All posts by Arif Abdullah A

Menuju Pendidikan Massal

Di awal kemerdekaan Indonesia corak pengembangan pendidikan memang sangat berat kepada “elite education”, artinya pendidikan dipandang sebagai hak kaum elit, baik elit karena berada dalam lingkar kekayaan ataupun elit karena dalam lingkar kekuasaan.

Seiring dengan tuntutan perubahan zaman, juga tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, upaya menuju pendidikan massal yang berbeda dengan corak pendidikan elitisme rasanya masih jauh dari realita.

Untuk mencapai tujuan pendidikan massal tersebut diperlukan stimulus, pergerakan dari masyarakat dan pelaksana pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk merumuskan tentang pendidikan massal, yang mampu memberikan warna terhadap publik kebanyakan, masyarakat umum bukan yang hanya sebagian.

Dalam konteks lingkungan sekolah, simbol-simbol peringkat perlu diperhalus kembali, seperti rangking satuan ke rangking skala, ujian-ujian dan kurikullum sekolah perlu dievaluasi kembali apakah standard yang diberikan melampau dari keperluan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan sebagainya.

Kemudian yang perlu dicermati adalah beban materi, dan berbagai kegiatan tambahan lain yang kemudian apakah pendidikan massal ini reliable dengan kondisi perekonomian masyarakat. Walaupun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apakah masih diperlukan lagi SPP tambahan untuk dibebankan kepada masyarakat?

Penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya anggaran APBN dan APBD yang diperuntukkan untuk pendidikan dialokasikan untuk operasional saja, dimana pembangunan infrastruktur yang mengambil porsi juga sama banyak tidak mengurangi hak-hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

Dengan ini pola penyelenggaraan pendidikan memerlukan reformasi yang signifikan. Di beberapa negara terdepan dalam pengelolaan pendidikan, akan dapat dilihat bagaimana hal yang penulis kemukakan diatas adalah strategi yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan pendidikan massal.

Pendidikan massal yang terukur juga harusnya menjadi satu titik poin yang perlu dikedepankan, terukur bukan berarti dengan banyaknya ujian atau target yang terlalu tinggi, tetapi terukur dalam artian satu tahapan ke tahapan yang lain diperlukan standar yang bisa dilalui secara massal.

Hal ini juga dapat diamati di negara yang maju dalam penyelenggaraan pendidikan, ujian kenaikan adalah satu evaluasi, bukan hanya bagi siswa didik, terutama bagi penyelenggara pendidikan. Sehingga dapat di pahami, kewajiban memberikan hak belajar adalah sesuai dengan umur dan kapasitas yang ada untuk mengejar jika tertinggal. Hal ini bertolak jauh kebelakang dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, momok “tidak naik kelas” adalah salah satu kesia-siaan jika kita melihat bagaimana waktu dan biaya yang dikeluarkan, baik oleh siswa, orang tua dan juga penyelenggara pendidikan.

Saat ini bukan hanya kerja keras yang diperlukan untuk membangun bangsa dan negara, akan tetapi perlu bekerja secara cerdas, cerdas dalam melihat tantangan kedepan, dan memberikan solusi, bukan hanya rapi dan cantik dalam pelaporan diatas kertas.



Menuju Pendidikan Massal

Di awal kemerdekaan Indonesia corak pengembangan pendidikan memang sangat berat kepada “elite education”, artinya pendidikan dipandang sebagai hak kaum elit, baik elit karena berada dalam lingkar kekayaan ataupun elit karena dalam lingkar kekuasaan.

Seiring dengan tuntutan perubahan zaman, juga tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, upaya menuju pendidikan massal yang berbeda dengan corak pendidikan elitisme rasanya masih jauh dari realita.

Untuk mencapai tujuan pendidikan massal tersebut diperlukan stimulus, pergerakan dari masyarakat dan pelaksana pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk merumuskan tentang pendidikan massal, yang mampu memberikan warna terhadap publik kebanyakan, masyarakat umum bukan yang hanya sebagian.

Dalam konteks lingkungan sekolah, simbol-simbol peringkat perlu diperhalus kembali, seperti rangking satuan ke rangking skala, ujian-ujian dan kurikullum sekolah perlu dievaluasi kembali apakah standard yang diberikan melampau dari keperluan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan sebagainya.

Kemudian yang perlu dicermati adalah beban materi, dan berbagai kegiatan tambahan lain yang kemudian apakah pendidikan massal ini reliable dengan kondisi perekonomian masyarakat. Walaupun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apakah masih diperlukan lagi SPP tambahan untuk dibebankan kepada masyarakat?

Penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya anggaran APBN dan APBD yang diperuntukkan untuk pendidikan dialokasikan untuk operasional saja, dimana pembangunan infrastruktur yang mengambil porsi juga sama banyak tidak mengurangi hak-hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

Dengan ini pola penyelenggaraan pendidikan memerlukan reformasi yang signifikan. Di beberapa negara terdepan dalam pengelolaan pendidikan, akan dapat dilihat bagaimana hal yang penulis kemukakan diatas adalah strategi yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan pendidikan massal.

Pendidikan massal yang terukur juga harusnya menjadi satu titik poin yang perlu dikedepankan, terukur bukan berarti dengan banyaknya ujian atau target yang terlalu tinggi, tetapi terukur dalam artian satu tahapan ke tahapan yang lain diperlukan standar yang bisa dilalui secara massal.

Hal ini juga dapat diamati di negara yang maju dalam penyelenggaraan pendidikan, ujian kenaikan adalah satu evaluasi, bukan hanya bagi siswa didik, terutama bagi penyelenggara pendidikan. Sehingga dapat di pahami, kewajiban memberikan hak belajar adalah sesuai dengan umur dan kapasitas yang ada untuk mengejar jika tertinggal. Hal ini bertolak jauh kebelakang dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, momok “tidak naik kelas” adalah salah satu kesia-siaan jika kita melihat bagaimana waktu dan biaya yang dikeluarkan, baik oleh siswa, orang tua dan juga penyelenggara pendidikan.

Saat ini bukan hanya kerja keras yang diperlukan untuk membangun bangsa dan negara, akan tetapi perlu bekerja secara cerdas, cerdas dalam melihat tantangan kedepan, dan memberikan solusi, bukan hanya rapi dan cantik dalam pelaporan diatas kertas.



Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

Seorang kawan Jamaican Preacher pernah mengajukan persoalan serupa ketika dalam perantauan di Inggris, yang menjadikan saya perlu memberikan penjelasan yang bisa dipahami oleh kaean tersebut, saya sampaikan kembali semoga berguna bagi kawan-kawan yang lain.

Kekerasan yang dimaksud memang di sah kan sebagai pendekatan syariat dalam Agama, jika kita melihat Taurat / Old Testament, terdapt syariat yang keras berbuat dosa makan bertaubat dengan harakiri, jumlah rakaat dalam shalat, jumlah ibadah, dsb.

Untuk kita yang suka membaca sejarah Musa maka akan menemukan hal ini, baik dalam Opd Testament maupun kisah yang diangkat kembali dalam Al-Quran, sebagian besar ayat yang di klaim oleh orientalis sebagai hujjah kekerasan dalam Islam pada umumnya bercerita tentang Bani Israel sebelumnya, seperti ayat qisas.

Menariknya ketika risalah Nabi Isa turun, pendekatan muamalah ini jauh bertolak belakang, pendekatan lunak pun diperkenalkan, tidak salah jika orang-orang yang membaca New Testament memahami pendekatan kasih dalam risalahnya, walaupun dalam segi Ibadah masih dalam kuantitas yang cukup besar.

Kemudian apa menariknya Islam, ini pertanyaan berikutnya yang ditanyakan kawan saya, saya sampaikan yang dikukuhkan dalam Islam adalah Wasathiyah, yakni salah satunya dapat dipahami pendekatan baik keras (seperti kaum Nabi Musa) maupun lunak (seperti kaum Nabi Isa) hanya bisa dijustifikasi dalam bentuk pelembagaan keadilan, semua pendekatan tsb hanya bisa disahkan dalam yurisdiksi, keputusan ketua, pemimpin, sidang hakim, jumhur dan musyawarah.

Mengakui kekerasan dalam Islam sama seperti mengakui kekerasan dalam pendidikan, dalam pengasuhan anak, dalam keseharian, yang realita ini selalu ada tapi tidak pernah diakui, setidaknya begitu saya melihat peradaban bangsa di eropa.

Mereka memaki, mereka menghardik anak-anak juga tidak jauh lebih baik daripada kita disini, tetapi mereka tidak pernah mengakui kekerasan dalam pendidikan mereka, setidaknya dalam konsep legal dan akademik mereka.

Pun begitu hendaknya kita sebagai Muslim, maupun sebagai entitas lainnya.

Mengakui keerasan itu seperti mundur beribu langkah ke dalam zaman batu yang belum menerima risalah, seperti narasi Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, maka apa yang jelas terlihat dalam terang sulit disampaikan jika obor selalu dibiarkan padam dalam kegelapan.



Bertani Bukan Sekedar Untuk Hidup

Saya teringat 10 tahun lalu, seorang alumni UGM di kawasan Kaliurang beternak Sapi perah untuk hidup, value yang beliau sebutkan dalam beternak dan bertani banyak petani sambil-sambilan, ini terlihat dari banyak variasi tapi tidak paham berapa kuantitas minimal untuk hidup, dengan keterbatasan sumber daya.

Dalam praktiknya beliau berhitung satu kepala bisa hidup dengan minimal 3 ekor sapi perah, dan begitu penambahannya jika bertambah kepala dalam keluarga.

Memang kita bukan yang pertama menanam Alpukat (khusus) di kawasan Rimbo Sago, tetapi juga bukan yang kedua. Di kawasan areal yang mendaki memang menjadi kekhawatiran banyak puncak bukit tergerus karena kehilangan vegetasi yang mampu mengikat tanah secara kuat, insyaallah tanaman akar tunjang ini akan sangat membantu.

Sebagaimana teknik mina padi, di kawasan pegunungan ini, yang hujan dan matahari cukup, pertumbuhan ilalang memang luar biasa, maka ini pertama kali di kawasan ini penanaman ini di tumpang dengan gembalaan kambing, Kambing Kacang kampung yang punya ketahanan dan jangkauan ekplorasi dengan medan yang tangguh.

Kita berharap kambing gembalaan adalah satu tren yang bisa di eksplorasi lebih jauh kedepannya.

Kami mulai bertahap dengan berpartner dengan pemilik tanah, pengelola dan juga investor yang juga memiliki visi yang sama. Semoga Allah berkahi, dan dapat memberikan hasil yang cukup, sehingga ide ini dapat di duplikasikan di daerah sekitar, harapannya menjadi alternatif cara bertani yang lebih produktif, insyaallah.

Untuk kawan-kawan yang berada di daerah jangkauan distribusi, Medan, Pekanbaru, Padang, dan lainnya, dapat bersiap dan menjemput peluang, insyaallah kedepannya bisa berkolaborasi dalam pemanfaatan komoditi tersebut untuk konsumsi end customer.

Kita naikkan pertanian perkebunan kita menuju skala Industri 4.0, harus bisa!!

Montsagoe, 24 Mei 2018 / 8 Ramadhan 1439



Berpartner dengan Allah

Ya Jabbar, kami mencoba menanam tetapi Engkau yang menumbuhkan,

Kami mencoba merawat tetapi Engkau yang menjaga.

Ya Rahman, berkahilah kebun kami seperti kebunnya Usman…

Sekiranya kering, datangkan lah hujan yang menyiraminya,

Sekiranya basah, hadirkan cahaya yang menghangatkan

Jadikan ini menjadi penguat asa kami dalam keridhaan Mu

Jadikan manusia-manusia yang tumbuh darinya insan-insan yang beriman dan shalih

Tancapkan akarnya didalam tanah,
dan keluarkan buahnya menjadi baik

Mudahkan urusan kami, dan jadikan kami hamba-hamba Mu yang bersyukur.



Saudara yang Hilang – Turk (1)

ada yang menarik dalam bahasa Turki, mereka melafalkan Al dengan Er, dan ini sudah menjadi budaya, tanpa berarti Al sendiri dalam bahasa arab yang berarti Maha.
 
Erdogan – Er Dogan (Fatih)
Ertugrul – Er Tugrul (Leader)
dsb
 
menariknya bahasa-bahasa dan ‘Urf ini juga menyambungkan kita pada sumber-sumber narasi sejarah yang mungkin terputus,
 
seperti bahasa Pasar Indonesia diyakini diadopsi dari kata Bazar (Kota di Persia), dan Bursa (Kota ekonomi di Turki), beberapa diantaranya:
 
Pasar – Pazar
Bursa – Bursa
Nenek – Neyne
Buya – Bey (Tuan)
Babeh – Abeybe – (baca: Abi)
dsb
 
bagaimana panafsiran kita terbatas oleh bahasa-bahasa yang sudah di standarkan dalam bentuk tulisan, sedangkan dahulu bahasa-bahasa ini terdistribusi melalui fonen.
 
~ ini juga salah satu alasan kenapa pengaruh Gujarat sebenarnya cuma satu tahapan untuk menunjukkan ada pengaruh lain yang lebih dominan yang juga mempengaruhi Gujarat yakni Turki Ottoman.
 
wallahualam


Ibrah Terjemah (1) : Tuduhan Sihir kepada Nabi Sulaiman

Jumat Mubarak, sharing Ibrah terjemah (1)
 
Lagi hangat kunjungan ke Yerusalem, Baitul Maqdis, banyak artis dan seleb yang lagi ziarah kesana, lihat teman-teman ada yang sharing dan kutip temen-temen seleb dan artisnya.
 
Siapa yang pernah terbaca buku-buku Dan Brown tentang Da Vinci Code, atau buku tentang Knights Templar, Freemason, Israel, dsb.
 
Mungkin pernah terbaca tentang Harta Karun Sulaiman, Kitab-kitab rahasia (sihir yang baik) Nabi Sulaiman, yang sekarang di percaya oleh Israel berada dibawah Istana Sulaiman dekat Masjidil Aqsa.
 
Allah berfirman yang memberitahukan bahwa isu hoax ini akan tersebar, mungkin bergenerasi, berabad-abad, wallahualam…
 
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). (Tuduhan terhadap Sulaiman as, terjemah waqaf Abdullah as-Saud, Al-Baqarah : 102)
 
Ibnu Katsir menjelaskan: Syaitan-syaitan (baik jin maupun manusia) menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran sihir.
Pertanyaan, kenapa hoax ini tersebar? jawabannya mungkin pendidikan, belajar membaca sumber primer, walau terjemah, yakni Al-Quran dan Hadits, dan dalam versi Yahudi adalah kitab Taurat.
Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (Terjemah waqaf Abdullah as-Saud, Al-Baqarah : 78)
semoga bermanfaat, wallahu’alam


Mitos Para Alim

Akhirnya, dari film Ertughul (Fighter dari Klan Turk, yang berbaiat dibawah Dinasti Seljuk & Ayyubi, yang kemudian anaknya, yang mewarisi darah kesultanan Seljuk dari Ibunya, membangun Dinasti Ottoman, momen dimana dua dinasti Seljuk dan Ayyubi hancur diporak-poranda Templars).

Dari film ini saya dipahamkan kenapa sosok Ibn Arabi banyak memiliki mitos yang mungkin dilebih-lebihkan oleh pengikutnya.

Karena sosok Ertughul sendiri adalah mujahid dan Ibn Arabi adalah ulama penggerak mujahid-mujahid diluar pegawai PNS Seljuk dan Ayyubi, yang juga disegani oleh Sultan Ayyubi’s yang Ibu pengasuhnya adalah cucu dari Syaikh Abdul Qadir Jailani.

Dimana ada mitos Ertughul maka berhembus juga mitos Ibn Arabi, kebetulan-kebetulan ataupun pertolongan Allah yang terkadang dilebih-lebihkan menjadi pemujaan. Jika Ottoman berkuasa 800 tahun, 8-10 generasi maka selama itu pula dua sosok ini akan terus dikenang.

Satu yang saya paham juga, ulama Sufi ini, bukan seperti sufi dalam pandangan awam yang mengurung diri, Syaikh Ibn Arabi selain ulama, cendekiawan, tabib, juga tokoh pergerakan, yang terakhir ini yang membuat ceritanya semakin berbumbu dan dibumbui dalam setiap khabar yang tersebar oleh awam.

Mungkin ini juga yang perlu kita koreksi dalam pandangan kita.

Semoga kita diberikan kelembutan hati melihat kebaikan para pejuang, mujahid, ulama, para penjaga bendera, wanita-wanita teguh dalam perjuangan, dan dijauhkan dari sifat berlebih-lebihan dalam mengkultuskan sosok tsb.

wallahualam

~dalam Kereta melewati Rugby



Ketika Dengki dan Hasad

Dengki dan hasad ini adalah bahan bakar dari fitnah dan keburukan. Harta, kesuksesan hidup, titel yang mentereng, status, dan sebagainya, semuanya itu tidak ada gunanya jika diri sudah tertutup oleh penyakit dengki dan hasad.

Kerja keras pun tidak berguna jika diakhir muncul riya, yang berilmu menjadi-jadi, tidak tampak lagi kebijaksanaan dalam perkataannya, hanya upaya untuk sindir-menyindir, jatuh menjatuhkan, masyarakat pun dibuat ragu atas niatannya.

Jika riya patut dihindari, karena menutupi niat ikhlas kita lillahi taala, maka ada satu perbuatan lagi yang perlu diwaspadai, karena memberikan keburukan kepada orang lain, yakni memandang orang lain dengan perasaan dengki dan hasad (ain).

Kawan, ada banyak himbauan untuk tidak menshare gambar di sosial, kebahagian keluarga, foto anak, kesuksesan, perjalanan, dsb, apakah dengan demikian itu orang lain tidak bisa berbahagia? ataukah sebetulnya yang perlu diwaspadai adalah kita yang memandang kesuksesan saudara kita?

Jika kita lihat kembali redaksi tentang ain ini yang berbeda dengan riya, jika riya dilakukan oleh kita sendiri terhadap amal kita, dan ain dilakukan oleh orang lain yang melihat amal kita, atau kita melihat amal orang lain.

Adalah himbauan bagi kita untuk menjaga hati dan penglihatan kita untuk tidak memandang orang lain dengan perasaan dengki dan hasad, himbauan rasul cukup jelas untuk kita tidak mengharapkan keburukan kepada saudara kita.

Dengan sederhana, saudara-saudara kita mereka akan bahagia dengan keluarganya, dengan anak-anaknya yang menarik, dengan kekayaannya, dengan kesuksesannya, dengan ilmunya, dengan kesemuanya, terlepas dari mereka menunjukkan atau tidak, ataupun mereka menshare ke media sosial atau tidak, dan ain adalah himbauan rasul kepada kita untuk tidak berpandangan kepada mereka dengan sifat hasad dan dengki, adakah dalam hadits ain ini rasul menegur sahabat yang terkena ain ataukah sahabat yang memandang? Ya teguran diberikan kepada sahabat yang memandang, seyogya itu pula ibrah untuk kita, tidak memandang ke saudara kita dengan hati yang dengki dan hasad atau menjauh darinya sementara untuk tidak memberikan keburukan kepadanya.

Kembali kepada hasad dan dengki, perkara hasad dan dengki ini ternyata cukup serius di negeri ini, hasad dan dengki yang menjadi bahan bakar keburukan menjadi celah untuk kejahatan, fitnah, sihir hingga perkara besar syirik.

Jika kita membaca tafsir Al-Falaq, maka disebutkan ada tiga kejahatan: kejahatan malam bila telah gelap gulita, kejahatan fitnah dari sihir, dan kejahatan pendengki, dan hanya kepada Allah kita bisa berlindung dari ketiga kejahatan ini. Tiga perkara yang Allah sebutkan secara jelas dan singkat didalam satu surat pendek. Jika dengki sudah menggerogoti pendengki, maka tidak ada apapun yang bisa menghentikan mereka untuk menyakiti saudaranya, dan kita hanya bisa meminta perlindungan kepada Allah.

Dengan hasad dan dengki, sedikit masalah menjadi friksi yang tidak habisnya, tidak cukup nasihat panjang baik tentang ilmu agama, dan jika ini telah berhembus kepada para pemimpin, para penuntut ilmu, para ulama, maka tidak ada gunanya kelebihan-kelebihan yang ada, karena dengki dan hasad akan menggerogoti hati dan membuat semuanya memburuk dan menjadi kejahatan.

Ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuh, ia adalah qalbu. 

Di 10 hari dzulhijjah ini hingga hari raya qurban, mari kita tanya kembali kepada qalbu (jantung) kita, apakah jantung kita berdetak mendegup ketika terhentak dengan perkara syahdu, apakah mendetak lebih berdegup ketika kita mencoba kita mengingat orang tua dan orang-orang yang kita sayangi, apakah lebih berdegub ketika kita merangkai satu amal besar dan tahu tidak akan ada penghargaan timbal balik yang didapat, dan disaat itu kita menghela sambil bergumam “hanya kepada Allah kami berharap”, apakah jantung itu berdegub? menstimulus kantung mata untuk mengeluarkan air mata yang akan kita sembunyikan dari orang lain.

Wahai kawan, jika jantung berdetak untuk hal tersebut, beruntunglah engkau, qolbo (jantung) yang baik akan melindungi mu dari hasad dan dengki, memberi keburukan kepada dirimu (riya) dan juga kepada orang lain (ain), dan jika belum maka mari kita latih qolbu (jantung) kita dengan momen yang penting ini, berkurban seperti Ibrahim, kurban yang membuat qolbu (jantung) nya berdetak-detak kencang hampir putus.

 

 

 



Peta Wind Farm di Cornwall vs Indonesia

Sekilas kita akan beranggapan Wind Farm ini adalah wajar dibangun di Inggris, karena mereka punya sumberdaya dan kapital untuk membangun.

Tetapi ada satu sisi yang ternyata perlu kita ekplorasi, wilayah Cornwall ini termasuk wilayah yang subur akan Wind Farm, bukan karena dua hal diatas yang akan saya sorot, tetapi karena mereka sudah MEMULAI dari windmill sejak 300-400 tahun yang lalu, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan teknologi yang baru.

Ada cost yang lebih besar sebenarnya dari teknologi, yakni sustainability, diterima oleh masyarakat, SDM yang tersedia mendukung operasional, tanah yang bisa diberdayakan, dan yang terpenting juga tidak ada gap sosial, kita bisa bayangkan jika hal seperti ini dibangun di daerah yang memiliki gap sosial, akan mahal untuk memilihara keamanan aset dsb.

berikut list heritage windmills di Cornwall
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_windmills_in_Cornwall

Berapa banyak daya terpasang Wind Turbine di UK, sampai 2016 tercatat sekitar 15,6 GW jumlah yang fantastis, kira-kira cukup untuk mensuplai listrik pulau sumatera yang memiliki beban sekitar 12 GW, sedangkan luas UK sendiri tidak lebih dari 1/2 pulau sumatera.

 
Yang menarik juga, resistensi warga masih juga terjadi di UK, resistensi tapi memilki kapasitas terpasang 15,6 GW ini luar biasa, walau dalam kapital UK diuntungkan oleh regulasi nasionalnya yang memberikan kesempatan untuk menggenarasi sumber energi oleh swasta.
 
Indonesia juga sebenarnya secara UU sudah dijami beberapa tahun sejak reformasi (kalau tidak salah ingat), akan tetapi dalam implementasi memang Indonesia terlambat melangkah.
 
Saya pernah melihat roadmap energi ini sekitar tahun 2005, tidak terlalu banyak ada perubahan yang signifikan, yang kemudian disadari pada 2 tahun pemerintahan SBY, dan terus diprogress sekarang ini pada pemerintahan Jokowi.
 
Jika kita lihat map Wind Farm Cornwall yang saya attach, yang juga perlu dibangun adalah industri penopang, dan gap sosial, karena tanpa kedua hal tersebut rasanya terlalu mahal biaya untuk memulai (start-up) dan mempertahankan keberlangsungan (sustainability).
 
Semoga menjadi pencerahan dan melecut semangat kita,


Tintagel, Apakah Camelot (Arthur dan Merlin) adalah Kota Islam Makmur di Britania Raya

Another hidden history, is Merlin a Muslim Scholars who expert in Medicine, Engineering and Chemistry? Is Tintagel is the Early Camelot which was the richest Saracen cities in Great Britain?

Salah satu yang tidak sempat dalam perjalanan ke Cornwall adalah mengunjungi puing Tintagel Castle, yang merupakan tempat kelahiran Arthur dengan khadim muallimnya Merlin.

Dalam nalar ilmiah saya, diimbangi dengan cerita Vikings dan Romawi ekspansi ke Inggris. Wilayah Cornwall sedikit berbeda dengan wilayah Inggris lainnya, kita bisa menemukan banyak nama tempat identik dengan nama-nama pastur Kristian, dan nama-nama yang identik dengan Italy, mungkin dalam hal ini Roma, seperti St Austel, St Ives dan Penzance, dsb.

Yang ingin saya cermati adalah cerita tentang King Arthur dengan Magician Merlin, kenapa diawal saya sebut dengan Muallim. Dan British History menyebut masa Arthur ini sebagai Dark Ages, apakah begitu?

Ada dua nalar ilmiah saya, yang pertama adalah Merlin sebagai tokoh sentral keilmuan yang modern (dari masyarakat kebanyakan) dan penguasaan Merlin terhadap obat-obatan dan Kimia, yang kedua hal (keilmuan) ini hanya memungkinkan diperoleh dari peradaban ilmu pengetahuan saat itu.

Ada banyak cerita tentang legenda Arthur dan Merlin, salah satunya yang menguatkan nalar saya adalah Nennius yang mengatakan masa Arthur adalah antara 600-800 M, semasa dengan Dinasti Umayyah 700 M.

http://www.legendofkingarthur.co.uk/index.htm

https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Islam

Menariknya kemudian, disebutkan satu kutipan bahwa Early Camelot adalah sebuah kota Islam dengan masjidnya.


Early Camelot (Islamic City)

The story of Camelot starts with Joseph of Arimathea, who according to the Bible donated his tomb for the burial of Jesus. According to a Vulgate story, he came to Britain and then to Camelot, finding it to be an Islamic city.

“It was the richest of the Saracen cities in Great Britain, and it was so important that the pagan kings were crowned there, and its mosque was larger and taller than in any other city,” part of the text reads (translation by Carol Chase).

Joseph succeeded in converting more than 1,000 of its inhabitants to Christianity. Its king, a leader named Agrestes, who is described as being the “cruelest man in the world,” falsely converted. After Joseph leaves, Agrestes persecutes the Christians, eventually going completely mad and throwing himself into a fire.

Joseph then returns and sees that Camelot has converted to Christianity, “in the middle of the city he had the Church of St. Stephen the Martyr built,” the text reads. This building would remain Camelot’s largest church throughout the Vulgate cycles with additional, smaller, churches also being built.

https://www.livescience.com/28992-camelot.html

https://www.theguardian.com/books/2013/dec/11/true-history-merlin-anne-lawrence-mathers-review

Apakah Tintagel ini yang dimaksud sebagai Saracen City of Britain, saat ini sedang berlangsung penelitian ekskavasi, semoga ada sedikit cerita tambahan didepan.

http://www.english-heritage.org.uk/about-us/search-news/tintagel-archaeology-report

wallahualam



Tak Ada Yang Suruh

Selepas Rushfa (6yr) memasak, Hanna pun minta memasak, ya Hanna (5yr) masak Telur Dadar (didampingi Head Chef Abah tentunya), Omar (2yr) gak mau kalah, digeser-gesernya kakaknya untuk ikutan goreng bawang.

Pagi ini kami pun tersenyum, Hanna sukarela mencuci piring.

Saya teringat bagaimana dulu mak saya mengajarkan cuci pinggan di usia dini ini, karena kaki tidak sampai ke tempat cuci pinggan, jongkoklah saya diatas tempat cuci pinggan itu, dan abang saya bagian letakkan pinggan bersih. Dan memori itu masih tersimpan, mungkin ada bumbu rotan yang saya tidak teringat 😛

Apapun itu, nampaknya sukarela itu ada karena semua mencoba mengambil peranan. Mungkin ini solusi atas pandangan saya tidak terlalu nyaman dengan PRT, lebih baik rumah sedikit berantakan tetapi tidak ada privacy atau pihak yang teraniaya dan dipersalahkan, semua yang dirumah pun juga paham dan menjadi evaluasi, mungkin waktu dirumah kurang, atau aktifitas dirumah yang terlalu serius sampai lupa untuk beres-beres.

Saya banyak belajar dari budaya kawan-kawan lokal disini, kawan saya si White British berkata “kamu Indonesian/Malaysian harus belajar hidup dengan tangan sendiri, karena kami sudah hidup seperti ini sejak lama (tanpa PRT, Keluarga Kecil).

Mudah-mudahan masih banyak lagi yang bisa dipelajari dan di share.

___
Jika tidak “berjalan” bersama-sama, masing-masing tidak membutuhkan satu sama lain, satu dengan yang lain tidak memerlukan apa yang dimiliki yang lainnya. Sehingga “berjalan” bersama berarti mengelola keunggulan dirinya, dan perbedaan menjadikan mereka bersama. (narasi dari film: Omar Al-Khattab)



Ferry di Plymouth

Selamat pagi

Malam tadi saya tersesat sewaktu perjalanan dari St Ives ke Plymouth, GPS menunjukkan jalur melalui tepi Quay (Dermaga) dan hutan.

Selama perjalanan 30 menit, sangat sedikit kendaraan yang kami jumpai, ya orang Inggris ini jika bukan liburan mereka sudah tidur jam 8 atau 9 malam.

Kemudian sampailah kami dihujung dermaga, yang saya perkirakan kami akan menaiki Jembatan, kemudian istri saya mengatakan tidak, kita akan menyeberang dengan Ferry.

Saya pun was-was, tersesat kemudian harus pula membayar ferry yang saya bayangkan akan mahal sekitar £50 (1,6jt rupiah), atau kita perlu memutar kembali selama 1 jam dan melalui hutan, yah was-was biaya yang tidak murah seperti di Indonesia menghantui judgement saya.

Ternyata yang mengejutkan biaya menyeberang untuk 15 menit penyeberangan hanya £1.5, dengan ferry yang kecil tidak bertingkat yang saya perkirakan berkapasitas tidak sampai 50 mobil pribadi.

Akhirnya pengalaman ini pun mengganggu pikiran saya, ya BAGAIMANA BISA? Operasional cost yang kecil ini apakah disubsidi oleh pemerintah setempat?

Bagaimanapun itu sanggup menggugah cara berfikir saya, sejenak yang berharga.

#sejenakberharga



Platform Ekonomi Syariah ID 2.0

Mengingat diskusi MES UK dua tahun lalu tentang platform ekonomi syariah project IDB dengan BAPENAS.

Terimakasih pak jokowi, pak JK, bu sri mulyani, walau platform ekonomi syariah ditolak awal-awal, ternyata disaat kepepet begini banyak juga yang tereksekusi.

Insyaallah dua periode lagi, siapapun presidennya Indonesia semakin mature dan siap dengan ekonomi syariah.

Saat ini kita masuk ke periode ekonomi syariah diperkenalkan dalam tata kelola pemerintahan (seperti wacana yang didiskusikan pada TALK Insight KIBAR awal tahun lalu). Periode sebelumnya masyarakat hanya tahu ekonomi syariah hanya bank, dan asuransi, ini cerita berikutnya.

80T dana yang besar, akan muncul kontrol alami dari masyarakat, tahun depan akan sulit bu Sri berkata semua hutang atau sumber pendanaan dan peruntukannya tercampur, seperti yang disampaikan skrg.

Sumber dan penyaluran harus dipilah, pajak pun harus lebih hati-hati tidak bisa sekedar hitungan letak angka.

Tahun ini bicara pendanaan APBN defensif tentang harus adanya hutang, tahun depan akan mulai bicara alternatif pendanaan baik sukuk, musyarakah, bahkan hingga syariah investement board; untuk memisahkan yang halal.

— “man ghasana falaysa minna”.



Membangun Tanpa Hutang, Satu Alternatif

Sangat disayangkan jika masing-masing pihak menafikan adanya alternatif jawaban terhadap satu persoalan, tentu kita tidak berharap semua persoalan terpuruk dalam sebuah jalan buntu, terlebih yang kita bicarakan adalah sama-sama bagaimana membangun bangsa dan negara ini.

Membangun tanpa hutang, apakah tidak mungkin?

Bagi sebagian pihak, tentu tidak terfikir alternatif lain, karena pemahaman dan metodologinya memang memilih membangun dengan mengkalkulasi penambahan modal dalam bentuk hutang, sah-sah saja, tentu dengan berkembangnya berbagai alternatif tentunya pemahaman tersebut akan mendapat reaksi yang beragam.

Ditengah-tengah sudut pandang tersebut, ekonomi islam saat ini juga berkembang, dia tidak stagnan, dimulai dari muamalah dasar antar satu pihak dengan pihak lainnya, hingga perbankan, asuransi, saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperkenalkannya dalam tata kelola keuangan negara.

Selalu ada jalan keluar, boundary ini yang kita tetapkan, seperti menetapkan rasio hutang sehat, tidak berhutang atau menambah hutang juga seperti meletakkan angka nol pada pertumbuhan rasio hutang.

Permasalahan yang timbul dari kebijakan tersebut yang kemudian secara detail perlu dicarikan solusinya, apakah perlu melakukan re-valuasi aset, restrukturisasi hutang, dan sebagainya.

Bersiap untuk bertarung memberikan alternatif yang lebih berkeadilan dan rasional.



Membangun Tanpa Hutang, Satu Alternatif

Sangat disayangkan jika masing-masing pihak menafikan adanya alternatif jawaban terhadap satu persoalan, tentu kita tidak berharap semua persoalan terpuruk dalam sebuah jalan buntu, terlebih yang kita bicarakan adalah sama-sama bagaimana membangun bangsa dan negara ini.

Membangun tanpa hutang, apakah tidak mungkin?

Bagi sebagian pihak, tentu tidak terfikir alternatif lain, karena pemahaman dan metodologinya memang memilih membangun dengan mengkalkulasi penambahan modal dalam bentuk hutang, sah-sah saja, tentu dengan berkembangnya berbagai alternatif tentunya pemahaman tersebut akan mendapat reaksi yang beragam.

Ditengah-tengah sudut pandang tersebut, ekonomi islam saat ini juga berkembang, dia tidak stagnan, dimulai dari muamalah dasar antar satu pihak dengan pihak lainnya, hingga perbankan, asuransi, saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperkenalkannya dalam tata kelola keuangan negara.

Selalu ada jalan keluar, boundary ini yang kita tetapkan, seperti menetapkan rasio hutang sehat, tidak berhutang atau menambah hutang juga seperti meletakkan angka nol pada pertumbuhan rasio hutang.

Permasalahan yang timbul dari kebijakan tersebut yang kemudian secara detail perlu dicarikan solusinya, apakah perlu melakukan re-valuasi aset, restrukturisasi hutang, dan sebagainya.

Bersiap untuk bertarung memberikan alternatif yang lebih berkeadilan dan rasional.