Tag: keluarga

  • Pernikahan adalah Perjanjian Suci kepada Allah SWT

    Oleh: Prof KH Maruf Amin, Wakil Presiden RI yang sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بسم الله الرحمن الرحيم
    الحمد لله الذي خلق من الماء بشرا فجعله نسبا وصهرا والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد أرسله الله إلينا بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله بإذنه وسراجا منيرا وعلى آله وأصحابه الذين فصلهم الله فضلا كبيرا
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bismillahirrahmanirrahim.

    Pernikahan sangat penting dan krusial. Di dalam Islam disebut sebagai mitsaqan ghalidhan ميثاقا غليظا, perjanjan yang kuat, kesepakatan yang kuat. Jadi, ketika Anda mengucapkan “Saya terima nikahnya,” itu terjadi suatu perjanjian yang kuat. Kelihatannya seperti Anda berjanji kepada istri Anda, tetapi sesungguhnya perjanjian itu adalah perjanjian Anda dengan Allah SWT. Karena itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan:
    اتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ
    “Hati-hati terhadap perempuan itu. Kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan menghalalkan untuk menggaulinya dengan kalimat Allah. Jadi itu suatu peristiwa penting.”

    Ada tiga perjanjian kuat yang diabadikan dalam Alquran selain perjanjian pernikahan terebut yaitu yang pertama, antara Allah SWT dengan Bani Israil untuk tidak melanggar. Pada hari Sabtu ketika dilanggar, kemudian dikutuklah mereka.

    Yang kedua, perjanjian Allah SWT yang ditujukan kepada para nabi-Nya:
    وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا۝
    “Saya telah mengambil perjanjian dengan para nabi, dengan kamu Muhammad, dengan Nuh, dengan Ibrahim, dengan Musa, yaitu perjanjian yang kami ambil adalah perjanjian yang kuat.”

    Jadi, pernikahan antara suami-istri itu dianggap seperti perjanjian antara Allah dengan para nabi untuk menjalankan tugas-tugas kenabian, dan kalian untuk menjalankan tugas kemasyarakatan. Ini namanya mitsaqan ghalidhan ميثاقاغليظا.

    Saya menganggap perjanjian kita sebagai bangsa Indonesia ketika pendiri negara ini melakukan kesepakatan nasional, konsensus nasional, saya juga menganggap itu adalah mitsaqan gholidhan ميثاقاغليظا, perjanjan yang kuat, yang tidak boleh ditinggalkan, dirusak.

    Yang kedua, perkawinan ini melahirkan keluarga. Keluarga adalah صورة مصغرة من المجتمع (shuratun mushaggharah minal mujtama), gambar yang diperkecil, miniatur dari masyarakat, dari bangsa. Artinya, cerminan dari pada bangsa itu ada di keluarga. Kalau keluarga baik, bangsa baik, masyarakat baik. Kalau keluarga tidak baik, maka masyarakat tidak baik, bangsa tidak baik. Karena itu, penting sekali membangun keluarga yang baik itu.

    Itulah sebabnya maka saya nasihatkan supaya pertama, yang utama dulu, luruskan niat kalian untuk menikah ini supaya niatnya, nikahnya berpahala. Sebab dalam Islam banyak amalan kelihatannya amal duniawi, tapi dia menjadi amal akhirat. Dia berpahala, termasuk nikah.

    Termasuk kita mencari rezeki, termasuk kita berjuang dalam berbagai kegiatan sosial, politik, dan ekonomi. Kalau dengan niat yang baik, maka dia menjadi amal akhirat dan berpahala. Sebaliknya, banyak amal tampaknya akhirat, tapi dia menjadi amal dunia, tidak berpahala, bahkan bisa menjadi maksiat kalau niatnya jelek.

    Berdakwah, berjuang dalam soal keagamaan, tapi niatnya tidak ikhlas, niatnya untuk duniawi, niatnya untuk kemasyhuran, popularitas, dia bukan tidak sampai berpahala tapi juga maksiat kepada Allah SWT. Oleh karena itu, niatkan sekarang, menjalankan ibadah mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

    Bagi pengantin lama, yang dulu niatnya belum beres, (para tamu tertawa), saya minta diperbarui niatnya sekarang. Namanya tajdidun niat, memperbarui niat, dan memperbaiki niatnya. Insya Allah sisanya berkah (para tamu mengamini).

    Yang kedua, terimalah istri Anda dengan segala kekurangan dan kelebihan, terimalah suami Anda dengan segala kekurangan dan kelebihan. Tidak ada suami ideal tanpa cacat, tidak ada. Istri yang sempurna tanpa cacat, tidak ada. Pasti ada sesuatu yang kita sukai, tapi ada juga sesuatu yang nyebelin (hadirin kembali tertawa). Waktu kita sebel, ingat yang kita sukai (hadirin kembali tertawa), sehingga imbang, itu tuntunan Nabi Muhammad SAW begitu. Kalau kamu melihat sesuatu yang tidak suka, pasti ada yang kamu sukai.

    Perempuan itu ada yang kalau ngomong susah, sepekan sekali tidak bunyi (para tamu tertawa). Tapi ada perempuan yang kalau ngomong kayak petasan (tertawa). Tidak sama, tidak sama. Terimalah apa yang kaya petasan, apa yang kaya Malaikat Malik. Malaikat Malik itu malaikat yang tidak pernah senyum. Terima.

    Yang ketiga, jadikan rumah tangga Anda rumah tangga yang sakinah, yang harmonis. Yang harmonis itu pertama harus ada mawaddah, mawaddah saling mencintai. Kalau tidak ada cinta, tapi cinta itu biasanya tidak lama (para tamu kembali tertawa), kalau sudah lama itu, makanya itu katanya, bahasa arab mengatakan musim madu, يوم العسل yaumul ‘asl, itu baru-baru [menikah]. Lama-lama jadi يوم البصل yaumul bahsal, hari bawang, hari bawang itu artinya suka mengeluarkan air mata, kan pakai bawang itu kan. Jadi madu bisa jadi bawang. Yang kedua, rahmat, kasih sayang. Nah, ini yang awet, kasih sayang. Kalau kasih sayang itu awet.

    Nah, yang ketiga حسن التفاهم husnu tafahum, saling pengertian. Kalau saling pengetian tidak akan ada konflik. Saya punya cerita, ada orang tidak pernah konflik rumah tangganya, istrinya itu ingin sekali-sekali konflik, rasanya konflik seperti apa? Dibuatkan suaminya itu tangan kanannya panjang-lebar, tangan kirinya pendek-sempit, eh terbalik, tangan kanannya yang sempit, tangan kirinya yang lebar. Istrinya bilang, “Nanti kalau dipakai suami saya, pasti suami saya marah.”

    Nah, mulailah terjadi konflik. Begitu dipakai suaminya bilang, “Istri saya kok pintar sekali,” katanya, “Saya ini tukang nulis jadi ininya sempit, jadi kalau nulis enak,” (tertawa). Habis tulis itu gerah, dulu tidak ada AC, pakainya kipas angin. Nah, sekarang ini saja pakai kipas katanya itu. Dibuat konflik saja tidak konflik, karena apa? Karena ada حسن التفاهم husnu at-tafahum. مودة ورحمة وحسن التفاهم Mawaddah, rahmah, husnu at-tafahum. Jadi tidak ada sesuatu yang bisa [membuat berkonflik].

    Nah, ini bukan hanya untuk rumah tangga. Untuk kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kalau ada namanya مودةmawaddah saling mencintai, ada saling menyayangi, ada saling pengertian pasti tidak akan konflik. Pasti semua harmonis. Makanya ini kunci di dalam kita berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Mudah-mudahan kalian berdua diberikan keharmonisan dalam rumah tangga, dipanjangkan umurnya, jodohnya, diberkati Allah.
    اللهم بارك لكما واجمع بخير بينكما وارزق الاولاد والاحفاد الصالحين لكما وأدمت الألفة لكما إلى آخر حياة
    والله الموفق إلى أقوم الطريق والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Naskah khutbah pernikahan (dengan sedikit penyuntingan) ini disampaikan pada akad nikah putri Chairul Tanjung, Putri Indahsari Tanjung dan Guinandra Jatikusumo, putra Dwi Asmono, Ahad (20/3/2022).

  • Prof Amany: Pernikahan di Bawah 5 Tahun Rentan Karam

    JAKARTA— Tingginya angka perceraian justru pada era sekarang terjadi di kalangan yang baru melangsungkan pernikahan. Banyak yang usia pernikahannya baru di bawah lima tahun, sudah mengajukan ke pengadilan agama untuk bercerai.

    Pernyataan ini disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga Prof Amany Lubis saat membuka Webinar Nasional Ketahanan Keluarga bertema Masalah dan Solusi Perceraian di Indonesia, Kamis (3/9).

    “Di sini kita prihatin. Itu membuat hati kita bergetar karena Allah SWT sudah menyatakan bahwa memang halal, diperbolehkan melakukan perceraian, bisa, menyelesaikan ikatan rumah tangga itu boleh, tetapi itu kehalalan paling dimurkai Allah SWT, sedapat mungkin ketahanan keluarga harus dijaga dan perlu diberikan solusi serius, untuk itulah forum ini dilaksanakan,” katanya.

    Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini memandang, perceraian yang marak tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia tentu saja disebabkan banyak faktor. Tidak adanya kesepahaman dan kesepakatan dalam menjalankan bahtera rumah tangga menjadi satu sebab dari banyak sebab lain.

    Rendahnya pemahaman tentang bagaimana berumah tangga seperti mengasuh anak bahkan alasan-alasan sepele lain juga kerap menjadi penyebabnya termasuk faktor ekonomi.

    Dia mengatakan , sekarang perempuan sudah didorong untuk bekerja dan laki-laki didorong untuk kreatif dan lebih serius mendorong kemajuan keluarganya.

    “Semua anggota keluarga harus kreatif untuk menghadapi rutinitas di dalam keluarga. Kita dianjurkan untuk menjaga bahtera rumah tangga,” kataya.

    Dalam Webinar yang diselenggarakan Komisi PRK MUI Pusat, Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag, dan Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung ini, dia berharap, di masa pandemi Covid-19 ini semua harus bersabar. Setiap pihak didorong memberikan ketenangan jiwa dan memikirkan kesehatan keluarga.

    “Ini perlu kita ketahui dan tingkatkan, pengembangan ekonomi serta penguatan hukum dan masalah lainnya dalam masyrakat kita harus lebih solutif agar keluarga kita semakin kuat,” katanya.
    Sebagai langkah solusi itu, Komisi PRK MUI sejak 2016 telah menerbitkan buku berjudul Ketahanan Keluarga dalam Perspektif Islam. Rencananya, buku ini akan direvisi dan diterbitkan ulang.

    “Buku ini sudah diterjemahkan pula ke dalam bahasa arab. Serta memperoleh tanggapan positif dari rekan sejawat dunia Islam. Ini adalah inisiatif bagus sekali untuk menjaga ketahanan keluarga di Indonesia. Buku ini insya Allah akan dicetak ulang dan disebarluaskan,” ujar dia. (Azhar/Nashih)

  • Prof Amany Lubis: Tanamkan Cinta Lingkungan ke Anak Sejak Dini

    JAKARTA— Ketua Majelis Ulama Indonesia(MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Prof Amany Lubis, menyatakan pengajaran rasa cinta lingkungan harus ditanamkan sejak anak dalam kandungan.

    “Ibu harus meniatkan. Kita memberikan contoh pada anak kita sejak dari kandungan, dan ini kita niatkan untuk melestarikan lingkungan. Mencontohkan dengan perilaku, dan belajar berdialog dengan bayi,” kata Amany Lubis dalam tayangan Youtube Channel Eco Masjid, Kamis (09/07) malam.

    Dia menegaskan, peran perempuan terhadap lingkungan sangat besar, tidak dibedakan dengan laki-laki. Namun menurutnya, perempuan lebih memiliki andil untuk menerapkan pola perilaku menjaga lingkungan hidup dimulai dari rumah dan pendidikan untuk keluarga.

    “Peran perempuan menjadi lebih penting karena kan ada limbah domestik di dalam rumah, dimulai dari situ, maka kita sebagai ibu harus pandai dan paham betul mengelola sampah,” tambahnya.

    Melalui pendidikan lingkungan hidup di dalam rumah, kata Prof Amany, nantinya akan tercipta anak-anak yang tumbuh dewasa dan ikut serta mencontoh perilaku melestarikan lingkungan hidup dengan caranya sendiri sesuai pada zamannya.

    Amany juga menjelaskan untuk menghasilkan hal yang besar maka harus dimulai dari diri sendiri. Dia berharap setiap individu menjadikan alam ini sebagai ajang untuk bersyukur dan meningkatkan ketakwaan. Dengan begitu, maka tingkat kerusakan yang akan ditimbulkan akan semakin berkurang.

    Untuk memulai langkah kecil, ujarnya, perempuan memiliki peran dimulai dari rumah. Dengan mulai menciptakan pekarangan yang sejuk dan hijau untuk bisa menjadi paru-paru keluarga di dalam rumah.

    “Perempuan punya peran penting disini, dimana bisa dimulai dari mencintai pekarangan rumah sendiri. Kita hijaukan, kita rawat, dan jadikan pekarangan rumah sebagai tempat yang sejuk, hijau, dan indah,” tuturnya. (Nurul/Nashih)

  • NGOPI dengan MUI, Dokter Aisyah Dahlan Sampaikan Kiat Mengelola Emosi di Tengah Pandemi

    JAKARTA – Aisyah Dahlan, dokter yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai woman health activist menyampaikan kiatnya dalam mengatasi permasalahan hidup yang muncul karena adanya situasi dan kondisi tertentu seperti pandemi Covid-19. Menurutnya, situasi dan kondisi seperti pandemi seperti sekarang ini tidak bisa diubah dalam waktu singkat, tapi emosi yang timbul karenanya bisa dikelola.

    “Situasi dan kondisi pandemi ini (adalah) sesuatu yang tidak mudah diubah dengan cepat. Yang dapat diubah dengan cepat itu emosi. Jadi, emosi negatif kita angkat menjadi emosi positif. Emosi itu ada di otak manusia,” kata Aisyah Dahlan saat mengisi Program Ngobrol Pintar (NGOPI) di TV MUI, Rabu (09/07) malam.

    Pada otak manusia, kata dia, ada sistem emosi yang jumlahnya sepuluh. Emosi paling bawah sampai paling atas itu terdiri dari: apatis, sedih, takut, nafsu, marah, sombong, semangat, menerima, damai, dan pencerahan.

    Semua emosi itu, ujar dia, tidak bisa hilang karena sudah tertanam di otak manusia sesuai kehendak Allah SWT. Allah SWT memberikan itu semua agar manusia bisa mengelolanya dengan sebaik-baiknya.

    “Kalau misalnya kita takut di situasi seperti sekarang wajar, misalnya kita lagi marah, ini lazim, karena memang ada di otak kita. Allah SWT meminta kita cepat-cepat naik ke tangga atas, supaya semangat lagi,” katanya.

    Dia menambahkan, emosi di otak itu juga mempengaruhi kadar keimanan yang membuatnya naik turun. Saat seseorang memiliki emosi negatif, ia akan lupa semuanya, termasuk bahwa Allah SWT maha melindungi. Pada saat tidak memiliki uang dan sebagainya, seringkali manusia takut dan lupa bahwa Allah SWT maha pemberi rizki.

    Kiat paling mujarab menghadapi kondisi seperti itu, ujarnya, adalah dengan memperbanyak istighfar. Istighfar yang dilafadzkan berulang-ulang, kata dia, bisa mengubah emosi ke level lebih atas yang lebih baik dan positif.

    “Situasi dan kondisi dan emosi negatif itu kan masalah. Sekarang situasi dan kondisi yang sama plus emosi positif, itu membuat masalah bisa terselesaikan,” katanya. (Azhar/Anam)

  • Komisi PRK MUI Ajak Masyarakat Mendalami Makna Keluarga di Era Pandemi Covid-19

    JAKARTA — Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Prof. Amany Lubis menjelaskan bahwa keluarga memiliki peranan penting untuk menjaga kesatuan bangsa di masa krisis karena pandemi ini. Sebab, kata dia, keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat yang berperan dalam pembentukan karakter anggota masyarakat.

    “Jangan ada di masa pandemi Covid-19 ini justru hubungan kekeluargaan renggang satu sama lain. Ketahanan keluarga kita harus dinomorsatukan karena inilah yang akan menjaga bangsa Indonesia dari semua masalah dan jadi motivasi untuk membangun negeri ini di masa setelah krisis,” katanya Senin (29/06).

    Pandemi ini bukanlah situasi yang mudah untuk dihadapi, Amany berharap keluarga di Indonesia bisa tetap saling menguatkan, tumbuh lebih solid, dan menjadi lebih harmonis saat menghadapi berbagai krisis yang diakibatkan oleh adanya Covid-19.

    “Ini adalah cara menjaga keluarga kita, jauhi segala yang negatif yang bisa menjerumuskan anggota keluarga kita ke dalam api neraka. Himbauan-himbauan positif, nasihat yang mencerahkan dan memperkuat iman, itu yang diperlukan oleh anggota keluarga dan juga masyarakat,” kata dia.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi PRK Dr. Azizah, mengingatkan bahwa Covid-19 ini adalah bagian dari sunnatullah.

    “Agar keluarga tidak terlalu panik dan dalam ketakutan yang berlebihan, sehingga lupa bahwa yang menciptakan virus ini adalah Allah SWT,” katanya.

    “Allah memberi manusia akal untuk memahami fenomena alam dan hukum-hukum Allah. Allah juga memberikan kemampuan memilih dan berusaha bagi manusia untuk menerapkan pengetahuannya tentang fenomena alam. Di samping itu keyakinan yang kuat terhadap takdir Allah, membuat manusia ridho dengan sunnatullah,” imbuh dia.

    Karena itu, kata dia, kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah dan minta pertolongan-Nya untuk menghilangkan virus ini dari muka bumi. Semua anggota keluarga harus saling menjaga dan mengingatkan antara yang satu dengan yang lainnya terhadap bahayanya wabah virus ini.

    Ia juga berpesan kepada masyarakat agar tetap menjaga diri dari terpaparnya virus Covid-19 dengan cara mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

    “Karena sifat virus ini menular, maka untuk mencegah penularan yang lebih massif, maka ikutilah aturan protokol kesehatan yaitu menghindari kerumunan, menjaga jarak fisik, memakai masker, selalu mencuci tangan, memakan makanan sehat dan minum vitamin untuk menjaga imunitas tubuh,” tambahnya.

    Dia menambahkan, segala sesuatu yang diciptakan Allah di muka bumi ini tidak ada yang sia-sia. Allah Yang Maha bijaksana dan Maha Pengasih serta Maha Penyayang dalam menciptakan sesuatu selalu ada manfaat dan mudharatnya. Mudharat yang ditimbulkan wabah Covid ini sangat banyak, baik dilihat dari sisi kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, psikologi dan lainnya.

    “Namun, manfaat yang ditimbulkan pun juga ada antara lain hubungan kekeluargaan semakin erat, karena selama Covid orang-orang bekerja dari rumah, belajar dari rumah. Semua keluarga berkumpul, saling memperhatikan, saling menjaga dan saling memberi semangat,” ungkapnya.

    Di samping itu, papar dia, dengan bantuan teknologi, melalui cara daring, jarak yang jauh bisa menjadi dekat, bisa mengumpulkan sekian banyak orang dalam satu pertemuan, seperti rapat-rapat kantor, pertemuan-pertemuan keluarga/ masyarakat, seminar, diskusi, workshop, dan lain-lain, bisa dilakukan dengan biaya murah, hemat waktu, dan tenaga. (Nurul/Din)

  • MUI Gelar Workshop Kepemimpinan Ormas Perempuan Lintas Agama

    Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menilai kepemimpinan perempuan di Indonesia semakin penting terutama dalam membangun negara. Karena itu, pada Kamis (12/12) Komisi PRK MUI menggelar workshop kepemimpinan perempuan lintas agama.

    Hadir dalam kegiatan tersebut pimpinan ormas perempuan masing-masing agama. Pembicara dari ormas perempuan Islam diwakili Mursyidah Thahir, dari Kristen Evi Parsky Kawet, dari Katolik Lusia Willar, dari Hindu Ketut Oka Harmini, dari Budha Tristina Handjaya, dan dari Khonghucu Leliany Lontoh.

    Masing-masing pembicara tersebut menyuarakan tentang model kepemimpinan perempuan di masing-masing agama. Di dalamnya juga terungkap ciri khas menarik dari masing-masing agama.

    Ketua Komisi PRK MUI Pusat, Azizah menyampaikan bahwa workshop kepemimpinan perempuan lintas agama ini salah satunya bertujuan mensinergikan organisasi perempuan lintas agama di Indonesia. Selama ini dia menilai kondisi organisasi perempuan agama satu dengan yang lain sudah berjalan damai dan harmonis. Namun, kondisi itu menurutnya perlu diperkokoh lagi dengan sinergi dalam penyelenggaraan program seperti saat ini.

    “Kita dalam forum ini ingin memahami kekhasan Organisasi Kemasyarakatan perempuan lintas agama, mengetahui peran dan kedudukannya, meningkatkan pengetajuan tentang pola kepemimpinan perempuan di dalamnya,” ujarnya, Jumat (13/12) saat dihubungi mui.or.id.

    “Kita juga ingin memperkuat kerjasama dalam bidang sosial keagamaan dengan organisasi kemasyarakatan perempuan lintas agama,” imbuhnya.

    Dosen UIN Jakarta ini menambahkan, workshop ini akan menghasilkan buku bertema kepemimpinan perempuan lintas agama di Indonesia.

    “Buku itu selanjutnya akan disosialisasikan kepada organisasi peserta workshop,” katanya.

    Workshop bertema Kepemimpinan Organisasi Kemasyarakatan Perempuan Lintas Agama di Indonesia ini dihadiri 100 peserta yang mewakili organisasi perempuan lintas agama. (Azhar/Thobib)

  • Komisi PRK MUI Ingin Memotret Aktivitas Ormas Perempuan

    JAKARTA – Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (PRK MUI) menyelenggarakan Workshop Kepemimpinan Perempuan Berbasis Ormas Islam di Jakarta, Sabtu (07/09) kemarin. Workshop ini, menurut Ketua MUI Bidang PRK, Prof Amany Lubis, bertujuan memotret situasi dan kondisi semua ormas perempuan di Indonesia termasuk aktivitas di dalamnya.

    “MUI ingin memotret situasi dan keadaan dari ormas perempuan dengan mengumpulkan komisi PRK di seluruh Indonesia. Isinya juga orang yang aktif di wilayahnya,” katanya di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Sabtu (07/09).

    Dalam kegiatan yang dihadiri para pengurus ormas Islam perempuan tingkat pusat itu, ia mengatakan, workshop kepemimpinan ini juga untuk melaksanakan kaderisasi. Kaderisasi yang berkualitas, katanya, berperan sebagai modal besar untuk berkembang dan kemudian berkembang yang tinggi.

    Dalam kegiatan tersebut, Prof Amany juga mengimbau ormas-ormas perempuan agar memiliki kebersamaan yang tinggi. “Satu taraf kita memiliki kebersamaan, tapi juga perbedaan. Maka kebersamaan bukan menyamakan semuanya,” ungkapnya.

    Dia mengingatkan bahwa kepememimpinan harus memiliki integritas. Bentuk integritas itu seperti menepati janji dan berbuat adil dan jujur. Budaya integritas itu, ungkapnya, juga harus bersumber dari Al-Quran dan Hadist.

    “Kita harus membangun budaya integritas. Kepemimpinan itu harus punya integritas, menepati janji itu harus, harus berbuat adil, harus jujur, itu semua harus kita laksanakan,” ungkapnya.

    Nantinya, kata dia, ormas-ormas perempuan akan disaring mana saja yang memiliki keunggulan. Dia akan menyortir ormas Islam perempuan mana yang unggul di bidang pendidikan, mana yang unggul di bidang ekonomi, maupun yang unggul dalam bidang demokrasi.

    “Intinya kita bukan menentukan yang baik dan yang kurang baik, namun saling mengisi antara satu sama lain,” kata dia. (Azhar/Anam)

  • Tujuh Prinsip Keuangan Keluarga

    Tujuh Prinsip Keuangan Keluarga

    Apa biasanya yang kita lakukan ketika menghadapi masalah keuangan? Bagaimana mestinya menurut Islam?

    Hampir tiap hari kita menghadapi berbagai masalah keuangan dalam keluarga. Ada masalah yang mudah diselesaikan, ada juga masalah keuangan yang berkepanjangan dan menyebabkan masalah lain timbul. Apa biasanya yang kita lakukan ketika menghadapi masalah keuangan? Berikut adalah berbagai pengalaman dari keluarga-keluarga yang tinggal di Indonesia dan di beberapa negara.

    Nurizal Ismail, seorang peneliti ekonomi syariah yang tinggal di Jakarta, mengatakan bahwa kalau adalah masalah keuangan, sebelum menikah dan setelah menikah hingga saat ini, yang selalu diingat adalah sedekah dan shalat Witir.

    Ada Nasution yang tinggal di Brisbane, Australia mengatakan bahwa jika menghadapi masalah keuangan biasanya mendiskusikannya dengan suami. Setelah itu meminta pendapat dari orangtua atau saudara. Yang paling utama adalah Ada selalu berkonsultasi dengan Allah SWT setiap waktu supaya dapat diberikan jalan keluar.

    Elis yang sudah cukup lama tinggal di Derby, Inggris, mengatakan bahwa ketika sedang menghadapi masalah keuangan selalu memperbanyak istighfar, sholat Dhuha dan Tahajud.

    Sementara Yayuk Catri, yang saat ini menemani suaminya yang sedang bertugas di sebuah perusahaan pesawat terbang di Madrid, Spanyol mempunyai beberapa tips ketika menghadapi masalah keuangan. Di antaranya adalah selalu menjaga sholat Dhuha dan menanamkan keyakinan bahwa harta adalah milik Allah SWT. Oleh karenanya, Yayuk dan keluarga selalu memastikan zakat dan sedekah.

    Azhari Wahid seorang dosen berwarganegara Malaysia yang tinggal di Seremban, mengatakan bahwa jika ada masalah keuangan yang menimpa keluarganya, yang pertama kali dicek adalah sedekah. Azhari percaya bahwa dengan mengeluarkan sedekah, tentunya banyak kebaikan akan datang kepada dirinya dan keluarga.

    Kalau kita baca lagi, komentar – komentar di atas sesuai dengan apa yang diajarkan Islam selama ini, hanya saja mungkin sebagian kita belum sepenuhnya mempraktikkan.

    Tujuh Prinsip
    Untuk melengkapi, kali ini Sakinah Finance ingin berbagi beberapa prinsip dalam mengelola keuangan keluarga yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk “cek dan ricek”. Siapa tahu salah satu atau sebagian prinsip – prinsip berikut menjadi penyebab atas masalah keuangan keluarga kita selama ini.

    Ada tujuh prinsip yaitu memasang niat, memastikan apa yang dihasilkan dan dibelanjakan adalah halal dan thayib (baik), mulai bekerja atau berbisnis di kala masih pagi, silaturrahim, membayar zakat-infaq-sedekah, taubat jika ada kesalahan dan terakhir selalu bersyukur dan tidak mengeluh.

    1. Niat
    Sesungguhnya setiap pekerjaan itu tergantung dari niatnya (hadits pertama dalam Hadits Arba’in Imam An-Nawawi). Begitulah Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap apa yang kita capai akan tergantung dengan niatnya, begitu juga perbuatan kita yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhirat nanti. Maka dari itu penting sekali untuk memastikan niat kita dalam hidup hingga mati kelak hanya untuk Allah SWT (QS Al-An’am (6): 162), termasuk tentunya dalam hal niat mengelola keuangan keluarga kita.

    2. Halal dan thayib
    Apa yang kita dan keluarga hasilkan dan belanjakan sangat menentukan arah hidup kita, misalnya apakah semua yang kita harapkan akan diridhoi oleh Allah SWT. Tentu saja panduannya adalah halal dan thayib seperti yang diungkapkan di dalam QS Al-Baqarah (2): 168 (Untuk lebih rinci, baca Artikel Sakinah Finance: Mana Yang Halal dan Mana Yang Thayib?). Maka dari itu sangat penting untuk memastikan pendapatan gaji, hasil dagang atau uang yang dibawa ke rumah dan juga apa–apa yang dibelanjakan tidak ada unsur-unsur haram, riba, spekulasi, ketidakjelasan, serta membahayakan dan menzolimi diri sendiri dan orang lain.

    3. Mulai awal pagi
    Memulai aktifitas hidup sepagi mungkin dapat mendapatkan keberkahan sebagaimana telah didoakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi: “Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka.” (HR Ahmad No. 15007). Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Shakhr Al-Ghamidi yang senantiasa memulai perdagangan di waktu pagi sehingga mendapatkan hartanya bertambah banyak sampai tidak tahu harus di mana meletakannya.

    4. Silaturrahim
    Dalam sebuah hadits terkenal dikatakan bahwa bagi yang ingin dibanyakkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung silaturrahim (muttafaqun ‘alaih). Satu kiat jitu tak perlu modal yang ternyata mendatangkan banyak manfaat. Tentu ada saja hubungan keluarga, sahabat atau tetangga yang terputus, maka mulailah menegur sapa kembali, memanjangkan maaf dan menebar senyum. Semoga dengan menjalin hubungan dan menyambung silaturrahim yang telah terputus akan membuka pintu rezeki dan memberikan solusi bagi keuangan keluarga kita.

    5. Zakat, infaq, sedekah
    Dari beberapa pendapat di atas, sepertinya sedekah sudah menjadi amalan yang dipercaya dapat memperbaiki keadaan keuangan keluarga. Tentu saja sedekah bukan hanya dalam bentuk uang yang dapat diberikan, juga bukan hanya imbalan uang yang diharapkan. Sedekah juga bisa dalam berbentuk zikir, sholat Dhuha, ilmu, kebaikan, kalimat mulia, bahkan sekedar senyum. Balasan yang dijanjikan Allah SWT adalah berbentuk kebaikan bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak. Selain zakat yang sudah menjadi kewajiban (lihat QS Al-Muzzamil (73): 20 dan seterusnya), tantangan untuk mengeluarkan infaq dan sedekah adalah sangat luar biasa maka dari itu balasannya juga luar biasa, lihat QS Al-Baqarah (2): 261-274.

    6. Taubat
    “Setiap keturunan anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik–baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat” (HR At-Tarmidzi No. 2499). Maka dari itu berbuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar namun tentunya sikap yang harus diambil adalah meminta maaf, ampunan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Ternyata taubat dapat membuka pintu rezeki seperti yang dijelaskan di dalam QS Hud (11): 52: Dan (Hud berkata): Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”

    7. Syukur
    Sebagian dari kita sangat mudah mengucap syukur kepada Allah SWT jika mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, umumnya kita mengucapkan “Alhamdulillah”. Namun tanpa disadari sebagian kita sangat mudah mengeluh ketika ditimpa kesusahan dan menjadi kikir ketika diberikan kebaikan (lihat QS Al-Ma’arij (70): 19-21. Ayat selanjutnya (ayat 22 dan 23) menegaskan bahwa sholat dapat mengatasi sifat–sifat buruk itu. Semoga kita senantiasa ditambahkan nikmat oleh Allah SWT karena tidak mengeluh dan ingkar sebaliknya selalu ikhlas bersyukur (QS Ibrahim (14): 7).

    Tujuh Prinsip ini tentunya harus dikemas dengan konsep itqan yaitu sebuah konsep dimana kita harus berusaha sebaik mungkin. Tentu saja Tujuh Prinsip tentu saja tidak cukup, bisa jadi delapan, sembilan dan sebagainya, seperti dalam bacaan lain yaitu buku “15 ways to increase your earnings” karangan Abu Ammaar Yasir Qadhi.

    Dalam buku ini, Yasir Qadhi menganjurkan 15 cara untuk meningkatkan pendapatan yaitu senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, meminta maaf dan ampunan, berserah diri kepada Allah SWT, senantiasa beribadah kepada Allah SWT, bersyukur kepada Allah SWT, melaksanakan haji dan umrah, menjalin hubungan baik, membelanjakan harta di jalan Allah SWT, hijrah karena Allah SWT, menikah, mendukung mahasiswa dalam belajar ilmu ke-Islaman, berbuat baik kepada kaum miskin, jujur dalam bertransaksi, selalu ingat Hari Akhir, dan selalu berusaha mencapai tujuan. Semoga manfaat! Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah! (Murniati Mukhlisin)

  • Berdoa untuk keluarga yang jauh

    Berdoa untuk keluarga yang jauh

    image

    DOA adalah cara terbaik untuk memeluk orang-orang tercinta saat tangan tak bisa nenyentuh mereka