Waketum MUI: Pandemi Covid-19 Ujian Layak tidaknya Seseorang Jadi Guru

JAKARTA— Wakil Ketua Umum MUI Pusat, KH Muhyiddin Junaidi, menyatakan era Covid-19 ini momen ujian apakah seseorang bisa benar-benar menjadi seorang guru atau tidak.

Hal itu disampaikannya saat membuka Madrasah Ramadhan di Rumah yang digelar secara online oleh Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat, Sabtu (2/4).

“Kita sangat menghargai event-event seperti ini, akan mengingatkan kita kembali, mampukah kita menjadi the real teacher for our children,” kata dia.

Dia mengatakan, belum tentu orang yang biasa mengajar dan sukses secara akademis bisa mendidik anaknya sendiri. Pada era Covid-19 seperti ini, sudah saatnya menjadikan kembali rumah sebagai sekolah. Rumah harus dijadikan lagi sebagai tempat pendidikan pertama dan paling utama seperti yang dilakukan Rasulullah SAW dulu.

“Rasulullah SAW menjadikan rumah itu sebagai madrasatul uulaa, litarbiyatil uula. Menjadikan rumah sebagai rumah pertama dalam mendidik anak-anak dan generasi yang akan datang,” kata dia.

Dari pendidikan yang sederhana itu, para sahabat dahulu kala memiliki hafalan yang kuat dan semangat belajar tinggi. Meskipun mereka hanya menggunakan tempat belajar seadanya semasa itu. “Itulah yang dijadikan Rasulullah SAW sebagai al-madrosatul uula li ahli suffah. Orang yang cenderung gemar membaca dan mencari ilmu pengetahuan,” katanya.

Kiai Muhyiddin menambahkan, hadits Rasulullah SAW juga sudah memberikan pertanda bahwa maju tidaknya sebuah bangsa bergantung kualitas pendidikan di dalamnya.

“Hadits Nabi SAW memberikan warning sekaligus kepada kita, khususnya bahwa dari data begitu banyak negara yang maju di dunia, adalah negara yang secara umum memiliki indeks pendidikan yang sangat bagus,” kata dia.

Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Armai Arief, menjelaskan kegiatan sejenis pesantren kilat ini berlangsung enam hari sejak 2 Mei lalu hingga 7 Mei 2020 secara daring. Selama enam hari itu, ada 13 narasumber yang menyampaikan materi berbeda-beda. “Animo peserta kegiatan ini sangat luar biasa,” ujar dia.

Dia mengatakan, sampai saat ini jumlah peserta yang telah mendaftar 580 orang. Para peserta terdiri dari berbagai kelangan di antaranya para pengurus MUI maupun karyawan MUI sampai tingkat kabupaten/kota, serta tenaga pendidik yang diikuti seluruh provinsi.

Kegiatan bertema ‘Madrasah di Rumah untuk Umat dan Bangsa Ini’, kata dia, merupakan kegiatan pesantren kilat yang dijalankan secara online. Melalui kegiatan ini, Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI ingin memfasilitasi proses perubahan diri bagi peserta sehingga menjadi lebih baik. “Sehingga diharapkan dapat membentuk muslim yang taat dan berakhlak mulia,” ujar dia.

Menurut Armai, alasan kegiatan ini dimulai pada 2 Mei karena bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020. Pihaknya ingin menjadikan Hardiknas 2020 sebagai momentum bangkitnya pendidikan nasional. Salah satunya melalui pesantren kilat di rumah yang dilakukan secara daring di tengah pandemi Covid-19.

“Ramadhan yang Allah SWT tetapkan sebagai bulan yang memiliki keutamaan khusus dalam setiap perguliran waktunya, menjadi momentum yang harus dioptimalkan setiap hamba untuk mencapai puncak derajat takwa,” katanya. (Azhar/Nashih)



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development