Category: Kolom

  • Syariah Dinikmati, Syariah Dicurigai

    Beberapa hari lalu saya mengikuti rapat koordinasi tingkat RW, dari sekian hal yang dibahas ada satu fenomena menarik, kas RW menipis sementara beban sosial semakin besar, untuk meningkatkan besaran iuran sulitnya bukan main dengan berbagi pertanyaan dari warga.

    Di sisi lain, salah satu musholla di perumahan yang sama memiliki kas hingga puluhan kali lipat jumlahnya. Dan saya pernah ditanyai bagaimana mengelola zakat, infaq, dan sodaqoh sementara orang yg berhak menerima zakat juga tidak terlalu banyak di perumahan tersebut.

    Dua kondisi di atas, buat saya adalah cerminan dari dua sistem pengelolaan keuangan yang ada di negara ini. Satu dengan sistem ekonomi konvensional, dan satu dengan sistem syariah.

    Ada perbedaan paradigma antara keduanya. Ekonomi konvensional memiiki paradigma dengan pengeluaran sekecil-kecilnya diperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara ekonomi syariah memiliki paradigma bagaimana pendapatan dan pengeluaran sesuai aturan Allah SWT.

    Menariknya ekonomi konvensional kini seperti mengalami kebuntuan dalam menciptakan sistem ekonomi yang berkeadilan sosial. Dunia dikuasai oleh orang-orang yang memiliki modal, yang mencari keuntungan sebesar-sebesarnya dengan menghindari kewajiban sosial (pajak) sekecil-kecilnya.

    Di sisi lain geliat ekonomi syariah makin marak di berbagai lininya, bermunculannya lembaga zakat infaq sodaqoh, fesyen syar’i, pariwisata halal (syar’i), industri halal, edukasi syar’i (peantren), bahkan kulkas pun menjual merk halalnya.

    Dari sini saya melihat ekonomi syariah saat ini menjadi alternatif dunia untuk menciptakan ekonomi yg lebih berkeadilan.

    Sayangnya standar kita kepada syariah masih sering menggunakan standar ganda. Kadang kita menikmatinya, kadang kita mencurigainya. Mungkin perlu penelitian lebih lanjut terkait standar ganda ini, karena bisa jadi standar ganda ini yang selama ini menjadi blocking untuk pengembangan sesuatu yang lebih baik sifatnya.

    Wallahu a’lam

  • Inferiority Complex dan Islam Nusantara

    Cerita hari ini rada sedih. Saya ditugaskan untuk jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Ketika sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat tidak begitu senang begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, “Mas ikhwan ya?”. Hah, emangnya kenapa pikir saya.

    Lalu tidak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. “Mas, bapak itu maunya standnya dijaga perempuan”. OK lah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan kawan lain. Pas sudah cari2, eh ternyata ga ada yg bisa diajak tukeran. Balik lah saya ke pemilik Stand dan sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan “cold blood” dia bilang, “Ya udah saya sendiri aja, Mas”.

    Saya perhatikan gerak-geriknya, lho koq rada melambai!!! Paham lah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita ga usah heran.

    Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah). Koq iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat2.

    Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya.

    Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita2 bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam2 ketimbang nyamperin penjaga2 dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. Subhanallah. Saya heran, tapi tidak terlalu heran.

    Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indo, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama salat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu2 apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

    Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi tidak perlu menyiapkan menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahun lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim.

    Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara2 begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, selalu isinya arca-arca dan patung Bali. Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, “Zico, negaramu ini betulan negara muslim???”. Saya jawab, Ya.

    “Kenapa ada patung-patung dewa ini di embassy kamu?” sahutnya.

    Saya terdiam tidak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali. Dan patung2 itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut.

    Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?

    Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin. Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.

    Inferiority complex.

    Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!!

    Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan.
    Mohon maaf bangsaku.

    Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar. Ga malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini ngga canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalin, dll.

    Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas. Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat lima mesjid ke segala arah penjurunya. Restoran-restoran ayam “KFC” India dan dan toko2 daging halal bertebaran. Mereka tidak canggung pasang tulisan ayat Quran selebar plang Tokonya. Kadang gede2 ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran. Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia?

    Buat salat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba sejam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat didalam mesjid. Kalo tidak, pasti saya salat dihalaman mesjid, padahal mesjidnya tiga tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

    Sembari memperhatikan tingkah bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. “Are you an Indonesian?”.. “Are you an Imaam here”. “No, I am just visitor”.

    Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. “Where are you come from”, tanyaku. “I was born here, but my parents came from Bangladesh”. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh “Vallo Achi (Apa kabarmu?)”.

    Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun ga kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi ga kagok sama krisis identitas.

    “Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana-dimana, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh”.

    “Sialan!!!” pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.

    “Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh”, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo.

    Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indo, seorang turis mendekati saya, “Are you Indonesian?”. “Yes”, I said.

    “Apakah acara seperti ini rutin diadakan setiap bulan?”, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, “Where are you come from”. Dijawab, “Saudi!”.

    Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini. “Ah, takallamta bi lughatil arabiyah (Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)”.
    “Naam”.
    “Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?”, tanyaku.

    “Aiwah”, katanya.

    Benar saja dia terlihat senang ada orang Indo bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam2. Untung dia pakai bahasa Arab asli. Umumnya kawan-kawan kami dulu orang-orang Arab Maroko dan Aljazair bicara dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.

    “Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?”, katanya

    Saya balas, “Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains”. Dalam hati gw mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius2 lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato tidak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya kalau mau coba eksis di jalur artis.

    “Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?”, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London.

    Orang seperti kamu harusnya ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Tidak lama beliau pun pamit.

    Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri, “Brother, will see you again tomorrow?”.

    “I will, Insha Allah”. Dan beliau pun nampak senang.

    Saya habiskan sisa hari berdua istri melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah.

    Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.

  • Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

    Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

    Seorang kawan Jamaican Preacher pernah mengajukan persoalan serupa ketika dalam perantauan di Inggris, yang menjadikan saya perlu memberikan penjelasan yang bisa dipahami oleh kaean tersebut, saya sampaikan kembali semoga berguna bagi kawan-kawan yang lain.

    Kekerasan yang dimaksud memang di sah kan sebagai pendekatan syariat dalam Agama, jika kita melihat Taurat / Old Testament, terdapt syariat yang keras berbuat dosa makan bertaubat dengan harakiri, jumlah rakaat dalam shalat, jumlah ibadah, dsb.

    Untuk kita yang suka membaca sejarah Musa maka akan menemukan hal ini, baik dalam Opd Testament maupun kisah yang diangkat kembali dalam Al-Quran, sebagian besar ayat yang di klaim oleh orientalis sebagai hujjah kekerasan dalam Islam pada umumnya bercerita tentang Bani Israel sebelumnya, seperti ayat qisas.

    Menariknya ketika risalah Nabi Isa turun, pendekatan muamalah ini jauh bertolak belakang, pendekatan lunak pun diperkenalkan, tidak salah jika orang-orang yang membaca New Testament memahami pendekatan kasih dalam risalahnya, walaupun dalam segi Ibadah masih dalam kuantitas yang cukup besar.

    Kemudian apa menariknya Islam, ini pertanyaan berikutnya yang ditanyakan kawan saya, saya sampaikan yang dikukuhkan dalam Islam adalah Wasathiyah, yakni salah satunya dapat dipahami pendekatan baik keras (seperti kaum Nabi Musa) maupun lunak (seperti kaum Nabi Isa) hanya bisa dijustifikasi dalam bentuk pelembagaan keadilan, semua pendekatan tsb hanya bisa disahkan dalam yurisdiksi, keputusan ketua, pemimpin, sidang hakim, jumhur dan musyawarah.

    Mengakui kekerasan dalam Islam sama seperti mengakui kekerasan dalam pendidikan, dalam pengasuhan anak, dalam keseharian, yang realita ini selalu ada tapi tidak pernah diakui, setidaknya begitu saya melihat peradaban bangsa di eropa.

    Mereka memaki, mereka menghardik anak-anak juga tidak jauh lebih baik daripada kita disini, tetapi mereka tidak pernah mengakui kekerasan dalam pendidikan mereka, setidaknya dalam konsep legal dan akademik mereka.

    Pun begitu hendaknya kita sebagai Muslim, maupun sebagai entitas lainnya.

    Mengakui keerasan itu seperti mundur beribu langkah ke dalam zaman batu yang belum menerima risalah, seperti narasi Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, maka apa yang jelas terlihat dalam terang sulit disampaikan jika obor selalu dibiarkan padam dalam kegelapan.

  • Menuju Pendidikan Massal

    Menuju Pendidikan Massal

    Di awal kemerdekaan Indonesia corak pengembangan pendidikan memang sangat berat kepada “elite education”, artinya pendidikan dipandang sebagai hak kaum elit, baik elit karena berada dalam lingkar kekayaan ataupun elit karena dalam lingkar kekuasaan.

    Seiring dengan tuntutan perubahan zaman, juga tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, upaya menuju pendidikan massal yang berbeda dengan corak pendidikan elitisme rasanya masih jauh dari realita.

    Untuk mencapai tujuan pendidikan massal tersebut diperlukan stimulus, pergerakan dari masyarakat dan pelaksana pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk merumuskan tentang pendidikan massal, yang mampu memberikan warna terhadap publik kebanyakan, masyarakat umum bukan yang hanya sebagian.

    Dalam konteks lingkungan sekolah, simbol-simbol peringkat perlu diperhalus kembali, seperti rangking satuan ke rangking skala, ujian-ujian dan kurikullum sekolah perlu dievaluasi kembali apakah standard yang diberikan melampau dari keperluan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan sebagainya.

    Kemudian yang perlu dicermati adalah beban materi, dan berbagai kegiatan tambahan lain yang kemudian apakah pendidikan massal ini reliable dengan kondisi perekonomian masyarakat. Walaupun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apakah masih diperlukan lagi SPP tambahan untuk dibebankan kepada masyarakat?

    Penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya anggaran APBN dan APBD yang diperuntukkan untuk pendidikan dialokasikan untuk operasional saja, dimana pembangunan infrastruktur yang mengambil porsi juga sama banyak tidak mengurangi hak-hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

    Dengan ini pola penyelenggaraan pendidikan memerlukan reformasi yang signifikan. Di beberapa negara terdepan dalam pengelolaan pendidikan, akan dapat dilihat bagaimana hal yang penulis kemukakan diatas adalah strategi yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan pendidikan massal.

    Pendidikan massal yang terukur juga harusnya menjadi satu titik poin yang perlu dikedepankan, terukur bukan berarti dengan banyaknya ujian atau target yang terlalu tinggi, tetapi terukur dalam artian satu tahapan ke tahapan yang lain diperlukan standar yang bisa dilalui secara massal.

    Hal ini juga dapat diamati di negara yang maju dalam penyelenggaraan pendidikan, ujian kenaikan adalah satu evaluasi, bukan hanya bagi siswa didik, terutama bagi penyelenggara pendidikan. Sehingga dapat di pahami, kewajiban memberikan hak belajar adalah sesuai dengan umur dan kapasitas yang ada untuk mengejar jika tertinggal. Hal ini bertolak jauh kebelakang dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, momok “tidak naik kelas” adalah salah satu kesia-siaan jika kita melihat bagaimana waktu dan biaya yang dikeluarkan, baik oleh siswa, orang tua dan juga penyelenggara pendidikan.

    Saat ini bukan hanya kerja keras yang diperlukan untuk membangun bangsa dan negara, akan tetapi perlu bekerja secara cerdas, cerdas dalam melihat tantangan kedepan, dan memberikan solusi, bukan hanya rapi dan cantik dalam pelaporan diatas kertas.

  • Menuju Pendidikan Massal

    Menuju Pendidikan Massal

    Di awal kemerdekaan Indonesia corak pengembangan pendidikan memang sangat berat kepada “elite education”, artinya pendidikan dipandang sebagai hak kaum elit, baik elit karena berada dalam lingkar kekayaan ataupun elit karena dalam lingkar kekuasaan.

    Seiring dengan tuntutan perubahan zaman, juga tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, upaya menuju pendidikan massal yang berbeda dengan corak pendidikan elitisme rasanya masih jauh dari realita.

    Untuk mencapai tujuan pendidikan massal tersebut diperlukan stimulus, pergerakan dari masyarakat dan pelaksana pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk merumuskan tentang pendidikan massal, yang mampu memberikan warna terhadap publik kebanyakan, masyarakat umum bukan yang hanya sebagian.

    Dalam konteks lingkungan sekolah, simbol-simbol peringkat perlu diperhalus kembali, seperti rangking satuan ke rangking skala, ujian-ujian dan kurikullum sekolah perlu dievaluasi kembali apakah standard yang diberikan melampau dari keperluan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan sebagainya.

    Kemudian yang perlu dicermati adalah beban materi, dan berbagai kegiatan tambahan lain yang kemudian apakah pendidikan massal ini reliable dengan kondisi perekonomian masyarakat. Walaupun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apakah masih diperlukan lagi SPP tambahan untuk dibebankan kepada masyarakat?

    Penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya anggaran APBN dan APBD yang diperuntukkan untuk pendidikan dialokasikan untuk operasional saja, dimana pembangunan infrastruktur yang mengambil porsi juga sama banyak tidak mengurangi hak-hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

    Dengan ini pola penyelenggaraan pendidikan memerlukan reformasi yang signifikan. Di beberapa negara terdepan dalam pengelolaan pendidikan, akan dapat dilihat bagaimana hal yang penulis kemukakan diatas adalah strategi yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan pendidikan massal.

    Pendidikan massal yang terukur juga harusnya menjadi satu titik poin yang perlu dikedepankan, terukur bukan berarti dengan banyaknya ujian atau target yang terlalu tinggi, tetapi terukur dalam artian satu tahapan ke tahapan yang lain diperlukan standar yang bisa dilalui secara massal.

    Hal ini juga dapat diamati di negara yang maju dalam penyelenggaraan pendidikan, ujian kenaikan adalah satu evaluasi, bukan hanya bagi siswa didik, terutama bagi penyelenggara pendidikan. Sehingga dapat di pahami, kewajiban memberikan hak belajar adalah sesuai dengan umur dan kapasitas yang ada untuk mengejar jika tertinggal. Hal ini bertolak jauh kebelakang dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, momok “tidak naik kelas” adalah salah satu kesia-siaan jika kita melihat bagaimana waktu dan biaya yang dikeluarkan, baik oleh siswa, orang tua dan juga penyelenggara pendidikan.

    Saat ini bukan hanya kerja keras yang diperlukan untuk membangun bangsa dan negara, akan tetapi perlu bekerja secara cerdas, cerdas dalam melihat tantangan kedepan, dan memberikan solusi, bukan hanya rapi dan cantik dalam pelaporan diatas kertas.

  • Menuju Pendidikan Massal

    Menuju Pendidikan Massal

    Di awal kemerdekaan Indonesia corak pengembangan pendidikan memang sangat berat kepada “elite education”, artinya pendidikan dipandang sebagai hak kaum elit, baik elit karena berada dalam lingkar kekayaan ataupun elit karena dalam lingkar kekuasaan.

    Seiring dengan tuntutan perubahan zaman, juga tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, upaya menuju pendidikan massal yang berbeda dengan corak pendidikan elitisme rasanya masih jauh dari realita.

    Untuk mencapai tujuan pendidikan massal tersebut diperlukan stimulus, pergerakan dari masyarakat dan pelaksana pendidikan, baik pemerintah maupun swasta, untuk merumuskan tentang pendidikan massal, yang mampu memberikan warna terhadap publik kebanyakan, masyarakat umum bukan yang hanya sebagian.

    Dalam konteks lingkungan sekolah, simbol-simbol peringkat perlu diperhalus kembali, seperti rangking satuan ke rangking skala, ujian-ujian dan kurikullum sekolah perlu dievaluasi kembali apakah standard yang diberikan melampau dari keperluan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan sebagainya.

    Kemudian yang perlu dicermati adalah beban materi, dan berbagai kegiatan tambahan lain yang kemudian apakah pendidikan massal ini reliable dengan kondisi perekonomian masyarakat. Walaupun saat ini dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), apakah masih diperlukan lagi SPP tambahan untuk dibebankan kepada masyarakat?

    Penyelenggaraan pendidikan sudah sepatutnya anggaran APBN dan APBD yang diperuntukkan untuk pendidikan dialokasikan untuk operasional saja, dimana pembangunan infrastruktur yang mengambil porsi juga sama banyak tidak mengurangi hak-hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

    Dengan ini pola penyelenggaraan pendidikan memerlukan reformasi yang signifikan. Di beberapa negara terdepan dalam pengelolaan pendidikan, akan dapat dilihat bagaimana hal yang penulis kemukakan diatas adalah strategi yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan pendidikan massal.

    Pendidikan massal yang terukur juga harusnya menjadi satu titik poin yang perlu dikedepankan, terukur bukan berarti dengan banyaknya ujian atau target yang terlalu tinggi, tetapi terukur dalam artian satu tahapan ke tahapan yang lain diperlukan standar yang bisa dilalui secara massal.

    Hal ini juga dapat diamati di negara yang maju dalam penyelenggaraan pendidikan, ujian kenaikan adalah satu evaluasi, bukan hanya bagi siswa didik, terutama bagi penyelenggara pendidikan. Sehingga dapat di pahami, kewajiban memberikan hak belajar adalah sesuai dengan umur dan kapasitas yang ada untuk mengejar jika tertinggal. Hal ini bertolak jauh kebelakang dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, momok “tidak naik kelas” adalah salah satu kesia-siaan jika kita melihat bagaimana waktu dan biaya yang dikeluarkan, baik oleh siswa, orang tua dan juga penyelenggara pendidikan.

    Saat ini bukan hanya kerja keras yang diperlukan untuk membangun bangsa dan negara, akan tetapi perlu bekerja secara cerdas, cerdas dalam melihat tantangan kedepan, dan memberikan solusi, bukan hanya rapi dan cantik dalam pelaporan diatas kertas.

  • Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

    Tidak ada kekerasan dalam Islam tanpa Jurisdiksi

    Seorang kawan Jamaican Preacher pernah mengajukan persoalan serupa ketika dalam perantauan di Inggris, yang menjadikan saya perlu memberikan penjelasan yang bisa dipahami oleh kaean tersebut, saya sampaikan kembali semoga berguna bagi kawan-kawan yang lain.

    Kekerasan yang dimaksud memang di sah kan sebagai pendekatan syariat dalam Agama, jika kita melihat Taurat / Old Testament, terdapt syariat yang keras berbuat dosa makan bertaubat dengan harakiri, jumlah rakaat dalam shalat, jumlah ibadah, dsb.

    Untuk kita yang suka membaca sejarah Musa maka akan menemukan hal ini, baik dalam Opd Testament maupun kisah yang diangkat kembali dalam Al-Quran, sebagian besar ayat yang di klaim oleh orientalis sebagai hujjah kekerasan dalam Islam pada umumnya bercerita tentang Bani Israel sebelumnya, seperti ayat qisas.

    Menariknya ketika risalah Nabi Isa turun, pendekatan muamalah ini jauh bertolak belakang, pendekatan lunak pun diperkenalkan, tidak salah jika orang-orang yang membaca New Testament memahami pendekatan kasih dalam risalahnya, walaupun dalam segi Ibadah masih dalam kuantitas yang cukup besar.

    Kemudian apa menariknya Islam, ini pertanyaan berikutnya yang ditanyakan kawan saya, saya sampaikan yang dikukuhkan dalam Islam adalah Wasathiyah, yakni salah satunya dapat dipahami pendekatan baik keras (seperti kaum Nabi Musa) maupun lunak (seperti kaum Nabi Isa) hanya bisa dijustifikasi dalam bentuk pelembagaan keadilan, semua pendekatan tsb hanya bisa disahkan dalam yurisdiksi, keputusan ketua, pemimpin, sidang hakim, jumhur dan musyawarah.

    Mengakui kekerasan dalam Islam sama seperti mengakui kekerasan dalam pendidikan, dalam pengasuhan anak, dalam keseharian, yang realita ini selalu ada tapi tidak pernah diakui, setidaknya begitu saya melihat peradaban bangsa di eropa.

    Mereka memaki, mereka menghardik anak-anak juga tidak jauh lebih baik daripada kita disini, tetapi mereka tidak pernah mengakui kekerasan dalam pendidikan mereka, setidaknya dalam konsep legal dan akademik mereka.

    Pun begitu hendaknya kita sebagai Muslim, maupun sebagai entitas lainnya.

    Mengakui keerasan itu seperti mundur beribu langkah ke dalam zaman batu yang belum menerima risalah, seperti narasi Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, maka apa yang jelas terlihat dalam terang sulit disampaikan jika obor selalu dibiarkan padam dalam kegelapan.

  • Bertani Bukan Sekedar Untuk Hidup

    Bertani Bukan Sekedar Untuk Hidup

    Saya teringat 10 tahun lalu, seorang alumni UGM di kawasan Kaliurang beternak Sapi perah untuk hidup, value yang beliau sebutkan dalam beternak dan bertani banyak petani sambil-sambilan, ini terlihat dari banyak variasi tapi tidak paham berapa kuantitas minimal untuk hidup, dengan keterbatasan sumber daya.

    Dalam praktiknya beliau berhitung satu kepala bisa hidup dengan minimal 3 ekor sapi perah, dan begitu penambahannya jika bertambah kepala dalam keluarga.

    Memang kita bukan yang pertama menanam Alpukat (khusus) di kawasan Rimbo Sago, tetapi juga bukan yang kedua. Di kawasan areal yang mendaki memang menjadi kekhawatiran banyak puncak bukit tergerus karena kehilangan vegetasi yang mampu mengikat tanah secara kuat, insyaallah tanaman akar tunjang ini akan sangat membantu.

    Sebagaimana teknik mina padi, di kawasan pegunungan ini, yang hujan dan matahari cukup, pertumbuhan ilalang memang luar biasa, maka ini pertama kali di kawasan ini penanaman ini di tumpang dengan gembalaan kambing, Kambing Kacang kampung yang punya ketahanan dan jangkauan ekplorasi dengan medan yang tangguh.

    Kita berharap kambing gembalaan adalah satu tren yang bisa di eksplorasi lebih jauh kedepannya.

    Kami mulai bertahap dengan berpartner dengan pemilik tanah, pengelola dan juga investor yang juga memiliki visi yang sama. Semoga Allah berkahi, dan dapat memberikan hasil yang cukup, sehingga ide ini dapat di duplikasikan di daerah sekitar, harapannya menjadi alternatif cara bertani yang lebih produktif, insyaallah.

    Untuk kawan-kawan yang berada di daerah jangkauan distribusi, Medan, Pekanbaru, Padang, dan lainnya, dapat bersiap dan menjemput peluang, insyaallah kedepannya bisa berkolaborasi dalam pemanfaatan komoditi tersebut untuk konsumsi end customer.

    Kita naikkan pertanian perkebunan kita menuju skala Industri 4.0, harus bisa!!

    Montsagoe, 24 Mei 2018 / 8 Ramadhan 1439

  • Berpartner dengan Allah

    Berpartner dengan Allah

    Ya Jabbar, kami mencoba menanam tetapi Engkau yang menumbuhkan,

    Kami mencoba merawat tetapi Engkau yang menjaga.

    Ya Rahman, berkahilah kebun kami seperti kebunnya Usman…

    Sekiranya kering, datangkan lah hujan yang menyiraminya,

    Sekiranya basah, hadirkan cahaya yang menghangatkan

    Jadikan ini menjadi penguat asa kami dalam keridhaan Mu

    Jadikan manusia-manusia yang tumbuh darinya insan-insan yang beriman dan shalih

    Tancapkan akarnya didalam tanah,
    dan keluarkan buahnya menjadi baik

    Mudahkan urusan kami, dan jadikan kami hamba-hamba Mu yang bersyukur.

  • Saudara yang Hilang – Turk (1)

    Saudara yang Hilang – Turk (1)

    ada yang menarik dalam bahasa Turki, mereka melafalkan Al dengan Er, dan ini sudah menjadi budaya, tanpa berarti Al sendiri dalam bahasa arab yang berarti Maha.
     
    Erdogan – Er Dogan (Fatih)
    Ertugrul – Er Tugrul (Leader)
    dsb
     
    menariknya bahasa-bahasa dan ‘Urf ini juga menyambungkan kita pada sumber-sumber narasi sejarah yang mungkin terputus,
     
    seperti bahasa Pasar Indonesia diyakini diadopsi dari kata Bazar (Kota di Persia), dan Bursa (Kota ekonomi di Turki), beberapa diantaranya:
     
    Pasar – Pazar
    Bursa – Bursa
    Nenek – Neyne
    Buya – Bey (Tuan)
    Babeh – Abeybe – (baca: Abi)
    dsb
     
    bagaimana panafsiran kita terbatas oleh bahasa-bahasa yang sudah di standarkan dalam bentuk tulisan, sedangkan dahulu bahasa-bahasa ini terdistribusi melalui fonen.
     
    ~ ini juga salah satu alasan kenapa pengaruh Gujarat sebenarnya cuma satu tahapan untuk menunjukkan ada pengaruh lain yang lebih dominan yang juga mempengaruhi Gujarat yakni Turki Ottoman.
     
    wallahualam
  • Ibrah Terjemah (1) : Tuduhan Sihir kepada Nabi Sulaiman

    Ibrah Terjemah (1) : Tuduhan Sihir kepada Nabi Sulaiman

    Jumat Mubarak, sharing Ibrah terjemah (1)
     
    Lagi hangat kunjungan ke Yerusalem, Baitul Maqdis, banyak artis dan seleb yang lagi ziarah kesana, lihat teman-teman ada yang sharing dan kutip temen-temen seleb dan artisnya.
     
    Siapa yang pernah terbaca buku-buku Dan Brown tentang Da Vinci Code, atau buku tentang Knights Templar, Freemason, Israel, dsb.
     
    Mungkin pernah terbaca tentang Harta Karun Sulaiman, Kitab-kitab rahasia (sihir yang baik) Nabi Sulaiman, yang sekarang di percaya oleh Israel berada dibawah Istana Sulaiman dekat Masjidil Aqsa.
     
    Allah berfirman yang memberitahukan bahwa isu hoax ini akan tersebar, mungkin bergenerasi, berabad-abad, wallahualam…
     
    Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). (Tuduhan terhadap Sulaiman as, terjemah waqaf Abdullah as-Saud, Al-Baqarah : 102)
     
    Ibnu Katsir menjelaskan: Syaitan-syaitan (baik jin maupun manusia) menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran sihir.
    Pertanyaan, kenapa hoax ini tersebar? jawabannya mungkin pendidikan, belajar membaca sumber primer, walau terjemah, yakni Al-Quran dan Hadits, dan dalam versi Yahudi adalah kitab Taurat.
    Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (Terjemah waqaf Abdullah as-Saud, Al-Baqarah : 78)
    semoga bermanfaat, wallahu’alam
  • Burn Your Ship

    Burn Your Ship

    Tahun 710 M Thariq ibn Ziyad membakar kapal-kapal yg ditumpanginya bersama 7,000 tentara, setelah mendarat di Gibraltar. Dengan demikian mereka hanya punya pilihan maju menghadapi 25,000 tentara Spanyol, hasilnya Islam berjaya 8 abad di Spanyol yang kemudian menjadi Andalusia.

    Berabad-abad lamanya pemuda-pemuda Spanyol memendam cita-cita untuk melakukan hal yg sama dengan Thariq, sebelum akhirnya -8 abad kemudian – Hernando Cortez membakar kapal – kapalnya ketika mendarat di Mexico dan menaklukannya. Hasilnya hingga kini bahasa Spanyol menjadi bahasa yang dominan di hampir seluruh benua Amerika.

    Kini 13 abad setelah Thariq ibn Ziyad, 5 abad setelah Hernando Cortez – apa yang bisa kita taklukkan ? Bisa jadi kita tidak menaklukkan apa-apa karena kita tidak berani membakar kapal-kapal kita masing-masing. Kapal berupa pekerjaan rutinitas, kapal berupa birokrasi, tradisi dan berbagai bentuk kejumudan yang mengungkung kita seperti katak dalam tempurung.

    ~ Muhaimin Iqbal (Gerai Dinar – iGrow)

  • Diaspora Pemuja Berhala

    Diaspora Pemuja Berhala

    oleh : Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

    Siapa bilang di Kakbah dan Masjidil Haram tidak ada berhala? Di Mina, Arafah, dan Nabawi yang dikenal tempat-tempat suci nan mustajab dalam prosesi haji. Pun di banyak tempat kaum muslimin di berbagai belahan negeri. Berhala-berhala itu masih juga menampakkan diri!

    Latta, Uzza, Manat, Hubal, Manaf, dan berhala-berhala lain yang dituhankan bangsa Arab Jahiliyah memang sudah dimusnahkan pada Fath Makkah ratusan tahun lalu dari tempat yang disucikan umat Islam se-dunia itu. Apalagi, berhala Marduk dan Nabu dari bangsa Kaldea yang dihancurkan Nabi Ibrahim pada era Namrudz sang pemimpin politheisme ternama.

    Namun berhala-berhala klasik masih tersisa dalam jelmaan lain, yakni ego-diri pada perangai orang-orang beriman yang dipicu hawa nafsu. Ego-diri untuk beribadah melebihi kemestian hingga menjurus ke hal yang dilarang ajaran. Ego-diri ketika harus berebut tempat-tempat mustajab hingga tak memberi kesempatan orang lain. Ego-diri berjamarat yang tidak jarang dapat membahayakan diri dan sesama. Ego-diri tatkala kepentingan terganggu, hingga terlihat watak aseli manusia sebagai pemuja hasrat duniawi dalam perebutan mata’ al-ghurur.

    Di sudut-sudut terjauh dari kota suci, manusia berebut banyak kepentingan hidup yang seringkali keras dan berjalan pintas. Perebutan lahan dan aset. Perebutan materi dan kekayaan. Lebih-lebih perebutan tahta dan kuasa yang serbaniscaya. Bahkan berebut paham agama secara ananiyah-hizbiyah dengan membawa nama Tuhan, Nabi, dan Kitab Suci. Sumber muasalnya ialah kepentingan diri dalam egosentrisme berbalut hawa nafsu, yang oleh sufi ternama Jalaluddin Rumi disebut sebagai “ibu dari semua berhala”.

    Berhala nafsu

    Hawa nafsu manusia untuk sebesar-besarkan berebut dunia bagi kepentingan sendiri secara berlebih sungguh berdiaspora dalam sejarah umat manusia dulu hingga kini. Bukan hanya untuk urusan muamalah keduniaaan yang sejatinya berwatak sekuler seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan lainnya. Hatta untuk urusan agama, ego dan nafsu diri itu sering menyala dalam sakralisasi yang samar hingga terbuka. Agama dan paham keagamaan yang bertahtakan nafsu ego-diri dapat menjelma menjadi kekuatan hegemoni untuk menguasai, memukul, menyingkirkan, dan mengusir pihak lain yang duanggap beda, lemah, dan kecil.

    Ketika kepentingan diri secara individu maupun kolektif begitu berlebihan dan menjadi rakus, maka sejatinya bersifat tahlih ‘an nafs, menuhankan ego diri sebagai bentuk lain pemberhalaan. Ketika para Nabi Allah diutus untuk mengajak pada jalan Tuhan yang yang satu (tauhid)), risalah yang utama ialah bertauhid dan mencegah perilaku menyekutukan Allah. Allah sendiri sebenarnya tidak memerlukan apakah Dzat-Nya disembah atau disekutukan, namun jantung terdalam dari ajaran tauhid ialah sikap hanif (jernih nan autentik) dalam bertuhan sekaligus ihsan (berbuat kebajikan yang utama) terhadap sesama insan dan lingkungan kehidupan.

    Musuh utama tauhid sebenarnya bukan hanya syeitan atau iblis yang suka menyesatkan jalan manusia beriman. Ajaran tauhid juga meniscayakan penundukkan ego-manusia yang sering paling digdaya dan merasa benar di jalan salah sebagaimana para penyembah berhala dalam teologi politheisme atau paganisme pada era zaman Nabi. Namrudz dan umatnya yang fanatik sebagai pemyembah berhala harus membakar Nabi Ibrahim karena dianggap menghina dan menghancurkan berhala-berhala sesembahan yang mereka bikin sendiri.

    Sikap kepala batu dan kebodohan yang tak mau berubah itulah yang disasar dari ajaran tauhid para Nabi Allah atas tindakan para penyembah berhala itu sebagaimana firman Allah: “Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.” (QS Al-‘Araf: 191)”. Padahal mereka tahu, bahwa “berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (QS An-Nahl: 20).

    Dalam sejarah para penyembah berhala maka bukan hanya batu, kayu, dan segala bentuk patung yang dituhankan. Namun juga penuhanan atau pendewaan terhadap manusia yang dianggap perkasa seperti raja-raja dan penguasa, bahkan orang yang dianggap suci. Ibn Abbas dan Ibn Katsir mengupas, bahwa muasal pemyembahan berhala yang terjadi pertama kali di zaman para nabi utusan Allah dinisbahkan pada nama-nama ulama yang dianggap suci dan ahli ibadat yang kemudian dipersonifikasikan ke dalam beragam simbol fisik yang kemudian mereka sembah. Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr, sebagai nama-nama berhala pada masa Nabi Nuh konon adalah keturunan dari Nabi Adam yang mereka sucikan.

    Hawa nafsu pun menyeruak menjadi berhala di balik pemberhalaan tuhan-tuhan buatan manusia kaum paganisme itu. Hingga Allah berfirman yang artinya, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS Al-Furqaan: 43). Menurut Ibnu Katsir, bahwa “bagaimanapun orang tersebut menganggap baik suatu perkara dan memandangnya baik menurut hawa nafsunya, maka dalam pandangannya hal itu adalah agamanya dan madzhabnya”.

    Maka, Allah tidak pernah mentoleransi kemusyrikan, karena selain secara teologis sikap tersebut berlawanan dengan syahadat dan tauhid, pada saat yang sama seringkali berakar pada hawa nafsu dalam beragama dan dalam kehidupan umat beragama. Pada setiap perintah beribadah kepada Allah, sering disertai dengan larangan menyekutukan-Nya. Selebihnya, kemusyrikan dan pemberhalaan itu sungguh merupakan pandangan hidup yang sangat rapuh sebagaimana diperingatkan Allah, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS Al-Ankabut: 41).

    Harapan terbesar dari spirit keagamaan yang autentik tentu saja agar segala ibadah yang berulang-tetap dilakukan umat beriman sejak shalat lima waktu perhari, jumatan per minggu, haji per tahun, umrah berkali-kali, membaca Alquran hingga tahfidh, serta segala ritual lainnya dapat mengubah keangkuhan ego-diri. Umat neriman agar makin menjadi shalih secara pribadi dan sosial serta mengubah lingkungan kehidupan untuk lebih berkeadanan dan berperadaban utama. Lebih-lebih pada diri mereka yang berilmu agama tinggi dan pemimimpin kaum beriman, sebagai sosok dan figur warasat al-anbiya!

    Sumber keangkuhan

    Manusia itu memiliki watak dasar angkuh diri. Angkuh karena kuasa tahta, harta, dan segala digdaya dunia. Bahkan angkuh diri karena kuasa ilmu dan agama. Keangkuhan itu sering menyeret manusia pada perangai suka melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (QS Al-Alaq : 6-7). Fir’aun bahkan dengan arogan mengaku diri sebagai tuhan yang maha tinggi. Padahal, Tuhan mengingatkan, meski angkuh diri melebihi Fira’aun, manusia itu tidak akan melampaui tingginya gunung. Sebuah metafora betapa lemah atau dhaifnya manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Pencipta.

    Manusia angkuh, sabda Nabi, cirinya dua yaikni suka menolak kebenaran yang datang dari orang lain, serta gemar merendahkan sesama. Mereka yang bertahta dan berkuasa menindas rakyat jelata. Mereka yang berharta mengeksploitasi kaum papa. Mereka yang berilmu merendahkan yang bodoh. Merasa paling besar jumlah pengikut semena-mena terhadap yang sedikit dan minoritas. Mereka yang merasa Pancasilais menganggap lainnya tidak Pancasila, bahkan menuding anti-Pancasila. Bahkan, tidak jarang mereka yang merasa paling benar dengan paham agamanya mencerca dan memperolok paham lain yang berbeda darinya.

    Karena keangkuhan diri melebih takaran, lalu terjadi pemberhalaan paham, pandangan, pemikiran, dan apa saja yang dimilikinya secara fanatik-buta. Lalu terjadi segala kedunguan logika. Segala pandangan dan paham yang berbeda diamggap sesat dan menyesatkan tanpa dalil dan argumen yang kokoh.

    Orang lain dilarang berbuat sekehdaknya lalu dicap intoleran, radikal, dan ekstrem. Sementara dirinya bebas berkata, berpikir, dan berbuat apa saja yang sebenarnya sering berwatak ekstrem, radikal, dan intoleran. Kebenaran dan kesahalan hanya berpatokan pada dirinya, yang angkuh dan merasa diri paling banyak.

    Akibatnya, keberagamaan dan apapun logika berpikir para manusia angkuh diri itu tak menyentuh sukma terdalam ajaran agama nan autentik. Mereka berpikir, berkata, dan bebuat layaknya buih di lautan sebagaimana Firman Allah, yang artinya: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (QS Ar-Ra’du: 17)

    Karena angkuh diri, mereka sering tersesat dan merasa benar di jalan salah layaknya berenang di lautan buih sering menjadikan insan beriman dan berilmu sekalipun menjadi kerdil diri. Manakala yang berbuat sesat jalan itu orang-orang awam tak berilmu, boleh jadi khalayak akan memakluminya. Namun menjadi paradoks jika yang salah jalan dan angkuh dalam kesalahannya itu mereka yang beriman dan berilmu. Angkuh diri di jalan salah yang dibenarkan dan disakralkan sungguh merupakan ironi kebenaran dalam jejak hidup kaum beriman dan berilmu. Inilah wujud lain pemberhalaan paham keagamaan yang berkarakter ghuluw, serba ekstrem dalam wajah lain. Mereka yang berilmu agama tinggi pun, karena keangkuhannya lantas menjadi kerdil.

    Dalam khazanah Islam klasik dikenal istilah “Ash-Shaagiir”, ulama yang ilmunya tampak mumpuni tetapi perangainya kerdil. Ketika Ibnu Mubarak ditanya “Siapakah itu Ash-Ashaghir?”. Dia menjawab, yakni “Orang yang berkata-kata menurut pikiran mereka semata”. Ulama atau mereka yang berilmu tetapi pikiran, ujaran, dan tindakannya sungguh tidak mencerdaskan dan mencerahkan. Sebaliknya tampak naif, bodoh, dan dungu. Ilmunya selain kehilangan kedalaman dan filosofi kebenaran yang autentik, pada saat yang sama tak dibalut hikmah hingga mengerdilkan dirinya. Iman dan ilmunya boleh jadi telah terkontaminasi berhala hawa nafsu.

    Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan pada halaman republika.co.id pada Ahad (17/9)

    http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-11939-detail-diaspora-pemuja-berhala.html

  • Mitos Para Alim

    Mitos Para Alim

    Akhirnya, dari film Ertughul (Fighter dari Klan Turk, yang berbaiat dibawah Dinasti Seljuk & Ayyubi, yang kemudian anaknya, yang mewarisi darah kesultanan Seljuk dari Ibunya, membangun Dinasti Ottoman, momen dimana dua dinasti Seljuk dan Ayyubi hancur diporak-poranda Templars).

    Dari film ini saya dipahamkan kenapa sosok Ibn Arabi banyak memiliki mitos yang mungkin dilebih-lebihkan oleh pengikutnya.

    Karena sosok Ertughul sendiri adalah mujahid dan Ibn Arabi adalah ulama penggerak mujahid-mujahid diluar pegawai PNS Seljuk dan Ayyubi, yang juga disegani oleh Sultan Ayyubi’s yang Ibu pengasuhnya adalah cucu dari Syaikh Abdul Qadir Jailani.

    Dimana ada mitos Ertughul maka berhembus juga mitos Ibn Arabi, kebetulan-kebetulan ataupun pertolongan Allah yang terkadang dilebih-lebihkan menjadi pemujaan. Jika Ottoman berkuasa 800 tahun, 8-10 generasi maka selama itu pula dua sosok ini akan terus dikenang.

    Satu yang saya paham juga, ulama Sufi ini, bukan seperti sufi dalam pandangan awam yang mengurung diri, Syaikh Ibn Arabi selain ulama, cendekiawan, tabib, juga tokoh pergerakan, yang terakhir ini yang membuat ceritanya semakin berbumbu dan dibumbui dalam setiap khabar yang tersebar oleh awam.

    Mungkin ini juga yang perlu kita koreksi dalam pandangan kita.

    Semoga kita diberikan kelembutan hati melihat kebaikan para pejuang, mujahid, ulama, para penjaga bendera, wanita-wanita teguh dalam perjuangan, dan dijauhkan dari sifat berlebih-lebihan dalam mengkultuskan sosok tsb.

    wallahualam

    ~dalam Kereta melewati Rugby

  • Ketika Dengki dan Hasad

    Ketika Dengki dan Hasad

    Dengki dan hasad ini adalah bahan bakar dari fitnah dan keburukan. Harta, kesuksesan hidup, titel yang mentereng, status, dan sebagainya, semuanya itu tidak ada gunanya jika diri sudah tertutup oleh penyakit dengki dan hasad.

    Kerja keras pun tidak berguna jika diakhir muncul riya, yang berilmu menjadi-jadi, tidak tampak lagi kebijaksanaan dalam perkataannya, hanya upaya untuk sindir-menyindir, jatuh menjatuhkan, masyarakat pun dibuat ragu atas niatannya.

    Jika riya patut dihindari, karena menutupi niat ikhlas kita lillahi taala, maka ada satu perbuatan lagi yang perlu diwaspadai, karena memberikan keburukan kepada orang lain, yakni memandang orang lain dengan perasaan dengki dan hasad (ain).

    Kawan, ada banyak himbauan untuk tidak menshare gambar di sosial, kebahagian keluarga, foto anak, kesuksesan, perjalanan, dsb, apakah dengan demikian itu orang lain tidak bisa berbahagia? ataukah sebetulnya yang perlu diwaspadai adalah kita yang memandang kesuksesan saudara kita?

    Jika kita lihat kembali redaksi tentang ain ini yang berbeda dengan riya, jika riya dilakukan oleh kita sendiri terhadap amal kita, dan ain dilakukan oleh orang lain yang melihat amal kita, atau kita melihat amal orang lain.

    Adalah himbauan bagi kita untuk menjaga hati dan penglihatan kita untuk tidak memandang orang lain dengan perasaan dengki dan hasad, himbauan rasul cukup jelas untuk kita tidak mengharapkan keburukan kepada saudara kita.

    Dengan sederhana, saudara-saudara kita mereka akan bahagia dengan keluarganya, dengan anak-anaknya yang menarik, dengan kekayaannya, dengan kesuksesannya, dengan ilmunya, dengan kesemuanya, terlepas dari mereka menunjukkan atau tidak, ataupun mereka menshare ke media sosial atau tidak, dan ain adalah himbauan rasul kepada kita untuk tidak berpandangan kepada mereka dengan sifat hasad dan dengki, adakah dalam hadits ain ini rasul menegur sahabat yang terkena ain ataukah sahabat yang memandang? Ya teguran diberikan kepada sahabat yang memandang, seyogya itu pula ibrah untuk kita, tidak memandang ke saudara kita dengan hati yang dengki dan hasad atau menjauh darinya sementara untuk tidak memberikan keburukan kepadanya.

    Kembali kepada hasad dan dengki, perkara hasad dan dengki ini ternyata cukup serius di negeri ini, hasad dan dengki yang menjadi bahan bakar keburukan menjadi celah untuk kejahatan, fitnah, sihir hingga perkara besar syirik.

    Jika kita membaca tafsir Al-Falaq, maka disebutkan ada tiga kejahatan: kejahatan malam bila telah gelap gulita, kejahatan fitnah dari sihir, dan kejahatan pendengki, dan hanya kepada Allah kita bisa berlindung dari ketiga kejahatan ini. Tiga perkara yang Allah sebutkan secara jelas dan singkat didalam satu surat pendek. Jika dengki sudah menggerogoti pendengki, maka tidak ada apapun yang bisa menghentikan mereka untuk menyakiti saudaranya, dan kita hanya bisa meminta perlindungan kepada Allah.

    Dengan hasad dan dengki, sedikit masalah menjadi friksi yang tidak habisnya, tidak cukup nasihat panjang baik tentang ilmu agama, dan jika ini telah berhembus kepada para pemimpin, para penuntut ilmu, para ulama, maka tidak ada gunanya kelebihan-kelebihan yang ada, karena dengki dan hasad akan menggerogoti hati dan membuat semuanya memburuk dan menjadi kejahatan.

    Ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuh, ia adalah qalbu. 

    Di 10 hari dzulhijjah ini hingga hari raya qurban, mari kita tanya kembali kepada qalbu (jantung) kita, apakah jantung kita berdetak mendegup ketika terhentak dengan perkara syahdu, apakah mendetak lebih berdegup ketika kita mencoba kita mengingat orang tua dan orang-orang yang kita sayangi, apakah lebih berdegub ketika kita merangkai satu amal besar dan tahu tidak akan ada penghargaan timbal balik yang didapat, dan disaat itu kita menghela sambil bergumam “hanya kepada Allah kami berharap”, apakah jantung itu berdegub? menstimulus kantung mata untuk mengeluarkan air mata yang akan kita sembunyikan dari orang lain.

    Wahai kawan, jika jantung berdetak untuk hal tersebut, beruntunglah engkau, qolbo (jantung) yang baik akan melindungi mu dari hasad dan dengki, memberi keburukan kepada dirimu (riya) dan juga kepada orang lain (ain), dan jika belum maka mari kita latih qolbu (jantung) kita dengan momen yang penting ini, berkurban seperti Ibrahim, kurban yang membuat qolbu (jantung) nya berdetak-detak kencang hampir putus.

     

     

     

  • Peta Wind Farm di Cornwall vs Indonesia

    Peta Wind Farm di Cornwall vs Indonesia

    Sekilas kita akan beranggapan Wind Farm ini adalah wajar dibangun di Inggris, karena mereka punya sumberdaya dan kapital untuk membangun.

    Tetapi ada satu sisi yang ternyata perlu kita ekplorasi, wilayah Cornwall ini termasuk wilayah yang subur akan Wind Farm, bukan karena dua hal diatas yang akan saya sorot, tetapi karena mereka sudah MEMULAI dari windmill sejak 300-400 tahun yang lalu, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan teknologi yang baru.

    Ada cost yang lebih besar sebenarnya dari teknologi, yakni sustainability, diterima oleh masyarakat, SDM yang tersedia mendukung operasional, tanah yang bisa diberdayakan, dan yang terpenting juga tidak ada gap sosial, kita bisa bayangkan jika hal seperti ini dibangun di daerah yang memiliki gap sosial, akan mahal untuk memilihara keamanan aset dsb.

    berikut list heritage windmills di Cornwall
    https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_windmills_in_Cornwall

    Berapa banyak daya terpasang Wind Turbine di UK, sampai 2016 tercatat sekitar 15,6 GW jumlah yang fantastis, kira-kira cukup untuk mensuplai listrik pulau sumatera yang memiliki beban sekitar 12 GW, sedangkan luas UK sendiri tidak lebih dari 1/2 pulau sumatera.

     
    Yang menarik juga, resistensi warga masih juga terjadi di UK, resistensi tapi memilki kapasitas terpasang 15,6 GW ini luar biasa, walau dalam kapital UK diuntungkan oleh regulasi nasionalnya yang memberikan kesempatan untuk menggenarasi sumber energi oleh swasta.
     
    Indonesia juga sebenarnya secara UU sudah dijami beberapa tahun sejak reformasi (kalau tidak salah ingat), akan tetapi dalam implementasi memang Indonesia terlambat melangkah.
     
    Saya pernah melihat roadmap energi ini sekitar tahun 2005, tidak terlalu banyak ada perubahan yang signifikan, yang kemudian disadari pada 2 tahun pemerintahan SBY, dan terus diprogress sekarang ini pada pemerintahan Jokowi.
     
    Jika kita lihat map Wind Farm Cornwall yang saya attach, yang juga perlu dibangun adalah industri penopang, dan gap sosial, karena tanpa kedua hal tersebut rasanya terlalu mahal biaya untuk memulai (start-up) dan mempertahankan keberlangsungan (sustainability).
     
    Semoga menjadi pencerahan dan melecut semangat kita,
  • Tintagel, Apakah Camelot (Arthur dan Merlin) adalah Kota Islam Makmur di Britania Raya

    Tintagel, Apakah Camelot (Arthur dan Merlin) adalah Kota Islam Makmur di Britania Raya

    Another hidden history, is Merlin a Muslim Scholars who expert in Medicine, Engineering and Chemistry? Is Tintagel is the Early Camelot which was the richest Saracen cities in Great Britain?

    —

    Salah satu yang tidak sempat dalam perjalanan ke Cornwall adalah mengunjungi puing Tintagel Castle, yang merupakan tempat kelahiran Arthur dengan khadim muallimnya Merlin.

    Dalam nalar ilmiah saya, diimbangi dengan cerita Vikings dan Romawi ekspansi ke Inggris. Wilayah Cornwall sedikit berbeda dengan wilayah Inggris lainnya, kita bisa menemukan banyak nama tempat identik dengan nama-nama pastur Kristian, dan nama-nama yang identik dengan Italy, mungkin dalam hal ini Roma, seperti St Austel, St Ives dan Penzance, dsb.

    Yang ingin saya cermati adalah cerita tentang King Arthur dengan Magician Merlin, kenapa diawal saya sebut dengan Muallim. Dan British History menyebut masa Arthur ini sebagai Dark Ages, apakah begitu?

    Ada dua nalar ilmiah saya, yang pertama adalah Merlin sebagai tokoh sentral keilmuan yang modern (dari masyarakat kebanyakan) dan penguasaan Merlin terhadap obat-obatan dan Kimia, yang kedua hal (keilmuan) ini hanya memungkinkan diperoleh dari peradaban ilmu pengetahuan saat itu.

    Ada banyak cerita tentang legenda Arthur dan Merlin, salah satunya yang menguatkan nalar saya adalah Nennius yang mengatakan masa Arthur adalah antara 600-800 M, semasa dengan Dinasti Umayyah 700 M.

    http://www.legendofkingarthur.co.uk/index.htm

    https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Islam

    Menariknya kemudian, disebutkan satu kutipan bahwa Early Camelot adalah sebuah kota Islam dengan masjidnya.

    —
    Early Camelot (Islamic City)

    The story of Camelot starts with Joseph of Arimathea, who according to the Bible donated his tomb for the burial of Jesus. According to a Vulgate story, he came to Britain and then to Camelot, finding it to be an Islamic city.

    “It was the richest of the Saracen cities in Great Britain, and it was so important that the pagan kings were crowned there, and its mosque was larger and taller than in any other city,” part of the text reads (translation by Carol Chase).

    Joseph succeeded in converting more than 1,000 of its inhabitants to Christianity. Its king, a leader named Agrestes, who is described as being the “cruelest man in the world,” falsely converted. After Joseph leaves, Agrestes persecutes the Christians, eventually going completely mad and throwing himself into a fire.

    Joseph then returns and sees that Camelot has converted to Christianity, “in the middle of the city he had the Church of St. Stephen the Martyr built,” the text reads. This building would remain Camelot’s largest church throughout the Vulgate cycles with additional, smaller, churches also being built.

    —

    https://www.livescience.com/28992-camelot.html

    https://www.theguardian.com/books/2013/dec/11/true-history-merlin-anne-lawrence-mathers-review

    Apakah Tintagel ini yang dimaksud sebagai Saracen City of Britain, saat ini sedang berlangsung penelitian ekskavasi, semoga ada sedikit cerita tambahan didepan.

    http://www.english-heritage.org.uk/about-us/search-news/tintagel-archaeology-report

    wallahualam

  • Tak Ada Yang Suruh

    Tak Ada Yang Suruh

    Selepas Rushfa (6yr) memasak, Hanna pun minta memasak, ya Hanna (5yr) masak Telur Dadar (didampingi Head Chef Abah tentunya), Omar (2yr) gak mau kalah, digeser-gesernya kakaknya untuk ikutan goreng bawang.

    Pagi ini kami pun tersenyum, Hanna sukarela mencuci piring.

    Saya teringat bagaimana dulu mak saya mengajarkan cuci pinggan di usia dini ini, karena kaki tidak sampai ke tempat cuci pinggan, jongkoklah saya diatas tempat cuci pinggan itu, dan abang saya bagian letakkan pinggan bersih. Dan memori itu masih tersimpan, mungkin ada bumbu rotan yang saya tidak teringat 😛

    Apapun itu, nampaknya sukarela itu ada karena semua mencoba mengambil peranan. Mungkin ini solusi atas pandangan saya tidak terlalu nyaman dengan PRT, lebih baik rumah sedikit berantakan tetapi tidak ada privacy atau pihak yang teraniaya dan dipersalahkan, semua yang dirumah pun juga paham dan menjadi evaluasi, mungkin waktu dirumah kurang, atau aktifitas dirumah yang terlalu serius sampai lupa untuk beres-beres.

    Saya banyak belajar dari budaya kawan-kawan lokal disini, kawan saya si White British berkata “kamu Indonesian/Malaysian harus belajar hidup dengan tangan sendiri, karena kami sudah hidup seperti ini sejak lama (tanpa PRT, Keluarga Kecil).

    Mudah-mudahan masih banyak lagi yang bisa dipelajari dan di share.

    ___
    Jika tidak “berjalan” bersama-sama, masing-masing tidak membutuhkan satu sama lain, satu dengan yang lain tidak memerlukan apa yang dimiliki yang lainnya. Sehingga “berjalan” bersama berarti mengelola keunggulan dirinya, dan perbedaan menjadikan mereka bersama. (narasi dari film: Omar Al-Khattab)

  • Ferry di Plymouth

    Ferry di Plymouth

    Selamat pagi

    Malam tadi saya tersesat sewaktu perjalanan dari St Ives ke Plymouth, GPS menunjukkan jalur melalui tepi Quay (Dermaga) dan hutan.

    Selama perjalanan 30 menit, sangat sedikit kendaraan yang kami jumpai, ya orang Inggris ini jika bukan liburan mereka sudah tidur jam 8 atau 9 malam.

    Kemudian sampailah kami dihujung dermaga, yang saya perkirakan kami akan menaiki Jembatan, kemudian istri saya mengatakan tidak, kita akan menyeberang dengan Ferry.

    Saya pun was-was, tersesat kemudian harus pula membayar ferry yang saya bayangkan akan mahal sekitar £50 (1,6jt rupiah), atau kita perlu memutar kembali selama 1 jam dan melalui hutan, yah was-was biaya yang tidak murah seperti di Indonesia menghantui judgement saya.

    Ternyata yang mengejutkan biaya menyeberang untuk 15 menit penyeberangan hanya £1.5, dengan ferry yang kecil tidak bertingkat yang saya perkirakan berkapasitas tidak sampai 50 mobil pribadi.

    Akhirnya pengalaman ini pun mengganggu pikiran saya, ya BAGAIMANA BISA? Operasional cost yang kecil ini apakah disubsidi oleh pemerintah setempat?

    Bagaimanapun itu sanggup menggugah cara berfikir saya, sejenak yang berharga.

    #sejenakberharga

  • Platform Ekonomi Syariah ID 2.0

    Platform Ekonomi Syariah ID 2.0

    Mengingat diskusi MES UK dua tahun lalu tentang platform ekonomi syariah project IDB dengan BAPENAS.

    Terimakasih pak jokowi, pak JK, bu sri mulyani, walau platform ekonomi syariah ditolak awal-awal, ternyata disaat kepepet begini banyak juga yang tereksekusi.

    Insyaallah dua periode lagi, siapapun presidennya Indonesia semakin mature dan siap dengan ekonomi syariah.

    Saat ini kita masuk ke periode ekonomi syariah diperkenalkan dalam tata kelola pemerintahan (seperti wacana yang didiskusikan pada TALK Insight KIBAR awal tahun lalu). Periode sebelumnya masyarakat hanya tahu ekonomi syariah hanya bank, dan asuransi, ini cerita berikutnya.

    80T dana yang besar, akan muncul kontrol alami dari masyarakat, tahun depan akan sulit bu Sri berkata semua hutang atau sumber pendanaan dan peruntukannya tercampur, seperti yang disampaikan skrg.

    Sumber dan penyaluran harus dipilah, pajak pun harus lebih hati-hati tidak bisa sekedar hitungan letak angka.

    Tahun ini bicara pendanaan APBN defensif tentang harus adanya hutang, tahun depan akan mulai bicara alternatif pendanaan baik sukuk, musyarakah, bahkan hingga syariah investement board; untuk memisahkan yang halal.

    — “man ghasana falaysa minna”.

  • Kenapa Wartawan

    Kenapa Wartawan

    Tengah malam di akhir Februari 1981. Aku berdiri di atas sajadah, shalat istiqarah. Memohon kepada Allah, pilihan hidup: wartawan atau bukan. Ketika bangkit, aku melihat cahaya terang membayang di depanku. Akupun yakin wartawan adalah pilihan.

    Pagi sekali aku melapor ke seniorku Muchlis Sulin (alm),Dia menyerahkan selembar telegram dari Kantor Majalah Berita Mingguan Tempo, seperti mandat penunjukkan seorang koresponden.

    Sejak itu, berbekal segumpal tekad, dengan sepeda motor, hingga lima tahun kemudian aku memburu berita di dua provinsi sekaligus, Sumatera Barat dan Riau, plus Kabupaten Kerinci, provinsi Jambi. Hujan panas, siang dan malam aku lalui mengejar berita dan memenuhi dealine yang tak boleh tertunda.

    Aku sadar Tuhan menolongku. Kuliah masih tersisa setahun lagi. Kakak sandaranku, usahanya sedang payah. Ibu yang mengasuh adik-adikku juga sudah tua. Ayah, sudah meninggal 1972 kala aku baru naik kelas dua Aliyah. Hidup di rantau itu bak “Menangguk angin lalu”, ujar kakak angkatku, pedagang kaki lima, memberi semangat.

    Ditemani mesin ketik kecil setiap malam aku duduk di atas sebuah bangku di depan meja milik teman. Begitupun hatiku sejuk meski kamar kayu yang kusewa tanpa plafon, bila tidur siang mesti daiatas handuk terbentang.

    Berita? Tak ada peristiwa dan kejadian yang terabaikan. Politik, hukum, kriminal, ekonomi dan bencana alam, semua lini aku jalani. Itu menyadarkan ku wartawan tak cukup mengandalkan panca indra.

    Aku terus membeli buku. Aku datangi orang-orang pintar. Mawardi Yunus Rektor Unand saat itu, ekonom Hendra Esmara, Alfian Lain. Juga Khaidir Anwar dan Muchtar Naim sering aku datangi ke rumahnya. Buya MD. Datuk Palimo Kayo Ketua MUI, Idrus Hakimi Da. Rajo Pangulu Ketua LKAAM adalah orang yang aku rasa amat sayang padaku.

    Bila senggang, berdiskusi di kantor Zahiruddin Direktur LBH, bersama A. Kadir Usman, Asma Naim dan pengacara muda kala itu. Pengusaha, dokter, guru besar Ilmu hukum, pejabat kepolisian, tentara, dan kalangan pejabat Pemda Sumatera Barat, semuanya aku datangi. Dengan mereka aku berdiskusi melengkapi diri mendukung profesi.

    DBagiku sederhana alasannya.“Ayah cuma satu, Bapak boleh seribu”. Aku menimba ilmu dari mereka. Karena aku tahu, perusahaan pers itu adalah gabungan pergurun tinggi dan bisnis informasi.

    Aku terus memburu berita. Berita-berita yang tak tergarap wartawan Sumatera Barat, baik karena jauh lokasinya atau karena berat medan dan persoalannya, aku garap. Begitupun, jangankan dijentik, dihardik orang pun, Inshaallah, belum pernah.

    Semua itu tak membuat aku bangga. Cuma asyik dan larut saja. Dan itu membuat aku lupa, aku juga pemuda lazimnya punya waktu senggang sedikit bersenang-senang, mungkin juga merasakan kebahagian berteman wanita. Tapi kepuasanku justru kala berhasil mengungkap sebuah peristiwa membuat banyak orang tertolong dan masyarakat terbantu.

    Hampir 30 tahun, kujalani profesi itu, dari Tempo ke Majalah Gatra diselingi Harian Singgalang, Majalah Zaman, dan Forum Keadilan. Dengan keringat itu aku dayung hidup keluarga dan anak-anakku bertongkat sebuah sikap,” berjalan lurus berkata benar”. Meski akibatnya, umpatan dan pujian, disukai atau dibenci, datang silih berganti, Alhamdulillah,ke empat anakku bisa bersekolah layaknya anak-anak lain.

    Wartwan pakaiannya dan penampilannya seadanya. Suatu hari aku diundang bermakalah disebuh hotel ternama. Aku buru-buru menaruh sepeda motor di depan hotel itu. Eh, aku diusir satpam agar memarkir sepeda motor di belakang.

    Melihat tampang rada kusam satpam mengikuti aku ke ruang pertemuan. Aku terus ke depan mebawakan makalah. Ketika keluar, dia berusaha memberi hormat. Aku mengangguk saja. Dan, kembali ke sepeda motor ku.

    Yang terberat di profesi ini memang karena tak kaya. Celakanya, punya sedikit harta ditatap curiga. Bayangkan, menyumbang satu truk bata untuk gedung organisasi kemahasiswaanku, dianggap tak ada. Boleh jadi karena itu yang pernah menaruh hatipun menjauh pergi.

    Maka, kepada keluarga dan anak-anakku, kutanamkan.Kalian lahir dari seorang wartawan. Jangan dendam pada keadaan.(*)

  • Membangun Tanpa Hutang, Satu Alternatif

    Membangun Tanpa Hutang, Satu Alternatif

    Sangat disayangkan jika masing-masing pihak menafikan adanya alternatif jawaban terhadap satu persoalan, tentu kita tidak berharap semua persoalan terpuruk dalam sebuah jalan buntu, terlebih yang kita bicarakan adalah sama-sama bagaimana membangun bangsa dan negara ini.

    Membangun tanpa hutang, apakah tidak mungkin?

    Bagi sebagian pihak, tentu tidak terfikir alternatif lain, karena pemahaman dan metodologinya memang memilih membangun dengan mengkalkulasi penambahan modal dalam bentuk hutang, sah-sah saja, tentu dengan berkembangnya berbagai alternatif tentunya pemahaman tersebut akan mendapat reaksi yang beragam.

    Ditengah-tengah sudut pandang tersebut, ekonomi islam saat ini juga berkembang, dia tidak stagnan, dimulai dari muamalah dasar antar satu pihak dengan pihak lainnya, hingga perbankan, asuransi, saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperkenalkannya dalam tata kelola keuangan negara.

    Selalu ada jalan keluar, boundary ini yang kita tetapkan, seperti menetapkan rasio hutang sehat, tidak berhutang atau menambah hutang juga seperti meletakkan angka nol pada pertumbuhan rasio hutang.

    Permasalahan yang timbul dari kebijakan tersebut yang kemudian secara detail perlu dicarikan solusinya, apakah perlu melakukan re-valuasi aset, restrukturisasi hutang, dan sebagainya.

    Bersiap untuk bertarung memberikan alternatif yang lebih berkeadilan dan rasional.

  • Membangun Tanpa Hutang, Satu Alternatif

    Membangun Tanpa Hutang, Satu Alternatif

    Sangat disayangkan jika masing-masing pihak menafikan adanya alternatif jawaban terhadap satu persoalan, tentu kita tidak berharap semua persoalan terpuruk dalam sebuah jalan buntu, terlebih yang kita bicarakan adalah sama-sama bagaimana membangun bangsa dan negara ini.

    Membangun tanpa hutang, apakah tidak mungkin?

    Bagi sebagian pihak, tentu tidak terfikir alternatif lain, karena pemahaman dan metodologinya memang memilih membangun dengan mengkalkulasi penambahan modal dalam bentuk hutang, sah-sah saja, tentu dengan berkembangnya berbagai alternatif tentunya pemahaman tersebut akan mendapat reaksi yang beragam.

    Ditengah-tengah sudut pandang tersebut, ekonomi islam saat ini juga berkembang, dia tidak stagnan, dimulai dari muamalah dasar antar satu pihak dengan pihak lainnya, hingga perbankan, asuransi, saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperkenalkannya dalam tata kelola keuangan negara.

    Selalu ada jalan keluar, boundary ini yang kita tetapkan, seperti menetapkan rasio hutang sehat, tidak berhutang atau menambah hutang juga seperti meletakkan angka nol pada pertumbuhan rasio hutang.

    Permasalahan yang timbul dari kebijakan tersebut yang kemudian secara detail perlu dicarikan solusinya, apakah perlu melakukan re-valuasi aset, restrukturisasi hutang, dan sebagainya.

    Bersiap untuk bertarung memberikan alternatif yang lebih berkeadilan dan rasional.

  • Karenamu PII

    Karenamu PII

    Tahun 1969 aku berusia 13 tahun, masih kelas satu Tsanawiyah Negeri Padang Japang, sebuah jorong dari Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk Kabupaten Limapuluh Kota. Aku diajak ikut basic training Pelajar Islam Indonesia (PII). Kenapa aku? Mungkin karena suka berantam. Tapi juga ketua seksi olahraga, ketua seksi Muhadharah, lalu di kelas tiga menjadi ketua Osis.

    Mungkin karena masih anak-anak selama training sering disuruh tampil memimpin acara dan memimpin nyanyi PII. Instrukturnya ada yang galak ada amat penyang. Yang pertama itu Adli Fauzi, Marlis. Yang kedua Yusmar, Asma Kasim, Misrawati, Iyar, dan sejumlah nama lainnya. Mereka sudah di Aliyah, bahkan sudah kuliah.

    Aku tak sendiri. Ali Amri, Muzni My, Rosmania Perangin-angin, Syofyan Saragih, Dasril, Adia Putera, Zulfadli, Djanewar. Banyak lagi. Aku sudah lupa. Dari pengurus wilayah ada Nasrul Hamzah, Djasril Sair, Ummiati Syarif. Itu yang aku ingat. Tahun berikutnya aku ikut lagi basic training. Istrukturnya Masri Lamsayun, Harma Zaldi, Sukhyar Iskandar, beberapa PII-wati dari PW PII Sumbar.

    Ketika terjadi pergantian pengurus Cabang Kewedanaan Guguk – Suliki (dua kecamatan), Ali Amri jadi Ketua dan aku jadi sekretaris. Tak punya kantor. Surat-surat dialamatkan ke aku di sekolah. Tahun 1971 sehabis ujian akhir Tsanawiyah, aku diikutkan Perkampungan Kerja Pelajar se-Sumatera di Situjuh Lima Nagari, Limapuluh Kota. Hebat. Pesertanya siswa SLTA, bahkan sarjana muda. Aku yang terkecil. Tapi pendekatan kemasyarakatanku dianggap, oke.

    Sebagai pengurus, yang masih anak-anak, kami biasa berurusan ke kantor polisi dan camat di Dangung-Dangung sekitar 4 Km dari sekolahku. Kadang jalan kaki saja. Ketika rapat kami dikuntit polisi, kami ngumpulnya di pondok penjaga durian. Polisinya bingung. Ini anak PII apa penjaga durian, gitu.

    Soal dana organisasi tak payah. Asal memberitahu warga, di masjid atau di sekolah, ada saja uang. Aku pun sering membohongi orang tua, minta uang sekolah, tapi ikut acara PII.

    Meski di jorong, kami tak minder sama PII-wan/wati dari kota. Maklum, kami punya kebanggan. Saa perang kemerdekat jorong itu jadi basis Syekh Abbas Abdullah, Panglima Jihad Sumatera Tengah. Zaman PDRI, Presiden PDRI, Syafruddin Prawira Negara, dan sejumlah menteri dan gubenur tinggal di situ.

    Tahun 1942 Soekarno mendatangi Syekh Abbas Abdullah meminta pendapatnya tentang dasar-dasar negara yang akan dimerdekakan. Moh. Natsir pun dua kali datang kemari. Pertama tahun 1948 kala menjemput Syafruddin Prawira Negara. Kedua, 1966 bersama barisan KAPPI/ Kami yang dipimpin KB PII Binahar Daud berjalan kaki dari Padang. Semua itu ikut mewarnai semangat kami.

    Tahun 1975 aku dan Ali Amri kuliah di Payakumbuh. Kami menempati sebuah rumah tua yang mungil di Koto Nan Ampek. Rumah itu pernah jadi Kantor PII Daerah Limapuluh Kota/Payakumbuh. Aku menemukan sebuah papan nama PII yang sudah luntur. Juga jejak stempel HMI Cabang Payakumbuh di atas selembar surat.

    Satu hari datang Ibu Fatimah Yulinas KB PII dan alumni HMI, dosen di Fakultas Adab, yang sudah kuanggap ibuku sendiri. Ia bertanya,”kemana hilangnya generasi muda Islam Limapuluh Kota Payakumbuh”. Aku tak tahu menjawabnya. Senior dari kalangan HMI yang ada di rumah itu pun tak tahu menjawabnya.

    Tak tahu harus berunding kemana, aku bawa papan dan bekas plang PII itu ke bengkel mobil DKB, di seberang rumah kami. Aku minta dibuat plang nama PII dan HMI. Tak punya duit, uang jajanan ku sebulan kugunakan. Setelah jadi, aku pasang berdempetan di depan rumah reot itu. Eh, hari-hari berikutnya aktivis HMI dan PII berdatangan. Di situ aku bertemu Risman Muchtar, Zulfahmi Khatib, Rusydi Ramli dan sejumlah yang lain.

    Saat libulan puasa, kami adakan basic training di Ma’had Islami. Risman jadi pembina. Eh, aku malah jadi ketu kosumsi. Instrukturnya yang paling tip, Zulfarizal Khaidir. Singkat cerita, kemudian dibentuklah Pengurus Daerah PII Payakumbuh Limapuluh Kota, dan Pengurus Cabang HMI Payakumbuh. Ali Amri jadi Ketua PD, aku wakilnya.

    Aku pun jadi pelatih vollyball di beberapa kampung sampai terbentuk club volly ball PII, yang cukup diperhitungkan di Payakumbuh. Aku juga mengajar merangkai janur, merangkai buah, merangkai bunga, di beberapa kelompok PKK, kemudian jadi basis dan simpatisan PII.

    Tahun 1977 aku pindah karena kampus kami disatukan di Padang. Setahun di Padang, tiap pulang kuliah aku ikut membantu kakak angkat berjualan jeruk di Pasar Raya. Aku mengumpulkan teman-teman membentuk group volksong. Mereka kemudian aku ajak mendirikan Komisariat HMI Fakultas Adab. Rapat di Gedung PGAI, hidangannya jeruk sekarung. Secara aklamasi aku terpilih jadi ketua. Tapi aku serahkan pada temanku Khairusdi. Dia ketua, aku wakilnya.

    Tahun 1978 aku ikut kegiatan koran kampus, masih stensilan, Karya Tulis namanya. Karena produktif, aku, Zaili Asril, Shofwan Karim, Yulizar Yunus, Alirman Hamzah, Adi Bermasa, Ema Yohana, minta diterbitkan Koran Kampus, Sautul Jamiah. Pembantu Rekktor II, Sofyan Ras Burhani menolak. Kami beritakan dia di koran Haluan. Sofyan Ras marah. Tapi akhirnya Koran Kampus itu disetujui diterbitkan. Hingga kini masih tetap terbit. Yulizal Yunus Pemimpin Redaksi, aku Pemimpin Usaha.

    Tahun 1981,kuliah setahun lagi. Aku diangkat jadi Koresponden Majalah berita Mingguan TEMPO untuk Sumatera Barat, merangkap kerja di Harian Singgalang dan Majalah Forum Keadilan. Saat yang sama Zaili Asriel jadi Koresponden Kompas, Adi Bermasa Koresponden Majalah Panji Masyarakat, Herman L, Koresponden Majalah Fokus, Alirman Hamzah koresponden Koran Pelita. Ketika semua itu aku cerita pada Rektor Sanusi Latief di rumahnya, beliau menangis terharu. ” Cita-cita bapak sudah kesampaian, bukankah bapak dulu mau kami ini jadi cikal bikal media Islam,” kataku. Ia terus meneteskan air mata.

    Tahun 1995 aku bergabung dengan Majalah Berita Mingguan GATRA. Karena kesibukan itu aku hanya sesekali datang menghadiri pertemuan di Kantor Pengurus Wilayah PII di Belakang Olo. Begitu juga dengan pengurus HMI. Tak aneh jika aku tak jadi “lakon” utama di PII maupun di HMI. Aku cuma jadi pelengkap peserta saja.

    Toh, aku merasa, kalau bukan karena PII, karena Sapta Sanggup Seorang Kader PII, aku takkan sukses jadi wartawan. Pekerjaan ini penuh tantangan pisik dan piskologi, moril dan materil. Menyita waktu, tenaga dan pikiran sekaligus. (Fachrul Rasyid Hf)