All posts by admin

Kisah Si Bahlul Yang Mendunia

“Bahlul” adalah kata yang biasa digunakan untuk mensifati orang yang bodoh. Tahukah anda dari mana asal kata itu?

Sesungguhnya BAHLUL adalah nama seseorang yang dikenal sebagai orang “gila” di zaman Harun Al-Rasyid (Dinasti Abasiyah).

Pada suatu hari, Harun Al-Rasyid lewat di suatu pekuburan, dilihatnya Bahlul sedang duduk di sana.

Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :
“Wahai Bahlul, kapankah kamu akan berakal (sembuh dari gila)?”

Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik ke atas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon :
“Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar?”

Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : “Siapa yang gila, aku atau engkau yang selalu duduk di kuburan?”

Bahlul berkata :
“Aku berakal dan engkau yang gila.”

Harun : “Bagaimana itu bisa?”

Bahlul : “Karena aku tahu bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada. Maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan sebaliknya engkau memakmurkan istanamu sampai-sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti akan masuk ke dalam kubur. Maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita?”

Bergetarlah hati Harun Al Rasyid, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya. Lalu Harun Al Rasyid berkata : “Demi ALLAH engkau yang benar, tambahkan nasihatmu untukku wahai Bahlul”.

Bahlul : “Cukup bagimu Al-Qur’an maka jadikanlah pedoman”.

Harun : “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul? Aku akan penuhi”.

Bahlul : “Iya aku punya 3 permintaan. Jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu”.

Harun : “Mintalah”

Bahlul : 1. “Tambahkan umurku”.

Harun : “Aku tidak mampu.”

Bahlul: 2. “Jaga aku dari Malaikat maut”.

Harun : “Aku tidak mampu.”

Bahlul: 3. “Masukkan aku ke dalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka”.

Harun : “Aku tidak mampu”.

Bahlul : “Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (sebagai seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu”.

disalin dari sosial media

Catatan:

  • Kisah ini (Dikutip dari kitab عقلاء ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ, “Orang-orang Gila yang Berakal”).
  • Menggunakan kata BAHLUL untuk mengatakan bahwa seseorang itu bodoh adalah salah besar sedangkan aslinya adalah nama seorang Ulama yang hebat.
  • Makam Syekh Bahlul Majnun ada Di Baghdad, Irak. Semoga kisah singkat ini menginspirasi kita. Aamiin…


Jiwa-Jiwa yang Kembali

Pria itu berumur sekitar 40 tahun dan bekerja sebagai seorang pegawai negeri dengan jabatan yang cukup tinggi. Saat menghadiri rapat tiba-tiba matanya tak bisa melihat. Ia pun berobat ke beberapa dokter mata di dalam dan luar negeri, namun tak ada hasil. Dokter tak menemukan kelainan pada matanya. Empat tahun sudah ia menderita kebutaan. Laki-laki itu benar-benar putus asa.

Suatu hari dengan ditemani isterinya, dia datang berkonsultasi kepada seorang psikolog muslim. Psikolog itu justru melakukan pengobatan dimulai dengan percakapan mendalam. Ia diminta menceritakan perjalanan hidupnya sejak duduk di sekolah menengah hingga matanya buta. Dari hasil percakapan itu, ternyata ia seorang muslim yang tak pernah shalat, tak pandai membaca al-Qur’an, dan biasa dengan prilaku terlarang terutama dalam hubungan dengan wanita. Semua dilakukan tanpa pernah menyesal.

Itulah kisah nyata yang pernah diceritakan oleh ahli jiwa, Prof. Zakiah Darajat, saat menyampaikan makalah tentang mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah untuk kesehatan jiwa di Bandung pada 1994 silam. Psikolog yang ditemui pria itu tak laina dalah Prof. Zakiah Darajat sendiri. Pria itu disuruhnya untuk bertobat, shalat, dan belajar al-Qur’an. Untuk mengobati perasaan berdosanya, kepadanya dibacakan ayat Allah Ta’ala, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.3, Ali Imran:133). Inilah ayat yang memberi harapan kepada mereka yang berdosa agar berlepas diri dari gangguan perasaan berdosa. Pria itu tak lagi menelan sebutir obat pun, kecuali hanya bersungguh-sungguh menjalankan ibadah. Setelah empat bulan sejak ia bertobat, matanya kembali melihat dan kesehatannya membaik.

Kisah itu menuturkan jika jiwa yang sakit ikut mempengaruhi jasad.Karenanya, bertobat adalah pintu masuk untuk mengembalikan kondisi jiwa pada posisi semestinya. Jiwa yang bertobat adalah jiwa yang kembali ingat dengan Rabbnya sehingga ia meraih ketenangan (QS.3,
Ali ‘Imran: 135; QS.13, Ar-Ra’d:28). Sebaliknya, keterasingan dari Allah Ta’ala akan membuat jiwa sempit dan gelisah (QS.43, Az-Zukhruf:36).

Puncak ketenangan jiwa ketika ia bertemu dengan Tuhan yang sebenarnya. Selama itu belum dicapainya,maka jiwa akan tetap gelisah. Jiwa akan terus memberontak, mendesak untuk terus mencari jalan kembali kepada-Nya setelahterasing dari-Nya.Sebab, ia telah diciptakan untuk berada di jalan tauhid. Jalan yang membawanya patuh mengabdi kepada Rabb Yang Maha Pencipta, Rabb yang tidak ada Tuhan selain-Nya (QS.7, Al-A’raf:172-173). Selama jalan tauhid itubelum ditemuinya ia akan tetap terasing, bagaikan jatuh dari langit, lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS.22, Al-Hajj:31).

Jiwa-jiwa yang kembali kepada Allah Ta’ala adalah jiwa-jiwa yang tak ingin berlarut-larut menjadi budak nafsu, hidup glamor, dan tak tentu arah. Jiwa-jiwa itu mengikuti gugatan akal sehatnya untuk mencari Tuhan yang layak disembah. Jiwa-jiwa seperti itu yang saat ini menghiasi bumi Eropa. Pasca peristiwa pemboman WTC pada 11 September 2001 yang sangat memburukkan citra Islam, justru terjadi pertumbuhan Islam paling cepat yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah Amerika. Terdapat 8 juta orang muslim yang kini menetap di Amerika dan 20.000 orang Amerika memeluk Islam setiap tahun. Mereka mempelajari langsung Islam sehingga menemukan pemahaman tentang ajaran Islam yang sesungguhnya.

Selain angka 20.000 itu, ribuan orang dari negara-negara di luar benua Eropa juga mengambil keputusan yang sama. Terdapat keragaman alasan yang melatar belakangi mereka memeluk Islam. Diantaranya didorong oleh daya tarik al-Qur’an yang memberikan arah hidup yang jelas. Lalu, didukung oleh ajaran Islam yang lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, hari kebangkitan, dan konsep dosa yang tak mengenal dosa warisan.

Saat jiwa telah kembali kepada-Nya, nafsu akan tetap selalu menguntitnya. Maka, pengenalan dan cinta kepada-Nya akan pudar jika nafsu masih kita manjakan. Kita simak pesan spiritual dari ulama sufi Ibnu ‘Athailah dalam kitabnya Al Hikam: “Keinginanmu terhadap kekalnya selain Allah menjadi bukti bahwa engkau belum bertemu dengan-Nya. Kerisauanmu lantaran kehilangan sesuatu selain Allah menjadi bukti bahwa engkau belum sampai kepada- Nya.”



Memperlakukan Agama

Riaz Hassan, peneliti dari Flinders University Adelaide, Australia, pada 2006 menerbitkan hasil penelitiannya tentang kesadaran keagamaan dan sosial umat Islam di empat negara yang penduduknya mayoritas muslim, yaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Kazakhstan. Sebanyak 4500 orang ditanya tentang kepercayaan mereka kepada Allah dan komitmen menjalankan ibadah.Hasilnya,mereka yang ditanya di Indonesia, Pakistan, dan Mesir sebanyak 97 % setuju dengan pernyataan bahwa ‘saya yakin Allah benar-benar ada dan saya tidak ragu tentang hal itu’.Berbeda dengan kaum muslimin di Kazakhstan. Dari 970 orang, hanya sepertiga (31 %) yang percaya bahwa Allah benar-benar ada tanpa ragu.

Lalu, dari 1472 orang Indonesia yang ditanya, 96 %mengaku melaksanakan shalat lima waktu secara rutin. Posisi kedua ditempati Mesir (90 %), dan yang mengejutkan hanya 57 % dari 1185 orang Pakistan melaksanakan shalat. Umat Islam di Kazakhstan paling jarang shalat lima waktu. Hanya 5 % dari 1000 orang yang mengatakan bahwa mereka shalat lima waktu. Untuk berpuasa, muslim Indonesia, Mesir, dan Pakistan mayoritas melaksanakannya dengan ketat, sementara hanya 19 % umat Islam Kazakhstan yang berpuasa di bulan Ramadhan.

Bersyahadat dan Bersyariat

Kesolehan seseorang ternyata tak selamanya berbanding lurus dengan wilayah tempat mereka berdiam.Pakistan yang secara nyata menyatakan diri sebagai negara Islam tak menjadi jaminan untuk mencerminkan kesolehan rakyatnya. Dari sisi keyakinan terhadap perkara yang wajib diimani mereka cukup menonjol, tapi jauh kalah dari sisi pengamalan dibanding Mesir dan Indonesia. Begitu juga dengan Kazakhstan. Sebagai sebuah negeri di Asia Tengah dengan penduduk sekitar 18 juta orang dan lebih sepertiga adalah muslim, umat Islam di Kazakhstan jauh kalah dibanding muslim di tiga negara lainnya dalam pola keyakinan dan pelaksanaan ibadah.

Bersyahadat dan bersyariat adalah dua hal yang tak boleh dipisahkan. Syahadatain adalah sumpah kita dihadapan Allah untuk menjadikan-Nya sebagai Rabb dan beriman bahwa nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai Rasul-Nya. Sisi berikutnya adalah bersyariat, yaitu mau beribadah hanya kepada-Nya. Ibadah tak hanya dalam wujud ritual, tapi menjalankan syariat (aturan hidup) yang diwahyukan-Nya. Penggabungan keduanya dijelaskan Allah melalui wahyu-Nya: Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Mohonlah ampun kepada Allah atas dosamu sendiri dan dosa orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kembali dan tenpat tinggal kalian di akhirat kelak (Surah Muhammad, 47:19). Dalam ayat ini, perintah untuk mengetahui dan menyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah diiringi dengan perintah untuk memohon ampun kepada-Nya. Artinya, ayat ini mengisyaratkan bahwa bersyahadat wajib diiringi dengan bersyariat.

Disamping ayat-ayat tentang Iman dan ibadah, al-Qur’an juga mengandung ayat-ayat tentang hidup kekeluargaan, perkawinan, perceraian, hak waris dan sebagainya sebanyak 70 ayat. Juga, terdapat 70 ayat tentang perdagangan, gadai, perkenomian, jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, perseroan, kontrak, dan sebagainya. Perkara yang terkait dengan pidana sebanyak 30 ayat, 25 ayat tentang hubungan muslim dan non-muslim, 13 ayat tentang peradilan, 10 ayat tentang pola relasi antara orang kaya dan miskin, dan 10 ayat tentang ketatanegaraan.

Ayat-ayat tentang hukum seperti dikemukan di atas memang sedikit. Dari ayat-ayat hukum yang sedikit itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alahi wa Sallam menganjurkan para sahabat untuk mengambil kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip umum. Karenanya, Islam membuka pintu untuk berijtihad sebagai upaya untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk merumuskan jawaban hukum atas berbagai persoalan. Ijtihad itu – sehingga ajaran Islam dapat merespon sesuai dengan segala lintasan waktu dan zaman.Hikmah lainnya, antara keimanan kepada Allah Ta’ala dan cara menjalani hidup dengan segala kompleksitasnya tetap berjalin erat.

Islam Kaffah

Ada orang mengaku bertuhan, tapi tak mau beragama. Barangkali, kita sulit mengenali mereka, karena terkadang mereka tak mau memberi pengakuan. Namun, dari ucapan, pikiran, dan tindakan mereka identitas bertuhan tapi tak beragama dapat dibaca. Ada seorang pebisnis yang berucap,” Saya tetap shalat, tapi kalau cara berbisnis tak mungkin dikaitkan dengan ajaran agama.” Ada pula wanita yang berkilah, “Saya tetap beriman kepada Allah, tapi cara saya menutup aurat tak ada hubungannya dengan keimanan saya kepada Allah.”

Agama bukanlah simbol, tapi untuk memelihara kehidupan kita yang diciptakan oleh Yang Maha Hidup. Kenikmatan hidup dirasakan ketika keyakinan kepada agama diiringi dengan menjalani hidup dibawah aturan agama. Semua itu hanya terwujud manakala beragama sepenuh hati melalui pengamalan ajaran Islam secara kaffah (keseluruhan): Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkahlangkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al Baqarah: 208). Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka (Tafsir Ibn Katsir 1/335).

Menurut pemahaman al-Qur’an bahwa Islam kaffah adalah Islam yang terpadu dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Islam kaffah tidak hanya mengedepankan aspek spiritual, tapi juga menfasilitas aspek material, mengutamakan ilmu pengetahuan tanpa memilah dan memilih asal usul ilmu pengetahuan (baca surah az-Zumar: 9). Islam kaffah juga memadukan masa lalu, masa sekarang dan masa depan, serta mengakui dan menghargai tempat di mana umat Islam menjalani kehidupannya.

Islam kaffah juga menjunjung tinggi dan memperjuangkan nilai-nilai universal, seperti keadilan (an-Nahl: 90; an-Nisa: 58), perdamaian (al-Anfal: 61), keamanan (al-Nur: 55), dan kesejahteraan (an-Nisa: 9). Islam kaffah bukan semata-mata dalam bentuk lahiriah, formal, atau aspek-aspek instrumental yang bisa berubah sesuai perkembangan waktu dan tempat, namun mengutamakan keyakinan dan akhlak atau perilaku yang mengasihi sesama Muslim dan semua umat manusia, tumbuhan, hewan, dan alam semesta.



Tipologi Informasi Covid-19

Krisis kesehatan selalu saja diiringi dengan persoalan penyebaran informasi.  Laporan resmi Kementerian Komunikasi dan Informasi RI menyebutkan bahwa penyebaran  informasi bohong atau hoaks  pada platform digital di Indonesia terkait pandemi (penyebaran penyakit) virus korona atau Covid-19 (Corona Virus Diseases) sejak 23 Januari hingga 6 April 2020, mencapai 1.096 informasi. Selain itu, tak sedikit informasi yang membingungkan dan saling kontradiktif  terkait Covid-19 bersileweran tertutama di media sosial.   

Pada 1980-an hingga 2000-an, kita menyaksikan penyebaran informasi yang tidak benar   mengenai virus HIV/AIDS. Informasi yang disebarkan bahwa virus HIV/AIDS diciptakan di sebuah laboratorium, atau informasi bahwa HIV/AIDS bisa disembuhkan dengan susu kambing. Klaim-klaim ini ternyata meningkatkan perilaku berisiko dan memperburuk krisis. Saat ini kita menyaksikan membanjirnya informasi seputar pandemi virus korona atau dikenal dengan Covid-19. Di berbagai platform dari Facebook sampai pesan WhatsApp, sering ditemukan  informasi tentang pandemi wabah mencakup soal penyebab wabah hingga cara pencegahan dari penyakit tersebut. Tidak sedikit dari informasi itu yang membawa kerugian karena kontennya yang tidak benar. Di sebuah provinsi di Iran, misalnya, banyak yang meninggal setelah meneguk alkohol karena diklaim dapat mengobati Covid-19. Informasi sesat semacam ini hanya memberikan kenyaman palsu sehingga orang begitu mudah mengabaikan panduan dari pemerintah, bahkan  mengikis kepercayaan terhadap petugas kesehatan.

Penolakan warga terhadap jenazah positif Covid-19 di sejumlah tempat di tanah air juga tidak terlepas karena asupan informasi yang salah itu.  Mereka menyangka akan dapat tertular virus ini jika jenazah dimakamkan di kampung mereka.    Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sibuk menyangkal beberapa informasi bohong seputar virus corona. Misalnya, informasi yang menyebutkan jika menyemprotkan   alkohol di seluruh tubuh bisa membunuh virus korona. Fakta yang ditelusuri WHO justru menunjukkan bahwa alkohol dan klorin dapat berfungsi untuk mendisinfeksi bagian permukaan, tetapi perlu digunakan di bawah rekomendasi yang tepat. Sebaliknya, menyemprotkan alkohol atau klorin ke seluruh tubuh tidak akan membunuh virus yang telah memasuki tubuh. Malahan menyemprotkan zat-zat semacam itu disebutkan bisa berbahaya bagi pakaian atau selaput lendir, misalnya mata dan mulut.

“Kikir Kognitif”

Kenapa informasi palsu begitu mudah menyelinap dan menetap di dalam pikiran seseorang? Jawabannya adalah karena penerima informasi tidak berpikir kritis. Mereka justru menggunakan intuisi  untuk menentukan apakah suatu informasi yang diterima benar atau tidak.  Orang yang menerima informasi tanpa menalarnya secara logis sering disebut oleh psikolog sebagai orang yang “kikir kognitif” karena mereka memiliki akal tetapi tidak banyak menggunakannya.   Dalam soal pernyataan seputar virus korona, orang seperti ini biasanya lebih mudah termakan berita palsu. Mereka tidak terlalu mempertimbangkan akurasi sebuah pernyataan, dan bahkan turut menyebarkannya dengan sukarela.

Kehadiran orang-orang yang “kikir kognitif” ini telah lama dipahami oleh ahli propaganda dan penyebar informasi palsu.  Tragisnya, media sosial terlibat dalam pusaran penyebaran informasi bodong ini. Bukti terbaru memperlihatkan banyak orang menyebar sebuah informasi tanpa memikirkan akurasinya. Riset yang dilakukan Gordon Pennycook, seorang peneliti psikologi misinformasi dari University of Regina, Kanada,  menemukan bahwa sebanyak 25% responden yang ditelitinya dapat mengenali  berita palsu. Ketika ditanya apakah mereka akan menyebarkan informasi tersebut, 35% responden menjawab akan menyebarkannya. Temuan ini  memperlihatkan bahwa  orang yang menyebarkan informasi bohong itu sebenarnya dapat mengetahui bahwa informasi itu tidak benar seandainya  mereka berpikir dengan jernih sebelum menyebarkannya. Sepertinya orang lebih mementingkan berapa banyak yang suka atas unggahannya dibanding memikirkan akurasi unggahan itu.

Disisi lain ada juga orang yang   mengalihkan tanggung jawab penilaian pada orang lain. Banyak informasi palsu dibagikan yang diawali dengan kalimat “saya tak tahu ini benar atau tidak”.  Mengulang-ulang suatu pernyataan baik dengan teks yang sama maupun diubah juga berpeluang untuk membuatnya seakan benar, apalagi semakin tingginya intensitas keakraban penerima informasi dengan informasi tersebut.

Literasi Informasi

Upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 turut ditentukan oleh literasi alias meleknya  masyarakat dengan informasi yang akurat seputar virus yang mematikan itu. Karenanya, dibutuhkan strategi khusus menyampaikan informasi kepada masyarakat yang orang-orang yang tak ingin merenung dan berpikir panjang.  Mengingat kebenaran akan mudah dikenali ketika pikiran bekerja dengan lancar dan tidak berbelit-belit, maka penyajian informasi yang membuat pikiran bekerja keras mesti dihindari. Penggunaan istilah yang rumit mesti diganti dengan istilah yang mudah dipahami, bahkan jika dibutuhkan dapat digunakan bahasa daerah fakta harus disajikan sesederhana mungkin dengan bantuan gambar dan grafis yang membuat ide lebih mudah divisualisasi. Berbagai wadah dan media yang efektif untuk penyaluran informasi mesti digunakan.

Masyarakat juga perlu diedukasi terkait dengan berbagai tipologi informasi saat krisis Covid-19 ini. Beberapa tipologi informasi dimaksud adalah: Pertama,  Informasi Valid (Valid Information). Informasi tipe ini  adalah informasi yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaru dan dapat diterima serta berlaku untuk orang lain. Misalnya, mencuci tangan dengan protokol tertentu dapat mencegah penularan virus korona.  Karenanya, informasi valid ini harus terus menerus diinformasikan kepada masyarakat hingga ke akar rumput.  Kedua,   Informasi yang membingungkan  (Perplexing information). Jenis informasi ini adalah informasi ilmiah yang dibuat untuk meningkatkan pengetahuan orang lain, tetapi dikirim ke audien yang tidak tepat.  Misalnya, beberapa informasi ilmiah tingkat tinggi tentang Covid-19 dikirimkan kepada masyarakat umum atau remaja, yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan tidak dapat memahaminya sehingga  dapat memperburuk kekhawatiran mereka.

Ketiga, Informasi yang salah (Misinformation). Jenis informasi ini tidak akurat dan tidak dapat diandalkan, tetapi orang yang menyebarkannya mempercayai bahwa informasi itu benar.   WHO meminta semua pihak tidak mempercayai bahwa cuaca dingin dapat membunuh virus korona atau penyakit lainnya. Selain tidak ada dasar, WHO menyatakan bahwa suhu tubuh manusia normal adalah tetap 36,5 hingga 37 derajat celcius, terlepas dari suhu eksternal atau cuaca.  WHO menyampaikan cara paling efektif untuk melindungi diri dari Covid-19 adalah sering membersihkan tangan dengan alkohol atau mencuci tangan dengan sabun dan air.

Keempat, disinformasi (Disinformation). Ini adalah jenis informasi yang tidak akurat yang produsen dan distributornya hanya mengejar tujuan politik, ekonomi, budaya, atau lainnya. Jenis informasi ini disengaja, penempaan, dan manipulatif, serta mengubah realitas. Informasi seperti ini biasanya diproduksi dan disebarluaskan oleh orang-orang yang dendam.  Selain itu, juga ada informasi yang mengejutkan (Shocking Information). Membaca atau mendengar informasi seperti ini membuat penerima resah, kaget, dan cemas.  Tipe informasi lainnya adalah informasi kontradiktif (Contradictory Information). Jenis informasi ini diproduksi dan disebarluaskan karena perbedaan pendapat antara para ahli tentang suatu topik. Misalnya, WHO menyatakan Covid-19 tidak menular lewat udara, namun menular lewat tetesan (droplet) yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. WHO mengatakan seseorang dapat terinfeksi Covid-19 dengan menghirup virus jika berada dalam jarak 1 meter dari seseorang yang menderita Covid-19 atau dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata, hidung atau mulut sebelum mencuci tangan.   Bersihkan tangan secara teratur dan hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung juga menjadi opsi pencegahan. Pernyataan ini dilontarkan untuk mengklarifikasi pemberitaan sebelumnya kalau Covid-19 bisa bertahan di udara.

Ketujuh, informasi diragukan (Doubtful Information). Jenis informasi ini tidak dapat divalidasi atau didiskreditkan karena bukti ilmiah yang tidak memadai. Misalnya,   beberapa orang mengklaim bahwa minum susu kuda liar,  dan konsumsi bawang putih atau makanan lain sangat membantu dalam pencegahan Covid-19. Untuk membuktikan khasiat minuman dan makanan tertentu untuk pencegahan Covid-19 mesti melewati uji laboratorium. Terakhir, informasi yang ditunda (Postponed Information). Informasi ini disajikan kepada orang lain dengan penundaan.  Sebagai contoh, beberapa negara pada awalnya tidak mengungkapkan jumlah kasus yang terinfeksi virus corona, tetapi dengan meningkatnya jumlah pasien, mereka dipaksa untuk memberikan informasi.

Seperti halnya upaya kita untuk menahan laju virus korona ini, kita juga membutuhkan adanya pendekatan beragam untuk menahan laju penyebaran  informasi yang merugikan dan berbahaya saat pandemi Covid-19 ini. Semoga!

Image credit: https://unsplash.com/photos/UuON4DYxlbw



Idul Fitri Tanpa Lebaran

Sebagai bagian dari agama, Idul Fitri bersifat primer. Sementara lebaran bersifat sekunder atau pelengkap saja. Karena bersifat primer, Idul Fitri harus tetap dilaksanakan walaupun terdapat kesulitan-kesulitan juga untuk melaksanakannya.

Penyebaran Covid-19 membuat tatanan kehidupan keagamaan dan sosial penduduk bumi tak bisa berjalan sebagaimana layaknya. Bagi umat Islam yang sebentar lagi akan melaksanakan Idul Fitri, berkemungkinan besar tak dapat melaksanakannya sesuai dengan yang semestinya. Di Indonesia, misalnya, mungkin umat Islam hanya akan melaksanakan Idul Fitri saja, tanpa lebaran.

Idul Fitri selayaknya tetap dilaksanakan bagaimana pun kondisinya, karena sejatinya Idul Fitri itu sangat berbeda dengan lebaran. Idul Fitri adalah bagian dari agama, sedangkan lebaran hanyalah produk dari kebudayaan.

Menurut cendekiawan muslim M. Natsir bahwa agama itu adalah problem of ultimate concern, yakni suatu keadaan yang tak dapat ditawar-tawar lagi dan merupakan keharusan. Sedangkan lebaran adalah kebudayaan atau tradisi yang lahir dari syariat Idul Fitri.

Kebudayaan itu sendiri menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar

Idul Fitri yang merupakan bagian dari ajaran atau doktrin agama itu memuat ajaran tentang ritual atau ibadah. Ibadah tersebut terdiri dari membayar zakat fitrah, takbir, tahmid, dan tahlil, shalat ied dan mendengarkan khutbah. Adapun sumbernya adalah sumber ajaran agama itu sendiri yakni Al-Quran dan al-Sunnah.

Qur’an dan Sunnah

Ada banyak dalil dalam al-Quran dan al-Sunnah yang menjelaskan tentang idul fitri ini, antara lain, al-Quran pada penghujung ayat 187 surat al-Baqarah, Allah berfirman “…maka hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa itu dan hendaklah kamu bertakbir kepada Allah atas petunjuk yang diberikanNya kepadamu. Mudah-mudahan kamu bersyukur”. Kemudian, berdasarkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW dahulu keluar dari rumahnya pada dua hari raya. Beliau mengangkat suaranya dengan tahlil dan takbir”.

Juga hadits dari Nafi, “Dari Nafi’, ia berkata “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar ketika keluar pada pagi hari Iedul Fithri dan hari Iedul Adha, beliau mengeraskan takbir hingga sampai di tempat shalat, kemudian bertakbir sampai imam datang, lalu bertakbir dengan takbirnya imam tersebut (mengikuti takbir imam)”. (HR. Ad-Daruquthni).

Karena Idul Fitri adalah bagian dari doktrin Islam, maka ia bersifat universal, dan berlaku sepanjang zaman tanpa mengalami perubahan dan perkembangan. Karena itu, dari dulu sampai sekarang kalimah takbir, bacaan dan jumlah rakaat shalat id tidak mengalami perubahan. Bahkan, mengubahnya adalah perbuatan bid’ah.

Selain itu, Idul Fitri tidak berbeda-beda antara daerah muslim yang satu dengan muslim yang lain. Ke mana pun seorang muslim pergi melaksanakannya, seperti itulah yang didapati dan dilakukannya.

Lebaran

Berbeda dengan Idul Fitri, lebaran merupakan produk dari kebudayaan. Lebaran muncul dari ekspresi masyarakat Islam dalam merayakan Idul Fitri. Sumber dari kebudayaan bukan wahyu melainkan manusia itu sendiri. Kalaupun ada dalilnya, hanyalah dalil yang bersifat umum yang memberikan kesempatan kepada orang muslim untuk bergembira pada saat Idul Fitri sebagaimana hadits dari Anas Radhiyallaahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. ”Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Maka Allah Azza wa Jalla telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya yaitu hari Iedul Fitri dan Iedul Adha”. (HR. An-Nasai).

Karena lebaran adalah produk dari kebudayaan, maka ia tidak bersifat universal melainkan temporal, berbeda antara masa yang satu dengan masa yang lain, dan berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.

Tradisi

Di Indonesia, misalnya, orang berlebaran dengan menyediakan ketupat, tunjangan hari raya alias THR, baju baru, mudik atau pulang kampung, dan ziarah kubur. Di Malaysia yang merupakan negara tetangga terdekat dengan Indonesia, masyarakatnya memiliki tradisi merayakan lebaran yang mirip dengan Indonesia seperti membuat ketupat dan rendang. Di Malaysia juga dikenal konsep mudik ke kampung halaman atau lebih dikenal dengan istilah “balik kampung” oleh masyarakat setempat.

Ada pula tradisi orang sudah bekerja atau sudah berpenghasilan memberikan hadiah berbentuk uang kepada anak-anak. Setelah itu, barulah mereka pergi berziarah ke makam sanak keluarganya.

Di Arab Saudi lain lagi, mereka biasanya berlebaran dengan mengadakan pertunjukan seni seperti pagelaran teater, pembacaan puisi, parade musik, tari, dan berbagai macam pertunjukan seni lainnya. Hal ini bertujuan untuk memeriahkan hari yang sudah ditunggu-tunggu masyarakat selama setahun. Lain pula halnya di Turki. Orang melakukan berlebaran di Turki dengan festival gula atau seker bayram.

Selain secara substansial, sebagaimana yang dikemukakan di atas, secara praktikal juga terdapat perbedaan yang nyata antara keduanya. Dalam sebutan misalnya, untuk Idul Fitri seperti shalat dan khutbah orang menyebutnya shalat id dan khutbah id, dan tidak lazim orang menyebutnya dengan shalat lebaran atau khutbah lebaran.

Sementara untuk lebaran seperti kue, ketupat, mudik, orang menyebutnya dengan kue lebaran, ketupat lebaran, mudik lebaran. Tidak lazim orang menyebutnya kue Idul Fitri, ketupat Idul Fitri, atau mudik Idul Fitri.

Sebagai bagian dari agama, Idul Fitri bersifat primer. Sementara lebaran bersifat sekunder atau pelengkap saja. Karena bersifat primer, maka harus tetap dilaksanakan walaupun terdapat kesulitan-kesulitan juga untuk melaksanakannya.

Sedangkan lebaran yang sekunder, boleh saja dikerjakan atau ditinggalkan. Apalagi bila dilihat dari aspek hukumnya. Idul Fitri (baca shalat idul fitri) hukumnya menurut jumhur adalah sunnah muakkadah. Sementara, berlebaran itu hukumnya hanya mubah yakni boleh dikerjakan boleh juga ditinggalkan.

Karena itu, tak apa-apa jika tak membuat kue, membeli baju baru, tidak halal bi halal, dan tidak mudik atau pulang kampung. Hanya saja barangkali ketika lebaran tidak dilakukan ada sesuatu yang hilang dari kehidupan.

Dalam suasana Covid-19 amat sulit orang akan bisa berlebaran. Mau bersilaturrahmi ke rumah sanak famili, terhambat oleh himbauan untuk stay at home. Mau berhalal bi halal apalagi terhalang oleh larangan berkerumun, mau beli baju baru ke mana hendak dipakai. Dimasakpun ketupat lebaran, hanya anggota keluarga juga yang akan memakannya di rumah. Karena itu, kalau semua itu ditinggalkan, sebenarnya tidak mengapa, sebab tak ada ajaran agama yang terlanggar.

Lain halnya dengan Idul Fitri yang bila ditinggalkan akan ada ajaran agama yang dilanggar yakni perintah untuk shalat ied. Kalaupun shalat ied itu susah untuk dilaksanakan di lapangan atau di masjid, terdapat keringanan untuk mengerjakannya di rumah sendiri-sendiri atau bersama keluarga. Wallahu a’lam.



Nilai-Nilai Fitrah untuk Peradaban

Jalan fitrah adalah lintasan kehidupan yang selayaknya diikuti manusia. Keluar dari lintasan itu sama artinya menciptakan kehancuran.

SEORANG penulis sejarah Perang Dunia II yang juga Jenderal Sekutu dalam perang Korea S.L.A. Marshall, menulis tentang perilaku tentara. Secara mencengangkan ia menemukan fakta bahwa ternyata para tentara takut membunuh. Sang Jenderal menyimpulkan bahwa penyebab paling utama kekalahan di medan perang adalah karena takut membunuh, bukan takut dibunuh.Para tentara itu enggan membunuh sesama manusia kalau bukan karena tuntutan tugas. Mereka tak mampu mendustai suara hatinya, karena itulah fitrahnya sebagai manusia.

Manusia diciptakan Allah Ta’ala di atas cetak biru bernama fitrah yang mustahil musnah kendati tersembunyi dan terselubungi (QS.30:30). Jalan fitrah adalah lintasan kehidupan yang selayaknya diikuti manusia. Keluar dari lintasan itu sama artinya menciptakan kehancuran. Sama halnya dengan planet yang seandainya tergelincir 0,1 mm saja dari lintasannya, maka kehancuran segera datang dan kepala kita akan segera mendidih akibat panas yang sangat hebat. Alam inipun konsisten di atas fitrahnya sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Ta’ala.

Al-Qur’an menyebut jalan fitrah dengan istilah shirotol mustaqiim/jalan yang lurus (QS. 1:6; QS.6:153), dan shirotol hamiid/jalan yang terpuji (QS.22:24). Jalan yang lurus itu bermuatan nilai-nilai mulia sebagai penyangga peradaban manusia.

Nilai adalah sesuatu yang selayaknya dijunjung, dipegang erat, dan mengikat untuk diwujudkan dalam tindakan nyata. Nilai-nilai itu setidaknya mencakup: nilai pembebasan/nilai tauhid, nilai keluarga, nilai kemanusiaan, nilai kejujuran, dan nilai keadilan. Nilai-nilai itu menjadikan hidup manusia terarah dan bermakna.

Sebaliknya, kealpaan nilai-nilai tersebut dalam peradaban manusia, akan menggiring manusia ke titik kehancurannya. Pertama, nilai pembebasan/nilai tauhid (QS.6:151). Manusia diperintahkan Allah Ta’ala untuk membebaskan jiwanya dari beragam ikatan berbuhul syirik kepada-Nya.

Mengenal Tuhan adalah perkara fitrah, dan menyembah serta dorongan kepadaNya adalah bagian dari kesaksian batin (syuhud). Dalam keadaan ditimpa kesulitan, setiap manusia akan menyadari hubungan dan kesaksiannya tentang adanya Tuhan. Lalu, mereka menyembah dan mengadu kepadaNya (QS.29:65; 16:53).

Larangan berbuat syirik bertujuan agar manusia mengikuti fitrahnya untuk tauhid. Bertauhid mengantarkan manusia mengenal dan berhubungan dengan Tuhan sejalan dengan fitrahnya. Kekokohan dalam bertauhid dikawal dengan kekokohan bersyahadat sebagai ikatan kuat antara seorang hamba dengan rabb-Nya (QS. 6:152).

Berikutnya, nilai keluarga yang dimulai dengan memperbaiki hubungan dengan kedua orang tua (QS.6:151). Di dalam al-Qur’an, larangan durhaka kepada orang tua selalu berada setelah larangan syirik kepada Allah Ta’ala.

Beragam persoalan keluarga dewasa ini menjadi ancaman yang sangat serius. Keluarga modern cenderung meninggalkan fungsi-fungsi yang semestinya mereka penuhi.

Berbagai survei pendidikan moderen menunjukkan bahwa kekisruhan keluarga menjadi elemen terbesar terjadinya penyimpangan. Sumber awalnya adalah sirnanya keharmonisan dengan orang tua.

Ketiga, nilai kemanusiaan yang ditandai dengan larangan membunuh anak karena takut miskin, mendekati perbuatan keji, membunuh manusia yang diharamkan Allah untuk dibunuh, dan mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat (QS.6:151-152).

Keempat, nilai kejujuran yang diungkapkan dengan perintah menyempurnakan takaran dan timbangan (QS.6:152). Menyempurnakan takaran dan timbangan adalah salah satu contoh perbuatan jujur yang diwujudkan dengan penuh daya juang antara bisikan kejahatan dan dorongan kebaikan.

Terakhir, nilai keadilan (QS.6:152). Semua manusia merindukan keadilan, sekaligus tak sudi diperlakukan dengan tidak adil. Pemberontakan terhadap kesemena-menaan hakikatnya adalah pemberontakan jiwa yang fitrah.

Hidup di dunia ini hanya sekali, dan itu harus berarti. Jalan kehidupan yang berliku ini akan indah manakala yang kita tempuh adalah jalan fitrah. Di atas jalan itu berdiri rambu-rambu dalam bentuk nilai-nilai yang dirindukan seluruh jiwa manusia.

Mengabaikan nilai-nilai itu hanya menyiksa jiwa dan secara perlahan membawa hidup menuju jurang kehancuran (QS.20, Thaahaa:124). Wallahu a’lam bish-Shawab.



Taktik Dakwah Damai Wali Songo

Berkembangnya Islam di Indonesia tak lepas dari kiprah para Wali Songo. Karena itulah, di pentas sejarah, jelas jejak mereka dalam pengislaman dan syiar Islam di bumi Nusantara yang ketika itu meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan sebagian Thailand Selatan, sangat besar. Sukses Wali Songo dalam menyampaikan pesan-pesan Islam itu, antara lain karena metode yang mereka terapkan. Peneliti dari LPLI Sunan Ampel, Agus Sunyoto dalam bukunya Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa Abad 14-15 menilai gerakan dakwah Wali Songopunya kaitan benang merah dengan semangat gerakan dakwah Nabi SAW.

“Taktik dan strategi dakwah mereka dapat dikata sebagai manifestasi-reflektif gerakan dakwah Nabi Muhammad SAW,” tulis Sunyoto. Model demikian inilah, menjadikan upaya para Wali Songo dalam mengislamisasi tanah Jawa dapat diterima banyak kalangan masyarakat saat itu di tengah berkembang pesatnya kepercayaan animisme dan dinamisme.

Secara spesifik, dakwah yang ditempuh Wali Songo dilakukan melalui pendekatan ke berbagai lapisan masyarakat; dari kelompok bangsawan berpengaruh seperti raja, tumenggung, hingga kaum papa. Pendekatan seperti ini antara lain ditempuh dengan jalan mengikat tali kekeluargaan (perkawinan).

Apa yang dilakukan Sunan Ampel yang menikahi Nyi Ageng Manila (putri Tumenggung Wilatikta) dan Maulana Ishak dengan putri Blambangan, adalah dalam rangka dakwah lewat kekeluargaan di kalangan bangsawan. Sementara di tingkat bawah, kalangan kaum miskin, dakwah Islam terutama dilakukan oleh Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Di bidang pendidikan, dakwah Wali Sanga dilakukan dengan mendirikan pesantren di berbagai daerah, seperti di Ampel, Giri, Denta, Gresik, dan Cirebon, yang sekaligus menjadi pusat Islam dan basis mereka.

Oleh masyarakat, nama-nama daerah itu kemudian dipakai untuk memberi gelar Wali Songo, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati. Selain itu, para Wali Songo juga membangun masjid yang antara lain dijadikan sebagai pusat kajian berkaitan soal sosial dan keagamaan, selain sebagai tempat beribadah.

Sementara dari sisi metodologis, Wali Songo memilih cara persuasif untuk menarik masyarakat ke dalam Islam. Mereka mengemas, menampilkan, dan mengembangkan kepribadian Islam dengan cara sangat mengesankan.

Barangkali, ini pengembangan dari seruan Alquran untuk menyeru manusia ke dalam Islam dengan perkataan yang merasuk (membekas) dalam jiwa mereka (QS. 4:65). Di perkembangannya, Wali Songo kemudian memanfaatkan kesenian, adat-istiadat ataupun tradisi yang hidup di masayarakat sebagai media dakwah.

Itu sebabnya mereka juga dikenal sebagai pencipta karya-karya seni semisal tembang macapat. Sunan Kali Jaga mencipta dandanggula yang berarti ajakan kepada optimisme, Sunan Giri membuat sinom, yang berarti cahaya kehidupan, sementara Sunan Gunung Jati menyusun pucung atau rasa, dan Sunan Bonang menciptakan durma atau perlambangan nafsu manusia.

Penyebaran Islam juga dilakukan dengan memadukan unsur-unsur Hindu, Budha atau nilai-nilai lokal yang akrab di masyarakat. Yang menonjol adalah pengembangan pada lakon-lakon cerita wayang, seperti Sunan Kalijaga mencipta Jimat Kalimusada, yang tak lain dua kalimat syahadat. Di masa berikutnya, sejumlah seniman juga menjadikan kesenian ludruk sebagai wahana dakwah. Dalam penyampaiannya, kesenian ludruk kemudian diberi muatan pesan-pesan moral. Misalnya, mengajak masyarakat agar tidak melakukan molimo (madon, madat, main, maling, dan minum).

Image: http://lmizakat.org/wali-songo-perintis-penyebaran-islam-di-jawa/



Perbedaan Pendapat dan Pengambilan Keputusan dalam Masyarakat Madani

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi fenomena perdebatan di masyarakat mengenai keluarnya fatwa keringanan tidak shalat jumat ataupun fatwa menghimbau masyarakat untuk shalat di rumah untuk menghindari infeksi wabah pandemi Covid19 atau Corona.

Dalam fiqh sudah banyak orang memahami perihal ijtihad dan fatwa, kemudian siapa yang melakukannya, dan bagaimana ijtihad seseorang bisa menjadi fatwa, ataupun ijtihad yang dibincangkan dalam syura menjadi fatwa, ataupun ijtihad ulama ditepikan oleh ijtihad pemimpin.

Ulama, majlis ulama, syura dapat memberikan ijtihad yang kemudian di akui menjadi fatwa ketika diberi kewenangan atau di sahkan oleh yang berwenang.

Ada perkara yang sebetulnya kurang populer dibahas yakni ‘ittiba. Dalam masyarakat madani, ketika semua pihak terdidik, akses terhadap informasi, ijtihad dan fatwa tersedia secara luas, maka apa yang sebetulnya yang kemudian memberikan peran signifikan?

‘Ittiba, kemampuan individu untuk mengambil keputusan, atau dalam hal ini berijtihad dengan pilihan fatwa ataupun alternatif solusi yang ada.

Begitu juga yang terjadi saat ini, begitu banyak ulama, syura dan pemerintah yang sudah menginformasikan terkait keringanan (rukhsah) shalat jumat di masa ini, tentu kita harus mencerna apakah kondisi tersebut dapat di aplikasikan kepada kita, ya kepada kita, jangan berfikir untuk orang lain.

Jika kita berfikir untuk orang lain, sepatutnya kita berikan kepada mereka opsi keringanan yang mereka dapat gunakan sesuai dengan kondisi mereka, contoh kursi untuk manula, kursi roda untuk yang sulit berjalan, begitu juga fatwa dan rukhsah, opsi keringanan bagi mereka yang sesuai dengan kondisinya, misalnya shalat duduk bagi yang tidak mampu berdiri, shalat berbaring untuk yang tidak mampu duduk, tayammum yang tidak dapat berwudhu dengan air, ataupun bahaya terkena air, dsb.

Pada akhirnya semua keputusan dilakukan oleh mereka yang menghadapi situasi secara frontal. Fatwa, ijtihad, pengalaman, kondisi aktual menjadi pertimbangan bagi mereka. Inilah salah satu ciri manusia dalam masyarakat madani.

Sehingga apapun keputusan yang kita ambil, kita terima konsekuensinya di dunia baik dengan lingkungan dan pemerintah, juga kepada Allah kelak jika hal tersebut sengaja ataupun tidak sengaja menciptakan kedzaliman kepada pihak lain.

Terlampir tulisan ringan terkait masalah skill ‘ittiba ini yang menjadi satu syarat sumber daya manusia untuk menciptakan industri halal menjadi lebih syariah dan bermanfaat untuk semua, secara umum skill manusia di masyarakat madani.

https://www.researchgate.net/publication/339933679_Future_Challenge_of_Knowledge_Transfer_in_Shariah_Compliance_Business_Institutions



Membangkitkan Wakaf

Alhamdulillah, dapat menghadiri Waqf Report 2019 Report di Kuala Lumpur yang diadakan oleh Bank Dunia, INCEIF dan ISRA.

Menjadi perkembangan penting dimana entitas-entitas sosio ekonomi dalam Islam diperkenalkan dan diterima dalam skala global.

Momentum yang baik waqf dapat di akui sebagai satu entitas oleh dunia global. Walau begitu masih banyak yang perlu di perbaiki, khususnya masalah data waqf di Indonesia yang tidak representatif seperti yang disampaikan bang Fahmi M. Nasir, Peneliti waqf dari IIUM dan Unsyiah.

Menarik dari perbincangan singkat tersebut, ternyata di Aceh ada “Meusara”, di Sumut ada Tanah Ulayat, di Minang ada Pusaka Tinggi, dan sepertinya ada juga di daerah-daerah lain dengan nama yang beragam.

Menjadi peran kita berikutnya adalah memainkan peranan dalam memajukan dan menunjukkan kepada dunia tentang perspektif kita.

Memang mengenalkan perspektif waqf Indonesia ini ternyata cukup penting, walau ada arah dimana hegemoni Authority (Negara) di Indonesia untuk mendominasi aset waqf menjadi sentralistik, sehingga kita patut khawatir dengan waktu yang terus bergulir dan upaya negara mendesentralisasi dengan perangkat desa, kita akan dihadapkan kehilangan potensi alternatif dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat yang lebih organik, bottom to top.

Karena pada masa periode Khalifah atau Kerajaan dan setelahnya WW2 jatuhnya Ottoman, banyak aset wakaf selain milik pemerintahan di hapuskan dikarenakan perbedaan politik ataupun pandangan, akan tetapi secara organik perkembangan aset sosial waqf ini tidak dapat dicegah, dia adalah proses alami dari pelaku sosial budaya untuk memperbaiki dan memberdayakan diri komunitasnya.

Model yang organik ini bisa jadi menjadi solusi negara-negara miskin dan berkembang yang mayoritas muslim, dimana kita membantu membangun pondasi untuk mereka membangun dirinya, bukan saja kita membangun pondasi untuk kita dapat lebih membantu mereka.

Tentu ada pro dan kontra, justru hal tersebut menjadi tantangan kedepan bagaimana kondisi di Indonesia menjadi unik. Kita memiliki BWI dalam skala negara, kita memiliki Dept Agama untuk negara yang bukan berbentuk negara Islam yang juga mengelola “waqf”, kita memiliki NGO-NGO yang bergerak dengan dana infaq, zakat dan waqf, dan kita juga memiliki yayasan-yayasan pendidikan yang menjadi tulang punggung dalam sejarah.

Sehingga penting di masa-masa kedepan perspektif waqf di Indonesia khususnya Darulfunun perlu dibagi ke dunia, mungkin hanya Indonesia yang menjalankan praktek waqf inklusif dengan regulator pemerintah yang tetap memberikan ruang yang lebih besar bagi sosial masyarakat untuk bergerak.

Insyaallah semua perkembangan dan inovasi yang dilakukan para muslih disini, baik akedemisi, industri dan juga otoritas dapat memberikan manfaat yang besar.

Karena kita memberikan daya kekuatan kepada ummah untuk menolong diri mereka, bukan saja sekedar memberikan daya kekuatan (dalam bentuk regulasi dsb) kepada kita untuk menolong mereka.

Bismillah, perjalanan masih panjang.



Syariah Dinikmati, Syariah Dicurigai

Beberapa hari lalu saya mengikuti rapat koordinasi tingkat RW, dari sekian hal yang dibahas ada satu fenomena menarik, kas RW menipis sementara beban sosial semakin besar, untuk meningkatkan besaran iuran sulitnya bukan main dengan berbagi pertanyaan dari warga.

Di sisi lain, salah satu musholla di perumahan yang sama memiliki kas hingga puluhan kali lipat jumlahnya. Dan saya pernah ditanyai bagaimana mengelola zakat, infaq, dan sodaqoh sementara orang yg berhak menerima zakat juga tidak terlalu banyak di perumahan tersebut.

Dua kondisi di atas, buat saya adalah cerminan dari dua sistem pengelolaan keuangan yang ada di negara ini. Satu dengan sistem ekonomi konvensional, dan satu dengan sistem syariah.

Ada perbedaan paradigma antara keduanya. Ekonomi konvensional memiiki paradigma dengan pengeluaran sekecil-kecilnya diperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara ekonomi syariah memiliki paradigma bagaimana pendapatan dan pengeluaran sesuai aturan Allah SWT.

Menariknya ekonomi konvensional kini seperti mengalami kebuntuan dalam menciptakan sistem ekonomi yang berkeadilan sosial. Dunia dikuasai oleh orang-orang yang memiliki modal, yang mencari keuntungan sebesar-sebesarnya dengan menghindari kewajiban sosial (pajak) sekecil-kecilnya.

Di sisi lain geliat ekonomi syariah makin marak di berbagai lininya, bermunculannya lembaga zakat infaq sodaqoh, fesyen syar’i, pariwisata halal (syar’i), industri halal, edukasi syar’i (peantren), bahkan kulkas pun menjual merk halalnya.

Dari sini saya melihat ekonomi syariah saat ini menjadi alternatif dunia untuk menciptakan ekonomi yg lebih berkeadilan.

Sayangnya standar kita kepada syariah masih sering menggunakan standar ganda. Kadang kita menikmatinya, kadang kita mencurigainya. Mungkin perlu penelitian lebih lanjut terkait standar ganda ini, karena bisa jadi standar ganda ini yang selama ini menjadi blocking untuk pengembangan sesuatu yang lebih baik sifatnya.

Wallahu a’lam



Inferiority Complex dan Islam Nusantara

Cerita hari ini rada sedih. Saya ditugaskan untuk jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Ketika sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat tidak begitu senang begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, “Mas ikhwan ya?”. Hah, emangnya kenapa pikir saya.

Lalu tidak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. “Mas, bapak itu maunya standnya dijaga perempuan”. OK lah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan kawan lain. Pas sudah cari2, eh ternyata ga ada yg bisa diajak tukeran. Balik lah saya ke pemilik Stand dan sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan “cold blood” dia bilang, “Ya udah saya sendiri aja, Mas”.

Saya perhatikan gerak-geriknya, lho koq rada melambai!!! Paham lah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita ga usah heran.

Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah). Koq iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat2.

Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya.

Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita2 bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam2 ketimbang nyamperin penjaga2 dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. Subhanallah. Saya heran, tapi tidak terlalu heran.

Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indo, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama salat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu2 apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi tidak perlu menyiapkan menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahun lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim.

Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara2 begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, selalu isinya arca-arca dan patung Bali. Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, “Zico, negaramu ini betulan negara muslim???”. Saya jawab, Ya.

“Kenapa ada patung-patung dewa ini di embassy kamu?” sahutnya.

Saya terdiam tidak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali. Dan patung2 itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut.

Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?

Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin. Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.

Inferiority complex.

Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!!

Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan.
Mohon maaf bangsaku.

Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar. Ga malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini ngga canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalin, dll.

Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas. Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat lima mesjid ke segala arah penjurunya. Restoran-restoran ayam “KFC” India dan dan toko2 daging halal bertebaran. Mereka tidak canggung pasang tulisan ayat Quran selebar plang Tokonya. Kadang gede2 ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran. Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia?

Buat salat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba sejam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat didalam mesjid. Kalo tidak, pasti saya salat dihalaman mesjid, padahal mesjidnya tiga tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

Sembari memperhatikan tingkah bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. “Are you an Indonesian?”.. “Are you an Imaam here”. “No, I am just visitor”.

Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. “Where are you come from”, tanyaku. “I was born here, but my parents came from Bangladesh”. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh “Vallo Achi (Apa kabarmu?)”.

Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun ga kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi ga kagok sama krisis identitas.

“Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana-dimana, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh”.

“Sialan!!!” pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.

“Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh”, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo.

Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indo, seorang turis mendekati saya, “Are you Indonesian?”. “Yes”, I said.

“Apakah acara seperti ini rutin diadakan setiap bulan?”, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, “Where are you come from”. Dijawab, “Saudi!”.

Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini. “Ah, takallamta bi lughatil arabiyah (Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)”.
“Naam”.
“Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?”, tanyaku.

“Aiwah”, katanya.

Benar saja dia terlihat senang ada orang Indo bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam2. Untung dia pakai bahasa Arab asli. Umumnya kawan-kawan kami dulu orang-orang Arab Maroko dan Aljazair bicara dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.

“Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?”, katanya

Saya balas, “Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains”. Dalam hati gw mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius2 lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato tidak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya kalau mau coba eksis di jalur artis.

“Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?”, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London.

Orang seperti kamu harusnya ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Tidak lama beliau pun pamit.

Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri, “Brother, will see you again tomorrow?”.

“I will, Insha Allah”. Dan beliau pun nampak senang.

Saya habiskan sisa hari berdua istri melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah.

Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.



Indonesia Masih Butuhkan Roadmap dan Regulasi Halal

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Karenanya, Indonesia memang memiliki potensi pasar yang besar bagi industri halal dunia.

Sayangnya, Indonesia sampai saat ini seakan belum memiliki roadmap dan regulasi yang tepat untuk menghadapi makanan yang diproduksi maupun beredar di Indonesia.

Atas masalah tersebut, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan penelitian khusus. Ada Ilmi Mu’min Musyrifin, Khintan Anggraii, dan Ni’mah Amalia Suharsono.

Penelitian mengangkat tema Pengaruh Penerapan Food Halal Supply Chain. Penelitian ini utamanya dilakukan untuk menghasilkan undang-undang (UU) baru.

Lalu, memberikan otoritasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan sertifikasi halal. Tentu, melalui Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, dan Komisi Fatwa.

Ketua Kelompok PKM-PSH, Ilmi mengatakan, besarnya permintaan produk halal baik dari pasar domestik maupun luar negeri tidak diiringi dukungan pemerintah. Wujudnya, roadmap dan regulasi.

“Seperti kebanyakan negara penduduk Muslim mayoritas, sertifikasi halal kurang optimal karena adanya anggapan kalau setiap produk makanan yang diproduksi di negara tersebut halal,” kata Ilmi.

Itu alasannya, dirasa tidak perlu lagi roadmap maupun regulasi untuk lebih memperhatikan lagi bentuk audit atau sidak MUI di setiap sector supplay chain suatu produk.

Untuk itu, penelitian semakin penting agar dapat memberikan rancangan baru mengenai proses pangan menuju produksi halal. Tentu, yang ditetapkan pemerintah sebagai regulator dan pengawas.

Ketua Umum MUI Prof Yunahar Ilyas menuturkan, MUI tidak sampai ke rantai pasok karena di dalam MUI ada LPPOM. Jadi, makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan itu diaudit LPPOM.

Sebab, yang mengeluarkan fatwa MUI dan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) ini harus terakreditasi MUI. Dari sana, lembaga-lembaga yang tidak diakreditasi hasil auditnya tidak diterima.

“Sampai sekarang belum ada lembaga-lembaga yang benar-benar fokus ke sana, masih LPPOM saja karena Lembaga Perlindungan Hukum (LPH) memiliki peraturan pemerintah,” ujar Yunahar.

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan solusi bagi pemerintah dan MUI untuk memberikan regulasi perihal makanan dan obat-obatan halal. Kemudian, memberi rasa aman dan nyaman bagi umat Islam.

Sumber: https://republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/ptnf6z399/indonesia-masih-butuhkan-emroadmap-emdan-regulasi-halal



Sentuhan Peradaban Islam di Balik Populernya Tulip di Eropa

Selama periode klasik Yunani, Romawi dan Islam, sangat banyak bunga yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi atau medis.

Bunga-bunga yang indah dijadikan sebagai dekorasi sampai abad ke-16, sedangkan bunga yang mewangi dianggap dapat memberikan manfaat kesehatan, sehingga digolongkan sebagai obat-obatan herbal.

Sebuah risalah yang ditulis sekitar 160 SM, Cato’s On Agriculture, menjelaskan tentang pertanian dari para ahli botani di Andalusia dan di beberapa tempat lain di dunia muslim pada Abad Pertengahan. Risalah tersebut cenderung berkonsentrasi pada kategori-kategori bunga tersebut. 

Para Ahli hortikultura di Timur Jauh ini memang telah lama mempraktikkan pemuliaan tanaman untuk meningkatkan macam-macam tanaman hias. Tindakan mereka tersebut tampaknya telah meresap ke Barat, ke dunia Muslim dan Eropa sekitar 1500 M. 

Zahiruddin Muḥammad bin Omar Sheikh atau lebih dikenali sebagai Babur, sangat terkesima dengan keindahan bunga Tulip. Babur adalah pendiri Kekaisaran Mughal di India pada awal abad ke-16. Dia seorang pecinta alam dan pencipta taman. Dia pernah menulis pada 1504 M:

“Warna bunga Tulip banyak menutupi kaki ini. Saya pernah menghitungnya, ada sekitar 32 atau 33 macam. Kami menamakannya mawar yang mewangi, karena aromanya seperti mawar merah,” tulis Babur seperti dikutip dari laman aramcoworld, Kamis (31/1).  

Kemudian, Babur mencoba memperkenalkan banyak tanaman ke India yang berasal dari tanah airnya di Uzbekistan serta dari Kashmir.

Beberapa di antaranya muncul dalam miniatur Kekaisaran Mughal dan juga menjadi motif dekoratif pada produk sulaman, tekstil, karpet dan furnitur, serta produk ukiran dan tatahan. 

Bunga tulip dan varietasnya kemudian banyak menyebar ke arah Barat melalui Iran dan Kekaisaran Ottoman, yang  mana pada masa itu kekaisaran tersebut sangat tertarik dengan bunga dan perkebunan, tepatnya pada abad ke-16. Bunga Tulip, eceng gondok, mawar dan anyelir menjadi favorit pada masa itu.

Bunga Tulip dilukiskan secara berulang-ulang pada ubin yang tak terhitung jumlahnya, pada keramik terkenal dari Iznik, di lukisan dekoratif di istana, di sampul pernis manuskrip dan di tekstil, mulai dari beludru sutra hingga syal bersulam. Bahkan, pada abad ke-18 juga ada bunga tulip di sepanjang menara masjid yang dibangun di Durres, Albania.

Informasi tentang berbagai bunga banyak berasal dari risalah yang diilustrasikan dengan indah. Risalah-risalah lainnya juga banyak memberikan informasi terperinci tentang asal mula bunga, budi daya bunga, dan sering mencatat tentang pemuliaan tanaman utama.

Ada juga buku-buku tentang bunga anyelir dan bunga-bunga lainnya, tetapi sejauh ini bunga mawar dan tulip menjadi yang paling populer. 

Menurut risalah yang ditulis abad ke-18, kepala hakim di bawah kekuasaan Sultan Turki Utsmani Suleiman Agung, Ebussuud Efendi memiliki tanggung jawab untuk mempopulerkan bunga tulip. Misalnya, ketika ia diberi tulip putih, kemudian dia sebarkan di kebunnya. 

Pada 1630 M, muncul fenomena “tulipomania” yang luar biasa di Belanda dan terjadi industri ekspor besar-besaran. Tulipomania merupakan periode pada Zaman Keemasan Belanda selama kontrak harga untuk umbi dari bunga tulip yang baru diperkenalkan mencapai tingkat harga yang sangat tinggi dan tiba-tiba runtuh.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/19/02/02/pm9vhc320-sentuhan-peradaban-islam-di-balik-populernya-tulip-di-eropa





Dalam perspektif Islam, gempa bumi berkaitan dengan tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta, khususnya menjelang Hari Akhir. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam fitnah, al-Haraj, yaitu pembunuhan-pembunuhan, dan harta melimpah ruah kepada kalian.” (HR Bukhari No 978). 

Dalam surah al-Hajj ayat 1 Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai sekalian manusia, takutlah kepada Tuhanmu; sesungguhnya gempa kiamat merupakan sesuatu yang sangat dahsyat.”

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, al-Da’a wa al-Dawa’a, mengutip sebuah hadits mursal yang diriwayatkan Ibn Abi al-Dunya. 

Terjemahannya berbunyi, “Bumi pernah berguncang pada masa Rasulullah SAW. Beliau SAW meletakkan tangannya di atas bumi dan bersabda, ‘Tenanglah! Belum tiba saatnya bagimu.’ Kemudian menoleh kepada para sahabat seraya memberi tahu, ‘Tuhan ingin agar kalian melakukan sesuatu yang membuat-Nya ridha. Karena itu, buatlah agar Dia ridha kepada kalian!’”

Seperti dijelaskan al-Biruni, tahun kelima dari hijrahnya Rasulullah SAW disebut sebagai “Tahun Gempa.” Penanggalan tradisional Arab tidak menyebut tahun kesatu, tahun kedua, dan seterusnya. Mereka menamakan suatu tahun dengan merujuk pada peristiwa historis yang terjadi di dalamnya.  

Bencana kembali mengguncang Madinah pada zaman kepemimpinan Umar. Menurut riwayat yang sama, sahabat bergelar al-Faruq itu menyeru kepada penduduk setempat, “Wahai manusia, gempa ini tidak terjadi kecuali karena perbuatan kalian! Demi Zat Yang menggenggam jiwaku, jikalau ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal di sini bersama kalian.” Umar bin Khaththab pada saat itu spontan mengenang kejadian serupa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW di Madinah.  

Sang khalifah merasa bahwa Allah SWT sedang mengingatkan kaum Muslimin sepeninggalan Nabi SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Maka dari itu, tidak ada yang terucap di lisannya selain peringatan kepada sekalian umat Islam agar segera meninggalkan kebiasaan buruk dan bertaubat dengan sungguh-sungguh demi keridhaan Sang Pencipta. 

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, al-Jawab al-Kafy, berkomentar, “Di kalangan salaf, jika terjadi gempa bumi, mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian.’”

Gempa bumi juga menggoyang wilayah kaum Muslimin generasi berikutnya. Pada saat itu, Umar bin Abdul Aziz tampil selaku khalifah Dinasti Umayyah. Dia mengambil kebijakan yang sejalan dengan apa yang telah dilakukan kakek buyutnya, Umar bin Khaththab. 

Diserukannya kepada penduduk agar sama-sama bermunajat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya. Selanjutnya, pemimpin yang terkenal akan sifat zuhudnya itu mengirimkan surat kepada seluruh wali negeri. 

Isinya mengingatkan para bawahannya itu, “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini merupakan teguran dari Allah kepada seluruh hamba-Nya. Saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Ensiklopedia Medieval Islamic Civilization menyebutkan bahwa komunitas Muslim sudah sejak awal memiliki kewaspadaan terhadap bencana alam. Beberapa wilayah Muslim juga pernah dilanda gempa bumi skala besar. 

Dampak yang dideritanya cenderung sama dengan negeri-negeri lain yang sempat mengalaminya. Hanya saja, dalam konteks Abad Pertengahan, bencana demikian ikut memperlemah struktur sosial dan politik umat Islam. Sebagai contoh, Suriah yang dilanda banyak gempa sepanjang akhir abad ke-11, yakni tahun 1050, 1063, 1068, 1069, 1086, dan 1091. 

Penduduk setempat banyak yang menjadi korban tewas. Banyak bangunan dan rumah-rumah warga yang hancur atau bahkan rata dengan tanah. Aktivitas ekonomi dan keamanan pun mengalami kekacauan dalam rentang waktu yang cukup lama. 

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/10/17/pgqu8y320-bisik-rasul-saw-ke-bumi-saat-gempa-tenanglah-belum-saatnya



Sering Dengar Kata Hadhrami, Siapa Mereka? Ini Penjelasannya

Sering dengar kata Hadhrami? Siapakah sebenarnya yang disebut dengan Hadrami? Engseng Ho dalam The Graves of Tarim: Genealogy and Mobility across the Indian Ocean menuturkan seluk beluk masyarakat Hadhramaut. Mereka menamakan dirinya Hadharim (jamak) atau Hadhrami (tunggal).

Silsilahnya diyakini sampai pada Nabi Hud AS. Makamnya dipercaya berada di barat wadi (lembah) Hadhramaut atau sekira 80 km dari Kota Tarim. Komunitas tersebut memiliki tradisi penulisan genealogi yang runtut.

Di samping itu, ziarah ke pekuburan nenek moyang juga menjadi kebiasaan yang lestari. Di antara situs-situs terkemuka adalah, pusara Nabi Saleh AS di Lembah Sarr, makam Nabi Hud AS, Aidid, al-Aidrus, dan Ahmad bin Isa al-Muhajir. 

Berbicara tentang Hadharim tidak lepas dari cabang keturunan Nabi Muhammad SAW yang berkembang di sana. Ensiklopedi Islam untuk Pelajar mengungkapkan, Ahmad bin Isa (873-956) merupakan leluhur kaum Sayyid (jamak: Saadah). Dari Basrah (Irak), tokoh tersebut datang ke Hadhramaut, melalui Madinah dan Makkah,demi menghindari prahara politik pada 931. 

Sayyid berarti secara harfiah ‘tuan’ tetapi kemudian menjadi gelar untuk keturunan Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, sebutan syarif ditujukan bagi keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Kaum syarif cenderung menyebar di Afrika Utara dan Asia Barat. Beberapa sempat menduduki pemerintahan sebagai gubernur atau raja. Sebagai contoh, penguasa Maroko sekarang, RajaMuhammad VI, berasal dari Dinasti al-‘Alawiyyin al-Filalliyyin yang sampai pada Hasan bin Ali.

Demikian pula dengan Syekh Muhammad bin Alawy al-Maliki (1947/1948-2004), seorang ulama tradisionalis di Makkah. Agak berlainan dengan mereka, kaum sayyid cenderung berdiaspora maritim ke India dan Nusantara. 

Ahmad bin Isa merupakan generasi kedelapan dari keluarga Fatimah dan Ali. Sosok yang berjulukan al-Muhajir itu awalnya kerap mengalami penolakan dari penduduk Hadhramaut.

Namun, perlahan-lahan dakwahnya berhasil sehingga memiliki pengikut untuk mengembangkan ajaran Islam. Masyarakat kemudian tidak hanya mengakuinya sayyid keturunan Rasulullah SAW.Mereka juga mencintainya sebagai figur panutan.

Ahmad al-Muhajir memiliki empat orang putra, yakni Ali, Hussain, Muhammad, dan Ubaidillah. Sang bungsu menyertainya hijrah dari Basrah keHadhramaut. Ubaidillah kemudian punya tiga orang anak, yaitu Alwi, Jadid, dan Basri. Catatan seputar keturunan Jadid dan Basri tidak terdeteksi sejak abad keenam Hijriah.

Hal itu berbeda daripada Alwi sebagai sayyid pertama yang lahir di Hadhramaut. Rekaman genealogisnya terus tercatat bahkan hingga masa kini. Jadilah sayyid keturunan Ahmad al-Muhajir disebut sebagai Ba’Alawi atau Alawiyin.Demikian dipaparkan Nourellyssa dalam memoarnya, My Journey to the Land of Love: Hadramawt-Tarim. 

Di Hadhramaut, kaum sayyid menjadi kelas sosial dengan kedudukan tertinggi. Kalangan ini selalu diminta bantuannya dalam meredakan konflik antarsuku. Strata sosial di bawah mereka adalah masayekh danqabail. Masayekh terdiri atas kaum cendekiawan Muslim di luar kelompok sayyid.

Sebelum kedatangan keluarga Ahmad bin Isa, golongan ini menduduki posisi terpenting di tengah masyarakat setempat, tetapi kemudian tergantikan kaum sayyid. Sementara itu, qabail merujuk pada faksi prajurit yang siap bertempur dengan perintah kepala suku.Kaum pekerja kasar, semisal nelayan dan petani, menduduki posisi terbawah. 

Meskipun secara sosial berkedudukan tinggi, kaum sayyid tidak punya kekuatan politik yang memadai. Mereka hanya dapat bertahan di sana menghindari rupa-rupa prahara, mulai dari konflik antardinasti kecil selama abad ke-13 hingga munculnya Kesultanan Kathiri pada abad ke-16 yang akhirnya dikuasai Inggris.Ketidakstabilan tersebut mendorong mereka atauHadharim umumnya untuk merantau ke pesisir Afrika Timur dan Asia. 

Alasannya berkelana ke luar Hadhramaut tidak hanya lantaran kegentingan politik. Darah pelaut ulung memang mengalir dalam tubuh mereka. Sejak ratusan tahun silam, bangsa Arab akrab dengan jalur maritim yang menghubungkan Laut Tengah, Samudra Hindia, dan Laut Cina Selatan.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara mengutip TW Arnold (1968) yang menyatakan, bangsa Arab telah menguasai perniagaan di Sri Lanka sejak abad kedua SM. Kaum cendekiawan Eropa pun mengakui mereka sebagai perintis globalisasi atau perdagangan dunia. Pengakuan itu antara lain disampaikan orientalis Austria abad ke-19, Aloys Sprenger, sebagaimana dikutip Benedikt Koehler dalam Early Islam and the Birth of Capitalism.  

Dengan demikian, jauh sebelum risalah Islam ada, bangsa Arab berperan penting dalam lalu lintas komersial Asia-Afrika-Eropa. Pada masa wafatnya Rasulullah SAW atau sekitar abad ketujuh, para pelaut Arab mendominasi distribusi rempah-rempah dari pusatnya di Maluku hingga bandar-bandar di Laut Tengah, utamanya Venesia (Italia).

Menurut Abdul Hadi WM dalam Cakrawala Budaya Islam, mereka tidak hanya membawa semangat berdagang dan berinteraksi dengan penduduk-penduduk lokal, tetapi juga memperkenalkan Islam.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/10/16/pgpaao320-sering-dengar-kata-hadhrami-siapa-mereka-ini-penjelasannya