Tag: Majalah

  • Mimbar Ulama : Mendorong Industri Wisata Syariah

    Fatwa-fatwa dari Banjarbaru 

    Ijtimak Ulama Komisi Fatwa MUI digelar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan mendekati bulan Ramadhan 1439H.

    Rapat Kerja MUI tahun 2018 dilangsungkan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat yang terkenal keindahan alamnya.

    Koperasi Syariah MUI didirikan pada Desember 2016 bernama koperasi “Maslahat Umat Indonesia” yang berskala nasional dengan anggota pengurus atau karyawan MUI.

    Editorial Masduki Baidlowi 4 

    Nasional Ulama Hidupkan Potensi Raja Ampat 6 

    Mimbar Utama Fatwa-fatwa dari Banjarbaru 10

    Gairah Pesantren Sambut Ulama 33 

    Kolom KH. Cholil Nafis, Lc., Ph D 36 

    Kolom Dr. Hayu Prabowo, Ketua Pengurus Koperasi 38

    MUI Terapkan Standar Pelayanan Internasional dengan ISO 9001:2015. 

    LITERASI MEDSOS BERBASIS ISLAM WASATHIYAH Perjalanan Infokom MUI Mencari “Duta Cyber” di 16 Kota

    Langkah BAZNAS Memperbaiki Ekonomi Nasional

    LPPOM MUI TO THE WORLD

    Mau Cepat Bisa Baca Kitab, Metode Amtsilati Solusinya CIUTKAN

    https://play.google.com/store/books/details/Majelis_Ulama_Indonesia_Mimbar_Ulama_Mendorong_Ind?id=OOl8DwAAQBAJ

    http://mui.or.id/wp-content/uploads/files/fatwa/Mimbar-Ulama/375-Mimbar-Ulama.pdf

  • Mimbar Ulama: Islam Wasathiyah Ruh Gerak MUI

    1. Dakwah Era Konvergensi Media
    2. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi : Zionis Israel Ingin Hancurkan Suriah
    3. Karya Manfaat Syaik Palembang
    4. Menolak Demonologi Islam

    https://play.google.com/store/books/details/Majelis_Ulama_Indonesia_Majalah_Mimbar_Ulama?id=_wz1DQAAQBAJ

  • Mimbar Ulama – Dibalik Gemerlap Siaran Ramadhan Televisi Kita

    Alhamdulillah majalah Mimbar Ulama bisa terbit kembali pertengahan tahun 2019 ini. Insya Allah majalah ini akan diupayakan selalu hadir secara ajeg dalam waktu-waktu mendatang. 

    Kali ini majalah Mimbar Ulama menurunkan mimbar utama salah satu peran Komisi Informasi dan Komunikasi MUI (In- fokom) Pusat, yang setiap bulan suci Ramadhan selalu menyelengga- rakan pemantaun atas programa Ramadhan televisi kita. Tentu, awak Infokom yang terbatas tak bisa menjalaninya sendiri tanpa menggan- deng komisi lain, seperti Komisi Dakwah, Komisi Kajian dan komisi lainnya.

    Hasil amatan selalu kemudian didiskusikan dan dibahas bersama sehingga kemudian menghasilkan satu keputusan akhir seperti yang bisa pembaca baca pada nomor ini. 

  • Majalah Al-Imam #01 2016

    Majalah Al-Imam #01 2016

    Alhamdulillah Setelah mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat dasar, segenap redaktur majalah Al-Fajar sepakat akan menerbitkan majalah untuk Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah, namun majalah ini tidak akan bisa menyapa pembaca (kawan-kawan) semua tanpa ada dukungan dan partisipasi kawan-kawan Tidak dengan materi berupa dana, bisa dengan kritik, saran atau karya-karya tulis kawan-kawan.

    Jadi kami segenap redaktur mengucapkan terima kasih atas dukungannya, dan kami menunggu partisipasi kawan-kawan DITUNGGU..

    Al-Imam #01 – Darul Funun El-Abbasiyah on Scribd

  • ‘Al-Imam’ Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

    ‘Al-Imam’ Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara

    credits: Atjeh Post

    “AL-IMAM bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah)”.

    Itulah editorial pembuka yang ditulis Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dalam majalah Al-Imam. Editorial itu kemudian dikutip William R. Roff, seorang profesor sejarah ketika membahas tujuan penerbitan majalah Al-Imam dalam bukunya, “The Origin of Malay Nationalism(1967)”.

    Al-Imam merupakan majalah Islam pertama di Asia Tenggara. Majalah Islam berbahasa Jawiy tersebut terbit di Singapura pada tahun 1906 hingga permulaan 1909 “Al-Imam megumandankan suara pembaruan demi kebangkitan bangsa-bangsa Islam dari kelenaan,” kata Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, di Lhokseumawe, belum lama ini.

    ***

    Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) menyebutkan, Al-Imam mengambil haluan majalah Al-Manaryang terbit lebih dulu di Mesir. Al-Manar diterbitkan ulama muda bernama Sayyid Rasyid Ridha, sembilan tahun lebih awal dari Al-Imam.

    “Yang terang ialah bahwa sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 Hijriah, sampai majalah itu berhenti terbit, Syaikh Thahir Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syeikh Muhammad Al-Kalali, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar,” kata Hamka dalam pidato yang dibacakannya ketika menerima gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, 21 Januari 1958.

    Keterangan lebih lengkap diulas dalam dalam buku Hamka, “Ayahku, (1950) ”. Mulanya terbit majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris atas prakarsa ulama bernama Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Jamaluddin. “Majalah Islam itu diterbitkan dengan tujuan membangkitkan kembali kesadaran kaum Muslimin akan harga dirinya serta memperingatkan bahaya yang mengancam Islam kalau kaum Muslimin tetap lalai dan lengah,” tulis Hamka.

    Majalah Al-Urwatul Wutsqa terbit perdana 5 Jumadil Awwal 1301 Hijriah (13 Maret 1884 Masehi) hingga 18 nomor (edisi). Nomor terakhir terbit bulan Zulhijjah 1301 H. Usia majalah itu tidak sampai setahun lantaran dilarang beredar di negeri-negeri yang dikuasai Inggris.

    Lima tahun kemudian atau 1315 H/1898 M, seorang ulama muda Sayyid Muhammad Ridha yang sangat terpesona dengan tulisan-tulisan dalam majalah Al-Urwatul Wutsqa lantas menemui gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Pada tahun tersebut Sayyid Muhammad Ridha menerbitka majalah Al-Manar sebagai penyambung Al-Urwatul Wutsqa dalam cita kebangkitan Islam yang lebih lengkap.

    Selain membangkitkan semangat, Sayyid Muhammad Ridha mengisinya dengan pandangan-pandangan Islam yang baru. Dalam Al-Manar juga dimuat tafsir Al-Quran menurut sistim Syaikh Muhammad Abduh. Majalah yang tersebar ke seluruh dunia Islam itu ditutup dengan wafatnya Sayyid Muhammad Ridha.

    Masih menurut Hamka dalam buku, “Ayahku”, pengaruh Al-Urwatul Wutsqa dan Al-Manar meresap ke Jawa, sehingga orang-orang Arab pada 1905 mendirikan perkumpulan “Jami’at Khair”. Dan di Singapura terpengaruh pula seorang hartawan keturunan Arab, Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy, sahabat karib ulama asal Minangkabau yang baru pulang dari Mesir dan lulusan Al-Azhar, Syaikh Muhammad Taher bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhari.

    Pada satu hari bulan Jumadil Akhir 1324 H (Juli 1906 M) terbitlah nomor (edisi) perdana majalah Al-Imam. Mudir(Direktur) majalah Islam itu adalah Syaikh Muhammad Al-Kalaliy. Pada edisi kedua (Agustus 1906) kemudian dijelaskan bahwa pengarang (penulis) majalah ini Syaikh Taher Jalaluddin tersebut.

    Dalam edisi pertama Al-Imam turut disalin sebuah makalah dari majalah Al-Urwatul Wutsqa yang berkepala (berjudul) “Wazakkir fa innaz-zikra tanfa’ul mukminin. Pada edisi kedua disalin pula makalah Al-Urwatul Wutsqayang terkenal yaitu “Al-Qadha dan Al-Qadar”. “Jelas sekali pengaruh majalah itu di dalamnya,” tulis Hamka dalam buku, “Ayahku”.

    Edisi kedua lantas diisi dengan rubrik taya jawab, pembaca/pelanggan majalah bertanya, Al-Imam menjawab. Akhirnya majalah itupun mulai mendapat tantangan akibat banyak lawan, termasuk yang mengejek Syaikh Taher, namun langsung ditangkis Syaikh Al-Kalaliy.

    Pada edisi 12 jilid II terbit 1 Jumadil Awwal 1326 H (Juni 1908 M) dengan tegas Al-Imam menulis: “Al-Imamadalah musuh yang amat bengis bagi sekalian bid’ah dan khurafat (karut-karut) dan ikut-ikutan dan adat yang dimasukkan orang pada agama”.

    “Itulah dia Al-Imam,” tulis Hamka lagi.

    Dalam buku “Áyahku”, Hamka kemudian menjelaskan mulanya penerbitan majalah Al-Imam seluruhnya atas belanja Syaikh Al-Kalaliy. Kemudian melalui usaha ulama bernama Sayyid Muhammad bin Agil dan Sayyid Syaikh Al-Hadi didirikan sebuah “limited” yang khas untuk penerbitan itu dengan modal 20 ribu ringgit.

    Sayanganya, menurut Hamka, penerbitan Al-Imam tidak dapat dilanjutkan karena sudah banyak saingan dengan terbit surat kabar lainnya. “Sehingga permulaan tahun 1909 M berhentilah terbit majalah yang menjadi pelopor pembaharuan Islam itu”.

    Sayyid Muhammad bin Agil berusaha mencari modal ke Mesir, tapi tidak membuahkan hasil.

    Dua tahun kemudian atau 1911 M, terbit majalah Al-Munir di Padang, lanjutan dari Al-Imam. Majalah Al-Munirterbit atas gagasan H. Abdullah Ahmad, ulama muda yang mahir tulis menulis di Padang. Majalah Islam pertama di Sumatera ini terbit perdana 1 April 1911.

    Haji Abdul Karim Amrullah Danau, ayahnya Hamka kemudian berperan mengisi majalah ini terutama dalam menjawab soal-soal menyangkut agama, satu rubrik yang menggoncangkan alam pikiran Islam masa itu.

    Dalam tulisannya tentang majalah Al-Imam yang dimuat majalah Panji Masyarakat Nomor 201 tanggal 15 Juni 1976, Hamka menyebutkan bahwa dalam kebangkitan Islam di Indonesia dari sudut kewartawanan dan majalah sebagai mass-media, tidak dapat dipungkiri majalah Islam yang mula-mula terbit ialah Al-Imam. Majalah ini terbit perdana 23 Juli 1906 dan dicetak di Mathba’ah (Drukkery) Melayu Tanjung Pagar Singapura.

    “Dalam kata pendahuluannya, penerbitnya Syaikh Al-Kalaliy menyatakan bahwa dia merasa terpanggil buat menerbitkan majalah Islam ini untuk membangunkan bangsa dan kaummnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun. Rasa citanya kepada Wathan (Tanah Air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkanya,” tulis Hamka dalam artikelnya itu.

    Hamka menilai bahasa Melayu yang dipakai Al-Kalaliy mulai halus, tidak lagi seata-mata terikat kepada bahasa Arab.

    Al-Kalaliy juga menulis, “Sungguhpun kami bukan daripada orang sini dari pihak keturunan, tetapi daripada mereka itu dari pihak peranakkan. Istimewa pula telah kami sukakan negeri mereka itu wathan bagi kami. Betapa tidak, padahal sudah meminum kami akan air-susunya, dan telah tumbuh daripadaya daging dan darah kami, dan telah terbit daripadanya nikmat perhiasan kami”.

    Pada edisi empat yang terbit Ramadhan 1324 H/19 Oktober 1906 M, kata Hamka, disebutkan bahwa penertib majalah itu Syaikh Al-Kalaliy sedang berangkat ke Cirebon (Jawa Barat). Selama beliau dalam perjalanan ke tanah Jawa itu, pimpinan penerbitan dirangkap penulis majalah, Syaikh Muhammad Taher Jalaluddin.

    Hamka menyebut Al-Imam mendapat perhatian besar dari ulama-ulama yang sepaham. Nama wakil-wakil Al-Imam pada tiap-tiap negeri dituliskan pada kulit dalam kedua (omslag II). Di antaranya, terdapat wakilnya di Betawi Said Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab. Di Padang Panjang, Haji Abdullah bin Haji Ahmad (kemudian dikenal Dr. H. Abdullah Ahmad). Di Danau Maninjau, Haji Abdul Karim bin Syaikh Kisaa-iy (kemudian dikenal Dr. H. Abdul Karim Amrullah), dan lainnya

    ***

    Dalam bukunya, “The Origin of Malay Nationalism (1967)”, William R. Roff  turut mengutip isi salah satu artikel perdana yang diterbitkan majalah Al-Imam. Artikel yang membicarakan tentang “Tugas yang Tepat: Apa yang paling Dibutuhkan untuk Kebaikan Rakyat Kita.”

    Penulis artikel tersebut menegaskan tugas para pemimpin rakyat untuk mendiagnosa dan memberikan resep mujarab untuk penyakit yang diderita  rakyatnya. Ia kemudian menyebutkan, “Barangkali dapat dikatakan bahwa suatu hal yang paling kita butuhkan adalah keterampilan kerja dan pertanian, atau pengetahuan tentang bagaimana mempertahankan negara kita dari musuh-musuhnya, atau bahwa kita perlu pendidikan untuk menyelamatkan kita dari rawa apatis dan kemalasan, atau bahwa kita harus belajar untuk bersatu demi kebaikan bersama”.

    “Semua ini benar. Tapi satu hal yang akan memperkuat dan mewujudkan semua keinginan kita adalah pengetahuan tentang perintah agama kita. Agama merupakan penyembuh terbukti untuk semua penyakit yang diderita oleh masyarakat kita.”

    Begitulah pesan penting lewat artikel majalah Islam Al-Imam yang dipimpin Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy.(Atjehpost)

  • Majalah dari Sebuah Jorong

    Oleh Fachrul Rasyid HF
    Komentar Singgalang di Hari Pers Senin 11 Febaruari 2013
    http://fachrulrasyid.wordpress.com/2013/08/08/majalah-dari-sebuah-jorong/

    Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke 67 ini mengingatkan saya pada sebuah jorong Padangjapang, satu dari tujuh jorong di Kenagarian VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota, 18 Km di utara Kota Payakumbuh. Hampir seratus tahun silam di jorong ini pernah diterbitkan sebuah majalah yang kemudian melahirkan sejumlah pengarang.

    Majalah itu bernama Al Imam, diterbitkan Syekh Abbas Abdullah, tahun 1919 sepulang belajar di Timur Tengah. Kemudian bersama Syekh Abdul Karim Amarullah, ayah almarhum Prof. Dr. HAMKA, dan beberapa ulama mendirikan sejumlah sekolah  di daerah asal masing-masing dengan satu nama: Madrasah Sumatra Thawalib (MST). Inilah madrasah pertama sistem klasikal yang memakai papan tulis serta kursi dan meja.

    Di tahun yang sama Syekh Ibrahim Musa pendiri MST Parabek Bukittinggi menerbitkan Al-Bayan. Pada 1918 Zainuddin Labay El Yunusiah pendiri Diniyah Puteri Padangpanjang, menerbitkan Al Munir El Manar, melanjutkan majalah Al Munir, majalah pertama di Indonesia, yang diterbitkan Abdul Karim Amarullah, yang lama tak terbit.

    Di MST Sungayang, Tanah Datar, Syekh Sungayang menerbitkan majalah Al-Basyir, lalu, 1920 diteruskan Muhammad Yunus dan Ismail Laut. Di SMT Maninjau Syekh H. Rasyid menerbitkan majalah Al-Ittiqan. Sebagaimana majalah yang lain, majalah Al Imam Padangjapang berbasis di DFA. Majalah setengah bulanan itu berukuran kertas kuarto. Menggunakan tulisan Arab Melayu alias huruf Jawi, Al Imam memuat berbagai ilmu pengetahuan, artikel antipenjajahan, bahkan puisi dan pantun.

    Majalah itu beredar luas mengikuti daerah asal para murid DFA dan Nahdhhatun Nisyaiyah (NN) mekaran DFA. Maklum, murid kedua sekolah selain berasal dari sekitar Kecamatan Guguk dan Kabupaten Limapuluh Kota, berdatangan dari Riau Daratan, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara, Singapura, Malaysia bahkan Patani Thailand. Dari Bengkulu yang terbanyak berasal dari Krui, Bengkulu Selatan, dan dari Riau Kepulauan berasal dari Pulau Rupat Bengkalis.

    Tahun 1968 saat berusia 12 tahun saya menemukan salah satu edisi Al Imam dalam tumpukan buku di sebuah podium tua di asrama DFA. Tumpukan buku itu adalah sisa pembakaran yang dilakukan Pemuda Rakyat antek Partai Komunis Indonesia (PKI) saat pergolakan PRRI 1958-1960.  Tahun 1970 saya juga menemukan setempel Al Imam, bertulisan Arab terbuat dari tembaga di surat Dt. Mangkuto, salah satu asrama siswa sekitar 75 meter dari gedung DFA. Takjelas, apakah ada yang memelihara setempel atau tidak.

    Basis Perjuangan    

    Jorong Padangjapang, kini berpenduduk sekitar 2.500 jiwa, terbilang unik. Sekitar tahun 1940-1975 di jorong ini terdapat empat sekolah menengah: DFA, NN,  Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Tabek Gadang masing-masing tingkat tsanawiyah/ aliyah. Semula MTI didirikan Syekh Muhammad Shaleh famili Syekh Abbas Abdullah, di Jorong Padang Kandis, 1906 dipindahkan ke Tabek Gadang Padang Japang. Kemudian Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun didirkan alumni NN. Tak aneh jika kala itu nyaris separuh penghuni jorong ini adalah siswa keempat sekolah tersebut.

    DFA didirikan oleh ulama Syekh Abdullah pada 1875. Awalnya hanya berupa pengajian sistem halaqah di sebuah masjid tua beratap ijuk. Setelah Syekh Abdullah meninggal pada 1903 dalam usia 73 tahun, pada tahun 1919 puteranya Syekh Abbas, saat berusia 36 tahun, dan kakaknya Syekh Mustafa pulang belajar dari Timur Tengah, melanjutkan sekolah itu. Di Mekah kaka beradik itu diasuh  ulama Minangkabau Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Mereka juga sempat belajar di beberapa perguruan di Timur Tengah dan Eropa. Bahkan pernah jadi murid Syekh Djamaluddin Al-Afghani dan Syekh Muhammad Abduh di Kairo, Mesir. Merekalah yang mengubah sistem pendidikan dan mendirikan MST.

    Pada tahun 1921 beliau kembali ke Mekkah,  dan belajar di Al-Azhar Mesir sampai tahun 1924. Pulang melalui Palestina, Libanon dan Syria beliau meneruskan MST. Tahun 1930 kala tokoh-tokoh MST, seperti Ilyas Ya’kub dan Mukhtar Luthfi mendirikan organisasi PERMI (Persatuan Muslim Indonesia), sebuah organisasi politik antipenjajah, Syekh Abbas Abdullah menolak bergabung dan mengganti nama sekolahnya jadi DFA.

    DFA tak sebatas mengajarkan Al-Quran dan Hadits, tapi juga ilmu falaq, geografi, fisika, kimia, aljabar, ilmu mantiq serta kesenian, semuanya dalam bahasa Arab. DFA juga punya barisan pandu terlatih, grup kesenian, dan kesebelasan yang mampu bermain hingga ke Singapura. Foto kesebelasan ini pernah dipajang di Lapau Dt. Amat Padangjapang.

    Saat perjuangan kemerdekaan, DFA jadi basis perjuangan. Maklum, Syekh Abbas adalah Panglima Jihad Sumatera Tengah. Pada Juli 1942, saat Jepang memasuki Indonesia, dan Soekarno dilepas dari tahanan Bengkulu, Soekarno melalui Padang ke Padangjapang menemui Syekh Abbas. Syek mengimngat bahwa negara ini mesti berdasarkan ketuhanan. Saat makan siang Bung Karno dihadiahi peci tinggi, pengganti peci pendek Soekarno yang sudah lusuh. Sejak itu, Bung Karno selalu mengenakan peci tinggi, dan tampak lebih gagah.

    Ketika perang melawan agresi militer Belanda II 1948 banyak pemimpin negara berbasis di Padangjapang. Mr. Tengku Mohammad Hassan Gubernur Sumatera kala itu berkantor di DFA. Setelah Soekarno dan Hatta ditahan Belanda di Jogyakarta, lalu, didirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), DFA jadi markas PDRI. Presiden PDRI, Mr. Syafruddin Prawira Negara  menghuni Suarau Ruyung dan berkantor di DFA bersama  Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) dan Menteri Agama. Maka kala Moh. Natsir dan Dr. Leimena menjemput Mr. Syafrudin agar kembali ke Jakarta pertemuan diadakan di gedung DFA.

    Majalah Al- Imam efektif terbit selama 3 tahun ( 1919-1921). Ketika Syekh Abbas melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, majalah ini diurus para guru yang ada. Begitupun, Al-Imam berhasil melahirkan pengarang terkemua. Antara lain, Abbas Hasan, pengarang novel dan buku pelajaran. A. Hasan Bandung, pengarang Tafsir Al Quran dan Buku (terjemahan) Hadits Bulughul Muram.

    Sebelumnya, alumni DFA Zainudin Labay Elyunusia dan pendiri Diniayah Puteri PadangPanjang jadi penerbit Al Munir Al Manar. Zainuddin Hamidi, pendiri Ma’had Islamy Payakumbuh, Nashruddin Thaha, pendiri Islamic College Payakumbuh, penulis Tafsir Alquran. Kemudian Ilyas Ya’kub dan Mukhtar Luthfi juga pengarang. Kini pun siswa DFA mengikuti jejak pendahulunya. (*)