Category: Syiar Dakwah

  • Kiai Cholil Nafis : Dakwah Islam Harus Beradaptasi dengan Media Digital Baru

    JAKARTA — Perkembangan teknologi saat ini dirasakan hampir di seluruh dunia. Perkembangannya yang begitu pesat menuntut manusia untuk dapat beradaptasi dengan cepat dan tepat.

    Hal tersebut juga dirasakan oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia. Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menegaskan bahwa dakwah pada saat ini harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada.

    “Saat ini, kecenderungan orang belajar tidak duduk di majelis saja, karena sekarang sudah ada Youtube, Tiktok, Instagram TV dan media-media lainnya. Perkembangan dakwah juga harus beradaptasi dengan media-media baru tersebut. Dakwah secara lisan yang sifatnya oral harus beralih ke digital, ” ujar Kiai Cholil pada kegiatan Halaqah Dakwah yang diselenggarakan Komisi Dakwah MUI, (22/04).

    Dalam kegiatan tersebut, Kiai Cholil juga menyampaikan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 89% generasi milenial saat iki sudah tidak lagi mengaji di masjid dan majelis taklim.

    “Saat iki generasi milenial lebih senang melihat Youtube, tidak lagi menonton TV ataupun datang ke majelis. Mereka tidak ingin ngajinya, waktunya, dan tempatnya terikat, ” tutur beliau.

    Dengan perkembangan teknologi tersebut, beliau berharap kegiatan dakwah islam khususnya di MUI dapat segara beradaptasi dan berinovasi menyesuaikan perkembangan zaman.

    Selain itu, seiring perkembangan teknologi, MUI juga harus memantau serta mengawal narasi digital yang sesuai dengan pedoman dakwah.

    (Dhea Oktaviana/Azhar)

  • Marak Penodaan Agama, MUI Minta Tokoh Lintas Agama Ceramahkan Perdamaian, Bukan Kebencian

    JAKARTA – Ketua Komisi Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (KAUB-MUI), Dr. H Abdul Moqshit Ghazali MA meminta para tokoh lintas agama termasuk fungsionaris organisasi keagamaan mengisi konten ceramah dengan ujaran perdamaian, bukan ujaran kebencian.

    Hal ini disampaikan menyikapi sejumlah kasus penistaan agama yang muncul sepanjang 2021 lalu.

    “Semua pihak harus menahan diri agar tidak melakukan tindakan melanggar hukum seperti penodaan agama,” kata Dr. H Abdul Moqshit Ghazali MA, kepada MUIDigital, Senin (31/1/2022).

    Dia juga mengungkapkan salah satu upaya untuk meminimalkan laju penodaan agama dan ujaran kebencian di Indonesia dengan penegakkan hukum.

    Tidak hanya itu, menurut dia, upaya untuk mengantisipasi adanya penodaan agama memerlukan upaya pendekatan-pendekatan kultural dan pendidikan.

    “Karena banyak kasus ‘penodaan agama’ berangkat dari ketidak-tahuan dan keawaman para pihak,”ungkapnya.

    Sementara itu, saat memberikan sambutan pada Multaqa Duat Nasional III MUI, Ahad (23/1/). Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsyudi Suhud mengingatkan agar dakwah menjadi sarana untuk menyebarkan hal-hal baik yang membangun umat.

    Menurutnya, dakwah bukan menjadi jalan untuk merobohkan, apalagi meruntuhkan.

    “Dakwah adalah membangun, bukan merobohkan apalagi meruntuhkan. Dakwah membangun keilmuan, membangun peradaban, bahkan kehidupan,” ujarnya.

    (Sadam Al-Ghifari/Angga)

  • MUI Dorong Dunia Perfilman Aktif Berdakwah Melalui Film

    JAKARTA— Delegasi tim produksi film Hayya 2 bersilaturahim ke Majelis Ulama Indonesia. Silaturahim yang berlangsung di Gedung MUI, Selasa (26/1/2022) ini dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Jeje Jainudin.

    Kiai Jeje menyambut baik dan mengapresiasi atas diproduksinya film ini. Ia juga mengajak seluruh masyarakat terutama jaringan pesantren, kampus, majelis taklim dan juga seluruh ormas Islam untuk menonton film Hayya 2.

    Dia menekankan bahwa film ini mengandung banyak pesan moral, terutama dalam pembangunan spirit keagamaan sekaligus pembentukan karakter untuk kalangan santri, siswa, dan masyarakat umum.

    Hal ini menurut dia, sejalan dengan program unggulan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI MUI) pada 2022 yakni mengoptimalkan produksi film Islami yang elegan dan mengedukasi.
    MUI akan mendorong dunia perfilman untuk produktif berdakwah melalui film agar lebih mudah menjangkau masyarakat.

    “Melalui film, pesan moral yang berusaha disampaikan akan lebih mudah diterima dan diserap masyarakat,” kata dia.

    Setelah sukses dengan film “Hayya 1” yang tembus 750 ribu penonton, rumah produksi Warna Pictures merilis Hayya 2 “Hope, Dream & reality” yang akan tayang pada 14 Maret 2022 mendatang. Hayya 2 dikabarkan mengangkat isu kemanusiaan dan kesehatan mental.

    Okky Setiana Dewi, sebagai salah satu pemain dalam film ini, mengungkapkan bahwa film ini mengangkat isu Palestina yang masih hangat. Banyak nilai-nilai kemanusiaan yang akan di tampilkan dalam scene film Hayya 2 ini.

    Tak hanya itu, dia juga meminta kepada MUI untuk terus mendukung dunia hiburan agar terus berjuang menjaga nilai syariah dalam dunia film, dan menjadikan karya film sebagai media dakwah. (Nurul/ Nashih)

  • Prof. Ahmad M. Ramli Ungkap Tantangan Dakwah di Era 5.0

    JAKARTA – Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika, Prof. Dr. Ahmad M. Ramli mengungkapkan tantangan efektivitas dakwah di era 5.0. Isu dakwah di media sosial menjadi perhatian khusus di tengah penggunaan media digital yang terus meningkat.

    “Jika kita ingin mengukur dakwah dan media mana yang paling efektif untuk digunakan hari ini, maka kita perlu melihat angka rata-rata pengguna internet dalam sehari yang berselancar di dunia maya yaitu selama 8 jam 50 menit,” jelasnya, Minggu (23/1).

    Dalam acara Multaqo Duat Nasional ke-III Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar secara hybrid tersebut Prof. Ahmad menyatakan, terdapat kenaikan jumlah pengguna sosial media di Indonesia khususnya selama pandemi Covid-19.

    Menurut dia, hal tersebut mampu memberikan gambaran untuk melihat efektivitas kegiatan dakwah atau pun diseminasi berbagai konten yang ingin disampaikan di sosial media.

    Di samping itu, munculnya arus digitalisasi selama masa pandemi, telah mengubah pola pengguna internet aktif. Karenanya rentan usia pengguna internet yang semula dimulai pada usia 15 tahun, kini menjadi lebih dini yaitu pada usia 6 tahun.

    “Ini merupakan tangangan yang perlu kita antisipasi dimana dunia bergerak begitu cepat. Beberapa tahun lalu jika ingin memesan taksi harus melalui operator, tetapi belakangan ini bisa diakses melalui aplikasi yang secara langsung terkoneksi dengan driver,” kata Prof. Ahmad.

    “Karenanya jika ada pertanyaan apa yang terdistrupsi ketika kita melakukan transformasi digital salah satunya yaitu middleman,” lanjutnya.

    Lebih lanjut Prof. Ahmad menuturkan, di era 5.0 yang memiliki kecepatan akses internet jauh lebih cepat 100 hingga 200 kali lipat dari 4G, membuka peluang lebar untuk menciptakan inovasi baru dalam dunia digital.

    Melansir data dari Hootsuite (We are Social) tercatat sebanyak 170 juta masyarakat Indonesia aktif memanfaatkan sosial media. Hal menunjukkan terdapat sekitar 61,8 persen masyarakat dari populasi yang aktif berselancar di dunia maya, khususnya dengan menggunakan smartphone.

    Prof. Ahmad menambahkan, presentase pengguna sosial media tertinggi masih dipegang oleh Youtube dan Facebook. Oleh sebab itu, dikatakan Prof Ahmad, jika kita ingin membuat dakwah yang bisa diakses publik secara luas, maka dua media tersebut harus menjadi fokus penting sasaran dakwah.

    “Kita perlu mengetahui konten apa yang menarik di internet untuk jumlah pengguna 170 juta tersebut. Selanjutnya adalah edukasi dan QnA tentang keagamaan. Jika hal tersebut dapat kita atasi, maka tantangan dakwah di era 5.0 bisa ditangani dengan baik,” katanya.

    Prof. Ahmad mengingatkan dengan gencarnya hoax yang merajalela, perlu diimbangi dengan pesan kebaikan dan kebenaran yang harus digaungkan.

    Atas dasar realitas itu, Prof Ahmad mengatakan bahwa peran MUI dan lembaga yang berkecimpung di dalamnya harus mengimbangi fenomena tersebut. Sehingga terciptanya dunia yang masif dengan konten kebaikan dan kesantunan untuk melawan hoaks. (Isyatami Aulia/Angga)

  • Kiai Marsudi: Dakwah Membangun Bukan Merobohkan

    JAKARTA — Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, menyampaikan bahwa standardisasi dai MUI dibutuhkan untuk melahirkan koneksi atau keterhubungan antar dai. Hal itu dia sampaikan saat memberikan sambutan dalam pembukaan Multaqa Duat Nasional III dan Wisuda akbar Standardisasi Dai angkatan IV sampai X di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Ahad (23/01).

    Dia juga menyampaikan, dakwah menjadi sarana untuk menyebarkan hal-hal baik yang membangun. Dakwah bukan menjadi jalan merobohkan, apalagi meruntuhkan.

    “Dakwah adalah membangun, bukan merobohkan, apalagi meruntuhkan. Dakwah membangun keilmuan, membangun peradaban, bahkan kehidupan, ” ujarnya.

    Dengan jumlah penduduk muslim yang mayoritas di Indonesia, dia mengatakan, peran dakwah ini menjadi sangat penting. Dakwah dirasa sangat perlu untuk menjaga ajaran agama bahkan kondisi sosial kemasyarakatan. Pada titik inilah, ujar Kiai Marsudi, standardisasi dai diperlukan untuk menjaga agama, bangsa, dan negara. Hal itu bisa dimulai dari mengembangkan keilmuan dan metode (cara penyampaian) dakwah.

    Karena posisi dakwah dan dai yang penting di masyarakat, Ia mengingatkan agar para dai semakin cerdik menempatkan diri. Beberapa dai besar kerap dijatuhkan pihak tertentu karena ada perkataannya yang dinilai tidak benar. Terutama pada zaman media sosial seperti sekarang, kata dia, banyak kata yang ditafsirkan bermacam-macam.

    Para dai, lanjut dia, harus mencermati surat Al-Qaf ayat 18. Ayat tersebut menerangkan bahwa, tidak ada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Artinya, tanpa merasa diperhatikan manusia yang lain pun, seajtinya para dai harus sadar bahwa mereka sedang diawasi oleh malaikat. Karena itu, setiap apa yang mereka ucapkan harus disampaikan dengan baik dan penuh perhatian.

    “Untuk kondisi sekarang, yang mencermati tidak hanya malaikat. Ada tambahannya yaitu google, ” ujar dia. (Ilham Balindra/Azhar)

  • Kemenag Ajak Lulusan Standarisasi Dai MUI Aktif Berdakwah di Media Sosial

    JAKARTA–Kementerian Agama (Kemenag) RI mengajak lulusan standarisasi dai Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berdakwah bukan hanya melalui masjid dan majelis-majelis taklim, melainkan terlibat aktif dan intensif berdakwah di media sosial.

    Hal ini disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Prof Kamaruddin Amin, dalam Multaqa Duat Nasional dan Wisuda Akbar Standarisasi Dai MUI Angkatan IV sampai X yang bertajuk: Peningkatan Kualitas Dakwah untuk Mewujudkan Khaira Ummah Komisi Dakwah MUI tahun 2022.

    “Karena kalau tidak, maka otoritas keagamaan akan direbut oleh mereka yang belum tentu memiliki paham keagamaan seluas dan semendalam seperti bapak ibu sekalian, ” ujarnya di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Ahad (23/1).

    Prof Kamuruddin Amin melihat, demografi Indonesia dipenuhi oleh penduduk berusia 40 tahun ke bawah yang secara aktif menggunakan media sosial. Dengan rincian anak milenial yang lahir dari tahun 1880 sampai 1996 berjumlah 25 persen, dan generasi Z yang lahir dari tahun 1997 sampai 2012 berjumlah 26 persen.

    “Jadi, lebih dari 50 persen anak-anak Indonesia itu berumur dibawah 40 tahun dan semua ini menggunakan instrumen media sosial untuk berkomunikasi dan berinteraksi, ” tambahnya.

    Sehingga, menurut dia, tidak ada alasan bagi para mubaligh untuk tidak terlibat dan menjangkau mereka melalui media sosial. Ia berharap, para mubaligh yang telah distandardisasi oleh MUI ini bisa memainkan peran yang sentral dan fundamental dalam melihat, memahami, dan mengawal potensi besar ini.

    Selain itu, ia juga mengungkapkan program Kemenag dalam upaya meningkatkan kompetensi penceramah agama dengan muatan kontennya yaitu mengenai wawasan kebangsaan dan moderasi beragama yang bekerja sama dengan Lemhanas, BPIP, dan MUI untuk mengisi muatan konten tersebut.

    “Dua hal ini menjadi yang sangat penting. Kami menyadari bahwa penceramah-penceramah kita di Indonesia sesungguhnga sedang berkontestasi. Kita sedang berlomba untuk mempromosikan nilai-nilai agama yang wasathiyah, ” ungkapnya.

    Dalam program ini, ia menyebut, telah mencetak 8000 peserta. Ia berpesan kepada para dai agar materi ceramah yang disampaikan berisi ajakan kepada masyarakat untuk meningkatkan mereka untuk terlibat dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya.

    “Jadi, materi kita tidak berisi atau berorientasi pada ibadah mahdloh atau akhirat saja yang sangat penting sekali. Tetapi bagaimana Islam, bagaimana ajaran agama ini bisa mengajak masyarakat untuk terlibat serta berkontribusi dalam kehidupan,” tuturnya.

    Dia menjelaskan, sekarang ini terjadi peningkatan peran otoritas keagamaan yang sangat tajam. Ia menambahkan, para penceramah yang diminati oleh masyarakat adalah mereka yang rajin dan intensif hadir mengisi ruang-ruang spiritualitas di media sosial.

    Ia mengungkapkan, banyak para ulama yang memiliki pengetahuan yang luar biasa dalam, sangat mumpuni dan otoritatif berbicara mengenai agama tetapi umatnya tidak banyak dikarenakan manfaat yang disampaikan tidak dinikmati oleh masyarakat karena masih berdakwah secara konvensional.

    Untuk itu, kata dia, pemerintah dan ormas-ormas Islam khususnya MUI diharapkan bisa mendesain konten ceramah di media sosial agar bisa dirasakan oleh masyarakat.

    “Sekarang ini, tidak bisa kita hindari lagi urgensinya dan semoga acara yang dilakukan oleh MUI ini bisa rutin. Intensitasnya bisa ditambah lagi supaya kita sebagai penjaga gawang, sebagai referensi, dan rujukan umat dalam beragama bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, ” tutupnya.
    (Saddam Al Ghifari/Azhar)

  • Dialog Aktual TV MUI: Optimalisasi Peran Dai di Masa Pandemi Covid-19

    JAKARTA–Banyak kabar duka terdengar di tengah situasi pandemi virus Covid-19 yang belum juga kunjung mereda. Saat seperti ini, masyarakat membutuhkan nasihat dan siraman rohani untuk menentramkan hati. Dalam hal ini, peran dai tentu diperlukan kehadirannya bagi masyarakat untuk memberi siraman rohani yg menyejukkan hati. Merespons tantangan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuka sesi dialog aktual Peran Dai di masa Pandemi Covid-19 dalam kanal YouTube resmi TV MUI pada Rabu, (21/07).

    Dialog dibuka oleh pembawa acara Hj. Elvy Hudhriyah yang mempersilakan narasumber dalam acara tersebut KH. Ahmad Zubaidi untuk menjawab pertanyaan seputar peran dai saat pandemi Covid-19. Ketua Komisi Dakwah KH. Ahmad Zubaidi menuturkan pandangannya bahwa banyak orang merasa resah akan virus Covid-19, bahkan keresahan tersebut berubah menjadi kecemasan terutama bagi orang yang sedang terpapar virus ini. Oleh sebab itu, saat ini peran dai amat dibutuhkan dalam hal memberikan penyegaran rohani di tengah masyarakat. Meskipun terdapat hambatan karena saat ini segala aktivitas dilakukan secara daring, tapi KH. Ahmad Zubaidi meminta agar para da’i tetap kreatif dalam menyampaikan dakwahnya.

    “Para da’i merasakan betul ada yang berbeda ketika berdakwah, ada yang berbeda antara dai dan mad’u (audiens). Biasanya dai bisa bertemu langsung mad’u nya tapi situasi ini mengharuskan para dai untuk berpikir kreatif bagaimana dakwah itu bisa tetap terselenggara meskipun lewat online,” ujar Kiai Zubaidi.

    Kiai Zubaidi menyampaikan ketimpangan yang dihadapi oleh dai ketika ingin berceramah. Terkadang problem yang dihadapi dai ketika ingin menyampaikan dakwahnya adalah rata-rata para dai itu menunggu memberikan ceramah saat diundang ke suatu acara virtual sebagai pembicara. Maka permasalahannya bagaimana kalau tidak ada undangan? Bagaimana dai yang biasanya mengisi dakwah ini memberikan ceramahnya bila tak ada undangan untuk menjadi pembicara?

    “Di sinilah letak kreativitas para dai agar tetap menjalankan perannya di saat seperti ini. Para dai bisa menggunakan sosial medianya masing-masing untuk menyebarkan rekaman video ceramahnya,” tutur Kiai Zubaidi.

    “Para dai bisa memanfaatkan sosial medianya untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual di tengah masyarakat yang sedang galau dan takut akan situasi sekarang ini,” pungkasnya.

    Konten-konten yang dibuat dai dapat bermacam-macam isinya. Mulai dari membuat konten ikhtiar dalam menghadapi pandemi, konten tentang ujian kesabaran dalan menghadapi pandemi, dan konten mengajak masyarakat agar semangat menolong orang lain di tengah kondisi sulit seperti ini. Hal ini penting mengingat tidak sedikit masyarakat yang justru mengucilkan pasien penderita virus Covid-19 karena takut tertular. Karena itu, diperlukan juga pencerahan dari da’i untuk menumbuhkan empati di tengah masyarakat agar mereka mau menolong sesama saudaranya yang sedang berjuang melawan Covid-19.

    Kiai Zubaidi juga menuturkan peran dai lainnya yakni untuk meluruskan pemahaman tentang virus Covid-19. Para dai diimbau agar mampu mengedukasi masyarakat dengan menjelaskan pengetahuan seputar Covid-19 melalui perspektif sains sebagaimana yang dikemukakan oleh dokter atau ahlinya.

    “Para dai mengajak masyarakat agar ikut arahan dari dokter atau para ahli, jangan mudah termakan hoaks karena mendengar informasi dari sumber yang tidak punya pengetahuan apapun tentang virus Covid-19,” ujar Kiai Zubaidi.

    “Dalam surah an-Nahl ayat 43 Allah menegaskan, “fas`alu ahla adz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun.” Artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” terangnya.

    Dalam kesempatan dialog kali ini, Kiai Zubaidi juga menyampaikan pesan bahwa Komisi Dakwah MUI turut menyediakan platform yang berisi konten-konten yang berkualitas. Sangat disarankan bagi masyarakat apabila ingin mengakses konten islami atau dakwah digital, mereka dapat mengunduh aplikasi yang sudah disiapkan oleh Komisi Dakwah ini.
    “Jika masyarakat ingin mendengar video-video ceramah atau fatwa MUI, saya menyarankan untuk mengunduh aplikasi dakwah MUI di playstore,”

    “Banyak konten dakwah di situ dan ada Fatwa MUI juga. Alhamdulillah dai yang berceramah sudah tersertifikasi oleh MUI karena sudah kami bina,” ajaknya sebelum sesi dialog ditutup. (Hurryyati Aliyah/Din)

  • Ketua MUI Bidang Dakwah Sarankan Penyekatan Diganti Pengetatan Prokes

    JAKARTA — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis mendukung dan mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

    “PPKM Darurat diperpanjang sampai 25 Juli 2021 dengan penyesuaian pelonggaran meskipun tetap taat prokes,” unggahnya dalam akun Instagram pribadinya, @cholilnafis, Selasa (20/7).

    Dalam unggahannya tersebut Kyai Cholil Nafis juga menyarankan agar penyekatan-penyekatan yang di lakukan di sejumlah titik jalan di Wilayah PPKM darurat diakhiri saja. Akan tetapi diubah dengan pengetatan dan ketegasan menjaga protokol kesehatan.

    Keputusan Perpanjangan masa PPKM Darurat ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam konferensi pers yang digelar Selasa (20/7).

    “Namun kita patut bersyukur setelah dilaksanakan PPKM Darurat terlihat dari data penambahan kasus dan kepenuhan bed rumah sakit mengalami penurunan,” ujar Jokowi dalam Konferensi Pers itu.

    Presiden Republik Indonesia tersebut juga meminta agar kementerian terkait segera menyalurkan sejumlah bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat yang terdampak. Dan apabila kasus Covid-19 ini terus menerus mengalami penurunan, maka sejumlah aktivitas masyarakat akan dibuka secara bertahap.

    Termasuk dalam keputusan yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut, pemerintah memberi izin kepada pasar tradisional untuk menjual kebutuhan pokok dengan tetap menjaga protokol kesehatan sampai dengan pukul 15:00. Sedangkan untuk pedagang kaki lima, toko kelontong, bengkel kecil, dan usaha kecil lainnya juga diizinkan untuk beroperasi sampai dengan pukul 21:00 yang teknisnya akan diatur oleh pemerintah daerah setempat. Akan tetapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.

    “Sedangkan kegiatan lain pada sektor esensial dan kritikal, baik di pemerintahan maupun swasta, serta terkait dengan protokol perjalanan akan dijelaskan secara terpisah,” ujar Jokowi. (Muhamad Saepudin/Din)

  • Jelang Ramadhan, MUI-KPI Gelar Halaqah dengan Insan Pertelevisian

    JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menggelar halaqah (pertemuan) dengan Insan Pertelevisian secara virtual. Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar dan Ketua KPI Pusat Agung Suprio.

    Acara ini bertujuan untuk menyambut Ramadhan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, MUI dan KPI selalu bekerjasama melakukan pengawasan siaran televisi pada Ramadhan. Sedangkan beberapa bulan setelahnya, MUI dan KPI akan mengganjar program televisi terbaik di Bulan Ramadhan pada ajang Anugerah Syiar Ramadhan (ASR).

    Saat membuka halaqah ini, Kiai Miftach menyampaikan bahwa bulan Ramadhan nanti harus disikapi sebagai bulan revolusi diri. Termasuk revolusi dalam menerima informasi maupun pertelevisian Tanah Air.

    “Ramadhan ini momentum untuk revolusi kejiwaan, revolusi kerohanian kita, sehingga selesai Ramadhan kita akan memberikan solusi baru, sehingga solusi mencegah dari kiranya ada berita dan konten yang merusak tataran kehidupan kita,” ungkapnya, Rabu (10/3) malam secara virtual.

    “Semoga MUI dan KPI yang punya acara yang sangat mulia dan sangat membanggakan ini mempersiapkan datangnya bulan suci Ramadhan, Allah memberikan keberkahan, kelancaran, dan memberikan maslahat yang luas bagi bangsa dan negara,” imbuhnya.

    Sementara itu, Ketua Komisioner KPI Pusat, Agung Suprio, menyampaikan MUI adalah pihak yang otoritatif dan mempunyai kewenangan terhadap agama Islam terutama dalam hal penyiaran pada Ramadhan.

    “Sebagaimana prokes kita mengacu BNPB, maka pada penyiaran bulan Ramadhan, kita mengacu dari MUI. MUI adalah pihak otoritatif dalam konteks keislaman ini,” ujarnya. Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah jajaran pimpinan MUI antara lain Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH M Cholil Nafis, Wasekjen MUI Bidang Infokom Asrori S Karni, Ketua Komisi Infokom MUI, Mabroer, Ketua Komisi Dakwah dan Ukhuwah MUI KH Ahmad Zubaidi.

    Sementara dari KPI, hadir Wakil Ketua KPI Mulyo Hadi Purnomo, Koordinator Pengawasan Isi Siaran KPI Pusat Mimah Susanti, Koordinator Bidang Kelembagaan KPI Pusat Irsal Ambia, serta Koordinator Bidang Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran KPI Pusat Mohammad Reza. Hadir pula dalam pertemuan ini insan pertelevisian dari TVRI, Metro TV, NET.TV, Trans TV, Trans 7, RTV, GTV, ANTV, dan lain-lain. (Azhar/ Nashih)

  • MUI dan KPI Ajak Lembaga Penyiaran Hadirkan Tayangan Ramadhan Terbaik

    JAKARTA— Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, mengajak lembaga penyiaran menghadirkan tayangan Ramadhan tidak hanya sebagai tontonan, namun juga tuntunan.

    Dia mengatakan, beberapa tahun belakangan, tayangan Ramadhan di televisi terutama muatan ceramah, semakin dibutuhkan yang dari sisi isi, bukan semata tampilan atau gaya penceramahnya.

    “Belakangan ini, model ceramah yang diminati masyarakat kembali pada model isi (kualitas). Masyarakat sekarang ini ingin menjadikan tuntunan daripada tontonan,” ujarnya, Rabu (10/3) malam di acara Halaqah Program Tayangan Ramadhan 1442H/ 2021 bersama insan pertelevisian bersama KPI secara virtual.

    Demi menghadirkan tontonan yang bisa menjadi tuntunan itu, dia berharap lembaga penyiaran bisa mengonsultasikan terlebih dahulu ke MUI sehingga bisa terjaga kualitasnya. Sebab kualitas itulah yang saat ini lebih dibutuhkan masyarakat.

    Untuk menjadikan tayangan Ramadhan tidak hanya sebagai tontonan, Wakil Ketua KPI Mulyo Hadi Purnomo, mengatakan KPI akan mengeluarkan surat edaran sebagai pedoman bagi lembaga penyiaran. Surat ini sekaligus bisa menjadi pedoman penilaian Anugerah Syiar Ramadhan.

    “Surat edaran yang kami sampaikan ini, selain sebagai pengingat dan dasar penyusunan peraturan siaran Ramadhan, uga berkaitan dengan adanya Anugerah Syiar Ramadhan yang pelaksanaannya kemungkinan pada awal Juni 2021,” ujarnya.

    Dia mengatakan, melalui surat edaran tersebut, KPI akan meminta lembaga penyiaran menjalankan beberapa poin. Salah satu poin dalam surat edaran tersebut misalnya, mengutamakan penggunaan dai/pendakwah kompeten, kredibel, tidak terkait organisasi terlarang sebagaimana telah dinyatakan oleh hukum di Indonesia.

    “Serta sesuai dengan standard MUI dan dalam penyampaian materinya senantiasa menjunjung nilai-nilai Pancasila dan keIndonesiaan,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Pokja Media Watch dan Literasi Infokom MUI Gun Gun Hariyanto menyampaikan, ajakan menghadirkan tuntunan di dalam tontonan Ramadhan ini tidak lain untuk menghadirkan suasana suana kondusif selama Ramadhan.

    “Bagaimanapun, selama sebulan penuh, ibadah puasa menjadi ritual yang tentu harus dihormati, maka perlu suasana yang kondusif, maka diperlukan ikhtiar seperti dari KPI, MUI, maupun lembaga penyiaran,” ujarnya.

    “Mudah-mudahan selama Ramadhan tahun ini kita bisa saling berkolaborasi karena lembaga yang banyak sekali jumlahnya dengan segmen berbeda dan konten tentunya beragamam,” imbuhnya.

    Kepala Subdirektorat Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Direktorat Penerangan Agama Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Sayid Alwi Fahmi, mengatakan Kementerian Agama memberikan dukungan dan bimbingan demi terciptanya tayangan Ramadhan yang berkualitas.

    Hal ini membuktikan kehadiran negara dalam memastikan terpenuhinya hak publik untuk mendapatkan siaran terbaik, terkhusus ketika Ramadhan. “Saya mengajak kita bersama-sama berkomitmen untuk menghadirkan tontonan sekaligus tuntunan terbaik selama Ramadhan,” tutur dia (Azhar/ Nashih)

  • Resep Sukses Dakwah Ala Gus Miftah Dakwah di Klab Malam

    JAKARTA— KH Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah adalah seorang dai kondang yang dikenal dengan gaya berdakwahnya yang nyentrik. Ia menyebut bahwa menjadi seorang dai adalah pekerjaan mulia karena mempromosikan akhirat dengan caranya masing-masing.

    “Jika ingin menampilkan Islam sebagai sebuah agama yang menyenangkan, maka jadikan akhlak dan perilakumu menjadi menyenangkan, makanya saya menyebut dai itu sebagai SPA (sales promotion akhirat),” kata gus miftah dalam Program Ngopi (Ngobrol Pintar di MUI), yang tayang di TV MUI, Rabu (15/7).

    Gus Miftah dikenal dengan cara dakwahnya yang berkeliling didalam klub malam bersama para kelompok orang yang terstigma buruk karena pekerjaannya di dunia hiburan malam.

    Dia menyangkal bahwa setiap pekerja malam adalah orang-orang yang hidup tanpa iman dan tak percaya Tuhan.
    Menurutnya, setiap Muslim pasti memiliki iman hanya saja ketebalannya yang berbeda-beda. Seseorang yang masih tergetar pintu hatinya ketika dibacakan ayat-ayat Allah, maka dianggap masih memiliki iman walaupun hanya setebal helai rambut.

    “Ini mereka beriman tapi mungkin toh ketebalannya berbeda-beda. Imam Al-Ghazali menyebut Iman itu seperti angin, kadang kencang kadang pelan,” kata dia.

    Pimpinan pondok pesantren Ora Aji ini juga membagikan pengalamannya dalam mengajak orang lain memeluk Islam. Dia menyampaikan bahwa dirinya mampu diterima banyak kalangan lantaran cara Gus Miftah dalam berdakwah selalu terkesan menyenangkan dan menyajikan Islam sebagai agama yang sangat moderat dan damai.

    Gus miftah juga berpesan kepada para pendakwah agar berhati-hati dalam berperilaku, karena setiap tindak tanduknya akan dilihat dan dinilai masyarakat. Terlebih karena pendakwah akan membawa branding Islam kemanapun, jadi penilaian masyarakat akan agama Islam juga bergantung pada sikap dan perilakunya.

    Dia menyebut, wajah seorang mualaf ketika masuk Islam itu tergantung pintu masuknya, jika pintu masuknya keras maka akan menjadi Islam yang keras, kalau pintu masuknya marah maka Islam mereka akan penuh dengan kemarahan.

    “Kalau pintu masuknya lebay maka Islamnya akan penuh dengan kelebayan, tapi kalau pintu masuknya adalah ramah maka akan menjadi Islam yang ramah,” tuturnya. (Nurul/Nashih)

  • Waketum MUI: Banyak Negara Lirik Indonesia Sebagai Role Model Islam Moderat

    JAKARTA — Wakil Ketua Umum MUI KH. Muhyiddin Junaidi menyampaikan bahwa Indonesia dengan penduduk Muslim sekitar 88,2 persen, sudah semestinya memberikan kontribusi terhadap umat Islam di dunia.

    Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan negara-negara Islam mayoritas lainnya seperti di Timur Tengah. Di Indonesia, kata dia, hampir tidak pernah ada konflik antara sesama umat Islam di Indonesia. Kalaupun ada, itu bukan murni konflik, namun lebih banyak disusupi kepentingan politik.

    “Nyaris tidak ada konflik antar umat maupun dengan penganut agama lain kecuali memang dipengaruhi unsur politik. Saatnya kita tampil di dunia internasional menunjukkan bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang diterima global,” ujarnya saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Selasa (30/06) malam di Zoom.

    “Karena kita tidak menampilkan Islam yang radikalis maupun liberalis, namun Islam yang wasathy, Islam yang sangat kompatibel dengan nilai demokrasi yang sebagian dijadikan rujukan negara maju di dunia,” imbuhnya.

    Keterlibatan Muslim Indonesia di tingkat global ini penting karena menurutnya, tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak ada umat Islamnya. Semua negara anggota PBB ada umat Islamnya. Di tujuh belas negara kecil di Pasifik Selatan, seperti Vanuatu dan lain sebagainya, selalu ada pemeluk Islamnya.

    Selain itu, kata dia, konflik bersenjata yang terjadi sejak tahun 2011 di Timur Tengah justru memberikan keberkahan tersendiri. Masyarakat Timur Tengah yang kemudian menjadi imigran di negara minoritas Muslim di Eropa, mempraktekkan Islam di sana dengan baik.

    “Alhamdulillah , di negara Eropa itu para imigran Muslim walaupun sedikit yang pindah agama, namun secara umum meraka masih tetap mempertahankan agama mereka dan membangun perdaban Islam di negara tujuannya masing-masing,” katanya.

    Dia mengatakan, saat ini banyak negara sedang melirik Indonesia sebagai role model Islam moderat. Menurutnya, negara-negara Timur Tengah sekalipun banyak ulama hebat, namun implementasi Islam damai di dunia nyata mereka belum terwujud nyata sekarang.

    “Kita semua tahu di sana ada yang namanya ulama kuffah, ada ulama basrah, tapi saat ini, hanya tinggal nama karena mereka sudah terkooptasi oleh kepentingan politik jangka pendek. Kita punya, harus punya amunisi yang lebih kuat,” paparnya. (Azhar/Din)

  • Program Dai Berkhidmat Direspons Positif, MUI akan Perluas Jangkauan

    JAKARTA— Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengirim lima dai ke Papua Barat melalui Program MUI Berkhidmat pada 14 september 2019 lalu. Masyarakat menerima kedatangan dai tersebut dengan antusias dan menginginkan masa khidmat dai diperpanjang.

    Sekretaris Komisi Dakwah MUI, Ahmad Zubaidi, mengatakan masyarakat Papua Barat meminta MUI pusat memperpanjang masa khidmat dai tersebut. Masyarakat juga menginginkan penambahan dai untuk delapan kabupaten lain yang belum mendapatkan jatah.

    “Sangat mungkin akan adanya perpanjangan, karena masyarakat sendiri yang meminta masa berkhidmatnya diperpanjang dan bahkan meminta tambahan juga untuk kabupaten atau kota yang belum dapat (dai),” kata Zubaidi, di Jakarta, Rabu (25/6).

    Dia mengatakan, selama pandemi Covid-19 ini, para dai tidak bisa melakukan rutinitas kegiatan seperti biasa. Mereka diimbau melaksanakan social distancing dan menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang berkerumun. Lima dai itupun kini menyibukkan diri dengan kegiatan sosial seperti membantu BAZNAS mengumpulkan serta menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah.

    “Mereka semua dalam kondisi baik, dan sedang aktif dalam kegiatan sosial seperti Baznas karena sekarang lagi Covid-19 jadi tidak bisa melakukan pengajian dan kegiatan offline lain, makanya mereka lebih aktif di bidang sosial yang juga bentuk pelayanan kepada umat,” ujar dia.

    Dosen Perbankan Syariah UIN Jakarta itu menyebutkan Komisi Dakwah tengah menyusun rencana Dai Berkhidmat kedepan dan berharap program ini bisa meluas ke provinsi lain sehingga bisa memberikan pelayanan umat yang lebih banyak terutama pada akses pendidikan keagamaan seperti ke Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan beberapa provinsi lain.

    “Pelayanannya pun meluas untuk masyarakat seperti pengadaan beasiswa dan mengirim beberapa masyarakat ke pondok pesantren di luar daerah untuk selanjutnya melanjutkan dai-dai tersebut di kota masing-masing,” jelas dia.

    Dia juga berharap MUI bisa mendapat dana lebih untuk kelanjutan program ini agar bisa berjalan lebih maksimal dan terus-menerus. “Semoga saja ada titik terang untuk pendanaan,” imbuhnya.

    Pendanaan untuk Program Dai Berkhidmat ini berasal dari Islamic Dakwah Fund (IDF MUI). Dihubungi terpisah, Direktur IDF MUI, Misbahul Ulum, menjelaskan kontrak para dai tersebut akan berakhir pada November tahun ini. IDF saat ini sedang menyusun kerjasama dengan beberapa pihak agar program ini tetap berlanjut. “IDF MUI sedang merancang kerjasama ke Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) agar ada penambahan dukungan terkait kerjasama tersebut, kalau memungkinkan 13 Provinsi di Papua Barat bisa dipenuhi semua,” katanya, Rabu (25/6) di Jakarta.

    Dengan demikian, kata dia, harapannya bukan hanya dai yang dikirim ke sana wilayah Papua Barat, namun masyarakat asli Papua bisa dibiayai untuk studi di pesantren di Pulau Jawa sehingga mereka nantinya bisa kembali berdakwah di kampung halaman.

    Sebelumnya, pada Sabtu (20/6), Wakil Sekjen MUI bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat itu bersama Wakil Ketua Umum MUI Buya Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya Islam KH Sodikun dan Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Luar Negeri KH Zaitun Rasmin menerima kunjungan Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani dan Ketua Umum MUI Papua Barat KH Ahmad Nasrau di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta.

    Kedatangan mereka dari Papua Barat selain membicarakan Dai Berkhidmat, juga membincangkan rencana kedatangan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin untuk meresmikan Kantor MUI Papua Barat yang pembangunannya telah rampung. (Nurul/Azhar)

  • Standardisasi Dai Ke-3 MUI Jangkau Mubaligh Televisi

    Jakarta – Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menyelenggarakan kegiatan Standardisasi Dai periode Ketiga di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (05/03). Berbeda dengan standardisasi Dai Pertama dan Kedua, peserta standardisasi kali ini berasal dari kalangan mubaligh yang malang melintang di dunia pertelevisian tanah air hingga mencapai 58 orang.

    Hadir beberapa dai televisi yang cukup terkenal seperti Ustaz Nur Maulana, Ustaz Wijayanto, Kang Abiek, Habib Nabil Al Musawa, KH. Luthfi Fathullah, serta KH. Das’ad Latif, bahkan dai yang kini kembali tenar seperti Ustaz Danu juga menyempatkan hadir.

    Ketua MUI Bidang Dakwah, KH. Abdusshomad Buchori, saat membuka kegiatan ini menyampaikan, kegiatan ini tidak seperti yang diberitakan sebelum-sebelumnya bahwa akan menyertifikasi para dai, sehingga kemudian dai yang tidak mendapatakn sertifikat akan dilarang tampil. Kegiatan ini, ungkapnya, hanya akan memberikan dan menyepakati jalan yang sama antara para mubaligh dengan MUI. Dengan begitu akan ada kesamaan persepsi antara MUI dengan para muballigh.

    Dia menyampaikan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut kesepakatan antara MUI dengan KPI. Utamanya terkait Komisi Dakwah MUI Pusat yang sudah melakukan banyak kegiatan dan penerbitan buku pedoman, namun masih kurang sosialisasi. Selain itu, pertemuan ini juga untuk menjawab pertanyaan kalangan masyarakat terhadap kelompok muballigh di televisi.

    “Jadi, di mana peran MUI terhadap mereka, pembinaanya seperti apa, kita merespon, sehingga kita mengundang ustadz dan ustadzah yang biasa mengisi televisi,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH. Cholil Nafis menyampaikan, program standardisasi ini bukan untuk melarang para dai tampil di televisi seperti yang selama ini diberitakan oleh beberapa media. Komisi Dakwah juga tidak ingin ustadz yang tampil di televisi menyampaikan hal yang kurang layak.

    “Dai bersertifikat yang akan dilaksanakan hari ini adalah angkatan ketiga. Kita melanjutkan dai yang sudah diputuskan oleh kita. Pertama dan kedua untuk ormas yang berafiliasi dengan mui. Ketiga ini melanjutkan dengan teman-teman yang menjadi dai di lembaga penyiaran sehingga yang bisa ikut besok itu orang yang sudah berpengalaman di televisi,” katanya.

    “Kami tidak mengsertifikasi dalam arti melarang. Bukan itu. Kami ingin meningkatkan mutu. Namun yang paling penting lagi adalah taswiyatul afkar (menyamakan cara pandang) wa tansiqul harakah (konsolidasi gerakan),” katanya.
    (Azhar/Thobib)

  • Kiai Ma’ruf Sampaikan Dua Alasan Standardisasi Da’i

    Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Dakwah Nasional Senin (02/12) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, mengungkapkan dua hal mengapa standardisasi diperlukan. Pertama, ungkap Kiai Ma’ruf, standardisasi perlu untuk menjamin kompetensi para da’i. Da’i-da’i yang sudah dikenal di masyarakat secara umum memiliki kapabilitas keilmuan keislaman yang mumpuni. Namun, beberapa da’i juga ada yang masih memiliki cela seperti salah membaca ayat Al-Quran atau hadist sehingga maknanya berubah total. Padahal, posisi da’i sangat penting di tengah masyarakat utamanya sebagai panutan dan rujukan.

    “Kompetensi ini penting jangan sampai dai tidak menguasai yang didakwahkan, apalagi salah. Da’ adalah panutan bagi masyarakat,” katanya.

    Amin mencontohkan, pernah ada suatu khatib yang membaca khutbah seharusnya mengucapkan “al-yauma akmaltu lakum diinukum” menjadi “al-yauma akmaltu lakum dainukum”. Makna yang seharusnya aku sempurnakan agamamu berubah menjadi hutang-hutangmu.

    Pada contoh yang lain, Kiai Ma’ruf menceritakan bahwa ada pula da’i yang menyatakan “waquulu qaulan sadiida” dikatakan “waquulu qaulan syadiida”. Perbedaan satu huruf saja mengubah makna yang saling berjauhan. Makna berkatalah dengan perkataan yang lembut menjadi perkataan yang keras.

    “Karena itu dai harus memiliki kompetensi, menguasai ilmu agama yang cukup. Memang ada ungkapan dari Nabi ballighu ‘anni walau aayah, sampaikan dariku walau satu ayat, tapi harus paham ayat itu, jangan sampai tidak paham,” katanya.

    “Oleh karena itu menjadi dai itu benar-benar harus bisa dititipkan, distandardisasi, minimal menjadi dai itu seperti apa. Maksudnya mengajak orang, jangan justru menimbulkan salah, membuat orang menjadi ingkar karena dia tidak menguasai dan memiliki kompetensi,” imbuhnya.

    Kedua, kata Kiai Ma’ruf, standardisasi dai menjadi penting karena untuk menguji integritas seorang dai. Integritas yang dimaksud di sini salah satunya adalah integritas kebangsaan. Sehingga dakwah tidak boleh bertentangan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

    “Dakwah kita tidak boleh kemudian bertentangan dengan sesuatu yang sudah disepakati bersama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuatu yang sudah mujma’ alaih, kesepakatan bersama, NKRI dan Pancasila,” katanya.

    Integritas yang lain adalah bagaimana para pendakwah tersebut menyikapi perbedaan (ikhtilaf) dengan sikap toleran. MUI mengusung konsep ini dengan sebutan “taswiyatul manhaj” atau penyamaan persepsi untuk merespon perbedaan yang ada.

    “Kalau mukhtalaf harus ditoleransi, tidak boleh ada ego kelompok, itu tidak toleran, tidak boleh juga fanatik kelompok, akibatnya terjadilah antar umat Islam yang saling memaki, karena itu dalam suatu perbedaan harus ada tasamuh,” katanya.

    Terakhir, katanya, integritas untuk berdakwah dengan narasi kerukunan dan cinta kasih. Narasi seperti ini penting karena sejak lama Allah memerintahkan untuk membangun umat yang kuat dan tidak meningglkan anak cucu yang lemah. Narasi kerukunan ini merupakan langkah untuk membangun anak cucu muslim yang kuat di segala bidang, baik akidah, ekonomi, maupun pendidikan.

    “Jangan sampai meninggalkan di belakang mereka anak cucu yang lemah akidah, ekonomi, dan pendidikannya. Karena itu kita harus membangun generasi yang secara ekonomi kuat. Perbaikan ekonomi dan pendidikan itu yang harus kita dorong, makanya umat Islam harus juga menjadi maju,” tuturnya. (Azhar/Thobib)

  • MUI Kirim Lima Dai Muda ke Papua untuk Layani Kebutuhan Dakwah

    JAKARTA— Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengirimkan lima dai muda ke pedalaman Papua. Mereka tergabung dalam program dakwah daerah tertinggal, minoritas, dan perbatasan.

    Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH M Cholil Nafis, menjelaskan lima dai muda ini merupakan angkatan pertama yang akan dikirim ke sejumlah daerah di Papua antara lain, Sorong, Kalimana, dan Wamena.

    Kelima dai tersebut, kata dia, terjaring lewat seleksi ketat dari putra-putra terbaik daerah. Seleksi meliputa tiga hal mendasar yaitu wawasan Islam moderat, wawasan kebangsaan, dan kompetensi dakwah. Dan tentu mereka harus bisa berceramah.

    Dia mengatakan, kebutuhan masing-masing daerah berbeda-beda. Daerah satu mengajukan dai seorang hafiz, sementara daerah lainnya meminta kriteria misal pintar berceramah.”Namun yang jelas para peserta tersebut juga akan mendapat pembekalan baik di tingkat pusat ataupun daerah nantinya,” kata dia saat berbincang dengan MUI.or.id di Jakarta, Jumat (8/11).

    Untuk menunjang aktivitas kehidupan sehari-hari pada dai pedalaman itu, kata dia, pihaknya memberikan bisyarah sebesar Rp 5 juta. Besarannya disesuaikan dengan UMR di daerah masing-masing.

    Lebih lanjut, Kiai Cholil menegaskan, program ini bukan sama sekali bentuk dari islamisasi melainkan adalah layanan dari umat Islam untuk umat Islam. “Jadi untuk melayani umat Muslim karena di wilayah-wilayah tujuan kekurangan pendakwah,” kata dia.

  • Komisi Dakwah MUI Luncurkan Aplikasi Dakwah MUI

    MAKASSAR— Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat ( KDPM) MUI Pusat meluncurkan Aplikasi Dakwah MUI. Aplikasi akan menginformasikan berbagai hal terkait persoalan dakwah sekaligus panduan praktis dalam berdakwah.

    “Tidak hanya itu, aplikasi ini juga berguna untuk panduan ibadah sehari hari,” kata Ketua KDPM MUI Pusat, KH Cholil Nafis, di sela-sela Halaqah Dakwah bertajuk “Menjawab Tantangan Dakwah di Era Millenial” di hotel Sultan Alauddin Makassar, Selasa (24/9).

    Kiai Cholil menjelaskan, pembuatan aplikasi dakwah MUI yang dapat diakses di Hp sebagi jawaban untuk efektivitas dakwah di era millenial ini. Dengan aplikasi ini asa peta dakwah sehingga para dai diberi informasi tentang problematika dakwah di daerah yang akan didakwahinya (mad’u).

    Demikian juga, kata dia, para dai dapat mengakses panduan-panduan dakwah MUI, bahan ceramah, fatwa dan keputusan-keputusan MUI agar masyarakat akan dapat dengan mudah mengakses dai-dai yang sudah mendapat rekomendasi MUI (dai bersertifikat).

    Dia menambahkan, aplikasi ini juga memudahkan masyarakat mengetahui waktu shalat, cara membayar zakat, menemukan masjid, restoran halal, data-data keumatan, keberadaan kantor MUI, dan ormas Islam lainnya.

    “Juga disisipkan program Alquran untuk memudahkan masyarakat yang akan membaca al Quran dimana saja berada,” kata dia.
    Menurut Kiai Cholil, aplikasi ini merupakan pelayanan dan terobosan dalam metode berdakwah untuk menjawab problematika dakwah di era milenial.

    Lebih lanjut, Kiai Cholil mengatakan kegiatan halaqah menyamakan persepsi para dai agar dalam menghadapi tantangan di era milenial ini menggunakan metode yang tepat. Hal ini disebabkan, generasi milenial memiliki karakter tersendiri karena dekatnya mereka dengan teknologi informasi, yaitu gadget yang tersambung dengan internet.

    Kebiasaan generasi milenial dengan gadget ini juga diikuti generasi sebelumnya. Dia menyebutkan gejala pengguna ponsel pintar Indonesia juga tumbuh dengan pesat. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif ponsel pintar di Indonesia lebih dari 100 juta orang.

    Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 171,17 juta pengguna internet Indonesia pada 2018. Bila berbicara segi umur, maka pengguna internet tersebut dikuasi oleh kaum milenial.

    Kegiatan berlangsung meriah. Hadir antara lain Rektor UIN Sultan Alauddin Makassar, Prof Dr Hamdan Juhanis , MA, dan Ketua Umum MUI Sulawesi Selatan, AGH Sanusi Baco, Lc. (Azhar/ Nashih)

  • Refleksi Ceramah Dakwah Menjadi Kontraproduktif

    *refleksi ceramah dakwah kontraproduktif karena mendapat penolakan dari masyarakat, pengamatan beberapa peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi

    Kami dibesarkan di kalangan Muhammadiyah dan mendapat pertentangan di kawasan, dahulu Muhammadiyah tidak sebesar sekarang. Walaupun begitu yang bisa menjadi alasan kuat adalah kami tinggal disana, sehingga waktu juga yang membuktikan konsistensi dan mengobati luka yang ada.

    Begitu sulitnya berdakwah lintas batasan, bahkan setelah lama merantau pun kembali berdakwah di daerah asal juga tidak semudah yang dikira.

    Bahasa menjadi kendala, budaya menjadi halangan, satu dua hujjah tentang keadaan tidak akan merubah situasi, jika Allah yang memberikan hidayah, kemudian ikhtiar adalah bagian kita.

    Bukan artinya kita diam, artinya dalam berdakwah dan ikhtiar kita perlu strategi dan pendekatan.

    Mengatakan “saya” dikatakan arogan, menggunakan “adeen” dikatakan kasar, menggunakan “ambo” dikatakan gaya, menggunakan “ana” kearab-araban, begitulah yang diributkan bukan konten dari permasalahan, tapi berputar-putar di tepi kemudian kusut.

    Salah satu yang terpenting dahulu ketika diberi kesempatan dalam training future leaders, mereka muda-muda sekali. Adalah jika berkarir sebagai pemimpin maka penting untuk memiliki kompetensi, dan lebih dari itu adalah memiliki segmented market, kaum atau masyarakat yang jelas. Siapa orangnya, bagaimana kondisinya, dsb.

    Akan kurang produktif ketika kita berbicara wacana tetapi kita bukan eksekutor, akan kontra produktif ketika kita melempar ide tetapi mendapat penolakan dari cara.

    Walaupun legitimasi memberikan otorisasi, yang dalam hal tentu patut diberlakukan, seperti saya di undang, saya memiliki hak sebagai pemimpin, saya ditunjuk, dsb. Tetapi ianya bukan satu-satunya jalan yang terus dipakai, karena ada emosi dan sentimen yang akan berlaku.

    Cara yang terbaik dan efektif adalah menyampaikan kebenaran, kebaikan, perbaikan itu sendiri, dengan agen/orang/anggota masyarakat itu sendiri.

    Doing good from the start.

    Satu kisah sahabat dari Ghifar yang masuk Islam di awal kenabian, seorang revolusioner, ketika ditanya apa yang berikutnya perlu dia lakukan, kata nabi kembali kaummu.

    Kemudian dia berkata saya tidak akan kembali sampai saya menyampaikan kebenaran di hadapan penduduk Mekkah, kemudian dia pergi ke depan Ka’bah dan berteriak, dan berakhir dipukuli oleh orang-orang. Begitu juga yang dialami oleh sahabat Omar.

    Nabi sudah menyampaikan strategi dan rencana, tetapi maksud hati memang sudah dilawan, maka hadapi akibatnya.

    Begitu juga pelajaran dari nabi, rasul, tokoh dakwah dahulu, umum dari mereka adalah anggota dari kaum yang mereka dakwahi. Ataupun jika tidak, anak-anak didik mereka yang akhirnya berdakwah untuk kaum tersebut.

    Belum lagi faktor umur, penampilan, anak siapa, kaum apa dan sebagainya. Ibnu Khaldun menguraikan lebih panjang lebar dan terperinci mengenai hal ini.

    Belajar dari banyaknya upaya dakwah kita yang berkonflik, ada rasanya kita insaf dan mempertimbangkan faktor-faktor yang kami sebut diatas, . Fokus kepada masyarakat yang memang kita memiliki kuasa pengaruh didalamnya. Apalagi dengan kondisi kita yang memberikan gap ruang dengan keadaan masyarakat, baik pendidikan, ataupun ekonomi.

    Jika hidayah adalah milik Allah, maka ikhtiar bangkit adalah milik manusia. Semoga kita dilindungi dari kesalahpahaman dan konflik diantara sesama muslim.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

    Wallahualam

  • Pengajian di PP Al-Kautsar Tj Pati

    Pengajian di PP Al-Kautsar Tj Pati

    Pengajian di Pondok Pesantren PP Muhammadiyah Muallimin Al-Kautsar Tanjung Pati mewakili PDM Muhammadiyah Limapuluhkota.

  • Pengajian Minggu Ba’da Shubuh di Surau Gadang

    Pengajian Minggu Ba’da Shubuh di Surau Gadang

    Kegiatan mengisi pengajian rutin Masjid Raya Padang Japang oleh Masayikh Darul Funun El-Abbasiyah Buya Afifi Fauzi Abbas.

    Pengajian ini diadakan rutin setiap minggu nya oleh Masjid Raya Padang Japang ba’da shubuh.

  • Tarhib Ramadhan 2018

    Tarhib Ramadhan 2018

    Marhaban Ramadhan

    Warga Indonesia di Selangor, Malaysia pada hari minggu tanggal 6 Mei 2018 berkumpul di Surau Al-Kautsar Seksyen 4 Bandar Baru Bangi.

    Acara Tarhib Ramadhan 2018 yang dihadiri oleh 100 warga dari berbagai profesi ini mengangkat tema “Ramadhan di Timur Tengah, Eropa dan Nusantara”, dengan pembicara Ust Muklis Bakri, Ust Arif Abdullah dan dimoderator oleh Ust Satria Abadi. Tema ini diangkat sebagai penyegar dan penyemangat bagi kita untuk merencanakan kegiatan Ramadhan dalam rangka berlomba-lomba melakukan kebaikan, fastabiqul khairat.

    Dalam acara ini juga diinfokan kegiatan-kegiatan Tarhib Ramadhan sepanjang bulan Ramadhan, yang diantaranya adalah buka puasa bersama, penggalangan zakat dan infaq, hingga perayaan dan silaturahmi Iedul Fitri.

    Berdasarkan informasi dari panitia Tarhib Ramadhan, Forkommi (Forum Komunikasi Muslim Indonesia) dan Fokma (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia), acara ini diadakan agar para masyarakat Indonesia di perantauan dapat memaksimalkan bulan ramadhan dan juga mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi antar warga Indonesia di perantauan.

  • Pengajian Mahasiswa Indonesia di UKM Malaysia

    Pengajian Mahasiswa Indonesia di UKM Malaysia

    Kegiatan dakwah Darulfunun di Malaysia tahun 2018 ini dimulai kembali di Gedung perpustakaan Tun Sri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia.

    Sebagai narasumber adalah Ust Arif Abdullah yang juga adalah Kordinator Divisi Pengembangan dan Jaringan Darulfunun.

    Tema yang disampaikan adalah “Yang Muda Yang Mempesona”, karakter yang perlu dibina dalam masa pembelajaran. Alhamdulillah pengajian ini dihadiri oleh lebih tiga puluh mahasiswa baik mahasiswa S1, S2 hingga S3.

    Dalam kesempatan ini juga disampaikan harapan terhadap generasi muda dan pelajar-pelajar Indonesia di luar negara, untuk terus peduli terhadap tanah air dan juga berpartisipasi dalam memberikan solusi permasalahan umat secara global.

    Pengajian ini ditutup dengan ramah tamah dengan hidangan Bakso dan pengumuman door prize.

    Ust Arid menyampaikan dimana pun kita berada, baik perantauan jauh, tidak menghilangkan tanggung jawab kita dalam berdakwah, baik menyediakan tempat, makanan, pengurusan, tausiah, atau apapun yang bisa kontribusikan adalah amal kita dalam berdakwah amar ma’ruf nahi munkar dan juga menjaga marwah umat muslim.

    Acara ini diselenggarakan oleh Divisi Kerohanian PPI UKM Malaysia.

  • Pengajian di Guguak Duo

    Pengajian di Guguak Duo

    Buya Afifi mengisi Pengajian Muhammadiyah dan Aisyiah di Cabang Guguak Duo Kab. Lima Puluh Kota Payakumbuh.