Tag: hikmah

  • 5 Adab Bertamu yang Penting Diperhatikan Menurut Islam

    Bertamu merupakan salah satu upaya menyambung tali silaturahim kepada sanak saudara, kerabat, handai tolan, atau sesama umat Islam.

    Namun dalam proses bertamu, tentunya Islam mengajarkan sebuah adab yang harus dijaga agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan perselisihan. Berikut ini adalah adab bertamu yang harus diperhatikan menurut pandangan Islam:

    1. Memiliki niat yang baik
      Dalam melakukan kegiatan bertamu, kita diharuskan untuk memiliki niat yang baik, seperti untuk menyambung silaturahmi, menjenguk atau sebagainya. Karena Allah ﷻ berfirman bahwa sebaik-baik tamu adalah yang membawa kabar gembira. Hal ini tercantum pada surat Al Hijr ayat 51-54:
      وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٥١ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ٥٢ قَالُواْ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ٥٣ قَالَ أَبَشَّرۡتُمُونِي عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ٥٤
      Artinya: “Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim; Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salaam”. Berkata Ibrahim, “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.” Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.” Berkata Ibrahim, “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?”
    2. Meminta izin dan berkunjung di waktu yang tepat
      Rasulullah ﷺ mengajarkan kita, bahwa batasan meminta izin untuk bertamu sebanyak tiga kali. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
      عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع
      Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata, ““Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR Bukhari dan Muslim)
      Selain itu kita juga Islam menganjurkan kita untuk bertamu di waktu yang tepat serta menghindari tiga waktu aurat dalam Islam, yaitu sehabis Zuhur, sesudah Isya, dan sebelum Subuh. Hal ini tercantum dalam surat An Nur ayat 58:
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ۚ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
      Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya.(Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”
      Kedua hal ini memiliki kaitan yang cukup erat karena rumah ibarat penutup aurat bagi penghuni di dalamnya. Sehingga bagi orang yang bertamu diwajibkan untuk meminta izin terlebih dahulu agar penerima tamu dapat menyiapkan kondisi rumah.
    3. Bersalaman
      Bersalaman atau berjabatan tangan merupakan salah satu hal yang cukup penting untuk menghormati dan mempererat tali silaturahmi sesama umat Islam.
    4. Sopan santun dalam bersikap dan bertutur
      Hal ini dilakukan untuk menghormati dan menghargai penerima tamu. Selain itu hal ini juga dapat menghindarkan kita dari perbuatan yang menyinggung atau menyakiti orang lain
    5. Menerapkan batas waktu bertamu
      Selain berkunjung di waktu yang tepat kita juga harus memerhatikan batas waktu dalam bertamu. Karena jika seseorang bertamu terlalu lama dikhawatirkan akan memberikan rasa tidak nyaman dan akan membebani sang penerima tamu. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
      الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
      “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah ﷺ berkata, “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.” (HR Baihaqi)
      (Ika Selfiana/ Nashih)
  • Kompleksitas Pembuktian Rudapaksa Menurut Fikih Islam

    Akhir-akhir ini media massa banyak memberitakan mengenai kasus rudapaksa yang terjadi di Indonesia. Pelaku tindakan tersebut dilansir terdiri dari masyarakat sipil, civitas akademika, hingga aparatur pemerintahan.
    Lalu bagaimanakah Islam memandang kasus rudapaksa tersebut? Berikut penjelasannya.

    Dalam tafsir tematik Kementrerian Agama RI disebutkan bahwa hubungan seksual yang terjadi di luar pernikahan dapat terjadi atas dasar suka sama suka (ikhtiyârî) dan ada pula yang terjadi karena dipaksa (rudapaksa) atau diperkosa (ijbârī).

    Mengutip pendapat Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuh bahwa perzinaan yang didasari suka sama suka (zinâ ikhtiyârî), jika perbuatan tersebut terbukti, baik melalui saksi maupun pengaduan, maka keduanya dikenakan had zina.

    Namun berbeda dengan kasus rudapaksa (zinâ gairu ikhtiyârî), jika terbukti, maka si perempuan terbebas dari hukuman zina. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ yang termaktub dalam Sunan Ibnu Majah nomor hadits 2033, yaitu:
    عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
    “Dari Abu Dzar Al Ghifari ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda, “’Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku sesuatu yang dilakukan karena salah, lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya.’”
    Tidak ada ayat-ayat Alquran yang secara eksplisit berbicara mengenai rudapaksa, serta untuk membuktikan bahwa korban dipaksa atau diperkosa bukan persoalan yang sederhana.

    Hal ini disebabkan suatu tindakan dikategorikan sebagai pemaksaan salah satunya jika si pelaku memiliki kekuasaan untuk merealisasikan ancamannya. Karenanya korban tidak memiliki kemampuan untuk menolak sebab ancaman yang dilayangkan.
    Oleh karenanya, untuk membuktikan perilaku rudapaksa cukup sulit, kecuali si pelakunya mengakui. Sebab, saat seseorang dituduh telah tindakan tersebut namun si pelaku mengingkarinya, maka si penuduh akan dikenakan had karena sebagaimana had qadzaf.

    Di samping itu, penetapan empat orang saksi dalam kasus perzinaan, baik itu ikhtiyârî maupun ijbârî, selamanya akan menjadi problematis.
    Kalaulah demikian, di manakah letak kemaslahatan hukum Islam? Jika praktiknya pada kasus rudapaksa justru membuat sengsara?
    Dalam Shahihul Bukhari, kitab az-Zina bab izastukrihat al-mar′ah ‘alaz-zinâ disebutkan bagi korban rudapaksa tidak mungkin dia mengadukan kepada hakim tanpa didukung oleh bukti-bukti yang kuat.

    Jika kasus terbukti kebenarannya maka secara hukum, baik hukum positif maupun Islam, maka si pelaku rudapaksa dijatuhi had zina. Namun sebaliknya, jika korban tidak mampu membuktikan yang kuat justru dialah yang terkena akibat hukum tersebut.
    Karenanya dalam kasus rudapaksa perempuanlah yang mengalami tekanan batin yang berkepanjangan. Bahkan, dia dapat melakukan tindakan terburuk yaitu melakukan aborsi jika hamil. Namun hal ini bisa ditangani secara medis melalui tes DNA untuk membuktikan ayah dari janin yang ada di dalam kandungannya tersebut. Wallahu’alam. (Isyatami Aulia/ Nashih Nashrullah)

  • 9 Adab Bercanda yang Penting Diperhatikan Muslim

    Bercanda adalah sarana manusia mengekspresikan perasaannya, manusia sebagai makhluk sosial perlu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Suasana yang cair dibangun dalam candaan agar tidak terasa kaku dalam berinteraksi, candaan tentu memiliki batasan-batasan agar komunikan menerima candaan tersebut.

    Islam mewajarkan hal tersebut, dalam suatu kesempatan Rasulullah ﷺ mengajak istri serta sahabatnya untuk saling bercanda dengan orang lain agar membantu mereka menjadi lebih bahagia. Sahabat Nabi Muhammad ﷺ di lain kesempatan juga melakukan candaan agar suasana menjadi cair.

    Dalam bercanda tentu Islam memiliki adab yang perlu diperhatikan, mengutip buku Adab Bercanda Dalam Islam yang ditulis pleh Hafidz Muftisany menyebutkan bahwa ada sembilan adab yang perlu diperhatikan yakni:
    Pertama, candaan yang dilakukan tidak mengandung nama Allah. Hal ini sebagaimana tuntunan yang ditegaskan Alquran surat At Taubah ayat 65-66 sebagai berikut:
    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
    لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
    ” Katakanlah, Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”

    Kedua, tidak berbohong. Hal ini sebab Nabi Muhammad ﷺ pernah berkata yang diriwayatkan Abu Dawud. Rasulullah ﷺ bersabda:
    وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
    “Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa. Celaka baginya, celaka baginya.”
    Ketiga, tidak menyakiti dengan sengaja, sebab Allah ﷻ berfirman dalam Alquran surah Al Hujarat ayat 11:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
    Keempat, tidak melewati batas, jangan sampai bercanda berlebihan karena dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
    وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ
    “Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hati.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no 3400).
    Kelima, tidak melakukan candaan terhadap orang yg tidak suka, hal ini bertujuan agar candaan yang dilontarkan tidak menjadi pemercik api yang bisa memanas karena kesalah pahaman
    Keenam, tidak menjadikan topik serius sebagai candaan, hal ini terkait dengan adab sebagai Muslim yang bijaksana dan pandai menempatkan diri karena semua akan dipertanggung jawabkan.
    Ketujuh, menghindari larangan Allah ﷻ dalam candaan, karena sudah sepatutnya sebagai seorang Muslim mengrindari larangan-larangan dalam agama.
    Kedelapan, tidak berkata dan bersikap yang konotasinya buruk, karena kenyamanan dalam berhubungan sosial menjadi hal yang penting.
    Kesembilan, menghindari tertawa berlebihan sebagaimana dikatakan oleh Aisyah RA:
    مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
    “Aku belum pernah melihat Rasulullah ﷺ tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.”
    Menjadi seorang Muslim yang ramah dan berakhlak mulia adalah sebuah kebaikan dan memiliki amal sosial terhadap orang lain karena memberi tawa dan bahagia bisa memberikan kedamaian dan keceriaan dalam sebuah hubungan di sebuah lingkungan.
    (M Ilham Balindra/ Nashih)

  • 5 Adab Membaca Alquran, dari Kebersihan Jasmani Hingga Rohani

    Alquran adalah kalam Allah ﷻ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara malaikat Jibril. Kitab suci utama dalam agama islam ini yang dijadikan pedoman dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, terdiri dari beberapa surat dan pada setiap surat nya terdiri dari beberapa ayat.

    Menurut guru besar ilmu tafsir di Universitas Umm Al-Qura Arab Saudi, Prof Muhammad Ali ash-Shabuni, Alquran didefinisikan sebagai firman dari Allah ﷻ yang tidak ada tandingannya, diturunkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ yang merupakan penutup para nabi dan rasul melalui perantara malaikat Jibril. Alquran ditulis pada mushaf-mushaf dan lalu disampaikan kepada kita penerus umat secara mutawatir. Sementara itu, membaca, dan memahami Alquran bernilai ibadah.

    Alquran memiliki kebenaran secara mutlak, kebenarannya tidak perlu diragukan lagi oleh orang-orang yang beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir. Kitab Alquran merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, ilmu dalam mempelajari Alquran adalah sebaik-baiknya ilmu dan lebih diutamakan dibanding ilmu yang lain. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:
    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
    “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

    Adapun sebagai seorang Muslim yang baik, sebelum membaca atau bahkan mempelajari Alquran sangat perlu dalam memperhatikan adab-adabnya. Apa saja adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim untuk mendapatkan kesempurnaan dalam membaca Alquran ? Berikut ini adab-adabnya

    1. Memulai membaca Alquran dengan isti’adzah.
      Kalimat isti’adzah atau taawudz merupakan sebuah doa untuk memohon penjagaan dan perlindungan dari godaan setan. Allah ﷻ berfirman:
      فَاِ ذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰ نَ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
      “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Alquran , mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An Nahl ayat 98)
    2. Membaca Alquran dalam keadaan suci, duduk dengan sopan dan tenang.
      Ketika membaca Alquran seorang Muslim dianjurkan dalam keadaan suci dari najis Baik itu badan, pakaian, maupun tempat membaca Alquran harus terbebas dari najis. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
      لَّا يَمَسُّهٗۤ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ
      “tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.” (QS Al Waqiah ayat 79)
      Selain itu, walaupun membaca Alquran dengan berdiri atau berbaring tetap mendapatkan pahala, akan tetapi adab duduk dengan sopan dan tenang lebih utama.
    3. Membaca dengan tartil
      Membaca dengan tartil (pelan) dan tidak terburu-buru, agar dapat menghayati setiap ayat yang dibaca. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
      اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰ نَ تَرْتِيْلًا
      “atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS Al Muzzammil ayat 4)
    4. Membaca Alquran dengan khusyuk, dengan menangis karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca sehingga dapat menyentuh jiwa dan perasaan, serta membaguskan suara ketika membaca Alquran .
    5. Membaca Alquran dengan tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah, seperti contohnya tidak mengganggu yang sedang shalat, serta tidak membacanya dengan suara yang terlalu keras atau ditempat yang banyak orang. Bacalah Alquran dengan suara yang lirih dan khusyu’. Rasulullah ﷺ bersabda:
      أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ
      “Ingatlah bahwasannya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Alquran ) atau ketika dalam sholat.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi, dan Hakim).
      Adab-adab tersebut merupakan patokan bagi seorang Muslim untuk mendapatkan kesempurnaan dalam membaca Alquran . Dengan demikian, diharapkan agar setiap Muslim selalu menjaga adabnya dalam mempelajari ataupun membaca kitab suci Alquran . Dimana kitab suci ini merupakan petunjuk bagi seluruh manusia untuk menempuh jalan kebenaran yang akan membawa kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
      (Abi Rachman A.P/ Nashih)
  • Musibah Semeru dan Solidaritas Kita

    Sudah dua tahun lebih Indonesia diterpa berbagai musibah dan cobaan berupa bencana alam dan bencana nonalam. Beragam kesusahan dirasakan masyarakat kita selama masa itu pula. Krisis ekonomi dan pembatasan sosial akibat wabah Covid-19 yang tidak kunjung usai, musibah alamiah atau buatan manusia yang juga tidak pernah usang.

    Kabar duka datang dari gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021) di Lumajang, Jawa Timur. Banyak saudara kita menjadi korban dalam bencana tersebut, baik korban luka, bahkan sampai meninggal dunia. Hingga saat ini, Selasa (07/12), berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga tulisan ini diturunkan, sudah terdapat 45 warga yang meninggal dunia dan 9 warga dinyatakan hilang.

    Bencana alam, termasuk letusan gunung merapi, menjadi suatu keniscayaan dalam fenomena hidup yang terjadi secara alamiah atas kehendak Allah ﷻ. Meskipun tidak dinafikkan, di samping adanya kehendak tuhan, terdapat arogansi kemanusiaan yang menjadi sebab terjadinya suatu bencana alam.

    Fenomena letusan Semeru kemarin ada kalanya diletakkan sebagai presedensi dengan nuansa hikmah-hikmah. Manusia harus mampu mereguk pelajaran di balik terjadinya letusan itu. Ada banyak sekali motivasi sebagai renungan diri menjadi manusia yang sempurna (al-insan al-kamil).

    Misalnya, sebagai media intropeksi diri (muhasabah) dengan melihat relasi kausal kehidupan makhluk yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga perbuatan manusia, baik dan buruknya, akan memliki dampak yang berarti bagi sesama, makhluk dan alam sekitarnya.

    Menurut Sekretaris Jendral MUI, Buya Amirsyah Tambunan, kita tidak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Musibah adalah suatu ujian bagi keimanan seseorang. Melalui ujiannya itu, kadar keimanan dan konsistensi penghambaan manusia kepada Tuhannya mesti kembali dipertanyakan. Maka musibah itu harus disikapi dengan sabar dan penuh hikmah karena setiap musibah terdapat pesan Allahﷻ. yang disampikan kepada umat-Nya.

    Manusia yang lupa kepada Allah ﷻ. akan mengeluh dengan segala hal yang menimpanya. Sebaliknya, orang yang selalu mengingat Tuhan dalam setiap jengkal langkah akan terus mendekatkan diri (taqarruban) kepada Sang Pencipta.

    Di sana letak kearifan seorang Muslim yang selalu bisa memberikan nilai positif dan bingkai maknawi terhadap fenomena alamiah yang dikendaki Tuhan untuk terus meningkatkan ketakwaan. Lebih jauh, letusan semeru kembali memperlihatkan ikatan erat persaudaraan (ukhuwah islamiyah) melalui kepedulian dan tanggung jawab bersama.

    Ajaran saling tolong-menolong (ta’awun) terhadap sesama bukan hal baru dalam Islam. Banyak sumber secara literal yang termaktub dalam Alquran maupun sunnah Rasulullah ﷺ untuk menuntun kita berwelas asih kepada saudara kita di kala berada dalam kesulitan. Dalam Alquran surat Al Maidah ayat 2 misalnya dijelaskan sebagai berikut:
    وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
    “…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al Maidah ayat 2)

    Dalam ayat potongan kalimat ayat di atas, Allah ﷻ dengan tegas menyeru kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan, dan melarang membantu sesama dalam berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya.

    Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar, memantik makna ta’awun yang terdapat dalam potongan ayat di atas adalah perintah Tuhan untuk membina kepedulian di antara sesama dalam membina kebaikan (al-birru), mengerjakan sesuatu yang berfaedah dan meningkatkan ketakwaan. Di saat bersamaan pula Allah ﷻ. melarang manusia bertolong-menolong dalam berbuat dosa yang menimbulkan permusuhan dan menyakiti sesama. Terdapat juga hadits Nabi ﷺ yang dalam riwayat Imam Muslim:

    عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله عليه وسلم : من نفس عن مسلم كربة من كرب الد نيا نفس
    الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الد نيا واالخرة ومن ستر مسلما
    ستره اهلل في الد نيا واالخرة والله في عون العبد ما كان العبد في عون اخيه
    [اخرجه مسلم ]

    Artinya : “Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan- kesusahan di dunia, niscaya Allah melepaskan dia dari kesusahan- kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa memberi kelonggaran kepada seorang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran- kelonggaran baginya di dunia dan akhirat, dan barang siapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah menutup menutup aib dia di dunia dan akhirat. Dan Allah selamanya menolong hamba- nya, selama hambanya menolong saudaranya. ” ( HR Muslim)

    Dalam hadits tersebut disebutkan Rasulullah ﷺ bahwa antara Muslim yang satu dan yang lainnya adalah saudara. Kewajiban untuk saling menolong dan larangan menganiaya terhadap sesama jelas termaktub di dalamnya.

    Allah ﷻ sendiri akan menyiapkan balasan yang melebihi kadar kemanfaatan dan kemudharatan yang diberikan seseorang kepada saudaranya, baik berupa perhatian, bantuan di kala kesulitan atau menutupi aib yang terdapat pada saudaranya.

    Penerapan ajaran tolong-menolong dapat kita jumpai di letusan gunung Semeru. Di tengah kecamuk kepentingan individu, berdasarkan pertalian ukhuwah keislaman, relung hati seorang muslim tergerak mengulurkan tangan untuk mengentaskan kesulitan saudaranya akibat bencana alam.

    Melalui semangat ungkapan “Pray For Semeru”, “Pray For Lumajang”, atau “Open Donasi” yang terpajang di pamflet-pamflet menyesaki media sosial (medsos) sebagai bela sungkawa dari latar organisasi dan institusi yang beragam, mulai dari yang statusnya akademisi, politisi sampai relawan sosial kemasyarakatan, bersama-sama berada dalam ikhtiyar munajat doa dan pengumpulan donasi untuk membantu saudara kita di Lumajang sana. (A Fahrur Rozi/ Nashih)

  • 5 Aspek Sabar yang Disebutkan dalam Alquran

    Kata sabar dengan berbagai derevasinya, sebagaimana dikutip dari Al-Mu’jam Al Mufahras li Al Fazhil Qu’an, disebutkan lebih dari 100 kali dalam Alquran. Tak heran pembahasan mengenai sabar mendapat perhatian besar dari para ulama, seperti Imam Al Ghazali dalam kitab Ihyâ ‘Ulûmiddîn, Ibnul-Qayyim dalam kitab Madârijus-Sâlikîn dan Abu Thalib Al Makki dalam kitab Qût al-Qulûb.

    Hal tersebut merupakan respons dari tingginya perhatian Alquran terhadap sabar. Bahkan jika seseorang ingin mencapai derajat yang tinggi dalam kehidupan,  secara materi maupun maknawi harus diiringi sikap sabar.

    Sabar memiliki porsi penting bagi manusia, sebab sejak penciptaannya selalu penuh dengan tantangan. Dalam firman-Nya tergambar kesulitan yang dialami manusia sejak awal:
    لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
    “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS Al Balad ayat 4)

    Lafaz kabad dalam Bahasa Arab, sebagaimana yang dikemukakan Al Ashfahani dalam kitab Mufradât Gharîb al-Qur′ân, bermakna kesulitan. Menurutnya penggunaan kata tersebut mengisyaratkan bahwa diciptakannya kehidupan manusia tidak terpisah dengan kesulitan dan penderitaan. Hal tersebut terjadi jika tidak dihadapi dengan usaha menembus segala
    rintangan dan tantangan.

    Secara umum, aspek sabar mencakup dua hal, yaitu sabar dalam menghadapi penderitaan dan sabar dalam menghadapi kesenangan. Berikut terdapat lima aspek sabar yang dapat disimpulkan dari penjelasan Alquran:
     

    1. Sabar terhadap cobaan dunia
      Aspek sabar pada tingkat ini akan dialami semua kalangan, baik atau jahat, mukmin atau kafir, pemimpin atau rakyat yang dipimpinnya. Karena cobaan merupakan bagian dari dinamika hidup manusia, firman Allah SWT:
      وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
      “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah ayat 155).
       
      Ayat tersebut menjelaskan agar cobaan yang telah Allah berikan harus dihadapi dengan sabar. Selanjutnya sikap sabar yang dimaksud ada pada ayat berikutnya:
      اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
      “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS Al Baqarah ayat 156)
       
      Cara menghadapi cobaan yaitu dengan mengucapkan al-istirjâ:
      اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
      “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.”
       
      Ungkapan ini menurut Al Alusi dalam Rûh al-Ma’âni, tak hanya melalui lisan, melainkan juga dengan hati. Hal tersebut dilakukan dengan menanamkan dalam hati ma‘rifatullâh atau mengenal Tuhan dan berusaha menyempurnakan jiwa yang menjadi tujuan ia diciptakan Allah SWT.
       
    2. Sabar terhadap dorongan hawa nafsu
      Allah SWT menciptakan manusia dengan tabiat mencintai kesenangan dan kenikmatan duniawi, hal tersebut termaktub dalam sura  Ali Imran ayat 14-15. Tak hanya itu, Allah SWT menguji manusia tak hanya dengan penderitaan tetapi juga dengan kesenangan, firman-Nya:
      كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
      “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al Anbiya ayat 35).
       
      Mengutip dari Tafsir Kementrian Agama RI, ayat di atas Allah SWT menyatakan dengan tegas bahwa setiap makhluk-Nya yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Allah SWT juga menjelaskan cobaan yang ditimpakan-Nya pada manusia tidak hanya berupa musibah yang tidak menyenangkan, tetapi dapat berupa bantuan ataupun kesenangan. 
       
      Apabila cobaan itu berupa musibah, maka bertujuan untuk menguji sikap dan hidup manusia, apakah akan bersabar dan bertawakal dalam menghadapi cobaan tersebut. Namun, jika cobaan berupa suatu kebaikan, maka tujuannya untuk menguji sikap mental manusia, apakah akan bersyukur atas segala rahmat yang dilimpahkan atau justru malah kufur kepada Allah SWT.
       
    3. Sabar dalam menjalankan Ketaatan pada Allah SWT
      Firman Allah dalam Alquran:
      رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا ࣖ
      “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (Q S Al Anbiya ayat 65)
       
      Dalam Tafsir Kementerian Agama RI, ayat tersebut dimulai dengan penegasan bahwa Allah merupakan penguasa langit dan bumi beserta isinya. Oleh sebab itu sebagai makhluk yang diciptakan oleh-Nya diwajibkan untuk menyembah Sang Pencipta melalui beribadah.
       
      Perintah bersabar pada ayat tersebut diungkapkan dengan lafaz isthabir dengan shighat kata kerja perintah untuk melakukan sesuatu dengan lebih maksimal. Penggunaan partikel lâm (li) dalam ungkapan di atas mengandung pengertian keberlangsungan secara terus menerus dan permanen dalam menunaikan ibadah.
       
      Tak bisa dimungkiri, ibadah memerlukan kesabaran, sebab ibadah memiliki banyak tingkatan menahan diri. Sehingga terkadang bisa dilakukan seseorang dengan baik dan terkadang tidak. Di sinilah peran penting keteguhan hati dan tekad yang kuat.
       
    4. Sabar terhadap gangguan orang kafir
      Firman Allah SWT dalam Alquran:
       لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
      “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (QS Ali Imran ayat 186)
       
      Ayat di atas memberikan peringatan bahwa cemoohan dan pelecehan dari musuh-musuh Islam akan selalu terjadi dan tidak akan berhenti.
       
      Menurut M Quraish Shihab dalam bukunya “Ayat-Ayat Fitnah, Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka” mengungkapkan  perintah bersabar pada ayat di atas bukan berarti menerima penghinaan dan berlagak memaafkan.
       
      Sabar merupakan menahan gejolak emosi demi meraih apa yang baik bahkan lebih baik. Pencapaian tersebut tak dapat dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki mental yang kuat.
       
    5. Sabar dalam menjalin hubungan sosial
      Sabar dalam beretika dan berhubungan sosial
      Salah satu hal yang membedakan antara orang beradab dan tidak yaitu sejauh mana ia mampu menahan diri, mengendalikan emosi, dan bisa menjaga perasan orang lain. 
       
      Alquran merekam sikap orang yang tidak beradab melalui perilaku orang-orang Arab Badui yang memanggil Rasulullah SAW dengan suara keras dan sikap tidak sopan dari balik kamar istri-istri beliau. Meskipun sikap tersebut ditolerir karena ketidaktahuan, namun Alquran mengecam mereka dengan sebuah teguran, dalam firman-Nya:
      اِنَّ الَّذِيْنَ يُنَادُوْنَكَ مِنْ وَّرَاۤءِ الْحُجُرٰتِ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ (١) وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
      “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Mahapengampun, Mahapenyayang.” (QS Al Hujurat ayat 4-5)
       
      Di dalam Alquran juga termaktub mengenai berhubungan sosial lainnya, seperti antara pasangan suami istri. Hubungan suami istri tak akan berjalan langgeng tanpa didasari kesabaran dari kedua belah pihak, khususnya untuk mengedepankan akal dari pada perasaan dan tidak diperbudak hawa nafsu. Firman Allah SWT:
      ..وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
      “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya” (QS An Nisa ayat 19).
       
      Tak hanya itu, sabar juga diperlukan dalam menjalin hubungan antara anak dengan orang tua, antar tetangga, bahkan antara guru dan murid. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya, karenanya menjalin hubungan yang baik dengan kesabaran merupakan kunci bermasyarakat yang madani. Wallahu’alam (Isyatami Aulia/ Nashih).
       
  • Mengapa Islam Ajarkan Berbuat Baik kepada Binatang?

    Binatang adalah salah satu mahkluk hidup yang eksis di muka bumi. Sebagai makhluk hidup yang beragam, cara hidup dan berkembang binatang berbeda-beda bergantung ekosistem dan komunitasnya.

    Hewan primata seperti orang utan misal, tentu memiliki ekosistem tempat tinggal tersendiri seperti di kawasan hutan. Hewan mamalia seperti lumba-lumba pun, punya ekosistem hidup yang luas seperti di lautan samudera. Hewan lainnya yang tergolong sebagai hewan ternak, liar, atau peliharaan seperti kucing dan anjing sekali pun, memiliki cara hidup yang berbeda yang harus kita jaga dan lindungi. Sebab sebagai makhluk hidup, terdapat hak-hak hewan yang harus terpenuhi sebagai upaya perlindungan agar kelayakan hidupnya tidak disepelekan manusia. Maka itu penting untuk memperhatikan bagaimana etika dan akhlak terhadap binatang.

    Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 10 yang berbunyi:
     
    خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
    “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan Dia memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”

    Ayat di atas mengindikasikan tiga hal yaitu pertama bahwa Allah SWT memberikan karunia berupa gunung sebagai titik penyeimbang bumi, kedua terdapat proses reproduksi pada berbagai jenis binatang, dan ketiga dengan turunnya hujan maka segala macam tumbuhan berkualitas dapat kita tuai. Ketiga unsur penyeimbang ekosistem hidup di muka bumi itu adalah anugerah dari Allah SWT.

    Dalam buku Konservasi Alam dalam Islam, Fachruddin M Mangunjaya, mengatakan bahwa melalui ayat tersebut Islam memberi pandangan yang lugas dan tegas bahwa semua makhluk hidup yang ada di bumi adalah karunia. Tentunya, karunia tersebut harus dipelihara dengan baik. Manusia sebagai khalifatullah bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan makhluk hidup.

    Rasulullah SAW sendiri dalam buku yang sama diceritakan memiliki komitmen memperlakukan makhluk hidup, dalam hal ini binatang, dengan sangat baik.
    قال ابن مسعود كنا مع رسول الله في سفر فانطلق لحاجته، فرأينا حُمرَة «طائر صغير» معها فرخان، فأخذنا فرخيها، فجاءت الحمرة فجعلت تُعَرِّشُ «ترفرف بجناحيها»، فجاء صلى الله عليه وسلم، فقال: «من فجع هذه بولدها؟، ردوا ولدها إليها»،
    Suatu ketika, saat Rasulullah bepergian dengan sahabatnya Ibnu Mas’ud,  di perjalanan itu ada sahabat yang melihat seekor burung dengan dua anaknya. Lantas dengan sengaja ia mengambil kedua anak burung tersebut, dan tentu saja induk burung seketika kebingungan dan terbang mengiringi rombongan Rasulullah SAW. Ketika itulah Rasulullah SAW bersabda:

    “Siapakah yang menyusahkan burung ini dan mengambil anaknya? Kembalikan anak-anaknya padanya.”

    Dari riwayat tersebut, dapat kita simpulkan bagaimana Rasulullah amat baik dan penuh kasih sayang dalam memperlakukan binatang. Hal kecil seperti sahabat yang mengerjai burung saja, Rasulullah SAW tegur dengan bijak.

    Riwayat lain terdapat dalam kitab Fathul Bari, melalui penjelasan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani tentang perintah Rasulullah untuk berbuat baik kepada binatang. Hal itu disampaikan dalam hadits Imam Bukhari berikut ini:
     
    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

    “Sesungguhnya Rasulullah SAW berkata, “Suatu ketika seorang laki-laki berjalan, lalu dia sangat kehausan, lalu dia turun ke sebuah sumur dan minum dari sumur itu. Kemudian dia keluar, seketika dia melihat anjing menjulurkan lidahnya menggigit tanah basah karena haus.
    Lalu laki-laki itu berkata, “Sungguh aku telah merasakan apa yang dirasakan anjing ini.”

    Lalu dia mengisi muzahnya kemudian memegangnya dengan mulutnya. Lalu dia naik (dari dalam sumur ke atas sumur). Lalu memberi minum anjing itu. Maka, Allah memuji kelakuannya itu dan mengampuninya.

    Para sahabat berkata, “Apakah bagi kami dalam berbuat baik pada hewan itu ada pahala?” Rasulullah menjawab, “(Berbuat baik) kepada setiap makhluk hidup itu berpahala.”” (HR Imam Bukhari)

    Intisari dari hadits tersebut meliputi dua hal yaitu pertama perilaku menolong seekor binatang adalah perbuatan terpuji di hadapan Allah SWT, dan karenanya Allah SWT beri ampunan. Kemudian perbuatan baik kepada binatang juga bernilai pahala. Sebab itu menjaga dan berbuat baik kepada binatang perlu kita lakukan. (Dimas Fakhri Br/Nashih)

  • Kiai Cholil: 9 Kriteria Keagamaan Islam Wasathiyah Penting Kita Terapkan

    JAKARTA— Islam wasathiyah menjadi arus utama dakwah dan pergerakan Majelis Ulama Indonesia. Apa sajakah ciri-ciri umat wasathan (umat jalan tengah atau moderat)?

    Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, menjelaskan terdapat sembilan ciri Islam jalan tengah atau umat washathan yang dirumuskan melalui Taujihat Surabaya pada Munas MUI 2015 lalu yaitu pertama, berada pada jalan tengah, yaitu antara berlebih-lebihan dalam beragama dan mereka yang mengurangi ajaran agama.

    Kedua, keseimbangan dan tegas sehingga dapat dibedakan antara penyimpangan (inhraf) dan perbedaan (ihktilaf). Ketiga, mengutamakan keadilan dan bertindak secara proposional.

    Keempat, mengedepankan prinsip musyawarah dengan prinsip menempatkan kemaslahatan umum di atas segalanya.

    Kelima, mengutamakan prinsip reformatif (islahi) dengan berpijak pada kerangka nilai dan mengakomodasi kemajuan zaman.

    Keenam, pengutamaan prinsip tasamuh.

    Ketujuh, bersikap egaliter (musawah) dalam muamalah dan hukum. Kedelapan, memegang prinsip aulawiyah (prioritas). Kesembilan, memperhatikan perkembangan zaman.

    Dia mengatakan, dasar mengenai Islam wasathiyah termaktub dalam pada ayat 143 surah Al Baqarah yang berbunyi:
    وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ
    “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….”
    Kiai Cholil mengutip pidato Kiai Miftachul Akhyar pada penutupan Munas ke-10 MUI pada 2020 bahwa dakwah harus dengan cara yang ramah, mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, serta membela bukan mencela
    “Apa yang disampaikan Kiai Miftach pada penutupan Munas tahun 2020 kemarin bisa dijadikan kerangka awal metode dakwah Islam wasathi. Terlebih bahasa tersebut dengan mudah dan sering ditemui di media sosial,” kata Kiai Cholil dalam webinar “Dakwah Islam Wasathiyah bagi Pengurus MUI dan DKM Masjid se-Kabupaten Ciamis”, pada Selasa (30/11) lalu, sebagaimana dikutip MUIdigital, Jumat (3/12).

    Tak hanya itu, Kiai Cholil menjelaskan landasan untuk menyuguhkan dan menghadirkan wajah dakwah yang menyenangkan bersandar pada hadits Nabi Muhammad ﷺ, yaitu:
    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
    “Nabi ﷺbersabda, “Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kalian mempersulitnya, buatlah mereka tenang dan jangan membuat mereka lari.” (HR Bukhari).

    Menurut Kiai Cholil, pengamalan yang baik dari hadits di atas mampu membuat orang datang mendengarkan apa yang disampaikan sehingga beragama menjadi lebih tenang dan menyenangkan.

    Lebih lanjut, menurut Kiai Cholil dalam konteks bernegara, Indonesia masuk kedalam substansialistik dan kontekstualistik dalam beragama. Substansinya yaitu dengan menerapkan agama sebagai inspirasi, sedangkan formalistiknya adalah sebagai teksutual seperti beberapa peraturan perundang-undangan.

    “Kita bukan negara agama melainkan kita bukan negara yang anti agama. Oleh karena itu, ketika menyikapi Pancasila sebagai dasar negara, agama menduduki inspirasi dan aspirasi. Inspirasi untuk membentuk negara, aspirasinya terletak pada formalisasi syariah,” katanya.

    Dari sini, Kiai Cholil menekankan agama harus menjadi sumber untuk peningkatan peradaban, bukan sebagai identitas kelompok sosial sehingga kehadiran agama yang berbeda-beda tidak dimaknai sebagai ancaman antarkelompok keagamaan itu sendiri.
    (Isyatami Aulia/ Nashih)

  • Adab-Adab Bangun Tidur Menurut Imam Ghazali

    Bangun tidur merupakan aktivitas yang dilakukan setiap orang, karena memang pada dasarnya manusia membutuhkan tidur setiap harinya sebagai cara memulihkan energi setelah berjam-jam melakukan aktivitas melelahkan seperti bekerja ataupun lain-lain.

    Bangun tidur juga merupakan salah satu nikmat yang harus disyukuri karena kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan esok dan memperbaiki perilaku jelek sehingga masih ada sisa hidup dalam pengampunan dosa.

    Dalam Kitab Bidayat al-Hidayah karya Imam Abu Hamid Al Ghazali sudah diterangkan tentang adab seorang Muslim ketika ia bangun dari tidurnya. Berikut ini adab-adab tersebut:

    1. Berusaha sebisa mungkin untuk bangun sebelum subuh. Dalam hadistnya, Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan umatnya untuk memaksimalkan ibadah pada Allah di malam tersebut.
      يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَلَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
      Artinya: “Rabb kita, tabaroka wa ta’ala, turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Aku ampuni’.” (HR Bukhari).
    2. Berbicara pertama kali dalam mulut dan hatinya adalah dzikir kepada Allah. Dzikir adalah kegiatan ibadah untuk mengingat Allahﷻ.
      Dzikir artinya mengingat, memperhatikan, mengenang, mengambil pelajaran. Menyebut dan memuji nama Allah ﷻ merupakan kewajiban yang diperintahkan dalam Alquran.
    3. Berdoa ketika bangun dari tidur dengan doa sebagai berikut:
      الْحَمْدُ للهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ للهِ وَالْعُظْمَةُ وَالسُّلْطَانُ ِللهِ وَالْعِزَّةُ وَالْقُدْرَةُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مَحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. أَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحَيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ. أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَبْعَثَنَا فِى هَذَا الْيَوْمِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ وَنَعُوْذُ بِكَ أَنْ نَجْتَرِحَ فِيْهِ سُوْأً أَوْنجْرِهِ إِلَى مُسْلِمٍ أَوْ يُجْرِهِ أَحَدٌ إِلَيْنَا. نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا فِيْهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ

    Latin: Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyuri, ashbahna wa ashbahal mulku lillahi wal udhmati was sulthani lillahi wal ‘izzati wal qudrati lilla Rabbil ‘alamina ashbahna wa ‘ala fithratil Islami wa ‘ala kalimatil ikhlashi wa ‘aladini Nabiyyina Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallama wa ‘ala millati abina Ibrahimi hanifan musliman wa makana minal musyrikina. Allahumma bika ashbahna wa bika amsaina wa bika nahsa wa bika namutu wa ilaikan nusyuri. Allahumma inna nas’aluka an tab’atsana fi hadzal yaumi ila kulli khairan wa na’udzubika an najtariha fihi su’an a najrihi il Muslmin aw yujirhu ahadun ilaina. Nasulaka khira hadzal yaumi wa khaira mafiihi wa na’udzubika min syarri hadzal yaumi wa syarra ma fihi.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nyalah kami kembali. Aku memasuki pagi, sedang kekuasaan tetap hanyalah milik Allah, kemuliaan dan kekuasaan milik Allah pula. (Dialah) Tuhan seru sekalian alam. Aku menyongsong pagi dengan kesucian Islam dan dengan kalimat ikhlas (syahadat) serta dengan agama (yang dibawa) Nabi Muhammad ﷺ.

    Juga dengan agama Bapak kami Ibrahim dengan berserah diri, serta bukanlah kami termasuk golongan orang-orang musyrik. Ya Allah dengan-Mu lah kami memasuki pagi dan sore, dengan-Mu lah kami hidup dan mati dan kepada-Mu lah kami kembali. Ya Allah kami mohon bangkitkanlah kami di hari ini pada kebaikan. Dan kami berlindung kepadamu dari mengerjakan keburukan ata mempekerjakan orang Islam pada keburukan dan dipekerjakan orang untuk keburukan. Aku meminta kepada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan yang ada di dalamnya serta memohon perlindungan dari kejelekan hari ini dan kejelekan yang ada di dalamnya.”

    Selain, tiga Adab dari Imam Al Ghazali di atas, secara umum kita juga dianjurkan agar mencuci wajah dan tangan sebelum melakukan aktifitas lainnya. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:

    إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي وَضُوئِهِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
    “Jika ada seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum dia mencucinya tiga kali. Sebab dia tidak mengetahui di mana letak tangannya semalam.”

    Selain daripada itu, kita juga dianjurkan untuk membersihkan mulut dan gigi dengan siwak atau sikat gigi. Anjuran ini sangat penting diperhatikan juga oleh karena ketika kita sedang tidur bau mulut biasanya berubah, dikarenakan uap dari perut naik.

    Dalam kondisi demikian, bersiwak atau sikat gigi akan sangat membantu menghilangkan bau yang tidak sedap dari mulut. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Hudzaifah ibn Yaman bercerita, “Biasanya Nabi ﷺ jika bangun di malam hari beliau menggosok-gosok mulutnya dengan siwak.” (Nina Nurjannah/Nashih)

  • Imam Asy Syathibi, Pakar Alquran yang Tunanetra Sejak Kecil

    Allah ﷻ menciptakan manusia dengan berbagai kenikmatan, salah satunya yaitu penglihatan. Namun justru nikmat yang besar itulah kadang jarang disadari oleh manusia.

    Allah ﷻ telah memberikan peringatan dengan firman-Nya bagi siapa yang bersyukur maka akan ditambah kenikmatan dari-Nya. Sedangkan bagi siapa yang mengingkarinya, maka tak lain akan mendapatkan azab yang pedih, firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:
    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
    “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

    Namun, tidak semua manusia diberikan kenikmatan yang lengkap, di antaranya yaitu kenikmatan penglihatan. Hal tersebut bukan berarti Allah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Akan tetapi yang demikian merupakan salah satu cobaan dan bentuk kasih sayang-Nya.

    Salah satu ulama yang lahir dalam keadaan tunanetra yaitu Imam Asy Syathibi Al Andalusi. Meskipun terlahir dengan keadaan tidak bisa melihat, dia dikenal sebagai seorang ulama besar dalam bidang ilmu qiraat pada zamannya.

    Imam Asy Syathibi memiliki nama lengkap Abu Al Qasim bin Fîrruh bin Khallaf bin Ahmad Asy Syathibi Ar Ru’aini. Asy Syathibi lahir di kota Xativa (Syathibah) Spanyol, sebuah kota di Andalusia di pengujung 538 H/1143 M.

    Ia wafat di Mesir pada hari ahad setelah sholat ashar, 28 Jumadil Akhir tahun 590 H di usia 52 tahun. Ia disemayamkan di pemakaman Al Fadhil Abdurrahman Al Bisani, tepatnya di kaki gunung Al Muqatam, Mesir.

    Dalam kitab Nakt Al-Himyan fi Nukat Al-‘Umyan karya Salahuddin Khalil Ash Shafadi merupakan kitab yang khusus membahas mengenai kelebihan orang-orang hebat dan terkenal namun tunanetra. Salah satu tokoh ulama yang ia sebutkan yaitu Imam Asy Syathibi.

    As Shafadi dalam kitabnya menyebutkan bahwa kebanyakan orang tunanetra mempunyai kecerdasan di atas rata-rata orang pada umumnya. Menurutnya, mempunyai kemampuan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan orang normal sehingga mereka memiliki tingkat fokus yang maksimal melebihi orang lain pada umumnya.

    Perjalanan intelektual
    Dalam bidang keilmuan, Asy Syathibi tak hanya pakar dalam ilmu qiraat, beliau juga menguasai berbagai disiplin ilmu seperti keislaman, tafsir, hadis, dan sastra Arab.

    Dalam kitab Tarikh al-Islam wa Wafiyat al-Masyahir wa al-A’lam, Imam Adz Dzahabi menyifati Asy Syathibi dengan berbagai macam gelar di antaranya, imam yang sangat alim, muhaqqiq yang cerdas dan jeli, kuat hafalannya, berpengetahuan luas, ahli dalam bidang qiraat dan hujjah-hujjahnya, serta seorang panutan, zuhud, ahli ibadah yang taat kepada Tuhannya.

    Pada awalnya ia belajar ilmu qiraat di kepada Abu Abdillah Muhammad bin Abul ‘As An Nafari di negerinya sendiri. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada Imam Abu ‘Amr Ad Dany, seorang ulama besar penulis kitab tentang qiraat saba’ah yaitu at-Taisîr fi Sab’i al-Qirâ’ât, yang sebelumnya telah ia hafal, di Kota Balansia.

    Tak hanya itu, beliau juga berguru dan mendengar periwayatan hadis dari Imam Abu Al Hasan Hudzail. Ia juga belajar kepada Abu Al Hasan Al Nikmah, Abu Abdillah bin Sa’adah, Abu Hasan Alinim Hani Al Umari, Abu Muhammad bin Asyir Abu Abdillah bin Abdurrahim, Alim bin Abdul Aziz dan Abu Abdillah bin Hamid dan masih banyak lagi guru beliau baik dari Spanyol, Mesir hingga Makkah.

    Karya-karya

    Salah satu kontribusi besar Asy Syathibi yaitu karya-karyanya yang mampu memudahkan para pengaji ilmu qiraat Alquran. Karya-karyanya tersebut diapresiasi dan terus dipelajari baik oleh generasi pada masanya maupun sesudahnya.

    Kitab Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani fi al-Qira’at al-Sab’i yang lebih masyhur dengan matan Asy Syathibi merupakan salah satu karyanya yang paling monumental hingga kini dalam bidang ilmu Qiraat. Ia merampungkan kitab tersebut saat menjadi guru besar qiraat pada Madrasah tempatnya mengajar di kawasan Mulukhia, Kairo, Mesir.

    Di sana pula, ia berhasil menyelesaikan karyanya yang lain seperti ‘Aqilatu Atrabil Qasâid fi Asnal Maqâsid, Nâzimatuz Zahr, serta ringkasan kitab at-Tahmid (Syarh al-Muwatha’).

    Karenanya tak heran jika para ulama memberikan banyak perhatian terhadap karyanya yang fenomenal yaitu matan Asy Syathibi, hingga Imam Al Jazari berkomentar dalam kitabnya Ghayat al-Nihayat fi Thabaqat al-Qurra’, mengenai kitab tersebut:

    “Barangsiapa yang mempelajari qashidah Imam Asy Syatibi ini, maka ia akan tahu kadar anugerah yang Allah berikan kepadanya. Terlebih, qashidah al-Lamiyah (matan Syatibi) yang banyak para pakar sastra setelahnya bahkan tidak mampu menandinginya. Kitab ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dan sangat terkenal, sehingga saya tidak tahu selain kitab ini.
    Bahkan (hampir saya mengatakan) selain disiplin ilmu ini tidak ada yang seterkenal kitab ini, saya setiap Negara pasti akan ditemukan naskah kitab ini, bahkah disetiap rumah para penuntut ilmu pasti ada naskah kitab ini.”

    Kehidupan yang sangat sederhana menjadikan Imam Asy Syathibi mengabdikan seluruh hidupnya untuk keilmuan khususnya dalam bidang qiraat. Ia selalu dalam keadaan suci sepanjang waktu, jikalau berhadas segera mengambil air wudhu.

    Tak hanya itu, ia dikenal seorang yang pendiam dan hanya berbicara untuk persoalan penting saja terutama dalam bidang ilmu. Tidak heran kalau Asy Syathibi dianggap sebagai wali Allah ﷻ oleh para muridnya.

    Kendati tidak dikaruniai penglihatan oleh Allah ﷻ, namun Imam Asy Syathibi membuktikan bahwa tingkat kualitas diri tergantung pada manusia tersebut. Apakah ia mau menggali dalam serta luasnya ilmu Allah ﷻdengan segala karunia yang telah diberikan-Nya.

    Kelebihan tidak menjadi penghalang, justru menjadi ladang rahmat yang Allah ﷻ berikan bagi hamba-Nya. Rasa syukurlah yang menjadikan setiap rahmat dan karunia Allah terus ditambahkan hingga melampaui kekurangan yang dimiliki. Wallahu’alam. (Isyatami Aulia/ Nashih).

  • Selamat Jalan Bu Prof Huzaemah

    Oleh: KH Sholahuddin Al-Aiyub (Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal)

    Kabar duka itu akhirnya datang juga. Jumat (23/07) pagi ini tersiar kabar Prof Huzaemah Tahido Yanggo berpulang ke Rahmatullah setelah sebelumnya dirawat intensif di RSUD Serang,  Banten. Berbagai ikhtiar untuk kesembuhan telah diupayakan maksimal oleh tim dokter, keluarga, kolega dan murid-murid beliau. Semua mengupayakan ketersediaan obat yang sedang sangat langka di pasaran. Dengan berbagai upaya, alhamdulillah, obat yang dimaksud kemarin bisa didapatkan. Tetapi ajal memang sebuah misteri. Tidak ada yang bisa mengetahui kapan datangnya. Ia sudah termaktub pasti di azali. Upaya dan ikhtiar apapun yang telah dilakukan, jika saatnya tiba, maka tak ada daya ataupun upaya yang dapat memundurkan atau memajukannya. Setelah harapan itu kembali menebal karena memeroleh obat yang sangat dibutuhkan, tapi ternyata Allah lebih menyayangi beliau. Allah SWT memanggil beliau pulang tepat pada Jumat yang sangat penuh berkah. Mungkin ini adalah hal terbaik dan tanda bukti kasih sayang Allah kepada Bu Prof Huzaemah. Bu Prof Huzaemah memang istimewa dan mungkin bisa dibilang langka. Beliau adalah perempuan Indonesia pertama yang mendapatkan gelar doktor dari Universitas Al-Azhar, Mesir dan dengan predikat cum laude. Bidang yang beliau tekuni juga terbilang langka yaitu fikih perbandingan. Bisa kita bayangkan betapa luas ilmunya di bidang fikih. Maka tidak heran jika di forum-forum nasional yang membahas tentang hukum Islam hampir dipastikan beliau terlibat. Masalah kemampuan keilmuan (kafaah ‘ilmiyah) beliau ini sudah tidak diragukan dan diketahui umum.  Itu terbukti dari berbagai posisi beliau sebagai guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Rektor Institut Ilmu Al-Quran Jakarta, pimpinan MUI, dan pengurus berbagai lembaga lain. Uniknya, beliau ini juga masuk di dalam jajaran kepengurusan PBNU sebagai a’wan. Terbilang unik karena pengurus PBNU itu pria semua. Perempuan yang aktif di NU biasanya berhimpun di Muslimat NU atau fatayat NU. Keberadaan beliau jajaran PBNU membuktikan bahwa beliau punya kapasitas keilmuan tinggi.
    Saya sudah mengenal Bu Prof Huzaemah lumayan lama. Seingat saya, sejak  2000, saat pertama kali  saya berkhidmat di MUI sebagai sekretaris Ketua Umum MUI, al-mukarram wal-muhtaram al-maghfur lahu KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Sejak saat itu sampai 2021, saya banyak berinteraksi dengan beliau. Interaksi paling intensif terjadi pada medio 2015-2020 karena beliau dan saya mengemban amanah sama. Beliau saat itu sebagai Ketua MUI dan saya sebagai Wakil Sekjen MUI yang membidangi fatwa. Selama berinteraksi dengan beliau, saya terkesan dengan beliau yang aktif sekali di usia yang tidak lagi muda. Di usia yang kini mendekati 75 tahun, level keaktifan beliau mengalahkan kami yang lebih muda. Pada beberapa acara MUI, saya bersanding dengan beliau sebagai tim perumus. Tidak jarang pekerjaan perumusan ini berlangsung sampai larut malam bahkan dini hari. Bu Prof Huzaemah tetap bersama tim dengan pikiran bernas dan semangat. Nada bicaranya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan. Usia sesepuh itu saya yakin beliau lelah, namun sama sekali tidak tampak dari beliau. Saya rasa, semangat dan ghirah beliau mengalahkan rasa lelahnya. Saya juga terkesan dengan komitmen dan tanggung jawab Bu Prof Huzaemah kala mengemban amanah. Pada beberapa penugasan MUI, ketika saya bertindak sebagai sekretaris, saya sempat kewalahan dengan semangat beliau yang menyala. Beliau sering menelepon saya mengkoordinasikan tugas-tugas tersebut. Bahkan, saat rapat daring, beliau tetap mengikuti sampai larut malam. Saya melihat itu wujud komitmen dan tanggung jawab beliau. Sebagai ulama yang sudah tinggi keilmuannya, Bu Prof Huzaemah kerap bertanya bahan materi yang harus disampaikan di sebuah forum kepada saya. Menurut saya, ini jadi satu kebanggaan tersendiri. Beliau yang secara keilmuan jauh lebih tinggi, tetapi dalam hal tertentu yang beliau kurang mengerti, beliau tidak segan bertanya. Bahkan kepada orang seperti saya yang secara umur dan keilmuan jauh di bawah beliau. Bagi saya, itu tidak akan terjadi kalau beliau bukan sosok yang punya ketawadhuan luar biasa. Di balik sosoknya yang punya keilmuan dan pengalaman tinggi, Bu Prof Huzaemah juga suka humor. Pada beberapa kesempatan, saya kerap melontarkan guyonan kepada beliau di forum terbuka. Beliau menanggapinya dengan santai dan sama sekali tidak terganggu dengan guyonan itu. Beberapa kali beliau malah menimpali dengan guyonan lain yang lebih seru. Tidak hanya dengan level pimpinan, kepada office boy (OB) di kantor MUI pun, Bu Prof Huzaemah juga kerap mengajak bercanda. Beliau benar-benar ulama yang tanpa pandang bulu. Saya memandang beliau sebagai ulama perempuan terkemuka, aktivis tulen, pendidik tekun, dan mitra yang membimbing. Di hari yang baik, beliau dipanggil Allah SWT pulang ke Rahmatullah dengan segala ilmu yang beliau miliki. Kita yang pernah berinteraksi dengan beliau, hanya bisa mengenang, mengingat, dan mendoakannya. Semoga Allah SWT lipat gandakan amal kebaikan Bu Prof Huzaemah, menghapus segala dosa, dan memasukkan beliau ke surga bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh. Amiin. Selamat jalan, Bu Prof Huzaemah
  • Doa yang Buruk, Doa yang Terlarang

    Oleh: Dra Badriyah Fayumi Lc, Ma, Wasekjen MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga
     
    Rasulullah SAW sangat tegas melarang Muslim mendoakan hal buruk kepada diri sendiri, orang lain, maupun benda. Pada sebuah hadits riwayat Muslim, dari Jabir bin Abdullah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:


    لاتدعوا على انفسكم ولا تدعوا على اولادكم ولا تدعوا على اموالكم لا توافقوا من الله ساعة يساءل فيها عطاء فيستجيب لكم

    “Janganlah kalian berdoa buruk terhadap dirimu sendiri, janganlah kalian berdoa buruk terhadap anak-anakmu, dan janganlah kalian berdoa buruk terhadap harta bendamu. Janganlah  (berdoa buruk karena bisa saja) kalian menepati suatu saat di mana Allah diminta memberikan sesuatu pada saat tersebut lalu Allah mengabulkan permintaan kalian itu.”
     
    Rasulullah SAW secara terang-terangan juga melarang doa untuk perbuatan dosa dan doa untuk memutus silaturahim kepada sesama. Rasulullah menegaskan bahwa doa seperti tidak akan dikabulkan Allah SWT.


     
    لا يزال يستجاب العبد ما لم يدع باءثم او قطيعة رحم ما لم يستعجل …. الحديث رواه مسلم عن ابى هريرة رضى الله عنه

    “Doa seorang hamba itu akan selalu dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutus tali kasih sayang (persaudaraan/persahabatan), selama ia tidak terburu-buru (mau segera terkabul)…”
     
    Rasulullah berulangkali memberi contoh mengesankan bahwa beliau selalu mendoakan baik, bahkan kepada yang menyakiti dan menghinanya. Saking tidak pernahnya Rasulullah SAW mendoakan keburukan kepada orang-orang yang bersikap buruk kepadanya, Malaikat sampai bersedih. Malaikat justru menyatakan siap membinasakan penduduk Thaif jika Rasulullah mau memohon doa kepada Allah SWT.
     
    Bukannya menuruti tawaran malaikat, Rasulullah SAW justru semakin mendoakan kaum yang banyak menyakitinya. “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengerti,” pinta Rasulullah.
     
    Apa yang dicontohkan Rasulullah SAW itu adalah keagungan akhlak luar biasa. Maka, kalau kita mengaku sebagai umat Muhammad dan menjadikan Nabi sebagai suri teladan yang baik, tidak semestinya kita mengumbar doa buruk kepada siapapun dan apapun.

    Apalagi jika orang atau barang yang kita anggap jelek, ternyata tidak seperti itu di hadapan Allah SWT. Doa buruk tadi malah bisa berbalik kepada pengirim doa.

    Rasulullah SAW bersabda:


    ما من عبد مسلم يدعو لاخيه بظهر الغيب الا قال الملك : ولك بمثل. رواه مسلم عن ابى الدرداء رضي الله عنه

    “Tidaklah seorang hamba  muslim yang mendoakan saudaranya di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) kecuali malaikat berkata,” Dan doa yang sama untukmu.” (HR Muslim dari Abu Darda’ RA).
     
    Seorang Muslim yang mendoakan saudaranya dengan penuh kebaikan, maka kebaikan pula yang akan kembali kepadanya. Hal yang sama juga berlaku jika seorang Muslim mendoakan buruk kepada saudaranya.
     
    Melantunkan doa-doa kebaikan adalah wujud kebaikan hati dan kemuliaan budi. Doa-doa jelek yang muncul dari diri kita sebenarnya hanya letupan nafsu amarah akibat lepas kendali. Doa-doa buruk berlandaskan hawa nafsu, amarah, serakah, ingin  berkuasa, angkara murka seperti itu tidak layak kita mintakan kepada Allah SWT.
     

  • Hikmah Haji dan Idul Adha: Jangan Pernah Lupakan Sayyidah Hajar!

    Oleh:

    Badriyah Fayumi
    (Wakil Sekjen MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga)
     
    Saat mengenang peristiwa qurban. Saat mengambil pelajaran dan hikmah Idul Adha. Saat menapak tilas ritual haji. Saat menyebut Ibrahim dan Ismail alaihimassalam
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Sejarah Makkah yang mendunia sampai sekarang. Air mukjizat bernama zamzam bermula dari keyakinan, harapan, dan kerja kerasnya yang amat sangat mengagumkan.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Keyakinannya akan janji Tuhan yang menjamin kehidupan adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Mampu mengalahkan rasa sepi, takut, marah dan tersia-siakanantaran ditinggalkan di lembah tandus tanpa pepohonan, air, dan kerumunan orang. Hanya berdua dengan bayinya yang masih dalam gendongan.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Perasaan halusnya kepada sesama perempuan membuatnya rela pergi menjauh demi menjaga perasaan Sarah yang mulia dan dihormatinya tak runtuh, dan perkawinannya dengan Ibrahim tetap utuh.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Karena ia telah membuktikan salahnya stigma bahwa perempuan itu penggoda dan mudah tergoda. Sayyidah Hajar sebaliknya. Ia sangat digdaya  menghadapi rayuan maut setan yang tak henti menggoda agar tak menyerahkan anak semata wayang yang dikasihinya yang telah dengan susah payah dibesarkannya. Sayyidah Hajar yang digdaya tak mempan godaan setan yang memanfaatkan naluri keibuan untuk menolak perintah Tuhan yang tak bisa dimengerti nalar kebanyakan yaitu mengorbankan putra tersayang.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Pengorbanannya yang tak terperi diabadikan dalam wajib haji yang paling mengharuskan mawas diri yairu elempar tiga Jumrah beberapa hari
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Ia simbol kesetaraan ras dan kedudukan sosial. Sayyidah Hajar yang mulanya sahaya telah menjadi inspirasi abadi bagi dunia kekuatan imannya, kedahsyatan lakon hidupnya, dan keluarbiasaan karakternya. Bukan karena keturunan dan kebangsawanannya.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Tanpa keikhlasan, kepasrahan, keberanian, dan kesabarannya Ibrahim takkan sempurna menjalankan perintah Tuhannya. Tanpa pengorbanan, kasih sayang, dan pendidikan rabbaniyahnya, Ismail kecil mungkin tak menjadi anak yang berbudi dan berbakti di usia belia.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar!Makkah yang penuh berkah  Zamzam yang terus melimpah. Sa’i dan lempar Jumrah sampai kelahiran Muhammad Rasulullah SAW. adalah tak lepas dari keberadaannya.
     
    Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Melupakannya adalah melupakan peran ketuhanan dan kemanusiaan perempuan. Melupakan Sayyidah Hajar adalah melupakan separuh peradaban.
     
    Mahasina, Pondok Gede, Idul Adha 1441 H

  • Khalifah Ummar bin Khattab dan Budaya Kritik

    Oleh:

    KH. Afifuddin Muhajir

    (Ketua MUI Bidang Fatwa)
     
    Kritik konstruktif dan saling menasihati adalah bagian tak terlepaskan dari agama Islam. Khalifah Umar bin Khattab RA sering dijadikan contoh sebagai pemimpin yang menyukai kritik.
     
    Semasa menjadi khalifah, beliau punya kebiasaan blusukan ke kampung-kampung. Salah satu tujuannya mencari tahu tentang aib dan kekurangan dirinya. Hal itu membuat masyarakat berani dan tidak segan untuk mengkritiknya.
     
    Sayyidina Umar pada suatu ketika dicegat di jalan oleh seorang perempuan tua bernama Khaulah binti Tsa’labah dan dimintanya berhenti.  Cukup lama beliau berhenti di jalan seraya menyimak kalimat-kalimat yang  meluncur dari lisan Khaulah binti Tsa’labah.  Kalimat Khaulah berisi nasihat nasihat sebagai berikut:


     
    يا عمر ، كنتَ تدعَى عُميرا ثم صرتَ عمر ، ثم قيل لك أميرُ المؤمنين ، فاتق الله يا عمر ، فإنه مَن أيقن بالموت خاف الفوتَ ، و من أيقن بالحساب خاف العذاب

    “Wahai Umar, engkau dulu dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian berubah menjadi Umar, lalu sekarang engkau dipanggil dengan julukan “Amirul Mukminin”. (Pesan saya) : ‘Takutlah engkau, wahai Umar kepada Allah, karena barangsiapa meyakini adanya kematian, ia pasti  khawatir akan hilangnya kesempatan, dan barangsiapa yang  meyakini adanya hisab, ia pasti takut menghadapi adzab.”
     
    Pertemuan di jalan antara Khalifah dan perempuan tua itu menjadi tontonan dan sekaligus membuat orang-orang yang  melihatnya keheranan. Maka di antara mereka ada yang terpaksa bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa njenengan rela berhenti di sini hanya untuk mendengarkan omongan perempuan tua itu?”
     
    Khalifah Umar menjawab, “Seandainya perempuan itu meminta agar saya  berhenti di tempat ini  dari awal siang sampai akhir siang, pasti saya tidak akan beranjak kecuali untuk shalat. Tahukah kalian, siapakah perempuan tua itu?” Mereka mejawab,  “Kami tidak tahu.”
     
    Sayyidina Umar menjelaskan, “Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan yang perkataannya didengar Allah SWT dari atas langit yang tujuh. Apa pantas Umar tidak mau mendengarkan ucapan perempuan itu?  Sementara Allah Ta’ala mau mendengarkannya.”
     
    Kisah tentang Khaulah binti Tsa’labah secara singkat difirmankan Allah Ta’ala sebagai berikut:


     
    قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها و تشتكي إلى الله ، و الله يسمع تحاوركما ، إن الله سميع بصير

    “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Mahamendengar, Mahamelihat.” Semoga kita bisa meneladani keluhuran akhlak Umar bin Khattab meski beliau memiliki jabatan tinggi. Wallahu a’lam bis shawab.

  • Aku Memeluk Islam Tanpa Bertemu Seorang Muslim

    Aku Memeluk Islam Tanpa Bertemu Seorang Muslim

    Alan Rooney asal Skotlandia berbagi kisah tentang perjalanannya memeluk Islam. Hebatnya, perubahan besar itu terjadi pada dirinya terjadi tanpa pernah bertemu dengan seorang muslim pun. Berikut ini adalah kisah yang ia sampaikan sendiri:

    Bagaimana perjalanan seorang pria Skotlandia paruh baya, berkulit putih, tinggal di dataran tinggi Skotlandia bisa menjadi seorang Muslim – apalagi dia belum bertemu dengan seorang muslim pun dalam hidupnya?

    Kisah ini berawal ketika aku mendengar seruan untuk sholat dari masjid setempat saat berlibur di pantai di Turki. Panggilan ini membangkitkan sesuatu dalam diriku. Mengilhamiku untuk memulai pencarian spiritual.

    Pulang ke rumah di Inverness, aku pergi ke toko buku setempat. Membeli Alquran dan mulai membacanya. Saat membaca, aku selalu meminta kepada Tuhan untuk membimbingku dalam perjalanan yang telah ku jalani ini.

    Banyak berdoa. Banyak berlutut.

    Alquran benar-benar mengguncangkanku. Buku ini cukup menakutkan untuk dibaca. Karena menceritakan banyak hal tentang diri Anda. Aku menjumpai beberapa hal tentang diriku yang tidak kusukai. Dari sini kuputuskan untuk membuat beberapa perubahan.

    Aku tahu, bisa saja kuhentikan membaca Alquran kapan saja. Tapi aku sadar, hal itu berarti melepaskan sesuatu yang sangat penting.

    Dan aku sadar akhir dari proses yang sedang kujalani ini: Aku akan menjadi seorang muslim.

    Jadi, aku terus membaca. Ku baca Alquran tiga kali, agar bisa mencari sesuatu yang kurang. Namun, setelah tiga kali tamat, tidak juga ada celah yang kutemukan. Aku merasa cukup nyaman dengan segala hal yang dijelaskan Alquran.

    Bagian yang paling sulit dalam perjalanan ini adalah aku bertanya-tanya seperti apa aku nantinya. Apakah aku jadi seorang yang aneh. Berpakaian dan berbicara berbeda di mata orang lain?

    Apa yang akan dipikirkan keluarga, teman, dan rekan kerja tentangku?

    Dan yang terpenting, apa yang akan kupikirkan tentang diriku sendiri? Jadi seperti apa aku nanti?

    Aku akan meluangkan waktu, berselancar di dunia maya, mencari tahu cerita orang-orang yang telah lebih dulu melewati pengalaman ini. Yakni sendirian memeluk Islam. Sepertinya tak ada yang sama denganku. Perjalanan masing-masing orang tentu saja unik dan berbeda-beda. Bagaimanapun penting bagiku untuk mengetahuinya. Menyusuri jalan yang sama. Sederhananya, aku beralih membaca dunia online -dari membaca Alquran- karena aku takut terlihat aneh.

    Media online juga sangat bagus untuk mengetahui bagaimana shalat dipraktikkan dalam bahasa Arab, untuk mendengarkan Alquran dibacakan dengan suara keras atau mungkin untuk mendengarkan beberapa musik Islami. Bagiku, musik juga baik untuk menginspirasi beberapa ungkapan yang mulai ingin kugunakan.

    Intinya, semua ini penting. Aku mempertanyakan semuanya. Dan memang berbagai informasi itu mutlak diperlukan dalam berpindah agama. Anda mempertanyakan diri sendiri. Anda mempertanyakan apa yang Anda dengar, dan apa yang Anda baca.

    Jika ada sesuatu yang tidak beres menurutmu, tentu ini indikasi jelas bahwa hal ini bukan untuk Anda. Anda harus mendengarkan dengan baik dengan intuisi dan hati Anda.

    Proses ini kulalui sekitar 18 bulan. Beberapa orang, butuh waktu lebih sedikit. Tapi ada juga yang lebih. Sementara aku melakukan semua ini sendirian, tanpa ada yang membantu. Selama proses ini, aku belum pernah bertemu seorang muslim pun.

    Setelah 18 bulan, saya menganggap diriku adalah seorang muslim. Aku shalat lima kali sehari, berpuasa di bulan Ramadhan, hanya makan dan minum sesuatu yang sesuai dengan tuntuna Alquran.

    Setelah itu, baru kutemukan sebenarnya ada sebuah masjid kecil di kotaku. Aku berkunjung, mengetuk pintu, dan mengenalkan diriku.

    Penutup

    Benarlah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

    لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْشِّرْكَ وَأَهْلَهُ

    “Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhina; yaitu kemuliaan yang dengannya Allah akan memuliakan Islam dan penganutnya, dan menghinakan kesyirikan dan pengikutnya.” (HR. Ahmad dari Tamim ad-Dary radhiallahu ‘anhu).

    Dari kisah perjalanan keislaman Alan Rooney, kita mendapatkan bahwa Alquran itu memiliki pengaruh luar biasa di hati manusia. Isi yang dikandung Al-Quran adalah hikmah, kebenaran yang dijamin oleh Allah, selaras dengan alam dan logika yang bisa dicapai manusia. Rooney membacanya hingga tiga kali tamat, dan mengantarkannya kepada keimanan yang hakiki.

    Sumber:
    https://www.allamericanmuslim.com/alan-rooney/
    http://kisahmuslim.com/5905-aku-memeluk-islam-tanpa-bertemu-seorang-muslim.html

  • Para Penyeru Kebaikan (2)

    Para Penyeru Kebaikan (2)

    -bagian dua-

    “Dan hendaknya ada sebagian dari kalian yang menyeru kebaikan (al khair), memerintahkan yang baik (ma’ruf) dan mencegah yang munkar” (Al-Imron : 104)

    Kata yang berarti kebaikan dalam alquran setidaknya dinyatakan dengan tiga kata -yang tersambung dengan kata kerja (fi-il). Al-birru(البر),al khair (ااخير),al ma’ruf(المعرف). Namun hanya kata “al-khair” yang kemudian disambungkan dengan kata da’a -yad’uu yang berarti menyeru.

    Dalam Al Mufrodat fi Ghoribil Qur’an, penulisnya membagi khair menjadi dua.Khair atau kebaikan yang bersifat mutlak (مطلق) atau khair yang bersifat muqoyyad (مقيد). Kebaikan mutlak adalah segala sesuatu yang baik yang tidak tergantung dengan situasi kondisi maupun waktu. Berkebalikan dengan kebaikan muqoyyad yang tergantung waktu dan situasi. Dari sini saja kita dapat mengambil kesan bahwa seyogyanya seorang penyeru kebaikan memperhatikan situasi dan kondisi pendengarnya dalam menyampaikan kebaikan-kebaikan. Seyogyanya para penyeru mampu memilah dan memilih kebaikan-kebaikan mana saja yang hendak diseru disesuaikan dengan kondisi pendengarnya.

    Banyak kita jumpai para penyeru kebaikan dalam menyampaikan pendapatnya berlaku “tidak adil”. Sengaja atau tidak menyembunyikan ikhtilaf atau perbedaan sebuah hukum terkait masalah tertentu misalnya. Hal ini yang kemudian secara tidak langsung sering menimbulkan kegaduhan. Padahal kalau kita telisik lebih lanjut, dalam kitab lisanul arab misalnya, dari kata “khoir” ini kemudian lahir kata “khiyar” yang bermakna pilihan. Celakanya, banyak dai yang kemudian sudah memiliki pandangan tertentu dan cenderung kuat memegangnya, sehingga tidak berlaku bijak terhadap perbedaan pendapat.

    Hemat saya, banyak dai yang berperilaku layaknya seorang mujtahid. Minimal melakukan tarjih mana yang lebih kuat mana yang lebih lemah. Tak jarang memberi label sesat pada kelompok yang nggak sepaham. Kenapa dai tidak memberikan pilihan dari sekian banyak pendapat ulama dan mengajarkan jamaahnya untuk bersikap tasamuh atau toleran terhadap perbedaan? Saya jadi heran, apakah memang secara keilmuan mereka mampu? Hanya kejujuran diri dari para penyeru itu yang mampu menjawabnya.Untuk sekedar melakukan tarjih pun dibutuhkan kemampuan menilai derajat kualitas sebuah hadis yang mana kalau kita amati para penyeru kebaikan itu sebagaian besar mengekor pendapatnya ulama-ulama lain. Apatah lagi untuk sampai level mujtahid.

    Dari akar kata yang sama timbul kata ikhtiyar yang bermakna berusaha. Hal ini semakin memberikan kesan bahwa ragam kebaikan -termasuk ragam pendapat ulama mengenai suatu masalah- harus diupayakan dengan sungguh-sungguh untuk disampaikan dengan memperhatikan kondisi sosio-kultur jamaah. Dalam masyarakat yang mayoritas bermadzhab syafii, seyogyanya ketika para dai memegang pendapat madzhab maliki atau hambali misalnya, maka jangan lupa untuk disampaikan pendapat ulama-ulama syafiiyah. Hal itu setidaknya akan meredam potensi kegaduhan yang mungkin timbul.

    Sebagai bagian masyarakat yang awam, yang termasuk objek seruan kebaikan dari para dai, saya sungguh berharap para dai bisa lebih bijaksana dengan mengedepankan hikmah. Aamiin. Wallahu a’lam. (j.rosyidi)

    sumber: http://www.insancendekia.org/grak/280-para-penyeru-kebaikan-2

  • Para Penyeru Kebaikan (1)

    Para Penyeru Kebaikan (1)

    -bagian satu-

    Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada pada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal saleh dan berkata :”Seseungguhnya aku termasuk orang-orang yang beserah diri?” (Q.S. Fushilat : 33)

    Mencermati dan mengikuti seruan-seruan kebaikan dari para penyeru, baik yang melalui media sosisal maupun elektronik tak jarang banyak kata-kata yang tak santun dan selalu begitu (berulang-ulang) tanpa peningkatan kualitas bahasa -baik lisan maupun tulis. Padahal kalau kita perhatikan petikan ayat di atas digunakan kata ahsan yang bermakna paling baik. Sementara sebagai seorang muslim kewajiban belajar bukankah sepanjang hayat? Apalagi sebagai seorang dai, maka sudah menjadi keharusan untuk meningkatkan keilmuannya, termasuk ilmu tentang komunikasi.

    Selama masih hidup, maka peluang-peluang untuk meningkatkan kemampuan terbuka lebar. Masalahnya, terkadang dengan banyaknya “jam terbang” maka kesempatan menambah ilmu menjadi berkurang bahkan bisa jadi tidak ada waktu sama sekali. Apalagi ilmu komunikasi baik lisan maupun tulisan seakan tak penting. Padahal kalau kita mencermati lembaran siroh nabi kita, beliau adalah orang dengan tutur kata yang lembut dan menyentuh hati. Nah , ini pe-er buat para penyeru kebaikan untuk meningkatkan kualitas komunikasinya.

    Kalau kita perhatikan kata yang digunakan alquran untuk menyeru kebaikan adalah da’a- ilaa atau yud’auna ilaa. Maka disini kemudian akan timbul kesan adanya dua “jarak”. jarak yang pertama adalah jarak antara penyeru dan dan yang diseru. Pemahaman adanya jarak ini seyogyanya kemudian melahirkan kesadaran bagi para dai untuk memperhatikan kondisi sosio-kultural masyarakatnya. Hal ini sejalan dengan kalam Allah dalam surat ibrohim ayat 4, “Dan tidaklah kami utus seorang utusan, melainkan dengan lisan kaumnya.” Semua utusan selalu merupakan salah seorang anggota masyarakat dimana ia akan diutus. Tujuannya tentu saja agar ia lebih mudah menjalankan misinya karena pengenalan akan sosio-kultur kaumnya.

    Jarak yang kedua yang timbul dari penggunaan kata tersebut adalah jarak dengan tujuan yang hendak dicapai dari aktivitas dakwah. Seorang dai sudah semestinya merasa bahwa ia pun sedang dalam menempuh perjalanan ke arah kebaikan bukan telah sampai agar timbul rasa rendah hati sehingga tidak terjebak kepada rasa sombong. Menyadari bahwa dirinya belum sampai kepada kebaikan bisa membantu dai untuk senantiasa belajar sekaligus terus menerus beramal sholeh sebagaimana tersirat dalam ayat ke-33 dari surat fushilat di atas.

    Membekali diri dengan kemampuan komunikasi yang baik, pengenalan tentang kondisi sosio-kultur masyarakat serta kerendahatian bahwa antara penyeru dan yang diseru, maka keberhasilan dakwah menuju kebaikan (da’a ila Allah) insyaallah lebih mudah tercapai. Bagaimana kalau tidak? Maka para penyeru kebaikan tinggal berserah diri kepada Allah sebagaimana tersirat dari akhir ayat sebagai sebuah bentuk pengakuan bahwa hak hidayah sepenuhnya ada pada Allah. Wallahu a’lam. (j.rosyidi)

    Sumber: http://www.insancendekia.org/grak/271-para-penyeru-kebaikan