka mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air. Salah satunya adalah melalui pemanfaatan wakaf.

“Saya telah berkali-kali menyampaikan, menekankan pentingnya redistribusi aset, kemudian juga yang berkaitan dengan perluasan akses permodalan, kemudian juga penguatan keterampilan dan perubahan budaya dalam mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial. Salah satu langkah terobosan yang perlu kita pikirkan adalah pengembangan lembaga keuangan syariah yang dikelola berdasarkan sistem wakaf,” ujarnya.

Presiden mengungkapkan, potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak termasuk wakaf dalam bentuk uang. Potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp2.000 triliun dan potensi wakaf uang dapat menembus angka Rp188 triliun.

“Oleh karena itu, kita perlu perluas lagi cakupan pemanfaatan wakaf, tidak lagi terbatas untuk tujuan ibadah tetapi dikembangkan untuk tujuan sosial-ekonomi yang memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, Presiden menyambut baik peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat rasa kepedulian dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial di Indonesia.
Wapres KH Ma’ruf Amin selaku Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), mengatakan GNWU merupakan salah satu program pengembangan ekonomi syariah yang bertujuan mendukung percepatan pembangunan nasional.

“Saat ini, berbagai program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah terus didorong untuk diimplementasikan secara terintegrasi melalui sinergi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik kementerian atau lembaga anggota KNEKS maupun institusi lainnya,” katanya.

Dia mengatakan, peluncuran ini menandai dimulainya transformasi pelaksanaan wakaf yang lebih luas dan modern. Hal tersebut ditandai dengan dua transformasi utama yaitu terkait jenis wakaf dan pembenahan tata kelola wakaf.

“Pertama, sesuai Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf, harta benda wakaf diperluas tidak hanya benda tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, tetapi juga meliputi benda bergerak berupa uang dan benda bergerak selain uang seperti kendaraan, mesin, logam mulia, dan surat berharga syariah,” tutur Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.

Kedua, kata dia, pembenahan tata kelola pemangku kepentingan wakaf benda bergerak yang dalam kesempatan ini dimulai dengan pembenahan tata kelola wakaf uang sebagai salah satu bentuk wakaf produktif. Pembenahan tata kelola ini diinisiasi KNEKS dan Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Sebagai awal pembenahan, Bank Syariah Mandiri akan bertindak sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) dan Mandiri Manajemen Investasi sebagai pengelola dana wakaf yang Produknya dinamakan ‘Wakaf Uang Berkah Umat’.

“Pembenahan pengelolaan wakaf uang yang lebih profesional dan modern diharapkan akan mendorong pengerahan secara serentak sumber daya ekonomi yang dapat digunakan mendorong investasi dan kegiatan ekonomi di masyarakat,” ujar Wapres.

Di sisi lain, mengingat wakaf biasanya dilakukan mereka yang mapan secara sosial dan ekonomi, maka pengelolaan wakaf yang profesional diharapkan akan menarik minat pewakaf (wakif) kelas menengah atas seperti korporasi, individu pemilik aset besar, sosialita, dan tidak ketinggalan para milenial.

“Dengan semakin banyak masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan wakaf, diharapkan dapat dikembangkan berbagai program dan kegiatan untuk memberdayakan masyarakat termasuk umat. Dengan demikian, dapat membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sehingga berdampak pada menurunnya kemiskinan dan ketimpangan,” urai Wapres.

Dia menyebutkan, pengelolaan wakaf uang perlu didukung dengan diperbanyaknya kanal-kanal penerimaan wakaf uang, terutama dengan mengaktifkan peran Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS –PWU), yaitu bank-bank syariah dan lembaga keuangan mikro syariah. Lembaga keuangan mikro syariah ini dapat digunakan sebagai tempat penerimaan wakaf uang berbasis masyarakat.

“Sehingga, keberadaan dan peran aktif lembaga keuangan mikro syariah harus menyebar merata untuk melayani masyarakat yang ingin berwakaf di seluruh Indonesia,” ujar dia.

Presiden didampingi oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Acara ini juga dihadiri secara tatap muka maupun virtual oleh sejumlah pihak, antara lain Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, dan Ketua Badan Wakaf Indonesia. Hadir juga para Gubernur di seluruh Indonesia, Ketua Kamar Dagang Indonesia, serta sejumlah tokoh masyarakat maupun tokoh agama. (Nurul/ Nashih)



LPB MUI Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor Sumedang

JAKARTA — Lembaga Penanggulangan Bencana Majelis Ulama Indonesia (LPB-MUI) melakukan penyaluran bantuan logistik ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat untuk meringankan beban korban tanah longsor. Tim penyaluran bantuan diberangkatkan dari kantor MUI pusat menuju Sumedang pada pukul 08.30 WIB menggunakan kendaraan darat MUI.

Ketua tim penyaluran, Rida HR Salamah memaparkan bahwa tim dari LPB MUI hari ini melakukan penyaluran ke Sumedang dengan membawa bantuan alat personal hygine yang merupakan kebutuhan mendesak bagi para penyintas longsor dan banjir. Bantuan meliputi masker, hand sanitizer, face shield, dan juga wastafel portable.

“Sebelum berangkat, kita melakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan lapangan terutama kebutuhan yang mendesak, dan kebutuhan mereka saat ini adalah alat perlindungan diri dan sanitasi, mengingat ini juga masih masa pandemi,” ungkap dia saat dihubungi melalui telepon selular, Senin (25/01) pagi.

Ia menuturkan bahwa dalam proses penyaluran ini, selain bersama MUI Sumedang dan Jabar, tim LPB MUI juga bersinergi dengan ormas dan lembaga kebencanaan di Sumedang. Tak hanya itu, LPB MUI juga diterima oleh bupati Sumedang untuk melaksanakan diskusi terkait pemenuhan hal-hal yang menjadi prioritas bagi penyintas longsor dan banjir Sumedang yang terjadi 9 Januari lalu.

Diketahui, 131 kepala keluarga (KK) korban yang rumahnya berlokasi di wilayah merah longsor direlokasi dan akan mendapat hunian tetap baru yang lebih aman dan jauh dari area rawan longsor. Selama pembangunan hunian tetap berlangsung, LPB MUI berkolaborasi dengan beberapa pihak akan mengusahakan pemenuhan kebutuhan para korban.

“Kita bersama akan merumuskan langkah-langkah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat penyintas. Sambil menunggu pembangunan hunian tetap selesai, kita akan mengkoordinir kebutuhan masyarakat, jadi tidak hit & run,” jelas dia.

Selain Rida, terdapat pula pimpinan LPB MUI, KH. Ahmad Jakfar Habsa bersama KH Marsudi Syuhud, dan 1 orang anggota lembaga, Nasrul Umam yang ikut berangkat menuju lokasi bencana alam tersebut. (Nurul/Din)



Ketua MUI Bidang Fatwa Maudhuiyah, KH. Afifuddin Muhajir, Terima Doktor Honoris Causa dari UIN Semarang

JAKARTA — Ketua MUI Bidang Fatwa Maudhuiyah dan Metodologi menerima Doktor Honoris Causa (Kehormatan) Bidang Ushul Fiqih dari UIN Walisongo Semarang. Penganugerahan tersebut dilaksanakan Rabu (20/01) pagi di UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

Semula, penyelenggaraan ini dilaksanakan pada Rabu, 16 Desember 2020 lalu namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya dilaksanakan hari ini. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Said Agil Husein Al Munawwar bertindak sebagai promotor sedangkan Rektor UIN Semarang Imam Taufiq bertindak sebagai Co-Promotor.

Rektor UIN Semarang, Imam Taufiq, menyampaikan bahwa penganugerahan gelar doktor honoris causa (kehormatan) dilakukan dengan pertimbangan matang. Dari sisi akademik, penganuegrahan ini melalui proses seleksi dan uji akademik serius.

“Penganugerahan gelar doktor honoris causa ini merupakan wujud komitmen UIN Walisongo Semarang dalam memberikan apresiasi kepada putera puteri terbaik bangsa yang telah benar-benar berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia secara menyeluruh baik dalam tataran teoritis maupun praktis,” paparnya Rabu (20/01) di Semarang.

Menurutnya, tidak ada yang meragukan kapasitas Kiai Afifuddin Muhajir. Latar belakang beliau sebagai ulama, dosen, akademisi, wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, Rais Syuriah PBNU, dan Ketua MUI Bidang Fatwa Maudluiyah dan Metodologi membuktikan itu.

Dia mengatakan, Kiai Afifuffin Muhajir memiliki dedikasi tinggi dalam membumikan pemikiran Islam khususnya di bidang hukum Islam secara dinamis dan terbuka. Ini sesuai dengan kebijaksanaan dan kepribadian bangsa Indonesia.

“Maka menjadi kehormatan bagi UIN Walisongo Semarang, khususnya Fakultas Syariah dan Hukum. Kami sungguh mendapatkan model fikih yang responsif terhadap problematika masyarakat kontemporer, yang tidak hanya terbatas pada persoalan ibadah, akan tetapi menjangkau bidang sosial dan politik, khususnya terkait relasi agama dan negara,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Afifuddin menyampaikan makalah berjudul Al Jumhuriyatul Indonesiyah al muwahhadah fi mizanis syariati Dirasatun an banjasila fi dhuin nushushi wal maqashid. Dalam makalah berbahasa arab tersebut, beliau menyampaikan tentang fokus kajian ushul fiqihnya selama ini yaitu tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila sebagai dasar dalam neraca atau pandagan teks syariah dan tujuan syariah.

Ada empat inti yang disampaikan Kiai Afif. Pertama, Pancasila sebagai dasar negara sah menurut pandangan syariat Islam. Sebagai dasar negara, Pancasila juga bukan penghalang terhadap penerapan syariat Islam di Indonesia.

Yang unik, beliau menyampaikan bahwa sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa ternyata memiliki arti yang lebih dalam daripada sila pertama yang termuat pada piagam Jakarta. Sebab, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut adalah cerminan tauhid sebagai pilar akidah Islam.

Konsekuensi dari disepakatinya sila pertama itu, maka tidak boleh ada peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa maupun sila-sila yang lain. (Azhar/Din)



Fatwa MUI No 02 Tahun 2021 tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Sciences, Co. Ltd China dan PT Biofarma

Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid 19 Dari Sinovac Bio Farma

Link Download : https://mui.or.id/wp-content/uploads/2021/01/Fatwa-MUI-Nomor-2-Tahun-2021-tentang-produk-vaksin-covid-19-dari-Sinovac-Bio-Farma.pdf



MUI Serukan Muhasabah Nasional Respons Musibah Awal Tahun

JAKARTA— Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia, Amirsyah Tambunan, menyerukan segenap anak bangsa melakukan muhasabah nasional karena beruntunnya musibah yang menimpa Indonesia, mulai dari longsor di Sumedang, banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Sulawesi Barat dan erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.

“Ini momentum bagi kita semua untuk muhasabah sekaligus juga saling bahu membahu dalam doa maupun donasi,” pinta Sekjen MUI, Selasa (19/1) di Jakarta.

Seruan Sekjen MUI ini disampaikan sebagai respons musibah berupa bencana alam bertubi-tubi yang melanda Indonesia pada awal 2021. Tak hanya bencana alam, musibah kecelakaan pesawat Sriwajaya Air SJ182 juga mengawali kisah tragis pembuka tahun.

Amirsyah mengatakan, seruan muhasabah ini tidak hanya berlaku untuk umat muslim, tetapi juga umat beragama lainnya. Hal ini penting sebagai ikhtiar, doa dan tawakkal agar bangsa Indonesia dijauhkan dari mara bahaya.

“Muhasabah harus dilakukan secara jernih diiringi dengan permintaan ampunan kepada Allah SWT,” katanya.

Dia menambahkan, Indonesia sebagai negara beragama, sudah sepatutnya selalu mengembalikan berbagai cobaan dan musibah kepada Tuhan yang Maha Esa. Tentu ini mesti diiringi dengan perilaku umat manusia yang tidak merugikan diri sendiri, orang lain, dan alam sekitar.

“Kita harus jujur mengakui bahwa kerusakan di muka bumi ini juga akibat ulah manusia yang merusak keseimbangan alam. Oleh karena perilaku tidak terpuji itu, sudah semestinya segera diakhir agar bisa membawa berkah bagi semuanya,” pinta Sekjen.

Amirsyah mengajak segenap umat Islam melakukan doa di lokasi masing-masing, mendoakan para korban bencana. Salah satunya dengan melakukan sholat ghaib bagi korban yang meninggal dunia serta memohon keselamatan untuk bangsa dan negara.

Untuk meringankan beban korban terdampak bencana itu, Amirsyah menyerukan umat Islam dan seluruh elemen bangsa untuk saling bahu-membahu memberikan bantuan dalam bentuk apapun.

Dia pun mengapresiasi gerak cepat semua pihak membantu saudara sebangsa dan se-tanah air, yang tertimpa musibah.

“Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha-Esa, membalas kebaikan semua pihak atas amal salehnya,” ujar dia.

Bencana alam menimpa sejumlah wilayah Indonesia awal 2021. Longsor di Sumedang. Hingga Senin (18/1), total korban meninggal dunia akibat longsor di Sumedang itu berjumlah 38 orang, dua orang lainnya yang masih dalam pencarian. Bencana itu juga mengakibatkan 29 rumah rusak, 26 di antaranya rusak berat dan ribuan orang mengungsi.

Selain longsor, banjir juga melanda sejumlah wilayah Kabupaten/Kota yang dilanda banjir antara lain Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, kota Tanah Laut, Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Batola.

Data sementara yang dihimpun BNPB, korban meninggal dunia akibat peristiwa itu sebanyak 15 orang, hingga 112.709 orang mengungsi.

Sementara gempa yang melanda Provinsi Sulawesi Barat, BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa itu mencapai 84 orang per Senin (18/1).

Sebanyak 679 orang mengalami luka ringan dan 253 orang luka berat.
Pasca gempa, BNPB juga mencatat sebanyak 19.435 jiwa mengungsi. Jumlah itu terbagi di Kabupaten Majene 4.421 jiwa dan di Kabupaten Mamuju terdapat 15.014 jiwa.

Aktivitas gunung berapi juga muncul pada awal tahun ini. Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG) dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 kilometer pada Sabtu (16/1) pukul 17.24 WIB. (Mabroer)



Telaah Vaksinasi : Dari Sejarah Hingga Hukumnya

Oleh : Abdul Muiz Ali
(Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat)

Membicarakan soal vaksin atau kemudian mendiskusikan soal vaksinasi, belakangan ini selalu menjadi topik diskusi yang banyak dibicarakan oleh semua kalangan. Para pakar dari kalangan dokter ataupun akademisi banyak membicarakan soal vaksin dilihat dari aspek material dan penggunaanya. Sedangkan kalangan santri dan Kiai (ulama) juga membicarakan soal vaksin dilihat dari perspektif fiqih. Sebelum sidang pleno Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan fatwa tentang suci dan halalnya vaksin Sinovac, pada 8 Januari 2021 yang lalu, pemberitaan soal vaksin banyak dimuat dibeberapa media maintream internasional, khususnya media Arab ataupun Timur Tengah. Dalam salah satu portal media Arab terdapat judul berita jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi; “Indonesia Menunggu Fatwa Soal Vaksin untuk Melawan Corona”.

Sejarah Vaksin

Bangsa Barat mempercai bahwa vaksin ditemukan pada sekitar abad ke-17 (tahun 1600-an). Pada saat itu masyarakat Eropa dan belahan dunia lainnya dihadapakan pada penyakit ganas, menular dan mematikan (wabah), yaitu cacar nanah yang disebabkan oleh virus Smallpox. Disebutkan, pada saat itu, ±400.000 orang di Eropa meninggal dunia setiap tahun karena Smallpox. Merujuk pada History of Vaccini, orang Eropa yang pertama kali menemukan teori vaksin adalah Edward Janer, dokter asal Inggris yang lahir di Britania Raya tahun 1749. Dia dikenal dengan sebutan “bapak imunologi “. Edward Jener disebut sebagai orang yang memelopori konsep vaksin termasuk menciptakan vaksin cacar, yang katanya vaksin pertama di dunia. Pertama kali menemukan penemuan vaksin sekitar tahun 1796.

Apakah Edward Jener adalah “orang pertama” yang membicarakan tentang penyakit cacar berikut cara pencegahannya?

Tentu jawabannya tidak. Pada zaman keemasan Islam, ada tokoh Muslim yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi. Orang Barat atau Eropa menyebutnya dengan panggilan Rhazes. Syaikh Abu Bakar ar-Razi hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran Iran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad.

Muhammad bin Zakariya ar-Razi dalam kitabnya Al-Judari wa Al-Hasbah, yang artinya ‘Penyakit Cacar dan Campak’, menulis secara rinci soal penyakit cacar (Smallpox) dan campak (Measles). Satu jenis penyakit atau wabah menular, ganas dan mematikan.

Imam ar-Razi menyebutkan bahwa, “Cacar (smallpox) muncul ketika darah terinfeksi dan mendidih, yang menyebabkan pelepasan uap. Pelepasan uap inilah yang menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil berisi cairan darah yang matang.

Penyakit ini bisa menimpa siapa saja, baik pada masa kanak-kanak maupun dewasa. Hal terbaik yang bisa dilakukan pada tahap awal penyakit ini adalah menjauhinya. Jika tidak, maka akan terjadi wabah.”

Yang menarik kitab Al-Judari wa Al-Hasbah ini ditulis sekitar abad ke-9, hampir seribu tahun sebelum vaksin cacar dan campak ditemukan. Dan Al-Razi secara jelas mendeskripsikan bahwa penyakit ini menimbulkan wabah, menular lewat darah, dapat menyerang anak-anak maupun dewasa.

Vaksin Sinovac Suci, Halal dan Aman

Merujuk hasil Fatwa MUI No 2 Tahun 2021, bahwa Vaksin Covid-19 produk Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dapat dihukumi halal dengan empat alasan sebagai berikut;

Pertama, dalam proses produksinya, tidak memanfaatkan (intifa’) babi atau bahan yang tercemar babi.

Kedua, dalam prosesnya tidak memanfaatkan bagian anggota tubuh manusia (juz’ minal insan).

Ketiga, meskipun dalam prosesnya bersentuhan dengan barang najis tingkat ringat (mutawassithah), sehingga dihukumi mutanajjis, akan tetapi sudah dilakukan pensucian yang telah memenuhi ketentuan pensucian secara syar’i (tathhir syar’i).

Keempat; Menggunakan fasilitas produksi yang suci dan hanya digunakan untuk produk vaksin Covid-19.

Selain hal diatas, peralatan dan pensucian dalam proses produksi vaksin di PT. Bio Farma (Persero) dipandang telah memenuhi ketentuan pencucian secara syar’i (tathhir syar’i).

Hal tersebut, juga dikuatkan dengan keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dan jaminan keamanan (safety), mutu (quality), serta kemanjuran (efficacy) bagi Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co.Ltd. China yang menjadi salah satu indikator bahwa vaksin tersebut memenuhi kualifikasi thayyib.

Penting juga dipahami oleh kita adalah, bahwa yang dimaksud dalam Fatwa MUI No 2 tahun 2021 adalah vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dengan nama produk yang didaftarkan sebanyak tiga nama, yaitu (1) CoronaVac, (2) Vaksin Covid-19, (3) Vac2Bio. Bukan nama vaksin lain yang belum ditetapkan suci dan halal oleh MUI. Ada dua poin penting dalam ketentuan hukum pada Fatwa MUI No 2 tahun 2021; Pertama; vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China hukumnya suci dan halal. Kedua; vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China sebagaimana diatas hanya boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten.

Menjaga Kesehatan

Dalam ajaran Islam menjaga kesehatan (hifzu al-Nafs) atas diri sendiri dan orang lain termasuk salah satu dari lima prinsip pokok (al-Dhoruriyat al-Khomsi). Vaksinasi sebagai salah satu tindakan medis (min Babi ath-Thibbi al-Wiqoi) untuk mencegah terjangkitnya penyakit dan penularan Covid-19. Menjaga kesehatan, dalam prakteknya dapat dilakukan melalui upaya preventif (al-Wiqoyah), dimana salahsatu ikhitiarnya dapat dilakukam dengan cara vaksinasi termasuk perbuatan yang dibenarkan dalam Islam.

Dalam kaidah fikih disebutkan, “Bahaya (al-Dharar) harus dicegah sedapat mungkin”.

Tentang pentingnya menjaga kesehatan dari serangan wabah dapat kita lihat dari beberapa dalil sebagai berikut ;

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا خُذُوۡا حِذۡرَكُمۡ

Wahai orang-orang yang beriman! Bersiapsiagalah kamu (QS. al-Nisa :71)

وَلۡيَاۡخُذُوۡا حِذۡرَهُمۡ وَاَسۡلِحَتَهُمۡ

Dan hendaklah mereka bersiapsiaga dan menyandang senjata mereka’.. (QS. Al-Nisa : 102).

Allah Subhanahu Wata’ala melarang kepada kita agar tidak menjatuhkan diri dalam kebinasaan,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan… (QS Al-Baqarah [2]: 195)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita agar senantiasa menjaga imunitas atau kekebalan tubuh kita dengan cara mengkonsumi kurma Ajwah.

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Dalam hadis juga disebutkan,

قَالَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla.” (HR Muslim)

Pendapat Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labib, (1/223-224):

وخذوا حذركم أي احترزوا من العدو ما استطعتم لئلا يهجموا. عليكم. وهذه الآية تدل على وجوب الحذر عن جميع المضار المظنونة، وبهذا الطريق كان الإقدام على العلاج بالدواء والاحتراز عن الوباء وعن الجلوس تحت الجدار المائل واجبا.

Bersiapsiagalah kalian. Jagalah diri kalian dari musuh sesuai kemampuan supaya mereka tidak menyerangmu. Ayat ini menunjukkan kewajiban menjaga dari seluruh dugaan bahaya. Dengan demikian, terapi pengobatan, menjaga dari wabah serta tidak duduk dibawah tembok yang akan roboh adalah wajib

Imam al-Qasthalani dalam kitab Irsyadu al-Sari (7/96) menjelaskan mengenahi ayat al-Quran surat al-Nisa ayat 102;

إن كان بكم أذى من مطر أو كنتم مرضى أن تضعوا أسلحتكم [النساء: 102] فيه بيانُ الرخصةِ في وضْعِ الأَسْلِحةِ إنْ ثَقُل عليهمْ حَمْلُها بِسببِ مَا يَبُلُّهُم مِن مطرٍ أوْ يُضْعِفُهمْ مِن مرَضٍ وأمَرَهُمْ معَ ذلك بِأخذِ الحذْرِ لِئلا يَغْفَلوا فيَهجُمُ عليهمُ العدوُّ، ودلَّ ذلك على وُجوْبِ الحذرِ عن جميعِ المضارِّ المظنونةِ، ومِنْ ثَمَّ عُلِم أنَّ العلاجَ بالدواءِ والاحْترازَ عنِ الوباءِ والتحرُّزَ عن الجلوسِ تحتَ الجدارَ المائلَ واجبٌ.

“(Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit) (al-Nisaa:102). Di dalam ayat ini adanya keringanan untuk meletakkan senjata saat para pasukan terbebani dengan bawaan, seperti dalam keadaan basah kuyup kehujanan atau karena sakit. Meskipun demikian mereka tetap harus waspada terhadap musuh. Ayat tersebut juga menunjukkan wajibnya menjaga kewaspadaan dari segala bahaya yang akan datang. Dari sinilah difahami bahwa berobat dengan obat dan menjaga diri dari wabah penyakit serta menghindari dari duduk-duduk di bawah dinding yang miring adalah wajib”.

Perihal kebolehanya mengkonsumi obat yang bertujuan untuk menguatkan stamina dapat kita lihat penjelasanya dalam kitab I’anah Ath-Tholibin (3/316);

ويندب التقوي له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية ومع قصد صالح، كعفة ونسل، لأنه وسيلة لمحبوب فليكن محبوبا

“Disunnahkan meningkatkan imunitas tubuh/daya tahan tubuh dengan menggunakan obat-obatan yang boleh dikonsumsi dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan medis dan disertahi dengan tujuan yang baik, seperti menjaga kehormatan dari perbuatan hina (iffah), dan memperbaiki keturunan. Karena meningkatkan imunitas tubuh/daya tahan tubuh (al-Taqawwi) menjadi sarana (wasilah) untuk tercapainya hal-hal yang terpuji, maka hukum meningkatkan daya tahan tubuh (taqawwi) termasuk perbuata yang terpuji”.

Dari penjelasan diatas dapat kita pahami, bahwa mengikuti program vaksinasi yang bertujuan untuk menjaga kekebalan tubuh dalam situasi pandemi Covid-19 termasuk perbuatan yang dibenarkan dalam Islam.

Penulis:
Abdul Muiz Ali
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat