Tag: Turki

  • Sentuhan Peradaban Islam di Balik Populernya Tulip di Eropa

    Selama periode klasik Yunani, Romawi dan Islam, sangat banyak bunga yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi atau medis.

    Bunga-bunga yang indah dijadikan sebagai dekorasi sampai abad ke-16, sedangkan bunga yang mewangi dianggap dapat memberikan manfaat kesehatan, sehingga digolongkan sebagai obat-obatan herbal.

    Sebuah risalah yang ditulis sekitar 160 SM, Cato’s On Agriculture, menjelaskan tentang pertanian dari para ahli botani di Andalusia dan di beberapa tempat lain di dunia muslim pada Abad Pertengahan. Risalah tersebut cenderung berkonsentrasi pada kategori-kategori bunga tersebut. 

    Para Ahli hortikultura di Timur Jauh ini memang telah lama mempraktikkan pemuliaan tanaman untuk meningkatkan macam-macam tanaman hias. Tindakan mereka tersebut tampaknya telah meresap ke Barat, ke dunia Muslim dan Eropa sekitar 1500 M. 

    Zahiruddin Muḥammad bin Omar Sheikh atau lebih dikenali sebagai Babur, sangat terkesima dengan keindahan bunga Tulip. Babur adalah pendiri Kekaisaran Mughal di India pada awal abad ke-16. Dia seorang pecinta alam dan pencipta taman. Dia pernah menulis pada 1504 M:

    “Warna bunga Tulip banyak menutupi kaki ini. Saya pernah menghitungnya, ada sekitar 32 atau 33 macam. Kami menamakannya mawar yang mewangi, karena aromanya seperti mawar merah,” tulis Babur seperti dikutip dari laman aramcoworld, Kamis (31/1).  

    Kemudian, Babur mencoba memperkenalkan banyak tanaman ke India yang berasal dari tanah airnya di Uzbekistan serta dari Kashmir.

    Beberapa di antaranya muncul dalam miniatur Kekaisaran Mughal dan juga menjadi motif dekoratif pada produk sulaman, tekstil, karpet dan furnitur, serta produk ukiran dan tatahan. 

    Bunga tulip dan varietasnya kemudian banyak menyebar ke arah Barat melalui Iran dan Kekaisaran Ottoman, yang  mana pada masa itu kekaisaran tersebut sangat tertarik dengan bunga dan perkebunan, tepatnya pada abad ke-16. Bunga Tulip, eceng gondok, mawar dan anyelir menjadi favorit pada masa itu.

    Bunga Tulip dilukiskan secara berulang-ulang pada ubin yang tak terhitung jumlahnya, pada keramik terkenal dari Iznik, di lukisan dekoratif di istana, di sampul pernis manuskrip dan di tekstil, mulai dari beludru sutra hingga syal bersulam. Bahkan, pada abad ke-18 juga ada bunga tulip di sepanjang menara masjid yang dibangun di Durres, Albania.

    Informasi tentang berbagai bunga banyak berasal dari risalah yang diilustrasikan dengan indah. Risalah-risalah lainnya juga banyak memberikan informasi terperinci tentang asal mula bunga, budi daya bunga, dan sering mencatat tentang pemuliaan tanaman utama.

    Ada juga buku-buku tentang bunga anyelir dan bunga-bunga lainnya, tetapi sejauh ini bunga mawar dan tulip menjadi yang paling populer. 

    Menurut risalah yang ditulis abad ke-18, kepala hakim di bawah kekuasaan Sultan Turki Utsmani Suleiman Agung, Ebussuud Efendi memiliki tanggung jawab untuk mempopulerkan bunga tulip. Misalnya, ketika ia diberi tulip putih, kemudian dia sebarkan di kebunnya. 

    Pada 1630 M, muncul fenomena “tulipomania” yang luar biasa di Belanda dan terjadi industri ekspor besar-besaran. Tulipomania merupakan periode pada Zaman Keemasan Belanda selama kontrak harga untuk umbi dari bunga tulip yang baru diperkenalkan mencapai tingkat harga yang sangat tinggi dan tiba-tiba runtuh.

    Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/19/02/02/pm9vhc320-sentuhan-peradaban-islam-di-balik-populernya-tulip-di-eropa

  • Pedang Para Nabi

    Pedang Para Nabi

    by: Zico Pratama Putra

    Beberapa bulan lalu saya dan istri berkesempatan berkunjung ke Topkapi Palace, Istanbul, Turki. Kunjungan kami ini terasa spesial berhubung kami disana disambut oleh seorang ustadz muda yang suara qiraatnya mirip syekh Mishari Rasyid, sdr. Tarmidzi Al-Khudriyyi. Beliau mahasiswa Indonesia jurusan agama di univ. Istanbul.

    Topkapi Palace adalah kediaman banyak Sultan, saksi dari kunjungan banyak raja dan duta yang mengunjunginya selama berabad-abad. Namun, apa yang membuat istana itu begitu istimewa bukan hanya bekas penghuninya, tetapi Peninggalan Suci, yang meliputi barang-barang pribadi dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Digali dari kamar yang paling pribadi dan tersembunyi dari istana, semua peninggalannya dikumpulkan di sini untuk pertama kalinya, termasuk jenis yang jarang dipamerkan untuk kunjungan sehari-hari. Dari tongkat dari Nabi Musa AS sampai Jubah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, yang semuanya adalah Peninggalan Suci yang dilindungi Dinasti Utsmani di Istana Topkapi.

    Kita bisa melihat sejumlah Quran, mulai dari Quran tertua milik Sayyidina Utsman. Konon ini adalah Quran yang beliau baca menjelang wafatnya, dan masih terdapat bercak darah pada halaman yang beliau baca ketika hari beliau terbunuh). Lalu ada banyak koleksi Quran dari abad ke abad, baik yang masih berupa fragmen maupun satu koleksi lengkap.

    Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah beberapa koleksi dari Nabi-nabi terdahulu. Yes, nabi2 terdahulu, alaihimussalam. How come?!!

    Topkapi menyimpan -dalam ruang khusus- peninggalan nabi, diantaranya adalah Tongkat nabi Musa AS, Sorban Nabi Yahya AS, Pedang Nabi Daud AS, dan potongan lengan kanan Nabi Yahya AS. Semua ini merupakan koleksi paling kontroversial menurut saya. Bagaimana mungkin barang sejarah -yang pelakunya berusia lebih dari 2000 tahun- tapi masih terjaga sampai sekarang???!! Masa sorban yang kain begitu bisa awet? Apalagi pedang nabi Daud yang menurut Museum memperkirakan beliau hidup seribu tahun sebelum masehi. Lebih keterlaluan lagi, ada satu item yang lebih tua…. Panci makan nabi Ibrahim AS. Betul-betul humor yang keterlaluan menurut saya.

    Sayang, pada kunjungan yang berharga ini saya tidak didampingi tour guide yang biasanya akan menjelaskan dengan detil kisah-kisah setiap item. Diawal saya menyayangkan dan meragukan otentisitas item2 tersebut dan menuduh Dinasti Ustmani macam2. Apalagi sebagian pedang-pedang tersebut berlapis emas dan berukir tulisan arab. Padahal khan tulisan arab saat itu belum seperti tulisan arab hari ini. Bagaimana barang-barang bersejarah ini didapat? Begini kisahnya….

    Ketika Sultan Salim kembali dari kunjungannya ke Mesir (1517), ia ke Istanbul dengan membawa Peninggalan Suci dari perbendaharaan negara Mamluk, Kekhalifahan Abbasiyah, dan Hijaz Emirat.

    Sultan Salim I mulai mengumpulkan Peninggalan Suci di Istana Topkapi, dan penerusnya melanjutkan tradisi ini sampai awal abad kedua puluh. Sultan mengumpulkan peninggalan Nabi dan Tokoh Muslim besar lainnya, serta barang-barang dari situs keagamaan yang dihormati. Pada awal abad kesembilan belas dan kedua puluh, perhatian utama mereka adalah demi melindungi peninggalan dari kerusakan potensial oleh kaum Wahabi. Mereka pikir, Wahabi akan menuduh penjagaan terhadap barang-barang bersejarah tersebut merupakan kemusyrikan, sehingga benda-benda sejarah ini dikirim ke Istanbul untuk perlindungan dan perawatan. Selama Perang Dunia I, ketika sedang mempertimbangkan penyerahan Madina, wali kota Fahreddin Pasha, mengirim sejumlah hadiah berharga yang telah dijaga selama berabad-abad ke Istanbul, bersama dengan beberapa Peninggalan Suci.

    Sebagian besar terjaga di Istana Topkapi Treasury Collection. Saat ini, ada 605 item yang terdaftar di Museum Topkapi Palace Divisi Peninggalan Suci. Selain itu, ada banyak benda yang dapat dianggap Peninggalan Suci disimpan di divisi treasury. Sebetulnya Kesultanan Utsmaniyah tidak menghubungkan apapun terkait kesucian ke objek material; namun, mereka sadar bahwa barang-barang milik Rasulullah memiliki barakah tersendiri.

    Tahsin OZ, ahli purbakala Tutki, menulis sebagai berikut dalam bukunya Emanat-i Mukaddes [The Sacred Relic] yang diterbitkan pada tahun 1953: ” Peninggalan Suci ini dikumpulkan berkat berbagai manifestasi takdir sejarah selama berabad-abad. Harta ini diteruskan ke Turki sepotong demi sepotong dengan upaya berlandaskan iman dan kadang-kadang dengan keberuntungan. Hal ini jelas bahwa bahwa mereka bukan hanya mengumpulkan dan melindungi benda-benda suci dengan ikatan agama dan cinta, tetapi juga berharga dalam standar dunia artistik dan historis. Perawatan dan penghormatan untuk perlindungan benda-benda sakral sejauh ini sangat tak terhingga. Selama kami ada, tugas suci ini akan dilakukan dengan cinta, rasa peduli, dan demi kehormatan. ”

    Jadi barang-barang bersejarah tersebut bukan dibikin2 oleh para sultan utsmani, tetapi punya akar sejarahnya masing-masing.

    Perhatian saya tertuju pada potongan tangan kanan Nabi Yahya dan terutama pedang Nabi Dawud AS. Tapi pada kesempatan ini biar saya ulas saja tentang pedang ini dahulu.

    Menurut sejarah, Rasulullah memiliki sejumlah pedang yang umumnya tidak pernah beliau gunakan. Tentu sebagiannya beliau bawa dalam perang, cuma saya belum pernah baca dalam sirah bahwa beliau pernah gunakan untuk membunuh orang, kecuali pernah sekali sabetannya melukai musuh dengan luka ringan.

    Tercatat, ada 9 pedang yang dimiliki Rasulullah, dan masing-masing memiliki nama. Diantara pedang tersebut, adalah pedang Al-Battar dan pedang Hatf. Kedua pedang ini merupakan rampasan perang dari bani Qainuqa. Pedang Al-Battar ini disebut “Pedang para nabi ‘, dan di pedang memiliki ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Dawud, AS, Sulaiman AS, Nabi Musa, AS, Harun AS, Nabi Yusuf, Nabi Zakaria AS, Yahya AS, Nabi Isa, Nabi Muhammad’.

    Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya: Di dalam ada juga gambar dari Daud memenggal kepala Jalut, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Dalam pedang ini terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk bilah dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa inilah pedang Nabi Isa yang akan digunakan kemudian ketika ia turun ke bumi lagi untuk mengalahkan Dajjal. Wallahu A’lam

    Tulisan pada bilahnya ini bertanggal 880 H (1475 M) yang dibawa bersama dengan pedang nabi Dawud dari Mesir. Ditulis satu setengah abad sebelum Kesultanan Ustmani menaklukkan Mesir, berisi 33 baris yang menjelaskan bagaimana Daud mengalahkan Jalut dengan pedang. Tetapi kita dapatkan riwayat bahwa Nabi Daud menumbangkan Jalut dengan ketapelnya, bukan dengan pedang. Boleh jadi Jalut roboh dan tewas dengan ketapel, lalu Nabiyullah Daud penggal kepalanya dengan pedang itu. Baris tersebut juga menjelaskan bagaimana pedang itu diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari Nabi Yusuf, lalu kepada Harun, lalu bagaimana pedang ini juga digunakan ketika orang-orang majusi berusaha merusak kubur rasulullah SAW.

    Pedang ini diwariskan melalui tangan para raja dan terakhir hingga tangan raja Muqawqis, penguasa Mesir saat itu. Menariknya, bait tulisan dari pedang itu tidak hanya menampilkan ramalan penaklukan Mesir oleh Ustmani, tetapi juga menyatakan bahwa di masa depan, pedang Dawud ini akan diserahkan kepada Ustmani lalu kepada Nabiyullah Isa Al Masih pada akhirnya. Bahasa yang digunakan pada tulisan itu agak kabur dan agak sulit dipahami.

    Terjemahnya sbb: Ali bin Abi Thalib berkata: Aku temukan pedang dan bilah ini pada simpanan Muqawqis, Penguasa Mesir. Ada tulisan didalamnya oleh Daud dalam bahasa Syria (kuno) dan Hebrew (Aramaic?). Dikatakan : Ketika Jalut menjadi penguasa zalim, aku membuat pedang dan panah sebagaimana yang telah Allah ajarkan kepadaku. Allah berikan aku kemenangan. Ciri pedang itu sbb: disatu sisinya ada gambar seseorang dengan pedang dan tangan satunya memegang kepala. Satu sisinya lagi ada gambar seseorang duduk diatas mimbar. Satu gambar menggambarkan Jalut yang kupenggal dan gambar lelaki di mimbar adalah Sulaiman. Pedang ini akan sampai kepada Nabi Yusuf. Darinya, akan beralih ke Sultan Sanjar. Ketika beliau wafat, maka wilayahnya akan dikuasai. Lalu para firaun akan muncul dan memerintah Mesir dengan Zalim.

    Allah akan menyembunyikan pedang ini darinya. Dan dia akan sampai ke tangan Asiyah, istri firaun. Asiya adalah wanita beriman. Lalu ia akan diwariskan kepada Musa, yang akan ia wariskan kepada Harun. Dari Harun diwariskan ke Nabi Yusya’, lalu kepada Malik, lalu raja Shemun, lalu raja Helbum, lalu raja Hubr, ke Ehram, ke Raja Defnu, ke Raja Lahud, ke Raja Maimun, ke raja Darut, ke raja Melc, ke Raja Ranan, lalu ke raja Syits. Ini akan terus diwariskan kepada para raja hingga sampai kepada Nabi Zakaria, lalu Yahya, lalu kepada Isa.

    Ini akan dihadiahkan kepada Nabi Muhammad, yang akan digunakannya untuk berperang. Setelah Rasulullah, maka akan digunakan Abu Bakar, yang nantinya diwariskan kepada anaknya, Muhammad. Ali bin Abi Thalib akan menunjuk Muhammad bin Abu bakar sebagai gubernur Mesir. dst…. Turki percaya pada waktunya nanti, Imam Mahdi akan datang ke Istanbul dan meminta atribut2 tersebut, yaitu bendera perang Rasulullah dan pedang para nabi ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Imam Mahdi akan berperang dengan sejumlah barang tersebut.

    Tentu saja narasi diatas debatable, setidaknya saya pernah tanyakan pandangan ustadz kami di Madinah, lalu beliau tanyakan kepada syekh beliau disana. Syekh beliau meragukannya.

    Wallahu A’lam.

  • The Islamization of Turkey

    The Islamization of Turkey

    Turkey's President Tayyip Erdogan adressess his supporters in front of a mosque after Friday prayers in Istanbul, Turkey, May 29, 2015. Turkish President Tayyip Erdogan said the launch of Ziraat Bank's Islamic business should help to attract new funds to Turkey and urged other state lenders to help to triple Islamic banking's share of the market by 2023. Islamic finance has developed slowly in Turkey, the world's eighth most populous Muslim nation, partly because of political sensitivities and the secular nature of its laws. However, the landscape began to change in 2012, when the government issued its first $1.5 billion Islamic bond and kick-started regulatory moves to allow wider use of Islamic finance contracts. REUTERS/Murad Sezer - RTR4Y0N7
    Turkey’s President Tayyip Erdogan adressess his supporters in front of a mosque after Friday prayers in Istanbul, Turkey, May 29, 2015. Turkish President Tayyip Erdogan said the launch of Ziraat Bank’s Islamic business should help to attract new funds to Turkey and urged other state lenders to help to triple Islamic banking’s share of the market by 2023. Islamic finance has developed slowly in Turkey, the world’s eighth most populous Muslim nation, partly because of political sensitivities and the secular nature of its laws. However, the landscape began to change in 2012, when the government issued its first $1.5 billion Islamic bond and kick-started regulatory moves to allow wider use of Islamic finance contracts. REUTERS/Murad Sezer – RTR4Y0N7

    The run-up to Turkey’s June 7 general elections has been marked by President Recep Tayyip Erdogan’s intensive use of Islamic symbols and rhetoric, including rally appearances with the Quran. On May 29, the Constitutional Court announced a controversial ruling removing restrictions on religious marriages, while Erdogan led an inauguration ceremony of both economic and religious significance.

    The event in Istanbul, attended by Cabinet ministers and complete with prayers, marked the launch of the first branch of the Ziraat Participation Bank, the Islamic unit of state-owned lender Ziraat, in line with government decisions to expand Islamic banking in the Turkish financial sector. Islamic banks are called “participation banks” in Turkey, a moniker for interest-free banking that refers to participation in profits from certain financial instruments.

    Launched on a Friday, the week’s holy day in Islam, the new Islamic bank is planned to have 20 branches by the end of the year and 170 branches by 2018, employing 2,200 people. Deputy Prime Minister Ali Babacan, who oversees the economy, said the two other state-owned lenders, VakifBank and Halkbank, will also inaugurate their Islamic units soon. This will bring the number of Islamic banks in Turkey to seven.

    Hours after the inauguration, another remarkable development took place. The authorities seized Bank Asya, the Gulen movement’s Islamic participation bank. The Savings Deposit Insurance Fund, the body that deals with troubled banks, had already taken over Bank Asya’s management and 63% of its shares on Feb. 3 amid simmering tensions between the government and the Gulen movement. Thus, the Turkish state got two new Islamic banks in a single day. Once VakifBank and Halkbank enter the sector, four of the seven Islamic banks will be state-run.

    Ziraat’s Islamic unit was established with capital allocated by the Treasury after the authorities reasoned that using Ziraat’s own capital would be religiously illicit since the bank is a conventional institution operating on the basis of interest rates, a practice prohibited in Islam. Erdogan said the Treasury had transferred 675 million Turkish lira ($260 million) to the new interest-free bank. Ironically, the Treasury itself is known to have raised this fund through interest-based borrowing on the domestic and foreign markets.

    The Justice and Development Party (AKP) government entertains ambitions to make Istanbul an Islamic financing hub, including a project to establish a bank called Mega Bank in cooperation with Indonesia and the Islamic Development Bank. Under the project, revealed during the May 20 convention of the Turkish Participation Banks Union (TKBB), Mega Bank will serve as the central bank of the Islamic financing system and steer Islamic financial markets.

    According to objectives set in the TKBB’s 2015-2025 Strategy Paper, Islamic banking should expand to 15% of the financial sector in a decade and its total assets should reach $300 billion. Babacan said the strategy paper would be adopted at the government-run Higher Planning Board as soon as possible to become a “state strategy.”

    In 2014, Turkish participation banks lent a total of 70 billion Turkish lira ($27 billion) and had total assets of 104 billion Turkish lira ($40 billion), according to the sector’s annual report. The number of their branches, meanwhile, reached 990. Globally, the sukuk (Islamic bonds) issued by Islamic banks amounted to $632 billion in the 1996-2014 period. In Turkey, thenoninterest bonds issued in 2014 were worth $6.7 billion, with a $5.5-billion share issued by the Treasury and the remaining $1.2 billion by participation banks.

    While the government pressed ahead with its Islamic banking drive, the Constitutional Court issued an intriguing ruling. The court annulled a penal code provision that banned religious marriage ceremonies for couples without a legally binding civil marriage and stipulated jail terms of two to six years for offenders, including both the couples and imams performing those ceremonies. The judgement sparked a widespread outcry that the court was effectively encouraging polygamy, child marriages and the abuse of women.

    Four of the tribunal’s 16 judges opposed the annulment, stressing in their dissenting opinion that the move would breach the principle of secularism, victimize women and encourage polygamy and weddings that are not legally recognized. The other 12 judges, meanwhile, opined that since the penal code does not penalize couples living together out of wedlock, penalizing those who get married through a religious ceremony without a civil wedding was a breach of the constitutional principle of equality.

    The Constitutional Court’s ruling is likely to deal a heavy blow on women’s rights, as well as efforts to empower women and prevent underage girls from being married off.

    Not even the AKP’s Family and Social Policies Minister Aysenur Islam could hide her astonishment. “Marriage is a contract that must be [officially] recorded. The ruling does not nullify the necessity for civil marriage. No measure encouraging the marriage of children or eradicating related legal provisions will be tolerated,” she said in a TV interview soon after the ruling was made public.

    She added, “Now that this ruling has been issued, we [the ministry] have to launch new efforts to prevent children younger than 18 from being married off unofficially through religious ceremonies. Everyone is actually aware that child marriages are prohibited. And this ruling must not serve as an encouragement that opens the door for such marriages.”

    Huseyin Aygun, a lawmaker for the main opposition Republican People’s Party, grumbled in a series of Twitter messages that the Constitutional Court had opened the door for mutah marriages, or temporary marriages in return for money that can last only hours or days. The ruling, he argued, will enable wealthy men to marry dozens of women, while jeopardizing the alimony rights of women and children in case of divorce in marriages sealed only by imams.

    The Constitutional Court’s decision and the government’s simultaneous drive to boost the Islamic banking sector come as fresh signs of efforts to transform social life and the economy along Islamic lines. In 2004, the AKP had made an unsuccessful attempt to criminalize adultery and introduce heavy jail terms for offenders. Now with the court ruling, it has gained an important ground in promoting an Islamic lifestyle for Turks. The Islamic banking drive is similarly aimed at consolidating those efforts via the economy.

    Read more: http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2015/06/turkey-concerns-grow-of-islamized-economy-and-social-life.html#ixzz3cH2J0NqC