Pedang Para Nabi

by: Zico Pratama Putra

Beberapa bulan lalu saya dan istri berkesempatan berkunjung ke Topkapi Palace, Istanbul, Turki. Kunjungan kami ini terasa spesial berhubung kami disana disambut oleh seorang ustadz muda yang suara qiraatnya mirip syekh Mishari Rasyid, sdr. Tarmidzi Al-Khudriyyi. Beliau mahasiswa Indonesia jurusan agama di univ. Istanbul.

Topkapi Palace adalah kediaman banyak Sultan, saksi dari kunjungan banyak raja dan duta yang mengunjunginya selama berabad-abad. Namun, apa yang membuat istana itu begitu istimewa bukan hanya bekas penghuninya, tetapi Peninggalan Suci, yang meliputi barang-barang pribadi dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Digali dari kamar yang paling pribadi dan tersembunyi dari istana, semua peninggalannya dikumpulkan di sini untuk pertama kalinya, termasuk jenis yang jarang dipamerkan untuk kunjungan sehari-hari. Dari tongkat dari Nabi Musa AS sampai Jubah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, yang semuanya adalah Peninggalan Suci yang dilindungi Dinasti Utsmani di Istana Topkapi.

Kita bisa melihat sejumlah Quran, mulai dari Quran tertua milik Sayyidina Utsman. Konon ini adalah Quran yang beliau baca menjelang wafatnya, dan masih terdapat bercak darah pada halaman yang beliau baca ketika hari beliau terbunuh). Lalu ada banyak koleksi Quran dari abad ke abad, baik yang masih berupa fragmen maupun satu koleksi lengkap.

Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah beberapa koleksi dari Nabi-nabi terdahulu. Yes, nabi2 terdahulu, alaihimussalam. How come?!!

Topkapi menyimpan -dalam ruang khusus- peninggalan nabi, diantaranya adalah Tongkat nabi Musa AS, Sorban Nabi Yahya AS, Pedang Nabi Daud AS, dan potongan lengan kanan Nabi Yahya AS. Semua ini merupakan koleksi paling kontroversial menurut saya. Bagaimana mungkin barang sejarah -yang pelakunya berusia lebih dari 2000 tahun- tapi masih terjaga sampai sekarang???!! Masa sorban yang kain begitu bisa awet? Apalagi pedang nabi Daud yang menurut Museum memperkirakan beliau hidup seribu tahun sebelum masehi. Lebih keterlaluan lagi, ada satu item yang lebih tua…. Panci makan nabi Ibrahim AS. Betul-betul humor yang keterlaluan menurut saya.

Sayang, pada kunjungan yang berharga ini saya tidak didampingi tour guide yang biasanya akan menjelaskan dengan detil kisah-kisah setiap item. Diawal saya menyayangkan dan meragukan otentisitas item2 tersebut dan menuduh Dinasti Ustmani macam2. Apalagi sebagian pedang-pedang tersebut berlapis emas dan berukir tulisan arab. Padahal khan tulisan arab saat itu belum seperti tulisan arab hari ini. Bagaimana barang-barang bersejarah ini didapat? Begini kisahnya….

Ketika Sultan Salim kembali dari kunjungannya ke Mesir (1517), ia ke Istanbul dengan membawa Peninggalan Suci dari perbendaharaan negara Mamluk, Kekhalifahan Abbasiyah, dan Hijaz Emirat.

Sultan Salim I mulai mengumpulkan Peninggalan Suci di Istana Topkapi, dan penerusnya melanjutkan tradisi ini sampai awal abad kedua puluh. Sultan mengumpulkan peninggalan Nabi dan Tokoh Muslim besar lainnya, serta barang-barang dari situs keagamaan yang dihormati. Pada awal abad kesembilan belas dan kedua puluh, perhatian utama mereka adalah demi melindungi peninggalan dari kerusakan potensial oleh kaum Wahabi. Mereka pikir, Wahabi akan menuduh penjagaan terhadap barang-barang bersejarah tersebut merupakan kemusyrikan, sehingga benda-benda sejarah ini dikirim ke Istanbul untuk perlindungan dan perawatan. Selama Perang Dunia I, ketika sedang mempertimbangkan penyerahan Madina, wali kota Fahreddin Pasha, mengirim sejumlah hadiah berharga yang telah dijaga selama berabad-abad ke Istanbul, bersama dengan beberapa Peninggalan Suci.

Sebagian besar terjaga di Istana Topkapi Treasury Collection. Saat ini, ada 605 item yang terdaftar di Museum Topkapi Palace Divisi Peninggalan Suci. Selain itu, ada banyak benda yang dapat dianggap Peninggalan Suci disimpan di divisi treasury. Sebetulnya Kesultanan Utsmaniyah tidak menghubungkan apapun terkait kesucian ke objek material; namun, mereka sadar bahwa barang-barang milik Rasulullah memiliki barakah tersendiri.

Tahsin OZ, ahli purbakala Tutki, menulis sebagai berikut dalam bukunya Emanat-i Mukaddes [The Sacred Relic] yang diterbitkan pada tahun 1953: ” Peninggalan Suci ini dikumpulkan berkat berbagai manifestasi takdir sejarah selama berabad-abad. Harta ini diteruskan ke Turki sepotong demi sepotong dengan upaya berlandaskan iman dan kadang-kadang dengan keberuntungan. Hal ini jelas bahwa bahwa mereka bukan hanya mengumpulkan dan melindungi benda-benda suci dengan ikatan agama dan cinta, tetapi juga berharga dalam standar dunia artistik dan historis. Perawatan dan penghormatan untuk perlindungan benda-benda sakral sejauh ini sangat tak terhingga. Selama kami ada, tugas suci ini akan dilakukan dengan cinta, rasa peduli, dan demi kehormatan. ”

Jadi barang-barang bersejarah tersebut bukan dibikin2 oleh para sultan utsmani, tetapi punya akar sejarahnya masing-masing.

Perhatian saya tertuju pada potongan tangan kanan Nabi Yahya dan terutama pedang Nabi Dawud AS. Tapi pada kesempatan ini biar saya ulas saja tentang pedang ini dahulu.

Menurut sejarah, Rasulullah memiliki sejumlah pedang yang umumnya tidak pernah beliau gunakan. Tentu sebagiannya beliau bawa dalam perang, cuma saya belum pernah baca dalam sirah bahwa beliau pernah gunakan untuk membunuh orang, kecuali pernah sekali sabetannya melukai musuh dengan luka ringan.

Tercatat, ada 9 pedang yang dimiliki Rasulullah, dan masing-masing memiliki nama. Diantara pedang tersebut, adalah pedang Al-Battar dan pedang Hatf. Kedua pedang ini merupakan rampasan perang dari bani Qainuqa. Pedang Al-Battar ini disebut “Pedang para nabi ‘, dan di pedang memiliki ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Dawud, AS, Sulaiman AS, Nabi Musa, AS, Harun AS, Nabi Yusuf, Nabi Zakaria AS, Yahya AS, Nabi Isa, Nabi Muhammad’.

Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya: Di dalam ada juga gambar dari Daud memenggal kepala Jalut, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Dalam pedang ini terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk bilah dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa inilah pedang Nabi Isa yang akan digunakan kemudian ketika ia turun ke bumi lagi untuk mengalahkan Dajjal. Wallahu A’lam

Tulisan pada bilahnya ini bertanggal 880 H (1475 M) yang dibawa bersama dengan pedang nabi Dawud dari Mesir. Ditulis satu setengah abad sebelum Kesultanan Ustmani menaklukkan Mesir, berisi 33 baris yang menjelaskan bagaimana Daud mengalahkan Jalut dengan pedang. Tetapi kita dapatkan riwayat bahwa Nabi Daud menumbangkan Jalut dengan ketapelnya, bukan dengan pedang. Boleh jadi Jalut roboh dan tewas dengan ketapel, lalu Nabiyullah Daud penggal kepalanya dengan pedang itu. Baris tersebut juga menjelaskan bagaimana pedang itu diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari Nabi Yusuf, lalu kepada Harun, lalu bagaimana pedang ini juga digunakan ketika orang-orang majusi berusaha merusak kubur rasulullah SAW.

Pedang ini diwariskan melalui tangan para raja dan terakhir hingga tangan raja Muqawqis, penguasa Mesir saat itu. Menariknya, bait tulisan dari pedang itu tidak hanya menampilkan ramalan penaklukan Mesir oleh Ustmani, tetapi juga menyatakan bahwa di masa depan, pedang Dawud ini akan diserahkan kepada Ustmani lalu kepada Nabiyullah Isa Al Masih pada akhirnya. Bahasa yang digunakan pada tulisan itu agak kabur dan agak sulit dipahami.

Terjemahnya sbb: Ali bin Abi Thalib berkata: Aku temukan pedang dan bilah ini pada simpanan Muqawqis, Penguasa Mesir. Ada tulisan didalamnya oleh Daud dalam bahasa Syria (kuno) dan Hebrew (Aramaic?). Dikatakan : Ketika Jalut menjadi penguasa zalim, aku membuat pedang dan panah sebagaimana yang telah Allah ajarkan kepadaku. Allah berikan aku kemenangan. Ciri pedang itu sbb: disatu sisinya ada gambar seseorang dengan pedang dan tangan satunya memegang kepala. Satu sisinya lagi ada gambar seseorang duduk diatas mimbar. Satu gambar menggambarkan Jalut yang kupenggal dan gambar lelaki di mimbar adalah Sulaiman. Pedang ini akan sampai kepada Nabi Yusuf. Darinya, akan beralih ke Sultan Sanjar. Ketika beliau wafat, maka wilayahnya akan dikuasai. Lalu para firaun akan muncul dan memerintah Mesir dengan Zalim.

Allah akan menyembunyikan pedang ini darinya. Dan dia akan sampai ke tangan Asiyah, istri firaun. Asiya adalah wanita beriman. Lalu ia akan diwariskan kepada Musa, yang akan ia wariskan kepada Harun. Dari Harun diwariskan ke Nabi Yusya’, lalu kepada Malik, lalu raja Shemun, lalu raja Helbum, lalu raja Hubr, ke Ehram, ke Raja Defnu, ke Raja Lahud, ke Raja Maimun, ke raja Darut, ke raja Melc, ke Raja Ranan, lalu ke raja Syits. Ini akan terus diwariskan kepada para raja hingga sampai kepada Nabi Zakaria, lalu Yahya, lalu kepada Isa.

Ini akan dihadiahkan kepada Nabi Muhammad, yang akan digunakannya untuk berperang. Setelah Rasulullah, maka akan digunakan Abu Bakar, yang nantinya diwariskan kepada anaknya, Muhammad. Ali bin Abi Thalib akan menunjuk Muhammad bin Abu bakar sebagai gubernur Mesir. dst…. Turki percaya pada waktunya nanti, Imam Mahdi akan datang ke Istanbul dan meminta atribut2 tersebut, yaitu bendera perang Rasulullah dan pedang para nabi ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Imam Mahdi akan berperang dengan sejumlah barang tersebut.

Tentu saja narasi diatas debatable, setidaknya saya pernah tanyakan pandangan ustadz kami di Madinah, lalu beliau tanyakan kepada syekh beliau disana. Syekh beliau meragukannya.

Wallahu A’lam.



Leave a Reply

Wakaf Darulfunun – Aamil Indonesia