Tag: arab saudi

  • Begini Serba Serbi Awal Ramadhan di Madinah, Arab Saudi

    MADINAH –Pemerintah Arab Saudi menetapkan awal Ramadhan 1443 H jatuh pada 2 April 2022. Keputusan ini diambil melalui Hasil Rukyah yang menggunakan metode dan praktek penetapannya sama dengan di Indonesia.

    Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh, menceritakan pengalamannya saat berada di Madinah, Arab Saudi, untuk beribadah, termasuk melaksanakan ibadah di bulan Suci Ramadhan.

    Kiai Asrorun Niam melihat pelaksanaan ibadah sholat berjamaah sudah kembali normal dengan kondisi shaf dirapatkan, daya tampung maksimal, meskipun masih adanya himbuan untuk memakai masker bagi seluruh jamaah. Selain itu, ia juga melihat bahwa seluruh umat Islam di Arab Saudi mengikuti awal Ramadhan berdasarkan keputusan pemerintah.

    Kiai Asrorun Niam juga menyusuri tempat-tempat yang mustajab seperti Raudhah. Saat berada di sana, ia melihat suasana yang begitu ramai bahkan ‘membludak’ sehingga diberlakukan model pendaftaran melalui aplikasi, serta dilakukannya antrian untuk menjaga ketertiban.

    Saat hendak buka puasa di Masjid Nabawi, ia melihat para takmir dan para muhsinin menyediakan menu buka puasa untuk para jamaah melaksanakan buka puasa bersama.

    Kiai Asrorun Niam yang ikut dalam buka bersama ini merasa takjub dengan suasana jamaah yang begitu tertib mengikuti himbauan pemerintah Arab Saudi untuk tidak ngobrol saat buka bersama di Masjid Nabawi.

    Setelah selesai buka bersama dengan para jamaah di Masjid Nabawi. Kiai Asrorun Niam yang kembali datang ke masjid untuk melaksanakan sholat Isya dan tarawih berjamah merasa kaget dengan kondisi Masjid Nabawi yang penuh secara maksimal, padahal masjid ini memiliki daya tampung mencapai satu juta jamaah.

    Kiai Asrorun Niam yang datang sebelum Isya ini menjadi salah satu jamah yang terhalang untuk masuk ke dalam Masjid Nabawi.

    Tapi ia melihat para petugas begitu sigap mengarahkan jamaah ke lantai atap atau rooftop dan di halaman masjid. Akhirnya, setelah diarahkan oleh petugas, kiai Asrorun Niam dapat melaksanakan Sholat Isya dan Sholat Tarawih berjamaah di halaman Masjid Nabawi.

    Sholat tarawih di sana dilaksanakan dengan 11 rakaat dan saat sholat witir membaca doa Qunut.

    Saat Adzan, sholat berjamah, termasuk shalat tarawih di Masjid Nabawi, menggunakan pengeras suara masjid luar dengan jangkauan yang sangat luas. Sehingga, semakin terasa syiar agama.

    Kiai Asrorun Niam menjelaskan, kondisi tersebut justru membuat masyarakat sekitar menyesuaikan, bukan malah meminta untuk dikecilkan.

    Bahkan, para pedagang dan para pelaku usaha di sekitar masjid Nabawi sampai rela menutup sementara tokonya dan menghentikan aktifitas usahanya.

    Ia juga melihat tidak ada restoran yang ‘ngotot’ minta buka dengan alasan ada orang yang tidak berpuasa. Mereka merasa tidak terganggu dengan aktifitas di bulan Ramadhan. Bahkan, malah menikmati suasana Ramadhan yang syahdu.

    (Sadam Al-Ghifari/Fakhruddin)

  • Alasan Mengapa Kabah Metaverse tak Bisa untuk Haji dan Umroh?

    JAKARTA—Inisiatif Arab Saudi menghadirkan Kabah virtual versi metaverse, Virtual Black Stone Initiative, menuai polemik di kalangan umat Islam dunia.

    Inisiatif ini memungkinkan memungkinkan umat Islam melihat secara virtual batu yang dihormati secara agama yaitu Hajar Aswad, atau Batu Hitam, di Makkah. Pembuatan Kabah versi virtual di metaverse. Proyek ini telah diluncurkan pada akhir 2021 oleh Imam Besar Masjidil Haram Syekh Abdurrahman Sudais dan dibentuk oleh Badan Urusan Pameran dan Museum Arab Saudi, bekerja sama dengan Universitas Umm al-Qura. Di antara pertanyaan yang banyak menjadi perdebatan adalah terkait bolehkah berhaji menggunakan Kabah versi metaverse?

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan rencana Arab Saudi yang akan menghadirkan platform metaverse untuk melihat maupun mengelilingi Kabah melalui virtual reality (VR) mesti dimaknai hanya sebagai simulasi ibadah haji semata.

    “Platform itu harus dimaknai secara positif untuk memudahkan calon jamaah haji dan calon jamaah umroh untuk meng-‘eksplore’ lokasi-lokasi di mana nanti akan dilaksanakan aktivitas ibadah dengan mengetahui secara presisi di mana lokasi Kabahnya,” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara, Ahad (13/2/2022).

    Asrorun mengatakan upaya digitalisasi dalam platform metaverse merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang bersifat muamalah. Artinya, teknologi itu dapat memudahkan para calon jamaah untuk mengenal lebih dalam lokasi-lokasi ibadah sebelum nantinya mereka pergi langsung ke Tanah Suci untuk berhaji.

    “Mulai dari mana nanti tawafnya, kemudian di mana Al Mustajabah tempat-tempat mustajab, di mana Maqam Ibrahim, kemudian di mana Hajar Aswad, kemudian di mana Rukun Yamani, dan di mana Mas’a. Maka dengan teknologi itu bisa lebih mudah dikenali sehingga tergambar oleh calon jamaah,” kata dia.

    Dengan demikian, kata Asrorun, melihat atau mengelilingi Kabah dengan menggunakan teknologi secara metaverse merupakan hal yang baik, tetapi tidak dapat dikatakan sedang berhaji karena tak memenuhi syarat-syarat haji.

    Dia mengatakan pelaksanaan Ibadah haji harus hadir secara fisik di tempat-tempat yang ditentukan, seperti di Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, Kabah, Shafa, dan Marwa. Selain itu, waktu pelaksanaannya telah ditentukan yakni digelar pada bulan Dzulhijjah.

    “Tetapi bukan berarti kita cukup dan boleh hanya melalui media virtual itu saja, kalau haji lewat metaverse ya enggak sah,” kata dia. (Antara/ Saddam Al Ghifari/ Nashih)

  • Arab Saudi, Visi 2030, dan Modernisasi Ala MBS

     

     
    Oleh : Thobib Al-Asyhar , Wakil Ketua Komisi Infokom MUI
     
    Setelah 14 tahun berlalu, pascaditunjuk sebagai petugas PPIH pada 2007 lalu, keinginan masih memuncak untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci. Kunjungan ke Arab Saudi, belakangan, sejak pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, memang sangat terbatas. Arab Saudi memberlakukan penguncian ketat bagi kunjungan wisatatan asing, termasuk jamaah haji dan umroh. 

    Tetapi alhamdulillah, kesempatan itu, akhirnya, terbuka bagi saya.  Meskipun di tengah banyak orang belum bisa melaksanakan ibadah umroh karena pandemi Covid-19 saat ini.  Kunjungan saya ke tanah suci kali ini, tergabung dalam  delegasi Pemerintah RI untuk memenuhi undangan Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi, Syekh Abdullatif bin Abdulaziz, di Makkah.  Gus Men, sapaan akrab Menteri Agama, Yaqut Cholil Qaumas, memintaku bergabung dalam lawatan kali ini.  

     Muncul rasa bahagia yang luar biasa. Selain menjalankan misi negara sekaligus mengobati kerinduan untuk bersimpuh depan Multazam dan taman suci, Raudhah. “ Aku ingin bersimpuh di depan Ka’bah dan Raudhah. Ingin “mengadu” semua hal kepada Sang Pemilik Alam Raya,” gumamku.
     
    Lepas dari hal tersebut, ada hal menarik dari apa yang saya lihat begitu menginjakkan kaki di bumi Raja Salman ini. Saya cukup intens mengikuti perubahan yang terjadi di negara pimpinan Raaja Salman itu.  Secara lebih spesik lagi, tentu setelah sang Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman (MBS), berkuasa.   

    Ada beberapa kebijakan MBS yang menginginkan Arab Saudi lebih modern, terbuka, dan friendly buat wisatawan asing. Ini setidaknya tecermin dalam Visi 2030 yang dia canangkan, meskipun mendapat penentangan keras dari barisan konservatif.

    Sebagai contoh, Arab Saudi kini memberikan ruang lebar untuk perempuan mengisi ruang publik. Kebijakan itu bukan hanya isapan jempol, melainkan benar-benar dipraktikan. Kata orang Betawi, bukan cuma omdo, alias omong doang.   
    Benar saja, saat kali pertama kaki ini menapak di Bandara Jeddah, terlihat sekali begitu banyak petugas resmi dari kaum Hawa. Ada yang memeriksa dokumen kesehatan penumpang, one by one. Banyak pula yang ditempatkan di desk check point imigrasi. “Hallo. Indonesia? Selamat datang”.

    Satu hal yang membuat saya surprise adalah iklim pelayanan kaum hawa yang cepat, profesional, dan ramah. Hal ini belum pernah terjadi sebelum MBS didapuk sebagai Putra Mahkota yang sangat berpengaruh.

    Sebelumnya, jika Anda pernah ke Arab Saudi, Anda akan dapati petugas imigrasi bandara Jeddah semua laki-laki dengan baju kefiyah khas Arab. Pelayanannya sering bikin kita kesel, marah. Ada yang melayani sambil nonton bola melalui tayangan di HP. Ada pula yang tiba-tiba pergi nggak jelas. 
    Hal lain dari keterlibatan perempuan di ruang publik adalah banyaknya perempuan yang mengemudikan mobil. Lalu lalang mobil mewah dikemudikan  tangan-tangan lentik perempuan. Bahkan sebagian dari mereka tidak mengenakan pakaian khas Arab Saudi. Tampil casual dan modis. Pemandangan progresif di negeri petro dolar tersebut.  

    Sementara itu, di Makkah, banyak pula wanita yang keluar rumah tanpa baju tradisional khas mereka. Menurut informasi, di beberapa pantai di pinggir Jeddah, seperti Obhur tidak jauh beda pemandangannya dengan pantai-pantai di Bali maupun di Gili Terawangan. 
    Alhasil, Arab Saudi sekarang berbeda jauh dengan Arab Saudi beberapa waktu yang lalu. Setidaknya seperti yang dipahami orang kebanyakan. Kini, Arab Saudi benar-benar berubah. Ada arus kebijakan yang kuat untuk mengubah negeri konsevatif ke negeri terbuka dan modern dengan tetap berprinsip pada nilai-nilai universalisme Islam. Mampu berdialog dengan budaya yang berbeda untuk mewujudkan visi besar sebagai salah satu pusat peradaban dunia. 

    Iklim batin Arab Saudi memang tampak benar ingin menjadi negeri maju dan terpandang. Negeri yang ramah bagi siapapun agar mereka tahu tentang sejarah, budaya, keluhuran, dan visi besar Arab Saudi di  2030, seperti proyek raksasa Neom.

    Tentu, setiap perubahan selalu meninggalkan kekhawatiran dan memunculkan ancaman. Tetapi nilai-nilai mulia akan selalu dijunjung tinggi oleh umat yang memiliki peradaban tinggi.

  • Ketum MUI: Hubungan Indonesia dan Arab Saudi Dilandasi Ukhuwah Islam

    JAKARTA— Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi bersama rombongan bersilaturahim ke Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (08/06). Ini merupakan kunjungan pertama Dubes ke MUI sejak pertama kali dilantik Januari 2021.

    Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, mengatakan silaturahim ini merupakan kunjungan bersejarah untuk MUI. Lawatan ini membahas berbagai persoalan keumataan baik di tingkat Indonesia ataupun negara Islam secara umum.

    “Ini pertemuan yang sangat menggemberikan untuk membahas sejumlah persoalan umat Indonesia dan dunia Islam,” kata dia dalam bahasa Arab.

    Kiai Miftach, begitu akrab disapa, menggarisbawahi tentang hubungan bilateral kedua negara yang mempunyai akar sejarah yang panjang dan istimewa. Ikatan tersebut berdiri atas asas kemitraan dan persaudaraan Islam .
    Dalam kesempatan itu pula, Kiai Miftah memperkenalkan MUI kepada Dubes Arab Saudi dan rombongan.

    Sebagai lembaga tertinggi yang menjadi representasi umat Islam di Indonesia ini mempunyai concern terhadap problematika umat masa kini melalui penerbitan fatwa-fatwa serta sertifikat halal untuk produk pangan, kosmetik, dan obat-obatan.

    Kiai Miftah juga menyampaikan hubungan sinergitas antara MUI dan pemerintah. “Saya berharap kerjasama antara MUI dan Arab Saudi akan semakin intens dalam bingkai persaudaraan Islam,” tutur dia.

    Sementara itu, menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan MUI yang hadir, Dubes Essam menyatakan pihaknya membuka pintu lebar kerjasama di berbagai bidang dengan MUI. Di antaranya adalah terkait dengan sertifikasi halal. Industri halal saat ini menjadi perhatian semua negara.

    Terkait dengan perbankan Syariah, Dubes Essam juga menyatakan pentingnya kerjasama. Dan terakhir terkait dengan pengiriman dai ke Arab Saudi.

    “Kedubes Arab Saudi terbuka kerjasama dengan MUI, dan senang membahas isu keumatan dan masalah dihadapi kedua bangsa. Terbuka untuk kunjungan ke Arab Saudi, sesuai dengan pihak terkait di sana,” ujar dia.

    Klarifikasi haji

    Dalam pertemuan bersejarah ini, Dubes Essam juga mengklarifikasi isu yang berkembang seputar haji di Indonesia. Dia membantah penangguhan pemberangkatan haji Indonesia karena kebijakan Arab Saudi yang melarang jamaah dari Indonesia.

    “Beredar kabar bahwa Arab Saudi melarang jamaah haji Indonesia, kabar itu tidak benar. Saya tegaskan sampai hari ini, Arab Saudi belum mengumumkan bagaimana prosedur haji dan apapun terkait dengan penyelenggaran haji tahun ini, termasuk belum ada satupun negara yang mendapat persentase kuota dan izin haji tahun ini,” kata dia.

    Dubes Essam pun menghargai keputusan Pemerintah Indonesia yang menangguhkan pemberangkatan jamaah haji. Menurut dia, langkah ini sebagai upaya pemerintah Indonesia untuk melindungi keselamatan masyarakat dan jamaah haji.

    Dia juga membantah bahwa penangguhan pemberangkatan haji Indonesia disebabkan karena perbedaan vaksin dan asal prodosen vaksin Covid-19 yang digunakan kedua negara.

    “Saya juga tegaskan, bahwa ini tidak terkait dengan jenis vaksin dan negera produsen vaksin yang digunakan Arab Saudi, dan saya tegaskan, saya tegaskan kembali hingga saat ini belum ada pengumuman apapun terkait dengan penyelenggaraan haji,” papar dia.

    Dia berdoa semoga pandemi Covid-19 segera berakhir dan jamaah umroh dan haji asal Indonesia serta seluruh dunia bisa kembali mengunjungi tanah suci.

    “Kita berdoa, pandemi covid-19 cepat berlalu, jamaah umroh dan haji bisa kembali serperti sedia kala,” tutur dia. (Nasrullah/Nashih)

  • Silaturahmi ke MUI, Dubes Saudi Luruskan Pemberitaan Soal Haji

    JAKARTA — Duta Besar Kerajaan Saudi Arabia untuk Indonesia Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi bersama rombongan hadir ke Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (08/06). Ini merupakan kunjungan pertama Dubes Saudi yang baru ini ke MUI sejak pertama kali dilantik. Sejak Januari 2021, sebenarnya Dubes Saudi sudah berkeinginan datang ke MUI, namun baru menemukan waktu sekaligus momentum yang tepat pada hari ini.

    Pada kesempatan tersebut, secara khusus, Dubes Saudi meluruskan pemberitaan tentang haji yang ramai di media utamanya pasca Kementerian Agama mengumumkan Pembatalan Keberangkatan Haji secara resmi. Dubes menyebutkan, pembatalan haji itu sama sekali tidak terkait dengan hubungan Indonesia dan Saudi yang kurang baik. Beberapa kalangan sebelumnya memang menilai pembatalan ini akibat masalah diplomasi.

    “Masalah pembatalan keberangkatan jamaah haji Indonesia tidak ada kaitannya dengan hubungan baik yang sudah terjalin antara Saudi dan Indonesia. Tidak ada pula hubungannya dengan penggunaan merek vaksin tertentu dan produsen tertentu seperti yang selama ini berkembang di media,” ujarnya.

    Dia menambahkan, sampai saat ini, Kerajaan Arab Saudi bahkan belum mengirimkan undangan haji ke negara lain termasuk Indonesia. Ini tidak lain karena jika dilaksanakan, ibadah haji tahun ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.

    Selain membahas Haji, Duta Besar Saudi juga membahas rencana kerjasama antara MUI dengan Arab Saudi. Kerjasama itu meliputi bidang ukhuwah, dakwah, dan sebagainya (ta’awun wa tabadulul ara’) yang berorientasi pada penguatan Islam Wasathiyah di kawasan Arab Saudi, Indonesia, maupun dunia internasional.

    Kedatangan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi itu disambut Ketua Umum MUI KH. Miftachul Akhyar, Waketum MUI KH. Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH. Cholil Nafis, Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH. Abdullah Jaidi, dan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim.

    Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Habib Ali Hasan Bahar memandu pertemuan tersebut. Habib Ali sebelumnya sudah berulangkali bertemu dengan Dubes Saudi karena hubungan keduanya memang dekat. Terselenggaranya pertemuan ini juga melalui Habib Ali. (Arif Fahrudin/Din)

  • Wasekjen MUI Berbagi Pengalaman Umroh Era New Normal

    JAKARTA—Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Fatwa, Dr KH Fahrur Razi Burhan, menceritakan pengalamannya umroh era new normal. Umroh new normal sebenarnya sudah lama terdengar di Indonesia sejak pertengahan 2020, namun praktik riilnya mulai bermunculan berlakangan ini.

    Fahrur menceritakan bahwa umroh new normal terasa begitu sepi dibandignkan biasanya. Selain itu, ada beberapa tahapan protokol kesehatan yang harus dijalankan seperti tes swab PCR maupun isolasi mandiri.  

    Meskipun new normal, tutur Fahrur, proses pendaftaran dan pengurusan umroh berlangsung cepat. Dia mengirimkan data melalui email pada Jumat (22/1) dan pada Sabtu (23) visanya sudah terbit. Pada Ahad(24/1) dia menjalankan isolasi mandiri untuk kemudian dilaksanakan swab PCR. Keesokan harinya, ketika sudah dinyatakan negatif, dia boleh berangkat ke Jeddah.

    “Hari Sabtu sudah keluar visanya, satu hari karantina dilakukan swab PCR, alhamdulillah semua jamaah yang jumlahnya 109 orang negatif, keberangkatan pada 25 Januari 2020 dari Surabaya menuju Jeddah dan kemudian Madinah al-Munawwaroh,” ujarnya, Ahad (31/01).

    Setibanya di Madinah, kata dia, jamaah diwajibkan melaksanakan isolasi mandiri selama tiga hari penuh di sebuah hotel. Selama tiga hari itu, setiap jamaah diharuskan tetap tinggal di dalam kamar, bahkan ibadah juga dilaksanakan di dalam kamar masing-masing. Pelayanan selama karantina juga dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat. Makanan dikirimkan melalui box nasi.

    “Pada hari ketiga (hari terakhir isolasi mandiri) dilakukan test swab PCR, hanya mulut, tidak termasuk hidung seperti di Indonesia. Tesnya dilakukan pada malam hari dan besok paginya keluar hasil. Bila negatif, kita diizinkan masuk masjid. Di dalam masjid pun dilakukan social distancing dengan tanda-tanda hijau dilantai masjid,” ujarnya.

    Dia menambahkan, umroh para era new normal memang terlihat sepi namun protokol berlangsung ketat, sehingga tidak bebas. Ketika biasanya orang bisa bebas untuk masuk ke wilayah Raudlah, pada era new normal, sekalipun jamaah umroh tidak banyak, namun ada syarat khusus. Setiap jamaah yang ingin ziarah di Raudlah harus mendaftar melalui aplikasi, baru kemudian mereka dibolehkan masuk.

    “Sekarang itu shalat di Raudlah alhamdulillah longgar, namun harus daftar dulu melalui aplikasi atau perusahaan penyedia jasa umroh. Memang tidak sebebas dahulu, namun sekarang ada aplikasinya. Semoga semuanya dimudahkan Allah SWT,” ujarnya.

    Sementara untuk thawaf, imbuh dia, bisa dilaksanakan dengan sangat lancar dalam beberapa menit. Ini karena jamaah umroh yang memang jumlahnya tidak banyak, diberikan jalur khusus. Sedangkan untuk sai, para jamaah umroh berjalan seperti biasa dengan tetap berjaga jarak. Jamaah umroh juga bisa menyewa sepeda listrik dengan biaya 115 riyal untuk menyelesaikan sainya.

    “Saya doakan semuanya dimudahkan Allah untuk pergi ke Makkah dan Madinah. Semoga semuanya diberikan kesehatan yang prima dan rezekinya yang berkah. Aamiin Allahumma Aamiin,” ucapnya. (Azhar/ Nashih)

  • Dubes RI untuk Arab Saudi: Wajah Islam Arab Saudi Kini Moderat

    JAKARTA— Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel , mengungkapkan perubahan besar corak keagamaan di Arab Saudi. Negara petrodolar itu, melalui inisiasi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS), meneguhkan komitmennya menjadikan Islam moderat sebagai ruh yang mendasari kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

    “Di Arab Saudi ini, saya sangat bangga ketika Muhammad Bin Salman mengatakan kami akan kembali kepada Islam wasathy, Islam yang menebar tasamuh, yang terbuka pada semua budaya seluruh bangsa di Indonesia,” ujarnya dalam Program Ngobrol Pintar (NGOPI) di TV MUI, Rabu (15/7).

    Dia menjelaskan, ketika dirinya masuk Arab Saudi sebagai Dubes, kemudian Muhammad Bin Salman memakai Islam Wasathy dan alhamdulillah Indonesia menjadi tamu kehomatan dalam dialog antarberadaban di Arab Saudi.

    Melalui Islam wasathiyyah tersebut, kata dia, Arab Saudi ingin memunculkan Islam sebagai agama yang penuh cinta, penuh perdamaian, dan kaya akan nilai persahabatan.

    Menurut dia, Islam wasathiyyah ini penting untuk menghadapi kelompok-kelompok yang kerap melakukan politisasi terhadap teks agama yang bertebaran di mana-mana.

    Dia menyebutkan, antara Indonesia dan Arab Saudi sudah ada MoU, Arab Saudi dan Indonesia bersama-sama berperang melawan terorisme, intoleransi baik yang terjadi di antara mazhab, golongan, maupun agama.

    “Ketika bertugas menjadi pelayan WNI di Arab Saudi, kami bersama-sama dengan MBS memperteguh Islam yang wasathy, Islam yang inklusif, Islam yang menebarkan nilai-nilai perdamaian, dan bersama-sama untuk meningkatkan dan menyuarakan Islam sebagai agama perdamaian,” kata dia.

    Lebih lanjut, masih dalam kesempatan yang sama, pria yang juga menjabat sebagai wakil tetap Indonesia untuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) ini menyampaikan, untuk menyuarakan Islam sebagai agama damai itu, dia juga sedang merencanakan agenda pertemuan agama-agama rumpun Ibrahim (abrahamic religion/Islam, Nasrani, dan Yahudi) di Jakarta untuk menemukan jalan keluar permasalahan Palestina.

    Menurutnya, selain solusi dua negara (two states solution) yang selama ini gencar dibicarakan maupun perdamaian antara hamas dan fattah di internal Palestina, pertemuan tiga agama ini juga penting karena ketiganya memiliki kepentingan di sana.

    “Kita bisa merencanakan mengadakan pertemuan abrahamic religion di Jakarta atas back up dari OKI, kalau ini terjadi, maka ini akan menjadi ukiran sejarah bagaimana kita mempertegas Islam sebagai agama perdamaian dan memperjelas sebagai agama penuh keadilan,” katanya. (Azhar/ Nashih)

  • Dubes RI untuk Arab Saudi: Wajah Islam Arab Saudi Kini Moderat

    JAKARTA— Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel , mengungkapkan perubahan besar corak keagamaan di Arab Saudi. Negara petrodolar itu, melalui inisiasi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS), meneguhkan komitmennya menjadikan Islam moderat sebagai ruh yang mendasari kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

    “Di Arab Saudi ini, saya sangat bangga ketika Muhammad Bin Salman mengatakan kami akan kembali kepada Islam wasathy, Islam yang menebar tasamuh, yang terbuka pada semua budaya seluruh bangsa di Indonesia,” ujarnya dalam Program Ngobrol Pintar (NGOPI) di TV MUI, Rabu (15/7).

    Dia menjelaskan, ketika dirinya masuk Arab Saudi sebagai Dubes, kemudian Muhammad Bin Salman memakai Islam Wasathy dan alhamdulillah Indonesia menjadi tamu kehomatan dalam dialog antarberadaban di Arab Saudi.

    Melalui Islam wasathiyyah tersebut, kata dia, Arab Saudi ingin memunculkan Islam sebagai agama yang penuh cinta, penuh perdamaian, dan kaya akan nilai persahabatan.

    Menurut dia, Islam wasathiyyah ini penting untuk menghadapi kelompok-kelompok yang kerap melakukan politisasi terhadap teks agama yang bertebaran di mana-mana.

    Dia menyebutkan, antara Indonesia dan Arab Saudi sudah ada MoU, Arab Saudi dan Indonesia bersama-sama berperang melawan terorisme, intoleransi baik yang terjadi di antara mazhab, golongan, maupun agama.

    “Ketika bertugas menjadi pelayan WNI di Arab Saudi, kami bersama-sama dengan MBS memperteguh Islam yang wasathy, Islam yang inklusif, Islam yang menebarkan nilai-nilai perdamaian, dan bersama-sama untuk meningkatkan dan menyuarakan Islam sebagai agama perdamaian,” kata dia.

    Lebih lanjut, masih dalam kesempatan yang sama, pria yang juga menjabat sebagai wakil tetap Indonesia untuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) ini menyampaikan, untuk menyuarakan Islam sebagai agama damai itu, dia juga sedang merencanakan agenda pertemuan agama-agama rumpun Ibrahim (abrahamic religion/Islam, Nasrani, dan Yahudi) di Jakarta untuk menemukan jalan keluar permasalahan Palestina.

    Menurutnya, selain solusi dua negara (two states solution) yang selama ini gencar dibicarakan maupun perdamaian antara hamas dan fattah di internal Palestina, pertemuan tiga agama ini juga penting karena ketiganya memiliki kepentingan di sana.

    “Kita bisa merencanakan mengadakan pertemuan abrahamic religion di Jakarta atas back up dari OKI, kalau ini terjadi, maka ini akan menjadi ukiran sejarah bagaimana kita mempertegas Islam sebagai agama perdamaian dan memperjelas sebagai agama penuh keadilan,” katanya. (Azhar/ Nashih)

  • Dubes Agus Maftuh: Seluruh WNI di Saudi Terjamin Akses Kesehatannya

    JAKARTA — Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel mengungkapkan data WNI yang terpapar Covid-19 berjumlah 186 orang, dengan jumlah meninggal 52, sembuh 52, dan masih dalam perawatan 82 orang.

    Saat ini, Kasus positif corona di Arab Saudi mencapai 258.000 jiwa dengan tingkat penyembuhan sampai 80% dan angka kematian sebesar 1%. “Seluruh warga Arab Saudi, termasuk WNI, dan seluruh ekspatriat baik yang legal maupun ilegal semua dijamin untuk akses kesehatan di masa pandemi, dan semua ditanggung oleh raja,” kata Agus dalam acara NGOPI MUI yang ditayangkan via channel youtube TV MUI, Rabu (22/07) malam.

    Agus menyampaikan optimismenya bahwa virus Covid-19 ini akan segera berakhir dan dunia akan pulih seperti semula.

    “Saya yakin ketika Allah turunkan wabah, Allah juga pasti akan turunkan vaksinnya. Begitupun dengan Covid-19 ini, mungkin saat ini belum (vaksin) tapi nanti pasti akan ada,” ujarnya.

    Dia juga menyampaikan semangatnya dalam meningkatkan jumlah kuota haji untuk masyarakat Indonesia. Ia berharap bahwa kuota haji akan terus meningkat setiap tahunnya.

    Agus menyadari bahwa daftar antrian haji di Indonesia sangatlah panjang, oleh karena itu penambahan kuota jumlah jamaah haji dari Indonesia dilakukan secara bertahap agar tidak menumpuk terlalu banyak antrian.

    “Saya sampai kirim surat ke raja untuk menyampaikan bahwa karena antrian Indonesia sangat panjang, maka penambahan kuota ini ibarat air di tengah padang sahara di saat orang-orang haus,” kata agus.

    Seperti yang diketahui bahwa kuota haji Indonesia pada tahun 2020 adalah 231.000 dan menurun menjadi 10.000 karena adanya pandemi Covid-19. Namun penurunan jumlah kuota ini tidak menyurutkan semangat Agus dalam mengajukan permohonan penambahan kuota untuk tahun-tahun berikutnya.

    “Saya tetap ingin menambah kuota haji sampai 250.000. Saya akan fight dengan kuota ini, dan dengan harapan bahwa virus corona ini juga akan segera berakhir.” kata dia. (Nurul/Din)

  • Al-Quran Recitation oleh “Orang Biasa”

    Al-Quran Recitation oleh “Orang Biasa”

    alquran recitation

    “Sesungguhnya dengan kitab ini (Al-Quran) Allah meninggikan derajat suatu kaum dan dengannya pula mereka di rendahkan.” (HR. Muslim, 1934, Ibnu Majah, 218 dan Ahmad 232)

    “Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari, 5027)

    “Orang yang mahir dengan (membaca) Al-Quran akab bersama dengan para (malaikat) utusan mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Muslim, 1898)

    “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah yang memiliki wangi yang sedap dan rasa yang enak. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran ibarat buah tamar (kurma) yang tidak memiliki bau namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al-Quran ibarat buah raihanah yang memiliki wangi yang sedap tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Al-Quran ibarat buah handzhalah yang tidak memiliki baud an rasanya pahit.” (HR. Muslim, 1896)

    “Wahai Abu Dzar! Jika pada pagi hari kamu keluar (rumah) untuk mempelajari satu ayat maka hal itu jauh lebih baik bagimu daripada engkau mengerjakan shalat seratus rakaat.” (HR. Ibnu Majah, 219)

    “Barangsiapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, maka akan dipakaikan kepada kedua orangtuanya yang sinarnya lebih terang dari sinar matahari di dunia pada hari kiamat nanti, kalaulah sekiranya ada bersama kalian, maka apa perkiraan kalian tentang orang yang mengamalkannya.” (HR. Abu Dawud, 1455)

    ———————

    Singkat cerita pemuda ini dalam beberapa versi ada yang mengatakan adalah orang Filipina, dan ada yang mengatakan TKI di Arab Saudi, yang sedang menginstal sound system dan test sound di Masjid, wallahu’alam.

    Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal: Pertama, kepada orang yang Allah berikan keahlian kepadanya tentang Al-Quran, kemudian dia membacanya siang dan malam. Kedua, kepada orang yang diberikan rizki lebih oleh Allah, dan dia menginfakkannya siang dan malam.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Beberapa videonya yang bisa didapati di Youtube.

    dan beberapa kawan lainnya, yang akan membuat iri.