Tag: muhammadiyah

  • Dr. H.A. Karim Amrullah: Ulama Pelopor dan Pembangun Jiwa Merdeka

    Dalam buku Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama Di Sumatera (Penerbit Umminda Jakarta, cetakan keempat, 1982), biografi yang ditulis oleh putranya yaitu Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), diceritakan ketika Presiden Soekarno datang ke Maninjau pada tahun 1948, beliau berpidato di depan beribu-ribu rakyat: “Saya adalah anak kehormatan orang Maninjau! Saya adalah anak angkatnya Dr. H. Abdul Karim Amrullah!”

    Syekh Dr. H.A. Karim Amrullah tidak sempat menghirup udara kemerdekaan tanah air Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Beliau tidak sempat melihat Soekarno menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia. Beliau meninggal dua bulan sebelum proklamasi. Tetapi beliau pernah memberikan nasihat berharga sebagai pegangan bagi Bung Karno dan para pemimpin bangsa agar memberi contoh kepada rakyat dalam hal  kesederhanaan, “Janganlah terlalu mewah, Karno! Kalau hidup pemimpin terlalu mewah, segan rakyat mendekati!” pesannya kepada Bung Karno sebagaimana diungkapkan Buya Hamka.

    Setelah Syekh H.A. Karim Amrullah dibebaskan dari pengasingan oleh Belanda di Sukabumi disebabkan dakwahnya yang dianggap membahayakan kepentingan kolonial, beliau menetap di Jakarta hingga wafat. Beliau memberikan tabligh dan pengajian kepada murid-muridnya dan jamaah di Masjid Tanah Tinggi. Semasa pendudukan Balatentara Jepang tahun 1942 – 1945, Syekh H.A. Karim Amrullah dibantu muridnya H.S.M. Nasaruddin Latif sebagai asistennya menyelenggarakan Kursus Muballigh di Jakarta.

    Banyak muridnya dari kalangan aktivis Muhammadiyah dan para pemuda pengagumnya datang silih berganti dari segala golongan dan lapisan untuk menimba ilmu atau meminta nasihat-nasihatnya. Ketika Hamka datang dari Medan menziarahi ayahnya, sejumlah tokoh datang di kediaman Syekh H.A. Karim Amrullah di Tanah Abang, di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Mudzakkir, K.H.A. Wahid Hasjim, S.K. Trimurti dan Parada Harahap.

    Hamka mengisahkan suatu hari ayahnya diundang makan ke rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. Ketika itulah Bung Karno dilewakan (dicanangkan) menjadi anak angkatnya Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Gerakan Pembaruan Islam

    Perjuangan ulama besar Minangkabau dan tokoh gerakan pembaruan Islam yang populer dipanggil Haji Rasul atau Inyiak De Er ditulis menjadi tesis di Institute of Islamic Studies McGill University Montreal Canada oleh Prof. Murni Djamal, MA. Tahun 1990-an ia pernah menjabat Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama.

    Tesis Murni Djamal diterbitkan menjadi buku berjudul Dr. H. Abdul Karim Amrullah: Pengaruhnya Dalam Gerakan Pembaruan Islam di Minangkabau Pada Awal Abad Ke-20 (INIS Leiden-Jakarta, 2002). Adapun buku Ayahku karya Hamka diterbitkan dalam bahasa Jepang oleh Prof. Nakamura. 

    Syekh H.A. Karim Amrullah lahir pada tanggal 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Maninjau, Sumatera Barat, dan wafat tanggal 21 Jumadil Akhir 1364 H/2 Juni 1945 di Jakarta dalam usia 68 tahun. Semasa muda belajar mendalami pengetahuan Islam kepada ayahnya Syekh Muhammad Amrullah (Tuanku Kisai). Pada tahun 1894 beliau melanjutkan pelajaran di Mekkah kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy selama 7 tahun sampai 1901. Dan berangkat kembali ke Mekkah tahun 1903 untuk kedua kali selama 3 tahun. Salah satu keteladanan Syekh H.A. Karim Amrullah ialah sangat menghormati gurunya walau dalam beberapa ijtihad hukum agama pernah berbeda pendapat. Ketika menyebut nama gurunya selalu menggunakan ungkapan takzim “Tuan Ahmad Khatib”.  

    Beliau bersama Syekh Haji Abdullah Ahmad adalah dua ulama Indonesia pertama yang mendapat titel kehormatan Doctor Honoris Causa. Penganugerahan Doktor diberikan dalam pertemuan Hai’at Jam’iyyah Kubbar al-‘Ulama’ (Organisasi Masyarakat Ulama Utama) di Universitas Al-Azhar Mesir pada tahun 1926. Promotor penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Syekh H.A. Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad adalah Syekh Khalil al-Khalidi, mantan mufti Palestina, dan Atai’llah Effendi, Menteri Urusan Wakaf Irak. 

    Dalam lawatan ke Mesir dalam rangka menghadiri kongres ulama internasional, seorang ulama Timur Tengah bertanya kepada beliau; mengapa tidak memakai pakaian (jubah) ulama? Syekh H.A. Karim Amrullah yang berpakaian jas dan berpeci dengan percaya diri menjawab, “Di negeri kami, ilmu itu bukan di sudut jubah atau serban, tetapi di dada dan tahan uji.” 

    Selama kunjungan di Mesir itu beliau menyewa kamar di hotel kecil  sedangkan utusan negara-negara lain menginap di hotel besar. Ketika diwawancara wartawan, mengapa utusan dari Hindia Belanda (Indonesia) menyewa hotel murah? Syekh H.A. Karim Amrullah menerangkan, “Mereka adalah utusan resmi atau setengah resmi dari pemerintahan yang berkuasa di negerinya. Sedang kami adalah utusan dari rakyat jelata, bukan utusan dari pemerintah yang berkuasa di tanah air kami. Oleh sebab itu perbelanjaan kami terbatas.”

    Sekembali dari lawatan ke Jawa dan bertemu K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Syekh H.A. Karim Amrullah, menjadi penganjur dan pendiri organisasi Muhammadiyah di Minangkabau tahun 1925. Muhammadiyah pertama kali berkembang di Sumatera adalah di Sungai Batang, Maninjau. Uniknya, Syekh H.A. Karim Amrullah tidak menjadi anggota resmi Muhammadiyah. Tetapi perjuangan dan bantuannya sangat besar bagi perkembangan Muhammadiyah di luar Jawa.

    Minangkabau menjadi pusat perkembangan Muhammadiyah yang pertama di luar Jawa. Dari Minangkabau tampil para mubaligh dan konsul Muhammadiyah yang diberi tugas mengembangkan Muhammadiyah ke berbagai daerah lain. Reformasi sistem pendidikan Islam secara klasikal dari pengajaran pondok menjadi belajar di kelas yang dipelopori Muhammadiyah di bawah bimbingan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta diadopsi oleh Sumatera Thawalib Padang Panjang. Pelajar Thawalib dibagi ke dalam tujuh kelas. Syekh H.A. Karim Amrullah mengajar di kelas tertinggi yaitu Kelas 7. 

    Sumatera Thawalib dan Muhammadiyah – mengutip tesis Murni Djamal – merupakan dua institusi penting yang dibentuk oleh Syekh H.A. Karim Amrullah bersama-sama tokoh Kaum Muda lainnya menjadi inti pelaksanaan gagasan dan gerakan pembaruan Islam di Minangkabau. Kegiatan beliau antara tahun 1918 sampai 1930 itu merupakan sumbangan penting kaum Muslimin di Minangkabau terhadap perjuangan Islam di Indonesia.  

    Murni Djamal mencatat tiga pemimpin pembaru yang paling berpengaruh dalam gerakan reformasi Islam awal abad ke-20 di Minangkabau yaitu: Dr. H.Abdul Karim Amrullah (1979 – 1945), Dr. H. Abdullah Ahmad (1878 – 1933), dan Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860 – 1947). Tiga ulama pembaru itu adalah murid Syekh Ahmad Khatib (1860 – 1916), putra asli Koto Gadang yang bermukim di Mekkah dan Syekh Tahir Djalaluddin (1869 – 1956) yang belajar di Mekkah lalu ke Al-Azhar Cairo dan menetap sampai wafat di Kuala Kangsar, Perak, Malaysia.

    Dalam wawancara jarak jauh dengan Prof. Murni Djamal tanggal 27 Maret 2023 tentang perjuangan Syekh H.A. Karim Amrullah, saya mencatat   penjelasan bahwa gerakan pembaruan Islam yang antara lain dimotori oleh Syekh H.A. Karim Amrullah tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan gerakan pembaruan di negara lain misalnya di Mesir seperti yang dipelopori oleh Sayid Jamaluddin Al-Afghany dan muridnya Syekh Mohammad Abduh.  

    Gerakan pembaruan Islam yang timbul di tengah kondisi bangsa-bangsa muslim sedang dijajah bangsa lain waktu itu sungguh fenomenal. Gerakan pembaruan bukan sekadar pemurnian ajaran Islam. Gerakan pembaruan mengupayakan agar ajaran Islam mudah dipahami dan dilaksanakan oleh umatnya di seluruh dunia. Perjuangan dakwah Syekh H.A. Karim Amrullah sebagai fase lanjutan dari Gerakan Paderi bermuara pada pengembangan pemikiran moderat sebagai titik temu antara Kaum Muda (Kaum Reformis) dan Kaum Adat (Konservatif). Titik temu itu tertuang dalam Piagam Bukit Marapalam, “Adat bersendi Syara, Syara’ bersendi Kitabullah.”   

    Gerakan pembaruan, reformasi atau modernisme Islam di masa itu secara kategoris dikelompokkan dalam Kaum Muda di satu sisi dan Kaum Tua di sisi lain. Tantangan yang dihadapi Syekh H.A. Karim Amrullah sebagaimana terungkap dalam beberapa literatur berangkat dari upaya membersihkan Islam dari praktik-praktik yang tidak benar dan menghasilkan titik temu yang moderat. Para pengusung dan pendukung gerakan pembaruan di lapangan berhadapan dengan tantangan bukan hanya dari Kaum Tua, tetapi penguasa adat Minangkabau yang merupakan orang Islam juga.

    Para ulama pembaru mengaktualisasikan gagasan dan gerakannya dengan menerbitkan buku, mendirikan terbitan berkala (majalah) dan mendirikan sekolah seperti Sumatera Thawalib Padang Panjang dengan pelopornya Syekh H.A. Karim Amrullah, Madrasah Adabiah Padang pendirinya Syekh H. Abdullah Ahmad, dan Diniyyah Putra/Diniyyah Puteri Padang Panjang pelopornya Zainuddin Labay dan adiknya Rahmah El-Yunusiyyah. Mereka membentuk organisasi guru dalam hal ini Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di bawah pimpinan Dr. H. Abdullah Ahmad di Padang dalam rangka memperbarui sistem pendidikan Islam.

    Sumatera Thawalib Padang Panjang

    Sumatera Thawalib Padang Panjang didirikan tahun 1911 oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Embrio Thawalib adalah sekolah mengaji Surau Jembatan Besi Padang Panjang yang telah belangsung jauh sebelum tahun 1900 di bawah asuhan  Syekh Abdullah, diteruskan oleh Syekh Daud Rasjidi (ayahanda Buya H.M.D. Datuk Palimo Kayo) dan kemudian Syekh Abdul Latif. Sejak tahun 1911 pengajian Surau Jembatan Besi diasuh oleh Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Di lokasi bekas Surau Jembatan Besi kini berdiri Masjid Zuama’ (artinya pemimpin). Sebuah nama yang dipilihkan dan diresmikan oleh Buya Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo. Buya Datuk adalah ulama perintis kemerdekaan, mantan Duta Besar RI di Irak dan Ketua Umum MUI Pertama Provinsi Sumatera Barat. Ia adalah alumnus Thawalib Padang Panjang dan murid Syekh H.A. Karim Amrullah.

    Sepanjang perjalanan sejarahnya Sumatera Thawalib Padang Panjang melahirkan banyak ulama, pendidik, pemimpin dan tokoh masyarakat yang mengisi berbagai tempat pengabdian di tingkat nasional dan daerah setelah kemerdekaan. Sistem pengajaran Thawalib, termasuk kurikulumnya, menurut penelitian Murni Djamal, adalah diciptakan oleh para pendiri Sumatera Thawalib yaitu Syekh H.A. Karim Amrullah dan para guru Thawalib sendiri, tanpa dipengaruhi oleh sistem sekolah Al-Azhar Mesir yang di masa itu masih mempertahankan garis tradisional. Kendati buku-buku yang digunakan di Thawalib kebanyakan dari Mesir.  

    “Sumatera Thawalib mungkin merupakan sekolah paling berpengaruh yang didirikan oleh Reformis Muslim di Minangkabau. Sekolah ini berhasil mencapai tujuannya yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin agama dan pendukung-pendukung gerakan pembaruan.” terang Murni Djamal.

    Pada tahun 1926 Syekh H.A. Karim Amrullah menyerahkan kepemimpinan Thawalib Padang Panjang kepada kader seniornya Angku Mudo Abdul Hamid Hakim (1893 – 1959). A. Hamid Hakim berasal dari Sumpur, Tanah Datar. Pada tahun 1946 didirikan Yayasan Thawalib Padang Panjang diketuai Abdul Hamid Hakim. Angku Mudo Abdul Hamid Hakim memimpin Thawalib Padang Panjang sampai wafat di Sumpur tahun 1959         

    Menarik disimak komentar Van der Plas, Kepala Kantor Urusan Pribumi Pemerintah Belanda tentang Thawalib Padang Panjang yang didirikan oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Menurut Van der Plas, pengajaran di sekolah itu (Thawalib) bermutu sangat tinggi, dan berlawanan dengan sistem pendidikan (tradisional, pen), tidak didasarkan atas belajar dengan menghafal, tetapi lebih banyak atas pemikiran dan pemahaman.

    Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (1960) menggambarkan, diperlukan 12 tahun pelajaran menurut sistem sekolah di Al-Azhar untuk mencapai apa yang diselesaikan dalam 7 tahun di Sumatera Thawalib. Semua itu adalah karena benih-benih pendidikan yang ditanam oleh Syekh H.A. Karim Amrullah. Sekolah Thawalib tidak hanya di Padang Panjang, tapi juga berdiri di Parabek, Padang Japang, dan beberapa tempat di Sumatera. Padang Panjang bukan hanya menjadi kota pelajar, tetapi dikenal sampai ke luar Minangkabau sebagai pusat kegiatan kaum reformis Islam atau pusat gerakan pembaruan Islam awal abad ke dua puluh. Murid-murid Thawalib diajar berpikir bebas dan melepaskan taqlid buta serta kemana pun pergi berani mempertahankan kebenaran.

    Derita Seorang Pemimpin

    Dalam perjalanan hidup dan perjuangan dakwahnya Syekh H.A. Karim Amrullah menghadapi tiga ujian terberat. Beliau lulus melewati ujian dengan rahmat Allah:

    Pertama, ujian bencana alam.

    Gempa bumi pada tahun 1926 mengguncang kota Padang Panjang dan sekitarnya. Gempa menelan banyak korban jiwa, harta benda dan merobohkan gedung sekolah Thawalib yang dibangun dengan susah payah. Perkataan yang keluar dari mulut Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu, “Tidak ada harta dunia yang kekal. Harta Allah pulang kepada Allah.”

    Kedua, ujian ideologi.

    Penetrasi ideologi radikalisme komunis mempengaruhi sejumlah pelajar Thawalib Padang Panjang. Gerakan “merah” komunis yang bersikap anti-penjajah menggunakan siasat mengelabui kaum agama sehingga memicu perselisihan dan perpecahan di Sumatera Thawalib.

    Komunisme diperkenalkan di Padang Panjang oleh Haji Datuk Batuah, salah seorang guru Thawalib. Syekh H.A. Karim Amrullah menentang habis-habisan komunis, bukan karena sikap radikal komunis terhadap Belanda, tetapi karena ketidakcocokannya dengan ajaran Islam. Komunis di mana pun pada hakikatnya memusuhi agama.

    Haji Datuk Batuah dan para pengikutnya menggunakan cara-cara partai komunis dalam menjatuhkan lawan politik. Mereka berhasil memaksa Syekh H.A. Karim Amrullah berhenti sebagai kepala sekolah Thawalib. Syekh H.A. Karim Amrullah akhirnya menarik diri secara total dari Thawalib Padang Panjang.

    Murni Djamal mengungkapkan dalam bukunya, “Bagi Haji Abdul Karim Amrullah peristiwa itu merupakan salah satu hari paling kelabu dalam hidupnya, terutama karena ia merupakan salah satu pendiri (guru) sekolah tersebut. Haji Abdul Karim Amrullah seolah-olah tanpa pekerjaan setelah meninggalkan Sumatera Thawalib tahun 1923 (data lain menyebut tahun 1926, pen). Syekh Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan beberapa guru agama anti komunis masih mempunyai suraunya sendiri, sedangkan Haji Abdul Karim Amrullah hanya mempunyai rumah dan keluarganya saja. Tidak lama setelah ia meninggalkan sekolah ia membuka rumahnya bagi mereka yang masih mau menuntut ilmu padanya, dan mulai menyusun kembali para pengikutnya.”

    Pada tahun 1923 Haji Datuk Batuah ditangkap Belanda dan dibuang ke  Nusa Tenggara Timur. Hamka menceritakan ayahnya (Syekh H.A. Karim Amrullah) kelihatan murung mendengar kabar tersebut. Meski mereka sudah berbeda paham dan berlainan jalan, tetapi kemuliaan jiwa seorang guru tampak disitu. Kepada Hamka, Syekh H.A. Karim Amrullah berkata, “Sudah tertangkap Haji Datuk Batuah. Sayang dia alim besar, terbenam saja ilmunya.”  

    Syekh H.A. Karim Amrullah seorang yang teguh menjaga akidah dan berani menyampaikan pendiriannya terhadap suatu aturan atau kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat dan membatasi kemerdekaan menyiarkan agama. Salah satu contoh, kebijakan Ordonansi Guru tahun 1928 yang telah diberlakukan di Jawa, saat hendak diterapkan di Minangkanbau ditentang oleh Syekh H.A. Karim Amrullah dan kawan-kawan para ulama pejuang. Ordonansi Guru intinya melarang guru-guru agama Islam mengajar sebelum terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

    Ketiga, ujian diasingkan ke luar daerah

    Sekitar tahun 1941 Syekh H.A. Karim Amrullah ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial ke Sukabumi Jawa Barat. Sejak beberapa waktu sebelumnya ketika memberikan ceramah dan pengajian telah dimatai-matai oleh dinas intelijen politik Belanda atau diikenal dengan nama PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Beliau bahkan pernah dipenjara di Bukittinggi.

    Sewaktu Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi tahun 1930 Syekh H.A. Karim Amrullah mengatakan dalam pidatonya, “Ulama-ulama tidak boleh kalau hanya duduk tafakur dalam suraunya sambil menggeleng-gelengkan kepala, seakan-akan kepala itu diberi per, lalu membilang-bilang tasbih kayu mati. Tetapi ulama-ulama harus tampil ke muka masyarakat, memimpinnya menuju kebenaran.”

    Di tempat pengasingan di kampung Cikirai Sukabumi, beliau tinggal di rumah Tuan Iskandar, Jalan Cikirai No 8. Ketika ditanya, apakah di tanah Jawa ini beliau akan meneruskan perjuangan? Beliau menjawab, “Selama nyawa masih dikandung badan, dan di bumi yang dimana juapun, saya akan tetap berjuang menegakkan agama!” Banyak ulama dan pemimpin umat di Jawa, termasuk Pengurus Besar Muhammadiyah dari Yogyakarta, datang mengunjungi Syekh H.A. Karim Amrullah ke Sukabumi. Sejarawan dan peminat sejarah dapat menelusuri rumah tempat pengasingan Syekh H.A. Karim Amrullah. 

    Menurut penuturan K.H. Abdullah Salim kepada Hamka, Pengurus Muhammadiyah setempat menggelar peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw dalam suatu rapat umum dan mengundang Syekh H.A. Karim Amrullah sebagai pembicara. Namun diperingatkan oleh Wedana melalui Abdullah Salim bahwa sebagai seseorang yang dalam pengasingan jangan membicarakan politik. Tanggapan beliau di luar dugaan, “Nanti setelah saya naik podium hendak bicara, hendaklah engkau stop saya dan engkau sampaikan perintah itu kepada saya di hadapan umum.”

    Revolusi Jiwa Menentang Nippon

    Setelah kekuasaan kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, dimulailah era penduduk balatentara Jepang di Indonesia, sekitar Maret 1942. Syekh H.A. Karim Amrullah dibebaskan. Beliau menetap di Jakarta, Gang Kebon Kacang IV No 22 Tanah Abang. Kegiatannya tetap berdakwah dan membina umat. Sikap kritisnya di masa penjajahan Hindia Belanda maupun di masa pendudukan balatentara Jepang tidak berubah.

    Sewaktu acara pertemuan para ulama se Jawa di Bandung sesuai protokoler di zaman Jepang semua hadirin wajib melakukan penghormatan Keirei yaitu berdiri dan membungkukkan badan ke arah Istana Kaisar Jepang Tenno Heika di Timur Laut. Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu telah diangkat menjadi guru pada latihan ulama seluruh tanah Jawa ditempatkan di tribun sederetan para pembesar Jepang. Satu-satunya ulama dan hadirin yang tidak berdiri dan tidak menundukkan badan, melainkan tetap duduk tenang di kursinya ialah Syekh H.A. Karim Amrullah. Beliau berprinsip Keirei merupakan perbuatan syirik karena menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan melebihi cara yang sewajarnya. Bung Hatta mengatakan, ulama yang mula-mula sekali menyatakan revolusi jiwa kepada Jepang di Indonesia ialah Abdul Karim Amrullah.

    Mengenai alasan mengapa beliau tidak bersedia Keirei, Syekh H.A. Karim Amrullah saat itu menyatakan, “Tuan-tuan Ulama yang mulia! Memegang dan mempertahankan pendirian dan keyakinan tidaklah selalu membawa bahaya, bahkan asal kita tetap tawakkal kepada Tuhan. Cobalah lihat sikap saya tadi. Saya tetap duduk sekali-kali bukanlah karena ingin menentang perintah Saudara Tuan kita Dai Nippon, melainkan karena taat kepada ketentuan Allah. Allah yang melarang saya turut melakukan upacara rukuk kepada yang selain Dia. Cobalah tuan-tuan lihat sekarang. Paduka Tuan Kolonel tidaklah kecewa kepada saya karena saya tetap berpegang teguh kepada keyakinan agama saya. Sebab beliaupun orang yang taat setia pula kepada agamanya sendiri.”

    Dalam kasus lain Syekh H.A. Karim Amrullah merasa keberatan untuk memenuhi undangan memberikan ceramah agama Islam di radio karena persyaratan teks pidato harus terlebih dahulu diperiksa atau disensor dari hal-hal yang tidak menguntungkan Dai Nippon. Menurut beliau, pemeriksaan teks pidato sudah menunjukkan kurang percayanya pihak yang mengundang kepada orang yang diundang.

    Sekitar bulan April 1943, Syekh H.A. Karim Amrullah menulis risalah yang bersejarah atas permintaan Kolonel Horie, Kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu) di Jakarta. Tulisan tersebut sebagai tanggapan atas buku “Wajah Semangat”. Beliau pada waktu itu diangkat sebagai Penasihat Shumubu. Dalam buku Ayahku dimuat sebagai lampiran oleh Hamka, dan diberi judul Hanya Allah.

    Mengenai tata cara menghormati dengan sujud atau merundukkan badan, Syekh H.A. Karim Amrullah menjelaskan Hadis Rasulullah bahwa sekali-kali tidak patut sujud itu dilakukan kepada seorang juga, lain daripada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tidaklah layak bagi manusia akan sujud kepada sesama manusia pula. Oleh karena itu tidak juga boleh dilakukan ruku’ itu membesarkan sesuatu yang lain daripada Allah. Tidak ada pertuhanan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

    “Dengan ini saya tutuplah tulisan saya, ialah sekadar yang perlu untuk menjunjung tinggi permintaan Paduka Tuan Kolonel Horie. Dan sekali lagi saya harap, kiranya beliau akan memaafkan, jika di dalam tulisan ini kedapatan kata-kata yang janggal atau kurang baik menurut kesopanan tulis menulis terutama menurut perasaan dan pertimbangan tuan-tuan dari bangsa Nippon, yang bagi saya kesemuannya itu masih bersifat baru.” tulis Syekh H.A. Karim Amrullah pada bagian akhir karangannya.

    Syekh H.A. Karim Amrullah seorang yang jujur dan berani terus terang mengutarakan pandangannya tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tanpa takut atas kekejaman tentara Jepang yang sudah menjadi rahasia umum di masa itu. Malah sebaliknya penguasa Jepang bersikap respek kepada beliau. Pemerintah Dai Nippon belakangan mengerti bahwa Keirei berlawanan dengan kepercayaan Islam. Dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri umat Islam tidak diwajibkan lagi melakukan Keirei.

    Sampai Akhir Menutup Mata

    Sekitar awal tahun 1944 Hamka datang dari Medan ke Jakarta. Ia berencana menjemput ayahnya agar pulang ke Sumatera Barat sesuai pesan para ulama sahabatnya di ranah Minang, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syekh Muhammad Siddik. Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Candung), ulama yang sezaman namun berpisah karena perbedaan paham dan gerakan perjuangan, menuliskan notes dengan tulisan tangannya; “Abuya H. Abdul Karim. Segeralah pulang. Kami menunggumu dengan penuh pengharapan. Saudaramu Syekh Sulaiman Ar-Rasuli”.

    Hamka juga minta pertimbangan Bung Karno, Bung Hatta dan K.H. Mas Mansur (Ketua PB Muhammadiyah). Mereka sepakat menahan Syekh H.A. Karim Amrullah lebih baik tinggal di Jawa saja. Bung Karno mengatakan, “Ulama di Sumatera banyak, di Jawa kurang! Biarlah beliau tetap di sini!”

    Syekh H.A. Karim Amrullah dalam banyak pernyataannya menunjukkan watak keteguhannya dalam memegang prinsip akidah Islam dan sikap mencintai Tanah Air Indonesia di atas landasan Tauhid.

    Berikut dialog Hamka dengan ayahnya. Saat dibujuk Hamka agar pulang ke Sumatera Barat, Syekh H.A. Karim Amrullah berkata sebagaimana diabadikan dalam buku Ayahku:

    “Adapun perkara tempat tinggal, bagiku sama saja di antara tanah Jawa dan Minangkabau, atau dunia mana sekalipun. Tanah airku ialah setiap jengkal tanah yang dimana aku masih dapat mencecahkan keningku sujud kepada Tuhan.” 

    “Tetapi masih ada was-was keluarga, jika Buya menutup mata di tanah Jawa ini!”

    Jawab Syekh H.A. Karim Amrullah:

    “Itu hanyalah was-was yang tidak berdasar ilmu dan tidak bertali dengan kehendak Allah. Di mana saja manusia akan mati. Dan tidak ada kelebihannya dan keutamaannya mati di kampung atau mati di Jawa. Yang penting adalah suatu perkara, yaitu adakah tanah tempat kita akan dikuburkan itu, sudi menerima kita karena amalan kita yang shaleh?”

    Hamka mengenang perpisahan dengan ayahnya pada tanggal 4 April 1944 di Stasiun Tanah Abang. Pagi-pagi ia berangkat naik kereta api dari stasiun Tanah Abang menuju Pelabuhan Merak. Perjalanannya dilepas di stasiun kereta api oleh Syekh H.A. Karim Amrullah beserta istri dan beberapa muridnya. Bung Karno hadir mengantar di stasiun. “Saya katakan kepada Bung Karno: Ayah kita Bung!” Jangan khawatir Saudara. Kondektur melambaikan kipasnya, pluit berbunyi, dan saya pun berangkat…..Sejak itu saya tidak bertemu dengan beliau lagi.” tulis Hamka di bukunya.  

    Syekh H.A. Karim Amrullah, di samping memiliki keahlian berpidato, juga memiliki ketajaman mata pena yakni keahlian mengungkapkan pikiran dan ilmunya melalui tulisan. Buku karangannya sebagian diterbitkan dalam bahasa Arab atau menggunakan tulisan Arab gundul berbahasa Melayu. Hamka mendata buku-buku karangan ayahnya yang ditulis sebelum dan setelah pulang dari Mesir sebanyak 27 judul, dan 3 judul manuskrip belum diterbitkan. Buku-buku karya Syekh H.A. Karim Amrullah di antaranya: Sendi Aman Tiang Selamat, Al-Burhan (Tafsir Juz Amma), Cermin Terus, An-Nida, Pelita (2 jilid), Pedoman Guru, Al-Faraidh, Izharu Asathiril Mudhillin, Syamsul Hidayah, Dinullah, Pembuka Mata, dan Pertimbangan Adat Alam Minangkabau.

    Koleksi kitab-kitab dan warisan karya tulis Syekh H.A. Karim Amrullah sebagian tersimpan di perpustakaan pribadinya Kutub Chanah di Muara Pauh, Maninjau. Salah satu buku yang dicetak ulang oleh Penerbit Djajamurni dan Pustaka Panjimas berjudul Pengantar Usul Fiqh.

    Syekh H.A. Karim Amrullah selama hidupnya sampai akhir menutup mata telah berjuang untuk kemuliaan agama, bangsa dan tanah air. Sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasanya dan keteladanan bagi generasi muda, pemerintah pantas menganugerahkan tanda kehormatan bintang mahaputera kepada almarhum Dr. H. Abdul Karim Amrullah.

    Sumber asal: https://fuadnasar.wordpress.com/2023/03/25/dr-h-a-karim-amrullah-ulama-reformis-pendidik-dan-ayah-angkat-bung-karno/

  • Ketua Dewan Pertimbangan MUI: Pemikiran Almarhum Buya Syafii Ma’arif Menyejukkan dan Diterima Lintas Generasi

    JAKARTA – Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH Ma’ruf Amin, mengenang sosok Buya Syafii Maarif sebagai guru bangsa yang pemikirannya menyejukkan dan diterima lintas generasi.

    Buya Syafii Ma’arif wafat pagi Jumat (27/05) pukul 10.15 di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta. Selain pendiri Ma’arif Institute, Buya Syafii juga sempat memimpin PP Muhammadiyah mulai 1998 sampai 2005.

    “Bangsa Indonesia kembali berduka karena meninggalnya guru bangsa. Meninggalnya cendekiawan muslim tersebut merupakan sebuah kehilangan bagi bangsa Indonesia. Buya Syafii merupakan guru bangsa yang memberikan pemikiran-pemikiran menyejukkan, ” ungkap Wakil Presiden RI itu, Jum’at (27/05) melalui keterangan video Sekretariat Kantor Wakil Presiden.

    Kiai Ma’ruf menyampaikan, Buya Syafii sosok yang ulama terbaik dan guru bangsa. Karena itu, ketedalanan Buya Syafii harus dilanjutkan segenap warga dan bangsa Indonesia.

    “Sebagai guru bangsa, pemikiran-pemikiran beliau sangat menyejukkan, moderat, dan dapat diterima lintas generasi, ” ujarnya.

    Kiai Ma’ruf juga mengajak semua pihak bersama-sama mendoakan buya Syafii Ma’arif. Dia berdoa semoga Allah SWT menerima amal ibadah Buya Syafi’i, mengampuni segala kekhilafannya, serta menempatkan Buya Syafii di tempat terbaik di sisi-Nya.

    “Saya mengucapkan turut berduka sedalam-dalamnya atas berpulangnya Buya Syafii Ma’arif, ” ungkapnya. (Dhea Oktviana/Azhar)

  • Sekjen MUI: Buya Syafii Sosok Intelektual yang Banyak Berkontribusi bagi Bangsa

    JAKARTA –Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Buya Amirsyah Tambunan menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya mantan ketua umum PP Muhamadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif.

    “Saya selaku pengurus MUI menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Buya Syafii Maarif,” kata Buya Amirsyah, Jumat (27/5/2022).

    Buya Amirsyah menilai sosok Buya Syafii Maarif sebagai sosok intelektual yang banyak memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.

    Semasa hidupnya, kata Buya Amirsyah, Buya Syafii menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan berkeadilan.

    “Sebagai seorang intelektual yang banyak menorehkan pikiran. Bagaimana bangsa ini hidup damai. Dia menginginkan bangsa ini bisa bergaul dalam rangka menjadi bangsa yang makmur dan berkeadilan,” ungkapnya.

    Selain itu, Buya Amirsyah menilai bahwa sosok Buya Syafii Maarif sebagai sosok yang sederhana dalam menjalani hidup.

    Namun, ia melihat bahwa beliau adalah sosok yang sangat mudah bergaul dengan kalangan manapun.

    “Beliau sosok yang sederhana. Mudah bergaul dengan golongan manapun, lintas agama dan bangsa,” tuturnya.

    Ketika menjabat sebagai ketua umum PP Muhamadiyah, kata Buya Amirsyah, Buya Syafii sangat berharap Muhamadiyah menjadi gerakan keilmuan yang berjasa bagi umat dan bangsa.

    “Sebagai ketua umum PP Muhamadiyah. Beliau sangat berkeinginan Muhamadiyah gerakan keilmuan yang memikirkan bagaimana Muhamadiyah berkontribusi bagi umat dan bangsa,” jelasnya.

    (Sadam Al-Ghifari/Fakhruddin)

  • Buya Syafi’i Maarif Wafat, MUI: Dedikasi Beliau untuk Umat dan Bangsa Harus Diteladani

    JAKARTA— Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Prof Ahmad Syafii Maarif, meninggal beberapa jam sebelum shalat Jumat dimulai di Indonesia bagian barat.

    Beliau dipanggil Allah SWT setelah menjalani perawatan secara intensif di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, Jumat (27/5/2022) pukul 10.15 WIB.

    Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, mengungkapkan Buya Syafii Maarif sebagai sosok yang mendekasikan diri untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

    “MUI turut berbela sungkawa dan turut mendoakan atas meninggalnya Buya Syafi’i Maarif. Semoga seluruh amal baiknya diterima Allah SWT. Semoga seluruh keluarganya selalu mendapatkan kesabaran, keikhlasan, dan ridho atas wafatnya beliau,” ungkapnya, Jumat (27/5/2022) kepada MUIDigital melalui sambungan telepon.

    Dikatakannya, Buya Syafii Maarif patut menjadi teladan seluruh warga dan bangsa Indonesia. Banyak pelajaran hidup dan keteladanan yang bisa diambil dari sosok Buya Syafii Maarif. “Saya bersaksi bahwa beliau min ahlil khoir. Semoga jannatun na’im menjadi balasan beliau,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua MUI Bidang Kerukunan Antar-Umat Beragama (KAUB), Buya Yusnar Yusuf Rangkuti, menilai almarhum Buya Syafii Maarif sebagai hamba Allah SWT yang baik.

    Menurutnya, apa yang menjadi laku keseharian Buya Syafii Maarif sejalan dengan apa yang diajarkannya berupa teori. Buya Syafii, menurutnya, selalu bertingkah laku sejalan dengan apa yang dia ucapkan.

    “Saya mendampingi beliau dua tahun setiap subuh ketika di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkholahu, wa adkhilhu jannah,” ungkap Ketua Dewan Pertimbangan PB Al-Washliyah itu. (Azhar, ed: Nashih)

  • Muhammadiyah: Umat Islam Paling Banyak Dirugikan dalam Berbagai Konflik

    JAKARTA— Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Syafiq A Mughni, mengatakan bahwa pada berbagai konflik dan ketegangan umat Islam selalu paling banyak dirugikan.

    Untuk itu kita harus menyambut dengan penuh komitmen untuk mengimplementasikan resolusi PBB agar tidak sekadar jadi dokumen tidak bernyawa tapi betul-betul hidup dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

    Dalam konteks implementasi ini, menurutnya, kita harus memiliki kesamaan definisi terkait Islamofobia secara nasional dan internasional. “Karena gerakan kita adalah double movement, di satu sisi kita fight against Islomofobia tapi kita juga fight for wasathiyah, dan untuk itu dibutuhkan pegangan definisi kita bersama,” lanjut Syafiq dalam Webinar Internasional secara daring (30/3/2022) sebagai respons atas keputusan PBB yang menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Menangkal Islamofobia.

    Pembicaranya adalah KH Yahya Cholil Staquf (Ketua PBNU), KH Embay Mulya Syarief (Ketua PB Mathla’ul Anwar), Dr Syafiq A Mughni (Ketua PP Muhammadiyah), Dr Imam Shamsi Ali (Imam New York), Dr Tiar Anwar Bachtiar (PP Persis), dan Dr Dodik Ariyanto (Islamofobia Observatory OKI).

    Untuk itu, itu menurut Syafiq, kita harus mengajarkan Islam yang autentik (rahmatan lil ‘alamin) dan faktor sejarah yang perlu ditafsirkan ulang terkait bagaimana ekspansi pada zaman awal Islam, perang Salib, kolonialisme, perjuangan di Spanyol, Andalusia, dan lain sebagainya.

    “Sebab kalau tidak, maka ini akan diinternalisasikan dan menjadi bibit kebencian antaragama, perang-perang yang terjadi bisa dijadikan kebencian antaragama yang dapat menyebabkan ketegangan,” kata Syafiq lagi.

    Prof Syafiq juga menyatakan tindaklanjut pada berbagai tataran, baik nasional maupun internasional. Pada tingkat nasional ada peran negara untuk membuat kebijakan dan ada masyarakat untuk mewujudkan kesepahaman.

    Ketua MUI Bidang HLNKI Dr Sudarnoto Abdul Hakim bahwa penting untuk umat Islam membuat langkah-langkah menghadapi Islamofobia .

    “Keputusan PBB tersebut menjadi sangat penting dalam konteks membangun peradaban dunia yang berbasis pada kemanusiaan, dan dalam kaitan upaya kita membangun tatanan dunia yang adil dan damai,” kata Sudarnoto.

    Masalah kemanusiaan di tingkat global yang diakibatkan oleh konflik berkepanjangan serta pertentangan antara Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung, adalah bukan semata masalah negara yang terlibat tapi efek destruktifnya kepada manusia.

    “Hal ini menjadi krisis kemanusiaan, yang muncul karena efek panjang global warming, semakin rusaknya dunia yang berdampak pada banyak sektor lain seperti ekonomi dan politik,” kata Sudarnoto lagi. (Yanuardi Syukur, ed: Nashih)

  • Harapan Muhammadiyah di Milad ke- 46, Fatwa MUI Representasikan Suara Umat Islam

    JAKARTA — Ucapan selamat dan harapan pada momentum Milad Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke 46 terus mengalir dari berbagai organisasi kemasyarakatan. Salah satunya Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

    Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Abdul Mu’ti mengatakan, MUI sebagai lembaga fatwa telah menjalankan fungsinya memberikan panduan hukum atas masalah tertentu.

    Bagi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, MUI saat telah berkembang pesat.

    Bahkan, pria kelahiran Kudus ini melihat, MUI telah bertransformasi seakan menjadi Ormas Islam tersendiri, di antara ormas Islam lain di Indonesia.

    Apalagi, bidang gerakan dakwah MUI hampir mencakup semua bidang kehidupan.

    “Bidang gerak MUI hampir semua bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, hubungan luar negeri, dan sebagainya,” ujar Prof Mu’ti kepada tim redaksi MUI.OR.ID, Senin (26/7).

    Abdul Mu’ti menyarankan, kelembagaan MUI yang saat ini masih seperti “super body” harus terus dikaji dan dievaluasi. Tujuannya, agar MUI sebagai wadah ulama yang berasal dari berbagai Ormas benar-benar dapat terus berkembang.

    Menurutnya, sesuai dengan namanya, idealnya MUI merupakan wadah atau forum berhimpun para ulama. Kompetensi dan kualifikasi keulamaan pun harus diperhatikan, sebagai pra-syarat penting bagi seseorang untuk bergabung di MUI.

    “Kompetensi dan kualifikasi keulamaan merupakan prasyarat bagi seseorang untuk bergabung di MUI. Sekarang MUI seakan lebih menjadi lembaga Ormas Islam dimana keterlibatan seseorang di dalam MUI lebih merupakan representasi Ormas,” paparnya.

    Ia juga mengingatkan, MUI jangan hanya melibatkan seseorang karena alasan representasi ormas dibanding kompetensi dan kulifikasi keulamaannya.

    Pesan Mu’ti, MUI bisa memfasilitasi mereka yang memiliki kepakaran dan keinginan berkhidmat di MUI.

    Pandangan pria yang pernah menamatkan gelar Magister ini Flinders University of South Australia, saat ini MUI seperti lembaga ormas Islam. Imbasnya, tambah Mu’ti, nuansa politik di organisasi yang lahir 17 Rajab 1395 Hijriah atau 26 Juli 1975 ini cukup kuat.

    “Sekarang MUI seakan lebih menjadi lembaga Ormas Islam dimana keterlibatan seseorang di dalam MUI lebih merupakan representasi Ormas. Akibat dari sistem ini, nuansa politik di dalam MUI terlihat cukup kuat. Proses pemilihan pimpinan banyak diwarnai oleh kepentingan politik,” jelasnya.

    Akademisi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini berharap, MUI dapat menjadi lembaga inkusif yang menjadi perhimpunan para ulama dari berbagai golongan atau mazhab di Indonesia.

    Harapan Prof Mu’ti, setiap fatwa yang dikeluarkan oleh MUI benar-benar lebih inkusif dan menjadi representasi suara umat Islam meski tidak bersifat mengikat.

    “Walaupun tidak bersifat mengikat, fatwa-fatwa MUI dapat lebih komprehensif, luas, dan luwes berdasarkan ajaran dan nilai-nilai Islam,” tutupnya. (Sadam Al Ghifari/Angga)

  • Di Webinar MUI, MDMC Muhammadiyah Sarankan Keluarga Ikut Urus Jenazah Covid-19

    JAKARTA— Krisis kepercayaan masyarakat kepada tim medis terkait penanganan jenazah covid-19 dinilai terus menguat. Hal ini dibuktikan dengan maraknya kasus pengambilan jenazah secara paksa maupun pembongkaran makam jenazah Covid-19 yang terjadi si sejumlah daerah.

    Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, menyarankan agar keluarga korban meninggal covid-19 ikut dilibatkan dalam proses pengurusan jenazah. Hal ini dilakukan agar kedepannya kepercayaan masyarakat kepada tim medis tidak kian menyurut.

    “Libatkan masyarakat dalam proses pengurusan jenazah, bisa saat mensalatkan atau melibatkan mereka (keluarga dan masyarakat) saat menyiapkan liang kuburnya,” kata dia dalam webinar dengan tema “Pemulasaran Jenazah Karena Covid-19” yang digelar Satgas Covid-19 MUI pada Senin (02/11).

    Menurutnya, ketidakpercayaan masyarakat kepada tim medis dalam pengurusan jenazah bisa dimaklumi hal ini mengingat terutama bagi masyarakat Muslim yang meragukan kelayakan pengurusan jenazah yang dilakukan tim medis.
    “Banyak masyarakat itu ragu, apakah jenazah keluarganya sudah dipenuhi hak-haknya sebagai jenazah, dan apakah sudah sesuai belum dengan syariah tajhizul janazah (pengurusan jenazah)nya,” ujar dia.

    Dia berpendapat, selain untuk meningkatkan kepercayaan terlebih kepada tim medis, keikut sertaan keluarga dalam proses pengurusan jenazah adalah hak yang juga harus dipenuhi asalkan tetap memenuhi standar protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19. “Keluarga boleh melihat jenazah dengan jarak minimal 3 meter, dengan catatan tidak menyentuh secara langsung,” imbuhnya.

    Lebih lanjut dia mengatakan, agar keterlibatan masyarakat dalam pengurusan jenazah tidak menjadi klaster baru penularan covid-19, hendaknya ada komunikasi dan sosialisasi yang dibangun sebaik mungkin dan mendetail kepada keluarga korban.

    Budi juga mendorong diadakannya pelatihan pengurusan jenazah sesuai syariat Islam yang disesuaikan dengan fatwa MUI untuk para relawan, agar dalam proses tajhizul janazah bagi korban meninggal Covid-19 bisa terpenuhi hak-haknya sebagai jenazah. (Nurul/ Nashih)

  • Membangun Kebersamaan Harmoni Islam Wasathiyyah bersama MUI

    JAKARTA — Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., berharap agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pandangan Islam Wasathiyyah dapat menjadi perekat umat dan bangsa.

    “Merekatkan ukhuwah dalam berbagai aspek dan golongan serta menjadi uswah hasanah di dalam memajukan dan membangun kebersamaan di republik tercinta ini,” kata prof Haedar dalam sambutannya di acara Milad MUI ke-45 yg diadakan secara virtual, Jumat (07/08) malam.

    Indonesia sebagai negara dengan masyarakat muslim terbesar di Dunia haruslah memiliki berbagai macam keunggulan pada setiap aspek kehidupan dengan tetap berbasis akhlaq mulia dan kecerdasaan keilmuan.

    Menurutnya, kuantitas mayoritas harus tetap diimbangi dengan kualitas, terutama penguasaan teknologi dan peran kemanusiaan dalam kehidupan umat dan bangsa.

    “Tidak mungkin kita umat Muslim sebagai kekuatan mayoritas dapat berperan strategis kalau kita masih tertinggal dalam setiap bidang kehidupan,” ungkap dia.

    Prof. Haidar juga menyampaikan harapan dan doa terbesarnya kepada MUI untuk memajukan Indonesia, mencerahkan umat, dan membawa pesan rahmatan lil alamin bagi kemanusiaan alam semesta

    “Mudah-mudahan seluruh ulama, zuama dan cendikiawan Muslim yg berhimpun di MUI tetap menjaga dan menjadi kekuatan yang menjunjung tinggi marwah Islam untuk Rahmatan Lil Alamin,” pungkasnya. (Nurul/Din)

  • Diaspora Pemuja Berhala

    Diaspora Pemuja Berhala

    oleh : Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

    Siapa bilang di Kakbah dan Masjidil Haram tidak ada berhala? Di Mina, Arafah, dan Nabawi yang dikenal tempat-tempat suci nan mustajab dalam prosesi haji. Pun di banyak tempat kaum muslimin di berbagai belahan negeri. Berhala-berhala itu masih juga menampakkan diri!

    Latta, Uzza, Manat, Hubal, Manaf, dan berhala-berhala lain yang dituhankan bangsa Arab Jahiliyah memang sudah dimusnahkan pada Fath Makkah ratusan tahun lalu dari tempat yang disucikan umat Islam se-dunia itu. Apalagi, berhala Marduk dan Nabu dari bangsa Kaldea yang dihancurkan Nabi Ibrahim pada era Namrudz sang pemimpin politheisme ternama.

    Namun berhala-berhala klasik masih tersisa dalam jelmaan lain, yakni ego-diri pada perangai orang-orang beriman yang dipicu hawa nafsu. Ego-diri untuk beribadah melebihi kemestian hingga menjurus ke hal yang dilarang ajaran. Ego-diri ketika harus berebut tempat-tempat mustajab hingga tak memberi kesempatan orang lain. Ego-diri berjamarat yang tidak jarang dapat membahayakan diri dan sesama. Ego-diri tatkala kepentingan terganggu, hingga terlihat watak aseli manusia sebagai pemuja hasrat duniawi dalam perebutan mata’ al-ghurur.

    Di sudut-sudut terjauh dari kota suci, manusia berebut banyak kepentingan hidup yang seringkali keras dan berjalan pintas. Perebutan lahan dan aset. Perebutan materi dan kekayaan. Lebih-lebih perebutan tahta dan kuasa yang serbaniscaya. Bahkan berebut paham agama secara ananiyah-hizbiyah dengan membawa nama Tuhan, Nabi, dan Kitab Suci. Sumber muasalnya ialah kepentingan diri dalam egosentrisme berbalut hawa nafsu, yang oleh sufi ternama Jalaluddin Rumi disebut sebagai “ibu dari semua berhala”.

    Berhala nafsu

    Hawa nafsu manusia untuk sebesar-besarkan berebut dunia bagi kepentingan sendiri secara berlebih sungguh berdiaspora dalam sejarah umat manusia dulu hingga kini. Bukan hanya untuk urusan muamalah keduniaaan yang sejatinya berwatak sekuler seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan lainnya. Hatta untuk urusan agama, ego dan nafsu diri itu sering menyala dalam sakralisasi yang samar hingga terbuka. Agama dan paham keagamaan yang bertahtakan nafsu ego-diri dapat menjelma menjadi kekuatan hegemoni untuk menguasai, memukul, menyingkirkan, dan mengusir pihak lain yang duanggap beda, lemah, dan kecil.

    Ketika kepentingan diri secara individu maupun kolektif begitu berlebihan dan menjadi rakus, maka sejatinya bersifat tahlih ‘an nafs, menuhankan ego diri sebagai bentuk lain pemberhalaan. Ketika para Nabi Allah diutus untuk mengajak pada jalan Tuhan yang yang satu (tauhid)), risalah yang utama ialah bertauhid dan mencegah perilaku menyekutukan Allah. Allah sendiri sebenarnya tidak memerlukan apakah Dzat-Nya disembah atau disekutukan, namun jantung terdalam dari ajaran tauhid ialah sikap hanif (jernih nan autentik) dalam bertuhan sekaligus ihsan (berbuat kebajikan yang utama) terhadap sesama insan dan lingkungan kehidupan.

    Musuh utama tauhid sebenarnya bukan hanya syeitan atau iblis yang suka menyesatkan jalan manusia beriman. Ajaran tauhid juga meniscayakan penundukkan ego-manusia yang sering paling digdaya dan merasa benar di jalan salah sebagaimana para penyembah berhala dalam teologi politheisme atau paganisme pada era zaman Nabi. Namrudz dan umatnya yang fanatik sebagai pemyembah berhala harus membakar Nabi Ibrahim karena dianggap menghina dan menghancurkan berhala-berhala sesembahan yang mereka bikin sendiri.

    Sikap kepala batu dan kebodohan yang tak mau berubah itulah yang disasar dari ajaran tauhid para Nabi Allah atas tindakan para penyembah berhala itu sebagaimana firman Allah: “Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.” (QS Al-‘Araf: 191)”. Padahal mereka tahu, bahwa “berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (QS An-Nahl: 20).

    Dalam sejarah para penyembah berhala maka bukan hanya batu, kayu, dan segala bentuk patung yang dituhankan. Namun juga penuhanan atau pendewaan terhadap manusia yang dianggap perkasa seperti raja-raja dan penguasa, bahkan orang yang dianggap suci. Ibn Abbas dan Ibn Katsir mengupas, bahwa muasal pemyembahan berhala yang terjadi pertama kali di zaman para nabi utusan Allah dinisbahkan pada nama-nama ulama yang dianggap suci dan ahli ibadat yang kemudian dipersonifikasikan ke dalam beragam simbol fisik yang kemudian mereka sembah. Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr, sebagai nama-nama berhala pada masa Nabi Nuh konon adalah keturunan dari Nabi Adam yang mereka sucikan.

    Hawa nafsu pun menyeruak menjadi berhala di balik pemberhalaan tuhan-tuhan buatan manusia kaum paganisme itu. Hingga Allah berfirman yang artinya, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS Al-Furqaan: 43). Menurut Ibnu Katsir, bahwa “bagaimanapun orang tersebut menganggap baik suatu perkara dan memandangnya baik menurut hawa nafsunya, maka dalam pandangannya hal itu adalah agamanya dan madzhabnya”.

    Maka, Allah tidak pernah mentoleransi kemusyrikan, karena selain secara teologis sikap tersebut berlawanan dengan syahadat dan tauhid, pada saat yang sama seringkali berakar pada hawa nafsu dalam beragama dan dalam kehidupan umat beragama. Pada setiap perintah beribadah kepada Allah, sering disertai dengan larangan menyekutukan-Nya. Selebihnya, kemusyrikan dan pemberhalaan itu sungguh merupakan pandangan hidup yang sangat rapuh sebagaimana diperingatkan Allah, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS Al-Ankabut: 41).

    Harapan terbesar dari spirit keagamaan yang autentik tentu saja agar segala ibadah yang berulang-tetap dilakukan umat beriman sejak shalat lima waktu perhari, jumatan per minggu, haji per tahun, umrah berkali-kali, membaca Alquran hingga tahfidh, serta segala ritual lainnya dapat mengubah keangkuhan ego-diri. Umat neriman agar makin menjadi shalih secara pribadi dan sosial serta mengubah lingkungan kehidupan untuk lebih berkeadanan dan berperadaban utama. Lebih-lebih pada diri mereka yang berilmu agama tinggi dan pemimimpin kaum beriman, sebagai sosok dan figur warasat al-anbiya!

    Sumber keangkuhan

    Manusia itu memiliki watak dasar angkuh diri. Angkuh karena kuasa tahta, harta, dan segala digdaya dunia. Bahkan angkuh diri karena kuasa ilmu dan agama. Keangkuhan itu sering menyeret manusia pada perangai suka melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (QS Al-Alaq : 6-7). Fir’aun bahkan dengan arogan mengaku diri sebagai tuhan yang maha tinggi. Padahal, Tuhan mengingatkan, meski angkuh diri melebihi Fira’aun, manusia itu tidak akan melampaui tingginya gunung. Sebuah metafora betapa lemah atau dhaifnya manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Pencipta.

    Manusia angkuh, sabda Nabi, cirinya dua yaikni suka menolak kebenaran yang datang dari orang lain, serta gemar merendahkan sesama. Mereka yang bertahta dan berkuasa menindas rakyat jelata. Mereka yang berharta mengeksploitasi kaum papa. Mereka yang berilmu merendahkan yang bodoh. Merasa paling besar jumlah pengikut semena-mena terhadap yang sedikit dan minoritas. Mereka yang merasa Pancasilais menganggap lainnya tidak Pancasila, bahkan menuding anti-Pancasila. Bahkan, tidak jarang mereka yang merasa paling benar dengan paham agamanya mencerca dan memperolok paham lain yang berbeda darinya.

    Karena keangkuhan diri melebih takaran, lalu terjadi pemberhalaan paham, pandangan, pemikiran, dan apa saja yang dimilikinya secara fanatik-buta. Lalu terjadi segala kedunguan logika. Segala pandangan dan paham yang berbeda diamggap sesat dan menyesatkan tanpa dalil dan argumen yang kokoh.

    Orang lain dilarang berbuat sekehdaknya lalu dicap intoleran, radikal, dan ekstrem. Sementara dirinya bebas berkata, berpikir, dan berbuat apa saja yang sebenarnya sering berwatak ekstrem, radikal, dan intoleran. Kebenaran dan kesahalan hanya berpatokan pada dirinya, yang angkuh dan merasa diri paling banyak.

    Akibatnya, keberagamaan dan apapun logika berpikir para manusia angkuh diri itu tak menyentuh sukma terdalam ajaran agama nan autentik. Mereka berpikir, berkata, dan bebuat layaknya buih di lautan sebagaimana Firman Allah, yang artinya: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (QS Ar-Ra’du: 17)

    Karena angkuh diri, mereka sering tersesat dan merasa benar di jalan salah layaknya berenang di lautan buih sering menjadikan insan beriman dan berilmu sekalipun menjadi kerdil diri. Manakala yang berbuat sesat jalan itu orang-orang awam tak berilmu, boleh jadi khalayak akan memakluminya. Namun menjadi paradoks jika yang salah jalan dan angkuh dalam kesalahannya itu mereka yang beriman dan berilmu. Angkuh diri di jalan salah yang dibenarkan dan disakralkan sungguh merupakan ironi kebenaran dalam jejak hidup kaum beriman dan berilmu. Inilah wujud lain pemberhalaan paham keagamaan yang berkarakter ghuluw, serba ekstrem dalam wajah lain. Mereka yang berilmu agama tinggi pun, karena keangkuhannya lantas menjadi kerdil.

    Dalam khazanah Islam klasik dikenal istilah “Ash-Shaagiir”, ulama yang ilmunya tampak mumpuni tetapi perangainya kerdil. Ketika Ibnu Mubarak ditanya “Siapakah itu Ash-Ashaghir?”. Dia menjawab, yakni “Orang yang berkata-kata menurut pikiran mereka semata”. Ulama atau mereka yang berilmu tetapi pikiran, ujaran, dan tindakannya sungguh tidak mencerdaskan dan mencerahkan. Sebaliknya tampak naif, bodoh, dan dungu. Ilmunya selain kehilangan kedalaman dan filosofi kebenaran yang autentik, pada saat yang sama tak dibalut hikmah hingga mengerdilkan dirinya. Iman dan ilmunya boleh jadi telah terkontaminasi berhala hawa nafsu.

    Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan pada halaman republika.co.id pada Ahad (17/9)

    http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-11939-detail-diaspora-pemuja-berhala.html

  • Perkembangan Kriteria Hisab

    Perkembangan Kriteria Hisab

    Dalam kaitannya dengan pertanda yang menunjukkan awal/ akhir bulan. Apa dan bagaimana kriterianya? Secara umum, hisab hanya menghitung posisi bulan terhadap matahari dan matahari serta bulan terhadap bumi pada tempat-tempat tertentu. Sedangkan untuk menentukan awal bulan (tanggal 1 bulan Qamariyah) dikenal beberapa kriteria.

    Paling tidak, ada tiga kriteria yang sudah dikenal Muhammadiyah sekurang-kurangnya sejak tahun 1957,¹ sebagaimana disebutkan oleh K.H. Wardan Diponingrat:²

    ¹  Semula Muhammadiyah menetapkan awal bulan baru itu hanya dengan rukyat, setelah ilmu astronomi berkembang di Muhammadiyah yang dipelopori oleh K.H. Siraj Dahlan putera K.H. Ahmad Dahlan, hisab mulai digunakan dengan kriteria ijtimâ‘ qabla al-gurûb. Kemudian sejalan dengan perkembangan pemikiran dalam perhitungan hisab, sejak tahun 1388 H/1968 M kriteria ijtimâ‘ qabla al-gurûb ini disempurnakan dengan memperhitungkan posisi hilal di atas ufuk (wujûd al-hilâl). Dengan demikian, dalam sejarahnya memang Muhammadiyah tidak pernah menggunakan hisab dengan kriteria imkân al-ru’yah.

    ² Wardan, Hisab Urfi, hlm. 43. Dengan bukti buku ini, sekurangkurangnya sejak tahun 1957 Muhammadiyah sudah mengenal adanya beberapa kriteria penetapan awal bulan berdasarkan hisab.

    Pertama, kriteria ijtimâ‘ qabla al-gurûb: kriteria ini memperhitungkan kapan terjadinya ijtimâ‘ (conjunction).¹ Jika ijtimâ‘ terjadi sebelum matahari terbenam, maka malam hari dan keesokan harinya dapat ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru. Akan tetapi jika ijtimâ‘ terjadi setelah matahari terbenam, maka senja itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung.²

    ¹ Saat bulan dan matahari “bertemu” pada bujur ekliptik yang sama. Jika lintangnya juga sama, maka akan terjadi gerhana matahari. Sejak ratusan tahun yang lalu para astronom sudah dapat menghitung ijtimâ‘ ribuan tahun ke depan dengan kesalahan kurang dari 1 (satu) menit. Ijtimâ‘ terjadi serentak dan hanya sekali dalam setiap bulannya. Berbeda dengan gerhana, Peristiwa ijtimâ‘ ini tidak bisa dilihat oleh mata kepala karena sinar matahari yang berada di belakang bulan sangat menyilaukan. Lihat Fahmi Amhar, “Pengantar Memahami Astronomi Rukyat: Mencari Solusi Keseragaman waktuwaktu ibadah”, hlm. 1. makalah disampaikan dalam Workshop Nasional Metodologi Penetapan Awal Bulan Qamariyah Model Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Program Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Yogyakarta tanggal 19-20 Oktober 2002.

    ² Dalam perkembangannya, penetapan berdasarkan ijtimâ‘ ini menjadi ijtimâ‘ sebelum tengah malam dan ijtimâ‘ sebelum fajar menyingsing.

    Kedua, kriteria imkân al-ru’yah, kriteria ini memperhitungkan ketinggian hilal pada saat terbenam matahari setelah terjadinya ijtimâ‘.¹ Jika hilal menurut hisab sudah mencapai pada ketinggian yang memungkinkan dapat dilihat, maka malam itu dan keesokan harinya dapat ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru. Akan tetapi jika belum mencapai pada ketinggian yang memungkinkan dapat dilihat, maka senja itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung. Namun dalam penentuan kriteria imkân al-ru’yah ini belum ada kesepakatan,² sehingga bagaimanapun juga akan senantiasa terjadi keragaman dan ketidakpastian, baik antara ahli hisab dengan rukyat maupun dengan sesama ahli hisab.

    ¹ Berdasarkan fikih, rukyat harus dilakukan pada tanggal 29 Sya‘ban tanpa memperhitungkan sudah ijtimâ‘ atau belum

    ² Secara astronomis, menurut Danjon setelah berulangkali melakukan penelitian/pengamatan, hilal tidak mungkin dapat dilihat, jika selisih sudutnya dari matahari kurang dari 7º dengan beda azimut harus 0º. (Schafer, 1991: 265). Ketetapan ini kemudian diperkuat oleh hasil penelitian Muamer Diezer di Candily Observatory, bahwa hilal baru dapat dilihat jika selisih sudut dari matahari (angular distance) 8º dengan ketinggian (irtifâ‘) minimum 5º di atas ufuk. Ketentuan Diezer ini kemudian disepakati dalam Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyah Internasional di Istanbul Turki pada tanggal 26-27 April 1978. Lihat M. Ilyas, A Modern Guide to Astronomical Calculations of Islamic Calendar, Times and Qibla, (Kuala Lumpur: Berita Publishing SDN. BHD. 1984), hlm. 107. Sementara di Indonesia (Baca: Depag RI), telah ditetapkan: irtifâ‘ 2º dengan umur bulan (tenggang waktu antara ijtimâ‘ dengan terbenam matahari) 8 jam. Akan tetapi dalam kenyataanya, Depag tidak konsisten, karena sering menyatakan hilal berhasil dirukyat, padahal ketinggiannya berdasarkan hasil hisab kurang dari 2º.

    Ketiga, kriteria wujûd al-hilâl, kriteria ini menganggap hilal sudah wujud bila matahari sudah terbenam (sun set) lebih dahulu daripada bulan terbenam (moon set) pada akhir bulan Qamariyah tanpa ada batasan minimal ketinggian hilal.¹ Jika hilal sudah wujud sekalipun sejarak 1 menit atau kurang, maka senja dan keesokan harinya sudah dimulai bulan baru.² Akan tetapi bila bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari, berarti hilal belum wujud (negatif –  berada di bawah ufuk) maka senja itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung.

    ¹ Setelah terjadinya ijtimâ‘ bulan bergerak makin tinggi dan lambat laun akan menyentuh horizon bagi tempat di bumi yang sedang mengalami matahari terbenam. Jika bulan tepat di horizon, maka dikatakan irtifa`-nya nol, semenjak inilah hilal dapat dinyatakan wujud atau positif di atas ufuk. Semakin lama semakin tinggi, dan dalam tempo 24 jam (satu hari), hilal akan bergerak sekitar 12º. Fahmi Amhar, “Pengantar Memahami”,  hlm. 2.

    ² Wardan, Hisab Urfi, hlm. 42-43.

    Buku Faham Agama dalam Muhammadiyah,
    Dr Afifi Fauzi Abbas, MA, UHAMKA Press


    Buya Dr Afifi Fauzi Abbas MA
    Pembina Utama Mata Kuliah Fiqh & Ushul Fiqh
    Ketua PD Muhammadiyah Limapuluhkota
    Pimpinan Yayasan Darulfunun El-Abbasiyah

  • Pengajian di Guguak Duo

    Pengajian di Guguak Duo

    Buya Afifi mengisi Pengajian Muhammadiyah dan Aisyiah di Cabang Guguak Duo Kab. Lima Puluh Kota Payakumbuh.

  • Seed Research Grant 2016: Membaca Sejarah Lokal Muhammadiyah

    Seed Research Grant 2016: Membaca Sejarah Lokal Muhammadiyah

    Kehadiran Muhammadiyah dengan segala dinamikanya memperkaya perkembangan Islam di Sumatera, selangkah dengan Kaum Tua, Kaum Muda, Sumatera Thawalib, PERTI, dsb..

    Mengajak komunitas cendekiawan lokal untuk berkolaborasi untuk menuliskan Sejarah Lokal Muhammadiyah.

    Peserta dapat berupa individu maupun kolaborasi, penggerak amal Muhammadiyah ataupun saksi dari pegerakan, jika ada yang tertarik berkolaborasi untuk wilayah Sumatera Barat khususnya Kabupaten 50 Kota dan Kotamadya Payakumbuh dapat menghubungi:

    Kontak:
    abe.omar@darulfunun.or.id

    Tim Kolaborator:
    Arif Abdullah A
    Dr.  Afifi Fauzi Abbas (Pembimbing)
    Ketua PDM Muhammadiyah 50 Kota – Dosen STAIN Bukittinggi

    Info:
    http://lp3m.umy.ac.id/post/36?title=Seed+Research+Grant+2016%3A+Membaca+Sejarah+Lokal+Muhammadiyah

    ————————

    MEMBACA SEJARAH LOKAL MUHAMMADIYAH

    LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2016

    ABSTRAKSI
    Aspek sejarah lokal gerakan Muhammadiyah masih belum mendapatkan tempat yang memadai dalam studi-studi dewasa ini. Padahal, Muhammadiyah adalah sebuah gerakan sosial Islam yang berkembang dan tumbuh dari bawah dan dipelopori oleh aktor-aktor dinamis nan inspiratif yang masih luput dari observasi para peneliti. Untuk itu, membaca sejarah lokal Muhammadiyah atau menelaah gerakan Muhammadiyah dari “pinggiran” menjadi penting  sebagai salah satu upaya memahami pola pertumbuhan gerakan masyarakat sipil di kalangan masyarakat akar rumput. Persebaran gerakan Muhammadiyah di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan lain-lain memiliki ceritera yang khas nan unik yang boleh jadi akan memberikan inspirasi dan pembelajaran bagi para aktivis, pekerja sosial, dan akademisi dalam mengembangkan organisasi ini di masa yang akan datang.

    TEMA PENELITIAN/TULISAN
    Kajian tentang sejarah lokal Muhammadiyah ini mencakup beberapa aspek, antara lain:
    1.       Perkembangan awal gerakan Muhammadiyah di sebuah daerah.
    2.       Sejarah/biografi  sosial-intelektual dan peran tokoh-tokoh lokal inspiratif dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah/ Aisyiyah.
    3.       Sejarah Dinamika interaksi gerakan Muhammadiyah dengan gerakan Islam lain dan/atau non-Islam di sebuah wilayah.
    4.       Sejarah pertumbuhan lembaga-lembaga sosial atau Amal usaha di sebuah daerah.
    5.       Sejarah  gerakan sosial, dakwah, dan ekonomi Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat.

    MEKANISME PENGUSULAN
    Pemilihan usulan penelitian sejarah lokal Muhammadiyah didasarkan padaorisinalitas dan kebaruan (novelty) topik yang diusulkan. Struktur naskah KONSEP USULAN mencakup sebagai berikut: latar belakang (1 hlm), rumusan masalah (0.5 hlm), studi literatur awal (2 hlm), metode penelitian (0.5 hlm), kontribusi kajianyang akan dilakukan (0.5 hlm). Panjang naskah usulan 4 halaman (1.5 spasi).

    KRITERIA PENGUSUL:  peneliti/dosen, penulis  dan aktivis Muhammadiyah.
    TOTAL HIBAH: Rp. 100.000.000,- (seratus juta untuk rupiah) untuk 10 pemenang.

    TIMELINE
    20 Juli: Call for proposal
    3 Agustus: Batas Akhir Pengusulan
    10 Agustus: Pengumuman Pemenang
    15 Agustus: Tandatangan kontrak
    30 September: Review Laporan Kemajuan
    20 Oktober: Perbaikan Naskah
    30 Oktober: Editing & Publikasi
    November: Seminar

    Usulan dikirim melalui email ke: lp3m@umy.ac.id
    Contact person: Budi Nugroho (085868616697)

    Kegiatan ini didukung oleh: Pusat Studi Muhammadiyah dan Perubahan Sosial Politik-UMY; Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah; Majalah Suara Muhammadiyah.

  • Dari Musda Muhammadiyah dan Aisyiyah Limapuluh Kota

    Dari Musda Muhammadiyah dan Aisyiyah Limapuluh Kota

    Musyawarah Daerah (Musda) ke-15 Muhammadiyah dan Aisyiyah Limapuluh Kota memang sudah selesai digelar, Minggu (6/3).

    Dalam musyawarah yang berlangsung di Balairupih, Simalanggang itu, dosen IAIN Bukittinggi Dr H Afifi Fauzi Abbas MA terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Limapuluh Kota. Sedangkan untuk ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA), dipercayakan kepada Ir Nurmis Madiati.

    Afifi Abbas sendiri, selain seorang dosen yang pernah mengabdi di IAIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Hamka Jakarta, juga tercatat sebagai mubaligh, sekaligus pengurus Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, Padangjopang, Nagari Guguak VII Koto Talago, Kabupaten Limapuluh Kota.

    Dalam menjalankan tugas sebagai ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, Afifi bakal dibantu oleh delapan pimpinan daerah lainnya.

    Mereka adalah H Jayusman SPd MMPd Dt Majo Sampono, Hamdi Sahmah, Alpha Edison SPd MPd, Dr H Arman Husni LC MA, Antonius Budiarto ST, Nurul Hadi SPd, H Zulpahmi, dan M Dekyanus SPd.

    Sementara itu, Ir Nurmis Madiati yang terpilih sebagai ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Limapuluh Kota, dalam menjalankan tugasnya juga oleh delapan unsur pimpinan daerah. Yakni, Hj Rosmis, Dra Izzati, Syafniar Saat, Darminis, Jawanis, Risni Yuliarni, Kasni Nurni, dan Siswarni.

    Banyak pihak berharap dengan kepemimpinan baru ini, Muhammadiyah sebagai organisasi masa (ormas) Islam terbesar di Limapuluh Kota, dan Aisyiyah sebagai organisasi ortonom bagi kaum hawanya, benar-benar bisa disuriteladani banyak orang.

    Karena, sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan yang ditulis Profesor Dr Munir Mulkhan dalam Hikmah Muhammadiyah, menjaga dan memelihara Muhammadiyah itu bukanlah suatu perkara yang mudah.

    Untuk itu, kepengurusan baru Muhammadiyah Limapuluh Kota juga kepengurusan Aisyiyah-nya, diharapkan bisa membuat Muhammadiyah kembali bersinar.

    Karena, dalam beberapa waktu terakhir ini, menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Anwar Abbas, Muhammadiyah Limapuluh Kota masih terkesan jauh dari harapan.

    “Saya melihat, Muhammadiyah Limapuluh Kota hari ini masih jauh dari harapan. Tetapi, bukan berarti Muhammadiyah daerah ini tidak bisa bangkit. Saya berharap kepemimpinan baru bisa bangkit dan menjulang. Sehingga, disuriteladani banyak orang,” ungkap Dr Anwar Abbas yang menghadiri pembukaan Musda ke-15 Muhammadiyah dan Aisyiyah Limapuluh Kota.

    Dr Anwar Abbas yang hadir bersama Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Dr Shofwan Karim Elha dan Bupati Limapuluh Kota Ir Irfendi Arbi MP mengharapkan, pimpinan baru Muhammadiyah dan Aisyiyah Limapuluh Kota punya visi lebih baik.

    “Sehingga, bisa membawa Muhammadiyah ke tingkat yang dicita-citakan,” kata putra Balaimansiro, Guguak, Limapuluh Kota itu.

    Senada dengan Dr Anwar Abbas Limapuluh Kota Irfendi Arbi berharap, Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang baru, memiliki visi, integritas, dan amanah.

    Irfendi sendiri melihat, Muhammadiyah selama ini telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi daerah ini. Mengutip pesan KH Ahmad Dahlan, Irfendi berharap pengurus baru tetap menghidup-hidupi Muhammadiyah dan bukan mencari hidup di Muhammadiyah. (*)

  • Musyda PD Muhammadiyah Lima Puluh Kota

    Musyda PD Muhammadiyah Lima Puluh Kota

    Lima Puluh Kota — Musyda ke­IX Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lima Puluh kota sukses memilih ketua baru. Musyda yang dilaksanakan di Balai Rupi Kecamatan Payakumbuh, belum lama ini, memilih Dr H Afifi Fauzi Abbas MA sebagai ketua baru Muhammadiyah Lima Puluh kota.

    Musyda yang mengambil tema Gerakan Pencerahan menuju Lima Puluh Kota berkemajuan itu dihadiri Dr Anwar Abbas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam sambutanya Anwar mengharapkan pemimpin yang terpilih dalam musyda itu harus mempunyai visi yang dapat memberikan perbaikan terhadap Muhammadiyah khususnya Lima Puluh kota.

    Selama ini, sambung Anwar, Muhammadiyah Lima Puluh kota masih jauh dari harapan. Tetapi bukan berarti Muhammadiyah daerah ini tidak bisa bangkit. “Saya berharap kepemimpinan yang baru akan bisa membangkitkan gerakan Muhammadiyah di daerah ini”, pesanya.

    Senada dengan itu, Dr Shofwan Karim Elha MA Ketua PWM Sumbar dalam sambutanya, meminta pengurus PDM yang baru untuk memperbarui tekad memimpin persyarikatan yang transparan, kolektif-kolegial, semangat pantang menyerah, komunikatif dan penuh kejujuran dengan keikhlasan yang prima. “Jangan lupa juga bangun kerjasama lebih intensif dengan warga dan masyarakat serta perorangan yang sukses dalam kewirausaahaan”, tuturnya.

    Harapan akan terlahirnya kerjasama dan sinergisitas yang baik juga disampaikan Ir Irfendi Arbi Bupati Lima Puluh kota dalam sambutanya pada acara tersebut. Menurutnya, seluruh organisasi massa (ormas) keagamaan, memiliki peranan dalam membangun daerah. Begitu juga Muhammadiyah. “Semoga Muhammadiyah Lima Puluh kota dapat memberikan kotribusi yang nyata bagi pembangunan daerah”, ucapnya. (gsh)

    sumber:
    http://suaramuhammadiyah.com/berita/2016/03/10/musyda-pdm-lima-puluh-kota/
    http://minangkabaunews.com/artikel-8122-afifi-fauzi-abbas-terpilih-jadi-ketua-pdm-50-kota.html