Musibah Semeru dan Solidaritas Kita

Sudah dua tahun lebih Indonesia diterpa berbagai musibah dan cobaan berupa bencana alam dan bencana nonalam. Beragam kesusahan dirasakan masyarakat kita selama masa itu pula. Krisis ekonomi dan pembatasan sosial akibat wabah Covid-19 yang tidak kunjung usai, musibah alamiah atau buatan manusia yang juga tidak pernah usang.

Kabar duka datang dari gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021) di Lumajang, Jawa Timur. Banyak saudara kita menjadi korban dalam bencana tersebut, baik korban luka, bahkan sampai meninggal dunia. Hingga saat ini, Selasa (07/12), berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga tulisan ini diturunkan, sudah terdapat 45 warga yang meninggal dunia dan 9 warga dinyatakan hilang.

Bencana alam, termasuk letusan gunung merapi, menjadi suatu keniscayaan dalam fenomena hidup yang terjadi secara alamiah atas kehendak Allah ﷻ. Meskipun tidak dinafikkan, di samping adanya kehendak tuhan, terdapat arogansi kemanusiaan yang menjadi sebab terjadinya suatu bencana alam.

Fenomena letusan Semeru kemarin ada kalanya diletakkan sebagai presedensi dengan nuansa hikmah-hikmah. Manusia harus mampu mereguk pelajaran di balik terjadinya letusan itu. Ada banyak sekali motivasi sebagai renungan diri menjadi manusia yang sempurna (al-insan al-kamil).

Misalnya, sebagai media intropeksi diri (muhasabah) dengan melihat relasi kausal kehidupan makhluk yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga perbuatan manusia, baik dan buruknya, akan memliki dampak yang berarti bagi sesama, makhluk dan alam sekitarnya.

Menurut Sekretaris Jendral MUI, Buya Amirsyah Tambunan, kita tidak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Musibah adalah suatu ujian bagi keimanan seseorang. Melalui ujiannya itu, kadar keimanan dan konsistensi penghambaan manusia kepada Tuhannya mesti kembali dipertanyakan. Maka musibah itu harus disikapi dengan sabar dan penuh hikmah karena setiap musibah terdapat pesan Allahﷻ. yang disampikan kepada umat-Nya.

Manusia yang lupa kepada Allah ﷻ. akan mengeluh dengan segala hal yang menimpanya. Sebaliknya, orang yang selalu mengingat Tuhan dalam setiap jengkal langkah akan terus mendekatkan diri (taqarruban) kepada Sang Pencipta.

Di sana letak kearifan seorang Muslim yang selalu bisa memberikan nilai positif dan bingkai maknawi terhadap fenomena alamiah yang dikendaki Tuhan untuk terus meningkatkan ketakwaan. Lebih jauh, letusan semeru kembali memperlihatkan ikatan erat persaudaraan (ukhuwah islamiyah) melalui kepedulian dan tanggung jawab bersama.

Ajaran saling tolong-menolong (ta’awun) terhadap sesama bukan hal baru dalam Islam. Banyak sumber secara literal yang termaktub dalam Alquran maupun sunnah Rasulullah ﷺ untuk menuntun kita berwelas asih kepada saudara kita di kala berada dalam kesulitan. Dalam Alquran surat Al Maidah ayat 2 misalnya dijelaskan sebagai berikut:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al Maidah ayat 2)

Dalam ayat potongan kalimat ayat di atas, Allah ﷻ dengan tegas menyeru kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan, dan melarang membantu sesama dalam berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya.

Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar, memantik makna ta’awun yang terdapat dalam potongan ayat di atas adalah perintah Tuhan untuk membina kepedulian di antara sesama dalam membina kebaikan (al-birru), mengerjakan sesuatu yang berfaedah dan meningkatkan ketakwaan. Di saat bersamaan pula Allah ﷻ. melarang manusia bertolong-menolong dalam berbuat dosa yang menimbulkan permusuhan dan menyakiti sesama. Terdapat juga hadits Nabi ﷺ yang dalam riwayat Imam Muslim:

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله عليه وسلم : من نفس عن مسلم كربة من كرب الد نيا نفس
الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الد نيا واالخرة ومن ستر مسلما
ستره اهلل في الد نيا واالخرة والله في عون العبد ما كان العبد في عون اخيه
[اخرجه مسلم ]

Artinya : “Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan- kesusahan di dunia, niscaya Allah melepaskan dia dari kesusahan- kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa memberi kelonggaran kepada seorang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran- kelonggaran baginya di dunia dan akhirat, dan barang siapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah menutup menutup aib dia di dunia dan akhirat. Dan Allah selamanya menolong hamba- nya, selama hambanya menolong saudaranya. ” ( HR Muslim)

Dalam hadits tersebut disebutkan Rasulullah ﷺ bahwa antara Muslim yang satu dan yang lainnya adalah saudara. Kewajiban untuk saling menolong dan larangan menganiaya terhadap sesama jelas termaktub di dalamnya.

Allah ﷻ sendiri akan menyiapkan balasan yang melebihi kadar kemanfaatan dan kemudharatan yang diberikan seseorang kepada saudaranya, baik berupa perhatian, bantuan di kala kesulitan atau menutupi aib yang terdapat pada saudaranya.

Penerapan ajaran tolong-menolong dapat kita jumpai di letusan gunung Semeru. Di tengah kecamuk kepentingan individu, berdasarkan pertalian ukhuwah keislaman, relung hati seorang muslim tergerak mengulurkan tangan untuk mengentaskan kesulitan saudaranya akibat bencana alam.

Melalui semangat ungkapan “Pray For Semeru”, “Pray For Lumajang”, atau “Open Donasi” yang terpajang di pamflet-pamflet menyesaki media sosial (medsos) sebagai bela sungkawa dari latar organisasi dan institusi yang beragam, mulai dari yang statusnya akademisi, politisi sampai relawan sosial kemasyarakatan, bersama-sama berada dalam ikhtiyar munajat doa dan pengumpulan donasi untuk membantu saudara kita di Lumajang sana. (A Fahrur Rozi/ Nashih)



Leave a Reply

Wakaf Darulfunun – Aamil Indonesia