All posts by Admin

Pertama di Indonesia, MUI Jawa Timur Miliki Program Akreditasi

pertama-di-indonesia,-mui-jawa-timur-miliki-program-akreditasi

Dalam rangka peningkatan mutu organisasi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur memiliki sebuah terobosan baru yaitu akreditasi. Program ini diluncurkan dalam rangkaian acara silaturahim dan konsolidasi organisasi, Sabtu (23/04/2022) di Hotel Bumi Surabaya.

Artikel Pertama di Indonesia, MUI Jawa Timur Miliki Program Akreditasi pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Gelar Konsolidasi Organisasi, MUI Jatim Perkuat Dua Peran Utama

gelar-konsolidasi-organisasi,-mui-jatim-perkuat-dua-peran-utama

Surabaya, MUIJatim.or.id – Memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan 1443 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menggelar silaturahim dan konsolidasi organisasi pada Sabtu (23/04/2022). KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua Umum MUI Jawa Timur dalam sambutannya mengajak seluruh pengurus MUI untuk bersama sama memperkokoh dua peran MUI yaitu sebagai mitra pemerintah dan […]

Artikel Gelar Konsolidasi Organisasi, MUI Jatim Perkuat Dua Peran Utama pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Banyak Makanan Dibuang di Bulan Puasa, Tanggapan MUI?

banyak-makanan-dibuang-di-bulan-puasa,-tanggapan-mui?

TANYA, muisulsel.com – Assalamu ‘alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Saya ingin menanyakan perihal makanan di bulan ramadhan di tempat sampah yang masih layak di makan, ini menunjukan sifat berlebihan dalam menjalankan ibadah puasa. Apa tanggapan MUI tentang hal ini?

–Dari warga 0812887947xxx

JAWAB: Jelas statusnya mubazir bila disengaja dibuang dan masih layak. Ingat! tindakan tabzir (boros) adalah tindakan setan. Dan, siapa yang melakukannya berarti bersaudara dengan setan.

Namun, kalau makanan yang di tempat sampah itu terdapat padanya najis atau barang zat berbahaya seperti minyak beracun atau bahan kimia tak berwarna jelas harus dibuang, dan bukan mubazir tapi menyelamatkan manusia, binatang pun tidak boleh diberi makanan yang akan dibuang di tempat sampah bila mengandung bahan kimia.

Wallahu a’lam

The post Banyak Makanan Dibuang di Bulan Puasa, Tanggapan MUI? appeared first on MUI SULSEL.



Kiai Cholil Nafis : Dakwah Islam Harus Beradaptasi dengan Media Digital Baru

JAKARTA — Perkembangan teknologi saat ini dirasakan hampir di seluruh dunia. Perkembangannya yang begitu pesat menuntut manusia untuk dapat beradaptasi dengan cepat dan tepat.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia. Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menegaskan bahwa dakwah pada saat ini harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang ada.

“Saat ini, kecenderungan orang belajar tidak duduk di majelis saja, karena sekarang sudah ada Youtube, Tiktok, Instagram TV dan media-media lainnya. Perkembangan dakwah juga harus beradaptasi dengan media-media baru tersebut. Dakwah secara lisan yang sifatnya oral harus beralih ke digital, ” ujar Kiai Cholil pada kegiatan Halaqah Dakwah yang diselenggarakan Komisi Dakwah MUI, (22/04).

Dalam kegiatan tersebut, Kiai Cholil juga menyampaikan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 89% generasi milenial saat iki sudah tidak lagi mengaji di masjid dan majelis taklim.

“Saat iki generasi milenial lebih senang melihat Youtube, tidak lagi menonton TV ataupun datang ke majelis. Mereka tidak ingin ngajinya, waktunya, dan tempatnya terikat, ” tutur beliau.

Dengan perkembangan teknologi tersebut, beliau berharap kegiatan dakwah islam khususnya di MUI dapat segara beradaptasi dan berinovasi menyesuaikan perkembangan zaman.

Selain itu, seiring perkembangan teknologi, MUI juga harus memantau serta mengawal narasi digital yang sesuai dengan pedoman dakwah.

(Dhea Oktaviana/Azhar)



Kang Abik: Tulisan Adalah Gagasan Paling Penting Dalam Sejarah Umat Manusia

BOGOR – Tulisan adalah salah satu jenis alat komunikasi dan alat transformasi informasi, ide dan gagasan yang paling penting dalam sejarah umat manusia.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Habiburrahman El Shirazy, saat menjadi pemateri dalam workshop, Rabu (20/4).

Kegiatan workshop tersebut digelar oleh MUI bekerja sama dengan Baznas dengan tema: Penyadaran dan Peningkatan Budaya Literasi dan Penulisan Kreatif.

Kang Abik, sapaan akrabnya, mengutip firman Allah dalam QS Al-Qalam ayat satu. “Nun, demi qalam (pena) dan apa yang mereka tulis.”

Kang Abik menjelaskan, dalam ayat ini mengabadikan kegemilangan seorang great leader atau seorang pemimpin besar yaitu Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman atau King Solomon, berhasil menundukkan kerajaan Saba dengan tulisannya yang dahsyat.

Kang Abik menyebut, berawal dari kata, perubahan besar akan terjadi. Juga berawal dari kata, kata Kang Abik, peristiwa-peristiwa besar hadir dalam sejarah.

Kang Abik memberikan contoh tulisan yang bersejarah. Salah satunya, buku berjudul Der Judenstat (_The Jewish Stat).

Buku karya Benyamin Ze-ev alias Theodore Herzl pada tahun 1894 ini dinilai sangat berpengaruh terhadap pendirian Negara Israel. Jika tidak ada buku ini tidak mungkin berdiri Negara Israel.

“Herzl telah menginspirasi banyak orang Yahudi bergerak mendirikan negara Israel apapun taruhannya, meskipun harus merampas hak-hak orang Palestina,” tegas Kang Abik.

Kang Abik yang juga penulis banyak buku Novel ternama seperti Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih ini mengungkapkan, sejumlah pemimpin Indonesia juga aktif menulis seperti Soekarno dan Bung Hatta.

Kang Abik memberikan pesan dan motivasi agar mau memulai untuk menulis.

Dia mengutip ungkapan motivasi dari sejumlah tokoh seperti Roland Fishman dalam Creative Wisdom For Writes yang menyatakan,”jika kamu ingin menulis, tulis dan teruslah menulis.”(Sadam Al Ghifary/Angga)



Riset: Perlu Strategi Jitu Dakwah MUI Hadapi 3 Narasi Pokok di Media Sosial

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesi (MUI) dinilai mempunyai potensi untuk menjembatani berbagai kubu yang berbeda kepentingan. Hal ini berangkat dari perlunya mewadahi keragaman ormas Islam di Indonesia agar tidak mudah dipecah-belah. MUI memiliki peran sebagai forum silaturahim yang menjembatani keragaman tersebut.

“MUI itu sebetulnya tidak berada di posisi kanan atau kiri, tapi dia independen. Karenanya MUI memiliki potensi jadi jembatan kedua kubu tersebut. Inilah peran yang harus dimainkan oleh MUI kedepannya,” tutur Ismail Fahmi, dalam acara Halaqoh Dakwah Komisi Dakwah MUI di Aula Pusat MUI, Kamis (21/4/2022) lalu.

Wakil Ketua Komisi Infokom MUI sekaligus penggiat media sosial tersebut menyatakan berdasarkan social network analysis yang dilakukannya, posisi MUI dalam pemberitaan di media online cenderung mengarah positif, sedangkan pada sosial media cenderung negatif. Jika dipesentasekan pemberitaan dari keduanya yaitu sebesar 43 persen negatif dan 42 persen positif.

Presentase tersebut, jelas menempatkan MUI berada di tengah, tidak cenderung kanan atau pun kiri. Jika pun terdapat narasi yang ingin membubarkan MUI, hal tersebut justru akan mencerai-beraikan umat Islam. Disebabkan tidak ada lagi yang dapat menjembatani berbagai ormas Islam untuk menjalin forum komunikasi.

Pada riset yang sama, Ismail Fahmi menyatakan terdapat tiga peta narasi yang berkembang di media sosial, yaitu mengenai narasi mengenai dakwah, polarisasi, dan hal yang berkaitan dengan MUI.

Berkembangnya narasi-narasi tersebut di media sosial, memiliki dampak besar khususnya bagi generasi Z dan generasi milenial yang umumnya aktif dalam berbagai platform digital. Jika salah langkah dalam mengambil jalan dakwah, justru akan berakibat menjauhkan kedua generasi tersebut dari ajaran Islam.

“Pendekatan dakwah untuk generasi Z dan milenial tidak bisa dilakukan jika langsung merujuk kepada Alquran dan Hadis. Dikarenakan daya kritis yang tinggi dan dominannya aktivitas mereka di sosial media, sehingga cenderung menyukai hal-hal yang instan serta mudah dipahami,” katanya.

“Karenanya setelah mengetahui posisi MUI yang berada di tengah, kita wajib berkontribusi meramaikan sosial media dengan dakwah yang wasathi, misalnya pada platform Youtube,” sambungnya.
Menurut Ismail Fahmi, MUI memiliki banyak potensi meramaikan dakwah di sosial media. Hal ini disebabkan MUI merupakan tempat berkumpulnya para ulama, kiai, dan para habaib yang ilmunya mumpuni.

Namun, keterbatasan Youtuber yang handal dari MUI sendiri justru yang menjadikan dakwah tersebut kurang menarik dan sulit menjangkau generasi milenial dan generasi Z.

“Kita tidak punya kemampuan untuk membuat video yg bagus atau Youtuber yang andal. Tapi itu bisa diatasi jika kita punya jaringan Youtuber yang profesional. Sebagaimana perusahaan Go-jek yang tidak memiliki armada resmi, namun menggunakan transportasi lain yang justru mampu menjadikan perusahaan itu besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dikarenakan terdapat seni tersendiri dalam berdakwah kepada generasi Z dan milenial, Ismail Fahmi merekomendasikan, salah satu solusi yang bisa digunakan yaitu dengan mengajak mereka berkontribusi dalam berdakwah. Misalnya membuat video ceramah yang menarik untuk nantinya diupload pada platform Youtube.

Cara ini bisa dilakukan MUI yang sifatnya membentuk jaringan dan kolaborasi, sehingga mampu mendukung potensi yang dimiliki generasi Z dan milenial sekaligus berdakwah kepada mereka dengan membuat konten-konten positif.

“MUI dengan ajaran Islam yang luasnya seperti Samudra, berupaya menjembatani semua ormas dan generasi sehingga dapat menjalin komunikasi dan silaturahim satu dengan yang lain,” ujar dia.
(Isyatami Aulia, ed: Nashih)



Bagaimana Hukum Perusahaan Tak Bayar THR Karyawan?

bagaimana-hukum-perusahaan-tak-bayar-thr-karyawan?

TANYA, muisulsel.com – Assalamu Alaikum, mau tanya. Bagaimana hukumnya jika perusahaan tidak bayar THR kepada karyawannya? Maumi lebaran ustadz, belumpi kodong cair.

– Dari warga 08952761xxxx

JAWABAN:

Perusahaan wajib bayarkan tunjangan hari raya (THR), karena THR sudah jadi ‘urf yang wajib bagi perusahaan. Hadis Nabi Muhammad saw yang bisa dijadikan rujukan sebagai berikut:

“من ولى للناس عملاً , وليس له منزل فليتخذ منزلاً, أو ليس له زوجة فليتزوج, أو ليس له خادم فليتخذ خادماً, أو ليس له دابة فليتخذ دابة , ومن أصاب شيئاً غير ذلك فهو غال” (رواه الإمام أحمد

Barangsiapa yang diserahi suatu jabatan sedang dia tidak punya rumah, berikanlah rumah untuknya. Bila tidak punya istri kawinkanlah dia, bila tidak punya pembantu, berilah pembantu dan bila tidak punya kendaraan siapkanlah ia kendaraan. Siapa yang mengambil sesuatu selain itu dia adalah koruptor.

Mafhum mukhalafah dari hadis tersebut di atas adalah perusahaan wajib menyiapkan fasilitas bagi karyawannya.

Dalam Islam pekerjaan dengan segala penjaminan sosial yang disahkan secara aturan hukum positif adalah bagian dari upah karyawan yang harus ditunaikan sebelum kering keringatnya. Jadi sebaiknya THR ini dipercepat karena hal ini tanggungan pekerjaan oleh perusahaan bagian dari kewajiban.

Selain hukum Islam di atas, diperkuat pula dengan hukum positif yang berlaku di negara kita. Berdasarkan pasal 1 ayat (1) Permenaker 6/2016 dan pasal 9 ayat (1) PP 36/2021, membayar THR adalah kewajiban setiap orang yang mempekerjakan orang lain dengan imbalan upah, baik itu berbentuk perusahaan, perorangan, yayasan, atau perkumpulan.

 

The post Bagaimana Hukum Perusahaan Tak Bayar THR Karyawan? appeared first on MUI SULSEL.



Ngaji Bareng Gus Robith Sekretaris MUI Jatim

ngaji-bareng-gus-robith-sekretaris-mui-jatim

  MUI JATIM – Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, H. Robith Fuadi menyampaikan pesan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam salah satu kitabnya. Pesan tersebut disampaikan saat mengisi kajian sore di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Rabu (19/04/2022). Disebutkan bahwa Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki mengutip Abu Ali al-Daqaq mengatakan tidak ada sifat yang lebih mulya dan lebih […]

Artikel Ngaji Bareng Gus Robith Sekretaris MUI Jatim pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Pemerintah Izinkan Mudik, Ini Himbauan MUI Jawa Barat kepada Masyarakat

pemerintah-izinkan-mudik,-ini-himbauan-mui-jawa-barat-kepada-masyarakat

mui-jabar – Pemerintah sudah mengizinkan warga masyarakat untuk melakukan mudik.

Namun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat mengimbau agar warga masyarakat berhati-hati dengan tetap menjaga protokol kesehatan agar tak terjadi wabah baru.

“Umumnya penyebaran wabah baru atau varian baru karena adanya pergerakan massa dan kerumunan yang semuanya ada dalam mudik,” kata Sekretaris Umum MUI Jabar, KH. Rafani Achyar, di ruang kerjanya, Jumat 22 April 2022.

Dia menambahkan, dari perkiraan pemerintah ada sekitar 85 juta orang dan 23 juta kendaraan pribadi yang akan mudik pada tahun ini.

“Berkaca kepada kasus-kasus penyebaran Covid-19 sehingga harus diwaspadai. Apalagi sudah ada penyebaran varian baru khususnya di Hongkong dan Taiwan,” katanya.

“Puasa Ramadhan mengajarkan kesabaran sehingga harus dipraktikkan saat mudik seperti tidak meluapkan kemarahannya saat di jalan raya. Harus sabar dan menghormati orang lain saat terjadi kemacetan,” katanya.

Hal lainnya adalah mempraktekkan nilai-nilai Ramadhan saat berada di kampung halaman dengan tidak bersikap sombong atau merasa paling benar dan paling hebat sebagai orang kota.

“Kalau istilah Sunda ulah polontong. Tetap lah bersikap rendah hati dan saling menghargai masyarakat kampung sesuai dengan makna silaturahmi,” katanya.

Menurut Rafani, tujuan mudik adalah bersilaturahmi kepada keluarga dan sanak saudara yang telah lama tidak bertemu.

“Niat silaturahmi ini harus benar dan jangan berbelok menjadi pamer harta, pamer keberhasilan di kota atau flexing,” katanya.***



KH Abdurrahman Navis : Jernihkan Hati, Menerima Hidayah Ilahi

kh-abdurrahman-navis-:-jernihkan-hati,-menerima-hidayah-ilahi

Ramadan merupakan momentum istimewa untuk membersihkan hati manusia dari pengaruh buruk kemaksiatan pada diri masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, di bulan suci ini pintu surga terbuka lebar, pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan dibelenggu. Kondisi tersebut diharapkan agar kaum muslimin dapat memanfaatkan kesempatan emas ini dengan berusaha sekuat mungkin untuk mendekatkan diri pada Allah, menguatkan […]

Artikel KH Abdurrahman Navis : Jernihkan Hati, Menerima Hidayah Ilahi pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Jalin Silaturahmi, Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Lampung Safari Ramadhan

jalin-silaturahmi,-komisi-ukhuwah-islamiyah-mui-lampung-safari-ramadhan

Bandar Lampung: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, melalui Komisi Ukuwah Islamiyah melakukan Safari Ramadhan, dari masjid satu ke Masjid lain untuk mempererat tali persaudaraan sesama muslim sebagai agenda utamanya di bulan suci ramadhan 1443 H ini.

Agenda ini selain untuk mempererat hubungan ukuwah islamiyah pengurus MUI Provinsi Lampung dengan masyarakat, ta’mir masjid, ulama dan tokoh masyarakat khususnya di Bandar Lampung.

Pada Kamis 21 April 2022 Komisi Ukuwah melakukan Kunjungan dan Silaturahminya Ke Masjid Jami Al-Iman di Perum Kopri Raya Bandar Lampung, yang langsung di koordinatori oleh Ketua Komisi Ukuwah Islamiyah Dr. H. A. Khumaidi Ja’far, S.Ag., MH.

Turut juga hadir, dalam agenda tersebut H. Aliyanda, M.Kom, Ustaz. Drs. M. Bainalhuri Halim, M.Kom. Kemudian para tokoh seperti Prof. Dr. Agus Fahrudin, M.Pd., H.Hasan Badri, SH., Joni Satria, SH., H.Akmal Yusuf.SE., Ketua Ta’mir Masjid Jami Al-Iman., H. Ahmad Husna,M.IP., Yakiwan., dan para jam’ah juga para remaja Islam.

Dr. H. A.Khumaidi Ja’far, S.Ag.,MH selaku Ketua Komisi Ukuwah Islamiyah berharap, Masjid kita selalu lebih makmur diisi dengan kegiatan-kegiatan positif. Dan tak lupa terjalin hubungan silaturahmi yang kuat dengan Majelis Ulama Indonesia yang merupakan organisasi keumatan juga sebagai payung besar bagi umat Islam. (Ramadan/Rita Zaharah)



Dari Gunung Cahaya Menuju Lailatul Qodar

dari-gunung-cahaya-menuju-lailatul-qodar

Perubahan besar sedang dipersiapkan dan peradaban mulia dipancangkan dari sebuah pegunungan. Terdapat tanda-tanda sepermulaan bahwa gunung sejatinya bukan sekadar gumpalan tanah melainkan kristalisasi nilai yang memadatkan materi untuk menjadi paku bumi.

Artikel Dari Gunung Cahaya Menuju Lailatul Qodar pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Gelar Halaqoh Dakwah, MUI Harap Bisa Bentuk Kemandirian Bermedsos

JAKARTA — Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, KH Ahmad Zubaidi, mencemaskan kondisi dakwah dalam media sosial yang akhir-akhir ini semakin marak disuarakan. Pasalnya, semua orang memiliki hak berpendapat yang sejauh ini tidak bisa dipastikan kebenaran dakwah yang mereka sampaikan.

Media sosial menjadi ladang pertarungan ideologi kelompok yang satu dan yang lain. “Dakwah di media sosial di satu sisi begitu semarak, begitu ramai, begitu variatif ya namun di sisi lain kadang-kadang kita tidak tahu arahnya mau ke mana sebenarnya,” papar Kiai Zubaidi dalam acara Halaqoh Dakwah Komisi Dakwah MUI di Aula Pusat MUI, Kamis (21/4/2022).

Menurut Kiai Zubaidi, masyarakat kita menjadikan media sosial sebagai rujukan utama dalam mencari sumber pengetahuan, utamanya dalam hal keagamaan. Kondisi itu, kata dia, dihadapkan dengan ketidaksiapan masyarakat dalam menyikapi informasi beragam dan lemahnya lembaga penyiaran sebagai alat kontrol untuk mengantisipasi hal itu.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), misalnya, kewenangan yang dimiliki belum sampai pada ranah mengatur media sosial yang berkembang, dan hanya terbatas pada siaran radio maupun telivisi yang di bawah kendalinya. Kondisi itu, menurut Kiai Zubaidi, menuntut kemandirian personal, baik dalam bersikap maupun mengidentifikasi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penyiaran.

Sehingga, hadirnya Halaqoh Dakwah yang bertemakan “Memetakan Narasi Dakwah dalam Media Sosial” menjadi suatu pelatihan khusus dalam membentuk sikap bijak dan arif dalam bermedia sosial, “Kita tentu yang bergerak di bidang dakwah ini harus bisa memberikan suatu intervensi walaupun ini sesuatu yang barangkali masih berupa angan-angan karena memang saat ini dunia membawa perubahan yang begitu besar,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Halaqoh Dakwah dengan hadirnya pakar media sosial, Ismail Fahmi dan Ketua MUI bidang Dakwah, KH Cholil Nafis sebagai narasumber, diharapkan bisa membekali kedisiplinan pribadi dai digital, yakni kemampuan mengidentifikasi dinamika isu dan narasi yang berkembang dengan pengetahuan yang objektif dan moderat, juga bisa melakukan usaha-usaha preventif dalam mencegah paham dan ideologi yang tidak bernafaskan media sosial.

Meski di satu sisi, Kiai Zubaidi mengakui ada banyak kelemahan dari dakwah di media sosial, seperti psikologi batin antara dai dan jamaah yang bertemu langsung di suatu majelis, atau ikatan silaturrahim antara jamaah yang satu dan yang lain, yang tentu keberadaannya membentuk pemahaman yang berbeda pula dalam memahami narasi keagamaan dewasa ini.

“Dialog itu membentuk pemahaman yang tertanam dalam diri kita yaitu adanya kebersamaan dan saling memahami tapi dunia medsos kita sekarang ada dunia yang memisahkan jarak secara fisik ya dan kadang-kadang itu membuat konten itu begitu liar,” katanya.

(A Fahrur Rozi/Fakhruddin)



Ketum MUI Jatim Terima Silaturahim Menteri Pertahanan RI

ketum-mui-jatim-terima-silaturahim-menteri-pertahanan-ri

  Probolinggo, muijatim.or.id, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menerima kedatangan Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto pada Kamis (21/04/2022). Kunjungan tersebut bertempat di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Kiai Mutawakkil mengatakan bahwa kunjungan Prabowo Subianto dalam rangka silaturahim kepada dzurriyah Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. […]

Artikel Ketum MUI Jatim Terima Silaturahim Menteri Pertahanan RI pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Saran dan Bantuan MUI Sulsel untuk Program Alquran Gubernur

saran-dan-bantuan-mui-sulsel-untuk-program-alquran-gubernur

Laporan muisulsel.com: Irfan

Makassar, muisulsel.com – Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel menyarankan Pemprov Sulsel melatih guru agama sebelum menjalankan program pemberantasan buta aksara Alquran. MUI menyebut masih marak guru agama yang rendah kompetensi baca Alquran. MUI pun siap membantu.

“Banyak kita temukan saat memberi pelatihan tajwid, guru agama masih banyak yang belum lancar baca Quran,” kata Komite Dakwah (KDK) MUI Sulsel Drs KH Masykur Yusuf MAg saat menerima tim Dinas Pendidikan Pemprov Sulsel di Sekretariat MUI Sulsel, Jl Masjid Raya, Makassar, Kamis (21/4/22) pagi.

KH Masykur menambahkan, “Jika program latihan guru mengaji kita laksanakan maka akan lebih mudah menjalankan program buta aksara pada siswa.”

Sekretaris Umum MUI Sulsel Dr KH Muammar Bakry Lc MA dan Ketua Bidang Pendidikan dan Pengkaderan MUI Sulsel Dr KH Kamaluddin Abunawas MA juga hadir saat menerima kunjungan tim Disdik Sulsel.

Baca juga: Berantas Buta Aksara Alquran, Pemprov Minta Bantuan MUI Sulsel

Kepala Bidang SMA Disdik Sulsel Asqar SE MM, pihaknya akan mempertimbangkan saran MUI tersebut. Dia menyebut pelatihan tajwid bagi guru agama Islam merupakan usulan baru.

“Ini merupakan trobosan baru ke depannya bagaimana kita akan meningkatkan bacaan tajwid bagi guru,” kata Asqar.

MUI Sulsel tak sekadar memberi saran terkait pelatihan tajwid guru agama. MUI punya kader yang dapat diterjunkan ke lapangan.

“Jika memang dibutuhkan kami akan siapakan kader dakwah untuk membantu program buta aksara Quran Disdik,” ujar KH Masykur.

KH Masykur Yusuf (kiri ujung), KH Muammar Bakry, KH Kamaluddin Abunawas, Asqar, Usman, Andi Fachruddin S STP pose di Sekretariat MUI Sulsel, Jl Masjid Raya, Makassar, Kamis (21/4/2022)

Ada lagi potensi yang dapat MUI manfaatkan, yaitu, mendorong MUI tingkat kabupaten kota untuk membantu program Pemprov.

Asqar menyampaikan, Disdik menekankan program pengentasan buta aksara Alquran karena perintah Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.

“Beliau (Gubernur Andi Sudirman Sulaiman) sangat konsen terhadap siswa SMA dan SMK yang ada di Sulawesi Selatan supaya siswa itu bebas dari buta aksara Alquran,” kata Asqar kepada muisulsel.com.

Baca juga: MUI Sulsel Bagikan 600 Mushaf di Momen Nuzulul Quran

Di lingkup Disdik Sulsel sendiri, sudah ada upaya pembuatan kurikulum. “Nanti melibatkan lembaga-lembaga yang dapat menyusun kurikulum pemberantasan buta aksara Alquran, melibatkan MGMP Pendidikan Agama Islam,” ujar Asqar. (*)

The post Saran dan Bantuan MUI Sulsel untuk Program Alquran Gubernur appeared first on MUI SULSEL.



Sugeng Ambal Warsa ke-63 KH. MOH. HASAN MUTAWAKKIL ‘ALALLAH, S.H.,M.M (Ketua Umum MUI Jatim)

sugeng-ambal-warsa-ke-63-kh-moh-hasan-mutawakkil-‘alallah,-sh,m.m-(ketua-umum-mui-jatim)

Semoga senantiasa diberi kekuatan, kesehatan dan kemudahan dalam menjalankan amanah memimpin umat.

أطال الله عمره في الصحة والعافية ومتعنا الله بطول حياته الشريفة آمين يامجيب السائلين

Artikel Sugeng Ambal Warsa ke-63 KH. MOH. HASAN MUTAWAKKIL ‘ALALLAH, S.H.,M.M (Ketua Umum MUI Jatim) pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Profil KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, S.H., M.M.

profil-kh-moh-hasan-mutawakkil-alallah,-sh,-mm.

KELAHIRAN KH. Moh. Hasan Mutawakkil ‘Alallah, S.H., M.M lahir pada tanggal 22 April 1959 di Genggong. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Hasan Saifourridzall dengan Nyai Hj. Himami Hafshawaty. PENDIDIKAN Ketika baru berusia sebelas tahun, Mutawakkil kecil sudah dipondokkan ayahandanya ke Pondok Pesantren Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang Jawa Tengah pimpinan Kiai Imam. Namun pendidikannya […]

Artikel Profil KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, S.H., M.M. pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



MUI Jatim Award 2022 Siap Diluncurkan

mui-jatim-award-2022-siap-diluncurkan

Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mengadakan rapat menyusunan indikator penilaian untuk persiapan launching MUI Jatim Award Tahun 2022. Rapat dihelat di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, Jalan Kertomenanggal VI/1 Surabaya, Jumat (15/4/2022). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua KP3 MUI Jatim Prof Dr Kiai M. Noor Harisudin MFilI berserta […]

Artikel MUI Jatim Award 2022 Siap Diluncurkan pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Al Quran Kitab Kehidupan Berkemajuan

al-quran-kitab-kehidupan-berkemajuan

■ Oleh : Prof Dr H Mustari Mustafa MPdPengurus MUI Sulsel

MUIsulsel.com — Kita perlu maknai momentum Peringatan Nuzulul Quran untuk merenung dan mengingatkan diri kita apakah kita sudah lebih banyak menggunakan Alquran sebagai pedoman hidup ?

Sudah berapa kali kita menyebut ayat-ayat Alquran ketika berhadapan dengan permasalah hidup ? Sudah berapa kali kita menggunakan Alquran sebagai acuan, panduan, dan haluan ketika datang kesulitan-kesulitan hidup ?

Sudah berapa ayat-ayat pokok, misalnya tentang tata cara bergaul, berbisnis, dan beribadah yang kita selalu ingat ?

Sudah berapa kali kita mengganti atau membeli Alquran yang baru buat rumah kita ? Sudahkah kita mengingatkan keluarga membaca Alquran dalam hari-hari kita di rumah ?

Pernahkan kita menggunakan alat komunikasi atau telpon seluler kepunyaan kita untuk mengingatkan anak, isteri, atau suami di rumah agar menyempatkan diri membaca Alquran ?

MARI KITA MENCOBA MENJAWAB SEJUMLAH PERTANYAAN INI.

JAWABAN kita merupakan statistik sejauh mana hubungan dan kedekatan kita dengan Alquran. Alquran adalah kitab penting, karena itu kita berada dan melakukan peringatan NUZULUL QURAN INI ? Tapi untuk apa kita lakukan ini, adalah hal yang lebih penting.

Kita cek di dalam Alquran, betapa Allah ta’ala sendiri sangat concern dengan isi kitab ini. Mari kita cek misalnya di banyak awal surat, Allah menjelaskan hal penting mengenai kitab Alquran.

Dari 114 surah dalam Alquran, terdapat 29 ayat yang bermakna sama, mengenai pentingnya Alquran untuk dipedomani, bahkan ada yang secara redaksional sama atau berulang. Di awal surat Al Baqarah Allah swt menerangkan :

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ

Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil (ali Imran 3).
كِتٰبٌ اُنْزِلَ اِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِيْ صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ لِتُنْذِرَ بِهٖ وَذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman (Al A’raf, 2).

Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang penuh hikmah (Yunus, 1)
الۤرٰ ۗ كِتٰبٌ اُحْكِمَتْ اٰيٰتُهٗ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍۙ

Alif Lam Ra. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti (Hud, 1)
الۤرٰ ۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۗ

Alif Lam Ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (Yusuf, 1) ini beberapa kali.

Ada yang di akhiri dengan kata “hakiim” (penuh hikmah).
الۤرٰ ۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji (Ibrahim, 1).
اَ لۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰى عَبۡدِهِ الۡكِتٰبَ وَلَمۡ يَجۡعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ؕ‏

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok (Al Kahfi, 1)

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah (Thaha, 2)

Bahkan Allah beberapa kali bersumpah demi Alquran, seperti di surat Yaasin…

Demi Alquran yang penuh HIKMAH. Di surat yang lain Allah bersumpah DEMI ALQURAN YANG PENUH PERINGATAN (Zikr, di surat As Sad, 1)

Dalam surat Az Zumar dan Al Ghafir, redaksinya :
تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Kitab (Al-Qur’an) ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Mahabijaksana. Kalau di Al Ghafir, redaksinya diturunkan oleh Allah (Al Ajijil Alim=Maha Perkasa dan Maha Mengetahui)..Di surat berikutnya redaksinya, (quran) diturunkan dari (Ar Rahmannirrahiim = Yang Maha Pengasih lagi Penyanyang).

Apa artinya bagi kita :
1. Alquran adalah kitab yang harus dipedomani
2. Sebagai kitab yang langsung dari Tuhan, maka tentu tidak ada kitab tandingan yang sama dengannya.

3. Bobot dan kualitas kitab ini sangat tinggi karena kitab ini selain dipandu oleh Allah didalam proses disampaikannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga Allah sendiri menjaganya hingga akhir zaman, kemudian bahwa alquran ini tidak turun diruangan yang hampa, melainkan dalam realitas kehidupan manusia yang nyata.

4. Manusia akan maju jika berpegang teguh atas kitab ini.■

*) Dari ceramah Peringatan Nuzulul Quran Pemkab Bantaeng di Masjid Agung Syekh Abd Gani Bantaeng, Senin (18/4/2022).

The post Al Quran Kitab Kehidupan Berkemajuan appeared first on MUI SULSEL.



Terima Kunjungan Menteri Pertahanan RI, Ini Pesan-Pesan Khusus Ketua Umum MUI Jawa Timur

terima-kunjungan-menteri-pertahanan-ri,-ini-pesan-pesan-khusus-ketua-umum-mui-jawa-timur

PROBOLINGGO — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menerima kedatangan Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto pada Kamis 21 April 2022. Kunjungan tersebut bertempat di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Kiai Mutawakkil mengatakan bahwa kunjungan Prabowo Subianto dalam rangka silaturahim kepada dzurriyah Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, […]

Artikel Terima Kunjungan Menteri Pertahanan RI, Ini Pesan-Pesan Khusus Ketua Umum MUI Jawa Timur pertama kali di publikasikan oleh MUI Jatim.



Zakat dan Kemiskinan karena Covid19

zakat-dan-kemiskinan-karena-covid19


■ Oleh : ZainuddinAnggota Komisi Hukum dan HAM MUI Sulsel, Wakil Dekan IV Fakultas Hukum UMI Makassar

MUIsulsel.com — Pandemi Covid 19 yang telah menghantam seluruh negara di belahan dunia sejak akhir Desember 2019, secara perlahan sudah melandai meskipun, tetap perlu kewaspadaan dengan kemungkinan munculnya varian baru Covid 19.

Dampak yang timbulkan Covid 19 ini berdasarkan Laporan Asian Development Bank (ADB) ada 4,7 juta orang di negara-negara Asia Tenggara jatuh miskin yang diakibatkan Pandemi Covid-19 pada tahun 2021 lalu.

Tentunya berbagai cara ditempuh untuk menekan angka kemiskinan tersebut termasuk memaksmimalkan potensi zakat yang mencapai Rp 327 triliun yang berdasarkan data Baznas 2022 ini sementara zakat yang terkumpul pada 2021 baru sebesar Rp 17 triliun.

Membicarakan zakat mau tidak mau kita berbicara tentang kemiskinan, karena zakat merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh Islam untuk mengatasi kemiskinan.

Kemiskinan terjadi tidak diakibatkan semata-mata kurangnya pendapatan, tetapi kemiskinan terjadi karena tidak difungsionalkannya potensi yang ada.

Maka perlu fungsionalisasi potensi untuk dikelola dengan baik dalam rangka mengurangi kemiskinan.

Kemiskinan pada hakikatnya hanya merupakan lapisan atas dari permasalahan yang disebut symptoms yaitu gejala yang tampak dipermukaan dan dapat dilihat sebagai efek dari sebuah kebijakan.

Ada lapisan dibawahnya yang disebut core problems (permasalahan inti) yang menyangkut substansi (undang-undang/kebijakan) dan struktur.

Belum teratasinya pengentasan kemiskinan dengan baik, bisa jadi pemerintah keliru dalam mengambil kebijakan, oleh karena itu, ada bahasa sindiran yang mengatakan kalau satu orang menderita kelaparan itu adalah faktor kemanusiaan, kalau seratus orang kelaparan maka itu kebijakan.

Sedangkan lapisan ketiga permasalahan adalah root cause (akar penyebab) yang lebih bersifat filosofis yang menyangkut paradigma yang dianut oleh masyarakat dan pemerintah yang tertuang dalam konstitusi negara.

Pada dasarnya, zakat adalah wujud ketaatan melaksanakan perintah Allah (kewajiban) dan bukan semata-mata kedermawanan (charity), begitu pentingnya penunaian zakat, Abu Bakar Ash Shiddiq mencap seseorang menjadi murtad terhadap pembangkang zakat.

Simaklah kata-kata tegas Abu Bakar Ash Shiddiq, “Demi Allah, saya akan perangi setiap orang yang memisahkan salat dan zakat. Zakat adalah kewajiban yang jatuh pada kekayaan. Demi Allah kalau mereka menolak saya dalam membayarkan apa-apa yang dulu mereka bayarkan kepada Rasul Allah, Sallallahu’alaihi wassalam, saya akan perangi mereka!”.

Bahkan dalam Al-Qur’an Surah Fushilat (41) ayat 7, dianggap orang kafir bagi orang yang tidak menunaikan zakat.

Agama Islam mengajarkan asas keseimbangan, zakat adalah kewajiban orang kaya, pada saat yang bersamaan merupakan hak orang miskin (dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian [Adz Dzariyaat:19]).

Zakat tidak akan tercapai fungsinya sebagai instrumen mewujudkan kesejahteraan yang berdasar pada keadilan sosial, apabila tidak ada kesadaran orang kaya untuk menuaikan kewajibannya dan juga pemerintah tidak menggunakan kekuasaannya lewat undang-undang untuk memaksa orang kaya membayar zakat.

Maka harus ada salah satunya yang terpenuhi, yaitu orang kaya dengan kesadaran yang dilandaskan pada keimanan dengan sukarela menyerahkan zakatnya kepada amil ataukah orang kaya harus dipaksa oleh pemerintah (baca : undang-undang) untuk membayar zakat.

Kalau hal itu dapat terjadi, maka kewajiban orang kaya tertunaikan dan hak orang miskin terpenuhi. Inilah esensi ajaran Islam dalam zakat yaitu titik temu antara kewajiban dengan hak dalam bentuk harta supaya keutuhan dan keberlangsungan kehidupan bersama (unity and sustainability of collective life) tetap terjaga.

Untuk mensinergikan kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin, tentu saja dibutuhkan kesadaran orang kaya dengan dasar keimanan untuk menyerahkan sebagian hartanya kepada orang miskin.

Dan sebaliknya orang miskin harus lebih progresif menuntut hak-haknya kepada orang kaya, disinilah dibutuhkan dua arus kesepahaman antara penunaian kewajiban dan pemenuhan hak.

Apabila orang kaya tidak memiliki kesadaran untuk berzakat, maka jalan terakhir yang ditempuh adalah pemaksaan, itu bukan berarti orang miskin diberi kewenangan menggunakan kekerasan dalam mengambil haknya.

Karena penggunaan kekerasan dengan cara melanggar hukum itu juga dilarang oleh Islam, karena prinsip ajaran Islam adalah perdamaian.

Meskipun kita tahu, bahwa secara lahiriyah orang miskin tidak memiliki kekuatan untuk mengambil haknya kepada orang kaya, karena hak itu melekat pada harta orang kaya.

Maka diperlukan fasilitator dalam menjembatani hak dan kewajiban tersebut, disinilah peran amil zakat (pemerintah) sebagai medium mempertemukan hak orang miskin dan kewajiban orang kaya.

Apabila orang kaya tidak mau menunaikan kewajibannya, maka Islam membolehkan pemerintah mengambil secara paksa demi pemenuhan hak orang miskin.

Baznas sebagai perpanjangan tangan Pemerintah dalam memungut zakat dari orang kaya olehnya itu Pemerintah dapat menggunakan kekuasaannya memaksakan orang kaya membayar zakat, jadi bersifat otoritatif (perlu ada kekuatan memaksa).

Untuk memaksakan penunaian zakat, maka undang-undang menjadi alat legitimasi efektif pemerintah untuk memaksa orang kaya.

Persoalannya sekarang, Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat tidak cukup kuat sebagai alat pemaksa terhadap orang kaya untuk membayar zakat.

Substansi Undang-Undang Pengelolaan Zakat hanya bersifat fakultatif, yaitu pengaturan harta obyek zakat dan pendayagunaan, serta pengaturan organisasi pengelola zakat.

Padahal, kalau kita kembalikan asal dari hukum zakat itu adalah kewajiban yang dipaksakan, maka Undang-Undang Pengelolaan Zakat juga harus bersifat imperatif.

Oleh karena itu, semestinya ada ketentuan-ketentuan memaksa (dwingend recht) dalam Undang-Undang Pengelolaan Zakat yang memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menjatuhkan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan wajib zakat yang tidak berzakat juga kepada pengelola zakat yang melakukan pelanggaran.■

The post Zakat dan Kemiskinan karena Covid19 appeared first on MUI SULSEL.



Tingkatkan Kesadaran Literasi, LSBPI MUI Gelar Workshop Bersama Santri

JAKARTA– Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar workshop dengan mengusung tema “Penyadaran dan Peningkatan Budaya Literasi dan Penulisan Kreatif”.

Kegiatan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Asnawiyah Yayasan Kursiya kabupaten Bogor bertujuan untuk meningkatkan kesadaran literasi para santri. Hal tersebut juga disampaikan oleh Ustadz Saiful Bahri selalu ketua pelaksana.

“Tujuan kegiatan workshop ini adalah untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran literasi serta kemampuan menulis kreatif bagi para santri, ” ujar beliau dalam sambutannya, Rabu (20/04) di Bogor.

Dikatakannya, tingkat literasi di Indonesia masuk dalam kategori rendah. Hal ini tentunya menjadi perhatian khusus untuk segera dilakukan perubahan yang mampu mendorong tingkat literasi tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia untuk menyelamatkan tingkat literasi di negara ini adalah dengan menyelenggarakan workshop terkait literasi melalui Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI).

Dengan terselenggaranya kegiatan workshop tersebut, dia berharap dapat meningkatkan kesadaran literasi dan juga meningkatkan kemampuan menulis.

“Sehingga kita dapat berkontribusi langsung bagi perkembangan tingkat literasi di Indonesia, ” ujarnya.

(Dhea Oktaviana/Azhar)



Ketua MUI KH Abdullah Jaidi Ungkap Peran Penting Ulama

JAKARTA – Ulama adalah pewaris para Nabi yang mengisi dunia dengan ilmu yang telah dimiliki. Dengan demikian, ulama akan menjadikan agama Islam membawa kebaikan dan kesejukan.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi, KH Abdullah Jaidi saat mengisi pesantren Ramadhan1443 H yang digelar oleh MUI. Kegiatan yang berlangsung sejak 15-17 April 2022 ini bertemakan ‘’Membangun Remaja Muslim Beriman dan Bertaqwa Pacsa Pandemi.’’

‘’Bagaimana kita menghormati para ulama, karena sejak dasarnya kita sudah dibimbing oleh orang tua kita yang lebih tua, apalagi menghormati ulama,’’ kata Ketua MUI dikutip MUIDigital, Rabu (20/4).

Menurut dia, ulama yang baik adalah ulama yang benar-benar menjadikan ilmunya dengan sangat mendasar, yaitu untuk memperbaiki akhlakul karrimah dan kehidupan masyarakat yang akan membawa kesejahteraan pada kehidupan di dunia dan akhirat.

Kiai Abdullah Jaidi mengutip para ulama yang memberikan contoh tentang Kota Madinah, Arab Saudi, yang mewujudkan kehidupan dengan penuh kasih sayang. Karena kota tersebut diisi dengan kebersamaan, saling menghargai dan menghormati, serta saling tolong menolong.

‘’Ulama, dia akan terus menerus memantau situasi dan keadaan masyarakat sehingga hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan agama akan diperingatkan dan disampaikan. Perjuangan para ulama selama ini dalam kehidupan patut dihargai,’’ jelasnya.

Apalagi, kata Kiai Abdullah Jaidi, ulama dengan segala kesederhanaan yang mereka lakukan dalam kehidupan patut dibantu dan diapresiasi karena telah berjuang di jalan Allah untuk membimbing umat dan masyarakat.

‘’Masyarakat kita bagaimana pun juga (memiliki) dampaknya dari pengaruh-pengaruh yang kita saksikan, baik pengaruh medsos, pengaruh budaya-budaya, atau hal-hal yang merusak generasi kita ini. Para ulama ini menjadi garda terdepan dalam memperbaiki tatanan kehidupan masyarakan yang demikian,’’ tuturnya.

Untuk itu, agar tatanan masyarakat Kembali pada tatanan yang penuh dengan kasih sayang dan kesantunan harus diwujudkan dengan akhlakul karimah terutama pada ulama.

‘’Apabila ini diwujudkan, maka akan menjadi masyarakat yang saling menyayangi, menolong dan menghargai,’’ pungkasnya.(Sadam Al Ghifary/Angga)



Berantas Buta Aksara Alquran, Pemprov Minta Bantuan MUI Sulsel

berantas-buta-aksara-alquran,-pemprov-minta-bantuan-mui-sulsel

Laporan muisulsel.com: Irfan

Makassar, muisulsel.com – Pemerintah Provinsi Sulsel mulai menggarap program pengentasan buta aksara Alquran. Pemprov baru saja meminta bantuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel untuk mendukung program khusus Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, tersebut.

Kamis (21/4/2022) pagi, tim Dinas Pendidikan Sulsel menemui MUI Sulsel di Sekretariat MUI Sulsel, Jl Masjid Raya, Makassar. Tim diketuai Kepala Bidang SMA Disdik Sulsel Asqar SE MM.

KH Masykur Yusuf (kiri ujung), KH Muammar Bakry, KH Kamaluddin Abunawas, Asqar, Usman, Andi Fachruddin S STP pose di Sekretariat MUI Sulsel, Jl Masjid Raya, Makassar, Kamis (21/4/2022).

Mereka diterima Sekretaris Umum MUI Sulsel Dr KH Muammar Bakry Lc MA, Ketua Bidang Pendidikan dan Pengkaderan MUI Sulsel Dr KH Kamaluddin Abunawas MA, dan Ketua Komite Dakwah (KDK) MUI Sulsel Drs KH Masykur Yusuf M Ag.

“MUI mempunyai otoritas keagamaan untuk mendukung program pengentasan buta aksara Alquran pada tingkat sekolah SMA dan SMK di Sulsel,” kata Asqar.

Asqar menyampaikan, Gubernur Andi Sudirman menargetkan 95 persen siswa tingkat SMA dan SMK,” Harus bisa membaca Alquran dengan lancar.”

KH Kamaluddin Abunawas mengatakan, MUI Sulsel siap membantu program pendidikan Alquran Pemprov. Menurutnya, program pengentasan buta aksara Alquran sangat mudah jika semua yang berkompeten dilibatkan.

“MUI Sulsel siap melakukan koordinasi dengan pengurus MUI di kabupaten kota dan juga lembaga dakwah yang terkait untuk membantu program Disdik Sulsel,” kata KH Kamaluddin.

KH Masykur Yusuf mengatakan, inti program Alquran Pemprov yaitu upaya memperbaiki bacaan tajwidnya.

Masykur juga mengusulkan yang pertama dilatih adalah gurunya karena banyak juga guru agama belum mampu membaca Alquran secara fasih. (*)

The post Berantas Buta Aksara Alquran, Pemprov Minta Bantuan MUI Sulsel appeared first on MUI SULSEL.