All posts by Admin 1

Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid

Mengenalnya

Dia adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al-Quraisyiah al-Asadiyah. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Jundub. Beliau dilahirkan di Mekah tahun 68 sebelum hijrah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Quraisy. Khadijah dididik dengan akhlak mulia dan terhormat sebagai seorang wanita. Sehingga tumbuhlah ia dengan karakter yang kuat, cerdas, dan menjaga kehormatan.

Nasab Khadijah bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek kelima, Qushay. Ia adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang pertama yang menerima dakwah Islam. Dan wanita yang paling dicintai beliau.

Khadijah di Masa Jahiliyah

Di masa jahiliyah, sebelum kenal dengan Rasulullah, Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu dikenal sebagai seorang wanita yang kaya dan seorang pedagang besar. Ia bekerja sama dengan laki-laki untuk bagi hasil barang dagangannya. Karena laki-lakilah yang terbiasa bersafar ke Syam untuk berdagang. Sedangkan wanita-wanita di masa itu tidak terbiasa keluar-keluar menuju tempat yang jauh. Inilah tradisi Arab kala itu, hal ini juga sesuai dengan sifat menjaga kesucian diri yang beliau miliki.

Hari-hari terus berlalu, hingga beliau mendengar kisah tentang seseorang yang bernama Muhammad bin Abdullah. Seorang laki-laki yang berakhlak mulia. Jujur lagi terpercaya. Jarang sekali terdengar di masa jahiliyah ada seorang laki-laki memiliki sifat sedemikian mulia. Ia kirim seseorang untuk menawarkan kerja sama dagang menuju Syam. Ia berikan barang kualitas super, yang tidak ia percayakan kepada pedagang lainnya.

Ketika Khadijah dan Muhammad telah sepakat bekerja sama, Khadijah menyertakan seorang budak laki-lakinya yang bernama Maisaroh untuk membawa barang dagangan itu hingga ke Syam. Di daerah Romawi itu, Muhammad bin Abdullah berteduh di bawah pohon dekat dengan kuil milik seorang pendeta. Si pendeta datang mendekati Maisaroh. Ia berkata, “Siapa laki-laki yang berteduh di bawah pohon itu?” “Ia seorang laki-laki Quraisy dari penduduk al-Haram”, jawab Maisaroh. Si pendeta berkata lagi, “Tak seorang pun yang singgah di bahwa pohon ini kecuali seorang nabi.”

Kemudian Rasulullah mulai menjual barang dagangannya dan membeli barang lainnya yang beliau inginkan. Sesampainya di Mekah, beliau menemui Khadijah dengan hasil keuntungan dagangnya. Kemudian Khadijah membeli barang bawaannya. Beliau pun mendapatkan untung berkali lipat.

Maisaroh mengabarkan tentang kemuliaan akhlak Muhammad bin Abdullah dan sifat-sifatnya yang istimewa, yang ia lihat saat bersafar bersama. Demikianlah safar, ia menampakkan sesuatu yang tersembunyi dari perangai manusia. Terlebih safar di masa itu yang kendaraan dan keadaannya tidak senyaman sekarang.

Membuka Hati Untuk Laki-Laki Mulia

Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali. Pertama menikah dengan Atiq bin A’id al-Makhzumi, kemudian ia meninggal. Dan yang kedua, dengan Abu Halah bin Nabbasy at-Tamimi, yang juga meninggal. Tapi dari Abu Halah, ia mendapatkan seorang putra yang bernama Hind bin Abu Halah. Setelah itu, Khadijah menutup hatinya dari semua laki-laki. Ia tak ingin lagi menikah dan memutuskan hidup sendiri. Tapi, cerita-cerita tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia dengar dari orang-orang dan dari Maisaroh menggoyahkan keteguhannya. Ia begitu kagum dengan seorang laki-laki yang begitu mulia akhlaknya. Tidak hanya mendengar, ia pun membuktikkan dan “mengujinya” dengan mengajak kerja sama dalam masalah uang. Semakin tampaklah amanahnya dan sifat-sifat mulia lainnya.

Dari sini dapat kita petik pelajaran, saat tertarik dengan seorang laki-laki atau perempuan, jangan tergesa-gesa menyatakan perasaan padanya. Uji dulu akhlaknya, apakah kebaikan yang disampaikan seseorang tentangnya benar atau hanya kabar burung saja. Khadijah adalah wanita yang cerdas, ia tidak tergesa-gesa. Emosinya stabil. Sehingga ia bisa mengetahui kabar tentang Nabi Muhammad, tanpa membuatnya merasa malu atau jatuh harga dirinya.

Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara dua orang yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Khadijah binti Khuwailid. Maharnya adalah 500 dirham. Hal ini semakin menegaskan bahwa jodoh seseorang sesuai dengan keadaan dirinya. Pernikahan ini berlangsung saat Muhammad bin Abdullah belum mendapatkan kedudukan istimewa sebagai seorang nabi dan rasul. Sebelum Muhammad dikenal dan memiliki banyak pengikut. Sebelum Muhammad kaya dan menjadi pemimpin negara. Rumah tangga keduanya berlangsung kurang lebih selama 25 tahun. Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

Kedua pasangan mulia ini terus bersama hingga Khadijah wafat di usia 65 tahun. Dan Rasulullah berusia 50 tahun. Ini adalah masa terlama kebersamaan nabi bersama istrinya, dibanding dengan istri-istri yang lain. Nabi tak menikahi wanita lain saat bersama Khadijah. Hal itu karena kemuliaan yang dimiliki Khadijah. Ia juga memberi beliau putra dan putri. Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan si bungsu Fatimah adalah buah dari pernikahan keduanya.

Memeluk Islam

Allah Ta’ala menganugerahkan Ummul Mukminin Khadijah hati dan ruh yang suci dan cahaya keimanan. Sehingga ia begitu siap ketika kebaikan datang menghampirinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [Quran Al-Alaq: 1].

Nabi segera pulang dalam keadaan takut dan gemetar. Kemudian beliau bertemu dengan istrinya. “Selimuti aku. Selimuti aku.”, kata Nabi. Khadijah menyelimutinya sampai rasa cemasnya sirna. Nabi berkata,

أَيْ خديجة، ما لي لقد خشيت على نفسي

“Khadijah, apa yang terjadi padaku? Aku khawatir terjadi apa-apa pada diriku.” Khadijah menanggapi dengan kalimat yang sangat berarti bagi pskisi Nabi, ia berkata,

كلا أبشر، فوالله لا يخزيك الله أبدًا، فوالله إنك لتصل الرحم، وتصدق الحديث، وتحمل الكلَّ، وتكسب المعدوم، وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق

“Tidak. Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, engkau adalah seorang yang menyambung silaturahim, jujur ucapannya, memikul kesulitan orang lain, menanggung orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung usaha-usaha kebenaran.”

Kemudian ia mengajak Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Di masa jahiliyah, Waraqah adalah seorang laki-laki Nasrani. Ia menulis Injil dengan Bahasa Arab. Dan ia sudah tua sampai-sampai buta karena ketuaannya. Ia memberi kabar baik kepada Nabi. Waraqah bercerita bahwa apa yang baru saja beliau jumpai adlaah an-Namus (Jibril) yang juga datang menemui Musa.

Dalam keadaan yang aneh dan membingungkan itu, Khadijah lah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu hal ini semakin meringankan beban psikis Nabi. Nabi tak pernah mendengar sesuatu pun dari Khadijah yang membuat beliau tidak suka. Tidak mendustakannya dan membuatnya bersedih. Melalui wanita mulia ini, Allah berikan banyak jalan keluar dan kemudahan untuk beliau. Saat ia pulang mendakwahkan risalahnya, Khadijah selalu membuatnya jiwa kembali teguh dan bersemangat. Meringankan dan membenarkannya di saat orang-orang mendustakannya.

Membayangkan keadaan tersebut. Dan sulitnya merintis dakwah di tengah orang-orang yang mengingkari. Tidak hanya mengingkari, mereka juga memusuhi dan merespon dakwah dengan gangguan. Tapi beliau memiliki istri seperti Khadijah. Yang melapangkan dan tak pernah mengecewakannya sedikit pun. Dari sini kita tahu, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikahi wanita lain selain dirinya saat ia masih hidup.

Wanita Yang Cerdas

Semua sumber-sumber sejarah yang menceritakan biografi Khadijah pasti menukilkan bahwa beliau adalah wanita yang cerdas. Hal itu terlihat dari bagaimana Khadijah meneliti sifat Muhammad bin Abdullah sebelum menjadi nabi dan bagaimana ia mampu bernegosiasi membersarkan usahanya.

Kecerdasarnnya yang lain adalah saat ia ingin menikah dengan Nabi. Ia memilih seorang utusan yang bernama Nafisah bin Maniyah. Wanita ini ia pilih dan tugaskan meneliti Nabi Muhammad setelah pulang dari Syam. Agar ia tidak merasa malu -karena umumnya wanita malu menyatakan perasaan terlebih dahulu-, tampaklah seolah-olah Nabi Muhammad lah yang menginginkan Khadijah dan meminta dirinya untuk menikah dengan beliau.

Setelah menikah, kembali Khadijah memberi ketaladanan dalam kematangan akal dan pikiran. Ia tidak panik tatkala suaminya dalam kebingunan menerima wahyu pertama. Ia jawab dengan yakin bahwa Allah tidak akan menghinakan suaminya. Jawaban itu ia kuatkan dengan alasan-alasan. Sehingga sang suami benar-benar merasa tenang. Tidak cukup sampai di situ, ia bawa suaminya ke Waraqah agar semakin tenang dengan peristiwa ajaib yang tengah terjadi. Perhatikanlah tahapan-tahapan Khadijah dalam menenangkan suaminya dalam menerima wahyu, pasti semakin tampaklah kecerdasan dan kematangan jiwanya.

Membantu Dakwah Islam

Bantuan Ummul Mukminin -setelah taufik dari Allah- terhadap dakwah amatlah banyak. Kalau seandainya kita sebutkan satu saja, sebagai orang pertama yang beriman, tentu itu sudah cukup sebagai keutamaan beliau. Itu sangat penting bagi Rasulullah. Sangat penting untuk beliau diterima di lingkungannya. Karena istrinya adalah orang pertama yang beriman.

Setelah memeluk Islam, beliau korbankan hidupnya. Kehidupan yang tenang dan nyaman, berubah menjadi kehidupan yang menantang dan penuh gangguan. Kehidupan dakwah, jihad, dan pengepungan. Keadaan tersebut sama sekali tak mengurangi cintanya kepada suaminya, bahkan ia bertambah cinta kepada sang suami. Bertambah cinta pula terhadap agama yang ia bawa. Ia senantiasa mendampingi dan mendukungnya mencapai tujuan yang diperintahkan Allah Ta’ala.

Ketika orang-orang Quraisy memboikot dan mengasingkan bani Hasyim ke pinggiran Mekah, Khadijah tak ragu pergi bersama suaminya. Waktu pengasingan dan boikot tersebut bukanlah waktu yang singkat. Bani Hasyim begitu menderita, kekurangan makanan, sampai-sampai mereka makan dedaunan karena tak ada makanan. Mereka seolah-olah akan mati kelaparan. Bayangkan! Quraisy memboikot mereka dengan tidak menikahi mereka, tidak membeli atau menjual sesuatu kepada mereka selama tiga tahun. Penderitaan seperti apa yang akan terjadi kalau demikian keadaannya? Dalam keadaan tersebut, Khadijah yang bukan bagian dari Bani Hasyim, tetap menemani sang suami. Padahal ia dulunya wanita kaya dan berkecukupan. Inilah jalan dakwah, tidak mudah. Sehingga pasangan hidup orang-orang yang meniti jalan dakwah pun adalah orang-orang yang tangguh. Sekali lagi, inilah di antara alasan nabi senantiasa mengenangnya dan tidak melakukan poligami saat bersamanya. Sekali lagi kita renungkan pula, jodoh seseorang itu sekadar kualitas dirinya.

Keutamaan Khadijah

Pertama: Wanita terbaik

Tidak diragukan lagi, wanita dengan keadaan demikian adalah wanita yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lisannya sendiri memuji kemuliaan Khadijah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

“Cukup bagimu 4 wanita terbaik di dunia: Maryam bintu Imran (Ibunda nabi Isa), Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, dan Asiyah Istri Firaun.” (HR. Ahmad 12391, Turmudzi 3878, dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Kedua: Allah menitip salam untuknya melalui Jibril

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: ‘Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan pada beliau:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Wahai Rasulallah shalallahu’alaihi wa sallam, Ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai.” (HR. Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432).

Ketiga: Nabi menganggap mencintainya adalah karunia.

Setelah mengetahui bagaimana setianya ibunda Khadijah menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita paham bagaimana kedudukan beliau di sisinya. Hal itu juga tampak dari riwayat-riwayat betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyebut namanya. Memuliakan teman-temannya sepeninggal beliau. Sampai-sampai Rasulullah ucapkan sebuah kalimat di hadapan Aisyah, yang menjelaskan kedudukan Khadijah di hati beliau.

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah.” (HR. Muslim no 2435).

Wafatnya

Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu wafat tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Saat itu beliau berusia 65 tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang turun memakamkan jenazah sang istri tercinta. Dengan tangannya yang mulia, beliau memasukkan jenazahnya ke kuburnya.

Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah sangat berdekatan waktunya dengan wafatnya Abu Thalib. Rasulullah benar-benar merasa sedih dengan wafatnya dua orang yang beliau cintai ini. Dua orang penolong dakwahnya. Ditambah lagi, sang paman wafat dalam keadaan berada di atas agama nenek moyangnya. Karena begitu sedihnya Rasulullah, tahun ini pun dinamakan Tahun Kesedihan.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Read more https://kisahmuslim.com/6155-ummul-mukminin-khadijah-binti-khuwailid.html



Terbakarnya Perpustakaan Terbesar di Dunia

Kisah tentang terbakarnya Perpustakaan Baghdad, perpustakaan terbesar di zamannya adalah sebuah kisah pilu. Hilangnya begitu banyak ilmu. Dan awal dari mundurnya peradaban di dunia Islam. 

Setelah Kota Baghdad jatuh ke tangan Tatar, mereka melakukan apapun yang mereka inginkan terhadap ibu kota Daulah Abbasiyah ini. Sebagian dari mereka membantai penduduknya. Sebagian lagi melakukan pengrusakan kota. Entah mengapa, kala itu Tatar selalu melakukan pembantaian dan penghancuran setiap kota yang mereka taklukkan dengan peperangan.

Bisa jadi penyebabnya adalah adanya kesenjangan budaya, antara umat Islam dengan orang-orang Tatar. Umat Islam memiliki sejarah panjang dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, dan etika. Peradaban Islam telah membidani lahirnya puluhan ribu ilmuan terkemuka di semua cabang ilmu pengetahuan.

Tatar adalah komunitas masyarakat nomaden yang berasal dari gurun sebelah utara Cina. Mereka tumbuh dengan hukum rimba. Mereka saling berperang layaknya hewan saling memangsa. Tidak berlebihan kalau kita katakan kehidupan mereka seperti kehidupan hewan. Karena memang mereka tak kenal peradaban. Mereka tak berkeinginan memberi kontribusi memakmurkan bumi. Hidup dengan nilai-nilai perbaikan di dunia. Karena itu, setiap wilayah yang mereka taklukkan dengan perang selalu dihancurkan. Membaca sejarah mereka di masa itu sungguh mengerikan.

Di antara bukti nyata pernyataan di atas adalah apa yang mereka lakukan terhadap perpustakaan terbesar di dunia kala itu. Perpustakaan Baghdad di masa Daulah Abbasiyah. Perpustakaan yang mewariskan peradaban dunia, ringan saja mereka hancurkan. Sama sekali tak ada kepedulian dengan ilmu pengetahuan yang dihimpun di dalamnya. Perpustakaan Baghdad saat itu adalah hazanah keilmuan kaum muslimin dan umat-umat selainnya. Bagaimana tidak, perpustakaan itu telah dibangun selama 600 tahun dan menghimpun semua cabang ilmu pengetahuan. Ilmu syariat, ilmu alam, ilmu tentang kemanusiaan, dll. Selama 6 abad tentu tak terbayang koleksi buku yang dimiliki.

Dahulu, ilmu-ilmu yang ditulis dengan bahasa Persia, Yunani, Sansekerta, dll. diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kemudian disimpan di Perpustakaan Baghdad. Sehingga orang cukup menguasai bahasa Arab dan pergi ke Baghdad, ia akan menguasai banyak ilmu yang ada di dunia ini. 

Saat kota ini jatuh, koleksi sebesar itu seolah tak berharga. Bayangkan! Warisan besar itu mereka lempar ke Sungai Tigris hingga air sungai berubah menjadi hitam. Bahkan ada yang mengatakan, kuda-kuda Tatar bisa melintasi sungai dengan jembatan timbunan berjilid-jilid buku yang mereka lemparkan ke sungai.

Tentu kejahatan ini tidak hanya merugikan umat Islam saja. Bahkan merugikan peradaban manusia juga.

Sumber: https://lite.islamstory.com/ar/artical/9270/قصة-حرق-أعظم-مكتبة-على-وجه-الأرض

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel www.KisahMuslim.com



Cerminan Berpuasa dari Seorang Penggembala Kambing

Terdapat kedahsyatan puasa seorang penggembala, yang paling mengagumkan dan jarang dilakukan oleh orang masa sekarang. Ceritanya berawal dari siang hari yang terik, saat Ibnu Umar melakukan perjalanan dipadang pasir. Sesampainya di suatu tempat, beliau beristirahat sejenak dan membuka perbekalan. Beliau lalu bertemu dengan seorang budak yang sedang menggembala kambing di sekitar bukit tersebut. Ibnu Umar kemudian mengajak penggembala itu makan bersama. Akan tetapi, penggembala tersebut menolak.

“Maaf, saya sedang berpuasa,” ujarnya.

Ibnu Umar pun terkejut dan bertanya, “Apakah di hari yang panas menyengat ini, di tengah-tengah pegunungan terjal dengan pekerjaan menggembala kambing ini, engkau tetap berpuasa?”

Dengan penuh keyakinan dan ketenangan, budak itu menjawab, “Aku ingin mempercepat hari-hariku di dunia ini dengan kebaikan.”

Ibnu Umar lalu mencoba menguji budak tersebut dan berkata, “Maukah kau menjual kambing itu kepada kami dan makan bersama kami? Aku akan membayar kambing tersebut.”

Budak itu menjawab, “Kambing itu bukan milikku, tapi milik majikanku.”

Ibnu Umar terus mengujinya. “Bukankah engkau bisa berbohong dan mengatakan pada tuanmu bahwa kambingnya diterkam serigala?”

Budak itu bertanya balik kepada Ibnu Umar, “Kalau demikian, dimanakah Allah?”

Ibnu Umar pun kagum dengan jawaban dan sikap budak tersebut. Setelah kembali ke Madinah, Ibnu Umar memerdekakan budak itu dari majikannya sebagai bentuk kekaguman beliau atas keimanan sang budak.

Itulah gambaran dari seorang penggembala yang mencerminkan, jika dengan berpuasa bisa melatih dan mendidik mereka untuk bersikap jujur dan seantiasa sabar menghadapi ujian. [Jalan Sirah]



Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!

Wahyu tak memberinya kesempatan untuk menarik napas. Saat beliau baru saja kembali ke rumahnya dalam keadaan menggigil. Tak lama wahyu kembali turun, memanggilnya untuk segera bangkit dari bawah selimutnya, Beliau pun segera bangkit. Tak ada lagi pertanyaan seputar tugas dan tanggung jawab agung yang dibebankan kepadanya berdasarkan wahyu yang pertama kali beliau terima.

Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS AI-Muddatstsir: 1-2).

Beliau pun bangkit, menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan hati yang lurus serta berserah diri. Beliau pun segera menyeru kepada Allah dengan hujjah yang nyata, ditopang oleh modal yang amat agung, dan jarang dimiliki manusia berupa akhlak yang utama, kepribadian yang luhur, dan keteguhan yang membaja, “Wahai sekalian kaum Quraisy, katakan kepadaku, jika kuberitahukan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerang, percayakah kalian?”

“Ya,” jawab mereka. “Belum pernah kami melihat engkau berdusta wahai Muhammad.”

Rasulullah Saw. kemudian melanjutkan, “Aku adalah utusan Allah bagi kalian.”

Kata-kata ini pun mengundang berbagai reaksi. Ada yang diam membisu, ada pula yang menyerang membabi buta. Sikap membisu terjadi lantaran mereka masih diliputi kebingungan. Sementara serangan gencar datang dari pembesar mereka, Abu Lahab, seraya membawa kesombongan dan kedunguannya.

Sejak momentum yang agung itu, perjalanan kafilah Islam pun dimulai. Jumlah pemeluk dan pengikutnya tumbuh dengan amat lambat. Namun, dengan segala kemurnian dan kedalamannya, beberapa orang kemudian mengambil tempat sebagai lokomotif.

Mereka ada-lah Khadijah, ‘Ali, Abu Bakar, dan Zaid ibn Haritsah. Kemudian disusul dengan para sahabat yang lain: ‘Utsman ibn `Affan, `Abdurrahman ibn ‘Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqash, Zubair ibn Awwam, Thalhah ibn Ubaidillah, Bilal, Khabbab, Ibn Masud, `Ammar, Sumayyah, Sa’id ibn Zaid, Fathimah binti Al-Khaththab, dan Mush`ab ibn Umair. []

Sumber: 10 Episode Teragung Rasulullah SAW/ Penulis: Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit: Mizania/ 2015



Aku Menangis Terlambat Masuk Islam

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Peristiwa-peristiwa mulia yang ditempuh kaum Muslimin bersama Rasulullah begitu saja berlalu. Indahnya masa-masa turunnya wahyu, gegap gempita kemenangan di medan perang, derap kaki-kaki kuda di dalam perjalanan menuju jihad, isak tangis yang mengiringi para syuhada menuju kampung akhirat, lautan ilmu di majelis-majelis Rasulullah semuanya terlambat ia rasakan.

Ketika tengah hamil tua, ibunya masuk ke dalam Kabah untuk suatu keperluan. Lalu ia merasakan perutnya mulas-mulas. Orang-orang segera mengambil alas dari kulit binatang. Tak lama kemudian, bayi laki-laki tampan dan sehat pun lahir ke dunia. lalah Hakim bin Hizam bin Asad bin Abdul Ghazi.

Usianya yang hanya lima tahun lebih tua dari Muhammad menjadikannya tak sulit untuk bersahabat karib dan melewati masa remaja bersama. Apalagi ketika Muhammad menjadi suami dari bibinya, Khadijah binti Khuwailid.

Kecintaannya kepada Muhammad pun telah membenih semenjak kanak-kanak, bahkan ia mengatakan, “Muhammad adalah orang yang paling aku cintai semasa jahiliah.” la pula yang membeli Zaid bin Haritsah, lalu ia berikan pada Khadijah. Zaid lantas dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah dan ia menjelma menjadi pejuang Islam yang tinggi derajatnya dengan syahid.

Namun sayang, semua itu tak juga membuat sinar hidayah menembus hatinya. Ketika ia mulai condong kepada Islam, ia selalu melihat keteguhan dan keuletan para pembesar Quraisy dalam mempertahankan agama nenek moyang. Akibatnya, hidayah kembali menjauh darinya. Apa yang diucapkan Rasulullah menjadi kenyataan. Usianya menginjak 70-an tahun. Hakim mengucapkan kalimat syahadat bersama orang-orang Quraisy yang tak berkutik melawan tentara Muslim dalam peristiwa Fathu Makkah. Hakim menangis dengan air mata mengalir deras hingga anaknya heran dan bertanya. “Mengapa engkau menangis, wahai ayahku?” tanyanya.

Penyesalan Hakim bin Hizam tak terbendung lagi. Padahal sejak kanak-kanak ia telah akrab dengan sang calon rasul mulia.

“Aku menangis terlambat masuk Islam, Anakku. Hingga begitu banyak peristiwa berharga terlewatkan, yang tak mungkin bisa aku dapatkan dengan kepingan emas dan perak.”

Hakim tak putus asa. Sekuat tenaga ia mengejar ketertinggalannya. Harta berlimpah yang ia miliki, ia sedekahkan untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya. Pada haji pertamanya, Hakim menggiring 100 ekor unta untuk disembelih di Makkah.

Haji yang kedua, ia membawa 100 budak dengan tulisan yang tergantung di leher mereka, “Dibebaskan oleh Hakim untuk Allah”.

Lalu pada haji yang ketiga, ia menggiring 1000 ekor kambing untuk disembelih dan dibagikan kepada fakir miskin di Mina. Tak cukup di situ, Hakim tak puas dengan infak-infak sebelumnya. Maka ia menjual Darun Nadwah, sebuah bangunan megah miliknya yang biasanya digunakan untuk rapat-rapat penting kaum Quraisy. Uang hasil penjualan bangunan itu ia infakkan di jalan Allah Ketika seseorang bertanya tentang hal itu, Hakim menjawab, “Sesungguhnya aku menggantinya dengan membeli sebuah rumah di surga dan engkaulah yang menjadi saksinya,” jawab Hakim.

Pengorbanan Hakim ia berikan dengan talus dan ikhlas. la seorang dermawan sejati yang selalu merindukan kedua tangannya mengulurkan sedekah. Saking cintanya kepada sedekah, ia pernah berkata, “Tidaklah pagi datang padaku tanpa seseorang di depan pintuku untuk meminta sedekah, kecuali itu adalah musibah yang aku mintakan Allah pahala darinya.” []

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015



Abu Bakar, Sebelum Masuk Islampun Tak Pernah Minum Khammar

Sejak masa kecilnya, Abu Bakar adalah orang yang pendiam dan tulus. Dia sangat jujur. Karena karakternya yang bersih ini, dia menjadi teman terdekat Nabi sejak masa mudanya dan, pertemanan itu terbukti seumur hidup.

Abu Bakar adalah orang yang berhati lembut dan sangat mudah merasakan penderitaan dan kesengsaraan orang lain. Dia biasa membantu orang miskin dan yang membutuhkan, yang tertekan dan tertindas.

Bahkan sebelum memeluk Islam pun, dia tidak menyukai sebagian besar kebiasaan jahiliyah kaumnya dan tidak pernah minum minuman keras (khammar) sedikitpun.

Pekerjaan utamanya adalah berdagang. Dia juga menemani Nabi dalam perjalanan dagang ke beberapa daerah. Karena kejujurannya, orang mempercayai Abu Bakar dan sering menyimpan uang mereka kepadanya. Kemuliaan dan kejujurannya segera membuatnya menjadi pedagang kaya. []